You are on page 1of 9

BAB I

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

Rumah sakit adalah sarana penyedia jasa kesehatan yang bertujuan

untuk memenuhi kebutuhan kesehatan pada masyarakat (Wiyono, 1999).

Rumah sakit menjadi berkembang jika memiliki pelayanan yang bermutu dan

mampu memenuhi kebutuhan masyarakat dalam segi kuratif, preventif dan

rehabilitatif. Pelayanan bermutu adalah pelayanan yang dianggap mampu

mengurangi keluhan dan tanggap dalam menyelesaikan masalah kesehatan

yang dimiliki pengguna layanan (Pohan, 2007). Rumah sakit menyediakan

berbagai macam jenis pelayanan, seperti pelayanan unit gawat darurat (UGD),

instalasi gawat darurat (IGD), rawat inap, laboratorium, dan lain-lain. Jenis

perawatan yang dilaksanakan perawat di rumah sakit, seperti perawatan

neonatus, perawatan kamar bedah, perawatan rawat inap dan perawatan

paliatif.

Menurut WHO (2012) perawatan paliatif adalah upaya dalam

meningkatkan kualitas hidup pasien dan keluarga dalam menghadapi penyakit

yang mengancam keberlangsungan hidup pasien. Upaya ini dilakukan melalui

cara pencegahan dan mengurangi penderitaan bagi pasien dengan

mengidentifikasi lebih dini, pengkajian yang baik, mengurangi rasa sakit, dan

masalah lain seperti fisik, psikososial dan spiritual. Perawatan paliatif tidak

1
2

hanya digunakan sebagai tindakan keperawatan kepada pasien yang sudah

mendekati ajal melainkan dapat dilaksanakan pada pasien yang tidak dapat

memenuhi kebutuhannya sendiri seperti stroke, lumpuh, trauma atau masalah

imobilitas parsial ataupun total sehingga masalah seperti fisik, psikososial dan

spiritual bisa dicegah dengan baik (Cemy, 2010). Perawatan paliatif

dilaksanakan dengan strategi khusus pada penanganan nyeri, dyspnea,

ansietas, gelisah, kesedihan, muntah, depresi, serangan yang tiba-tiba seperti

sesak nafas dan keluhan yang lainnya (Ningsih, 2011).

Menurut Erna (2013) dalam penelitiannya menjelaskan bahwa

perawatan paliatif amat penting dalam tercapainya kualitas hidup maksimal

pada pasien. Menurut penelitian dari Pradana (2012) terkait dengan kebutuhan

pasien terhadap perawatan paliatif, setelah diperoleh data di RSUP Sangla

Denpasar didapatkan data kualitas hidup pada responden, didapatkan data

respondengan dengan kualitas hidup buruk (11,8%), sedang (71,8%), berat

(16,5%). Selanjutnya dilakukan pengukuran kebutuhan pasien terhadap

perawatan paliatif, diperoleh data responden dengan kebutuhan rendah

(16,5%), sedang (76,5%), dan tinggi (7,15%). Setelah dilakukan analisis

statistic korelasi dengan uji Rank Spearman, disimpulkan bahwa terdapat

hubungan yang signifikan antara kualitas hidup dengan kebutuhan perawatan

paliatif.

Pasien yang tidak mendapatkan perawatan paliatif akan merasa

kesedihan mendalam, tidak mampu mengatasi penyakit, kesakitan, berduka


3

dan takut sehingga akan mengakibatkan perasaan cemas, stress, depresi dan

tidak memiliki motovasi untuk meningkatkan status kesehatannya sendiri.

Keluarga juga merasa kesedihan secara psikologis dan sosial karena melihat

keadaan dari anggota keluarga mereka dan hal ini akan mengakibatkan

terganggunya konsentrasi keluarga untuk mencari biaya pengobatan (Ningsih,

2011). Dari keadaan tersebut dapat disimpulkan bahwa perawatan paliatif

perlu untuk diterapkan di semua rumah sakit agar beban biopsiko dan spiritual

dari pasien dan keluarga dapat diringankan dengan tindakan yang diberikan.

Namun pelaksanaan perawatan paliatif di Indonesia masih sangat terbatas.

