You are on page 1of 61

ASUHAN KEPERAWATAN GERONTIK IMMOBILITY

PADA PASIEN DENGAN DIAGNOSA MEDIS POST STROKE
DI UNIT RAWAT JALAN (URJ) GERIATRI RSUD Dr. SOETOMO
SURABAYA

Oleh:
KELOMPOK B1 A1
1. Yoga Aji Pradana, S.Kep. 131723143093
2. Sumariono Efendi, S.Kep. 131723143091
3. Crispina S N, S.Kep. 131723143007
4. Anggar Dwi Untari, S.Kep. 131723143010
5. Selvi Ratu Djawa, S.Kep. 131723143011
6. Mey Selvi Yanti, S.Kep. 131723143002
7. Lilis Ernawati, S.Kep. 131723143003
8. Tuhfa Eka Indriana, S.Kep 131723143004
9. Asiadi, S.Kep 131723143005
10. Leli Ika Hariyati, S.Kep. 131723143008
11. Alfan Fachrul Rozi, S.Kep. 131723143009

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI NERS (P3N)
FAKULTAS KEPERAWATAN UNIVERSITASAIRLANGGA
SURABAYA
2018

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Masalah kesehatan pada lanjut usia berawal dari kemunduran sel-sel tubuh, sehingga

fungsi dan daya tahan tubuh menurun serta faktor resiko terhadap penyakit pun meningkat.

Masalah kesehatan yang sering dialami lanjut usia adalah malnutrisi, gangguan

keseimbangan, kebingungan mendadak, dll. Selain itu, beberapa penyakit yang sering terjadi

pada lanjut usia antara lain hipertensi, gangguan pendengaran dan penglihatan, demensia,

osteoporosis, dsb.Kemandirian dan produktifitas seorang lansia sangat dipengaruhi oleh

keoptimalan berbagai fungsi yang dimilikinya salah satunya adalah mobilitas fisik. Mobilitas

adalah pergerakan yang memberikan kebebasan dan kemandirian bagi seseorang dan

mobilitas juga dapat diartikan sebagai pusat untuk berpartisipasi dalam dan menikmati

kehidupan (Blair, 2006). Mobilitas fisik penting untuk mempertahankan kesehatan dan

kualitas hidup terutama bagi lansia. Mobilitas memungkinkan individu menghindari

bahaya,bertindak untuk merasakan pengalaman yang menyenangkan dan mempertahankan

homeostasis.

Data statistik dunia bersama WHO (2002-2006) menunjukkan 15 juta orang

menderita stroke di setiap tahun. Sebanyak 5 juta orang mengalami kematian dan 5 juta orang

mengalami kecacatan (Ovina, 2013). NewsRx (2015) menyatakan bahwa saat ini terdapat

25,7 juta penderita stroke dan 6,5 juta kematian akibat stroke. Angka kejadian stroke di Asia

berada pada rentang 116-48 per 100.000 penduduk per tahun. Dibandingkan tahun 1999,

terjadi peningkatan 2-3x di seluruh negara di Asia (Suwanwela, 2016). Riset Kesehatan Dasar

(Riskesdas) Kemenkes RI tahun 2013 menunjukkan telah terjadi peningkatan prevalensi

stroke di Indonesia dari 8,3 per mil (tahun 2007) menjadi 12,1 per mil (tahun 2013). Menurut

karakteristik responden, prevalensi ini cenderung meningkat sesuai dengan peningkatan umur

(meningkat pada kelompok umur 45 tahun ke atas) dan jenis kelamin (laki-laki). Stroke

dibedakan menjadi dua yaitu stroke iskemik dan stroke hemoragik. Pane (2012) menunjukkan

bahwa 89,6% pasien menderita stroke hemoragik dan sisanya 10,4% menderita stroke

iskemik. Stroke mayoritas terjadi pada lansia yaitu 51,5% pada usia lebih dari 60 tahun dan

48,5% terjadi pada usia dibawah 60 tahun.

Stroke dapat berdampak pada berbagai sistem, terutama pada sistem gerak manusia,

80% penderita stroke akan mengalami penurunan parsial/total pada gerakan lengan dan

tungkai. Hal tersebut akan menyebabkan gangguan mobilisasi pada lansia. Lansia pada

hakikatnya mengalami penurunan kemampuan mobilitas, ditambah dengan adanya dampak

dari stroke akan semakin memperberat usaha lansia untuk memenuhi kebutuhan sehari-

harinya (Activity Daily Living). Dengan adanya penurunan ADL dapat berdampak pula pada

penurunan kualitas hidup lansia yang akan menyebabkan terjadinya perubahan psikologis

dimana lansia akan merasa tidak berguna lagi dan hanya bisa bergantung pada orang lain.

Perawat memiliki peran penting dalam penatalaksanaan pasien pasca stroke guna

meningkatkan kualitas hidup dan tingkat kemandirian lansia serta meningkatkan peran dan

dukungan keluarga bagi lansia. Sebagai Care Provider, perawat berkewajiban memberikan

asuhan keperawatan pada lansia, membantu pemenuhan ADL, memberikan intervensi

keperawatan yang bertujuan untuk meningkatkan fungsi motorik pasien, dan peran sebagai

Educator dalam memberikan pendidikan mengenai penatalaksanaan stroke di rumah, diet

yang tepat dan memaksimalkan peran keluarga dalam membantu perawatan pasien stroke di

rumah.

Bagi Mahasisiwa/i Keperawatan Laporan kasus ini semoga dapat menambah pengetahuan dan informasi kepada pembaca lain dalam melakukan Asuhan Keperawatan imobilisasi Pada Pasien Dengan Diagnosa Medis Post Stroke Di Unit Rawat Jalan (URJ) Geriatri RSUD Dr.Soetomo Surabaya. 2. 1. .2 Tujuan Penulisan 1.Soetomo Surabaya.2 Tujuan Khusus: 1. 1.2.1 Tujuan Umum Menjelaskan Asuhan Keperawatan Gerontik imobilisasi Pada Pasien Dengan Diagnosa Medis Post Stroke Di Unit Rawat Jalan (URJ) Geriatri RSUD Dr. Menjelaskan tentang Asuhan Keperawatan Gerontik imobilisasi Pada Pasien Dengan Diagnosa Medis Post Stroke Di Unit Rawat Jalan (URJ) Geriatri RSUD Dr. Menjelaskan konsep Imobilisasi 2.2.1.Soetomo Surabaya. Bagi Penulis Penulis dapat memperdalam pengetahuan tentang asuhan keperawatan yang telah dilakukannya.1 Manfaat Laporan kasus ini diharapkan dapat bermanfaat bagi: 1.

2006). Mobilisasi diperlukan untuk meninngkatkan kesehatan.1. Mobililis/ mobilisatio adalah usahagerak/ memgerakakn (Brooker Christine. Mobilitas atau Mobilisasi adalah kemampuan individu untuk bergerak secara bebas. mudah dan teratur dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan aktivitas guna mempertahankan kesehatannya (Aziz AA. membuat napas dalam dan menstimulasi kembali fungsi gastrointestinal normal. dan teratur dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan aktivitas guna mempertahankan kesehatannya. dorong untuk menggerakkan kaki dan tungkai bawah sesegera mungkin. 2008). Mobilisasi menyebabkan perbaikan sirkulasi.Mobilisasi adalah suatu kondisi dimana tubuh dapat melakukan keegiatan dengan bebas (Kosier. M. Mobilitas atau mobilisasi merupakan kemampuan individu untuk bergerak secara bebas. biasanya dalam waktu 12 jam (Mubarak. Mobilitas fisik yaitu keadaan keika tseseorang mengalami atau bahkan beresiko mengalami keterbatasan fisik dan bukan merupakan immobile (Doenges. Mobilisasi adalah kemampuan seseorang untuk bergerak secara bebas. mudah dan teratur yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehat. mudah. 2000). BAB 2 TINJAUAN TEORITIS 2. Definisi Mobilisasi Mobilitas adalah pergerakan yang memberikan kebebasan dan kemandirian bagi seseorang (Ansari. 1989 cit Ida 2009). 2011). memperlambat proses penyakit khususnya penyakit degeneratif dan untuk aktualisasi.E. 2001). .

individu dengan penyakit yang mengalami penurunan kesadaran lebih dari 3 hari atau lebih. Dapat juga diartikan sebagai suatu keadaan tidak bergerak / tirah baring yang terus – menerus selama 5 hari atau lebih akibat perubahan fungsi fisiologis (Bimoariotejo.Gangguan mobilitas fisik (immobilisasi) didefinisikan oleh North American Nursing Diagnosis Association (NANDA) sebagai suatu kedaaan dimana individu yangmengalami atau beresiko mengalami keterbatsan gerakan fisik. Imobilisasi Imobilitas didefinisikan secara luas sebagai tingkat aktivitas yang kurang darimobilitas optimal (Ansari. 2009). dan pembatasan gerakan volunteer (Potter. Kondisi ini dapat meningkatkan waktu penekanan pada jaringan kulit. Imobilisasi dikatakan sebagai faktor resiko utama pada munculnya luka dekubitus baik di rumah sakit maupun di komunitas.Imobilisasi adalah suatu kondisi yang relatif.klien dengan stroke. 2008).2.2. 2011). penggunaan alat eksternal (seperti gipsatau traksi). Imobilisasi disamping mempengaruhi kulit secara langsung. tetapi juga mengalami penurunan aktifitas dari kebiasaan normalnya (Mubarak. Suatu keadaan keterbatasan kemampuan pergerakan fisik secara mandiri yang dialami seseorang (Pusva. 2005). 2009). Imobilisasi merupakan ketidakmampuan seseorang untuk menggerakkan tubuhnya sendiri. 2005). menurunkan sirkulasi dan selanjutnya mengakibatkan luka dekubitus. Immobility (imobilisasi) adalah keadaan tidak bergerak/ tirah baring (bed rest) selama 3 hari atau lebih (Adi. juga mempengaruhi beberapa . dimana individu tidak saja kehilangan kemampuan geraknya secara total. individu yang kehilangan fungsi anatomic akibat perubahan fisiologik (kehilangan fungsi motorik. klien penggunaa kursi roda).tidak bergerak secara aktif akibat berbagai penyakit atau gangguan pada alat/organ tubuh yang bersifat fisik atau mental.Imobilisasi adalah suatu keadaan dimana penderita harus istirahat di tempat tidur. Individu yang mengalami atau beresiko mengalami keterbatasan gerakan fisik antara lain : lansia.

Keengganan untuk melakukan pergerakan. Keterbatasan rentang gerak. Mempertahankan interaksi sosial dan peran sehari – hari 5. e.3. termasuk mobilitas di tempat tidur.4. berpindah dan ambulasi. Misalnya pada sistem kardiovaskuler. b.Ketidakmampuan untuk bergerak dengan tujuan di dalam lingkungan. termasuk protocol-protokol mekanis dan medis f. c.gangguan sirkulasi darah perifer. atau masa otot. pengendalian. 2004) 2.organ tubuh. Gangguan koordinasi . Batasan karakteristik a. Mengalami pembatasan pergerakan. Tujuan Mobilisasi 1. Mempertahankan tingkat kesehatan 4. Mencegah hilangnya kemampuan fungsi tubuh 2. menurunkan pergerakan paru untuk mengambil oksigen dari udara (ekspansi paru) dan berakibat pada menurunnya asupan oksigen ke tubuh Lindgren et al. Penurunan kekuatan. d. system respirasi. Memenuhi kebutuhan dasar manusia 2. Mencegah terjadinya trauma 3.

