You are on page 1of 31

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Internet adalah jaringan komunikasi global yang terbuka dan
menghubungkan jutaan bahkan milyaran jaringan komputer dengan berbagai
tipe dan jenis, dengan menggunakan tipe komunikasi seperti telepon, satelit
dan lain sebagainya (Zakaria, 2017).
Perkembangan teknologi yang sangat pesat mengakibatkan
perkembangan pengguna internet di seluruh dunia tumbuh semakin pesat. Saat
ini, benua Asia menduduki peringkat pertama terbanyak pengguna internet
dengan persentase 50,2% atau sebesar 1,874 juta pengguna dari total
pengguna internet di dunia sebesar 3,732 juta pengguna (Internet World Stats,
2017).
Dalam Pratama (2017), perusahaan riset We Are Social pada tanggal
26 januari 2017 menyatakan Indonesia sebagai Negara dengan pertumbuhan
jumlah pengguna internet terbesar di dunia. Dimana, sebanyak 69%
masyarakat Indonesia mengakses internet melalui perangkat mobile, dan
sisanya melalui desktop dan tablet.
Melalui data statistik, pengguna Internet di Indonesia pada tahun 2016
telah mencapai 132,7 juta user atau sekitar 51,8% dari total jumlah penduduk
Indonesia sebesar 256,2 juta. Jika dibandingkan pengguna internet Indonesia
pada tahun 2014 sebesar 88,1 juta user, maka terjadi kenaikan sebesar 44,6
juta dalam waktu 2 tahun. Pulau Sumatera merupakan pengguna internet yang
menduduki peringkat kedua setelah Pulau Jawa dengan total pengguna 20,7
juta user atau sekitar 15,7% dari total pengguna internet di Indonesia (APJII,
2016). Pada tahun 2014 pengguna internet di Sumatera Utara mencapai 3,5
juta jiwa dengan tingkat penetrasi sebesar 25% dari total pengguna internet di
Indonesia (APJII, 2014).
Berdasarkan data dan statistik Kementerian Komunikasi dan Informasi
RI melaporkan pada tahun 2013 jumlah pengguna internet di Kota Medan

1
2

menduduki urutan kedelapan dengan jumlah 389 pengguna (Ditjen PPI, 2013
dalam KOMINFO, 2017).
Kemajuan internet membawa banyak keuntungan, khususnya untuk
masyarakat secara luas. Teknologi ini dapat dinikmati oleh hampir
seluruh masyarakat tanpa adanya batasan dan juga kesulitan. Aneka aktifitas
dan kegiatan dilakukan dengan menggunakan teknologi internet. Mulai dari
belajar, mencari pekerjaan, bekerja, berkomunikasi, berbelanja, semua dapat
dilakukan dengan mudah menggunakan internet (Online Advertising
Accounting Marketing, 2017).
Saat ini banyak mahasiswa yang menggunakan internet untuk
membantu mereka dalam proses perkuliahan baik untuk mencari referensi
dalam mengerjakan tugas ataupun hanya untuk sekedar menggunakan media
sosial. Tapi tidak selamanya kemajuan teknologi berdampak positif bagi
manusia, penggunaan internet yang terus-menerus tanpa terkontrol di
kalangan mahasiswa juga dapat menimbulkan dampak negatif terhadap
masalah kesehatan terutama masalah mental atau psikis. Seorang peneliti di
Inggris, Catriona Morrison berpendapat, kecanduan internet atau adiksi
internet dapat berdampak serius bagi kesehatan mental serta dapat menambah
resiko depresi. Dari responden yang diteliti, mereka yang mengalami
kecanduan internet memiliki tingkat depresi yang lebih tinggi daripada
responden yang mengakses internet secara normal (DetikInet, 2010).
Berdasarkan survei awal yang peneliti lakukan pada mahasiswa/i
stambuk 2014 Fakultas Kedokteran UISU pada tahun 2017, dengan jumlah
mahasiswa sekitar 127 orang didapatkan hasil bahwa hampir seluruh
mahasiswa/i menggunakan internet dalam kehidupan sehari-hari.
Berdasarkan latar belakang diatas, peneliti tertarik untuk meneliti
“Hubungan Tingkat Adiksi Internet dengan Tingkat Depresi pada Mahasiswa
Fakultas Kedokteran UISU Stambuk 2014”. Peneliti memilih tempat
penelitian di Fakultas Kedokteran UISU karena peneliti melihat mahasiswa/i
Fakultas Kedokteran UISU hampir seluruhnya mengenal dan menggunakan
internat dalam kehidupan sehari-hari.
3

1.2 Rumusan Masalah


Uraian ringkas dalam latar belakang masalah diatas memberikan dasar
bagi peneliti untuk merumuskan pertanyaan penelitian yaitu apakah ada:
Hubungan Tingkat Adiksi Internet dengan Tingkat Depresi pada Mahasiswa
Fakultas Kedokteran UISU Stambuk 2014.

1.3 Hipotesa Penelitian


Hipotesa penelitian yaitu ada hubungan tingkat adiksi internet dengan tingkat
depresi pada mahasiswa Fakultas Kedokteran UISU stambuk 2014.

1.4 Tujuan Penelitian


1.4.1 Tujuan Umum
Tujuan umum penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan
tingkat adiksi internet dengan tingkat depresi pada mahasiswa Fakultas
Kedokteran UISU stambuk 2014.

1.4.2 Tujuan Khusus


Tujuan khusus penelitian ini adalah:
1. Untuk mengetahui tingkat adiksi internet pada mahasiswa/i Fakultas
Kedokteran UISU stambuk 2014.
2. Untuk mengetahui tingkat depresi pada mahasiswa/i Fakultas
Kedokteran UISU stambuk 2014.
3. Untuk mengetahui tingkat adiksi internet berdasarkan jenis kelamin
pada mahasiswa/I Fakultas Kedokteran UISU stambuk 2014.
4. Untuk mengetahui hubungan tingkat adiksi internet dengan sosial
ekonomi responden yang dilihat dari pekerjaan orang tua.
4

1.5 Manfaat Penelitian


1.5.1 Manfaat Teoritis
Secara teoritis, penelitian ini diharapkan dapat memberikan
manfaat untuk pengembangan ilmu pengetahuan dalam hubungan
tingkat adiksi internet dengan tingkat depresi pada mahasiswa fakultas
kedokteran UISU stambuk 2014.

