You are on page 1of 17

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.3 Konsep Dasar Skizofrenia

2.3.1 Pengertian Skizofrenia

Skizofrenia berasal dari kata Yunani yang bermakna schizo artinya terbagi,
terpecah dan phrenia artinya pikiran. Jadi pikirannya terbagi atau terpecah
(Rudyanto, 2007). Skizofrenia dijelaskan sebagai penyakit otak neurobiological
yang serius dan menetap, ditandai dengan kognitif dan persepsi serta afek yang
tidak wajar (Stuart & Laraia, 2005). Skizofrenia dapat dialami oleh setiap individu
tanpa memandang jenis kelamin, ras, maupun tingkat sosial ekonomi (Maramis,
2005). Skizofrenia dikarakteristikan dengan psikosis, halusinasi, delusi,
disorganisasi pembicaraan dan perilaku, afek datar, penurunan kognitif,
ketidakmampuan bekerja atau kegiatan dan hubungan sosial yang memburuk
(Bustillo, 2008).

Skizofrenia adalah salah satu gangguan kejiwaan yang cukup berat dan
menunjukkan adanya disorganisasi atau kemunduran fungsi kepribadian, sehingga
menyebabkan disability atau ketidakmampuan (Susanto, 2006). Skizofrenia
adalah suatu penyakit otak persisten dan serius yang mengakibatkan perilaku
psikotik, pemikiran konkret, dan kesulitan dalam memproses informasi, hubungan
interpersonal, serta memecahkan masalah (Stuart, 2007).

Skizofrenia merupakan kumpulan dari beberapa gejala klinis yang penderitanya
akan mengalami gangguan dalam kognitif, emosional, persepsi serta gangguan
dalam tingkah laku. Penderita gangguan jiwa skizofrenia akan mengalami gejala
gangguan persepsi, seperti waham dan halusinasi (Kaplan & Sadock, 2007).
Skizofrenia dapat mempengaruhi pola pikir, emosional dan juga tingkah laku pada
penderitanya. Hal ini dikarenakan pada bagian otak pasien skizofrenia terganggu,
rangsangan yang dikirim mengalami gangguan sehingga tidak berhasil mencapai
sambungan sel yang dituju (Videbeck, 2008).

9%) (Depkes RI. Sebanyak 7 provinsi mempunyai prevalensi gangguan jiwa berat diatas prevalensi nasional.2 Epidemiologi Skizofrenia World Health Organization (2008). Bangka Belitung. Sumatera Barat (16.5%). Kepulauan Riau (7. 2013). Prevalensi penderita skizofrenia di Indonesia adalah 0. dijelaskan bahwa prevalensi nasional Gangguan Jiwa Berat adalah 0. dimana sekitar 99% pasien di Rumah Sakit Jiwa adalah: penderita skizofrenia (Yosep. Presentase seseorang mengalami skizofrenia yang memiliki hubungan sebagai saudara tiri sekitar 0. bila kedua orangtua menderita skizofrenia 40-68%.4%) dan Nusa Tenggara Barat (9. Apabila penduduk Indonesia sekitar 200 juta jiwa maka diperkirakan sekitar 2 juta prnduduk Indonesia mengalami skizofrenia. bagi saudara kandung 7- 15%.9-1. Nanggroe Aceh Darussalam (18.7%).7%). 2009). bagi kembar dua telur (heterozigot) 2. . bagi anak dengan salah satu orangtua yang menderita skizofrenia 7-16%. bagi kembar satu telur(monozigot) 61-86%.3.2%).15%.5%. (8. stres psikologi dan hubungan antar manusia yang kurang harmonis.3%).3 Etiologi Skizofrenia Menurut Maramis (2009). Berdasarkan laporan Nasional Riset Kesehatan Dasar tahun 2013. telah memperkirakan ada sekitar 450 juta orang di dunia yang mengalami gangguan kesehatan jiwa dan setiap tahun terdapat sekitar satu pertiga dari satu juta orang yang meninggal karena bunuh diri di wilayah Asia Tenggara. Genetik Faktor genetik turut menentukan timbulnya skizofrenia. Penderita skizofrenia umumnya dapat terjadi disebabkan oleh genetik. etiologi dari skizofrenia diantaranya adalah: 1. Sumatera Selatan (9. neuroanatomi. yaitu DKI Jakarta (20.8%. terutama anak-anak kembar satu telur.2.3-1% dan dapat dialami pada individu yang berusia sekitar 11 sampai 12 tahun dan 18 sampai 45 tahun. Hal ini telah dibuktikan dengan penelitian yang dilakukan pada keluarga penderita skizofrenia.3. 2.

