You are on page 1of 12

1

URGENSI ANGGARAN PENDAPATAN BELANJA DAERAH (APBD)


TERHADAP PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH
Yuliastati K
dhaniu879@gmail.com
Mahasiswa Program Studi Magister Ilmu Hukum Pascasarjana Universitas Tadulako

Abstract
The research was to identify whether or not the provincial development could create people
welfare and prosperity through provincial budgets and how the control over the provincial
budgets. It was a normative research. The results of the research showed that in planning the
provincial development programs using the provincial budgets, the provincial government still
needed grass root aspirations in order to secure the provincial developments were consistent with
the people expectations in accordance with the potencies in the province.
Keywords: Provincial Development Plans

Perkembangan arus globalisasi yang memperhatikan prinsip demokrasi,


terjadi saat ini, membuat Indonesia pemerataan, keadilan, keistimewaan dan
dihadapkan pada kompetensi pasar modal kekhususan suatu daerah dalam sistem Negara
yang mengharuskan Indonesia untuk lebih Kesatuan Republik Indonesia. Hal ini dapat
mandiri dan mampu bersaing dengan negara menjadi acuan bagi pemerintah daerah dalam
lain khususnya di bidang ekonomi. Oleh melakukan perencanaan penyusunan anggaran
karena itu, hal ini menjadi tugas yang sangat untuk dapat membangun potensi daerahnya.
penting bagi pemerintah daerah dalam Pemerintah daerah dalam penyusunan
mengembangkan daerahnya, agar dapat rancangan anggaran, mempunyai kewajiban
mensejahterakan masyarakatnya. untuk membuat dokumen perencanaan
Undang-Undang Dasar Negara berupa Program Pembangunan Daerah
Republik Indonesia Tahun 1945 (selanjutnya (Properda) dan Rencana strategis daerah
disingkat UUD NRI Tahun 1945), secara (Renstrada) kedua dokumen tersebut
konstitusional, daerah diberikan kewenangan merupakan acuan rencana 5 (lima) tahunan
untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan yang dijabarkan dalam kerangka tahunan.
pemerintahannya menurut asas otonomi dan Anggaran yang dikeluarkan suatu daerah
tugas pembantuan. Sebagaimana dalam Pasal setiap tahunnya, merupakan suatu rencana
18 ayat (2) UUD NRI Tahun 1945, kegiatan dan pembiayaan penyelenggaraan
dinyatakan bahwa: tugas-tugas pemerintahan dan pembangunan
“Pemerintah daerah provinsi, daerah daerah otonom dituangkan dalam dokumen
kabupaten, dan kota mengatur dan yang disebut dengan Anggaran Pendapatan
mengurus sendiri urusan pemerintahan Belanja Daerah.
menurut asas otonomi dan tugas Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2015
pembantuan”. Tentang Pemerintahan Daerah, Pasal 1 angka
Penyelenggaraan pemerintahan daerah 32 yang dinyatakan bahwa:
yang diamanatkan oleh UUD NRI Tahun “Anggaran Pendapatan Belanja Daerah
1945, diarahkan untuk mempercepat selanjutnya disingkat APBD adalah
terwujudnya kesejahteraan masyarakat rencana keuangan tahunan Daerah yang
melalui peningkatan, pelayanan, ditetapkan dengan Perda”.
pemberdayaan dan peran serta masyarakat
serta peningkatan daya saing daerah dengan

160
161 e Jurnal Katalogis, Volume 5 Nomor 4, April 2017 hlm 160-171 ISSN: 2302-2019

Berdasarkan Undang-Undang Nomor kebijakan pendapatan maupun belanja daerah.


17 Tahun 2003 Tentang Keuangan Negara, Dalam rangka disiplin anggaran, penyusunan
Pasal 1 angka 8 yang dinyatakan bahwa: anggaran, baik pendapatan maupun belanja,
“Anggaran Pendapatan dan Belanja juga harus mengacu pada aturan atau
Daerah, selanjutnya disebut APBD, pedoman yang melandasinya. Oleh karena itu,
adalah rencana keuangan tahunan dalam proses penyusunan APBD, pemerintah
pemerintahan daerah yang disetujui oleh daerah harus mengikuti prosedur administratif
Dewan Perwakilan Rakyat Daerah”. yang ditetapkan.
Pendapatan daerah pada hakikatnya
APBD merupakan dasar pengelolaan
diperoleh melalui mekanisme pajak dan
keuangan daerah dalam masa satu tahun
retribusi atau pungutan lainnya yang
anggaran, terhitung mulai tanggal 1 Januari
dibebankan pada seluruh masyarakat. Dalam
sampai dengan tanggal 31 Desember. Kepala
konteks belanja, pemerintah daerah harus
daerah dalam penyusunan rancangan APBD
mengalokasikan belanja daerah secara adil
menetapkan prioritas dan plafon anggaran,
dan merata agar relatif dapat dinikmati oleh
sebagai dasar penyusunan rencana kerja dan
seluruh kelompok masyarakat tanpa
anggaran satuan perangkat daerah.
diskriminasi, khususnya dalam pemberian
Berdasarkan prioritas dan plafon anggaran ini,
pelayanan umum. Oleh karena itu, untuk
kepala satuan kerja perangkat daerah
dapat mengendalikan tingkat efisiensi dan
menyusun rencana kerja dengan pendekatan
efektivitas anggaran, maka dalam
berdasarkan potensi kerja yang akan dicapai.
perencanaan anggaran perlu diperhatikan:
Rencana kerja dan anggaran satuan
1. Penetapan secara jelas tujuan dan sasaran,
kerja perangkat daerah disampaikan kepada
hasil dan manfaat, serta indikator kinerja
pejabat pengelola keuangan daerah sebagai
yang ingin dicapai;
bahan penyusunan rancangan perda tentang
2. Penetapan prioritas kegiatan dan
APBD tahun berikutnya. Pejabat pengelola
penghitungan beban kerja, serta penetapan
keuangan daerah mengelola keuangan daerah,
harga satuan yang rasional.
yang mempunyai tugas menyusun dan
Penyusunan APBD pada dasarnya
melaksanakan kebijakan pengelolaan APBD,
bertujuan untuk menyelaraskan kebijakan
menyusun rancangan APBD, dan menyusun
ekonomi makro dan sumber daya yang
perubahan APBD, mengelola akuntansi,
tersedia, mengalokasikan sumber daya secara
menyusun laporan keuangan daerah dalam
tepat sesuai kebijakan pemerintah dan
rangka pertanggung jawaban APBD.
mempersiapkan kondisi bagi pelaksanaan
Perubahan APBD dapat dilakukan apabila
pengelolaan anggaran secara baik. Dalam
terjadi:
penyusunan APBD yang dilakukan oleh
a. Perkembangan yang tidak sesuai dengan
kepala daerah yang dijabarkan lebih lanjut
asumsi kebijakan umum APBD,
dalam Raperda APBD yang disetujui atau
b. Keadaan yang menyebabkan harus
tidak disetujui oleh DPRD.
dilakukan pergeseran anggaran antar unit,
Tahapan persetujuan DPRD merupakan
antar kegiatan, dan antar jenis belanja,
titik awal yang rawan terjadinya
c. Keadaan yang menyebabkan sisa lebih
penyimpangan dalam perencanaan
perhitungan anggaran tahun sebelumnya,
pengelolaan keuangan daerah. Beberapa
harus digunakan untuk pembiayaan dalam
fenomena yang sering terjadi dalam tahapan
tahun anggaran berjalan.
persetujuan DPRD atas Raperda APBD,
APBD merupakan instrumen yang antara lain:
menjamin terciptanya disiplin dalam proses 1. Terjadinya kolusi kelembagaan antara
pengambilan keputusan terkait dengan DPRD dengan pemerintah daerah, dimana
Yuliastati K, Urgensi Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (Apbd) Terhadap Perencanaan …………………………162