1.5.2 Manfaat Praktis


a. Bagi mahasiswa
Diharapkan mahasiswa mengurangi penggunaan internet agar tidak
mengalami kecanduan yang dapat beresiko terhadap kejadian
depresi.
b. Bagi masyarakat
Diharapkan masyarakat lebih bijak dalam penggunaan internet
untuk kepentingan yang lebih bermanfaat.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Adiksi


Adiksi merupakan suatu kondisi ketergantungan atau kecanduan
fisik dan mental terhadap hal-hal tertentu yang menimbulkan perubahan
perilaku bagi orang yang mengalaminya (Ariwibowo, 2013).
Kecanduan adalah suatu aktivitas, atau suatu substansi yang
dilakukan berulang-ulang, dan dapat menimbulkan dampak negatif.
Kecanduan dapat dibagi menjadi bermacam-macam, misalnya kecanduan
yang ditimbulkan akibat zat, atau aktivitas tertentu seperti judi,
overspending, shoplifting, aktivitas seksual serta kecanduan internet atau
adiksi internet (Keepers, 1990 dalam Kusumadewi, 2009).

2.2 Pengertian Internet


Internet dideskripsikan sebagai sebuah jaringan dari jaringan-
jaringan, yang menggabungkan komputer pemerintah, universitas dan
pribadi bersama-sama dan menyediakan infrastruktur untuk penggunaan e-
mail, bulletin, penerimaan file, dokumen hypertext, basis data hingga
sumber-sumber komputer lainnya. Melalui jalur elektronik inilah kita dapat
bertukar informasi dengan semua tempat yang ada di dunia (Srihartati, 2007
dalam Purba 2012).

2.3 Adiksi Internet (Kecanduan Internet)


2.3.1 Pengertian Adiksi Internet
Adiksi internet adalah impulse-control disorder yang tidak
melibatkan intoxicant dengan kriteria meningkatnya aktivitas
penggunaan internet dan pikiran yang terus menerus ingin online,
dimana penggunaan internet yang berlebihan tersebut dapat
mengakibatkan masalah psikologis, sosial, dan pekerjaan pada
kehidupan individu tersebut (Young, 1996 dalam Nurfadhilah 2014).

5
6

2.3.2 Dimensi Adiksi Internet


Menurut (Griffiths, 1998 dalam Sari, 2011) terdapat enam
dimensi untuk menentukan apakah individu dapat digolongkan
sebagai pecandu internet. Dimensi-dimensinya adalah:
1. Salience
Hal ini terjadi ketika penggunaan internet menjadi aktivitas yang
paling penting dalam kehidupan individu, mendominasi pikiran
individu (pre-okupasi atau gangguan kognitif), perasaan (merasa
sangat butuh),dan tingkah laku (kemunduran dalam perilaku
sosial). Individu akan selalu memikirkan internet, meskipun tidak
sedang mengakses internet.
2. Mood modification
Hal ini mengarah pada pengalaman individu sendiri, yang menjadi
hasil dari bermain internet, dan dapat dilihat sebagai strategi
coping.
3. Tolerance
Hal ini merupakan proses dimana terjadinya peningkatan jumlah
penggunaan internet untuk mendapatkan efek perubahan dari
mood.
4. Withdrawal symptoms
Hal ini merupakan perasaan tidak menyenangkan yang terjadi
karena penggunaan internet dikurangi atau tidak dilanjutkan
(misalnya, mudah marah, cemas, tubuh bergoyang).
5. Conflict
Hal ini mengarah pada konflik yang terjadi antara pengguna
internet dengan lingkungan sekitarnya (konflik interpersonal),
konflik dalam tugas lainnya (pekerjaan, tugas, kehidupan sosial,
hobi) atau konflik yang terjadi dalam dirinya sendiri (konflik
intrafisik atau merasa kurangnya kontrol) yang diakibatkan
karena terlalu banyak menghabiskan waktu bermain internet.
7

6. Relapse
Hal ini merupakan kecenderungan berulangnya kembali pola
penggunaan internet setelah adanya kontrol.

2.3.3 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Adiksi Internet


Faktor-faktor yang mempengaruhi adiksi internet menurut
(Young et al., 1998 dalam Sari, 2011) adalah:
1. Gender
Gender mempengaruhi jenis aplikasi yang digunakan dan
penyebab individu tersebut mengalami kecanduan internet. Laki-
laki lebih sering mengalami kecanduan terhadap game online, situs
porno, dan perjudian online, sedangkan perempuan lebih sering
mengalami kecanduan terhadap chatting dan berbelanja secara
online.
2. Kondisi psikologis
Survey di Amerika Serikat menunjukkan bahwa lebih dari 50%
individu yang mengalami kecanduan internet juga mengalami
kecanduan pada hal lain seperti obat-obatan terlarang, alkohol,
rokok dan seks. Kecanduan internet juga timbul akibat masalah-
masalah emosional seperti depresi dan gangguan kecemasan dan
sering menggunakan dunia fantasi di internet sebagai pengalihan
secara psikologis terhadap perasaan-perasaan yang tidak
menyenangkan atau situasi yang menimbulkan stress. Berdasarkan
hasil survey ini juga diperoleh bahwa 75% individu yang
mengalami kecanduan internet disebabkan adanya masalah dalam
hubungannya dengan orang lain, kemudian individu tersebut mulai
menggunakan aplikasi-aplikasi online yang bersifat interaktif
seperti chat room dan game online sebagai cara untuk membentuk
hubungan baru dan lebih percaya diri dalam berhubungan dengan
orang lain melalui internet.
8

3. Kondisi sosial ekonomi


Individu yang telah bekerja memiliki kemungkinan lebih besar
mengalami kecanduan internet dibandingkan dengan individu yang
belum bekerja. Hal ini didukung bahwa individu yang telah bekerja
memiliki fasilitas internet di kantornya dan juga memiliki sejumlah
gaji yang memungkinkan individu tersebut memiliki fasilitas
komputer dan internet juga dirumahnya.
4. Tujuan dan waktu penggunaan internet
Tujuan menggunakan internet akan menentukan sejauh mana
individu tersebut akan mengalami kecanduan internet, terutama
dikaitkan terhadap banyaknya waktu yang dihabiskannya sendirian
di depan komputer. Individu yang menggunakan internet untuk
tujuan pendidikan, misalnya pada pelajar dan mahasiswa akan
lebih banyak menghabiskan waktunya menggunakan internet.