5. paraplegi karena cedera tulang belakang. merupakan kemampuan seseorang untuk bergerak dengan batasan jelas dan tidak mam. merupakan kemampuan seseorang untuk bergerak secara penuh dan bebas sehingga dapat melakukan interaksi sosial dan menjalankan peran sehari-hari. Hal tersebut disebabkan oleh rusaknya system saraf yang reversibel. Mobilitas penuh ini merupakan fungsi saraf motorik volunteer dan sensorik untuk dapat mengontrol seluruh area tubuh seseorang.2. Hal tersebut dapat disebabkan oleh trauma reversibel pada system musculoskeletal. 2) Mobilitas sebagian. Pada pasien paraplegi dapat mengalami mobilitas sebagian pada ekstremitas bawah karena kehilangan kontrol motorik dan sensorik. Mobilitas sebagian ini dibagi menjadi dua jenis. yaitu: a) Mobilitas sebagian temporer. merupakan kemampuan individu untuk bergerak dengan batasan yang sifatnya sementara. b) Mobilitas permanen. poliomilitis karena terganggunya system saraf motorik dan sensorik .1 Jenis Mobilitas 1) Mobilitas penuh. Hal ini dapat dijumpai pada kasus cedera atau patah tulang dengan pemasangan traksi. merupakan kemampuan individu untuk bergerak dengan batasan yang sifatnya menetap.5. Jenis Mobilitas dan Imobilitas 2. contohnya adalah adanya dislokasi sendi dan tulang.pu bergerak secara bebas karena dipengaruhi oleh gangguan saraf motorik dan sesnsorik pada area tubuhnya. contohnya terjadinya hemiplegia karena stroke.

merupakan keadaan ketika seseorang mengalami pembatasan secara emosional karena adanya perubahan secara tiba-tiba dalam menyesuaikan diri.2 Rentang Gerak dalam Mobilisasi Dalam mobilisasi terdapat tiga rentang gerak yaitu : 1) Rentang gerak pasif Rentang gerak pasif ini berguna untuk menjaga kelenturan otot-otot dan persendian dengan menggerakkan otot orang lain secara pasif misalnya perawat mengangkat dan menggerakkan kaki pasien.5. . 2) Rentang gerak aktif Hal ini untuk melatih kelenturan dan kekuatan otot serta sendi dengan cara menggunakan otot-ototnya secara aktif misalnya berbaring pasien menggerakkan kakinya. 2) Imobilisasi intelektual. 3) Imobilitas emosional.5.merupakan pembatasan untuk bergerak secara fisik dengan tujuan mencegah terjadinya gangguan komplikasi pergerakan. 3) Rentang gerak fungsional Berguna untuk memperkuat otot-otot dan sendi dengan melakukan aktifitas yang diperlukan 2.3 Jenis Imobilitas 1) Imobilisasi fisik.2.merupakan keadaan ketika seseorang mengalami keterbatasan daya pikir.

Etiologi Penyebab utama imobilisasi adalah adanya rasa nyeri. Kekhawatiran keluarga yang berlebihan dapat menyebabkan orangusia lanjut terus menerus berbaring di tempat tidur baik di rumah maupun dirumah sakit (Setiati dan Roosheroe. 2007). Penyebab secara umum: 1. 2. Gangguan perkembangan otot 3.Merupakan keadaan individu yang mengalami hambatan dalam melakukan interaksi sosial karena keadaan penyakitnya. ketidakseimbangan.6. 4) Imobilitas sosial. 2005) 1) Fall 2) Fracture 3) Stroke 4) Postoperative bed rest 5) Dementia and Depression 6) Instability 7) Hipnotic medicine . lemah. Kerusakan system saraf pusat 4. sehingga dapat mempengaruhi perannya dalam kehidupan sosial. Kekakuan otot Kondisi-kondisi yang menyebabkan immobilisasi antara lain: (Restrick. Trauma lanngsung pada system mukuloskeletal dan neuromuscular 5. Osteoartritis merupakan penyebab utama kekakuan pada usia lanjut. Gangguan fungsi kognitif berat seperti pada demensia dan gangguan fungsi mental seperti pada depresi juga menyebabkan imobilisasi. dan masalah psikologis. kekakuan otot. Kelainan postur 2.

8) Impairment of vision 9) Polipharmacy 10) Fear of fall Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi mobilisasi adalah 1) Gaya hidup Gaya hidup sesorang sangat tergantung dari tingkat pendidikannya. CVA yang berakibat kelumpuhan. 2) Proses penyakit dan injuri Adanya penyakit tertentu yang di derita seseorang akan mempengaruhi mobilitasnya misalnya. seorang anak desa yang biasa jalan kaki setiap hari akan berebda mobilitasnya dengan anak kota yang biasa pakai mobil dalam segala keperluannya. Karena adanya nyeri mereka cenderung untuk bergerak lebih lamban. orang yang lagi sakit akan berbeda mobilitasnya di bandingkan dengan orang sehat apalagi dengan seorang pelari. Demikian pula orang yang baru menjalani operasi. Ada kalanya klien harus istirahat di tempat tidurkarena mederita penyakit tertentu misallya. Wanita kraton akan berbeda mobilitasnya dibandingkan dengan seorang wanita madura dan sebagainya. 3) Kebudayaan Kebudayaan dapat mempengarumi poa dan sikap dalam melakukan aktifitas misalnya. seorang yang patah tulang akan kesulitan untukobilisasi secara bebas. seorang ABRI akan berjalan dengan gaya berbeda dengan seorang pramugari atau seorang pemambuk. Demikian halnya dengan pengetahuan kesehatan tetang mobilitas seseorang akan senantiasa melakukan mobilisasi dengan cara yang sehat misalnya. 4) Tingkat energi Setiap orang mobilisasi jelas memerlukan tenaga atau energi. . Makin tinggi tingkat pendidikan seseorang akan di ikuti oleh perilaku yang dapat meningkatkan kesehatannya. typoid dan penyakit kardiovaskuler.

Faktor resiko Berbagai faktor fisik. psikologis. seperti pada tabel berikut: Gangguan Artritis muskuloskeletal Osteoporosis Fraktur (terutama panggul dan femur) Problem kaki (bunion. kalus) Lain-lain (misalnya penyakit paget) Gangguan neurologis Stroke parkinson Penyakit Lain-lain (disfungsi serebelar. Anak yang selalu sakit dalam masa pertumbuhannya akan berbeda pula tingkat kelincahannya dibandingkan dengan anak yang sering sakit.5) Usia dan status perkembangan Seorang anak akan berbeda tingkat kemampuan mobilitasny dibandingkan dengan seorang remaja. neuropati) Penyakit Gagal jantung kongensif (berat) kardiovaskular Penyakit jantung koroner (nyeri dada yang sering) Penyakit vaskular perifer (kardkasio yang sering) Penyakit paru Penyakit paru obstruksi kronis (berat) Faktoe sensorik Gangguan penglihatan Takut (instabilitas dan takut akan jatuh) Penyebab lingkungan Imobilisasi yang dipaksakan (di rumah sakit atau panti werdha) Alat bantu mobilitas yang tidak adekuat Nyeri akut atau kronik Lain-lain Dekondisi (setelah tirah baring lama metastasis luas pada keganasan) Malnutrisi Penyakit sistemik berat (misalnya metastasis luas pada keganasan) Depresi Efek samping obat (misalnya kekuatan yang disebabkan obat antipsikotik) . dan lingkungan dapat menyebabkan imobilisasi pada usia lanjut. c.

2. Skeletal adalah rangka pendukung tubuh dan terdiri dari empat tipe tulang: panjang. Patofisiologi Mobilisasi sangat dipengaruhi oleh sistem neuromuskular. Immobilisasi menyebabkan aktifitas dan tonus otot menjadi berkurang. pipih. menganjurkan klien untuk latihan kuadrisep. kartilago. Sistem skeletal berfungsi dalam pergerakan. dan otot yang melawan gravitasi. Postur dan Gerakan Otot merefleksikan kepribadian dan suasana hati seseorang dan tergantung pada ukuran skeletal dan perkembangan otot skeletal. pendek. ligament. Meskipun kontraksi isometrik tidak menyebabkan otot memendek. peningkatan tekanan otot menyebabkan otot memendek. sendi. Ketegangan dapat dipertahankan dengan adanya kontraksi dan relaksasi yang bergantian melalui kerja otot. Ada dua tipe kontraksi otot: isotonik dan isometrik. membantu mengatur keseimbangan kalsium. dan saraf. skeletal. . dan ireguler (tidak beraturan). Kontraksi isometrik menyebabkan peningkatan tekanan otot atau kerja otot tetapi tidak ada pemendekan atau gerakan aktif dari otot. Otot Skeletal mengatur gerakan tulang karena adanya kemampuan otot berkontraksi dan relaksasi yang bekerja sebagai sistem pengungkit. Koordinasi dan pengaturan dari kelompok otot tergantung dari tonus otot dan aktifitas dari otot yang berlawanan. tekanan darah) karena latihan isometrik. Tonus otot mempertahankan posisi fungsional tubuh dan mendukung kembalinya aliran darah ke jantung. misalnya. tendon. Tonus otot adalah suatu keadaan tegangan otot yang seimbang. Perawat harus mengenal adanya peningkatan energi (peningkatan kecepatan pernafasan. Gerakan volunter adalah kombinasi dari kontraksi isotonik dan isometrik. namun pemakaian energi meningkat. Hal ini menjadi kontra indikasi pada klien yang sakit (infark miokard atau penyakit obstruksi paru kronik). Pada kontraksi isotonik.7. meliputi sistem otot. berperan dalam pembentukan sel darah merah. fluktuasi irama jantung. sinergis. melindungi organ vital.

diklasifikasikan menjadi: 1. Contoh: sendi putar seperti sendi pangkal paha (hip) dan sendi engsel seperti sendi interfalang pada jari. Sendi kartilago terdapat pada tulang yang mengalami penekanan yang konstan. memiliki sedikit pergerakan. 2. Sendi kartilaginous/sinkondrodial. dapat bergerak dengan jumlah yang terbatas. serta mempunyai panjang dan ketebalan yang bervariasi. ligamen antara vertebra. Misalnya. Ligamen itu elastis dan membantu fleksibilitas sendi dan memiliki fungsi protektif. misalnya tendon akhiles/kalkaneus. dan telinga.Sendi adalah hubungan di antara tulang. Ligamen adalah ikatan jaringan fibrosa yang berwarna putih. Sendi sinostotik mengikat tulang dengan tulang mendukung kekuatan dan stabilitas. Tendon itu kuat. Sendi sinovial atau sendi yang sebenarnya adalah sendi yang dapat digerakkan secara bebas dimana permukaan tulang yang berdekatan dilapisi oleh kartilago artikular dan dihubungkan oleh ligamen oleh membran sinovial. dan ligamentum flavum mencegah kerusakan spinal kord (tulang belakang) saat punggung bergerak. ligamen non elastis. adalah sendi di mana kedua permukaan tulang disatukan dengan ligamen atau membran. 4. Serat atau ligamennya fleksibel dan dapat diregangkan. kostosternal antara sternum dan iga. Contoh: sepasang tulang pada kaki bawah (tibia dan fibula) . fleksibel. Kartilago adalah jaringan penghubung pendukung yang tidak mempunyai vaskuler. 3. Contoh: sakrum. dan tidak elastis. Bayi . seperti sendi. mengkilat. Sendi fribrosa/sindesmodial. 5. terutama berada disendi dan toraks. yang menghubungkan otot dengan tulang. laring. hidung. 7. tetapi elastis dan menggunakan kartilago untuk menyatukan permukaannya. mengkilat. 6. pada sendi vertebra. trakhea. Tidak ada pergerakan pada tipe sendi ini. Tendon adalah jaringan ikat fibrosa berwarna putih. fleksibel mengikat sendi menjadi satu sama lain dan menghubungkan tulang dan kartilago.

sinkop § Perlambatan fungsi usus § Penurunan kapasitas kebugaran § Pengurangan miksi § Konstipasi § Gangguan tidur § Penurunan evakuasi kandung kemih § Bermimpi pada siang hari. Kartilago permanen tidak mengalami osifikasi kecuali pada usia lanjut dan penyakit. penurunan volume plasma. Dampak Imobilisasi a. Sistem saraf mengatur pergerakan dan postur tubuh. ada penekanan pada telapak kaki secara terus menerus. Efek Imobilisasi pada Berbagai Sistem Organ PERUBAHAN YANG TERJADI AKIBAT ORGAN / SISTEM IMOBILISASI Muskuloskeletal Osteoporosis. penurunan perfusi pembuluh darah miokard. yaitu di girus prasentral atau jalur motorik. mempunyai sejumlah besar kartilago temporer. intoleran terhadap ortostatik. penurunan area potong lintang otot. atelektasis paru. halusinasi b. dan hiperkoagulasi . 8. berkurangnya volume sendi Kardiopulmonal dan Peningkatan denyut nadi istirahat. peningkatan agresi trombosit. Proprioseptor memonitor tekanan. antara lain EFEK HASIL § Penurunan konsumsi oksigen maksimum § Intoleransi ortostatik § Penurunan fungsi ventrikel kiri § Penurunan volume sekuncup § Peningkatan denyut jantung. penurunan ambilan oksigen maksimal (VO2 max). berada di konteks serebral. penurunan massa tulang. peningkatan stasis vena. ankilosis. Misalnya proprioseptor pada telapak kaki berkontribusi untuk memberi postur yang benar ketika berdiri atau berjalan. Area motorik volunteer utama. peningkatan tekanan intraartikular. Dampak fisiologis dari imobilitas. perubahan uji fungsi paru. seperti osteoarthritis. 9. pneumonia. degenerasi rawan sendi. kontraktor. 2. hilangnya kekuatan otot. Propriosepsi adalah sensasi yang dicapai melalui stimulasi dari bagian tubuh tertentu dan aktifitas otot. deconditioning jantung. melanjutkan informasi ini sampai memutuskan untuk mengubah posisi. Saat berdiri.8. Proprioseptor memonitor aktifitas otot dan posisi tubuh secara berkesinambungan.