DPRD akan menyetujui RAPBD jika bentuk, yaitu, Bahan hukum primer, Bahan
kepala daerah menyetujui pencairan dana hukum sekunder dan Bahan hukum tersier.
tertentu. Adapun analisis yang digunakan adalah
2. Terjadinya kolusi individu antara oknum analisis bahan hukum terhadap isi suatu
anggota DPRD dengan pimpinan SKPD ketentuan hukum yang berkaitan dengan isi
atau oknum pemerintah daerah lainnya peraturan perundang-undangan tentang
untuk meloloskan program atau proyek pemerintahan daerah, keuangan daerah, dan
tertentu dengan imbalan uang tertentu atau penyusunan APBD. Sehubungan dengan hal
pekerjaan proyek oleh kolega oknum tersebut ada tiga tahapan analisis bahan
anggota DPRD tersebut. hukum.
Penelitian ini bertujuan untuk Pertama bahan hukum atau fakta yang
mengetahui Perencanaan Pembangunan dikumpulkan disistimatisir yakni ditata dan
Daerah Dapat Mewujudkan Kesejahteraan disesuaikan dengan objek yang diteliti, Kedua
Rakyat melalui APBD. bahan yang telah disistimatisir kemudian
dieksplikasi yakni diuraikan dan dijelaskan
METODE sesuai objek yang diteliti berdasarkan teori,
Ketiga bahan yang telah dieksplikasi
Penelitian ini dilakukan dengan metode
dilakukan evaluasi yakni dinilai dengan
penelitian hukum normatif. Penelitian hukum
menggunakan ukuran ketentuan hukum yang
normatif digunakan untuk mengidentifikasi
berlaku, sehingga ditemukan ada yang tidak
konsep atau gagasan dan asas-asas hukum
sesuai atau bertentangan dengan hukum,
dalam menelaah dan mengkaji secara
kemudian ketentuan yang tidak sesuai
mendalam mengenai tegaknya peraturan
ditinggalkan.
perundang-undangan dan tujuan negara
Langkah analisis tersebut dilakukan
hukum Indonesia yang demokratis, khususnya
secara integral dalam satu kesatuan sehingga
yang digunakan sebagai acuan dasar di dalam
hasilnya merupakan kesimpulan yang
UUD NRI Tahun 1945 maupun peraturan
komprhensif, kritis, dan sekaligus evaluatif
perundang-undangan yang lainnya yang
sebagai tahap preskripsi, yakni menentukan
berkaitan dengan Anggaran Pendapatan
hukum yang berlaku dan kemudian
Belanja Daerah (APBD).
dikembangkan, sehingga menemukan hukum
Mengingat Permasalahan yang akan
baru. Analisis secara integral-integratif, dapat
dibahas dalam penelitian adalah Urgensi
dikonstruksikan dalam bentuk fakta, teori dan
Penerapan Anggaran Pendapatan Belanja
nilai.
Daerah (APBD) Terhadap Perencanaan
Pembangunan, maka pendekatan yang
digunakan antara lain pendekatan keilmuwan HASIL DAN PEMBAHASAN
yaitu pendekatan perundang-undangan Anggaran merupakan instrumen
(statute approach) dan pendekatan konseptual kebijakan yang dimiliki oleh Pemerintah
(conceptual approach). untuk menggambarkan pernyataan
Pengumpulan bahan hukum dalam komprehensif tentang prioritas negara.
penelitian ini dilakukan dengan inventarisasi Anggaran juga dapat diartikan sebagai
dokumen melalui studi pustaka dengan cara kebijakan pemerintah di bidang keuangan
mencari bahan hukum dengan mengkaji yang merupakan pedoman dalam
dokumen hukum berupa buku-buku hukum, pengambilan kebijakan alokasi anggaran dan
jurnal hukum dan ketentuan hukum membiayai tugas-tugas Negara.
perundang-undangan baik berupa naskah Anggaran secara umum diartikan
Undang-undang Pemerintahan Daerah. sebagai suatu perhitungan keuangan yang
Inventarisasi dokumen dilakukan dengan tiga menggambarkan aktifitas suatu organisasi
163 e Jurnal Katalogis, Volume 5 Nomor 4, April 2017 hlm 160-171 ISSN: 2302-2019

