TUGAS KELOMPOK ETIKA PROFESI

COPYRIGHT (HAK CIPTA)

KELOMPOK : VANESSA APRILIA – B - 2006110024 VENI VERONIKA - B – 2006110036

i

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL DAFTAR ISI PENGANTAR

i ii iii

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Pengertian Hak Cipta 1.2 Sejarah Hak Cipta

1 1 2

BAB II ISI MATERI 2.1 Hukum yang Mengatur Hak Cipta di Indonesia 2.2 Perolehan Hak Cipta 2.3 Jangka Waktu Perlindungan Hak Cipta 2.4 Pendaftaran Hak Cipta di Indonesia 2.5 Perkecualian dan Batasan Hak Cipta 2.6 Kritik Atas Konsep Hak Cipta 2.7 Penjelasan Mengenai Copyleft 2.8 Tindakan Pelanggaran Hak Cipta 2.9 Perlindungan Hukum Hak Kekayaan Intelektual di Era Digital

4 4 4 6 6 7 10 11 14 17

BAB III KESIMPULAN DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

23 iv v

ii

PENGANTAR

Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1982 tentang Hak Cipta, merupakan undang-undang hak cipta yang pertama di Indonesia. Namun melalui beberapa perubahan, undang-undang hak cipta yang berlaku di Indonesia saat ini ialah Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2002. Menurut undang-undang ini, hak cipta

adalah "hak eksklusif bagi pencipta atau penerima hak untuk mengumumkan atau memperbanyak ciptaannya atau memberikan izin untuk itu dengan tidak mengurangi pembatasan-pembatasan menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku" (pasal 1 butir 1).

Kami memilih topik mengenai hak cipta, karena kami merasa bahwa pada saat ini, terutama di Indonesia banyak terjadi pelanggaran hak cipta, contohnya pembajakan vcd, dvd, cd, mp3, software, dll. mengetahui lebih dalam mengenai hak cipta. Karena itu kami, merasa perlu

Dengan dibuatnya makalah ini, kami mengharapkan pembaca dapat lebih memahami tentang hak cipta, khususnya yang ada di Indonesia. Seperti dalam hal sejarah hak cipta, hukum yang mengatur hak cipta di Indonesia, perolehan hak cipta, jangka waktu perlindungan hak cipta, pendaftaran hak cipta di Indonesia,

perkecualian dan batasan hak cipta, tindakan pelanggaran hak cipta.

Dalam kesempatan ini, kami ingin mengucapkan terima kasih kepada dosen kami, Ibu Rini Astuti, selaku dosen mata kuliah Etika Profesi, atas kesempatan dan kepercayaan yang telah diberikan kepada kami untuk membuat makalah ini.

Akhir kata, kami menyadari bahwa tak ada gading yang tak retak. Demikian pula halnya dengan makalah ini. Oleh karena itu, kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi kesempurnaan makalah ini.

iii

BAB I PENDAHULUAN

1.1

Pengertian Hak Cipta

Lambang hak cipta internasional :

Hak cipta adalah hak eksklusif Pencipta atau Pemegang Hak Cipta untuk mengatur penggunaan hasil penuangan gagasan atau informasi tertentu. Pada dasarnya, hak cipta merupakan "hak untuk menyalin suatu ciptaan". Hak cipta dapat juga memungkinkan pemegang hak tersebut untuk membatasi penggandaan tidak sah atas suatu ciptaan. Pada umumnya pula, hak cipta memiliki masa berlaku tertentu yang terbatas.

Menurut Undang-undang Hak Cipta yang berlaku di Indonesia, yaitu UndangUndang Nomor 19 Tahun 2002, pengertian hak cipta adalah "hak eksklusif bagi pencipta atau penerima hak untuk mengumumkan atau memperbanyak ciptaannya atau memberikan izin untuk itu dengan tidak mengurangi pembatasan-pembatasan menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku" (pasal 1 butir 1). Hak cipta berlaku pada berbagai jenis karya seni atau karya cipta atau "ciptaan". Ciptaan tersebut dapat mencakup puisi, drama, serta karya tulis lainnya, film, karya-karya koreografis (tari, balet, dan sebagainya), komposisi musik, rekaman suara, lukisan, gambar, patung, foto, perangkat lunak komputer, siaran radio dan televisi, dan (dalam yurisdiksi tertentu) desain industri. Hak cipta merupakan salah satu jenis hak kekayaan intelektual, namun hak cipta berbeda secara mencolok dari hak kekayaan intelektual lainnya (seperti paten, yang memberikan hak monopoli atas penggunaan invensi), karena hak cipta bukan merupakan hak monopoli untuk melakukan sesuatu, melainkan hak untuk mencegah orang lain yang melakukannya.

1

1.2 Sejarah Hak Cipta Penerapan copyright, atau hak untuk mengcopy dan memperbanyak sebuah karya cipta, mungkin pertama kali dilakukan pada tahun 1557. Ketika itu Kerajaan Inggris memberi hak eksklusif kepada perusahaan penerbitan untuk mencetak karya tulis. Lalu pada tahun 1790 pemerintah Amerika merilis First United States Copyright Act (14 year term). Copyright diciptakan sejalan dengan penemuan mesin cetak. Sebelum penemuan mesin ini oleh Gutenberg, proses untuk membuat salinan dari sebuah karya tulisan memerlukan tenaga dan biaya yang hampir sama dengan proses pembuatan karya aslinya. Sehingga, kemungkinan besar para penerbitlah, bukan para pengarang, yang pertama kali meminta perlindungan hukum terhadap karya cetak yang dapat disalin. Awalnya, hak monopoli tersebut diberikan langsung kepada penerbit untuk menjual karya cetak. Baru ketika peraturan hukum tentang copyright mulai diundangkan pada tahun 1710 dengan Statute of Anne di Inggris, hak tersebut diberikan ke pengarang, bukan penerbit. Peraturan tersebut juga mencakup perlindungan kepada konsumen yang menjamin bahwa penerbit tidak dapat mengatur penggunaan karya cetak tersebut setelah transaksi jual beli berlangsung. Selain itu, peraturan tersebut juga mengatur masa berlaku hak eksklusif bagi pemegang copyright, yaitu selama 28 tahun, yang kemudian setelah itu karya tersebut menjadi milik umum. Berne Convention for the Protection of Artistic and Literary Works ("Konvensi Bern tentang Perlindungan Karya Seni dan Sastra" atau "Konvensi Bern") pada tahun 1886 adalah yang pertama kali mengatur masalah copyright antara negara-negara berdaulat. Dalam konvensi ini, copyright diberikan secara otomatis kepada karya cipta, dan pengarang tidak harus mendaftarkan karyanya untuk mendapatkan copyright. Segera setelah sebuah karya dicetak atau disimpan dalam satu media, si pengarang otomatis mendapatkan hak eksklusif copyright terhadap karya tersebut dan juga terhadap karya derivatifnya, hingga si pengarang secara eksplisit menyatakan sebaliknya atau hingga masa berlaku copyright tersebut selesai. 2

Undangundang Nomor 12 Tahun 1997. Pada tahun 1982. 3 . Ratifikasi tersebut diwujudkan dalam bentuk Undang-undang Nomor 7 Tahun 1994. Pada tahun 1997. yang mencakup pula Agreement on Trade Related Aspects of Intellectual Propertyrights . dan karsa bangsa asing tanpa harus membayar royalti. yang merupakan undang-undang hak cipta yang pertama di Indonesia.TRIPs ("Persetujuan tentang Aspek-aspek Dagang Hak Kekayaan Intelektual").Konsep hak cipta di Indonesia merupakan terjemahan dari konsep copyright dalam bahasa Inggris (secara harafiah artinya "hak salin"). Pada tahun 1958. Perubahan undang-undang tersebut juga tak lepas dari peran Indonesia dalam pergaulan antarnegara. cipta. Pemerintah Indonesia mencabut pengaturan tentang hak cipta berdasarkan Auteurswet 1912 Staatsblad Nomor 600 tahun 1912 dan menetapkan Undang-undang Nomor 6 Tahun 1982 tentang Hak Cipta. Perdana Menteri Djuanda menyatakan Indonesia keluar dari Konvensi Bern agar para intelektual Indonesia bisa memanfaatkan hasil karya. Undang-undang tersebut kemudian diubah dengan Undang-undang Nomor 7 Tahun 1987. dan pada akhirnya dengan Undang-undang Nomor 19 Tahun 2002 yang kini berlaku. pemerintah meratifikasi kembali Konvensi Bern melalui Keputusan Presiden Nomor 18 Tahun 1997 dan juga meratifikasi World Intellectual Property Organization Copyrights Treaty ("Perjanjian Hak Cipta WIPO") melalui Keputusan Presiden Nomor 19 Tahun 1997. pemerintah meratifikasi pembentukan Organisasi Perdagangan Dunia (World Trade Organization – WTO). Pada tahun 1994.

yaitu yang berlaku saat ini.1 Hukum yang Mengatur Hak Cipta di Indonesia Hukum yang mengatur hak cipta biasanya hanya mencakup ciptaan yang berupa perwujudan suatu gagasan tertentu dan tidak mencakup gagasan umum. keaslian. Di Indonesia. 4 . Penegakan hukum atas hak cipta biasanya dilakukan oleh pemegang hak cipta dalam hukum perdata.2 Perolehan Hak Cipta Setiap negara menerapkan persyaratan yang berbeda untuk menentukan bagaimana dan bilamana suatu karya berhak mendapatkan hak cipta. di Inggris misalnya. masalah hak cipta diatur dalam Undang-undang Hak Cipta. dan usaha". suatu ciptaan harus mengandung faktor "keahlian. gaya. Sanksi pidana atas pelanggaran hak cipta di Indonesia secara umum diancam hukuman penjara paling singkat satu bulan dan paling lama tujuh tahun yang dapat disertai maupun tidak disertai denda sejumlah paling sedikit satu juta rupiah dan paling banyak lima miliar rupiah. sementara ciptaan atau barang yang merupakan hasil tindak pidana hak cipta serta alat-alat yang digunakan untuk melakukan tindak pidana tersebut dirampas oleh Negara untuk dimusnahkan (UU 19/2002 bab XIII). atau teknik yang mungkin terwujud atau terwakili di dalam ciptaan tersebut. Sanksi pidana secara umum dikenakan kepada aktivitas pemalsuan yang serius. Undang-undang Nomor 19 Tahun 2002. namun kini semakin lazim pada perkara-perkara lain. fakta.BAB II ISI MATERI 2. konsep. 2. namun ada pula sisi hukum pidana.

seni ukir. terdapat perbedaan penerapan prinsip tersebut antara lembaga pemerintah dan lembaga swasta. pewayangan. perwajahan (lay out) karya tulis yang diterbitkan. pantomim. Pemegang hak cipta bisa jadi adalah orang yang memperkerjakan pencipta dan bukan pencipta itu sendiri bila ciptaan tersebut dibuat dalam kaitannya dengan hubungan dinas. pamflet. atau surat). bunga rampai (misalnya buku yang berisi kumpulan karya tulis. program komputer. alat peraga yang dibuat untuk kepentingan pendidikan dan ilmu pengetahuan. Prinsip ini umum berlaku. seni rupa dalam segala bentuk (seperti seni lukis. yaitu sebagai bukti hak cipta yang sah. lagu atau musik dengan atau tanpa teks. misalnya pada medium tertentu (seperti lukisan. dan database dilindungi sebagai ciptaan tersendiri tanpa mengurangi hak cipta atas ciptaan asli (UU 19/2002 pasal 12). dan seni terapan). pendaftaran ciptaan (sesuai dengan yang dimungkinkan oleh hukum yang berlaku pada yurisdiksi bersangkutan) memiliki keuntungan. Ciptaan hasil pengalihwujudan seperti terjemahan. misalnya dalam hukum Inggris (Copyright Designs and Patents Act 1988) dan Indonesia (UU 19/2002 pasal 8). suatu hak cipta atas suatu ciptaan diperoleh tanpa perlu melalui pendaftaran resmi terlebih dahulu. kolase.Pada sistem yang juga berlaku berdasarkan Konvensi Bern. peta. himpunan lagu yang direkam dalam satu media. seni batik (dan karya tradisional lainnya seperti seni songket dan seni ikat). 5 . serta komposisi berbagai karya tari pilihan). gambar. kuliah. dan tidak termasuk desain industri (yang dilindungi sebagai kekayaan intelektual tersendiri). pita video. Ciptaan yang dilindungi hak cipta di Indonesia dapat mencakup misalnya buku. seni patung. ceramah. foto. pidato. seni pahat. sinematografi. drama. drama musikal. saduran. Namun demikian. walaupun suatu ciptaan tidak perlu didaftarkan dulu untuk melaksanakan hak cipta. koreografi. bila gagasan ciptaan sudah terwujud dalam bentuk tertentu. seni kaligrafi. fotografi. tari. Dalam undang-undang yang berlaku di Indonesia. arsitektur. partitur lagu. pemegang hak cipta sudah berhak atas hak cipta tersebut. tafsir.