ketidakseimbangan kalsium. Keberdaaan infeksius padaklien immobilisasi meningkatkan BMR karena adanya demam dan penyembuhanluka yang membutuhkan peningkatan kebutuhan oksgen selular. Pemcahan asasm amino akan terusterjadi dan menghasilkan nitrogen sehingga akumulasinya kan menyebbakankeseimbangan nitrogen negative . 3) Gangguan nutrisi (hipoalbuminemia) Imobilisasi akan mempengaruhi system metabolik dan endokrin yang akibatnya akan terjadi perubahan terhadap metabolisme zat gizi. Hal initerjadi karena immobilisasi menyebabkan kerja ginjal yang menyebabkanhiperkalsemia. Komplikasi a. natriuresis endokrin dan deplesi natrium. Integumen Peningkatan risiko ulkus dekubitus dan laserasi kulit Metabolik dan Keseimbangan nitrogen negatif. mengingat imobilitas dapat menyebabkan turunnya kecepatan metabolisme dalam tubuh. Salah satu yang terjadi adalah perubahan metabolisme protein. penurnan massaotot. Kehilangan masa otottertutama pada hati. resistensi insulin (intoleransi glukosa). lemak. dan imunitas. keseimbangan cairan dan elektrolit. hiperkalsiuria.jantung. dan gangguan pencernaan. Kadar plasma . serta penurunan absorpsi dan metabolisme vitamin/mineral 2.paru-paru. 2) Ekskresi kalssium dalam urin ditngkatkan melalui resorpsi tulang. dan kelemahan akibat katabolisme jarinagn. dan protein. hiperlipidemia.9. kehilangan berat badan . Immobilisasi menyebabkan asam aminotidak digunakan dan akan diekskresikan. Perubahan Metabolik Secara umum imobilitas dapat mengganggu metabolisme secara normal. Gangguan metabolik yang mungkin terjadi : 1) Defisensi kalori dan proterin merupakan karakteristik klien yangmengalamianoreksia sekunder akibat mobilisasi. Immobilisasi menggangu fungsi metabolic normal antara lain laju metabolic: metabolisme karbohidarat. saluran pencernaan.

Berkurangnya perpindahan cairan dari intravaskular ke interstitial dapat menyebabkan edema. sehingga terjadi ketidakseimbangan cairan dan elektrolit. 4) Gangguan gastrointestinal terjadi akibta penurunan motilitas usus. d. Keadaan tidak beraktifitas dan imobilisasi selama 7 hari akan meningkatkan ekskresinitrogen urin sehingga terjadi hipoproteinemia. . kortisol lebih tinggi pada usia lanjut yang imobilisasi sehingga menyebabkan metabolisme menjadi katabolisme. Gangguan Pengubahan Zat Gizi Terjadinya gangguan zat gizi yang disebabkan oleh menurunnya pemasukan protein dan kalori dapat mengakibatkan pengubahan zat-zat makanan pada tingkat sel menurun. karena imobilitas dapat menurunkan hasil makanan yang dicerna dan dapat menyebabkan gangguan proses eliminasi. gannguan cairan dan elektrolit. Konstipasi sebagai gejala umum . terhentinya basorbsi. Perubahan Sistem Pernapasan Imobilitas menyebabkan terjadinya perubahan sistem pernapasan. kadar hemoglobin menurun. dan terjadinya lemah otot. c. Ketidakseimbangan Cairan dan Elektrolit Terjadinya ketidakseimbangan cairan dan elektrolit sebagai dampak dari imobilitas akan mengakibatkan persediaan protein menurun dan konsenstrasi protein serum berkurang sehingga dapat mengganggu kebutuhan cairan tubuh. Gangguan Fungsi Gastrointestinal Imobilitas dapat menyebabkan gangguan fungsi gastrointestinal. Akibat imobilitas. diare karena feces yang cair melewati bagian tejpit dan menyebabkan masalah serius berupa obstruksi usus mekanik bila tidak ditangani karena adanya distensi dan peningkatan intraluminal yang akan semakin parah bila terjadi dehidrasi. dan tidak bisa melaksanakan aktivitas metabolisme. b. e. ekspansi paru menurun.

meningkatnya kerja jantung. h. Perubahan Eliminasi Perubahan dalam eliminasi misalnya dalam penurunan jumlah urine. . Pemendekan ekstremitas. g. Perubahan Sistem Muskuloskeletal 1. cemas. Gangguan Muskular: menurunnya massa otot sebagai dampak imobilitas. Perubahan Perilaku Perubahan perilaku sebagai akibat imobilitas. dapat menyebabkan turunnya kekuatan otot secara langsung. Angulasi abnormal pada tulang panjang atau gerakan pada titik selain sendi biasanya menandakan adanya patah tulang. i. Perubahan Sistem Integumen Perubahan sistem integumen yang terjadi berupa penurunan elastisitas kulit karena menurunnya sirkulasi darah akibat imobilitas.f. bingung. 2. amputasi dan bagian tubuh yang tidak dalam kesejajaran anatomis. Gangguan Skeletal: adanya imobilitas juga dapat menyebabkan gangguan skeletal. j. antara lain timbulnya rasa bermusuhan. Pertumbuhan tulang yang abnormal akibat tumor tulang. dan sebagainya. Perubahan Kardiovaskular Perubahan sistem kardiovaskular akibat imobilitas. 2. Pemeriksaan Penunjang a. misalnya akan mudah terjadi kontraktur sendi dan osteoporosis.10. yaitu berupa hipotensi ortostatik. dan terjadinya pembentukan trombus. Pemeriksaan Fisik 1) Mengkaji skletal tubuh Adanya deformitas dan kesejajaran.

nyeri otot. suhu dan waktu pengisian kapiler. Kategori tingkat kemampuan aktivitas TINGKAT KATEGORI AKTIVITAS/ MOBILITAS 0 Mampu merawat sendiri secara penuh 1 Memerlukan penggunaan alat 2 Memerlukan bantuan atau pengawasan orang lain . kekuatan otot dan koordinasi. Sirkulasi perifer dievaluasi dengan mengkaji denyut perifer. 5) Mengkaji cara berjalan Adanya gerakan yang tidak teratur dianggap tidak normal. Kifosis (kenaikan kurvatura tulang belakang bagian dada) 3. deformitas. warna. stabilitas. cara berjalan bergetar – penyakit Parkinson). dan adanya benjolan.cara berjalan spastic hemiparesis . dan ukuran masing-masing otot. Lingkar ekstremitas untuk mementau adanya edema atau atropfi. Berbagai kondisi neurologist yang berhubungan dengan cara berjalan abnormal (mis. Lordosis (membebek. cara berjalan selangkah-selangkah – penyakit lower motor neuron.2) Mengkaji tulang belakang 1. adanya kekakuan sendi 4) Mengkaji sistem otot Kemampuan mengubah posisi. Bila salah satu ekstremitas lebih pendek dari yang lain.stroke. Skoliosis (deviasi kurvatura lateral tulang belakang) 2. 7) Mengkaji fungsional klien 1. kurvatura tulang belakang bagian pinggang berlebihan) 3) Mengkaji system persendian Luas gerakan dievaluasi baik aktif maupun pasif. 6) Mengkaji kulit dan sirkulasi perifer Palpasi kulit dapat menunjukkan adanya suhu yang lebih panas atau lebih dingin dari lainnya dan adanya edema.

3 Memerlukan bantuan. Ekstensi: luruskan pergelangan tangan 80-90 dari posisi fleksi Hiperekstensi: tekuk jari-jari tangan ke 70-90 arah belakang sejauh mungkin Abduksi: tekuk pergelangan tangan ke 0-20 sisi ibu jari ketika telapak tangan menghadap ke atas. Pergelangan Fleksi: tekuk jari-jari tangan ke arah 80-90 tangan bagian dalam lengan bawah. dan peralatan 4 Sangat tergantung dan tidak dapat melakukan atau berpartisipasi dalam perawatan 2. telapak tangan menghadap ke posisi yang paling jauh. Tangan dan Fleksi: buat kepalan tangan 90 jari Ekstensi: luruskan jari 90 Hiperekstensi: tekuk jari-jari tangan ke 30 belakang sejauh mungkin Abduksi: kembangkan jari tangan 20 Adduksi: rapatkan jari-jari tangan dari 20 posisi abduksi Derajat kekuatan otot PERSENTASE SKALA KEKUATAN NORMAL KARAKTERISTIK (%) 0 0 Paralisis sempurna 1 10 Tidak ada gerakan. Siku Fleksi: angkat lengan bawah ke arah 150 depan dan ke arah atas menuju bahu. Rentang gerak (range of motion-ROM) DERAJAT GERAK SENDI RENTANG NORMAL Bahu Adduksi: gerakan lengan ke lateral dari 180 posisi samping ke atas kepala. Adduksi: tekuk pergelangan tangan ke 30-50 arah kelingking telapak tangan menghadap ke atas. pengawasan orang lain. kontraksi otot dapat di palpasi atau dilihat 2 25 Gerakan otot penuh melawan gravitasi dengan topangan 3 50 Gerakan yang normal melawan gravitasi 4 75 Gerakan penuh yang normal melawan gravitasi dan melawan tahanan minimal .

atau membutuhkan bantuan dipakaikan baju secara unutk memakai sepatu keseluruhan TOILETING (1 poin) (0 poin) Mampu ke kamar kecil Butuh bantuan menuju dan (toilet). Persiapan makan makan. atau dibantu total berpindah posisi bisa diterima KONTINENSIA (1 poin) (0 poin) Mampu mengontrol secara Sebagian atau total baik perkemihan dan buang inkontinensia bowel dan air besar bladder MAKAN (1 poin) (0 poin) Mampu memasukkan Membutuhkan bantuan makanan ke mulut tanpa sebagian atau total dalam bantuan. pendampingan didampingi personal atau perawatan total MANDI (1 poin) (0 poin) Sanggup mandi sendiri Mandi dengan bantuan lebih tanpa bantuan. gerakan penuh yang normal melawan gravitasi dan tahanan penuh § KATZ INDEX AKTIVITAS KEMANDIRIAN KETERGANTUNGAN (1 poin) (0 poin) TIDAK ADA pemantauan. 5 100 Kekuatan normal. atau bantuan total ekstermitas lumpuh) BERPAKAIAN (1 poin) (0 poin) Berpakaian lengkap Membutuhkan bantuan mandiri. atau hanya dari satu bagian tuguh. Bisa jadi dalam berpakaian. genital. Dengan pemantauan. atau memerlukan bisa jadi dilakukan oleh makanan parenteral orang lain. memerlukan bantuan pada masuk dan keluar kamar bagian tubuh tertentu mandi. mengganti pakaian. keluar toilet. . membersihkan membersihkan genital tanpa sendiri atau menggunakan bantuan telepon PINDAH (1 poin) (0 poin) POSISI Masuk dan bangun dari Butuh bantuan dalam tempat tidur / kursi tanpa berpindah dari tempat tidur bantuan. Alat bantu ke kursi. perintah ataupun perintah. Dimandikan dengan (punggung.