berdasarkan perhitungan perbelanjaan yang anggaran, yaitu anggaran harus berbasis


didukung oleh perhitungan pendapatan yang kinerja dan sebesar-besarnya untuk
telah direncanakan sebelumnya. Secara teknis kemakmuran masyarakat. Richard Goode,
anggaran adalah suatu dokumen yang terdiri mengungkapkan bahwa ada beberapa tujuan
atas kata-kata dan angka-angka. Anggaran dari penganggaran, yaitu:
Negara yang ditetapkan dalam bentuk 1. Penganggaran merupakan penjabaran
Undang-Undang, mengandung unsur-unsur kerangka kerja dari kebijaksanaan yang
antara lain: telah ditetapkan;
1. Dokumen hukum yang memiliki kekuatan 2. Penganggaran merupakan alat
hukum mengikat; implementasi dari kebijakan tersebut, yang
2. Rencana penerimaan Negara, baik dari merupakan standar dari ekonomi dan
sektor pajak, bukan pajak dan hibah; efesiensi. Penganggaran merupakan alat
3. Rencana pengeluaran Negara, baik bersifat manajemen dan sekaligus prosedurnya
rutin maupun pembangunan; merupakan alat kontrol administrasi;
4. Kebijakan Negara terhadap kegiatan- 3. Penganggaran merupakan alat kontrol
kegiatan di bidang pemerintahan yang hukum;
memperoleh prioritas atau tidak 4. Dokumen anggaran dapat merupakan
memperoleh prioritas; sumber informasi bagi masyarakat luas
5. Masa berlaku hanya satu tahun, kecuali mengenai kegiatan yang telah dilakukan,
diberlakukan untuk tahun anggaran Negara keputusan yang diambil, dan gambaran
ke depan. yang datang mengenai kegiatan
Kelima unsur anggaran Negara di atas pembangunan.
merupakan satu kesatuan tak terpisahkan Anggaran disamping sebagai bentuk
sehingga menggambarkan kemampuan perencanaan bidang penggunaan uang atau
Negara dalam jangka waktu satu tahun untuk dana, anggaran juga memiliki fungsi.
mewujudkan tujuannya. Unsur-unsur yang Anggaran dilihat dalam tiga disiplin ilmu
terdapat dalam anggaran negara merupakan yang membahas tentang perlunya fungsi
hal-hal yang bersifat esensial yang bertujuan anggaran, sebagai berikut:
untuk mensejahterakan rakyat. Pertama, dalam konsep ilmu keuangan
Penganggaran dilakukan melalui negara, anggaran berfungsi:
mekanisme perencanaan pembangunan dari 1. Sebagai alat perencanaan, yaitu dengan
atas ke bawah dan dari bawah ke atas. adanya anggaran, organisasi
Perencanaan operasioanl tahunan yang (pemerintahan) akan mengetahui apa yang
tertuang dalam anggaran pendapatan dan harus dilakukan dan arah mana kebijakan
belanja negara (APBD) merupakan itu dibuat dan dilaksanakan;
penjabaran dari pokok-pokok kebijaksanaan 2. Sebagai alat kebijakan, yaitu melalui
yang telah ditetapkan dalam dokumen rencana anggaran kita dapat menentukan arah atas
pembangunan daerah. Dengan demikian, kebijakan tertentu ;
maka penganggaran merupakan suatu bentuk 3. Sebagai alat politik, yaitu melalui anggaran
pertanggungjawaban politik yang utama dari kita dapat melihat komitmen pengelolaan
pelaksanaan demokrasi. dalam melaksanakan program-program
Tahap penganggaran menjadi sangat yang telah dijanjikan;
penting, karena anggaran yang tidak efektif 4. Sebagai alat koordinasi dan komunikasi,
dan tidak berorientasi pada kinerja akan dapat yaitu melalui dokumen anggaran yang
menggagalkan perencanaan yang telah komprehensip sebuah bagian atau unit
disusun. Sehingga tujuan dari penganggaran kerja atau departemen yang merupakan sub
harus dipahami oleh perumusan kebijakan organisasi dapat mengetahui apa yang
Yuliastati K, Urgensi Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (Apbd) Terhadap Perencanaan …………………………164

