You are on page 1of 41

6

BAB II

TINJAUN PUSTAKA

A. Tinjauan Umum Tentang Diabetes Melitus Tipe 2

1. Defenisi

Diabetes melitus tipe 2 (bahasa inggris: adult-onset diabetes,

obesity-related diabetes, non-insulin-dependent diabetes mellitus,

NIDDM) merupakan tepe diabetes mellitus yang terjadi bukan disebabkan

oleh rasio insulin di dalam sirkulasi darah, melainkan merupakan kelainan

metabolisme yang disebabkan oleh mutasi pada banyak gen termasuk yang

mengekspresikan disfungsi sel β, gangguan sekresi hormon insulin,

resistansi sel terhadap insulin yang disebabkan oleh disfungsi GLUT10

dengan kofaktor hormon resistin yang menyebabkan sel jaringan, terutama

pada hati menjadi kurang peka terhadap insulin serta RBP4 yang menekan

penyerapan glukosa oleh otot lurik namun meningkatkan sekresi gula

darah oleh hati. Mutasi gen tersebut sering terjadi pada kromosom 19 yang

merupakan kromosom terdapat yang ditemukan pada manusia. Pada

NIDDM ditemukan ekspresi SGLT1 yang tinggi, rasio RBP4 dan hormon

resistin yang tinggi, peningkatan laju metabolisme glikogenolisis dan

glukoneogenesis pada hati, penurunan laju reaksi oksidasi dan peningkatan

laju reaksi esterifikasi pada hati NIDDM juga dapat di sebabkan oleh

dislipiddemia, lipodistrofi, dan sindrom resistansi insulin. Pada tahap awal

6
7

kelainan yang muncul adalah berkurangnya sensitifitas terhadap insulin,

yang ditandai dengan menigkatnya kadar insulin di dalan darah.

Hiperglisemia dapat diatasi dengan obat anti diabetes yang dapat

meningkatkan sensitifitas terhadap insulin atau menguragi produksi

glukosa dari hepar, namun semakin parah penyakit, sekresi insulinpun

semakin berkurang, dan terapi dengan insulin kadang dibutuhkan. Ada

beberapa teori yang menyebutkan penyebab pasti dan mekanisme

terjadinya resistensi ini, namun obesitas sentral diketahui sebagai faktor

predisposisi terjadinya resistensi terhadap insulin, dalam kaitan dengan

pengeluaran dari adipokines (suatu kelompok hormon) itu termasuk

toleransi glukosa. Obesitas ditemukan kira-kira 90% dari pasien dunia

dikembangkan diagnosis dengan jenis 2 kencing manis. Faktor lain

meliputi mengeram dan sejarah keluarga, walapun di dekade yang terakhir

telah lurus meningkat mulai untuk mempengaruhi anak remaja dan anak-

anak. (Hasdianah,2012)

2. Epidemologi

Secara epidemologi diabetes melitus sering kali tidak terdektesi, dan

dikatakan onset atau mulai terjadinya diabetes adalah 7 tahun sebelum

diagnosis ditegakkan.

Diabetes tipe 2 akan meningkat 5-10 kali lipat karena terjadi

perubahan perilaku rurl-tradisional menjadi urban. Factor resiko yang

berubah secara epidemologik diperkirakan adalah : bertambahnya usia,

lebih banyak dan lebih lamanya obesitas, distribusi lemak tubuh,


8

kurangnya aktifitas jasmani, dan hiperinsulinemia. Semua faktor ini

berinteraksi dengan faktor genetik yang berhubungan dengan terjadinya

diabetes melitus tipe 2. Perubahan yang juga tampak pada masyarakat

adalah bahwa hipertensi pada penderita diabetes meningkat dari 15%

menjadi 25%. Yang menarik juga adalah adanya perubahan pola makan

kearah persentase lemak yang lebih tinggi 18,8% tahun 1982 menjadi

27,6% tahun 1993. Persentase masukkan karbohidrat menurun dari 71,3%

menjadi 60% (Soegondo. S, 2007).

3. Klasifikasi

Amerika Diabetes Assosiation/World Health Organization

mengklasifikasikan 4 macam penyakit diabetes melitus berdasarkan

penyebabnya, yaitu :

a. Diabetes melitus tipe I (Diabetes Bergantung Insulin/DMTI)

Disebut juga dengan juvenile diabetes atau insulin dependent

diabetes melitus (IDDM), dengan jumlah penderita sekitar 5%-10%

dari seluruh penderita DM dan umumnya terjadi pada usia muda (95%

pada usia 25 tahun). DM tipe I ditandai dengan terjadinya kerusakan

sel β pankreas yang disebabkan oleh proses autoimune, akibatnya

terjadi defisiensi insulin absolut sehingga penderita mutlak

memerlukan insulin dari luar (eksogen) untuk mempertahankan kadar

gula darah dalam batas normal.

Hingga saat ini, diabetes tipe I masih termasuk dalam katagori

penyakit yang tidak dapat dicegah, termasuk dengan cara diet atau
9

olahraga. Pada fase awal kemunculan penyakit ini, kebanyakan

penderita diabetes tipe I ini memiliki kesehatan dan berat badan yang

cukup baik, dan respon tubuh terhadap insulin juga masih normal.

Penyebab utama kehilangan sel beta pankreas pada penderita diabetes

tipe I kesalahan reaksi autoimunitas yang menghancurkan sel beta

pancreas. Reaksi autoimunitas tersebut dapat dipicu oleh adanya

infeksi dalam tubuh.

Tingkat glukosa rata-rata untuk pasien diabetes tipe I dapat

mungkin harus mendekati normal yaitu 80-120 mg/dl. Angka di atas

200 mg/dl sering disertai dengan rasa tidak nyaman dan terlalu sering

buang air kecil sehingga menyebabkan dehidrasi.

b. Diabetes melitus tipe 2 (Diabetes Melitus Tidak Tergantung

Insulin/DMTTI)

Diabetes melitus tipe 2 juga disebut dengan non insulin

dependent diabetes melitus (NIDDM) atau adult onset diabetes.

Jumlah DM tipe 2 merupakan kelompok yang terbesar, hampir

mencapai 90%-95% dari seluruh kasus DM (WHO,2003), terjadi pada

usia dewasa yaitu usia pertengahan kehidupan dan peningkatannya

lebih tinggi dari laki-laki dibandiing pada wanita.

Karena resistensi insulin, jumlah reseptor insulin pada

permukaan sel berkurang, walaupaun jumlah insulin tidak berkurang.

Hal ini menyebabkan glukosa tidak dapat masuk ke dalam sel

meskipun insulin tersedia. Keadaan ini disebabkan obesitas terutama


10

tipe sentral, diet tinggi lemak dan rendah karbonhidrat, kurangnya

aktivitas fisik serta faktor turunan.