atau tanpa batas waktu untuk hak moral pencantuman nama pencipta pada ciptaan dan untuk hak cipta yang dipegang oleh Negara atas folklor dan hasil kebudayaan rakyat yang menjadi milik bersama (UU 19/2002 bab III dan pasal 50). hak cipta tepat mulai habis masa berlakunya pada akhir tahun bersangkutan. atau sepanjang hidup penciptanya ditambah 70 tahun.4 Pendaftaran Hak Cipta di Indonesia Di Indonesia.2. jangka waktu perlindungan hak cipta secara umum adalah sepanjang hidup penciptanya ditambah 50 tahun atau 50 tahun setelah pertama kali diumumkan atau dipublikasikan atau dibuat. Di Amerika Serikat misalnya. Namun demikian. Masa berlaku tersebut juga dapat bergantung pada apakah ciptaan tersebut diterbitkan atau tidak diterbitkan. jangka waktu berlakunya hak cipta biasanya sepanjang hidup penciptanya ditambah 50 tahun. kecuali 20 tahun setelah pertama kali disiarkan untuk karya siaran. masa berlaku hak cipta semua buku dan ciptaan lain yang diterbitkan sebelum tahun 1923 telah kadaluwarsa. pendaftaran ciptaan bukan merupakan suatu keharusan bagi pencipta atau pemegang hak cipta. dan bukan pada tanggal meninggalnya pencipta. yang kini berada di bawah Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia. dan timbulnya perlindungan suatu ciptaan dimulai sejak ciptaan itu ada atau terwujud dan bukan karena pendaftaran. 6 . Secara umum. surat pendaftaran ciptaan dapat dijadikan sebagai alat bukti awal di pengadilan apabila timbul sengketa di kemudian hari terhadap ciptaan. pendaftaran hak cipta diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual (Ditjen HKI). Di Indonesia. Di kebanyakan negara di dunia.3 Jangka Waktu Perlindungan Hak Cipta Hak cipta berlaku dalam jangka waktu berbeda-beda dalam yurisdiksi yang berbeda untuk jenis ciptaan yang berbeda. 2. Sesuai yang diatur pada bab IV Undang-undang Hak Cipta.

Melihat hasil pengumuman dan/atau perbanyakannya. hakim di AS seringkali mempertimbangkan empat hal untuk menyelesaikan perselisihan yang berkaitan dengan fair use tersebut. Apabila suatu ciptaan belum pernah dipublikasikan oleh penciptanya. Di AS sendiri tidak ada kriteria yang pasti untuk menentukan suatu pengumuman dan/atau perbanyakan ciptaan oleh pihak lain itu dapat dianggap fair use. Menilai aspek publisitas ciptaan. dalam praktek.Pencipta atau pemilik hak cipta dapat mendaftarkan langsung ciptaannya maupun melalui konsultan HKI. maka kemungkinan besar hakim akan memutuskan bahwa pengumuman/perbanyakan ciptaan oleh pihak lain itu dapat dianggap fair use. Namun. nilai estetika. Penjelasan prosedur dan formulir pendaftaran hak cipta dapat diperoleh di kantor maupun situs web Ditjen HKI. "Daftar Umum Ciptaan" yang mencatat ciptaan-ciptaan terdaftar dikelola oleh Ditjen HKI dan dapat dilihat oleh setiap orang tanpa dikenai biaya. Contoh perkecualian hak cipta adalah doktrin fair use atau fair dealing yang diterapkan pada beberapa negara yang memungkinkan perbanyakan ciptaan tanpa dianggap melanggar hak cipta. 2. 7 . pemahaman atau sudut pandang baru atas sebagian atau seluruh ciptaan yang diumumkan/diperbanyak oleh pihak lain tersebut. ekspresi. Apabila ada informasi. Permohonan pendaftaran hak cipta dikenakan biaya (UU 19/2002 pasal 37 ayat 2).5 Perkecualian dan Batasan Hak Cipta Perkecualian hak cipta dalam hal ini berarti tidak berlakunya hak eksklusif yang diatur dalam hukum tentang hak cipta. 2. maka kemungkinan besar hakim akan memutuskan bahwa pengumuman/perbanyakan ciptaan oleh pihak lain itu bukan termasuk fair use. yaitu : 1.

Kadang hanya dengan mempertimbangkan dua hal saja hakim sudah memiliki keyakinan untuk memutuskan apakah tindakan tersebut dapat dianggap fair use. kegiatan dalam lingkup pendidikan dan ilmu pengetahuan. penilaian hakim memang tidak selalu menggunakan empat hal di atas seluruhnya. dan nama penerbit jika ada. judul atau nama ciptaan. Pemakaian ciptaan tidak dianggap sebagai pelanggaran hak cipta apabila sumbernya disebut atau dicantumkan dengan jelas dan hal itu dilakukan terbatas untuk kegiatan yang bersifat nonkomersial termasuk untuk kegiatan sosial. Kepentingan yang wajar dalam hal ini adalah "kepentingan yang didasarkan pada keseimbangan dalam menikmati manfaat ekonomi atas suatu ciptaan". Dalam Undang-undang Hak Cipta yang berlaku di Indonesia. namun kalau bagian kecil itu merupakan ciri khas dari suatu ciptaan. penyebutan atau pencantuman sumber ciptaan yang dikutip harus dilakukan secara lengkap. 4. beberapa hal diatur sebagai dianggap tidak melanggar hak cipta (pasal 14–18). kegiatan penelitian dan pengembangan. Apabila pengumuman/perbanyakan suatu ciptaan oleh pihak lain mengakibatkan kerugian materiil bagi pencipta atau kehilangan peluang untuk mendapatkan keuntungan (opportunity lost). kemungkinan besar hakim akan memutuskan bahwa pengumuman/perbanyakan bagian dari suatu ciptaan oleh pihak lain itu bukan termasuk fair use. misalnya. dengan mencantumkan sekurang-kurangnya nama pencipta. 8 . Khusus untuk pengutipan karya tulis. dengan ketentuan tidak merugikan kepentingan yang wajar dari penciptanya. Dalam praktek. Menilai kualitas bagian ciptaan yang diambil. maka kemungkinan besar hakim akan memutuskan bahwa pengumuman/perbanyakan ciptaan oleh pihak lain itu bukan termasuk fair use. Artinya. Termasuk dalam pengertian ini adalah pengambilan ciptaan untuk pertunjukan atau pementasan yang tidak dikenakan bayaran.3. Menilai dampak pengumuman/perbanyakan ciptaan terhadap hak ekonomi pencipta. Meskipun bagian yang diambil dari suatu ciptaan hanya sebagian kecil saja.

yaitu tidak berhak cipta. Hak cipta foto umumnya dipegang fotografer. UU Hak Cipta Indonesia secara khusus mengatur hak cipta atas potret dalam pasal 19–23.19 Tahun 2002 pasal 13.Selain itu. ataupun menimbulkan masalah kesukuan atau ras. seorang pemilik (bukan pemegang hak cipta) program komputer dibolehkan membuat salinan atas program komputer yang dimilikinya. ataupun melarang penyebaran ciptaan "yang apabila diumumkan dapat merendahkan nilai-nilai keagamaan. berada dalam domain umum. 9 . pidato kenegaraan atau pidato pejabat Pemerintah. tidak peduli tanggalnya. dapat menimbulkan gangguan atau bahaya terhadap pertahanan keamanan negara. semua dokumen pemerintah. Pasal 14 Undang-undang Hak Cipta mengatur bahwa penggunaan atau perbanyakan lambang Negara dan lagu kebangsaan menurut sifatnya yang asli tidaklah melanggar hak cipta. untuk dijadikan cadangan semata-mata untuk digunakan sendiri. Menurut UU No. bertentangan dengan norma kesusilaan umum yang berlaku dalam masyarakat. ataupun keputusan badan arbitrase atau keputusan badan-badan sejenis lainnya (misalnya keputusan-keputusan yang memutuskan suatu sengketa). peraturan perundang-undangan. Demikian pula halnya dengan pengambilan berita aktual baik seluruhnya maupun sebagian dari kantor berita. tidak ada hak cipta atas hasil rapat terbuka lembaga-lembaga Negara. Undang-undang Hak Cipta juga mengatur hak pemerintah Indonesia untuk memanfaatkan atau mewajibkan pihak tertentu memperbanyak ciptaan berhak cipta demi kepentingan umum atau kepentingan nasional (pasal 16 dan 18). dengan ketentuan sumbernya harus disebutkan secara lengkap. lembaga penyiaran. Selain itu. namun foto potret seseorang (atau beberapa orang) dilarang disebarluaskan bila bertentangan dengan kepentingan yang wajar dari orang yang dipotret. putusan pengadilan atau penetapan hakim. Di Amerika Serikat. dan ketertiban umum" (pasal 17). dan surat kabar atau sumber sejenis lain.

meskipun belum signifikan. Pemberlakuan UU Hak Cipta telah mengubah perilaku konsumen dan dunia.2. keterkejutan masyarakat dan dunia usaha masih terasa. yaitu sisi yang berpendapat bahwa konsep hak cipta tidak pernah menguntungkan masyarakat serta selalu memperkaya beberapa pihak dengan mengorbankan kreativitas. Akibatnya.6 Kritik Atas Konsep Hak Cipta Kritikan-kritikan terhadap hak cipta secara umum dapat dibedakan menjadi dua sisi. Keberhasilan proyek perangkat lunak bebas seperti Linux. yang dirancang untuk memastikan kebebasan ciptaan dan tidak menerapkan hak eksklusif yang bermotif uang. sementara left berarti “kiri”. Produk-produk tersebut menggunakan hak cipta untuk memperkuat persyaratan lisensinya. seiring pemberlakukan UU Hak Cipta. lisensi semacam itu disebut copyleft atau lisensi perangkat lunak bebas. Lebih dari sebulan UU No. Para penjual komputer sepi pengunjung. Penggunaan istilah copyleft sendiri terjadi karena right berarti “kanan”. sekarang harus dibeli. istilah copyleft yang pernah dikenal sebelumnya muncul kembali — sebagai “bentuk perlawanan” terhadap copyright. 19/2002 tentang Hak Cipta diberlakukan. yaitu adanya masyarakat informasi baru. dan Server HTTP Apache telah menunjukkan bahwa ciptaan bermutu dapat dibuat tanpa adanya sistem sewa bersifat monopoli berlandaskan hak cipta. 10 . Hak cipta dalam bahasa Inggris disebut copyright. Konsumen menahan diri untuk membeli komputer karena harga software yang selama ini didapatkan secara gratis dari hasil bajakan. dan sisi yang berpendapat bahwa konsep hak cipta sekarang harus diperbaiki agar sesuai dengan kondisi sekarang. harga komputer plus software-nya bisa-bisa naik dua kali lipat dari harga semula. Kini. Mozilla Firefox.

copyleft sebaliknya karena tidak berambisi menjadikannya sebagai milik pribadi. Jika berniat baik. serta menjamin kebebasannya untuk semua modifikasi dan versi-versi berikutnya. Tetapi. begitupun berlawanannya arti dari kedua istilah tersebut dimana copyleft merupakan praktek penggunaan undang-undang hak cipta untuk meniadakan larangan dalam mendistribusikan salinan dan versi yang telah dimodifikasi dari suatu karya kepada orang lain dan mengharuskan kebebasan yang sama diterapkan dalam versi-versi selanjutnya di masa yang akan datang. Dalam pengertian awam. Copyleft diterapkan pada hasil karya seperti perangkat lunak. dan seni. dan juga mendistribusikan ulang baik karya. musik.7 Penjelasan Mengenai Copyleft Lambang copyleft merupakan lambang copyright yang diputar ke kiri : Copyleft adalah permainan kata dari copyright (hak cipta) yang sebagaimana berlawanannya makna yang dikandung masing-masing istilah (right vs left). maupun versi turunannya. penggunaan secara bebas sebuah program dapat menjadi sarana saling berbagi program serta melakukan perbaikan. memodifikasi. jika copyright bertujuan melindungi kepemilikan pribadi dari pembajakan. copyleft adalah lawan dari hak cipta. maka lisensi copyleft digunakan hukum hak cipta untuk memastikan bahwa semua orang yang menerima salinan atau versi turunan dari suatu karya dapat menggunakan. Justru copyleft memanfaatkan aturan copyright untuk tujuan yang bertolak belakang. tetapi justru menginginkan agar perangkat lunak itu tetap bebas (free software). Situs GNU yang menjadi referensi banyak penganut copyleft menjelaskan bahwa copyleft merupakan metode umum untuk membuat sebuah program menjadi perangkat lunak bebas. hal itu tidak berarti copyleft menentang perlindungan terhadap hak cipta seseorang. dokumen. Jika hak cipta dianggap sebagai suatu cara untuk membatasi hak untuk membuat dan mendistribusikan kembali salinan suatu karya. Artinya.2. 11 .

tanpa niat baik. Ini pula perbedaan copyleft dengan copyright. Penggunaan free software dapat digandakan tanpa harus mendapat izin khusus dari pencipta atau pemegang hak ciptanya bukanlah sebuah tindak pembajakan. Copyleft ditandai dengan meletakkan perangkat lunak public domain. Yang harus diperhatikan hanyalah pengguna free software itu harus patuh terhadap aturan general public license (GPL) yang menghendaki setiap pendistribusian ulang perangkat lunak berstatus copyleft haruslah tetap bebas. Dengan sedikit atau banyak perubahan. Para pengembang perangkat lunak berpemilik menggunakan hak cipta untuk menghilangkan kebebasan para pengguna. 12 . dengan atau tanpa perubahan. agar tidak terjadi penyalahgunaan. dan mendistribusikan kembali kode program atau turunannya. untuk meng-copyleftkan sebuah program. Di sinilah letak perbedaan mendasar antara copyleft dengan copyright.Namun. termasuk mendistribusikan dan menggandakannya. Lalu ditambahkan ketentuan distribusi sebagai perangkat sah yang memberikan hak kepada setiap orang untuk menggunakan. sementara para penganut copyleft menggunakan hak cipta untuk menjamin kebebasan para pengguna. Copyleft menjamin bahwa setiap pengguna memiliki kebebasan. diupayakan sebuah sistem copyleft yang menegaskan bahwa siapa pun yang mendistribusikan kembali perangkat lunak tersebut. Itulah sebabnya mengapa istilah copyright (hak cipta) dipelesetkan menjadi copyleft. ada kemungkinan pihak perantara melakukan perubahan pada program tersebut lalu menjadikannya perangkat lunak berpemilik (proprietary). mengubah. Namun. program tersebut dapat didistribusikan kembali sebagai perangkat lunak berpemilik. Menurut konsultan hukum Muhammad Aulia Adnan. pertama-tama akan diupayakan perolehan hak cipta atas program tersebut. harus memberikan kebebasan untuk menggandakan dan mengubahnya.