harus dilakukan dan juga apa yang akan 4. Fungsi makro-ekonomi, yaitu alat
dilakukan oleh bagian /unit kerja; kebijaksanaan dalam penentuan tingkat
5. Sebagai alat penilai kinerja, yaitu karena belanja nasional;
anggaran berbentuk dokumen, maka 5. Fungsi lain-lainnya yang melekat dan
anggaran sebagai ukuran yang menjadi terpraktek dalam penyusunan dan
patokan apakah suatu bagian/unit kerja penggunaan anggaran.
telah memenuhi target baik berupa Menurut Gildenhuys, anggaran
terealisasinya program maupun memiliki enam fungsi, yaitu:
terpenuhinya prinsip efesiensi anggaran; 1. Sebagai kebijakan yang menggambarkan
6. Sebagai alat motivasi, artinya anggaran tujuan dan sasaran khusus yang hendak
dapat digunakan sebagai alat komunikasi dicapai melalui suatu pengeluaran dalam
dan menjadikan nilai-nilai nominal yang anggaran;
tercantum sebagai target pencapaian; 2. Sebagai sarana redistribusi kekayaan
7. Sebagai alat pengendalian, yaitu dengan sebagai salah satu fungsi publik yang
adanya anggaran, organisasi sektor publik paling utama dari anggaran;
dapat menghindari adanya pengeluaran 3. Sebagai program kerja pemerintah;
yang terlalu besar atau adanya penggunaan 4. Sebagai sumber informasi;
dana yang tidak semestinya. 5. Sebagai sarana koordinasi kegiatan
Kedua, dari sisi ilmu akutansi sektor pemerintahan;
publik, anggaran mempunyai fungsi: 6. Sebagai alat pengawasan legislatif
1. Fungsi otorisasi; terhadap eksekutif.
2. Fungsi konfrehensip atau menyeluruh; Simmons mengungkapkan bahwa
3. Fungsi keutuhan, artinya semua fungsi anggaran negera adalah sebagai
penerimaan dan pengeluaran tercakup berikut:
dalam satu dana umum; 1. Fungsi hukum tata Negara;
4. Funsi nondiscretionary apropriasi, yaitu 2. Fungsi teknis pengurusan atau biasa juga
jumlah yang disetujui legislatif harus disebut fungsi mikro-ekonomi;
bermanfaat secara ekonomis; 3. Fungsi makro-ekonomis. Anggaran ini
5. Periodik dan berkeseinambungan; merupakan landasan bagi kebijaksanaan
6. Akurat dan terpercaya; yang ditujukan kepada perkembangan yang
7. Jelas; dan seimbang daripada rumah tangga
8. Transparan. masyarakat.
Ketiga, dari sisi ilmu hukum keuangan Pemerintah dalam melaksanakan
negara, fungsi anggaran negara, meliputi otonomi daerah yang luas, memerlukan dana
fungsi: yang cukup dan terus meningkat sesuai
1. Fungsi hukum tata negara, meliputi alat dengan meningkatnya tuntutan masyarakat,
otorisasi; kegiatan pemerintahan dan pembangunan.
2. Fungsi hukum administrasi, berkaitan Dana tersebut diperoleh dari kemampuan
dengan sumber wewenang dan penggunaan menggali sumber keuangan sendiri didukung
wewenang; oleh perimbangan keuangan pusat dan daerah
3. Fungsi teknis pengurusan atau mikro- sebagai sumber pembiayaan.
ekonomi, meliputi dasar pengurusan secara Keuangan daerah merupakan tolak ukur
tertib, wajar, serasi, transparan,
bagi penentuan kapasitas dalam
berdayaguna, berhasil guna, serta sebagai menyelenggarakan tugas-tugas otonomi,
dasar pertanggung jawaban bagi pelaksana; disamping tolak ukur lain seperti kemampuan
sumber daya alam, kondisi demografi, potensi
daerah, serta partisipasi masyarakat. Oleh
165 e Jurnal Katalogis, Volume 5 Nomor 4, April 2017 hlm 160-171 ISSN: 2302-2019

karena itu, pemerintahan dalam mengatur damn mengurangi resiko, kesempatan untuk
anggaran keuangan daerah haruslah memiliki menentukan berbagai alternatif yang terbaik
perencanaan di dalam melakukan dalam pembangunan, dan standarisasi untuk
pembangunan daerah. melakukan pengawasan / evaliasi
pengendalian.
1. Perencanaan Pembangunan Tingkat Pembangunan nasional merupakan
Nasional usaha peningkatan kualitas manusia dan
Perencanaan merupakan seluruh masyarakat Indonesia secara berkelanjutan
tindakan pemerintah dalam mewujudkan dengan memanfaatkan kemajuan ilmu
suatu keadaan yang teratur. Sebagaimana pengetahuan dan teknologi serta
dalam Ketentuan Umum Pasal 1 angka 1, memperhatikan tantangan perkembangan
Undang-Undang No. 25 Tahun 2004 Tentang global. Pelaksanaannya mengacu pada
Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional, kepribadian bangsa dan nilai luhur yang
yaitu: universal untuk mewujudkan kehidupan
“Perencanaan adalah suatu proses untuk bangsa yang berdaulat, mandiri, berkeadilan,
menentukan tindakan masa depan yang sejahtera, maju serta kukuh kekuatan moral
tepat, melalui urutan pilhan, dengan dan etikanya.
memperhitungkan sumber daya yang Perencanaan Pembangunan Nasional
tersedia”. merupakan satu kesatuan tata cara
Defenisi Perencanaan menurut P. de perencanaan pembangunan untuk
Haan dan kawan-kawanbahwa, sebagai menghasilkan rencana-rencana pembangunan
berikut: dalam jangka panjang, jangka menengah, dan
“Konsep perencanaan pemerintah dalam tahunan yang dilaksanakan oleh unsur
arti luas didefinisikan sebagai persiapan penyelenggara negara dan masyarakat di
dan pelaksanaan yang sistematis dan tingkat Pusat dan Daerah. Sebagaimana dalam
terkoordinasi mengenai keputusan- Undang-Undang No. 25 Tahun 2004 Tentang
keputusan kebijakan yang didasarkan Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional,
pada suatu rencana kerja yang terkait Ketentuan Umum Pasal 1 angka 2, bahwa:
dengan tujuan-tujuan dan cara-cara “Pembangunan Nasional adalah upaya
pelaksanaannya”. yang dilaksanakan oleh semua
Perencanaan pembangunan bagi suatu komponen bangsa dalam rangka
bangsa yang sedang mengejar ketinggalan mencapai tujuan negara”.
dengan bangsa-bangsa yang sudah maju Perencanaan Pembangunan Nasional
terkait dengan pandangan hidup bangsa yang dalam Undang-Undang No. 25 Tahun 2004
bersangkutan. Perencanaan pembangunan Tentang Sistem Perencanaan Pembangunan
diperlukan agar pembangunan itu tetap Nasional, mencakup lima pendekatan dalam
konsisten pada tujuan nasional yang sudah seluruh rangkaian perencanaan, yaitu:
disepakati, sebagai upaya penerobosan 1. Politik;
menuju pembaruan struktur ekonomi, politik 2. Teknokratik;
dan sosial, serta agar arah pembangunan 3. Partisipatif;
untuk kepentingan keadilan sosial menjadi 4. Atas-Bawah (Top-Down); dan
upaya tepenting. 5. Bawah-Atas (Bottom-Up).
Perencanaan pembangunan dilihat dari Pendekatan politik memandang bahwa
segi sebagai sarana cara mencapai tujuan pemilihan Presiden/Kepala Daerah adalah
mempunyai makna sebagai arah atau proses penyusunan rencana, karena rakyat
pedoman untuk bekerja, perkiraan pemilih menentukan pilihannya berdasarkan
(forcasting) dalam upaya mencapai efisiensi program-program pembangunan yang
Yuliastati K, Urgensi Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (Apbd) Terhadap Perencanaan …………………………166

ditawarkan masing-masing calon Presiden/ rencana pembangunan yang telah disiapkan.


