You are on page 1of 7

JUDUL ESAI

SI PAWANG (Sistem Paguyuban Empon-empon Wangi) Solusi bagi Warga Desa


dengan Membagun Desa Argowisata sebagai Upaya Meningkatkan Perekonomian di
Sektor Pertanian Berbasis BERSEMI (Berpotensi, Sejahtera, dan Mandiri)

Karya ini Disusun untuk Mengikuti


Lomba Essay Competition Event Hunter Indonesia
“KEMANDIRIAN DALAM PEMBAGUNAN”

Disusunoleh:

Indah Dwi Oktaviani

FAKULTAS PETERNAKAN DAN PERTANIAN


UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2017

0
Indonesia, negara agraris memiliki potensi akan sumber daya alam yang begitu
melimpah. Berbagai keanekaragaman tumbuhan dan hewan merupakan salah satu bukti
cukup tingginya sumber daya alam di Indonesia. Kondisi sedemikian memungkinkan
hasil produksi pertanian dan perkebunan di Indonesia juga tinggi. Menurut Badan Pusat
Statistik pada tahun 2015 jumlah luas lahan pertanian di Indonesia sekitar 100,8 juta
hektar lebih luas bila dibandingkan dengan negara temperata. Namun, tingginya sumber
daya alam di Indonesia tidak menjamin adanya peningkatan kesejahteraan
penduduknya. Kondisi penduduk Indonesia hingga saat ini terhadap pertumbuhan
ekonomi di berbagai sektor masih jauh, terutama pada sektor pertanian. Sektor pertanian
merupakan salah satu sektor utama dalam pendorong pertumbuhan ekonomi (Abidin,
2015). Sektor pertanian menjadi sektor yang sangat penting karena sektor pertanian
menjadi tumpuan kehidupan penduduk Indonesia. Sekitar 70% penduduk Indonesia
hidup di pedesaan berprofesi sebagai petani dengan kondisi yang miskin dan
memprihatinkan. Lulusan sarjana pertanian yang dapat mengembangkan teknologi
pertanian justru belum adanya kemajuan bagi penduduk desa dan semakin berkurangnya
tenaga kerja dibidang pertanian serta semakin sedikitnya kepemilikan lahan pertanian.
Dari data pusdatin (2014) tenaga kerja pertanian di Indonesia adalah 14,8% atau 38,07
juta jiwa dari jumlah keseluruhan penduduk Indonesia dan sisanya enggan berkerja
sebagai petani yang beralih bekerja sebagai karyawan berbagai perusahaan lain. Selain
itu, iklim juga bisa menjadi faktor yang menyebabkan terhambatnya pembangunan
sektor pertanian. Menurut Bappenas (2013) dampak dari perubahan iklin yang terjadi
dapat mengalami berbagai kondisi seperti harga pangan meningkat dan kebutuhan air
bisa berkurang atau berlebih.
Ekspor hasil pertanian berupa beras tidak dapat dijamin memberikan keuntungan
bagi petani karena stok beras menurut pemerintah terbilang terbatas dan kurang
mencukupi untuk mengekspor beras ke luar negeri. Saat ini pemerintahan masih
berusaha mengupayakan untuk mempertahankan ketahanan pangan yaitu membuat
kebijakan impor bahan pangan untuk memenuhi kebutuhan penduduk Indonesia dengan
alasan iklim yang tidak mendukung menjadi penyebab utama yang mengakibatkan
rendahnya kualitas bahan pangan. Selain itu , impor bahan pangan dapat menstabilisasi
harga, menanggulangi keadaan darurat, masyarakat miskin, dan kerawanan pangan,
sebagai bahan baku/penolong dalam kebutuhan industri, serta untuk konsumsi

1
kesehatan. Upaya ini merupakan kebijakan yang alternatif yang dipilih oleh pemerintah
yang dinilai sangat mudah untuk dilaksanakan bagi pemerintah
Namun, mengimpor bahan pangan tentunya memiliki banyak kerugian besar
yaitu semakin meningkatnya presentasi ketergantungan penduduk Indonesia terutama
penduduk desa terhadap produk luar negeri, dapat memberikan peluang kepada oknum
yang dapat menguntungkan pihaknya secara pribadi, serta dapat dapat menghancurkan
sektor pertanian dalam negeri karena produk hasil pertanian dalam negeri kalah
bersaing dengan produk dari luar negeri. Dari hasil kebijakan pemerintah, masih
banyaknya kemiskinan dan jumlah pengangguran penduduk di Indonesia yang
menunjukkan menunjukan sangat rendahnya kualitas sumber daya manusia akibatnya
sebanyak 28,61 juta jiwa atau 11,7 % penduduk miskin mengalami peningkatan pada
tahun 2013 (Pusdatin, 2014).

