1

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pembangunan kesehatan adalah bagian integral dari Pembangunan Nasional yang pada hakekatnya merupakan upaya untuk mencapai kemampuan hidup sehat bagi setiap penduduk agar terwujud derajat kesehatan yang optimal. Hal ini sejalan dengan Undang-Undang Dasar 1945 Pasl 28 ayat (1) dan Undang -Undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan, yaitu melalui pembangunan kesehatan salah satu hak dasar masyarakat yaitu hak untuk memperoleh pelayanan kesehatan sesuai dapat dipenuhi. Pembangunan kesehatan harus dipandang sebagai investasi untuk peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM)yang dapat diukur melalui Index Pembangunan Manusia (IPM). Kesehatan merupakan salah komponen utama dalam IPM yang dapat mendukung terciptanya SDM yang sehat, cerdas, terampil dan ahli menuju keberhasilan Pembangunan Kesehatan. Dalam pelaksanaan pembangunan kesehatan telah dilakukan perubahan cara pandang (mindset) dari paradigma sakit menuju paradigma sehat sejalan dengan Visi Indonesia Sehat 2010. Seiring dengan visi tersebut, maka Visi Pembangunan Kesehatan di Kota Semarang yang merupakan Ibu Kota Provinsi Jawa Tengah adalah Terwujudnya Masyarakat Kota Pantai Metropolitan yang Sehat Didukung dengan Profesionalisme dan Kinerja yang Tinggi. Dalam rangka memberikan gambaran situasi kesehatan di Kota Semarang Tahun 2007 perlu diterbitkan Buku Profil Kesehatan Kota Semarang Tahun 2007. Media Profil Kesehatan Kota Semarang merupakan salah satu sarana untuk menilai pencapaian kinerja pembangunan kesehatan dalam rangka mewujudkan Kota Semarang Sehat 2010. Profil Kesehatan menyajikan berbagai data dan informasi diantaranya meliputi data kependudukan, fasilitas kesehatan, pencapaian program – program kesehatan, masalah kesehatan dan lain-lain. Tersusunnya Buku Profil Kesehatan Kota Semarang Tahun 2007 didukung oleh pengelola data dan informasi Dinas Kesehatan Kota Semarang, Puskesmas, Instalasi Perbekalan Farmasi, juga lintas sektor terkait (Badan Pusat Statistik, ASKES,
Profil Kesehatan Kota Semarang Tahun 2007

JAMSOSTEK, BKKBN, POLWILTABES Kota Semarang). 1.2. Tujuan Tujuan disusunnya Profil Kesehatan Kota Semarang Tahun 2007 adalah tersedianya data / informasi yang relevan, akurat, tepat waktu dan sesuai kebutuhan dalam rangka meningkatkan kemampuan manajemen kesehatan secara berhasilguna dan berdayaguna sebagai upaya menuju Kota Semarang yang Sehat. 1.2.2. Khusus Secara khusus tujuan penyusunan Profil Kesehatan adalah : 1.2.2.1. Diperolehnya Data / informasi umum dan lingkungan yang meliputi lingkungan fisik dan biologi, perilaku masyarakat yang berkaitan dengan kesehatan masyarakat, data kependudukan dan sosial ekonomi; 1.2.2.2. Diperolehnya Data / informasi tentang status kesehatan masyarakat yang meliputi angka kematian, angka kesakitan dan status gizi masyarakat; 1.2.2.3. Diperolehnya Data / informasi tentang upaya kesehatan, yang 1.2.2.4. 1.2.2.5. 1.2.2.6. meliputi cakupan kegiatan dan sumber daya kesehatan. Diperolehnya Data / informasi untuk bahan penyusunan perencanaan kegiatan program kesehatan; Tersedianya alat untuk pemantauan dan evaluasi tahunan program – program kesehatan; Tersedianya wadah integrasi berbagai data yang telah dikumpulkan oleh berbagai sistem pencatatan dan pelaporan yang ada di Puskesmas, Rumah Sakit maupun Unit-Unit Kesehatan lainnya; 1.2.2.7. Tersedianya alat untuk memacu penyempurnaan sistem pencatatan dan pelaporan kesehatan. 1.3. Sistematika Penulisan Untuk lebih menggambarkan situasi derajat kesehatan, peningkatan upaya kesehatan dan sumber daya kesehatan di Kota Semarang pada Tahun 2007, maka diterbitkanlah Buku Profil Kesehatan Kota Semarang yang

1.2.1. U mum

3 disusun dengan sistematika sebagai berikut : BAB BAB BAB BAB BAB I II III IV V PENDAHULUAN GAMBARAN UMUM KOTA SEMARANG PEMBANGUNAN KESEHATAN DAERAH PENCAPAIAN PEMBANGUNAN KESEHATAN KESIMPULAN DAN SARAN

LAMPIRAN

Profil Kesehatan Kota Semarang Tahun 2007

2 Kependudukan 2.110º50’ Bujur Timur. Kelahiran.11 km2). dan sebelah Utara dibatasi oleh Laut Jawa dengan panjang garis pantai meliputi 13. 2.2.6 Km. Persebaran dan Kepadatan Penduduk. Keadaan Geografis Kota Semarang terletak antara garis 6º50’ . pasar. sebelah Timur dengan Kabupaten Demak. Dengan jumlah Tengah. Pertumbuhan Perpindahan 2.1.026 jiwa penduduk laki-laki dan 732.1.7º10’ Lintang Selatan dan garis 109º35’ .1. sebelah Selatan dengan Kabupaten Semarang. Letak Dengan luas wilayah sebesar 373.75 sampai dengan 348. Komposisi Penduduk. sebagian besar wilayahnya berupa pusat perekonomian dan bisnis Kota Semarang. Dibatasi sebelah Barat dengan Kabupaten Kendal. jiwa.1. Dari 16 kecamatan yang ada. kecamatan Mijen (57. perkantoran dan sebagainya.14 km2).1.594.00 di atas garis pantai.93 km2) dan kecamatan Semarang Tengah (6.1.454. seperti bangunan toko/mall.568 jiwa penduduk perempuan. 2.BAB II GAMBARAN UMUM DAN LINGKUNGAN YANG MEMPENGARUHI KESEHATAN MASYARAKAT 2.2. Kota Semarang terbagi dalam 16 kecamatan dan 177 kelurahan.1.2007 sebesar itu Kota Semarang termasuk dalam 5 besar Kabupaten/Kota yang mempunyai jumlah penduduk terbesar di Jawa Penduduk.55 km2) dan Kecamatan Gunungpati (54. Ketinggian Kota Semarang terletak antara 0. Luas Wilayah Kota Semarang 2. terdiri dari 722. Sedangkan kecamatan dengan luas terkecil adalah Semarang Selatan (5. Kematian dan .2.70 km2 . dimana sebagian besar wilayahnya berupa persawahan dan perkebunan. Jumlah dan Laju Pertumbuhan Penduduk Jumlah penduduk Kota Semarang menurut registrasi sampai dengan akhir Desember tahun 2007 sebesar : 1. Tabel 1 : Jumlah dan Pertumbuhan Penduduk Tahun 2003 .

35%. Persebaran dan Kepadatan Penduduk Penyebaran penduduk yang tidak merata perlu mendapat perhatian karena berkaitan dengan daya dukung lingkungan yang tidak seimbang. sehingga sebagian wilayahnya banyak terdapat areal persawahan dan perkebunan. dan hutan. perdagangan industri.434.2. dimana luas wilayahnya tidak terlalu besar tetapi jumlah Profil Kesehatan Kota Semarang Tahun 2007 masih . Hal ini dapat dilihat pada tabel diatas.478 1.892 jiwa per km2.03 2. Ketiga Kecamatan tersebut merupakan daerah pertanian dan perkebunan.45 2.419. Secara daerah dan geografis dataran wilayah Kota Semarang terbagi menjadi dua yaitu rendah ( Kota Bawah ) dan daerah perbukitan (Kota Kota Atas lebih banyak dimanfaatkan untuk Atas).132 1. 2.5 Tahun Jumlah Penduduk Tingkat pertumbuhan Setahun ( % ) 2003 2004 2005 2006 2007 1. Semarang boleh dikatakan belum terlalu padat. Sedangkan ciri masyarakat Kota Semarang terbagi dua yaitu masyarakat dengan karakteristik perkotaan dan masyarakat dengan karakteristik pedesaan. Bila dilihat menurut Kecamatan yang mempunyai kepadatan penduduk paling kecil adalah Kecamatan Mijen sebesar 819 jiwa per km2.09 1. sedangkan perkebunan.594 2.37 Sumber data : Kantor BPS Kota Semarang Perkembangan dan pertumbuhan penduduk selama 5 tahun terakhir menunjukkan hasil yang bervariasi.399.2. Namun sebaliknya untuk Kecamatan-Kecamatan yang terletak di pusat kota. Pada tahun 2007 kepadatan penduduknya sebesar 3.378.454.1.193 1. diikuti dengan Kecamatan Tugu 832 jiwa per km2 dan Kecamatan Gunungpati 1. persawahan. Sebagai salah satu kota metropolitan. Kota Bawah merupakan pusat kegiatan pemerintahan. dimana selama kurun waktu tahun 2004 – 2007 terjadi peningkatan pertumbuhan penduduk dengan rata-rata sebesar 0.133 1.52 1.168 jiwa per km2.

2.4.468 jiwa/km2 . kepadatan penduduknya sangat tinggi. dan kondisi ini terjadi pada hampir seluruh Kecamatan yang ada . Bila jumlah penduduk yang besar sedangkan tingkat pertumbuhannya tinggi.454.2. Kematian dan Perpindahan Potensi permasalahan jumlah penduduk yang besar dipengaruhi oleh tingkat pertumbuhan penduduk yang dimiliki. Kelahiran. maka beban untuk mencukupi kebutuhan pangan. Tingkat pertumbuhan alamiah secara sederhana dihitung dengan membandingkan jumlah penduduk yang lahir dan mati. salah satunya adalah penduduk menurut jenis kelamin. 270 2. kemudian Kecamatan Candisari 12.2. kesehatan dan sebagainya menjadi sangat berat.1. jiwa/km2 jiwa/km2. Tingkat pertumbuhan penduduk dibedakan atas tingkat pertumbuhan alamiah dan tingkat pertumbuhan karena migrasi. Rasio jenis kelamin pada tahun 2007 di Kota Semarang adalah 986 yang berarti jumlah penduduk perempuan lebih besar dibandingkan dengan jumlah penduduk laki-laki.594 penduduk Kota Semarang pada tahun 2007 terdiri dari 722.13 atau 4 (empat) anggota keluarga. Indikator dari variabel jenis kelamin adalah rasio jenis kelamin yang merupakan angka perbandingan antara penduduk laki-laki dan perempuan. perumahan.3. Dari 1. maka dapat dilihat bahwa rata-rata setiap keluarga di Kota Semarang memiliki 4. Bila dikaitkan dengan banyaknya keluarga atau rumah tangga.444 jiwa/km2. terdapat pula 986 penduduk laki-laki. Pada periode waktu tertentu digambarkan . diteruskan dengan dan Kecamatan Gayamsari 11. sandang. dimana setiap 100 penduduk perempuan.026 jiwa penduduk laki-laki dan 732.1. Komposisi Penduduk Untuk dapat menggambarkan tentang keadaan penduduk secara khusus dapat dilihat dari komposisinya.penduduknya sangat banyak. pendidikan.568 jiwa penduduk perempuan .158 Semarang Utara 11. Yang paling tinggi kepadatan penduduknya adalah Kecamatan Semarang Selatan 14.318 jiwa/km2 Kecamatan Semarang Tengah 12.

378.399. Sedangkan CDR juga mempunyai pola yang sama berfluktuasi selama periode 2003 – 2006 mengalami peningkatan dan menurun pada tahun 2007 menjadi 7.419. Selama periode 5 tahun terakhir perkembangan kelahiran dan kematian penduduk di Kota Semarang terlihat cukup berfluktuasi.478 1.000 penduduk.27 6.7 dengan Angka Kelahiran Kasar atau Crude Birth Rate ( CBR ) dan Angka Kematian Kasar atau Crude Death Rate ( CDR ) yang merupakan perbandingan antara jumlah kelahiran dan kematian selama 1 tahun dengan jumlah penduduk pertengahan tahun.46 16.000 penduduk jumlahnya bertambah karena kelahiran sebanyak 16.04 per 1.06 per 1.56 12.454. 0 4 Sebagai gambaran pada tahun 2007 Angka Kelahiran Kasar ( CBR ) sebesar 16. Sedangkan Angka Kematian Kasar (CDR)-nya sebesar 7.132 1.06/1. Hal ini dilihat bahwa untuk CBR periode 2003 – 2007 mengalami kenaikan yang cukup berarti yaitu menjadi 16.23 15.56 7 .000 penduduk yang artinya setiap 1.193 1.09 5.41 7.594 12. Data selengkapnya pada tabel berikut : Tabel 2: Perkembangan Kelahiran dan Kematian Penduduk Kota Semarang Periode 2003 – 2007 Tahun Jml Penduduk CBR CDR (/1000 pddk) (/1000 pddk) 2003 2004 2005 2006 2007 1.133 1.000 penduduk.000 penduduk Profil Kesehatan Kota Semarang Tahun 2007 .04/1.06 5.434.64 15.000 penduduk yang berarti bahwa setiap 1.06 atau bila dibulatkan sebesar 16 orang.

3. kenaikan ini terjadi baik untuk penduduk laki-laki maupun perempuan. semakin baik kualitas sumber dayanya.403.8 5 20.3 7 22.062 320.51 100. Semakin tinggi pendidikan suatu masyarakat. Tdk / blm pernah sekolah Tidak / belum tamat SD S D/MI S L T P/MTs S L T A/MA Akademi Universitas Jumlah: 91. 4. PENDIDIKAN Pendidikan merupakan salah satu aspek penting dalam kehidupan masyarakat yang berperan meningkatkan kualitas hidup. 5.selama setahun jumlah penduduknya berkurang karena meninggal sebanyak 7 orang.2 7 21.899 284.311 1.53 20.786 286. 7. dan D IV/ S1/ S2/ S3 ).000 penduduk.003 63. Yang paling menonjol adalah peningkatan penduduk yang pendidikannya tamatan SLTA ke atas ( D I. 2.172 61. Dengan demikian selisih dari keduanya adalah 9 orang per 1.0 9 4. III. Sebagai gambaran tingkat pendidikan penduduk Kota Semarang pada tahun 2007 adalah sebagai berikut : Tabel 3 : Prosentase Tingkat Pendidikan di Kota Semarang Tahun 2007 No Tingkat Pendidikan Laki-laki dan Perempuan Jumlah % 1. .874 6. II. 6.3.34 4. 2.641 296. 00 Sumber data : BPS Kota Semarang Menurut Badan Pusat Statistik Kota Semarang bahwa perkembangan tingkat pendidikan yang ditamatkan penduduk Kota Semarang selama 5 ( lima ) tahun terakhir mengalami peningkatan yang cukup berarti.

546 % 38.557 4.39 10. adalah sebagai berikut : Tabel 5 : Prosentase Jenis Mata Pencaharian Penduduk Kota Semarang Tahun 2007 No 1. Jenis Sarana Pendidikan TK / Diniyah SD / MI SLTP / MTs SLTA / SMK / MA Jumlah Jumlah 594 640 164 148 1. Buruh Industri 152. Nelayan 2. Buruh bangunan 71. 0 8 2 4. SOSIAL EKONOMI Prosentase jenis mata pencaharian penduduk Kota Semarang pada tahun 2007.57 100. 7 9 1 1.328 5. Jenis Mata Pencaharian Petani sendiri Jumlah 26. 4 0 2. 3.0 0 Sumber data : BPS Kota Semarang 2. 2.992 3.506 Profil Kesehatan Kota Semarang Tahun 2007 .60 9. 3 0 3.494 (%) 4.42 41. 5 7 0. 4.9 Tabel 4 : Prosentase Sarana Pendidikan di Kota Semarang Tahun 2007 No 1. Buruh tani 18.4.

2007 A. PNS/ TNI/ POLRI 86. Rumah Sakit Umum Pusat 8 2 1 9 2 1 2006 2007 . SARANA DAN PRASARANA KESEHATAN 1.431 8. Pengusaha 51. Pedagang 73.229 Sumber data : BPS Kota Semarang 2.6. SARANA DAN PRASARANA KESEHATAN Tabel 6 : Prosentase Sarana dan Prasarana di Kota Semarang Tahun 2006 . Lain-lain 109. 8 0 1 0 0.512 Jumlah: 615. 3 3 1 1. 0 0 7. 6 0 1 4. Rumah Sakit Swasta b. Angkutan 22.5.304 8.918 10. Rumah Sakit Umum Daerah c. 9 3 3. Rumah Sakit Umum : a. 1 2 1 7.187 9.

9. 8. 22. Rumah Sakit Khusus. terdiri dari : a. Puskesmas Perawatan b. 10. Puskesmas Pembantu Puskesmas Keliling Posyandu yang ada Posyandu Aktif Apotik Laboratorium Kesehatan Swasta Klinik Spesialis Optik Klinik 24 Jam Toko Obat BP Umum BP Gigi PBDS Tabib ( yang memiliki Wajib Daftar ) Sinshe ( yang memiliki Wajib Daftar ) Akupunktur (yang memiliki Wajib Daftar) Pijat Urut ( yang memiliki Wajib Daftar ) Terapi Zona (yang memiliki Wajib Daftar) Rei Ki ( yang memiliki Wajib Daftar ) Sumber data : Sie Informasi Kesehatan Dinas Kesehatan Kota Semarang Profil Kesehatan Kota Semarang Tahun 2007 . 20. 6. 5.454 316 33 13 46 20 78 186 38 7 11 33 64 15 53 13 Rumah Bersalin ( RB ) / BKIA Puskesmas . Puskesmas Non Perawatan 4. 3. 19. 15. 7. terdiri dari : 2.454 1. 12. 17. 14. 18.446 1. Rumah Sakit TNI / POLRI e.442 310 31 13 42 20 73 165 31 6 7 30 50 14 49 12 3 10 1 1 4 4 23 37 11 26 33 37 1. 16. 13.11 d. 21. RS Jiwa RS Bedah Plastik Rumah Sakit Ibu dan Anak ( RSIA ) Rumah Sakit Bersalin ( RSB ) 3 10 1 1 4 4 23 37 11 26 33 37 1. 11.

digerakkan dan dikendalikan oleh keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. keluarga dan masyarakat mempunyai kesempatan yang sama untuk memperoleh pelayanan kesehatan yang dibutuhkan sehingga dapat .2 Pemberdayaan dan Kemandirian Individu. program kesehatan.1 DASAR Dasar pembangunan kesehatan adalah nilai kebenaran dan aturan pokok yang menjadi landasan untuk berfikir dan bertindak dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan. keluarga dan masyarakat melalui kegiatan. program kesehatan harus mampu membangkitkan peran serta individu. keluarga dan masyarakat dapat menolong dirinya sendiri. proyek. Segenap komponen bangsa bertangggung jawab untuk memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan individu. 3. keluarga dan masyarakat sedemikian rupa sehingga setiap individu. proyek.3 Adil dan Merata Setiap individu. Dasar-dasar berikut ini merupakan landasan dalam penyusunan visi. keluarga.1. fasilitas pelayanan kesehatan yang ada perlu terus diberdayakan agar mampu memberikan pertolongan kesehatan yang berkualitas. misi dan strategi serta sebagai petunjuk pokok pelaksanaan pembangunan kesehatan: 3.1. Di lain pihak. masyarakat beserta lingkungannya bukan saja sebagai obyek namun sekaligus pula subyek kegiatan. program kesehatan harus berlandaskan perikemanusiaan yang dijiwai. Setiap kegiatan. Dengan dasar ini. Warga masyarakat harus mau bahu membahu menolong siapa saja yang membutuhkan pertolongan agar dapat menjangkau fasilitas kesehatan yang sesuai kebutuhan dalam waktu yang sesingkat mungkin. sesuai dengan norma sosial budaya setempat serta tepat waktu. 3.BAB III PEMBANGUNAN KESEHATAN KOTA 3.1 Perikemanusiaan Setiap kegiatan proyek. keluarga. masyarakat beserta lingkungannya. terjangkau.1. program kesehatan difasilitasi agar mampu mengambil keputusan yang tepat ketika membutuhkan pelayanan kesehatan. proyek. setiap individu.