Kepala Daerah. Oleh karena itu, rencana Langkah berikutnya adalah melibatkan
pembangunan adalah penjabaran dari agenda- masyarakat (stakeholders) dan menyelaraskan
agenda pembangunan yang ditawarkan rencana pembangunan yang dihasilkan
Presiden/Kepala Daerah pada saat kampanye masing-masing jenjang pemerintahan melalui
ke dalam rencana pembangunan jangka musyawarah perencanaan pembangunan.
menengah. Perencanaan dengan pendekatan Sedangkan langkah keempat adalah
teknokratik dilaksanakan dengan penyusunan rancangan akhir rencana
menggunakan metode dan kerangka berpikir pembangunan.
ilmiah oleh lembaga atau satuan kerja yang Tahap berikutnya adalah penetapan
secara fungsional bertugas untuk itu. rencana menjadi produk hukum sehingga
Perencanaan dengan pendekatan mengikat semua pihak untuk
partisipatif dilaksanakan dengan melibatkan melaksanakannya. Menurut Undang-Undang
semua pihak yang berkepentingan ini, rencana pembangunan jangka panjang
(stakeholder) terhadap pembangunan. Nasional/Daerah ditetapkan sebagai Undang-
Pelibatan mereka adalah untuk mendapatkan Undang/Peraturan Daerah, rencana
aspirasi dan menciptakan rasa memiliki. pembangunan jangka menengah
Sedangkan, pendekatan atas-bawah dan Nasional/Daerah ditetapkan sebagai Peraturan
bawah-atas dalam perencanaan dilaksanakan Presiden/Kepala Daerah, dan rencana
menurut jenjang pemerintahan. Rencana hasil pembangunan tahunan Nasional/Daerah
proses atas-bawah dan bawah-atas ditetapkan sebagai Peraturan Presiden/Kepala
diselaraskan melalui musyawarah yang Daerah. Pengendalian pelaksanaan rencana
dilaksanakan baik di tingkat Nasional, pembangunan dimaksudkan untuk menjamin
Provinsi, Kabupaten/Kota, Kecamatan, dan tercapainya tujuan dan sasaran pembangunan
Desa. yang tertuang dalam rencana melalui
Penjelasan Undang-Undang No. 25 kegiatan-kegiatan koreksi dan penyesuaian
Tahun 2004 Tentang Sistem Perencanaan selama pelaksanaan rencana tersebut oleh
Pembangunan Nasional, Perencanaan pimpinan Kementerian/Lembaga/Satuan
pembangunan terdiri dari empat (4) tahapan Kerja Perangkat Daerah. Selanjutnya,
yakni: Menteri/Kepala Bappeda menghimpun dan
1. Penyusunan rencana; menganalisis hasil pemantauan pelaksanaan
2. Penetapan rencana; rencana pembangunan dari masing-masing
3. Pengendalian Pelaksanaan Rencana; dan pimpinan Kementerian/ Lembaga/Satuan
4. Evaluasi Pelaksanaan Rencana. Kerja Perangkat Daerah sesuai dengan tugas
Keempat tahapan diselenggarakan dan kewenangannya.
secara berkelanjutan sehingga secara Evaluasi pelaksanaan rencana adalah
keseluruhan membentuk satu siklus bagian dari kegiatan perencanaan
perencanaan yang utuh. Tahap penyusunan pembangunan yang secara sistematis
rencana dilaksanakan untuk menghasilkan mengumpulkan dan menganalisis data dan
rancangan lengkap suatu rencana yang siap informasi untuk menilai pencapaian sasaran,
untuk ditetapkan yang terdiri dari 4 (empat) tujuan dan kinerja pembangunan. Evaluasi ini
langkah. Langkah pertama adalah penyiapan dilaksanakan berdasarkan indikator dan
rancangan rencana pembangunan yang sasaran kinerja yang tercantum dalam
bersifat teknokratik, menyeluruh, dan terukur. dokumen rencana pembangunan. Indikator
Langkah kedua, masing-masing instansi dan sasaran kinerja mencakup masukan
pemerintah menyiapkan rancangan rencana (input), keluaran (output), hasil (result),
kerja dengan berpedoman pada rancangan manfaat (benefit) dan dampak (impact).
167 e Jurnal Katalogis, Volume 5 Nomor 4, April 2017 hlm 160-171 ISSN: 2302-2019