0 Tergantung pertolongan orang lain masuk dan keluar 1 Perlu pertolongan pada beberapa (melepaskan. 2 Berjalan dengan bantuan 1 orang. 0 = Rendah (Sangat tergantung) Indeks ADL BARTHEL (BAI) NO FUNGSI SKOR KETERANGAN 1 Mengendalikan 0 Tak terkendali/ tak teratur (perlu rangsang pembuangan pencahar). sisir 1 Mandiri rambut. menyiram) 2 Mandiri 5 Makan 0 Tidak mampu 1 Perlu ditolong memotong makanan 2 Mandiri 6 Berubah sikap dari 0 Tidak mampu berbaring ke duduk 1 Perlu banyak bantuan untuk bias 2 duduk 3 Bantuan minimal 1 orang. tinja 1 Kadang-kadang tak terkendali (1x seminggu). memakai kegiatan tetapi dapat mengerjakan celana. 3 Mandiri 8 Memakai baju 0 Tergantung orang lain 1 Sebagian dibantu (mis: memakai 2 baju) Mandiri. 4 = Sedang. Mandiri 7 Berpindah/ berjalan 0 Tidak mampu 1 Bisa (pindah) dengan kursi roda. 2 Terkendali teratur. membersihkan. sikat gigi) 4 Penggunaan jamban. Total Poin : 6 = Tinggi (Mandiri). sendiri beberapa kegiatan yang lain. <2 = Ganggaun fungsi berat. 9 Naik turun tangga 0 Tidak mampu 1 Butuh pertolongan 2 Mandiri 10 Mandi 0 Tergantung orang lain 1 Mandiri . 2 Mengendalikan 0 Tak terkendali atau pakai kateter rangsang berkemih 1 Kadang-kadang tak terkendali (hanya 1x/24 jam) 2 Mandiri 3 Membersihkan diri 0 Butuh pertolongan orang lain (seka muka.

Alkali Fospat ↑. dan perubahan hubungan tulang. kreatinin dan SGOT ↑ pada kerusakan otot.19 : Ketergantungan ringan 9 . 4. dan computer untuk memperlihatkan abnormalitas (mis: tumor atau penyempitan jalur jaringan lunak melalui tulang. .Total Skor : Skor BAI : 20 : Mandiri 12 . CT scan (Computed Tomography) menunjukkan rincian bidang tertentu tulang yang terkena dan dapat memperlihatkan tumor jaringan lunak atau cidera ligament atau tendon. tekstur. Dll. Ca↓ pada imobilisasi lama. noninvasive. Digunakan untuk mengidentifikasi lokasi dan panjangnya patah tulang didaerah yang sulit dievaluasi. MRI (Magnetik Resonance Imaging) adalah tehnik pencitraan khusus. 2. gelombang radio.11 : Ketergantungan sedang 5-8 : Ketergantungan berat 0-4 : Ketergantungan total b. yang menggunakan medan magnet. Pemeriksaan Penunjang 1. Pemeriksaan Laboratorium: Hb ↓pada trauma. 3. Sinar –X tulang menggambarkan kepadatan tulang.

kurangnya transportasi dan kurangnya dukungan. Bahaya-bahaya interpersonal termasuk isolasi social yang terjadi ketika teman-teman dan keluarga telah meninggal. 1.2. moblilitas dan aktivitas tergantung pada fungsi system musculoskeletal. dan mengalami peningkatan. Hambatan lingkungan termasuk kurangnya tempat yang aman untuk latihan dan kondisi iklim yang tidak mendukung. kardiovaskuler. Ketika klien telah memiliki evaluasi fisik secara seksama. 2. Sebagai suatu proses episodic pencegahan primer diarahkan pada pencegahan masalah-masalah yang dapat tmbul akibat imoblitas atau ketidak aktifan. o Aktivitas sat ini dan respon fisiologis denyut nadsi sebelum. Pengembangan program latihan Program latihan yang sukses sangat individual. Hambatan terhadap latihan Berbagai hambatan mempengaruhi partisipasi lansia dalam latihan secara teratur. Pencegahan primer Pencegahan primer merupakan proses yang berlangsug sepanjang kehidupan dan episodic. Pencegahan a. pulmonal. pengkajian tentang factor- faktor pengganggu berikut ini akan membantu untuk memastikan keterikatan dan meningkatkan pengalaman.11. perilaku gaya hidup tertentu (misalnya merokok dan kebiasaan diet yang buruk) depresi gangguan tidur. selama dan setelah aktivitas diberikan) o Kecenderungan alami (predisposisi atau penngkatan kearah latihan khusus) . Sebagai suatu proses yang berlangsung sepanjang kehidupan. Program tersebut disusun untuk memberikn kesempatan pada klien untuk mengembangkan suatu kebiasaan yang teratur dalam melakukan bentuk aktif dari rekreasi santai yang dapat memberikan efek latihan. diseimbangkan.

b. Mengajarkan klien untuk mengenali tanda-tanda intoleransi atau latihan yang terlalu keras sama pentingnya dengan memilih aktivitas yang tepat. Memperbaiki kemampuan mobilisasi 3. . instruksi tentang latihan yang aman harus dilakukan. Pencegahan Sekunder Spiral menurun yang terjadi akibat aksaserbasi akut dari imobilitas dapat dkurangi atau dicegah dengan intervensi keperawatan. Perbaikan status gisi 2. Diagnosis keperawaqtan dihubungkan dengan poencegahan sekunder adalah gangguan mobilitas fisik Selain itu. Pencegahan sekunder memfokuskan pada pemeliharaan fungsi dan pencegahan komplikasi. Melakukan perubahan posisi tubuh secara periodik (mobilisasi untuk menghindari terjadinya dekubitus / pressure area akibat tekanan yang menetap pada bagian tubuh. Keberhasilan intervensi berasal dri suatu pengertian tentang berbagai factor yang menyebabkan atau turut berperan terhadap imobilitas dan penuaan. Melaksanakan latihan pasif dan aktif 4. Keamanan Ketika program latihan spesifik telah diformulasikan dan diterima oleh klien. Mempertahankan posisi tubuh dengan benar sesuai dengan bady aligmen (Struktur tubuh) 5.o Kesulitan yang dirasakan o Tujuan dan pentingnya lathan yang dirasakan o Efisiensi latihan untuk dirisendiri (derajat keyakinan bahwa seseorang akan berhasil) 3. Upaya mencegahkan terjadinya masalah akibat kurangnya mobilisasi antara lain: 1.

anemia. dan pembuatan rencana terapi yang mencakup pula perkiraan waktu yang diperlukan untuk mencapai target terapi. h) Bila diperlukan. e) Evaluasi seluruh obat-obatan yang dikonsumsi. aktif. dan pramuwerdha. Penatalaksanaan Medis a. g) Program latihan dan remobilisasi dimulai ketika kestabilan kondisi medis terjadi meliputi latihan mobilitas di tempat tidur. latihan koordinasi/ keseimbangan. d) Temu dan kenali tatalaksana infeksi. b) Edukasi pada pasien dan keluarga mengenai bahaya tirah baring lama. semampu pasien. gangguan cairan dan elektrolit yang mungkin terjadi pada kasus imobilisasi. latihan gerak sendi (pasif. keluarga. isokinetik). malnutrisi. serta suplementasi vitamin dan mineral. pentingnya latihan bertahap dan ambulasi dini. f) Berikan nutrisi yang adekuat. sediakan dan ajarkan cara penggunaan alat-alat bantu berdiri dan ambulasi. isometrik. serta penyakit/ kondisi penyetara lainnya. latihan penguat otot-otot (isotonik. c) Dilakukan pengkajian geriatri paripurna. serta mencegah ketergantungan pasien dengan melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari sendiri. Terapi 1) Penatalaksana Umum a) Kerjasama tim medis interdisiplin dengan partisipasi pasien. obat-obatan yang dapat menyebabkan kelemahan atau kelelahan harus diturunkan dosisnya atau dihentkan bila memungkinkan.12. dan ambulasi terbatas. . asupan cairan dan makanan yang mengandung serat.2. perumusan target fungsional. dan aktif dengan bantuan).

dan fleksibilitas sendi. Tindakan ini bisa dilakukan dengan cara . ketahanan otot.. i) Manajemen miksi dan defekasi. d) Lakukan remobilisasi segera dan bertahap pada pasien–pasien yang mengalami sakit atau dirawat di rumah sakit dan panti werdha untuk mobilitas yang adekuat bagi usia lanjut yang mengalami disabilitas permanen. b. c) Pada keadaan-keadaan khusus. digunakan untuk meningkatkan kekuatan. konsultasikan kondisi medik kepada dokter spesialis yang kompeten. 2) Tatalaksana Khusus a) Tatalaksana faktor risiko imobilisasi b) Tatalaksana komplikasi akibat imobilisasi. yaitu : a) Posisi fowler (setengah duduk) b) Posisi litotomi c) Posisi dorsal recumbent d) Posisi supinasi (terlentang) e ) Posisi pronasi (tengkurap) f) Posisi lateral (miring) g) Posisi sim h) Posisi trendelenbeg (kepala lebih rendah dari kaki) 2) Ambulasi dini Cara ini adalah salah satu tindakan yang dapat meningkatkan kekuatan dan ketahanan otot serta meningkatkan fungsi kardiovaskular. Posisi-posisi tersebut. Penatalaksanaan lain yaitu: 1) Pengaturan Posisi Tubuh sesuai Kebutuhan Pasien Pengaturan posisi dalam mengatasi masalah kebutuhan mobilitas. termasuk penggunaan komod atau toilet.

Latihan-latihan itu. 5) Latihan ROM Pasif dan Aktif Latihan ini baik ROM aktif maupun pasif merupakan tindakan pelatihan untuk mengurangi kekakuan pada sendi dan kelemahan otot. kemampuan sendi agar mudah bergerak. 4) Latihan isotonik dan isometrik Latihan ini juga dapat dilakukan untuk melatih kekuatan dan ketahanan otot dengan cara mengangkat beban ringan. dan lain- lain. sedangkan latihan isometrik (static exercise) dapat dilakukan dengan meningkatkan curah jantung dan denyut nadi. ketahanan. bergerak ke kursi roda. Latihan isotonik (dynamic exercise) dapat dilakukan dengan rentang gerak (ROM) secara aktif. lalu beban yang berat. yaitu : a) Fleksi dan ekstensi pergelangan tangan b) Fleksi dan ekstensi siku c) Pronasi dan supinasi lengan bawah d) Pronasi fleksi bahu e) Abduksi dan adduksi f) Rotasi bahu g) Fleksi dan ekstensi jari-jari h) Infersi dan efersi kaki i) Fleksi dan ekstensi pergelangan kaki j) Fleksi dan ekstensi lutut k) Rotasi pangkal paha l) Abduksi dan adduksi pangkal paha .melatih posisi duduk di tempat tidur. 3) Melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri juga dilakukan untuk melatih kekuatan. turun dari tempat tidur. serta meningkatkan fungsi kardiovaskular.

Hal yang perlu dikaji diantaranya adalah postur tubuh yang sesuai dengan tahap pekembangan individu. . Asuhan Keperawatan Imobilisasi 1. Aspek biologis 1) Usia. 7) Melakukan Postural Drainase Postural drainase merupakan cara klasik untuk mengeluarkan sekret dari paru dengan menggunakan gaya berat (gravitasi) dari sekret itu sendiri. Pengkajian Keperawatan a. membantu pasien untuk mengekspresikan kecemasannya.13. sehingga dapat meningkatkan fungsi respirasi. dan lain-lain. 8) Melakukan komunikasi terapeutik Cara ini dilakukan untuk memperbaiki gangguan psikologis yaitu dengan cara berbagi perasaan dengan pasien.6) Latihan Napas Dalam dan Batuk Efektif Latihan ini dilakukan untuk meningkatkan fungsi respirasi sebagai dampak terjadinya imobilitas. Faktor usia berpengaruh terhadap kemampuan melakukan aktifitas. Pada penderita dengan produksi sputum yang banyak. 2) Riwayat keperawatan. 2. memberikan dukungan moril. terkait dengan kekuatan muskuloskeletal. postural drainase lebih efektif bila diikuti dengan perkusi dan vibrasi dada. Postural drainase dilakukan untuk mencegah terkumpulnya sekret dalam saluran napas tetapi juga mempercepat pengeluaran sekret sehingga tidak terjadi atelektasis.

Aspek sosial kultural Pengkajian pada aspek sosial kultural ini dilakukan untuk mengidentifikasi dampak yang terjadi akibat gangguan aktifitas yang dialami klien terhadap kehidupan sosialnya. 3) Pemeriksaan fisik. ukuran. peran diri baik dirumah. dan dampak imobilisasi terhadap sistem tubuh. jenis latihan atau olahraga yang sering dilakukan klien dan lain-lain. rentang gerak sendi. ketergantungan terhadap orang lain dalam melakukan aktivitas. 2008). Kemunduran kardiovaskuler . kekuatan. c. f. kantor maupun sosial dan lain-lain d. seperti apakah klien menunjukan keputusasaannya? Bagaimana pelaksanaan ibadah klien dengan keterbatasan kemampuan fisiknya? Dan lain-lain (Asmadi. Pengkajian fungsi secara periodik dapat digunakan untuk memantau perubahan dan keefektifan intervensi. dan kekuatan skeletal. meliputi rentang gerak. Aspek psikologis Aspek psikologis yang perlu dikaji di antaranya adalah bagaimana respons psikologis klien terhadap masalah gangguan aktivitas yang dialaminya. Kemunduran musculoskeletal Indikator primer dari keparahan imobilitas pada system musculoskeletal adalah penurunan tonus. dan ketahanan otot. misalnya bagaimana pengaruhnya terhadap pekerjaan. e. Aspek spiritual Hal yang perlu dikaji pada aspek ini adalah bagaimana keyakinan dan nilai yang dianut klien dengan kondisi kesehatan yang dialaminya sekarang. sikap tubuh. b. Hal yang perlu dikaji diantaranya adalah riwayat adanya gangguan pada sistem muskuloskeletal. kekuatan otot. mekanisme koping yang digunakan klien dalam menghadapi gangguan aktivitas dan lain-lain.