2. terjangkau dan tepat waktu. memiliki kemampuan untuk menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu secara adil dan merata serta memiliki derajad kesehatan yang setinggi-tingginya. program kesehatan harus mengutamakan peningkatan kesehatan dan pencegahan penyakit. keluarga dan masyarakat. dan status sosial individu. Kegiatan. bersifat luar gedung maupun yang bersifat satelit pelayanan. kemampuan membayar mereka jauh lebih sedikit. proyek. sesuai dengan standar profesi dan peraturan perundang-undangan yang berlaku serta mempertimbangkan dengan sungguh-sungguh kebutuhan dan kondisi spesifik daerah. 3. Kelompok-kelompok penduduk inilah yang sesungguhnya lebih membutuhkan pertolongan karena selain lebih rentan terhadap penyakit. yaitu masyarakat kota metropolitan yang sehat dan upaya pelayanan kesehatan dilakukan secara profesional dan didukung oleh tenaga yang memiliki kinerja yang tinggi. Kesempatan untuk memperoleh pelayanan kesehatan yang berkualitas. Pembangunan kesehatan yang cenderung urban-based harus terus diimbangi dengan upaya-upaya kesehatan yang bersifat rujukan. Kegiatan. proyek dan program kesehatan diselenggarakan dengan penuh tanggung jawab.13 mencapai derajat kesehatan yang setinggi-tingginya. 3. golongan.2 3. Masyarakat kota metropolitan yang sehat adalah masyarakat yang ditandai oleh penduduknya hidup dalam lingkungan dan dengan perilaku hidup sehat.4 Pengutamaan dan Manfaat Pemanfaatan ilmu pengetahuan dan tekhnologi kedokteran dan atau kesehatan dalam kegiatan. agama. proyek dan program kesehatan diselenggarakan agar memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi peningkatan deajat kesehatan masyarakat. Dengan demikian pembangunan kesehatan dapat menjangkau kantong-kantong penduduk beresiko tinggi yang merupakan penyumbang terbesar kejadian sakit dan kematian.1. Profil Kesehatan Kota Semarang Tahun 2007 .1 VISI DAN MISI VISI Gambaran masyarakat Semarang di masa depan yang ingin dicapai melalui pembangunan kesehatan adalah “Terwujudnya masyarakat kota metropolitan yang sehat didukung dengan profesionalisme dan kinerja yang tinggi” Visi tersebut mengandung dua filosofi pokok yang akan dilaksanakan perwujudannya. tidak boleh memandang perbedaan ras.

3. keamanan dan kemanfaatan. fungsi dan kewenangan seluruh jajaran organisasi kesehatan di seluruh wilayah Kota Semarang.2 MISI Misi mencerminkan peran. melindungi kesehatannya sendiri dan lingkungannya menuju masyarakat yang sehat. Meningkatkan mutu upaya pelayanan kesehatan yang berhasil guna. Memberi perlindungan kesehatan dan memberi pelayanan kesehatan paripurna yang terbaik kepada seluruh lapisan masyarakat agar tercapai derajat kesehatan yang optimal 2.2. meningkatkan. (Misi 1) 4. SASARAN 1.2. (Misi 1) 2. kematian akibat penyakit menular dan tidak . Meningkatkan pelayanan kualitas kefarmasian manajemen yang upaya memenuhi pelayanan persyaratan mutu. yaitu : 1.3 TUJUAN 1. karsa dan karya yang tinggi dengan karakteristik mandiri. (Misi 1) kesehatan dalam mendukung pencapaian derajad kesehatan masyarakat yang optimal. beradya guna dan dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat. mandiri. rasa. (Misi 2) 3. Memberdayakan individu. Menurunnya angka kesakitan. kreatif. berbudaya. kelompok masyarakat di bidang kesehatan untuk memelihara. partisipatif dan menguasi ilmu pengetahuan teknologi sehingga mampu memberikan upaya pelayanan kesehatan masyarakat maupun perorangan yang prima. Menyediakan 3.2. produktif.Upaya pelayanan kesehatan secara profesional adalah tatanan dari stake holder kesehatan di kota Semarang yang memiliki kemampuan cipta. Untuk mewujudkan visi tersebut ditetapkan misi yang diemban oleh seluruh jajaran petugas kesehatan di masing-masing jenjang administarsi pemerintahan. Melibatkan peran serta masyarakat melalui upaya di bidang kesehatan dengan cara efektif dan efisien 3.4. yang bertanggung jawab secara teknisterhadap pencapaian tujuan dan sasaran pembangunan kesehatan Kota Semarang.

ibu maternal. meningkatkan. balita. Tersedianya sarana prasarana pelayanan kesehatan dasar pemerintah yang memadai untuk pelayanan kesehatan bagi seluruh lapisan masyarakat 8. Pelayanan Kesehatan 2. lingkungan pemukiman.15 menular serta penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi sehingga dapat mencegah penyebaran penyakit. tempat umum. tempat pengelolaan makanan yang lebih sehat sehingga dapat melindungi masyarakat dari penyakit yang ditularkan melalui lingkungan. 3.5 STRATEGI KEBIJAKAN Program yang telah disusun dan ditetapkan sebagai strategi kebijakan Dinas Kesehatan Kota Semarang terdiri dari 8 (delapan) program. anak prasekolah. Meningkatnya perilaku hidup bersih sehat dan peran aktif masyarakat dalam memelihara.2. Tersedianya pelayanan kesehatan dasar & rujukan baik pemerintah dan swasta yang bermutu menuju peningkatan derajad kesehatan masyarakat yang optimal. medis masyarakat serta meningkatnya keamanan. Meningkatnya kualitas air. khasiat obat yang beredar termasuk obat remaja. 5. Lingkungan Sehat 5. 6. Meningkatnya derajad kesehatan ibu. antara lain 1. Kesehatan Keluarga dan Gizi Masyarakat 4. usia lanjut serta meningkatnya status gizi 3. masyarakat. Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit 3. bayi. Tersedianya kebutuhan obat pelayanan kesehatan dasar yang bermutu. 4. 7. melindungi kesehatan diri dan lingkungannya. Manajemen Kesehatan dan Perijinan Profil Kesehatan Kota Semarang Tahun 2007 . aman dan efektif sesuai kebutuhan tardisional dan kosmetika. Pemberdayaan Masyarakat 6. 2. Meningkatnya fungsi perencanaan dan evaluasi pelayanan kesehatan yang didukung tersedianya sistem informasi yang handal serta kapasitas sumber daya manusia kesehatan yang memadai.

000 penduduk 17.000 penduduk 5.000 penduduk 11. Kelurahan mengalami KLB PD3I & keracunan makanan yang ditangani < 24 jam : 85% 20. Angka kesakitan diare : 16. Jejaring deteksi surveilens PTM di RS & puskesmas yang mantap : . Obat dan Perbekalan Kesehatan 8. Kasus demam berdarah yang difogging sesuai standar < 2 minggu : 60% 3. Penemuan kasus TB BTA + (case detection rate) : 55% 8. Incident rate demam berdarah : 20/10. Acute flacid paralysis rate < 15 tahun : 2/100. kematian akibat penyakit menular dan tidak menular serta penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi sehingga dapat mencegah penyebaran penyakit. Kasus infeksi menular seksual yang diobati : 100% 16. Peningkatan Sarana dan Prasarana Pelayanan Kesehatan 3. Klien yang mendapat penanganan HIV-AIDS : 75% 15. Balita dengan diare yang ditangani : 100% 10. Cakupan balita dengan pnemoni yang ditangani : 100% 13. Penderita demam berdarah yang ditangani : 100% 4.000 penduduk 14. Angka kematian diare : < 1/10. Angka kesakitan pnemoni balita : 11. Kesembuhan penderita TB BTA + (cure rate) : > 85% 7. Menurunnya angka kesakitan.25/10. Darah donor diskrining HIV-AIDS : 100% 18.24/1000 penduduk 9.3 SASARAN PROGRAM PEMBANGUNAN DINAS KESEHATAN KOTA SEMARANG TAHUN 2007 Kinerja dinas yang ingin diwujudkan/ dicapai dalam tahun 2007 (target) tercermin dalam sasaran-sasaran beserta indikatornya sebagai berikut : I. Cakupan penemuan pnemoni balita : 25% 12.7. 1. Penderita kusta yang selesai berobat (RFT rate) : > 90% 19. Kasus demam berdarah yang dilakukan penyelidikan epidemiologi < 48 jam : 30% 2.000 penduduk 22. Case fatality rate demam berdarah : 2 % 6. Kelurahan mengalami KLB penyakit bersumber binatang yang ditangani < 24 jam : 35% 21. Prevalensi HIV-AIDS : < 1/10.

Kelengkapan laporan surveilens penyakit menular : 90% 26. Cakupan rawat inap di sarana kesehatan rujukan : 1. Pelayanan gangguan jiwa di sarana pelayanan kesehatan umum : 0. Puskesmas yang melakukan deteksi dini PTM tertentu : 80% 24. Tersedianya pelayanan kesehatan dasar & rujukan baik pemerintah dan swasta yang bermutu menuju peningkatan derajad kesehatan masyarakat yang optimal 1. Kelurahan mencapai Universal Child Imunization (UCI) : 78% 29.17 80% 23. Imunisasi calon jemaah haji : 100% 32. Pembinaan 100% di laboratorium puskesmas : kesehatan kepada korban Profil Kesehatan Kota Semarang Tahun 2007 . Pelacakan K3JH : 90% II. Pembinaan di laboratorium kesehatan swasta : 100% 10.27% 3. Cakupan rawat inap di sarana kesehatan dasar (puskesmas) : 0. Ketepatan laporan surveilens penyakit menular : 80% 25.4% 9. Pelayanan bencana : 4. Cakupan rawat jalan di sarana kesehatan rujukan : 15% 5. Ketepatan laporan penyakit tidak menular : 65% 27. Imunisasi TT ibu hamil : 70% 31.5% 6. Cakupan rawat jalan di sarana kesehatan dasar (puskesmas) : 65% 2. Pemenuhan darah di Rumah Sakit : 80% 7. Cakupan BIAS : 95% 30. Sarana kesehatan dengan kemampuan gawat darurat yang dapat diakses masyarakat : 100% 8. Kelengkapan laporan penyakit tidak menular : 80% 28.

dokter gigi spesialis : 14 orang .dokter umum : 205 orang . Jumlah perijinan tenaga kesehatan yang selesai diproses : . Meningkatnya derajad kesehatan ibu.laboratorium klinik swasta : 2 buah . Pembinaan di laboratorium rumah sakit : 100% 12. bayi. Pembinaan di optik : 40% 13.dokter spesialis : 130 orang .bidan : 15 orang .pengobat tradisional : 5 orang III.apoteker : 20 orang .asisten apoteker : 50 orang .toko obat tradisional : 1 buah .Balai pengobatan : 30 buah . usia lanjut. Deteksi risiko tinggi oleh masyarakat : 10% . balita.rumah sakit : 1 buah 14. Kunjungan ibu hamil 4 : 87% 3. Deteksi risiko tinggi oleh tenaga kesehatan : 20% 5.klinik 24 jam : 3 buah .rumah bersalin : 2 buah .optic : 4 buah .Balai pengobatan gigi : 3 buah . 1. ibu hamil.11.klinik spesialis : 2 buah . remaja. Perijinan sarana kesehatan yang selesai diproses : . Kunjungan ibu hamil 1 : 95% 2.dokter gigi : 150 orang .perawat : 50 orang . anak prasekolah.toko obat : 12 buah . Pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi kebidanan : 87% 4.praktek bersama dokter spesialis : 1 buah .

8. Cakupan Deteksi Dini Tumbuh Kembang balita & anak prasekolah : 68% 16. 9. Jumlah pemeriksaan papsmear : 375 orang ibu 7. Kelurahan dengan garam beriod baik : 66% Profil Kesehatan Kota Semarang Tahun 2007 .70% Prevalensi gizi buruk balita : 1. Ibu hamil dengan risiko tinggi yang ditangani : 100% 9. Ibu hamil KEK : 8% 13. 4. 7. 3. Neonatal risiko tinggi /komplikasi yang ditangani : 80% 11. Balita yang datang dan ditimbang (D/S) : 74% Balita yang naik berat badannya (N/D) : 72% Balita bawah garis merah (BGM) : 1. Anemi gizi besi ibu hamil : 25% 11.19 6. Balita gizi buruk mendapat perawatan : 100% 14. 1. Cakupan kunjungan neonatus : 87% 12. Jaminan pemeliharaan kesehatan keluarga miskin & masyarakat rentan: V. Ibu hamil komplikasi yang ditangani : 90% 10. bayi dan balita. 2. Cakupan kunjungan bayi : 87% 13. Cakupan peserta KB aktif : 78.81% 17. Keluarga sadar gizi : 62% 16.8% 14.8% Ibu hamil mendapat 90 tablet Fe : 84% Bayi yang mendapat kapsul vit A 1 kali/th : 92% Balita yang mendapat kapsul vit A 2 kali/th : 92% Ibu nifas yang mendapat kapsul vit A: 84% 10. Pemberian makanan pendamping ASI pada bayi BGM dari gakin : 80% 12. 5.8% Prevalensi gizi kurang balita : 16. Cakupan bayi berat badan lahir rendah (BBLR) : 0. Kelompok usila aktif : 80% 19. Ibu hamil dengan risiko tinggi yang dirujuk : 45% 8. Cakupan pelayanan kesehatan usila : 55% 18. 6. Cakupan BBLR yang ditangani : 100% 15. Bayi mendapat ASI eksklusif : 35% 15. Meningkatnya status gizi masyarakat terutama pada ibu hamil.

8% 3. Tersedianya kebutuhan obat pelayanan kesehatan dasar yang bermutu. Penduduk yang memanfaatkan jamban : 83. tempat pengelolaan makanan yang lebih sehat sehingga dapat melindungi masyarakat dari penyakit yang ditularkan melalui lingkungan. Kualitas air minum yang memenuhi syarat kesehatan : 80.6% 2.94% 6. lingkungan pemukiman. Pengadaan obat esensial : 90% c. khasiat obat yang beredar . Ketersediaan narkotika.44% 5.14% 7. Meningkatnya kualitas air.15% 12. Kualitas air bersih yang memenuhi syarat kesehatan : 64% 4. tempat umum. Tempat pengelolaan makanan sehat : 69.15% VI. aman dan efektif sesuai kebutuhan termasuk obat tradisional dan kosmetika. Pengelolaan & peredaran obat di sarana distribusi obat : – – – – Puskesmas : 100% Apotek : 50% Toko obat : 80% BP/RB : 85% medis masyarakat serta meningkatnya keamanan. Rumah sehat : 80. Tempat pengelolaan pestisida sehat : 85% 11. Tempat umum yang memenuhi syarat kesehatan : 71% 10. Ketersediaan obat sesuai kebutuhan : 90% b. 1. Kecamatan bebas rawan gizi : 50% V. TPA-TPS yang memenuhi syarat kesehatan : 75% 8. Cakupan air bersih : 92. Rumah yang mempunyai SPAL : 72. Industri rumah tangga makanan minuman yang memenuhi syarat kesehatan : 71. a. Institusi yang dibina : 77% 9. Pengadaan obat generik : 95% d. psikotropika sesuai kebutuhan pelayanan kesehatan : 100% e.20.

j. Pelayanan pemberian izin belajar pendidikan formal 6. Data dan informasi kesehatan yang akurat. toko kosmetik) : 3% g. tepat waktu : 4. Tersedianya alat kesehatan medis yang memadai yang sesuai dengan kebutuhan pelayanan kesehatan : IX. Pelanggaran distribusi obat di sarana distribusi obat swasta (apotek. h. BP/RB. Pengetahuan tenaga fungsional tentang angka kredit 7. Pelaksanaan diklat teknis fungsional 5. 1. Industri Kecil Obat Tradisional : 15% Toko kosmetik : 30% Penerapan pengobatan rasional di puskesmas : 70% toko obat. Tersedianya prasarana/bangunan fisik pelayanan kesehatan dasar pemerintah yang memenuhi syarat : 2. Penulisan resep obat generik : 90% i.21 – – f. Pengetahuan SDM tentang administrasi kepegawaian VIII. Tersedianya sarana prasarana pelayanan kesehatan dasar pemerintah yang memadai untuk pelayanan kesehatan bagi seluruh lapisan masyarakat 1. Meningkatnya perilaku hidup bersih sehat dan peran serta aktif Profil Kesehatan Kota Semarang Tahun 2007 . Penyusunan rencana kinerja tahunan dan pengukuran kinerja kegiatan : 100% 2. Meningkatnya fungsi perencanaan dan evaluasi pelayanan kesehatan yang didukung tersedianya sistem informasi yang handal serta kapasitas sumber daya manusia kesehatan yang memadai. lengkap. Monitoring evaluasi kegiatan : 12 kali per tahun 3. Industri Kecil Obat Tradisional (IKOT) yang menerapkan Cara Pembuatan Obat Tradisional Benar : 100% Upaya penyuluhan pencegahan penanggulangan penyalahgunaan NAPZA oleh petugas kesehatan : 10% VII.

masyarakat dalam memelihara. 3. dan melindungi kesehatan diri dan lingkungannya. 2. meningkatkan. Cakupan pemeriksaan kesehatan siswa SLTA oleh tenaga kesehatan atau tenaga terlatih (guru UKS) : 30% . 10. 1. 7. dokter kecil) : 100% 9. Kelompok upaya kesehatan kerja : 20 buah Rumah bebas jentik nyamuk aedes (ABJ) : 88% Cakupan pemeriksaan kesehatan siswa SD & setingkat (kelas 1) oleh tenaga kesehatan atau tenaga terlatih (guru UKS. 4. Cakupan pemeriksaan kesehatan siswa TK oleh tenaga kesehatan : 50% dari sasaran Cakupan pemeriksaan kesehatan siswa SLTP oleh tenaga kesehatan atau tenaga terlatih (guru UKS) : 30% 11. Rumah tangga sehat (sehat utama & paripurna) : 56% Posyandu purnama : 36% Posyandu mandiri : > 2% Sekolah sehat : 81% 5. Cakupan penduduk yang menjadi peserta jaminan pemeliharaan kesehatan pra bayar : 13% 6. 8.