2. Perencanaan Pembangunan Tingkat hanya sampai pada penetapan program.


Provinsi Semestinya dalam RKPD telah menyebutkan
Perencanaan wilayah di tingkat provinsi proyek, lokasinya, dan sumber
yang dikenal pada masa orde baru adalah pembiayaannya. Selain itu, saat ini sudah
penyusunan Repelita daerah tingkat provinsi. disusun Rencana Struktur Tata Ruang
Berdasarkan ketetapan yang dibuat Provinsi (RSTRP). Rencana ini sudah bersifat
perrerintah pusat, setiap daerah provinsi harus spasial, berupa arahan atau petunjuk tetapi
menyiapkan buku Repelita dengan belum menunjuk lokasi berbagai kegiatan
berpedoman pada model Repelita Nasional. secara tegas. Di luar penyusunan buku
Repelita ini kemudian lebih diperinci dalam Repelita/Propeda dan RSTRP maka
bentuk Sarlita (sasaran pelita). Setelah di perencanaan pada level tingkat provinsi yang
berlakukannya undang-undang Nomor 32 mencakup seluruh provinsi belum ada yang
Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah umum dilakukan oleh pemda provinsi, kecuali
maka pemerintah daerah wajib menyusun yang bersifat sektoral yang dilakukan oleh
RPJP (Rencana Pembangunan Jangka dinas masing-masing.
Panjang) dengan masa perencanaan 20 tahun Undang-Undang No. 25 Tahun 2004
ke depan dan RPJM (Rencana pembangunan tentang Sistem Perencanaan Pembangunan
Jangka Menengah) dengan masa perencanaan Nasional, mengisyaratkan bahwa setiap
5 tahun ke depan. RPJM dirinci ke dalam daerah harus menyusun rencana
rencana tahunan yang disebut RKPD pembangunan daerah secara sistematis,
(Rencana Kerja pembangunan Daerah). terarah, terpadu dan tanggap terhadap
RPJM juga dirinci masing-masing perubahan (Pasal 2 ayat 2), dengan jenjang
instansi pelaksana dengan menyusun Renstra perencanaan jangka panjang (25 tahun),
SKPD (Rencana Strategis Satuan Kerja jangka menengah (5 tahun) maupun jangka
Perangkat Daerah). Di masa lalu perencanaan pendek atau tahunan (1 tahun). Setiap daerah
ini dilakukan berdasarkan pendekatan sektoral (propinsi/kabupaten/kota) harus menetapkan
sehingga laporannya berupa gabungan Rencana Pembangunan Jangka Panjang
perencanaim sektor dan masih sedikit Daerah (RPJPD), Rencana Pembangunan
menyinggung lokasi atau less-spatial dan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) dan
biasanya tidak dibarengi dengan peta-peta. Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD).
Repelita ini kemudian dijabarkan ke dalam Penyusunan rencana pembangunan ini
pro$am tahunan dalam rencana Anggaran tersebut dirumuskan melalui forum
Pendapatan dan Belanja Daerah (RAPBD). Musyawarah Perencanaan Pembangunan
Akan tetapi dalam pelaksanaannya, (Musrenbang). Dalam musrenbang tersebut
penyusunan RAPBD seringkali tidak terlihat seluruh pelaku/aktor pembangunan dilibatkan
dengan jelas terhadap Repelita. dalam penyusunan rencana pembangunan.
Setelah era reformasi istilah yang Dalam sistem perencanaan pembangunan ini,
dipakai adalah Propeda (program rencana dibagi dalam Rencana Pembangunan
pembangunan daerah), yang isinya lebih Jangka Panjang (RPJP), Rencana
kurang sama dengan Repelita. Adapun Pembangunan Jangka Menengah (RPJM), dan
rinciannya lebih lanjut dinamakan Renstra Rencana Pembangunan Tahunan.
(rencana strategi). Sekarang istilah yang Rencana Pembangunan Tahunan
digunakan adalah RPJM yang kemudian merupakan bentuk rencana operasional dari
dirinci ke dalam rencana tahunan yang disebut RPJP dan RPJM. Rencana Pembangunan
RKPD (Rencana Kerja Pembangunan Tahunan atau yang disebut sebagai Rencana
Daerah). Di masa lalu perencanaan seperti ini Pembangunan Tahunan Daerah (RKPD)
belum mengemukakan proyek, paling-paling inilah yang menjadi pedoman untuk
Yuliastati K, Urgensi Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (Apbd) Terhadap Perencanaan …………………………168

penyusunan Rencana Anggaran Pendapatan dengan yang dilakukan pada tingkat provinsi.
dan Belanja Daerah (RAPBD). Di dalam Padahal semestinya makin sempit daerah
RAPBD, terdapat berbagai kegiatan yang perencanaan, semakin mungkin membuat
diusulkan oleh masyarakat/ stakeholders perencanaan yang lebih bersifat spesial.
melalui instansi atau Satuan Kerja Perangkat Semestinya perencanaan jangka menengah
Daerah (SKPD) yang relevan dengan bidang tingkat kabupaten atau kota, selain lebih
tugasnya dalam rangka mencapai tujuan spesial juga dapat mengarah pada penetapan
pembangunan sesuai dengan apa yang proyek tahunan untuk kabupaten atau kota
digariskan dalam visi dan misi daerah. yang bersangkutan.
Pelaksanaan pembangunan daerah, Pada tahun-tahun terakhir masa orde
sesuai dengan peran pemerintah daerah dalam baru, Repelita juga ditindak lanjuti dengan
era otonomi luas, perencanaan pembangunan penyusunan sasaran pelita (Sarlita). Pada saat
daerah diperlukan karena pelaksanaan itu sudah dibuat sasaran berdasarkan lokasi
pembangunan didesentralisasikan dari tetapi belum dibarengi dengan pembiayaan
pemerintah pusat kepada pemerintah daerah. proyek. Setelah era reformasi istilah yang
perencanaan pembangunan daerah adalah digunakan untuk Sarlita adalah Renstra
suatu proses perencanaan yang dimaksudkan (rencana strategi). Saat ini istilah yang
untuk melakukan perubahan menuju arah digunakan adgfah RKPD. Selain itu, sebagian
yang lebih baik bagi suatu komunitas besar kabupaten atau kota juga sudah
masyarakat, pemerintah dan lingkungannya membuat rencana tata ruang wilayah (RTRW)
dalam wilayah/daerah tertentu dengan yang sifatnya lebih detail dibanding RSTRP
memanfaatkan atau mendayagunakan provinsi. Di luar kedua bentuk perencanaan
berbagai sumber daya yang ada dan harus itu, belum ada perencanaan lain yang
memilki orientasi yang bersifat menyeluruh, dipraktikkan secara umum yang mencaku
lengkap, tetapi tetap berpegang pada azas seluruh wilayah kabupaten. Berbeda dengan
prioritas. di kabupaten, kota sudah mengenal bentuk
Perencanaan pembangunan yang perencanaan lain, terutama yang menyangkut
berkualitas menjadi salah satu kunci tata ruang perkotaan. Telah banyak kota yang
keberhasilan pembangunan yang baik dalam menyusun master plan kota atau rencana
skala nasional maupun daerah. Undang- induk tata ruang kota, rencana detail tata
Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang ruang kota. Selain itu sejak tahun 1986, telah
Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional dimulai apa yang disebut Penyusunan
(SPPN) menisyaratkan bahwa setiap daerah Program Prasarana Kota secara Terpadu
agar menyusun Rencana Pembangunan (PPPKT). PPPKT menghasilkan Program
Jangka Panjang Daerah (RPJPD), Rencana Jangka Menengah (PIM), yaitu program
Pembangunan Jangka Menengah Daerah pembangunan untuk masa 5-6 tahun. PJM
(RPJMD), dan Rencana Kerja Pembangunan P3KT ini sudah menyebutkan proyek, di
Daerah (RKPD). mana lokasinya, kapan dilaksanakan, dan dari
mana sumber dananya.
3. Perencanaan Pembangunan Tingkat
Perencanaan model P3KT selain
Kabupaten/Kota
bersifat speasial (lokasi proyek terlihat di
Kabupaten/Kota dalam melakukan
dalam peta) sekaligus dilengkapi rencana
suatu perencanaan pembangunan, melihat
proyek untuk setiap tahun disertai besarnya
sejarahnya, kabupaten/kota sama seperti pada
biaya yang dibutuhkan dan perkiraan sumber
tingkat provinsi. Yang dimana perencanaan
dana untuk membiayai proyek tersebut.
dalam tingkat kabupaten atau kota adalah
Sayangnya, PJM P3KT hanya menyangkut
Repelita (Propeda) dan saat ini RPJM. Isi dan
wilayah yang sudah dikategorikan sebagai
metode penyusunannya lebih kurang sama
169 e Jurnal Katalogis, Volume 5 Nomor 4, April 2017 hlm 160-171 ISSN: 2302-2019