Intoleransi ortostatik dapat menunjukkan suatu gerakan untuk berdiri tegak seperti gejala peningkatan denyut jantung. Gejala-gejala kesulitan miksi termasuk pernyataan ketidakmampuan untuk berkemih dan tekanan atau nyeri pada abdomen bagian bawah j. Perubahan-perubahan Gastrointestinal . h. Perubahan awal terlihat pada permukaan kulit sebagai daerah eritema yang tidak teratur dan didefinisikan sangat buruk di atas tonjolan tulang yang tidak hilang dalam waktu 3 menit setelah tekanan dihilangkan i. Perubahan-perubahan integument Indikator cedera iskemia terhadap jaringan yang pertama adalah reaksi inflamasi. dan gas arteri mengindikasikan adanaya perluasan dan beratnya kondisi yang terjadi. Tanda dan gejala kardivaskuler tidak memberikan bukti langsung atau meyaknkan tentang perkembangan komplikasi imobilitas. penurunan tekanan darah. tremor tangan. Perubahan-perubahan fungsi urinaria Bukti dari perubahan-perubahan fungsi urinaria termasuk tanda-tanda fisik berupa berkemih sedikit dan sering. kesulitandalam mengikuti perintah dan sinkop g. edema. dan batas kandung kemih yang dapat diraba. bunyi napas. distensi abdomen bagian bawah. perkusi. berkeringat. pucat. nyeri tekan dan tanda homans positif. Tanda-tanda tromboflebitis meliputi eritema. Kemunduran Respirasi Indikasi kemunduran respirasi dibuktikan dari tanda dan gejala atelektasis dan pneumonia. Perubahan- perubahan dalam pergerakan dada. Hanya sedikit petunjuk diagnostic yang dapat diandalkan pada pembentukan trombosis. Tanda-tanda awal meliputi peningkatan temperature dan denyut jantung.

tangga yang tinggi. kelemahan. Pengosonganh rectum yang tidak sempurna. Faktor-faktor lingkungan Lingkungan tempat tinggal klien memberikan bukti untuk intervensi. iritabilitas. lantai licin. kamar mandi tanpa pegangan. penerangan yang tidak adekuat. karpet yang lepas. tempat tidudan posisi yang tinggi. Sensasi subjektif dari konstipasi termasuk rasa tidak nyaman pada abdomen bagian bawah. Kerusakan intergritas kulit f. dan cairan pada lantai. ResikoJatuh . Sindrom Defisit perawatan diri e. dan tempat duduk toilet yang rendah dapat menurunkan mobilitas klien. rasa penuh. Intoleransi aktivitas d. Gangguan mobilitas fisik b. depresi mental. Di dalam rumah. anoreksia. tekanan. k. Masalah Keperawatan Yang Mungkin Muncul a. mual gelisah. Identifikasi dan penghilangan hambatan-hambatan yang potensial dapat meningkatakan mobilitas 2. Nyeri akut c. dan sakit kepala. Hambatan-hambatan institusional terhadap mobilitas termasuk jalan koridor yang terhalang.

kursi roda §Dorong klien melakukan latihan untuk memperkuat anggota tubuh §Ajarkan pada klien/ keluarga tentang cara penggunaan kursi roda Latihan Keseimbangan § Ajarkan pada klien & keluarga untuk dapat mengatur posisi secara mandiri dan menjaga keseimbangan selama latihan ataupun dalam aktivitas sehari hari. . § Penampilan posisi tubuh yang benar Latihan mobilisasi dengan kursi roda § Pergerakan sendi dan otot §Ajarkan pada klien & keluarga tentang cara pemakaian kursi roda & cara § Melakukan perpindahan/ ambulasi : berpindah dari kursi roda ke tempat tidur atau sebaliknya. dan walker Dalam hal : §Beri penguatan positif untuk berlatih mandiri dalam batasan yang aman. § Tergantung total §Sediakan alat bantu untuk klien seperti kruk. berjalan. 3.. § Kolaborasi ke ahli terapi fisik untuk program latihan. Intervensi Keperawatan RENCANA KEPERAWATAN NO DIANGOSA TUJUAN (NOC) INTERVENSI (NIC) DX KEPERAWATAN 1 Gangguan mobilitas fisik Setelah dilakukan asuhan keperawatan Latihan Kekuatan selama . kursi roda.x 24 jam klien menunjukkan: § Ajarkan dan berikan dorongan pada klien untuk melakukan program § Mampu mandiri total latihan secara rutin § Membutuhkan alat bantu Latihan untuk ambulasi § Membutuhkan bantuan orang lain §Ajarkan teknik Ambulasi & perpindahan yang aman kepada klien dan § Membutuhkan bantuan orang lain dan alat keluarga.. miring kanan-kiri. Perbaikan Posisi Tubuh yang Benar § Ajarkan pada klien/ keluarga untuk mem perhatikan postur tubuh yg benar untuk menghindari kelelahan. keram & cedera.

RR dan perubahan ECG frekuensi Respirasi terhadap aktifitas perawatan diri. . kontrol nyeri masa lampau mencari bantuan) § Bantu pasien dan keluarga untuk mencari dan menemukan dukungan § Melaporkan bahwa nyeri berkurang § Kurangi faktor presipitasi nyeri dengan menggunakan manajemen nyeri § Ajarkan tentang teknik non farmakologi § Mampu mengenali nyeri (skala. § Klien mengungkapkan secara verbal. perawatan . aktifitas. dan situasi yang menimbulkan kecemasan§ Evaluasi motivasi dan keinginan klien untuk meningkatkan aktifitas. yang berkonstribusi pada intoleransi§ Monitor respon kardiorespirasi terhadap aktifitas : takikardi. § Observasi reaksi nonverbal dari ketidaknyamanan v Comfort level § Gunakan teknik komunikasi terapeutik untuk mengetahui pengalaman Kriteria Hasil : nyeri pasien § Mampu mengontrol nyeri (tahu penyebab § Evaluasi pengalaman nyeri masa lampau nyeri.§ Letakkan benda-benda yang sering digunakan pada tempat yang mudah pemahaman tentang kebutuhan oksigen. kualitas dan faktor presipitasi v Pain control. § Evaluasi keefektifan kontrol nyeri frekuensi dan tanda nyeri) § Tingkatkan istirahat § Menyatakan rasa nyaman setelah nyeri § Kolaborasikan dengan dokter jika ada keluhan dan tindakan nyeri tidak berkurang berhasil § Tanda vital dalam rentang normal § Monitor penerimaan pasien tentang manajemen nyeri 3 Intoleransi aktivitas Setelah dilakukan Asuhan keperawatan Manajemen Energi selama …. TD. cairan. irama jantung. diaforesis. aktifitas. meningkatkan toleransi terhadap aktifitas. aktifitas fisik tanpa disertai peningkatan§ Monitor respon terhadap pemberian oksigen : nadi.2 Nyeri akut Setelah dilakukan Asuhan keperawatan Pain Management selama …. intensitas. disritmia. N. pengobatan § Klien mampu mengidentifikasi aktifitas§ Kaji respon emosi. sosial dan spiritual terhadap aktifitas. karakteristik. mampu menggunakan tehnik § Evaluasi bersama pasien dan tim kesehatan lain tentang ketidakefektifan nonfarmakologi untuk mengurangi nyeri. durasi. dijangkau pengobatan dan atau alat yang dapat§ Kelola energi pada klien dengan pemenuhan kebutuhan makanan. kenyamanan / digendong untuk mencegah tangisan yang menurunkan § Klien mampu berpartisipasi dalam energi. x 24 jam : § Tentukan penyebab keletihan: :nyeri. pucat. dispnea. frekuensi. x 24 jam: § Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif termasuk lokasi. § Klien mampu berpartisipasi dalam§ Monitor asupan nutrisi untuk memastikan ke adekuatan sumber energi. v Pain Level.

rambut. dan pakaikan pada § Berpakaian dan melepaskan pakaian ektremitas yang sakit/ terbatas terlebih dahulu. sesuai kebutuhan. perawatan kuku. kekeringan kecemasan mukosa mulut. iritasi. dan gangguan integritas kulit. sesuai indikasi 4 Defisit perawatan diri Setelah dilakukan asuhan keperawatan Bantuan Perawatan Diri: Mandi. penil/vulva. higiene mulut. rambut. tawarkan pemakaian lotion. gigi... bersisir. perineal. selama. mulut . mulut. rambut. gigi dan mulut. bantuan minimal tanpa menunjukkan kelelahan Terapi Aktivitas §Bantu klien melakukan ambulasi yang dapat ditoleransi. § Minimalkan anxietas dan stress. makan-minum.kuku. perawatan personal. §Bantu dengan aktifitas fisik teratur : misal: ambulasi. anus § Melakukan ADL mandiri : mandi.§ Anjurkan klien dan keluarga untuk melakukan oral hygiene sesudah ambulasi makan dan bila perlu § Mandi sendiri atau dengan bantuan tanpa§ Kolaborasi dgn Tim Medis / dokter gigi bila ada lesi. meminta bantuan bila perlu Bantuan perawatan diri : Makan-minum § Mengosongkan kandung kemih dan bowel§ Kaji kemampuan klien untuk makan : mengunyah dan menelan makanan § Fasilitasi alat bantu yg mudah digunakan klien § Dampingi dan dorong keluarga untuk membantu klien saat makan . hygiene§ Bantu klien untuk mandi. toileting. rambut.§ Berikan terapi untuk mengurangi nyeri sebelum melakukan aktivitas membersihkan kuku. kuku. § Terbebas dari bau badan dan mempertahankan kulit utuh Bantuan perawatan diri : berpakaian § Mempertahankan kebersihan area perineal§ Kaji dan dukung kemampuan klien untuk berpakaian sendiri dan anus § Ganti pakaian klien setelah personal hygiene. sesuai kondisi berpakaian. bercukur. penis/vulva. berdandan berpakaian sesuai indikasi § Makan dan minum sendiri. §Rencanakan jadwal antara aktifitas dan istirahat. perawatan diri tanpa bantuan atau dengan§ Kaji pola istirahat klien dan adanya faktor yang menyebabkan kelelahan. x24 jm kulit Klien mampu : § Kaji kebersihan kulit. perineal dan anus. Gunakan pakaian yang sendiri longgar § Melakukan keramas. dan berikan istirahat yang adekuat § Kolaborasi dengan medis untuk pemberian terapi. berubah posisi.

Bantuan Perawatan Diri: Toileting § Kaji kemampuan toileting: defisit sensorik (inkontinensia). urinal) di tempat yang mudah dijangkau § Ajarkan pada klien dan keluarga untuk melakukan toileting secara teratur . nyaman dan jaga privasi selama toileting § Sediakan alat bantu (pispot. fisik (kelemahan fungsi/ aktivitas) § Ciptakan lingkungan yang aman(tersedia pegangan dinding/ bel). kognitif (menahan untuk toileting).

mengecek gula darah dan tekanan darah setiap hari dan nutrisi yang adekuat melalui sonde Obat-obatan : Ranitidine 150mg/12jam Amlodipin 5mg/24 jam Asa 100mg/24 jam Brainact 500mg/12jam Aricept eyes 5mg/24jam . IDENTITAS KLIEN Nama : Ny. STATUS KESEHATAN SEKARANG Keluhan utama : Keluarga klien mengatakan bahwa badan tidak dapat digerakkan. S Umur : 84 tahun Agama : Islam Alamat asal : Surabaya Tanggal perawatan Home Care : 17 Juli 2018 DATA KELUARGA Nama : Ny. usaha yang dilakukan untuk mengatasi keluhan: Keluarga memberikan stimulasi dengan mengajak klien berbicara. BAB 3 TINJAUN KASUS 4. kedua tangan kakinya tidak bisa digerakkan. Penurunan kesadaran GCS 335 Riwayat Penyakit Dahulu: Klien pernah mengalami stroke. H Hubungan : Anak Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga Alamat : Surabaya b. terakhir pada tanggal 29 April 2018 Pengetahuan.1 Pengakjian a.

