You are on page 1of 7

I.

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Keratitis adalah radang pada kornea atau infiltrasi sel radang pada
xkornea yang akan mengakibatkan kornea menjadi keruh sehingga tajam
penglihatan menurun. Infeksi keratitis dapat disebabkan oleh adanya infeksi
bakteri, virus, jamur, protozoa dan juga dapat terjadi karena adanya reaksi alergi.
Data World Health Organization (WHO) menyebutkan terdapat 39 juta orang
mengalami kebutaan. Kebutaan kornea menempati urutan kelima sebagai
penyebab kebutaan penduduk di dunia setelah katarak, glaukoma, degenerasi
makula, dan kelainan refraksi, sedangkan di negara-negara berkembang beriklim
tropis, kebutaan kornea merupakan urutan kedua setelah katarak sebagai
penyebab kebutaan dan penurunan ketajaman penglihatan (Vaughan, 2014).
Di negara-negara berkembang seperti Indonesia, infeksi kornea masih
menempati urutan tertinggi dari infeksi mata pada umumnya, dan bahkan masih
merupakan salah satu penyebab kebutaan. Herpes simpleks virus (HSV)
merupakan penyebab paling sering keratitis viral (Vaughan, 2014).
Komplikasi yang dapat terjadi akibat keratitis ini dapat berupa jaringan
parut pada kornea yang dapat menganggu tajamnya penglihatan bahkan dapat
menyebabkan terjadinya kebutaan permanen, namun dengan penanganan yang
cepat dan terapi yang tepat komplikasi akibat keratitis ini dapat dicegah. Oleh
karena itu, perlu diagnosis yang tepat sesuai dengan etiologinya guna
penatalaksanaan lebih lanjut untuk mencegah terjadinya komplikasi (Roderick,
2009).
II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Anatomi dan Histologi Kornea