23 BAB IV PENCAPAIAN PEMBANGUNAN KESEHATAN Gambaran masyarakat Kota Semarang masa depan yang ingin dicapai oleh segenap komponen masyarakat melalui pembangunan kesehatan Kota Semarang adalah : Kota Semarang Sehat 2010 yang mandiri dan bertumpu pada potensi daerah. Terdapat beberapa keterkaitan dari beberapa aspek yang dapat mendukung meningkatnya kinerja yang dihubungkan dengan pencapaian pembangunan kesehatan, diantaranya adalah : (1) indikator derajat kesehatan sebagai hasil akhir, yang terdiri atas indikator mortalitas, morbiditas dan status gizi. (2) indikator hasil antara, yang terdiri atas indikator keadaan lingkungan, perilaku hidup masyarakat, akses mutu pelayanan kesehatan serta (3) indikator proses dan masukan yang terdiri atas indikator pelayanan kesehatan, sumber daya kesehatan, manajemen kesehatan dan kontribusi sektor terkait. IV. 1 Situasi Derajat Kesehatan IV.1.1. Kematian Kejadian kematian dalam masyarakat dari waktu ke waktu dapat menggambarkan status kesehatan masyarakat secara kasar, kondisi/ tingkat permasalahan kesehatan, kondisi lingkungan fisik dan biologik secara tidak langsung. Selain itu dapat pula digunakan sebagai indikator dalam penilaian keberhasilan pelayanan kesehatan dan program pembangunan kesehatan : IV.1.1.1 Kematian Bayi dan Balita Angka kematian bayi di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2006 yaitu sebesar 7,50 per 1.000 kelahiran hidup. Untuk tahun 2007, berdasarkan hasil Survei Kesehatan Daerah (SURKESDA) jumlah kematian bayi yang terjadi di Kota Semarang sebanyak 466 dari 24.746 kelahiran hidup, terdiri dari 226 kematian bayi yang berasal dari laporan Puskesmas se-Kota Semarang dan 240 kematian bayi di tingkat Rumah Sakit, sehingga didapatkan Angka Kematian Bayi (AKB) sebesar 18,8 per 1.000 KH. Berdasarkan pencapaian tersebut maka terdapat penurunan dari tahun sebelumnya yang mencapai 483 bayi dari 24.498 kelahiran hidup. Hal ini dapat disebabkan karena tersedianya berbagai fasilitas atau faktor aksesibilitas bagi pelayanan kesehatan ibu dan anak serta dukungan kemampuan dari tenaga medis yang
Profil Kesehatan Kota Semarang Tahun 2007

0700000001000000400000000400000048000000080000005800000012000000680000000c000000800000000d0000008c000 4864601d4385e9a161808d4eaa5868f99028c9502448ef72af94aee1f672048ff30845c2bd85480d02b809e8e6fa208c2134e8281 2a2a28282827262633343522364344451f46474859585a5b5c5d5e5f606188898a8b8c8d8e8f909192939495969798999a072d terampil dalam memberikan pelayanan kesehatan yang berkualitas. Selain itu 0a0a0a0a0a0a0a0a0a0a0a0a0a0a0a0a0a0a0a0a0a0a0a0a0a0a0a0a0a0a0c0c0f11111212121212131401010101010101010101 000000c0acc1000016c108849d430030fd432a40000024000000180000000000803f00000000000000000000803f02e4824408 sistem pencatatan serta pelaporan yang semakin baik dan tepat waktu turut 0000000000002a40000024000000180000000402013a00000000000000000402013a00000442000004422a400000240000001 mendukung pencapaian indikator tersebut. 80000000000803f00000000000000000000803f020aad4404b03544214007000c000000000000002a40000024000000180000 Sedangkan untuk kematian Balita di Kota Semarang Tahun 2007 0000000803f00fce843048c3b442a40000024000000180000000000803f00000000000000000000803f00fce843048c3b442a4
sebanyak 113 anak terdiri dari 47 balita (laporan Puskesmas) dan 66 balita (laporan Rumah Sakit), sehingga diperoleh Angka Kematian Balita (AKABA) Kota Semarang sebesar 4,6 per 1.000 KH. IV.1.1.2 Kematian Ibu Maternal (AKI) Angka kematian ibu dapat diperoleh dari berbagai macam studi yang dilakukan dalam bentuk survey dengan cakupan wilayah terbatas. Angka kematian ibu yang berasal dari kegiatan Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) pada tahun 2002/2003 yaitu sebesar 307 per 100.000 kelahiran hidup merupakan angka nasional yang tidak dapat diuraikan di tingkat Kabupaten / Kota. AKI di Provinsi Jawa Tengah tahun 2006 yaitu sebesar 101 per 100.000 kelahiran hidup. Berdasarkan laporan Puskesmas jumlah kematian ibu maternal di Kota Semarang pada tahun 2007 sebanyak 20 orang dengan jumlah kelahiran hidup sebanyak 24.746 orang.

Kematian tersebut umumnya terjadi di tempat pelayanan kesehatan ibu dan anak seperti Bidan Praktek Swasta (BPS) serta tempat pelayanan kesehatan rujukan, yaitu di Rumah Sakit akibat keterlambatan rujukan dari pelayanan dasar tersebut. Terdapat beberapa hal yang dapat menjadi faktor penyebab yaitu kualitas ketrampilan pelayanan Bidan Praktek Swasta dalam pemeriksaan kehamilan (ANC) dan pertolongan persalinan yang sesuai standar Asuhan Persalinan Normal (APN), kecepatan dan ketanggapan

25

00001000000400000000400000048000000080000005800000012000000680000000c000000800000000d0000008c00000013 dalam menangani masalah kegawat daruratan pada saat persalinan maupun c020e000140012000000f5ff200000f40000000000000000c020e0001400000000000100230000100000000000000000c02093 0001000000000000000100000000000000010000000000000001000000000000000100000000000000010000000000000001 pasca persalinan, dimana hal ini berpengaruh terhadap penentuan diagnosa 000000010000004c0065007400740065007200000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000 maupun dalam pengambilan keputusan klinik. Faktor lainnya yang turut 0000000a0000400030004009e0818009e08000000000000000000000400000000000200000000000a00000009081000000610 menentukan adalah keteraturan ibu hamil memeriksakan kehamilannya 04b006f00740061002000530065006d006100720061006e00670020000a0054006100680075006e0020003100390039003800 2f3e3c613a63732074797065666163653d22417269616c222f3e3c2f613a6465665250723e3c2f613a7050723e3c613a656e645 (ANC) di petugas kesehatan, deteksi dini terhadap resiko tinggi dan 003410000025102000020201000000000013070000660e0000320100003a010000000008000a000000331000004f101400020
komplikasi kehamilan ataupun persalinan, serta dukungan keluarga dalam memperoleh pelayanan kehamilan, persalinan maupun rujukan kegawatdaruratan. Disamping itu mulai membaiknya sistem pencatatan dan pelaporan baik di sarana pelayanan kesehatan khususnya Rumah Sakit dan Puskesmas turut membantu dalam pendataan kematian ibu maternal. Kejadian kematian ibu maternal paling banyak terjadi pada masa nifas sebesar 60%, kemudian pada persalinan 25% dan masa kehamilan 15%. Sebagai upaya untuk menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI), telah dilaksanakan berbagai pelatihan peningkatan kualitas pelayanan kesehatan ibu dan anak diantaranya Pelatihan Asuhan Persalihan Normal (APN) yang merupakan standar pertolongan persalinan dan pendampingan persalinan dukun bayi oleh tenaga kesehatan, Pelayanan Obstetri dan Neonatal Emergensi Dasar (PONED) dan Pelayanan Obstetri dan Neonatal Emergensi Komprehensif (PONEK) serta yang lainnya.

Profil Kesehatan Kota Semarang Tahun 2007

angka kesakitan (incidence rate = IR) Kota Semarang mulai tahun 2002 – 2007 rata-rata diatas target nasional (IR = 2/100.845 kasus menjadi 2. Pemberantasan Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) 08002b27b3d930000000a40000000700000001000000400000000400000048000000080000005c000000120000006c000000 03e5692006a6a680da5f56ea8329d3a6ca73626a84064ad1808c859e9d5d39a353f9fdf0f0781b99b6c5ca18aa2a094597bf1477a a.1. Penyakit Menular IV.000 penduduk. angka kesakitan DBD pada tahun 2007 mencapai 19. Hal yang serupa juga terdapat pada kelurahan dengan katagori a2a2a2a2a2a281f212121212121212100191c1c1c1c1c292a2a2a2a2a2a2a2a2a2b2b2b2b2b2b2b2b2b2b2a2a2a2a2a2a2a2a2a2 endemis meningkat dari tahun sebelumnya (143 kelurahan) menjadi 154 2121212121212121001c1c1c1c1c1c15070707070707070707070707070707070707070707070707070707070707070707070 kelurahan.2. Angka Kesakitan 18f45f8589469f6409533a134302542fd701b4226f6e7c0a4fe1916e16351a6d90335648369225422543d02f35e69113e166502 Penyakit DBD di Kota Semarang pada tahun 2007 mengalami fffffffff80ff7fffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffff80ff7fffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffff peningkatan dari tahun sebelumnya yaitu dari 1.99 per 10.924 fffffffffffffffffff80003fffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffff80007fffffffffffffffffffffffffffffffff 12121212121212100343131313131313131302e2f2f2f2f2f2f2f2f2c373b3b3b3b3b3b3b3b392b2a2a2a2a2a2a2a2a2a2a2a282 kasus. Berdasarkan data pada tabel 10. meningkat dari tahun 2006 (12.000 penduduk.IV. sedangkan kelurahan non endemis/sporadis sebanyak 22 kelurahan dan kelurahan potensil 1 kelurahan dan tidak ada kelurahan yang bebas DBD.1. Berdasarkan grafik diatas.64 per 10.1.2.000 penduduk).000 penduduk) maupun target Kota Semarang sendiri yaitu 7/10. Jumlah penderita DBD tahun 2007 merupakan tahun dengan .

2. b. Pelayanan terhadap Penderita Bentuk pelayanan yang diberikan terhadap penderita malaria adalah pemeriksaan darah dan pengobatan. dimana angka tersebut masih dibawah target Kota Semarang dan SPM yaitu < 2%.02 pddk). Pemeriksaan darah dilakukan terhadap penderita klinis sedangkan pengobatan dilakukan terhadap baik penderita klinis maupun yang positif malaria. Angka Kematian Pada tahun 2007. Dengan demikian semua penderita malaria yang ditemukan di Kota Semarang diberikan pengobatan (100%) IV. b. Sedangkan untuk yang positif malaria diberikan pengobatan radikal.27 jumlah penderita terbanyak apabila dibandingkan data 5 tahun terakhir. Kecamatan dengan kasus malaria (+) tertinggi pada tahun 2007 adalah Bugangan 15 kasus. Pemeriksaan darah dilakukan untuk menegakkan diagnosa.2.1.7%) dan CFR terendah pada Puskesmas Kedungmundu (0.1%. Pencapaian CFR tertinggi terdapat pada Puskesmas Karangmalang (16. Dan terdapat 16 puskesmas dengan CFR = 0%.02 pddk) meningkat dari tahun sebelumnya yaitu 27 orang (API = 0.2. Semuanya merupakan kasus import karena berdasarkan hasil penyelidikan epidemiologi yang dilakukan diketahui bahwa sebelumnya penderita pernah mengunjungi daerah endemis malaria. Keadaan kasus Berdasarkan laporan Puskesmas. IV. jumlah kasus malaria pada tahun 2007 ditemukan 34 orang (API = 0. Seorang penderita klinis baru dinyatakan positif malaria apabila sediaan darah yang diperiksa terdapat plasmodium. jumlah kematian akibat DBD menurun menjadi 32 orang dari 42 orang pada tahun 2006. sehingga diperoleh CFR sebesar 1.4%).1. Pemberantasan Penyakit Malaria a. semua penderita klinis memperoleh pengobatan klinis. Penurunan CFR menunjukkan semakin baiknya pelayanan medis penderita DBD pada Rumah Sakit di Kota Semarang. Pemberantasan Penyakit TB Paru Profil Kesehatan Kota Semarang Tahun 2007 . Selain dilakukan pemeriksaan darah.3.

Hal ini kemungkinan disebabkan masih ada follow up di akhir pengobatan yang tidak dapat diperiksa.1.012 suspek). Sedangkan angka kesembuhan terendah (0%) di Puskesmas Karang Malang. Rowosari. dimana terdapat peningkatan dari tahun sebelumnya. Selain itu pencapaian ini juga masih belum memenuhi target Kota Semarang (55%). IV. Angka Kesakitan Penderita diare di Kota Semarang pada tahun 2007 sebanyak 29.11 per 1.530 orang sedangkan pada golongan umur < 5 tahun sebanyak 12. Cakupan penderita diare tertinggi ditemukan pada golongan umur > 5 tahun yaitu sebanyak 17. Angka penemuan penderita baru (CDR) tahun 2007 sebesar 49% mengalami penurunan bila dibandingkan tahun 2006 (59%).000 penduduk. b. Pemberantasan Penyakit Diare a.4. Begitu pula untuk penemuan penderita TB Paru BTA positif pada tahun 2007 sebanyak 747 orang mengalami penurunan bila dibandingkan tahun 2006 (901 orang). Angka kesembuhan (Cure Rate) Pencapaian angka kesembuhan TB Paru di Kota Semarang pada tahun 2006 sebesar 67% mengalami penurunan sebesar 3% dari tahun 2005 yang mencapai 70% dan masih belum memenuhi target yang ditetapkan yaitu 85%.a. Hal ini kemungkinan disebabkan karena beberapa UPK belum memenuhi target program. Penemuan Penderita Baru (CDR) Penemuan suspek tahun 2007 sebanyak 8.2. Sekaran. Angka kesembuhan tertinggi di Puskesmas Karangayu. Purwoyoso dan Karanganyar sebesar 100%. Untuk Case Fatality rate (CFR) dihitung berdasarkan jumlah penderita yang meninggal akibat penyakit Diare yang berobat di Puskesmas dan berdasarkan data 5 tahun terakhir tidak ada laporan mengenai penderita yang meninggal (CFR = 0) . Hal ini dikarenakan belum semua Unit Pelayanan Kesehatan (UPK) belum mencapai target yang ditetapkan. Pudak Payung.437 mengalami penurunan dibandingkan tahun 2006 (10.413 penderita.943 penderita dengan angka kesakitan sebesar 20.

29 IV. hal ini disebabkan karena banyak penderita yang berobat ke RS Tugu. Namun jumlah ini masih belum memenuhi target yang ditetapkan dalam SPM yaitu >90%.230 penderita.88 per 10. Profil Kesehatan Kota Semarang Tahun 2007 .000 penduduk. Releasing From Treatment ).286 penderita.1. Dari seluruh penderita kusta yang ditemukan. Pemberantasan Penyakit Pneumonia Sampai saat ini diketahui 80 – 90%. 5 orang RFT PB (57%) dan RFT MB (13. Adanya peningkatan kasus pneumonia dapat disebabkan oleh semakin meningkatnya tingkat pencemaran di wilayah Kota Semarang dan status gizi balita yang kurang baik. penyebab kematian bayi dan balita adalah pneumonia dan merupakan peringkat pertama penyebab kematian bayi dan balita menurut Survei Kesehatan Nasional (2001). dari 3.230 penderita yang ditemukan.2 per 10. kasus pneumonia maupun pneumonia berat yang ditemukan tidak sampai menyebabkan terjadinya kematian ( CFR = 0 ) IV. Penderita yang ditemukan di Puskesmas masih rendah. seluruhnya (100%) mendapatkan penanganan sesuai dengan prosedur penanganan penderita yang ada.000 penduduk. meningkat dari tahun 2006 yang hanya mencapai 2.1. Untuk pelayanan dan penanganan penderita pneumonia.15 per 10.2. penderita kusta di Kota Semarang yang dilaporkan dari 16 kecamatan sebanyak 34 orang mengalami peningkatan dari 14 orang pada tahun 2006.000 balita.6. Oleh karena itu. dikarenakan makanan yang dikonsumsi balita tidak mengandung cukup gizi yang diperlukan oleh balita serta daya tahan tubuh Balita yang menurun akibat status gizi kurang ataupun buruk. yaitu terdiri dari penderita Kusta tipe MB = 27 orang dan PB = 7 orang. Kasus pneumonia di Kota Semarang pada tahun 2007 mencapai 3. sehingga diperoleh IR untuk tahun 2007 sebesar 219. Pemberantasan Penyakit Kusta Pada tahun 2007.02% menjadi 31%.04%) dinyatakan telah selesai berobat (RFT. Namun apabila dilihat dari cakupan penemuan penderita Pneumonia yang dilaporkan di Kota Semarang pada tahun 2007 cenderung mengalami penurunan apabila dibandingkan tahun 2006 yaitu dari 35. Prevalensi kusta tahun 2007 sebesar 0.2. mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya yang mencapai 0.5.

Terdapat puskesmas melaporkan cakupan pelayanan pengobatan kasus IMS. Dari jumlah tersebut yang positif HIV/AIDS sebanyak 62 (0. Puskesmas Bugangan ( 20 kasus) dan Puskesmas Gunungpati (4 kasus) serta Puskesmas Mangkang (451 kasus). Dari hasil skrining darah di PMI terhadap virus HIV selama tahun 2007 telah diperiksa darah donor sejumlah 47. Sedangkan dari hasil kegiatan VCT tahun 2007 ditemukan 195 kasus (120 orang dari klinik VCT. Hasil tersebut menunjukkan bahwa HIV/AIDS tidak hanya menjangkiti kelompok resiko . Kandidiasis. b. Hal ini disebabkan karena semakin meningkatnya pengetahuan masyarakat tentang HIV / AIDS sehingga meningkat pula kunjungan ke klinik VCT.27%) 4 (empat) sudah mendapatkan yang penanganan/pengobatan. Cakupan HIV/AIDS didapat dari hasil skrining sero survei pada kelompok perilaku resiko tinggi sebanyak 363 orang terdiri dari Wanita Penjaja Seks (WPS). Dari jumlah tersebut. Sedangkan hasil kegiatan di klinik IMS tahun 2007. Siphilis dan Penyakit Radang Panggul. Jumlah ini meningkat 16 orang dibandingkan tahun sebelumnya (179 kasus).7. Hal ini kemungkinan disebabkan karena pada Tahun 2007 ada kegiatan PPT ( Periodic Presumtive Treatment) yang dilaksanakan di semua klinik IMS di Kota Semarang.Trichomonas vaginalis Herpes Simplex. terdapat beberapa IMS yang mengalami penurunan dibandingkan pada tahun 2006. Infeksi Menular Seksual (IMS) Jumlah kasus Infekasi Menular Seksual (IMS) di Kota Semarang pada tahun 2007 berdasarkan laporan Puskesmas mencapai 550 kasus. Sedangkan untuk kasus AIDS ditemukan sebanyak 33 kasus meningkat dari tahun 2006 yang mencakup 25 kasus. Kandiloma . yaitu Puskesmas Halmahera (75 kasus).1.059 orang. diantaranya Servisitis. Sedangkan yang meningkat adalah Gonorhoe. 436 kasus (79. HIV/AIDS Jumlah kasus HIV (+) yang ditemukan tahun 2007 sebanyak 18 orang menurun apabila dibandingkan tahun 2006 yaitu sebesar 19 orang. Pemberantasan Penyakit Infeksi Menular Seksual a.2.13%).IV. 42 orang BP4 dan 33 orang dari LSM).

lain pada Jumlah 181.113 Sumber data : Laporan SP3 dan SP2RS IV. seperti sifat kelumpuhan pada poliomyelitis. pemberian imunisasi massal pada anak balita melalui PIN (Pekan Imunisasi Nasional) dan Surveilans AFP.993 34.2.304 27. Rumah Sakit (Rawat Inap) Demam Berdarah Dengue Diare dan gastroenteritis oleh penyebab infeksi tertentu Demam tifoid dan paratifoid Diabetes mellitus YTT Pneumonia Infeksi saluran nafas bagian atas akut lainnya Peny. 10. Prosedur pembuktian penderita AFP terserang virus polio liar atau tidak adalah sebagai berikut : 1.953 41. Pulpa Peripikal Gastritis Osteoporosis Gangguan otot lainnya Nyeri kepala dan Jar.31 tinggi saja tetapi juga sudah mengenai masyarakat umum.953 15. 9. Melakukan pelacakan terhadap anak usia Profil Kesehatan Kota Semarang Tahun 2007 . 2.363 28. 5.456 20.368 22. Surveilans AFP pada hakekatnya adalah pengamatan dan penjaringan semua kelumpuhan yang terjadi secara mendadak dan sifatnya flaccid (layuh).972 22.8. maka pemerintah telah melaksanakan program Eradikasi Polio (ERAPO) yang terdiri dari pemberian imunisasi polio secara rutin. System kemih lainnya Katarak dan gangguan lensa lainnya Cedera intracranial Hipertensi esensial Jumlah 733 727 589 195 133 116 116 114 110 107 Puskesmas Infeksi akut saluran nafas Faringitis Influensa Hipertensi esensial Diare Peny. 6. 8. 7. Namun demikian darah tersebut sudah langsung dimusnahkan sehingga semua pasien yang akan menerima darah donor bebas dari virus HIV. Surveilans Acute Flaccid Paralysis (SAFP) Untuk membebaskan Indonesia dari penyakit polio. 3. Berikut ini data 10 besar penyakit yang ada di Kota Semarang pada tahun 2007 berdasarkan laporan dari Puskesmas dan Rumah Sakit: Tabel 6 : Data 10 Besar Penyakit di RS dan Puskesmas Tahun 2007 No 1. 4.674 17.1.