Free disini bukan berarti “gratis”. peneliti. Kepastian hukum itu terutama dalam bidang hak cipta berkaitan dengan aspek penggunaan dan juga pengembangan free software dapat menjadi suatu insentif dalam perkembangan beragam free software di Indonesia. Dan bukan tidak mungkin angin ini akan bertiup ke sendi kehidupan yang lebih luas. Kalau kita lihat kembali pada jaman sebelum dibuatnya undang-undang paten dan copyright. Beberapa contoh lisensi copyleft adalah GNU General Public License dan lisensi Creative Commons. bahkan sangat dianjurkan kalau kita bisa menjual dengan harga yang sangat mahal sekalipun. Mereka bekerja berdasarkan niat yang mulia untuk kesejahteraan umat manusia. Free disini berarti “bebas”. dan menyebarkannya kembali. Jadi bolehkah kita menjualnya? Boleh saja. Pengarang dan pengembang yang menggunakan copyleft untuk karya mereka dapat melibatkan orang lain untuk mengembangkan karyanya sebagai suatu bagian dari proses yang berkelanjutan.Ketidakpastian dari segi hukum bisa menyebabkan perusahaan bimbang menggunakan program komputer berbasis free software. jika ada pembeli yang mau. adanya kebebasan bagi pemakai atau pembeli untuk menjalankan program tersebut. Pengikut filosofi free software atau open source ini semakin banyak sehingga menjadi komunitas yang tidak dapat diabaikan oleh pembuat software-software proprietary semacam Microsoft. Namun esensinya adalah. memodifikasi. 13 . “free as freedom”. atau pembuat program untuk mematenkan karyanya. jauh sebelum itu. maka kita akan lihat pada dasarnya tidak ada keinginan dari penulis. mencopy. Inisiatif ini membawa angin pencerahan baru didunia Internet.

dan Meringkas dan memparafrasekan dengan menyebut sumbernya. Mengakui gagasan orang lain sebagai pemikiran sendiri Mengakui temuan orang lain sebagai kepunyaan sendiri Mengakui karya kelompok sebagai kepunyaan atau hasil sendiri. Plagiat dapat dianggap sebagai tindak pidana karena mencuri hak cipta orang lain. tanpa memberikan tanda jelas (misalnya dengan menggunakan tanda kutip atau blok alinea yang berbeda) bahwa teks tersebut diambil persis dari tulisan lain • mengambil gagasan orang lain tanpa memberikan anotasi yang cukup tentang sumbernya Dalam buku Bahasa Indonesia: Sebuah Pengantar Penulisan Ilmiah. pelaku plagiarisme dapat mendapat hukuman berat seperti dikeluarkan dari sekolah/universitas. Di dunia pendidikan.8 Tindakan Pelanggaran Hak Cipta Salah satu contoh tindakan pelanggaran hak cipta yaitu : 1. pendapat. 14 Hal-hal yang tidak tergolong plagiarisme: . dan sebagainya dari orang lain dan menjadikannya seolah karangan dan pendapat sendiri. Menyajikan tulisan yang sama dalam kesempatan yang berbeda tanpa menyebutkan asal-usulnya Meringkas dan memparafrasekan (mengutip tak langsung) tanpa menyebutkan sumbernya. menggolongkan hal-hal berikut sebagai tindakan plagiarisme. tetapi rangkaian kalimat dan pilihan katanya masih terlalu sama dengan sumbernya. Yang digolongkan sebagai plagiarisme: • menggunakan tulisan orang lain secara mentah. Felicia Utorodewo dkk.2.: • • • • • • • Mengakui tulisan orang lain sebagai tulisan sendiri. Plagiarisme Plagiarisme adalah penjiplakan atau pengambilan karangan. Pelaku plagiat disebut sebagai plagiator.

15 . seorang ahli sejarah Skotlandia. 2. Plagiarisme dalam literatur (Swaplagiarisme) Plagiarisme dalam literatur terjadi ketika seseorang mengaku atau memberi kesan bahwa ia adalah penulis asli suatu naskah yang ditulis orang lain. Andrew Carnegie.[8] Setelah ia mengakui plagiarisme ini. Pada 1999 ia harus menarik biografi John Paul Jones tulisannya dengan alasan yang sama. Mackay. tanpa memberi sumber. Beberapa organisasi profesional seperti Association for Computing Machinery memiliki kebijakan untuk menangani hal ini. New York Times menemukan kasus-kasus plagiarisme lain. Swaplagiarisme adalah penggunaan kembali sebagian atau seluruh karya penulis itu sendiri tanpa memberikan sumber aslinya. dan Sir William Wallace. Menemukan swaplagiarisme sering kali sulit karena masalah-masalah hukum yang berkaitan dengan fair use. Ia pertama dituduh pada 2002 oleh dua penulis karena menyalin sebagian tulisan mengenai pilot-pilot pesawat pembom dalam Perang Dunia II dari buku karya Thomas Childers The Wings of Morning dalam bukunya The Wild Blue. swaplagiarisme juga sering terjadi di dunia akademis. Ia juga dituduh memplagiat biografi Mary Queen of Scots. mengutip secukupnya tulisan orang lain dengan memberikan tanda batas jelas bagian kutipan dan menuliskan sumbernya. atau mengambil mentah-mentah dari tulisan atau karya orang lain atau karya sendiri (swaplagiarisme) secara keseluruhan atau sebagian. • Ahli sejarah Stephen Ambrose dikritik karena mengambil banyak kalimat dari karya penulis-penulis lain.• • • menggunakan informasi yang berupa fakta umum. Selain masalah plagiarisme biasa. • James A. menuliskan kembali (dengan mengubah kalimat atau parafrase) opini orang lain dengan memberikan sumber jelas. dipaksa menarik kembali semua buku biografi Alexander Graham Bell yang ditulisnya pada 1998 karena ia menyalin dari sebuah buku dari tahun 1973.

penulis The Da Vinci Code. Semua bukunya ditarik dari peredaran. Got Wild and Got a Life. and Co. • Seorang ahli matematika dan komputer DǎnuŃ Marcu mengaku telah menerbitkan lebih dari 378 tulisan dalam berbagai terbitan ilmiah. The Fitzgeralds and the Kennedys. dilaporkan mengandung jiplakan dari setidaknya 5 novel lain. dan ia menggunakan beberapa kalimat dari buku McTaggart mengenai Kathleen Kennedy. dan bahwa ia telah memberikan catatan kaki. ketika kemiripan ini ditemukan. Brown. • Helen Keller dituduh pada 1892 menjiplak cerita pendek The Frost King dari karya Margaret T. 16 . penjiplakan. Ia diadili di depan Perkins Institute for the Blind. kontraknya dengan Little. Goodwin mengatakan bahwa ia mengira bahwa rujukan tidak perlu kutipan. Novel pertama Kaavya Viswanathan How Opal Mehta Got Kissed. dan ia dipaksa mengundurkan diri dari Pulitzer Prize board. dan dibebaskan dengan selisih satu suara. • Kanselir universitas tersebut mengusulkan Churchill dipecat dari Board of Regents. Banyak orang meragukannya. Not Apartheid tanpa ijin atau memberi sumber. Ia menjadi paranoid akan plagiarisme sejak itu dan khawatir bahwa ia telah membaca The Frost Fairies namun kemudian melupakannya. Pada 2002. telah dituduh dan dituntut karena melakukan plagiarisme dua kali.• Penulis Doris Kearns Goodwin mewawancarai penulis Lynne McTaggart dalam bukunya dari tahun 1987. • • • Alex Haley dituntut oleh Harold Courlander karena sebagian novelnya Roots dituduh meniru novel Courlander The African. dan sebuah kontrak film dengan Dreamworks SKG dibatalkan. dan pemalsuan. ditarik. Canby The Frost Fairies. Sejumlah tulisannya ditemukan sebagai tiruan dari tulisan orang lain. Dan Brown. • Sebuah komite penyelidikan University of Colorado menemukan bahwa seorang profesor etnis bernama Ward Churchill bersalah melakukan sejumlah plagiarisme. Mantan presiden AS Jimmy Carter dituduh oleh seorang mantan diplomat Timur Tengah Dennis Ross telah menerbitkan peta-peta Ross dalam buku Carter Palestine: Peace.

Tiap harinya. Pembajakan Beberapa contoh tindakan pembajakan yang sering terjadi. Pembajakan film. karena hal ini mengurangi royalti yang mereka dapatkan. cd. Internet sebagai bagian dari era digital telah memberikan tantangan bagi HKI. Pasalnya. yaitu : • Pembajakan software.9 Perlindungan Hukum Hak Kekayaan Intelektual di Era Digital Perlindungan hukum Hak Kekayaan Intelektual (HKI) di era digital semakin diperlukan. Saat ini juga mudah sekali ditemukan kaset. pembajakan film pun sering terjadi. Hal ini tentu saja sangat merugikan bagi para pemusik. khususnya menghadapi perkembangan penggunaan internet di Indonesia. konon Microsoft menemukan • ribuan situs yang memuat software bajakan milik perusahaannya. Saat ini mudah sekali menemukan software bajakan yang tentu saja harganya jauh lebih murah daripada harga originalnya. yang dapat didownload secara gratis. dan mp3 bajakan. Pembajakan lagu-lagu. Padahal semakin banyak kalangan bisnis yang menanamkan modalnya di internet. banyak situs-situs yang menyediakan content software yang dapat didownload oleh pengguna situs tersebut.3. banyak situs yang • menyediakan lagu-lagu. Saat ini banyak orang yang menjual vcd atau dvd bajakan. Selain itu. 2. Selain itu. terutama di Indonesia. Apalagi tampaknya nettiquet (etika berinternet) tidak mencukupi lagi menghadapi perkembangan pengguna internet yang pesat. Selain pembajakan software dan lagu-lagu. biasanya berformat mp3. 17 . karya cipta manusia dapat dialihrupakan dalam bentuk digital yang kemudian perbanyakannya sangat mudah dilakukan.

18 . Karena itu. Microsoft memiliki sistem tersendiri untuk melakukan scanning atas material/content di internet yang melanggar hak cipta atas software buatannya. Pasalnya. Selain masalah ISP. Karena itu. salah satu alternatif yang bisa dilakukan oleh ISP yaitu melakukan kerjasama dengan pemilik karya cipta yang sangat umum dibajak. Selain itu. Sungguh sayang memang. Digital Millenium Copyright Act (DMCA) milik Amerika Serikat memberikan pembatasan masalah tanggung jawab ISP. dan inlining. Screening atas isi content secara teknis memang dapat dilakukan. tentunya biaya dan sumber daya yang dibutuhkan akan semakin besar. ISP biasanya menyediakan layanan web hosting. ISP memiliki resiko untuk digugat oleh pemilik hak cipta yang merasa dilanggar haknya. juga waktu yang cukup lama dan secara bisnis justru akan memberatkan. jelas pihak ISP telah memperkirakan kemungkinan adanya content situs yang di-hosting di server-nya yang melanggar hak cipta. dan penentuan kapan ISP bertanggung jawab atas materil yang di-hosting di server-nya atau sebaliknya. masalah tanggung jawab ISP (Internet Service Provider). Namun jika memang ada semacam disclaimer dengan customernya. framing. Salah satu contohnya. ada beberapa hal teknis dalam pembuatan situs yang berpotensi untuk melanggar hak cipta. yakni deep linking. padahal tentunya tidak ada kesengajaan dari pihak ISP untuk melakukan pelanggaran hak cipta. biasanya Microsoft akan meminta pihak di mana software bajakan di-posting untuk melakukan tindakan pemutusan atas service tersebut dan menghapus material tersebut dari server. untuk menghindari kemungkinan digugat. ada customer yang mem-posting material yang melanggar hak cipta dalam situs yang di-hosting di server milik ISP.Beberapa permasalahan HKI yang berkaitan dengan internet dalam era digital di antaranya berkaitan dengan masalah domain name. Namun seiring dengan perkembangan bisnis yang semakin besar. mungkin setiap negara perlu membuat aturan dan batasan untuk ISP. bilamana ia tidak bertanggung jawab. Jika ditemukan pelanggaran hak cipta. Untuk menghindari masalah ISP yang sangat rentan digugat ini. Salah satu contohnya yaitu Microsoft.

