You are on page 1of 16

2.

7 Tatalaksana
Anak yang terdeteksi memiliki gizi buruk harus dilakukan pemeriksaan klinis
secara keseluruhan terlebih dahulu untuk mengonfirmasi adanya kemungkinan
komplikasi. Selain itu, nafsu makan anak juga perlu diidentifikasi. Jika anak
memiliki nafsu makan serta keadaan umum yang baik, maka anak dapat
dirawat jalan. Sedangkan jika telah terdapat komplikasi, edema berat atau
nafsu makan yang buruk, maka anak akan dirawat inap. Anak harus
dipisahkan dari pasien infeksi dan ditempatkan diruangan yang hangat (25-
30oC).22,23
Anak yang telah mendapatkan perawatan dapat dipulangkan jika berat
badan menurut tinggi/panjang badan ≥-2 Z Score dan tidak ada edema
minimal 2 minggu atau lingkar lengan atas ≥125 mm dan tidak ada edema
minimal 2 minggu.30
Tabel 2.4 Fase tatalaksana gizi buruk24
No Stabilisasi Rehabilitasi
Hari 1-2 Hari 3-7 Minggu 2-6
1. Pencegahan atau
tatalaksana hipoglikemia
2. Pencegahan atau
tatalaksana hipotermia
3. Tatalaksana atau
pencegahan dehidrasi
4. Memperbaiki gangguan
keseimbangan elektrolit
5. Mengobati infeksi
6. Koreksi defisiensi non zat besi Dengan zat besi
mikronutrien
7. Mulai memberikan
makanan dengan perlahan
8. Memberikan makanan
untuk tumbuh kejar
9. Memberikan stimulasi
untuk tumbuh kembang
10. Mempersiapkan untuk
tindak lanjut di rumah

Berdasarkan tabel diatas, dapat diketahui bahwa penatalaksanaan gizi


buruk dilakukan melalui dua fase yaitu fase stabilisasi dan fase rehabilitasi.24,25
2.7.1 Fase stabilisasi
Fase stabilisasi berlangsung selama 7 hari dengan tujuan untuk
memperbaiki fungsi seluler, fungsi cairan, ketidakseimbangan elektrolit,
homeostasis serta mencegah infeksi. Pada fase ini dillakukan pencegahan
atau tatalaksana terhadap hipoglikemia, hipotermia dan dehidrasi. Selain
itu, juga dilakukan koreksi terhadap gangguan keseimbangan elektrolit,
mengobati infeksi, koreksi defisiensi mikronutrien, serta memberikan
stimulasi untuk tumbuh kembang.24
a. Hipoglikemia
Hipoglikemia adalah keadaan dimana kadar glukosa darah jauh dibawah
nilai normal yaitu <3mmol/L atau < 54mg%. Klinis yang dijumpai pada
hipoglikemia umumnya adalah letargi. Penatalaksanaan hipoglikemia
adalah sebagai berikut:24,25
1) Apabila anak sadar dan tidak ada letargi, maka diberikan larutan
glukosa 10% atau larutan gula pasir 10% secara oral atau melalui
nasogastric tube (NGT), kemudian diberikan bolus sebanyak 50ml.
24,25

2) Apabila anak tidak sadar dan tampak letargi, maka diberikan larutan
glukosa 10% secara intravena, dibolus sebanyak 5ml/kgBB.
Selanjutnya diberikan larutan glukosa 10% atau larutan gula pasir
10% secara oral atau melalui nasogastric tube (NGT) sebanyak 50ml.
24,25