kota (termasuk beberapa ibukota kecamatan penyelenggaraan otonomi daerah, utamanya


di kabupaten yang sudah dianggap memiliki dalam rangka melihat kinerja pengelolaannya
ciri-ciri perkotaan), tetapi belum mencakup dikaitkan dengan peningkatan kesejakteraan
wilayah pedesaan. rakyat. Kinerja tersebut dapat dilihat dari
proses penyusunan APBD, pelaksanaan dan
4. APBD dan Rencana Pembangunan penerapannya serta bagaimana pertanggung
Sebagai Instrumen penyelesaian jawaban penggunaannya.
Kesejahteraan Sosial Transparan merupakan prinsip
Karekteristik Negara Hukum keterbukaan yang memungkinkan masyarakat
Kesejahteraan adalah memberikan untuk mengetahui dan mendapatkan akses
kesejahteraan kepada rakyatnya. Maka dapat informasi seluas-luasnya tentang keuangan
diartikan, bahwa segala kegiatan dalam daerah. Bertanggung jawab merupakan
menyelenggaraan pemerintahan haruslah perwujudan kewajiban seseorang atau satuan
memperhatikan kesejahteraan rakyatnya. kerja untuk mempertanggung jawabnkan
Sebagaimana telah diamanatkan di dalam pengelolaan dan pengendalian sumber daya
Pembukaan UUD NRI Tahun 1945 alinea ke dan pelaksanaan kebijakan yang dipercayakan
empat, dimana negara dalam kepadanya dalam rangka pencapaian tujuan
menyelenggarakan pemerintahan negara dapat yang telah ditetapkan.
memajukan kesejahteraan rakyat diseluruh Peraturan pada aspek perencanaan
wilayah Negra Kesatuan Republik Indonesia. diarahkan agar seluruh proses penyusunan
Salah satu syarat untuk mensejahterakan APBD sedapat mungkin menunjukkan latar
rakyatnya adalah persoalan sistem keuangan belakang pengambilan keputusan dalam
negara. Keuangan negara merupakan sumber penetapan kebijakan umum, skala prioritas
pendanaan untuk penyelenggaraan pemerintah dan penetapan alokasi, serta distribusi sumber
dan pemerintahan daerah dalam daya dengan melibatkan pertisiasi
mensejahterakan rakyatnya. Pemerintahan masyarakat. Dalam kerangka pembangunan
daerah dalam menyelenggarakan sistem yang mempunyai cakupan sangat luas,
keuangan negara diberikan kewenangan untuk perencanaan mempunyai kedudukan penting
mengatur daerahnya secara otonomi. Oleh dalam menentukan prioritas dan strategi
karena itu, pemerintahan daerah berhak dalam pembangunan.
mengurus dan mengatur keuangannya sendiri APBD merupakan suatu perencanaan
untuk mensejahterakan rakyatnya. yang dilakaukan pemerintah daerah dalam
Sebagaiamana yang diamanatkan dalam UUD membangun daerahnya. Oleh karena itu,
NRI Tahun 1945 untuk diselenggarakan perencanaan merupakan tahapan yang awal
otonomi seluas-luasnya dalam kerangka dari sebuah proses manajemen, maka harus
Negara Kesatuan Republik Indonesia. dilakukan secara cermat, tepat dan akurat,
Pemerintah pada hakikatnya membuat perencanaan berarti menetapkan
mengemban tiga fungsi utama, yakni fungsi suatu tujuan dan memilih instrumen dan
distribusi, fungsi stabilisasi, dan fungsi langkah dalam mencapai tujuan yang
alokasi. Fungsi distribusi dan fungsi ditetapkan.
stabilisasi pada umumnya lebih efektif dan Pemerintah daerah dalam melakukan
tepat dilaksanakan oleh pemerintah, penyusunan APBD, tidak terlepas dari proses
sedangkan fungsi alokasi oleh pemerintahan perencanaan dan penganggaran. Karena
daerah yang lebih mengetahui kebutuhan, perencanaan dan penganggaran merupakan
kondisi, dan situasi masyarakat setempat. dua proses yang tidak dapat dipisahkan.
Pengelolaan keuangan daerah menjadi Penganggaran bisa disusun atas dasar sebuah
instrumen yang sangat penting dalam perencanaan yang menjadi acuan dalam
Yuliastati K, Urgensi Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (Apbd) Terhadap Perencanaan …………………………170