Di Indonesia pelayanan perawatan paliatif masih diterapkan di 5 (lima)

ibukota provinsi, diantaranya adalah rumah sakit dikota Jakarta, Yogyakarta,

Surabaya, Denpasar dan Makassar (KEPMENKES RI Nomor. 812, 2007). Di

Sumatera Selatan perawatan paliatif baru dilaksanakan oleh Rumah Sakit

Umum Pusat (RSUP) Mohammad Hoesin Palembang. Rumah Sakit

Mohammad Hoesin adalah rumah sakit rujukan nasional yang telah memiliki

poli keperawatan khusus paliatif di instalasi rawat jalan rumah sakit tersebut.

Menurut Irawan (2013) jarangnya perawatan paliatif di rumah sakit di

Indonesia disebabkan karena masih kurangnya pemahaman dan kesadaran

rumah sakit terhadap pentingnya perawatan paliatif bagi pasien. Hal ini juga

mengakibatkan perawat yang bertugas dirumah sakit kurang terpapar

pengetahuan tentang perawatan paliatif. Selain kurang mendapat pengetahuan,

terdapat beberapa hambatan dalam pelaksanaan perawatan paliatif dari diri


4

perawat sendiri diantaranya adalah tantangan dalam melaksanan perawatan

paliatif akan muncul karena sebagai manusia biasa dapat mengalami masalah

emosional seperti kesedihan dan rasa berduka saat memberikan tindakan.

Tantangan terbesar adalah dalam memberikan tindakan yang adekuat,

pengobatan dan perawatan tidak berhasil dilakukan (Ningsih, 2011).

Hasil studi pendahuluan yang dilakukan di Rumah Sakit Bhayangkara

Palembang didapat data bahwa terjadi peningkatan kasus-kasus penyakit

kronis yang dapat mengarah pada paliatif. Data rekam medis pada tahun 2013

dan 2016 menunjukkan penyakit kronis seperti diabetes mellitus meningkat

dari 1828 kasus menjadi 2307 kasus, Stroke dari 480 kasus menjadi 720

kasus, penyakit jantung/kardiovaskuler meningkat dari 987 kasus menjadi

2042 kasus, penyakit ginjal/gagal ginjal dari 201 kasus meningkat menjadi

240 kasus, hipertensi dari 1255 kasus meningkat menjadi 1838 kasus, asma

dari 918 kasus meningkat menjadi 1734 kasus, karsinoma dari 3 kasus

menjadi 10 kasus, neoplasma ganas meningkat dari 152 kasus menjadi 486

kasus. Pada trimester pertama tahun 2017, jenis penyakit kronis seperti

diabetes mellitus, penyakit jantung dan hipertensi masuk dalam 10 penyakit

dengan jumlah pasien terbanyak yaitu 1455 pasien dengan diabetes mellitus,

816 pasien dengan penyakit jantung, 1392 pasien dengan hipertensi.

Peningkatan jumlah pasien kasus penyakit kronis dari tahun ke tahun

membuktikan bahwa banyak pasien membutuhkan perawatan paliatif sebagai

alternatif asuhan keperawatan bagi pasien dan keluarga. Perawat yang akan
5

menghadapi pasien dengan kondisi kronis yang kemungkinan mengarah pada

kondisi paliatif, harus memahami tugasnya sebagai perawat paliatif dengan

baik. Pelaksanaan perawatan paliatif di ruang rawat inap dilakukan oleh

perawat yang sudah menyelesaikan masa pendidikan dan mendapat

pengakuan dari instansi terkait atau tempatnya bekerja. Perawat paliatif harus

mampu melakukan perawatan yang baik pada pasien yang memasuki stadium

akhir, mampu melakukan intervensi nyeri yang bertujuan untuk mengurangi

penderitaan pasien, dan memberikan intervensi untuk meningkatkan kualitas

hidup pasien dan keluarga.