2.3.4 Kriteria Penggunaan Internet Secara Normal


1. Pengguna internet sehat yaitu penguna internet yang melakukan
aktivitas online tidak berlebihan serta menggunakan fasilitas
internet untuk hal yang penting (Widiana, 2014).
2. Menggunakan internet secara bijak untuk kepentingan pekerjaan
atau pendidikan (Widiana, 2014).
3. Menghabiskan waktu online 8 jam perminggu atau sekitar 1,5 jam
perhari dan penggunaan 5 jam perhari masih dikatakan normal atau
sehat (Mutohharoh, 2014).

2.3.5 Gejala-gejala Adiksi Internet


Seseorang untuk dapat dikatakan adiksi internet menurut
(Goldberg 1997 dalam Dewi, 2011), haruslah menunjukkan perilaku-
perilaku sebagai berikut:
a. Toleransi waktu yang digunakan dalam penggunaan internet,
didefinisikan oleh salah satu dari hal-hal berikut:
9

1. Demi mencapai kepuasan, jumlah waktu penggunaan


internet meningkat secara mencolok.
2. Kepuasan yang diperoleh dalam menggunakan internet
secara terus menerus dalam jumlah waktu yang sama akan
menurun secara mencolok, dan untuk memperoleh
pengaruh yang sama kuatnya seperti yang sebelumnya,
maka pemakai secara berangsur-angsur harus
meningkatkan jumlah pemakaian agar tidak terjadi
toleransi.
b. Penarikan diri yang khas, yaitu individu yang kecanduan
internet cenderung membatasi aktivitas sosialnya dan lama
kelamaan akan mulai menarik diri dari lingkungannya.
c. Internet sering digunakan lebih sering atau lebih lama dari yang
direncanakan.
d. Terdapat keinginan yang tak mau hilang atau usaha yang gagal
dalam mengendalikan penggunaan internet.
e. Menghabiskan banyak waktu dalam kegiatan-kegiatan yang
berhubungan dengan penggunaan internet, misalnya bermain
game online, dan berinteraksi menggunakan situs jejaring
sosial.
f. Kegiatan-kegiatan yang penting dari bidang sosial, pekerjaan,
atau rekreasional dihentikan karena penggunaan internet.
g. Penggunaan internet tetap dilakukan walaupun mengetahui
adanya masalah-masalah fisik, sosial, pekerjaan, ataupun
psikologis yang kerap timbul dan kemungkinan besar
disebabkan atau diperburuk oleh penggunaan internet.
10

2.3.6 Dampak Adiksi Internet


Menurut (Zhu dan He, 2002 dalam Dewi, 2011) dampak dari
adiksi internet meliputi:
a. Keasikan dengan internet dan selalu memikirkannya selagi
offline.
b. Selalu menambah waktu online.
c. Tidak mampu untuk mengontrol penggunaan internet.
d. Cepat marah dan gelisah bila tidak sedang online.
e. Menggunakan internet sebagai pelarian dari masalah.
f. Membohongi keluarga atau teman-teman mengenai jumlah
waktu yang digunakan untuk online.
g. Kehilangan teman, pekerjaan ataupun kesempatan pendidikan
dan karir karena penggunaan internet.
h. Terus menggunakan internet walaupun dana untuk online
menipis.
i. Depresi, kemurungan, kegelisahan dan kecemasan meningkat
jika tidak menggunakan internet. Mengalami gangguan tidur
atau perubahan pola tidur karena penggunaan internet.
j. Merasa bersalah dan penyesalan yang dalam akibat
penggunaan internet.

2.3.7 Tingkat Adiksi Internet


Terdapat 3 tingkatan dalam adiksi internet menurut Young,
1996 dalam Sari, 2011), yaitu:
1. Mild
Pada tingkatan ini individu termasuk dalam pengguna online
rata-rata. Individu menggunakan internet dalam waktu yang
lama, tetapi individu memiliki kontrol dalam penggunaannya.
2. Moderate
Tingkatan ini individu mulai sering mengalami beberapa
permasalahan dari penggunaan internet. Internet merupakan hal
11

yang penting, namun tidak selalu menjadi yang utama dalam


kehidupan.
3. Severe
Pada tingkatan ini individu mengalami permasalahan yang
signifikan dalam kehidupan mereka. Internet merupakan hal
yang paling utama sehingga mengabaikan kepentingan-
kepentingan yang lain.

2.4 Depresi
2.4.1 Pengertian Depresi
Depresi adalah gangguan mood yang menyebabkan
kesedihan dengan gejala yang mempengaruhi perasaan, berpikir dan
menjalani kegiatan sehari-hari, seperti tidur, makan, atau bekerja.
Untuk dapat didiagnosa depresi, gejala harus hadir hampir setiap hari
selama minimal 2 minggu (National Institute of Mental Health,
2016).
Menurut WHO, depresi adalah gangguan mental yang
ditandai dengan kesedihan, kehilangan minat atau kesenangan,
perasaan bersalah atau rendah diri, susah tidur atau nafsu makan,
perasaan kelelahan, dan konsentrasi yang buruk (World Health
Organization, 2017).

2.4.2 Epidemiologi Depresi


2.4.2.1 Insidensi dan Prevalensi
Pada tahun 2011, American College Health
Association-National College Health Assesment (ACHA-
NCHA) melakukan penelitian terhadap mahasiswa/i di
tahun ke 2 dan ke 4 mendapatkan sekitar 30% mahasiswa/i
mengalami gangguan depresi (National Institute of Mental,
2012).
12

a. Seks
Perempuan dua kali lipat lebih besar dibanding laki-
laki. Diduga adanya perbedaan hormon, pengaruh
melahirkan, perbedaan stresor psikososial antara laki-
laki dan perempuan, dan model perilaku yang dipelajari
tentang ketidak berdayaan (Kaplan & Sadock, 2010).
b. Usia
Rata-rata usia sekitar 40 tahunan. Hampir 50 persen
awitan diantara usia 20-50 tahun. Gangguan depresi
berat dapat timbul pada anak atau lanjut usia. Data
terkini menunjukkan, gangguan depresi berat diusia
kurang dari 20 tahun mungkin berhubungan dengan
meningkatnya pengguna alkohol atau penyalahgunaan
zat dalam kelompok usia tersebut. Diantara remaja,
kira-kira 5 persen komunitas memiliki gangguan
depresif berat. Di antara anak-anak dan remaja yang
dirawat di rumah sakit, angka untuk gangguan depresif
berat adalah jauh lebih tinggi dibandingkan masyarakat
umum, sampai 20 persen anak-anak dan 40 persen
remaja adalah terdepresi (Kaplan & Sadock, 2010).
c. Status pernikahan
Paling sering terjadi pada orang yang tidak mempunyai
hubungan interpersonal yang erat atau pada mereka
yang bercerai atau berpisah. Perempuan yang tidak
menikah memiliki kecenderungan lebih rendah untuk
menderita depresi dibandingkan dengan yang menikah
namun hal ini berbanding terbalik untuk laki-laki
(Kaplan & Sadock, 2010).
d. Faktor sosioekonomi dan budaya
Tidak ditemukan korelasi antara status sosioekonomi
dan gangguan depresi berat. Depresi lebih sering terjadi
13

di daerah pedesaan dibanding daerah perkotaan (Kaplan


& Sadock, 2010).

2.4.3 Etiologi Depresi


Kaplan menyatakan bahwa faktor penyebab depresi dapat
secara buatan dibagi menjadi faktor biologi, faktor genetik, dan faktor
psikososial.
a. Faktor biologi
Penelitian menunjukkan bahwa terdapat kelainan pada amin
biogenik, seperti: 5-HIAA (5-Hidroksi indol asetic acid) ,
HVA (Homovanilic acid), MHPG (3-methoxy-4-hydroksi
phenil glikol), di dalam darah, urin dan cairan serebrospinalis
pada pasien gangguan mood (Kaplan & Sadock, 2010).
b. Faktor genetik
Generasi pertama dalam keluarga, 2 sampai 10 kali lebih
sering mengalami depresi berat. Anak biologis dari orang tua
yang terkena gangguan mood beresiko untuk mengalami
gangguan mood walaupun anak tersebut dibesarkan oleh
keluarga angkat.
Pada anak kembar dizigotik gangguan depresi berat
terdapat sebanyak 13-28% sedangkan pada yang kembar
monozigotik 53-69% (Elvira & Hadisukanto, 2013).
c. Faktor Psikososial
Psikososial yang mempengaruhi depresi meliputi: peristiwa
kehidupan dan stressor lingkungan, kepribadian,
psikodinamika, kegagalan yang berulang, teori kognitif dan
dukungan sosial (Kaplan & Sadock, 2010).
Peristiwa kehidupan dan stresor lingkungan. Peristiwa
kehidupan yang menyebabkan stres, lebih sering mendahului
episode pertama gangguan mood dari episode selanjutnya.
Para klinisi mempercayai bahwa peristiwa kehidupan
14

memegang peranan utama dalam depresi, klinisi lain


menyatakan bahwa peristiwa kehidupan hanya memiliki
peranan terbatas dalam onset depresi. Stressor lingkungan
yang paling berhubungan dengan onset suatu episode depresi
adalah kehilangan pasangan (Kaplan & Sadock, 2010).
Faktor kepribadian. Beberapa ciri kepribadian tertentu yang
terdapat pada individu, seperti kepribadian dependen,
anankastik, histrionik, diduga mempunyai resiko tinggi untuk
terjadinya depresi. Sedangkan kepribadian antisosial dan
paranoid (kepribadian yang memakai proyeksi sebagai
mekanisme defensif) mempunyai resiko yang rendah (Kaplan
& Sadock, 2010).
Faktor psikodinamika. Berdasarkan teori psikodinamika
Freud, dinyatakan bahwa kehilangan objek yang dicintai dapat
menimbulkan depresi (Kaplan & Sadock, 2010
Kegagalan yang berulang. Dalam percobaan binatang yang
dipapari kejutan listrik yang tidak bisa dihindari, secara
berulang-ulang, binatang akhirnya menyerah tidak melakukan
usaha lagi untuk menghindari. Disini terjadi proses belajar
bahwa mereka tidak berdaya. Pada manusia yang menderita
depresi juga ditemukan ketidakberdayaan yang mirip (Kaplan
& Sadock, 2010).
Faktor kognitif. Adanya interpretasi yang keliru terhadap
sesuatu, menyebabkan distorsi pikiran menjadi negatif tentang
pengalaman hidup, Pandangan yang negatif tersebut
menyebabkan perasaan depresi (Kaplan & Sadock, 2010).
15

2.4.4 F32 Episode Depresif


 Gejala Utama (pada derajat ringan, sedang, dan berat)
a. Afek depresif.
b. Kehilangan minat dan kegembiraan.
c. Berkurangnya energi yang mudah meningkatnya keadaaan
mudah lelah (rasa lelah yang nyata sesudah kerja sedikit
saja) dan menurunnya aktivitas.
 Gejala Lain
a. Konsentrasi dan perhatian berkurang.
b. Harga diri dan kepercayaan diri berkurang.
c. Gagasan tentang rasa bersalah dan tidak berguna.
d. Pandangan masa depan yang suram dan pesimistis.
e. Gagasan atau perbuatan membahayakan diri atau bunuh
diri.
f. Tidur terganggu.
g. Nafsu makan berkurang.
 Untuk episode depresif dari ketiga tingkat keparahan tersebut
diperlukan masa sekurang-kurangnya 2 minggu untuk
penegakan diagnosis, akan tetapi periode lebih pendek dapat
dibenarkan jika gejala luar biasa beratnya dan berlangsung
cepat.
 Kategori diagnosis episode depresif ringan (F32.0), sedang
(F32.1) dan berat (F32.2) hanya digunakan untuk episode
depresi tunggal (yang pertama). Episode depresif berikutnya
harus diklasifikasi di bawah salah satu diagnosis gangguan
depresif berulang (F33.-) (PPDGJ, 1993 dalam Maslim, 2013).

F32.0 Episode Depresif Ringan


 Sekurang-kurangnya harus ada 2 dari 3 gejala utama
depresi.
 Ditambah sekurang-kurangnya 2 dari gejala lainnya.
16

 Tidak boleh ada gejala yang berat diantaranya.