Apakah itu berupa plain text. Situs-situs ini seharusnya patut diduga melanggar hak cipta. Sebagai suatu ciptaan yang dilindungi. negara memberikan hak kepada pemilik merek untuk menggunakan sendiri merek tersebut atau memberikan izin kepada pihak lain untuk menggunakannya. pengumuman ataupun perbanyakan ciptaan tersebut tentunya haruslah seizin pencipta atau pemegang hak ciptanya. Berbagai ciptaan ini menurut ketentuan pasal 11 (1) UU No 12 Tahun 1997 tentang Hak Cipta merupakan ciptaan yang dilindungi.• Aspek hukum linking Permasalahan hukum timbul karena content halaman web merupakan suatu karya cipta manusia yang mengandung beberapa komponen ciptaan. fotografi dan sebagainya. Contoh yang menarik adalah berbagai situs penyedia filefile lagu dengan format MP3 yang halaman web-nya yang memberikan link-link ke situs penyedia file lagu-lagu ataupun musik dalam format MP3. khususnya famous and wellknown marks. lagu. Pelanggaran merek dagang dan dilusinya terjadi karena besar kemungkinan pencantuman merek dagang ini akan menimbulkan persepsi bahwa suatu situs memiliki hubungan atau afiliasi dengan pemilik merek dagang yang ditampilkan.Teknologi web telah memungkinkan seorang webmaster dengan mudah menampilkan suatu merek dagang di halaman web-nya. gambar. seni rupa dalam segala bentuknya. Namun jika kemudian halaman web yang dituju oleh link tersebut berisi content yang melanggar hak cipta. maupun karakter. Padahal sesuai ketentuan pasal 3 UU No 19 Tahun 1992. tentunya linking semacam ini memberikan kontribusi tersendiri bagi pelanggaran hak cipta. value suatu merek dagang. Akibatnya. Pembuatan linking saja tidaklah melanggar hak cipta. akan menurun. 19 . Permasalahan lainnya dengan linking adalah kemungkinan pelanggaran merek dagang menimbulkan suatu dilusi. serta kombinasi warna yang merupakan simbol merek dagang suatu produk ataupun jasa yang ada. baik itu program komputer.

Bentuk linking nonkonvensional lainnya adalah inlining. Permasalahan pada inlining ini adalah gambar (graphic file) yang berasal dari situs lain tersebut dapat di-customized sedemikian rupa. Bentuk ini memungkinkan webmasters secara otomatis menampilkan suatu graphic file. Selain itu. homepage bypassing seperti ini telah mengakibatkan hit rate situs menurun karena memang sering perhitungannya didasarkan atas jumlah pengunjung yang membuka halaman depan (homepage) situs. 20 . akan mengakibatkan pihak sponsor tidak tertarik untuk memasang banner produknya di atau homepage yang sering di-bypass. sama dengan penggunaan merek sebagai link. ada pula kemungkinan penjelajah internet tertipu karena dibawa ke halaman web yang justru tidak memiliki keterkaitan sama sekali dengan merek dagang yang digunakan dalam metatagging. Pengguna internet dapat mengunjungi suatu halaman dalam suatu situs tanpa melewati halaman depan (homepage). Pasalnya. kartun ataupun gambar lain dalam bentuk digital dalam webpagenya yang berasal dari situs lain tanpa perlu memuatnya dalam situs yang dibuatnya.Selain persepsi yang timbul tersebut karena adanya penggunaan metatagging dalam pembuatan situs. Hal ini telah menimbulkan berbagai permasalahan tersendiri bagi kalangan e-business. Penurunan hit rate pada suatu situs sama dengan penurunan nilai situs. • Deep linking dan inlining Perkembangan linking lebih lanjut berupa deep linking. Pasalnya. ada kemungkinan pengunjung situs menganggap situs yang memberikan link tersebut memiliki hubungan tertentu dengan situs yang dituju. entah itu foto. sehingga tampilan yang diperoleh bisa saja berbeda dengan tampilan gambar pada situs asalnya.

Setelah itu. server di mana situs target di-hosting akan mengcopy web page yang diminta. Pengunjung dapat melihat isi situs penyedia file MP3. mengirimkannya ke terminal/komputer si pengunjung yang kemudian menampilkan web page yang dikirim tersebut. Hal ini dikarenakan. tidak ada pelanggaran hak cipta yang terjadi secara langsung. situs yang menggunakan framing tidaklah melakukan perbanyakan suatu ciptaan.Bila hal ini terjadi. Akibatnya. sementara itu bagian dari situs tersebut tetap ada. perbanyakan justru terjadi antara server situs yang di-link dengan komputer pengunjung situs. Berarti. frame tersebut akan selalu kita lihat saat memandang foto yang ada di dalamnya. 21 . maka situs ini tidaklah melakukan perbanyakan. Contoh lainnya mungkin mirip dengan fasilitas "picture in picture" pada beberapa merek televisi yang dapat menampilkan channel lainnya (dalam bentuk gambar yang lebih kecil) tanpa meninggalkan channel tv yang sedang kita tonton. yang tentunya melanggar hak si pencipta. di mana dengan penggunaan suatu frame. Jadi seperti halnya frame pada foto-foto kita. maka jelas ada suatu modifikasi pada suatu karya cipta. Contoh nyata situs yang sering menggunakan frame adalah web penyedia MP3. Ada pendapat yang mengemukakan. saat pengunjung situs mengklik link situs target. • Aspek hukum framing Teknik pembuatan situs lainnya adalah framing. baik itu hak atas pencipta atas karya turunan dari karya aslinya maupun hak moralnya atas karya cipta tersebut. dalam hal ini isi web page yang di-frame. Lalu apakah proses framing sendiri merupakan suatu bentuk perbanyakan? Dalam prosesnya. karena situs yang mem-frame tidak melakukan proses transfer ini. memungkinkan webmaster dapat menampilkan isi suatu situs lainnya tanpa meninggalkan situs yang memberikan frame tersebut.

Pendapat ini diperkuat oleh argumen lainnya yang mengemukakan bahwa saat seseorang membuat suatu halaman web dan mem-posting-nya di internet. 22 . untuk keperluan menampilkannya di dalam internet browser seperti Netscape ataupun Internet Explorer. Tujuannya. si pemilik halaman web tersebut secara tidak langsung telah memberikan izin perbanyakan hak ciptanya itu.

bunga rampai dan database dilindungi sebagai ciptaan tersendiri tanpa mengurangi hak cipta atas ciptaan asli (UU 19/2002 pasal 12). pidato. Di Indonesia. mengumumkan dan memperbanyak ciptaannya. karya tradisional. yaitu Undang-undang Nomor 19 Tahun 2002. drama. meskipun kini mulai dikenakan terhadap perkara-perkara lain. alat peraga yang dibuat untuk kepentingan pendidikan dan ilmu pengetahuan. Ciptaan hasil pengalihwujudan seperti terjemahan. hal-hal yang menyangkut hak cipta diatur dalam Undang-undang Hak Cipta. drama musikal.BAB III KESIMPULAN Dari sekian banyak penjelasan mengenai hak cipta (copyright). program komputer. Setiap negara. tafsir. peta. fotografi. memiliki hukum masing-masing dalam pengaturan hak cipta. namun ada pula sisi hukum pidana. Penegakan hukum atas hak cipta biasanya dilakukan oleh pemegang hak cipta dalam hukum perdata. seni rupa dalam segala. Di Indonesia. kuliah. tari. ciptaan yang dilindung hak cipta mencakup buku. Sanksi pidana biasanya baru dikenakan terhadap aktivitas pelanggaran hak cipta yang serius. 23 . pewayangan. dimana pemegang hak tersebut memiliki hak untuk membatasi penggandaan tidak sah atas ciptaannya. ceramah. lay out karya tulis yang diterbitkan. maka dapat disimpulkan bahwa hak cipta adalah hak eksklusif bagi pencipta atau pemegang hak cipta untuk mengatur penggunaan hasil ciptaannya. lagu atau musik dengan atau tanpa teks. dan sinematografi. arsitektur. pantomim. saduran. pamflet. koreografi.

DAFTAR PUSTAKA http : //www.com/2007/07/perlindungan-hukum-hki-di-eradigital.org/wiki/copyleft http://id.htm http://blackfogs.wikipedia.php?mod=browse&op=read&id=jbpeismail-gdlgrey-2001-ismail-460-riset&q=hidup http://www.html iv .id/id/produk-uu/isi/uu2002/uu19`02.01.intervisi.indonesia.itb.ebizzasia.com/0212-2003/specialnote.ac.org/wiki/creative-commons http://id.0212.htm http://arijuliano.id/gdl.wikipedia.com/ http://id.org/wiki/hak-cipta http://id.htm http://digilib.go.blogspot.wikipedia.org/wiki/plagiarisme http://www.wikipedia.blogspot.com/2007/03/hak-cipta-dan-access-toknowledge.

d. industri. huruf b. b. v . Mengingat : 1. dibutuhkan Undang-undang tentang Hak Cipta. e. dipandang perlu untuk menetapkan Undang-undang Hak Cipta yang baru menggantikan Undang-undang Nomor 6 Tahun 1982 tentang Hak Cipta sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 7 Tahun 1987 dan terakhir diubah dengan Undangundang Nomor 12 Tahun 1997. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana tersebut dalam huruf a.LAMPIRAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 19 TAHUN 2002 TENTANG HAK CIPTA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. bahwa Indonesia adalah negara yang memiliki keanekaragaman etnik/suku bangsa dan budaya serta kekayaan di bidang seni dan sastra dengan pengembanganpengembangannya yang memerlukan perlindungan Hak Cipta terhadap kekayaan intelektual yang lahir dari keanekaragaman tersebut. bahwa dengan memperhatikan pengalaman dalam melaksanakan Undang-undang Hak Cipta yang ada. Pasal 28 C ayat (1). c. dan investasi telah sedemikian pesat sehingga memerlukan peningkatan perlindungan bagi Pencipta dan Pemilik Hak Terkait dengan tetap memperhatikan kepentingan masyarakat luas. Pasal 5 ayat (1). dan huruf d. Pasal 20 ayat (1). Menimbang : a. bahwa Indonesia telah menjadi anggota berbagai konvensi/perjanjian internasional di bidang hak kekayaan intelektual pada umumnya dan Hak Cipta pada khususnya yang memerlukan pengejawantahan lebih lanjut dalam sistem hukum nasionalnya. huruf c. dan Pasal 33 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. bahwa perkembangan di bidang perdagangan.

didengar. atau pihak lain yang menerima lebih lanjut hak dari pihak yang menerima hak tersebut. atau sastra. atau penyebaran suatu Ciptaan dengan menggunakan alat apa pun. atau melakukan dengan cara apa pun sehingga suatu Ciptaan dapat dibaca. Hak Cipta adalah hak eksklusif bagi Pencipta atau penerima hak untuk mengumumkan atau memperbanyak Ciptaannya atau memberikan izin untuk itu dengan tidak mengurangi pembatasan-pembatasan menurut peraturan perundangundangan yang berlaku. atau pihak yang menerima hak tersebut dari Pencipta. penjualan. 2. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3564). keterampilan. Ciptaan adalah hasil setiap karya Pencipta yang menunjukkan keasliannya dalam lapangan ilmu pengetahuan. (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1994 Nomor 57. atau keahlian yang dituangkan ke dalam bentuk yang khas dan bersifat pribadi. Pemegang Hak Cipta adalah Pencipta sebagai Pemilik Hak Cipta. vi . 5. penyiaran.2. seni. Pengumuman adalah pembacaan. kecekatan. pengedaran. termasuk media internet. 4. pameran. Undang-undang Nomor 7 Tahun 1994 tentang Pengesahan Agreement Establishing the World Trade Organization (Pembentukan Organisasi Perdagangan Dunia). Dengan Persetujuan DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA MEMUTUSKAN: Menetapkan BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Undang-undang ini yang dimaksud dengan: 1. imajinasi. Pencipta adalah seorang atau beberapa orang secara bersamasama yang atas inspirasinya melahirkan suatu Ciptaan berdasarkan kemampuan pikiran. : UNDANG-UNDANG TENTANG HAK CIPTA. 3. atau dilihat orang lain.