membuatnya, demikian juga dengan tidak dapat penulis sebutkan semuanya dalam
perencanaan akan terlaksana jika didukung tulisan ini.
dengan anggaran yang tersedia. Oleh karena
itu, perencanaan pembangunan yang telah DAFTAR RUJUKAN
dibuat harus menjadi dasar dalam penyusunan Abdullah, Rozali. 2010. Pelaksanaan
APBD. Otonomi Luas Dengan Pemilihan
Rencana pembangunan daerah yang Kepala Daerah Secara Langsung.
dimiliki setiap daerah merupakan satu Jakarta: PT Raja Grafindo Persada;
kesatuan dalam sistem perencanaan Amiq, H. Bachrul. 2010. Aspek Hukum
pembangunan nasional, sebagaimana diatur Pengawasan Pengelolaan Keuangan
dalam Undang-Undang No. 17 Tahun 2007 Daerah Dalam Perspektif
Tentang Rencana Pembangunan Jangka Penyelenggaraan Negara Yang Bersih,
Panjang Nasional Tahun 2005-2025. Dalam Yogyakarta: LaksBang Pressindo;
UU tersebut, RPJPD merupakan dokumen Asshiddiqie, Jimly. 2008. Pokok-Pokok
perencanaan pembangunan daerah untuk Hukum Tata Negara Indonesia Pasca
priode 20 tahun yang memuat visi, misi dan Reformasi. Jakarta: Bhuana Ilmu
arah pembangunan daerah, selanjutnya Populer;
dijabarkan dalam RPJMD dalam 5 (lima). HR, Ridwan. 2013. Hukum Administrasi
Negara edisi revisi. Jakarta: Penerbit
KESIMPULAN DAN REKOMENDASI Rajawali Pres;
Berdasarkan hasil penelitian penulis, Latif. Abdul. 2007, Fungsi Mahkamah
maka dapat disimpulkan bahwa Perencanaan Konstitusi dalam Upaya Mewujudkan
pembangunan daerah melalui APBD yang Negara Hukum Demokrasi, Yogyakarta:
dilakukan oleh kepala daerah dan disetujui Kreasi Total Media;
bersama dengan DPRD, belum dapat Saidi, Muhammad Djafar. 2008. Hukum
mensejahterakan masyarakat secara Keuangan Negara. Jakarta: Rajawali
keseluruhan. Karena kurangnya partisipasi Pers
masyarakat dalam penyusunan perencanaan Subagio, M.1991. Hukum Keuangan Negara
APBD untuk melakukan pembangunan RI, Jakarta: Rajawali Pers;
daerah. Thalib, H. Rasyid. 2008. Hukum Keuangan
Oleh karena kesimpulan diatas tersebut, Negara/Daerah dan Tindak Pidana
dalam tulisan ini direkomendasikan agar Korupsi, Palu: Lembaga Pengkajian
Pemerintah daerah haruslah mengikut Pembaharuan Hukum dan Kebijakan
sertakan masyarakat dalam perencanan Publik (LP2HKP);
pembangunan daerah melalui perencanaan T. Triwulan, Titik dan Widodo, Gunadi, Ismu.
penyusunan APBD. 2011. Hukum Tata Usaha Negara dan
Hukum Acara Peradilan Tata Usaha
UCAPAN TERIMA KASIH Negara Indonesia. Jakarta: Kencana.
Yani, Ahmad. 2013. Hubungan Keuangan
Penulis mengucapkan terima kasih atas antara Pemerintah Pusat dan Daerah di
dukungan semua pihak sehingga penelitian Indonesia. Jakarta: Raja Grafindo
sekaligus penyelesaikan tulisan ini dapat Persada.
terselesaikan, khususnya kepada tim
pembimbing Dr. H. M. Yasin Nahar, SH, MH Undang-Undang Dasar Negara Republik
dan Dr. Mohammad Tavip, SH, MH, Indonesia Tahun 1945;
sekaligus sebagai koordinator program studi Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003
magister ilmu hukum, serta pihak-pihak yang Tentang Keuangan Negara (Lembaran
171 e Jurnal Katalogis, Volume 5 Nomor 4, April 2017 hlm 160-171 ISSN: 2302-2019

Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Daerah (Lembaran Negara Republik


Nomor 47, Tambahan Lembaran Indonesia Tahun 2005 Nomor 138,
Negara Republik Indonesia Nomor Tambahan Lembaran Negara Republik
4286); Indonesia Nomor 4576);
Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2005
Tentang Pembendaharaan Negara Tentang Hibah Kepada Daerah
(Lembaran Negara Republik Indonesia (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2004 Nomor 5, Tambahan Tahun 2005 Nomor 139, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 4355); Nomor 4577);
Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005
Tentang Pemeriksaan Pengelolaan Dan Tentang Pengelolaan Keuangan Daerah
Tanggung Jawab Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 140, Tambahan
Tahun 2004 Nomor 66, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4578);
Nomor 4400); Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008
Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 Tentang Tahapan, Tata Cara
Tentang Perimbangan Keuangan Antara Penyusunan, Pengendalian Dan
Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Evaluasi Pelaksana Rencan
Daerah (Lembaran Negara Republik Pembangunan Daerah (Lembaran
Indonesia Tahun 2004 Nomor 126, Negara Republik Indonesia Tahun 2008
Tambahan Lembaran Negara Republik Nomor 21, Tambahan Lembaran
Indonesia Nomor 4438); Negara Republik Indonesia Nomor
Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2015 4817);
Tentang Pemerintahan Daerah Peraturan Menteri Dalam Negeri Republik
(Lembaran Negara Republik Indonesia Indonesia Nomor 13 Tahun 2006
Tahun 2015 Nomor 58, Tambahan Tentang Pedoman Pengelolaan
Lembaran Negara Republik Indonesia Keuangan Daerah;
Nomor 5679); Peraturan Menteri Dalam Negeri Republik
Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2015 Indonesia Nomor 37 Tahun 2014
Tentang Perubahan Atas Undang- Tentang Pedoman Penyusunan
Undang Nomor 27 Tahun 2014 Tentang Anggaran Dan Belanja Daerah Tahun
Anggaran Pendapatan Dan Belanja Anggaran 2015 (Berita Negara
Negara Tahun Anggaran 2015 Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor
(Lembaran Negara Republik Indonesia 680).
Tahun 2015 Nomor 44, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 5669);
Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2005
Tentang Dana Perimbangan (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2005
Nomor 137, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor
4575);
Peraturan Pemerintah Nomor 56 Tahun 2005
Tentang Sistem Informasi Keuangan