Pelayanan yang dilakukan perawat adalah bentuk pelayanan yang

mengedepankan pemahaman perilaku dan respon manusia terhadap masalah

kesehatan, bagaimana respon terhadap orang lain dan mengerti kekurangan

serta kelebihan pasien dan keluarganya. Perawat yang memberikan asuhan

keperawatan kepada pasien akan meningkatkan rasa saling percaya,

mempercepat penyembuhan fisik, merasa aman, serta menimbulkan rasa

nyaman bagi pasien. Pelayanan pelaksanaan perawatan yang berkualitas tidak

hanya ditentukan oleh pengetahuan perawat tentang penyakit pasien,

melainkan harus memiliki sikap dan tindakan yang dapat menunjang

keberhasilan dari tindakan yang diberikan kepada pasien. Sikap dan tindakan

perawat dalam melaksanakan perawatan kepada pasien akan dipengaruhi oleh

karakteristik pengetahuan perawat itu sendiri. Oleh sebab itu perlu dilakukan
6

penelitian tentang gambaran perilaku perawat tentang pelayanan perawatan

paliatif di rumah sakit.

2. Perumusan Masalah

Pelaksanaan perawatan paliatif memerlukan komitmen dan dukungan

untuk memenuhi kebutuhan akan pelayanan kesehatan pada masyarakat.

Perawatan yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup penderita

penyakit terminal ini masih jarang ditemui dirumah sakit karena pihak rumah

sakit ataupun pihak pelaksana pelayanan lebih mengutamakan tindakan secara

kuratif dari pada melakukan pendekatan secar fisik, social dan spiritual masih

belum di terapkan kepada pasien (Wulandari, 2012).

Kemampuan perawat untuk melakukan komunikasi kepada pasien

penyakit mempengaruhi psikologis pasien guna meringankan beban pasien

sehingga pasien merasa jika kematian itu adalah hal biasa dan perawat dapat

mengurangi rasa duka cita pada keluarga. Kemampuan itu dipengaruhi oleh

sikap perawat yang menjaga rasa percaya antara pasien dan perawat (Erna,

2013).

Karakteristik perawat adalah yang mendasari pemikiran untuk

melakukan suatu tindakan. Perawat yang memiliki pengetahuan dan sikap

yang baik akan baik pula dalam mengambil suatu keputusan atau bertindak

dalam pelaksanaan perawatan paliatif. Peran perawat sangat penting dalam

perawatan paliatif, untuk memberikan pelayanan yang baik harus memiliki


7

pengetahuan tentang perawatan paliatif sehingga dari pengetahuan yang

dimiliki akan mempengaruhi sikap dan tindakan perawat.

3. Tujuan Penelitian

A. Tujuan umum

Mengetahui gambaran perilaku perawat tentang pelayanan perawatan

paliatif di rumah sakit yang dilihat dari 3 (tiga) domain yaitu pengetahuan,

sikap dan tindakan.

B. Tujuan khusus

Tujuan khusus dari penelitian ini adalah:

1) Menggambarkan distribusi frekuensi pengetahuan perawat tentang

pelayanan perawatan paliatif

2) Menggambarkan distribusi frekuensi sikap perawat tentang pelayanan

perawatan paliatif.

3) Menggambarkan distribusi frekuensi tindakan perawat tentang

pelayanan perawatan paliatif.

4. Manfaat Penelitian

A. Manfaat Teoritis

Manfaat yang dapat diambil dari penelitian ini adalah untuk menambah

ilmu pengetahuan bagaimana gambaran perilaku perawat tentang

pelayanan perawatan paliatif.


8

B. Manfaat Praktis

1) Keperawatan

Penelitian ini dapat menjadi acuan bagaimana sikap perawat yang baik

sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup pasien yang diberikan

perawatan paliatif.

2) Pelayanan Kesehatan

Diharapkan penelitian ini dapat menambah pengetahuan tenaga

kesehatan untuk dapat memberikan pelayanan yang lebih baik kepada

pasien.

3) Peneliti

Untuk menambah pengetahuan mengenai perilaku perawat dan

perawatan paliatif

5. Ruang Lingkup Penelitian

Penelitian ini masuk dalam ruang lingkup keperawatan yang dilaksanakan

di ruang rawat inap. Responden dalam penelitian ini adalah perawat yang

bertugas di ruang rawat inap. Penelitian ini dilaksanakan untuk mengetahui

gambaran perilaku perawat tentang perawatan paliatif. Penelitian


9

dilaksanakan pada bulan Mei 2017. Jenis penelitian ini adalah penelitian

deskriptif dengan pendekatan survey dan menggunakan kuesioner sebagai

instrumen.