penari. Kuasa adalah konsultan Hak Kekayaan Intelektual sebagaimana diatur dalam ketentuan Undang-undang ini.6. yang apabila digabungkan dengan media yang dapat dibaca dengan komputer akan mampu membuat komputer bekerja untuk melakukan fungsi-fungsi khusus atau untuk mencapai hasil yang khusus. Hak Terkait adalah hak yang berkaitan dengan Hak Cipta. 9. folklor. termasuk persiapan dalam merancang instruksi-instruksi tersebut. yang diciptakan dengan cara dan alat apa pun. 12. 14. Permohonan adalah Permohonan pendaftaran Ciptaan yang diajukan oleh pemohon kepada Direktorat Jenderal. penyanyi. drama. mempertunjukkan. memperbanyak. skema. 13. memperagakan. menyampaikan. yaitu hak eksklusif bagi Pelaku untuk memperbanyak atau menyiarkan pertunjukannya. Potret adalah gambar dari wajah orang yang digambarkan. ataupun bentuk lain. dan bagi Lembaga Penyiaran untuk membuat. termasuk mengalihwujudkan secara permanen atau temporer. bagi Produser Rekaman Suara untuk memperbanyak atau menyewakan karya rekaman suara atau rekaman bunyinya. 15. Lisensi adalah izin yang diberikan oleh Pemegang Hak Cipta atau Pemegang Hak Terkait kepada pihak lain untuk mengumumkan dan/atau memperbanyak Ciptaannya atau produk Hak Terkaitnya dengan persyaratan tertentu. sastra. vii . menyanyikan. Produser Rekaman Suara adalah orang atau badan hukum yang pertama kali merekam dan memiliki tanggung jawab untuk melaksanakan perekaman suara atau perekaman bunyi. tari. baik bersama bagian tubuh lainnya ataupun tidak. kode. baik perekaman dari suatu pertunjukan maupun perekaman suara atau perekaman bunyi lainnya. yang melakukan penyiaran atas suatu karya siaran dengan menggunakan transmisi dengan atau tanpa kabel atau melalui sistem elektromagnetik. atau mereka yang menampilkan. Pelaku adalah aktor. Perbanyakan adalah penambahan jumlah sesuatu Ciptaan. atau menyiarkan karya siarannya. atau karya seni lainnya. Program Komputer adalah sekumpulan instruksi yang diwujudkan dalam bentuk bahasa. 8. baik secara keseluruhan maupun bagian yang sangat substansial dengan menggunakan bahan-bahan yang sama ataupun tidak sama. mendeklamasikan. 10. 11. Lembaga Penyiaran adalah organisasi penyelenggara siaran yang berbentuk badan hukum. atau memainkan suatu karya musik. 7. pemusik.

Pewarisan. 17. Pasal 3 (1) Hak Cipta dianggap sebagai benda bergerak. termasuk Hak Cipta.16. b. atau e. viii . (2) Hak Cipta dapat beralih atau dialihkan. Hibah. BAB II LINGKUP HAK CIPTA Bagian Pertama Fungsi dan Sifat Hak Cipta Pasal 2 (1) Hak Cipta merupakan hak eksklusif bagi Pencipta atau Pemegang Hak Cipta untuk mengumumkan atau memperbanyak Ciptaannya. Menteri adalah Menteri yang membawahkan departemen yang salah satu lingkup tugas dan tanggung jawabnya meliputi pembinaan di bidang Hak Kekayaan Intelektual. c. Perjanjian tertulis. Sebab-sebab lain yang dibenarkan oleh peraturan perundangundangan. Wasiat. Direktorat Jenderal adalah Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual yang berada di bawah departemen yang dipimpin oleh Menteri. baik seluruhnya maupun sebagian karena: a. yang timbul secara otomatis setelah suatu ciptaan dilahirkan tanpa mengurangi pembatasan menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku. d. (2) Pencipta atau Pemegang Hak Cipta atas karya sinematografi dan Program Komputer memiliki hak untuk memberikan izin atau melarang orang lain yang tanpa persetujuannya menyewakan Ciptaan tersebut untuk kepentingan yang bersifat komersial.

(2) Kecuali terbukti sebaliknya. kecuali jika hak itu diperoleh secara melawan hukum. Bagian Kedua Pencipta Pasal 5 (1) Kecuali terbukti sebaliknya. dan Hak Cipta tersebut tidak dapat disita.Pasal 4 (1) Hak Cipta yang dimiliki oleh Pencipta. yang dianggap sebagai Pencipta adalah: a. Penciptanya adalah orang yang merancang Ciptaan itu. yang dianggap sebagai Pencipta adalah orang yang menghimpunnya dengan tidak mengurangi Hak Cipta masing-masing atas bagian Ciptaannya itu. pada ceramah yang tidak menggunakan bahan tertulis dan tidak ada pemberitahuan siapa Penciptanya. atau dalam hal tidak ada orang tersebut. kecuali jika hak itu diperoleh secara melawan hukum. Pasal 6 Jika suatu Ciptaan terdiri atas beberapa bagian tersendiri yang diciptakan oleh dua orang atau lebih. dan Hak Cipta tersebut tidak dapat disita. menjadi milik ahli warisnya atau milik penerima wasiat. Pasal 7 Jika suatu Ciptaan yang dirancang seseorang diwujudkan dan dikerjakan oleh orang lain di bawah pimpinan dan pengawasan orang yang merancang. atau b. yang setelah Penciptanya meninggal dunia. orang yang namanya terdaftar dalam Daftar Umum Ciptaan pada Direktorat Jenderal. yang dianggap sebagai Pencipta ialah orang yang memimpin serta mengawasi penyelesaian seluruh Ciptaan itu. . orang yang namanya disebut dalam Ciptaan atau diumumkan sebagai Pencipta pada suatu Ciptaan. (2) Hak Cipta yang tidak atau belum diumumkan yang setelah Penciptanya meninggal dunia. orang yang berceramah dianggap sebagai Pencipta ceramah tersebut. menjadi milik ahli warisnya atau milik penerima wasiat.

dan karya seni lainnya. tarian. kecuali ada perjanjian lain antara kedua pihak dengan tidak mengurangi hak Pencipta apabila penggunaan Ciptaan itu diperluas sampai ke luar hubungan dinas. Pasal 9 Jika suatu badan hukum mengumumkan bahwa Ciptaan berasal dari padanya dengan tidak menyebut seseorang sebagai Penciptanya. (3) Jika suatu Ciptaan dibuat dalam hubungan kerja atau berdasarkan pesanan. hikayat. sejarah. (2) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berlaku pula bagi Ciptaan yang dibuat pihak lain berdasarkan pesanan yang dilakukan dalam hubungan dinas. kaligrafi. (2) Negara memegang Hak Cipta atas folklor dan hasil kebudayaan rakyat yang menjadi milik bersama. Pemegang Hak Cipta adalah pihak yang untuk dan dalam dinasnya Ciptaan itu dikerjakan. koreografi. (3) Untuk mengumumkan atau memperbanyak Ciptaan tersebut pada ayat (2). kerajinan tangan. orang yang bukan warga negara Indonesia harus terlebih dahulu mendapat izin dari instansi yang terkait dalam masalah tersebut. diatur dengan Peraturan Pemerintah. . (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai Hak Cipta yang dipegang oleh Negara sebagaimana dimaksud dalam Pasal ini. kecuali apabila diperjanjikan lain antara kedua pihak.ix Pasal 8 (1) Jika suatu Ciptaan dibuat dalam hubungan dinas dengan pihak lain dalam lingkungan pekerjaannya. Bagian Ketiga Hak Cipta atas Ciptaan yang Penciptanya Tidak Diketahui Pasal 10 (1) Negara memegang Hak Cipta atas karya peninggalan prasejarah. legenda. babad. dongeng. seperti cerita. lagu. pihak yang membuat karya cipta itu dianggap sebagai Pencipta dan Pemegang Hak Cipta. badan hukum tersebut dianggap sebagai Penciptanya. dan benda budaya nasional lainnya. kecuali jika terbukti sebaliknya.

xi . h. database. tafsir. k. lagu atau musik dengan atau tanpa teks. Jika suatu Ciptaan telah diterbitkan tetapi tidak diketahui Penciptanya dan/atau Penerbitnya. alat peraga yang dibuat untuk kepentingan pendidikan dan ilmu pengetahuan. f. saduran. perwajahan (lay out) karya tulis yang diterbitkan. i. (2) Ciptaan sebagaimana dimaksud dalam huruf l dilindungi sebagai Ciptaan tersendiri dengan tidak mengurangi Hak Cipta atas Ciptaan asli. dan seni terapan. g. dan pantomim. terjemahan. seni patung. ceramah. seni pahat. (2) Jika suatu Ciptaan telah diterbitkan tetapi tidak diketahui Penciptanya atau pada Ciptaan tersebut hanya tertera nama samaran Penciptanya. seni rupa dalam segala bentuk seperti seni lukis. pewayangan. seni kaligrafi. Negara memegang Hak Cipta atas Ciptaan tersebut untuk kepentingan Penciptanya. sinematografi. peta. dan Ciptaan lain yang sejenis dengan itu. Program Komputer. drama atau drama musikal. koreografi. e. gambar. j. pidato. fotografi. seni batik. dan semua hasil karya tulis lain.x Pasal 11 (1) Jika suatu Ciptaan tidak diketahui Penciptanya dan Ciptaan itu belum diterbitkan. pamflet. dan karya lain dari hasil pengalihwujudan. c. seni. kolase. seni ukir. b. dan sastra. (3) Bagian Keempat Ciptaan yang Dilindungi Pasal 12 (1) Dalam Undang-undang ini Ciptaan yang dilindungi adalah Ciptaan dalam bidang ilmu pengetahuan. Negara memegang Hak Cipta atas Ciptaan tersebut untuk kepentingan Penciptanya. Penerbit memegang Hak Cipta atas Ciptaan tersebut untuk kepentingan Penciptanya. yang mencakup: buku. bunga rampai. l. d. arsitektur. tari. kuliah. a.

b. hasil rapat terbuka lembaga-lembaga Negara. kecuali apabila Hak Cipta itu dinyatakan dilindungi. xii . dan surat kabar atau sumber sejenis lain. tidak dianggap sebagai pelanggaran Hak Cipta: a. d. penyusunan laporan. Pengumuman dan/atau Perbanyakan lambang Negara dan lagu kebangsaan menurut sifatnya yang asli. penelitian. yang memungkinkan Perbanyakan hasil karya itu. penulisan kritik atau tinjauan suatu masalah dengan tidak merugikan kepentingan yang wajar dari Pencipta. dengan ketentuan sumbernya harus disebutkan secara lengkap. Pengumuman dan/atau Perbanyakan segala sesuatu yang diumumkan dan/atau diperbanyak oleh atau atas nama Pemerintah. b. baik dengan peraturan perundang-undangan maupun dengan pernyataan pada Ciptaan itu sendiri atau ketika Ciptaan itu diumumkan dan/atau diperbanyak. termasuk juga semua Ciptaan yang tidak atau belum diumumkan. Pasal 15 Dengan syarat bahwa sumbernya harus disebutkan atau dicantumkan. penggunaan Ciptaan pihak lain untuk kepentingan pendidikan. Pasal 13 Tidak ada Hak Cipta atas: a. atau c. e.(3) Perlindungan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). c. putusan pengadilan atau penetapan hakim. Pengambilan berita aktual baik seluruhnya maupun sebagian dari kantor berita. peraturan perundang-undangan. penulisan karya ilmiah. tetapi sudah merupakan suatu bentuk kesatuan yang nyata. Bagian Kelima Pembatasan Hak Cipta Pasal 14 Tidak dianggap sebagai pelanggaran Hak Cipta: a. pidato kenegaraan atau pidato pejabat Pemerintah. atau keputusan badan arbitrase atau keputusan badan-badan sejenis lainnya. Lembaga Penyiaran.

pengambilan Ciptaan pihak lain. f. perubahan yang dilakukan berdasarkan pertimbangan pelaksanaan teknis atas karya arsitektur. xiii . pembuatan salinan cadangan suatu Program Komputer oleh pemilik Program Komputer yang dilakukan semata-mata untuk digunakan sendiri. g. baik seluruhnya maupun sebagian. guna keperluan pembelaan di dalam atau di luar Pengadilan. lembaga ilmu pengetahuan atau pendidikan. mewajibkan Pemegang Hak Cipta yang bersangkutan untuk memberikan izin kepada pihak lain untuk menerjemahkan dan/atau memperbanyak Ciptaan tersebut di wilayah Negara Republik Indonesia dalam waktu yang ditentukan dalam hal Pemegang Hak Cipta yang bersangkutan tidak melaksanakan sendiri atau melaksanakan sendiri kewajiban sebagaimana dimaksud dalam huruf a. b. kecuali jika Perbanyakan itu bersifat komersial. atau (ii) pertunjukan atau pementasan yang tidak dipungut bayaran dengan ketentuan tidak merugikan kepentingan yang wajar dari Pencipta. c. Perbanyakan suatu Ciptaan bidang ilmu pengetahuan. dan pusat dokumentasi yang nonkomersial semata-mata untuk keperluan aktivitasnya. terhadap Ciptaan dalam bidang ilmu pengetahuan dan sastra. baik seluruhnya maupun sebagian. secara terbatas dengan cara atau alat apa pun atau proses yang serupa oleh perpustakaan umum. guna keperluan: (i) ceramah yang semata-mata untuk tujuan pendidikan dan ilmu pengetahuan. Pasal 16 (1) Untuk kepentingan pendidikan. e. dan sastra dalam huruf braille guna keperluan para tunanetra. seni. ilmu pengetahuan. mewajibkan Pemegang Hak Cipta untuk melaksanakan sendiri penerjemahan dan/atau Perbanyakan Ciptaan tersebut di wilayah Negara Republik Indonesia dalam waktu yang ditentukan. pengambilan Ciptaan pihak lain. Perbanyakan suatu Ciptaan selain Program Komputer.b. Menteri setelah mendengar pertimbangan Dewan Hak Cipta dapat: a. d. seperti Ciptaan bangunan. serta kegiatan penelitian dan pengembangan.

