ALFRED HITCHCOCK TRIO DETEKTIF

MISTERI NAGA BATUK
Teks oleh Nick West Berdasarkan tokoh-tokoh ciptaan Robert Arthur
eBook oleh Nurul Huda Kariem MR. nurulkariem@yahoo.com

Penerbit PT Gramedia Jakarta, 1985

http://crossfire-net.blogspot.com/

THE MYSTERY OF THE COUGHING DRAGON by Alfred Hitchcock Copyright (c) 1970 by Random House, Inc. Text by Nick West. Based on characters created by Robert Arthur This translation published by arrangement with Random House, Inc. All rights reserved MISTERI NAGA BATUK Alihbahasa: Agus Setiadi GM 85.094 Hak cipta terjemahan Indonesia PT Gramedia, Jakarta Hak cipta dilindungi oleh undang-undang Sampul digambar kembali oleh Nono S. Diterbitkan pertama kali oleh Penerbit PT Gramedia, Jakarta Mei 1985 Anggota IKAPI

Dilarang mengutip, menerjemahkan, memfotokopi atau memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini tanpa izin tertulis dari Penerbit.

Dicetak oleh Percetakan PT Gramedia Jakarta

http://crossfire-net.blogspot.com/

DAFTAR ISI
1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 9 Awal yang Misterius Horor dari Dalam Laut 21 39 Ujian Mental 48 Uluran Tangan yang Mangagetkan Bahaya di Kaki Tebing 58 Terjebak! 64 Peringatan Misterius 73 82 Dua Sosok Misterius 94 Peringatan dari Hantu 99 Matinya Sebuah Kota 111 Kengerian di Malam Buta 128 Cengkeraman Kengerian 138 Kelakar Orang yang Suka Iseng Berburu Naga 154 163 Pertanyaan d a n Jawabannya Menghadang Bahaya Lagi 176 Misteri Terowongan Tua 189 207 Tertangkap! Situasi Gawat 215 229 Uluran Tangan Mr. Hitchcock

5
http://crossfire-net.blogspot.com/

KATA PENDAHULUAN
KATA pendahuluan ini semata-mata untuk memperkenalkan Trio Detektif pada pembaca yang baru sekali ini hendak mulai mengikuti kisah petualangan mereka yang selalu mengasyikkan. Jadi pembaca yang sudah tahu siapa mereka, tentu saja tidak perlu lagi membaca halaman ini. Trio Detektif merupakan sekelompok penyelidik remaja yang gigih. Meski mereka amatir, tapi sangat tangguh dalam mencapai tujuan mereka. Dan tujuan mereka adalah menyelidiki misterimisteri. Pemimpin mereka Jupiter Jones, la sendiri yang mengatakan begitu. la pula yang merupakan "otak" Trio Detektif. Pete Crenshaw, yang bertubuh paling kekar di antara mereka bertiga, biasanya melakukan tugas yang menghendaki ketangguhan jasmani. Sedang Bob Andrews menangani bagian Catatan dan Riset. Ketiga remaja itu bertempat tinggal di Rocky Beach, sebuah kota kecil di tepi Samudra Pasifik, beberapa mil dari kota film terkenal di Amerika Serikat, Hollywood. Mereka bermarkas di sebuah karavan yang sudah diubah menjadi kantor. Karavan itu tersembunyi letaknya di Jones Salvage

7
http://crossfire-net.blogspot.com/

Yard, suatu tempat perjualbelian barang-barang bekas, yang diusahakan oleh paman dan bibi Jupiter. Dalam karavan tersembunyi itu ada kantor dan laboratorium kecil, kamar gelap, serta peralatan hasil rakitan ketiga remaja itu sendiri, dari barang-barang bekas yang bertumpuk-tumpuk di kompleks itu. Karavan itu hanya bisa dimasuki lewat berbagai lorong rahasia. Hanya ketiga remaja itu saja yang bisa melewati lorong-lorong itu, tanpa tersangkut-sangkut. Nan! Rasanya itu sudah cukup sebagai perkenalan. Sekarang, silakan menikmati kisah petualangan Trio Detektif yang terbaru. Alfred Hitchcock

8

http://crossfire-net.blogspot.com/

Bab I AWAL YANG MISTERIUS

"AKU ingin tahu," kata Jupiter Jones pada suatu pagi, "langkah-langkah mana yang kita ambil, jika kita hendak melakukan perampokan terbesar yang pernah terjadi di daerah sini." Kedua temannya bereaksi dengan gerakan kaget. Tumpukan kartu kecil-kecil yang saat itu hendak dimasukkan oleh Bob Andrews ke dalam mesin cetak tua milik ketiga remaja itu terlepas dari tangannya, sehingga jatuh berhamburan. Pete Crenshaw, yang sedang membetulkan sebuah radio usang, tersentak. Obeng yang dipegangnya melenceng ke samping. "Apa katamu?" tanya Pete, sambil mengusapusap goresan yang ditinggalkan mata obeng pada kayu penutup sisi belakang radio. "Aku mengatakan, aku ingin tahu langkah mana saja yang kita ambil, jika kita ingin melakukan perampokan terbesar yang pernah terjadi di daerah sini," kata Jupiter mengulangi kalimatnya. "Itu jika kita ini penjahat ulung." "Sementara kau sedang mereka-reka ha! itu," kata Pete, "coba kaupikirkan sekaligus apa yang terjadi dengan diri kita, jika kita tertangkap. Aku pernah mendengar — entah di mana — bahwa
9
http://crossfire-net.blogspot.com/

kejahatan itu pada hakikatnya tidak membawa faedah. Bob Andrews memunguti kartu-kartu yang berhamburan di tanah. "Kurasa kita tidak berbakat menjadi penjahat ulung, Lihat saja aku ini — memasukkan kartu-kartu ke mesin cetak saja sudah tidak bisa!" "Aku juga hanya mereka-reka kemungkinannya saja," kata Jupiter. "Kita ini kan penyelidik! Tadi tiba-tiba timbul pikiran, jika kita bisa merekareka kejahatan yang terencana rapi, nanti jika harus melakukan pengusutan, sedikit-banyak kita kan sudah mengetahui liku-likunya. Kita hanya perlu membalikkan cara berpikir kita, seolah-olah kita ini penjahat ulung." Pete mengangguk. "Idemu itu bagus, Jupe," katanya. "Tapi aku sekarang perlu membalikkan jalan pikiran pemiiik terakhir dari radio ini terlebih dulu. la mencoba membetulkan radio ini — tapi hasilnya malah tidak keruan! Kalau ini sudah beres, aku mau saja main ulung-ulungan bersamamu." Ketiga remaja yang menamakan diri mereka Trio Detektif itu sedang berada di bengkel Jupiter, yang terdapat di dalam kompleks Jones Salvage Yard. Bengkel itu terpencil letaknya, dan dinaungi atap selebar kurang-lebih dua meter, yang menjorok dari tepi atas pagar tinggi yang mengelilingi kompleks. Mereka sedang sibuk bekerja, memperbaiki barang-barang bekas yang dibeli Paman Titus. Sebagian dari keuntungan hasil
10
http://crossfire-net.blogspot.com/

kerja mereka dijadikan uang saku, sedang selebihnya dipakai untuk melengkapi peralatan kantor mereka, seperti pesawat telepon, misalnya. Pete mengencangkan sebuah sekrup pada radio yang sedang diperbaikinya. Setelah itu dengan bangga diperlihatkannya hasil kerjanya pada Jupiter, untuk dinilai. "Hasil kerjaku ini pantasnya diimbali dengan paling sedikit tiga dolar oleh pamanmu, Jupe," katanya. "Kini barang ini bisa dijualnya dalam kondisi baik, dan bukan barang rongsokan lagi — seperti sewaktu dibeli olehnya." Jupiter tersenyum. "Bukan kebiasaan Paman Titus, menghamburhamburkan uang tanpa pertimbangan," katanya. "Coba kauuji dulu, untuk memastikan bahwa radio itu benar-benar bisa berbunyi lagi." Pete mengangkat bahu, lalu menyalakan pesawat radio itu. "Percaya deh — kutanggung sudah beres lagi," katanya. "Dengarkan saja sendiri!" Terdengar bunyi dengung dan berkeretak sesaat, disusul suara seorang penyiar yang kedengarannya sedang membacakan warta berita. "Pihak kepolisian masih tetap belum dapat mengambil langkah-langkah kongkret sehubungan dengan peristiwa-peristiwa misterius yang terjadi di Seaside," kata penyiar, membacakan berita. "Selama minggu terakhir, lima ekor anjing dilaporkan lenyap. Para pemilik kebingungan atas
11

http://crossfire-net.blogspot.com/

lenyapnya anjing-anjing peliharaan mereka. — Dan kini menyusul berita luar negeri. Di ..." "Ya, cukuplah, Pete," kata Jupiter. Pete mematikan pesawat radio. "Bukan main," katanya. "Lima ekor anjing hilang! Rupanya ada orang sinting sedang gentayangan, menculik anjing." "Kurasa dia itulah penjahat ulung yang dibicarakan Jupe tadi," kata Bob sambil tertawa nyengir. "Orang itu berniat mencuri semua anjing yang bisa dicuri, untuk kemudian menguasai pasaran anjing. Dengan begitu tidak ada pilihan lain bagi para peminat, kecuali membayar harga yang diminta. Saat itu semua anjing hasil culikannya dilempar ke pasaran, dan ia akan menjadi kaya-raya." Jupiter duduk termenung, sambil memijit-mijit bibir bawahnya. Itu merupakan tanda bahwa otaknya sedang bekerja. "Ganjil," katanya setelah beberapa saat. "Apanya yang ganjil?" tanya Bob. "Maksudmu jumlah anjing yang hilang? Lima memang angka ganjil." Jupiter menggeleng. Keningnya berkerut. "Bukan itu maksudku! Yang kukatakan ganjil, kenapa anjing sebanyak itu lenyap dalam seminggu. Laporan tentang anjing yang hilang biasanya cuma sekali-sekali saja masuk — dan tidak beruntun-runtun dalam batas waktu seminggu." "Yah — kurasa seperti yang kukatakan tadi," kata Bob. "Ada penjahat ulung dengan gagasan
12

http://crossfire-net.blogspot.com/

edan, yaitu hendak menguasai pasaran jual-beli anjing. Mungkin ia ingin menekan harga daging cacah, di samping menjual anjing-anjing curian dengan keuritungan besar." Jupiter tersenyum sekilas. "Pemikiranmu itu boleh juga," katanya, "tapi dengannya tidak terjawab pertanyaan yang timbul. Kenapa sampai ada lima ekor yang hilang, dalam waktu satu minggu? Pertanyaan lainnya, kenapa kita tidak dihubungi untuk mengusut peristiwaperistiwa misterius ini?" "Mungkin karena peristiwanya tidak begitu misterius," kata Pete. "Anjing kan kadang-kadang keluyuran, dan tidak dengan segera pulang. Itu dugaanku." "Aku sependapat dengan Pete," kata Bob. "Berita tadi tidak menyebutkan apakah anjinganjing yang hilang itu berharga atau tidak. Beritanya kan hanya tentang lima ekor anjing yang dilaporkan hilang." Jupiter mengangguk lambat-lambat. Tapi nampaknya ia masih tetap sangsi. "Bisa juga kalian berdua benar," katanya mengakui. "Mungkin saja segala peristiwa ini cuma kebetulan yang aneh belaka — meski terus terang saja, aku tidak suka menarik kesimpulan yang begitu." Kedua temannya tersenyum. Memang kebiasaan Jupiter untuk berbicara dengan kalimat yang panjang-panjang. Hal itu, ditambah kemampuannya menarik kesimpulan dalam melakukan
13

http://crossfire-net.blogspot.com/

pengusutan, menyebabkan remaja itu diterima oleh kedua temannya selaku pemimpin mereka. "Bagaimana ya caranya bisa mengusut misteri ini, tanpa diminta oleh salah seorang dari para pemilik anjing yang hilang itu?" kata Jupe sambil merenung. Bob dan Pete berpandang-pandangan dengan alis terangkat. "Misteri yang mana?" tanya Pete. "Kusangka kita tadi sudah sependapat, hal itu merupakan peristiwa yang kebetulan saja terjadi beruntun-runtun. Jadi sama sekali tidak merupakan misteri." "Bisa saja memang begitu halnya," kata Jupiter. "Tapi kita ini kan penyelidik! Sebelum ini sudah beberapa kali kita berhasil menemukan kembali binatang yang hilang. Dan semuanya ada sangkut pautnya dengan suatu misteri." Pete dan Bob mengangguk, karena keduanya teringat pada kegiatan mereka mencari kucing abesinia milik Mrs. Banfry yang hilang. Ternyata pencarian itu kemudian melibatkan mereka dalam misteri mumi yang bisa berbisik. Lalu Billy Shakespeare, burung nuri Mr. Malcolm Fentriss yang juga hilang, ternyata membawa mereka ke tengah Misteri Nuri Gagap. "Seaside — hm, itu kan di selatan, dan tidak begitu jauh dari sini," kata Jupiter lagi. "Ketenaran kita selaku penyelidik rupanya tidak sehebat perkiraan kita. Kita harus berbuat sesuatu mengenainya."
14

http://crossfire-net.blogspot.com/

Bob menuding tumpukan kartu yang sudah ditaruhnya dalam mesin cetak. "Itulah yang sedang kukerjakan, Jupe," katanya. "Aku hendak mencetak kartu nama baru Trio Detektif." "Itu ide yang bagus, Bob," kata Jupiter. "Tapi maksudku bukan itu. Kita harus lebih terkenal lagi, agar jika ada kejadian aneh, orang akan langsung ingat pada Trio Detektif dari Rocky Beach, California." Bob menggerakkan tangannya'dengan sikap putus asa. "Aduh, Jupe — bagaimana hal itu akan bisa kita capai menurutmu? Kita kan tidak mampu membeli waktu dalam siaran iklan di TV, atau menyewa; pesawat terbang yang biasa membuat tulisan iklan dengan asap di udara!" "Ya, aku juga tahu," kata Jupiter. "Begini sajalah! Sekarang ini juga kita mengadakan rapat di markas, untuk merundingkan berbagai jalan yang bisa ditempuh, agar Trio Detektif menjadi lebih terkenal lagi." Jupiter langsung berdiri, tanpa menunggu jawaban lagi. Bob dan Pete saling be pandangpandangan.' Keduanya sama-sama mtngangkat bahu, lalu menyusul. "Caramu bertindak yang sangat demokratislah yang kusenangi dari dirimu, Jupe," kata Pete menyindir sambil tersenyum. "Maksudku, kita selalu mengadakan pemungutan suara dulu, sebelum diambil keputusan."
15
http://crossfire-net.blogspot.com/

Mereka menggeser sepotong kisi-kisi besi yang sudah karatan, yang tersandar di belakang mesin cetak mereka. Kisi-kisi itu ternyata menutupi ujung sebuah pipa seng yang panjang dan berukuran besar. Ketiga remaja itu merangkak ke dalamnya. Setelah mengembalikan kisi-kisi penutup ke tempatnya semula, kemudian mereka merangkak sejauh kira-kira sepuluh meter. Sebagian dari pipa itu terbenam ke dalarh tanah, lalu menyusur di antara batang-batang besi yang bermacam-macam bentuknya. Akhirnya mereka sampai di ujung pipa, yang letaknya tepat di bawah karavan yang telah diubah menjadi Markas Besar Trio Detektif. Paman Titus mengizinkan Jupiter serta kedua temannya memakai kendaraan bekas itu, setelah selama beberapa waktu tak pemah berhasil menjualnya. Tingkap pada lantai karavan didorong ke atas, dan ketiga remaja itu menyusup masuk ke dalam kantor mereka. Kantor itu tidak besar, dan dilengkapi dengan sebuah meja, beberapa kursi, sebuah mesin tik, lemari arsip, dan pesawat telepon. Jupiter menghubungkan sebuah mikrofon dan sebuah pengeras suara ke pesawat telepon itu, sehingga semua bisa ikut berbicara dan mendengar jika ada percakapan lewat telepon. Selain itu karavan tersebut terdiri dari sebuah kamar gelap yang sempit, laboratorium kecil, serta kamar mandi. Ruangan dalam karavan itu gelap, karena kendaraan bekas itu dikelilingi barang-barang
16
http://crossfire-net.blogspot.com/

rongsokan yang menumpuk tinggi di luar. Pete menyalakan lampu yang tergantung di atas meja. Saat itu terdengar deringan pesawat telepon. Ketiga remaja itu , berpandang-pandangan. Soalnya, boleh dibilang tidak pernah ada orang menelepon mereka. Sekali lagi telepon berdering. Jupiter meraih gagangnya, sambil menyambung pesawat itu dengan alat pengeras suara. Ternyata yang menelepon seorang wanita, kalau ditilik dari suarahya. "Di situ Jupiter Jones? Mr. Alfred Hitchcock ingin bicara." "Wow!" kata Bob bersemangat. "Mungkin ia punya kasus baru untuk kita." Sejak mengenal Trio Detektif beberapa waktu yang lalu, sutradara Hollywood yang kenamaan itu sudah beberapa kali menugaskan mereka untuk melakukan berbagai pengusutan. "Halo, Jupiter!" Kini Mr. Hitchcock sendiri yang berbicara. "Kau beserta kedua temanmu sedang sibuk mengusut suatu kasus saat ini?" "Tidak, Sir," kata Jupiter. "Tapi berdasarkan teori probabilitas, kemungkinannya tidak lama lagi kami akan menjumpai kasus yang cukup, menarik." Mr. Hitchcock terkekeh. "Jadi keyakinanmu itu berdasarkan teori mengenai kemungkinan, ya?" kata sutradara ternama itu. "Kalau kalian tidak sedang sibuk, aku punya kasus
17
http://crossfire-net.blogspot.com/

untuk kalian. Seorang sutradara teman lamaku memerlukan bantuan mengenai suatu masalah." "Dengan senang hati kami bersedia membantu, Mr. Hitchcock," kata Jupiter. "Apakah masalah teman Anda itu?" Mr. Hitchcock diam sejenak, seakan-akan sedang mencoba merumuskan situasi sulit dengan beberapa patah kata saja. "Masalah itu kelihatannya menyangkut anjing," katanya kemudian. "Maksudku, waktu menelepon aku tadi, ia mengatakan bahwa anjingnya hilang." Mata Jupiter langsung bersinar-sinar. "Teman Anda itu barangkali kebetulan tinggal di kota Seaside, Mr. Hitchcock?" tanyanya. Sunyi lagi sesaat. Dan ketika Mr. Hitchcock menjawab, suaranya jelas bernada heran. "Ya, temanku itu memang tinggal di Seaside, Jupiter. Tapi dari mana kau bisa menarik kesimpulan itu?" "Saya hanya menggabung-gaburigkan beberapa peristiwa ganjil," kata Jupiter. "Luar biasa," kata Mr. Hitchcock. "Benar-benar luar biasa. Aku senang mengetahui bahwa kau masih tetap siaga, dan tidak membiarkan diri kalian menjadi lamban karena kejenuhan serta bersikap besar kepala." Jupiter meringis. "Itu takkan mungkin terjadi, Sir. Tapi kata Anda tadi, teman Anda itu kelihatannya menghadapi masalah yang menyangkut anjing. Dan Anda
18

http://crossfire-net.blogspot.com/

memberi tekanan nada pada kata "kelihatannya", Sir. Apakah itu Anda lakukan dengan sengaja?" "Kau berhasil dengan tepat menafsirkan apa yang hendak kusampaikan padamu," kata Mr. Hitchcock. "Menurutku, ini bukan kasus yang biasa-biasa saja — karena jika dipikir-pikir, kasus yang melibatkan seekor naga, mana mungkin bisa disebut biasa. Ya, 'kan?" Jupiter merasa lehemya seperti tersumbat. "Naga, Sir?" katanya. "Ya, betul. Naga! Rumah temanku itu berada di atas tebing, dan menghadap ke laut. Di kaki tebing di bawah rumahnya ada liang-liang gua. Temanku itu dengan yakin mengatakan bahwa saat malam anjingnya hilang, ia melihat seekor naga besar muncul dari dalam laut, lalu masuk ke dalam salah satu gua di bawah rumahnya." Ketiga remaja yang berada dalam kantor Trio Detektif diam saja. Mereka tidak bisa mengatakan apa-apa, karena terlalu kaget. "Nah — bagaimana? Kalian mau mencoba mengusut misteri ini?" "A-a-anda b-b-berikan saja nama dan alamat teman Anda itu, Sir," kata Jupiter tergagap-gagap, karena sangat bergairah. "Kelihatannya, ini akan menjadi kasus yang paling menarik yang pernah kami tangani!" Ditulisnya nama dan alamat yang disebutkan Mr. Hitchcock, la juga berjanji akan melaporkan hasil pengusutan mereka. Selesai menelepon, dipandangnya Bob dan Pete dengan sikap menang.
19

http://crossfire-net.blogspot.com/

"Hal mana pun juga, yang menyangkut seekor naga yang hidup zaman sekarang ini, perlu kita selidiki. Kalian sependapat, 'kan?" Bob mengangguk. Sedang Pete hanya mengangkat bahu. "Kau nampaknya kurang setuju, Pete," kata Jupiter. "Ada satu kekurangan dalam keteranganmu tadi," kata Pete. "Kau mengatakan pada Mr. Hitchcock, ini mungkin merupakan kasus kita yang paling menarik." "Ya, memanci begitu kukatakan tadi," kata Jupiter. "Kau tidak sependapat?" "Tidak sepenuhnya," kata Pete. "Kalau begitu, apa yang akan kaukatakan pada Mr. Hitchcock?" "Karena ada naga terlibat di dalamnya," kata Pete, "kalau aku yang ditanya, aku akan mengatakan — ini akan merupakan kasus kita yang penghabisan!"

20
http://crossfire-net.blogspot.com/

Bab 2 H O R O R DARI DALAM LAUT

Seaside, di mana sutradara film teman Mr. Hitchcock tinggal, letaknya sekitar dua puluh mil dari Rocky Beach, lewat jalan raya bebas hambatan yang bernama Pacific Coast Highway. Hans, satu dari kedua pemuda bersaudara asal Jerman yang bekerja di Jones Salvage Yard, kebetulan setelah makan siang harus segera ke daerah sekitar situ, untuk menjemput dan mengantar barang. Jupiter diizinkan Bibi Mathilda membonceng truk kecil itu ke sana, bersama teman-temannya. Setelah menikmati hidangan bibi Jupiter, ketiga remaja itu bergegas ke luar. Mereka beramai-ramai di kabin depan, di samping Hans. Jupiter menyebutkan alamat yang dituju, dan dengan segera truk kecil yang mereka tumpangi sudah meluncur di atas jalan raya pesisir yang mulus, menuju ke selatan. "Kau kan punya waktu untuk melakukan penelitian sekedarnya, Bob," kata Jupiter. "Apa yang bisa kauceritakan tentang makhluk naga?" "Naga itu makhluk dongeng," kata Bob. "Biasanya dilukiskan berupa binatang melata berukuran raksasa, bersayap dan bercakar runcing, serta bisa menyemburkan api dan asap."
KOTA

21
http://crossfire-net.blogspot.com/

"Aku sama sekali tidak melakukan penelitian," kata Pete memotong, "tapi kurasa ada satu hal penting yang dilupakan oleh Bob. Naga bukan makhluk yang ramah." "Itu memang juga bisa kukatakan tadi," kata Bob. "Tapi Jupiter kan cuma berminat pada fakta-fakta saja! Naga merupakan makhluk dongeng —jadi dengan lain perkataan, sebenarnya tidak ada. Jadi sebenarnya, kita tidak perlu repot-repot memikirkan apakah naga itu ramah atau tidak." "Tepat," kata Jupiter. "Naga merupakan makhluk legenda masa silam. Katakanlah mereka pernah ada — rasanya sekarang sudah punah semuanya, sebagai akibat perkembangan evolusi." "Bagiku, itu malah lebih baik," kata Pete. "Tapi jika mereka kini sudah punah, lalu kenapa kita kini berangkat untuk menyelidiki seekor naga?" "Kita mendengar berita yang mengatakan ada lima ekor anjing yang lenyap selama seminggu belakangan ini, di kota Seaside yang biasanya tentram," kata Jupiter. "Lalu Mr. Hitchcock mengatakan pada kita bahwa seorang temannya kehilangan seekor anjing, serta melihat seekor naga di dekat rumahnya. Kau tidak merasa bahwa itu ada apa-apanya bagi kita?" "O ya — tentu saja ada," kata Pete. "Kabar-kabar itu menimbulkan perasaan dalam diriku, bahwa aku seharusnya tinggal saja di Rocky Beach dan main selancar, dan bukan ikut denganmu untuk menangkap naga."
22
http://crossfire-net.blogspot.com/

"Jika Henry Allen, sutradara teman lama Mr. Hitchcock itu memerlukan jasa kita, maka itu akan merupakan petualangan yang menghasilkan keuntungan bagi Trio Detektif," kata Jupiter. "Kenapa tidak kaucoba melihatnya dari segi itu?" "Sudah, sudah kucoba," kata Pete. "Terlepas dari ada tidaknya naga," sambung Jupiter, "yang jelas, ada sesuatu yang misterius di sini. Sebentar lagi kita akan memperoleh faktafakta, dan kita bisa memulai pengusutan. Sementara itu, kasus ini harus kita pandang dengan sikap terbuka." Sementara itu truk kecil yang mereka tumpangi sudah sampai di pinggiran kota Seaside. Hans memperlambat jalan kendaraan itu, sambil mencari-cari nomor rumah yang disebutkan oleh Jupiter padanya. Truk itu masih berjalan satu mil lagi, lalu berhenti. "Kurasa ini tempatnya, Jupe," kata Hans. Yang nampak hanya pagar tanaman yang tinggi, serta pohon-pohon palem. Rumah yang mestinya ada di situ, seakan-akan bersembunyi. Yang jelas, bangunan itu tidak kelihatan dari jalan. Pete melihat tulisan nama berukuran kecil, pada sebuah kotak surat yang dicat putih. "H. H. Allen," katanya membaca tulisan itu. "Mestinya memang inilah tempatnya." Anak-anak turun dari truk. "Penyelidikan pendahuluan ini kurasa akan memakan waktu sekitar dua jam, Hans," kata Jupiter. "Bisakah kau menjemput kami lagi di sini
23
http://crossfire-net.blogspot.com/

saat itu, setelah kau selesai dengan tugasmu mengantar dan menjemput barang?" "Tentu saja, Jupe," kata pemuda Jerman bertubuh kekar itu. la melambai, lalu menggerakkan kendaraannya ke suatu jalan terjal yang menuju ke tengah kota. "Sebelumnya, lebih baik kita melihat-lihat di sekeliling sini dulu sebentar," kata Jupiter. "Mungkin ada gunanya jika kita sudah tahu keadaan sedikit-sedikit, jika nanti berbicara dengan Mr. Allen." Daerah itu memberikan kesan le'ngang dan sepi. Rumah-rumah terpencar letaknya di atas tebing tinggi yang berbatasan dengan Samudra Pasifik. Anak-anak menuju ke tanah kosong yang berbatasan letaknya dengan pekarangan rumah sutradara yang akan mereka datangi, lalu memandang ke bawah. "Kelihatannya tenang dan tentram," kata Bob. la memandang ke bawah, memperhatikan pantai yang terbentang serta permukaan laut yang kemilau. "Ombaknya lumayan," gumam Pete. Ia memperhatikan ombak yang bergulung-gulung menuju pantai. "Tidak tinggi, tapi kalau semeter, pasti ada. Kurasa saat malam merupakan waktu yang paling baik untuk naga itu, saat pasang naik dan ombak yang bergulung-gulung memecah di pantai. Dengan begitu ia lebih terlindung." "Kau benar, Pete," kata Jupiter sependapat, "itu jika memang benar-benar ada naga." la menjulur24
http://crossfire-net.blogspot.com/

kan kepala, memandang ke bawah. "Menurut Mr. Hitchcock, di bawah sana ada iiang-liang gua. Tapi dari atas sini tidak kelihatan. Nanti kita ke bawah untuk meneliti ke sana, sehabis mewawancarai Mr. Allen." Bob memperhatikan hamparan pantai lengang yang terbentang jauh di bawah. "Bagaimana cara kita turun nanti?" tanyanya. Pete menunjuk ke arah sejumlah papan bercat putih yang kelihatannya tidak kokoh dan sudah dimakan cuaca. "Itu ada jenjang yang menuju ke bawah, Bob," katanya. "Mendingan lewat situ, daripada harus payah-payah merangkak naik-turun dinding tebing." Jupiter menggerakkan tangannya, menunjuknunjuk gigir tebing. "Di sana, dan di sana, juga ada beberapa tangga lagi. Tapi kelihatannya tidak begitu banyak. — Yah, kurasa kita kini sudah agak mengenal situasi daerah ini. Sekarang kita dengar saja apa yang akan diceritakan Mr. Allen pada kita." la mendului berjalan kembali, menuju sebuah pintu pada pagar semak. Pintu itu dibuka olehnya, lalu ia masuk bersama kedua rekannya. Di depan mereka ada jalan setapak yang berliku-liku. Di ujung jalan itu nampak sebuah rumah berdinding bata berwama kuning pudar. Di sekeliling rumah itu tumbuh pohon-pohon palem, tanaman perdu, serta semak liar yang berbunga. Kebun di sekitarnya menunjukkan kesan tak terawat, sama
25
http://crossfire-net.blogspot.com/

halnya dengan bangunan itu sendiri, yang bertengger nyaris di tubir tebing yang selalu disapu angin. Jupiter mengangkat gagang pengetuk yang terpasang di daun pintu, lalu melepaskannya lagi. Pintu rumah terbuka. Seorang laki-laki bertubuh pendek gemuk berdiri di ambangnya. Matanya besar berwarna coklat, memandang dengan sorotan sayu. Alisnya tebal, sedang rambutnya yang putih tinggal sedikit, melingkari ubun-ubun yang botak. Mukanya coklat terbakar sinar matahari dan penuh kerut. "Silakan masuk, Anak-anak," katanya sambil mengajak bersalaman. "Kalian tentunya anakanak muda yang menurut sahabatku Alfred Hitchcock mungkin bisa membantu aku. Kalian ini penyelidik, 'kan?" "Betul, Sir," kata Jupiter. Dengan cepat disodorkannya sepucuk kartu bisnis Trio Detektif. "Selama ini kami sudah beberapa kali berhasil mengusut berbagai kasus sampai tuntas." Laki-laki tua itu membaca tulisan yang tertera pada kartu yang sedang dipegang. TRIO DETEKTIF "Kami Menyelidiki Apa Saja" ? ? ? Penyelidik Satu Penyelidik Dua Catatan dan Riset — — —
26
http://crossfire-net.blogspot.com/

Jupiter Jones Peter Crenshaw Bob Andrews

"Ketiga tanda tanya itu lambang kami," kata Jupiter menjelaskan. "Tanda pengenal kami. Artinya, pertanyaan yang tak terjawab, teka-teki yang tak terpecahkan, misteri yang tidak bisa dijelaskan. Tujuan kami mengusut hal-hal begitu." Laki-laki tua itu mengangguk, seperti merasa puas. Kartu bisnis Trio Detektif dimasukkannya ke dalam kantung. "Kita bicara di dalam kamar kerjaku saja," katanya mengajak. la mendului masuk ke sebuah kamar yang lapang dan terang. Anak-anak memandang berkeliling ruangan dengan sikap kagum. Dinding kamar itu penuh dengan gambar yang bersesaksesak, dari langit-langit sampai nyaris menyentuh lantai. Di samping sejumlah besar lukisan, banyak pula foto para bintang film kenamaan serta tokoh-tokoh termashur lainnya, semua dengan tanda tangan orang-orang yang bersangkutan. Meja kerja berukuran besar yang ada di situ penuh dengan kertas-kertas serta patung-patung kecil dari kayu. Rak-rak buku juga nampak penuh, dengan berbagai benda kerajinan yang nampak asing, patung-patung kecil buatan suku-suku bangsa penghuni Benua Amerika dari masa pra-Kolumbus, begitu pula patung-patung kecil dari Afrika. Beberapa di antara patung-patung itu memancarkan kesan bengis dan menakutkan. Laki-laki tua itu menyilakan Jupiter beserta kedua temannya duduk di tiga kursi yang ada di
27
http://crossfire-net.blogspot.com/

situ. Sedang ia sendiri mengambil tempat di kursi besar berukir-ukir, di belakang meja kerja. "Silakan duduk, Anak-anak. Akan kuceritakan dulu apa sebabnya aku menghubungi sahabat lamaku, Alfred Hitchcock. Barangkali ia sudah mengatakan pada kalian, bahwa aku ini sutradara film." "Ya, itu sudah dikatakan olehnya, Sir," kata Jupiter. Laki-laki tua itu tersenyum. "Sebenarnya lebih tepat jika dikatakan dulu aku ini sutradara. Sudah sejak bertahun-tahun aku tidak pernah dikontrak lagi untuk membuat film. Jauh sebelum masa Alfred, aku ini sudah sutradara. Dan dalam golongan film seperti yang kubuat, namaku waktu itu cukup termashur. Alfred kini kan tersohor karena film-filmnya yang dtbuat dengan gayanya yang khas. Aku juga begitu! Gaya kami hampir sama, tapi ada sedikit perbedaan. Alfred mengkhususkan diri dengan misteri-misteri dunia yang seakan-akan tidak bisa dipecahkan. Sedang minatku terarah lebih jauh lagi dari itu." "Apa maksud Anda, Sir?" tanya Jupiter. "Kalian nanti akan mengerti sendiri, apa sebabnya masalah yang sedang kuhadapi tidak bisa kulaporkan pada polisi, atau pihak-pihak berwenang lainnya. Soalnya begini! Film-film buatanku waktu itu selalu aneh-aneh. Ceritanya bukan tentang dunia ini, melainkan tentang dunia yang lain — tentang impian yang seram serta kengerian. Film-filmku penuh dengan makhluk28
http://crossfire-net.blogspot.com/

makhluk seram, jadi-jadian, makhluk-makhluk aneh dan jelek, serta emosi yang bergejolak. Singkatnya, kekhususanku membuat film horor!" Jupiter mengangguk. "Ya — sekarang nama Anda saya ingat lagi, Sir. Saya sering melihatnya, di festival-festival film bermutu di museum-museum." "Baiklah," kata laki-laki tua itu. "Jadi jika sekarang kuceritakan apa yang kulihat muncul dari dalam laut saat malam anjingku hilang, kalian tentu akan bisa mengerti apa sebabnya aku merasa ragu untuk berbicara mengenainya. Mengingat reputasiku di masa lampau, ditambah kenyataan bahwa aku sudah bertahun-tahun tidak pernah lagi mendapat kontrak untuk membuat film baru, kurasa lumrah jika orang-orang akan menyangka bahwa aku cuma ingin menarik perhatian saja, untuk menjadi populer lagi. Riwayatku selaku sutradara sudah tamat. Itu karena pengaruh kekuasaan yang ada waktu itu. Tapi hartaku memadai bagiku, untuk bisa hidup dengan tenang dan tentram. Tidak ada yang merongrong ketenanganku — kecuali —" "Kecuali naga yang kini hidup di dalam gua di kaki tebing sini, Sir?" kata Jupiter menebak. Mr. Allen mengernyitkan mukanya. "Betul!" Ditatapnya anak-anak dengan pandangan menyelidik. "Aku bercerita pada Alfred, bahwa aku melihat makhluk itu muncul dari tengah laut. Tapi satu hal tak kukatakan padanya. — Aku juga mendengar suaranya!"
29
http://crossfire-net.blogspot.com/

Kamar kerja itu langsung senyap. "Jadi Anda mendengar suara naga itu, Sir," kata Jupiter dengan tenang. "Apa tepatnya yang Anda dengar? Dan saat itu Anda sedang di mana?" Mr. Allen mengeluarkan selembar sapu tangan berwarna dan berukuran lebar, lalu mengusap keningnya. "Ketika itu aku sedang berdiri di atas tebing di luar rumah, sambil memandang ke arah laut," kata laki-laki tua itu. "Bisa juga yang kulihat itu hanya ilusi belaka. Jadi sebenarnya tidak ada apa-apa." "Itu bisa juga," kata Jupiter. "Tapi sekarang harap Anda katakan, apa tepatnya yang Anda dengar waktu itu. Mungkin ini merupakan petunjuk penting bagi pengusutan kami." "Yah — bagaimana ya," kata Mr. Allen. "Sepanjang yang kuketahui, naga katanya tidak ada. Sudah sejak jutaan tahun tidak ada lagi! Tentu saja aku sendiri membuat beberapa film tentang makhluk-makhluk itu, dengan mempergunakan naga tiruan yang digerakkan mesin. Untuk suara naga, kami mempergunakan bunyi deaiman mesin yang diredamkan, dan yang dikombinasikan dengan lengkingan bunyi peluit. Keduanya dibaurkan dengan teknik tertentu, sehingga kesan yang ingin kami ciptakan didapatkan — yaitu membuat penonton merasa ngeri. Tapi yang kudengar malam itu sama sekali tidak seperti bunyi ciptaan kami. Bunyinya tinggi serak — seperti bunyi napas yang sesak — atau suara batuk."
30

http://crossfire-net.blogspot.com/

"Lalu bagaimana dengan Hang gua yang terdapat di bawah rumah Anda ini?" tanya Jupiter. "Cukup lapangkah untuk dimasuki seekor naga, atau makhluk lain yang cukup besar sehingga dikira naga?" "Ya," kata laki-laki tua itu. "Di bawah gigir tebing sini ada sejumlah gua. Letaknya ke arah utara serta selatan, dan begitu juga ke pedalaman. Zaman dulu liang-liang gua itu dipakai oleh para penembus blokade, sehubungan dengan peraturan yang melarang beredarnya minuman keras di Amerika. Dan sebelum itu, dipakai oleh para penyelundup serta bajak laut. Beberapa tahun yang lalu pernah terjadi tanah runtuh, akibat erosi. Sebagian besar dari tempat yang dulu dikenal dengan nama Haggity's Point tertimbun karenanya. Tapi di bawah sini masih banyak terdapat liang-liang gua." "Hmm," gumam Jupiter. "— tapi baru sekali ini Anda melihat dan mendengar naga, walau Anda sudah bertahun-tahun tinggal di sini. Betulkah demikian?" Laki-laki tua itu mengangguk sambil tersenyum. "Ya — dan satu kali saja sudah cukup. Dan yang ini pun barangkali takkan terlihat olehku, jika aku saat itu tidak sedang mencari-cari Red Rover anjingku." Ketiga remaja itu berpandang-pandangan sambil tersenyum. Soalnya, salah satu jalan rahasia untuk masuk ke markas, mereka beri nama Red Gate Rover. Kelana Gerbang Merah!
31
http://crossfire-net.blogspot.com/