 Lamanya seluruh episode berlangsung sekurang-
kurangnya sekitar 2 minggu.
 Hanya sedikit kesulitan dalam pekerjaan dan kegiatan
sosial yang biasa dilakukan.
F32.1 Episode Depresi Sedang
 Sekurang-kurangnya harus ada 2 dari 3 gejala utama.
 Ditambah sekurang-kurangnya 3 dan sebaiknya 4 dari
gejala lainnya.
 Lamanya seluruh episode berlangsung minimum sekitar 2
minggu.
 Menghadapi kesulitan nyata untuk meneruskan kegiatan
sosial, pekerjaan dan urusan rumah tangga.
F32.2 Episode Depresi Berat Tanpa Gejala Psikotik
 Semua 3 gejala utama depresi harus ada.
 Ditambah sekurang-kurangnya 4 dari gejala lainnya, dan
beberapa diantaranya harus berintensitas berat.
 Bila ada gejala penting (misalnya agitasi atau retardasi
psikomotor) yang mencolok, maka pasien mungkin tidak
mau atau tidak mampu untuk melaporkan banyak
gejalanya secara rinci. Dalam hal demikian, penilaian
secara menyeluruh terhadap episode depresif berat masih
dapat dibenarkan.
 Harus berlangsung sekurang-kurangnya 2 minggu, akan
tetapi jika gejala amat berat dan beronset sangat cepat,
maka masih dibenarkan untuk diagnosis dalam kurun
waktu kurang dari 2 minggu.
 Sangat tidak mungkin pasien akan mampu meneruskan
kegiatan sosial, pekerjaan atau urusan rumah tangga,
kecuali pada taraf yang sangat terbatas.
17

F32.3 Episode Depresi Berat dengan Gejala Psikotik


 Episode depresi berat yang memenuhi kriteria menurut
F32.2 tersebut diatas.
 Disertai waham, halusinasi dan stupor depresif. Waham
biasanya melibatkan ide tentang dosa, kemiskinan atau
malapetaka yang mengancam, dan pasien merasa
bertanggung jawab atas hal itu. Halusinasi auditorik atau
olfatorik biasanya berupa suara yang menghina atau
menuduh. Retardasi psikomotor yang berat dapat menuju
pada stupor.
F32.8 Episode Depresif Lainnya
F32.9 Episode Depresif YTT (PPDGJ, 1993 dalam Maslim, 2013).

2.4.5 Terapi Depresi


Perawatan rumah sakit. Diperlukan untuk memberikan
perlindungan maksimal terhadap dorongan dan perilaku
menghancurkan diri sendiri yang dimiliki pasien. Perawatan
dirumah sakit juga diperlukan jika anak atau remaja menderita
penyalahgunaan dan ketergantungan zat.
Psikoterapi. Terapi keluarga diperlukan untuk mengajarkan
keluarga tentang gangguan mood yang dapat terjadi pada anak-anak
saat terjadinya stress keluarga yang berat. Pendekatan
psikoterapetik bagi anak terdepresi adalah pendekatan kognitif dan
pendekatan yang lebih terarah dan lebih terstruktur.
Farmakoterapi. Antidepresan bermanfaat bagi anak-anak
dan remaja dengan gangguan depresif. Fluoxetine (Prozac)
digunakankan pada remaja dengan gangguan depresi berat. Anak
dan remaja yang menderita depresi akan megalami gangguan
bipolar II ataupun bipolar I yang dapat diobati dengan lithium atau
Eskalith (Kaplan, Sadock & Grebb, 2010).
18

2.4.6 Prognosis Depresi


Prognosis tergantung pada usia onset, keparahan episode
dan adanya gangguan komorbid, dengan usia onset yang muda dan
gangguan multipel menyatakan prognosis yang buruk (Kaplan,
Sadock & Grebb, 2010).
19

2.5 Hubungan Tingkat Adiksi Internet dengan Tingkat Depresi


Adiksi internet merupakan suatu gangguan psikofisiologis yang
meliputi tolerance (penggunaan dalam jumlah yang sama akan
menimbulkan respon minimal, jumlah harus ditambah agar dapat
membangkitkan kesenangan dalam jumlah yang sama), whithdrawal
symptoms (khususnya menimbulkan tremor, kecemasan dan perubahan
mood), gangguan afeksi atau gangguan emosi (depresi, sulit menyesuaikan
diri), dan tergangguanya kehidupan sosial (Ferris, 1997 dalam Dewiratri et
al, 2014).
Dalam penelitian Dewiratri, Karini dan Machmuroch (2014)
didapatkan bahwa semakin tinggi tingkat adiksi internet maka akan semakin
tinggi tingkat depresi. Dengan menggunakan teknik analisis korelasi
Pearson diperoleh koefisien korelasi 0,859. Hal ini menunjukkan bahwa
ada hubungan yang sangat kuat antara kecanduan internet dengan depresi.
Dalam penelitian lainnya Sari (2017) dari hasil analisis statistik
menggunakan analisis korelasi Product Moment / Pearson Correlation
diperoleh nilai korelasi sebesar (r) adalah 0,345, menunjukkan bahwa
terjadi hubungan antara tingkat adiksi internet dengan derajat depresi. Nilai r
positif menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang positif antara kedua
variabel yang artinya semakin tinggi skor variabel bebas (adiksi internet)
maka akan semakin tinggi skor variabel terikat (depresi) dan sebaliknya,
penurunan skor variabel bebas (adiksi internet) secara bersama-sama akan
diikuti dengan penurunan skor variabel terikat (depresi).
20

2.6 Kerangka Teori Penelitian


Variabel independent dalam penelian ini adalah tingkat adiksi
internet sedangkan variabel dependent adalah tingkat depresi pada
Mahasiswa/i Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sumatera Utara.

Variabel Independent Variabel Dependent

Tingkat Depresi pada


Tingkat Adiksi Internet Mahasiswa/i Fakultas Kedokteran
Universitas Islam Sumatera Utara

1. Adiksi Internet 1. Tidak Ada Depresi /


Ringan Normal
2. Adiksi Internet
Sedang 2. Depresi Ringan
3. Adiksi Internet 3. Depresi Sedang
Berat 4. Depresi Berat

Gambar 2.1 Kerangka Teori


(Lupita, D. 2017. Hubungan Tingkat Adiksi Internet Dengan Tingkat Depresi
Pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran UISU Stambuk 2014. Medan)
BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian


Jenis penelitian ini adalah penelitian analitik dengan desain studi Cross
Sectional yang akan dilakukan untuk melihat hubungan antara tingkat
kecanduan internet dengan tingkat depresi.
Penelitian cross sectional adalah penelitian yang mencari hubungan
antara variabel bebas (faktor resiko) dengan variabel tergantung (efek) dengan
melakukan pengukuran sesaat (Sastroasmoro, 2016).