Ada beberapa teori yang menjelaskan penyebab pasti dan

mekanisme terjadi resistensi ini, namun obesitas sentral diketahui

sebagai faktor terjadinya resistensi terhadap insulin. Alasan ini

dikaitkan dengan pengeluaran kelompok hormon tertentu yang

merusak toleransi glukosa. 90% pasien diabetes tipe 2 mengalami

obesitas sentral (obesitas dengan penumpukan lemak di daerah perut).

c. Diabetes melitus gestational (DMG)

Wanita hamil yang belum pernah megidap diabetes melitus,

tetapi memiliki angka gula darah cukup tinggi selama kehamilan dapat

dikatakan telah menderita diabetes gestational.

Diabetes tipe ini merupakan gangguan toleransi glukosa

berbagai derajat yang ditemukan pertama kali pada saat hamil. Pada

umumnya DMG menunjukkan adanya gangguan toleransi glukosa

yang relatif ringan sehingga jarang memerlukan pertolongan dokter.

Kebanyakan wanita penderita DMG memiliki homeostatis glukosa

relatif normal selama paruh kehamilan (sekitar usia 5 bulan) dan juga

bisa mengalami defesiensi insulin relatif paruh kedua, tetapi kadar gula

darah biasanya kembali normal setelah melahirkan.

Diabetes melitus Tipe 2 adalah jenis yang paling banyak

ditemukan (lebih dari 90 %), timbul makin sering setelah umur 40 tahun.

Dengan keadaan kadar glukosa darah tidak terlalu tinggi atau belum ada
11

komplikasi, biasanya pasien tidak berobat. Kadang-kadang mereka baru

mengetahui menderita waktu berobat untuk penyakit lain, misalnya waktu

akan mencabut giginya atau operasi lain. Ada juga yang sudah diagnosis

sebagai diabetes tetapi karena alas an biaya, pasien tersebut tidak berobat

lagi. Hal ini menyebabkan jumlah pasien diabetes yang tidak terdiagnosis

lebih banyak dari pada yang terdiagnosis (Rahmawati, 2014).

4. Etiologi

a. Diabetes Melitus Tipe 2

Secara pasti penyebab dari diabetes melitus tipe 2 ini belum di

ketahui, faktor genotik di perkirakan peranan dalam proses terjadi

resistensi insulin. Diabetes melitus tak tergantung insulin (DMTTI)

penyakitnya mempunyai pola familiar yang kuat. DMTTI ditandai

dengan kelainan dalam sekresi insulin maupun dalam sekresi insulin

maupun dalam kerja insulin. Pada awalnya tampak terdapat resistensi

dari sel-sel sasaran terhadap kerja insulin. Insulin mula-mula

meningkat dirinya kepada reseptor-reseptor permukaan sel tertentu,

kemudian terjadi reaksi intraseluler yang meningkatkan transprot

glukosa menembus membran sel. Pada pasien dengan DMTTI terdapat

kelainan dalam peningkatan insulin dengan reseptor. Hal ini dapat

disebabkan oleh berkurangnya jumlah tempat reseptor yang responsif

insulin pada membran sel. Akibatnya terjadi penggabungan abnormal

antara komplek reseptor insulin dengan sistem transport glukosa.

Kadar glukosa normal dapat dipertahankan dalam waktu yang cukup


12

lama dan meningkatkan sekresi insulin, tetapi pada akhirnya sekresi

insulin yang beredar tidak lagi memadai untuk mempertahankan

euglikemia. Diabetes melitus tipe 2 disebut juga diabetes melitus tidak

tergantung insulin (DMTTI) atau non insulin dependent diabetes

melitus (NIDDM) yang merupakan suatu kelompok heterogen bentuk-

bentuk diabetes yang lebih ringan, terutama dijumpai pada orang

dewasa tetapi terkadang dapat timbul pada masa kanak-kanak

(M.Clevo,2012).

Faktor resiko yang berhubungan dengan proses terjadinya DM

tipe 2, diantaranya adalah :

1) Usia ( resistensi insulin cendurung meningkat pada usia diatas 65

tahun)

2) Obesitas

3) Riwayat keluarga

4) Kelompok etnik

5. Gejala Klinis

Diabetes seringkali muncul tanpa gejala. Namun demikian ada

beberapa gejala yang harus diwaspadai sebagai isyarat kemungkinan

diabetes. Gejala tipikal yang sering dirasakan penderita DM antara lain

poliuria (sering buang kecil), polidipsia (sering haus) dan polifagia (selalu

makan/mudah lapar). Selain itu sering pula muncul keluhan penglihatan

kabur, koordinasi gerak anggota tubuh terganggu, kesemutan pada tangan

atau kaki, timbul gatal-gatal yang seringkali sangat mengganggu


13

(pruritus), dan berat badan menurun tanpa sebab yang jelas (Rahmawati,

2014).

Pada DM Tipe 1 gejala kasik yang umum dikeluhankan adalah

poliuria, polidipsia, polifagia, penurunan berat badan, cepat merasa lelah

(fatigue), iritabilitas dan pruritus.

Pada DM Tipe 2 gejala yang dikeluhkan umumnya hampir tidak ada.

DM Tipe 2 seringkali muncul tanpa diketahui, dan penanganan baru

dimulai beberapa tahun kemudian ketika penyakit sudah terjadi. Penderita

DM Tipe 2 umumnya lebih mudah terkena infeksi, sukar sembuh dari

luka, daya penglihatan makin buruk, dan umumnya menderita hipertensi,

hiperlipidemia, obesitas dan juga komplikasi pada pembuluh darah dan

saraf (Rahmawati, 2014).

Diagnosis diabetes melitus dipastikan bila :

a. Terdapat keluhan khas diabetes (poliuria, polidipsia, polifagia dan

penurunan berat badan yang tidak jelas penyebabnya) di sertai dengan

satu nilai pemeriksaan glukosa darah tidak normal (> 200 mg/dl waktu

tidak puasa, dan 5 126/dl waktu puasa).

b. Terdapat keluhan yang khas tidak lengkap atau terdapat keluhan tidak

khas (lemah, kesemutan, gatal, mata kabur dsb) diserati dengan dua

nilai pemeriksaan glukosa darah tidak normal (glukosa darah sewaktu

≥ 200 mg/dl) yang diperiksa pada hari yang sama atau pada yang

berbeda.
14

Ada 3 jenis pencegahan terhadap penyakit diabetes melitus

(Martinus, 2005) :

a. Pencegahan primer, mencakup kegiatan yang ditujukan untuk

mencegah agar diabetes tidak terjadi pada orang atau populasi yang

rentan melalui modifikasi faktor resiko/determunan lingkungan dan

perilaku atau intervensi khusus terhadap orang yang rentan. Dalam

praktek pencegahan primer meliputi berbagai kegiatan yang dilakukan

sebelum timbul tanda-tanda klinis diabetes melitus, yaitu pemenuhan

diagnostik yang dianjurkan WHO. Ada 2 pencegahan primer yaitu :

1) Kegiatan-kegiatan yang ditargetkan pada penurunan frekuensi

tingkat faktor-faktor resiko penyebab perkembangan diabetes

untuk semua populasi atau kelompok perorangan, terutama mereka

yang berisiko tinggi (pendekatan masyarakat).

