You are on page 1of 6

Ketegori : Ilmu bedah

Judul : appendicitis akut


Abstrak:
Nama : An. DW
Jenis Kelamin : Laki-laki
Umur : 14 tahun
Bangsa : Indonesia
suku : Jawa
Agama : Islam
Pekerjaan : Belum bekerja
Status : Belum menikah
Alamat : Ganjuran, Bantul
MRS : 21 Desember 2017
Isi :
Pasien datang ke UGD RS. Panembahan Senopati Bantul dengan keluhan nyeri perut kanan
bawah sejak satu hari Sebelum Masuk Rumah Sakit. Kemarin sepulang sekolah nyeri dirasakan di
ulu hati, kemudian malam hari berpindah diperut kanan bawah. Nyeri dirasakan terus- menerus
dan tidak menjalar, nyeri terasa tajam dan dirasakan makin lama makin memberat. Nyeri
dirasakan memberat saat perut ditekan dan pasien bergerak, sehingga pasien susah beraktivitas.
Pasien mengeluh nyeri pada perut kanan bawah semakin memberat hebat sejak tadi pagi
Sebelum Masuk Rumah Sakit hingga untuk berjalanpun pasien merasakan lebih nyaman
membungkuk. Pasien juga mengeluh tidak nafsu makan karena mual,hingga muntah 2x
banyaknya sekita 1 cangkir berisi sisa makanan dan air,tidak ada darah dan perut terasa
kembung. Selain itu pasien juga demam sejak satu hari Sebelum Masuk Rumah Sakit, demam
dirasakan terus-menerus sepanjang hari.BAB terakhir kemarin pagi konsistensi lunak, tidak ada
lender darah, BAK 4x sehari tidak ada keluhan. Pola makan pasien tidak teratur dan jarang
mengkonsumsi serat. Sebelumnya pasien tidak pernah mengalami sakit serupa. Dikeluarga juga
tidak ada riwayat sakit,alergi obat ataupun riwayat penyakit tertentu.
Pemeriksaan status lokalis:
Regio : Inguinal dextra
Inspeksi : Tidak tampak benjolan, warna sama dengan kulit sekitar.
Palpasi : teraba hangat, terdapat nyeri tekan pada titik Mc burney
Auskultasi : terdengar bunyi peristaltik usus.
Diagnosis:
Diagnosis Utama :Appendicitis akut.
Diagnosis Banding :ureterholithiasis dan colic ureter
Terapi:
Rencana appendictomy
Medikamentosa Post Tindakan:
Cefotaxim 3x1 gr
Asam mefenamat 3x200 mg
Tramadol 3x25 mg
Asam tranexamat 3x25 mg
Non-Medikamentosa:
Bed rest total
Puasa sampai terdengar suara bising usus