3.2 Waktu dan Tempat Penelitian


3.2.1 Waktu Peneltian
Waktu Pelaksanaan penelitian yaitu dari bulan maret 2017 sampai
dengan bulan Desember 2017, dimulai dari pembuatan proposal
penelitian sampai dengan penulisan hasil penelitian.

3.2.2 Tempat Penelitian


Penelitian ini dilakukan di Fakultas Kedokteran Universitas Islam
Sumatera Utara jalan STM Medan.

3.3 Populasi dan Sampel Penelitian


Populasi adalah keseluruhan objek penelitian atau objek yang diteliti
(Notoatmodjo, 2012). Berdasarkan pengertian tersebut, populasi pada
penelitian ini adalah seluruh mahasiswa/i stambuk 2014 Fakultas Kedokteran
UISU sebanyak 127 orang.
Menurut Sastroasmoro (2016), sampel adalah bagian dari populasi yang
dipilih dengan cara tertentu hingga dianggap dapat mewakili populasinya.
Sampel penelitian dipilih dengan menggunakan metode purposive sampling
dan melakukan uji kriteria (inklusi dan eksklusi). Purposive sampling adalah
pengambilan sampel didasarkan pada suatu pertimbangan tertentu yang dibuat

21
22

oleh peneliti sendiri, berdasarkan ciri atau sifat-sifat populasi yang sudah
diketahui sebelumnya (Notoatmodjo, 2012).
Adapun kriteria inklusi dan eksklusinya sebagai berikut :
 Kriteria Inklusi
a) Mahasiswa/i stambuk 2014 Fakultas Kedokteran UISU.
b) Mahasiswa/i yang menggunakan internet >5 jam perhari (Lupita,
2017).
c) Mahasiswa/i yang bersedia menjadi responden.
 Kriteria Eksklusi
a) Mahasiswa/i stambuk 2014 Fakultas Kedokteran UISU yang
menolak menjadi responden.
b) Mahasiswa/i yang tidak hadir

3.4 Perhitungan Besar Sampel


Dalam penelitian ini, diketahui jumlah populasi lebih dari 100. Oleh
karena itu, rumus yang dipakai untuk menghitung jumlah sampel
menggunakan rumus Slovin dengan perhitungan jumlah sampel minimum
karena dalam penarikan sampel jumlahnya harus representative agar hasil
penelitian dapat digeneralisasikan dan perhitungannya pun tidak memerlukan
tabel jumlah sampel, namun dapat dilakukan dengan rumus dan perhitungan
sederhana.
Rumus Slovin untuk menentukan sampel sebagai berikut :
𝑁
𝑛=
𝑁𝑑 2+1
Keterangan :
n= Besar sampel
N= Jumlah populasi
d= Presisi adalah tingkat kepercayaan yang diinginkan dalam
penelitian (10% =0,1)
Sehingga berdasarkan rumus di atas, besarnya sampel yang diperlukan
dalam penelitian ini adalah :
23

𝑁
𝑛=
𝑁𝑑 2
+1
127
𝑛=
127(0,1)2 + 1
127
𝑛=
1,27 + 1
127
𝑛=
2,27
𝑛 = 55,9471366
𝑛 = 56 orang
Minimal besar sampel yang dibutuhkan adalah sebanyak 56 orang.
Untuk dapat meningkatkan antisipasi hasil penelitian ini, maka jumlah sampel
yang terlibat sebanyak 65 orang (Lupita, 2017).

3.5 Teknik Pengambilan Sampel


Pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan Purposive
sampling. Purposive sampling adalah pengambilan sampel didasarkan pada
suatu pertimbangan tertentu yang dibuat oleh peneliti sendiri, berdasarkan ciri
atau sifat-sifat populasi yang sudah diketahui sebelumnya (Notoatmodjo,
2012).

3.6 Variabel Penelitian


Variabel adalah karakteristik subyek penelitian yang berubah dari satu
subyek ke subyek lain (Sastroasmoro, 2016).
Terdapat dua jenis variabel dalam penelitian ini, yaitu :
1. Variabel bebas (independent variable) yaitu tingkat kecanduan
internet.
2. Variabel terikat (dependent variable) yaitu tingkat depresi pada
mahasiswa/i stambuk 2014 Fakultas Kedokteran UISU.
24

3.7 Defenisi Operasional


Defenisi Operasional adalah uraian tentang batasan variabel yang
dimaksud atau tentang apa yang diukur oleh variabel yang bersangkutan
(Notoatmodjo, 2012).
Tabel 3.1 Defenisi Operasional
Variabel Definisi Alat Ukur Hasil Ukur Skala
Operasional Ukur
1. Pemakaian Kuesioner  Ringan (20-49) Ordinal
independ internet secara tes  Sedang (50-79)
ent berlebihan yang kecanduan  Berat(80-100)
ditandai dengan internet (Dewi, 2011).
Adiksi gejala-gejala (IAT)
Internet klinis (Young,
kecanduan, 2007).
seperti:
keasikan,
pemakaian yang
lebih sering,
tidak
memperdulikan
dampak fisik
maupun
psikologis
pemakaian dan
sebagainya.
2. Gangguan Kuesioner  0-9= tidak ada Ordinal
Depende mood, kondisi skala depresi/ Normal
nt emosional yang BDI-II  10-18= depresi
berkepanjangan (Beck ringan
Tingkat yang mewarnai Depressio  19-29= depresi
25

Depresi seluruh proses n sedang


mental Inventory-  30-63= depresi
(berpikir, II) (Lipps, berat
berperasaan dan 2007).
berperilaku)
seseorang.

3.8 Teknik Pengukuran Data


Pengukuran dilakukan berdasarkan jawaban pertanyaan yang diberikan
responden. Instrument yang digunakan berupa kuesioner dengan beberapa
pertanyaaan pada masing-masing variabel.
Kecanduan internet (adiksi internet) diukur dengan menggunakan
Internet Addiction Test (IAT). IAT mempunyai 20 item pernyataan. Tes ini
telah banyak digunakan oleh peneliti-peneliti untuk mengukur kecanduan
internet. Tes ini mengacu pada delapan aspek kecanduan internet yang
dikemukakan oleh Young (1999). Aspek-aspek tersebut meliputi merasa
keasikan dengan internet (perhatian tertuju pada aktivitas online), perlu waktu
tambahan dalam mencapai kepuasan sewaktu menggunakan internet, tidak
mampu mengontrol atau mengurangi atau menghentikan penggunaan internet,
merasa gelisah (murung, depresi, cepat marah) ketika berusaha mengurangi
atau menghentikan penggunaan internet, mengakses internet lebih lama dari
yang diharapkan, kehilangan orang-orang terdekat dan pekerjaan atau
kesempatan pendidikan serta karir akibat penggunaan internet, membohongi
keluarga dan terapis serta orang-orang terdekat untuk menyembunyikan
keterlibatan lebih jauh dengan in ternet, menjadikan internet sebagai cara
untuk melepaskan diri dari berbagai permasalahan.
Pada penilaian skor Internet Addiction Test-IAT (Tes Kecanduan
Internet) tidak menggunakan nilai 0. Karena dalam penelitian ini yang
menjadi responden adalah kriteria yang menggunakan internet. Maka
26

penilaian skor Internet Addiction Test-IAT diberi penilain skor antara 1-5,
yang artinya:
Nilai: 1= tidak pernah
2= jarang
3= kadang-kadang
4= sering
5= selalu
Masing-masing nilai angka (skor) dari 20 item dijumlahkan, dan dari
hasil tersebut dapat diketahui tingkat kecanduan internet seseorang, yaitu:
Total skor: 20-49= ringan kecanduan internet
50-79= sedang kecanduan internet
80-100 = berat kecanduan internet (Dewi, 2011)
Teknik penilaian untuk mengukur tingkat depresi dengan
menggunakan skala BDI-II (Beck Depression Inventory-II). Kuesioner ini
terdiri dari 21 kelompok item yang menggambarkan 21 kategori sikap dan
gejala depresi, yaitu: sedih, pesimis, merasa gagal, merasa tidak puas, merasa
bersalah, merasa dihukum, perasaan benci pada diri sendiri, menyalahkan diri
sendiri, kecenderungan bunuh diri, menangis, mudah tersinggung, menarik
diri dari hubungan sosial, tidak mampu mengambil keputusan, merasa dirinya
tidak menarik secara fisik, tidak mampu melaksanakan aktivitas, gangguan
tidur, merasa lelah, kehilangan selera makan, penurunan berat badan,
preokupasi somatik dan kehilangan libido seksual (Dewiratri, 2014).
Masing-masing skor dari 21 item dijumlahkan untuk memberi total
nilai dari 0-63, nilai yang lebih tinggi mewakili depresi yang lebih berat dan
dari hasil penjumlahan diketahui batasan nilai tingkat depresi seseorang, yaitu:
Total skor: 0-9 = tidak ada depresi / normal
10-18 = depresi ringan
19-29 = depresi sedang
30-63 = depresi berat (Larastiti, 2014)
27

3.9 Instrumen Penelitian


1. Kuesioner Internet Addiction Test-IAT
Skala kecanduan internet yang disusun berdasarkan aspek kecanduan
internet dari Young. Nilai validitas skala antara 0,319 sampai 0,691.
Adapun reliabilitas skala sebesar 0,923 (Dewiratri, 2014).
2. Kuesioner Skala BDI-II (Beck Depression Inventory-II)
Pengujian tentang validitas dan reliabilitasnya oleh Lipps (2007) dan
memperoleh hasil validitas 0,7 serta reliabilitas 0,9 (Dewiratri, 2014).

3.10 Teknik Pengumpulan Data


3.10.1 Data Primer
Data diperoleh dari wawancara dengan mahasiwa/i Fakultas
Kedokteran Universitas Islam Sumatera Utara melalui kuesioner.

3.10.2 Data Sekunder


Data diperoleh dari administrasi Fakultas Kedokteran
Universitas Islam Sumatera Utara.

3.11 Pengelolahan dan Analisa Data


3.11.1 Pengelolahan Data
Semua data yang telah terkumpul ditabulasi untuk diolah lebih
lanjut dengan menggunakan program komputer. Uji hipotesis
dilakukan dengan menggunakan uji Spearman Correlation dengan
tingkat kemaknaan (p) sebesar 5% untuk melihat ada atau tidaknya
hubungan antara tingkat adiksi internet dengan tingkat depresi, serta
melihat apakah hubungan tersebut bermakna secara statistik atau
tidak.
28

3.11.2 Analisa Data


Pada penelitian ini menggunakan Analisa Univariat dan
Analisa Bivariat, dijelaskan sebagai berikut :
1. Analisa Univariat
Analisa Univariat yang dilakukan terhadap tiap variabel
dari hasil penelitian. Pada umumnya dalam analisis ini hanya
menghasilkan distribusi dan persentase dari tiap variabel,
sehingga diketahui variasi dari masing-masing variabel
(Notoatmodjo, 2012).
2. Analisa Bivariat
Analisa Bivariat dilakukan terhadap dua variabel yang
diduga berhubungan atau berkolerasi (Notoatmodjo, 2012).
Analisa data ini dilakukan dengan menggunakan program
komputer : Analisis uji statistik menggunakan uji Spearman
Correlation dengan tingkat kepercayaan (p ≤ 0,05).

Jika diperoleh nilai p < 0,05 maka dapat disimpulkan


terdapat korelasi (hubungan) bermakna antara dua variabel yang
dianalisis. Jika arah korelasi (r) bernilai positif artinya semakin
tinggi variabel A maka akan semakin tinggi variabel B dan jika, arah
korelasi (r) bernilai negatif artinya semakin tinggi variabel A maka
akan semakin rendah variabel B (Dahlan, 2014)
DAFTAR PUSTAKA

Ariwibowo, K. 2013. Mengenal Adiksi.


Diperoleh dari:
http://dedihumas.bnn.go.id/read/section/artikel/2013/09/18/751/mengenal-
adiksi. Diakses pada tanggal: 7 Mei 2017
Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia, 2016. Penetrasi Pengguna
Internet Indonesia.
Diperoleh dari:
http://www.apjii.or.id/survei. Diakses pada tanggal: 7 Mei 2017
Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia, 2014. Penetrasi Pengguna
Internet Indonesia.
Diperoleh dari:
https://ajidenpasar.or.id/asset/bankdata/Survey%20APJII%202014%20v3.
pdf. Diakses pada tanggal: 7 Mei 2017
Dahlan, M. S. 2014. Statistik Untuk Kedokteran dan Kesehatan. Seri 1. Edisi 6.
Epidemiologi Indonesia. Jakarta:224
DetikInet, 2010. Kecanduan Internet Pertanda Depresi?.
Diperoleh dari:
https://inet.detik.com/cyberlife/d-1291800/kecanduan-internet-pertanda-
depresi. Diakses pada tanggal: 7 Mei 2017
Dewi, N. 2011. Hubungan Antara Kecanduan Internet dan Kecemasan dengan
Insomnia pada Mahasiswa S1 FK UNS yang Sedang Skripsi. Program
Studi Psikologi, Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret.
Surakarta:24-25
Dewiratri, T., Kartini, S. M., dan Machmuroch. 2014. Hubungan Antara
Kecanduan Internet dan Depresi Pada Mahasiswa Pengguna Warnet di
Kelurahan Jebres Surakarta. Program Studi Psikologi, Fakultas
Kedokteran Universitas Sebelas Maret. Surakarta:77-79
Elvira, S. D., dan Hadisukanto, H. 2013. Buku Ajar Psikiatri. Edisi Kedua. Badan
Penerbit FK UI. Jakarta:230
Internet World Stats, 2017. Internet Users in the World by Regions.
Diperoleh dari:
http://www.internetworldstats.com/stats.htm. Diakses pasda tanggal: 7
Mei 2017
Kaplan, dan Sadock. 2010. Buku Ajar Psikiatri Klinis. Edisi 2. EGC. Jakarta:190-
195
Kaplan, H. I., dan Sadock, B. J., dan Grebb, J. A. 2010. Sinopsis Psikiatri Ilmu
Pengetahuan Perilaku Psikiatri Klinis. Edisi VII. Jilid II. Binarupa
Aksara. Jakarta:815-816

29
30

Kementrian Komunikasi dan Informatika RI, 2017. Jumlah Pengguna Internet


Berdasarkan Kota di Indonesia Tahun 2013.
Diperoleh dari:
https://statistik.kominfo.go.id/site/data?idtree=326&iddoc=1186. Diakses
pada tanggal: 7 Mei 2017
Kusumadewi, T, N. 2009. Hubungan antara Kecanduan Internet Game Online
dengan Keterampilan Sosial pada Remaja. Program Studi Psikologi,
Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. Jakarta:8
Larastiti, A. P. 2014. Hubungan Tingkat Depresi dengan Perilaku Masturbasi
pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran Tahun Pertama. Program
Pendidikan Sarjana Kedokteran, Fakultas Kedokteran Universitas
Diponegoro. Semarang:25
Maslim, R. 2013. Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa Rujukan Ringkas dari
PPDGJ-III dan DSM-5. Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa. FK Unika.
Jakarta:64-65
Mutohharoh, A., dan Kusumaputri, E. S. 2014. Teknik Pengelolaan Diri
Perlakuan dalam Menurunkan Kecanduan Internet Pada Mahasiswa
Yogyakarta. Program Studi Psikologi, Universitas Islam Negeri Sunan
Kalijaga. Yogyakarta:112-113
National Institute of Mental Health, 2016. Depression.
Diperoleh dari:
https://www.nimh.nih.gov/health/topics/depression/index.shtml. Diakses
pada tanggal: 7 Mei 2017
National Institute of Mental Health, 2012. Depression And College Students.
Diperoleh dari:
https://infocenter.nimh.nih.gov/pubstatic/NIH%2012-4266/NIH%2012-
4266.pdf. Diakses pada tanggal: 7 Mei 2017
Notoatmodjo, S. 2012. Metodologi Penelitian Kesehatan. Rineka Cipta.
Jakarta:115-183
Nurfadhilah, R. 2014. Pengaruh Parenting Style dan Tipe Kepribadian Big Five
Terhadap Kecenderungan Adiksi Internet. Fakultas Psikologi, Universitas
Islam Negeri Syarif Hidayatullah. Jakarta:18
Online Advertising Accounting Marketing, 2017. Fakta Perkembangan Internet
di Indonesia.
Diperoleh dari:
https://wolacom.com/dnews/140043/fakta-perkembangan-internet-di-
indonesia.html. Diakses pada tanggal: 7 Mei 2017
Pratama, A. H. 2017. Perkembangan Pengguna Internet di Indonesia Tahun 2016
Terbesar di Dunia.
Diperoleh dari:
https://id.techinasia.com/pertumbuhan-pengguna-internet-di-indonesia-
tahun-2016. Diakses pada tanggal: 7 Mei 2017
31

Purba, I. N. 2012. Gambaran Identitas Diri pada Remaja yang Mengalami


Kecanduan Internet. Fakultas Psikologi, Universitas Sumatera Utara.
Medan:31
Sari, R. 2011. Hubungan Antara Kontrol Diri dengan Kecanduan Internet pada
Remaja Pengguna Facebook. Fakultas Psikologi, Universitas Sumatera
Utara. Medan
Sari, W. D. T. 2017. Hubungan Antara Tingkat Adiksi Internet dengan Derajat
Depresi pada Siswi di SMK 1 Batik Surakarta. Fakultas Kedokteran,
Universitas Muhammadiyah Surakarta. Surakarta:7
Sasroasmoro, S. 2015. Dasar-dasar Metodologi Penelitian Klinis. Edisi 5. Sagung
Seto. Jakarta:90-30
Widiana, H. S., et al. 2014. Kontrol Diri dan Kecenderungan Kecanduan
Internet.
World Health Organization, 2017. Depression.
Diperoleh dari:
http://www.who.int/topics/depression/en/. Diakses pada tanggal: 7 Mei
2017
Zakaria, M. 2017. Pengertian, Fungsi dan Manfaat Internet yang Perlu Anda
Ketahui.
Diperoleh dari:
www.nesabamedia.com/pengertian-fungsi-dan-manfaat-internet-lengkap/.
Diakses pada tanggal: 27 mei 2017