9) Leher : Tidak ditemukan adanya massa. RR= 24x/mnt. selingan susu 2x 50cc. warna kuning. 8) Mulut. Klien menggunakan pempres dan diganti 3-4x sehari. 2) Integumen : Terdapat luka dekubitus yang sudah mengering di sakrum. BAB 1x sehari konsistensi lembek. suara nafas vesikuler 11) Kardiovaskular : Irama reguler. tetapi klien selalu berusaha untuk memejamkan mata. . tidak ada nyeri tekan 10) Pernafasan : Klien batuk kadang-kadang tidak ada produksi sekret. TD 101/49 mmHg. kulit keriput. sebagian beruban. Tidak ada suara nafas tambahan.c. pada pemeriksaan kepala tidak didapatkan masalah atau gangguan 5) Mata : Klien mampu membuka mata dengan rangsangan suara. Klien menggunakan pempres karena klien tidak mampu mengontrol BAK dan menyampaikan ketika terasa ingin BAK 14) Reproduksi : Tidak ada lesi. N= 118x/menit 12) Gastrointerstinal : Klien terpasang NGT. Klien tidak dapat melakukan ADL sendiri melainkan harus dibantu total oleh keluarga. klien mengalami penurunan kesadaran. tenggorokan : Klien kesulitan menelan dan mengunyah. 13) Perkemihan : Klien menggunakan pempres ganti 3-4 kali sehari dan selalu penuh. GCS 335. bentuk simetris. 14 batas 28. Age Related Changes (Perubahan Terkait Proses Menua) 1) Kondisi umum pasien : Kedua tangan dan kaki klien mengalami kelemahan. Terpasang sabtu 14 juli 2018. buah 100cc. kering. terpasang NGT. 3) Hematipoetic : - 4) Kepala : pada rambut pendek sebahu. Saat dikaji terakhir ganti tadi pagi jam 6 pagi. diit bubur cair diberikan 240ml/4jam. bekas luka melepuh di tungkai kiri dan memar karena tekanan di punggung samping kaki kanan. bersih. SaO2 97%. klien sudah lama menopause dan suami sudah lama meninggal. Pada pengkajian sistem kardiovaskular tidak ditemukan masalah. konjungtiva anemis (pucat) 6) Telinga : Keluarga mengatakan klien mengalami penurunan pendengaran pada telinga sebelah kiri 7) Hidung atau sinus : Klien terpasang NGT dengan ukuran no. S1&S2 tunggal.

15) Muskuluskeletal : Kedua tangan dan kaki mengalami kelemahan otot, sendi kaku
pada pergelangan tangan kiri, riwayat pemasangan pen pada pergelangan tangan
kiri dan bahu kanan, klien bedrest total, dilakukan pola latihan ROM pasif, ADL
dibantu total.
3 2
1 1
16) Persyarafan : Terdapat paresis pada ekstremitas,
d. Potensi Pertumbuhan Psikososial Dan Spiritual
Klien dirawat oleh keluarganya dengan baik, klien tidak mau membuka mata dan
berusaha untuk memejamkan mata, Klien bedrest total, semua ADL dibantu oleh
keluarga
e. Lingkungan
1. Kamar : Tempat tidur dengan pengaman disamping tempat tidur
2. Kamar mandi : kamar mandi klien bersih, penerangan baik, lantai tidak licin,
tidak ada pegangan tangan dengan toilet duduk
3. Dalam rumah wisma : Tidak ada pegangan pada dinding rumah
4. Luar rumah : dilingkungan padat penduduk (rumah berdempetan dengan
tetangga) dan didepan rumah klien adalah sekolah dasar.

f. Additional Risk Factor
Klien mengalami kelemahan anggota tubuhnya sehingga klien harus tidur di
tempat tidur. Semua kegiatan /ADL dibantu oleh keluarga.

g. Negative Functional Consequences
1. Kemampuan ADL : ketergantungan total
2. Aspek Kognitif : Belum dapat dievaluasi
3. Tes Keseimbangan : tidak dapat evaluasi
4. GDS : Belum dapat dievaluasi
5. Status Nutrisi : High nutritional risk (terpasang NGT, diit bubur 240cc/4jam, susu
2x 50cc, buah 100cc)
6. Fungsi sosial lansia : tidak dapat evaluasi
7. Hasil pemeriksaan diagnostic : Post Stroke

LAMPIRAN

1. Kemampuan ADL
Tingkat kemandirian dalam kehidupan sehari-hari (Indeks Barthel)
No Kriteria Skor Skor
yang
didapat
1 Makan 0 = tidak mampu 0
5 = dengan bantuan (memotong makanan, mengoleskan selai,
dll atau membutuhkan menu makanan tertentu, misal
makanan cair, bubur)
10 = mandiri
2 Mandi 0 = dependen 0
5 = mandiri
3 Berpakaian 0 = dependen 0
5 = butuh bantuan
10 = mandiri (mengancingkan, memakai resleting, menalikan
renda/tali)
4 Berhias 0 = butuh bantuan dalam perawatan pribadi 0
5 = mandiri (mencuci wajah. Keramas, gosok gigi, bercukur)
5 Kontrol Bowel (BAB) 0 = inkontiensia/ membutuhkan bantuan enema untuk BAB 0
5 = sesekali BAB tidak sadar (occasional accident)
10 = Kontrol BAB baik
6 Kotrol Bladder (BAK) 0 = inkontiensia atau memakia kateter dan tidak mampu 0
merawat kateter dan baik
5 = sesekali BAK tidak sadar (occasional accident)
10 = Kontrol BAK baik
7 Penggunaan toilet 0 = Tidak mampu 0
(mencuci, menyeka, 5 = butuh bantuan, tetapi bisa melakukan sesuatu dengan
menyiram) mandiri
10 = mandiri
8 Naik turun tangga 0 = Tidak mampu 0
5 = dengan bantuan
10 = mandiri
9 Mobilisasi di permukaan 0 = tidak mampu mobilisasi atau berjalan/kursi roda < 45,72 0
datar m (50 yard)
5 = mandiri dengan kursi roda > 45,72 m (50 yard), mampu
memosisikan kursi roda di pojok ruangan
10 = berjalan dengan bantuan 1 orang > 45,72 m (50 yard)
15 = berjalan mandiri (mungkin dengan bantuan alat,
pegangan) sejauh > 45,72 m (50 yard)
10 Berpindah ( dari kursi ke 0 = tidak mampu berpindah, tidak dapat duduk dengan 0
tempat tidur dan sebaliknya seimbang
5 = dengan bantuan lebih banyak (1 aau 2 orang yang
membantu)
10 = dengan bantuan lebih sedikit
15 = mandiri
TOTAL SKOR 0

Interpretasi:
0-20 = ketergantungan total
21-60 = Ketergantungan berat
61-90 = ketergantungan sedang
91-99 = ketergantungan ringan
100 = mandiri
(Lewis, Carole & Shaw, Keiba, 2006)

2. Aspek Kognitif
MMSE (Mini Mental Status Exam)
Nama :
Tgl/Jam:
No Aspek Nilai Nilai Kriteria
Kognitif maksimal Klien
1 Orientasi 5 0 Menyebutkan dengan benar :
Tahun : 0
Hari : 0
Musim : 0
Bulan : 0
Tanggal : 0
2 Orientasi 5 0 Dimana sekarang kita berada ?
Negara :0
Panti :0
Propinsi :0
Wisma/Kamar : 0
Kabupaten/kota : 0
3 Registrasi 3 0 Sebutkan 3 nama obyek (misal : kursi, piring,
kertas), kemudian ditanyakan kepada klien,
menjawab :
1) Pensil 2). Jam 3). Buku
4 Perhatiandank 5 0 Meminta klien berhitung mulai dari 100
alkulasi kemudian kurangi 7 sampai 5 tingkat.
Jawaban :
1). 93 2). 86 3). 79 4). 72 5).
65
5 Mengingat 3 0 Minta klien untuk mengulangi ketiga obyek
pada poin ke- 2 (tiap poin nilai = 1)
1) Pensil 2) Jam 3) Buku
6 Bahasa 9 0 Menanyakan pada klien tentang benda (sambil
menunjukan benda tersebut).
1). Tas :0
2). Kertas : 0
3). Minta klien untuk mengulangi kata berikut :
“ tidak ada, dan, jika, atau tetapi )
Klien menjawab : 0
Minta klien untuk mengikuti perintah
berikut yang terdiri 3 langkah.
4). Ambil kertas ditangan anda : 0
5). Lipat dua :0
6). Taruh di atas buku : 0
Perintahkan pada klien untuk hal berikut
(bila aktifitas sesuai perintah yang
dituliskan di kertas nilai satu poin.
7). “Angkat tangan kanan ke atas” 0
8). Perintahkan kepada klien untuk menulis
kalimat dan : 0
9). Menyalin gambar 2 segi lima yang saling

Anda sering merasa bosan 1 0 5. Anda merasa bosan dengan berbagai aktifitas dan kesenangan 1 0 3. tidak dapat dievaluasi) 3. Foss & Kehlet: 2007: Podsiadlo & Richardson:1991) 4.Brauer & Woolacott: 2000. Anda memiliki motivasi yang baik sepanjang waktu 0 1 8. GDS Pengkajian Depresi Jawaban No Pertanyaan Ya Tdk Hasi l 1. Shumway-Cook. Tes Keseimbangan Time Up Go Test No Tanggal Pemeriksaan Hasil TUG (detik) 1 2 3 Rata-rata Waktu TUG Interpretasi hasil Interpretasi hasil: Tidak dapat dievaluasi Apabila hasil pemeriksaan TUG menunjukan hasil berikut: >13. Anda puas dengan kehidupan anda saat ini 0 1 2. Kristensen. bertumpuk : 0 Total nilai 30 0 Interpretasihasil : 24 – 30 : tidak ada gangguan kognitif 18 – 23 : gangguan kognitif sedang 0 . Anda takut ada sesuatu yang buruk terjadi pada anda 1 0 . Anda merasa bahwa hidup anda hampa / kosong 1 0 4.5 detik Resiko tinggi jatuh >24 detik Diperkirakan jatuh dalam kurun waktu 6 bulan >30 detik Diperkirakan membutuhkan bantuan dalam mobilisasi dan melakukan ADL (Bohannon: 2006.17 : gangguan kognitif berat Kesimpulan : gangguan kognitif berat (Klien tidak dapat berbicara.

memasak atau makan sendiri Total score 9 (American Dietetic Association and National Council on the Aging. Tidak selalu mempunyai cukup uang untuk membeli 4 0 makanan 7. Makan kurang dari 2 kali dalam sehari 3 0 3. Anda sering merasakan butuh bantuan 1 0 9. sayur atau olahan susu 2 0 4. Anda menemukan bahwa hidup ini sangat luar biasa 0 1 12. Mempunyai masalah dengan mulut atau giginya 2 2 sehingga tidak dapat makan makanan yang keras 6. Mempunyai keharusan menjalankan terapi minum 1 1 obat 3 kali atau lebih setiap harinya 9. Makan sedikit buah. Anda merasa diri anda sangat energik / bersemangat 0 1 Keterangan: Tidak dapat dievaluasi 5. dalam Introductory Gerontological Nursing. Status Nutrisi Pengkajian determinan nutrisi pada lansia: N Indikators Score Pemeriksaan o 1. 7. 2001) Interpretasi: . Anda lebih merasa bahagia di sepanjang waktu 0 1 8. cukup untuk belanja. Menderita sakit atau kondisi yang mengakibatkan 2 2 perubahan jumlah dan jenis makanan yang dikonsumsi 2. Lebih sering makan sendirian 1 0 8. Mengalami penurunan berat badan 5 Kg dalam enam 2 2 bulan terakhir 10 Tidak selalu mempunyai kemampuan fisik yang 2 2 . Mempunyai tiga atau lebih kebiasaan minum 2 0 minuman beralkohol setiap harinya 5. Anda merasa memiliki banyak masalah dengan ingatan anda 1 0 11. Anda lebih senang tinggal dirumah daripada keluar melakukan 1 0 sesuatu hal 10. Anda tidak tertarik dengan jalan hidup anda 1 0 13.

0 – 2 : Good 3 – 5 : Moderate nutritional risk 6≥ : High nutritional risk Kesimpulan: High nutritional risk .