1. mungkin sekali akibat pengaruh genetik dan dimodifikasi oleh faktor maturasi dan lingkungan.4 Manifestasi Klinis Skizofrenia Secara general gejala skizofrenia dibagi menjadi tiga yaitu gejala positif. dan kelainan susunan seluler pada struktur saraf di beberapa daerah kortex dan subkortex tanpa adanya gliosis yang menandakan kelainan tersebut terjadi pada saat perkembangan. Semua bukti tersebut melahirkan hipotesis perkembangan saraf yang menyatakan bahwa perubahan patologis gangguan ini terjadi pada tahap awal kehidupan. pemilihan konseptual. GABA. 2. pembesaran ventrikel otak non spesifik. noradrenalin. gejala negatif dan gejala kognitif ( Maramis. Keterlibatan neurotransmitter lainnya seperti serotonin. Hipotesis dopamine Skizofrenia disebabkan oleh neuroaktifitas pada jaras dopamin mesolimbik. Hipotesis perkembangan saraf Studi autopsi dan pencitraan otak memperlihatkan abnormalitas struktur dan morfologi otak penderita skizofrenia antara lain berupa berat otak yang rata-rata lebih kecil 6% daripada otak normal dan ukuran anterior-posterior yang 4% lebih pendek.2. b. fungsi eksekutif dan memori pada penderita skizofrenia. glutamat dan neuropeptid lain masih terus diteliti oleh para ahli. . gangguan metabolisme di daerah frontal dan temporal. dan obat psikotik (terutama obat tipe tipikal/klasik) bekerja dengan cara memblok reseptor dopamin terutama reseptor D2. 2005). Hal ini didukung oleh temuan bahwa amfetamin yang kerjanya meningkatkan pelepasan dopamin dapat menginduksi psikosis yang mirip skizofrenia. Neurokimia a. Studi neuropsikologis mengungkapkan defisit di bidang atensi.

Misalnya penderita skizofrenia.1. Kegagalan berpikir mengarah kepada masalah dimana klien skizofrenia tidak mampu mengatur pikirannya. Gejala positif Halusinasi selalu terjadi saat rangsangan terlalu kuat dan otak tidak mampu menginterpretasikan dan merespons pesan atau rangsangan yang datang. mereka tidak bisa melakukan hal-hal lain selain tidur dan makan. juga tidak bisa mengerti kapan dia lahir serta dimana dia berada. kadang penderita skizofrenia tertawa atau berbicara sendiri dengan keras tanpa mempedulikan sekelilingnya. dianggap sebagai suatu isyarat dari luar angkasa. Klien skizofrenia mungkin mendengar suara-suara atau melihat sesuatu yang sebenarnya tidak ada atau mengalami suatu sensasi yang tidak biasa pada tubuhnya. Perasaan yang tumpul membuat emosinya menjadi datar. dan tidak bisa mengerti apa itu manusia. Kadang suara itu dirasakan menyejukan hati. mereka selalu merasa sedang di amat amati. tidak berpakaian. lampu traffic di jalan raya yang berwarna merah. 2. kuning. Semua itu membuat penderita skizofrenia tidak bisa memahami siapa dirinya. Ketidakmampuan dalam berpikir mengakibatkan ketidakmampuan mengendalikan emosi dan perasaan. gejala yang biasanya timbul yaitu klien merasakan ada suara dari dalam dirinya. Karena klien hanya memiliki minat sedikit. Gejala negatif Klien skizofrenia kehilangan motivasi dan apatis yaitu kehilangan minat dalam hidup yang membuat klien menjadi orang pemalas. seperti bunuh diri. hijau. diikuti atau hendak diserang. Penyesatan pikiran (delusi) adalah kepercayaan yang kuat dalam menginterpretasikan sesuatu yang kadang berlawanan dengan kenyataan. Klien skizofrenia tidak memiliki ekspresi yang baik dari raut muka maupun gerakan tangannya. Halusinasi pendengaran. Kebanyakan klien tidak mampu memahami hubungan antara kenyataan dan logika. Beberapa penderita skizofrenia berubah menjadi paranoid. memberi kedamaian. Hasilnya. seakan- . tapi kadang suara itu menyuruhnya melakukan sesuatu yang sangat berbahaya.