2) Kegiatan-kegiatan ditargetkan pada pencegahan terhadap orang

tertentu yang telah menunjukkan tanda awal proses penyakit agar

tidak terjadi perkembangan tanda klinis diabetes (pendekatan

resiko tinggi). Pendekatan ini mencakup strategi intervensi (dengan

atau tanpa obat) terhadap orang yang toleransi glukosanya tidak

normal atau ketidak normalan metabolik lain atau kerusakan

imunologik/tanda-tand lain kerusakan sel beta.

b. Pencegahan sekunder, mencakup kegiatan seperti penapisan, yang

ditunjukan pada pendeteksian dini diabetes serta penanganan segera

dan efektif keadaan tersebut dengan tujuan untuk memperbaiki


15

keadaan dan atau menghentikan kemajuannya. Dalam praktik kegiatan

ini meliputi strategi yang ditunjukan untuk menemukan kasus-kaasus

diabetes yang belum terdiagnosa. Kegiatan dapat ditujukan pada

golongan/populasi atau kelompok resiko tinggi.

c. Pencegahan tersier, adalah setiap langkah yang dilakukan guna

mencegah penyakit atau kecacatan yang diakibatkan oleh diabetes,

yaitu untuk mencegah dampak negative (komplikasi) diabetes pada

orang-orang yang telah menderita penyakit tersebut. Dalam praktik

berarti pendeteksiaan dini, penanganan efektif, pengetahuaan dan

pengawasan metabolik. Tiga langkah utama pencegahan tersier

meliputi :

1) Pencegahan perkembangan penyulit

2) Pencegahan progresi penyulit menjadi penyakit jaringan atau organ

yang muncul secara klinis

3) Pencegahan kecacatan akibat payah organ atau jaringan.

6. Patofisiologi

Pada diabetes melitus tipe 2, pankreas masih memproduksi insulin

kendati jumlahnya terlalu sedikit atau tidak efektif. Di samping itu,

reseptor insulin yang mengontrol transportasi gula ke dalam sel tidak

bekerja dengan baik atau berkurang jumlahnya. Diabetes tipe 2 secara

khas terjadi pada mereka yang berusia di atas 40 tahun. Sebagian besar

pasien yang baru didiagnosis sebagai penyandang diabetes melitus tipe 2

mempunyai berat badan berlebih (overweight), tetapi masih mampu


16

mengendalikan diabetesnya lewat diet dan penurunan berat badan.

Sebagian pasien lagi dapat memerlukan pengobatan oral atau penyuntikan

insulin untuk mencapai gula darah yang dikendalikan (Mayer. K. W,

2012).

7. Penatalaksanaan

Penatalaksanaan diabetes, terutama pada DM tipe 2. Tujuan

penatalaksanaan diet DM adalah mencapai dan mempertahankan kadar

gula darah, lipid, berat badan dalam tingkatan mendekati normal,

mencegah komplikasi akut dan kronis serta meningkatkan kualitas hidup

pasien DM.

Penatalaksanaan DM bertujuaan untuk mengurangi gejala-

gejala,mempertahankan berat badan ideal dengan mengatur pola makan

dan mencegah terjadinya komplikasi.

Secara garis besar penatalaksanaannya dilakukan dengan:

a. Diet

Diet dapat mengendalikan berat badan merupakan dasar dari

penatalaksanaan DM. konsensus pengumpulan Endokrinologi

Indonesia (PERKENI) menetapkan bahwa asupan nutrisi yang

dianjurkan pada klien dengan DM yaitu karbohidrat (60-70%)., Protein

(10-15%), dan lemak (20-25%). Jumlah kalori di sesuaikan dengan

pertumbuhan, status gizi, umur, stress akut, dan kegiatan jasmani

untuk mencapai berat badan ideal. Penatalaksanaan nutrisi pada

penderita DM diarahkan untuk mencapai tujuan berikut ini :


17

1. Memberikan semua unsur makanan esensial seperti vitamin dan

mineral.

2. Mencapai dan mempertahankan berat badan yang sesuai.

3. Memenuhi kebutuhan energy.

4. Mencegah fluktuasi kadar glukosa darah setiap harinya dengan

mengupayakan kadar mendekati normal melalui cara-cara yang

aman dan praktis.

Dalam Al-Qur’an Surat Al-A’araf Ayat 31 :

‫واو ُكلُوا‬ َ ُ‫س ِرف‬


َ ُ‫واواش َْرب‬ ْ ‫ا ْل ُم‬
ْ ُ ‫س ِرفِينَ ِإنَّ ُهاليُ ِحبُّ َوالت‬

Terjemahan :

“Makan dan minumlah, tapi jangan melampui batas, karena Allah

tidak menyukai orang yang melampui batas (Q.S.al-A’araf.31).

Salah satu akibat dari makan berlebihan adalah tubuh menjadi gemuk

(BMI>25) dan produksi berlebihan radikal bebas. Kelebihan berat badan,

radikal bebas ini dapat menimbulkan “resitensi insulin” atau “metabolites

syndrome” yang selanjutnya akan memicu timbulnya penyakit diabetes

melitus.

b. Olahraga

Sangat penting dalam pelaksaanan DM karena efeknya dapat

menurunkan kadar glukosa darah dan mengurangi factor resiko

kardiovaskuler. Latihan akan menurunkan kadar glukosa darah dengan

meningkatkan pengambilan glukosa oleh otot dan meperbaiki

pemakaian insulin,sirkulasi darah dan tonus otot. Latihan ini sangat


18

bermanfaat pada penderita DM karena dapat menurunkan

BB,mengurangi rasa stress dan mempertahankan kesegaran tubuh.

Merubah kadar lemak darah yaitu meningkatkan kadar High Density

Lipoprotein (HDL)-kolesterol dan menurunkan kadar kolesterol totol

serta trigliserida.

Latihan yang dianjurkan adalah 3-4 seminggu selama 30 menit.