28.615
28.61 M
28.61

28.605

28.6
28.59 M
28.595 Angka
Populasi
28.59

28.585

28.58
2012 2013

Tabel 1. Data Populasi Penduduk Miskin di Indonesia dari Tahum 2012 hingga Tahun 2013
(Sumber: Pusdatin 2014)

Perubahan iklim yang kurang mendukung dan kurangnya ketenagakerjaan dalam


bidang pertanian membuat kurang majunya pertumbuhan ekonomi para petani sebagai
profesi yang memayoritasi penduduk di pedesaan. Perlu adanya kesadaran dari antar
penduduknya sendiri dengan memulai melakukan hubungan kerjasama antar penduduk
dalam membangun desa dengan menerapkan sistem paguyuban sebagai upaya untuk
menghindari kerugian dari impor bahan pangan dalam waktu jangka yang panjang.
Paguyuban merupakan hubungan antara anggota satu dengan anggota yang lain
membentuk suatu kelompok mendesain konsep yang fungsinya memberdayakan semua
anggotanya untuk kemajuan di masa yang akan datang (Rimawati, 2015). Dengan upaya

2
ini terjadi hubungan komunikasi antara petani satu dengan petani yang lainnya dapat
semakin erat dan harmonis serta timbulnya kepekaan dalam menangangi bebagai
masalah berkaitan dengan sektor pertanian sehingga terbangunnya desa wisata yang
memiliki tujuan menciptakan lalu menghasilkan suatu produk pertanian yang dapat
menuntaskan kemiskinan penduduk terutama penduduk desa tanpa merusak sumber
daya alam di sekitar desa.
Selain padi, masih ada beberapa jenis tanaman lainnya ternyata perawatannya
mudah dan tanpa mengenal iklim juga memiliki nilai jual yang tinggi yaitu tanaman
empon-empon. Menanam empon-empon sering ditemukan di pekarangan rumah
penduduk desa dan menjadi kebiasaan secara turun temurun sejak berabad-abad yang
lalu. Jaman dahulu orang sering mengkonsumsi empon-empon yang pengolahannya
dengan mempadukan jenis empon-empon satu dengan empon-empon yang lainnya
menghasilkan ramuan kesehatan yang dikenal sebagai jamu. Empon-empon diakui akan
manfaat dalam menjaga dan meningkatkan daya tahan tubuh serta mengobati dari
berbagai penyakit. Meskipun pemakaian obat dokter begitu menonjol diminum hanya
pada saat sakit, empon-empon yang sudah dalam bentuk jamu tetap populer baik
dikalangan penduduk pedesaan maupun penduduk urban yang tinggal di kota-kota besar
juga bisa diminum pada saat sehat. Membudidayakan empon-empon dengan
memproduksi dalam berbagai bentuk kemasan akan menghasilkan pendapatan yang
besar bagi petani sehingga dapat meminimalisir jumlah angka pengangguran penduduk.
Namun sebagian besar penduduk masih belum tahu prospek budidaya empon-empon
dan cara membudidayakannya masih dengan cara tradisional sehingga menghasilkan
kualitas yang rendah dan hasil jual pun juga tidak tinggi. Padahal jaman sekarang
peminat empon-empon semakin meningkat.
Dari permasalahan yang ada maka diciptakan sebuah bentuk sistem bertani yang
merupakan bagian dari upaya membangun desa agar desa memiliki potensi sebagai
tempat wisata agroekoteknologi yang yang memberikan keuntungan bagi penduduk
desa yang dapat meningkatkan hasil produktivitas pertanian dengan menanam empon-
empon sebagai usaha sampingan para petani. Sistem yang diciptakan yaitu Sistem
Paguyuban Empon-empon Wangi atau disingkat SI PAWANG (Sistem Paguyuban
Empon-Empon Wangi). “Paguyuban” merupakan istilah bahasa Jawa yang arinya
perkumpulan dengan hidup rukun dan semangat kekeluargaan. Sedangkan “Empon-

3
empon Wangi” memiliki arti yaitu rempah-rempah akar yang memiliki aroma harum.
Bila kata-kata tersebut disatukan menjadi “Paguyuban Empon-empon Wangi” diartikan
menjadi suatu perkumpulan untuk budidaya rempah-rempah akar yang memiliki aroma
yang harum seperti jahe. Prinsip dari sistem ini adalah mengumpulkan petani desa
dengan membentuk kelompok masing-masing beranggotakan lima belas sampai dua
puluh petani. Setiap kelompok disosialisasikan dan diberi materi mengenai tata cara
budidaya empon-empon yang tidak mengguakan cara tradisional dan efisien agar mudah
dalam penanamannya.