c. serta ketertiban umum setelah mendengar pertimbangan Dewan Hak Cipta. (2) Kewajiban untuk menerjemahkan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Kewajiban untuk memperbanyak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan setelah lewat jangka waktu: a. kesusilaan. (4) Penerjemahan atau Perbanyakan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hanya dapat digunakan untuk pemakaian di dalam wilayah Negara Republik Indonesia dan tidak untuk diekspor ke wilayah Negara lain. xiv . 3 (tiga) tahun sejak diterbitkannya buku di bidang matematika dan ilmu pengetahuan alam dan buku itu belum pernah diperbanyak di wilayah Negara Republik Indonesia. b. 7 (tujuh) tahun sejak diumumkannya buku di bidang seni dan sastra dan buku itu belum pernah diperbanyak di wilayah Negara Republik Indonesia. Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b dan huruf c disertai pemberian imbalan yang besarnya ditetapkan dengan Keputusan Presiden. c. Ketentuan tentang tata cara pengajuan Permohonan untuk menerjemahkan dan/atau memperbanyak sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dilaksanakan setelah lewat jangka waktu 3 (tiga) tahun sejak diterbitkannya Ciptaan di bidang ilmu pengetahuan dan sastra selama karya tersebut belum pernah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. 5 (lima) tahun sejak diterbitkannya buku di bidang ilmu sosial dan buku itu belum pernah diperbanyak di wilayah Negara Republik Indonesia. menunjuk pihak lain untuk melakukan penerjemahan dan/atau Perbanyakan Ciptaan tersebut dalam hal Pemegang Hak Cipta tidak melaksanakan kewajiban sebagaimana dimaksud dalam huruf b. ayat (3). (3) (5) (6) Pasal 17 Pemerintah melarang Pengumuman setiap Ciptaan yang bertentangan dengan kebijaksanaan Pemerintah di bidang agama. dan ayat (4) diatur lebih lanjut dengan Keputusan Presiden. pertahanan dan keamanan Negara. ayat (2).

b.Pasal 18 (1) Pengumuman suatu Ciptaan yang diselenggarakan oleh Pemerintah untuk kepentingan nasional melalui radio. Bagian Keenam Hak Cipta atas Potret Pasal 19 (1) Untuk memperbanyak atau mengumumkan Ciptaannya. (2) Jika suatu Potret memuat gambar 2 (dua) orang atau lebih. televisi dan/atau sarana lain dapat dilakukan dengan tidak meminta izin kepada Pemegang Hak Cipta dengan ketentuan tidak merugikan kepentingan yang wajar dari Pemegang Hak Cipta. Pemegang Hak Cipta atas Potret seseorang harus terlebih dahulu mendapatkan izin dari orang yang dipotret. atau izin ahli warisnya dalam jangka waktu 10 (sepuluh) tahun setelah orang yang dipotret meninggal dunia. (2) Lembaga Penyiaran yang mengumumkan Ciptaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berwenang mengabadikan Ciptaan itu semata-mata untuk Lembaga Penyiaran itu sendiri dengan ketentuan bahwa untuk penyiaran selanjutnya. (3) Ketentuan dalam Pasal ini hanya berlaku terhadap Potret yang dibuat: a. apabila Pengumuman atau Perbanyakan itu memuat juga orang lain dalam Potret itu. untuk kepentingan orang yang dipotret. Pemegang Hak Cipta harus terlebih dahulu mendapatkan izin dari setiap orang dalam Potret itu. untuk Perbanyakan atau Pengumuman setiap orang yang dipotret. dan kepada Pemegang Hak Cipta diberikan imbalan yang layak. Lembaga Penyiaran tersebut harus memberikan imbalan yang layak kepada Pemegang Hak Cipta yang bersangkutan. atas permintaan yang dilakukan atas nama orang dipotret. Pasal 20 Pemegang Hak Cipta atas Potret tidak boleh mengumumkan potret yang dibuat: xv yang . atau c. atas permintaan sendiri dari orang yang dipotret. atau izin ahli waris masing-masing dalam jangka waktu 10 (sepuluh) tahun setelah yang dipotret meninggal dunia.

atau c. (2) Suatu Ciptaan tidak boleh diubah walaupun Hak Ciptanya telah diserahkan kepada pihak lain. seni lukis. seni pahat dan/atau hasil seni lain. Bagian Ketujuh Hak Moral Pasal 24 (1) Pencipta atau ahli warisnya berhak menuntut Pemegang Hak Cipta supaya nama Pencipta tetap dicantumkan dalam Ciptaannya. b. Pasal 22 Untuk kepentingan keamanan umum dan/atau untuk keperluan proses peradilan pidana. Pasal 23 Kecuali terdapat persetujuan lain antara Pemegang Hak Cipta dan pemilik Ciptaan fotografi. pencantuman dan perubahan nama atau nama samaran Pencipta. xvi . pemilik berhak tanpa persetujuan Pemegang Hak Cipta untuk mempertunjukkan Ciptaan di dalam suatu pameran untuk umum atau memperbanyaknya dalam satu katalog tanpa mengurangi ketentuan Pasal 19 dan Pasal 20 apabila hasil karya seni tersebut berupa Potret. apabila Pengumuman itu bertentangan dengan kepentingan yang wajar dari orang yang dipotret. tanpa persetujuan orang lain atas nama yang dipotret. gambar. Pasal 21 Tidak dianggap sebagai pelanggaran Hak Cipta. kecuali dinyatakan lain oleh orang yang berkepentingan. Potret seseorang dalam keadaan bagaimanapun juga dapat diperbanyak dan diumumkan oleh instansi yang berwenang. tanpa persetujuan dari orang yang dipotret. arsitektur. tidak untuk kepentingan yang dipotret.a. (3) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) berlaku juga terhadap perubahan judul dan anak judul Ciptaan. kecuali dengan persetujuan Pencipta atau dengan persetujuan ahli warisnya dalam hal Pencipta telah meninggal dunia. pemotretan untuk diumumkan atas seorang Pelaku atau lebih dalam suatu pertunjukan umum walaupun yang bersifat komersial. atau dari salah seorang ahli warisnya apabila orang yang dipotret sudah meninggal dunia.

(2) Hak Cipta yang dijual untuk seluruh atau sebagian tidak dapat dijual untuk kedua kalinya oleh penjual yang sama. perlindungan diberikan kepada pembeli yang lebih dahulu memperoleh Hak Cipta itu. (3) Dalam hal timbul sengketa antara beberapa pembeli Hak Cipta yang sama atas suatu Ciptaan.(4) Pencipta tetap berhak mengadakan perubahan pada Ciptaannya sesuai dengan kepatutan dalam masyarakat. ditiadakan. Pasal 28 (1) Ciptaan-ciptaan yang menggunakan sarana produksi berteknologi tinggi. sarana kontrol teknologi sebagai pengaman hak Pencipta tidak diperbolehkan dirusak. (2) Pasal 26 (1) Hak Cipta atas suatu Ciptaan tetap berada di tangan Pencipta selama kepada pembeli Ciptaan itu tidak diserahkan seluruh Hak Cipta dari Pencipta itu. Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah. (2) Ketentuan lebih lanjut mengenai sarana produksi berteknologi tinggi yang memproduksi cakram optik sebagaimana diatur pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah xvii . atau dibuat tidak berfungsi. Pasal 25 (1) Informasi elektronik tentang informasi manajemen hak Pencipta tidak boleh ditiadakan atau diubah. khususnya di bidang cakram optik (optical disc). Bagian Kedelapan Sarana Kontrol Teknologi Pasal 27 Kecuali atas izin Pencipta. wajib memenuhi semua peraturan perizinan dan persyaratan produksi yang ditetapkan oleh instansi yang berwenang.

d. terjemahan. berlaku selama hidup Pencipta dan terus berlangsung hingga 50 (lima puluh) tahun setelah Pencipta meninggal dunia. i. karya hasil pengalihwujudan. h. alat peraga. tafsir. c. seni pahat. c. Pasal 30 (1) Hak Cipta atas Ciptaan: a. peta. b. (2) Hak Cipta atas perwajahan karya tulis yang diterbitkan berlaku selama 50 (lima puluh) tahun sejak pertama kali diterbitkan. segala bentuk seni rupa. (2) Untuk Ciptaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang dimiliki oleh 2 (dua) orang atau lebih. database. fotografi. Program Komputer. b. Hak Cipta atas Ciptaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) Pasal ini serta Pasal 29 ayat (1) yang dimiliki atau dipegang oleh suatu badan hukum berlaku selama 50 (lima puluh) tahun sejak pertama kali diumumkan. drama atau drama musikal. e. (3) xviii . pamflet.BAB III MASA BERLAKU HAK CIPTA Pasal 29 (1) Hak Cipta atas Ciptaan: a. pidato dan Ciptaan sejenis lain. koreografi. saduran. dan semua hasil karya tulis lain. tari. kuliah. arsitektur. f. ceramah. buku. j. dan bunga rampai. d. dan seni patung. g. Hak Cipta berlaku selama hidup Pencipta yang meninggal dunia paling akhir dan berlangsung hingga 50 (lima puluh) tahun sesudahnya. berlaku selama 50 (lima puluh) tahun sejak pertama kali diumumkan. seni batik. sinematografi. lagu atau musik dengan atau tanpa teks. seperti seni lukis. dan e.

Pasal 24 ayat (1) berlaku tanpa batas waktu. Pasal 34 Tanpa mengurangi hak Pencipta atas jangka waktu perlindungan Hak Cipta yang dihitung sejak lahirnya suatu Ciptaan. selama 50 (lima puluh) tahun. kecuali untuk pencantuman dan perubahan nama atau nama samaran Penciptanya. (2) Hak Cipta atas Ciptaan yang dilaksanakan oleh Penerbit berdasarkan Pasal 11 ayat (2) berlaku selama 50 (lima puluh) tahun sejak Ciptaan tersebut pertama kali diterbitkan. (2) Pasal 33 Jangka waktu perlindungan bagi hak Pencipta sebagaimana dimaksud dalam: a. b. penghitungan jangka waktu perlindungan bagi Ciptaan yang dilindungi: a. Pasal 11 ayat (1) dan ayat (3) berlaku selama 50 (lima puluh) tahun sejak Ciptaan tersebut pertama kali diketahui umum.Pasal 31 (1) Hak Cipta atas Ciptaan yang dipegang atau dilaksanakan oleh Negara berdasarkan: a. Dalam menentukan jangka waktu berlakunya Hak Cipta atas Ciptaan yang terdiri atas 2 (dua) jilid atau lebih. b. Pasal 10 ayat (2) berlaku tanpa batas waktu. Pasal 24 ayat (2) dan ayat (3) berlaku selama berlangsungnya jangka waktu Hak Cipta atas Ciptaan yang bersangkutan. Pasal 32 (1) Jangka waktu berlakunya Hak Cipta atas Ciptaan yang diumumkan bagian demi bagian dihitung mulai tanggal Pengumuman bagian yang terakhir. setiap jilid atau ikhtisar dan berita itu masing-masing dianggap sebagai Ciptaan tersendiri. xix . demikian pula ikhtisar dan berita yang diumumkan secara berkala dan tidak bersamaan waktunya.