"Saya rasa kini sudah waktunya kita berbicara tentang anjing Anda yang hilang itu, Sir — serta keadaan waktu itu. Tolong kaucatat, Bob,'' kata Jupiter. Bob, yang mengelola bidang catatan dan kegiatan riset, menyiapkan pensil dan buku catatannya. Mr. Allen terkejut. Kemudian ia tersenyum, menyaksikan pameran kesigapan cara kerja Trio Detektif. "Selama dua bulan yang lewat, aku bepergian ke luar negeri," kata laki-laki tua itu. "Walau aku tidak aktif lagi dalam bidang perfilman, tapi aku masih tetap sangat berminat terhadap film serta perkembangannya. Aku biasanya setiap tahun berkeliling di Eropa, menghadiri festival-festival film yang termasuk penting, yang diselenggarakan di berbagai kota. Tahun ini juga begitu. Aku menghadiri festival di Roma, Venesia, Paris, London, Berlin, serta Budapest. Di samping itu aku juga mendatangi kawan-kawan lama di sana. Seperti biasanya jika aku ke luar negeri, anjingku kuserahkan pada tempat penitipan anjing di sini. Aku kembali seminggu yang lalu. Red Rover langsung kujemput. Anjingku itu jenis setter Irlandia. Bulunya sangat indah. Dan ia sangat ramah. Red Rover suka berkeliaran sambil berlari-lari. Aku kini tidak mampu lagi menemaninya. Karena itu kalau malam ia kulepaskan, biar bisa berlari-lari sebentar. Tapi dua malam yang lalu, ia tidak
32
http://crossfire-net.blogspot.com/

kembali lagi. la sudah tiga tahun kupelihara. Kusangka ia mengubah kebiasaan karena agak lama kutinggal, bukan kembali kemari, tapi ke tempat penitipan di mana ia tinggal selama ini. Karenanya aku lantas menelepon ke sana. Tapi Red Rover tidak muncul di sana. Aku menunggununggu — tapi ia tetap saja tidak kembali. Lalu ketika aku keluar untuk mencarinya — saat itulah aku melihat makhluk itu!" "Tapi Anda tidak turun ke pantai?" tanya Jupiter. Laki-laki tua itu menggeleng. "Tidak! Seram sekali rasanya saat itu. Aku, yang hampir seumur hidupku membuat film untuk mengejutkan dan menakut-nakuti orang — tahu-tahu aku sendiri mengalami kejadian begitu. Tidak bisa kulukiskan dengan kata-kata, petesaanku saat itu. Mula-mula panik, karena membayangkan kemungkinan bahwa anjingku diserang dan dimakan makhluk yang menakutkan itu. Lalu menyusul rasa ngeri, jangan-jangan aku ini sudah gila. Tidak mudah rasanya, mengakui telah melihat naga! Sungguh — percayalah!" "Jadi Anda tidak mengambil langkah-langkah lain," desak Jupiter, "kecuali menghubungi kawan lama Anda, Alfred Hitchcock." Sekali lagi laki-laki tua itu menyeka keningnya. "Alfred teman lamaku yang sangat akrab, dan banyak pengalamannya tentang soal-soal yang misterius. Aku tahu, hanya dia saja yang mungkin bisa menolong. Tapi sekarang terserah pada
33
http://crossfire-net.blogspot.com/

kalian, Anak-anak. Urusan ini kuserahkan pada kalian!" "Terima kasih, Mr. Allen, atas kepercayaan Anda pada kami," kata Jupiter. "Kecuali anjing Anda, masih ada beberapa ekor lagi yang dilaporkan hilang di kota ini. Menurut laporan terakhir, ada lima ekor — belum termasuk anjing Anda." Mr. Allen mengangguk. "Aku juga mendengar kabar itu lewat siaran warta berita, setelah anjingku hilang. Coba itu sudah lebih dulu kuketahui, takkan kubiarkan Red Rover berkeliaran sendiri malam itu." "Anda sudah berhubungan dengan para pemilik anjing-anjing lain yang juga hilang itu?" tanya Jupiter. Laki-laki tua itu menggeleng. "Tidak. Belum. Aku tidak ingin menyebutnyebut apa yang kulihat malam itu." "Orang-orang yang bertempat tinggal di sekitar sini, apakah semuanya juga memelihara anjing?" "Tidak semuanya," jawab Mr. Allen sambil tersenyum. "Misalnya saja Mr. Carter, tetanggaku di seberang jalan, ia tidak punya anjing. Begitu pula tetanggaku di sebelah kanan, Arthur Shelby. Aku tidak begitu tahu-menahu tentang para tetanggaku. Aku lebih suka hidup sendiri dengan tenang, ditemani buku-buku serta koleksi lukisanku. Dan anjingku." Jupiter berdiri. "Kalau begitu kami pergi saja sekarang, Mr. Allen. Kami berjanji akan menyampaikan laporan
34
http://crossfire-net.blogspot.com/

selengkapnya, kalau ada kemajuan dalam pengusutan kami." Setelah bersalaman, Mr. Allen mengantarkan ketiga remaja itu ke luar sambil mengucapkan terima kasih sekali lagi. Anak-anak keluar lewat pintu pagar semak, yang kemudian ditutup lagi oleh Jupiter. Pete tersenyum melihat Jupiter memasang kait pengunci pintu. "Biar naga tidak bisa masuk, Jupe?" katanya mengganggu. "Kurasa naga takkan merasa terhalang oleh pintu pagar atau bahkan pintu rumah yang terkunci, Pete," kata Jupiter. Pete terteguk. Nampak jelas bahwa ia terkejut. "Tidak enak rasanya mendengar caramu mengatakan hal itu, Jupe," katanya. la memandang ke arah jalan, lalu melirik arlojinya. "Mana Hans? Kenapa belum kelihatan?" "Memang belum waktunya," kata Jupiter. "Waktu kita masih banyak tersisa." Setelah itu ia menyeberang, dipandang oleh Bob dan Pete. "Waktu untuk apa?" tanya Bob. "Untuk mendatangi Mr. Carter," jawab Jupiter. "Dan setelah itu, Arthur Shelby. Kalian tidak ingin tahu lebih banyak tentang orang-orang yang tinggal di lingkungan sesepi ini, tapi tidak merasa perlu memelihara anjing untuk dijadikan penjaga?" "Tidak, aku sama sekali tidak ingin tahu," kata Pete. "Aku malah heran sekarang, kenapa aku
35

http://crossfire-net.blogspot.com/

belum membeli anjing untuk kujadikan penjagaku! Seekor anjing besar, yang tidak takut pada naga!" Jupiter tersenyum. Kedua temannya ikut menyeberangi jalan sempit itu. Pekarangan Mr. Carter nampak terawat, sedang dinding rumahnya kelihatan baru saja dicat. "Perhatikanlah," kata Jupiter pada kedua temannya, sementara mereka menuju pintu depan rumah lewat jalan masuk, "semak pagar di sini dipangkas rata, dan rumput di halaman dipotong rapi. Pohon-pohon dipangkas ranting-rantingnya, sedang petak-petak bunga juga kelihatan terurus. Mr. Carter pasti menyukai kerapian." Jupiter menekan bel. Hampir seketika itu juga pintu depan dibuka dengan cepat. Seorang laki-laki bertubuh gempal menatap mereka dengan kening berkerut. "Ya? Kalian mau apa?" tanya orang itu dengan suara keras. "Maaf, Sir," kata Jupiter dengan sopan, "kami baru saja dari tetangga Anda di seberang, Mr. Allen. Mungkin Anda juga sudah tahu, anjingnya yang bernama Red Rover hilang. Kami ingin bertanya, mungkin Anda tahu apa-apa tentang kejadian itu." Mata laki-laki itu menyempit. Alisnya yang tebal terangkat, lalu dikerutkan kembali. Mulutnya dicibirkan. "Jadi Allen kehilangan anjingnya, ya? Seperti orang-orang lainnya di blok ini? Syukur! Aku senang segala binatang itu hilang, dan mudah36

http://crossfire-net.blogspot.com/

mudahan hilang untuk selama-lamanya. Aku benci pada anjing!" la memandang anak-anak dengan mata melotot, dengan sinar yang bisa dibilang tidak waras. la mengepalkan tangannya. Sesaat anak-anak menyangka ia akan menyerang mereka. Tapi Jupiter bisa menjaga ketenangannya. Air mukanya tetap polos. "Anda tentu punya alasan kuat untuk tidak menyukai anjing, Sir," katanya. "Barangkali jika Anda mau mengatakan apa salah mereka —" "Apa salah mereka?" ulang laki-laki itu dengan nada pedas. "Mereka melakukan apa yang sudah selalu dilakukan. Malam-malam menggonggong dan melolong-lolong tak menentu. Menginjakinjak tanaman bungaku. Rumputku rusak kena kaki mereka. Tempat sampahku terguling, sehingga trotoar kelihatan jorok! Bagaimana — itu sudah cukup atau belum?" "Maaf," kata Jupiter penuh pengertian. "Kami bukan orang sini. Kami ini ditugaskan mencari anjing Mr. Allen. Jika anjing itu merusak milik Anda, saya yakin Mr. Allen pasti mau membayar ganti rugi. Ia sangat kehilangan anjingnya, dan saya rasa ia pasti mau berbuat apa saja untuk —" "Ia mau berbuat apa saja, ya?" tukas laki-laki itu. "Nah — aku juga begitu. Tunggu di sini!" Orang itu masuk sebentar. Sementara ketiga remaja itu berpandang-pandangan dengan sikap bingung, pintu rumah sudah dibuka kembali.
37
http://crossfire-net.blogspot.com/

Mr. Carter berdiri di ambangnya. la menggenggam senapan berburu. "lnilah yang akan kulakukan," katanya dengan sengit. "Kujejal dia dengan mimis! Isi senapan ini mimis ukuran terbesar untuk senapan jenis ini. Jika aku sampai melihat anjing peliharaan Allen itu, atau anjing sialan lainnya masuk lagi ke tanah milikku, inilah yang akan kuhadiahkan pada mereka!" Mr. Carter mengangkat laras senapannya dengan sikap mengancam.

eBook oleh Nurul Huda Kariem MR. nurulkariem@yahoo.com

38

http://crossfire-net.blogspot.com/

eBook oleh Nurul Huda Kariem MR. nurulkariem@yahoo.com

Bab 3 UJIAN MENTAL
JARI

Mr. Carter yang memegang picu nampak menegang. "Aku ini penembak jitu! Tembakanku belum pernah meleset. Ada pertanyaan lagi?"

Jupiter menggeleng. Dipaksanya dirinya agar tidak nampak gentar menghadapi moncong senapan yang terarah ke mukanya. "Tidak, Sir," katanya. "Maaf, jika kami mengganggu Anda. Permisi, Sir." Bibir laki-laki itu menipis. "Aku baru benar-benar senang, apabila anjinganjing sialan itu tak pernah kulihat berkeliaran di sini lagi. Sekarang pergi!" Kata-kata itu diiringi moncong senapan yang disodokkan ke depan. Jupiter dan kedua temannya mundur pelan-pelan. "Ayo, putar tubuh!" bentak Mr. Carter. "Aku tidak ingin kalian menginjak-injak rumputku!" Jupiter memandang kedua temannya, lalu mengangkat bahu. Ketiga remaja itu berpaling dengan perasaan kecut, membelakangi laki-laki pemarah yang mengacung-acungkan senapan berburu. Mereka berjalan dengan langkah pelan.
39
http://crossfire-net.blogspot.com/

"Pelan, jangan lari," bisik Jupiter pada kedua temannya. Jantung ketiga remaja itu seperti terlompat, ketika tiba-tiba terdengar bunyi nyaring di belakang mereka! "Tenang, Teman-teman," kata Jupiter, "itu cuma Mr. Carter yang membanting pintu." Ketiga remaja itu menoleh ke belakang. Ternyata Jupiter benar! Tanpa menunggu lagi, ketiga-tiganya langsung lari. Mereka baru berhenti ketika separuh jalan sudah dilewati. Mereka menoleh lagi. Mereka tidak dikejar. Pintu depan rumah Mr. Carter tetap tertutup. "Uhh," desah Bob, "nyaris saja!" "Pakai senapan buru dengan mimis segede gajah lagi," kata Pete. Ia memeriksa apakah keningnya berkeringat atau tidak. "Sedetik lagi, habislah tubuh kita dirobek-robek mimis!" "Kemungkinan itu kecil," kata Jupiter. "Gerendel pengokang tidak ditarik, jadi senapan itu belum siap untuk ditembakkan." Bob dan Pete memandangnya dengan mata melotot. "Dan itu sejak semula sudah kauketahui," kata Pete dengan nada menuduh. "Pantas kau tenang-tenang saja." "Kurasa Mr. Carter memang sama sekali tidak berniat menembak kita," kata Jupiter. "la cuma ingin melampiaskan kemarahannya saja. Dan kemarahannya itu tercetus, karena aku kebetulan
40

http://crossfire-net.blogspot.com/

I

menyinggung satu hal yang tidak disukainya. Aku bertanya tentang anjing!" "Dan kini ada satu tambahan lagi yang bisa memancing kemarahannya," kata Pete. "Manusia!" Jupiter memonyongkan bibirnya sambil merenung. "Lain kali kita perlu lebih berhati-hati, jika mendatangi Mr. Carter," katanya. Pete menggeleng. "Kau keliru! Lain kali kau saja yang berhati-hati, jika datang lagi ke tempat Mr. Carter. Aku tidak perlu kaupikirkan, karena aku takkan ikut. Aku lupa bilang, kulitku ini sangat peka! Tidak tahan kena mimis — apalagi yang ditembakkan dari senapan berburu!" "Aku juga begitu," kata Bob. "Jika harus ditembak, aku memilih ditembak dengan pistol air, dengan jarak sepuluh langkah." "Tapi mungkin juga Mr. Carter tadi sangat pandai bersandiwara—jauh lebih pandai dari yang kuanggap mungkin," kata Jupiter. "Mungkin saja ia terlibat dalam kasus lenyapnya anjing-anjing itu." "Masuk akal juga," kata Bob. "Sekarang merupakan soal mudah bagi kita, untuk membandingkan tanggapan Mr. Carter yang sengit, dengan sikap orang yang kini akan kita datangi." "Apa lagi yang dibicarakannya sekarang?" tanya Pete pada Bob. Jupiter menuding ke seberang jalan.
41

http://crossfire-net.blogspot.com/

"Ada dua tetangga, yang menurut Mr. Allen tadi tidak memelihara anjing. Tetangga yang satu, Mr. Carter, sudah kita datangi. Kini kita akan mengajukan beberapa-pertanyaan pada tetangga yang satu lagi, Arthur Shelby." Jalan masuk dirintangi oleh pintu pagar setinggi dada, yang terbuat dari logam. Anak-anak memandang lewat pintu itu, ke arah rumah besar yang letaknya agak ke belakang dalam tanah milik Mr. Arthur Shelby. "Nampaknya aman," kata Bob. "Aku tidak melihat kubu meriam di sini." Pete maju sedikit, untuk memperhatikan jendela-jendela di tingkat bawah dan atas. "Kelihatannya tidak ada yang memperhatikan kita," katanya setelah beberapa saat. "Janganjangan Mr. Shelby sedang keluar." "Itu bisa kita ketahui dengan mudah," kata Jupiter sambil melangkah maju. "Kita tinggal melewati gerbang ini, lalu —" la tertegun, sementara mulutnya ternganga. Teman-temannya ikut melongo. Soalnya, pintu gerbang dari logam itu terbuka dengan sendiri, sebelum Jupiter sempat menyentuhnya. "Bagaimana caramu melakukannya, Jupe?" tanya Pete. "Kau belajar sihir, ya?" "Mungkin karena tertiup angin," kata Bob menebak. Jupiter menggeleng. Ditahannya kedua temannya yang sudah hendak maju, sedang ia sendiri mundur selangkah. Pintu gerbang dari logam
42
http://crossfire-net.blogspot.com/

menutup kembali. Kini Jupiter maju lagi selangkah. Pintu gerbang terbuka. "Keterangannya mudah saja," katanya. "Pintu pagar ini bekerja dengan sistem penginderaan elektronik. Kalian pasti sudah pernah mengenalnya. Di pelabuhan udara, toko-toko serba ada, dan bangunan-bangunan modern lainnya." Pete menatap pintu gerbang itu dengan sikap ragu. Ya, tentu saja," katanya. "Tapi baru sekali ini kulihat di rumah pribadi seseorang." "Setiap tanda kemajuan dan kemodernan merupakan hal yang baik bagi kita," kata Jupiter dengan riang. "Kenyataan bahwa Mr. Shelby memakai alat modem begini sebagai perlengkapan pintu gerbangnya, bagi kita berarti bahwa orang itu tidak percaya pada takhyul, atau terikat pada hal-hal yang lazim. Orang seperti dialah yang perlu kita datangi, teristimewa jika urusannya menyangkut hal-hal yang sulit diterima akal sehat, seperti ada-tidaknya naga di sekitar sini, misalnya." la melangkah masuk, diikuti kedua temannya. Pada satu sisi jalan yang menuju ke rumah, nampak perangkat jam matahari yang besar dan penuh hiasan. Letaknya di tengah-tengah halaman berumput. Sedang di depan anak-anak ada semacam terali tergantung, tempat sangkutan tanaman bunga. Mereka berjalan di bawah terali itu. Tahu-tahu terali itu jatuh. Langkah ketiga remaja itu terhenti dengan
43
http://crossfire-net.blogspot.com/

tiba-tiba, sehingga mereka saling berbenturan. Bagian depan dari terali tergantung itu meluncur dan jatuh di depan mereka. Sedang bagian belakangnya meluncur dengan bunyi dentangan lembut di belakang mereka, sehingga mereka tidak bisa kembali. Mereka terjebak dalam semacam kandang besar, yang dihiasi bunga-bungaan. "Mudah-mudahan ini cuma lelucon saja," kata Jupiter. la membasahi bibirnya, pertanda bahwa ia merasa gugup. "Ini seakan-akan gapura luncur saja." "Gapura luncur? Apa itu?" tanya Pete ketakutan. "Itu biasanya berupa pagar besi berukuran besar dan berat, yang tergantung di atas gerbang puri atau kota berbenteng, dan diturunkan dengan bantuan rantai untuk mencegah kemungkinan orang masuk," kata Jupiter menjelaskan. "Aku pernah melihat gambar-gambarnya dalam buku-buku kuno di perpustakaan," kata Bob. "Biasanya itu merupakan sistem pertahanan terakhir, apabila parit yang mengelilingi puri sudah dilewati." "Tapi seingatku, kita sama sekali tidak melewati parit," kata Pete mengomel. Saat itu terdengar bunyi desisan lembut. Tahu-tahu terali yang merintangi jalan terangkat lagi, kembali ke posisi semula di atas kepala mereka. Ketiga remaja itu berpandang-pandangan. "Kelihatannya Mr. Arthur Shelby ini suka
44
http://crossfire-net.blogspot.com/

berkelakar," kata Jupiter dengarl nada lega. "Yuk — kita terus." la melangkah maju. Tapi Pete cepat-cepat menyambar lengannya. "Arahmu keliru, Jupe," katanya. "Mungkin orang di puri ini tidak menyukai kedatangan kita." Jupiter menggeleng, sambil tersenyum. "Mula-mula pintu gerbang yang terbuka dan tertutup secara otomatik. Lalu terali tempat bunga yang dikendalikan secara elektronik. Mr. Shelby ini kelihatannya menggemari peralatan yang berbau ilmiah. Sayang rasanya, jika orang seperti itu tidak kita jumpai." Teman-temannya mengikuti dengan langkah segan, sementara Jupiter menghampiri pintu depan rumah. Sambil tertawa nyengir ditekannya tombol bel. "Uuhh!" teriaknya sambil meloncat mundur. Tangannya dikibas-kibaskan. "Tombol bel itu dialiri arus listrik. Aku tersengat!" "Nah — sekarang aku sudah benar-benar bosan mengalami segala macam lelucon Mr. Shelby ini," kata Pete tandas. "Kuusulkan agar pembicaraan kita dengan badut itu kita batalkan saja." "Aku sependapat dengan Pete," kata Bob. "Aku berperasaan bahwa Mr. Shelby secara tidak langsung hendak mengatakan bahwa ia tidak menginginkan kedatangan kita kemari." "Kurasa bukan begitu," kata Jupiter. "Menurutku, kita ini diuji olehnya. Kita dibuatnya melewati tahap-tahap ujian, yang diperkirakan akan me45
http://crossfire-net.blogspot.com/

nyebabkan kita gentar, lalu cepat-cepat pergi dari sini." Saat itu terdengar bunyi berdetik pelan. Pintu depan terbuka sendiri, seakan-akan sebagai jawaban atas penalaran Jupiter. "Hebat," kata Bob dengan kagum. "Seluruh tempat ini rupanya dipasangi alat-alat elektronik olehnya." Dengan hati-hati ketiga remaja itu melangkahi ambang pintu. Ruangan sebelah dalam gelap dan sunyi. Jupiter mendeham-deham sebentar, seperti hendak mengatur suara. "Selamat siang, Mr. Shelby. Kami ini Trio Detektif, dan kami datang atas saran tetangga Anda di sebelah, Mr. Allen; Bolehkah kami masuk, Sir?" Tidak ada yang menjawab pertanyaan itu. Kemudian terdengar kepakan pelan, tapi makin lama makin jelas. Dan semakin mendekat Kedengarannya seperti datang dari tempat tinggi, dalam ruangan remang-remang itu. Tiba-tiba ketiga remaja itu terkesiap. Suatu wujud gelap dan besar meluncur laju ke arah mereka, diiringi bunyi mendesing. Seekor burung besar dan hitam, yang nampaknya seperti elang, menyambar ke arah mereka sambil memekik marah. Paruhnya yang runcing dingangakan, siap untuk mematuk. Cakarnya yang mengerikan terjulur ke depan, sementara matanya memancarkan sinar marah!
46
http://crossfire-net.blogspot.com/

47
http://crossfire-net.blogspot.com/

Bab 4 ULURAN TANGAN YANG MENGAGETKAN

teriak Pete. Ketiga remaja itu menjatuhkan diri ke lantai. Sambil memperdengarkan pekikan melengking, burung itu menghunjam ke arah mereka, dengan cakar siap mencengkeram.
"TIARAP!"

Tapi geraknya semakin melambat, dan akhirnya mengambang tak sampai setengah meter di atas kepala anak-anak. Anehnya, burung itu tetap berada di satu tempat saja. Pekikannya yang melengking tidak terdengar lagi. Jupiter yang selama itu menutupi muka dengan tangan guna melindungi matanya, kini mengintip dengan hati-hati dari balik celah di antara jari-jarinya. Setelah itu ia cepat-cepat duduk. Air mukanya berubah, dari takut menjadi kesal bercampur malu. "Kita tidak perlu takut," katanya, "ternyata cuma burung palsu." "Apa?" seru Pete. Ia mendongak, dengan sikap tak percaya. Bob melakukan hal serupa. Burung hitam itu tergelantung tanpa bergerak
48
http://crossfire-net.blogspot.com/

pada seutas kawat halus dari tembaga. Matanya yang kuning menatap pudar ke arah mereka. "Mainan," kata Jupiter. la menjulurkan tangan, menyentuh burung itu. "Kelihatannya terbuat dari plastik dan kawat kasa." "Uhh!" dengus Pete sebal. Dalam ruangan yang gelap itu terdengar suara tertawa pelan. Bunyinya serak. Tiba-tiba ruangan menjadi terang, karena nyala lampu-lampu di atas kepala yang saat itu dihidupkan. Seorang laki-laki bertubuh kurus jangkung berdiri sambil memandang ketiga remaja itu. la memakai baju montir berwarna gelap. Rambutnya yang coklat kemerahan dipotong pendek. "Selamat datang di Puri Misteri," kata orang itu dengan suara berat dan dalam. Setelah itu ia tertawa, sampai terbungkukbungkuk. Gelaknya diselingi batuk-batuk. "Perasaan humornya benar-benar hebat," kata Pete menggumam. Laki-laki jangkung berambut jagung itu menegakkan tubuhnya lambat-lambat. Matanya yang biru nampak cerah dan lembab. "Aku Arthur Shelby. Lebih baik kuambil saja burungku, sebelum kalian dipatuk olehnya." Anak-anak bergegas bangun. Laki-laki itu mendekat. la membungkuk, lalu melepaskan kawat-kawat pada mana burung mainan itu tergantung. Jupiter mendongak, menatap ke arah langit-langit ruangan. Ia tersenyum.
49
http://crossfire-net.blogspot.com/

"Burung itu diluncurkan pada rel yang terpa sang di atas," katanya. "Persis seperti kereta mainan listrik." Bob dan Pete ikut memandang ke atas, memperhatikan alur rel yang melintasi langitlangit. "Aku lebih suka kereta-keretaan listrik," kata Pete, "karena tidak menyebabkan aku ketakutan." Mr. Shelby tersenyum lebar. "Kalian tertipu, ya? Maaf — tapi ini memang kegemaranku, iseng-iseng membuat alat-alat aneh." la melambaikan tangannya ke arah ruangan yang ada di belakangnya. Anak-anak melihat ruangan bengkel yang besar, penuh dengan perkakas serta potongan-potongan kayu dan kawat. Mr. Shelby meletakkan burung mainannya di atas bangku kerja. Suaranya sekarang sudah biasa. Tidak lagi berat dan dalam. Tapi tetap serak. "Ada keperluan apa kalian kemari?" tanyanya. Jupiter menyodorkan sepucuk kartu nama Trio Detektif padanya. "Ini mungkin bisa menjelaskannya, Sir," kata Jupiter. "Kegemaran kami mengusut misteri." Laki-laki berambut merah itu meneliti kartu nama yang disodorkan. la tidak mengatakan apa-apa, tentang ketiga tanda tanya yang tertera di situ. Sambil tersenyum dikembalikannya kartu itu. "Kurasa misteri yang ada di sekitar sini pasti anjing-anjing yang hilang itu, ya?"
50
http://crossfire-net.blogspot.com/

"Jika kami sudah berhasil mengumpulkan segala fakta mengenai kejadian-kejadian itu, mungkin semua itu saling bertalian," kata Jupiter dengan lambat "Kami dimintai bantuan oleh Mr. Allen, untuk menemukan anjingnya yang hilang. Tapi saya mempunyai firasat, kejadian itu ada sangkut pautnya dengan hilangnya anjing-anjing lain di Seaside sini." "Itu mungkin saja," kata Mr. Shelby. "Aku boleh dibilang tak pernah berurusan dengan para tetangga — tapi aku mendengar tentang kejadian itu lewat warta berita. Allen bepergian selama beberapa waktu, dan aku sama sekali tidak tahu bahwa ia sudah kembali, sampai kudengar bahwa Red Rover juga lenyap. Mudah-mudahan kalian berhasil menemukannya kembali." "Itu memang tugas kami," kata Jupiter. "Tapi untuk itu kami memerlukan informasi. Menurut saya ada gunanya bercakap-cakap dengan beberapa tetangga Mr. Allen. Kami baru saja ke rumah seberang, mendatangi Mr. Carter. Anda kenal orang itu?" Shelby tertawa. "Siapa yang tidak kenal, di sekitar sini? Biasanya kan dikatakan, orang berambut merah lekas naik darah. Aku berambut merah, tapi yang cepat marah malah Carter. Tentunya ia memamerkan senapan burunya pada kalian tadi, ya?" Jupiter mengangkat bahu, dengan sikap tak peduli.
51
http://crossfire-net.blogspot.com/

"la mencoba menakut-nakuti kami. Untungnya saat ia mengancam, gerendel senapannya tidak terkokang. Katanya tadi, anjing-anjing dari daerah sekitar sini dengan seenaknya saja memasuki pekarangannya. Ia mengatakan dengan tandas, bahwa ia benci pada anjing." Arthur Shelby tertawa nyengir. "Apa sih — yang tidak dibenci olehnya?" katanya. "Anda menakut-nakuti orang dengan cara lain," sela Pete dengan tiba-tiba. "Gntuk apa segala keisengan yang Anda pasang di sekeliling rumah Anda ini?" Arthur Shelby melirik Pete dengan pandangan geli. "Aku sudah menunggu-nunggu pertanyaan itu. Aku tidak membenci orang. Aku benci jika diganggu. Karenanya aku mereka-reka beberapa cara guna menjauhkan penjual berkeliling serta pengganggu-pengganggu lainnya, yang suka muncul setiap hari. Kau tadi ketakutan, ya?" "Bukan takut lagi namanya," gumam Pete. Sekali lagi Shelby tertawa. "Aku berpendidikan di bidang permesinan. Aku ini pencipta amatiran. Aku paling suka membuat alat-alat seperti itu. Tapi tidak ada ciptaanku yang bisa menyebabkan orang cedera." la memandang arlojinya sebentar. "Nah — apa yang bisa kulakukan untuk membantu kalian?"
52
http://crossfire-net.blogspot.com/

"Tentang anjing-anjing yang lenyap itu," kata Jupiter, "barangkali Anda tahu sesuatu, yang mungkin ada gunanya bagi kami?" Penghuni rumah itu menggeleng. "Wah, kalau tentang itu, aku cuma tahu bahwa mereka dilaporkan hilang. Lebih baik kalian berbicara saja dengan para pemilik anjing-anjing itu." "Satu-satunya dengan siapa kami sudah berbicara, hanya Mr. Allen di sebelah ini saja," kata Jupiter. "Ada petunjuk yang diberikannya — tapi sulit bisa diterima." "O ya?" Alis orang berambut merah itu naik sesenti. "Apa petunjuknya itu?" Jupiter memonyongkan bibir, sementara keningnya berkerut. "Sulitnya, saya tidak tahu apakah saya boleh menceritakannya pada Anda." "Kenapa tidak boleh?" kata Shelby mendesak. "Karena saya rasa Mr. Allen mungkin akan merasa tidak enak, apabila hal itu tersebar luas," kata Jupiter. "Maaf, Mr. Shelby." Laki-laki jangkung itu menunjukkan sikap tak peduli. la mengangkat bahu. "Kurasa dalam urusan ini, kau harus bertindak seperti pengacara hukum. Kau harus melindungi kepercayaan klien yang telah dilimpahkan padamu. Begitu, ya?" Jupiter mengangguk. "Betul! Tapi walau begitu, aneh — Anda tinggal bertetangga dengan Mr. Allen. Rasanya tidak
53
http://crossfire-net.blogspot.com/

mungkin ia melihat sesuatu yang, misterius di sekitar sini, tapi Anda tidak melihatnya." Mr. Shelby tertawa nyengir. "Kau ini nampaknya pandai berbicara," katanya pada Jupiter. "Kurasa, jika kau mau, kau sebenarnya bisa mengatakan maksudmu dengan lebih jelas." "Ah, sudahlah!" kata Pete, yang sudah tidak sabar lagi. "Yang tidak ingin dikatakan oleh Jupe ini ialah bahwa Mr. Allen waktu itu melihat seekor naga muncul dari dalam laut." "Itu sebetulnya tidak boleh kauceritakan, Pete," kecam Jupiter. "Kita tidak boleh membeberkan apa yang dipercayakan klien pada kita." "Sorry," kata Pete menggumam. "Habis — mengingatnya saja, aku sudah langsung gugup lagi." "Naga?" kata Mr. Shelby. "Jadi itu yang menurut Allen dilihat olehnya?" Jupiter kelihatan ragu sejenak. Kemudian ia mengangkat bahu. "Yah, apa boleh buat — karena sudah terlanjur disebut! Saya rasa ia khawatir orang-orang akan menyangka pikirannya sudah tidak waras lagi, jika ia mengatakan melihat naga. Tapi menurut katanya, itulah yang dilihatnya waktu itu." "Mustahil!" kata Mr. Shelby sambil menggelenggeleng. "Katanya, ia juga mendengar suaranya," sela Bob. "Sewaktu makhluk itu masuk ke dalam gua yang ada di bawah rumahnya."
54
http://crossfire-net.blogspot.com/

Jupiter menggembungkan pipinya. "Ternyata kami ini tidak bisa menyimpan rahasia, Mr. Shelby. Tapi jika ternyata bahwa ada naga — atau makhluk berbahaya lain seperti itu di bawah sana, saya rasa Anda juga perlu mengetahuinya. Maksud saya, jika Anda punya kebiasaan, sekali-sekali turun ke sana." "Terima kasih atas peringatan kalian," kata Mr. Shelby. "Tapi aku jarang sekali turun ke pantai. Aku tidak begitu gemar berenang di laut Sedang mengenai liang-liang gua yang ada di bawah, sudah sejak lama aku tahu bahwa tempat-tempat itu lebih baik jangan dimasuki. Berbahaya!" "Kenapa Anda katakan berbahaya?" tanya Bob. Mr. Shelby tersenyum. "Liang-liang itu sudah berbahaya, jauh sebelum ada desas-desus bahwa di dalamnya ada naga. Di sepanjang pesisir sini sering terjadi tanah longsor. Orang yang terjebak, bisa terkubur hidup-hidup." "Saya dengar, gua-gua itu dulu dipakai oleh penyelundup," kata Jupiter. "Betul — tapi itu dulu," kata Shelby sambil mengangguk. "Sedang mengenai tanah longsor, cobalah berjalan-jalan menyusur tubir tebing. Nanti akan nampak bagaimana tanah di daerah sini merosot ke bawah. Kadang-kadang ada rumah yang ikut terseret" Orang itu menatap anak-anak. Matanya bersinar-sinar. "Aku tahu, bagaimana perasaan seorang remaja. Kalau aku ini seumur kalian, dan
55
http://crossfire-net.blogspot.com/

mendengar desas-desus tentang adanya seekor naga, kurasa aku pun ingin turun ke bawah untuk melihat dengan mata sendiri. Tapi jika kalian melakukannya, jangan lupa bahwa liang-Iiang gua itu merupakan tempat yang berbahaya." "Terima kasih, Mr. Shelby," kata Jupiter. "Jadi menurut pendapat Anda, cerita Mr. Allen tentang naga itu tidak benar?" Shelby tersenyum. "Pendapat kalian sendiri bagaimana?" "Yah —" Jupiter membentangkan kedua lengannya. Sekali lagi Shelby tertawa. "Yah," kata Jupiter, "terima kasih atas kesediaan Anda bercakap-cakap dengan kami. Mungkin kami nanti akan bisa mengetahui dengan tepat, apa sebetulnya yang dilihat oleh Mr. Allen." "Mudah-mudahan saja," kata Mr. Shelby. "Aku tahu, dulu ketika bintangnya masih cemerlang, Allen banyak membuat film dengan tema horor. Mungkin ada teman atau musuhnya, yang ingin berbuat iseng terhadapnya." "Kemungkinan itu ada saja," kata Jupiter mengakui. "Untuk berbuat iseng, orang kadang-kadang bisa melakukan hal-hal yang luar biasa. Sayang aku tidak bisa memberi keterangan yang berguna bagi kalian. Marilah — kuantarkan kalian ke luar." Mr. Shelby berjalan mendului ke pintu, lalu membukakannya. Anak-anak melangkah, hendak
56

http://crossfire-net.blogspot.com/

ke luar. Mr. Shelby menahan Jupiter, lalu mengajak bersalaman. "Semoga kalian berhasil, Nak," katanya. "Terima kasih, Sir," balas Jupiter. Disambutnya tangan Mr. Shelby yang diulurkan ke arahnya. Pintu tertutup dengan pelan, meninggalkan Jupiter yang tertegun di luar. Mulutnya ternganga, sementara matanya terbelalak memandang ke bawah. la bergidik. Jupiter menggenggam lengan Mr. Shelby — sedang orang itu sudah masuk ke dalam rumah. Dan pintu sudah tertutup!

57
http://crossfire-net.blogspot.com/

Bab 5 BAHAYA DI KAKI TEBING
Jupiter terkesiap, menatap tangan Mr. Shelby. Kelihatannya seperti tangan yang benar. Rasanya seperti benar-benar tangan manusia! Jupiter, yang biasanya selalu berkepala dingin, sekali ini tidak tahan lagi. Cepat-cepat dilepaskannya tangan itu, sehingga terjatuh. Kedua temannya berpaling dengan cepat, karena mendengar dengusan Jupiter. "Iiih! Apa itu?" seru Pete kaget. "Astaga!" kata Bob sambil mendekat. "Itu kan tangan?!" Jupiter sudah agak pulih dari kekagetannya. "l-tu ta-tangan M-mr. Shelby. Tahu-tahu terlepas, ketika kami berjabatan tangan!" "Bagaimana?" tanya Pete seakan tidak mengerti. "Terlepas," ulang Jupiter, yang masih agak terpana. "Kalau soal bagaimana, entah!" Saat itu terdengar suara tertawa menggema di dalam rumah, disusul bunyi seperti tercekik, terbatuk-batuk. Wajah Jupiter memerah. "Aku yang salah," katanya pada kedua rekannya. "Aku lupa, Mr. Shelby kan orang yang suka iseng."
"UHH!"

58
http://crossfire-net.blogspot.com/

Tangan yang tergeletak dipungutnya dengan hati-hati, lalu diacungkannya kearah Bob dan Pete. Pete menggeleng. Akhirnya Bob yang menerima. "Kelihatan seperti tangan yang sebenarnya," kata Bob. "Barangkali Mr. Shelby memakai tangan palsu, dan tangan itu secara tak sengaja terlepas ketika kalian bersalaman tadi." Jupiter menggeleng. "Kau kan baru saja mendengarnya tertawa di dalam," katanya. "Tidak — ini pasti keisengannya lagi. Aneh — caranya menakut-nakuti orang." "Ya — sangat kocak!" kata Pete sengit. "Kita cepat-cepat saja pergi dari sini, sebelum timbul lagi keisengannya yang berikut." Bob mencampakkan tangan palsu yang masih dipegangnya. Ketiga remaja itu berpaling, lalu cepat-cepat lari ke arah jalan. "Awas — jebakan terali!" seru Pete mengingatkan. Mereka lari dengan gerak mengular, untuk mengelakkan jebakan. Mereka baru melambatkan langkah, ketika sudah menghampiri pintu pagar yang tertutup. Pintu itu terbuka tanpa bunyi, seperti yang terjadi sewaktu mereka masuk. Trio Detektif bergegas melewatinya. "Setidak-tidaknya ia sportif," kata Bob, sambil berlari bersama teman-temannya menyusur jalan. "Pintu pagarnya tidak disuruh menggigit kita sewaktu keluar."
59
http://crossfire-net.blogspot.com/

"Jangan berhenti," gumam Pete. "Nanti saja aku berterima kasih padanya, jika sudah cukup jauh." Akhirnya mereka berhenti berlari, karena kehabisan napas. "Apa kerja kita sekarang?" tanya Bob. "Menunggu Hans datang menjemput?" "Kalau aku boleh mengusulkan, kita lari saja terus sampai ke Rocky Beach," kata Pete. "Apalah arti jarak dua puluh mil, jika diingat betapa kita akan jauh lebih aman jika sudah ada di sana?" Jupiter menarik-narik bibir bawahnya. la melirik arlojinya. "Kita masih punya waktu sedikit. Bagaimana jika kita melihat-lihat sebentar ke liang gua yang ada di bawah, sebelum pulang?" Pete memandang ke arah tubir tebing. "Maksudmu, yang dikatakan dimasuki naga itu? Kuberikan jawabanku dengan dua patah kata. Tidak mau!" Jupiter mengangguk. "Kalau kau, bagaimana, Bob?" "Sama seperti Pete," kata Bob. "Disamping itu, kau kan dengar sendiri tadi kata Mr. Shelby, bahwa liang-liang di bawah itu sangat berbahaya. Entahlah kalau naga, tapi aku sendiri pasti tidak senang kalau tertimbun tanah longsor." Sementara itu Jupiter sudah berjalan sampai ke tubir tebing. Dijamahnya pegangan tangga tua yang sudah dimakan cuaca. Tangga itu sangat terjal, menyusur dinding tebing.
60

http://crossfire-net.blogspot.com/

"Kalau aku, aku menyarankan kita melihat sebentar ke bawah," katanya. "Jadi kalau pulang nanti, sudah ada gambaran yang lebih jelas tentang apa yang kita hadapi." Tanpa menunggu jawaban lagi, ia langsung menuruni tangga. Dengan segera ia sudah lenyap dari penglihatan kawan-kawannya. Pete menatap Bob dengan sikap putus asa. "Kenapa ia selalu saja bisa mengalahkan kita? Padahal kan satu lawan dua!" Bob mengangkat bahu. "la lebih keras kepala, sih! Mungkin, kita berdua ini lebih tahu diri." "Yah — tapi itu tidak ada gunanya bagi kita," kata Pete mengomel. "Yuk — kita susul dia, sebelum Mr. Shelby meluncurkan benda terbang lagi untuk mengejar kita. Atau Mr. Carter yang diseberang jalan tiba-tiba merasa perlu melatih kejituannya menembak." Setelah itu Pete memegang kayu sandaran tangga, lalu mulai melangkah turun. Bob menyusulnya. Jenjang-jenjang yang dilewati sudah tua dan sempit. Dan sangat terjal! Pete dan Bob yang lari menuruninya, mula-mula masih berpegangan pada sandaran. Tapi lari mereka semakin cepat. Keberanian pun bertambah. Akhirnya sandaran hanya ditepuk-tepuk saja, sambil lewat. Jupiter menangkap bunyi langkah berlari-lari di belakangnya. Ia menoleh sebentar. la tertawa nyengir, ketika melihat apa yang terjadi. Perlombaan lari ke bawah sudah dimulai!
61
http://crossfire-net.blogspot.com/

Jupiter tidak selincah kedua temannya. Tapi jika mau, ia bisa juga berlari. Langkahnya dipercepat, sementara ia melonjak dari jenjang ke jenjang. Jaraknya dari dasar tebing tinggal sekitar lima meter lagi — tahu-tahu jenjang yang dipijaknya patah! Jupiter terdorong terus ke bawah, karena kecepatannya berlari. Jenjang berikut yang dipijak berderak, lalu patah pula. Jupiter berusaha menahan gerak tubuhnya. la menyambar kayu sandaran. Kayu sandaran itu ternyata sudah lapuk, karena langsung terlepas. Jupiter berteriak, serentak dengan gerak tubuhnya yang terpental ke samping. Bob dan Pete yang sudah berhasil menyusui sampai dekat sekali, mendengar teriakan teman mereka itu — tapi sudah terlambat! Seluruh konstruksi tangga di sebelah bawah ambruk, bagaikan rumah-rumahan yang dibangun dari kartu-kartu. Bagian sandaran sebelah atas tempat yang disambar oleh Jupiter tadi merupakan satu-satunya kemungkinan bagi keduanya untuk menyelamatkan diri. Mereka menyambar tempat sandaran itu dengan perasaan panik. Tapi kayu pada bagian itu juga sudah lapuk, sehingga langsung terlepas. Kedua remaja itu tidak berdaya lagi. Mereka tersungkur ke bawah, disusul potongan-potongan papan yang berjatuhan. Dalam keadaan jatuh, otak Jupiter masih
62

http://crossfire-net.blogspot.com/

sempat bekerja. Ada dua pikiran yang merongrongnya, sekejap sebelum ia terbanting di bawah. Apakah yang dialaminya itu kecelakaan biasa? Atau mungkinkah itu merupakan perbuatan yang disengaja, agar Trio Detektif tidak bisa melakukan pengusutan terhadap misteri naga di pantai? Waktu yang tersisa hanya cukup untuk memikirkan kedua hal itu. la terbanting dengan keras, disusul tubuh dan papan yang berjatuhan dekat kepalanya. Setelah itu segala-galanya menjadi gelap!