Saya puas dengan cara teman-teman saya dan RESOLVE saya meneyediakan waktu bersama-sama Kategori Skor: TOTAL Pertanyaan-pertanyaan yang dijawab: 1). Selalu : skore 2). sedih/mencintai 5. 1978 dalam Gerontologic Nursing and health aging 2005 . Saya puas dengan cara keluarga (teman-teman) GROWTH saya menerima dan mendukung keinginan saya untuk melakukan aktivitas / arah baru 4. PARTNERSHI teman)saya membicarakan sesuatu dengan saya P dan mengungkapkan masalah dengan saya 3. Fungsi sosial lansia APGAR KELUARGA DENGAN LANSIA NO URAIAN FUNGSI SKORE 1.6. Hampir tidak pernah : skore 0 dapat di Intepretasi: evaluasi < 3 = Disfungsi berat 4 . Kadang-kadang : 1 Tidak 3).6 = Disfungsi sedang > 6 = Fungsi baik Smilkstein. Saya puas dengan cara keluarga (teman. Saya puas dengan cara keluarga (teman-teman) AFFECTION saya mengekspresikan afek dan berespon terhadap emosi-emosi saya seperti marah. Saya puas bahwa saya dapat kembali pada ADAPTATION keluarga (teman-teman) saya untuk membantu pada waktu sesuatu menyusahkan saya 2.

Seluruh ADL dibantu keluarga 4. bekas luka melepuh di tungkai kiri 3. S: 37. Data Objektif : 1. N: 118x/mnt 4.ien mengatakan pasien makan melalui NGT. Mobilisasi terbatas 6. 17 Juli 2018 Data Subjektif: Resiko perfusi jaringan serebral Keluarga mengatakan klien tidak mau mebuka tidak efektif mata.Klien terpasang NGT . Tonus otot 3 2 1 1 5 Juni 2018 Data Subjektf : Kerusakan integritas kulit Keluarga mengatakan bahwa terdapat luka lecet di punggung bawah klien dan pada kaki melepuh. GCS 335 2. SaO2 97% 17 Juli 2018 Data Subjektif: Defisit Nutrisi Keluarga kl. Terdapat luka dekubitus yang sudah mengering di sakrum 2. memar karena tekanan di punggung samping kaki kanan. konjungtiva anemis 7. Klien bedrest 3. sudah diberikan salep dan sudah mulai mengering.5 5. RR 24x/mnt 6. TD: 101/49 mmhg 3. Data Objektif : 1. mengalami kelemahan tangan dan kaki karena post stroke Data Objektif: 1.ANALISA DATA Tanggal Data Diagnosa Keperawatan 17 Juli 2018 Data Subjektif : Hambatan mobilitas fisik keluarga klien mengatakan bahwa kedua tangan dan kaki klien mengalami kelemahan. Kondisi umum total care 2. Pergerakan terbatas 5. Klien tampak pucat. dan dibantu total oleh keluarga Data Objektif: . CRT <2detik 7.

Kerusakan integritas kulit 3. buah 100cc . Defisit nutrisi . Resiko perfusi jaringan serebral tidak efektif 4. selingan susu 2x 50cc. ADL dibantu oleh keluarga . Klien tamapak lemas di tempat tidur . Status nutrisi High Nutritional Risk Prioritas Masalah : 1. Hambatan mobilitas fisik 2. Diit bubur cair diberikan 240ml/4jam. .

gesekan tanda-gejala. Berikan pendidikan kesehatan pada kulit keperawatan selama 1 hari klien dan keluarga tentang kerusakan kunjungan diharapkan integritas kulit (penyebab. bersih. Berikan pendidikan kesehatan pada kembali tentang hambatan klien dan keluarga tentang hambatan mobilitas fisik yang mobilitas fisik yang dialami klien. Monitor sumber tekanan dan dialami klien (penyebab. 4. Mampu memberikan 5. Mampu menjelaskan 2. 2 Kerusakan integritas Setelah dilakukan tindakan 1. Tentukan level motivasi klien untuk kunjungan diharapkan meningkatkan atau memelihara keluarga : pergerakan sendi 1. dampak) dan pasif 2. Monitor status neurologi . Anjurkan klien untuk tetap mempertahankan sprei agar tetap kering. Monitor tanda-tanda infeksi di area penanganan sederhana. S Wisma/ Ruang : Poli Geriatri (Home Care) No Diagnosa Tujuan dan Intervensi /NIC Keperawatan Kriteria Hasil / NOC 1. dan bebas kerutan. 1. 3 Resiko perfusi Setelah dilakukan tindakan 1. dampak) 4. FORMAT RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN NamaKlien : Ny. dampak). luka 6. Catat karakteristik luka tekan 2. Ajarkan keluarga mengenai cara tentang latihan ROM pada mengubah posisi pada klien miring klien kanan dan kiri tiap 2 jam. Mampu menjelaskan 3. dialami klien (penyebab. Monitor ulang tingkat kemampuan mobilisasi klien. Kolaborasi dengan ahli fisioterapi tentang cara mengubah untuk program latihan posisi pada klien 7. Hambatan mobilisasi Setelah dilakukan tindakan 1. 3. Monitor tanda-tanda vital serebral tidak efektif keperawatan perfusi serebral 2. 9. Monitor area kulit dari adanya kembali tentang kerusakan pecah-pecah integritas kulit yang 3. Mampu melakukan 6. Anjurkan keluarga untuk tetap menjaga kebersihan kulit klien 7. tanda- keluarga : gejala. Ubah posisi klien setiap 2 jam 8. Tentukan batasan pergerakan sendi fisik keperawatan selama 1 hari 2. Mampu melakukan 5. Ajarkan keluarga latihan ROM aktif tanda-gejala. Anjurkan keluarga untuk mengganti popok minimal 3xsehari atau bila popok terasa penuh.

Tekanan darah dalam batas normal diastolik 60-90mmhg 6. Adanya peningkatan kebutuhan nutrisi bagi tubuh berat badan sesuai 4. Monitor adanya penurunan BB dengan tujuan 5. mual. hipertensi dengan peningkatan pusing. Kolaborasi untuk induksi 4. Tidak terjadi penurunan berat badan yang berarti . Mampu membantu untuk memenuhi mengidentifikasi kebutuhan nutrisi klien kebutuhan nutrisi 6. Tidak ada tanda tanda untuk menentukan jumlah kalori malnutrisi dan nutrisi klien sesua kebutuhan 5. Kolaborasi dengan ahli gizi 4. Pertahankan level glukosa darah 3. Kaji adanya kekurangan nutrisi tindakan keperawatan nutrisi 2. Tidak ada penurunan mempertahankan parameter kesadaran hemodinamik dan mengoptimalkan tekanan perfusi serebral 3 Defisit nutrisi Tujuan: Setelah dilakukan 1. muntah volume atau inotropik untuk 5. Berikan penjelasan pada Kriteria Hasil : keluarga tentang pentingnya 2. Tekanan darah sistolik oksigen jaringan (SpO2) 100-140mmhg 5. irama. Tidak ada tanda-tanda kedalaman) tekanan intrakranial 4. tidak terjadi 3. Monitor parameter pengiriman 2. Anjurkan keluarga untuk selalu 3. Monitor intake dan output klien terpeniuhi 3. dan 1. Monitor status pernafasan Kh: (Frekuensi. Tidak ada demam.

1 1 . hambatan mobilitas fisik 3. pada pasien. Menganjurkan keluarga yang dialami klien.Klien hanya mampu .Terpasang NGT mengangkat tangan Kekuatan otot kanan secara 3 2 perlahan. 6 c . Ajarkan keluarga latihan klien miring kanan ROM aktif dan pasif . untuk mengubah posisi 2. Berikan pendidikan klien miring kiri kesehatan pada klien dan dengan dibantu keluarga tentang keluarga. I: . FORMAT IMPLEMENTASI & EVALUASI NamaKlien : Ny. S Tgl/ DX Implementasi Evaluasi Paraf Jam Keperawat an 17-7-18 Hambatan mobilitas 1.Mengubah posisi 1. Membantu dan S : Keluarga mengatakan klien fisik mengajarkan keluarga hanya berbaring di tempat melakukan ROM pasif tidur. Membantu klien tirah fisik belum teratasi baring mring kanan dan P : Lanjutkan Intervensi miring kiri. 101/ 49 mmhg ekstensi dan fleksi N : 118 X / mnt pada ekstremitas S : 36.Melakukan gerakan .klien total care . O :.Keluarga mengerti RR : 20 X/ mnt dan melakukan ROM pada klien A : masalah hambatan mobilitas 2.TTV : TD .

Keluarga mengatakan posisi pada klien miring mau melakukannya kanan dan kiri tiap 2 jam.keluarga klien kemampuan mobilisasi mengatakan akan klien . Kolaborasi dengan ahli untuk kolaborasi fisioterapi untuk program rehabilitasi dengan latihan fisioterapis. Memonitor mobilitas kulit pada tumit kakiu dan aktivitas klien. segera konsultasi dengan ahli fisioterapi. Menggunakan kasur anti I: dekubitus 1. . miring kiri setiap 2 atau 3 3. semua A : masalah kerusakan integritas aktivitas dibantu oleh kulit belum teratasi keluarga P : Intervensi dilanjutkan 3. Menganjurkan keluarga 4. Memonitor tanda dan kesehatan pada klien dan gejala infeksi di area keluarga tentang luka kerusakan integritas kulit . Berikan pendidikan 4. 4. Ajarkan keluarga jam. kulit dan luka sudah mulai mengering pada kedua kaki ada O : .Terdapat kemerahan pada hanya terbaring di kaki kanan akibat tekanan tempat tidur. mengenai cara mengubah . 5.Terdapat pengelupasan 2.terdapat luka kemerahan yang mengelupas dan di sakrum yang sudah ada yang kemerahan mengering karena tekanan . Monitor ulang tingkat . 5. Memonitor area kulit S : keluarga mengatakan akan kulit dari adanya kemerahan membersihkan luka setiap hari dan pecah-pecah. Menganjurkan keluarga untuk kontrol secara rutin 17-7-18 Kerusakan integritas 1.

luka.Keluarga mengganti sprei agar tetap kering. tetap mempertahankan .Memonitor tanda-tanda S: Klien belum mau/bisa jaringan serebral vital diajak berkomunikasi verbal tidak efektif T: 101/49 mmhg dibuktikan dengan N:118x/mnt S: 37.00 kerutan. 8. Mengganti pampers 2.Memonitor stastus GCS: 335 pernafasan RR: 24x/mnt irama reguler A: Masalah teratasi sebagian . Melakukan perawatan (penyebab. 17-7-2018 Resiko perfusi . Anjurkan keluarga untuk klien tetap menjaga kebersihan . Menganjurkan keluarga mengganti popok untuk mengganti minimal 3xsehari atau pampers minimal 3 kali bila popok terasa penuh. Anjurkan keluarga untuk 7. pampers terakhir jam bersih.Memberikan salep gentamicyn. 5. Anjurkan klien untuk penuh. 6.5 neurologi RR: 24 x/mnt GCS 335 SpO2: 97% . Menganjurkan kelurga untukmelakukan perubahan posisi mika/miki tiap 2 jam .Memonitor tanda-tanda kelebihan cairan P: Intervensi dilanjutkan . tanda-gejala. sehari atau saat pampers 4.Pampers berisi urine ± kulit klien 50 cc 3.5 0C O: TD: 101/49 mmhg hipertensi RR: 24x/mnt N: 118x/mnt .Memonitor status S: 37. dan bebas 06. dampak).

amlodipin 5mg/24 jam tb. respon:tidak ditemukan adanya udem . Mengukur GDA hasil 223 . Memonitor intake dan output O: Klien terpasang NGT klien Keluarga memberikan intake : nutrisi melalui NGT sonde 6 x 240cc = 1440 intake : susu 2x50cc=100cc sonde 6 x 240cc = 1440 susu buah 1x100cc= 100cc 2x50cc=100cc total 1640cc buah 1x100cc= 100cc . Memonitor parameter pengiriman oksigen jaringan (SpO2) SpO2 : 97% pada 4 ekstremitas . Terapi Tb. Memonitor intake dan output intake : sonde 6 x 240cc = 1440 susu 2x50cc=100cc buah 1x100cc= 100cc total 1640cc output: urin menggunakan pampers penuh diganti 3- 4x sehari . ASA 100mg/24 jam 17 Juli Defisit nutrisi . Mengkaji adanya S: Klien makan diberikan 2018 kekurangan nutrisi melalui sonde oleh keluarga .

memandikan. Menganjurkan keluarga untuk selalu membantu untuk memenuhi kebutuhan nutrisi klien Keluarga selalu memberikan perawatan pada klien. Memonitor adanya penurunan BB . Memberikan penjelasan pada A: Masalah teratasi sebagian keluarga tentang pentingnya P: Intervensi dilanjutkan kebutuhan nutrisi bagi tubuh Keluarga mengerti tentang pentingnya status nutrisi . output: total 1640cc urin menggunakan output: pampers penuh diganti urin menggunakan pampers 3-4x sehari penuh diganti 3-4x sehari . Berkolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan nutrisi klien sesua kebutuhan . memberikan nutrisi dll .