arti. atau setelah Pencipta meninggal dunia. diterbitkan. (2) Daftar Umum Ciptaan tersebut dapat dilihat oleh setiap orang tanpa dikenai biaya. (2) Permohonan diajukan kepada Direktorat Jenderal dengan surat rangkap 2 (dua) yang ditulis dalam bahasa Indonesia dan disertai contoh Ciptaan atau penggantinya dengan dikenai biaya. atau bentuk dari Ciptaan yang didaftar. diketahui oleh umum. (3) Setiap orang dapat memperoleh untuk dirinya sendiri suatu petikan dari Daftar Umum Ciptaan tersebut dengan dikenai biaya. BAB IV PENDAFTARAN CIPTAAN Pasal 35 (1) Direktorat Jenderal menyelenggarakan pendaftaran Ciptaan dan dicatat dalam Daftar Umum Ciptaan. Direktorat Jenderal akan memberikan keputusan paling lama 9 (sembilan) bulan terhitung sejak tanggal diterimanya Permohonan secara lengkap.b. selama hidup Pencipta dan terus berlangsung hingga 50 (lima puluh) tahun setelah Pencipta meninggal dunia. xx . dimulai sejak 1 Januari untuk tahun berikutnya setelah Ciptaan tersebut diumumkan. (3) Terhadap Permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 37 (1) Pendaftaran Ciptaan dalam Daftar Umum Ciptaan dilakukan atas Permohonan yang diajukan oleh Pencipta atau oleh Pemegang Hak Cipta atau Kuasa. maksud. Ketentuan tentang pendaftaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak merupakan kewajiban untuk mendapatkan Hak Cipta. (4) Pasal 36 Pendaftaran Ciptaan dalam Daftar Umum Ciptaan tidak mengandung arti sebagai pengesahan atas isi.

antara lain: nama Pencipta dan Pemegang Hak Cipta. tanggal penerimaan surat Permohonan. atau pada saat diterimanya Permohonan dengan lengkap menurut Pasal 37 dan Pasal 38 jika Permohonan diajukan oleh lebih dari seorang atau satu badan hukum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 38. d. Pasal 40 (1) Pendaftaran Ciptaan dianggap telah dilakukan pada saat diterimanya Permohonan oleh Direktorat Jenderal dengan lengkap menurut Pasal 37. Ketentuan mengenai syarat-syarat dan tata cara untuk dapat diangkat dan terdaftar sebagai konsultan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) diatur lebih lanjut dalam Peraturan Pemerintah. Dalam Daftar Umum Ciptaan dimuat. e. yang terdaftar menurut Pasal 39 yang terdaftar dalam satu nomor. xxi . dan nomor pendaftaran Ciptaan. b. Pasal 38 Dalam hal Permohonan diajukan oleh lebih dari seorang atau suatu badan hukum yang secara bersama-sama berhak atas suatu Ciptaan. Pasal 41 (1) Pemindahan hak atas pendaftaran Ciptaan. (5) (6) Ketentuan lebih lanjut tentang syarat dan tata cara Permohonan ditetapkan dengan Keputusan Presiden. (2) Pemindahan hak tersebut dicatat dalam Daftar Umum Ciptaan atas permohonan tertulis dari kedua belah pihak atau dari penerima hak dengan dikenai biaya. c. Permohonan tersebut dilampiri salinan resmi akta atau keterangan tertulis yang membuktikan hak tersebut. tanggal lengkapnya persyaratan menurut Pasal 37.(4) Kuasa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah konsultan yang terdaftar pada Direktorat Jenderal. hanya diperkenankan jika seluruh Ciptaan yang terdaftar itu dipindahkan haknya kepada penerima hak. (2) Pendaftaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diumumkan dalam Berita Resmi Ciptaan oleh Direktorat Jenderal. Pasal 39 a.

c. (2) Perubahan nama dan/atau perubahan alamat tersebut diumumkan dalam Berita Resmi Ciptaan oleh Direktorat Jenderal. (2) Kecuali diperjanjikan lain. dicatat dalam Daftar Umum Ciptaan atas permintaan tertulis Pencipta atau Pemegang Hak Cipta yang mempunyai nama dan alamat itu dengan dikenai biaya. Pasal 42 Dalam hal Ciptaan didaftar menurut Pasal 37 ayat (1) dan ayat (2) serta Pasal 39. penghapusan atas permohonan orang atau badan hukum yang namanya tercatat sebagai Pencipta atau Pemegang Hak Cipta. Pasal 30. lampau waktu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29. dan Pasal 31 dengan mengingat Pasal 32. BAB V LISENSI Pasal 45 (1) Pemegang Hak Cipta berhak memberikan Lisensi kepada pihak lain berdasarkan surat perjanjian Lisensi untuk melaksanakan perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2. lingkup Lisensi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi semua perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 berlangsung selama jangka waktu Lisensi diberikan dan berlaku untuk seluruh wilayah Negara Republik Indonesia. xxii . Pasal 43 (1) Perubahan nama dan/atau perubahan alamat orang atau badan hukum yang namanya tercatat dalam Daftar Umum Ciptaan sebagai Pencipta atau Pemegang Hak Cipta.(3) Pencatatan pemindahan hak tersebut diumumkan dalam Berita Resmi Ciptaan oleh Direktorat Jenderal. b. dinyatakan batal oleh putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap. Pasal 44 Kekuatan hukum dari suatu pendaftaran Ciptaan hapus karena: a. pihak lain yang menurut Pasal 2 berhak atas Hak Cipta dapat mengajukan gugatan pembatalan melalui Pengadilan Niaga.

(2) Keanggotaan Dewan Hak Cipta terdiri atas wakil pemerintah. BAB VI DEWAN HAK CIPTA Pasal 48 (1) Untuk membantu Pemerintah dalam memberikan penyuluhan dan pembimbingan serta pembinaan Hak Cipta. (4) Jumlah royalti yang wajib dibayarkan kepada Pemegang Hak Cipta oleh penerima Lisensi adalah berdasarkan kesepakatan kedua belah pihak dengan berpedoman kepada kesepakatan organisasi profesi. (2) (3) Direktorat Jenderal wajib menolak pencatatan perjanjian Lisensi yang memuat ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 46 Kecuali diperjanjikan lain. Pasal 47 (1) Perjanjian Lisensi dilarang memuat ketentuan yang dapat menimbulkan akibat yang merugikan perekonomian Indonesia atau memuat ketentuan yang mengakibatkan persaingan usaha tidak sehat sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku. dibentuk Dewan Hak Cipta. perjanjian Lisensi wajib dicatatkan di Direktorat Jenderal. Pemegang Hak Cipta tetap boleh melaksanakan sendiri atau memberikan Lisensi kepada pihak ketiga untuk melaksanakan perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2. dan anggota masyarakat yang memiliki kompetensi di bidang Hak Cipta. yang diangkat dan diberhentikan oleh Presiden atas usul Menteri. wakil organisasi profesi. pelaksanaan perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) disertai dengan kewajiban pemberian royalti kepada Pemegang Hak Cipta oleh penerima Lisensi. Agar dapat mempunyai akibat hukum terhadap pihak ketiga. .(3) Kecuali diperjanjikan lain. (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai pencatatan perjanjian Lisensi diatur dengan Keputusan Presiden.

berlaku selama 20 (dua puluh) tahun sejak karya siaran tersebut pertama kali disiarkan. untuk tanpa karya (2) (3) Lembaga Penyiaran memiliki hak eksklusif untuk memberikan izin atau melarang pihak lain yang tanpa persetujuannya membuat. b. (2) Penghitungan jangka waktu perlindungan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dimulai sejak tanggal 1 Januari tahun berikutnya setelah: a. (4) Biaya untuk Dewan Hak Cipta sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dibebankan kepada anggaran belanja departemen yang melakukan pembinaan di bidang Hak Kekayaan Intelektual. Pelaku. karya pertunjukan selesai dipertunjukkan atau dimasukkan ke dalam media audio atau media audiovisual. dan/atau menyiarkan ulang karya siarannya melalui transmisi dengan atau tanpa kabel. berlaku selama 50 (lima puluh) tahun sejak karya tersebut selesai direkam. memperbanyak. atau melalui sistem elektromagnetik lain. Lembaga Penyiaran. masa bakti Dewan Hak Cipta ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. Produser Rekaman Suara. atau menyiarkan rekaman suara dan/atau gambar pertunjukannya. pembiayaan. c. memperbanyak. Produser Rekaman Suara memiliki hak eksklusif memberikan izin atau melarang pihak lain yang persetujuannya memperbanyak dan/atau menyewakan rekaman suara atau rekaman bunyi. xxiv . Pasal 50 (1) Jangka waktu perlindungan bagi: a. tata kerja. susunan. fungsi. berlaku selama 50 (lima puluh) tahun sejak karya tersebut pertama kali dipertunjukkan atau dimasukkan ke dalam media audio atau media audiovisual. BAB VII HAK TERKAIT Pasal 49 (1) Pelaku memiliki hak eksklusif untuk memberikan izin atau melarang pihak lain yang tanpa persetujuannya membuat.xxiii (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tugas.

Pasal 68. pencatatan Lisensi wajib. Pasal 53. Pasal 70. pencatatan perubahan nama dan/atau alamat. Pasal 60. Pasal 42. Pasal 27. Pasal 11. Pasal 9. yang mampu menyediakan informasi tentang Hak Cipta seluas mungkin kepada masyarakat. Pasal 64. BAB VIII PENGELOLAAN HAK CIPTA Pasal 52 Penyelenggaraan administrasi Hak Cipta sebagaimana diatur dalam Undang-undang ini dilaksanakan oleh Direktorat Jenderal. Pasal 36. pencatatan perjanjian Lisensi. Pasal 51 Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3. Pasal 69. Pasal 38. Pasal 17. karya siaran selesai disiarkan untuk pertama kali. permintaan petikan Daftar Umum Ciptaan. karya rekaman suara selesai direkam. Pasal 46. Pasal 59. Pasal 26. Pasal 55. Pasal 47. Pasal 5. Pasal 24. Pasal 37. Pasal 15. Pasal 48. Pasal 8. Pasal 75. dan Pasal 77 berlaku mutatis mutandis terhadap Hak Terkait. Pasal 66. Pasal 62. xxv . Pasal 45. Pasal 40. Pasal 18. Pasal 61. Pasal 7. Pasal 65. Pasal 4.b. Pasal 25. Pasal 57. Pasal 56. Pasal 6. Pasal 74. Pasal 43. Pasal 52. Pasal 39. Pasal 28. Pasal 58. Pasal 44. BAB IX BIAYA Pasal 54 (1) Untuk setiap pengajuan Permohonan. Pasal 71. Pasal 54. Pasal 14 huruf b dan huruf c. c. Pasal 53 Direktorat Jenderal menyelenggarakan sistem jaringan dokumentasi dan informasi Hak Cipta yang bersifat nasional. Pasal 35. serta lain-lain yang ditentukan dalam Undang-undang ini dikenai biaya yang besarnya ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. Pasal 41. Pasal 76. Pasal 63. Pasal 10. pencatatan pengalihan Hak Cipta.

(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan. mencantumkan nama Pencipta pada Ciptaannya. hakim dapat memerintahkan pelanggar untuk menghentikan kegiatan Pengumuman dan/atau Perbanyakan Ciptaan atau barang yang merupakan hasil pelanggaran Hak Cipta. meniadakan nama Pencipta yang tercantum pada Ciptaan itu. atau mengubah isi Ciptaan. Pasal 56 (1) Pemegang Hak Cipta berhak mengajukan gugatan ganti rugi kepada Pengadilan Niaga atas pelanggaran Hak Ciptanya dan meminta penyitaan terhadap benda yang diumumkan atau hasil Perbanyakan Ciptaan itu. (3) Sebelum menjatuhkan putusan akhir dan untuk mencegah kerugian yang lebih besar pada pihak yang haknya dilanggar. (2) Pemegang Hak Cipta juga berhak memohon kepada Pengadilan Niaga agar memerintahkan penyerahan seluruh atau sebagian penghasilan yang diperoleh dari penyelenggaraan ceramah. pertemuan ilmiah. mengganti atau mengubah judul Ciptaan. xxvi . c. jangka waktu. (3) BAB X PENYELESAIAN SENGKETA Pasal 55 Penyerahan Hak Cipta atas seluruh Ciptaan kepada pihak lain tidak mengurangi hak Pencipta atau ahli warisnya untuk menggugat yang tanpa persetujuannya: a. Direktorat Jenderal dengan persetujuan Menteri dan Menteri Keuangan dapat menggunakan penerimaan yang berasal dari biaya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) berdasarkan perundang-undangan yang berlaku. d. dan tata cara pembayaran biaya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Keputusan Presiden. b. yang merupakan hasil pelanggaran Hak Cipta. pertunjukan atau pameran karya.

Pasal 60 (1) Gugatan atas pelanggaran Hak Cipta diajukan kepada Ketua Pengadilan Niaga. (2) (3) Panitera menyampaikan gugatan kepada Ketua Pengadilan Niaga paling lama 2 (dua) hari terhitung setelah gugatan didaftarkan.Pasal 57 Hak dari Pemegang Hak Cipta sebagaimana dimaksud dalam Pasal 56 tidak berlaku terhadap Ciptaan yang berada pada pihak yang dengan itikad baik memperoleh Ciptaan tersebut semata-mata untuk keperluan sendiri dan tidak digunakan untuk suatu kegiatan komersial dan/atau kepentingan yang berkaitan dengan kegiatan komersial. Panitera mendaftarkan gugatan tersebut pada ayat (1) pada tanggal gugatan diajukan dan kepada penggugat diberikan tanda terima tertulis yang ditandatangani oleh pejabat yang berwenang dengan tanggal yang sama dengan tanggal pendaftaran. Pasal 59 Gugatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 55. (5) Sidang pemeriksaan atas gugatan dimulai dalam jangka waktu paling lama 60 (enam puluh) hari setelah gugatan didaftarkan. Pasal 58 Pencipta atau ahli waris suatu Ciptaan dapat mengajukan gugatan ganti rugi atas pelanggaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24. Pengadilan Niaga mempelajari gugatan dan menetapkan hari sidang. Pasal 56. xxvii . dan Pasal 58 wajib diputus dalam tenggang waktu 90 (sembilan puluh) hari terhitung sejak gugatan didaftarkan di Pengadilan Niaga yang bersangkutan. (4) Dalam jangka waktu paling lama 3 (tiga) hari setelah gugatan didaftarkan. Pasal 61 (1) Pemanggilan para pihak dilakukan oleh juru sita paling lama 7 (tujuh) hari setelah gugatan didaftarkan.

Pasal 63 (1) Pemohon kasasi wajib menyampaikan memori kasasi kepada panitera dalam waktu 14 (empat belas) hari sejak tanggal permohonan kasasi didaftarkan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 62 ayat (2). (3) Panitera mendaftar permohonan kasasi pada tanggal permohonan yang bersangkutan diajukan dan kepada pemohon kasasi diberikan tanda terima tertulis yang ditandatangani oleh panitera dengan tanggal yang sama dengan tanggal penerimaan pendaftaran. (4) Isi putusan Pengadilan Niaga sebagaimana dimaksud pada ayat (3) wajib disampaikan oleh juru sita kepada para pihak paling lama 14 (empat belas) hari setelah putusan atas gugatan diucapkan. (3) Putusan atas gugatan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) yang memuat secara lengkap pertimbangan hukum yang mendasari putusan tersebut harus diucapkan dalam sidang terbuka untuk umum dan apabila diminta dapat dijalankan terlebih dahulu meskipun terhadap putusan tersebut diajukan suatu upaya hukum. (2) xxviii . Pasal 62 (1) Terhadap putusan Pengadilan Niaga sebagaimana dimaksud dalam Pasal 61 ayat (4) hanya dapat diajukan kasasi.(2) Putusan atas gugatan harus diucapkan paling lama 90 (sembilan puluh) hari setelah gugatan didaftarkan dan dapat diperpanjang paling lama 30 (tiga puluh) hari atas persetujuan Ketua Mahkamah Agung. (2) Permohonan kasasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diajukan paling lama 14 (empat belas) hari setelah tanggal putusan yang dimohonkan kasasi diucapkan atau diberitahukan kepada para pihak dengan mendaftarkan kepada Pengadilan yang telah memutus gugatan tersebut. Panitera wajib mengirimkan permohonan kasasi dan memori kasasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) kepada pihak termohon kasasi paling lama 7 (tujuh) hari setelah memori kasasi diterima oleh panitera.

(4) Pasal 64 (1) Mahkamah Agung wajib mempelajari berkas perkara kasasi dan menetapkan hari sidang paling lama 7 (tujuh) hari setelah permohonan kasasi diterima oleh Mahkamah Agung. (4) Putusan atas permohonan kasasi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) yang memuat secara lengkap pertimbangan hukum yang mendasari putusan tersebut harus diucapkan dalam sidang yang terbuka untuk umum. (3) Putusan atas permohonan kasasi harus diucapkan paling lama 90 (sembilan puluh) hari setelah permohonan kasasi diterima oleh Mahkamah Agung. Panitera wajib mengirimkan berkas perkara kasasi yang bersangkutan kepada Mahkamah Agung paling lama 14 (empat belas) hari setelah lewat jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (3). (5) Panitera Mahkamah Agung wajib menyampaikan salinan putusan kasasi kepada panitera paling lama 7 (tujuh) hari setelah putusan atas permohonan kasasi diucapkan. xxix .(3) Termohon kasasi dapat mengajukan kontra memori kasasi kepada panitera paling lama 14 (empat belas) hari setelah tanggal termohon kasasi menerima memori kasasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan panitera wajib menyampaikan kontra memori kasasi kepada pemohon kasasi paling lama 7 (tujuh) hari setelah kontra memori kasasi diterima oleh panitera. Pasal 65 Selain penyelesaian sengketa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 55 dan Pasal 56. (6) Juru sita wajib menyampaikan salinan putusan kasasi sebagaimana dimaksud pada ayat (5) kepada pemohon kasasi dan termohon kasasi paling lama 7 (tujuh) hari setelah putusan kasasi diterima oleh panitera. (2) Sidang pemeriksaan atas permohonan kasasi mulai dilakukan paling lama 60 (enam puluh) hari setelah permohonan kasasi diterima oleh Mahkamah Agung. para pihak dapat menyelesaikan perselisihan tersebut melalui arbitrase atau alternatif penyelesaian sengketa.

Pasal 69 (1) Dalam hal hakim Pengadilan Niaga telah menerbitkan penetapan sementara pengadilan. xxx . atau menguatkan penetapan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 67 huruf a dan huruf b dalam waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari sejak dikeluarkannya penetapan sementara pengadilan tersebut.Pasal 66 Hak untuk mengajukan gugatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 55. mencegah berlanjutnya pelanggaran Hak Cipta. termasuk tindakan importasi. dan hak Pemohon tersebut memang sedang dilanggar. para pihak harus segera diberitahukan mengenai hal itu. hakim Pengadilan Niaga harus memutuskan apakah mengubah. dan Pasal 65 tidak mengurangi hak Negara untuk melakukan tuntutan pidana terhadap pelanggaran Hak Cipta. termasuk hak untuk didengar bagi pihak yang dikenai penetapan sementara tersebut. Pasal 56. b. penetapan sementara pengadilan tidak mempunyai kekuatan hukum. membatalkan. BAB XI PENETAPAN SEMENTARA PENGADILAN Pasal 67 Atas permintaan pihak yang merasa dirugikan. c. menyimpan bukti yang berkaitan dengan pelanggaran Hak Cipta atau Hak Terkait tersebut guna menghindari terjadinya penghilangan barang bukti. (2) Apabila dalam jangka waktu 30 (tiga puluh) hari hakim tidak melaksanakan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). untuk memberikan bukti yang menyatakan bahwa pihak tersebut memang berhak atas Hak Cipta atau Hak Terkait. meminta kepada pihak yang merasa dirugikan. khususnya mencegah masuknya barang yang diduga melanggar Hak Cipta atau Hak Terkait ke dalam jalur perdagangan. Pengadilan Niaga dapat menerbitkan surat penetapan dengan segera dan efektif untuk: a. Pasal 68 Dalam hal penetapan sementara pengadilan tersebut telah dilakukan.

c. dan dokumen lain. meminta bantuan ahli dalam rangka pelaksanaan tugas penyidikan tindak pidana di bidang Hak Cipta. (2) Penyidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berwenang: a. Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu di lingkungan departemen yang lingkup tugas dan tanggung jawabnya meliputi pembinaan Hak Kekayaan Intelektual diberi wewenang khusus sebagai Penyidik sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana untuk melakukan penyidikan tindak pidana di bidang Hak Cipta. melakukan pemeriksaan atas kebenaran laporan atau keterangan berkenaan dengan tindak pidana di bidang Hak Cipta. melakukan penyitaan bersama-sama dengan pihak Kepolisian terhadap bahan dan barang hasil pelanggaran yang dapat dijadikan bukti dalam perkara tindak pidana di bidang Hak Cipta. pihak yang merasa dirugikan dapat menuntut ganti rugi kepada pihak yang meminta penetapan sementara atas segala kerugian yang ditimbulkan oleh penetapan sementara tersebut. dan dokumen lain berkenaan dengan tindak pidana di bidang Hak Cipta.Pasal 70 Dalam hal penetapan sementara dibatalkan. dan g. pencatatan. Penyidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memberitahukan dimulainya penyidikan dan menyampaikan hasil penyidikannya kepada Penyidik Pejabat Polisi Negara Republik Indonesia sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana. melakukan pemeriksaan di tempat tertentu yang diduga terdapat barang bukti pembukuan. BAB XII PENYIDIKAN Pasal 71 (1) Selain Penyidik Pejabat Polisi Negara Republik Indonesia. b. melakukan pemeriksaan terhadap pihak atau badan hukum yang diduga melakukan tindak pidana di bidang Hak Cipta. (3) xxxi . f. melakukan pemeriksaan atas pembukuan. d. pencatatan. meminta keterangan dari pihak atau badan hukum sehubungan dengan tindak pidana di bidang Hak Cipta. e.

00 (satu juta rupiah).000. (5) Barangsiapa dengan sengaja melanggar Pasal 19.000.00 (seratus lima puluh juta rupiah). atau Pasal 49 ayat (3) dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 150.000.00 (lima ratus juta rupiah). (6) Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak melanggar Pasal 24 atau Pasal 55 dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 150. (2) Barangsiapa dengan sengaja menyiarkan.000.00 (lima miliar rupiah).000. mengedarkan.000.00 (satu miliar rupiah).000. atau menjual kepada umum suatu Ciptaan atau barang hasil pelanggaran Hak Cipta atau Hak Terkait sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 500.000.000.000. Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak memperbanyak penggunaan untuk kepentingan komersial suatu Program Komputer dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 500. xxxii .000. (3) (4) Barangsiapa dengan sengaja melanggar Pasal 17 dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 1.000.000. Pasal 20.00 (seratus lima puluh juta rupiah).000.000. (7) Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak melanggar Pasal 25 dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 150. atau pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 5.000.000. memamerkan.000.00 (lima ratus juta rupiah).00 (seratus lima puluh juta rupiah).BAB XIII KETENTUAN PIDANA Pasal 72 (1) Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak melakukan perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) atau Pasal 49 ayat (1) dan ayat (2) dipidana dengan pidana penjara masing-masing paling singkat 1 (satu) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp 1.

(2) Ciptaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) di bidang seni dan bersifat unik. BAB XIV KETENTUAN PERALIHAN Pasal 74 Dengan berlakunya Undang-undang ini segala peraturan perundangundangan di bidang Hak Cipta yang telah ada pada tanggal berlakunya Undang-undang ini.000. Pasal 73 (1) Ciptaan atau barang yang merupakan hasil tindak pidana Hak Cipta atau Hak Terkait serta alat-alat yang digunakan untuk melakukan tindak pidana tersebut dirampas oleh Negara untuk dimusnahkan.(8) Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak melanggar Pasal 27 dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 150.000. Pasal 75 Terhadap Surat Pendaftaran Ciptaan yang telah dikeluarkan oleh Direktorat Jenderal berdasarkan Undang-undang Nomor 6 Tahun 1982 tentang Hak Cipta sebagaimana diubah dengan Undang-undang Nomor 7 Tahun 1987 dan terakhir diubah dengan Undang-undang Nomor 12 Tahun 1997. (9) Barangsiapa dengan sengaja melanggar Pasal 28 dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 1.000.00 (seratus lima puluh juta rupiah).00 (satu miliar lima ratus juta rupiah).500. tetap berlaku selama tidak bertentangan atau belum diganti dengan yang baru berdasarkan Undang-undang ini. xxxiii . masih berlaku pada saat diundangkannya Undang-undang ini dinyatakan tetap berlaku untuk selama sisa jangka waktu perlindungannya.000. dapat dipertimbangkan untuk tidak dimusnahkan.

atau negaranya dan Negara Republik Indonesia merupakan pihak atau peserta dalam perjanjian multilateral yang sama mengenai perlindungan Hak Cipta. dan badan hukum Indonesia. dengan ketentuan: (i) negaranya mempunyai perjanjian bilateral mengenai perlindungan Hak Cipta dengan Negara Republik Indonesia. penduduk. dan bukan badan hukum Indonesia yang diumumkan untuk pertama kali di Indonesia. bukan penduduk Indonesia. Undang-undang Nomor 6 Tahun 1982 tentang Hak Cipta sebagaimana diubah dengan Undangundang Nomor 7 Tahun 1987 dan terakhir diubah dengan Undangundang Nomor 12 Tahun 1997 dinyatakan tidak berlaku. xxxiv . bukan penduduk Indonesia.BAB XV KETENTUAN PENUTUP Pasal 76 Undang-undang ini berlaku terhadap: a. memerintahkan pengundangan Undang-undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. semua Ciptaan bukan warga negara Indonesia. Agar setiap orang mengetahuinya. c. (ii) Pasal 77 Dengan berlakunya Undang-undang ini. b. Pasal 78 Undang-undang ini mulai berlaku 12 (dua belas) bulan sejak tanggal diundangkan. dan bukan badan hukum Indonesia. semua Ciptaan bukan warga negara Indonesia. semua Ciptaan warga negara.

ttd Edy Sudibyo xxxv . ttd BAMBANG KESOWO LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2002 NOMOR 85 Salinan sesuai dengan aslinya SEKRETARIAT KABINET RI Kepala Biro Peraturan Perundang-undangan II.Disahkan di Jakarta pada tanggal 29 Juli 2002 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. ttd MEGAWATI SOEKARNOPUTRI Diundangkan di Jakarta pada tanggal 29 Juli 2002 SEKRETARIS NEGARA REPUBLIK INDONESIA.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful