You are on page 1of 4

Sepuluh Panggilan dari Syurga

Oleh: Asma Azizah

Aku punya sepuluh adik. Sepuluh orang dengan beragam karakter.


Sepuluh hati yang harus dijaga perasaannya. Sepuluh kepala yang harus
dicerdaskan terus menerus pemahaman Islamnya. Sepuluh adik, sepuluh nama
yang insya Allah akan memudahkan jalanku menuju Jannah yang seluas langit
dan bumi.

Mulanya, membersamai mereka bersepuluh adalah perkara yang sangat


berat bagiku. Apalagi saat aku mengetahui bahwa kesukaanku berbeda 180 derajat
dengan kesukaan mereka. Juga saat aku sadar bahwa mereka adalah orang-orang
yang sangat kritis dan tidak bisa menerima materi tanpa dikritisi, rasanya
menambah berat pundakku. Membuatku ingin lari, membuatku ingin cepat-cepat
mengakhiri lingkaran itu.

Tapi aku tak boleh menyerah! Aku tak boleh mundur begitu saja. Meratapi
segala ketidakmampuanku terhadap tanya mereka. Karena tak ada masalah yang
tak ada jalan keluarnya. Karena Allah tidak membebani di luar batas kemampuan
kita1. Allah menempatkanku bersama mereka, pasti ada banyak hikmah yang
Allah ingin ajarkan. Yang kuperlu adalah, selalu berprasangka baik pada Allah.
Selalu berhusnudzon pada mereka bersepuluh.

Allah Yang Maha Penyayang menjawab prasangka baik itu satu persatu.
Saat aku sedang sangat sibuk dan nyaris melupakan lingkaran AAI, adik yang
sangat gaul menyapaku dan bertanya: mbak kapan kita AAI?. Saat aku butuh
untuk dinasehati, seorang adik AAI memberikan tausiyah pada teman-temannya
satu lingkaran AAI yang sangat menyentuh. Atau bahkan saat salah seorang dari
mereka pamer karena berhasil menonton beberapa video tausiyah di youtube. Atau
saat ada yang tiba-tiba bersemangat belajar hadits setelah mendapatkan materi
atau jawaban yang kusampaikan. Sesungguhnya saat paling mengharukan adalah
ketika kita bisa jadi perantara mereka dalam menuntut ilmu. Masya Allah.. Segala
puji hanya milik Allah..
Maka, menjadi asisten AAI adalah tentang kesabaran. Sabar, saat kita
belum menemukan metode yang pas untuk menghadapi adik-adik. Sabar
mendengar setiap keluh kesah adik-adik. Sabar menghadapi menghadapi
pertanyaan mereka yang tak ada habisnya. Sabar bila saat ini mungkin adik-adik
belum bisa menjadi seperti yang diinginkan. Sabar dalam setiap ketidaksabaran
adik-adik sebagaimana yang Allah pinta: Bersabarlah kamu dan kuatkanlah
kesabaranmu2.

Menjadi asisten AAI adalah tentang cinta. Cinta pada pemilik alam
semesta ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah memberi hidayah pada kita.
Hidayah yang tentunya tidak boleh disimpan sendiri. Cinta pada Allah, dan
berharap dengan membina, Allah semakin cinta pada kita. Cinta pada Nabi
Muhammad Sholallahu ‘alaihi Wassalam yang tak lelah menyuruh pada yang
makruf dan mencegah yang munkar.

Menjadi asisten AAI adalah tentang keikhlasan. Walau hanya satu orang
yang datang. Bahkan ketika tak ada yang datang dan AAI harus diundur, sebisa
mungkin kita harus introspeksi diri, dan menghadirkan prasangka baik
(husnudzon) pada adik-adik. Lelah pasti. Lelah terus memaksa diri untuk
berhusnudzon. Tapi tak ada balasan untuk kebaikan selain kebaikan pula3.
Yakinlah, tak ada gelap yang abadi. Tak ada gerimis yang tak henti. Suatu hari
nanti, pasti akan hadir pelangi itu. Kelak, pasti Allah akan hadirkan kebaikan itu.
Bila tak kita dapatkan di dunia, insya Allah akan kita jumpai di akhirat kelak..

Menjadi asisten AAI adalah tentang mengamalkan firman Allah: Dan


bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang
luasnya seluas langit dan bumi..4. Berapapun jumlah adik-adik, sedikit atau
banyak, yakinlah bahwa mereka semua akan jadi salah satu penyebab kita
dimasukkan pada SyurgaNya Allah.

Bila lelah itu menyapamu, bayangkan saja, bayangkan bahwa kelak di


akhirat kita akan bertetangga dengan Rasulullah dan para sahabat. Bayangkan kita
akan minum dari Telaga Kautsar. Bayangkan bahwa di akhir nanti, ada kehidupan
yang tak berakhir. Ada kenikmatan yang menunggu. Sebagai buah dari keimanan,
keikhlasan, dan kesabaran. Atau bila tak bisa membayangkannya, maka ingatlah
bahwa mungkin saja di akhir nanti, adik-adik AAI-lah yang akan memohon pada
Allah agar kita bisa ikut ditempatkan di SyurgaNya. Sebagaimana Ibnul Jauzi
pernah berpesan kepada sahabat-sahabatnya sambil menangis: “Jika kalian tidak
menemukan aku di Syurga, maka tanyakanlah tentang aku kepada Allah: Wahai
Rabb kami, hambaMu fulan, sewaktu di dunia selalu mengingatkan kami untuk
mengingat Engkau, maka masukkanlah dia bersama kami di Syurga..”

Sepuluh adik-adik, untuk sepuluh panggilan dari Syurga.. insyaa Allah :’’)

Catatan kaki:

1
Qur’an Surah Al-Baqoroh ayat 286: “Allah tidak membebani seseorang
melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan)
yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya.
(Mereka berdoa): "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa
atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami
beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum
kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak
sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah
kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang
kafir".

2
Qur’an Surah Ali-Imran ayat 200: “Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah
kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan
negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung”.

3
Qur’an Surah Ar-Rahman ayat 60: “Tidak ada balasan kebaikan kecuali
kebaikan (pula)”.
4
Qur’an Surah Ali-Imran ayat 133: “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan
dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang
disediakan untuk orang-orang yang bertakwa”.