Kornea merupakan organ avaskuler yang bersifat transparan berukuran 11-
12 mm horizontal dan 10-11 mm vertikal, serta memiliki indeks refraksi 1,37.
Kornea adalah salah satu organ tubuh yang memiliki densitas ujung-ujung saraf
terbanyak dan sensitifitasnya adalah 100 kali jika dibandingkan dengan
konjungtiva. Kornea dipersarafi oleh banyak saraf sensoris terutama berasal dari
saraf nasosiliar, saraf trigeminus, dan saraf siliar longus yang berjalan
suprakoroid, masuk ke dalam stroma kornea, menembus membran Bowman
melepas selubung Schwannya. Korena diinervasi oleh cabang pertama dari
nervus trigeminus yang menyebabkan segala kerusakan pada kornea (abrasi
kornea, keratitis, dan gangguan lain pada kornea) menimbulkan rasa sakit,
fotofobia, dan refleks lakrimasi. Kornea yang merupakan selaput bening mata ini
memiliki beberapa lapisan (Khurana, 2007). Secara histologi kornea terdiri dari :
1. Epitel
Epitel kornea merupakan lanjutan dari konjungtiva disusun oleh epitel
gepeng berlapis tanpa lapisan tanduk, dengan tebal kira-kira 5 % (0,05 mm)
dari total seluruh lapisan kornea. Epitel dan film air mata merupakan lapisan
permukaan dari media penglihatan. Pada sel basal sering terlihat mitosis sel,
dan sel muda ini terdorong ke depan menjadi lapis sel sayap dan semakin
maju ke depan menjadi sel gepeng, sel basal berikatan erat dengan sel basal
di sampingnya dan sel poligonal di depannya melalui desmosom dan
makula okluden; ikatan ini menghambat pengaliran air, elektrolit dan glukosa
melalui barrier. Sel basal menghasilkan membran basal yang melekat erat
kepadanya. Bila terjadi gangguan akan mengakibatkan erosi rekuren.
Sedangkan epitel berasal dari ektoderem permukaan. Epitel memiliki
daya regenerasi (Ilyas, 2015).
2. Membran Bowman
Lapisan ini terletak dibawah membran basalis epitel kornea. Membran
bowman merupakan lapisan aseluler yang tersusun dari serat kolagen tipe 1
yang tersusun secara tidak teratur. Lapisan ini tidak memiliki daya regenerasi
(Ilyas, 2015).
3. Stroma
Stroma kornea tersusun dari serat-serat kolagen tipe 1 yang berjalan
secara paralel membentuk lamel kolagen dengan sel-sel fibroblas diantaranya.
Lamel kolagen ini berjalan paralel dengan permukaan kornea dan bertanggung
jawab terhadap kejernihan kornea. Keratinosit merupakan sel stroma yang
merupakan fibroblas yang berada diantara lamela kornea dan diduga
bertanggung jawab dalam proses membentuk bahan dasar dan serat kolagen
dalam perkembangan embrio atau sesudah trauma. Stroma ini merupakan
lapisan yang 90% menyusun ketebalan kornea (Ilyas, 2015).
4. Membran descement
Membran descemet merupakan membran dasar yang tebal tersusun dari
serat-serat kolagen yang dapat dibedakan dari stroma kornea. Bersifat sangat
elastis dan jernih yang tampak amorf pada pemeriksaan mikroskop elektron,
membran ini berkembang terus seumur hidup dan mempunyai tebal + 40 mm.
Lebih kompak dan elastis daripada membran bowman. Juga lebih resisten
terhadap trauma dan proses patologik lainnya dibandingkan dengan bagian-
bagian kornea yang lain (Ilyas, 2015).
5. Endotel
Lapisan ini merupakan lapisan kornea yang paling dalam tersusun dari
epitel selapis gepeng atau kuboid rendah. Sel-sel ini mensintesa protein yang
mungkin diperlukan untuk memelihara membran descement. Endotel dari
kornea ini dibasahi oleh aqueous humor. Lapisan endotel berbeda dengan
lapisan epitel karena tidak mempunyai daya regenerasi, sebaliknya
endotel mengkompensasi sel-sel yang mati dengan mengurangi kepadatan
seluruh endotel dan memberikan dampak pada regulasi cairan, jika endotel
tidak lagi dapat menjaga keseimbangan cairan yang tepat akibat gangguan
sistem pompa endotel, stroma bengkak karena kelebihan cairan (edema
kornea) dan kemudian hilangnya transparansi (kekeruhan) akan terjadi (Ilyas,
2015).
Permeabilitas dari kornea ditentukan oleh epitel dan endotel yang
merupakan membran semipermeabel, kedua lapisan ini mempertahankan
kejernihan daripada kornea, jika terdapat kerusakan pada lapisan ini maka
akan terjadi edema kornea dan kekeruhan pada kornea (Jusuf, 2012).

Gambar 2.1 Histologi Kornea (Kanski, 2011).

B. Fisiologi Kornea
Kornea berfungsi sebagai membran pelindung dan jendela yang dilalui
berkas cahaya menuju retina. Sifat tembus cahayanya disebabkan oleh
strukturnya yang uniform, avaskuler dan deturgesensi. Deturgesensi atau
keadaan dehidrasi relatif jaringan kornea, dipertahankan oleh “pompa”
bikarbonat aktif pada endotel dan oleh fungsi sawar epitel dan endotel
(Roderick, 2009).
Penetrasi kornea utuh oleh obat bersifat bifasik. Substansi larut-lemak
dapat melalui epitel utuh dan substansi larut-air dapat melalui stroma yang utuh.
Karenanya agar dapat melalui kornea, obat harus larut-lemak dan larut-air
sekaligus. Epitel adalah sawar yang efisien terhadap masuknya mikroorganisme
kedalam kornea. Namun sekali kornea ini cedera, stroma yang avaskular dan
membran bowman mudah terkena infeksi oleh berbagai macam organisme,
seperti bakteri, virus, amuba, dan jamur (Roderick, 2009).

Gambar 2.2 Kornea (Standring, 2008)