63

http://crossfire-net.blogspot.com/

Bab 6 TERJEBAK !

Jupe! Kau tidak apa-apa, Jupe?" Jupiter terkejap-kejap. Samar-samar dilihatnya muka kedua temannya, yang sedang memperhatikan dirinya. Jupiter mendengus, lalu duduk. Dibersihkannya dulu mukanya yang penuh pasir, sebelum menjawab. "Tentu saja aku tidak apa-apa," katanya. "Tapi itu bukan berarti bahwa aku tertolong oleh kenyataan bahwa kalian berdua jatuh menimpa aku. Di samping napasku terdesak ke luar, mukaku juga terbenam dalam pasir karenanya." "la tidak apa-apa," kata Pete sambil nyengir. "la masih bisa mengoceh." "Ya, aku mendengamya," kata Bob. "Dan seperti biasa, ia berbuat seolah-olah kejadian tadi itu karena kesalahan kita. Padahal tubuhnya yang berat itulah yang menyebabkan anak tangga dan sandaran patah. Lalu apa yang harus kita lakukan tadi? Melayang, supaya ia jangan sampai tertindih?" Jupiter bangkit dengan pelan. Ditendanginya patahan-patahan papan yang berserakan di sekelilingnya. Salah-satu patahan itu dipungutnya,
"JUPE!

64
http://crossfire-net.blogspot.com/

lalu diteliti. la membungkuk dan memungut sepotong lagi, lalu membandingkannya dengan patahan yang pertama. la mengangguk, seakanakan puas. "Pemyataanmu itu tepat, Bob," kata Jupiter. "Berat badankulah yang menyebabkan anak tangga patah. Tapi aku cenderung menduga, patahnya bukan karena itu saja. Jenjang-jenjang ini kelihatannya bekas diapa-apakan sebelumnya, sehingga langsung patah jika ditekan sedikit saja. Kedua patahan papan itu disodorkannya pada Bob dan Pete. "Coba kalian perhatikan baik-baik! Sisi atas papan-papan itu pecah. Kalian lihat bahwa pecahannya tidak teratur? Sedang sisi bawahnya nampak lebih rata pecahnya. Mampaknya seperti sudah digergaji sebagian, sebelum kita menuruninya tadi." Bob dan Pete memperhatikan kedua patahan itu dengan seksama. "Mungkin kau benar," kata Bob setelah beberapa saat. "Tapi siapa yang tahu bahwa kita akan turun?" "Ya, betul," kata Pete. "Itu kan gagasanmu sendiri, Jupe. Jika kita tadi tidak menuruni tangga, kecelakaan itu bisa dialami siapa saja di daerah sini. Selama ini kita baru bertemu dengan Mr. Carter, Mr. Allen, dan Mr. Shelby. Tapi pasti masih banyak lagi yang biasa turun-naik lewat tangga tadi.' la menuding ke salah satu tempat di pantai.
65
http://crossfire-net.blogspot.com/

"Tangga yang berikut, lumayan juga jauhnya. Sedang tangga yang lain, masih lebih jauh lagi. Jadi pasti cukup banyak yang biasa melewati tangga yang ini." Jupiter mendesah. Patahan-patahan papan yang dipegangnya dicampakkan lagi ke pasir. "Kita juga tidak memiliki perlengkapan untuk memeriksa papan-papan ini, untuk memastikan apakah memang digergaji atau tidak. Mungkin juga aku keliru menarik kesimpulan." Pete dan Bob berpandang-pandangan. Jarang sekali Jupiter mau mengaku salah perkiraan, tentang apa saja. Jupiter merapatkan bibirnya. "Walau begitu kita tidak boleh membiarkan perhatian kita terpaling, karena kecelakaan di tangga tadi," katanya. "Tujuan kita turun tadi untuk memeriksa bidang pantai yang di sini serta liang gua, untuk mencari tanda-tanda tentang adanya naga. Kita selesaikan urusan itu sekarang." Setelah itu Jupiter berjalan menuju ke tepi air, tanpa menoleh lagi. "Pertama-tama kita mencari jejak dari tepi air, menuju ke liang gua. Makhluk yang menurut Mr. Allen dilihat olehnya, menuju ke arah sana." Bob dan Pete menggabungkan diri. Bertiga mereka melangkah dengan lambat, menelusuri tepi air. Pantai yang luas itu kelihatannya lengang saat itu. Yang ada hanya beberapa ekor burung camar saja, yang terbang berkeliling di atas kepala, sambil memekik-mekik dengan suara parau.
66
http://crossfire-net.blogspot.com/

Pete menuding ke arah seekor camar yang baru saja turun ke pasir. "Mungkin lebih baik jika kita tanyakan pada seekor di antara mereka, apakah belakangan ini pernah melihat naga di sini. Dengan begitu kita tidak perlu repot-repot lagi." "Bagus juga gagasanmu itu," kata Bob. "Dan jika burung-burung itu tidak mau bicara, masih ada kapal tunda dengan perlengkapan pengangkat kapal yang ada di sana itu." la menuding ke tengah laut, ke arah sebuah kapal berpotongan buntek yang menggandeng perlengkapan pengangkat kapal. Posisinya sekitar satu mil di depan pantai. "Mereka kelihatannya tidak sedang berlayar. Mungkin mereka pun sedang berburu naga." Jupiter memandang ke arah kapal itu, lalu menggeleng. "Apa yang ada sejauh itu, tidak perlu kita pikirkan. Kita hanya perlu meneliti garis pantai di sekitar sini saja." Pandangannya bergerak, dari liang gua yang nampak di kejauhan, sampai ke tepi air. "Di sekitar sinilah kita seharusnya menemukan jejak. Lebih baik jika melakukannya secara berpencar." Ketiga remaja itu memencar, lalu berjalan lambat-lambat menyusur pantai. Pasir yang terhampar diteliti dengan cermat. "Aku cuma melihat rumput laut bertumpuktumpuk," kata Bob.
67

http://crossfire-net.blogspot.com/

"Aku juga," kata Pete, "ditambah dengan kerang, serta kayu hanyut." Akhirnya Bob menggeleng. "Sama sekali tidak ada jejak di sini, Jupe," katanya. "Jangan-jangan sudah terhapus air, saat laut pasang naik." Jupiter menarik-narik bibir bawahnya. "Kemungkinan itu bisa saja — di sini, dekat air," katanya kemudian. "Tapi lebih ke atas lagi masih ada bidang pantai yang cukup lebar, sampai ke mulut gua. Yuk — kita memeriksa ke sana." "Apakah itu harus kita lakukan?" tanya Pete. "Bagaimana jika naga itu ada di dalam gua? Kalau begitu, apa yang harus kita lakukan? Kita lawan dia, dengan kedua belah tangan kita saja?" "Kurasa kita takkan perlu berkelahi melawan apa pun juga, Pete," kata Jupiter. "Mulut gua akan kita dekati dengan sangat berhati-hati. Dan kita takkan masuk ke dalam, selama kita tidak bisa memastikan bahwa hal itu tidak berbahaya." Pete merengut. Kemudian ia membungkuk, untuk memungut sepotong kayu hanyut yang lumayan panjangnya. "Yah — aku tidak tahu apakah ini akan ada gunanya untuk membela diri nanti," katanya. "Tapi aku merasa lebih aman, jika menggenggam tongkat sebagai senjata." Bob mengambil sepotong kayu lain, yang kelihatannya merupakan bekas dayung yang sudah patah.
68

http://crossfire-net.blogspot.com/

"Katamu itu memang tepat, Pete," katanya. "Aku ingat, pernah melihat gambar yang menampilkan adegan pertarungan antara St. George dengan naga. Jagoan hikayat kuno itu juga tidak mempergunakan kayu hanyut sebagai senjata. St. George itu orang pintar. la menggenggam pedang panjang." Bob mengayun-ayunkan gagang dayung yang sudah patah, lalu melirik ke arah Jupiter. "Kau tidak ingin membawa senjata pula, Jupe? Kalau mau, bisa kita ambil sepotong sandaran tangga yang patah tadi. Kulihat beberapa di antaranya masih ada paku-pakunya. Asyik, panjang-panjang." Jupiter mengangkat bahu sambil tersenyum. "Kurasa memang tidak ada salahnya mempersenjatai diri." la membungkuk, lalu memungut sepotong papan panjang dan lembab dari tengah sampah yang berserakan di sepanjang pantai. Di sandangnya papan itu, sambil menoleh ke arah kedua temannya. Bob dan Pete tersenyum hambar. Dengan air muka teguh tapi berkeringat dingin, ketiga remaja itu melangkah maju dengan hati-hati, menghampiri mulut gua yang gelap di kaki tebing. Mereka melintasi beting pasir rendah yang terdapat di dekat batas air, sambil mengamatamati setiap jengkai yang mereka lewati. Tiba-tiba Jupiter berhenti berjalan. Matanya bersinar. "Ini ada sesuatu," katanya pelan.
69
http://crossfire-net.blogspot.com/

Pete dan Bob memandang ke bawah. Pada pasir yang lembab dan longgar nampak jelas semacam alur memanjang. "Wah! Naga ini rupanya dari jenis modern," kata Bob setelah beberapa saat memperhatikan. "Kelihatannya berjalan dengan roda." Jupiter mengangguk. la memandang ke kanan dan ke kiri, menyusuri garis pantai. "Tidak ada apa-apa di sini. Tapi alur ini kelihatannya seperti jejak salah satu kendaraan. Mungkin mobil pantai. Penjaga keseiamatan di pantai kadang-kadang memakai jip atau mobil pantai untuk berpatroli di sepanjang daerah pantai tempat ini." "Itu mungkin saja," kata Bob. "Tapi jika sedang berpatroli, alur jejak ini mestinya kan memanjang ke utara dan selatan — sesuai dengan garis pantai. Tapi jejak ini mengarah ke mulut gua." "Benar juga katamu, Bob," kata Jupiter. la berlutut, untuk meneliti alur cekung itu. Bob memandang ke belakang, ke arah laut. Keningnya berkerut. "Aneh," katanya. "Jika jejak ini kelihatan di sini, kenapa di dekat air tadi tidak?" "Kurasa mungkin karena terhapus gerak air pasang yang deras serta ombak yang memecah," kata Jupiter. Pete meringis. "Kurasa mata Mr. Allen yang sudah tua itu tidak bisa terlalu diandalkan. Yang dilihatnya waktu itu
70
http://crossfire-net.blogspot.com/

mungkin bukan naga, tapi jip — atau sebangsanya." "Mungkin juga," kata Jupiter. "Pokoknya, itu akan kita ketahui jika sudah sampai di gua." Tapi ketika tinggal sekitar sepuluh meter dari mulut gua, jejak berupa alur memanjang itu tahu-tahu lenyap. Ketiga remaja itu berpandang-pandangan. "lni ada misteri lagi," kata Pete. Mereka sampai di mulut gua. Kelihatannya tidak ada apa-apa di dalamnya. "Mulut gua ini sangat lebar. Bis pun hampirhampir bisa masuk ke dalamnya," kata Bob. "Aku masuk saja sebentar, untuk melihat sampai seberapa jauh masuknya ke perut tebing." Jupiter menjenguk ke dalam. "Baiklah, Bob. Tapi jangan terlalu jauh. Aku dan Pete akan menyusul dengan segera, begitu kami sudah meneliti ambang di sini, kalau-kalau ada salah satu petunjuk." Bob melangkah masuk ke dalam gua, sambil mengacungkan senjatanya yang menyerupai tombak. "Kenapa ia tahu-tahu menjadi pemberani?" tanya Pete. Jupiter tersenyum. "Begitu kita melihat bahwa jejak tadi berasal dari salah satu kendaraan buatan tangan manusia, dan bukan makhluk ajaib seperti naga, kurasa kita semua langsung seperti mendapat suntikan keberanian."
71
http://crossfire-net.blogspot.com/

la menelengkan kepala, seperti sedang mendengarkan. "Mungkin bisa kita duga betapa luas gua di dalam, dari gema suara Bob." Jupiter berseru ke dalam, "Cuma untuk mengecek saja, Bob! Bagaimana keadaan di dalam?" Pete ikut menelengkan kepala dengan sikap mendengar. Kedua remaja itu sama-sama mendengar bunyi itu. Bunyi gedebuk. Setelah itu mereka mendengar suara Bob. Bunyi melengking tinggi. Hanya satu patah kata saja yang diucapkannya. Tapi itu sudah cukup untuk membuat mereka merasa ngeri. "Tolooong!"

eBook oleh Nurul Huda Kariem MR. nurulkariem@yahoo.com

72
http://crossfire-net.blogspot.com/

eBook oleh Nurul Huda Kariem MR. nurulkariem@yahoo.com

Bab 7 PERINGATAN MISTERIUS

dan Pete memandang dengan mata terbelalak ke dalam rongga gua yang hanya nampak remang-remang. Saat itu terdengar lagi suara Bob berteriak. "Toloong! Tolong aku!" "Ayo!" seru Pete. "Bob dalam bahaya!" Pete, yang paling kekar tubuhnya di antara mereka bertiga, melesat lari ke dalam gua. Jupiter berusaha mengikuti langkahnya yang cepat. "Jangan terlalu cepat, Pete," kata Jupiter, "la tidak mungkin terlalu jauh, dan kita harus berhati-hati agar jangan —" la tidak bisa menyelesaikan kalimatnya. Dalam gua yang remang-remang gelap itu, tahu-tahu napasnya terdengus — karena menubruk sesuatu yang keras. la jatuh berlutut. Kemudian didengarnya suara Pete berseru, "Jangan masuk lebih jauh, Jupe! Aku sudah menemukannya!" "Di mana, Pete? Aku tidak bisa melihat apa-apa!" Jupiter terkejap-kejap beberapa kali, sampai matanya sudah bisa disesuaikan dengan keremangan gua. Setelah itu barulah ia melihat Pete.
JUPITER

73
http://crossfire-net.blogspot.com/

Temannya itu ada di depannya, dalam posisi seperti merangkak. "la terjerumus ke dalam lubang," kata Pete. "Untung saja aku masih sempat menahan langkah." "Aku tidak bisa melihat apa-apa," kata Jupiter. Dicobanya memandang ke bawah, dari balik bahu Pete. "Bob!" serunya memanggil. "Di mana kau?" Jupiter terlompat ketika Bob menjawab, karena begitu dekat kedengarannya. "Di sini, di bawah!" seru Bob. "Aku terjerumus ke dalam semacam sumur. Aku tersedot ke bawah!" "Aduh!" pekik Pete kaget. "Pasir apung!" "Mustahil," kata Jupiter. "Itu hanya ada di kawasan dekat khatulistiwa saja!" la merangkak ke samping Pete, sambil merabaraba dasar gua dengan hati-hati. "Aku masih tetap belum bisa melihatnya. He, Bob! Kau bisa melihat kami?" "Ya!" balas Bob. "Aku hampir lurus berada di bawahmu!" Jupiter menjulurkan badan ke bawah, lalu mengulurkan tangannya. "Raihkan tanganmu ke atas lalu pegang tanganku, Bob. Nanti aku akan menarikmu ke atas, bersama Pete." Dari arah bawah terdengar bunyi berkecepuk pelan. "Ti-tidak bisa," kata Bob sesaat kemudian.
74

http://crossfire-net.blogspot.com/

"Setiap kali kucoba, tubuhku terbenam semakin dalam!" "Acungkan tongkatmu ke atas," kata Pete. "Itu, gagang dayung yang kaupegang tadi. Kami akan dengan segera menarikmu ke luar." "Tidak bisa," balas Bob dengan nada gugup. "Tadi terlempar, ketika aku terjerumus kemari." Pete memandang kayu hanyut yang dipegangnya. la mengeluh. "Sedang tongkatku terlalu rapuh — takkan kuat menahan berat badanmu." Jupiter menggeleser dengan berhati-hati, mengelilingi lubang itu. "Tahan terus, Bob," katanya. "Aku kini sedang menyusur tepi lubang, untuk menaksir ukurannya. la menggeleser lagi. "Cepat!" kata Bob berteriak dari bawah. "Sekarang bukan waktunya untuk mengukurukur." "Tapi aku harus melakukannya," kata Jupiter yang semakin menjauh. "Cuma dengan begitu aku nanti bisa mencari akal untuk mengeluarkan dirimu dari situ." Jupiter merangkak terus. la sangat berhati-hati. Walau begitu masih ada juga tanah berguguran ke dalam lubang. "Awas!" teriak Bob. "Nanti dindingnya runtuh!" "Sorry!" balas Jupiter. "Tapi itu cuma tanah longgar yang ada di pinggir atas."
75
http://crossfire-net.blogspot.com/

Sesaat kemudian ia sudah kembali berada di samping Pete. "Kurasa kita bisa melakukannya." la berseru lagi pada Bob, "He, Bob! Apakah ujung kakimu bisa menyentuh dasar?" Kedua remaja yang berada di atas mendengar bunyi menggelepar-gelepar di bawah, disusul bunyi seperti orang sedang meludah-ludah. "Belum," jawab Bob dengan sebal. "Tapi mungkin jika kalian berdua yang jenius akhirnya berhasil menemukan akal untuk mengeluarkan aku, aku akan sudah terbenam sampai ke dasar." "Kalau kau memegang kakiku, aku akan bisa meraih ke bawah," kata Pete. "Kita tidak punya waktu lagi untuk memikirkan cara penyelamatan yang macam-macam." Tapi Jupiter menggeleng. "Kurasa kita bisa mempergunakan papanku. Bukan untuk menariknya ke atas secara langsung — karena tumpuan untuk itu tidak cukup kokoh di tanah pasir begini. Tapi papanku cukup panjang untuk diletakkan melintang sampai ke seberang lubang. Sedang ujung-ujungnya kita henyakkan ke sisi." "Tapi apa gunanya?" tanya Pete. "Bob tidak bisa meraih setinggi itu ke atas." "Bisa, jika papan kita letakkan dengan membentuk sudut yang tepat," kata Jupiter. "Kurasa kita bisa mengganjalnya dari sisi seberang."
76

http://crossfire-net.blogspot.com/

Pete memandang papan tipis yang ada di tangan Jupiter. Ia mengangguk, sambil membasahi bibir. "Bisa saja kita coba. Itu jika papanmu cukup kuat menahan berat badannya." Jupiter menjulurkan kepalanya ke dalam lubang. "Kami akan mengulurkan papan ke atas kepalamu, Bob," katanya menjelaskan. "Kauusahakan agar ujungnya yang sebeiah bawah cukup kokoh terbenam ke sisi lubang, sehingga mampu menahan berat badanmu jika kaunaiki nanti." Ia menyambung, "Karena jika sampai terlepas, yang hilang bukan papan ini saja, tapi kau juga." "Terima kasih," kata Bob. "Tapi cepatlah sedikit! Aku sudah semakin dalam terbenam sekarang." Jupiter meninggalkan Pete. Ia bergegas ke tepi seberang. Dari situ ia mengulurkan papan ke bawah, sambil menjulurkan tubuh. "Papan sudah kuulurkan ke bawah sekarang," katanya pada kedua temannya. "Aku tidak tahu apakah kau bisa melihatnya, Bob. Tapi mestinya sebentar lagi akan lewat di atas kepalamu." Papan diulurkannya sedikit" demi sedikit ke bawah, sementara ia sendiri berbaring menelungkup di tanah. Akhirnya terdengar Bob berseru dari bawah. "Aku bisa melihatnya sekarang," seru Bob. Lalu dengan suara meninggi bernada kecewa, "Tak bisa kuraih! Terlalu tinggi!"
77
http://crossfire-net.blogspot.com/

"Sekarang akan kugerakkan menurun," kata Jupiter. "Aku sedang mereka-reka sudut yang tepat supaya bisa pas." Papan diulurkannya beberapa sentimeter lagi ke bawah. "Ya, ya — bagus, Jupe!" seru Bob. "Sudutnya sudah benar. Sekarang tinggal beberapa senti lagi!" Bob menunggu Jupiter mengulurkan papan lebih jauh ke bawah. Tiba-tiba terdengar bunyi seperti menggeleser. "Ayo, Jupe! Ke'napa kau tahu-tahu berhenti?" Jupiter menjawab dengan suara parau, "Badanku terjulur terlalu jauh ke dalam. A—aku sendiri mulai tergelincir!" "Aduh!" seru Pete, la bergegas bangkit, lalu lari ke tepi seberang. Kaki Jupiter bergerak-gerak liar, berusaha mencari tumpuan di tanah yang licin. Sisa tubuhnya sudah miring ke dalam lubang gelap. Tanah berguguran di bawah badannya. Seketika itu juga Pete menjatuhkan diri ke depan, menindih tungkai Jupiter. Disambarnya ikat pinggang temannya itu, lalu disentakkannya kuat-kuat ke arah belakang. "Tenang, Jupe," katanya dengan napas putusputus. "Kau sudah kupegang." Sesaat kemudian sudah cukup jauh ditariknya Jupiter ke belakang, sehingga anak gempal itu bisa memulihkan keseimbangannya kembali.
78
http://crossfire-net.blogspot.com/

"Terima kasih, Pete," kata Jupiter dengan napas sesak. "Sekarang, jika kau terus menindih kakiku selama beberapa saat lagi, sampai papan ini sudah seluruhnya kuulurkan —" Pete dan Jupiter mendengar Bob berseru dengan gembira dari bawah, "Ya — berhasil, Jupe!" "Okay, Bob. Sekarang aku dan Pete akan membenamkan ujung yang sebelah atas ke sisi lubang sebelah sini. Setelah itu kau harus berusaha memanjatnya ke atas. Bisakah kau meraihkan tanganmu untuk mencapainya?" "Ya, bisa!" jawab Bob setelah diam sesaat. "Baiklah, Bob," kata Jupiter. "Sekarang kaucoba memanjat ke atas." "Roger!" balas Bob. Terdengar bunyi berderak. Papan tipis yang mereka pegang bergetar. "la datang!" seru Pete. Papan tipis itu terayun dan bergetar, menahan beban tubuh Bob yang merambat naik. Jupiter menindih ujung sebelah atas dengan sekuat tenaga. "Kemungkinan patah masih ada," bisiknya pada Pete. "Bersiaplah untuk menangkapnya." Mereka mendengar bunyi napas Bob terengahengah. "Oke," katanya, "aku sudah sampai di ujung atas. Sekarang bagaimana?" Pete menjulurkan badan ke dalam lubang.
79
http://crossfire-net.blogspot.com/

"Pegang tanganku, Bob." Dengan cepat Bobo menggerakkan tangannya ke atas. Sesaat ia berhasil menggenggam tangan Pete yang terulur ke bawah. Tapi kemudian terlepas lagi. Bob bergerak dengan cepat karena terdorong rasa panik. Tangannya dicengkeramkan kembali ke papan yang basah. "Sulit sekali memegangnya, karena tangannya berlumpur," keluh Pete pada Jupiter. "Kau ingin mencobanya?" Jupiter menggeleng. "Kurasa hasilnya akan sama saja. Kita hams bersama-sama menariknya ke atas." Bob melotot ke arah mereka dari bawah. Kedudukannya sangat goyah, di atas papan yang terayun-ayun. "Sudahlah, jangan berunding macam-macam lagi! Cepat, keluarkan aku dari sini! Aku sudah sulit sekali bisa bertahan terus, karena badanku penuh dengan lumpur. Aku tak mampu berpegang lebih lama lagi —" Mata Jupiter berkeliaran di dalam gua. "Kita memerlukan tali," katanya. "Sesuatu yang bisa dip?kai untuk menjerat —" "Di sini tidak ada tali," kata Pete menggerutu, "dan juga tidak ada waktu lagi. Kita cuma kekurangan beberapa sentimeter saja. Mestinya ada sesuatu —" Tiba-tiba sinar mata Jupiter berubah, nampak bersinar lagi. "Aku tahu!"
80
http://crossfire-net.blogspot.com/

Dengan cepat dibukanya ikat pinggangnya. Sementara Pete memandang saja sambil melongo, temannya itu memasang ikat pinggangnya lagi, sehingga di ujungnya terbentuk semacam jerat. Jerat dari ikat pinggang itu diulurkannya ke dalam lubang. "Aku membuat jerat dengan ikat pinggangku, Bob," katanya. "Selipkan tanganmu ke dalamnya. Berat tubuhmu akan menyebabkan jerat itu mengencang dengan sendirinya. Setelah itu aku dan Pete akan menarikmu ke atas." Ikat pinggang diulurkan dengan pelan-pelan ke dalam lubang, sementara ia sendiri bersiap-siap menahan sentakan dari bawah. "Ya! Tanganku sudah terjerat!" seru Bob. "Tarik!" Jupiter menghembuskan napas lega. Pete meraih ujung ikat pinggang, sambil nyengir. Setelah itu ia bersama Jupiter mencondongkan tubuh ke belakang, lalu menarik kuat-kuat. Sesuatu yang berlumur lumpur naik dengan pelan dari dalam lubang.

81
http://crossfire-net.blogspot.com/

eBook oleh Nurul Huda Kariem MR. nurulkariem@yahoo.com

Bab 8 D U A S O S O K MISTERIUS

SOSOK berlumpur itu merebahkan diri di samping Jupe dan Pete. Napasnya tersengal-sengal. "Trims!" "Itu tadi ide Jupe," kata Pete, la memandang ikat pinggangnya dengan sikap menyesali diri. "Padahal aku juga memakai ikat pinggang. Cuma pikiranku saja yang tidak sampai ke situ." "Mungkin itu disebabkan karena kau tidak begitu memikirkan berat tubuh, seperti aku," kata Jupiter sambil tersenyum. "Di samping itu ukuran pinggangku lebih besar, jadi dengan sendirinya ikat pinggangku juga lebih panjang."

Bob membersihkan lumpur yang melumuri mukanya. "Pokoknya idemu itu berhasil, Jupe. Mulai sekarang aku takkan lagi memperolokkan dirimu bahwa kau terlalu gendut." la menoleh ke dalam lubang, lalu mundur sambil bergidik. "Coba kau tidak memakai ikat pinggang yang panjang, kemungkinannya aku masih terbenam di bawah sana sekarang." "Pokoknya, sekarang semua sudah beres lagi," kata Pete. "Lalu selanjutnya bagaimana?"
82
http://crossfire-net.blogspot.com/

"Kita pulang," kata Jupiter dengan tegas. "Bob perlu cepat-cepat berganti pakaian, karena ia basah kuyup. Sorry! Aku yang bersalah, karena memaksa hendak memeriksa gua, tanpa membawa senter." "Kita tadi sebaiknya memang membawa senter," kata Bob sependapat, "tapi kurasa aku juga tolol, kenapa begitu saja bergegas masuk, tanpa memperhatikan lingkungan." Jupiter berdiri. Keningnya berkerut. "Aneh juga, kenapa ada lubang yang begitu berbahaya di dekat jalan masuk ke gua. Kurasa itu menyebabkan banyak orang yang ingin tahu tidak bisa masuk." "Kecuali jika mereka bersikap seperti aku tadi," kata Bob sambil tersenyum hambar. "Lubang berlumpur itu akan menyebabkan banyak dari mereka tidak bisa keluar lagi!" "Wah," kata Pete, setelah berpikir sejenak, "mungkin itulah yang terjadi dengan anjing peliharaan Mr. Allen, serta anjing-anjing lainnya yang hilang. Mungkin saja mereka tercebur ke dalam lubang, lalu tersedot ke bawah." "Kemungkinan itu bisa saja," kata Jupiter sambil mengangguk. "Tapi kita tadi kan sedang mencaricari jejak, sebelum Bob berteriak minta tolong. Kita sama sekali tidak melihat jejak anjing di sekitar mulut gua." "O ya?" kata Pete dengan nada heran. "Itukah yang kita kerjakan tadi?" la menoleh ke belakang dengan cepat. "Yah — sekarang sebaiknya kita
83
http://crossfire-net.blogspot.com/

lekas-Iekas saja keluar dari sini, sementara masih bisa. Tempat ini menyeramkan." Semuanya sependapat tentang hal itu. Mereka cepat-cepat keluar. Setiba di luar, Jupiter menoleh ke belakang. Dilihatnya bongkah batu besar-besar di sisi seberang mulut gua. "Aku ingin tahu, sampai seberapa jauh Hang gua itu menjorok masuk ke dalam," katanya. "Kita tadi mendapat keterangan bahwa liang-liang di sini dulu biasa dipakai para penyelundup." "Ya, betul," kata Pete. "Lalu?" "Liang yang baru saja kita tinggalkan, rasanya tidak cocok untuk dijadikan tempat menyembunyikan barang-barang selundupan, karena terlalu terbuka dan mudah dimasuki orang." "Mungkin saja sebenarnya masih ada loronglorong lainnya," kata Bob. "Aus karena air bisa menyebabkan batu yang termasuk lunak lamakelamaan habis, walau bisa memakan waktu jutaan tahun. Mungkin daerah sini dulu terendam air. Jika betul begitu, mestinya banyak liang-liang alamiah di sekitar sini." "Mungkin juga," kata Jupiter, "tapi kita tidak punya waktu lagi untuk memeriksanya sekarang. Kita harus mengundurkannya ke lain waktu." "Aku setuju saja," kata Pete dengan gembira, "pokoknya, asal jangan hari ini. Untuk sekarang, aku sudah cukup banyak mengalami kejadian yang menciutkan hati."
84

http://crossfire-net.blogspot.com/

"Tentang itu kita semua sudah sependapat," kata Jupiter. "Tapi payahnya, sekarang ada lagi yang datang." "Apa maksudmu?" tanya Pete terkesiap. Jupiter menuding ke arah laut. Kedua temannya menoleh ke arah itu. Mata mereka terkejap karena kaget. Sesuatu yang gelap dan berkilat-kilat muncul dari bawah air. "Apa itu?" kata Bob dengan suara berbisik. "Kepalanya berukuran kecil — seperti kepala naga," kata Pete. Suaranya bergetar. Saat itu datang ombak besar, menggulung ke arah pantai, Sosok gelap yang baru muncul dilanda dan diselubungi, sehingga tidak kelihatan lagi. Anak-anak tetap berada di tempat mereka. Dengan gugup, ketiganya menatap ke arah air yang bergerak maju. Ombak yang bergulung memecah di pantai, disusul ombak berikutnya. Ketika air sudah surut lagi, nampak kembali sosok gelap yang tadi. Sosok itu berdiri tegak. Potongannya ramping dan hitam berkilat, sampai ke bagian kaki yang kelihatan bersirip, seperti kaki bebek. Sosok aneh itu berjalan lambat-lambat, menuju pantai. "Penyelam," kata Pete dengan lega. "la memakai masker dan sirip renang di kaki. Aduh — karena itu saja kita sudah takut setengah mati! Yuk, kita pergi." Ketiga remaja itu berpaling, hendak pergi.
85
http://crossfire-net.blogspot.com/

Tiba-tiba Jupiter berbisik, "Awas! la membawa senapan tombak!" "Lalu?" kata Pete sambil tertawa. "la kan bisa saja habis berburu ikan!" Jupiter menggeleng. "la menuju kemari," katanya. Tiba-tiba orang yang bermasker dan berpakaian selam serba hitam itu berlutut, dengan senapan tombak teracung ke depan. Orang itu merebahkan diri, sambil membidikkan senjatanya. "Wah! — Awas! la membidik ke arah kita!" seru Bob cemas. "Eh!" kata Pete kaget. "Kenapa ia tahu-tahu begitu?" Matanya terpicing, sementara air mukanya menjadi pucat. "Ya — Bob benar!" la berbalik dengan cepat. "Pasti kita yang dijadikan sasaran — di sekitar sini tidak ada orang lain!" Jupiter Jones memandang orang yang rebah di pantai, sambil menghadap ke arah mereka. Jarak yang memisahkan tidak sampai seratus meter. Orang itu nampak jelas membidikkan senjatanya ke arah mereka. Otak Jupiter biasa berpikir logis, dan bekerja dengan teramat cepat. Secepat kilat ditiliknya situasi yang dihadapinya. Hasilnya membuat keningnya berkerut. Situasi yang dihadapi tidak masuk akal! Tapi logis atau tidak, Jupiter masih tetap bisa
86
http://crossfire-net.blogspot.com/

mengandalkan kemampuannya menyelamatkan diri. "Bahaya!" katanya. "Lari memencar!" Ketiga remaja itu berpencaran secepat-cepatnya, lalu lari ke arah tangga yang menuju ke atas tebing. Tapi ketika sudah dekat ke situ, barulah mereka sadar bahwa itu tidak ada gunanya. Karena kaget, mereka melupakan kecelakaan yang baru saja mereka alami di tangga itu. Kini mereka sadar kembali, begitu melihat patahan tangga yang berserakan di pasir. Sedang dinding tebing menjulang terjal, mustahil bisa didaki. Jupiter menoleh ke tangga yang berikut. Letaknya terlalu jauh dari tempat mereka berada saat itu. Gntuk mencapainya, cukup jauh mereka harus berlari di atas pasir lembab. Lari mereka takkan mungkin bisa cepat. Dan di pantai terbuka itu, mereka akan menjadi sasaran empuk. Dengan cepat Jupiter mengambil keputusan. "Hanya satu kemungkinan yang tinggal. Cepat — kita kembali ke dalam gua!" Ketiga remaja itu lari lagi, kini kembali ke mulut gua. Mereka lari dengan perasaan panik, karena memperhitungkan setiap saat akan mendengar letusan senapan tombak di belakang mereka. Atau bahkan merasa punggung mereka ditembus tombak maut yang meluncur dari senjata itu. Pasir di bawah kaki berhamburan ke belakang. "Hampir sampai!" seru Jupiter dengan napas putus-putus. "Cepat — cari perlindungan!"
87

http://crossfire-net.blogspot.com/

Ketiga remaja itu menyeruduk serempak ke dalam gua, lalu bergegas merangkak ke balik batu-batu besar yang ada di depan. "Selamat!" dengus Pete. "Sekarang bagaimana?" "Kita bersembunyi," kata Jupiter, sambil berusaha mengatur napas yang tersengal-sengal. "Dengannya kita akan mendapat waktu untuk mengatur rencana selanjutnya." "Mungkin sekarang inilah waktu yang terbaik untuk mencari lorong-lorong yang lain itu," kata Bob. Jupiter mengangguk. Mukanya merah, karena bersemangat. Tapi mungkin juga karena kepanasan sehabis berlari. "Setuju!" katanya. "Tapi kita biarkan orang itu berbuat sesuatu terlebih dulu. Jika ia ternyata menuju kemari, maka akan kuakui bahwa situasi yang kita hadapi menghendaki adanya tindakan darurat — seperti masuk lebih Jauh ke dalam gua ini, misalnya." Pete memandang ke belakang punggung Jupiter, ke arah pantai. "Kita harus masuk lebih dalam, Jup," katanya dengan suara tegang. "Ia kemari!" "Aduh!" keluh Bob. "Bagaimana sekarang? Aku tidak ingin tercebur lagi ke dalam sumur tadi!" Jupiter bergerak mundur, ke dinding gua. "Lihatlah!" serunya dengan tiba-tiba. Pada dinding gua nampak lapisan papan
88

http://crossfire-net.blogspot.com/

berderet-deret memanjang, sampai ke langitlangit. "Astaga!" kata Pete. "Kenapa kita tadi tidak melihatnya?" "Karena tersamar lapisan pasir dan debu," kata Jupiter. la mengetuk-ngetuk papan berjejer itu. Terdengar bunyi bergaung. "Rupanya di belakang papan penutup ini ada lorong tersembunyi," katanya. la mendorongdorong papan. "Kelihatannya terpasang longgar— jadi bisa digeser. Coba kaulihat ke luar lagi sebentar, Pete, apakah penyelam tadi masih mengarah kemari." Pete mengintip sebentar ke luar, lalu cepat-cepat mengendap lagi. "Bahaya menjadi berlipat dua," katanya dengan suara gemetar. "Sekarang mereka berdua." "Berdua?" Kening Jupiter berkerut. "Kalau begitu, kita harus cepat-cepat. Tolong aku, menggeser papan-papan ini." Mereka mendorong dan menarik-narik papan yang berjejer-jejer itu. "Percuma!" kata Bob. "Terlalu kokoh pemasangannya!" Jupiter menggeleng. "Tidak — pasti ada satu cara untuk menggesernya." Tiba-tiba ia tersenyum. "Ya, tentu saja! Aku ini yang tolol!" Ditendangnya pasir longgar yang terhampar di sekitar deretan papan yang kelihatannya merupakan semacam pintu.
89
http://crossfire-net.blogspot.com/

"Kita cuma perlu menggali sedikit saja. Gali pasir yang di sini, supaya longgar!" Ketiga remaja itu berlutut lalu mulai menggali pasir dengan tangan mereka. Tiba-tiba pintu papan bergerak. "Cukup!" kata Jupiter. "Sekarang, jika kita bisa menggerakkannya sampai cukup lebar, sehingga kita bisa menyusup masuk —" Pintu papan kini dapat digerakkan dengan mudah, karena kakinya tidak lagi terganjal pasir. Bob dan Pete cepat-cepat menyusup masuk. Kini giliran Jupiter untuk menyusul. la beringsut-ingsut, berusaha meloloskan tubuh lewat celah yang sempit. "Ti — tidak bisa," dengusnya. "Terlalu — gemuk!" Bob dan Pete bergegas mengeduk pasir lagi, kini dari sisi di belakang papan. Pintu itu bergerak ke samping, dan dengan cepat Jupiter menyusup masuk. "Jangan terlalu rapat menutupnya kembali," katanya berbisik. "Biar kita bisa mengintip ke luar." Papan berat itu mereka geser lagi ke tempat semula. Tapi tidak sampai rata lagi dengan papan-papan yang bersebelahan. Ketiga remaja itu masih berlutut di dalam rongga gelap itu, ketika kemudian terdengar orang bercakap-cakap. Salah seorang penyelam yang masuk menyalakan senter.
90

http://crossfire-net.blogspot.com/

"Aku yakin sekali, anak-anak tadi lari kemari, Harry. Coba kau tadi tidak roboh diterjang ombak, sehingga perhatianku terpaling sesaat!" "Kita akan segera menemukan mereka, jika mereka memang masuk kemari," kata temannya yang rupanya bernama Harry. "Tapi jika tidak, kita bisa langsung mulai bekerja." Anak-anak menahan napas, sementara penyelam yang pertama menyorotkan senternya, menerangi segala penjuru gua. Jupiter merapatkan mukanya ke celah di antafa papan-papan yang memanjang ke atas. la melakukannya dalam posisi merangkak. Bob dan Pete membungkuk di atasnya, ikut mengintip ke luar. Kedua orang yang berpakaian selam itu berjalan semakin jauh ke dalam gua. Sinar senter semakin meredup, begitu pula bunyi langkah kaki mereka yang mengenakan sepatu renang. Suara serak orang yang satu lagi terdengar menggema. Datangnya seperti dari dekat lubang tempat Bob tercebur tadi. "Kurasa kau salah lihat tadi, Jack. Tidak ada siapatsiapa di sini!" "Kalau begitu mereka rupanya lari ke atas lewat tangga yang satu lagi." Terdengar bunyi berkecepak pelan. Setelah itu sunyi. Jupiter merangkak mundur. la tidak mendengar maupun melihat apa-apa lagi. Hidungnya gatal, karena kemasukan debu dan pasir. Jangan-jangan Bob dan Pete mengalami kesulitan
91
http://crossfire-net.blogspot.com/

92
http://crossfire-net.blogspot.com/

serupa, katanya dalam hati. Kalau saat itu mereka sampai bersin — wah, gawat! "Tutup hidung kalian!" bisiknya. "Jangan sampai ada yang bersin." Kedua temannya menuruti sarannya. Mereka menunggu dengan perasaan gugup. Ruangan gua di luar tetap gelap dan sunyi. Akhirnya Jupiter berdiri. "Mereka sudah pergi," bisiknya. "Kita keluar sekarang, mumpung masih ada peluang." Pasir digali lagi. Setelah itu" dengan hati-hati mereka mendorong papan yang berat, sehingga tergeser sedikit. "Kau dulu sekarang, Jupe," bisik Pete. "Kalau kau bisa lewat, kami berdua pasti juga bisa." Jupiter menanggapi usul itu dengan senyuman. Ketiga remaja itu menyusup kembali ke luar, memasuki ruang gua yang gelap. Mereka memasang telinga sejenak. Masih tetap tidak terdengar apa-apa di situ. Setelah itu mereka bergegas mengembalikan papan tadi ke tempatnya semula. Pasir yang digali ditimbunkan lagi ke dasarnya, sehingga papan itu tegak dengan kokoh seperti sebelumnya. Kini Jupiter berdiri. Jantungnya berdebar-debar. la memandang arlojinya. "Sudah lebih dari tiga jam," bisiknya. "Hans pasti sudah menunggu di atas!"

93

http://crossfire-net.blogspot.com/

eBook oleh Nurul Huda Kariem MR. nurulkariem@yahoo.com

Bab 9 PERINGATAN DARI HANTU

"NAH, bagaimana pendapatmu tentang kejadian tadi?" tanya Jupiter. Saat itu sejam setelah mereka pulang, ikut truk kecil dengan mana Hans menjemput mereka lagi. Bob sudah lebih dulu pulang ke rumahnya, untuk mandi serta berganti pakaian. Dan itu memang perlu! Kini, hanya Pete dan Jupiter saja yang ada di kantor Trio Detektif. Pete mengangkat bahu. "Aku tidak bisa memahaminya. Aku tidak tahu siapa kedua penyelam itu, kecuali bahwa nama mereka masing-masing Harry dan Jack. Aku tidak mengerti, apa sebabnya Harry — atau mungkin juga itu Jack — membidikkan senapan tombaknya ke arah kita. Aku tidak tahu, kenapa mereka mengejar kita ke dalam gua. Aku tidak tahu ke mana mereka kemudian menghilang, dan dengan cara bagaimana. Aku bankan masih belum bisa mengerti, bagaimana kita bisa lolos dari sana dengan selamat." Jupiter menarik-narik bibir bawahnya, lalu mengangguk. "Kalau ditambah lagi dengan kejadian robohnya tangga tebing secara aneh, jelaslah bahwa kita
94
http://crossfire-net.blogspot.com/

sudah menghadapi berbagai pertanyaan sebelum kita bisa mulai mengusut misteri hilangnya anjing Mr. Allen." "Aku punya ide, yang mungkin bisa membantu kita," kata Pete. "O ya?" Jupiter memutar kursinya. Minat besar terpancar dari matanya. "Apa idemu itu?" Pete menggerakkan tangannya ke arah pesawat telepon yang ada di meja. "Kau menelepon Mr. Allen. Katakan padanya, kita tidak jadi mencarikan anjingnya yang hilang itu. Bilang padanya, kita sendiri tadi juga nyaris hilang. Katakan, kita ingin membatalkan tawaran bantuan kita padanya." Saran itu sama sekali tak diacuhkan oleh Jupiter. "Problem kita yang pertama ialah menyelidiki siapa sebenarnya kedua penyelam itu," katanya, "dan apa yang mereka lakukan di dalam gua." Pete menggeleng. "Apa peduli kita dengan kedua manusia kasar itu?" tukasnya. "Kita sendiri pun tadi juga masuk ke sana, dan aku sama sekali tidak tahu, untuk apa sebetulnya hal itu kita lakukan." "Kita mencari tanda-tanda adanya naga yang diceritakan Mr. Allen," kata Jupiter. "Dan juga jejak anjing setter Irlandianya, Red Rover." "Yah — tapi nyatanya tidak banyak yang kita jumpai di sana," tukas Pete. "Kecuali lubang tadi. Bob yang menemukannya untuk kita." "Kita juga menemukan lorong yang tersembunyi di balik papan-papan tertutup," kata Jupiter.
95
http://crossfire-net.blogspot.com/

"Mungkin itu lorong rahasia untuk masuk ke dalam gua. Atau bisa juga salah satu tempat penyembunyian rahasia, yang dulu dipakai para penyelundup." "Apa hubungannya soal itu dengan kita," kata Pete berkeras. "Anjing Mr. Allen kan tidak ada di situ." Kening Jupiter berkerut. "Selaku penyelidik, kita harus kembali ke sana dan memeriksa gua itu dengan lebih cermat. Masa hal itu tidak kausadari sendiri?!" "Ya, memang." Pete mengangguk, walau dengan sikap segan. "Aku cuma heran, apa sebabnya kedua penyelam itu tidak terjerumus ke dalam lubang yang ditemukan oleh Bob! Bukankah itu merupakan bukti bahwa mereka mengenal tempat itu?!" "Itu bisa saja — tapi jangan lupa, mereka membawa senter," kata Jupiter. "Dan tentang bagaimana dan kenapa keduanya kemudian tahu-tahu lenyap — kurasa jika kita kembali ke sana dengan berbekal senter, mungkin kita akan —" Saat itu telepon berdering, untuk kedua kalinya hari itu. Pete dan Jupiter tidak bergerak. Hanya mata mereka saja yang menatap pesawat itu. Telepon berdering sekali lagi. "Terima dong," kata Pete. "Baiklah." Jupiter meraih gagang telepon, lalu mendekatkannya ke kepala.
96
http://crossfire-net.blogspot.com/

"Halo?" Lalu sekali lagi, "Halo?" Didekatkannya alat komunikasi itu ke mikrofon, supaya Pete bisa mengikuti pembicaraan. Keduanya mendengar bunyi gemerisik. Tapi tidak ada yang berbicara. "Halo?" kata Jupiter sekali lagi. Tetap saja tidak ada yang berbicara. "Mungkin salah sambung," kata Pete. "Ku-kurasa tidak," kata Jupiter tergagap. "Coba dengar baik-baik!" Bunyi serak tadi terdengar lagi, seakan-akan suara orang yang berusaha menarik napas dengan susah payah. Kemudian bunyi napas itu berganti, menjadi suara orang yang sedang tercekik. Seakan-akan sudah sekarat! "Jangan —" kata orang itu dengan sulit — lalu berkata lagi, seolah-olah dengan sisa-sisa suara yang masih ada, "Jangan — ke — mari." Kemudian menyusul lagi bunyi napas mendesah. "Kemari —- ke mana?" tanya Jupiter. "Gua ... guaku," kata suara aneh itu. Terdengar lagi bunyi, seperti napas tersentak. Setelah itu — sunyi — "Kenapa jangan?" tanya Jupiter. "Siapa yang bicara ini?" Suara yang menjawabnya menggaung. "Orang... mati—," kata suara itu lambat-lambat, "— tidak ... suka ... bicara!"
97
http://crossfire-net.blogspot.com/

Kata-kata itu disusul desahan panjang dan bergetar. Setelah itu sunyi lagi. Jupiter mengembalikan gagang telepon ke tempatnya. Sesaat ia hanya menatap pesawat itu, tanpa mengatakan apa-apa. Pete juga begitu. Tapi tiba-tiba ia meloncat dari tempatnya duduk selama itu. "Wah! — Untung teringat, malam ini kami makan agak lebih sore dari biasanya," katanya. "Aku pulang saja sekarang." Jupiter ikut berdiri. "Aku keluar juga, ah! Mungkin Bibi Mathilda memerlukan aku, untuk merapikan pekarangan." Kedua remaja itu bergegas ke luar. Mereka langsung memahami pesan suara yang menyeramkan tadi. Pesannya memang sederhana: Jangan datangi g u a k u ! Orang mati tidak suka bicara! Mr. Allen bercerita tentang naga, yang masuk ke dalam gua. Tapi ia tidak mengatakan apa-apa tentang orang mati — atau hantu!

98
http://crossfire-net.blogspot.com/

eBook oleh Nurul Huda Kariem MR. nurulkariem@yahoo.com

Bab 10 MATINYA S E B U A H KOTA

itu Bob sudah mandi dan berganti pakaian. Perasaannya sudah senang kembali saat ia tiba di perpustakaan umum kota Rocky Beach, di mana ia bekerja secara sambilan. Miss Bennett, pengelola perpustakaan itu menoleh sambil tersenyum ketika Bob masuk. "Wah, Bob," sapanya, "hari ini aku sungguhsungguh senang melihat kau datang. Hari ini kita sangat sibuk. Banyak sekali orang datang, dan sekarang tentu saja banyak buku yang harus dikembalikan ke tempat masing-masing. Bisakah kau langsung mulai dengannya?" "Tentu saja," jawab Bob. Diambilnya setumpuk buku yang dikembalikan hari itu, lalu ditaruhnya satu demi satu ke tempat yang benar di rak. Setelah itu ia mendatangi meja-meja di ruang baca. Banyak buku dibiarkan tergeletak di situ. Semua dikumpulkan olehnya. Buku yang terletak paling atas berjudul Hikayat California. Iseng-iseng ia membalik-balik halaman buku itu. Salah satu babnya berjudul, "Seaside: Impian Kota yang Mati". "Hmm," gumam Bob pada dirinya sendiri. "Ini mungkin menarik untuk diketahui."
SEMENTARA

99
http://crossfire-net.blogspot.com/

Sambil merenung, disisihkannya buku itu. Setelah itu ia bergegas mengumpulkan buku-buku yang berserakan, supaya pekerjaannya lekas selesai. la sudah tidak sabar lagi, ingin cepat-cepat mendalami buku yang menarik itu. Setelah selesai mengembalikan buku-buku yang dikumpulkannya, ia dipanggil oleh Miss Bennett, yang memintanya untuk membetulkan beberapa buku yang robek sampulnya. Buku-buku yang rusak itu dibawa ke ruang gudang yang ada di belakang, dan di situ ditambalnya dengan cellotape. Tidak lama kemudian sudah selesai segala tugas yang harus dilakukannya. Bob kembali ke meja kerja Miss Bennett. "Semua sudah beres, Miss Bennett. Masih ada sesuatu yang perlu saya pelajari sekarang, jadi jika tidak ada tugas lain —" Miss Bennett menggeleng. Bob bergegas kembali ke ruang baca, menuju meja di mana buku tentang hikayat California tadi ditinggalkan olehnya. Saat itu barulah ia sadar bahwa ia sehenarnya tidak begitu tahu tentang Seaside. Begitu pula halnya dengan Jupe dan Pete. Yang jelas, mereka belum pernah mendengar bahwa kota itu mati! Dengan cepat dibukanya buku itu, mencari bagian yang berisi uraian tentang kota Seaside. Karangan itu dimulai dengan kata-kata berikut: Seperti halnya manusia, kota-kota ada juga yang dirundung kesialan. Impian kota kecil Seaside, yang ingin menjadi pusat
100
http://crossfire-net.blogspot.com/

pertetirahan, akhirnya terburai bagaikan asap, lima puluh tahun yang silam. Gambaran kota yang cerah dan ramai, seperti dibayangkan para perencananya, dan untuk mana mereka telah mempertaruhkan seluruh harta mereka, tidak pernah menjelma menjadi kenyataan. Kanal-kanal dan terusan-terusan yang dibangun dengan penuh rasa seni untuk menimbulkan suasana seperti kota Venesia, sementara ini sudah ambruk dan digantikan oleh deretan pabrik. Hotel-hotel yang dulunya anggun, kini sudah ditutup. Ada pula yang digusur, untuk memberi tempat bagi jalan bebas hambatan, yang akan dibangun dengan lihtasan utaraselatan. Kekecewaan yang mungkin paling dirasakan oleh kota Seaside adalah gagalnya rencana pembangunan rel kereta bawah tanah, yang kalau jadi dibangun akan merupakan yang pertama di pesisir barat. Pihak pemilik modal, maupun masyarakat umum bersikap dingin dalam menanggapi rencana pembangunan suatu sistem hubungan kilat, yang akan menghubungkan kawasan pantai kota Seaside dengan daerah bisnisnya, serta dengan kota-kota kecil lainnya yang berdekatan. Tanggapan dingin itu mengakibatkan jaringan hubungan bawah tanah tersebut
101
http://crossfire-net.blogspot.com/

tidak pernah selesai dibangun. Terowongan yang sudah dibangun sepanjang beberapa mil ditutup dan kini sudah dilupakan orang, suatu rahasia gang selalu menghantui, serta kenang-kenangan mahal tentang kota yang sudah mati sebelum sempat mengalami pertumbuhan. "Wow!" kata Bob pada dirinya sendiri. Kini kota Seaside sudah lebih bermakna baginya. Kematian kota itu terjadi lebih dari lima puluh tahun yang lalu — karena buku yang dibaca merupakan terbitan beberapa tahun yang lewat. Jika ia tadi tidak secara kebetulan menemukannya, mungkin ia takkan mengetahui kisah kota kecil yang didatanginya tadi bersama Pete dan Jupiter. Setelah mencatat beberapa fakta penting tentang Seaside, dikembalikannya buku itu ke tempatnya. Kemudian ia duduk lagi. la berpikirpikir. Banyak yang perlu dilaporkan pada Jupiter. Tapi akhirnya ia memutuskan, bahwa itu bisa dilakukannya nanti, sehabis makan malam. Saat itu sudah hampir tiba. Dan Bob sudah lapar. la meminta diri pada Miss Bennett, lalu bersepeda pulang. Sesampainya di rumah dilihatnya ibunya sedang sibuk memasak. Sedang Ayah membaca koran sambil mengisap pipa. Mr. Andrews menyambut kedatangan anaknya dengan senyuman. "Hi, son," sapanya. "Kudengar kau tadi pulang berlumur lumpur begitu tebal, sehingga pakaian
102
http://crossfire-net.blogspot.com/

yang kaukenakan bisa dipakai untuk menguji kehebatan mesih cuci kita, seperti yang selalu dibangga-banggakan produsennya dalam siaran iklan." "Betul, Ayah," kata Bob. "Aku tercebur ke dalam lubang. Mula-mula kukira yang ada di dalamnya pasir apung. Tapi temyata lumpur dan air." "Pasir apung? Sepanjang pengetahuanku, di sekitar sini sama sekali tidak terdapat pasir apung." "Memang bukan di Rocky Beach," kata Bob. "Kejadiannya di Seaside. Kami sedang menangani suatu kasus, yang menyebabkan kami harus ke sana. Saat itu kami sedang memeriksa salah satu liang gua yang terdapat di situ." Mr. Andrews mengangguk. la meletakkan surat kabarnya. "Dulu liang-liang gua di sana itu bisa berarti kematian bagi yang berani masuk ke dalamnya. Waktu itu liang-liang gua di sekitar tempat yang bernama Haggity's Point, banyak yang dipakai penyelundup minuman keras. Dan sebelum itu, oleh bajak laut." "Begitulah yang kudengar," kata Bob mengiakan. "Dan ketika di perpustakaan tadi, aku secara kebetulan menemukan sebuah buku tentang hikayat California. Isinya antara lain karangan tentang Seaside, yang dikatakan merupakan kota yang sudah mati sebelum sempat tumbuh. Ayah tahu itu?" Ayah Bob wartawan. la kelihatannya memiliki
103
http://crossfire-net.blogspot.com/

gudang rahasia dalam kepalanya, berisi segala macam hal yang perlu diketahui. la mengangguk. "Banyak orang yang kehilangan harta dan bangkrut, karena keliru berspekulasi tentang kota itu. Setelah terjadi kebakaran hebat di taman hiburan, kota itu seakan-akan tidak hentinya dirundung nasib malang." "Tapi kelihatannya lumayan, Ayah," kata Bob. "Besarnya kurang lebih sama dengan kota Rocky Beach kita ini." Mr. Andrews tersenyum. "Sejak itu, Seaside mempunyai waktu lima puluhan tahun untuk membangun kembali, dan kini sudah menjadi kota yang sibuk dan berkembang terus. Tapi tidak dalam wujud yang semula diniatkan, yaitu pusat pertetirahan. Sekarang Seaside seperti kota lain-lainnya juga, tempat pemukiman dan mencari nafkah." "Dasar nasib sial," kata Bob. "Menurut yang kubaca tadi, mereka bahkan sudah sempat mulai membangun jaringan kereta bawah tanah — tapi tidak pernah diselesaikan." Mr. Andrews mencondongkan tubuhnya ke depan. "Keputusan yang menyangkut hal itu menyebabkan kematian salah seorang tokoh perintis perencanaan kota Seaside. la bunuh diri, setelah seluruh hartanya habis, karena dilibatkan dalam usaha membangun jaringan perhubungan bawah tanah itu." Mr. Andrews mengerutkan kening, sambil menyedot pipanya. "Aku tidak ingat
104
http://crossfire-net.blogspot.com/

namanya sekarang — tapi orang itu merupakan tokoh besar, dengan idam-idaman muluk. Sebenarnya jika cukup banyak orang mau mengikuti keyakinan dan semangatnya, mungkin saja Seaside bisa menjadi kota idam-idamannya — yaitu kota santai yang paling besar." Saat itu Mrs. Andrews datang menyela dengan suara tegas, "Makan malam sudah siap." Bob sebenamya masih ingin mendengar lebih banyak lagi. Tapi ayahnya sudah berdiri, lalu berjalan ke meja makan. Bob menyusul, lalu duduk. Banyak yang perlu diketahui oleh Jupiter, katanya dalam hati. * Kalau menurutku, kita lupakan saja anjing Mr. Allen yang hilang," kata Pete, menyatakan pendapatnya dengan tegas. "CJrusannya bagi dia mungkin cuma binatang kesayangan yang hilang. Tapi bagiku, itu juga melibatkan naga, serta dua penyelam bertampang galak dan bersenjata senapan tombak, dan yang tidak suka pada anak-anak. Belum lagi lubang berlumpur yang menyedot orang ke dalamnya, serta tangga yang ambruk begitu orang lari menuruninya. Ditambah lagi entah apa yang menelepon untuk memberi peringatan pada kita agar menjauhi guanya. Bagiku, itu merupakan nasihat yang perlu dituruti — apalagi karena yang mengatakan begitu orang mati!"
105
http://crossfire-net.blogspot.com/

Mata Bob langsung membesar. "Apa maksudmu?" Saat itu satu jam setelah saat makan malam. Anak-anak berkumpul lagi di dalam kantor Trio Detektif, untuk membicarakan rencana selanjutnya. "Tadi, setelah kau pulang untuk mandi dan berganti pakaian," kata Jupiter menjelaskan, "kami mendapat peringatan yang misterius, lewat telepon." la mengulangi peringatan itu, kata demi kata. "Kedengarannya seperti ada yang hendak mempermainkan kita," kata Bob kemudian. "Tapi jika bukan begitu, maka ada seseorang yang hendak mengatakan pada kita, bahwa kedatangan kita ke gua itu tidak diingini." Air muka Jupiter kini menampakkan sifat keras kepalanya. "Kita belum melihat apa-apa tentang naga misterius itu," katanya. "Kuusulkan kita kembali ke sana malam ini juga, untuk meneliti sekali lagi." "Kita adakan pemungutan suara mengenainya," kata Pete buru-buru. "Aku mengusulkan agar kita batalkan saja kasus itu. Siapa yang setuju? Yang setuju, bifang, 'ya'!" "Ya, ya, ya!" Kata itu diulang-ulang dengan suara melengking oleh Blackbeard, burung yang pandai bicara dari dalam sangkarnya yang tergantung di dekat meja kantor Trio Detektif. "Diam!" bentak Pete. "Kau bukan anggota resmi perkumpulan ini. Kau cuma diizinkan tinggal di sini."
106
http://crossfire-net.blogspot.com/

"Orang mati tidak suka bicara!" teriak Blackbeard, lalu tertawa terkekeh-kekeh. Bob menoleh ke arah Jupiter. "Mungkin dia yang kalian dengar tadi," katanya. "Blackbeard!" Jupiter menggeleng. "Bukan, Bob. Yang berbicara tadi seseorang — atau sesuatu — yang terdengar sulit bernapas dan berbicara. Jika suara itu disengaja, untuk menimbulkan kesan seolah-olah yang berbicara itu orang dalam keadaan sekarat — atau bahkan hantu — efeknya benar-benar meyakinkan. Pokoknya menyeramkan. Ya kan, Pete?" "Tidak lebih menyeramkan dari lain-lainnya yang sudah terjadi selama ini," kata Pete sambil mengangkat bahu. la menyingkapkan rambutnya ke belakang. "Jika rambutku belum putih sekarang, mungkin besok!" Jupiter tertawa nyengir. "Ah — kau tidak lebih takut daripada kami, Pete. Kau cuma berlagak takut saja." "Taruhan?" kata Pete menantang. Jupiter tidak menanggapinya. la meraih gagang telepon. "Aku mau bertaruh, jika Worthington sebentar lagi datang dengan Rolls-Royce untuk menjemput kita, kau pasti ingin ikut," katanya. * Tidak sampai sejam kemudian, Pete sudah memandang ke luar, dari balikjendela mobil kuno
107

http://crossfire-net.blogspot.com/

itu, yang kelihatan mewah karena bagianbagiannya yang terbuat dari logam dilapisi emas. Kendaraan itu meluncur dengan suara lembut menyusur Pacific Coast Highway, menuju daerah pinggiran kota Seaside."Pengemudinya Worthington, sopir berkebangsaan Inggris yang jangkung dan selalu sopan. la menjalankan Rolls-Royce itu dengan trampil, seperti biasanya. "Kadang-kadang ada perasaan menyesal dalam hatiku, kenapa kau memenangkan hak pemakaian mobil ini dalam sayembara waktu itu, Jupe," kata Pete setengah mengeluh. "Itu jika kuingat, ke dalam bahaya mana saja kita terjerumus dengannya." "Jangan kaulupakan, juga untuk meloloskan diri," kata Bob mengingatkan. "Dan ketika hak kita untuk menggunakannya selama tiga puluh hari habis, kuingat kau pun tidak bisa bergembira." Pada saat yang kritis itu mereka sedang membantu seorang remaja Inggris yang mengalami kesulitan. Kemudian remaja itu membalas jasa. la mengatur urusan keuangan yang diperlukan, sehingga Trio Detektif dapat terus menikmati hak penggunaan mobil mewah itu, termasuk sopirhya, Worthington. Pete merebahkan punggungnya ke sandaran bangku yang berlapis kulit. la tersenyum. "Harus kuakui, ini lebih nikmat daripada membonceng truk. Apalagi jika dibandingkan dengan berjalan kaki."
108
http://crossfire-net.blogspot.com/

Jupiter sudah memberi petunjuk mengenai jalan-jalan yang harus diambil untuk keluar dari jalan raya bebas hambatan, menuju jalan kecil di tepi tebing yang menaungi daerah pantai Seaside. Kini ia menepuk bahu Worthington. "Sampai di sini saja, Worthington," katanya. "Anda menunggu kami di sini, ya." "Baik, Master Jones," jawab sopir Inggris itu. Mobil Rolls-Royce besar,dengan lampu depan model kunonya yang besar dan terang berhenti di pinggir jalan. Ketiga remaja penumpangnya bergegas turun. Jupiter mengambil peralatan yang mereka bawa. "Senter, kamera foto, dan alat perekam suara," katanya sambil meneliti. "Sekarang kita sudah siap menghadapi keadaan yang bagaimanapun — serta merekamnya." Ia menyerahkan alat perekam suara pada Bob. "Ini, Bob — untuk merekam suara naga, atau suara hantu yang sulit bernapas dan berbicara." Pete mengambil satu dari ketiga senter yang dibawa. Jupe meraih gulungan tali, lalu menyandangkannya ke bahu. "Untuk apa itu kaubawa Jupe?" tanya Pete. "Tidak ada jeleknya, berjaga-jaga," kata Jupiter. "Tali ini dari bahan plastik yang kuat, dan panjangnya seratus meter. Dengannya kita nanti bisa menuruni tebing, jika tangga-tangga lainnya ternyata juga sudah diutik-utik." Mereka menyusuri jalan yang sepi dan gelap itu. Jupiter yang paling depan. Ia menuju ke tangga,
109
http://crossfire-net.blogspot.com/

lewat mana ia hendak mengajak teman-temannya turun ke pantai. Tangga itu beberapa meter lebih jauh dari tangga yang roboh ketika sedang mereka turuni pagi itu. Ketiga remaja itu berhenti sebentar di tubir tebing, lalu memandang ke bawah. Pantai nampak lengang saat itu. Bulan yang belum lama muncul di langit nampak meremang di balik lapisan awan tipis. Desisan lembut ombak samudra yang menyapu pasir pantai di bawah, sekali-sekali digantikan deru gelombang besar yang memecah agak jauh sedikit ke tengah. Pete membasahi bibir dengan sikap gugup. Ia memegang sandaran tangga yang sudah tua. la tegak tanpa bergerak sejenak, sambil memasang telinga. Bob dan Jupiter juga melakukannya. Tapi yang terdengar hanya bunyi ombak samar-samar, serta detak jantung mereka sendiri. "Nah — mudah-mudahan saja selamat," kata Pete dengan perasaan tegang. Sementara ketiga remaja itu mulai melangkah turun, mereka serasa mendengar deru ombak samudra bertambah nyaring. Seakan-akan tidak sabar lagi menanti kedatangan mereka!

eBook oleh Nurul Huda Kariem MR. nurulkariem@yahoo.com

110

http://crossfire-net.blogspot.com/

eBook oleh Nurul Huda Kariem MR. nurulkariem@yahoo.com

Bab 11 KENGERIAN DI MALAM BUTA

di sekitar tangga gelap gulita. Angin malam yang terasa asin menyengat muka. Dinding tebing menjulang di atas pantai. Bayangannya gelap dan suram di pasir yang diterangi sinar bulan. Tangga yang dituruni ternyata kokoh. Jenjangjenjang paling bawah mereka lewati dengan langkah berlari. Akhirnya mereka melompat ke pasir, diiringi desahan napas lega. Jupiter menoleh ke atas. Di sana-sini nampak cahaya lampu, di beberapa rumah yang terdapat di sepanjang tubir tebing. Ketiga remaja itu kemudian mulai berjalan, di atas pasir lembab berwama gelap. Mereka lewat di depan sisa-sisa tangga yang roboh ketika mereka lalui pagi itu. Kemudian mereka berhenti, ketika sudah dekat ke mulut gua yang dituju. Mereka memasang telinga, sambil memandang berkeliling dengan hati-hati. Tapi mereka tidak melihat sesuatu yang bergerak di dalam gua. Di sekitarnya juga tidak! Jupiter mendongak lagi. Dinding tebing yang menjorok ke depan, menyebabkan ia tidak bisa melihat tubir yang di atas. Keningnya berkerut. Ia.
KEADAAN

111
http://crossfire-net.blogspot.com/

berperasaan bahwa kenyataan itu penting—walau ia tidak tahu kenapa. Akhirnya ia mengangguk. "Aman!" Dengan cepat ketiga remaja itu menyusup masuk ke dalam gua. Sesampainya di situ Jupiter berhenti lagi, lalu mendengarkan dengan cermat. Pete heran melihat kelakuannya. Jupiter bersikap seolah-olah mereka itu sedang hendak melancarkan aksi penyergapan. "Kenapa kau begitu berhati-hati?" bisik Pete. "Kusangka penyelidikan kita ini tidak membahayakan." "Walau begitu kita tidak boleh bersikap ceroboh," balas Jupiter sambil berbisik pula. Pete menyalakan senternya. Sinarnya ditelusurkan ke sepanjang dinding gua. Setelah itu diturunkan arahnya, menerangi tanah di depan. Napasnya tersentak, karena kaget. "Kalian lihat itu?" katanya. "Liang gua ini berakhir di sana — langsung di belakang lubang! Kalau begitu, lewat mana kedua penyelam tadi siang keluar?" Jupiter maju lambat-lambat, sambil menyorotkan senternya berkeliling. "Gua ini tidak sebesar perkiraanku," katanya sambil memperhatikan. "Pertanyaanmu itu baik sekali, Pete. Bagaimana kedua penyelam itu bisa keluar dari sini? Lewat mana? Dan ke mana?" Ketiga remaja itu berkeliling, memeriksa dinding gua.
112
http://crossfire-net.blogspot.com/

"Seluruhnya dari batu keras," kata Pete. "Bagus!" "Apa maksudmu, Pete?" tanya Bob. "Kau tidak mengerti?" balas Pete. "Lihat saja, betapa sempit gua ini! Begitu pula lubang ini. Maksudku tadi, tidak mungkin ada naga bisa masuk kemari!" Jupiter kelihatan bingung. "Tapi Mr. Allen mengatakan, ia melihat seekor naga muncul dari dalam laut, lalu masuk ke gua di bawah tebing ini." Ia memandang dengan cermat, ke dalam lubang. "Kedua penyelam bermasker tadi tidak mungkin menghilang begitu saja. Harus kita anggap, di sekitar sini pasti ada liang gua yang lain. Atau bisa juga lubang lain dalam gua yang ini. Mungkin ada lorong-lorong lain yang lebih besar, di dekat-dekat sini." "Wow!" seru Bob dengan tiba-tiba. "Benar juga, untung teringat lagi!" Dengan cepat diceritakannya hal-hal yang dibacanya di perpustakaan, serta yang didengar dari ayahnya. "Terowongan, katamu?" ulang Jupiter sambil merenung. Bob mengangguk dengan tegas. "Menurut perencanaannya, terowongan itu dimaksudkan sebagai tempat lintasan jaringan kereta bawah tanah pertama di pesisir barat sini. Yang selesai baru sebagian saja — dan sekarang pun masih ada. Jadi bisa dibilang jaringan rel mati."
113
http://crossfire-net.blogspot.com/

"Menarik juga keteranganmu itu, Bob," kata Jupiter. "Tapi letaknya mungkin jauh dari sini. Lagi pula, kita tidak tahu apakah pembangunan terowongan waktu itu sudah sampai ke sini, atau dimulai dari sini." Kegairahan Bob langsung lenyap. "Benar juga katamu itu, Jupe." "Karena kita sudah ada di sini, tidak ada salahnya jika kita mencarinya," kata Jupiter lagi. "Tapi cara terbaik untuk mencari terowongan, adalah dengan melihat peta. Dan kemungkinannya itu bisa diperoleh di kantor Badan Perencana Kota Seaside." "Sesudah lima puluh tahun lewat?" Pete tertawa. "Pembuat peta itu mungkin sudah lama mati. Dan jika peta itu masih ada, aku berani bertaruh bahwa letaknya tertimbun di bawah tumpukan naskah tua yang berdebu." Jupiter mengangguk. "Itu mungkin saja, Pete. Tapi karena sekarang kita sudah ada di sini, kita cari saja terowongan itu, sambil melakukan penyelidikan." la berpikir sebentar. "Kurasa sebaiknya kita mulai dengan lorong yang secara kebetulan kita temukan tadi pagi, di balik papan-papan penutup." Pete dan Bob mengangguk, tanda setuju. Mereka mendatangi tempat di mana terdapat papan-papan panjang berjejer-jejer. Jupiter menghapus pasir dan debu yang menempel. Kini nampak bidang papan yang lebar. Tiba-tiba Bob melihat mata Jupiter berkilat-kilat.
114
http://crossfire-net.blogspot.com/

"Ada apa, Jupe?" bisik Bob. Kening Jupiter berkerut. "Aku belum bisa memastikan," katanya. "Tapi papan-papan kelihatannya terbuat dari kayu lapis." "Kayu lapis?" ulang Bob. "Ya, kurasa begitu," kata Jupiter, sambil meraba-raba permukaan papan di depannya. "Tapi aku belum bisa memastikan, apa hubungannya dengan misteri kita. Sekarang sebaiknya kita gali dulu pasir yang tertimbun di sini, supaya papan-papan ini bisa digeser." Dengan segera papan yang pernah mereka geser sudah tergali lagi sisi bawahnya, lalu didorong sehingga terbuka sedikit. Ketiga remaja itu menyusup lewat celah sempit, yang kemudian ditutup lagi. Setelah itu mereka menyalakan senter, untuk melihat di mana mereka berada. Jupiter beserta kedua temannya berada di dalam gua kecil dan sempit. Langit-langitnya rendah. Tapi mereka masih bisa berdiri tegak di situ, tanpa perlu membungkuk. Ruangan itu lembab. Bentuknya miring, dan ke arah belakang berakhir pada dinding batu rendah. "Buntu lagi," kata Pete menggerutu. "Ini cuma rongga biasa, bukan lorong." Jupiter mengangkat bahu. "Walau begitu, merupakan persembunyian yang baik sekali untuk penyelundup, atau bajak laut. Kurasa tempat ini dulu sering dipakai.
115
http://crossfire-net.blogspot.com/

Papan-papan yang menutupi menunjukkan bahwa tempat ini hendak dirahasiakan dari orang luar." "Bajak laut, katamu?" Bob menyorotkan senternya ke dasar gua. "Mungkin saja ada kepingkeping uang emas yang tercecer di sini." Dengan segera Pete menemaninya. Kedua remaja itu merangkak-rangkak, sambil merabaraba lapisan pasir yang tipis. Pete yang paling dulu berdiri lagi. "Tidak ada apa-apa," katanya dengan nada kecewa. "Jika tempat ini benar-benar pernah dijadikan tempat menyembunyikan harta rampasan, yang jelas para bajak laut itu sangat teliti ketika mengambil harta itu kembali." Bob masih merangkak terus, sambil mencaricari. Akhirnya ia sampai di ujung belakang gua. "Barangkali saja ada yang tercecer di sudut," bisiknya. Sementara itu Jupiter mengarahkan sinar senternya ke bagian yang ditutupi papan. la meneliti permukaan papan, setelah dikeruknya pasir dan debu yang menempel. Tiba-tiba didengarnya Bob berteriak, "Ada apa, Bob?" tanya Jupiter. Mendengar bunyi sesuatu yang berat di belakangnya, dengan cepat ia berpaling untuk melihat. Bob tidak ada lagi! "Bob!" Jupiter melangkah ke arah belakang rongga, tapi kemudian tertegun. la bingung.
116

http://crossfire-net.blogspot.com/

"Ada apa?" tanya Pete, la berdiri sambil menatap dengan heran. Jupiter hanya bisa menuding ke arah dinding gua yang ada di hadapan mereka. "Baru saja ia masih ada di situ. Kau tidak melihatnya? Tahu-tahu lenyap, seakan-akan tertelan dinding gua." "Apa?" Pete menerjang dinding gua. Tapi dinding itu tetap tegar. "Aneh," gumamnya. la menyorotkan senternya ke tanah. "Sekali ini tidak ada lubang yang menelannya." la membungkuk, lalu 'meneliti dasar gua di tempat itu. Tiba-tiba terdengar lagi bunyi berat. Mata Pete terbelalak. Senter di tangannya digenggam lebih erat. la menoleh ke arah Jupiter, la heran, melihat temannya itu tersenyum. "Tidak ada apa-apa," kata Jupiter. "Itu cuma Bob, yang muncul kembali." Pete berpaling kembali dengan cepat. la masih sempat melihat sebagian dari dinding gua yang sebelah belakang bergeser. Saat berikutnya nampak lubang menganga. Bob merangkak ke luar lewat lubang itu. "Bukan main!" kata Bob. "Bayangkan — ada sebagian dinding gua, yang sebenarnya pintu rahasia! Aku tadi kebetulan saja bersandar ke sini — lalu tahu-tahu terbuka!" "Ada apa di belakang sana?" tanya Jupiter bersemangat. Bob kaget.
117

http://crossfire-net.blogspot.com/

"Aduh — aku tidak sempat memperhatikan, Jupe! Habis, kejadiannya begitu cepat, sih! Coba kulihat, apakah aku bisa mendorongnya lagi sehingga terbuka!" la berjongkok, lalu menyandarkan diri ke dinding rendah itu. Mula-mula tidak terjadi apa-apa. Tapi ketika Bob menggeser letak bahunya, tahu-tahu terdengar detakan keras. Dinding batu itu tergeser dengan bunyi berat. Tubuh Bob terdorong ke belakang. "Aku masuk lagi!" setunya. "Cepat — sementara masih terbuka!" Pete dan Jupiter menyusul Bob yang sudah lebih dulu terpental masuk. "Wow!" seru Pete bersemangat. "Ini baru lebih pantas!" Gua yang mereka masuki sangat lapang, dan tinggi langit-langitnya. Ujung belakangnya tak tercapai sinar senter. Arahnya ke darat, sejajar dengan gua yang pertama-tama dimasuki. Ketiga remaja itu berdiri, karena hendak memeriksa rongga besar itu. Saat itu terdengar bunyi benda berat tergeser. Mereka berpaling dengan cepat. Tapi terlambat. Lubang yang menganga sudah tertutup kembali! "Wah — mati kita!" gumam Pete lesu. "Itulah yang terjadi dengan Bob tadi. Aku yakin, kita nanti pasti bisa mengetahui cara kerjanya," kata Jupiter dengan tenang. "Kemungkinannya
118
http://crossfire-net.blogspot.com/

dengan sistem ungkit yang sederhana. Tapi itu nanti saja, sekarang kita akan memeriksa gua ini dulu." Bob mendongak, memandang langit-langit yang melengkung di atas kepala. "Wow!" desahnya. "Coba kaulihat, Jupe, betapa tingginya. Mungkin inilah terowongan yang disebut dalam buku yang kubaca itu!" Jupiter mengangguk. "Itu bisa saja, Bob. Tapi coba kauperhatikan, dinding dan langit-langit di sini, permukaannya berupa lapisan batu alam yang kasar. Seperti Hang gua biasa. Sedang terowongan yang kauceritakan tadi, sudah selesai dibangun. Keadaannya pasti tidak begini lagi. Mestinya dengan dinding beton, serta lantai semen. Bahkan mungkin pula sudah ada rel yang terpasang. Atau paling sedikit landasan untuk rel." Jupiter menggelengkan kepala, lalu menyorotkan senternya berkeliling. "Tidak — ini kelihatannya seperti gua alam biasa, berukuran besar. Jalan masuk dari pantai juga tidak ada. Dinding di sekitar sini kelihatannya rata, tidak berlubang. Tapi coba kita telusuri terus, ke arah darat. Siapa tahu, mungkin kita nanti tahu-tahu sampai di lorong yang akan dijadikan terowongan kereta bawah tanah." "Satu hal yang kusenangi tentang tempat ini, yaitu tidak ada hubungan dengan pantai di luar," kata Pete. "Itu berarti, tidak ada jalan masuk, untuk naga misalnya!"
119
http://crossfire-net.blogspot.com/

"Berarti kita bernasib baik," kata Jupiter sambil tersenyum. "Pokoknya, satu hal sudah jelas tentang gua ini. Gkurannya cukup lapang untuk naga, atau makhluk lain sebesar itu." "Terima kasih, atas kebaikan hatimu untuk mengingatkan," kata Pete menggerutu. "Padahal aku baru saja agak merasa lega di sini." Lantai gua itu datar dan rata. Ketiga remaja itu bisa berjalan dengan langkah tetap di situ. Namun tiba-tiba mereka berhenti. Langkah mereka terhalang dinding tinggi yang lurus ke atas dan berwarna kelabu. "Kita sampai di ujungnya," kata Pete. "Kelihatannya kita menemukan tempat parkir tak terpakai, yang paling besar di dunia!" Jupiter mencubiti bibir bawahnya. la kelihatannya seperti bertanya-tanya dalam hati. "Ada yang tidak beres, Jupe?" tanya Bob. "Dinding di depan kita ini," kata Jupiter. "Ada sesuatu mengenainya, yang tidak wajar." Bob dan Pete menyinarkan senter mereka ke arah dinding itu. Kemudian kedua-duanya menggeleng. "Kelihatannya seperti dinding biasa saja, Jupe," kata Bob. "Tentu, aku pun ikut kecewa, seperti kau. Aku ingin —" Tapi Jupiter tidak memperhatikan kata-katanya. Matanya agak terpejam, mengamat-amati dinding yang ada di depannya. Diketuk-ketuknya suatu bagian, lalu berpindah ke bagian lain, dengan telinga dirapatkan ke permukaannya yang kelabu.
120

http://crossfire-net.blogspot.com/

"Bunyinya ganjil, Jupe,"kata Bob. Jupiter mengangguk. Keningnya berkerut. la pergi ke dinding samping, lalu mengetuk-ngetuk bagian itu. "Berbeda," katanya kemudian. "Aku tidak bisa menjelaskannya, tapi —" "Ah — sudahlah, Jupe," kata Pete tidak sabaran, "jika kau tidak bisa membuktikan bahwa itu bukan dinding, maka itu dinding. Yuk, kita keluar lagi. Aku kedinginan di sini." Air muka Jupiter langsung berubah. "Itu dial" serunya bersemangat. "Dingin! Dinding itu tidak dingin, seperti dinding yang sebelah pinggir. Coba kalian rasakan sendiri!" Bob dan Pete bergegas membandingkan kedua bagian dinding itu. "Kau benar, Jupe," kata Pete mengakui. "Dinding sebelah belakang tidak sedingin dinding samping. Tapi apalah artinya kenyataan Jtu?! Jangan lupa, gua ini terletak di bawah rumahrumah yang ada di tubir tebing. Bisa saja panas dari atas merembes ke bawah, dan membuat dinding belakang itu terasa agak hangat." "Panas naik ke atas, Pete," kata Jupiter. "Di belakangnya mungkin ada rongga atau lorong lagi," kata Bob menduga. "Itu pun bisa menyebabkannya terasa lebih hangat, Jupe." Tapi Jupiter menggeleng. Bibirnya menipis, seperti biasa jika ia tidak sependapat dengan kedua temannya.
121
http://crossfire-net.blogspot.com/

la mengeluarkan pisau saku dari kantungnya, lalu mengorek-ngorek permukaan dinding yang kasar dan berwarna kelabu. Pete tertawa. "Paling-paling pisaumu yang rusak, jika kau hendak mengorek lubang menembus dinding batu itu, Jupe! (Jntuk itu kau memerlukan dinamit." Jupiter tidak mengacuhkan ocehan Pete. la terus saja mengorek-ngorek. Setelah itu diperhatikannya mata pisaunya. Ada gumpalan-gumpalan kecil berwarna kelabu melekat di situ. la berpaling, memandang teman-temannya. Setengah tersenyum puas, ia membuka mulut — seakan-akan hendak mengatakan sesuatu hal yang penting. Tapi senyumannya lenyap lagi, sementara matanya menatap sesuatu yang ada di belakang Bob dan Pete. "G-gua —" kata Jupiter dengan suara serak, "e-entah dengan cara b-ba-bagaimana, t-tapi dinding gua di belakang kalian t-terbuka!" Kedua temannya berpaling dengan sikap tak percaya. Tadi kan tidak ada apa-apa di situ. Mana mungkin sekarang terbuka? Dengan mata terbelalak, mereka memandang hal yang mestinya tidak mungkin! Gua terbuka dengan perlahan-lahan, makin lama makin lebar. Ruangan di dalamnya menjadi agak terang sekarang. Terasa angin menghembus. Ketiga remaja itu menatap terus dengan jantung berdebar-debar, sementara gua terbuka semakin
122
http://crossfire-net.blogspot.com/

lebar. Kini mereka dapat melihat pasir pantai yang nampak samar, dan lebih jauh lagi, garis gelap yang merupakan laut. Jupiter yang paling dulu bisa berbicara lagi, "Cepat! Kita harus kembali ke rongga yang tadi!" Ketiga remaja itu lari, lalu menubrukkan diri ke bongkah batu yang tadi terbuka ketika Bob bersandar ke situ. Bob menekan-nekan batu itu dengan sikap panik. Lalu dibentur-benturkan dengan r>ahunya. Akhirnya ia menoleh ke arah Pete dan Jupiter. "Tidak bisa," katanya dengan suara bergetar. "A-aku lupa apa yang kulakukan tadi, sampai bisa terbuka!" "Sini, aku yang mencoba," kata Jupiter. "Pasti memakai prinsip pengungkit. Kita mesti bisa menemukan tempat tepat yang harus didorong." la dibantu Pete mendorong dan memukulmukul permukaan batu yang tetap tegar, sementara Bob terus mencari-cari tempat yang terdorong olehnya tadi. Tiba-tiba mereka seakan-akan terpaku di tempat masing-masing. Gua menjadi terang, karena sudah terbuka lebar. Dan ada sesuatu yang datang ke arah mereka. Sesuatu yang gelap dan besar sekali. Datangnya dari arah laut! Pete mencengkeram bahu Jupiter. "Sedang mengkhayalkah aku ini?" katanya dengan napas sesak.
123
http://crossfire-net.blogspot.com/

Jupiter hanya bisa menggeleng. Mulutnya terasa kering. Matanya terkejap-kejap cepat. la berusaha berbicara. "Tidak —" katanya kemudian, "— itu memang naga!" Makhluk dongeng yang menyeramkan itu semakiri mendekat. Kini nampak jelas kulitnya yang berkilat basah karena air laut. Kepalanya hanya nampak samar, berukuran kecil dan berbentuk segi tiga, di ujung leher panjang melengkung yang bergerak-gerak terus. Matanya yang kuning tertatap ke arah gua. Sinarnya memancar ke dalam, seperti sepasang lampu sorot. Makhluk itu bergerak maju, dengan bunyi mendengung aneh. Sesaat kemudian ia sudah begitu dekat, mulut gua seakan-akan penuh terisi badannya. Makhluk itu menundukkan kepala. Anak-anak melihat lidah yang bercabang bergerak keluar-masuk dengan cepat, seolah-olah hendak mencicip mereka. Naga itu mendesis-desis. Bunyi dengungannya seperti desahan rindu. Ketiga remaja yang terkurung di dalam gua semakin panik. Mereka berusaha terus membuka tingkap rahasia yang tidak bisa digerakkan. Batu keras itu ditubruk-tubruk dari berbagai sudut. "U-u-ugh!" Makhluk menyeramkan itu sudah masuk ke dalam gua. Anak-anak mendengar bunyi napasnya yang mendesah kasar. Mereka merapatkan diri ke dinding gua, sementara kepala naga yang menakutkan itu
124
http://crossfire-net.blogspot.com/

125
http://crossfire-net.blogspot.com/

menjulang tinggi di atas mereka. Kemudian lehernya yang panjang bergerak ke samping, lalu ke bawah. Makhluk itu membuka mulutnya yang basah berair. Nampak deretan giginya yang besar dan berkilat. Terdengar lagi bunyi napas mendesah kasar, disusul oleh suara batuk. Jupiter pernah membaca bahwa harimau yang sedang berburu biasa batuk sesaat sebelum menerkam mangsanya. Waktu itu ia membacanya secara sambil lalu saja. Tapi kini ia bergidik, karena teringat. Matanya seperti terpaku, menatap kepala naga yang kelihatan gelap. Kepala itu bergerak mengayun-ayun, seperti hendak memukau — lalu dengan tiba-tiba mengayun lagi, mendekati ketiga remaja itu. Jupiter mundur, merapatkan diri pada kedua temannya, sementara tangannya masih sibuk meraba-raba, mencari tempat yang tepat pada batu bandel itu supaya bisa didorong. Rahang naga yang berkilat basah semakin mendekat, lalu terbuka lagi. Anak-anak merasakan napasnya yang panas dan beruap. Tiba-tiba terdengar bunyi detakan di belakang mereka. Batu yang disandari bergetar. Jupiter berpaling dengan cepat. la melihat Bob terjungkir ke rongga sebelah. Sedang Pete masih terpaku, menatap naga seperti terpukau. Jupiter menyentakkan tangan anak itu dan mendorongnya masuk ke dalam lubang yang kini terbuka. Setelah itu ia sendiri menyusul, sambil mengecilkan perut.
126

http://crossfire-net.blogspot.com/

Batu tingkap tertutup kembali dengan suara berat, sementara anak-anak menghembuskan napas lega. Tapi kelegaan mereka hanya sesaat. Mereka mendengar suara naga memekik marah. Dinding batu yang memisah terasa bergetar, sementara ada sesuatu yang berat menggaruk-garuk dan membenturnya dari sisi sebaliknya.