Meskipun demikian penderita DM dengan kadar glukosa >250 mg/dl

(14 mmol/dl) dan menunjukkan adanya keton dalam urine tidak boleh

melakukan latihan sebelum pemeriksaan keton urine memperlihatkan

hasil negative dan kadar glukosa darah telah mendekati normal.latihan

dengan kadar glukosa darah yang tinggi akan meningkatkan skresi

glukogen, Growth Hormone (GH) dan katekolamin. Peningkatan

hormone ini membuat hati melepas lebih banyak glukosa sehingga

terjadi kenaikan kadar glukosa darah.

c. Obat-obatan

1. Golongan sulfonylurea

Cara kerja golongan sulfonilurea adalah merangsang sel β pancreas

untuk mengeluarkan insulin, jadi hanya bekerja bila sel-sel β utuh.

Obat ini juga mampu menghilangi peningkatan insulin,

mempertinggi kepekaan jaringan terhadap insulin dan menekan

pengeluaran glukogen. Efek samping yang dibutuhkan adalah

mual,muntah, sakit kepala, vertigo dan demam. Selain itu juga

dapat terjadi dermatitis, pruritas, lekopeni, trombositopeni, dan


19

anemia. Kontra indikasi pemberian obat golongan ini adalah pada

penyakit hati, ginjal dan thyroid.

2. Golongan biguanid

Gelongan biguaid tidak sama dengan sulfonilurea karena tidak

merangsang sekresi insulin. Biguanid menurunkan kadar glukosa

darah menjadi normal dan istimewanya tidak menyebabkan

hipoglikemia. Efek samping penggunaan obat ini adalah nausea,

muntah, dan diare.

3. Insulin

Indikasi pemberian insulin pada klien dengan DM ada pada :

a. Semua penderita DM dari setiap umur (baik IDDM/NIDDM)

dalam keadaan ketoasidosis.

b. Diabetes yang masuk dalam klasifikasi IDDM yaitu juvenile

diabetes.

c. Penderita yang kurus.

d. Bila dengan obat oral tidak berhasil.

e. Kehamilan

f. Bila terjadi komplika mikroagiopati.

B. Tinjaun UmumTentang Self Care Diabetes Melitus

1. Defenisi

Self care merupakan salah satu teori keperawatan yang

dikembangkan oleh Dorothea Orem. Pengertian self care menurut Orem

adalah suatu pelaksanaan kegiatan yang diprakarsai dan dilakukan oleh


20

individu itu sendiri untuk memenuhi kebutuhan guna mempertahankan

kehidupan, kesehatan dan kesejahteraannya sesuai keadaan, baik sehat

maupun sakit (Kusniawati,. 2011).

Teori self care dalam keperawatan yang dikemukakan oleh

Dorothea Orem, bertujuan untuk meningkatkan kemendirian klien sehinga

klien dapat berfungsi secara optimal. Menurut Orem asuhan keperawatan

dilakukan dengan keyakinan bahwa setiap orang mempelajari kemampuan

untuk merawat diri senidi sehingga dapat membantu individu untuk

memenuhi kebutuhan hidup, memelihara kesehatan dan kesejahteraan,

orang dewasa dapat merawat diri mereka sendiri, sedangkan orang sakit

membutuhkan bantuan untuk memenuhi aktivitas self care mereka (self

care deficit). Diyakini bahwa semua manusia itu mempunyai kebutuhan –

kebutuhan self care dan mereka mempunyai hak untuk mendapatkan

kebutuhan itu sendiri kecuali bila tidak mampu. Perawat mengupayakan

agar klien mampu mandiri dalam memenuhi semua kebutuhannya

tersebut, demikian halnya dengan klien diabetes, diharapkan mereka

mampu melakukan self care diabetes tanpa bantuan orang lain karena

perilaku self care diabetes merupakan tanggung jawab bagi setiap klien

diabetes.

Beberapa sumber menjelaskan bahwa dalam aplikasi di klinik self

care diabetes diartikan sama dengan self management pada klien DM. self

care diabetes merupakan program atau tindakan yang harus dijalankan

sepanjang kehidupan klien dan menjadi tanggung jawab penuh bagi setiap
21

klien diabetes (Bai et al, 2009). Self care diabetes adalah tindakan yang

dilakukan perorangan untuk mengontrol diabetes yang meliputi tindakan

pengobatan dan pencegahan komplikasi (Sigurdardottir, 2005; Medical

dictionary, 2009). Sedangkan Sousa & Zauszniewski, 2005).

Mendefenisikan self care diabetes merupakan kemampuan seorang dalam

melakukan self care dan penampilan tindakan self care diabetes untuk

meningkatkan peningkatan pengaturan gula darah.

Berdasarkan uraian pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa self

care diabetes adalah tindakan mandiri yang dilakukan oleh klien diabetes

dalam kehidupan sehari-hari dengan tujuan untuk mengontrol gula darah

yang meliputi aktivitas pengaturan pola makan (diet), latihan fisik

(olahraga), pemantauan kadar gula darah, minum obat dan perawatan kaki.

2. Faktor-faktor yang mempengaruhi self care diabetes mellitus tipe 2

Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi klien dalam melakukan self

care diabetes mellitus yaitu:

a. Usia

Beberapa hasil penelitian menjeleskan hubungan antara usia dengan

self care diabetes. Usia yang mempunyai hubungan yang positif

terhadap self care diabetes mellitus. Semakin meningkat usia maka

akan terjadi peningkatan dalam aktivitas self care diabetes mellitus.

Peningkatan usia menyebabkan terjadinya peningkatan

kedewasaan/kematangan seseorang sehingga klien dapat berfikir

secara rasional tentang manfaat yang akan dicapai jika klien


22

melakukan aktivitas self care diabetes mellitus secara adekuat dalam

kehidupannya sehari-hari.

b. Jenis Kelamin

Jenis kelamin memberikan kontribusi yang nyata terhadap self care

diabetes mellitus. Dijelaskan bahwa klien dengan jenis kelamin

perempuan menunjukkan perilaku self care diabetes mellitus lebih

baik dibandingkan dengan klien yang berjenis kelamin laki-laki.

Aktivitas self care diabetes mellitus harus dilaksanakan oleh klien

diabetes mellitus baik laki-laki maupun perempuan, hanya saja pada

kenyataanya perempuan tampak lebih peduli terhadap kesehatannya

sehingga ia berupaya secara optimal untuk melakukan perawatan

mandiri terhadap penyakit yang dialaminya.

c. Sosial Ekonomi

Sosial ekonomi berpengaruh terhadap self care diabetes mellitus.

Adapun hubungan yang dapat dilihat adalah hubungan yang bersifat

positif dimana pada klien dengan status sosial ekonomi yang tinggi

maka perilaku self care diabetesnya akan meningkat (Bai et al, 2007).