Diskusi :
Apendisitis akut adalah suatu radang yang timbul secara mendadak pada apendik dan merupakan
salah satu kasus akut abdomen yang paling sering ditemui. Apendisitis akut merupakan radang
bakteri yang dicetuskan berbagai faktor, diantaranya adalah hiperplasia jaringan limfe,
fekalith, tumor apendiks dan cacing ascaris dapat juga menimbulkan penyumbatan,
namun faktor yang paling penting adalah hyperplasia jaringan limfe disekitar appendix. Apendiks
merupakan organ yang berbentuk tabung dengan panjang kira-kira 10 cm dan berpangkal pada
sekum. Apendiks memiliki lumen sempit dibagian proximal dan melebar pada bagian distal.
Saat lahir, apendiks pendek dan melebar dipersambungan dengan sekum. Selama anak-
anak, pertumbuhannya biasanya berotasi ke dalam retrocaecal tapi masih dalam intraperitoneal.
Apendisitis akut merupakan peradangan akut pada apendiks yang disebabkan oleh bakteria yang
dicetuskan oleh beberapa faktor pencetus. Obstruksi pada lumen menyebabkan mukus yang
diproduksi mukosa mengalami bendungan. Makin lama mukus tersebut makin banyak,
namun elastisitas dinding apendiks mempunyai keterbatasan sehingga menyebabkan
peningkatan intralumen. Tekanan di dalam sekum akan meningkat. Kombinasi tekanan
tinggi di seikum dan peningkatan flora kuman di kolon mengakibatkan sembelit, hal ini
menjadi pencetus radang di mukosa apendiks. Perkembangan dari apendisitis mukosa menjadi
apendisitis komplit yang meliputi semua lapisan dinding apendiks tentu dipengaruhi oleh
berbagai faktor pencetus setempat yang menghambat pengosongan lumen apendiks atau
mengganggu motilitas normal apendiks. Tekanan yang meningkat tersebut akan menyebabkan
apendiks mengalami hipoksia, menghambat aliran limfe, terjadi ulserasi mukosa dan
invasi bakteri. Infeksi menyebabkan pembengkakan apendiks bertambah (edema) dan
semakin iskemik karena terjadi trombosis pembuluh darah intramural (dinding apendiks). Pada
saat inilah terjadi apendisitis akut fokal yang ditandai oleh nyeri epigastrium.Gangren dan
perforasi khas dapat terjadi dalam 24-36 jam, tapi waktu tersebut dapat berbeda-beda setiap
pasien karena ditentukan banyak faktor. Bila sekresi mukus terus berlanjut, tekanan akan terus
meningkat. Hal tersebut akan menyebabkan obstruksi vena, edema bertambah, dan bakteri akan
menembus dinding. Peradangan timbul meluas dan mengenai peritoneum setempat sehingga
menimbulkan nyeri didaerah kanan bawah. Keadaan ini disebut dengan apendisitis supuratif
akut. Bila kemudian arteri terganggu akan terjadi infark dinding apendiks yang diikuti dengan
gangrene. Stadium ini disebut dengan apendisitis gangrenosa. Bila dinding yang telah rapuh itu
pecah, akan terjadi apendisitis perforasi.
Pemeriksaan Fisik
Inspeksi
- Tidak ditemukan gambaran spesifik.
- Kembung sering terlihat pada komplikasi perforasi.
-Penonjolan perut kanan bawah bisa dilihat pada masaa atau abses
periapendikuler.
-Tampak perut kanan bawah tertinggal pada pernafasan
Palpasi
- nyeri yang terbatas pada regio iliaka kanan, bisa disertai nyeri tekan lepas.
- defans muscular menunjukkan adanya rangsangan peritoneum parietale.
- pada apendisitis retrosekal atau retroileal diperlukan palpasi dalam untuk menentukan adanya
rasa nyeri.
Perkusi
- pekak hati menghilang jika terjadi perforasi usus.
Auskultasi
- biasanya normal
- peristaltik dapat hilang karena ileus paralitik pada peritonitis generalisata akibat apendisitis
perforata
Rectal Toucher
- tonus musculus sfingter ani baik
- ampula kolaps
- nyeri tekan pada daerah jam 9 dan 12
- terdapat massa yang menekan rectum (jika ada abses).
Uji Psoas
Dilakukan dengan rangsangan otot psoas lewat hiperekstensi sendi panggul kanan atau fleksi
aktif sendi panggul kanan, kemudian paha kanan ditahan. Bila apendiks yang meradang menepel
di m. poas mayor, tindakan tersebut akan menimbulkan rangsanan nyeri.
Uji Obturator
Digunakan untuk melihat apakah apendiks yang meradang kontak dengan m. obturator internus
yang merupakan dinding panggul kecil. Gerakan fleksi dan endorotasi sendi panggul pada posisi
terlentang akan menimbulkan nyeri pada apendisitis pelvika. Pemeriksaan uji psoas dan uji
obturator merupakan pemeriksaan yang lebih ditujukan untuk mengetahui letak apendiks.
Pemeriksaan Penunjang
1.Laboratorium
a. Pemeriksaan darah
- leukositosis pada kebanyakan kasus appendisitis akut terutama pada kasus dengan komplikasi.
-pada appendicular infiltrat, LED akan meningkat.
b. Pemeriksaan urin
untuk melihat adanya eritrosit, leukosit dan bakteri di dalam urin. Pemeriksaan ini sangat
membantu dalam menyingkirkan diagnosisbanding seperti infeksi saluran kemih atau batu ginjal
yang mempunyai gejala klinis yang hampir sama dengan appendicitis.
2. Radiologis
a. Foto polos abdomen
Pada appendicitis akut yang terjadi lambat dan telah terjadi komplikasi (misalnya peritonitis)
tampak :
- scoliosis ke kanan
- psoas shadow tak tampak
- bayangan gas usus kanan bawah tak tampak
- garis retroperitoneal fat sisi kanan tubuh tak tampak
- 5% dari penderita menunjukkan fecalith radio-opak
b. USG
Bila hasil pemeriksaan fisik meragukan, dapat dilakukan pemeriksaan USG, terutama pada
wanita, juga bila dicurigai adanya abses. Dengan USG dapat dipakai untuk menyingkirkan
diagnosis banding seperti kehamilan ektopik, adnecitis dan sebagainya.
Penatalaksanaan Apendisitis Akut
Perawatan Kegawatdaruratan
Berikan terapi kristaloid untuk pasien dengan tanda-tanda klinis dehidrasi atau septicemia.
Pasien dengan dugaan apendisitis sebaiknya tidak diberikan apapun melalui mulut.
Berikan analgesik dan antiemetik parenteral untuk kenyamanan pasien.
Pertimbangkan adanya kehamilan ektopik pada wanita usia subur, dan lakukan pengukuran
kadar hCG
Berikan antibiotik intravena pada pasien dengan tanda-tanda septicemia dan pasien yang akan
dilanjutkan ke laparotomi.
Antibiotik Pre-Operatif
Pemberian antibiotik pre-operatif telah menunjukkan keberhasilan dalam menurunkan
tingkat luka infeksi pasca bedah.Pemberian antibiotic spektrum luas untuk gram negatif
dan anaerob diindikasikan.
Antibiotik preoperative harus diberikan dalam hubungannya pembedahan.
Tindakan Operasi
Apendiktomi, pemotongan apendiks.
Jika apendiks mengalami perforasi, maka abdomen dicuci dengan garam fisiologis dan
antibiotika.
Bila terjadi abses apendiks maka terlebih dahulu diobati dengan antibiotika IV, massanya
mungkin mengecil, atau abses mungkin memerlukan drainase dalam jangka waktu beberapa hari.