Keempat belas masalah tersebut adalah: immobility (penurunan/ ketidakmampuan mobilisasi). Lebih lanjut Maryam (2008) juga mendefinisikan lansia sebagai seseorang yang telah berusia lanjut dan telah terjadi perubahan-perubahan dalam sistem tubuhnya. Immunedeficiency (penurunan daya tahan tubuh). Inanition (kurang gizi). BAB 4 PEMBAHASAN Menurut Undang-Undang No. demensia). Impecunity (penurunan penghasilan). tidak mampu menahan buang air kecil/besar). Imobilisasi diartikan sebagai keadaan yang tidak bergerak/tirah baring selama 3 hari atau lebih dengan gerak anatomik tubuh menghilang akibat perubahan fungsi fisiologik. Intelectual Impairment (penurunan fungsi kognitif. Iatrogenesis (efek samping obat-obatan). Instability (ketidakseimbangan. dan Impotence (impotensi) sedangkan pada kasus temuan ini permasalahan yang paling menonjol adalah imobilisasi. Incontinence (inkontinensia urin/alvi. Infection (rentan mengalami infeksi). pendengaran). Pada pengkajian ini dilakukan pada lansia yang telah berusia 62 tahun dan dikategorikan sebagai elderly (60-74tahun) berdasarkan klasifikasi batasan WHO dalam Kunaifi (2009). . dan Abrass (1999) menjabarkan permasalahan yang sering dihadapi lansia ke dalam 14 masalah atau yang sering disebut 14i Sindrom Geriatri (Geriatric Syndrome). Kane. Ouslander. Isolation (rentan depresi/stres sehingga lebih sering menyendiri). Impaction (sulit buang air besar). terkait perubahan secara biologis. ataupun psikososial. Insomnia (sulit tidur). Lansia merupakan kelompok rentan dengan berbagai permasalahan yang berkaitan dengan penurunan dan perubahan dalam dirinya. Impairment of Sensory/Vision (penurunan penglihatan. 13 Tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lansia yang dimaksud dengan lansia adalah seseorang yang telah mencapai usia 60 tahun ke atas. risiko jatuh).

bedrest total. konstipasi atau skibala. dan masalah psikologis (Setiati dan Roosheroe. 2007). Kompresi pembuluh dalam waktu lama akan mengakibatkan trombosis intra arteri dan gumpalan fibrin yang secara permanen mempertahankan iskemia kulit. kelemahan. Penyebab utama imobilisasi adalah adanya rasa nyeri. beserta pengajarannya terhadap pasien dan keluarga (termasuk ROM pasif dan miring kiri dan . gangguan integritas kulit dan resiko perfusi jaringan perifer tidak efektif dan defisit nutrisi. pada status kesadaran mengalami penurunan dengan GCS 335. kontraktur otot dan sendi. dan lingkungan dapat menyebabkan imobilisasi pada usia lanjut. Lansia yang dikaji mengalami post stroke dan terdapat kelemahan pada otot. imobilisasi dapat menyebabkan beberapa komplikasi diantaranya: thrombosis vena. Temuan kasus menunjukkan adanya imobilisasi yang disebabkan oleh stroke. osteoporosis. Dalam kasus ini terdapat empat permasalah keperawatan yang diangkat yaitu: hambatan mobilitas fisik. lemah. pada tungkai kaki tampak terlihat kulit melepuh. emboli paru. menurut Setiati dan Roosheroe (2007).Berbagai faktor fisik. Selain itu. sedangkan jumlah tekanan yang dapat mempengaruhi mikrosirkulasi kulit pada usia lanjut berkisar antara 25 mmHg. psikologis. ketidakseimbangan. Adapun tatalaksana dan perencanaan asuhan keperawatan yang diterapkan dalam home visit pada kasus ini antara lain: edukasi kepada pasien dan keluarga mengenai bahaya tirah baring lama. pentingnya latihan bertahap dan ambulasi dini. Sehingga berdasarkan penjelasan tersebut sangat dibutuhkan adanya pencegahan dan penatalaksanaan secara dini. parese. pneumonia dan ISK. ganggun nutrisi. serta mengalami gangguan integritas kulit pada sakrumnya yang ditandai dengan adanya lecet sebagai salah satu komplikasi imobilisasi. Penekanan yang terus-menerus dalam jangka waktu lama dapat menyebabkan timbulnya luka atau ulkus dekubitus. kekakuan otot. kedua tangan dan kaki mengalami kelemahan otot. hipotensi postural. Tekanan lebih dari 25 mmHg secara terus menerus pada kulit atau jaringan lunak dalam waktu lama akan menyebabkan kompresi pembuluh kapiler. ulkus decubitus.

Hal ini sesuai dengan Liza (2008) yang menjelaskan tentang penatalaksanaan standar umum yang dilakukan pada kasus imobilisasi. penggantian pampers. keterbatasan rentang gerak sendi . Selain itu keluarga sebagai upaya promotif dan preventif terkait gangguan integritas kulit khususnya decubitus diberikan edukasi mengenai perawatan luka pada pasien. kerjasama interdisipilin juga keluarga dan pasien. Indikasi diberikan terapi rehabilitasi medik berupa kemunduran muskuloskeletal (penurunan tonus. ukuran. pentalaksanaan dan penyesuaian terapi. perumusan target ataupun tujuan fungsional. atau gangguan cairan elektrolit. bri nutrisi adekuat dan temui kenali sertta terapi bila terjadi infeksi. serta memberikan edukasi kepada keluarga untuk selalu memantau status kesadaran. latiham gerak sendi (pasif. aktif). pengadaan program latihan dan remobilisasi yang meliputi latihan di tempat tidur. selalu merapikan sprei agar tidak ada lekukan. dan ketahanan otot. malnutrisi anemia. kekuatan. latihan penguat otot. tanda-tanda vital.miring kanan setiap 2 jam). pengkajian geriatric. edukasi dan pemahaman oleh keluarga. juga adanya kolaborasi dengan tim fisioterapi atau tim rehabilitasi. seperti: pemberian edukasi terhadap pasien dan keluarga. serta pengupayaan kerjasama tim medis interdisiplin dengan partisipasi pasien dan keluarga. pemberian lotion pada punggung. dan ambulasi terbatas. pengkajian geriatri paripurna. Perencanaan dan penatalaksanaan kolaborasi lebih lanjut dalam asuhan keperawatann ini selain penganjuran akan kontrol yang rutin. serta lakukan remobilisasi segera dan bertahap pada pasien-pasien yang mengalami sakit atau dirawat di rumah sakit dan panti werdha untuk mobilitas yang adekuat bagi usia lanjut yang mengalami disabilitas permanen. dan pencegahan ulkus dekubitus seperti pemberian bantalan air. Tujuan rehabilitasi adalah untuk mempertahankan mobilitas dan kekuatan otot serta menurunkan ketergantungan pasien terhadap orang lain. koordinasi/ keseimbangan. Rehabilitasi medik dilakukan dengan latihan bertahap dan aman bagi pasien. dan status nutrisi pemasukan dan pengeluaran yang terjadi pada pasien.

anoreksia. distensi abdomen bagian bawah. kemunduran respirasi (tanda dan gejala atelektasis dan pneumonia). tekanan). 2009). tekanan atau nyeri pada abdomen bagian bawah). kemunduran kardiovaskuler. dan sakit kepala serta sensasi subjektif dari konstipasi termasuk rasa tidak nyaman pada abdomen bagian bawah. rasa penuh. lantai licin. gelisah. . dan tempat duduk toilet yang rendah dapat menurunkan mobilitas pasien) (Juwita. faktor-faktor lingkungan (kamar mandi tanpa pegangan. perubahan-perubahan fungsi urinaria (berkemih sedikit dan sering.serta penurunan kekuatan skeletal). depresi mental. karpet yang lepas. perubahan-perubahan gastrointestinal (pengosongan rektum yang tidak sempurna. mual. tangga yang tinggi. penerangan yang tidak adekuat. kelemahan. iritabilitas. dan batas kandung kemih yang dapat diraba.

Imobilisasi merupakan salah satu sindrom geriatric yang memiliki banyak dampak terhadap sistem atau organ lainnya. Bagi tenaga kesehatan Tenaga kesehatan khususnya perawat dapat lebih memberikan berbagai upaya kesehatan baik promotif. dan kuratif terkait penanganan imobilisasi dan pencegahan berbagai komplikasinya.2 Saran 1. preventif. Bagi Mahasiswa Mahasiswa lebih dapat menerapkan asuhan keperawatan terkait kasus imobilisasi pada lansia dan pencegahan terhadap berbagai komplikasi yang tepat DAFTAR PUSTAKA . 2. sehingga penanganan dan pencegahan komplikasi secara terpadu sangat dibutuhkan. 5. BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN 5.tidak bergerak secara aktif selama lebih dari 3 hari akibat berbagai penyakit atau gangguan pada alat/organ tubuh yang bersifat fisik atau mental.1 Simpulan Imobilisasi adalah gangguan pada lansia dimana individu mengalami atau berisiko mengalami keterbatasan fisik atau suatu keadaan dimana penderita harus istirahat di tempat tidur.

Penelitian dan Pelayanan Kedokteran di Indonesia.Semester I. Neurrogeriatri Edisi 1.Arif.Sylvia.2005. EGC : Jakarta Mansjoer. Jakarta : EGC.Saunders Danum.Perhimpunan Gerontologi Medik Indonesia Maas.A guide advanced Practise.PC Union: Kupang Hudak dan Gallo. New Jersey: Upper Saddle River Santosa. Wilkinson.Siti.2011. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. New York : Springer Publishing Company . 158-160. 2007. Edisi 4. 2008. Kushariyadi.Asmadi.2002. Jakarta Kleden. 2001. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-proses Penyakit. Budi. Panduan Diagnosa Keperawatan NANDA 2005-2006. Kapita Selekta Kedokteran Edisi 3. Nursing Interventions Classification (NIC) Second Edition. Konsep dan aplikasi kebutuhan dasar klien.EGC : Jakarta Setiati.2002. 2013. Gerontological Nursing hal.2013Geriatric Medicine.Clinical Gerontology Nursing. et all.Murniari. Kebutuhan dasar manusia & proses keperawatan. proses dan praktik.Edisi VI.Rehabilitasi Medik Pada Tirah Baring Lama.2005. C.Asuhan Keperawatan Geriatrik.2005. 1996. BPFK UI : Jakarta Buletin Jendela Data dan Informasi Kesehatan.Wyman. Jakarta : EGC. 2007.. Jakarta: Salemba Medika Mc Closkey.Meridian L.Meredith. Tarwoto & Wartonah.2005. Frailty dan Kualitas Hidup Pasien Usia Lanjut: Tantangan Masa Depan Pendidikan.J.Buku ajar keperawatan medikal bedah. EGC: Jakarta Wallace.dalam Naskah Lengkap .Media Aesculpiua FKUI : Jakarta Price.Departemen Ilmu Penyakit Dalam. Simon Sani. Asuhan Keperawatan Gangguan Sistim Persyarafan.EGC : Jakarta Lubantobing.Gambaran Kesehatan Lanjut Usia di Indonesia. Jakarta: Prima Medika Stone.2008.A.S.M.et al. Jakarta : Salemba Medika.1991.Buku Ajar Keperawatan Gerontik.Stanley. Volume 3.Salisbury. Judith M. Buku ajar fundal mental keperawatan konsep. Buku saku diagnosa keperawatan dengan intervensi NIC dan kriteria hasil NOC. Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan RI Brunner & Suddarth. Keperawatan Kritis.Health and longevity objecting to successful aging. 2006.Second Edition.Konferensi Kerja IV. Sarkopenia. dkk. 2003. Askep pada Klien Lanjut Usia.Merumat lanjut usia dengan pendekatan Holistik. 2010.2000. Jakarta : Salemba Medika.EGC : Jakarta Mickey. Perry & Potter.