Gambar 1. Proses budidaya jahe dengan metode polybag oleh penduduk petani desa Gemawang,
Ungarang, kabupaten Semarang, Jawa Tengah (dokumen IAAS LC UNDIP, Maret 2016)

Metode yang diterapkan budidaya empon-empon dengan komoditas jahe di


lahan penduduk di desa Gemawang, Ungaran ini yaitu dengan metode polybag. Pupuk
yang digunakan yatu pupuk bokashi yang dijadikan bahan baku utama sebagai
suplemen dalam pembudidayaan empon-empon agar empon-empon yang ditanam dapat
tumbuh secara maksimal. Penggunaan pupuk bokashi ini bisa meminimalisirkan
penggunaan pupuk kimia sehingga kandungan nitrogen di dalam tanah untuk
penanaman empon-empon tidak semakin berkurang akibat efek samping dari pupuk
kimia. Contoh dari sistem paguyuban yang dilakukan oleh penduduk petani desa
Gemawang ini merupakan bagian dari upaya yang dapat meningkatkan nilai keuntungan
bagi penduduk desa Gemawang.
Untuk budidaya empon-empon, setiap kelompok petani masing-masing akan
diberi bibit dengan jenis yang bebeda dan membudidayakan dengan metode yang sama.
Hasil panenan dari budidaya empon-empon diolah oleh kelompok petani bisa dihasilkan

4
berupa oalahan produk jamu maupun permen yang dimodifikasi dengan bahan lainnya.
Empon-empon yang telah diolah menjadi produk dikemas dengan apik dan unik dalam
wadah yang praktis akan banyak disukai oleh semua kalangan. Hasil olahan tersebut
didistribusikan oleh penduduknya sendiri dari rumah produksi ke rumah penduduk desa
lain kemudian dijualkan ke berbagai pasar hingga ke luar negeri tanpa bantuan para
tengkulak. Hal itu memberikan nilai yang lebih bagi kelompok petani desa.

Gambar 2. Hasil budidaya jahe oleh penduduk petani desa Gemawang kerja sama dengan mahasiswa
IAAS LC UNDIP yang menghasilkan produk “Gimgeranges” (dokumen IAAS LC UNDIP, Maret 2016)

Sejalan dengan adanya kemajuan dalam budidaya empon-empon oleh kelompok


petani hasil dari penerapan sistem paguyuban adanya pembinaan setiap kelompok petani
untuk melanjutkan pemograman desa agrowisata. Selain budidaya empon-empon di
lahan, penduduk desa diharapkan dapat mengatur dan mengelola sendiri tatanan desa
dengan mempertahanan kehijauan asli dari kawasan desa tersebut sebagai desa
pariswisata yang hijau dan tanpa meninggalkan sektor pertanian. Bantuan dari
pemerintah hanya memfasilitasi dalam bentuk promosi desa tanpa ikut campur tangan
dalam tatanan desa. Hal ini dilakukan tanpa ikut campur tangan pemerintah dalam
tatanan desa agar penduduk desa terutama petani dapat mengembangkan desanya
sendiri secara mandiri menjadi desa agrowisata berpotensi yang dapat memberikan
manfaat kepada penduduk desanya itu sendiri.
Terbentuknya desa menjadi desa agrowisata yang bisa medapat menjamin
kehidupan penduduk karena dengan dijadikan desa agrowisata bisa memproduksi hasil
budidaya empon-empon sebagai usaha sampingan petani merupakan wujud upaya dari
sistem paguyuban dapat menaikan sumber potensi matapencaharian penduduk sehingga
dapat mengurangi pengangguran dan angka kemiskinan penduduk di desa serta

5
penduduk desa dapat mengembangkan dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia
di bidang sektor pertanian sehingga sektor pertanian di Indonesia semakin maju dan bisa
menyaingi sektor pertanian di negara-negara maju yang lainnya.
Untuk memajukan sektor pertanian di Indonesia terutama untuk penduduk desa
tidak hanya menanam dan menjual hasil pertanian berupa beras, budidaya empon-
empon juga bisa. Selain memiliki manfaat yang banyak bagi tubuh, empon-empon
memiliki nilai jual yang tinggi mengingatnya semakin banyaknya peminat empon-
empon. Untuk memudahkan penduduk desa dalam membudidayakan empon-empon,
tebentuklah sistem dalam bentuk paguyuban. Dalam sistem paguyuban ini, para petani
disosialisasikan dan dibina dengan memberi materi tentang budidaya empon-empon.
Juga di dalam sistem tersebut, penduduk desa terutama petani dituntut untuk
membangun desa menjadi desa agrowisata yang mandiri dapat mengembangkan
potensi desa di sektor pertanian. Maka dengan adanya desa agrowisata, dapat
meminimalisir jumlah angka pengangguran dan angka kemiskinan penduduk desa
sehingga pembangunan perekonmian di sektor pertanian Indonesia bisa semakin maju
yang dapat mensejaterakan seluruh penduduk Indonesia.