3) Apabila terdapat renjatan (syok), maka diberikan ringer laktat dan


dektrosa/glukosa 10% dengan perbandingan 1:1 (sama dengan RLG
5%). Larutan tersebut diberikan sebanyak 15ml/kgBB selama 1 jam
pertama atau 5 tetes/menit/kgBB. Selanjutnya diberikan larutan
glukosa 10% melalui intravena sebanyak 5ml/kgBB. 24,25
Pencegahan hipoglikemia dilakukan dengan segera memberikan
makanan pada anak, makanan diberikan setiap 3 jam baik pada siang
maupun malam hari. Kehangatan juga diberikan agar anak tidak
hipotermi. 24,25
b. Hipotermia
Hipotermia adalah keadaan dimana suhu aksila <350C atau suhu rektal
<35,50C. Hipotermia biasanya bersamaan dengan hipoglikemia.
Pencegahan terhadap hipotermia dapat dilakukan dengan beberapa hal
berikut, yaitu: 24,25
1) Menyelimuti anak atau bayi termasuk kepalanya
2) Menghindari hembusan angin berlebihan didalam ruang rawatan
3) Mempertahankan suhu ruangan dalam rentang 25-300C
4) Jika bayi akan diperiksa, tangan di hangatkan terlebih dahulu
5) Pakaian bayi atau anak segera diganti jika sudah basah
6) Suhu tubuh di monitor setiap 30 menit untuk memastikan suhu pasien
tidak terlalu tinggi
7) Tindakan penghangatan dihentikan apabila suhu tubuh sudah
mencapai 370C
c. Dehidrasi
Anak dengan dehidrasi ditandai dengan letargi, gelisah, rewel, tidak ada air
mata, mata cekung, mulut dan lidah kering, haus serta turgor kulit yang
lambat. Keseimbangan cairan pada dehidrasi diberikan dengan pemberian
rehydration solution for malnutrition (ReSoMal) sampai defisit berat
badannya terkoreksi. Cairan dihentikan jika anak sudah mengalami
rehidrasi. Pemberian pertama yaitu sebanyak 10ml/kgBB/2jam pertama,
melalui nasogastric tube (NGT). Evaluasi yang dilakukan setelah
pemberian cairan yaitu:26
1) Apabila terdapat penambahan berat badan tetapi terjadi perburukan
kondisi klinis, menunjukkan diagnosis dehidrasi yang ditegakkan
adalah suatu hal yang salah. Oleh karena itu, pemberian cairan
dihentikan dan pemberian formula 75 (F-75) dimulai.
2) Apabila terdapat penambahan berat badan dan tidak ada perbaikan
maupun perburukan klinis, kemungkinan diagnosis dehidrasinya
salah, maka diberikan salah satu dari F-75 atau sebagai alternatif F-75
dan ReSoMal.
3) Apabila terdapat penambahan berat badan dan terjadi perbaikan klinis
tetapi masih ada tanda-tanda dehidrasi, maka pemberian cairan
dilanjutkan sampai target berat badan terpenuhi. Formula 75 dan
ReSoMal diberikan atau ReSoMal saja yang dilanjutkan.
4) Apabila terdapat penambahan berat badan dan terjadi resolusi pada
dehidrasinya, maka semua terapi cairan dihentikan dan F-75 mulai
diberikan.
5) Apabila berat badan terus mengalami penurunan, maka pemberian
cairan ReSoMal ditingkatkan menjadi 10ml/kgBB/jam, kemudian
evaluasi lagi setelah 1 jam.
6) Apabila tidak terdapat penambahan berat badan, maka laju pemberian
ReSoMal ditingkatkan menjadi 5ml/kgBB/jam, kemudian evaluasi
lagi setelah 1 jam.
d. Koreksi keseimbangan elektrolit
Pada anak dengan gizi buruk dapat terjadi gangguan keseimbangan
elektrolit yang meliputi natrium, kalium maupun magnesium. Seluruh anak
dengan gizi buruk memiliki kadar natrium yang berlebih didalam tubuhnya,
meskipun kadar natrium di plasma bisa saja rendah. Untuk kalium dan
magnesium dapat terjadi defisiensi dan membutuhkan waktu paling kurang
2 minggu untuk melakukan koreksi. Gangguan keseimbangan elektrolit
inilah yang menyebabkan edema pada anak dengan gizi buruk, oleh karena
itu diuretik tidak boleh diberikan pada anak gizi buruk yang mengalami
edema.27
e. Mencegah dan mengobati infeksi
Infeksi yang terjadi pada anak dengan gizi buruk diobati dengan antibiotik
spektrum luas. Pemilihan antibiotiknya tergantung kepada kondisi anak,
yaitu:27
1) Apabila anak sakit parah (apatis, letargi) atau memiliki komplikasi
(hipoglikemia, hipotermia, gangguan kulit, meningitis, infeksi pada
saluran napas serta saluran kemih) dan dicurigai adanya sepsis, maka
diberikan seftriakson. Antibiotik ini diberikan dengan dosis
100mg/kgBB/hari selama 7 hari dan diberikan melaui jalur intra vena
atau intramuskular.
2) Apabila anak memiliki komplikasi tanpa adanya sepsis yang berat dan
bukan merupakan suatu keadaan yang gawat, maka diberikan
ampisilin atau gentamisin. Ampisilin diberikan dengan dosis
50mg/kgBB, 6 kali pemberian dalam sehari dan diberikan selama 7
hari. Setelah 2 hari, ampisilin diberikan melalui oral dengan dosis
30mg/kgBB, diberikan 3 kali sehari selama 7 hari. Gentamisin juga
dapat diberikan dengan dosis 7,5mg/kgBB, diberikan secara intravena
ataupun intamuskular dengan frekuensi satu kali sehari selama 7 hari.
3) Apabila anak tidak memiliki komplikasi, berikan antibiotik oral yaitu
amoksisilin 15mg/kgBB dengan frekuensi 3x/hari selama 5 hari.
f. Pemberian makan secara perlahan
Pemberian makanan harus dimulai sesegera mungkin pada anak dengan
gizi buruk. Makanan yang diberikan adalah F-75. Ketentuan pemberian
makannya adalah:27
1) Makanan diberikan dalam porsi kecil tapi sering, rendah osmolaritas
dan rendah laktosa
2) Makanan diberikan secara oral atau melalui NGT
3) Energi yang diberikan yaitu 100kkal/kg/hari
4) Protein yang diberikan yaitu 0,9-1 gram/kg/hari
5) Volume makanan yang diberikan adalah 30ml/kg/hari jika tidak ada
edema atau terdapat edema ringan, akan tetapi 100ml/kg/hari jika
terdapat edema yang hebat
6) Bayi yang masih menyusui tetap diberikan air susu ibu (ASI)