Pemeriksaan klinis akhir sejak ditentukan pada 60 tinja adanya akan menjadi bukti virus polio liar di kedua Bio specimen tinja ke Bandung 2 kali waktu pengambilan I dan . sebanyak selang II > 24 jam 3. Hasil pemeriksaan spesimen virologis dalamnya 5.sama atau kurang dari 15 tahun yang mengalami kelumpuhan layuh mendadak hari) menentukan diagnosa awal 2. Mengambil spesimen penderita tinja tidak (<14 dan lebih dari 14 hari sejak kelumpuhan. Mengirim laboratorium Farma dengan pengemasan khusus/baku 4. Diagnosa hari kelumpuhan.

Kanker Serviks 4. Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah. meningkat dari tahun sebelumnya sebanyak 8 kasus. atau IV. Penyakit yang tergolong dalam penyakit tidak menular (degeneratif) yaitu : Neoplasma (Kanker). kasus penyakit kanker yang ditemukan sebanyak 10. Diabetes Mellitus (Kencing Manis). Berdasarkan hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 2002.75 per 100. Gangguan mental. terdiri dari Kanker Payudara 4.171. Kanker Bronkus dan Paru 256 kasus. Kecenderungan transisi ini dipengaruhi oleh adanya berubahnya gaya hidup. kanker merupakan penyebab kematian ketiga setelah penyakit jantung dan stroke.000 penduduk ).844 kasus. dan lain-lain.1.537 kasus. kanker adalah tumor ganas yang ditandai dengan pertumbuhan abnormal sel-sel tubuh.33 ini dilakukan oleh dokter spesialis anak atau syaraf untuk menentukan adanya kelumpuhan tidak Kasus AFP yang ditemukan di Kota Semarang tahun 2007 sebanyak 11 kasus. Kanker Hati dan Empedu 434 kasus. terbanyak pada golongan umur 5 -15 thn sebanyak 6 kasus. 2 praktek swasta. Neoplasma (Kanker). Kencing manis adalah Profil Kesehatan Kota Semarang Tahun 2007 . 1-4 thn sebanyak 5 kasus sehingga untuk tahun 2007 diperoleh AFP rate sebesar 2. Pada tahun 2007 di Kota Semarang berdasarkan laporan program yang berasal dari Rumah Sakit dan Puskesmas. Diabetes Mellitus. PENYAKIT TIDAK MENULAR Saat ini di negara berkembang telah terjadi pergeseran penyebab kematian utama yaitu dari penyakit menular ke penyakit tidak menular. 2 dari masyarakat. Sumber penemuam kasus AFP ditemukan pada 7 Rumah Sakit.000 ( target ≥ 2/100. urbanisasi dan globalisasi.3.

angka kematian karena penyakit tidak menular tahun 2007 meningkat tajam dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. terdiri atas 4. Hipertensi 2. makan makanan yang berlebihan. Hipertensi dan Stroke. Data laporan program tahun 2007 untuk kasus Diabetes Mellitus adalah sebanyak 50. Meningitis ( 1 kejadian) dan Campak (1 kejadian). misalnya : Angina Pektoris. Dari jumlah tersebut seluruhnya (100%) telah dilakukan kegiatan penanganan/penanggulangan dengan cepat mellitus non .084 Diabetes tergantung insulin dan 46.4. Asma bronkiale IV.807 kasus. Pada tahun 2007 di Kota Semarang kasus Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah terdiri dari Angina Pektoris 3.063 kasus Diabetes non insulin. Dari kasus KLB yang ada. terjadi kematian akibat KLB Difteri (1 orang). AMI 2. penyakit infeksi atau juga dapat disebabkan oleh faktor keturunan yang mengganggu hormon insulin.1. Stroke Hemoragik 5. Kencing manis dapat disebabkan oleh faktor lingkungan seperti kegemukan. Menurut data pendukung yang ada.suatu keadaan dimana terjadi kelebihan kadar gula darah (glukosa) dalam darah. Urutan lima besar penyakit tidak menular yang menyebabkan kematian yaitu : 1. Acute Myocard Infark (AMI). Hipertensi Esensial 54. Dari 177 kelurahan yang ada di Kota Semarang terdapat 25 kelurahan yang terkena kejadian luar biasa (KLB).958 kasus.780 kasus dan Stroke Hemoragik 2. Diabetes insulin 3. Kasus-kasus penyakit jantung dan pembuluh darah banyak yang menyebabkan terjadinya kematian. Keracunan Makanan (5 kejadian).088 kasus. Data secara lengkap dapat dilihat pada tabel 31. Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah. Kejadian Luar Biasa Dilaporkan pada tahun 2007 di Kota Semarang terjadi Kejadian Luar Biasa (KLB) sebanyak 33 kejadian yaitu : Difteri (26 kejadian). Hipertensi lain 4.129 kasus. merupakan penyakit yang mengganggu sistem pembuluh darah atau lebih tepatnya menyerang jantung dan urat-urat darah.

35 dalam waktu kurang dari 24 jam (data selengkapnya pada tabel 30). Pada tahun 2007 di Kota Semarang menunjukkan jumlah Bayi Lahir Hidup sebanyak 24. Kurang gizi sangat dipengaruhi oleh pengetahuan masyarakat yang kurang. perawatan serta pengobatan baik di puskesmas maupun di Rumah Sakit dengan bantuan dana program Asuransi Kesehatan Masyarakat Miskin (Askeskin) dan APBD II.53%). Dari seluruh kasus gizi buruk tersebut juga telah dilakukan intervensi khususnya upaya perbaikan gizi masyarakat dalam bentuk kegiatan pemberian PMT pemulihan selama 180 hari.17%) dan Bawah Garis Merah (BGM) sebanyak 897 anak (0. keadaan sosial ekonomi dan kejadian penyakit.775 anak (80.1.400 anak.746 bayi dan jumlah Balita yang ada (S) sebesar 115.5. Sedangkan untuk kasus gizi buruk ditemukan sebanyak 30 kasus.55%). Permasalahan gizi yang masih tetap ada dan jumlah cenderung bertambah adalah masalah gizi kurang dan gizi buruk. meningkat dari tahun sebelumnya yaitu 133 bayi (0. IV.82%) dengan rincian jumlah balita yang naik berat badannya sebanyak 74.5.400 anak (S) yaitu sejumlah 93.1 Status Gizi Bayi dan Balita Perkembangan keadaan gizi masyarakat dapat dipantau melalui hasil pencatatan dan pelaporan program perbaikan gizi masyarakat yang tercermin dalam hasil penimbangan bayi dan balita setiap bulan di posyandu. Untuk kasus bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) pada tahun 2007 yaitu sebanyak 137 bayi (0.272 anak (80. Keadaan Gizi IV. Hasil Pemantauan Status Gizi di Kota Semarang dari Tahun 2005 – Tahun 2007 dapat dilihat pada tabel di bawah ini : Tabel 7 : Perkembangan Status Gizi Balita Tahun 2005 – 2007 Profil Kesehatan Kota Semarang Tahun 2007 .96%).1. Sedangkan jumlah Balita yang datang dan ditimbang (D) di posyandu dari seluruh balita yang ada 115.

4.68 15. Oleh sebab itu . 2. faktor sosial budaya. Berdasarkan hasil laporan puskesmas tahun 2007. . kurangnya pelayanan konseling laktasi dan dukungan dari petugas kesehatan. Walaupun demikian masih terdapat kendala dalam pemantauan pemberian ASI Ekslusif karena belum ada sistem yang dapat diandalkan. Untuk itu tingkat pencapaian dalam program ASI Ekslusif ini harus mendapatkan perhatian khusus dan memerlukan pemikiran dalam mencari upaya-upaya terobosan serta tindakan nyata yang harus dilakukan oleh provider di bidang kesehatan dan semua komponen masyarakat dalam rangka penyampaian informasi maupun sosialisasi guna meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat.07% (9.No Status Gizi 2005 Prevalensi (kasus) 2006 1.44%).19 79. Gizi buruk Gizi kurang Gizi baik Gizi lebih 0.58 3.00 80. Terdapat beberapa hal yang menghambat pemberian ASI Ekslusif diantaranya adalah : rendahnya pengetahuan ibu dan keluarga lainnya mengenai manfaat dan cara menyusui yang benar.73 14.1.94 11.129 bayi ) yang hanya mencapai 4.2. ASI Ekslusif ASI (Air Susu Ibu) merupakan salah satu makanan yang sempurna dan terbaik bagi bayi karena mengandung unsur-unsur gizi yang dibutuhkan oleh bayi untuk pertumbuhan dan perkembangan bayi guna mencapai pertumbuhan dan perkembangan bayi yang optimal. Jumlah ini masih belum memenuhi target yang ditetapkan dalam Standar Pelayanan Minimal (SPM) yaitu 80%. pemberian ASI perlu diberikan secara ekslusif sampai umur 6 (enam) bulan dan dapat dilanjutkan sampai anak berumur 2 (dua) tahun.09 85.97 3. pemberian ASI Ekslusif mengalami penurunan dari tahun 2006 40. kondisi yang kurang memadai bagi para ibu yang bekerja dan gencarnya pemasaran susu formula.30 2007 1. 3. Selama ini pemantauan tingkat pencapaian ASI Ekslusif dilakukan melalui laporan puskesmas yang diperoleh dari hasil wawancara pada waktu kunjungan bayi di Puskesmas.56 1.98 1.5.281 bayi (38.99 IV.

Posyandu Purnama dan Mandiri Salah satu Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat (UKBM) yang turut mendukung pelaksanaan program kesehatan di masyarakat adalah pos pelayanan terpadu (Posyandu) yang dilaksanakan oleh para kader yang berasal dari masyarakat dengan pembinaan dari tenaga kesehatan di puskesmas. Dalam kegiatan PHBS terdiri dari beberapa sasaran kegiatan yaitu PHBS tatanan institusi.2.59%).97%) sehingga jumlah total posyandu yang tergolong purnama dan Profil Kesehatan Kota Semarang Tahun 2007 . dimana tatanan daya rumah ungkit tangga paling dianggap besar merupakan tatanan yang mempunyai terhadap perubahan perilaku IV. Saat ini Posyandu yang ada di Kota Semarang berjumlah 1.480 rumah tangga yang diperiksa diperoleh hasil yaitu Rumah Tangga yang berperilaku hidup bersih dan sehat sebanyak 68. sarana dan prasarana yang belum memadai.464 buah. Dalam perkembangannya ternyata posyandu mendapat tanggapan positif dari masyarakat.083 RT (75%) strata paripurna 4. Dengan mewujudkan perilaku yang sehat diharapkan dapat menurunkan angka kesakitan suatu penyakit dan angka kematian ibu dan anak akibat terlambatnya/kurangnya kesadaran dalam mengunjungi sarana pelayanan kesehatan. Rumah Tangga Berperilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) masyarakat secara umum. Namun demikian tanggapan positif dari masyarakat belum dibarengi dengan meningkatnya mutu pelayanan karena masih banyak faktor yang menyebabkan mutu pelayanan posyandu masih rendah antara lain : Sumber Daya Manusia (SDM) yang dimiliki masih sangat rendah. tempat-tempat umum dan rumah tangga.37 IV.65%) dan 307 Posyandu mandiri (20. Pada tahun 2007 di Kota Semarang dari sampling 84.67%.2. IV. Dalam rangka merubah perilaku masyarakat kepada perilaku yang sehat.2. banyak kader posyandu yang droup out. maka telah dilaksanakan kegiatan pembinaan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat.1.2. PERILAKU MASYARAKAT Menurut teori HL Blum salah satu faktor yang mempengaruhi derajat kesehatan masyarakat adalah faktor perilaku. terdiri dari strata utama 63. terdiri dari 639 posyandu purnama (43.725 RT (5.

.380 jiwa (1. Lamper Tengah. terstruktur yang dijamin kesinambungan dan mutunya. jumlah penduduk yang tercakup dalam dalam berbagai JPK (Jaminan Pemeliharaan Kesehatan) sebesar 254. Gunungpati.99%) : 65.237 jiwa (5. Dari tabel 47 dapat dilihat bahwa Kecamatan yang banyak memilki Posyandu dengan katagori Mandiri yaitu Semarang Barat sebanyak 44 posyandu (14.62%) dari total jumlah penduduk .33%) dan masih terdapat 8 (delapan) Puskesmas yang sama sekali tidak memiliki posyandu mandiri diantaranya: Puskesmas Bugangan. dan Sekaran.mandiri adalah 946 posyandu (64.482 jiwa (19. JPKM merupakan upaya pemeliharaan kesehatan secara paripurna.3 Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat (JPKM) Salah satu kepedulian pemerintah terhadap kesehatan masyarakat dalam pelayanan kesehatan adalah melalui pelaksanaan program Jaminan Pelayanan Kesehatan Masyarakat (JPKM). Gayamsari. Berdasarkan laporan puskesmas.43%) : 15.92%) : 35. dimana pembiayaannya dilaksanakan secara pra-upaya.972 jiwa (2. Penyelenggaraan pelayanan kesehatan pada JPKM bertujuan untuk memelihara kesehatan para peserta.869 jiwa (20. dengan perincian : Peserta ASKES Peserta BAPEL Peserta JAMSOSTEK Peserta Dana Sehat : 239. bukan hanya sekedar menyembuhkan penyakit tetapi dituntut untuk aktif berusaha meningkatkan derajat kesehatan dan mencegah peserta agar tidak jatuh sakit. Candilama. IV.61%).28%) Apabila dibandingkan dengan target Standar Pelayanan Minimal (SPM) untuk pelayanan JPKM sebesar 30%. Genuk. maka cakupan JPKM di Kota Semarang masih belum memenuhi target. Pudak Payung.2.

579 masyarakat miskin yang ada.3.53%). Pemanfaatan Asuransi Kesehatan Masyarakat Miskin (ASKESKIN) oleh masyarakat miskin dalam pelayanan kesehatan meningkat dari tahun sebelumnya. Hal ini lebih banyak Profil Kesehatan Kota Semarang Tahun 2007 .69% dibandingkan tahun 2006 ( 70. Kemampuan setiap penduduk dalam hal ini berbeda-beda dimana dalam kondisi krisis moneter seperti saat ini. Cakupan pelayanan kesehatan pada maskin berupa kunjungan rawat jalan sebanyak 194. Cakupan jaminan pemeliharaan kesehatan Keluarga Miskin dan Masyarakat Rentan terlindungi oleh JPK (subsidi Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah) di satu wilayah tertentu. dimana untuk tahun 2007 jumlah masyarakat miskin yang dengan kartu ASKESKIN yang mendapat pelayanan kesehatan mencapai 79. Namun demikian pada umumnya yang menjadikan permasalahan utama adalah masih rendahnya jangkauan program.2. Adapun pelaksanaannya bersama-sama dengan masyarakat. Masyarakat miskin yang terlindungi oleh JPK adalah masyarakat miskin yang telah mempunyai kartu sehat atau Asuransi Kesehatan Keluarga Miskin (Askeskin). preventif dan protektif. Di Kota Semarang sampai dengan tahun 2007 terdapat masyarakat miskin dan yang memiliki kartu ASKESKIN baru mencapai 175.39 IV.73%).4.716 jiwa (69. Pelayanan Kesehatan pada Keluarga Miskin Salah satu faktor yang menentukan bagi keberhasilan pelaksanaan pembangunan kesehatan adalah kemudahan di dalam akses terhadap pelayanan kesehatan yang ada.75%) dari 252.686 orang (110. IV. PENYEHATAN LINGKUNGAN Upaya penyehatan lingkungan dilaksanakan dengan lebih diarahkan pada peningkatan kualitas lingkungan yaitu melalui kegiatan bersifat promotif.99%) dan rawat inap 922 orang (0. diharapkan secara epidemiologi akan mampu memberikan kontribusi yang bermakna terhadap derajat kesehatan masyarakat. Untuk itu pemerintah memberikan bantuan/subsidi untuk pelayanan kesehatan bagi keluarga miskin atau Maskin. terdapat sebagian besar penduduk yang tidak mampu untuk menjangkau pelayanan kesehatan yang ada.

adalah Sedangkan partisipasi permasalahan utama dihadapi masyarakat masyarakat terhadap upaya penyehatan lingkungan yang masih sangat rendah. Nyamuk Aedes aegypti ini hidup dan berkembang biak pada tempat-tempat penampungan air bersih yang tidak langsung behubungan dengan tanah seperti bak mandi/wc. kaleng.70% dari . Salah satu upaya tersebut adalah program pemberantasan sarang nyamuk (PSN) melalui gerakan 3M (menguras. Dimana dari jumlah tersebut yang dilakukan pemeriksaan mengenai bebas jentik nyamuk Aedes hanya sejumlah 31. mengubur. Hal ini disebabkan karena keterbatasan alokasi dana. Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit endemis di wilayah kota Semarang.63%). jumlah rumah yang ada sebanyak 294. untuk itu diperlukan upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit menular untuk menurunkan resiko penularan dan kejadian sakit. dan tenaga guna menjangkau seluruh bangunan yang ada. dan lain-lain.276 buah (10. air tandon. Oleh karena itu rumah haruslah sehat dan nyaman agar penghuninya dapat berkarya untuk meningkatkan produktivitas hidup. Secara umum rumah dikatakan sehat apabila memenuhi beberapa kriteria. waktu.846 rumah (82. Namun demikian hasil yang didapatkan cukup baik dan sudah memenuhi target yaitu sebanyak 27. diantaranya adalah bebas dari jentik nyamuk.diakibatkan oleh keterbatasan yang sumber daya kesehatan. Tahun 2007 di Kota Semarang terdapat rumah/gedung.77%) dari 40. gentong. dan menutup) pada tempat-tempat yang potensial sebagai sarang nyamuk baik yang ada di dalam rumah maupun di lingkungan sekitarnya. sedangkan kategori rumah yang memenuhi syarat kesehatan sebanyak 33.892 rumah yang dilakukan pemeriksaan. Kota Semarang pada tahun 2007. ban bekas.1 Rumah Sehat Rumah merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia yang berfungsi sebagai tempat tinggal atau hunian dan sarana pembinaan keluarga. Lingkungan sehat merupakan salah satu pilar utama dalam pencapaian Indonesia Sehat 2010.115 buah rumah/bangunan dinyatakan bebas jentik nyamuk Aedes atau sejumlah 86. Arti bebas disini terutama pada bebas jentik nyamuk Aedes aegypti yang merupakan vektor dari penyakit demam berdarah dengue (DBD).3.351 buah. IV.

sarana transportasi. jumlah sehat 30 buah (60. Pengawasan sanitasi tempat umum bertujuan untuk mewujudkan kondisi tempat umum yang memenuhi syarat kesehatan agar masyarakat pengunjung terhindar dari kemungkinan bahaya penularan penyakit serta tidak menjadi sarang vektor penyakit yang dapat menimbulkan menyebabkan gangguan terhadap kesehatan masyarakat di sekitarnya.538 buah dan jumlah yang sehat 1.169 buah. jumlah diperiksa 1.2 Tempat – Tempat Umum dan Tempat Pengelolaan Makanan ( TTU dan TUPM) Tempat-tempat umum adalah tempat kegiatan bagi umum yang disediakan oleh badan – badan pemerintah. Data selengkapnya pada tabel 50.41 rumah/bangunan yang dilakukan pemeriksaan.06%) Jumlah pasar : 51 buah.3. jumlah diperiksa 50 buah. memiliki fasilitas sanitasi (jamban.79%.081 buah. IV. jumlah diperiksa 1. restoran/rumah makan dan pasar. Jumlah hotel : 83 buah. sarana ekonomi dan sosial. Keluarga dengan Kepemilikan Sarana Sanitasi Dasar Profil Kesehatan Kota Semarang Tahun 2007 menggunakan fasilitas umum tersebut untuk berbagai . IV. jumlah sehat 979 buah (83. Pengawasan sanitasi tempat umum dan pengelolaan makanan (TUPM) di Kota Semarang meliputi hotel.258 buah atau 81.00%) Jumlah restoran/rumah makan: 383 buah.3. tempat pembuangan sampah dan limbah) untuk kebersihan dan kesehatan di lingkungan.564 buah. Pengawasan sanitasi tempat umum meliputi sarana wisata. Tempat-tempat umum yang sehat berpengaruh cukup besar di masyarakat karena masyarakat kepentingan.3. swasta atau perorangan yang langsung digunakan oleh masyarakat yang mempunyai tempat dan kegiatan tetap. jumlah diperiksa 69 buah.tempat umum dan tempat pengelolaan makanan di Kota Semarang Tahun 2007 sebanyak 2. jumlah sehat 191 buah (76. sarana ibadah. jumlah sehat 58 buah (84. jumlah diperiksa 250 buah.40%) Jumlah TUPM lainnya : 1.75%) Jumlah tempat .