1. Transparansi Kornea
Sifat transparan dari kornea dihasilkan oleh berbagai faktor yang saling
berhubungan, yaitu susunan dari lamela kornea, sifat avaskular, serta keadaan
dehidrasi relatif (70%) yang dijaga oleh adanya efek barrier dari epitelium,
endotelium, dan pompa bikarbonat yang bekerja secara aktif pada
endothelium (Cassidy, 2005).
Keadaan dehidrasi tersebut dihasilkan oleh evaporasi air dari laporan air
mata prekorneal yang menghasilkan lapisan dengan sifat hipertonis. Dalam
hal ini, endotelium memegang peranan yang lebih besar daripada epitelium.
Demikian pula bila terjadi kerusakan pada endotelium, akan diperoleh dampak
yang lebih besar (Cassidy, 2005).
Penetrasi pada kornea yang sehat atau intak oleh obat bersifat bifasik.
Substansi larut lemak dapat melewati epithelium dan substansi larut air dapat
melewati stroma. Obat yang diharapkan untuk dapat menembus kornea harus
memiliki kedua sifat tersebut (Khurana, 2007).
Epitel adalah sawar yang efisien terhadap masuknya mikroorganisme
kedalam kornea. Namun sekali kornea ini cedera, stroma yang avaskular dan
membran Bowman mudah terkena infeksi oleh berbagai macam organisme,
seperti bakteri, virus, amuba, dan jamur (Biswell, 2010).
2. Metabolisme Kornea
Kornea membutuhkan energi untuk menyokong fungsinya. Adapun
sumber energi kornea diperoleh melalui (Vaughan, 2014) :
a. Zat terlarut, misalnya glukosa, masuk ke kornea secara pasif melalui difusi
sederhana maupun secara transpor aktif melalui aqueous humor, serta
melalui difusi dari kapiler perilimbal.
b. Oksigen, secara langsung diperoleh dari udara atmosfer melalui lapisan air
mata. Proses ini dijalankan secara aktif melalui epitelium.
Sumber energi ini kemudian diproses atau dimetabolisme, terutama oleh
epitelium dan endotelium. Dalam hal ini, karena epitelium jauh lebih tebal
daripada endotelium, suplai energi yang dibutuhkan pun jauh lebih besar,
sehingga akitivitas metabolisme tertinggi di mata dijalankan oleh kornea.
Kornea adalah jaringan yang braditrofik, yaitu jaringan dengan metabolisme
yang lambat dan karenanya juga penyembuhan yang lambat (Lang, 2000).
Sebagaimana jaringan lain, epitelium dapat melangsungkan
metabolisme secara aerobik maupun anaerobik. Secara aerobik, proses yang
terjadi adalah glikolisis (30%) dan heksosa monofosfat (65%). Secara
anaerobik, metabolisme akan menghasilkan karbondioksida, air, dan juga
asam laktat. Kornea juga dilengkapi oleh beberapa materi antioksidan untuk
menangkal radikal bebas yang dapat terjadi sebagai efek samping dari proses
metabolisme. Antioksidan yang terkandung dalam jumlah terbesar pada
kornea adalah glutation reduktase, selain terdapat pula askorbat, superoksida
dismutase, serta katalase (Lang, 2000).
3. Proteksi dan Persarafan Kornea
Struktur ini menerima persarafan dari cabang ophtalmika dari nervus
trigeminalis. Kornea sendiri adalah sebuah struktur vital pada mata dan
karenanya juga bersifat sangat sensitif. Sensasi taktil minimal telah dapat
menimbulkan refleks penutupan mata. Adapun lesi pada kornea akan
membuat ujung saraf bebas terpajan dan sebagai akibatnya, akan timbul nyeri
hebat diikuti refleks pengeluaran air mata beserta lisozim yang terkandung di
dalamnya (epifora) dan penutupan mata secara involunter (blefarospasme)
sebagai mekanisme proteksinya (Lang, 2000).
4. Resistensi Kornea terhadap Infeksi
Epitelium kornea, dengan sifat hidrofobik dan regenerasi cepatnya,
merupakan pelindung yang sangat baik dari masuknya mikroorganisme ke
dalam kornea. Akan tetapi, bila lapisan ini mengalami kerusakan, lapisan
stroma yang avaskular serta lapisan bowman dapat menjadi tempat yang baik
bagi mikroorganisme, misalnya bakteri, amuba, dan jamur. Faktor predisposisi
yang dapat memicu inflamasi pada kornea di antaranya adalah blefaritis,
perubahan pada epitel kornea (misalnya mata kering), penggunaan lensa
kontak, lagoftalmus, kelainan neuroparalitik, trauma, dan penggunaan
kortikosteroid, untuk dapat menimbulkan infeksi, diperlukan inokulum dalam
jumlah besar atau keadaan defisiensi imun (Vaughan, 2014).