127
http://crossfire-net.blogspot.com/

eBook oleh Nurul Huda Kariem MR. nurulkariem@yahoo.com

Bab 12 CENGKERAMAN KENGERIAN

dikejar!" teriak Pete. Raungan di gua sebelah terdengar bertambah nyaring. Dinding batu yang memisahkan kedua rongga bawah tanah bergetar keras karena tumbukan yang bertubi-tubi. Pasir dan batu-batu kecil mulai berguguran dari langit-langit rongga sempit tempat anak-anak meringkuk ketakutan. Debu kering bercampur pasir berhamburan memenuhi ruangan. "Tanah longsor!" kata Pete sambil terbatukbatuk. "Kita terjebak!" seru Bob. "Kita tidak bisa bemapas lagi nanti!" Jupiter teringat pada keterangan Arthur Shelby mengenai bahaya yang mengancam dalam gua — tentang tanah longsor, serta tertimbun hiduphidup di dalamnya. Ternyata Arthur Shelby tidak hanya hendak menakut-nakuti saja. Semakin banyak batu berguguran. Bunyi benturan dan raungan bertambah nyaring terdengar. Jupiter mengguncang-guncangkan kepala. Dengan cara begitu hendak disingkirkannya rasa ngeri yang mencengkam.
"KITA

128
http://crossfire-net.blogspot.com/

Kemudian disadarinya bahwa matanya tertatap ke papan-papan yang berjejer-jejer di ujung seberang rongga. Aduh, tentu saja! Aneh, betapa rasa takut dapat membuat pikiran serasa lumpuh. "Papan-papan di sana itu!" teriaknya sambil menuding. "Kita keluar lewat situ lagi!" Ketiga penyelidik remaja yang sedang dicengkeram kengerian itu berlompatan ke sisi rongga yang dibatasi papan-papan. Dengan gugup Bob dan Jupiter mulai menggali pasir di situ, sementara Pete menggedor-gedor papan yang tebal, berusaha menggesernya. Sesaat kemudian papan itu sudah tergeser. Sesaat, tapi rasanya seperti seumur hidup! Ketiga remaja itu menyusup ke luar lewat celah yang terjadi. Papan lebar mereka kembalikan ke tempat semula. Pasir di sekitarnya dirapatkan lagi dengan kaki, sehingga mengganjal papan itu. Kemudian mereka berpandang-pandangan. Napas mereka tersengal-sengal. "Sekarang kita lari!" kata Jupiter, laiu mulai bergerak. la sebenarnya tidak berniat lari paling cepat. Kakinyalah yang melakukannya. Kaki-kaki itu membawa tubuhnya langsung ke mulut gua. Kemudian ia berada di atas pasir pantai, masih dalam keadaan berlari. Pete berlari di sampingnya. Anak itu yang paling kekar di antara mereka bertiga, dan biasanya yang paling cepat larinya. Bob menyusul di belakang.
129

http://crossfire-net.blogspot.com/

Biasanya mereka dengan mudah saja bisa melewati Jupiter. Gerak langkah mereka menyebabkan sinar senter yang dipegang nampak bergerak-gerak liar. Mereka melewati tangga yang sudah roboh. Akhirnya mereka sampai ke jenjang terbawah dari tangga berikut. Mereka tahu bahwa Worthington ada di atas tebing, dengan mobil Rolls-Royce yang dapat dengan cepat melarikan mereka ke tempat yang aman. Sedang di belakang ada makhluk meraung yang muncul dari dalam laut, dan yang saat itu sedang mencari-cari mereka dengan marah. Dengan cepat mereka mendaki tangga yang terjal. Mereka sudah separuh jalan ke atas. Makhluk berahang ganas dan dengan napas panas beruap yang kelihatannya ingin memangsa mereka, masih belum muncul juga di belakang. Akhirnya mereka sampai di puncak tangga, dalam keadaan tersengal-sengal. Jauh di depan nampak kelap-kelip lampulampu di kota Los Angeles. Dan tidak jauh dari mereka ada mobil Rolls-Royce yang diparkir di pinggir jalan, dengan Worthington yang pasti sudah siap di belakang kemudi. Ketiga remaja itu berpacu menuju Rolls-Royce besar dan mulus, yang nampak berkilat karena bagian-bagiannya yang terbuat dari logam kena sinar rembulan. Pintu dibuka dengan cepat, dan mereka berebut-rebut masuk.
130

http://crossfire-net.blogspot.com/

"Kita pulang, Worthington!" kata Jupiter dengan suara terputus-putus karena kepayahan berlari. "Baik, Master Jones," kata sopir yang jangkung dan berpenampilan anggun itu. Seketika itu juga mesin dinyalakan. Mobil mewah itu mulai meluncur, menuruni jalan yang berbelok panjang, menuju Pacific Coast Highway. Jalannya makin lama makin laju. "Tak kusangka kau mampu berlari secepat tadi, Jupe," kata Pete dengan napas masih tersengalsengal. "Aku sendiri pun tidak menyangka," jawab Jupiter sambil menghembus-hembus. "Mungkin — itu karena aku — selama ini — belum pernah melihat — naga." "Bukan main!" keluh Bob, sambil merebahkan punggung ke sandaran bangku yang berlapis kulit. "Sekali ini aku benar-benar mengucap syukur, mempunyai hak memakai mobil ini!" "Aku juga," kata Pete. "Tapi menurut pendapatmu, kenapa naga tadi bisa tahu-tahu muncul, padahal kita sudah memutuskan bahwa tidak mungkin ada naga." "Entahlah," kata Jupiter, la masih berusaha mengatur napas. "Nah, kalau kau kapan-kapan berhasil mengetahuinya, aku tidak perlu kauberi tahu," kata Pete. "Yang kulihat tadi itu saja rasanya sudah sulit kulupakan!" "Bagaimana itu sampai bisa terjadi?" tanya Bob. "Menurut keterangan dalam buku-buku yang
131
http://crossfire-net.blogspot.com/

pernah kubaca, katanya naga sudah punah. Itu pun bukan naga, tapi kadal raksasa! Dewasa ini makhluk raksasa seperti tadi sudah tidak ada lagi!" Jupiter menarik-narik bibir bawahnya. "Entahlah — aku tidak tahu." la menggeleng, sementara keningnya dikerutkan. "Jawaban yang paling gampang ialah, bahwa kita tadi sama sekali tidak melihat naga. Jika naga tidak ada, maka tidak mungkin kita tadi melihatnya." "Bagaimana sih, kau ini?" tukas Pete. "Jika kita tadi tidak melihat naga, lalu apa yang masuk ke dalam gua, lalu menghembuskan napasnya yang panas ke arah kita?" "Kelihatannya memang seperti naga," kata Bob. Saat itu Worthington menoleh ke belakang. "Maaf, tapi mau tidak mau saya ikut menangkap pembicaraan kalian. Benarkah pendengaran saya, bahwa kalian tadi melihat naga? Maga sungguhsungguhan, dan hidup?" "Betul, Worthington," kata Pete, "la muncul dari dalam laut, lalu langsung menuju ke gua yang sedang kami periksa. Anda pernah melihat naga?" Sopir berkebangsaan Inggris itu menggeleng. "Tidak, nasib saya tidak semujur itu. Tapi di Skotlandia ada makhluk yang juga menyeramkan, dan hanya beberapa orang saja yang pernah melihatnya. Seekor ular laut yang besar dan panjang, yang gerakannya seperti berombak. Makhluk itu disebut monster dari Loch Mess. Kabarnya ia masih muncul, sekali-sekali."
132

http://crossfire-net.blogspot.com/

"Anda pernah melihatnya, Worthington?" tanya Jupiter. "Belum pernah, Master Jones," jawab sopir itu. "Tapi ketika saya masih remaja, saya pernah berkelana dekat Loch Ness — yang berarti Danau Ness, dalam logat Skot — karena tersiar kabar bahwa ada yang melihat monster itu. Salah satu kekecewaan yang paling besar dalam hidup saya ialah bahwa saya tidak pernah melihat monster dari Loch Ness. Kabarnya, makhluk itu panjangnya sekitar seratus meter." "Hmmm." Jupiter merenung. Kemudian ia berkata, "Dan menurut Anda tadi, Anda juga belum pernah melihat naga." "Kalau naga yang sesungguhnya, belum," kata Worthington sambil tersenyum. "Yang pernah saya lihat hanya yang biasa muncul sebelum pertandingan football." "Pertandingan football?" tanya Bob. la mengerti bahwa yang dimaksudkan oleh Worthington bukan pertandingan sepak bola, melainkan olahraga bola khas Amerika yang mirip dengan rugby. Tapi naga, yang muncul sebelum pertandingan football? Sopir yang selalu bersikap sopan dan anggun itu mengangguk. "Ya — pawai tahunan saat Tahun Baru yang biasa diadakan di dekat sini. Di Pasadena. Mobil-mobil berhias bunga-bunga. Kalau tidak salah, namanya Rose Bowl Parade." "Tapi yang kami lihat tadi, tidak terbuat dari
133
http://crossfire-net.blogspot.com/

bunga-bunga yang dirangkai," kata Pete dengan cepat. "Sungguh! Ya kan, Jupe?" "Hmm," jawab Jupiter. "Yang jelas, bukan terbuat dari bunga-bunga yang dirangkum. Yang tadi itu memang naga sungguhan." la berhenti sebentar, lalu menyambung, "Setidak-tidaknya, kita bertiga sependapat bahwa kelihatannya seperti naga." "Senang juga rasanya, sekali ini kau mau sependapat dengan kami," kata Pete. Jupiter merengut. Bibir bawahnya dicubit-cubit, tanda bahwa ia sedang sibuk berpikir. la tidak menjawab, melainkan memandang lewat jendela Rolls-Royce ke luar. Bibir bawahnya ditarik-tarik terus. Beberapa waktu kemudian Rolls-Royce besar itu masuk ke pekarangan Jones Salvage Yard. Anak-anak turun. Jupiter mengucapkan terima kasih pada Worthington, sambil mengatakan bahwa ia akan menelepon lagi besok, jika ternyata memerlukan kendaraan. "Baik, Master Jones," kata Worthington. "Perlu saya katakan bahwa tugas malam ini menyenangkan bagi saya. Senang juga rasanya, sekali-sekali tidak menjadi sopir nyonya-nyonya tua yang kaya-raya, atau pengusaha berada. Tapi sebelum kita berpisah, saya harapkan bisa mendapat jawaban atas satu pertanyaan yang timbul dalam diri saya. Tentang naga itu tadi."
134

http://crossfire-net.blogspot.com/

"Ya, tentu saja, Worthington. Ada apa dengannya?" "Begini," kata sopir itu, "kalian tadi dapat dikatakan bernasib baik, dapat melihat naga yang sebenarnya, katakanlah dalam keadaan hidup. Dan dari jarak dekat?" "Terlalu dekat," jawab Pete dengan cepat. "Boleh dibilang sudah hampir menindih kami." "Bagus!" Sekali ini Worthington tidak lagi bersikap menahan diri, seperti biasanya. "Jadi mestinya kalian sempat memperhatikan. Benarkah makhluk raksasa itu menyemburkan asap dan api dari mulutnya, seperti dikatakan dalam kisah-kisah lama?" Jupiter berpikir sebentar, lalu menggelengkan kepalanya lambat-lambat. "Tidak, Worthington, naga yang ini tidak menyemburkan api. Setidak-tidaknya, kami tadi hanya melihat asap." "Ah, sayang!" kata Worthington. "Saya akan senang sekali, jika kalian tadi melihat naga dalam wujud seutuhnya!" "Ya, Anda mungkin senang, Worthington," kata Pete. "Tapi apa yang kami lihat tadi sudah lebih dari cukup bagiku. Seumur hidupku aku ddak ingin mengalaminya sekali lagi. Baru berbicara mengenainya saja, aku sudah merinding." Worthington mengangguk, lalu menjalankan Rolls-Royce yang disopirinya, meninggalkan ternpat itu. Jupiter mengajak anak-anak masuk ke kompleks tempat penimbunan barang bekas.
135
http://crossfire-net.blogspot.com/

Paman Titus dan Bibi Mathilda sudah tidur di rumah mungil yang terletak di sebelah kompleks. Hanya satu lampu kecil saja yang dibiarkan menyala, sebagai penerangan untuk Jupiter saat ia akan masuk. Jupiter berpaling pada Bob dan Pete. "Aku tidak tahu apakah kalian berdua akan menyukainya, tapi tidak peduli ada naga atau tidak, kita harus kembali ke gua tadi." "Apaaa?" teriak Pete. "Tidak sadarkah kau, kita ini sudah mujur, bisa kembali dengan selamat?" Jupiter mengangguk. la mengangkat tangannya, yang tidak memegang apa-apa. "Senterku tergantung pada ikat pinggangku, sama seperti punya kalian. Tapi karena panik ketika tadi lari meninggalkan gua, kita melupakan segala peralatan kita. Kameraku, alat perekam suara, tali — semuanya tertinggal di sana. Itu satu alasan, kenapa kita harus kembali ke sana." "Baiklah," kata Pete menggerutu. "Alasan itu bisa diterima, walau bukan merupakan alasan kuat. Lalu apa alasanmu yang lain?" "Naga itu sendiri," kata Jupiter lambat-lambat. "Menurutku, naga itu bukan naga sungguhan!" Kedua temannya menatap dengan mulut ternganga. "Bukan naga sungguhan?" tukas Pete. "Kau hendak mengatakan, yang tadi menyebabkan kita lari pontang-panting ketakutan itu bukan sungguhan?" Jupiter mengangguk.
136
http://crossfire-net.blogspot.com/

Bob menggeleng-geleng. "Jika yang tadi itu bukan naga sungguhan, akan kutelan kemejaku ini mentah-mentah!" "Kuakui, kelihatannya memang seperti naga," ka,ta Jupiter. Pete nampak jengkel mendengar ucapan itu. "Kalau begitu apa sebetulnya yang kauocehkan?" tukasnya. "Kuakui, kelihatannya seperti naga," kata Jupiter mengulangi. "Tapi perangainya tidak!" "Soal itu jangan kita perdebatkan sekarang, karena malam sudah larut," kata Jupiter. "Besok pagi akan kupaparkan dasar-dasar pertimbanganku, kenapa aku sampai mengatakan tidak percaya bahwa yang tadi itu naga sungguhan. Dan jika aku ternyata keliru apabila kita ke gua itu lagi, akan kulakukan apa yang kauancamkan tadi, Bob — akan kutelan kemejaku mentah-mentah." "Kau tidak perlu repot-repot," kata Pete. "Naga yang akan menelannya untukmu. Dan sekaligus apa yang ada di dalam kemejamu itu."

137
http://crossfire-net.blogspot.com/

eBook oleh Nurul Huda Kariem MR. nurulkariem@yahoo.com

Bab 13 KELAKAR O R A N G YANG S U K A ISENG

BOB tidak bisa tidur enak malam itu. Padahal ia capek sekali, setelah mengalami rentetan kejadian mengerikan di dalam gua di Seaside. Tapi begitu matanya te'rpejam, ia langsung bermimpi dikejarkejar naga besar yang menyembur-nyemburkan asap panas. Ia terbangun lagi, dengan jantung berdebar-debar. Setiap kali mata terpejam, setiap kali pula datang mimpi dikejar-kejar. Dalam mimpi terakhir, ia dan kedua temannya nyaris saja menjadi korban. Ia terbangun bersimbah keringat dingin. Badannya masih gemetar ketakutan. Kini ada waktu baginya untuk merenungkan ucapan Jupiter, yang mengatakan bahwa makhluk yang menyeramkan itu bukan naga benar. Bob menggeleng-geleng. Tidak bisa dibayangkannya sesuatu yang lebih benar lagi. Akhirnya ia terlelap kembali, dan baru bangun ketika ibunya memanggil-manggil, menyuruhnya sarapan. Bob mengenakan pakaian dengan gerakan lambat, sambil memikirkan kejadian yang dialami malam sebelumnya. Ia berusaha mengingat-ingat satu saat, waktu mana naga itu ternyata bukan naga tulen. Tapi ia terpaksa menyerah. Baginya, makhluk seram itu tetap naga tulen.
138
http://crossfire-net.blogspot.com/

Wujudnya masih terbayang di mata, suaranya terngiang di telinga, dan baunya pun masih menusuk hidung. Naga palsu takkan mungkin bisa meninggalkan kesan begitu, pikirnya. Ah — mungkin Jupiter keliru! Ketika Bob datang ke meja makan, ayahnya baru saja selesai sarapan. Mr. Andrews menganggukkan kepala ketika melihat Bob, lalu melirik arlojinya. "Selamat pagi! Nah — kau asyik tadi malam, bersama teman-temanmu?" "Ya, Ayah," jawab Bob. "Bisa dibilang begitu." Ayahnya meletakkan serbet ke meja, lalu berdiri. "Baguslah, kalau begitu. O ya — aku tidak tahu apakah ini penting atau tidak, tapi kau kemarin kelihatannya tertarik pada riwayat terowongan kereta bawah tanah di Seaside. Ketika kau sudah pergi, barulah aku secara kebetulan teringat pada nama orang yang kehilangan hartanya, karena terlibat dalam pembangunannya." "O ya?" tanya Bob. "Siapa nama orang itu, Ayah?" "Labron Carter." "Carter?" Bob langsung teringat pada Mr. Carter, yang mereka jumpai kemarin. Laki-laki penaik darah, yang memiliki senapan buru kaliber besar. "Ya, betul! Dan setelah Badan Perencana Kota Seaside menolak rancangannya untuk menjelmakan kota itu menjadi pusat pertetirahan seperti yang diidam-idamkannya, kesehatannya yang semula sangat baik, mengalami penurunan. la
139
http://crossfire-net.blogspot.com/

mulai sakit-sakitan. Hal itu, di samping kehilangan harta serta nama baik, ternyata merupakan beban yang terlalu berat baginya. la melakukan tindakan nekat, menghabisi nyawanya sendiri." "Kasihan! Apakah ia berkeluarga?" Mr. Andrews mengangguk. "Istrinya meninggal dunia, tidak lama sesudah dia. Satu-satunya yang tinggal, hanya putra tunggalnya." Mr. Andrews berhenti sejenak. "Itu pun, kalau ia masih hidup," tambahnya kemudian. "Jangan lupa, kejadian itu sudah lebih dari setengah abad yang lalu." Kemudian ia berangkat ke kantor surat kabar tempat ia bekerja. Bob menambahkan informasi yang baru diperoleh itu pada catatannya yang sudah ada sampai saat itu. la berpikir-pikir. Apa kiranya yang akan dikatakan Jupiter nanti, jika ia menyodorkan bukti-bukti dari pihaknya. Bukti bahwa seseorang yang tahu tentang terowongan yang dibangun sekitar lima puluh tahun, kini masih hidup. Seseorang dengan dendam dalam hatinya terhadap kota yang menyebabkan ayahnya patah hati. Seseorang yang pemarah! Bob tidak bisa membayangkan, dengan cara bagaimana Mr. Carter yang sekarang akan membalas dendam. Itu jika ia memang ingin melakukannya! Bob mengantungi catatannya, lalu bergegas pergi begitu selesai sarapan. Mungkin Jupiter nanti mampu menarik kesimpulan jelas mengenainya.

140
http://crossfire-net.blogspot.com/

"Wah," kata Pete. Suaranya bernada suram. "Keterangan Bob mengenai keluarga Carter masuk akal, Jupe. Lebih masuk akal daripada anggapanmu, bahwa naga yang kemarin itu palsu, bukan naga tulen," sambungnya. Ketiga penyelidik dari Trio Detektif itu sudah berkumpul lagi di ruang kantor mereka. Bob membuka pertemuan kali itu dengan pembacaan catatan, seperti yang biasa mereka lakukan. Pada kesempatan itu ia menyebut nama Labron Carter. Tapi kecuali itu masih ada lagi hal-hal yang baru bagi kedua kawannya. "Aku masih ingat, apa yang kaukatakan kemarin malam tentang naga itu, Jupe," katanya. "Tadi pagi, dari rumah aku langsung ke perpustakaan. Cukup banyak penelitian yang kulakukan di situ tadi." "Kurasa akan sangat bermanfaat bagi pertemuan kita pagi ini, jika kau langsung saja mengutarakan hasil risetmu itu, Bob," kata Jupiter. "Jadi, adakah naga pada zaman sekarang ini, atau tidak?" Bob menggeleng. "Tidak. Tidak ada naga! Tidak ada satu buku pun yang membahas bahwa ada naga pada masa sekarang ini." "Itu kan gila!" tukas Pete. "Para pengarang buku-buku itu saja yang tidak tahu, di mana mereka harus mencari. Coba mereka mau sebentar saja mendatangi sebuah gua tertentu di Seaside saat malam hari, mereka pasti akan
141

http://crossfire-net.blogspot.com/

menjumpai seekor. Seekor naga yang besarnya tidak kepalang tanggung!" Jupiter mengangkat tangannya, meminta Pete berhenti bicara. "Sebaiknya kita dengarkan dulu laporan Bob Sesudah itu barulah kita berdiskusi mengenainya. Silakan terus, Bob!" Bob mempelajari catatannya sebentar. "Satu-satunya informasi yang kutemukan tentang makhlukyang paling mirip dengan naga, ialah sebuah buku tentang kadal besar yang hidup di Pulau Komodo, di Indonesia. Sejenis biawak, tapi lebih besar lagi. Panjangnya bisa sampai tiga meteran. Tapi masih jauh dari naga yang kita lihat kemarin." "Mungkin ada seekor di antaranya yang kebanyakan vitamin," kata Pete. "Mungkin dia itulah naga kita." "Tidak mungkin," kata Bob. "Biawak Komodo tidak menyemburkan api, dan hidupnya hanya di Komodo serta beberapa pulau kecil lain di sekitar situ. Wujudnya juga sama sekali tidak mirip makhluk yang kita lihat itu. Kurasa kita bisa mengatakan dengan pasti, tidak ada naga yang hidup dewasa ini." la berhenti sebentar, lalu menyambung, "Tapi tadi kutemukan berbagai informasi tentang sejumlah besar makhluk yang menyerang dan membunuh manusia, dan bahkan memakannya!" la menoleh ke arah kedua temannya. "Bagaimana — aku teruskan?" Jupiter mengangguk.
142
http://crossfire-net.blogspot.com/

"Ya, tentu saja! Kita harus mengenal musuhmusuh kita daiam alam — dan begitu juga yang pura-pura merupakan makhluk alam, untuk mengelabui kita. Teruskan, Bob!" "Baiklah," kata Bob. la menyirnak catatannya sebentar. "Sejuta manusia tewas setiap tahunnya, menjadi korban serangga pembawa penyakit; 40.000 mati kena gigitan ular; 2.000 karena diterkam harimau; 1.000 orang setahun dimangsa buaya, dan 1.000 lagi dilalap ikan hiu." "Kau dengar itu, Pete," kata Jupiter, "sejauh ini sama sekali tidak ada catatan statistik tentang perjumpaan manusia dengan naga. Teruskan, Bob." "Yang tadi itu angka-angka korban yang tergolong banyak," kata Bob. "Kecuali itu masih banyak pula yang disebabkan oleh serangan gajah, kuda nil, badak, serigala, singa, dubuk atau hiena, dan macan kumbang. Kematian itu ada yang merupakan kecelakaan. Tapi di antara satwa itu ada juga yang merupakan pembunuh dan pemangsa manusia. Banyak di antaranya yang memang suka membunuh. Tapi menurut buku karangan James Clarke — yang berjudul Manusialah Mangsa Mereka — keganasan beberapa binatang buas itu terlalu dilebih-lebihkan. Misalnya saja beruang kutub, puma, burung rajawali, dan juga buaya. Menurut James Clarke, labah-Iabah raksasa yang bernama tarantula, sebenarnya sama sekali tidak suka menyerang orang. Beruang grizzly sebenarnya
143
http://crossfire-net.blogspot.com/

tidak begitu banyak meminta korban, sedang monyet-monyet besar terlalu cerdas, jadi cenderung menjauhi manusia. Dalam buku itu juga dikatakan, jika ingin dimangsa binatang buas, sebaiknya pergi ke Afrika Tengah, atau ke India. Kawasan yang paling aman menurut buku itu, Irlandia. Satwa yang paling berbahaya di sana, hanyalah lebah besar!" Bob melipat kertas-kertas catatannya. Ruang kantor sempit itu hening sesaat. "Kau mau memberi komentar?" tanya Jupe pada Pete. Pete menggeleng. "Setelah mendengar catatan Bob, Seaside masih tergolong tempat yang aman," katanya sambil tersenyum. "Sekarang aku tinggal kauyakinkan saja, bahwa naga yang kemarin malam itu palsu. Bukan naga tulen!" "Pertama-tama," kata Jupiter. "Kita sama sekali tidak melihat —" Pesawat telepon berdering. Tangan Jupiter sudah bergerak, hendak meraih. Tapi tidak jadi. "Ayo — terima saja," kata Pete. "Mungkin itu orang mati — atau hantu — yang kemarin itu lagi. Mungkin saja ia hendak mengatakan pada naga kita, agar jangan berani-berani masuk ke guanya." Jupiter tersenyum. Diangkatnya gagang telepon. "Halo?"
144

http://crossfire-net.blogspot.com/

Seperti biasa, pesawat itu didekatkannya ke mikrofon, agar Bob dan Pete bisa mengikuti pembicaraan. "Halo." Anak-anak sudah sering mendengar suara itu. "Di sini Alfred Hitchcock. Apakah aku bicara dengan Jupiter Jones?" "Betul, Mr. Hitchcock. Saya rasa Anda menelepon karena ingin mengetahui bagaimana perkembangan penyelidikan yang kami lakukan untuk kawan Anda, ya?" "Betul," jawab Alfred Hitchcock. "Waktu itu kukatakan pada Allen, bahwa kujamin kalian akan berhasil mengusut teka-teki lenyapnya anjing kesayangannya dengan cepat, berkat kecerdikan kalian. Dan aku sekarang menelepon untuk mengetahui apakah keyakinanku itu beralasan atau tidak. Sudah kalian temukankah anjing yang hilang itu?" "Belum, Mr. Hitchcock," kata Jupiter. "Soalnya, ada misteri lain yang perlu kami usut terlebih dulu. Suatu misteri yang menyangkut naga. Naga batuk!" "Naga — yang batuk?" kata Mr. Hitchcock. "Maksudmu, naga yang benar-benar naga? Dan naga itu batuk, katamu? Aneh! Alam kehidupan kita ini rupanya penuh dengan misteri. Walau begitu, jika kemunculan naga itu membingungkan kalian, kusarankan agar kalian sebaiknya membicarakannya dengan orang yang dianggap paling ahli tentang hal-hal seperti itu."
145
http://crossfire-net.blogspot.com/

"Siapa orang itu, Sir?" tanya Jupiter. "Siapa lagi, kalau bukan kawan lamaku, Henry Allen," kata Mr. Hitchcock. "Aneh — bahwa itu tidak diceritakannya pada kalian! Dalam karya-karyanya dulu, ia lebih banyak menampilkan naga, dibandingkan dengan siapa pun juga sebelum dan sesudah zamannya." "Ya, ia memang mengatakan bahwa ia menampilkan wujud naga dalam beberapa filmnya," kata Jupiter, "tapi walau demikian ia tetap saja kaget, ketika melihat ada naga di pantai depan rumahnya. Terima kasih atas pengecekan ini, Mr. Hitchcock. Saya rasa sebaiknya kami menyampaikan laporan tentang perkembangan penyelidikan kami pada Mr. Allen. Saya akan meneleponnya sekarang." "Itu tidak perlu," kata Mr. Hitchcock dengan tidak disangka-sangka. "Ia ada di hubungan yang satu lagi, di kantorku. Ia baru saja menelepon, untuk mengatakan bahwa ia sangat terkesan melihat penampilan kalian. Tunggu sebentar, ya — akan kuminta sekretarisku menyambungkannya dengan kalian." Hubungan terputus sesaat. Kemudian terdengar suara sutradara film yang sudah tua itu. "Halo," kata Mr. Allen. "Kaukah ini, Jones?" "Ya, Mr. Allen. Maaf, sampai sekarang kami belum berhasil menemukan petunjuk apa pun, mengenai anjing Anda yang hilang itu. Tapi kami akan terus berusaha." "Bagus!" kata Mr. Allen. "Aku sendiri, sebenarnya juga tidak mengharapkan hasil secepat ini.
146
http://crossfire-net.blogspot.com/

Bisa saja anjingku itu diambil orang. Seperti sudah kukatakan, ia sangat ramah." "Kemungkinan itu sudah kami pertimbangkan, Sir," kata Jupiter. "Bagaimana dengan tetanggatetangga Anda yang juga kehilangan anjing? Ada di antara anjing-anjing itu yang sementara ini sudah kembali?" "Tidak," jawab Mr. Allen. "Kurasa aku mengerti apa yang kaumaksudkan dengan pertanyaanmu itu, Anak muda. Kau masih memperhitungkan faktor kebetulan, ya? Yaitu bahwa anjing-anjing kami itu semua lenyap pada waktu yang boleh dibilang bersamaan."
"Ya," kata Jupiter.

"Kalian sudah berbicara dengan tetanggatetanggaku?" "Baru dengan yang menurut Anda tidak memelihara anjing," kata Jupiter. "Mr. Carter dan Mr. Shelby." "Lalu, apa kata mereka?" "Kedua tetangga Anda itu orang-orang aneh, Mr. Allen," kata Jupiter. "Mr. Carter marah-marah karena merasa diganggu. la menggertak kami dengan senapan burunya. Ia tidak suka pada anjing. Rupanya kebunnya sering rusak karena anjing-anjing yang berkeliaran di situ, la mengancam akan menembak mati, jika ada yang masuk lagi ke pekarangannya." Mr. Allen tertawa. "Itu cuma gertakan saja, Anak muda! Carter memang suka ribut-ribut. Tapi kurasa ia takkan
147
http://crossfire-net.blogspot.com/

sampai hati, menembak binatang yang tidak apa-apa. Lalu bagaimana hasil perjumpaan kalian dengan temanku, Arthur Shelby?" "Yah —" kata Jupiter menjawab, "ia agak mendingan, tapi tidak kalah anehnya. Ia mempunyai caranya sendiri, untuk menakut-nakuti kami." Sutradara film yang sudah tua itu tertawa lagi.. "Ah — maksudmu segala peralatan yang terpasang di sekitar rumahnya, ya? Itu gunanya untuk menakut-nakuti pedagang keliling dan orang yang masuk tanpa izin, supaya tidak berani datang lagi. Aku seharusnya memang memberi tahu kalian, bahwa Arthur Shelby itu orang yang suka iseng." "Bilang padanya, itu kita alami sendiri," bisik Bob. "Mungkin ia hendak mengingatkan diriku, bahwa aku bukan satu-satunya di sekitar sini yang bisa menakut-nakuti orang," sambung Mr. Allen. "Shelby mengenalfilm-film horor ciptaanku dulu, dan mungkin saja ia membuat aku mengalami bagaimana rasanya jika ditakut-takuti. " Mr. Allen terkekeh. "Ngomong-ngomong, kegemaran Shelby berbuat iseng pernah menyebabkan ia kehilangan posisinya yang cukup penting di jawatan kotapraja. la waktu itu bekerja di Badan Perencana Kota. la bisa dibilang mengenal seluk-beluk kerja kota. Pada suatu hari timbul niatnya untuk memanfaatkan pengetahuannya itu."
148

http://crossfire-net.blogspot.com/

"Dengan cara bagaimana?" tanya Jupiter. "Apa yang dilakukan olehnya?" Sekali lagi Mr. Allen terdengar tertawa geli. "Hal itu terjadi pada had ulang tahunnya, dan merupakan ide Shelby sendiri untuk berkelakar. Peristiwa yang terjadi sebenarnya tidak bisa dibilang terlalu serius. Dia itu insinyur. Karenanya ia berhasil memadamkan semua lampu lalu lintas dalam kota secara serempak. Katanya, itu seperti kue ulang tahun, tapi tanpa lilin. Tidak perlu kukatakan lagi, bagaimana situasi lalu lintas di tengah kota saat itu. Kacau-balau! Orang-orang bisnis terlambat datang untuk memenuhi perjanjian dengan nasabah serta rekan usaha. Para pegawai terlambat datang ke kantor, dan terlambat pula pulang ke rumah. Pemadaman yang terjadi karena ulahnya itu hanya sebentar — beberapa jam saja. Tapi akibatnya, banyak yang marah-marah! Masa, hal seperti itu bisa terjadi di kota kita yang modern dan selalu sibuk. Tokoh-tokoh penting banyak yang marah. Orang yang bertanggung jawab atas kejadian itu langsung dicari. Anehnya, Shelby mengakui perbuatannya. la mengatakan dengan terang-terangan, hal itu dilakukannya untuk merayakan hari ulang tahunnya. Hanya untuk iseng belaka!" "Lalu apa yang terjadi dengan dirinya?" tanya Jupiter. "Tentu saja ia langsung dipecat. Bukan itu saja, pihak yang berkuasa yang menetapkan bahwa
149
http://crossfire-net.blogspot.com/

Shelby tidak boleh lagi diberi pekerjaan yang ada pertaliannya dengan kotapraja. la sedikit-banyak senasib denganku, sama-sama tidak diberi kesempatan mencari nafkah." "Maksud Anda, ia tidak diizinkan bekerja lagi setelah itu?" tanya Jupiter. "Hidupnya tidak bisa dibilang gampang," kata laki-laki tua itu. "Sekali-sekali ia mendapat pekerjaan sambilan di salah satu perusahaan dagang, yang hendak melancarkan aksi promosi, dalam wujud gambar dengan lampu-lampu listrik yang bergerak-gerak untuk menarik perhatian konsumen. Pokoknya hal-hal seperti itulah! Tapi itu pun cuma sekali-sekali saja. Tidak sering! la harus menebus dosa yang dilakukannya karena iseng waktu itu." "Bagaimana dengan pawai Rose Bowl?" tanya Jupiter. "Apakah Mr. Shelby pernah membuat dekorasi mobil hias yang ikut dalam arak-arakan meriah itu?" Pertanyaan itu tidak langsung dijawab. Ketika Mr. Allen berbicara lagi, suaranya terdengar agak ragu-ragu. "Sepanjang pengetahuanku, tidak! Mobil-mobil hias yang ikut dalam arak-arakan itu, hiasannya„ kan bunga-bunga yang dirangkum menjadi dekorasi indah. Sedang Shelby lebih banyak berurusan dengan dekorasi yang bercorak mekanik, jadi yang bisa bergerak-gerak. Kecuali itu, para penyelenggara Rose Bowl bersikap sangat serius mengenai pawai mereka. Banyak orang yang
150
http://crossfire-net.blogspot.com/

membayar karcis untuk menonton pawai itu di Pasadena, dan arak-arakan meriah itu juga disiarkan lewat TV. Tidak, Anak muda, kurasa orang yang suka iseng seperti Shelby takkan mungkin mereka kontrak untuk ikut terlibat dalam atraksi seserius itu. Apalagi karena reputasinya di masa yang lalu." "Sayang," kata Jupiter. "Yah — pokoknya banyak yang dibuatnya sekarang untuk menyenangkan hatinya sendiri, dan katanya segala ciptaannya itu tidak berbahaya." "Tapi ada saja orang yang tidak menyenangi keisengannya. Begitulah kenyataannya. Nah, untuk sekarang kurasa sudah cukup —" "Satu pertanyaan lagi, Sir," kata Jupiter buru-buru. "Naga yang Anda lihat waktu itu — Anda tahu pasti bahwa ia batuk?" "Pasti," kata sutradara tua itu. "Bunyinya seperti batuk." "Dan Anda melihatnya dari tubir tebing dekat rumah Anda, ketika naga itu masuk ke dalam gua yang terdapat di kaki tebing di bawah Anda?" "Ya, betul! Tentang itu aku tahu pasti. Saat itu malam sudah larut, tapi segala kemampuan jasmaniku masih lengkap, biar belakangan ini tidak ada yang mau menjadi sponsorku untuk membuat film. Penglihatanku masih sempurna." "Terima kasih, Mr. Allen. Kita akan tetap berhubungan." Jupiter mengembalikan gagang telepon ke
151

http://crossfire-net.blogspot.com/

tempatnya. Kemudian ia berpaling, menatap kedua temannya. "Ada komentar?" tanyanya. Bob mengangkat bahu, begitu pula Pete. "Katanya tadi, Shelby suka berbuat iseng," kata Pete. "Kalau itu, aku pun bisa mengatakannya. Aku ketakutan setengah mati ketika burung-burungannya tahu-tahu menyambar. Sama seperti ketika naga masuk ke dalam gua." "Nah — dengan komentarmu itu kita sampai pada pengamatanku yang berikut," kata Jupiter. "Aku menarik kesimpulan, bahwa Mr. Allen — untuk siapa kita sebenarnya bekerja — ternyata tidak bisa terlalu diandalkan pernyataannya, kalau itu ditilik dari sudut benar-tidaknya." "Hahh?" Pete memandang Jupiter dengan kening berkerut. "Dengan kalimat sederhana, Jupiter hendak mengatakan bahwa Mr. Allen berbohong," kata Bob menjelaskan. "Kalau begitu, kenapa tidak begitu dikatakannya?" tukas Pete dengan nada sebal. la memandang Jupiter. "Coba kaukatakan dengan kalimatkalimat yang bisa kumengerti, tentang apa ia berbohong." Jupiter mengangguk. "la mengatakan, ia sedang berdiri di tubir tebing, ketika ia melihat naga itu masuk ke dalam gua di bawahnya." "Lalu, apakah itu tidak boleh?" tanya Pete dengan air muka bingung.
152
http://crossfire-net.blogspot.com/

Jupiter menggeleng. "Di tempat itu, dinding tebing sebelah atas menjorok ke luar. Tidak mungkin orang yang berdiri di tubir tebing bisa melihat gua, atau melihat sesuatu yang masuk ke situ. Hal itu kualami sendiri, kemarin malam." Pete menggaruk-garuk kepala dengan sikap bingung. "Aku tidak tahu. Mungkin kau benar, dan ia keliru. Bisakah kau membuktikannya?" "Memang begitulah niatku," kata Jupiter serius. "Malam ini, saat kita kembali mendatangi gua itu. Mungkin saat itu aku bukan saja akan berhasil membuktikan bahwa Mr. Allen tidak mengatakan yang sebenarnya, tapi juga bahwa naga yang kita lihat itu sebenarnya palsu, bikin-bikinan orang saja!" "Jangan lupa," katanya menyambung, "dalam kasus ini ada sejumlah orang yang perlu kita curigai, yaitu orang-orang yang tahu-menahu tentang terowongan kereta bawah tanah yang tidak jadi diselesaikan, serta yang menaruh dendam pada orang lain. Mr. Allen dan Mr. Shelby, kedua-duanya kehilangan pekerjaan, dan tidak diberi kesempatan untuk bekerja kembali. Lalu Mr. Carter—jika ia temyata memang putra orang yang dulu mulai membangun terowongan itu — tentunya juga tahu-menahu mengenainya. Dan aku tidak heran jika ia menyimpan dendam, yang ingin dilampiaskannya terhadap sekian banyak orang yang dianggapnya ikut bersalah. Saat ini aku
153
http://crossfire-net.blogspot.com/

belum tahu, apa hubungan segala hal ini dengan naga, serta dengan gua yang kita temukan. Tapi malam ini kita mungkin akan bisa menemukan sesuatu di dalam gua itu." "Maksudmu," kata Pete cemas, "kita akan kembali ke gua itu? Malam ini? Ke tempat itu lagi? Dengan kemungkinan si Itu ada di sana, menunggu kita?" Jupiter tidak menjawab. la sibuk menulis. Setelah itu ia meraih gagang telepon. "Pertama-tama, perlu terlebih dulu mengetahui sesuatu," katanya. "Mestinya itu sebelumnya sudah terpikir olehku."

154

http://crossfire-net.blogspot.com/

eBook oleh Nurul Huda Kariem MR. nurulkariem@yahoo.com

Bab 14 B E R B U R U NAGA

sambungkan dengan Mr. Alfred Hitchcock," kata Jupiter lewat saluran telepon. "Katakan saja, Jupiter Jones yang menelepon." Bob dan Pete berpandang-pandangan dengan sikap tidak mengerti. Setelah itu keduanya menatap Jupiter. Tapi temannya itu tidak mengacuhkan pandangan mereka, yang seakan-akan bertanya. la menulis terus, sambil menunggu disambungkan dengan Alfred Hitchcock. Sesaat kemudian didengarnya suara sutradara termashur itu. "Di sini Alfred Hitchcock. Apakah ini berarti kalian baru saja berhasil mengusut teka-teki anjing-anjing yang lenyap di Seaside?" Jupiter tersenyum. "Bukan begitu tepatnya, Sir," jawabnya. "Saya menelepon ini, sehubungan dengan keterangan Anda tadi. Anda mengatakan, teman Anda Mr. Allen merupakan tokoh ahli tentang naga, serta menampilkan wujud makhluk-makhluk itu dalam film-film horornya yang dulu." "Memang betul," jawab Mr. Hitchcock. "Dan bukan cuma naga, tapi juga kelelawar, serigala, jadi-jadian, vampir, hantu kubur, mayat hidup —
"TOLONG

155
http://crossfire-net.blogspot.com/

pokoknya semua yang menyebabkan orang akan ketakutan setengah mati! Sayang film-filmnya dibuat jauh sebelum kalian ada. Para penggemar film-filmnya, sekarang pun masih gemetar dan merinding, kalau teringat pada segala makhluk menyeramkan ciptaannya!" "Ya, kabamya memang begitu," jawab Jupiter. "Saya rasa segala monster itu tentunya benarbenar seperti hidup, sehingga Mr. Allen bisa membangkitkan kesan yang begitu." "Ya, tentu saja," kata Mr. Hitchcock mantap. "Orang takkan bisa ditakut-takuti dengan tiruan buruk dari makhluk-makhluk yang mestinya menakutkan. Wujud-wujud itu hams nampak dan bertingkah laku persis seperti aslinya." Jupiter mengangguk. "Dan siapakah yang membuat makhlukmakhluk untuk filmnya itu, Sir?" "Tentu saja kami memiliki tenaga-tenaga yang sangattrampil di studio," kata Mr. Hitchcock sambil tertawa. "Kadang-kadang, suatu makhluk menyeramkan bisa bergerak-gerak karena di dalamnya ada semacam alat mekanis yang hebat. Alat itu digerakkan dengan mesin, atau dengan sistem roda gigi dan engkol. Dan kadang-kadang, jika adegan yang ditampilkan menghendakinya, kami memakai teknik lain. Makhluk seram itu kami buat fotonya dalam posisi gerak yang setiap kali berubah sedikit. Begitu terus, sampai seluruh gerakan selesai diambil. Inilah yang disebut teknik stop-motion. Jika foto-foto yang diambil beruntun156
http://crossfire-net.blogspot.com/

runtun itu diputar dengan kecepatan film yang biasa, maka akan timbul kesan seolah-olah makhluk itu bergerak. Mengerti sekarang?" "Ya, Sir," kata Jupiter. "Lalu apa yang terjadi dengan monster-monster itu, setelah film selesai dibuat?" "Kedang-kadang disimpan, untuk dipakai lagi pada kesempatan lain," kata Mr. Hitchcock menjelaskan. "Ada juga yang dijual ke perusahaan lelang. Atau kadang-kadang dimusnahkan saja. Cukupkah jawaban itu?" "Ya, Sir," kata Jupiter. "Tapi saya masih punya satu pertanyaan lagi. Apakah Anda kebetulan memiliki salah satu film karya Mr. Allen? Kami ingin melihatnya, terutama jika ada rjaga tampil di dalamnya." "Aneh — kenapa justru sekarang kau menanyakannya," kata sutradara terkenal itu, setelah diam sejenak. "Aku baru saja membongkar arsip film kami, untuk mencari sebuah film klasik ciptaannya. Judul film itu, Makhluk Gua', yang hampir seluruhnya menyangkut seekor naga. Aku bermaksud mempelajarinya, untuk filmku yang berikut. Bukannya aku hendak menjiplak ide-ide Allen," sambungnya agak terburu-buru, "tapi agar aku benar-benar sadar bahwa filmku harus benar-benar bagus, apabila hendak mengalahkdh ciptaannya itu." "Bagi kami pun akan sangat bermanfaat jika dapat melihat film itu, Mr. Hitchcock," kata Jupiter dengan cepat. "Saya sendiri ingin sekali melihat,
157
http://crossfire-net.blogspot.com/

bagaimana perangai naga yang sebenarnya. Bisakah Anda mengatur agar kami bisa ikut melihatnya, Sir?" Alfred Hitchcock langsung memberi jawaban. "Datanglah satu jam lagi ke studioku. Aku akan ada di Ruang Proyeksi Empat." Jupiter menaruh gagang telepon lambatlambat, ketika pembicaraan selesai. Kemudian ia berpaling pada Pete dan Bob. "Ingat," katanya, "wujud yang akan kita lihat nanti, merupakan naga sejati menurut gambaran yang lazim mengenainya. Jadi kalian perhatikan baik-baik nanti. Barangkali saja kalian melihat sesuatu, yang akan bisa menyelamatkan nyawa kita." "Apa maksudmu?" tanya Bob. Jupiter berdiri, lalu menggeliat. "Aku bersandar pada teoriku, bahwa naga di Seaside itu palsu. Tapi mungkin juga aku keliru. Dan jika begitu, kita menghadapi naga yang benar-benar naga!" Trio Detektif berangkat ke Hollywood naik Rolls-Royce, yang seperti biasa dikemudikan oleh Worthington. Tepat pada waktu yang ditentukan mereka masuk ke kompleks perfilman, dan berhenti di depan sebuah bungalow. Itulah Ruang Proyeksi Empat, menurut tulisan yang tertera di situ. Mereka langsung masuk. Mr. Hitchcock duduk di belakang ruangan, bersama sekretarisnya. Ia
158
http://crossfire-net.blogspot.com/

mengangguk, sebagai pengganti ucapan selamat datang. "Kalian duduk saja di depan," ujar sutradara itu dengan suara berat. "Aku baru saja hendak memberi isyarat pada juru proyeksi agar mulai." la menekan sebuah tombol yang terdapat pada kursi yang didudukinya. Ruangan menjadi gelap. Saat itu juga ada sinar terang memancar dari lubang kecil yang terdapat pada dinding bilik di belakang kursi Mr. Hitchcock, diiringi bunyi mendesir. "Ingat — film ini sudah kuno," kata Mr. Hitchcock memberi tahu. "Dan mungkin ini merupakan satu-satunya copy yang masih ada. Mutu pencuciannya kurang bagus. Pada beberapa bagian nampak gelap dan buram. Tapi apa boleh buat! — Nah, kurasa itu cukup, sebagai penjelasan. Kita lihat saja sekarang, bersama-sama!" Dengan segera ketiga remaja itu sudah melupakan sekeliling mereka. Ternyata Mr. Hichcock tidak melebih-Iebihkan ketika menyatakan bahwa film itu sangat tegang. Jupiter dan kedua temannya seperti terpukau mengikuti jalan cerita horor itu, yang diolah dengan sangat ahli oleh sutradaranya. Adegan yang nampak pada layar putih beralih. Kini nampak sebuah gua. Detik itu juga, ketiga remaja itu sudah merasa seperti benar-benar berada di dalamnya. Dan sementara jantung mereka sudah berdebar-debar lagi, mereka melihatnya kembali — naga itu!
159
http://crossfire-net.blogspot.com/

Makhluk seram yang masuk ke dalam gua, seakan-akan mengisi layar sampai ke sudutsudutnya. Makhluk itu besar sekali, jelek dan menakutkan. Sayapnya yang pendek terangkat, menampakkan otot-otot panjang yang bergerakgerak seperti ular hidup di bawah selaput kulit yang basah dan bersisik. Kemudian lehernya yang panjang dan lentur bergerak — dan kepalanya yang kecil dan nampak gelap menghadap ke arah mereka. Naga itu meraung, menampakkan rahang yang panjang dan kuat. "Iiih!" desah Pete. Tanpa disadari, duduknya agak diringkukkan. "Itu naga sungguhan!" Bob terpana, menatap makhluk seram yang semakin maju di layar. Tangan remaja itu mencengkeram sandaran kursinya. Jupiter duduk dengan tenang, memperhatikan setiap gerak-gerik naga yang nampak di layar film. Enam pasang mata seperti terpaku menatap layar, sampai film selesai. Ketika lampu ruangan menyala lagi dengan tiba-tiba, mereka masih tetap tegang, terkesan oleh film yang baru saja dilihat. Dan ketika berjalan menuju ke belakang ruangan, lutut mereka terasa lemas. "Astaga — sekujur tubuhku lemas rasanya," kata Bob. "Rasanya seolah-olah pengalaman kemarin malam berulang kembali. Aku sampai lupa, bahwa kita sedang menonton film!" Jupiter mengangguk.
160
http://crossfire-net.blogspot.com/

"ltu merupakan bukti, betapa seorang ahli pencipta kengerian bisa mencapai apa yang ingin dikesankan. Mr. Allen memiliki keahlian untuk membuat kita menerima dan mempercayai apa saja yang hendak dikesankan olehnya. Kita dibuatnya setengah mati ketakutan, dengan naga bikin-bikinan yang muncul di atas layar film. Memang kesan itulah yang hendak ditimbulkannya, sedang kita membiarkan dia membuat kita takut. Itu perlu selalu kita ingat." "Nan?" kata Mr. Hitchcock, ketika ketiga remaja itu sudah sampai di dekatnya. "Kalian mengerti sekarang, apa sebabnya kawanku itu pernah dipandang raja film-film horor?" Jupiter mengangguk. Banyak pertanyaan yang sebenarnya ingin diajukan olehnya. Tapi ia melihat bahwa Mr. Hitchcock sedang sibuk, sedang sekretarisnya sudah siap untuk mencatat. Karenanya, ia hanya mengucapkan terima kasih atas kesempatan melihat film itu. "Kalian sekarang sudah melihat naga yang di film," kata Mr. Hitchcock. "Kini kutunggu hasil pengusutan kalian terhadap misteri naga yang di Seaside." Anak-anak diantarnya ke luar. Ketiga remaja itu langsung menuju ke Rolls-Royce mengkilat yang menunggu di luar, dengan Worthington di belakang kemudi. Mereka duduk bersandar di jok belakang, sementara kendaraan mewah itu meluncur lambat-lambat ke arah pintu gerbang.
161
http://crossfire-net.blogspot.com/

"Kau tadi menyuruh kami mengamat-amati dengan teliti," kata Bob setelah beberapa saat, "dan itu sudah kulakukan. Aku sama sekali tidak melihat perbedaan antara naga yang di film tadi, dengan naga kita yang di gua. Kau bagaimana, Pete?" Pete menggeleng. "Satu-satunya perbedaan, naga film tadi lebih dahsyat raungannya." "Bukan lebih dahsyat," kata Bob, "tapi naga kita rasanya sering terbatuk-batuk." Jupiter tersenyum. "Tepat," katanya singkat. "Apa lagi maksudmu, Jupe?" tanya Pete. "Kelihatannya naga yang di Seaside itu lebih peka terhadap cuaca buruk, karena kedengarannya seperti sedang pilek." Bob memperhatikan Jupiter, yang duduk bersandar dengan sikap puas. Bagi Bob, air muka temannya itu merupakan pertanda buruk. Berdasarkan pengalaman selama mereka bergaul, air muka yang begitu berarti bahwa Jupiter berhasil mengetahui sesuatu. Sesuatu yang lolos dari pengamatan Bob dan Pete. "Mana mungkin, naga terserang pilek?" kata Bob. "Naga, katanya kart biasa hidup dalam air dan gua-gua lembab." "Pendapatku juga begitu," kata Jupiter sambil mengangguk. "Dan beberapa jam lagi, kalau kita kembali ke sana, kita akan bisa menyibakkan teka-teki tentang apa sebabnya naga kita batuk.
162
http://crossfire-net.blogspot.com/

Jika teoriku benar, kita akan memperoleh jawaban tentang apa sebabnya kita bisa lolos dari dalam gua itu, dan sekarang masih hidup." Pete memikirkan ucapan Jupiter. "Itu boleh saja, Jupe," katanya sambil mengerutkan kening. "Tapi bagaimana jika teorimu ternyata keliru?" Jupiter menggembungkan pipinya. "Teoriku harus benar," katanya. "Karena bagaimanapun juga, itu menyangkut nyawa kita!"

163

http://crossfire-net.blogspot.com/

eBook oleh Nurul Huda Kariem MR. nurulkariem@yahoo.com

Bab 15 PERTANYAAN DAN JAWABANNYA

kejengkelan Pete meledak. "Sudahlah, jangan sok misterius lagi, Jupe! Ayo katakan, apa sebenarnya yang sedang kaurencanakan. Kita membentuk Trio Detektif kan untuk mengusut teka-teki serta misteri-misteri yang tidak bisa dijelaskan. Waktu itu tidak disinggung-singgung tentang perbuatan berani mati. Aku sayang pada nyawaku. Dan Bob pun kurasa begitu juga. Bagaimana, Bob?" Bob mengangguk, sambil tersenyum. "Ya, tentu saja aku sayang pada nyawaku! Kalau nyawaku hilang, lalu siapa yang melakukan riset dan membuat catatan untuk kalian? Pete benar, Jupe. Ada apa, sih?" Jupiter hanya mengangkat bahu. "Aku belum tahu pasti. Tentu saja aku tidak berniat menyabung nyawa kita, tanpa perlu. Tapi ada kalanya kita perlu mengambil risiko." Pete menggeleng. "Eh, eh, nanti dulu! Sebelumnya, aku perlu kauyakinkan dulu. Beberapa malam yang lalu aku menonton film yang dibawa ayahku pulang. Film itu penuh dengan efek khusus, hasil buatannya. Tokoh utamanya seorang ilmuwan yang berani
TIBA-TIBA

164
http://crossfire-net.blogspot.com/

mengambil resiko. Tak perlu kuceritakan, apa yang kemudian terjadi dengan dirinya." Kening Jupiter berkerut. "Aku lupa bahwa ayahmu ahli efek khusus untuk film, Pete. Tentang apa cerita film yang kauiihat itu?" Pete tertawa nyengir. "Tentang serangga." "Serangga?" "Tentang semut dan kumbang, yang menguasai dunia," kata Pete menjelaskan. "Biasa, film fiksi ilmiah. Percayalah — film itu sama seramnya seperti film kuno dengan naga yang baru saja kita lihat tadi. Serangga-serangga itu berukuran raksasa — setinggi bangunan bertingkat banyak." "Bagaimana cara mereka membuatnya?" tanya Pete. "Mereka memakai serangga sungguhan," jawab Pete. "Alaa, Pete," tukas Bob. "Serangga tulen, yang besarnya sama dengan gedung bertingkat tinggi?" Pete mengangguk. "Ayah menjelaskannya padaku. Yang dipakai proses yang berbeda dari yang tadi diterangkan oleh Mr. Hitchcock. Dalam film yang kulihat itu, serangga-serangga difilm lewat lensa prisma. Setelah itu gambargambarnya dibesarkan sampai sekian kali lipat, lalu digabungkan dengan film yang menampakkan gedung-gedung besar. Tentu saja mereka kelihatan asli dan menyeramkan — karena memang
165

http://crossfire-net.blogspot.com/

serangga yang sebenarnya! Begitu teknik yang kini biasa dipakai untuk membuat film-film tentang makhluk-makhluk seram yang datang dari angkasa luar." Jupiter merenung, sementara jari-jarinya sibuk mencubiti bibir bawahnya. "Film itu sekarang masih ada di rumahmu?" "Ya — paling sedikit selama satu minggu lagi," kata Pete. "Ayahku bahkan menawarkan, kalau kau dan Bob ingin melihatnya, kalian boleh datang kapan saja, saat malam hari. Jadi silakan!" Jupiter kelihatannya tidak sabar. "Kurasa kita memerlukannya sebelum nanti malam, Pete." la melirik arlojinya, lalu menoleh lagi ke arah Pete. "Proyektormu bekerja dengan baterai?" Pete mengangguk. "Pakai baterai bisa, pakai listrik pun boleh." Jupiter memonyongkan mulutnya. "Dan itu kepunyaan kalian sendiri? Bukan pinjaman dari studio?" "Ya, proyektor itu milik kami," kata Pete. "Atau tepatnya, kepunyaan Ayah. Kenapa sih, kau bertanya-tanya begitu?" "Soalnya menyangkut nyawa kita — dan mungkin juga sekaligus membongkar suatu misteri. Menurutmu, mungkinkah ayahmu mau meminjamkan proyektor serta film itu pada kita, hanya untuk malam ini saja?" Pete terkejap karena kaget. "Maksudmu, untuk dibawa pergi?"
166
http://crossfire-net.blogspot.com/

"Untuk dibawa pergi," kata Jupiter menegaskan. "Film itu kurasa cocok untuk diperlihatkan pada seseorang." Pete mengusap-usap hidungnya, lalu mengangkat bahu. "Tidak tahu, ya. Tapi kurasa bisa, Jupe. Tentu saja aku harus menelepon Ayah dulu, untuk minta izin." "Bagus," kata Jupiter. "Oke," kata Pete. "Tapi sebelum aku mencoba meyakinkan ayahku, aku ingin tahu dulu, akan ke mana kita malam ini — dan untuk apa. Aku sudah bosan disuruh meraba-raba terus." Bob mengangguk, tanda sependapat dengan Pete. Kedua remaja itu memandang Jupiter Jones, yang selama beberapa saat mencoba tak mengacuhkan tatapan mata mereka. Akhirnya ia mengangkat bahu, sambil membentangkan tangan. "Ya deh, baiklah," katanya. "Aku sebenarnya berharap bisa merahasiakan dulu kesimpulankesimpulanku. Soalnya terutama karena aku sendiri belum sepenuhnya yakin apakah semuanya itu benar. Dan katakanlah kesimpulanku itu benar — aku saat ini masih buta tentang maknanya. Pengusutan kita ini diawali dengan usaha mencari anjing yang hilang. Tapi sejak itu kita menemukan berbagai misteri lainnya, yang satu pun kelihatannya tidak ada sangkut pautnya dengan misteri hilangnya anjing — atau tepatnya, anjing-anjing, di
167
http://crossfire-net.blogspot.com/

Seaside. Mr. Allen menugaskan kita untuk menemukan kembali anjingnya, Red Rover. Tapi sejak semula aku sudah merasa bahwa misteri hilangnya anjing-anjing lain yang juga hilang akan terjawab, jika kita menemukan anjingnya. Itu sebelum kita berjumpa dengan naga." "Bagaimana dengan naga itu?" tanya Bob. "Kau menandaskan bahwa menurut pendapatmu yang kita lihat itu naga palsu. Kenapa kau sampai bisa berpendapat begitu?" "Ya, betul," kata Jupiter. "Walau aku juga ikut panik dan lari seperti kalian, ada beberapa alasanku untuk menyangsikan keaslian naga di dalam gua itu." "Coba kaukatakan satu saja," kata Pete. "Apa yang menyebabkan kau merasa itu bukan naga tulen?" "Ada bermacam-macam hal yang menyebabkannya. Gua yang kita masuki bukan gua asli. Lorong yang kita masuki juga bukan lorong alam. Lubang masuk ke situ juga tidak! Mengingat segala kenyataan itu, tentu saja timbul kecenderungan untuk menyangsikan keaslian naga." "Aku tidak menyadari segala yang kausebutkan itu," kata Bob. "Kita mulai saja dengan gua yang pertama-tama kita masuki," kata Jupiter. "Di situ kita menemukan papan yang berjejer-jejer, memanjang ke atas. Satu di antaranya kita geser, supaya bisa masuk ke rongga yang kita katakan tempat persembunyian penyelundup."
168
http://crossfire-net.blogspot.com/

"Aku ingat, kau mengamat-amatinya dengan sikap aneh," kata Bob. "Apanya yang tidak asli pada gua itu?" "Itu kan mestinya gua yang sudah tua, tempat para penyelundup dan bajak laut bersembunyi. Papan-papan itu sudah tua — atau tepatnya, beberapa di antaranya sudah tua." "Beberapa di antaranya?" tanya Pete mengulangi. Jupiter mengangguk. "Papan yang kita geser ke samping, misalnya. Tapi di situ ada pula papan lebar, terbuat dari kayu lapis. Kalian tentunya tidak perlu kuingatkan lagi, bahwa kayu lapis merupakan produk pengolahan kayu yang tergolong modern. Zaman bajak laut belum ada. Para penyelundup zaman dulu pun belum mengenal bahan itu." "Kayu lapis?" ulang Pete. Keningnya berkerut, lalu berkata lagi, "Yah, mungkin saja! Tapi itu kan belum membuktikan apa-apa." Jupiter melanjutkan penuturannya. "Kita sekarang ke gua yang berikut. Maksudku gua besar yang kita temukan, ketika Bob bersandar ke batu yang ternyata bisa bergerak. Kita masih belum tahu, apa yang menyebabkan hal itu mungkin. Jika kalian masih ingat, sewaktu memasuki gua itu kita mengarah ke darat, karena tidak ada jalan lain kecuali itu. Tidak ada lubang di luar. Tidak ada mulut gua, seperti yang pertama kita masuki.
169

http://crossfire-net.blogspot.com/

Kemudian langkah kita terhenti, karena terhalang apa yang kelihatannya merupakan dinding padat di ujungnya. Kita mulanya berharap, gua itu akan membawa kita ke terowongan tua yang riwayatnya dibaca oleh Bob, ketika ia melakukan riset di perpustakaan." Kedua temannya mengangguk. "Aku ingat, kau waktu itu kemudian mengorekngorek dinding itu dengan pisau sakumu," kata Pete sambil tersenyum. "Apa hasil yang kautemukan, di samping kenyataan bahwa mata pisau yang bagus bisa rusak jika dipakai mengorek-ngorek permukaan batu?" Jupiter merogoh kantungnya. Ia mengeluarkan pisau sakunya, lalu membuka salah satu matanya. "Perhatikan gumpalan-gumpalan kelabu yang melekat pada mata pisau ini," katanya. Pete dan Bob melakukan seperti yang diminta. "Sekarang cium." "Cat!" seru kedua remaja itu serempak, setelah mengendus sebentar. Jupiter mengangguk. la melipat pisau sakunya, lalu memasukkannya lagi ke dalam kantung. "Dinding gua yang sudah lama, tidak dicat," katanya. "Lalu ketika aku mengorek-ngorek cat yang melapisinya, mata pisauku menyebabkan permukaan di situ tergores. Menurut pendapatku, itu sama sekali bukan dinding batu, tapi terbuat dari semacam bahan gips — yang disemprot dengan cat berwarna kelabu, serta ditaburi pasir dan kerikil permukaannya, agar kelihatan seperti
170
http://crossfire-net.blogspot.com/

batu asli. Dan kalian tentunya tahu, gips sebagai bahan bangunan merupakan produk industri modern, yang biasa dipakai untuk dinding pemisah dalam rumah atau gedung perkantoran. Banyak pula yang diproduksi dengan permukaan yang dibuat seperti gabus, atau batu bata." Jupiter berhenti sebentar, lalu meneruskan, "Kurasa orang yang memasang dinding itu hendak menutupi suatu temuan yang menarik—dan barangkali juga berharga!" "Seperti apa, misalnya?" desak Bob. "Sesuatu yang lebih penting, di balik dinding itu," kata Jupiter. "Pokoknya sesuatu. Dan menurut dugaanku, seperti terowongan jaringan kereta bawah tanah yang tidak diselesaikan pembangunannya itu, misalnya!" "Itu dia!" seru Pete bersemangat. "Ada orang yang menemukan terowongan tua itu, lalu menyembunyikannya lagi, supaya tidak bisa ditemukan orang lain! Dengan adanya dinding palsu itu, diperkirakan orang yang bisa masuk sampai ke situ akan berpaling dan ke luar lagi!" "Kecuali," kata Bob, "jika itu memang sudah merupakan penutupnya, sejak awal!" "Lima puluh tahun yang lalu, belum ada bahan bangunan seperti itu," kata Jupiter. "Itu mungkin saja," kata Bob. "Tapi kita kan tidak tahu, kapan tepatnya terowongan itu ditutup. Mungkin baru kemudian dilakukan, untuk mencegah, supaya anak-anak dan binatang tidak masuk ke dalamnya."
171
http://crossfire-net.blogspot.com/

Kening Jupiter berkerut. "Itu bisa saja, Bob. Tapi terus terang, aku sangsi! Pokoknya, kita sekarang perlu merenungkan kejadian misterius yang ketiga. Kita berada di depan dinding. Aku sedang sibuk menelitinya. Kemudian aku berpaling, untuk memperlihatkan apa yang ada pada mata pisauku pada kalian. Saat itu —" Pete mengangguk, sambil meneguk ludah. "Saat itu gua terbuka dan tahu-tahu menjadi terang. Lalu naga itu masuk. Ya, aku mengerti maksudmu." la menggaruk-garuk kepala. "Setidak-tidaknya, kurasa aku mengerti. Sebaiknya kau saja yang mengatakannya, supaya aku tahu apakah aku memang mengerti atau tidak!" "Baiklah," kata Jupiter. "Gua terbuka. Dengan cara bagaimana? Kenapa gua itu sampai bisa terbuka? Sewaktu di luar, kita sama sekali tidak melihat adanya lubang di situ. Kalau ada, tentunya itu yang kita masuki, dan bukan memasuki mulut gua di mana Bob tercebur ke dalam lubang beriumpur." "Baiklah," kata Bob. "Jadi kita sama sekali tidak melihat ada lubang di situ, pada mulanya. Tapi naga itu rupa-rupanya tahu bahwa di situ ada lubang. Soalnya, ia membukanya. Jangan-jangan ia lebih pintar, dibandingkan dengan kita." Jupiter mengangkat tangannya. "Jangan lupa, teoriku didasarkan pada firasatku, bahwa segala-galanya yang ada di situ palsu. Bikinan manusia! Jadi, termasuk naga itu pula.

172
http://crossfire-net.blogspot.com/

Dan jika naga itu lebih pintar dari kita, maka itu hanya karena ia sebenarnya bukan naga, tapi sesuatu yang dikendalikan oleh kemampuan otak manusia." Pete terkejap bingung, lalu menoleh ke arah Bob. "Apa katanya?" Bob menggeleng. "Kurasa ia hendak mengatakan, naga kita itu sebenarnya bukan naga, melainkan robot. Betulkah begitu, Jupe?" "Aku belum bisa memastikan," kata Jupiter terus terang. "Mungkin robot, atau sesuatu konstruksi yang mirip dengan naga yang dipakai Mr. Allen dalam film horornya. Itu akan kita ketahui juga, jika sudah tiba waktunya untuk itu. Tapi tentang satu hal aku yakin seyakinyakinnya. Yaitu tentang mulut gua. Itu pun palsu! Sayangnya, kita tidak sernpat memeriksanya dari luar. Tapi aku yakin bila itu kita lakukan, kita akan melihat bahwa mulut gua itu palsu — terbuat dari bahan enteng, seperti berbagai properti yang dipakai dalam film, yang dicat dan diberi lapisan agar kelihatan seperti benda aslinya. Siapa pun bisa membuat batu karang palsu. Dan orang yang melakukannya, berbuat begitu untuk menutupi mulut gua yang sebenarnya. Jika ia hendak masuk, atau menghendaki naganya masuk, ambang gua yang palsu digesernya ke samping." Ia berhenti sebentar, lalu menyambung, "Kalian berdua tentu sependapat denganku, jika kota Seaside ingin
173
http://crossfire-net.blogspot.com/

menyumbat sebuah gua besar, atau sebuah terowongan, mereka tentunya tidak memakai bahan dari gips yang enteng dan dicat di sebelah dalam, dan di luar mempergunakan batu karang palsu. Mereka pasti menutupnya rapat-rapat — dengan beton!" Pete memandang ke luar, lewat jendela Rolls-Royce yang meluncur dengan mulus di jalan raya. la mengerutkan kening, lalu mengangguk. "Mungkin kau benar, sampai sejauh ini. Jika kita kembali ke sana malam nanti, akan kita periksa batu-batu itu, yang di dekat lubang masuk ke gua pertama. Tapi aku memang tidak takut pada batu. Yang ingin kuketahui sekarang, ialah tentang naga itu. Kenapa itu bukan naga tulen?" Jupiter duduk bersandar sambil menyilangkan lengan. "Kita sama-sama melihatnya, secara serempak. Jarak kita dari dia, kurang lebih sama jauhnya. Jadi baik penglihatan maupun pendengaran kita, kurasa sama saja. Nah — apa yang kita dengar waktu itu? Apa yang kita lihat?" Pete dan Bob berdiam diri sesaat. Mereka berusaha mengingat-ingat. "Aku mendengar dengungan," kata Bob kemudian. "Setelah itu barulah aku melihatnya." "Aku melihat cahaya terang — yang berasal dari matanya yang bersinar," kata Pete. "Tentang bunyi mendengung — ya, kurasa aku juga mendengarnya. Setidak-tidaknya sesaat sebelum ia meraung." Jupiter mengangguk.
174
http://crossfire-net.blogspot.com/

"Lalu bagaimana geraknya?" "Bagaimana?" kata Pete. "Cepat sekali!" "Kau bagaimana, Bob?" tanya Jupiter pada temannya yang itu. "Sebentar — kuingat-ingat dulu!" Bob mengusap keningnya. "Ya, aku sependapat dengan Pete. la masuk dengan cepat sekali. Seakan-akan meluncur!" Jupiter memandangnya dengan penuh perhatian. "Seperti naga yang kita lihat dalam film yang kita lihat di tempat Mr. Hitchcock? Seperti itukah geraknya?" Bob menggeleng. "Tidak! Naga dalam film buatan Mr. Allen kelihatan seperti berjalan. Sedang yang ini seakan-akan meluncur." "Kesan yang kuperoleh juga begitu," kata Jupiter. "Naga kita tidak terbang. Kakinya tidak bergerak-gerak. la meluncur maju. Jadi menurut kesimpulanku — yang kita lihat itu hanya dibuat sehingga menyerupai naga. Sengaja dibuat begitu, agar menimbulkan kesan yang mengagetkan, di samping menakutkan. "Sedang tentang geraknya yang meluncur, keterangannya gampang saja. Naga kita bergerak — atau digerakkan — dengan roda! Ingat tidak, bahwa kita melihat jejak roda di atas pasir, ketika kita pertama kali turun ke pantai?" Pete dan Bob memandang Jupiter sambil melongo.
175
http://crossfire-net.blogspot.com/

"Naga dengan roda?" kata Pete, mengulangi kata-kata Jupiter. "Maksudmu, itulah yang menyebabkan kita setengah mati ketakutan?" "Ada lagi yang kuingat," kata Bob. "Kita sudah membicarakannya. Naga dalam film Mr. Allen meraung. Sedang naga kita lebih banyak batukbatuk." "Tepat!" Jupiter tersenyum. "Itulah yang kumaksudkan dengan kemampuan otak manusia di belakangnya. Atau mungkin lebih tepat jika kukatakan, di dalamnya." "Apa lagi yang kaubicarakan sekarang?" tanya Pete sambil mengeluh. Jupiter tersenyum. "Orang dalam naga kita itu sedang pilek," katanya menjelaskan. Perembukan mereka terpotong oleh suara Worthington yang selalu menjaga martabat. "Kita sudah sampai di Jones Salvage Yard, Master Jones. Perlukah saya menunggu?" "Ya, Worthington," kata Jupiter sambil mengangguk. "Pete hanya perlu menelepon sebentar. Setelah itu mudah-mudahan kita akan bisa mampir di rumahnya, untuk mengambil sesuatu. Dan malam ini, kita pergi lagi ke Seaside." la melirik teman-temannya sebentar. "Betulkah aku sampai sejauh ini?" Pete tertawa nyengir. "Mudah-mudahan kau betul pula nanti —" katanya, "— saat kita kembali berhadap-hadapan dengan naga yang suka batuk-batuk itu!"
176
http://crossfire-net.blogspot.com/

eBook oleh Nurul Huda Kariem MR. nurulkariem@yahoo.com

Bab 16 MENGHADANG BAHAYA LAGI

bertambah hormat terhadap Mr. Crenshaw, ketika ayah Pete itu langsung mengizinkan anak-anak meminjam proyektornya serta film baru dari studio, tanpa mempertanyakan keperluan mereka. "la bahkan tidak menyuruh kita berhati-hati dengannya," kata Jupiter. "Kurasa ia mempercayai kematangan diri kita." "Kalau soal itu, entahlah," kata Pete. "Aku yang tinggal di sini. Jika ada sesuatu yang terjadi dengan film itu — atau dengan proyektor Ayah, akulah yang akan merasakan akibatnya!" Saat itu mereka berada di rumah Pete, dalam ruangan yang dipakai oleh Mr. Crenshaw untuk memutar film-film buatannya sendiri. Pete sedang sibuk bekerja. Film dalam tempat rol pemutar digulungnya kembali. Jupiter ingin melihat film itu dulu, agar bisa menilai efeknya. "Siap!" seru Pete. "Padamkan lampu, Bob!" Ia menekan tombol, ketika ruangan sudah gelap. Film yang akan dipertunjukkan mulai berputar. Dinding yang dijadikan tabir diterangi cahaya yang memancar dari lubang proyektor. Sesaat kemudian Bob dan Jupiter melihat sendiri
JUPITER

177
http://crossfire-net.blogspot.com/

bahwa Pete memang tidak melebih-lebihkan. Serangga-serangga yang diambil gambarnya memang menyeramkan kelihatannya, jika dibesarkan berlipat ganda. Suara yang mengiringi tiba-tiba berubah bunyinya, lalu terhenti. Gambar yang nampak di tabir lenyap. Ruangan gelap kembali, karena Pete mematikan mesin proyektor. "Tolong nyalakan lampu lagi, Bob!" serunya. "Sorry — aku memutar rol yang keliru. Yang tadi itu baru datang kemudian. Kurasa Ayah memutarnya lagi, untuk mengecek efek khusus yang dibuatnya." Tangannya sibuk mengaduk-aduk setumpuk kaleng film yang diberi tanda nomor-nomor. "Kurasa itu tidak begitu penting, Pete," kata Jupiter. "Kita tidak perlu melihat seluruh film itu sekarang. Bagian pada rol ini menampakkan serangga-serangga itu di lingkungan aslinya. Tepat itulah yang kucari." "Tapi itu kan rol nomor enam," balas Pete. "Itu merupakan flashback. Yang kelihatan cuma semut-semut yang berkeliaran di perbukitan dan sepanjang pantai, bersiap-siap untuk menyerbu ke kota-kota." la mengambil sebuah kaleng lain. "Nah, dalam rol pertama ini kita bisa melihat mereka menyerang kota-kota. Pada bagian inilah mereka kelihatan setinggi bangunan bertingkat." Jupiter malah menggeleng. "Kita tidak boleh menampakkan bangunanbangunan, atau kota-kota. Kita harus menimbul178
http://crossfire-net.blogspot.com/

kan kesan, seolah-olah gua diserbu semut-semut raksasa!" Dengan cepat Bob dan Pete menoleh ke arah Jupiter. Keduanya nampak heran. "Di situkah kita akan memutar film ini?" Jupiter mengangguk. "Dengan speaker yang ada di proyektormu itu, kita bisa menimbulkan efek suara yang kita kehendaki. Lensa bersudut lebar itu juga akan sangat menolong kita. Dan yang paling penting, proyektormu bisa bekerja dengan baterai. Jadi kita bisa memutarnya dalam gua." "Untung saja," kata Pete. "Perlengkapan baterainya dibuat khusus, sehingga Ayah bisa mempergunakannya jika sedang berada di lokasi pembuatan film." "Sekarang kita lihat saja dulu rol film yang sudah terpasang itu, Pete," kata Bob menyela. "Untuk melihat seluruhnya, kami kan bisa datang kapan-kapan." "Terserah —jika kalian suka melihat film yang berjalan mundur," kata Pete sambil mengangkat bahu. Bob memadamkan lampu, dan Pete melanjutkan pemutaran film yang sudah ada di proyektor. Setelah itu anak-anak menonton dengan tekun. Hanya sekali-sekali saja terdengar gumaman kaget, atau ngeri. "Astaga!" kata Bob ketika rol film itu habis. "Ini baru film! Tidak sabar lagi rasanya, ingin melihat keseluruhannya."
179
http://crossfire-net.blogspot.com/

Pete menekan tombol pembalik putaran film, lalu memandang sejenak ke arah Jupiter. "Menurutmu, itu tadi sudah cukup?" Jupiter tersenyum. "Tepat sekali, untuk keperluan kita sekarang!" "Baiklah," kata Pete. "Cuma, aku masih juga belum mengerti apa maumu dengannya. Siapakah yang kauinginkan akan melihatnya di dalam gua? Orang mati — atau hantu — itu, yang menelepon kita?" "Mungkin," kata Jupiter. "Tapi tujuan utamaku ialah mengetahui bagaimana reaksi orang yang suka berbuat iseng, jika ia sendiri dipermainkan." "Orang iseng?" kata Bob. "Kurasa Mr. Carter tidak cuma iseng saja, ketika ia menggertak kita dengan senapan burunya!" "Bukan dia yang kumaksudkan," kata Jupiter dengan tenang. "Bukan dia?" tanya Bob. "Mungkin kau lupa, ia mungkin keturunan Carter yang riwayat sedihnya kubaca waktu itu! Labron Carter, yang hartanya habis sama sekali karena semuanya dipertaruhkan Untuk proyek pembangunan jaringan kereta bawah tanah di Seaside, dan yang kemudian melakukan tindakan bunuh diri sebagai akibatnya. Kau sendiri yang mengatakan, ia rasanya pasti tahu tentang terowongan tua itu, serta guanya. Dan bahwa ada kemungkinannya ia ingin membalas dendam terhadap penduduk kota Seaside, yang menyebabkan kehancuran ayahnya. Kalau diingat sifatnya
180

http://crossfire-net.blogspot.com/

yang pemarah, ia memang bisa saja berbuat begitu!" Tapi Jupiter menggeleng. "Bukan Mr. Carter yang kucurigai sebagai pencipta naga dalam gua itu." "Kenapa bukan dia?" sela Pete. "Apa yang menyebabkan kau bisa begitu yakin?" "Karena satu hal," jawab Jupiter. "Ketika kita berjumpa dengan Mr. Carter, ia berteriak-teriak marah. Tapi ia tidak pilek. Lalu kita berjumpa pula dengan seseorang, yang pandai menciptakan barang-barang yang menyebabkan orang ketakutan. Dan orang itu sedang pilek. Kurasa kalian juga masih ingat. Aku mempertalikan dirinya dengan naga itu, karena seperti kalian ingat, makhluk itu batuk-batuk!" Bob terkejap. "Jadi kau beranggapan, Arthur Shelby itulah orang iseng yang membuat naga kita? Maksudku —jika naga itu memang buatan orang, dan bukan naga asli!" Jupiter mengangguk, lalu menambahkan, "Tapi mungkin juga Mr. Allen. Pengetahuannya banyak, tentang naga. Tapi aku lebih menduga bahwa orang itu Mr. Shelby." "Kenapa dia?" tanya Bob. "Ia menciptakan alat-alat untuk menakut-nakuti orang yang suka datang tanpa diundang. Apa urusannya dengan gua itu? Gua itu kan bukan kepunyaannya!" "Justru itulah yang perlu kita selidiki malam ini,"
181
http://crossfire-net.blogspot.com/

kata Jupiter, la memandang arlojinya. "Kita bersiap-siap saja sekarang." "Ada orang yang kalian lupakan," kata Pete menyela. "Kalian berdua selama ini hanya membicarakan Carter, Allen, dan Shelby. Tapi masih ada dua orang lagi di tempat itu, dan kita sama-sama melihat mereka!" "Ya, betul!" kata Bob. "Kedua penyelam bermasker itu! Dan sebelum menghilang, mereka masih berbicara tentang meneruskan pekerjaan!" Pete menutup kotak tempat proyektor, lalu memandang ke arah Jupiter. "Nah, bagaimana dengan kedua orang itu?" tanyanya. "Tidak mungkinkah mereka ada sangkut pautnya dengan urusan ini?" "Mungkin saja," kata Jupiter sambil mengangguk. "Dan jika mereka muncul lagi nanti, aku menyarankan agar kita memutar film ini — sebagai hiburan untuk mereka." "Bagaimana dengan naga itu?" tanya Pete. "Mungkin juga ia ada pula di situ." Sekali lagi Jupiter mengangguk. "Itu malah akan menyebabkan urusan kita menjadi bertambah asyik! Kita mengenal kisah tentang tikus kecil, yang menyebabkan gajah ketakutan. Kita lihat saja nanti — apakah semut bisa menyebabkan naga gemetar!"

Tubir tebing yang menaungi pantai di Seaside diselubungi kegelapan. Jalan sempit dan terpencil
182
http://crossfire-net.blogspot.com/

di situ sepi, ketika Worthington menepikan Rolls-Royce ke pinggir jalan lalu menghentikannya. Bob turun paling dulu. la memandang ke kanan dan ke kiri dengan perasaan heran. "Kenapa harus begini jauh kali ini, Jupe?" tanyanya. "Kini kita harus berjalan jauh ke tangga." "Ini cuma untuk berjaga-jaga saja," jawab Jupiter. "Ada kemungkinan perhatian orang sudah tertarik pada Rolls-Royce ini. Coba tadi ada Hans, aku sebenarnya lebih senang pergi kemari naik truknya, karena itu tidak menyolok mata." Pete terhuyung-huyung turun dari mobil, sambil menenteng kotak yang berisi proyektor. la mengeluh, setelah memandang ke arah tangga yang nampak agak jauh dari situ. "Aduh — jika sampai di sana nanti dengan beban ini, lenganku pasti akan sudah menyentuh tanah. Tapi biarlah — memang sudah nasibku." "Itu kan malah bagus," kata Bob sambil tersenyum kecut. "Dengan begitu kau bisa pura-pura menjadi manusia monyet. Siapa tahu, barangkali saja naga kita nanti ketakutan melihatmu!" Pete tidak mengatakan apa-apa lagi. Ia hanya mendengus, lalu memanggul kotak proyektor. "Tunggu, Pete — biar kubantu," kata Jupiter menawarkan diri. Tapi temannya yang jangkung itu menggeleng. "Terima kasih, tidak usahlah! Ini tanggung jawabku. Kurasa aku takkan bisa lepas daripadanya malam ini, kalau mengingat bahwa aku satu183
http://crossfire-net.blogspot.com/

satunya di antara kita bertiga yang tahu bagaimana cara menjalankannya." Jupiter tersenyum. "Perananmu mungkin akan merupakan faktor penentu malam ini, Pete. Mudah-mudahan saja rencana kita berhasil!" Mereka meminta Worthington agar menunggu dalam mobil. Setelah itu mereka berjaian dengan langkah-langkah cepat, menyusuri jalan yang sunyi. Bulan bersembunyi di balik gumpalan awan gelap. Dari arah bawah terdengar deru ombak memecah di pantai. "Aku lebih senang jika malam ini tidak begitu gelap," kata Pete dengan nada gugup, setelah mendongak sebentar, memandang langit. "Kita semua agak gugup," kata Jupiter berterus terang. "Tapi keadaan segelap ini malah menguntungkan kita, karena dengannya kita tidak mudah nampak." Ketika mereka tinggal sekitar dua puluh langkah lagi dari tangga yang akan dituruni untuk pergi ke pantai, tiba-tiba mereka mendengar bunyi langkah orang berjaian. "Cepat' Tiarap!" desis Pete. Seketika itu juga Trio Detektif menjatuhkan diri ke samping, lalu berguling ke dalam semak yang membatasi jalan dengan tanah kosong yang berpasir. Langkah yang terdengar itu semakin mendekat. Langkah-langkah berat dan mantap. Tapi kemudian berubah. Melambat, dan seperti menyelinap.
184
http://crossfire-net.blogspot.com/

Ketiga remaja yang bersembunyi merapatkan diri. Mereka merunduk semakin rendah. Ada orang mengintai, mencari-cari mereka! Dari tempat persembunyian yang gelap, mereka bisa melihat sosok orang itu, yang semakin mendekat. Kini sudah sejajar dengan posisi mereka. Ketiga remaja itu menatap ke arahnya dengan mata terbelalak ngeri. Mereka sudah pernah melihat sosok tubuh gempal itu. Mata mereka langsung menelusuri tubuhnya, ke arah bawah. Mereka mengenali benda yang dikepit di bawah lengan. Senapan buru! Senapan kaliber besar, berisi peluru mimis berukuran paling besar. Senapan buru Mr. Carter, orang yang membenci anjing, anak-anak — yang kelihatannya membenci segala-galanya. Laki-laki berwatak tidak menyenangkan dan penaik darah itu semakin memperlambat langkahnya. Kini ia berhenti, pada posisi tepat di depan mereka. Anak-anak melihat kepalanya dipalingkan ke kiri dan ke kanan dengan sikap curiga. Terasa bahwa orang itu memicingkan mata, berusaha menembus kegelapan. "Aneh," gumamnya, "aku yakin sekali bahwa tadi nampak sesuatu bergerak-gerak di sini —" Mr. Carter menggeleng-geleng, seakan-akan bingung. Setelah itu ia meneruskan langkah. Anak-anak yang bersembunyi masih menunggu selama beberapa saat, sampai tak terdengar lagi
185

http://crossfire-net.blogspot.com/

langkah orang itu. Setelah itu barulah mereka berani meiihat lagi. Mr. Carter tidak kelihatan lagi. "Uhh!" desah Bob. "Untung ia tidak meiihat kita di sini!" "Ya, betul," kata Pete. "Kurasa saat tidur pun senapan itu tidak dilepaskannya. Siapa ya, yang dicarinya?" "Yuk," bisik Jupiter mengajak. "la sudah cukup jauh sekarang! lni kesempatan kita untuk menuruni tangga tanpa ketahuan. Kita lari, tapi sambil tetap merunduk!" Mereka lari cepat-cepat, menuju tangga. "Aman!" desis Pete, setelah mengamat-amati sejenak. Mereka menuruni tangga yang tinggi dengan bergegas-gegas, tapi dengan langkah menyelinap. Perasaan mereka baru agak tenang, ketika sudah dekat ke pantai. Mereka sadar bahwa langkah mereka takkan mungkin terdengar, karena dikalahkan bunyi ombak memecah. Pete yang paling dulu mencecahkan kaki di atas pasir. "Oke," katanya. "Kita sudah sampai lagi. Aku ingin meiihat, bagaimana tanggapan naga dalam gua itu kalau meiihat film fiksi ilmiah!" "Itu akan segera kita ketahui," kata Jupiter, "jika ia ada di dalam." "Jika tidak ada pun, aku tidak keberatan," kata Bob. "Aku cuma ingin tahu tentang terowongan itu.
186

http://crossfire-net.blogspot.com/

Biar kalian berdua saja yang berurusan dengan naga." Mereka sampai di gua yang pertama-tama dimasuki waktu itu. Bob dan Pete tercengang, karena Jupiter tidak masuk, melainkan berjalan lewat. "Ssst!" bisik Bob. "Gua itu sudah kaulewati!" Jupe hanya menganggukkan kepala. Sambil membisu, ia menuding ke arah dinding tebing di depan, yang agak menjorok ke luar. "Lubang masuk ke gua besar terdapat di balik bagian yang menonjol ini. Sebaiknya kita periksa dulu ke sana, apakah lubang masuk itu terbuka atau tidak." Mereka mengitari kaki tebing yang menonjol, lalu tertegun. Mereka melihat tiga bongkah batu besar-besar, tinggi menjulang di atas kepala. Batu-batu itu merapat ke dinding tebing. "Mungkin itulah batu karang palsu yang menutupi mulut gua," bisik Jupiter. "Rupanya jalan masuk ke situ tertutup sekarang." Pete menghampiri batu yang paling besar, lalu mengetuk-ngetuknya sambil mendekatkan telinga ke situ. Ketukannya menimbulkan bunyi yang terdengar bengap. Pete tersenyum. "Kau benar, Jupe," katanya. "Ini bukan batu tulen — tapi tiruan, seperti yang biasa dipakai di studio film. Terbuat dari kerangka kayu balsa
187
http://crossfire-net.blogspot.com/

ringan, atau mungkin juga semen yang dilaburkan pada kawat ayam." Jupiter mengangguk, lalu berpaling. "Kita atur dulu posisimu dalam gua, Pete! Setelah itu aku akan melihat-lihat, bersama Bob.'' "Apa?" Pete kaget. "Aku ditinggal sendiri di sana, sementara kalian berdua —" "Kau akan lebih aman di situ, daripada kami berdua," kata Jupiter. la mendului berjalan ke gua yang lebih kecil. "Kami nanti akan melakukan penyelidikan yang bisa berbahaya. Sedang kau cukup duduk diam-diam saja. Pokoknya kau harus siap untuk memutar film kita." Pete masih tetap bingung. la celingukan. "Lalu siapa yang menontonnya?" Jupiter sudah menggeser papan yang menutup jalan masuk ke rongga tersembunyi. la merangkak ke dalam, disusul oleh Bob dan Pete. Papan yang digeser dikembalikan lagi ke posisi semula. Jupiter bersiul pelan. "Perlengkapan kita yang ketinggalan waktu itu masih ada di sini! Coba kaucari tempat yang harus didorong agar tingkap batu itu bisa bergerak, Bob. Perlengkapan ini nanti saja diambil, saat kita pergi lagi." Bob membungkuk, mengamat-amati dinding batu yang rendah di bagian belakang. "Sudah kutemukan," katanya dengan gembira, beberapa saat kemudian. Batu yang merupakan tingkap rahasia bergerak, diiringi bunyi berat tapi pelan.
188
http://crossfire-net.blogspot.com/

"Kau tinggal di sini, Pete," kata Jupiter. "Dalam rongga sempit ini. Kaupakai lubang di dinding itu untuk memproyeksikan film kita. Tingkap ini kita ganjal, agar tidak menutup kembali. Nanti begitu ada isyarat dari kami, kauproyeksikan film ke dinding kelabu yang ada di bagian belakang gua besar yang di sebelah." Pete mulai menyiapkan proyektor. Diambilnya kaleng tempat rol film. Setelah itu ia menyalakan senter. "Siap," katanya. "Apa isyarat kalian nanti?" Jupiter berpikir sebentar. "Kurasa teriakan, Tolong!' " katanya.

189

http://crossfire-net.blogspot.com/

eBook oleh Nurul Huda Kariem MR. nurulkariem@yahoo.com

Bab 17 MISTERI TEROWONGAN TUA
BOB dan Jupiter menyusup masuk ke gua besar di sebelah, meninggalkan Pete seorang diri di dalam rongga sempit. Mereka maju dengan hati-hati di dalam gua yang lapang dan berlangit-langit melengkung itu. Mereka gemetar, karena hawa di situ lembab dan dingin. Mereka belum begitu jauh berjalan, ketika Bob tiba-tiba berbisik. "Ada yang hilang!" Jupiter terkejut. "Apa?" Bob menyorotkan senternya ke depan, lalu menggerakkannya ke kiri dan ke kanan. "Dinding besar itu — bagian tengahnya terbuka!" Jupiter mengikuti gerak sinar senter yang dipegang oleh Bob dengan penuh minat. Lubang di tengah dinding di depan mereka menganga, dari dasar sampai langit-langit. "Bob! Kurasa kita sudah menemukan terowonganmu yang lenyap itu!" seru Jupiter dengan suara tertahan. Kedua remaja itu melangkah dengan hati-hati, melewati lubang di tengah dinding.
190
http://crossfire-net.blogspot.com/

Terowongan di mana mereka kini berada, kemudian melebar. Nampaknya lurus dan menjorok jauh ke dalam. Bob dan Jupiter berhenti. Bulu tengkuk mereka meremang, sementara jantung mereka berdebar keras. Sesuatu yang sangat besar dan gelap nampak berbaring, menghadap ke arah mereka. Nampaknya seakan-akan sedang menunggu mereka! Bob dan Jupiter menjatuhkan diri dengan cepat. Mereka tidak berani bergerak. Bahkan napas pun ditahan-tahan. Keduanya menunggu. Menunggu dan menunggu. Tapi tidak terjadi apa-apa. Naga di depan mereka tetap berbaring merunduk. Sosok yang panjang, gelap, berpunggung bungkuk. Mengerikan! Kepalanya tertunduk, di ujung batang leher yang panjang dan kekar. "M—mungWn sedang tidur," kata Bob berbisik. Jupiter menggeleng. la berusaha tetap tenang. "Jangan lupa," bisiknya di telinga Bob, "itu bukan naga sungguhan!" Bob mengangguk singkat. "Ya, aku tahu. Itu yang selalu kaukatakan pada kami. Mudah-mudahan saja kau benar!" Kedua remaja itu masih menunggu selama beberapa waktu lagi. Akhirnya Jupiter menyalakan senternya, dan menyorotkannya menyusur tanah. Kini ia tersenyum lega. "Perhatikan kaki naga itu, lalu katakan apa yang kaulihat!"
191
http://crossfire-net.blogspot.com/

Bob menyusuri jalur sinar senter dengan matanya. Akhirnya ia terkejap. "Rel," katanya. "Di bawah tubuh naga. Kelihatannya seperti rel kereta." Jupiter menarik napas lega. "Kita sama-sama benar. Aku benar, karena naga ini ternyata memang palsu. Dan kau berhasil menemukan jaringan rel kereta bawah tanah yang mulai dibangun oleh Labron Carter, lebih dari setengah abad yang silam! Tapi tentang satu hal kau keliru, Bob. Kau mengatakan bahwa jaringan ini belum pernah dipakai!" "Apa maksudmu?" "Naga kita memakainya," jawab Jupiter. "Tapi untuk apa? Aku tidak mengerti," kata Bob. Siapa yang mau-maunya membuat naga, yang kemudian dibaringkan dalam terowongan rel kereta bawah tanah yang tidak terpakai sejak lebih dari lima puluh tahun? Rel yang tidak ada hubungannya ke mana-mana, dan yang kemungkinannya takkan pernah dipakai. Suatu hal yang tidak masuk akal! Untuk apa? tanya Bob dalam hati. "Itu akan kita selidiki sekarang," kata Jupiter, la menarik lengan temannya. "Ayo — sebelum mereka kembali." Bob mengikuti Jupiter dengan langkah ragu. "Siapa yang kembali?" tanyanya bingung. Jupiter berjalan terus, tanpa memberi jawaban. Kini mereka sampai di dekat sosok besar yang
Halaman : 193, 194, 199, 200 221, 222 master hilang/sobek http://crossfire-net.blogspot.com/

192

Tiba-tiba Bob terkejut, karena mendengar bunyi berdebum di dalam. Seolah-olah Jupiter tertelan naga, pikirnya dengan gugup. la memicingkan mata ke arah kegelapan yang ada di depan. Dibantu sinar senter, dilihatnya bahwa terowongan itu agak membelok sedikit di kejauhan. Rel yang menjulur sejajar, lenyap di balik tikungan itu. Sisi-sisi terowongan rata, menampakkan rusuk-rusuk dari baja yang memanjang sampai ke langit-langit, dan di sana-sini dinding beton. Tiba-tiba Bob terlompat kaget, karena mendengar bunyi gemerisik. Tingkap yang tadi sudah tertutup, terbuka lagi. "Yuk, melihat ke dalam," ajak Jupiter dengan suara lirih. Dengan cepat Bob memanjat ke atas, lalu masuk ke dalam lubang. Kakinya menemukan jenjang tangga sempit, sementara Jupiter sudah lebih dulu turun. Anak itu menyalakan senternya dan melihat ruangan yang ada di dalam, ketika Bob sudah sampai di kaki tangga. "Hebat, ya? Wujudnya seperti naga. Jalannya seperti kereta, di atas rel. Tapi coba kaulihat ini — periskop! Lalu tingkap bundar ini. Aku berani bertaruh, Bob — naga ini sebenarnya kapal selam kecil!" Bob mengetuk-ngetuk dinding sisi yang melengkung, lalu mengusap-usap buku jarinya. "Entah dari apa — tapi yang jelas, keras sekali!"
195
http://crossfire-net.blogspot.com/

Jupiter mengangguk. "Mestinya dari besi atau baja, supaya bisa tetap terbenam di dalam air. Tapi kurasa bukan. Yuk, kita sekarang melihat ruang mesin." Kedua remaja itu menuju ke bagian haluan, lewat sebuah gang sempit. "Tongkat perseneling, papan instrumen, rem, dan seperangkat pedal!" seru Bob kagum. "Kapal selam macam apa ini?" Jupiter menjentikkan jari-jarinya. "Aku ingat, pernah membaca tentang kapal selam pertama. Jalannya di dasar laut, seperti mobil. Penciptanya memasang jendela-jendela di lambung kapalnya itu, supaya para penumpang bisa memandang ke luar. la menarik bayaran dari orang-orang yang ingin ikut. Di dalam kapal itu ada sekat-sekat khusus berisi udara, yang gunanya untuk menahan tekanan air. Pembuat naga gadungan ini mungkin menjiplak gagasan itu, atau mencontek ide mobil-mobil hias dari pawai Rose Bowl. Di situ bentuk yang bermacam-macam dipasang di atas kerangka bawah mobil, lalu ditutupi bunga-bunga mawar. Kendaraan-kendaraan itu bergerak lambat, dikendalikan pengemudi yang tersembunyi tempatnya, di bagian bawah." Kini Bob yang menjentikkan jari-jarinya dengan bergairah. "Jadi begitulah cara naga ini bergerak di atas pasir, sehingga kelihatan seperti tidak bergerak. Maksudku, kaki-kakinya tidak bergerak-gerak,
196
http://crossfire-net.blogspot.com/

seperti naga dalam film yang kita lihat di tempat Mr. Hitchcock." "Itu dapat dimengerti," kata Jupiter. "Mr. Allen memerlukan naga yang kelihatan asli, untuk film yang disutradarainya. Sedang pembuat naga gadungan ini cuma memerlukan wujud yang kelihatannya seperti naga. Pokoknya cukup untuk menimbulkan kesan terkejut dan takut, seperti yang dikehendaki. Aku sekarang cuma ingin tahu alasannya — dan siapa yang hendak ditakut-takuti dengannya." Tiba-tiba terdengar suara mengerikan dalam tubuh naga palsu itu. "Aaaaa ... uuuu!" Kedua remaja itu terlompat. "Suara apa itu?" tanya Bob berbisik. Jupiter kelihatan agak ragu. "Datangnya dari sebelah belakang." Bob memandangnya dengan perasaan kecut. "Kau tahu pasti? Aku tidak ingin berada dalam kendaraan ini, jika sekarang tahu-tahu bergerak, lalu menyelam ke dalam laut." Suara melolong itu terdengar lagi. Panjang, dan menegakkan bulu roma. "Aaaaaaa ... uuuuuu!" Bob merinding. "Tidak enak hatiku mendengarnya." la kaget, ketika tahu-tahu Jupiter berpaling lalu beriari-lari kecil lewat gang sempit, menuju bagian buritan. Kemudian ia berhenti, karena lolongan tadi
197
http://crossfire-net.blogspot.com/

terdengar lagi. Jupiter mendengarkan baik-baik, dengan kepala didekatkan ke lantai. "A-apa itu?" tanya Bob dengan gugup, sambil datang menghampiri. Jupiter tidak menjawab. la membalikkan tubuh, lalu menelusuri dinding dalam naga itu dengan sinar senternya. Bob heran ketika Jupiter tiba-tiba tersenyum. "Kurasa akhirnya kita berhasil juga menyibakkan tabir misteri kita," katanya sambil tertawa kecil. "Kita berhasil?" tanya Bob dengan alis terangkat. "Coba kaudengar," kata Jupiter, lalu mengetuk dinding. Bunyi ketukannya disusul suara lolongan panjang. "Aaaaaaa ... uuuuuuuu!" Bob menelengkan kepala, mendengarkan dengan cermat. "Ya, aku mendengarnya," katanya. "Dan hatiku masih saja tidak enak karenanya." "Itu karena kau membiarkan rasa takutmu terhadap naga mengalahkan pikiran waras," kata Jupiter sambil tersenyum. la membuka sebuah pintu sempit, lalu mengarahkan sinar senternya ke dalam lubang yang kelihatannya seperti lemari. Suara lolongan terdengar bertambah jelas. Mata Bob terkejap sekali, lalu terbuka lebar. "Eh — nanti dulu! Itu kan suara —" la menjenguk ke dalam lubang. Mulutnya langsung temganga karena heran.
Halaman : 193, 194, 199, 200 221, 222 master hilang/sobek

198

http://crossfire-net.blogspot.com/

Anjing itu menjulurkan kepala, sedang ekornya bergerak-gerak dengan gembira. "Pulang!" kata Jupiter mengulangi perintahnya, sambil membentangkan lengan. Anjing itu menggonggong dengan gembira. Bunyi itu disambut lolongan dan dengkingan dari dalam lemari. Anjing-anjing yang lain bermunculan dengan langkah-langkah kaku, tapi dengan ekor dikibas-kibaskan. Bob tertawa nyengir. "Astaga! Ada enam, kuhitung! Kita menemukan semua anjing yang hilang!" Jupiter mengangguk. la menyelipkan secarik kertas yang sudah dilipat-lipat di balik kalung setiap anjing yang terhuyung ke luar. "Untuk apa itu?" tanya Bob. "Aku sudah menyiapkan berita singkat yang kutujukan pada masing-masing pemilik anjing, untuk berjaga-jaga jika kita berhasil menemukan anjing-anjing ini," jawab Jupiter. "Seperti halnya pemsahaan lain-lainnya yang berhasil, kita pun perlu mengadakan promosi untuk mendapat nama baik, karena telah berjasa untuk kepentingan umum." Red Rover mendengking pelan. "Baiklah, Red Rover." Jupiter berpaling, lalu berlutut. "Kau yang paling dulu pulang." Diangkatnya anjing besar itu, dibawanya menaiki tangga. "Pulang, Red Rover! Pulanglah!" bisik Jupiter di telinga anjing itu. Anjing setter itu mendengking
201
http://crossfire-net.blogspot.com/

senang, lalu merangkak ke luar dan lari melompatlompat menuju lubang di tengah dinding. Jupiter tertawa nyengir. "la sudah segar-bugar lagi sekarang," katanya. "Tolong junjungkan anjing-anjing yang lain itu kemari, Bob. Mungkin mereka akan pulih kembali, begitu menghirup udara segar di luar." Bob menjunjung anjing-anjing itu satu demi satu, yang kemudian dilepaskan oleh Jupiter yang berdiri di ujung atas tangga. Dengan segera kelemasan mereka lenyap, dan kelima anjing itu berlari ke luar menyusul Red Rover. Bob membersihkan bulu yang menempel pada telapak tangannya. "Biar Pete yang mengeluarkan mereka dari rongga sebelah. Nah — tugas kita sudah selesai. Aku pun sudah siap untuk meninggalkan tempat ini." la melongo, melihat Jupiter menutup tingkap lalu turun ke bawah. "Kita tidak bisa ke luar," kata Jupiter. "Kenapa begitu?" tanya Bob ingin tahu. "Aku baru saja melihat bayangan bergerakgerak di sepanjang dinding terowongan. Ada orang kemari." "Aduh!" keluh Bob. "Kita terjebak! Di manakah kita bisa menyembunyikan diri?" Jupiter melangkah, menyusuri gang yang sempit. la membuka pintu lemari, yang semula berisi keenam ekor anjing tadi. *
202

http://crossfire-net.blogspot.com/

Pete menggosok-gosok lengannya yang kedinginan. la sudah selesai memasang proyektor. Sebongkah batu kecil dipakai untuk mengganjal batu besar yang merupakan pintu rahasia, sehingga tidak bisa menutup lagi. Film sudah dipasang di tempatnya. Kini ia berjongkok dengan perasaan gugup, menunggu isyarat dari kedua temannya. Begitu isyarat datang, akan dimulainya pemutaran film. la menggeser-geser pesawat itu, untuk memastikan ketepatan pengarahannya lewat lubang tingkap di dinding batu. Setelah itu ia menunggu sambil berbaring menelungkup. Tiba-tiba bulu tengkuknya merinding. Ia mendengar bunyi sesuatu di belakangnya. Ia berbaring diam-diam, sambil memasang telinga. Bunyi tadi terdengar lagi. Seseorang, atau sesuatu, ada dalam gua dangkal yang pertama-tama mereka masuki. Ia mendengar bunyinya dengan jelas, bergerak-gerak di situ. Setelah menunggu agak lama, bunyi itu kembali lagi. Kini didengarnya bunyi pasir dikais-kais. Apa yang dilihatnya setelah itu menyebabkan tubuhnya semakin gemetar. Selembar papan lebar yang menutupi rongga tempat ia berada, nampak tergeser. Pete menggigit-gigit bibirnya. Dengan segansegan diraihnya alat proyektor milik ayahnya, lalu ditariknya ke belakang. Kini ia berlutut, sambil memikirkan apa yang harus dikerjakan. Masih ada
203
http://crossfire-net.blogspot.com/

waktu baginya untuk menyusup lewat lubang pintu rahasia yang terganjal batu. la masih bisa menggabungkan diri dengan Bob dan Jupiter di dalam gua besar, sedang batu pengganjal akan diangkatnya supaya pintu rahasia tertutup kembali. Tapi ia teringat, bahwa kedua temannya itu mengandalkan dirinya untuk tetap berada di tempat tugas. Begitulah instruksi Jupe tadi. Papan lebar itu tergeser perlahan-lahan ke samping. Pete beringsut-ingsut mundur, sampai punggungnya menempel ke dinding rongga. la menunggu di situ, sambil menatap celah yang terbuka semakin lebar, membuka jalan bagi orang yang menggeser papan. Tangan Pete menggapai-gapai dasar rongga, mencari-cari sesuatu yang bisa dijadikan senjata. Kemudian ia teringat pada senternya. Digenggamnya benda itu erat-erat. Kegelapan yang menyelubungi tempat sempit itu mungkin tidak merupakan perlindungan yang memadai. Sesosok tubuh gempal berdiri di tempat yang semula tertutup papan lebar. Badan orang itu begitu kekar, sehingga ia terpaksa menyusup masuk dengan memiringkan tubuh. Napas Pete tersentak. la mengenali orang yang baru masuk itu. Mr. Carter yang pemarah, dengan senapan burunya! Langit-langit rongga itu rendah. Mr. Carter terpaksa menunduk di dalamnya. la melangkah
204

http://crossfire-net.blogspot.com/

maju dengan kepala tertunduk. Kemudian ia berhenti, lalu mendengarkan. Jantung Pete berdebar keras. Ia juga mendengar suara itu. "Aaaaa ... uuuuuuuuuuu!" Pete merapatkan diri ke dinding. Kakinya ditarik, sedang tangannya yang menggenggam senter mengencang. Kemudian terdengar bunyi lain. Bunyi langkah berlari. Bunyi itu kian mendekat, diiringi suara napas terengah-engah. Bunyi itu diikuti bunyi-bunyi lain yang sejenis. Dan suara yang seperti melolong berkumandang kembali. "Aaaa ... uuuuu!" Itu pasti Bob dan Jupe, yang berlari-lari. Lari — karena dikejar! Pete meneguk ludah. Kini ia tidak bisa lagi menutup pintu rahasia, karena itu satu-satunya jalan bagi Bob dan Jupe, keluar dari gua besar. Satu-satunya jalan bagi mereka untuk menyelamatkan diri. Tapi menyelamatkan diri ke mana? Pete merasa bingung, sementara Mr. Carter yang pemarah berdiri merunduk tak jauh dari tempatnya meringkuk, dengan senapan siap ditembakkan. Tiba-tiba terjadi keributan. Bunyi kaki terpelesetpeleset, di susul munculnya sepasang mata kuning kemilau di tengah lubang yang terbuka. Ada sesuatu yang berbunyi seperti mengerang, lalu melesat masuk lewat lubang yang terbuka. Dan
205

http://crossfire-net.blogspot.com/

dengan segera disusul oleh sesuatu lagi, yang menggeram-geram. Lalu satu lagi. Dan satu lagi! Mulut Pete terpentang lebar, sementara ia semakin menempelkan diri ke dinding rongga yang dingin. Ia sudah bersiap-siap untuk menghadapi naga. Tapi yang masuk berbondongbondong ini segerombolan binatang liar yang berbulu. Mr. Carter mendengus, ketika ada sesuatu menubruknya. Ia terbanting. Pete meneguk ludah. Setelah menyerang laki-laki pemarah itu, pasti ia kini yang akan diserang kawanan binatang liar itu! Ia mengangkat senter yang dipegang.

206
http://crossfire-net.blogspot.com/

eBook oleh Nurul Huda Kariem MR. nurulkariem@yahoo.com

Bab 18 TERTANGKAP!

B O B dan Jupiter meringkuk berdesak-desakan dalam ruang lemari yang sempit. Keduanya berusaha menajamkan pendengaran. "Panjang juga jalur rel yang perlu diperiksa dan dibersihkan tadi," kata seorang laki-laki dengan nada mengomel. "Seolah-olah kita ini belum cukup repot, dengan segala pengeboran itu. Tapi sekarang semuanya sudah siap." "Pokoknya, hasilnya nanti lumayan, Harry," kata seseorang lagi, yang bersuara berat. "Yuk, kita jalankan saja sekarang." "Beres," kata laki-laki yang pertama. "Orang itu sangat licin, Jack. Bisakah kita mempercayainya, kalau menurutmu?" Orang yang satu lagi tertawa. "la kan cuma seorang diri, sedang kita berdua. Dan kapalnya punya kita. la yang mestinya gelisah memikirkan, apakah bisa mempercayai kita!" Tingkap di atas punggung naga gadungan terbuka. Kedua laki-laki yang datang itu menuruni tangga. Bob dan Jupiter meringkuk di dalam lemari, dengan telinga ditempelkan ke daun pintu. Mereka mendengar satu dari kedua orang yang masuk itu menuju ke haluan.
207
http://crossfire-net.blogspot.com/

Kemudian terdengar desingan mesin yang dihidupkan. Kedua remaja yang bersembunyi di dalam lemari merasakan gerakan menyentak dengan tiba-tiba, disusul suatu benturan. Tahutahu naga gadungan itu sudah meluncur di atas rel. Bob menjamah lutut Jupiter. "Menilik suara mereka, kedua orang itu para penyelam bermasker yang waktu itu. Apakah kita sekarang menuju ke laut?" bisiknya. "Kurasa tidak," jawab Jupiter lirih. "Naga ini takkan bisa terbenam, karena belum cukup beban pemberat di dalamnya!" Bob mendesah lega. Naga-nagaan itu meluncur terus. Bob dan Jupiter hanya bisa mengetahui bahwa kendaraan aneh itu bergerak, karena merasakan adanya ayunan pelan. "Kita bergerak mundur," bisik Jupiter, "masuk ke dalam terowongan tua." "Ya, aku tahu," balas Bob dengan berbisik pula. "Tapi untuk apa? Mau apa kedua laki-laki itu?" Jupiter hanya bisa mengangkat bahu. "Pokoknya, kedengarannya merupakan urusan penting." Tiba-tiba naga palsu itu terhuyung ke depan, lalu berhenti. Bob dan Jupiter terpelanting ke belakang, membentur dinding yang tipis. Laki-laki yang mengemudikan kendaraan itu datang lagi ke buritan. "Oke, Harry," katanya. "Sekarang kita harus memuatnya. Tapi hati-hati!"
208
http://crossfire-net.blogspot.com/

"Awas, kalau ia sampai menipu kita," kata yang seorang lagi menggerutu. "Kuhajar kepalanya dengan batang besi ini." "Ya, betul," kata laki-laki yang pertama. "Tapi itulah, risiko kita! Imbalannya juga tidak sedikit. Bayangkan, sejuta dolar!" Bob dan Jupiter terbelalak dalam kegelapan ruang lemari yang sempit. Sejuta dollar? Mereka ragu, jangan-jangan salah dengar. Satu juta dollar! Kini kedua laki-laki itu terdengar menaiki tangga panjat ke atas. Tingkap penutup dibuka, lalu ditutup lagi dengan bunyi bantingan keras. Jupiter menepuk bahu Bob. "Yuk — kita lihat apa yang hendak mereka kerjakan," bisiknya. Dengan hati-hati pintu lemari dibuka. Baru saja keduanya mulai berjalan, ketika mereka tertegun. Mereka mendengar suara seseorang lagi. Suara orang itu parau, diselingi batuk-batuk. "Ayo cepat," kata orang itu dengan nada mendesak. "Penjaga malam sudah kubereskan, dengan beberapa tetes obat bius. Paling sedikit beberapa jam ia akan tetap pulas. Kita harus bisa mengeluarkan paling sedikit 300 batang dari dalam, sebelum ia siuman kembali." Bob menyikut Jupiter. "Kau benar, Jupe," bisiknya. "Itu memang Arthur Shelby. Kukenali suaranya. Dan juga batuknya." "Itu misteri kedua yang berhasil kita selesaikan,"
209
http://crossfire-net.blogspot.com/

bisik Jupiter. "Misteri naga yang suka batuk-batuk. Sekarang tinggal satu lagi." "Maksudmu yang sekarang ini — apa yang mereka kerjakan di sini?" tanya Bob. "Misteri tiga ratus batang," jawab Jupiter. "Tiga ratus batang apa?" Jupiter menepuk bahu Bob, lalu menyelinap melewati gang sempit dalam perut naga palsu. la memanjat tangga dengan hati-hati. Tingkap penutup dibuka sedikit, lalu ia mengintip ke luar. Jupiter melongo. Matanya menatap dinding beton, yang terdapat di sisi naga-nagaan. Dinding itu berlubang. Lubang hasil pengeboran! CJkurannya cukup besar untuk dilalui orang yang berjalan. Seorang laki-laki muncul dari balik lubang itu. la menenteng sesuatu. Tubuhnya condong ke belakang. Rupanya benda yang dibawa itu berat! "Ghhh — beratnya," kata orang itu mengomel. "Ya, tentu saja berat," jawab Arthur Shelby. "Kau sangka kenapa kau beserta saudaramu kuajak, Jack Morgan? Hanya karena kalian kebetulan memiliki kapal? Untuk pekerjaan ini aku memerlukan tenaga otot yang kekar. Kau serta saudaramu kukontrak untuk melakukan pengeboran, dan untuk memuatkannya ke kapal kalian.". "Ya, ya — aku juga tidak memprotes," kata laki-laki yang pertama sambil menggerutu. "Berapa berat masing-masing batang ini?" "Sekitar 70 pon," jawab Arthur Shelby. "Kalian tumpukkan saja dulu di samping naga. Jika 300 batang itu sudah kita keluarkan semua, barulah
210
http://crossfire-net.blogspot.com/

dimuat ke dalamnya. Sesudah itu kita menuju ke laut." Laki-Iaki kekar yang ternyata bernama Jack Morgan itu meletakkan bawaannya di samping naga, lalu kembali ke lubang di tengah dinding. Saat itu saudaranya keluar, dengan badan condong ke belakang. Mapasnya terengah-engah. "Oke, Jack," dengusnya. "Tiga batang sudah kita angkut." Batang berat yang dibawanya diletakkan menurut petunjuk Shelby. Setelah itu ia masuk lagi lewat lubang di dinding. Jupiter menurunkan tutup tingkap. "Kata Mr. Shelby, masing-masing batang yang diangkut itu beratnya sekitar tujuh puluh pon," bisiknya pada Bob. "Dan kedua Morgan bersaudara tadi berbicara tentang nilai satu juta dollar. Kurasa aku tahu, apa sebenarnya batang-batang berat yang diangkut ke luar itu. Emas!" "Emas?" seru Bob dengan suara tertahan. "Emas dari mana?" "Ukuran baku batang emas yang dibuat oleh pemerintah, beratnya tujuh puluh pon!" kata Jupiter. "Ukuran yang lebih kecil, dua puluh pon. Itu saja, nilainya sudah $ 9.600! Arthur Shelby rupanya sedang merampok salah satu bank sentral!" "Astaga!" seru Bob dengan suara tertahan. "Lalu berapa nilai masing-masing batangan emas tujuh puluh pon itu?" Jupiter menghitung-hitung sebentar.
211
http://crossfire-net.blogspot.com/

"Satu pon emas nilainya sekitar $ 480 ... jadi tujuh puluh pon —" Jupiter bersiul pelan," — lebih dari $ 30.000! Tepatnya, $ 33.600!" "Wow!" sekali lagi Bob menyatakan kekagumannya. "Dan kata Shelby tadi, mereka akan mengambil 300 batang!" "Menurut taksiranku, nilainya sekitar sepuluh juta, delapan puluh ribu dollar," kata Jupiter sambil menghitung-hitung. "Lumayan juga!" "Dengan begitu kita ini menjadi saksi peristiwa perampokan bank yang cukup hebat," bisik Bob. "Jika ingin selamat, kita harus lekas-lekas lari dari sini!" Jupiter setuju. "Tapi bagaimana kita bisa lari," katanya dengan suara parau karena tegang. "Tempat Mr. Shelby berdiri terlalu dekat ke naga!" Jupiter melangkah dengan lambat menuju haluan, sambil berpikir-pikir. Tiba-tiba ia lari ke depan, ke tempat kemudi. Bob membuntuti, karena menyangka Jupiter menemukan tempat persembunyian baru bagi mereka. Tahu-tahu Jupiter berhenti, sehingga Bob membenturnya dari belakang. "Sorry," gumam Bob. "Aku tak menyangka —" Jupiter mendekatkan telunjuknya ke bibir, menyuruhnya diam. Setelah itu ia menjulurkan kepala ke depan. Matanya berkilat-kilat. "Jangan ribut!" desisnya. "Kunci kontaknya mereka biarkan terselip!"
212
http://crossfire-net.blogspot.com/

Mulut Bob ternganga. "Maksudmu — kau hendak mengemudikan — kita lari dengan ini? Bisakah kau mengemudikannya? Bagaimana caramu melihat jalan nanti? Aku sama sekali tidak melihat jendela di sini!" Jupe mengangkat bahu dengan sikap tak acuh. "Kucoba saja! Aku yakin, cara menjalankan naga-nagaan ini seperti mobil biasa, dan'aku tahu cara mengemudikan mobil. Kulihat ada pedal kopling, rem, tongkat perseneling, dan pedal gas. Jalannya akan terus di atas rel, sampai di ujung terowongan." la duduk di bangku kemudi yang sempit. "Nan — kita coba saja," kata Jupiter, lalu memutar kunci kontak. Mesin mendesing nyaring. Lalu mendesing sekali lagi. Batuk-batuk sebentar. Setelah itu mati. "Mesinnya batuk-batuk, Jupe!" seru Bob. "Jadi yang batuk-batuk itu ternyata bukan Shelby." Jupiter mengangguk, sambil menggigit bibir. "Mogok," katanya getir. Kunci kontak diputarnya sekali lagi. Sekali lagi mesin mendesing. Tapi sekali ini menyala, diiringi deruman nyaring. Jupiter menghembuskan napas lega. Tongkat perseneling dimasukkannya ke gigi satu, lalu diangkatnya kaki dengan pelan dari pedal kopling. Kendaraan berwujud naga itu melonjak maju, terbatuk, lalu berhenti. Mesin mati.
213
http://crossfire-net.blogspot.com/

"Mogok lagi!" seru Jupiter dengan sebal. "Koplingnya —" Kalimatnya tidak dilanjutkan. la berpaling dengan cepat, diikuti oleh Bob dengan gerakan serupa. Mereka mendengar sesuatu yang berat berdebam-debam di sisi luar naga, disusul benturan keras. Setelah itu mereka mendengar sesuatu yang lebih menakutkan lagi. Bunyi tutup tirigkap dibuka. "Seharusnya kita kunci tadi!" bisik Bob. Jupiter mengangguk. Dari matanya nampak bahwa ia takut. "Ya, aku tahu. Maaf— pikiranku tadi melantur."