3. . Secara umum sumber penyediaan air bersih di Kota Semarang ini berasal dari ledeng / PDAM (60.2 Jamban Keberadaan jamban keluarga sangat penting dalam sebuah keluarga. kimiawi. sumur gali (27. sampah.21%).66%).3.3. Oleh karena itu air bersih harus selalu tersedia dalam jumlah yang cukup dan memenuhi syarat kesehatan (syarat fisik.902 KK (92. air limbah ). IV. Apabila dibandingkan dengan target Rencana Strategik tahun 2007 yaitu 83.91 %) dari 352. Pengelolaan sebuah jamban yang memenuhi syarat kesehatan diperlukan sebagai upaya untuk mencegah terjadinya penularan penyakit. sumur pompa tangan (10.929 KK yang ada.00%).61%). dan lainnya (1. Berdasarkan laporan puskesmas. Faktor yang turut mendukung pencapaian target tersebut yaitu meningkatnya pembangunan dan pengembangan perumahan yang memenuhi syarat kesehatan.94%.6%) maka target tersebut sudah dapat tercapai.3.191 KK telah memenuhi syarat jamban yang sehat (94. Upaya peningkatan kualitas air bersih akan meningkat apabila diikuti upaya perbaikan sanitasi (sarana pembuangan kotoran manusia. Apabila dibandingkan dengan target Renstra Kota Semarang ( 92. Pada tahun 2007 jumlah KK yang memiliki persediaan air bersih sebanyak 327. dimana sebagian besar pengelolaan sumber air bersih dilakukan oleh PDAM (Perusahaan Daerah Air Minum) Kota Semarang.IV.15%) dari 49. pada tahun 2007 diketahui bahwa 46. Selain itu adanya peran serta dan kesadaran sektor swasta penyedia air bersih yang meningkat berkenaan dengan kualitas air bersih. dan bakteriologi). maka cakupan keluarga yang telah memiliki jamban keluarga sudah memenuhi target tersebut.324 KK yang dilakukan pemeriksaan.936 KK telah memanfaatkan jamban keluarga dan 44.1 Persediaan Air Bersih Air bersih memiliki peranan penting dalam kehidupan manusia karena diperlukan untuk memenuhi sebagian besar kebutuhan hidup manusia.

3.3.3. untuk IV. dapur dan lain-lain bukan dari jamban atau peturasan.3 Pengolahan Air Limbah Rumah Tangga 000000017352474200aece1ce90000000467414d410000b18f0bfc6105000000206348524d00007a26000080840000fa0000008 d9fd5ce6ce03af218d5c8708771e6968887b488707978ead2ee761eea698dda26699420ba3769902b78198b66aaf9aae03f078e0 Dalam upaya mendukung terwujudnya kualitas lingkungan yang sehat 000000ffffff000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000003fffffffffffffffffffffff diperlukan pengelolaan air limbah yang sesuai standar dan memenuhi fffffffffffffffffffffffffffffffffff800001ffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffff000000fffffffffffffffffffffffffffffff syarat kesehatan. SPAL yang sehat hendaknya memenuhi persyaratan sebagai berikut : • • • • Tidak mencemari sumber air bersih (jarak dengan sumber air bersih minimal 10 meter Tidak menimbulkan genangan air yang dapat dipergunakan sarang nyamuk (diberi tutup yang cukup rapat) Tidak menimbulkan bau (diberi tutup yang cukup rapat) Tidak menimbulkan becek atau pandangan yang tidak menyenangkan (tidak bocor sampai meluap) Pengelolaan limbah di rumah tangga yang diperiksa pada tahun 2007 sebanyak 46.487 KK (88.4 Pembinaan Kesehatan Lingkungan pada Institusi Lingkungan merupakan salah faktor yang dapat berperan dalam peningkatan derajat kesehatan.14%). 6a7f667f6a7f667f6a7f667f6a7f667f6a7f667f6a7f667f6a7f667f6a7f66f84d000095459441954194419545944195416510bf7fb tempat cuci.649 KK dan yang memenuhi syarat kesehatan sebanyak 41.43 0000000b000000880000000c000000940000000d000000a000000013000000ac00000002000000e40400001e0000000800000 IV. Saluran Pembuangan Air Limbah (SPAL) adalah suatu 4a524a524a524a524a524a524a524a524a524a292500000000ff7fff7fff7fff7fff7fff7fff7fff7fff7fff7fff7fff7fff7fff7fff7f0000ff7 a7f667f6a7f667f6a7f667f6a7f667f6a7f667f6a7f667f6a7f667f6a7f667f6a7f667f6a7f667f6a00002f3194419545944195419441 bangunan yang digunakan untuk membuang air buangan kamar mandi.3. Oleh karena itu upaya pembinaan Profil Kesehatan Kota Semarang Tahun 2007 .93%). Jumlah ini telah melebihi target yang telah ditentukan dalam renstra 2007 (72.

dan yang telah dilakukan pembinaan sebanyak 670 tempat atau 74. sarana pendidikan sejumlah 909 tempat. dimana jumlah ini sudah melampaui target SPM Prop.000 penduduk. AKSES DAN MUTU PELAYANAN KESEHATAN Cakupan pelayanan kesehatan oleh penduduk dapat diperoleh dari data kunjungan rawat jalan dan rawat inap Puskesmas maupun Rumah Sakit. Pada tahun 2007 di Kota Semarang jumlah penduduk yang memanfaatkan pelayanan kesehatan rawat jalan di Puskesmas sebanyak 18. dan yang telah dibina sebanyak 167 tempat atau 71. dan yang telah dilakukan pembinaan sebanyak 162 tempat atau 87.79%. Cakupan Pelayanan Kesehatan .38%.kesehatan lingkungan selain dilakukan pada rumah tangga dan tempattempat umum.387 per 100. Jawa Tengah Tahun 2005 yaitu 1% untuk kunjungan rawat inap di sarana kesehatan (Puskemas dan Rumah Sakit).82%. Sedangkan untuk cakupan rawat inap (kunjungan pasien baru) di sarana pelayanan kesehatan pada tahun 2007 yaitu sebesar 10.000 penduduk dan rawat inap 10. IV.000 penduduk Untuk cakupan rawat jalan di Kota Semarang pada tahun 2007 yaitu sebesar 42.4. sedangkan untuk rawat inap Puskesmas yaitu sebesar 296 per 100.57%.83%). sarana ibadah sejumlah 896 tempat. maka pembinaan pada institusi telah memenuhi target tersebut (pencapaian 85. Peningkatan pencapaian cakupan ini didukung dengan adanya penambahan jumlah tenaga medis dan paramedis di sarana IV.77%.09%.4. Apabila dibandingkan dengan target pada renstra tahun 2007 yaitu 77%. Sedangkan pemanfaatan pelayanan kesehatan rawat jalan di Rumah Sakit yaitu sebanyak 24.1.000 penduduk. juga dilaksanakan pada beberapa institusi/sarana seperti: sarana kesehatan sejumlah 386 tempat. perkantoran sejumlah 186 tempat.437 per 100.36%. dan yang telah dilakukan pembinaan sebanyak 867 tempat atau 95. dan yang telah dilakukan pembinaan sebanyak 308 tempat atau 79. Dan sarana lain sejumlah 234 tempat. Cakupan ini sudah memenuhi target SPM Tahun 2005 sebesar 10%.277 per 100.

10% dengan jumlah tempat tidur sebanyak sebesar sebanyak 3. dan untuk mengukur mutu pelayanan Rumah Sakit. Pencapaian LOS RS tahun 2007 mencapai 6.39%. b.45 kesehatan. Sedangkan untuk data pemanfaatan Rumah Sakit di Kota Semarang dapat dilihat dari beberapa indikator kinerja Rumah Sakit yang meliputi : a. dimana angka ini sudah dapat mencapai standar yang ideal untuk Rumah Sakit. Manfaat LOS adalah untuk mengukur efisiensi pelayanan Rumah Sakit. dimana angka ini menunjukkan peningkatan dibandingkan tahun 2006 (LOS = 5.d 80%. RS yang nilai LOS 1-5 hari sebanyak 14 RS. Turn of Interval (TOI) adalah rata-rata tempat tidur tidak ditempati dengan standar ideal antara 1 – 3 hari. Prosentase BOR yang digunakan pada penderita Rawat Inap di Rumah Sakit se. Length Of Stay ( LOS) adalah rata-rata dalam 1 (satu) tempat tidur dihuni oleh 1 (satu) penderita rawat inap yang dihitung dalam hari dengan standar ideal antara 6 – 9 hari.1 menurun dari Profil Kesehatan Kota Semarang Tahun 2007 . 2 RS dengan LOS lebih dari 10 hari dan 3 RS tidak melaporkan data tersebut.43). c.434 buah. biaya yang terjangkau dalam pelayanan kesehatan (baik rawat jalan maupun rawat inap) yang disertai juga dengan peningkatan kualitas pelayanan kesehatan yang sesuai standar pelayanan yang telah ditetapkan. Cakupan pencapaian tersebut dapat diartikan bahwa penggunaan tempat tidur di RS di Kota Semarang sudah memenuhi standar ideal. Bed Occupation Rate (BOR).3. Manfaat Angka Penggunaan Tempat Tidur (BOR ) adalah untuk mengetahui tingkat pemanfaatan tempat tidur Rumah Sakit.Kota Semarang pada tahun 2007 mencapai 75. standar yang ideal untuk suatu Rumah Sakit adalah antara 70% s. maka terdapat peningkatan penggunaan tempat tidur di RS. Apabila dibandingkan dengan BOR tahun 2006 sebesar 61. Hal ini menunjukkan bahwa pemanfaatan tempat tidur pada Rumah Sakit di Kota Semarang telah dimanfaatkan secara optimal. TOI untuk Kota Semarang pada tahun 2006 sebesar 2.

NDR yang masih dapat ditolerir adalah kurang dari 25 per 1000 penderita keluar. Cakupan kunjungan ibu hamil K4 Kota Semarang pada tahun 2007 adalah 24.2. adalah angka kematian untuk tiaptiap 1000 penderita keluar maksimum adalah 45.1.5 menurun dari tahun 2006 yang mencapai 3. Gross Death Rate (GDR). e. Pelayanan Kesehatan Antenatal Cakupan pelayanan antenatal dapat dipantau melalui pelayanan kunjungan baru ibu hamil K1 untuk melihat akses dan pelayanan kesehatan ibu hamil sesuai standar paling sedikit empat kali (K4) dengan distribusi sekali pada triwulan pertama.2. IV. Pelayanan yang diberikan oleh petugas kesehatan pada ibu hamil yang berkunjung ke tempat pelayanan kesehatan atau antenatal care (ANC) meliputi penimbangan berat badan. Neath Death Rate (NDR).18.tahun 2006 yaitu 3. pemberian tablet besi.42 namun angka ini masih dalam batas standar ideal yang ditetapkan.4.73. Hal ini dapat menggambarkan bahwa pemakaian tempat tidur di Rumah Sakit sudah optimal. Semakin rendah NDR suatu Rumah Sakit. namun demikian secara keseluruhan pelayanan rumah sakit di Kota Semarang telah tergolong baik. GDR Kota Semarang pada tahun 2007 sebesar 3.04%) dimana pencapaian ini juga telah .4. Pencapaian NDR di Kota Semarang pada tahun 2007 sebesar 2. pemeriksaan kehamilannya. manfaat NDR adalah untuk mengetahui mutu pelayanan / perawatan Rumah Sakit.274 bumil (89. berarti bahwa mutu pelayanan / perawatan Rumah Sakit makin baik. d. sekali pada triwulan kedua dan dua kali pada triwulan ketiga.00 menurun dari tahun 2006 yaitu 2. Angka ini bisa untuk menilai mutu pelayanan jika angka kematian kurang dari 48 jam rendah. Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak IV. pemberian imunisasi TT dan konsultasi. Manfaat GDR (Gross Death Rate) untuk mengetahui mutu pelayanan / perawatan Rumah Sakit.

Secara keseluruhan angka tersebut telah memenuhi target yang telah ditentukan. Namun angka ini masih dibawah target Renstra Kota Semarang tahun 2007 sebesar 25%. Oleh karena itu pemberian TT merupakan keharusan Profil Kesehatan Kota Semarang Tahun 2007 .99%).069 bumil (102.543 bumil yang diperiksa. maka pencapaian K4 di Kota Semarang sudah melampaui target tersebut.08%) dengan yang tertinggi Puskesmas Bulu Lor (105. Keberhasilan pencapaian target tersebut dapat disebabkan oleh adanya persediaan tablet Fe yang mencukupi kebutuhan dan juga pelaksanaan kegiatan melalui koordinasi dan kerjasama dengan lintas program dan sektor terkait. Kasus anemia ibu hamil di Kota Semarang pada tahun 2007 yaitu sebanyak 1.240 bumil (88. Hal ini menunjukkan bahwa penjaringan pertama pada ibu hamil sudah dapat dilaksanakan sesuai target namun untuk penjaringan selanjutnya (Fe)3 90 tablet tidak dapat mencakup jumlah tersebut.436 bumil (19. yaitu untuk tablet Fe1 90% dan tablet Fe3 82%. Untuk itu diperlukan adanya upaya pencegahan dan penanganan terhadap permasalahan tersebut. Bila dibandingkan dengan target SPM Provinsi Jawa Tengah Tahun 2005 sebesar 78%. salah satunya melalui pemberian tablet besi (Fe)1 dan tablet besi (Fe)3.91%).04%) dari 7.96%) dan cakupan untuk tablet (Fe)3 sebanyak 24. Pencapaian melebihi target dikarenakan mobilitas penduduk di Kota Semarang yang cukup tinggi sehingga banyak penduduk luar wilayah yang menggunakan pelayanan kesehatan yang ada di wilayah tersebut. Cakupan K4 Puskesmas dari rentang antara yang terendah Puskesmas Mangkang (43. Anemi (kekurangan zat gizi besi) pada ibu hamil merupakan salah satu penyebab utama terjadinya kematian pada ibu melahirkan dan kematian bayi karena terjadinya perdarahan pada waktu melahirkan. Faktor pendukung dalam hal ini dapat disebabkan oleh meningkatnya kesadaran ibu hamil dalam memeriksakan kehamilannya ke sarana pelayanan kesehatan yang ada dan adanya dukungan peningkatan kualitas pelayanan ANC oleh petugas puskesmas. Pada tahun 2007 cakupan pemberian tablet (Fe)1 sebanyak 28. Dalam pelayanan ibu hamil (antenatal) baik pada K1 maupun K4 ibu hamil selain diberikan tablet Fe juga diberikan imunisasi TT sebagai upaya perlindungan ibu dan bayinya dari kemungkinan terjadinya Tetanus pada waktu persalinan.47 melampaui target yang ditetapkan dalam Renstra Tahun 2007 yaitu 86%.

akan tetapi untuk TT3 – TT5 untuk Tahun 2007 terdapat peningkatan dari Tahun 2006 ( TT3 – TT5 masing-masing 3% .155 (85. Hal ini disebabkan pemberian imunisasi TT pada Bumil dan juga pada Wanita Usia Subur (WUS) lebih diarahkan pada pemberian TT 5 dosis.926 (6.3 Ibu Hamil Resiko Tinggi dan Komplikasi .92%) dan TT5 384 orang (1.37%) dari 27.108 bumil (3. imunisasi TT3 sebanyak 2. Jumlah persalinan dengan pertolongan tenaga kesehatan di Kota Semarang pada tahun 2007 sebesar 22.06%).98%) dan imunisasi TT5 hanya mencapai 1. yaitu persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan (dokter spesialis kebidanan. Pertolongan Persalinan oleh Tenaga Kesehatan Upaya untuk menurunkan Angka Kematian Bayi dan Ibu Maternal. bidan. telah mencapai target yaitu 65%.2.4.090 bumil (71.543 bumil.2. pembantu bidan. Pencapaian ini didukung dengan tersedianya Bidan di seluruh Puskesmas dengan perbandingan Puskesmas dan Bidan yaitu 1 : 4. Dari data tersebut dapat diketahui bahwa untuk pelayanan imunisasi TT1 – TT2 pada Bumil di Tahun 2007 terjadi penurunan (Tahun 2006 TT1 – TT2 masing-masing 92% dan 85%).2.14%) dari jumlah perkiraan persalinan sebesar 26. salah satunya melalui persalinan yang sehat dan aman.958 WUS yang ada.021 kelahiran. TT4 256 orang (0. TT3 309 orang (1. dokter umum.96%). IV.189 bumil (65.3% .4.pada setiap ibu hamil. IV. Secara keseluruhan cakupan TT1 – TT5 WUS Tahun 2007 mengalami peningkatan apabila dibandingkan tahun sebelumnya. Pemberian imunisasi TT pada Bumil mencakup TT1 sebesar 20.53%). Angka ini sudah dapat memenuhi target Renstra yang telah ditentukan sebesar 86. TT2 1. Sedangkan untuk cakupan TT bagi Wanita Usia Subur (WUS) usia 15-39 tahun sebanyak 5 dosis dengan interval tertentu di Kota Semarang pada tahun 2007 yaitu TT1 2.11%). imunisasi TT4 sebanyak 1.55%).00%. masih belum memenuhi target yang ditentukan yaitu 95%.2%).86%). dan perawat bidan) maupun dengan dukun terlatih yang didampingi oleh tenaga kesehatan.943 orang (10. Disamping itu jumlah Rumah Sakit dan Rumah Bersalin di Kota Semarang yang telah mencukupi. imunisasi TT2 sebesar 18.552 orang (5.