5 Kriteria Diagnosis Skizofrenia Kriteria diagnostik di Indonesia menurut PPDGJ-III yang menuliskan bahwa walaupun tidak ada gejala-gejala patognomonik khusus. Dalam beberapa kasus skizofrenia sering menyerang pada usia antara 15-30 tahun dan kebanyakan menyerang saat usia 40 tahun ke atas. Thought echo Isi pikiran dirinya sendiri yang berulang atau bergema dalam kepalanya dan isi pikiran ulangan. delusion of influen yaitu waham tentang dirinya sendiri dipengaruhi oleh suatu kekuatan tertentu dari luar. Mereka tidak merasa memiliki perilaku yang menyimpang. dalam praktek dan manfaatnya membagi gejala-gejala tersebut ke dalam kelompok-kelompok yang penting untuk diagnosis dan yang sering terdapat secara bersama-sama yaitu: 1. delusion of passivity yaitu .akan dia tidak memiliki emosi apapun. walaupun isinya sama.1. Waham atau Delusinasi Delusion of control yaitu waham tentang dirinya sendiri dikendalilkan oleh suatu kekuatan tertentu. 2. Depresi yang tidak mengenal perasaan ingin ditolong dan berharap. namun kualitas berbeda atau thought insertion or withdrawal yaitu isi pikiran yang asing dari luar masuk kedalam pikirannya (insertion) atau isi pikirannya diambil keluar oleh sesuatu diluar dirinya (withdrawal) dan tought broadcasting yaitu isi pikiran tersiar keluar sehingga orang lain mengetahuinya. 3. Depresi yang berkelanjutan akan membuat klien menarik diri dari lingkungannya dan merasa aman bila sendirian. tidak bisa membina hubungan relasi dengan orang lain. selalu menjadi bagian dari hidup klien skizofrenia.. tipe-tipe ingatan tertentu dan fungsi yang memungkinkan kita untuk merencanakan mengorganisasikan sesuatu. 2. Mereka mungkin bisa menerima perhatian dari orang lain tapi tidak bisa mengekspresikan perasaan mereka. Gejala kognitif Permasalahan yang berhubungan dengan perhatian.

Jenis suara halusinasi lain yang berasal dari salah bagian tubuh. tetapi bahwa semua hal tersebut tidak disebabkan oleh depresi atau neuroleptika. bicara jarang serta respon emosional yang menumpul atau tidak wajar biasanya mengakibatkan penarikan diri dari pergaulan social dan menurunnya kinerja social. d. g.6 Tipe-Tipe Skizofrenia Skizofrenia di dalam PPDGJ-III dapat dikelompokkan menjadi beberapa subtipe. f. Arus fikiran yang terputus (break) atau mengalami sisipan (interpolasi) yang berakibat inkoherensi atau pembicaraan tidak relevan atau neologisme. menurut Kaplan & Sadock (2010) subtipe tersebut antara lain: . negattivisme. Atau paling sedikit dua gejala dibawah ini yang harus selalu ada secara jelas. Suara halusinasi yang berkomentar terus menerus terhadap perilaku pasien. Waham-waham menetap jenis lain yang menurut budaya dianggap tidak wajar dan mustahil seperti waham bisa mengendalikan cuaca. b. Perilaku katatonik seperti keadaan gaduh. mutisme dan stupor.1. gelisah (excitement) sikap tubuh tertentu (posturing) atau fleksibilitas serea. 3. Halusinasi yang menetap dari setiap panca indera baik disertai waham yang mengambang maupun yang setengah berbentuk tanpa kandungan afektif yang jelas atau ide-ide berlebihan yang menetap atau terjadi setiap hari selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan secara terus menerus. pikiran maupun tindakan tak berdaya terhadap suatu kekuatan dari luar. Halusinasi Auditorik a. 2. c. delusion of perception yaitu pengalaman indrawi yang tidak wajar yang bermakna sangat khas dan biasanya bersifat mistik atau mukjizat. h.waham tentang gerakan tubuh. Mendiskusikan perihal pasien diantara mereka sendiri (dia antara berbagai suara yang berbicara). e. Gejala-gejala negative seperti apatis.