Kesimpulan:
Pasien datang ke UGD RS. Panembahan Senopati Bantul dengan keluhan nyeri perut kanan
bawah sejak satu hari Sebelum Masuk Rumah Sakit. Kemarin sepulang sekolah nyeri dirasakan di
ulu hati, kemudian malam hari berpindah diperut kanan bawah. Nyeri dirasakan terus- menerus
dan tidak menjalar, nyeri terasa tajam dan dirasakan makin lama makin memberat. Nyeri
dirasakan memberat saat perut ditekan dan pasien bergerak, sehingga pasien susah beraktivitas.
Pasien mengeluh nyeri pada perut kanan bawah semakin memberat hebat sejak tadi pagi
Sebelum Masuk Rumah Sakit hingga untuk berjalanpun pasien merasakan lebih nyaman
membungkuk. Pasien juga mengeluh tidak nafsu makan karena mual,hingga muntah 2x
banyaknya sekita 1 cangkir berisi sisa makanan dan air,tidak ada darah dan perut terasa
kembung. Selain itu pasien juga demam sejak satu hari Sebelum Masuk Rumah Sakit, demam
dirasakan terus-menerus sepanjang hari. Pasien direncanakan untuk oprasi appendiktomy dan
tindakan medikamentosa serta non medikamentosa.
Referensi:
1.Tim Revisi PDT Sub Komite Farmasi dan Terapi RSU DR.Soetomo .Pedoman Diagnosis dan
Terapi Ilmu Bedah RSUD Dr. Soetomo.Surabaya.2008
2. Syamsuhidayat, R dan de Jong, Wim. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi Kedua. Jakarta: Penerbit
Buku Kedokteran EGC.2004
3. Sabiston. Textbook of Surgery : The Biological Basis of ModernSurgical Practice. Edisi
16.USA: W.B Saunders companies.2002
4. Schwartz. Principles of Surgery. Edisi Ketujuh.USA:The Mcgraw-Hillcompanies.2005
5. R. Schrock MD, Theodore. Ilmu Bedah. Edisi Ketujuh. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran
EGC.1995
Penulis :

Muhammad faizal Herliansyah


20130310040 / 20174011036

Bagian Ilmu Bedah


Dokter Pembimbing : dr. Surya Habsara, Sp.B