Diabetes mellitus merupakan penyakit kronik yang membutuhkan

biaya yang cukup mahal dalam perawatannya. Jika status ekonomi

klien kurang memadai akan menyebabkan klien mengalami kesulitan

untuk melakukan kunjungan kepusat pelayanan kesehatan secara

kesulitan untuk melakukan kunjungan kepusat pelayanan kesehatan

secara teratur, sehingga sulit untuk memantau bagaimana


23

perkembangan status kesehatan klien dan klien akan mengalami

kecendrungan terjadinya resiko komplikasi diabetes.

d. Lama menderita DM

Lamanya menderita DM berpengaruh terhadap self care diabetes

mellitus. Adapun hubungan yang terjadi diantara keduanya adalah

hubungan yang bersifat positif. Klien dengan durasi DM lebih lama

memiliki skor self care diabetes mellitus yang lebih tinggi

dibandingkan dengan klien yang memiliki durasi DM lebih pendek.

Klien yang mengalami DM lebih dari 11 tahun dapat mempelajari

perilaku self care diabetes mellitus berdasarkan pengalaman yang

diperolehnya selama menjalani penyakit tersebut sehingga klien dapat

lebih memahami tentang hal-hal terbaik yang harus dilakukannya

untuk mempertahankan status kesehatan, salah satunya dengan cara

melakukan aktifitas self care diabetes mellitus dalam kehidupannya

sehari-hari dan melakukan kegiatan tersebut secara konsisten dan

penuh rasa tanggung jawab. Durasi DM yang lebih lama pada umunya

memiliki pemahaman yang adekuat tentang pentingnya self care

diabetes mellitus sehingga dapat dijadikan sebagai dasar bagi mereka

untuk mencari informasi yang seluas-luasnya tentang perawatan

diabetes melalui berbagai cara/media dan sumber informasi lainnya.

e. Aspek Emosional

Aspek emosional diketahui mempunyai hubungan yang signifikan

terhadap perilaku self care diabetes mellitus. Masalah emosional yang


24

biasanya dialami oleh klien diabetes yaitu stress, sedih, rasa khawatir

akan masa depan, memikirkan komplikasi jangka panjang yang akan

mungkin muncul, perasaan takut hidup dengan diabetes, merasa tidak

semangat dengan program pengobatan yang harus jalani, khawatir

terhadap perubahan kadar gula darah dan bosan dengan perawatan

rutin yang harus dijalani.

f. Motivasi

Menurut nursalam & effendi (2008) dijelaskan bahwa motivasi

merupakan kondisi internal yang membankitkan seseorang untuk

bertindak, mendorong seseorang untuk mencapai tujuan tertentu dan

membuat seseorang tetap tertarik dalam kegiatan tertentu. Sedangkan

menurut Uno (2007) motivasi dapat diartikan sebagai dorongan

internal dan eksternal dalam diri seseorang yang di indikasi dengan

adanya :

1. Harsat dan minat untuk melakukan kegiatan

2. Dorongan dan kebutuhan untuk melakukan kegiatan

3. Harapan dan cita-cita

4. Penghargaan dan penghormatan terhadap diri

5. Lingkungan yang baik serta

6. Kegiatan yang menarik

Motivasi dapat menimbulkan suatu perubahan energi dalam diri

seseorang dan pada akhirnya akan berhubungan dengan kejiwaan,

perasaan dan emosi untuk bertindak dan melakukan sesuatu untuk


25

mencapai tujuan, kebutuhan dan keinginan tertentu. Kegiatan tersebut

dapat terlaksana dengan baik jika didukung oleh adanya kekuatan

pendorong baik dalam diri maupun diluar diri manusia.

Fungsi motivasi menurut purwanto (2000) yaitu :

1. Mendorong manusia untuk berbuat atau bertindak

2. Pengerak atau motor yang memberikan energi (kekuatan) kepada

seseorang untuk melakukan sesuatu

3. Menentukan arah perbuatan, motivasi ini menuju kearah perwujudan

suatu tujuan atau cita-cita

4. Menyeleksi perbuatan, artinya menentukan perbuatan-perbuatan mana

yang harus dilakukan guna mencapai tujuan dengan mengsampingkan

perbuatan yang tidak bermanfaat bagi tujuan tersebut.

Motivasi merupakan faktor yang penting bagi klien DM karena

motivasi yang ada pada diri klien DM akan mampu memberikan dorongan

yang ada pada diri klien DM akan mampu memberikan dorong yang kuat

bagi klien DM untuk melakukan perilaku self care diabetes, sehingga akan

tercapai pengontrolan gula darah secara optimal dan meminimalkan

terjadinya komplikasi akibat diabetes. Shigaki et al (2010) menjelaskan

bahwa motivasi diri merupakan faktor yang signifikan mempengaruhi

klien DM dalam melakukan self care diabetes terutama dalam hal

mempertahankan diet dan monitor gula darah. Klien yang memiliki

motivasi baik akan melakukan tindakan self care diabetes dengan baik

pula untuk mencapi tujuan yang diinginkan yaitu pengontrolan gula darah
26

sehingga pada akhirnya komplikasi DM diminimalkan (Kusniawati.

2011).

C. Perawatan Kaki Diabetes

Ketika seseorang didiagnosa menderita diabetes, perawatan kaki

yang tepat menjadi sangat penting. Dalam melakukan perawatan kaki,

diperlukan kemampuan fisik mandiri. World Health Organization (2012)

menjelaskan bahwa aktifitas fisik mandiri mampu dilakukan pada usia dewasa

dengan rentang usia 18- 64 tahun. Perawatan kaki yang buruk pada diabetisi

akan mengakibatkan masalah kesehatan yang serius, di antaranya amputasi

kaki. American Diabetes Association merekomendasikan pemeriksaan kaki

tahunan oleh tenaga kesehatan dan pemeriksaan kaki harian oleh diabetisi atau

keluarganya. Tindakan awal ini bisa mencegah dan mengurangi sebesar 50%

dari seluruh amputasi yang disebabkan diabetes (Rowland, 2009).

Di bawah ini beberapa komponen dari perawatan kaki yang

dianjurkan bagi diabetisi (Seibel, 2009):

1. Mencuci dan mengeringkan kaki harian

Diabetisi dianjurkan untuk mencuci kedua kakinya menggunakan

sabun lembut dan air hangat. Setelah dicuci, dilanjutkan dengan

mengeringkan kaki dengan handuk lembut, dilanjutkan dengan

memberikan lotion. Lotion tidak dianjurkan diberikan di sela-sela jari. Hal

ini dilakukan dengan tujuan untuk menjaga kondisi kaki tetap kering,

bersih, dan lembut.


27

2. Memeriksa kondisi kaki setiap hari

Kondisi kaki diabetisi harus diperiksa dari tanda-tanda yang

berisiko meningkatkan kejadian / awal dari ulkus kaki diabetes. Diabetisi

diajarkan agar mampu melihat dan mengenali kondisi punggung dan

telapak kaki dari tanda- tanda: kering dan pecah-pecah, lepuh, luka,

kemerahan, teraba hangat dan bengkak saat diraba. Adanya bentuk kuku

yang tumbuh ke arah dalam (ingrown toenails), kapalan dan kalus juga

harus diwaspadai. Jika terdapat tanda-tanda tersebut, diabetisi dianjurkan

segera ke tenaga kesehatan khusus untuk mendapat perawatan kaki lebih

awal.

3. Merawat kuku

Cara memotong kuku juga harus mendapat perhatian dari diabetisi.

Hal ini diharapkan mampu mencegah terjadinya infeksi di kaki.

Memotong kuku dianjurkan dilakukan setelah mandi, saat kondisi kuku

masih lembut. Kuku harus dipotong menggunakan alat pemotong kuku,

dipotong secara mendatar, dan tidak boleh memotong sudut-sudut pada

kuku. Jika diabetisi tidak yakin dalam memotong kuku, dianjurkan untuk

meminta bantuan tenaga kesehatan khusus perawatan kaki diabetes untuk

membantu diabetisi dalam memotong kuku kakinya.

4. Hati-hati saat olahraga

` Diabetisi dianjurkan tidak bertelanjang kaki dan memakai sepatu

yang nyaman saat berolahraga. Hal ini bisa mencegah terjadinya trauma
28

pada kaki akibat terkena benda asing ataupun akibat gesekan dari sepatu

yang kurang tepat dan nyaman.

5. Melindungi kaki dengan sepatu dan kaos kaki

Diabetisi tidak diperbolehkan bertelanjang kaki saat bepergian.

Sepatu yang dianjurkan adalah sepatu tanpa “hak” tinggi, sepatu yang

menampakkan jari-jari dan tumit. Saat membeli sepatu baru, harus

mencoba terlebih dahulu dengan menggunakan kaos kaki yang biasa

dipakai, dan pemakaian sepatu harus dilakukan secara bertahap. Sepatu

baru disarankan tidak dipakai secara terus- menerus sampai lebih dari

satu jam. Hal ini untuk melihat apakah sepatu tersebut nyaman dan

sesuai dengan kaki diabetes. Penggunaan kaos kaki dianjurkan yang

tidak ketat, dan dari bahan yang mampu menyerap keringat dengan baik

(katun atau wool). Saat diabetisi diketahui mengalami neuropati perifer,

sebaiknya diabetisi langsung dilibatkan dalam tindakan pencegahan.

Diabetisi dan keluarga dianjurkan untuk melakukan perawatan kaki

harian.

D. Aplikasi teori self-care Dorothea Orem pada perawatan kaki diabetisi

Model konseptual dan Grand Theory Orem tentang self-care memiliki

asumsi mayor yang sangat berkaitan dengan perawatan kaki diabetisi. Tomey

dan Alligood (2002) menjelaskan asumsi mayor dari teori ini adalah: 1)

manusia harus memiliki kesadaran diri dan bertanggungjawab terhadap

perawatan dirinya sendiri dan orang lain di dalam memberikan perawatan

dalam keluarga; 2) Manusia merupakan individu-individu yang berbeda; 3)


29

Keperawatan adalan bentuk suatu tindakan dimana terjadi interaksi antara dua

atau lebih manusia; 4) Keberhasilan pemenuhan kebutuhan self care secara

menyeluruh merupakan komponen utama dalam perawatan primer dan

pencegahan penyakit; 5) Pengetahuan individu tentang masalah kesehatan

sangat penting untuk mendukung perilaku self care; 6) self care dan

perawatan mandiri merupakan perilaku yang dipelajari dalam konteks sosial

kultural.

Penyakit DM berakibat jangka panjang dalam kehidupan seorang

diabetisi, yang ditandai dengan tanda dan gejala yang mucul dan mengganggu

kesehatan. Orem (1995) menyebutkan bahwa self care merupakan aktivitas

personal untuk menjaga dan mempertahankan kesehatan dan juga pencegahan

komplikasi dari penyakit yang dialami individu (Abrahim, 2011). Beberapa

cara untuk pencegahan dilakukan untuk memperlambat beberapa komplikasi

akibat DM (Mybanya, 2009). Sejalan dengan Orem, Schoenberg (2001)

mendefinisikan bahwa merupakan tugas individu untuk memutuskan perilaku

yang tepat yang menguntungkan kesehatannya, mencegah penyakit tambahan,

membangun kembali kesehatan, dan mempertahankan kemandiriannya

berdasarkan kepatuhan dan meningkatnya perspektif individu.

Self care pada diabetisi merupakan faktor penting dalam

mengendalikan penyakitnya, dan hampir 95% perawatan diabetisi dipengaruhi

oleh konsistensi diabetisi dan keluarganya dalam pemantauan glukosa darah

mandiri, nutrisi, aktifitas fisik, dan pengobatan. Jika diabetisi dan keluarga

tidak konsisten dalam penatalaksanaan diabetes, akan muncul berbagai


30

masalah kesehatan. Menurut teori self care deficits, Orem menjelaskan bahwa

peran perawat sangat dibutuhkan untuk mengatasi masalah tersebut. Beberapa

strategi untuk mengatasi masalah self care deficits yang diidentifikasi oleh

Orem yaitu: 1) Berbuat untuk orang lain; 2) Mengarahkan orang lain: 3)

Mendukung orang lain: 4) Menciptakan lingkungan yang mendukung

perkembangan individu untuk memenuhi kebutuhan di masa yang akan

datang; 4) Mengajari orang lain. Hal ini menunjukkan bahwa peran perawat

dalam mengatasi masalah perawatan kaki yang kurang baik bisa dilakukan

dengan pendidikan kesehatan bagi diabetisi.

Orem juga menjelaskan lebih lanjut tentang nursing system, yang

menjelaskan tentang pemenuhan kebutuhan self care pasien yang bisa

dilakukan oleh perawat, oleh pasien sendiri, ataupun keduanya. Nursing

system yang diklasifikasikan Orem yaitu wholly compensatory, partly

compensatory dan supportive compensatory. Bantuan self care diberikan oleh

perawat sesuai tingkat deficit pasien. Pada perawatan kaki diabetes perawat

diharapkan memilih supportive compensatory dalam bentuk memandu,

mengarahkan dan mengajarkan dalam pendidikan kesehatan bagi diabetisi

berisiko ulkus kaki diabetes.

E. Tinjauan Umum Tentang Kualitas hidup pasien diabetes mellitus

1. Defenisi

Kualitas hidup adalah ukuran konseptual atau operasional yang

sering digunakan dalam situasi penyakit kronik sebagai cara untuk

menilai dampak terapi pada pasien (Brooker, 2009). Pengukuran


31

konseptual mencakup kesejahteraan, kualitas kelangsungan hidup,

kemampuan seseorang untuk secara mandiri melalukan kegiatan sehari-

hari (Montazeri et al 1996 dalam Brooker, 2009).

Menurut Unit Penelitian Kualitas Hidup Universitas Toronto,

kualitas hidup adalah tingkat dimana seseorang menikmati hal-hal

penting yang mungkin terjadi dalam hidupnya, masing-masing orang

memiliki kesempatan dan keterbatasan dalam hidupnya yang

merefleksikan interaksinya dan lingkungan, sedangkan kenikmatan itu

sendiri terdiri dari dua komponen yaitu pengalaman dari kepuasan dan

kepemilikan atau prestasi (Universitas Toronto, 2004).

Menurut World Health Organization Quality of Life

(WHOQOL) kualitas hidup di definisikan sebagai persepsi individu

terhadap posisinya, dan berhubungan dengan tujuan, harapan, standar

dan minat. Definisi ini merupakan konsep yang sangat luas,

menggabungkan kesehatan fisik seseorang, status psikologis,

tingkat kemandirian, hubungan sosial, kepercayaan personal dan

hubungannya dengan lingkungan (WHO, 1998).

2. Kegunaan pengukuran kualitas hidup

Pada umumnya penilaian kualitas hidup dilakukan melalui

pemeriksaan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan atau melalui

pemeriksaan laboratorium. Instrument WHOQOL (The World Health

Organization Of Quality Of Life Instrument) dengan fokus pada

pandangan individu tentang kesejahteraan memberikan pandangan baru


32

terhadap penyakit. Misalnya pemahaman tentang diabetes mellitus terkait

kurangnya pengaturan tubuh terhadap glukosa darah sudah baik, namun

efek dari penyakit mempengaruhi persepsi individu terhadap hubungan

sosial, kemampuan bekerja, status pendapatan dan membutuhkan yang

lebih.

Dalam pengukuran HRQOL (Health Related Quality of Life) dapat

digunakan beberapa instrumen yang telah dibuat dan digunakan untuk

mengevaluasi HRQOL. Tidak ada instrumen yang paling baik, tetapi

masing- masing instrumen dibuat kesesuaiannya dengan tujuan yang ingin

dicapai (Cramer & Spilker 1998 dalam Silaban, 2013).

Instrument WHOQOL digunakan dalam praktek medis, digunakan

untuk meningkatkan hubungan tenaga kesehatan dengan pasien, untuk

menilai keefektifan dari pengobatan, dalam evaluasi pelayanan kesehatan,

untuk penelitian dan untuk membuat kebijakan.

Kualitas hidup diakui sebagi kriteria paling penting dalam penilaian

hasil medis dari pengobatan penyakit kronik seperti diabetes mellitus.

Persepsi individu tentang dampak dan kepuasan tentang derajat kesehatan

dan keterbatasannya menjadi penting sebagai evaluasi akhir terdapat

pengobatan.

Kualitas hidup terkait respon terhadap pengobatan khusus dapat

menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi individu untuk tetap

memilih melanjutkan pengobatannya atau menghentikan pengobatan.

Terkait dengan pasien DM, kualitas hidup dikaji untuk menilai tekanan
33

personal dalam melakukan manajemen penyakit DM dan bagaimana

tekanan tersebut dapat menurunkan kualitas hidup (Yusra. A, 2011).

F. ASUHAN KEPERAWATAN

1. Pengkajian

Pengkajian pada klien dengan gangguan sistem endokrin diabetes melitus

dilakukan mulai dari pengumpulan data yang meliputi : biodata, riwayat

kesehatan, keluhan utama, sifat keluhan, riwayat kesehatan masa lalu,

pemeriksaan fisik, pola kegiatan sehari-hari.

a) Aktifitas dan istrahat

Kelemahan, susah berjalan/bergerak, kram otot, gangguan istrahat dan

tidur, takikardi/takhipnea pada waktu melakukan aktivitas dan koma.

b) Sirkulasi

Riwayat hipertensi, penyakit jantung seperti IMA, nyeri, kesemutan

pada ekstremitas bawah, luka yang sukar sembuh, kulit kering, merah

dan bola mata cekung.

c) Eliminasi

Poliuria, noktori, nyeri, rasa terbakar, diare, perut kembung dan pucat.

d) Nutrisi

Nausea, vomitus, berat badan menurun, tugor kulit jelek, mual/muntah.

e) Neurosensori

Sakit kepala, mengatakan seperti mau muntah, kesemutan, lemah otot,

disorientasi, letargi, koma dan bingung.


34

f) Nyeri

Pembengkakan perut, meringis.

g) Respirasi

Takhipnea, kussmual, ronchi, wheezing dan sesak nafas.

h) Keamanan

Kulit rusak, lesi/ulkus, menurunnya kekuatan umum.

i) Seksualitas

Adanya peradangan pada daerah vagina, serta orgasme menurun dan

terjadi impotensi pada pria.

2. Diagnose keperawatan

Diagnose keperawatan adalah proses menganalisis data subjektif dan

objektif yang telah diperoleh pada tahap pengkajian untuk menegakkan

diagnosis keperawatan. Diagnosis keperawatan melibatkan proses berfikir

kompleks tentang data yang dikumpulkan dari klien, keluarga, rekan

medic, dan pemberi pelayanan kesehatan yang lain

Diagnose keperawatan pada pasien dengan diabetes melitus ( doenges,

1999) adalah :

a) Kekurangan volume cairan berhubungan dengan dieresis osmotic,

kehilangan gastrik, berlebihan diare, mual, muntah, masukan dibatasi,

kacau mental.

b) Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan

ketidakcukupan insulin, penurunan masukan oral : anoreksia, mual,


35

lambung penuh, nyeri abdomen, perubahan kesadaran : status

hipermetabolisme, pelepasan hormone stress.

c) Resiko tinggi terjadi infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya

pertahanan perifer, perubahan sirkulasi, kadar gula darah yang tinggi,

prosedur invasif dan kerusakan kulit.

d) Kelemahan berhubungan dengan penurunan produksi energy

metabolic, perubahan kimia darah, insufisiensi insulin, peningkatan

kebutuhan energy, status hipermetabolisme/infeksi.

3. Rencana Keperawatan

Perencanaan/intervensi adalah kategori dari perilaku keperawatan

dimana tujuan yang berpusat pada klien dan hasil yang diperkirakan

ditetapkan dan intervensi keperawatan dipilih untuk mencapai tujuan

tersebut.

Intervensi dan implementasi keperawatan pada pasien dengan diabetes

melitus meliputi :

a) Kekurangan volume cairan berhubungan dengan dieresis osmotik,

kehilangan gastrik, berlebihan (diare, muntah) masukan diabetes

(mual, kacau muntah).

Tujuan : pasien menunjukkan adanya perbaikan keseimbangan cairan,

dengan kriteria ; tanda vital stabil, nadi perifer dapat diraba, tugor kulit

dan pengisian kapiler baik, keluaran urin tepat secara individu, dan

kadar elektrolit dalam batas normal.