Selama pemberian makan, dilakukan monitoring terahadap


toleransi makan anak dengan beberapa hal berikut yaitu:27
1) Jumlah makanan yang dapat dihabiskan
2) Muntah
3) Buang air besar
4) Berat badan
Apabila nafsu makan anak sudah baik, biasanya dalam seminggu
dan atau edema sudah hilang atau berkurang, tatalaksana gizi buruk dapat
diubah menjadi fase rehabilitasi dan mengubah F-75 menjadi formula 100
(F-100).6
Berikut tabel kebutuhan zat gizi pada anak gizi buruk menurut fase
pemberian makanan.25
Zat Gizi Stabilisasi Transisi Rehabilitasi
Energi 80-100kkal/kgbb/hari 100-150 kkal/kgbb/hari 150-220kkal/kgbb/hari
Protein 1-1,5 gram/kgbb/hari 2-3 gram/kgbb/hari 4-6 gram/kgbb/hari
Cairan 130 ml/kgbb/hari atau 150 ml/kgbb/hari 150-220 ml/kgbb/hari
100 ml/kgbb/hari jika
ada edema
Fe - - Tablet besi/folat
(FeSO4 200mg + 0,25
mg asam folat)
-Sirup besi (FeSO4 150
ml) 1-3 mg elemental
Beri tiap hari selama 4
minggu (usia 6bulan –
5 tahun)
Vitamin A Usia < 6 bulan : 50.000 SI (1/2 kapsul biru)
6-11 bulan : 100.000 (1 kapsul biru)
1-5 tahun : 200.000 (1 kapsul merah)
Vitamin C BB < 5kg : 50 mg/hari (1 tablet)

BB ≥ 5 kg : 100 mg/hari (2 tablet)

Asam Folat 5 mg/hari pada hari pertama, selanjutnya 1 mg/hari


Vitamin B 1 tablet/hari
Kompleks

Tabel 2.5 Formula WHO25


Formula WHO
Bahan Makanan Per 1000 ml F75 F100
Formula WHO
Susu skin bubuk G 25 85
Gula pasir G 100 50
Minyak sayur G 30 60
Larutan elektrolit Ml 20 20
Teoung beras G
Tambahan air s/d Ml 1000 1000
Nilai Gizi
Energi Kkal 750 1000
Protein G 9 29
Laktosa G 13 42
Kalium Mmol 36 59
Natrium Mmol 6 19
Magnesium Mmol 4,3 7,3
Seng Mg 20 23
Tembaga Mg 2,5 2,5
% energi protein - 5 12
% energi lemak - 36 53
Osmolaritas mOsm/L 413 419

Gambar. Formula 75 Gambar. Formula 100

Gambar. Ready to use therapeutic food (RUTF)


Berdasarkan tabel dan gambar diatas dapat diketahui komposisi
dan takaran masing-masing formula. Formula 75 diberikan pada fase
stabilisasi, sedangkan F-100 diberikan pada fase rehabilitasi. Anak gizi
buruk tanpa edema pada fase stabilisasi dapat diberikan F75 sebanyak 130
ml/kgbb/hari sedangkan anak gizi buruk dengan edema diberikan F75
sebanyak 100ml/kgbb/hari. Kebutuhan F100 pada fase rehabilitasi adalah
150-220ml/kgbb/hari dan diberikan setiap 4 jam.28

2.7.2 Fase Rehabilitasi


Fase rehabilitasi adalah suatu terapi gizi buruk yang bertujuan untuk
mengembalikan jaringan yang hilang atau catch-up growth. Fase ini
ditandai dengan kembalinya nafsu makan, tidak ada hipoglikemi serta
edema berkurang atau menghilang. Fase ini penting karena akan terjadi
perbaikan sistem metabolik sehingga dapat terjadi peningkatan berat
badan.29,30
Peningkatan berat badan harus dilakukan secara bertahap karena
peningkatan berat badan yang terlalu cepat berpotensi terjadi “refeeding
syndrome”. Oleh karena itu, diperlukan transisi bertahap dari F75 menjadi
F100 atau menjadi RUTF (Ready to use therapeutic food) selama lebih
dari 2-3 hari. Kandungan RUTF terdiri dari campuran kacang, gula,
minyak, susu bubuk serta vitamin dan mineral. RUTF ini berbentuk pasta
pada yang lunak dan dapat dikonsumsi oleh anak usia 6 bulan keatas.29,30
F75 yang diganti menjadi dengan F100 pada fase transisi diberikan
setiap 4 jam sebanyak 100-150ml/kgbb/hari dan dipertahankan selama 2
hari. Pada hari ketiga, diberikan F100 sebanyak 150-250ml/kgbb/hari dan
dinaikkan sebanyak 10ml setiap 4 jam hingga anak tidak dapat
menghabiskan formula yang diberikan dan dipertahankan selama 7-14
hari.28,29,30
Pemberian makanan setelah fase transisi selesai dilakukan sesering
mungkin dengan jumlah tidak terbatas (maksimal 220 mL/kgBB/hari).
F100 diberikan sebanyak 150-220 kkal/kgBB/hari dan 4-6 gram
protein/kgBB/hari dan dilanjutkan dengan pemberian kalium, magnesium
serta mikronutrien lainnya. Zat besi dapat ditambahkan 3mg/kgBB/hari.
Pemberian ASI tetap dilanjutkan apabila bayi dapat menyusu.29,30
RUTF diberikan sedikit tetapi teratur dan anak harus didorong
untuk makan sesering mungkin (awalnya 8 kali makan sehari dan setelah
itu 5-6 kali makan sehari). Jika anak tidak dapat menghabiskan semua
RUTF, dapat ditambahkan F75 hingga anak dapat menghabiskan semua
makanan. Jika anak tidak dapat menghabiskan sebagian RUTF dalam 12
jam, RUTF dapat dihentikan dan kemudian diberi F75. Setelah itu, RUTF
dapat diulangi dalam 1 sampai 2 hari. 29,30
Perkembangan anak setelah fase transisi harus dimonitor dengan
mengukur berat badan setiap pagi sebelum diberi makan. Penambahan
berat badan tersebut dicatat setiap 3 hari (g/kg per hari). Jika penambahan
berat badan kurang dari 5g/kgBB/hari, pemeriksaan ulang harus dilakukan.
Jika 5-10 kgBB/hari, dapat diperiksa apakah intake target sudah tercapai
atau belum atau apakah ada infeksi yang terlewatkan. Jika besar dari
10kgBB/hari maka dapat dikatakan bahwa penambahan berat badannya
baik. 29,30

Anak dengan gizi buruk memerlukan perawatan karena terdapat


berbagai komplikasi yang membahayakan hidupnya. Tindakan yang
dilakukan berdasarkan pada ada atau tidaknya tanda bahaya dan tanda
penting dapat dikelompokkan menjadi 5, yaitu:28

a. Kondisi I

Kondisi I merupakan kondisi anak gizi buruk dengan renjatan (syok),


letargis, muntah atau diare atau dehidrasi. Pada kondisi ini dilakukan
pemberian oksigen (O2) 1-2L/menit, pemasangan infus ringer laktat dan
dextrose atau glukosa 10% dengan perbandingan 1:1 (RLG 5%), dan
pemberian glukosa 10% intravena (IV) bolus dengan dosis 5ml/kgBB
bersamaan dengan ReSoMal 5ml/kgBB melalui NGT. 28
Pada 1 jam pertama, diberikan cairan RLG 5% sebanyak
15ml/kgBB selama 1 jam atau 5 tetes/menit/kgBB (infus tetes makro
20cc/menit). Apabila pada jam kedua, denyut nadi tetap lemah dan
frekuensinya tetap tinggi serta frekuensi nafas tetap tinggi, maka
pemberian cairan intravena diteruskan dan dosis diturunkan menjadi 1
tetes makro/menit/kgBB (4ml/kgBB/jam). Namun, apabila nadi menguat
dan frekuensi nafas menurun maka infus diteruskan dengan cairan dan
tetesan yang sama selama 1 jam. Jika rehidrasi belum selesai dan anak
minta minum, maka dapat berikan ReSoMal sesuai dengan kemampuan
anak. Pencatatan nadi dan frekuensi nafas dilakukan setiap 10 menit.. 28
Sepuluh jam berikutnya, frekuensi nadi dan nafas tetap dicatat
setiap 1 jam. Larutan ReSoMal dan F-75 diberikan berselang-seling setiap
1 jam. Jika sudah terjadi rehidrasi dan tidak ada diare, maka pemberian
ReSoMal dihentikan dan F-75 diteruskan setiap 2 jam. Frekuensi nadi dan
nafas dicatat setiap 1 jam. Apabila anak diare, maka setiap diare diberikan
ReSoMal. Apabila diare/muntah berkurang dan anak dapat menghabiskan
sebagian besar F-75, maka F-75 diberikan setiap 3 jam dengan sisanya
diberikan lewat NGT. Akan tetapi, jika tidak ada diare/muntah dan anak
dapat menghabiskan F-75, maka pemberian F-75 diganti menjadi setiap 4
jam.28

b. Kondisi II

Kondisi II merupakan suatu kondisi anak gizi buruk dengan letargis dan
muntah atau diare atau dehidrasi. Pada kondisi ini dilakukan pemberian
bolus glukosa 10 % intravena (5ml/kgBB) kemudian dilanjutkan dengan
glukosa atau larutan gula pasir 10% melalui NGT sebanyak 50ml. 28
Pada dua jam pertama diberikan ReSoMal secara oral/NGT setiap
30 menit sebanyak 5ml/kgBB setiap pemberian. Frekuensi nadi, nafas dan
pemberian ReSoMal dicatat setiap 30 menit. Jika setelah 2 jam pertama
keadaan anak memburuk (renjatan/syok), maka infus segera dipasang,
kembali ke rencana I tanpa memberikan bolus glukosa.28
Jika setelah 2 jam keadaan anak membaik, maka 10 jam berikutnya
pemberian ReSoMal diteruskan berselang-seling dengan F-75 setiap 1
jam. Frekuensi nadi dan napas dicatat setiap 1 jam. Jika diare dan muntah
berkurang dan anak mampu menghabiskan sebagian besar F-75, maka F-
75 diberikan setiap 3 jam. Apabila tidak ada diare/muntah dan anak dapat
menghabiskan F-75, maka pemberian F-75 diganti menjadi setiap 4 jam.28
c. Kondisi III
Kondisi ini merupakan kondisi anak gizi buruk dengan muntah dan atau
diare atau dehidrasi. Pada kondisi ini dilakukan pemberikan 50ml glukosa
atau larutan gula pasir 10% (oral/NGT). Pada 2 jam pertama, ReSoMal
diberikan secara oral / NGT setiap 30 menit sebanyak 5ml/kgBB/kali.
Frekuensi nadi, nafas dicatat setiap 30 menit. Jika keadaan memburuk
(renjatan/syok) maka infus RLG 5% segera dipasang, dilakukan pemberian
oksigen (O2) 1-2L/menit, diberikan ReSoMal 5ml/kgBB melalui NGT
tanpa memberikan bolus glukosa. Jika membaik, maka 10 jam berikutnya,
pemberian ReSoMal diteruskan berselang-seling dengan F-75 setiap 1 jam.
Apabila diare dan muntah berkurang, anak mampu menghabiskan F-75,
berikan F-75 setiap 3 jam. Apabila tidak ada diare/muntah dan anak dapat
menghabiskan F-75, ubah pemberian F-75 menjadi setiap 4 jam.28

d. Kondisi IV

Kondisi IV merupakan kondisi anak gizi buruk dengan letargis. Pada


kondisi ini dilakukan pemberian bolus glukosa 10% intravena sebanyak
5ml/kgBB. Kemudian dilanjutkan dengan glukosa atau larutan gula pasir
10% melalui NGT sebanyak 50ml. Pada 2 jam pertama, diberikan F-75
setiap 30 menit, satu per empat dari dosis untuk 2 jam sesuai dengan berat
badan (NGT). Apabila anak belum sadar (masih letargi), maka pemberian
F-75 diulangi setiap 30 menit, satu per empat dari dosis untuk 2 jam sesuai
dengan berat badan (NGT). Kemungkinan penyebab lain dipikirkan jika
anak masih belum sadar. Frekuensi nadi, napas serta kesadaran dicatat
setiap 30 menit.28
Apabila anak sudah sadar, maka pada 10 jam berikutnya pemberian
F-75 tetap dilanjutkan setiap 2 jam (oral/NGT). Frekuensi nadi dan napas
dicatat setiap 1 jam. Apabila anak mampu menghabiskan sebagian besar F-
75, pemberian diganti menjadi setiap 3 jam dan apabila anak dapat
menghabiskan F-75, pemberian diganti menjadi setiap 4 jam.28
e. Kondisi V
Pada kondisi ini tidak ditemukan renjatan (syok), letargis, muntah dan atau
diare atau dehidrasi. Anak diberikan 50ml glukosa atau larutan gula pasir
10% secara oral serta dilakukan pencatatan frekuensi nadi, nafas dan
kesadaran.28
Pada 2 jam pertama diberikan F-75 setiap 30 menit satu per empat
dari dosis untuk 2 jam sesuai berat badan. Frekuensi nadi, nafas, kesadaran
dan asupan F-75 dicatat setiap 30 menit. Sepuluh jam berikutnya
diteruskan pemberian F-75 setiap 2 jam. Apabila anak dapat menghabiskan
sebagian besar F-75, maka pemberian diganti menjadi setiap 3 jam.
Apabila anak dapat menghabiskan F-75, maka pemberian diganti menjadi
setiap 4 jam. Apabila anak masih menyusu, maka ASI tetap diberikan
diantara F-75.28

BAB 3
PENUTUP
Gizi buruk merupakan status gizi yang didasarkan pada indeks Berat
Badan menurut Umur (BB/U) < -3 SD. Secara umum terdapat 3 jenis gizi
buruk yang sering dijumpai yaitu kwashiorkor, marasmus, dan gabungan dari
keduanya marasmiks-kwashiorkor. Pengertian kwashiorkor sendiri adalah
suatu bentuk malnutrisi protein yang berat disebabkan oleh asupan
karbohidrat yang normal atau tinggi dan asupan protein yang inadekuat.
Kwashiorkor dapat dibedakan dengan marasmus yang disebabkan oleh
asupan dengan kurang dalam kuantitas tetapi kualitas yang normal,
sedangkan marasmiks-kwashiorkor adalah gabungan dari kwashiorkor
dengan marasmus yang disertai dengan oedema. Diagnosis gizi buruk dapat
diketahui melalui gejala klinis, antropometri dan pemeriksaan laboratorium.
Gejala klinis gizi buruk berbeda-beda tergantung dari derajat dan lamanya
deplesi protein dan energi, umur penderita, modifikasi disebabkan oleh
karena adanya kekurangan vitamin dan mineral yang menyertainya. Jika
pasien memiliki nafsu makan yang baik serta keadaan umum baik, maka
pasien dapat dirawat jalan. Sedangkan jika telah terdapat komplikasi, edema
berat atau nafsu makan yang buruk, maka pasien akan dirawat inap.Selain itu,
anak harus dipisahkan dari pasien infeksi, ditempatkan diruangan yang hangat
(25-30oC, bebas dari angin), dipantau secara rutin dan memandikan anak
seminimal mungkin dan dikeringkan sesegera mungkin. Terdapat 2 fase
dalam manajemen gizi buruk pada anak, yaitu fase stabilisasi dan rehabilitasi.

DAFTAR PUSTAKA

1. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Hasil pemantauan status gizi


(psg) dan penjelasannya. Jakarta: Direktorat Gizi Masyarakat; 2016.
2. Abay A, Alderman H, Balaban D, Barrere B, Beecher J, Blencowe H.
From promise to impact ending malnutrition by 2030. Washington DC:
Global Nutrition Report; 2016.
3. https://www.antaranews.com/berita/683014/artikel-bersatu-padu-atasi-klb-
campak-gizi-buruk-asmat. Diakses pada 28 februari 2018.
4. http://regional.liputan6.com/read/3235026/7230-anak-asmat-terindikasi-
wabah-campak-dan-gizi-buruk. Diakses pada 28 februari 2018.
5. Anorital, Sundari S, Soetiarto F, Sudirman H, Mulyadi, Sari DI. Kinerja
dua tahun kementrian kesehatan republic Indonesia tahun 2009-
2011:menuju masyarakat sehat yang mandiri dan berkeadilan. Jakarta:
Kementerian Kesehatan; 2011.
6. Dewi NA. Faktor-faktor risiko kejadian gizi buruk pada balita yang dirawat
di RSUP Dr.Kariadi Semarang. Semarang: Fakultas Kedokteran
Universitas Diponegoro; 2012.
7. Grover Z, Ee LC. Protein energy malnutrion. Pediatr Clin N Am. 2009;
56(5):301-2
8. Hoffer LJ. Clinical nutrition: 1. protein–energy malnutrition in the
inpatient. CMAJ 2001;165(10):1347
9. Shetty, P. Malnutrition and Undernutrition. Medicine, 2006. 34:524-29.
10.Dewi RK, Budiantara IN. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Angka Gizi
Buruk Di Jawa Timur dengan Pendekatan Regresi Nonparametrik Spline.
Jurnal Sains Dan Seni ITS. 2012.1(1):177- 82.
11. Depkes RI. Analisis Situasi Gizi dan Kesehatan Masyarakat. Jakarta,
2004.
12. World Health Organization. WHO child growth standards: length/height-
for-age, weight-for-age, weight-for-length, weight-for-height and body
mass index-for-age: methods and development. Geneva: World Health
Organization; 2006.
13. WHO. Communicable Disease Control in Emergencies - A Manual.
Geneva, World Health Organization, 2005.
14. WHO. Five Keys to Safer Food Manual. Geneva, World Health
Organization,2006.
15. WHO/UNHCR. Tuberculosis Care and Control in Refugee and Displaced
Populations: an Inter-Agency Field Manual. Stop TB. Geneva, World
Health Organization,2006.
16. NUTRISURVEY SOFTWARE Standardized Monitoring and Assessment
of Relief and Transitions. (SMART) Software and Software for
Emergency Nutrition Assessment (ENA for SMART). 2008
17. Pudjiadi Solihin. Penyakit KEP (Kurang Energi dan Protein) dari Ilmu
Gizi Klinis pada Anak edisi keempat, Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia, Jakarta, 2005 : 95-137
18. Rosli AW, Rauf S, Lisal JS, Albar H. Relationship Between Protein
Energy Malnutrition andUrinary Tract Infectiont in Children in Paediatrica
Indonesiana, 48th volume, May, 2008 : 166-69
19. United Nations Children’s Fund [UNICEF]. Malnutrion in Namibia.
UNICEF Annual Report.2010
20. Pasricha S.R, et all. Diagnosis and management of iron deficiency
anaemia:a clin update. MJA.2013: 193 (09): 525-32
21. K Bhan, Maharaj. Micronutrient deficiency in children. British J of
Nutrition. 2014.
22. World Health Organization. Guideline: Updates on the management of
severe acute malnutrition in infants and children. Geneva. 2013.
23. World Health Organization. Gizi Buruk. Dalam: Buku saku pelayanan
kesehatan anak di rumah Sakit. Jakarta. 2009;193-222.
24. Ashworth A. Nutrition food security, and Health. Dalam: Kliegman MR.
Nelson: Textbook of pediatrics, Edition 20. Philadhelphia: Elsevier Inc.
2016;295-305.
25. Kementerian kesehatan republik Indonesia. Direktorat Jenderal Bina Gizi
dan Kesehatan Ibu dan Anak. Direktorat Bina Gizi. Petunjuk teknis
tatalaksana anak gizi buruk. Buku II. Jakarta. 2011.
26. Action Contre La Faim International. Guidelines for the integrated
management of severe acute malnutrition: in-and out-patient treatment.
French. 2011
27. Department Health Province of Kwazulu-Natal. Guidelines on the
integrated management of acute malnutrition (IMAM). Kwazulu Natal.
2014.
28. Departemen Kesehatan Republik Indonesia Direktorat Jenderal Bina
Kesehatan Masyarakat Direktorat Bina Gizi Masyarakat. Buku bagan
tatalaksana anak gizi buruk. Buku I. Jakarta. 2011.
29. Ashworth A. Nutrition, food security and health. Dalam : Kliegman RM,
Stanton BF, Geme JWS, Schor NF, Behrman RE, editors. Nelson
Textbook of Pediatrics. 20nd Edition. Philadelphia : Elsevier Inc. 2016. p.
295-305.
30. WHO. Pocket book of hospital care for children : Guidelines for the
management of common child illnesses 2nd Edition. 2013.