buta senja.547 orang. Pemberian Vitamin A Kurang Vitamin A (KVA) masih merupakan masalah yang tersebar di seluruh dunia terutama di negara berkembang dan dapat terjadi pada semua umur terutama pada masa pertumbuhan. ibu hamil risiko tinggi yang dirujuk seluruhnya (100%) telah mendapatkan penanganan.49 Yang dimaksud dengan risiko tinggi pada ibu hamil adalah keadaan ibu hamil yang mengancam kehidupannya maupun janinnya. Salah satu program penanggulangan KVA yang telah dijalankan adalah dengan suplementasi kapsul Vitamin A dosis tinggi 2 kali per tahun pada Balita dan Ibu Nifas (Bufas)untuk mempertahankan bebas buta karena KVA dan mencegah berkembangnya kembali masalah Xerofthalmia dengan segala manifestasinya (gangguan penglihatan.2. Prosentase sasaran ibu hamil risiko tinggi adalah 20% dari ibu hamil yang ada di masyarakat. dan 820 ibu hamil risti yang dirujuk (32. dimana seharusnya bumil risiko tinggi seluruhnya dirujuk. Hal ini bisa disebabkan beberapa faktor seperti : Adanya bumil risiko tinggi yang langsung ditangani di rumah sakit sehingga tidak tercatat di puskesmas. Berdasarkan data yang ada. sehingga dapat menurunkan angka kesakitan dan kematian pada bayi dan anak.4. Balita yang dimaksud dalam program distribusi kapsul Vitamin A Profil Kesehatan Kota Semarang Tahun 2007 . Jumlah ini mengalami penurunan dibandingkan tahun 2006 yaitu ibu hamil risti / komplikasi yang ditemukan mencapai 2. interval dan tinggi badan.19%). dan bahkan kebutaan sampai kematian). Apabila dibandingkan dengan target Renstra tahun 2007 (100%).4. IV. Pada tahun 2007 ibu hamil risiko tinggi/ komplikasi yang ditemukan di Kota Semarang sebesar 3. Salah satu dampak kekurangan Vitamin A adalah kelainan pada mata yang umumnya terjadai pada anak usia 6 bulan – 59 bulan yang menjadi penyebab utama kebutaan di negara berkembang. paritas.29%). maka cakupan untuk ibu hamil risti yang dirujuk masih belum terpenuhi sesuai target. Bumil risiko tinggi dengan katagori ringan ditangani sendiri oleh puskesmas.366 orang dan bumil risti/ komplikasi yang dirujuk yaitu sebanyak 885 orang (26. Disamping itu pemantapan program distribusi kapsul Vitamin A dosis tinggi juga dapat mendorong tumbuh kembang anak serta meningkatkan daya tahan anakterhadap penyakit infeksi. misalnya umur.

diketahui bahwa cakupan pemberian suplementasi kapsul Vitamin A dosis tinggi pada bayi sebanyak 28. Bayi dan Balita a. dan adanya pemeriksaan kunjungan ke rumah oleh tenaga kesehatan bagi neonatus yang tidak dapat berkunjung ke puskesmas serta sistem pencatatan dan pelaporan (PWS KIA) yang sudah berjalan dengan baik. paling sedikit 4 kali. Apabila dibandingkan dengan target Renstra Tahun 2007 yaitu 87%. Keberhasilan pencapaian ini disebabkan : meningkatnya kesadaran masyarakat akan kesehatan neonatus. Kunjungan Bayi (1 .600 anak (100%) serta Bufas 25.634 bayi (100%). bayi.125 anak (94. Berdasarkan data yang diperoleh dari Puskesmas.89%) dimana jumlah ini .76%).5. IV.000 SI yang diberikan pada bayi berumur 6 – 11 bulan dan kapsul Vitamin A berwarna merah diberikan pada anak umur 12 – 59 bulan dan diberikan pada bulan Februari dan Agustus setiap tahunnya.12 bulan) Kunjungan bayi adalah kunjungan bayi (1 – 12 bulan) yang memperoleh pelayanan kesehatan sesuai dengan standar oleh tenaga kesehatan. dimana jumlah ini meningkat apabila Cakupan kunjungan neonatus tingkat Kota Semarang tahun 2007 dibandingkan dengan tahun 2006 sebanyak 23.2. Hasil cakupan kunjungan bayi di Kota Semarang pada tahun 2007 sebesar 22.40%).643 Kunjungan Neonatus (0 – 28 hari) (95.987 (92. sebesar 23.4. b. maka angka ini sudah melebihi target tersebut. Cakupan tersebut seluruhnya sudah memenuhi target Renstra Kota Semarang Tahun 2007 yaitu cakupan Vitamin A untuk bayi dan balita sebesar 92% dan untuk Bufas sebesar 84%. peningkatan pelayanan kesehatan terutama kesehatan anak (neonatus.adalah bayi berumur 6 – 11 bulan dan anak umur 12 – 59 bulan yang mendapat kapsul Vitamin A dosis tinggi. Balita sebanyak 93.18% (Puskesmas Mangkang). Kapsul Vitamin A dosis tinggi terdiri dari kapsul Vitamin A biru dengan dosis 100. Pelayanan Kesehatan Neonatal. Cakupan kunjungan neonatus dengan rentang antara yang terendah 65. balita) di Puskesmas.54%).79% (Puskesmas Karanganyar) dengan rentang tertinggi 123.178 orang (96.

Cakupan yang melebihi jumlah sasaran bayi (≥100%) dapat disebabkan oleh beberapa faktor yaitu pada saat penentuan jumlah sasaran melalui kegiatan pemantauan wilayah setempat (PWS) KIA belum mencakup jumlah seluruh bayi yang ada di wilayah tersebut atau karena penentuan target sasaran bayi terlalu rendah.91%. Data secara terperinci dapat dilihat pada tabel 18.487 bayi (95. pelayanan rujukan ke tingkat yang lebih mampu. motorik halus. kematian dan kecacatan bayi serta anak balita perlu dilaksanakan program imunisasi untuk penyakitpenyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I) seperti penyakit Profil Kesehatan Kota Semarang Tahun 2007 . c. Hasil cakupan deteksi dini tumbuh kembang (DDTK) anak balita dan pra sekolah di tingkat Kota Semarang pada tahun 2007 yaitu 68. stimulasi perkembangan anak balita dan prasekolah. monitoring pertumbuhan menggunakan Buku KIA/KMS dan pemantauan perkembangan (motorik kasar. Apabila dibandingkan dengan target Rencana Strategik Tahun 2007 (68%). Pelayanan DDTK anak balita dan prasekolah meliputi kegiatan deteksi dini masalah kesehatan anak menggunakan Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS).4. Pada tahun 2007 ditemukan 14 (empat belas) Puskesmas dengan cakupan kunjungan bayi sama dengan atau lebih dari 100% (data terlampir pada tabel 15). penanganan masalah pertumbuhan. paling sedikit 2 kali. dan target SPM Propinsi Jawa Tengah Tahun 2005 yaitu sebesar 65%. IV. Pelayanan Imunisasi Untuk menurunkan angka kesakitan.3.87%) namun cakupan ini sudah memenuhi target Renstra Kota Semarang Tahun 2007 sebesar 87%. Deteksi Dini Tumbuh Kembang Anak Balita dan Pra Sekolah Deteksi Dini Tumbuh Kembang (DDTK) anak balita dan pra sekolah adalah anak umur 1 – 6 tahun yang dideteksi dini tumbuh kembang sesuai dengan standar oleh tenaga kesehatan. penanganan penyakit sesuai MTBS.51 mengalami penurunan dari tahun 2006 yaitu 23. bahasa dan sosialisasi dan kemandirian). maka cakupan DDTK anak balita dan prasekolah di Kota Semarang sudah mencapai target tersebut.

Tahun 2007 jumlah desa/kelurahan yang sudah mencapai UCI dengan kriteria cakupan DPT 3. Idealnya c1c1c1c1c1c1c1c1c1c1c1c282b2b2b2b2b2b2b2b2b2b2b2b2b2b2b2b2b2b2b2b2b2b2a2d38343434343434343434343434343 bayi harus mendapat imunisasi dasar lengkap terdiri dari BCG 1 kali.412 bayi. Polio 4 dan Campak ≥ 80%. biasanya 424240e0a0a0a0a0a0a0a0a0a0a0a0a0a0a0a0a0a0a0a0a0a0a0a0a0a0a001c1c1c1c1c1c1c1c1c1c1c1c1c1c1c1c1c1c1c1c1c1c dilihat dari cakupan imunisasi DPT3. Untuk mengukur manajemen program / efisiensi program menggunakan angka drop out dengan menghitung selisih cakupan imunisasi DPT1 dengan cakupan imunisasi Campak.63%.04%) dan bayi yang telah memperoleh imunisasi campak sebesar 23.53%) dari 177 kelurahan yang ada.274 (91. DPT 3 424242424043232323232323232323232323232323232323232323232323232001c1c1c1c1c1c1c1c1c1c1c1c1c1c1c1c1c1c1 kali. Strategi operasional pencapaian cakupan tinggi dan merata dapat dilihat dari pencapaian Universal Child Immunization (UCI) desa/kelurahan. terutama dalam penangan col chain. jumlah ini meningkat dari Tahun 2006 yaitu 136 kelurahan (76. Difteri. . Polio 4 sebanyak 21. Tetanus. dan angka ini masih belum melampaui batas maksimal DO yaitu 10%.73. Program imunisasi dapat berjalan secara efektif dan memberikan dampak penurunan kejadian penyakit apabila kelengkapan imunisasi telah terlaksana dan mutu pelayanan imunisasi diterapkan sesuai standar. polio 4 dan Campak ≥ 80% sebanyak 139 kelurahan (78. 1212121212121212121b1c1c1c1c1c1c1c1c1c1c1c1c1c1c1c1c1c1c1c1c1c1c1d2a2b2b2b2b2b2b2b2b2b2b2b2b2b2b2b2b2b2 50e0a0a0a0a0a0a0a0a0a0a0a0a0a0a0a0a0a0a0a0a0a0a06010100000001310d08080808080808080808080808080808080707 Untuk menilai kelengkapan imunisasi dasar bagi bayi. Dari data tersebut maka cakupan imunisasi di Kota Semarang pada bayi telah dilaksanakan secara lengkap dan memenuhi target yang ada.80%). Polio dan campak. Hepatitis B. HB 3 kali dan campak 1 kali. Selain itu angka ini juga telah memenuhi target Renstra Kota Semarang Tahun 2007 sebesar 78%. Pertusis.472 anak (92. menurun dari Tahun 2006 yang mencapai 8.59%) dari sasaran sejumlah 25. Polio 4 kali. Angka Drop Out (DO) imunisasi dasar lengkap di Kota Semarang Tahun 2007 sebesar 7.00700000001000000400000000400000048000000080000005800000012000000680000000c000000800000000d0000008c0 c86a2765a54388d8d944b989a7f6ed721b0162b8e313ea3a7f252fe5f5456ddcf34eac6aec4b0c44d0f4970ac4ed3e75938432a16 fffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffe00007ffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffffe00007fffffffffffffffffffff TBC.37%). Cakupan bayi yang diimunisasi DPT3 pada tahun 2007 sebesar 23.864 anak (86.

5 Keluarga Berencana Profil Kesehatan Kota Semarang Tahun 2007 .607 siswa (97. BIAS Campak dilaksanakan pada bulan Agustus dengan sasaran siswa kelas I dengan hasil sebanyak 26.4 Pelayanan Kesehatan Pra Usia Lanjut (Usila) dan Usia Lanjut Pelayanan kesehatan pra usila dan usila yang dimaksudkan adalah penduduk usia 45 tahun ke atas yang mendapatkan pelayanan kesehatan sesuai standar oleh tenaga kesehatan baik di puskesmas maupun di Posyandu Kelompok Usia Lanjut. kelas III 23.214 siswa (97. Hasil kegiatan pelayanan kesehatan Pra Usila dan Usila di Kota Semarang pada tahun 2007 sebesar 69.25) terdiri atas pra usila (45 – 59 thn) sebanyak 40. Hasil pelaksanaan BIAS tahun 2007 di Kota Semarang meliputi BIAS Campak dan BIAS DT dan TT. jumlah ini meningkat dari tahun 2006 sebanyak 32.4.02%).82%). IV. Keaktifan petugas puskesmas dalam melakukan pembinaan dan pelayanan di dalam dan luar gedung terhadap kelompok usia lanjut turut mendukung pencapaian indikator tersebut.27%).037 orang. kelas II 25.85%) dimana seluruhnya juga telah memenuhi target yang ditentukan sebesar 95%.4. IV. BIAS DT dan TT dilaksanakan pada bulan Nopember dengan sasaran siswa kelas I divaksinasi DT dan kelas II dan III divaksinasi TT. program imunisasi juga melaksanakan program imunisasi tambahan seperti Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS).803 orang dan Usila (≥ 60 thn) sebanyak 29.841 siswa (97.53 Selain imunisasi rutin. Apabila dibandingkan dengan target SPM Tahun 2005 (20%) dan Renstra Tahun 2007 (55%) maka cakupan pelayanan kesehatan pada Pra Usila dan Usila di Kota Semarang sudah bisa melampaui target tersebut.381 (66.840 orang (80. dengan hasil : kelas I 26.551 (97%) telah memenuhi target minimal yaitu 85%.

Kondom .93%).MOP/MOW : 61.39% : 3.IUD . Peserta KB Baru Dari 33.Implant . Apabila dibandingkan dengan data tahun 2006.IUD .93%).30000000a40000000700000001000000400000000400000048000000080000005c000000120000006c0000000c00000084000 b38e404a4bee09520bfb6b5fda4647ea5ed3734ac9010198ba3acf33288f1efd44972f4753e94a9d663219c9ea202b03ad15e44c3 495859a96e6f6f7071727395969798999a4343434200010101015678797a7b9b9c9d9e9fa0a1a2a3a4a5a6a7a88a8bad8d8e7d8 000024000000180000000000803f00000000000000000000803f0000000000000000214007000c000000000000002b4000000 3d930000000a40000000700000001000000400000000400000048000000080000005c000000120000006c0000000c00000084 0880400000000000000c01e46020000000000000002000000000000000000803f0210c0db00000000000000ff08400c032c000 de4b4391548a8fcd209129c8dcea5645e32a26eae50ac1e8f6b45a7722d5fad38ca02240993490cc8a9166756ae478594f7d08a9 00000000000003e22803f11ea564491d220440400000023000000200000008e12803f00000000000000003e22803f11ea56449 Salah satu program pemerintah dalam upaya mengendalikan jumlah 10101010101010101010001b50100010101010101010101b65a5b6768696a6b6c6d8182838485868788898a8b8ca3a4a5a6a7 001000000180000000c000000000000025400000058000000d60100008702000003020000b50200000200000000000000000 0000000000001e4006000c00000000000000214005000c00000000000000344000000c000000000000001e4005000c0000000 kelahiran dan mewujudkan keluarga kecil yang sehat dan sejahtera yaitu 0442a40000024000000180000000000803f00000000000000000000803fab95f64200f820442b4000000c000000000000001e4 0000e0010000454d462b2b4000000c000000000000001e4006000c00000000000000214005000c0000000000000034400000 melalui konsep pengaturan jarak kelahiran dengan program Keluarga 000000000000000803fe8793c443cbe40440400000023000000200000000000803f00000000000000000000803fe8793c443cb Berencana (KB).43% 3.874 peserta KB Baru (13. Peserta KB Aktif Hasil pembinaan peserta KB Aktif selama tahun 2007 sebesar 188. sedangkan kontrasepsi pria merupakan yang paling sedikit digunakan yaitu kondom dan MOP.09% Dari keseluruhan peserta KB baru selama tahun 2007.06% : 6.33% : 4.13% : 12.Pil .Implant .Pil .194.Suntik .874 (13. pemakaian kontrasepsi suntik merupakan yang tertinggi karena sifatnya yang praktis dan juga cepat dalam mendapatkan pelayanannya. kontrasepsi suntik masih menduduki peringkat teratas. Sedang jumlah peserta KB aktif yang telah dibina sebesar 188. 5000c0000000000000008400204280000001c0000000210c0db0000000000000010000004420000044276e7a344c1b45d4434 000002a40000024000000180000000402013a00000000000000000402013a0000044200000442214007000c0000000000000 1.43%) dengan mix kontrasepsi sebagai berikut : . secara rinci mix kontrasepsi yang digunakan adalah sebagai berikut : .309 (77.43%) 2.48% : 7.92% : 20. jumlah PUS yang ada sebanyak 243.Kondom .MOP/MOW : 42. Hal ini disebabkan banyak suami . Yang menjadi peserta KB baru sebanyak 33.Suntik .82% : 5.16% : 4. Jumlah Pasangan Usia Subur (PUS) Pada tahun 2007.33% : 5.309 (77.69% : 5.

02d010c0004000000f0010d0007000000fc0200004d1a33000000040000002d010d0004000000f00106000500000009024d1a3 0000f00106000500000009024d4d80000500000001024d4d80000e00000024030500cc03ed02cc03eb01d103e701d103ea02cc 0012001c0012000b001200120012000900140012001200040000002d01030004000000f0010c001c000000fb02dfff000084038 0611001100040000002d010b00040000002d01080004000000f0010600040000002d010200040000002701ffff030000001e00 0000300000000000000000000000100020003000000000005000500000003000000030000000200000003000000000000000 0000000000080c0d64003020e00040001000000000000008085d14003020e00050000000000000000000044c54003020e000 33100000a00004000100010064100800000001000000010032100400000002003310000007100c00000000000000ffff09004 IV.4. Hal ini dimaksudkan agar kesehatan pekerja senantiasa terpelihara mulai awal bekerja hingga nanti pada akhir masa kerjanya sehingga dapat terhindar dari resiko penyakit akibat kerja (PAK). Umumnya pembinaan dan pelayanan kesehatan pada pekerja khususnya pekerja formal dilaksanakan oleh klinik perusahaan atau bekerja sama dengan sarana pelayanan kesehatan yang ada (Puskesmas. Pelayanan Kesehatan Pekerja Pelayanan kesehatan pada pekerja merupakan upaya untuk pemeliharaan kesehatan yang dapat mendukung peningkatan produktivitas pekerja.6 Kesehatan Kerja dan Kesehatan Institusi a. pemeriksaan berkala dan pemeriksaan pada akhir masa kerja. dimana biasanya pelayanan kesehatan dilaksanakan secara bertahap yaitu berupa pemeriksaan awal bagi calon pekerja.55 menganggap bahwa istri saja yang mempunyai kewajiban untuk 0000090000000130000009c00000002000000e40400001e0000000700000053704f6f4b7900001e0000000900000066405241 menggunakan kontrasepsi sebagai upaya pengaturan kelahiran. Profil Kesehatan Kota Semarang Tahun 2007 .

tetapi mereka tetap mendapatkan pelayanan kesehatan dengan cara membayar sendiri ataupun melalui kartu sehat maupun asuransi kesehatan keluarga miskin (Askeskin). Sedangkan untuk pekerja sektor informal masih belum banyak mendapatkan perhatian terutama dalam hal pelayanan kesehatan karena umumnya mereka bekerja secara mandiri diluar tanggung jawab suatu perusahaan/instansi. pencegahan dan penanggulangan dan penyalahgunaan NAPZA tahun 2007 sasarannya tidak hanya pada sekolah dan masyarakat saja melainkan juga pada masyarakat umum. Apabila dibandingkan dengan target Kota Semarang (20%). maka sektor informal merupakan bagian terbesar dari angkatan kerja.838 pekerja (82. namun belum dikaitkan dengan pekerjaannya. Kaitan Narkoba dengan anak sekolah/pelajar dewasa ini semakin meningkat.735 kegiatan penyuluhan keseluruhan.Rumah Sakit). Kondisi ini dapat disebabkan antara lain karena pada sebagian besar puskesmas kegiatan penyuluhan NAPZA yang dilaporkan yang hanya dilaksanakan pada forum resmi dengan sasaran anak sekolah/remaja saja sedangkan yang sifatnya non formal pada masyarakat yang berkunjung di puskesmas belum dilaporkan secara lengkap. Cakupan pelayanan kesehatan pekerja pada industri formal di Kota Semarang pada tahun 2007 sebanyak 240. Walaupun pekerja informal tidak berada dalam tanggung jawab suatu badan/instansi seperti pada pekerja formal. Cakupan pelayanan NAPZA pada tahun 2007 berupa kegiatan penyuluhan NAPZA oleh tenaga kesehatan.196 pekerja formal yang ada). Sedangkan untuk pelayanan kesehatan pada pekerja sektor informal dari 665. Jumlah ini diperoleh dari pekerja sektor formal yang datang untuk mendapatkan pelayanan kesehatan di puskesmas dengan fasilitas asuransi berupa ASKES maupun Jamsostek. dimana 88% pengguna narkoba menggunakan ganja. Selama ini mereka hanya memperoleh pelayanan kesehatan secara umum.530 pekerja yang terdata.61%) dari 1. angka ini masih jauh berada di bawah target tersebut. Apabila dibandingkan prosentase jumlah pekerja. kegiatan penyuluhan. yang mendapatkan pelayanan kesehatan sebanyak 551. 36% . baru mencapai 375 kegiatan (21.753 orang (79. P3 NAPZA Berdasarkan data laporan puskesmas.92%).14% dari 304. b.

Data dari pemelitian Country AHRN Indonesia .729 siswa (97. Hepatitis C. kulit. ketajaman mata. Profil Kesehatan Kota Semarang Tahun 2007 . Hal ini dapat disebabkan karena partisipasi dari Guru UKS dan kader kesehatan (dokter kecil) sudah jauh lebih baik dalam pelayanan kesehatan di sekolah dan tenaga kesehatan yang ada juga telah berperan secara aktif dalam upaya pembina Usaha Kesehatan Sekolah. BB. Penggunaan jarum suntik bersama dan bergiliran berpotensi untuk menularkan penyakit seperti HIV/AIDS. SLTP dan SLTA)pada tahun 2007 di Kota Semarang mencapai 99. lomba poster. Hasil cakupan pelayanan kesehatan pada anak sekolah (siswa TK. salah satunya seperti yang telah dilaksanakan oleh Dinas Kesehatan Kota Semarang bersama dengan Badan Narkotika Kota (BNK). paling sedikit 1 kali. pendengaran. Selain itu keterlibatan dan kerja sama lintas sektor yang erat antara Dinas Kesehatan dengan Dinas Pendidikan serta Kantor Departemen Agama juga turut mendukung keberhasilan program tersebut. Selain itu juga perlu adanya dukungan dari lintas sektor di tingkat Provinsi dan Pusat. Selain itu bentuk dukungan kegiatan lainnya dapat berupa : pentas seni. c. maka cakupan pelayanan tersebut telah memenuhi target. Penjaringan kesehatan pada anak sekolah meliputi pemeriksaan umum seperti : TB.57 menggunakan jarum suntik (data ILO 2005. Apabila kondisi tersebut tidak segera mendapatkan penanganan yang serius dan berkelanjutan maka jumlah kasus yang ada akan semakin meningkat.sekolah merupakan tempat yang aman untuk mendapatkan serta mengkonsumsi narkoba. maupun deteksi dini tes urine.08%). Pelayanan Kesehatan Anak Usia Sekolah Pelayanan Kesehatan Anak Sekolah meliputi pemeriksaan kesehatan siswa yang dilakukan oleh tenaga kesehatan atau tenaga terlatih (guru UKS/dokter kecil) melalui penjaringan kesehatan. dimana Dinas Kesehatan Kota Semarang juga termasuk dalam keanggotaan BNK dan berkoordinasi dengan BNK dalam kegiatan penyuluhan yang bekerja sama dengan tenaga puskesmas dan ibu-ibu PKK. gigi dan mulut). dikutip dari majalah forum edisi 6 Juli 2005). Untuk itu perlu adanya peningkatan kerja sama dan koordinasi dari jajaran instansi terkait. Apabila dibandingkan dengan target SPM tahun 2005 Propinsi Jawa Tengah (75%) dan Renstra tahun 2006 (60%).

IV.4.06%) yaitu 15 Rumah Sakit Umum (100%). Target Renstra untuk pelayanan kesehatan jiwa pada tahun 2007 yaitu 0. hal ini disebabkan beberapa faktor diantaranya yaitu : • Peningkatan kemampuan dokter dan tenaga medis dalam • pelayanan kesehatan jiwa dalam bentuk pelatihan dan refreshing Petugas kesehatan telah memiliki pengetahuan dan kemampuan melakukan deteksi dini dari gejala yang menjurus pada gangguan kejiwaan.73%). maka jumlah ini sudah mencapai target tersebut.4 Upaya Kesehatan Khusus IV.4. 1 RS Jiwa (100%). Data selengkapnya dapat dilihat pada tabel 29.4.4% dari kunjungan kasus di sarana kesehatan.4. Pelayanan kesehatan jiwa di Kota Semarang pada umumnya telah memenuhi target yang telah ditetapkan.4. Apabila dibandingkan dengan target SPM 2005 (40%).590 dengan rata-rata per bulan sebesar 799 tindakan dan pencabutan gigi . Pelayanan kesehatan jiwa pada Puskesmas dan Rumah Sakit di Kota Semarang pada tahun 2007 menunjukkan pencapaian sebesar 0. • • Perbaikan sistem pencatatan dan pelaporan serta monitoring dan evaluasi program kesehatan jiwa Adanya klinik kesehatan jiwa di sarana kesehatan (Rumah Sakit Umum) IV. 9 RS Khusus (100%) dan 11 puskesmas (29.4.4.42%.2 Pelayanan Kesehatan Jiwa Selain menyelenggarakan pelayanan kesehatan secara umum.1 Sarana Kesehatan dengan Kemampuan Gawat Darurat Sarana kesehatan dengan kemampuan gawat darurat yang dapat diakses oleh masyarakat di Kota Semarang pada tahun 2007 sebanyak 62 sarana kesehatan (58.3 Pelayanan Kesehatan Gigi dan Mulut Kegiatan pelayanan kesehatan gigi dan mulut yang dilaksanakan di puskesmas pada tahun 2007 yaitu tumpatan gigi tetap sebanyak 9. IV. sarana kesehatan yang ada juga memberikan pelayanan terhadap kesehatan jiwa.

96%) kantong darah dari kebutuhan 71. Di dalam pelayanan UKGS di sekolah dasar. dengan rasio untuk tambal dibandingkan pencabutan gigi sebesar 0. yaitu :  Belum adanya program upaya pelayanan kesehatan di Dinas Kesehatan yang menangani secara langsung bidang/ unit tansfusi darah. Untuk itu perlu adanya peningkatan pelayanan kesehatan gigi mulut khususnya pada upaya kesehatan secara promotif dan preventif. Terdapat beberapa faktor yang menyebabkan belum tercapinya target untuk pelayanan transfusi darah. Hasil kegiatan pelayanan transfusi darah di Kota Semarang pada tahun 2007 sebesar 66.   Rumah sakit yang memiliki Bank Darah Rumah Sakit masih terbatas Partisipasi masyarakat sebagai pendonor masih relatif terbatas sehingga belum mampu memenuhi kebutuhan darah yang ada.4.526 kantong darah.250 dengan rata-rata per bulan sebesar 854.4. Profil Kesehatan Kota Semarang Tahun 2007 .94. namun angka tersebut juga belum memenuhi target yang telah ditetapkan. terdapat 8.59 tetap sebanyak 10. Selain itu pencatatan dan pelaporan pelayanan kesehatan gigi dan mulut masih belum terlaksana dengan baik sehingga sering terjadi keterlambatan dalam pelaporannya.63%. Jumlah ini mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya yang mencapai 88. dilaksanakan pemeriksaan kesehatan gigi pada 41. Hal ini disebabkan kesehatan gigi dan mulut masih belum menjadi alasan penting masyarakat untuk mendapatkan pelayanan kesehatan. maka pencapaian pelayanan kesehatan gigi dan mulut belum mencapai target. IV.52%). Jawa Tengah tahun 2005 untuk kegiatan pelayanan transfusi darah dalam hal pemenuhan kebutuhan permintaan darah yaitu 90%.317 siswa (26. Apabila dibandingkan dengan target tahun 2007 perbandingan tumpatan dan pencabutan gigi tetap minimal > 1. selain PMI.4 Pelayanan Transfusi Darah Target SPM Prop.114 siswa (62.182 siswa perlu perawatan dan yang telah mendapatkan perawatan sebanyak 5. peningkatan kemampuan tenaga kesehatan serta peningkatan kualitas pencatatan dan pelaporan yang ada.489 (92.50%).

5.5.5. Jika dibandingkan dengan kebutuhan obat generik maka pemenuhannya sebesar 110.IV. Ketersediaan dan Kebutuhan Obat Esensial dan Obat Generik IV. IV. Ketersediaan Obat Narkotika dan Psikotropika Data yang dilaporkan untuk ketersediaan obat narkotika dan psikotropika berasal dari 37 puskesmas. Berarti secara umum kebutuhan obat di Kota Semarang telah terpenuhi (tersedia). OBAT DAN PERBEKALAN KESEHATAN LAINNYA Berdasarkan data ketersediaan obat pada tahun 2007 yang berasal dari laporan Instalasi Perbekalan Farmasi Kota Semarang bersumber dari laporan 37 Puskesmas se-Kota Semarang. sedangkan jenis obat yang tersedia di Puskesmas rata-rata 145 item. Penulisan Resep Obat Generik Berdasarkan laporan dari Rumah Sakit milik Pemerintah. sedangkan data dari Rumah Sakit Pemerintah lainnya belum tercakup dalam pelaporan yang ada. dimana data yang ada hanya berasal dari Rumah Sakit milik Pemerintah Kota Semarang yaitu Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Semarang. Sedangkan jumlah total jenis obat generik yang tersedia sebanyak 145 item. Artinya secara umum kebutuhan obat generik di Puskesmas seluruhnya dapat dipenuhi (tersedia).2. Hal dapat disebabkan cakupan yang ada masih belum bisa menggambarkan kegiatan penulisan resep obat generik yang dilakukan oleh Rumah Sakit Pemerintah se-Kota Semarang. Apabila dibandingkan dengan target SPM Provinsi Jawa Tengah yaitu sebesar 80%. Khusus untuk obat generik.5. maka pencapaian ini masih belum memenuhi target. kebutuhan total jenis obat generik seluruh Puskesmas Tahun 2007 adalah rata-rata 131 item. IV.55%. diketahui bahwa jumlah penulisan resep obat generik di fasilitas sarana kesehatan tersebut sebesar 52.81%) dari total penulisan resep yang ada yaitu sejumlah 94.816 (55.639 resep. Jumlah seluruh kebutuhan obat narkotika dan psikotropika di Kota Semarang tahun 2007 yaitu rata-rata 3 item per Puskesmas sedangkan untuk ketersediaan obat narkotika dan .87%. Jika dibandingkan antara kebutuhan obat dengan persediaan yang ada diperoleh ketersediaan obat secara keseluruhan sebesar 112.1.3. jumlah jenis obat yang dibutuhkan oleh Puskesmas rata-rata 129 item.

Informasi tenaga kesehatan diperlukan bagi perencanaan dan pengadaan tenaga serta pengelolaan kepegawaian. Rumah Sakit.6. Tenaga Kesehatan Penyelenggaraan upaya kesehatan tidak akan berjalan dengan baik jika tidak didukung oleh ketersediaan sumber daya manusia yang berkualitas. yang diharapkan mampu bekerja secara profesional dan selalu berusaha untuk mengembangkan kemampuannya dalam rangka mewujudkan pelayanan kesehatan yang optimal pada masyarakat. Apabila dibandingkan antara kebutuhan dan ketersediaan obat narkotika dan psikotropika maka diperoleh capaian rata-rata sebesar 122.61 psikotropika yaitu sebesar 4 item.552 1 2 Dokter Spesialis Dokter Umum 0 5 2 106 577 312 24 71 59 1. Kesulitan memperoleh data ketenagaan yang mutakhir disebabkan antara lain karena sifat data ketenagaan yang selalu berubah terus-menerus sehingga sistem pencatatan dan pelaporan belum dapat ditampilkan secara lengkap. Hal ini berarti untuk obat golongan narkotika dan psikotropika di Puskesmas dapat terpenuhi sesuai kebutuhan.058 Profil Kesehatan Kota Semarang Tahun 2007 .6. SUMBER DAYA KESEHATAN IV.32%.1. dan Dinas Kesehatan Kota Semarang sebagai berikut: Tabel m : Data Tenaga Kesehatan di Kota Semarang Tahun 2007 No Jenis Tenaga Kesehatan Unit Kerja Jumlah DKK Puskesmas RSU/RS RSB Khusus Lainnya Institusi Diknakes /Diktat Sarana Kesh Lain 662 1. Sesuai dengan Visi Dinas Kesehatan Kota Semarang yaitu “Terwujudnya Masyarakat Kota Metropolitan yang Sehat Didukung dengan Profesionalisme dan Kinerja yang Tinggi” maka diperlukan peningkatan kuantitas dan kualitas sumber daya manusia (SDM) dibidang kesehatan. IV. akurat dan sistematis. Sebagai gambaran hasil pendataan tenaga kesehatan melalui Profil Kesehatan Kota Semarang Tahun 2007 yang berada di Puskesmas.

469 00040000002d010d00050000000102ffffff00050000000902000000000700000016044c04930600000000040000002d010000 4 Perawat 4 132 2. Tenaga Gizi Tenaga Terapi Fisik 0 0 54 0 Tenaga Keteknisian Medik 0 42 301 0 Sumber : Sub Bag Kepegawaian dan Seksi Perijinan Tenaga Kesehatan Rasio tenaga kesehatan Kota Semarang (puskesmas.P erbandingan T enaga K esehatan B erdasar J enisnya T ahun 2006 0000000d0000009400000013000000a000000002000000e40400001e00000009000000416c6c2075736572000020001e00000 433 3 Dokter Gigi 5 62 90 1 275 01340188013301880133018d013101920130019201300198012e019d012d019d012d01a2012b01a2012b01a8012a01ae01280 022002f0022002f0022002e8021f02e8021f02e0021f02d8021f02d8021f02d0021f02c8021f02c8021f02c1021e02b9021e02b9 2.211 48 74 2d403d70205000000090200000000040000000201010013000000320acb03f4020800000041706f74656b6572160012001100 Sarjana 85 22596573223b224e6f221e041a00a5001500002254727565223b2254727565223b2246616c7365221e041400a6000f0000224f 5 Keperawatan 0 1 82 2 0 0000000000000000261002000c0051100800000100000000000034100000241002000300251020000202010000000000d8fff 8021000000000000e000e010000000000010f2008021000010000000e00ff000000000000010f0008021000020000000e00ff00 548 6 7 8 9 10 11 12 13 Bidan 3 6 3 8 28 4 158 43 0 36 5 43 205 269 37 23 86 96 28 12 34 0 0 12 154 135 277 0 0 0 12 0 465 351 67 119 155 66 343 Tenaga Farmasi Sarjana Farmasi & Apoteker Tenaga Sanitarian Kesehatan Masy. Rumah Sakit dan .

5/100.000 penduduk jumlah Bidan sebesar 37 per 100. d.000 penduduk) (target IS 2010 : 117.000 penduduk) (target IS 2010 : 22/100. Data secara lengkap dapat dilihat pada tabel 54 – tabel 59. e.000 penduduk) i. Tenaga Gizi dan Tenaga Sanitasi.000 penduduk jumlah Dokter Spesialis sebesar 46 per 100. j.6.000 penduduk jumlah Dokter Gigi sebesar 30 per 100. Dokter Spesialis.000 penduduk) (target IS 2010 : 6/100. Tenaga Kefarmasian.000 penduduk jumlah Tenaga Kesehatan Masyarakat sebesar 8 per 100. f. Dokter Gigi).000 penduduk jumlah Tenaga Gizi sebesar 11 per 100. jumlah Tenaga Sanitasi sebesar 4 per 100.000 penduduk Dari data tersebut diatas maka dapat dilihat bahwa jumlah tenaga kesehatan rata-rata sudah memenuhi target yang ditetapkan dalam Indonesia Sehat 2010 seperti : Tenaga Medis (Dokter Umum.000 penduduk jumlah tenaga teknisi medis sebesar 28 per 100.000 penduduk) (target IS 2010 : 10/100.000 penduduk jumlah Perawat sebesar 175 per 100.000 penduduk) . g.000 penduduk) (target IS 2010 : 40/100. IV. c. Tenaga Kesehatan Masyarakat. Namun juga masih terdapat tenaga kesehatan yang jumlahnya masih belum sesuai dengan target (kebutuhan) yang ada yaitu : Tenaga Bidan. h. jumlah Dokter Umum sebesar 107 per 100. Tenaga Keperawatan.000 penduduk (target IS 2010 : 40/100.2 Sarana Kesehatan Untuk mewujudkan pelayanan kesehatan yang optimal bagi masyarakat perlu didukung oleh adanya sarana kesehatan yang memadai Profil Kesehatan Kota Semarang Tahun 2007 (target IS 2010 : 40/100.000 penduduk) (target IS 2010 : 11/100.000 penduduk jumlah Tenaga Farmasi sebesar 57 per 100. b.000 penduduk) (target IS 2010 : 100/100.63 Dinas Kesehatan Kota Semarang) dibandingkan dengan jumlah penduduk kota Semarang tahun 2007 dapat diperoleh data sebagai berikut: a.

37 Puskesmas (11 Puskesmas Perawatan dan 26 Puskesmas Non Perawatan). telah terdapat beberapa sarana pelayanan kesehatan yang telah dilengkapi oleh fasilitas laboratorium kesehatan dan 4 (empat) spesialis dasar. Sarana Pelayanan Kesehatan dengan Laboratorium Kesehatan dan 4 spesialis dasar. Desa Siaga. 37 Puskesmas Keliling. 4 Rumah Sakit Ibu dan Anak. Kondisi yang ada di Kota Semarang pada tahun 2007. Rumah Sakit Khusus 5 buah yang memiliki laboratorium kesehatan serta 37 puskesmas se-Kota Semarang telah seluruhnya dilengkapi oleh fasilitas laboratorium kesehatan sederhana Sarana kesehatan dengan kemampuan gawat darurat yang dapat diakses oleh masyarakat di Kota Semarang pada tahun 2007 sebanyak 62 sarana kesehatan (58.06%) yaitu 15 Rumah Sakit Umum (100%). maka jumlah ini sudah mencapai target tersebut. 316 Apotek. Sarana kesehatan dasar yang ada di Kota Semarang pada tahun 2006 terdiri dari : 15 Rumah Sakit Umum. dalam upaya meningkatkan mutu pelayanan kesehatan kepada masyarakat. 33 Puskesmas Pembantu. Sarana kesehatan tersebut terdiri dari : 15 Rumah Sakit Umum dengan fasilitas laboratorium kesehatan dan 4 spesialis dasar.dan memiliki kualitas pelayanan yang baik.541 praktek dokter swasta perorangan dan 220 praktek pengobat tradisional. Data selengkapnya dapat dilihat pada tabel 29. Sebuah desa dikatakan menjadi desa siaga apabila desa tersebut telah memiliki sekurang-kurangnya sebuah Pos Kesehatan Desa (Poskesdes). 2. 1 Rumah Sakit Jiwa. 9 RS Khusus (100%) dan 11 puskesmas (29. diketahui bahwa sarana kesehatan yang memiliki laboratorium kesehatan sebanyak 62 buah (100%) dan yang memberikan pelayanan 4 spesialis dasar sebesar 15 buah (24. 78 Toko Obat.19%). Jumlah desa siaga yang ada di Kota Semarang Tahun 2007 sebanyak 48 desa. 1 RS Jiwa (100%). Kedepan desa siaga akan terus dikembangkan baik dari segi kuantitas maupun kualitas guna memeratakan pelayanan kesehatan dasar kepada . Data secara lengkapnya dapat dilihat pada tabel 61. 264 Balai Pengobatan/Klinik 24 Jam. 20 praktek dokter bersama spesialis. Apabila dibandingkan dengan target SPM 2005 (40%).73%). merupakan desa yang penduduknya memiliki kesiapan sumber daya dan kemampuan serta kemauan untuk mencegah dan mengatasi masalah-masalah kesehatan secara mandiri. 4 Rumah Sakit Bersalin.

-.254.65 masyarakat dan pada akhirnya diharapkan dapat mengatasi berbagai masalah kesehatan yang ada. Data secara lengkap dapat dilihat pada tabel 60.(3. 98.(95.730.000.500. 276.463.yaitu 7.404.500. sumber APBN sebesar Rp.309..6.073. Alokasi dana ini terbagi atas: sumber APBD Kota Semarang sebesar Rp. Profil Kesehatan Kota Semarang Tahun 2007 .915.. Anggaran Kesehatan Alokasi anggaran kesehatan untuk Kota Semarang pada tahun 2007 sebesar Rp.326.163.09%.573.300.28%). Total APBD Dinas Kesehatan dari total APBD Kota Semarang sebesar Rp. 1.000.773. sumber APBD Propinsi Rp.(0.272. 94.3.758. 74.meningkat dari tahun 2006 yaitu sebesar Rp.24%)..44%). IV. 3..

000 penduduk.BAB V KESIMPULAN Berbagai upaya yang telah dilaksanakan dalam pembangunan kesehatan. BP4 dan Rumah Sakit) penemuan penderita TB Paru BTA positif pada tahun 2007 sebanyak 747 orang mengalami penurunan bila dibandingkan tahun 2006 (901 orang) f.6 per 1.746 kelahiran hidup. e.11 per 1. Secara umum upaya-upaya yang telah dilakukan dalam pembangunan kesehatan telah menunjukkan hasil yang cukup baik. Keberhasilan maupun kekurangan dalam pencapaian upaya-upaya pembangunan kesehatan di Kota Semarang selama tahun 2007 adalah sebagai berikut : a. Berdasarkan data laporan triwulan (Puskesmas.02 pddk). Penderita diare di Kota Semarang pada tahun 2007 sebanyak 29.000 KH. upaya pelayanan kesehatan.746 orang.8 per 1. Berdasarkan laporan Puskesmas dan Rumah Sakit jumlah kematian ibu maternal di Kota Semarang pada tahun 2007 sebanyak 20 orang dengan jumlah kelahiran hidup sebanyak 24.sehingga didapatkan Angka Kematian Bayi (AKB) sebesar 18.000 penduduk. Hasil-hasil kegiatan pembangunan kesehatan di 16 kecamatan di Kota Semarang selama periode 1 (satu) tahun tergambar dalam Profil Kesehatan Kota Semarang tahun 2007. b. namun masih ada beberapa program kesehatan yang belum mencapai hasil yang optimal. sarana kesehatan dan sumber daya kesehatan. Sedangkan untuk kematian Balita di Kota Semarang Tahun 2007 sebanyak 113 anak sehingga Angka Kematian Balita (AKABA) Kota Semarang diperoleh sebesar 4. c. antara lain upaya peningkatan dan perbaikan terhadap derajat kesehatan masyarakat. . jumlah kasus malaria pada tahun 2007 ditemukan 34 orang (API = 0.943 penderita dengan angka kesakitan sebesar 20. Penyakit DBD di Kota Semarang pada tahun 2007 mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya yaitu dari 1. Berdasarkan hasil Survei Kesehatan Daerah (SURKESDA) jumlah kematian bayi yang terjadi di Kota Semarang Tahun 2007 sebanyak 466 dari 24.845 kasus menjadi 2. Berdasarkan laporan Puskesmas. d.924 kasus sehingga diperoleh angka kesakitan DBD sebesar 19.64 per 10.000 KH.02 pddk) meningkat dari tahun sebelumnya yaitu 27 orang (API = 0.

penderita kusta di Kota Semarang yang dilaporkan dari 16 kecamatan sebanyak 34 orang mengalami peningkatan dari 14 orang pada tahun 2006. g. meningkat dari tahun 2006 yang hanya mencapai 2. Meningitis ( 1 kejadian) dan Campak (1 kejadian). terbanyak pada golongan umur 5 -15 thn sebanyak 6 kasus. 42 orang BP4 dan 33 orang dari LSM). AMI 2. yaitu terdiri dari penderita Kusta tipe MB = 27 orang dan PB = 7 orang. Keracunan Makanan (5 kejadian). kasus Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah ( Angina Pektoris 3. dan Difteri 29 kasus.537 kasus. Tetanus Neonatorum dan Polio di Kota Semarang Tahun 2007 adanya kasus.75 per 100. Kasus AFP yang ditemukan di Kota Semarang tahun 2007 sebanyak 11 kasus. l. 1-4 thn sebanyak 5 kasus sehingga untuk tahun 2007 diperoleh AFP rate sebesar 2. Kanker Serviks 4. Data kasus penyakit tidak menular tahun 2007 di Kota Semarang : Kasus penyakit kanker yang ditemukan sebanyak 10. Profil Kesehatan Kota Semarang Tahun 2007 tidak ditemukan . Sedangkan untuk kasus AIDS ditemukan sebanyak 33 kasus meningkat dari tahun 2006 yang mencakup 25 kasus. Kasus pneumonia di Kota Semarang pada tahun 2007 mencapai 3. sehingga diperoleh IR untuk tahun 2007 sebesar 219.088 kasus.807 kasus.844 kasus.67 dimana terdapat peningkatan dari tahun sebelumnya. meningkat dari tahun sebelumnya sebanyak 8 kasus. Kanker Hepar 434 kasus.958 kasus ) m.000 penduduk ) k. Jumlah kasus penyakit menular yang dapat dicegah dengan imunisasi tertinggi yaitu Campak 343 kasus.286 penderita. Dilaporkan pada tahun 2007 di Kota Semarang terjadi Kejadian Luar Biasa (KLB) sebanyak 33 kejadian yaitu : Difteri (26 kejadian). Pada tahun 2007.000 balita h.230 penderita. Kanker Paru 256 kasus) . Jumlah kasus HIV (+) yang ditemukan tahun 2007 sebanyak 18 orang dan dari hasil kegiatan VCT tahun 2007 ditemukan 195 kasus (120 orang dari klinik VCT. i.129 kasus . Hipertensi 54. j.780 kasus dan Stroke 2.000 ( target ≥ 2/100. Jumlah kasus Infekasi Menular Seksual (IMS) di Kota Semarang pada tahun 2007 berdasarkan laporan Puskesmas mencapai 550 kasus. Diabetes Mellitus sebanyak 50.88 per 10.Hepatitis B 457 kasus sedangkan untuk penyakit lainnya seperti Pertusis.171 kasus ( Kanker Payudara 4. Tetanus.

237 jiwa (5.869 jiwa (20.62%) dari total jumlah penduduk .725 RT (5. n.07% (9. Pada tahun 2007 di Kota Semarang dari sampling 84. meningkat dari tahun sebelumnya yaitu 133 bayi (0. dengan perincian : • • • • Peserta ASKES Peserta BAPEL Peserta JAMSOSTEK Peserta Dana Sehat : 239. Sedangkan jumlah Balita yang datang dan ditimbang (D) di posyandu dari seluruh balita yang ada 115.77%) dari 40. terjadi kematian akibat KLB Difteri (1 orang).75%) dari 252.129 bayi ) yang hanya mencapai 4.65%) dan 307 Posyandu mandiri (20. p.380 jiwa (1.846 rumah (82.579 masyarakat miskin yang ada t.Dari kasus KLB yang ada.775 anak (80. Berdasarkan laporan puskesmas.351 buah. jumlah penduduk yang tercakup dalam dalam berbagai JPK (Jaminan Pemeliharaan Kesehatan) sebesar 254.892 rumah yang dilakukan pemeriksaan . Pada tahun 2007 Kota Semarang jumlah rumah yang ada sebanyak 294.99%) : 65.55%).96%) o.61%) r. Posyandu yang ada di Kota Semarang berjumlah 1.281 bayi (38.97%) sehingga jumlah total posyandu yang tergolong purnama dan mandiri adalah 946 posyandu (64. Pada tahun 2007 di Kota Semarang menunjukkan jumlah Bayi Lahir Hidup sebanyak 24.82%) dengan rincian jumlah balita yang naik berat badannya sebanyak 74.400 anak (S) yaitu sejumlah 93. Berdasarkan hasil laporan puskesmas tahun 2007.480 rumah tangga yang diperiksa diperoleh hasil yaitu Rumah Tangga yang berperilaku hidup bersih dan sehat sebanyak 68.716 jiwa (69.28%) s.482 jiwa (19. terdiri dari 639 posyandu purnama (43.17%) dan Bawah Garis Merah (BGM) sebanyak 897 anak (0.67%. sedangkan kategori rumah yang memenuhi syarat kesehatan sebanyak 33.43%) : 15.972 jiwa (2. terdiri dari strata utama 63. Di Kota Semarang sampai dengan tahun 2007 terdapat masyarakat miskin dan yang memiliki kartu ASKESKIN baru mencapai 175.083 RT (75%) strata paripurna 4.92%) : 35.59%) q.464 buah.44%).746 bayi dan jumlah Balita yang ada (S) sebesar 115.53%). pemberian ASI Ekslusif mengalami penurunan dari tahun 2006 40.272 anak (80. Untuk kasus bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) pada tahun 2007 yaitu sebanyak 137 bayi (0.400 anak.

Pencapaian hasil kinerja Rumah Sakit di Kota Semarang meliputi : BOR (67.437 per 100.926 (6.98%) dan imunisasi TT5 mencapai 1.93%).06%).189 bumil (65.82%.96%) • Cakupan TT bagi Wanita Usia Subur (WUS) yaitu TT1 2.15%) dari 49.487 KK (88.069 bumil (102. NDR (2. Pelayanan kesehatan Ibu dan Anak : • • • Cakupan kunjungan ibu hamil K4 Kota Semarang pada tahun 2007 adalah 24. x.929 KK yang ada.04%) Cakupan pemberian tablet (Fe)1 sebanyak 28.55%).37%) dari 27.543 bumil. LOS (5.277 per 100. TT4 256 orang (0. GDR (3.324 KK yang dilakukan pemeriksaan.69 u. TT2 1.96%) dan cakupan untuk tablet (Fe)3 sebanyak 24.649 KK dan yang memenuhi syarat kesehatan sebanyak 41. Sedangkan pemanfaatan pelayanan kesehatan rawat jalan di Rumah Sakit yaitu sebanyak 24.00).7) .081 buah. w.090 bumil (71. Pada tahun 2007 di Kota Semarang jumlah penduduk yang memanfaatkan pelayanan kesehatan rawat jalan di Puskesmas sebanyak 18.20) . imunisasi TT2 sebesar 18.tempat umum dan tempat pengelolaan makanan di Kota Semarang Tahun 2007 sebanyak 2. imunisasi TT4 sebanyak 1.240 bumil (88. Untuk cakupan rawat jalan di Kota Semarang pada tahun 2007 yaitu sebesar 42.000 penduduk.91 %) dari 352. Jumlah tempat .108 bumil (3.936 KK telah memanfaatkan jamban keluarga dan 44.943 orang (10. TT3 309 orang (1.53%).TOI (2.86%). jumlah diperiksa 1.387 per 100. imunisasi TT3 sebanyak 2. Pengelolaan limbah di rumah tangga yang diperiksa sebanyak 46. sedangkan untuk rawat inap Puskesmas yaitu sebesar 296 per 100.92%) dan TT5 384 orang (1.902 KK (92.000 penduduk.274 bumil (89. Sedangkan untuk cakupan rawat inap (kunjungan pasien baru) di sarana pelayanan kesehatan pada tahun 2007 yaitu sebesar 10.60) .11%).5) .000 penduduk dan rawat inap 10. Keluarga dengan kepemilikan sarana sanitasi dasar yaitu : persediaan air bersih sebanyak 327. y.91%) Pemberian imunisasi TT pada Bumil mencakup TT1 sebesar 20. v.57%.552 orang (5.79%.000 penduduk.258 buah atau 81.538 buah dan jumlah yang sehat 1.958 WUS yang ada Profil Kesehatan Kota Semarang Tahun 2007 .191 KK telah memenuhi syarat jamban yang sehat (94. 46.

61%) dari 1.656 (43.93%).412 bayi Hasil kegiatan pelayanan kesehatan Pra Usila dan Usila di Kota Semarang pada tahun 2005 sebesar 19.155 (85.021 kelahiran • Pada tahun 2007 ibu hamil risiko tinggi/ komplikasi yang ditemukan di Kota Semarang sebesar 3.14% dari 304. Balita sebanyak 93.54%) Hasil cakupan kunjungan bayi di Kota Semarang pada tahun 2007 sebesar 22.04%) dan bayi yang telah memperoleh imunisasi campak sebesar 23.39%) aa.838 pekerja (82.76%).91%.321 (41. z. yang mendapatkan pelayanan kesehatan sebanyak 551. Pada tahun 2007.37%).472 anak (92.14%) dari jumlah perkiraan persalinan sebesar 26.92%) cc. Sedang jumlah peserta KB aktif yang telah dibina sebesar 188.987 (92.366 orang dan bumil risti/ komplikasi yang dirujuk yaitu sebanyak 885 orang (26. baru mencapai 375 kegiatan (21. jumlah PUS yang ada sebanyak 243.194. Cakupan pelayanan kesehatan pekerja pada industri formal di Kota Semarang pada tahun 2007 sebanyak 240. Cakupan bayi yang diimunisasi DPT3 pada tahun 2007 sebesar 23.29%) • Cakupan pemberian suplementasi kapsul Vitamin A dosis tinggi pada bayi sebanyak 28.643 (95.196 pekerja formal yang ada).99%) dan Usila (≥ 60 thn) sebanyak 9.530 pekerja yang terdata.89%) Hasil cakupan deteksi dini tumbuh kembang (DDTK) anak balita dan pra sekolah di tingkat Kota Semarang pada tahun 2007 yaitu 68.61%) terdiri atas pra usila (45 – 59 thn) sebanyak 9.43%) bb.274 (91. Cakupan pelayanan NAPZA pada tahun 2007 berupa kegiatan penyuluhan NAPZA oleh tenaga kesehatan.753 orang (79.634 bayi (100%). • • • Cakupan kunjungan neonatus tingkat Kota Semarang tahun 2007 sebesar 23.864 anak (86.735 kegiatan penyuluhan keseluruhan .874 (13.59%) dari sasaran sejumlah 25. Polio 4 sebanyak 21.665 (39.309 (77.178 orang (96. Yang menjadi peserta KB baru sebanyak 33. Sedangkan untuk pelayanan kesehatan pada pekerja sektor informal dari 665.• Jumlah persalinan dengan pertolongan tenaga kesehatan di Kota Semarang pada tahun 2007 sebesar 22.600 anak (100%) serta Bufas 25.

81%) dari total penulisan resep yang ada yaitu sejumlah 94.71 dd. jj.96%) kantong darah dari kebutuhan 71. Rasio tenaga kesehatan Kota Semarang (puskesmas.94 hh. Hasil cakupan pelayanan kesehatan pada anak sekolah (siswa TK.06%) yaitu 15 Rumah Sakit Umum (100%). Untuk obat generik. Hasil kegiatan pelayanan transfusi darah di Kota Semarang pada tahun 2007 sebesar 66.489 (92. 9 RS Khusus (100%) dan 11 puskesmas (29.08% ee. sehingga diperoleh pemenuhan sebesar 110. Rumah Sakit dan Dinas Kesehatan Kota Semarang) dibandingkan dengan jumlah penduduk kota Semarang tahun 2007 dapat diperoleh data sebagai berikut: • jumlah Dokter Umum sebesar 107 per 100.250 dengan rata-rata per bulan sebesar 854.639 resep. Jumlah penulisan resep obat generik di fasilitas sarana kesehatan tersebut sebesar 52. Data ketersediaan obat pada tahun 2007 bersumber dari laporan 37 Puskesmas se-Kota Semarang.816 (55.73%) ff. sedangkan jenis obat yang tersedia di Puskesmas rata-rata 145 item sehingga diperoleh ketersediaan obat secara keseluruhan sebesar 112. Sedangkan jumlah total jenis obat generik yang tersedia sebanyak 145 item.590 dengan rata-rata per bulan sebesar 799 tindakan dan pencabutan gigi tetap sebanyak 10. 1 RS Jiwa (100%).87%. dengan rasio untuk tambal dibandingkan pencabutan gigi sebesar 0. jumlah jenis obat yang dibutuhkan oleh Puskesmas rata-rata 129 item. Sarana kesehatan dengan kemampuan gawat darurat yang dapat diakses oleh masyarakat di Kota Semarang pada tahun 2007 sebanyak 62 sarana kesehatan (58. Kegiatan pelayanan kesehatan gigi dan mulut yang dilaksanakan di puskesmas pada tahun 2007 yaitu tumpatan gigi tetap sebanyak 9.729 siswa (97.55%.000 penduduk Profil Kesehatan Kota Semarang Tahun 2007 . kebutuhan total jenis obat generik seluruh Puskesmas Tahun 2007 adalah rata-rata 131 item. Jumlah seluruh kebutuhan obat narkotika dan psikotropika di Kota Semarang tahun 2007 yaitu rata-rata 3 item per Puskesmas sedangkan untuk ketersediaan obat narkotika dan psikotropika yaitu sebesar 4 item ll. SLTP dan SLTA)pada tahun 2007 di Kota Semarang mencapai 99. gg.42%. Pelayanan kesehatan jiwa pada Puskesmas dan Rumah Sakit di Kota Semarang pada tahun 2007 menunjukkan pencapaian sebesar 0.526 kantong darah ii. kk.

000 penduduk) jumlah Bidan sebesar 37 per 100.000 penduduk (target IS 2010 : 40/100.5/100.000 penduduk) jumlah tenaga teknisi medis sebesar 28 per 100. 37 Puskesmas (11 Puskesmas Perawatan dan 26 Puskesmas Non Perawatan). . 2.000 penduduk) jumlah Tenaga Kesehatan Masyarakat sebesar 8 per 100.541 praktek dokter swasta perorangan dan 220 praktek pengobat tradisional nn.000 penduduk) jumlah Tenaga Gizi sebesar 11 per 100.773.000 penduduk (target IS 2010 : 10/100.000 penduduk (target IS 2010 : 40/100.915. 4 Rumah Sakit Bersalin. 316 Apotek.000 penduduk (target IS 2010 : 22/100.000 penduduk) • • jumlah Tenaga Sanitasi sebesar 4 per 100. 33 Puskesmas Pembantu.163.000 penduduk) jumlah Dokter Gigi sebesar 30 per 100.-.573. 98.000 penduduk) jumlah Tenaga Farmasi sebesar 57 per 100.000 penduduk) jumlah Perawat sebesar 175 per 100. 20 praktek dokter bersama spesialis. 37 Puskesmas Keliling.000 penduduk (target IS 2010 : 11/100. 78 Toko Obat.000.Sarana kesehatan dasar yang ada di Kota Semarang pada tahun 2007 terdiri dari : 15 Rumah Sakit Umum.758 meningkat dari tahun 2006 yaitu sebesar Rp.000 penduduk mm.000 penduduk) • • • • • • • jumlah Dokter Spesialis sebesar 46 per 100. Alokasi anggaran kesehatan untuk Kota Semarang pada tahun 2007 sebesar Rp. 1 Rumah Sakit Jiwa. 264 Balai Pengobatan/Klinik 24 Jam.000 penduduk (target IS 2010 : 117.000 penduduk (target IS 2010 : 100/100. 4 Rumah Sakit Ibu dan Anak. 74.000 penduduk (target IS 2010 : 6/100.(target IS 2010 : 40/100.