Skizofrenia Katatonik Jenis Skizofrenia katatonik biasanya ditandai dengan gangguan psikomotor yang nyata. asosiasi longgar.1. dan rehabilitasi. 2. menarik diri dari masyarakat.1. atau perilaku agresif dan bermusuhan. 4. psikoterapi. 2. Skizofrenia Terdisorganisasi atau Hebefrenik Jenis skizofrenia tidak terorganisir biasanya ditandai dengan afek datar atau afek yang tidak sesuai secara nyata. inkoherensi. afek datar serta asosiasi longgar. 3. afek. halusinasi dan terkadang terdapat waham keagamaan yang berlebihan (fokus waham agama). dan perilaku. Skizofrenia Tak Tergolong Jenis skizofrenia tidak dapat dibedakan biasanya ditandai dengan gejala-gejala skizofrenia campuran (atau jenis lain) disertai gangguan pikiran. Skizofrenia Paranoid Jenis skizofrenia paranoid biasanya ditandai dengan adanya waham kejar (rasa menjadi korban atau seolah-olah dimata-matai atau waham kebesaran.7 Penatalaksanaan Skizofrenia Ada berbagai macam terapi yang bisa kita berikan pada skizofrenia. . baik dalam bentuk tanpa gerakan atau aktivitas motorik yang berlebihan terlihat tanpa tujuan dan tidak dipengaruhi oleh stimulasi eksternal. Hal ini diberikan dengan kombinasi satu sama lain dan dengan jangka waktu yang relatif cukup lama. dan disorganisasi perilaku yang ekstrem. Skizofrenia Residual Jenis skizofrenia residual biasanya ditandai dengan setidaknya satu episode skizofrenia sebelumnya. tetapi saat ini tidak psikotik. Terapi psikososial pada skizofrenia meliputi: terapi individu. Terapi skizofrenia terdiri dari pemberian obat-obatan. 5.

Level 2: RSJ memiliki 32 jejaring puskesmas diseluruh Bali. Contohnya pasien yang jarang dikunjungi pihak keluarga. 2009).1 Pengertian Perilaku kekerasan adalah suatu keadaan hilangnya kendali perilaku seseorang yang diarahkan pada diri sendiri. Level ketiga adalah dukungan dan penanganan kesehatan jiwa di masyarakat. Perilaku kekerasan adalah rentan melakukan perilaku yang menunjukkan bahwa ia dapat membahayakan orang lain atau diri sendiri secara fisik. 2015-2017). 3. Level 1 : RSJ setiap tahunnya melakukan bakti sosial dan program komunitas yaitu penanganan & penyuluhan 2. emosional. Level 4: melakukan home visit. melatih tenaga puskesmas (dokter & perawat) untuk mampu memberikan penanganan pertama pada pasien.2.terapi kelompok. Level keempat adalah penanganan kesehatan jiwa di keluarga. rehabilitasi psikiatri. 4. terapi keluarga. . Level 3: memberikan penyuluhan/pengobatan gratis melalui program bansos.2 Perilaku Kekerasan 2. baik berbasis masyarakat maupun pada tatanan kebijakan seperti puskesmas dan rumah sakit. Level pertama adalah pelayanan kesehatan jiwa komunitas. atau lingkungan (Yusuf. dan/ seksual (Nanda. WHO merekomendasikan sistem 4 level untuk penanganan masalah gangguan jiwa. 2014). Level kedua adalah penanganan kesehatan jiwa melalui puskesmas. latihan ketrampilan sosial dan manajemen kasus (Hawari. pasien yang sering mengalami kekambuhan. 2. namun tidak ke semua pasien (hanya yang bermasalah). Pihak RSJ juga dengan rutin melakukan kunjungan setiap bulannya disetiap puskesmas. memberikan pengobatan secara rutin. orang lain. 1. Penerapan nyata yang dilakukan oleh pihak RSJ melalui 4 level tersebut yaitu: 1. dan pasien dengan riwayat pemasungan. 3. 2.

Apabila perasaan marah diekspresikan dengan perilaku agresif dan menentang. Cara ini menimbulkan masalah yang berkepanjangan dan dapat menimbulkan tingkah laku yang destruktif dan amuk. sedangkan secara eksternal dapat berupa perilaku destruktif agresif. Respons marah dapat diungkapkan melalui tiga cara yaitu (1) mengungkapkan secara verbal. I. Respons marah dapat diekspresikan secara internal atau eksternal. tekanan darah meningkat 2. sarkasme.2.2. Amuk adalah respons marah terhadap adanya stres. rasa terganggu. bawel. napas pendek. Mengekspresikan rasa marah dengan perilaku konstruktif dengan menggunakan kata-kata yang dapat dimengerti dan diterima tanpa menyakiti orang lain akan memberikan kelegaan pada individu. Fisik : muka merah. Secara internal dapat berupa perilaku yang tidak asertif dan merusak diri. marah (dendam). orang lain. (2) menekan. rasa cemas. putus asa. Rentang Respon Adaptif Maladaptif Aserif Frustasi Pasif Agresif Amuk Keterangan: Asertif : Kemarahan yang diungkapkan tanpa menyakiti orang lain. harga diri rendah. jengkel 2. Emosi : tidak adekuat. berdebat. 1991). tidak realitas/terhambat. keringat. atau lingkungan (Keliat.4 Proses Terjadinya Amuk merupakan respons kemarahan yang paling maladaptif yang ditandai dengan perasaan marah dan bermusuhan yang kuat disertai hilangnya kontrol.4 Tanda dan gejala. yang individu dapat merusak diri sendiri. biasanya dilakukan karena ia merasa kuat. pandangan tajam. 1. meremehkan 3.3. dan (3) menantang. Agresif : Perilaku destruktif tapi masih terkontr . dan ketidakberdayaan. Pasif : Respons lanjutan yang pasien tidak mampu mengungkapkan perasaan. Frustasi : Kegagalan mencapai tujuan. tidak aman. sakit fisik. Intelektual : mendominasi. penyalahgunaan zat. rasa bersalah.

B. Amuk : Perilaku destruktif yang tidak terkontrol. DO: muka merah. Gangguan konsep diri: harga diri rendah. 3. Gangguan Harga Diri : Harga Diri Rendah berhubungan dengan gangguan psikiatrik . mondar-mandir dan mudah marah. merasa bersalah terhadap diri sendiri. Resiko menciderai diri sendiri . Resiko menciderai diri. merusak benda di sekitar. Masalah keperawatan dan data yang perlu dikaji 1. percaya diri kurang.orang lain dan lingkungan berhubungan dengan perilaku kekerasan. Perilaku kekerasan. 2. DS: klien mengatakan malu terhadap diri sendiri. orang lain dan lingkungan. pandangan tajam. DO: menarik diri. nada suara tinggi. kontak mata kurang dan mencederai diri. otot tegang. Perilaku kekerasan berhubungan dengan gangguan harga diri: harga diri rendah. orang lain dan lingkungan Masalah utama Perilaku kekerasan Penyebab Gangguan konsep diri: harga diri rendah III. peningkatan aktifitas motorik. 3. Diagnosa keperawatan. 1. II. Pohon Masalah Akibat resiko menciderai diri sendiri . DS : Klien mengatakan akan memukul orang lain atau dirinya sendiri dan mengancam orang lain. 2. A. DS: klien mengatakan kesal dengan orang lain. memukul. DO : Mengepalkan tangan.

Rencana tindakan keperawatan .IV.

Defisit perawatan diri adalah suatu keadaan seseorang mengalami kelainan dalam kemampuan untuk melakukan atau menyelesaikan aktivitas kehidupan sehari-hari secara mandiri. B. Biologis : Penyakit kronis yang menyebabkan klien tidak mampu melakukan perawatan diri. bau napas. 2000). makan. berpakaian. kesehatan dan kesejahteraan sesuai dengan kondisi kesehatannya. toileting) (Yusuf. dan penampilan tidak rapi (mandi. makan. Perkembangan : Keluarga terlalu melindungi dan memanjakan klien sehingga perkembangan inisiatif terganggu. Kemampuan realitas turun : Klien dengan gangguan jiwa dengan kemampuan realitas yang kurang menyebabkan ketidakpedulian dirinya dan lingkungan termasuk perawatan diri. pakaian kotor. bau badan. Tidak ada keinginan untuk mandi secara teratur. d. Situasi lingkungan mempengaruhi latihan kemampuan dalam perawatan diri. Defisit perawatan diri merupakan kurangnya perawatan diri yang terjadi akibat adanya perubahan proses piker sehingga kemampuan melakukan aktivitas diri menurun 2.3. 2015) Keliat. tidak menyisir rambut. menyatakan defisit perawatan diri adalah ketidakmampuan dalam kebersihan diri. Faktor prediposisi a. BAB dan BAK sendiri. Fitryasari. . dkk (2011).2. klien dinyatakan terganggu keperawatan dirinya jika tidak dapat melakukan perawatan diri (Depkes. b. berpakaian. c. Sosial : Kurang dukungan dan latihan kemampuan perawatan diri lingkungannya. berhias.3 Defisit Perawatan Diri 2.2 Etiologi Terdapat dua faktor penyebab defisit perawatan diri yaitu : 1.3.1 Definisi Perawatan diri adalah salah satu kemampuan dasar manusia dalam memenuhi kebutuhannya guna memepertahankan kehidupannya.A. Nihayati.

Defisit perawatan diri : Makan Hambatan kemampuan untuk melakukan atau menyelesaikan aktivitas makan secara mandiri. cemas.2. 2. Faktor presipitasi Faktor presiptasi defisit perawatan diri diantaranya adanya penurunan motivasi. 3. tidak mau/tidak mampu menyisir rambut. Tidak mampu/tidak ada keinginan untuk membersihkan atau mengeringkan badan. kulit berdaki dan abu keringat. penampilan tidak rapi (pakaian kotor). Defisit perawatan diri : berpakaian. kerusakan kognisi atau perceptual. Iskandar. gigi kotor. tidak ada keinginan untuk mandi secara teratur. tidak mau/tidak mampu berpakaian secara benar. Defisit perawatan diri : berpakaian / berhias Rambut acak-acakan. Defisit perawatan diri : Mandi / kebersihan diri Rambut kotor.3 Jenis–Jenis Perawatan Diri Menurut NANDA (2015-2017). 4. Hambatan kemampuan untuk melakukan atau menyelesaikan aktivitas berpakaian dan aktivitas berdandan sendiri.3. 2. 2015) 1. Nihayati. jenis defisit perawatan diri terdiri dari : 1. kuku panjang dan kotor. mengenakan atau melepas pakaian .4 Manifestasi Klinis Tanda dan gejala dari defisit perawatan diri adalah: (Yusuf. lelah/lemah yang dialami individu sehingga menyebabkan individu kurang mampu melakukan perawatan diri. 2014) 2. Fitryasari. 2.3. Defisit perawatan diri : Mandi Hambatan kemampuan untuk melakukan atau menyelesaikan aktivitas mandi atau beraktivitas perawatan diri untuk diri sendiri. (Damariyanti . Kurang perawatan diri : Toileting Hambatan kemampuan untuk melakukan atau menyelesaikan aktivitas eliminasi sendiri. tidak mampu memilih atau mengambil.

4. tidak membersihkan diri dengan baik setelah BAB/BAk. makan berceceran atau tidak pada tempatnya. merasa tidak berdaya. II.Pola perawatan diri seimbang : saat klien mendapat stressor dan mampu untuk berperilaku adaptif . Defisit perawatan diri : toileting (BAB & BAK) BAB dan BAK tidak pada tempatnya atau sembarang tempat. tidak mampu menyiram atau menjaga kebersihan toilet. kadang tidak Keterangan : . Defisit Perawatan Diri DS : Pasien mengatakan merasa lemah. A. . tidak mau/tidak mampu menggunakan pakaian setelah BAK/BAB. Defisit perawatan diri : makan Tidak mampu menyiapkan/mengambil makanan sendiri.Tidak melakukan perawatan diri : klien mengatakan tidak peduli dan tidak bisa melakukan perawatan diri saat menghadapi stressor. tidak mampu menggunakan kloset/pispot. termasuk mengancingkan dan menutup atau membuka resletting. Rentang Respon Respon Adaptif Respon Maladaptif Kadang perawatan Pola perawatan diri seimbang Tidak melakukan perawatan diri diri. tidak mampu mengunyah atau menelan makanan. pasien mengatakan tidak peduli dengan penampilannya. tidak mampu memegang/menggunakan alat makan. laki-laki tidak bercukur dan perempuan tidak berdandan. tidak mampu/tidak mau memakai alas kaki. Masalah keperawatan dan data yang perlu dikaji 1. tidak mampu memasukkan makanan ke dalam mulut. malas untuk beraktivitas. kadang tidak : saat klien mendapat stressor kadang- kadang tidak memperhatikan perawatan dirinya .Kadang perawatan diri. 3. I.

Aktivitas menurun. pasien mengatakan tidak senang/kurang pas terhadap apa yang telah dicapai. 2. tidak bisa. kontak mata kurang. DO : Klien terlihat lebih suka sendiri. mengkritik diri sendiri. kuku panjang dan tidak terawat. Diagnosa keperawatan 1. mulut dan gigi bau. DO : pasien tampak pendiam. Mekanisme koping tidak efektif DS : pasien mengatakan tidak dapat menyelesaikan masalah sendiri DO : pasien tampak gelisah B. ekspresi sedih. Pohon Masalah Effect Isolasi sosial/ Risiko perilaku kekerasan Core Problem Defisit perawatan diri Cause Harga diri rendah Mekanisme kopinfg tidak efektif III. sedikit bicara. Menolak berhubungan dengan orang lain. Defisit Perawatan Diri . 4. mengungkapkan perasaan malu terhadap diri sendiri. bodoh. sering menundukkan kepala 3. kulit kusam dan kotor. bingung bila disuruh memilih alternatif tindakan. Isolasi Sosial DS : Klien mengatakan saya tidak mampu. komunikasi verbal kurang. Harga diri rendah DS : pasien mengatakan dirinya malu. tidak tahu apa-apa. DO : Tampak rambut kotor dan acak – acakan. apatis. badan dan pakaian kotor serta bau.

IV. Rencana Tindakan Keperwatan .

(2011). H. Kamitsuru. 2000. (2015). Standar Pedoman Perawatan jiwa.H. Buku Ajar Keperawatan Kesehatan Jiwa. M. (2015). T.. (2006). Edisi 7. Iskandar. G. dkk. R. A. Stuart.Kaplan Sadoch. A. 1998. Fitryasari. DAFTAR PUSTAKA Damayanti. Jakarta : EGC Yusuf. B. (2014). Diagnosis Keperawatan: definisi & Klasifikasi. 2015- 2017. Keperawatan Kesehatan Jiwa. Jakarta: EGC. Asuhan Keperawatan Jiwa. Oxford : Wiley Blackwell.. Sinopsis Psikiatri. Depkes. Buku saku Keperawatan Jiwa Edisi 5.E.W. Nihayati. Nanda International (2015). Jakarta : Salemba Medika . Keliat. Jakarta : EGC.H. NANDA International Nursing Diagnoses : Definition and Classification 2015-2017. Jakarta : EGC Herdman... S. Bandung : PT Refika Aditama.