Intervensi
36

1) Pantau tanda-tanda vital, catat adanya perubahan tekanan darah

ortestastik.

R : hipovolemia dapat dimanifestasikan oleh hipotensi dan

takikardi.

2) Kaji pola napas dan bau napas

R : Paru-paru mengeluarkan asam karbonat melalui pernapasan

yang menghasilkan kompensasi alkosis respiratoris terhadap

keadaan ketoasidosis.

3) Kaji suhu, warna dan kelembaban kulit.

R : Demam, mengigil, dan diaferesis merupakan hal umum terjadi

pada proses infeksi. Demam dengan kulit yang kemerahan, kering,

mungkin gambaran dari dehidrasi.

4) Kaji nadi perifer, pengisian kapiler, tugor kulit dan membrane

mukosa.

R : Merupakan indikator dari tingkat dehidrasi atau volume

sirkulasi yang adekuat.

5) Pantau intake dan output. Catat berat jenis urine.

R : Memberikan perkiraan kebutuhan akan cairan pengganti, fungsi

ginjal dan keefektifan dari terapi yang diberikan.

6) Ukur berat badan setiap hari.

R : Memberikan hasil pengkajian yang terbaik dari status cairan

yang sedang berlangsung dan selanjutnya dalam memberikan

cairan pengganti.
37

7) Kolaborasi pemberian terapi cairan sesuai indikasi.

R : Tipe dan jumlah dari cairan tergantung pada derajat kekurangan

cairan dan respon pasien secara individual.

b) Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan

ketidakcukupan insulin, penurunan masukan oral : anoreksia, mual,

lambung penuh, nyeri abdomen, perubahan kesadaran : status

hipermetabolisme, pelepasan hormone stress.

Tujuan : berat badan dapat meningkat dengan nilai laboratorium

normal dan tidak ada tanda-tanda malnutrisi.

Kriteria Hasil :

1) Klien dapat mencerna jumlah kalori/nutrient yang tepat.

2) Klien dapat menunjukkan tingkat energy biasanya.

3) Mendemonstrasikan berat badan yang stabil atau penambahan

kearah rentang biasanya/yang diinginkan dengan nilai laboratorium

normal.

Intervensi

1) Timbang berat badan setiap hari sesuai indikasi.

R : Mengetahui pemasukan makanan yang adekuat.

2) Tentukan program diet dan pola makanan pasien dibandingkan

dengan makanan yang dapat dihabiskan pasien.

3) Observasi tanda-tanda hipoglikemia, seperti perubahan tingkat

kesadaran, dingin/lembab, denyut nadi cepat, lapar dan pusing.


38

R : Secara potensial dapat mengancam kehidupan, yang harus

dikali dan ditangani secara tepat.

4) Kolaborasi dalam pemberian insulin secara teratur dengan metode

IV secara intermitten atau secara kontinu.

R : Insulin ileguler memiliki awitan cepat dan karenanya dengan

cepat pula dapat membantu memindahkan glukosa ke dalam sel.

5) Kolaborasi pemberian diet 60% karbohidrat, 20% protein, dan 20%

lemak dalam penataan makan/pemberian makanan tambahan.

R : komples karbohidrat (seperti jagung, wortel, bronkoli, boncis,

gandum, dll). Menurunkan kadar darah, dan meningkatkan rasa

kenyang.

c) Resiko tinggi terjadi infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya

pertahanan perifer, perubahan sirkulasi, kadar gula darah yang tinggi,

persedur invasive dan kerusakan kulit.

Tujuan : infeksi tidak terjadi

Kriteria Hasil :

1) Mengidentifikasi faktor-faktor resiko individu dan intervensi untuk

mengurangi potensial infeksi.

2) Pertahankan lingkungan aseptic yang aman.

Intervensi

1) Observasi tanda-tanda infeksi dan peradangan seperti demam,

kemerahan, adanya pus pada luka, spatum purulen, urin warna

keruh dan berkabut.


39

R : Pasien masuk mungkin masuk dengan infeksi yang biasanya

telah mencetus keadaan ketosidosis atau dapat mengalami infeksi

nosokomial.

2) Tingkatkan upaya pencegahan dengan melakukan cuci tangan yang

baik, setiap kontak pada semua barang yang berhubungan dengan

pasien termasuknya sendiri.

R : Mencegah timbulnya infeksi nosokomial.

3) Pertahankan teknik aseptik pada prosedur invasive (seperti

pemasangan infus, kateter folley, dsb).

R : Kadar glukosa yang tingggi dalam darah akn menjadi media

terbaik bagi pertumbuhan kuman.

4) Berikan perawatan kulitdengan teratur dan sungguh-sungguh.

Masase daerah tulang yang tertekan, jaga kulit tetap kering, linen

kering dan tetap kencang (tidak berkerut).

R : sirkulasi perifer bisa terganggu yang menempatkan pasien pada

peningkatan resiko terjadinya kerusakan pada kulit/iritasi dan

infeksi.

d) Kelelahan berhubungan dengan penurunan produksi energy metabolic,

perubahan kimia darah, insufisiensi insulin, peningkatan kebutuhan

energy, status hipermetabolisme/infeksi.

Tujuan : Rasa lelah berkurang/penurunan rasa lelah.

Kriteria Hasil :
40

1) Menyatakan mampu untuk beristrahat dan peningkatan tenaga

2) Mampu menunjukakn factor yang berpengaruh terhadap kelelahan.

3) Menunjukkan peningkatan kemampuan dan berpatisipasi dalam

aktivitas

Intervensi

1) Distribusi dengan pasien kebutuhan aktivitas. Buat jadwal

perencanaan dengan pasien dan identifikasi aktivitas yang

menimbulkan kelemahan.

R : Pendidikan dapat memberikan motivasi untuk meningkatkan

aktivitas meskipun pasien mungkin sangat lemah.

2) Berikan aktivitas alternative dengan periode istrahat yang

cukup/tanpa terganggu.

R : Mencegah kelelahan yang berlebihan.

3) Pantau tanda-tanda vital sebelum atau sesudah melakukan

aktivitas.

R : Mengidentifikasi tingkat aktivitas yang ditoleransi secara

fisiologi.

4) Diskusikan cara menghemat kalori selama mandi, berpindah

tempat dan sebagainya.

R : Dengan penghematan energi pasien dapat melakukan lebih

banyak kegiatan.

5) Tingkatkan partisipasi pasien dalam melakukan aktivitas sehari-

hari sesuai kemampuan/toleransi pasien.


41

R : Meningkatkan kepercayaan diri/harga diri yang positif sesuai

tingkat aktivitas yang dapat ditoleransi pasien (Murniati. A, 2014).


42

3.
43
44
45
6