214
http://crossfire-net.blogspot.com/

eBook oleh Nurul Huda Kariem MR. nurulkariem@yahoo.com

Bab 19 SITUASI GAWAT
gemetar ketakutan. la bersandar ke dinding rongga, sambil menggenggam senter yang berat. la tahu, seekor dari binatang-binatang berbulu itu pasti bisa ditaklukkannya dengan alat itu. Tapi jumlah mereka terlalu banyak. Mr. Carter juga terlalu besar dan kuat baginya, biarpun tanpa senapan buru penyebar mautnya. Gntung saja saat itu Mr. Carter terkapar di dasar rongga, di terjang binatang-binatang yang menyerbu masuk. Pete hanya bisa menatap dengan perasaan ngeri, sementara makhiuk-makhluk seram itu me — Pete terkejap kaget. Binatang-binatang itu tidak menyerang. Mereka berlompatan melewati Mr. Carter yang terkapar, lari ke luar lewat celah di sela papan yang berjejer-jejer. Pete terduduk. la merasa bingung. Detik berikutnya ia berpaling dengan cepat, karena mendengar suara erangan seram lagi. Seekor binatang yang bertubuh kecil menyusul masuk ke dalam rongga. Matanya menyala-nyala. Sebelum Pete sempat bergerak, binatang itu sudah meloncat, melewati kakinya yang terjulur, mengitari tubuh Mr. Carter yang masih terkapar, lalu
PETE

215

http://crossfire-net.blogspot.com/

menyusul teman-temannya yang sudah lebih dulu keluar lewat celah di antara papan. Kini Pete tidak menunggu lagi. Mr. Carter nampaknya tidak mengalami cedera, cuma pingsan saja. Sebentar lagi ia pasti pulih kembali, dengan perangainya yang galak, dan dengan senapan burunya yang lebih-lebih menakutkan. Jupiter tadi menginstruksikan pada Pete agar tetap berada di tempat tugas, siap untuk menjalankan proyektor. Tapi Jupe tidak mengatakan apa-apa tentang tetap tinggal, dengan risiko ditembak. Mungkin ada cara lain, dengan mana ia bisa memberikan bantuan. Pete melompat ke lubang di tengah batu. Didorongnya proyektor ayahnya ke gua sebeiah. Setelah itu ia sendiri menyusul. Setelah berada di dalam gua besar, ia berhenti sebentar sambil memasang telinga. Didengarnya suara Mr. Carter mengerang. Sudah tidak ada waktu lagi sekarang untuk mengutik-utik batu pengganjal pintu rahasia. Pete bergegas berdiri. Disambarnya pesawat proyektor, lalu dibawanya lari. Tiba-tiba dilihatnya lubang di dinding besar berwarna kelabu yang ada di depannya, diterangi sinar senternya. Tanpa berpikir panjang lagi, ia menyusup masuk lewat lubang itu. Tiba-tiba didengarnya bunyi desiran aneh. Datangnya dari arah belakang. Pete berpaling dengan cepat. Darahnya terasa seperti membeku,
216

http://crossfire-net.blogspot.com/

ketika melihat bahwa lubang di dinding tadi mulai tertutup. la meloncat dengan sikap ragu, hendak keluar lagi. Tapi tak berhasil. Kedua sisi dinding sudah merapat. Kini Pete dikejutkan bunyi lain, la memandang berkeliling dengan mata nyalang. Di depannya nampak sebuah terowongan lebar. Terowongan itu kelihatannya panjang sekali. Dan di kejauhan nampak sosok besar dan jelek yang sudah pernah dilihat olehnya. Sosok itu menuju ke tempatnya. Matanya yang kuning menyala terang. Rahangnya terbuka lebar. Naga itu meraung! Pete cepat-cepat memadamkan senternya. la bergerak mundur, terdorong rasa ngeri. Tahu-tahu punggungnya sudah membentur dinding. la tidak bisa mundur lagi. Pete menggeser pelan-pelan menuju sudut paling gelap. Proyektor dijadikan tameng, dipegang di depannya. Pete menggigil ketakutan. Matanya seperti terpaku, menatap naga yang maju dengan gerakan melompat-lompat. la seperti terpukau oleh kepala naga yang terayun-ayun, serta rahang yang ternganga lebar. Bob dan Jupe tidak dilihatnya. Pete menggigit bibir, lalu mengerang. Kedua temannya itu pasti sudah masuk ke perut naga. la terlambat, tidak bisa lagi menyelamatkan
217

http://crossfire-net.blogspot.com/

mereka! Dalam hati Pete timbul pertanyaan tentang nasibnya sendiri. Sementara itu naga kian mendekat. * Suara Arthur Shelby menggaung dari lubang tingkap yang terbuka, masuk ke dalam tubuh naga. Kedengarannya tidak lagi seperti suara seseorang yang gemar berkelakar. Bunyinya parau, dan mengandung ancaman. "Ayo keluar, jika masih ingin selamat!" Bob memandang Jupiter. Jupiter menggeleng. Bibirnya menipis. Jarinya bergerak-gerak, menekan berbagai tombol kendali. "Ini satu-saturiya peluang kita untuk menyelamatkan diri — asal aku bisa membuat naga sialan ini berjalan!" Mesin kendaraan itu hidup lagi. Kendaraan berwujud naga itu terdorong ke depan, lalu mulai bergerak maju. Tiba-tiba batang lehernya yang besar terangkat. "Jupe! Jupe! Lihat, Jupe!" Bob menunjuknunjuk dengan gerakan ribut. "Salah satu tombol yang kautekan itu rupanya menyebabkan lehernya terangkat. Kita bisa melihat ke depan!" Jupiter mengangguk. Kakinya menekan pedal gas. Tahu-tahu naga itu tersentak, teriring bunyi batuk-batuk. Mereka mendengar suara Mr. Shelby berteriak. Di atas kepala mereka terdengar bunyi
218
http://crossfire-net.blogspot.com/

seperti ada barang tergelincir, disusul debuman berat. "Kurasa Mr. Shelby terjatuh, Jupe. Jangan berhenti!" desak Bob. "Sudan kucoba — tapi ada sesuatu yang keliru kulakukan. Kendaraan ini mogok-mogok terus!" la memutar kunci kontak, sambil menekan tombol starter. Di luar terdengar suara Mr. Shelby berteriak-teriak memanggil kedua Morgan bersaudara. Bob lari ke buritan, lalu menempelkan mukanya ke lubang tingkap bundar yang ada di sisi. "Mereka datang, Jupe! Kelihatannya marah sekali. Ayo, lakukanlah sesuatu!" Mesin berderum lagi. Jupiter menginjak pedal kopling, menariktongkatperseneling, lalu menginjak pedal gas. Naga itu melakukan gerakan meloncat ke depan. Lalu mogok lagi. Jupiter menghidupkan mesin dengan perasaan geram. Naga itu melonjak maju. Lalu berhenti lagi dengan gerakan menyentak. "Ayo, terus saja!" desak Bob. "Setiap kali kendaraan ini kaugerakkan, mereka tercecer di belakang!" Gntuk kesekian kalinya Jupiter menghidupkan mesin. "Sudah seberapa jauhkah mereka tertinggal?" tanyanya. Bob mengintip sebentar.
219

http://crossfire-net.blogspot.com/

"Aduh, sudah dekat sekali!" serunya panik. "Cepat, Jupe — jalankan lagi!" Naga itu meloncat lagi ke depan, meluncur beberapa meter, tahu-tahu terbatuk, lalu mogok. Bob memandang ke belakang. Dilihatnya kedua Morgan bersaudara lari mengejar dengan cepat. Muka mereka tergerenyeng karena sangat marah. Arthur Shelby berlari tidak jauh di belakang mereka, sambil melakukan gerakan-gerakan ribut dengan kedua lengannya. "Tahan mereka, Goblok! Tanpa naga itu, kita tidak berdaya!" Jack dan Harry Morgan, kedua laki-laki bersaudara yang bertubuh kekar itu, mempercepat langkah mereka. Bob, yang semula sudah pucat, kini bertambah lesi mukanya. Tangan kedua orang itu sudah hampir berhasil menjamah ekor naga yang panjang. Bob teringat, betapa dengan gampang saja kedua laki-laki itu mengangkut batang-batang emas yang berat. Jika mereka berhasil menjangkau ekornya, naga pasti akan bisa dengan mudah mereka tarik kembali! Jupiter mendengar Bob berteriak tentang adanya bahaya itu. Untuk kesekian kalinya ia berhasil menghidupkan mesin, lalu menjalankan naga. Tapi setelah melompat-lompat maju beberapa kali, kendaraan itu batuk-batuk, lalu mogok lagi. Tombol starter ditekan. Terdengar bunyi kipas berdesir. Tapi mesin tidak mau hidup.
Halaman : 193, 194, 199, 200 221, 222 master hilang/sobek

220

http://crossfire-net.blogspot.com/

Semut raksasa di dinding itu meraung, seakan-akan menantang. Makhluk seram itu semakin mendekat, diikuti seekor lagi yang datang menyerbu dengan cepat. Ukuran kedua semut itu benar-benar luar biasa. Hampir mengisi seluruh dinding gua! "la berhasil kutembak — tapi tidak apa-apa!" seru Harry Morgan. la menembak lagi, berulangulang. Semut-semut meraung sambil bergerak maju. Jumlah mereka semakin banyak. Seluruh dinding penuh dengan semut. Sementara itu Arthur Shelby sudah berhasil menyusul. la menatap dinding, dengan air muka aneh. Kedua Morgan bersaudara melepaskan tembakan tanpa henti. "Semut-semut raksasa, bermunculan dari balik dinding," teriak Morgan yang bertubuh lebih besar pada Shelby. "Mereka tidak mempan peluru. Kita harus lari dari sini, Shelby!" Shelby hanya mengangkat bahu dengan sikap tak acuh. la masih saja menatap gerombolan semut yang nampak bergerak-gerak di dinding. Morgan yang satu lagi mencengkeramnya, lalu mengacungkan pistolnya. "Buka dinding gua ini, Shelby, kalau kau masih ingin selamat! Kita harus keluar dari sini!" Shelby menatapnya dengan pandangan dingin. Sekali lagi ia mengangkat bahu, lalu merogoh
223

http://crossfire-net.blogspot.com/

kantung, mengambil suatu benda kecil langsing. Ditempelkannya benda itu ke bibir. Bob dan Jupiter mengira akan mendengar bunyi peluit yang melengking tinggi. Mereka tidak mendengar apa-apa. Tapi tahutahu dinding di depan terbelah, bergerak menyamping dengan perlahan-lahan. "Ayo Jack!" Kedua Morgan bersaudara lari pontang-panting menuju dinding yang kini terbuka, sambil menembak dengan membabi buta ke arah semut-semut yang meraung di sepanjang dinding. Saat berikutnya kedua laki-laki kasar itu sudah keluar, lewat lubang di dinding. "Larilah, Manusia-manusia tolol!" kata Arthur Shelby dengan nada mengejek. la mendongak, memandang ke arah Bob dan Jupiter yang berdiri dekat lubang tingkap. Wajah laki-laki itu aneh, seakan-akan sedang menaksir., "Pintar sekali," katanya dengan nada pintar. "Sayangnya, agak terlalu pintar, Kawan-kawan mudaku. Kalian menyebabkan harta terlepas dari tanganku, dan karenanya kalian tidak bisa kubiarkan lolos begitu saja." Tangannya bergerak, meraih sesuatu dalam kantungnya. Kali ini ia menggenggam suatu benda yang lebih menakutkan. Mata Arthur Shelby berkilat-kilat. "Jangan tembak kami," kata Bob tergagap. Arthur Shelby mengangguk dengan sikap dingin.
224

http://crossfire-net.blogspot.com/

"Ayo turun!" Dan sementara Jupiter turun, disusul oleh Bob, orang itu menambahkan, "Lain kali jika kalian hendak merampas kendaraan yang besarnya seperti bis, kusarankan agar sebelumnya belajar untuk menginjak pedal kopling dua kali, saat mengganti gigi. Dengan begitu kendaraan takkan mogok, tahu!" Bob dan Jupiter turun ke tanah. Kini Shelby berpaling, memandang ke arah sorotan sinar yang datang dari sudut yang paling gelap. "Dan kau, yang melayani proyektor di sana itu," serunya. "Hentikan film, lalu datang segera kemari! Jangan main-main — aku menggenggam senjata!" Bunyi raungan yang membahana dalam gua, berhenti dengan tiba-tiba. Semut-semut raksasa bergerak-gerak kaku, lalu menghilang. "Ja-jangan tembak!" seru Pete dari tempat gelap. "Aku datang!" Anak itu muncul dengan langkah berat. la memandang Jupiter dan Bob, yang berdiri di samping tubuh naga yang tidak bergerak. "Benar-benar bukan naga asli?" tanyanya pada Jupe. Jupiter menggeleng. "Sama tidak aslinya seperti semut-semut raksasamu," bentak Shelby, la menatap ketiga remaja itu, lalu memandang pistol di tangannya. "Apa boleh buat, Anak-anak, tapi ini terpaksa kulakukan. Kenapa kalian mencampuri —" la tertegun. Tangannya yang teracung nampak
225

http://crossfire-net.blogspot.com/

gemetar. Suara lolongan seram seakan-akan mengambang dalam terowongan. "Aaaa ... uuuuuuu!" "Aduh — mereka lagi!" seru Shelby. Dengan cepat dikeluarkan benda yang kecil langsing dari kantungnya, yang tadi sudah dipergunakan. Ditempelkannya benda itu ke bibir. Sekali lagi tak terdengar apa-apa, tapi dinding besar yang semula terbuka, kini bergerak menutup kembali dengan pelan. Jupiter tersenyum. Selama itu ia menelengkan kepala, mendengarkan dengan cermat. la menyalakan senter. Diterangi sinarnya, nampak sejumlah sosok besar berlompatan ke arah mereka, dengan mata berkilat-kilat serta rahang ternganga menampakkan deretan gigi runcing mengancam. "Awas! Kawanan binatang berbulu —" Pete tersentak, lalu nyengir malu. "Maksudku, kawanan anjing itu," katanya menyambung. "Aduh — aku ini benar-benar tolol!" Arthur Shelby ikut mengeluh. "Terlambat!" desahnya. Anjing yang paling depan menghampiri mereka, sambil menggonggong-gonggong dengan gembira. Ekornya yang panjang dan berbulu lebat dikibaskan kian kemari. Bulunya yang coklat kemerahan nampak kemilau. "Red Rover!" seru Jupiter. "Dia datang lagi!" Anjing setter besar itu tidak mengacuhkan tangan Jupiter yang terulur ke arahnya. la
226

http://crossfire-net.blogspot.com/

melompat ke arah Shelby. Laki-laki berambut merah itu melangkah mundur, dengan pistol teracung. "Ayo pergi, Rover!" bentaknya. "Kuperingatkan untuk terakhir kalinya — ayo pulang!" Anjing itu menggeleng-gelengkan kepalanya yang besar. la melonjak-lonjak, mengelilingi Arthur Shelby. Anjing-anjing yang lain ikut berkerumun, sehingga laki-laki itu terdesak ke dinding. Kawanan anjing itu melonjak-lonjak dengan gembira, menggeram dan menggonggong-gonggong, sambil mengibas-ngibaskan ekor. Sekali lagi Arthur Shelby mengayun-ayunkan pistolnya ke arah mereka. Mukanya yang pucat nampak berkilat-kilat karena keringat. "Percuma, Mr. Shelby," kata Jupiter. Anda takkan sampai hati menembak mereka. Anda terlalu sayang pada anjing. Dan mereka pun sangat menyukai Anda." Laki-laki kurus berambut merah itu memperhatikan kawanan anjing yang berlompatan mengitarinya. la menurunkan tangannya yang menggenggam pistol. "Ya," katanya menggerutu, "Ya, mereka sangat menyukai aku. Ya — memang begitulah!" Dipandangnya pistol yang masih digenggamnya dengan sikap merenung. la mengangkat bahu, lalu mengantungi senjata itu. Tangannya bergerak ke bawah, lalu mengelus-elus kepala seekor di antara anjing-anjing yang masih mengerubunginya dengan gembira.
227
http://crossfire-net.blogspot.com/

"Bagaimana sekarang?" tanyanya, seakan-akan berbicara pada dirinya sendiri. "Saya punya ide, Sir — jika Anda sudi mendengarkan," kata Jupiter. "Kau punya ide?" Sepasang mata berwarna pudar menatap remaja bertubuh montok itu. Jupiter Jones mengangguk. "Ya, Sir. Dan itu sedikit-banyak didasarkan pada kenyataan bahwa Anda sebenarnya orang yang suka berbuat iseng, dan bukan penjahatyang haus harta. Sudikah Anda mendengar gagasan saya itu?" Laki-laki berambut merah itu menganggukkan kepala dengan gerakan ketus. "Kembalikanlah semua batangan emas yang sudah dikeluarkan tadi. Kami mau membantu, jika Anda mengingininya," kata Jupiter. "Mungkin juga lubang di dinding hasil pengeboran tadi ingin Anda biarkan begitu saja, tidak ditutup kembali. Itu akan merupakan kelakar Anda terhadap kota Seaside. Anda sebenarnya berpeluang untuk mengambil semua batangan emas yang ada di sana, tapi Anda tidak melakukannya. Kami takkan membuka mulut, dan mereka takkan pernah bisa mengetahui siapa yang melakukannya — atau tepatnya, siapa yang nyaris saja melakukannya, Sir!"

228

http://crossfire-net.blogspot.com/

eBook oleh Nurul Huda Kariem MR. nurulkariem@yahoo.com

Bab 2 0 ULURAN TANGAN MR. HITCHCOCK

DUA hari kemudian. Pete, Bob, dan Jupiter memasuki ruang kantor Alfred Hitchcock. Sutradara terkenal itu sedang duduk di meja kerjanya, sambil membaca surat kabar. la menyilakan ketiga remaja itu duduk di hadapannya, di kursi yang besar dan empuk. "Silakan duduk," katanya. "Sebentar, ya — kuselesaikan dulu membaca artikel yang menarik ini." Ketiga remaja itu duduk sambil menunggu dengan sabar. Akhirnya Mr. Hitchcock melipat surat kabar, dan meletakkannya ke samping. "Nah!" kata Mr. Hitchcock dengan suaranya yang berat dan dalam. "Waktu itu aku menyarankan suatu kasus pada kalian, yang menyangkut anjing seorang kawan lamaku yang hilang. Lalu apa yang terjadi? Yang kembali bukan anjingnya saja, tapi juga sejumlah anjing lain. Aku juga melihat suatu artikel dalam surat kabar yang terbit di Seaside, mengenai komplotan aneh yang bermaksud merampok sebuah bank besar. Kepala berita itu berbunyi begini. 'PARA PETUGAS BANK DIBINGUNGKAN OLEH PENJAHAT YANG TIDAK
229
http://crossfire-net.blogspot.com/

JADI MERAMPOK!' Hasil kerja kalian jugakah itu? Terus terang, aku pun ikut binggung karenanya!" Jupiter mendeham. "Ya, Sir — itu memang hasil kerja kami. Mereka — eh, maksud saya — Sir, bisa dibilang kamilah penyebab kesemuanya itu!" Mr. Hitchcock mengangkat tangannya. "Kerendahan hatimu pantas dipuji. Tapi kusimpan dulu pujianku, sampai aku sudah benarbenar tahu, dengan cara bagaimana kalian berhasil memecahkan misteri anjing-anjing yang lenyap itu." "Begini, Sir," kata Jupiter. "Sebenarnya Anda banyak membantu kami dalam mengusut misteri itu — yaitu ketika Anda mengizinkan kami ikut menonton film kuno tentang naga, yang dibuat oleh Mr. Allen." "O, begitu," kata Mr. Hitchcock. "Dan aku masih ingat, kalian waktu itu menyinggung tentang perjumpaan dengan seekor makhluk dongeng itu." "Betul, Sir," kata Pete dengan cepat. "Dan kami boleh mengucap syukur bahwa kami bisa selamat. Biarpun itu bukan naga sungguhan." "Luar biasa!" gumam Mr. Hitchcock. "Ancaman nyata, dari seekor naga yang bukan naga tulen. Aku ingin sekali mendengar kisahnya." Bob mengeluarkan buku catatannya, lalu mulai membaca. la mulai dari awal, yaitu bagaimana penyelidikan mereka langsung macet, tapi kemudian mereka berhasil menemukan berbagai
230
http://crossfire-net.blogspot.com/

petunjuk, yang akhirnya menyebabkan mereka berhasil membongkar misted yang semula mereka tangani. Mr. Hitchcock mengikuti uraian Bob dengan penuh minat. "Mr. Shelby kalian itu kedengarannya sangat menarik, dan banyak akalnya," katanya. "Kalau aku tidak salah tangkap, kau tadi mengatakan bahwa ia memilih iebih baik melepaskan peluangnya yang begitu besar untuk mencuri emas bernilai jutaan dolar, daripada harus menembak kalian serta beberapa ekor anjing?" "Betul, Sir," kata Jupiter. "Dan selama itu, anjing-anjing yang terkurung diberi makan dan diurus olehnya. la terpaksa membius mereka supaya jangan ribut dan merepotkannya. Menurut katanya pada kami, anjing-anjing itu akan dilepaskannya lagi, apabila ia meninggalkan gua dengan emas hasil curiannya. Ia sebenarnya bisa saja memaksa kita dengan pistolnya, agar membantunya mengangkut batang-batang emas itu ke luar, setelah kedua Morgan bersaudara melarikan diri. Ia bisa saja mengambil emas dalam jumlah yang mencukupi, untuk menjadi cukup kaya. Tidak perlu seluruh timbunan yang bernilai sepuluh juta lebih itu diambii." Mr. Hitchcock mengetuk-ngetukkan jarinya ke daun meja. "Dan rencananya semula adalah lari malammalam dengan naga gadungan itu lewat dasar laut,
231
http://crossfire-net.blogspot.com/

dengan dibantu oleh Morgan bersaudara yang berwatak penjahat itu?" Jupiter mengangguk. "Menurut perkiraan saya, naga itu terlalu ringan. Tapi rupanya ia telah mengkalkulasikan beban pemberat yang diperlukan — dalam wujud batang-batang emas yang berat. Sebelumnya ia perlu melakukan uji-coba dulu dalam air, dengan batu-batu sebagai pemberat. Saat itulah teman Anda, Mr. Allen, secara kebetulan melihat naga itu. Ia sedang mencari-cari Red Rover, ketika kendaraan naga diuji kemampuannya dalam air." "Dan petunjuk yang menyebabkan kalian tahu bahwa Shelby terlibat, adalah kenyataan bahwa ia sedang pilek?" Jupiter tersenyum hambar. "Ketika kami pertama kali mendatanginya, ia sedang pilek. la terbatuk-batuk terus. Karenanya saya lantas menghubungkan dirinya dengan naga, yang juga batuk-batuk. Kemudian barulah saya tahu, kendaraan naga itu batuk-batuk apabila mogok. Hal itu disebabkan karena ada kabel yang basah, karena sering dicoba dalam air." "Tapi telepon misterius yang kalian terima — suara hantu yang serak — itu sebenarnya Shelby?" Jupiter mengangguk. Mr. Hitchcock menggeleng-gelengkan kepala. "Aku mendapat kesan, Arthur Shelby ini sebenarnya bukan penjahat yang biasa. Bagaimana ia sampai bisa terlibat dengan orang-orang
232
http://crossfire-net.blogspot.com/

berwatak buruk, seperti kedua bersaudara Morgan itu?" "Kedua bersaudara ini memiliki kapal tunda, serta perlengkapan pengangkat kapal karam. Shelby tahu, kedua orang itu berwatak kasar, dan mau disuruh melakukan apa saja — asal dibayar! la memerlukan tenaga mereka untuk melakukan pekerjaan dalam gua, mengebor dinding beton dalam terowongan supaya bisa masuk ke ruang penyimpan emas dalam bank, lalu mengangkut batang-batang emas ke luar. Ternyata mereka langsung mau, ketika ditawari pembayaran satu juta dollar." "Dan bagaimana rencana mereka untuk memindahkan emas sebanyak itu, dari kapal selam berbentuk naga ke kapal mereka?" "Apabila naga-nagaan sudah berada di dalam laut, kedua Morgan bersaudara dengan pakaian selam mereka akan menghubungkan kapal selam tersamar itu dengan kabel ke kapal tunda milik mereka, lalu menyeretnya ke tengah laut. Jika sudah cukup jauh, kapal selam akan diangkat ke permukaan, lalu batang-batang emas dipindahkan ke kapal tunda mereka. Setelah itu mereka akan menuju ke Meksiko." Mr. Hitchcock mengangguk. "Tapi kenapa harus berbentuk naga?" tanyanya ingin tahu. "Itu karena Arthur Shelby mengenal Mr. Allen, serta mengetahui latar belakangnya sebagai sutradara film, yang menampilkan makhluk233
http://crossfire-net.blogspot.com/

makhluk naga untuk membuat penonton ketakutan. Shelby mulanya menciptakan makhluk gadungan itu karena iseng saja, ingin mengejutkan para tetangga. Tapi kemudian timbul niatnya untuk melakukan perampokan, ketika ia mendengar tentang adanya kiriman emas beratus batang ke bank yang kemudian dijadikan sasaran olehnya. Menurut kalkulasinya, naga gadungan itu dengan mudah diubah menjadi kapal selam yang mampu bergerak di darat dan di dalam air. Hal itu cocok dengan jalan pikirannya yang aneh — suatu cara yang kocak dan tidak bisa meleset, untuk mengangkut emas dari bank ke laut, lewat terowongan tua yang sudah dilupakan orang. Tapi rencananya itu gagal, karena justru keanehan naga itulah yang menyebabkan kami tertarik untuk mengusutnya." "Kusangka Mr. Shelby tidak punya uang. Bagaimana ia sampai bisa membangun konstruksi sehebat naga itu?" kata Mr. Hitchcock dengan nada menyelidik. Bob membalik-balik catatannya. "Saya tadi melewatkan selembar, Sir," katanya menjelaskan. "Menurut keterangannya pada kami, ada beberapa kawannya yang bekerja di perusahaan film. Mereka juga gemar mengutik-utik, seperti dia — menciptakan berbagai peralatan. Mereka bercerita padanya bahwa sebuah naga yang pernah dipakai dalam salah satu film akan dimusnahkan, karena tempatnya diperlukan untuk menyimpan properti lain. Arthur Shelby mendata234
http://crossfire-net.blogspot.com/

ngi tempat di mana naga itu disimpan, lalu menawarkan jasa untuk membongkarnya. Sebagai imbalan, bagian-bagian dari konstruksi itu boleh dimilikinya. Potongan-potongan naga itu diangkutnya pulang, dan di situ disambung-sambung kembali sehingga ia memperoleh naga seutuhnya." "Dan naga itu sudah beroda?" tanya Mr. Hitchcock sambil mengerutkan kening. "Waktu itu belum, Sir," kata Bob. "la menemukan kerangka landasan bekas kendaraan pawai Rose Bowl, di Taman Hiburan Pasadena. Ia diizinkan memiliki landasan yang tak terpakai itu, asal ia sendiri yang membawa pergi. Naganagaannya ditaruhnya di atas landasan itu." "Hmm. Pintar juga orang itu," kata Mr. Hitchcock. "Sekarang aku ingin tahu, bagaimana mungkin Shelby tahu tentang gua besar dan terowongan itu, sedang temanku Allen tidak? Padahal rumah Allen, letaknya kan hampir tepat di atasnya!" "Yah — pertama-tama, Shelby sudah dari semula tahu tentang adanya terowongan tua itu, karena ia pernah bekerja di Badan Perencana Kota. Tapi jalan masuk ke situ, hanya secara kebetulan saja ditemukan olehnya," kata Jupiter menjelaskan. "Jalan masuk ke gua yang besar tertimbun tanah longsor, bertahun-tahun sebelum Mr. Allen, dan juga Shelby, pindah ke sana. Pada suatu hari, ketika sedang berjalan-jalan di pantai, Shelby melihat suatu retakan di dinding tebing. Retakan itu
235
http://crossfire-net.blogspot.com/

digalinya. Dengan cara begitu ia menemukan gua yang besar, dan kemudian terowongan yang ada di bagian belakangnya. Hal itu kemudian diceritakannya pada kedua Morgan bersaudara. Mereka yang membantunya membuat dinding palsu di sebelah dalam. Itu untuk mengelabui orang yang mungkin secara kebetulan masuk ke dalam gua, supaya tidak ada yang bisa masuk ke dalam terowongan." "Kurasa kedua orang itu juga yang membantunya membuat batu-batu palsu di luar, untuk menutupi jalan masuk yang sebenarnya," kata Mr. Hitchcock menduga. "Betul, Sir," kata Jupiter. "Batu-batu palsu itu menarik, dan dirancang dengan sangat baik. Mereka harus bekerja di dalam gua, agar tidak menarik perhatian orang lain. Setelah semuanya selesai, barulah mereka bisa menyingkirkan batu-batu yang ada di luar, lalu memasang batu palsu bikinan mereka. Itu dilakukan saat malam hari." Mr Hitchcock mengangguk. "Kedua Morgan bersaudara itu — merekakah yang menyebabkan tangga ambruk, ketika kalian untuk pertama kalinya turun ke paniai?" Kini Pete yang memberi jawaban. "Mereka tidak ingin ada orang lain muncul dan mengganggu rencana mereka. Karenanya mereka membuat tangga terasa goyah, sehingga tidak ada yang berani turun lewat situ. Mereka melihat dari kapal mereka, ketika kami turun lalu terjatuh.
236
http://crossfire-net.blogspot.com/

Kemudian mereka datang dan mengancam kami dengan senapan tombak, ketika melihat bahwa kami ternyata tidak pergi lagi. Mereka menyangka kami akan ketakutan dan tidak berani datang lagi setelah itu." "Begitu ya," kata Mr. Hitchcock. "Kurasa kalian tadi sudah mengatakan, bahwa mereka kemudian menghilang di dalam gua yang pertama-tama kalian masuki." Bob membalik-balik kertas catatannya. "Mereka masuk ke sumur, tempat saya sebelumnya tercebur. Sumur itu bukan berisi pasir apung, tapi cuma air dan lumpur saja. Mereka berperlengkapan untuk menyelam, jadi bisa menyusup lewat situ, lalu melalui suatu Hang bawah tanah, menembus ke gua satu lagi, di dekat terowongan. Itu cara mereka masuk, saat siang hari. Mereka tidak berani menggeser batu-batu palsu yang besar-besar di luar, karena khawatir ada yang melihat. Dan malam itu, ketika lari ketakutan dari gua, mereka kemudian tidak kembali lagi. Mungkin karena malu!" "Tidak ada yang rugi karenanya," kata Mr. Hitchcock dengan ketus. "O ya — tentang benda kecil langsing yang ditiup oleh Shelby tanpa berbunyi, tapi menyebabkan dinding gua yang palsu terbuka dan menutup. Betulkah dugaanku, bahwa itu suatu alat yang bekerja dengan gelombang bunyi yang tak terdengar?" Jupiter mengangguk.
237

http://crossfire-net.blogspot.com/

"Alat itu pula yang dipakai untuk membuka batu karang palsu yang menutup mulut gua di luar, dengan tinggi nada yang berbeda. Tapi justru itulah yang menyebabkan rencana Shelby akhirnya menemui kegagalan!" "O ya?" tanya Mr. Hitchcock. "Kenapa?" "Eksperimennya dengan peluit tak berbunyi itulah yang menyebabkan anjing-anjing berdatangan ke rumahnya. Seperti Anda ketahui, anjing mampu menangkap bunyi dengan frekuensi yang lebih tinggi daripada manusia. Anjing setter Mr. Allen langsung datang ke tempatnya, begitu kembali dari tempat penitipan. Shelby sama sekali tidak menduga kemungkinan itu, karena menyangka Mr. Allen masih ada di Eropa. Hal itu berarti ia harus bertindak cepat. Anjing-anjing lainnya di sekitar situ sudah lebih dulu berdatangan, karena mendengar peluitnya yang berfrekuensi sangat tinggi. Mereka tidak mau pergi, ketika diusir. Padahal pekerjaannya masih banyak, menyiapkan naga-nagaan, mengebor lubang ke dalam ruangan bank, serta membersihkan rel yang menuju ke sana. Kedua Morgan bersaudara menghendaki agar anjing-anjing itu dibunuh saja. Shelby menolak. Mereka hanya ditidurkan olehnya, dengan obat bius yang dicampurkan ke dalam makanan." Mr. Hitchcock merenung sebentar, lalu berbicara lagi. "Menurut kalian, naga itu meraung. Apakah itu bukan menurut perasaan kalian saja?"
238
http://crossfire-net.blogspot.com/

"Tidak, Sir," kata Bob sambil menggeleng. "Raungan itu, serta berbagai hal lagi — seperti lubang di depan untuk melihat — semuanya dikendalikan dari papan instrumen yang ada di dalam badan naga. Saat itu Jupiter sibuk memencet-mencet segala tombol yang ada, karena hendak menjalankan naga-nagaan itu." "Sekarang tentang Mr. Carter," kata Mr. Hitchcock. "Apakah ia berhasil menyelamatkan diri, setelah diterjang anjing-anjing yang lari dari dalam gua?" "Ya, ia berhasil keluar," kata Pete. "Ia tidak ada lagi di sana, ketika kami kembali untuk mengambil peralatan yang tertinggal." Mr. Hitchcock mengangguk, tanda mengerti. "Dan ia betul-betul keturunan Carter yang bangkrut karena gagal membangun terowongan kereta bawah tanah di Seaside?" "Ya," kata Jupiter sambil tersenyum. "Ia tahu, bahwa di bawah tebing ada terowongan. Tapi letaknya yang tepat, tidak diketahuinya. Itulah sebabnya, kenapa ia tahu tentang gua yang dangkal, serta papan-papan yang menutupi rongga sempit di sebelahnya. Ia biasa berkeliaran di sana, sambil mencari-cari. Ia lebih dirasakan menganggu oleh Shelby serta komplotannya, dibandingkan dengan kami. Saya rasa Mr. Carter selalu membawa-bawa senapannya, karena merasa ada sesuatu yang tidak beres di situ. Kecurigaannya timbul lagi, setelah tangga di dekat rumahnya roboh. Ia turun ke bawah, untuk
239
http://crossfire-net.blogspot.com/

memeriksa. Saat itulah Pete nyaris tepergok olehnya. Menurut Mr. Shelby, papan-papan dalam gua pertama rupanya ditaruh di situ oleh penyelundup, atau bajak laut pada zaman dulu. la menduga bahwa mereka pula yang membuat pintu rahasia berupa batu yang bisa tergeser. la kebetulan saja menemukannya, sama seperti kami. Papan-papan tua yang sudah lapuk, digantinya dengan yang baru, dari kayu lapis, la khawatir ada orang lain menemukan batu yang bisa bergeser, dan dengan begitu juga gua yang lebih besar serta terowongan tua. Pintu batu yang bisa bergeser itu rupanya hendak dijadikan jalan darurat, karena itu ia tidak menceritakannya pada kedua Morgan bersaudara." "Dan kalian kemudian membantu Arthur Shelby mengembalikan batang-batang emas ke ruang bank?" tanya Mr. Hitchock. "Tidak," jawab Bob. "la mengucapkan terima kasih atas tawaran kami itu, tapi katanya itu merupakan tanggung jawabnya sendiri. Ia tidak ingin kami ikut terlibat dalam tindakan kriminal. Semua batang emas itu dikembalikan sendiri olehnya. Tapi dibiarkannya berserakan. Supaya orang banyak bingung, katanya iseng. Lubang di dinding ditambal lagi. Saya rasa pihak bank kapan-kapan pasti akan menemukan terowongan yang ada di balik dinding ruang tempat penyimpanan emas mereka. Tapi kami tidak
240

http://crossfire-net.blogspot.com/

bercerita mengenainya pada siapa pun juga. Pada Mr. Allen juga tidak." "Semuanya itu memang bisa saja," kata Mr. Hitchcock sambil mengangguk, "mengingat bakat Shelby yang hebat di bidang teknik. Dan semuanya bisa terjadi, karena ia mengenal riwayat pembangunan terowongan bawah tanah di kota Seaside." "Ya, Sir," kata Jupiter. "Dan sejarah pembangunannya masa kini! Karena itulah ia tahu, bank yang mana saja yang bisa dimasuki lewat terowongan-terowongan kuno itu!" "Ada satu hal yang masih kupikirkan. Kalian beranggapan bahwa Allen, kawan lamaku itu, dengan sengaja berbohong, ketika mengatakan bahwa ia melihat naga masuk ke dalam gua, padahal itu tidak mungkin." "Tentang itu saya perlu minta maaf, Sir," kata Jupiter. "Kemudian kami baru tahu bahwa itu terjadi karena kekeliruan. la saat itu sedang berada di tengah tangga. Tapi kenyataan itu dilupakannya, karena masih bingung kehilangan Red Rover. Masih ada lagi, Sir?" "Tidak! Tapi aku ingin berkenalan dengan Mr. Arthur Shelby. Orang yang ketrampilannya sampai bisa membuat kalian bertiga ketakutan, bisa kupakai. Jangan lupa, bisnisku juga di bidang horor!" "Terima kasih, Sir!" seru Jupiter dengan gembira, diikuti oleh Bob dan Pete. "Kami minta permisi saja sekarang. Kami tidak ingin terlalu banyak menyita waktu Anda yang berharga."
241
http://crossfire-net.blogspot.com/

"Hmmm," gumam Mr. Hitchcock, ketika para remaja itu sudah pergi. "Mungkin aku bisa meminjam naga-nagaan hebat ciptaan Mr. Shelby itu. Aku kan baru saja membeli karavan, untuk kupakai berlibur. Prinsip menjalankannya kan sama dengan bis. Sebaiknya aku berlatih menjalankan naga itu saja dulu dalam gua, sebelum memberanikan diri berkeliaran di jalan raya Los Angeles yang selalu ramai!"

eBook oleh Nurul Huda Kariem MR. nurulkariem@yahoo.com

242
http://crossfire-net.blogspot.com/

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful