You are on page 1of 7

1.

IMT 25,32
Klasifikasi nilai IMT

IMT Klasifikasi
< 17 Sangat kurus
17,0 - 18,5 Kurus
18,5 - 24,9 Normal
25,0 - 29,9 Gemuk
30,0 - 34,9 Obesitas level I
35,0 - 39,9 Obesitas level II
> 40 Obesitas level III

2. Pemeriksaan BMD

Indikasi untuk melakukan pemeriksaan kepadatan tulang dengan Bone Densitometri
(BMD)

 Bila Anda adalah wanita pasco menopause atau pria lanjut usia dengan faktor risiko
seperti terapi glukokortikoid
 Riwayat patah tulang oleh trauma kecil
 Riwayat keluarga patah tulang pinggul
 Indeks massa tubuh rendah (<20 kg/m2)
 Riwayat merokok atau konsumsi alkohol berat
 Menopause dini pada wanita atau hipogonadisme pada pria
 Rrheumatoid arthritis
 Malabsorpsi
 Penyakit liver atau penyakit ginjal kronis
 Bila Anda berusia lebih muda namun ingin melakukan langkah-langkah khusus untuk
mencegah osteoporosis, Anda mungkin juga memerlukannya.

DENSITOMETRI
Pemeriksaan untuk mengukur kepadatan mineral tulang dikenal sebagai DENSITOMETRI.
alatnya disebut DENSITOMETER. Kepadatan mineral tulang ditentukan oleh jumlah kalsium
dan mineral tulang lainnya (dalam mg) yang terkumpul dalam setiap satuan luas (cm2) bagian

BMD tidak dapat memprediksi densitas tulang pada masa yang akan datang. Risiko tulang patah / retak sebagai dampak osteoporosis ternyata tidak selalu berhubungan dengan penurunan nilai BMD. Di Indonesia salah satu cora untuk mengukur kepadatan mineral tulang yaitu dengan densitometer DEXA Scan (Dual Energy X-ray Absorptiometry) Salah satu contoh indikasi pemeriksaan BMD : Apa itu Osteoporosis ? Menurut WHO. semakin padat massa tulang dan semakin kuat tulang Anda. Semakin tinggi kandungan mineralnya. kerusakan arsitektur tulang dan meluasnya kerapuhan tulang Apa penyebab Osteoporosis ?  Massa tulang puncak yang memadai tidak tercapai  Ketidakseimbangan pada proses remodeling tulang  Resorpsi / penyerapan tulang lebih besar dari pembentukkan Bagaimana gejalanya ?  Patah tulang  Tulang punggung yang semakin membungkuk  Berkurangnya tinggi badan  Nyeri punggung Bagaimana diagnosisnya ?  Bone Mineral Density (BMD). yakni protein yang diproduksi oleh osteoblas.  Pemeriksaan Laboratorium : Penanda Biokimia Tulang. N-MID Osteocalcin adalah salah satu bagian osteocalcin. Perkembangan teknologi kedokteran yang pesat telah menghasilkan teknik-teknik non-invasif untuk mengukur kepadatan mineral tulang. sehingga dibutuhkan kombinasi dengan pemeriksaan penanda tulang yang lebih baik. sehingga memberikan informasi mengenai ketidakseimbangan potensial antara pembentukan dan resorpsi tulang. merupakan pemeriksaan untuk mengukur densitas / kepadatan mineral dalam tulang dengan sinar X khusus. mewakili proses reformasi tulang. osteoporosis adalah penurunan densitas tulang. Badan Kesehatan Dunia. .tulang. CT Scan atau ultrasonografi. Osteoblas merupakan sel yang berperan dalam pembentukkan tulang. Informasi ini menunjukkan kepadatan tulang saat pemeriksaan dilakukan. pemeriksaan ini menggunakan sampel darah.  N-MID Osteocalcin. untuk menilai pembentukkan tulang. karena itu kadar osteocalcin menunjukkan juga aktivitas osteoblas yakni pembentukan tulang.

7 dan vertebra -3.Angka ini menunjukkan jumlah tulang Anda dibandingkan dengan nilai orang dewasa muda lain dari gender yang sama dengan massa tulang puncak. Keunggulan Bone Densitometer Bone densitometri sendiri ditetapkan oleh WHO (World Helath Organization) sebagai Golden Standard dalam pemeriksaan massa tulang karena memiliki keunggulan antara lain:  akurasi dan presisi hasil yang lebih baik .  Normal: T-score yang berada di atas-1  Osteopenic: T-score adalah antara -1 dan -2. Pengobatan yang dilakukan  Terapi hormon.5 Hasil tes : T skor . terapi ini membantu untuk mencegah kehilangan tulang dan patah tulang dan kepadatan tulang meningkat.Jumlah ini mencerminkan jumlah tulang Anda dibandingkan dengan orang lain dalam kelompok usia dan jenis kelamin yang sama.5 Z skor .obatan Pencegahan yang dapat dilakukan  Mempertahankan atau meningkatkan kepadatan tulang dengan mengonsumsi kalsium yang cukup  Melakukan olah raga dengan beban  Mengkonsumsi obat (untuk beberapa orang tertentu) Dampak yang ditimbulkan oleh Osteoporosis Kekuatan tulang akan menurun dan risiko patah tulang meningkat 3.  Obat .5 (kepadatan tulang yang rendah)  Osteoporosis: T-skor di bawah -2. Jika skor ini luar biasa tinggi atau rendah. Total score femur sinistra -2. untuk menilai resorpsi / pembongkaran tulang juga untuk menilai respon terhadap obat antiresorpsi. Nilai T digunakan untuk memperkirakan risiko Anda mengembangkan fraktur. hal itu mungkin menunjukkan kebutuhan tes medis lebih lanjut.  CTx (C-Telopeptide).

 resolusi hasil yang tinggi  waktu yang singkat  paparan radiasi yang rendah Tabel 2. Quantitative Computed Tomography Tulang belakang (QCT) 3. Perifpheral Quantitative Computed Lengan Tomography (pQCT) 5. jenisnya. Trauma harus terperinci kapan terjadinya. Teknik pengukuran densitas massa tulang No. dan posisi pasien atau ekstremitas yang bersangkutan (mekanisme trauma). femur proximal. X photo hip joint sonostra 5. Jangan lupa untuk .Anamesis Bila tidak ada riwayat ( pernah mengalami patah tulang ). total body. arah trauma. Diskontinuitas incomplete Incomplete fraktur adalah patah atau diskontinuitas jaringan tulang dengan garis patah tidak menyebrang sehingga tidak mengenai konteks (masih ada konteks yang utuh) sering terjadi pada anak-anak disebut greenstick fraktur. berat-rinagn trauma. Single-energy X-ray Absorptiometry Lengan (SEXA atau SXA) 7. Radiographic Absorptiometry (RA) Phalanges 4. di mana terjadinya. berarti fraktur patologis. tumit 2. Single Photon Absorptiometry (SPA) Lengan 6. Peripheral Dual-energy X-ray Lengan Absorptiometry (pDXA) 4. Teknik Pengukuran Tempat Pengukuran 1. Dual-energy X-ray Absorptiometry Tulang belakang Anteroposterior (AP) (DEXA atau DEXA) dab lateral. lengan. DIAGNOSIS 1.

Namun keterbatasan pengetahuan tentang bagaimana menolong korban patah tulang.Membandingkan ukuran panjang tulang.Terasa nyeri yang menusuk pada area cidera c. fraktur pelvis. Pemeriksaan sumbu tidak dilakukan lagi karena akan menambah trauma. bersihkan dengan antiseptik dan usahakan untuk menghentikan pendarahan dengan dibebat atau ditekan dengan perban atau kain bersih. tanda-tandasepsis pada fraktur terbuka yang mengalami infeksi.Functio laesa (hilangnya rasa).Terjadi pembengkakan. benturan. Biasanya. e. kadang-kadang kepatahan tulang menyebabkan bentuk yang tidak biasa atau pembengkokan dari bagian tubuh. leher. Move. 2. baik pada gerakan yang aktif maupun pasif. Penanganan Pertama Fraktur : Salah satu masalah yang sering dialami para korban adalah kasus patah tulang. fraktur terbuka. membengkok atau memuntir). Feel. 2.Krepitasi.Hilangnya kemampuan gerak. rotasi. c. tetapi tidak bisa mengerakkan secara penuh.Nyeri bila digerakkan.Situasi sekitar menimbulkan dugaan bahwa telah terjadi cedera (tulang mencuat keluar kulit) b. membuat kita hanya bisa terdiam karena tidak tahu apa yang harus dilakukan.Pemeriksaan status lokalis Tanda-tanda klinis pada fraktur tulang panjang: a. untuk mencari: 1. cari apakah terdapat: 1. penderita mungkin bisa sedikit mengerakkan bagian yang cidera. apakah terdapat nyeri tekan. Berikut ini beberapa tindakan yang bisa dilakukan sebagai pertolongan awal untuk menangani korban luka patah tulang: Kenali ciri awal patah tulang dengan memperhatikan riwayat trauma yang terjadi karena. Look. 3. dan perut.Deformitas. terasa bila fraktur digerakkan.Pemeriksaan umum Dicari kemungkinan komplikasi umum seperti syok pada fraktur pada multiple. terdiri dari penonjolan yang abnormal. ini disebabkan oleh darah dan cairan tubuh lain yang mengumpul di sekitar area cidera d. terjatuh atau tertimpa benda keras yang menjadi alasan kuat pasien mengalami patah tulang. angulasi. Ciri-ciri patah tulang antara lain: a. pasien akan mengalami rasa nyeri yang amat sangat dan bengkak hingga terjadinya perubahan bentuk yang kelihatannya tidak wajar (seperti. menunggu datangnya pertolongan dokter bukanlah hal yang bijak karena ada banyak hal yang terjadi (yang mungkin akan memperburuk kondisi si korban) karena tidak segera ditolong. dan pemendekan 2. dada. 3. b.meneliti kembali trauma di tempat lain secara sistematik dari kepala. Jika ditemukan luka yang terbuka. Lakukan reposisi (pengembalian tulang yang berubah ke posisi semula) namun hal ini tidak boleh dilakukan secara paksa dan sebaiknya dilakukan oleh para ahli atau yang sudah biasa melakukannya.Kelainan bentuk. . Disaat seperti itu. muka. selain luka-luka tentunya.

tetapi dulu pernah menjadi pengobatan utama untuk patah tulang pinggul. penderita perlu menjalani terapi fisik selama 6-8 minggu ayau kadang lebih lama lagi.Penarikan (traksi) : menggunakan beban untuk menahan sebuah anggota gerak pada tempatnya.Pertahankan daerah patah tulang dengan menggunakan bidai/ papan dari kedua sisi tulang yang patah untuk menyangga agar posisinya tetap stabil. Pada tulang tertentu ( terutama patah tulang pinggul ). 2.Pembidaian : benda keras yang ditempatkan di daerah sekeliling tulang. Terapi dimulai pada saat imobilisasi dilakukan dan dilanjutkan sampai pembidaian.Fiksasi internal : dilakukan pembedahan untuk menempatkan piringan atau batang logam pada pecahan-pecahan tulang. tetapi pada usia lanjut biasanya memerlukan waktu yang lebih lama. gips atau traksi telah dilepaskan. 4.. Imobilisasi bisa dilakukan melalui: 1. Patah tulang lainnya harus benar-benar tidak boleh digerakkan (imobilisasi). . Sekarang sudah jarang digunakan. Proses penyembuhan memelukan waktu minimal 4 minggu. dilakukan pembidaian untuk membatasi pergerakan. tulang iga. Merupakan pengobatan terbaik untuk patah tulang pinggul dan patah tulang disertai komplikasi.Pemasangan gips : merupakan bahan kuat yang dibungkuskan di sekitar tulang yang patah 3. tulang bahu. 6. akan sembuh sempurna. karena itu sebagian besar penderita perlu menjalani terapi fisik. tulang biasanya kuat dan kembali berfungsi. Dengan pengobatan ini biasanya patah tulang selangka (terutama pada anak-anak). PENGOBATAN Tujuan dari pengobatan adalah untuk menempatkan ujung-ujung dari patah tulang supaya satu sama lain saling berdekatan dan untuk menjaga agar mereka tetap menempel sebagai mana mestinya. untuk mencapai penyembuhan total. Setelah sembuh. Imobilisasi lengan atau tungkai menyebabkan otot menjadi lemah dan menciut. Shenton line Shenton line adalah garis imajiner yang ditarik sepanjang perbatasan inferior kemaluan ramus superior (perbatasan unggul foramen obturatorius) dan sepanjang perbatasan inferomedial dari leher femur. Pada beberapa patah tulang. jari kaki dan jari tangan. Baris ini harus terus menerus dan halus.