You are on page 1of 26

07.

19 yadi firmansyah 1 comment

PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT

1. Definisi Perilaku

Perilaku adalah respon individu terhadap suatu stimulan atau suatu tindakan yang dapat di

amati dan mempunyai frekuensi spesifik, durasi dan tujuan yang baik didasari maupun tidak

(Wawan dan Dewi, 2010).

Perilaku dari pandangan biologis adalah suatu kegiatan atau aktivitas organisme yang

bersangkutan (Wawan dan Dewi, 2010).

2. Bentuk Perilaku

Menurut Wawan dan Dewi (2010), secara operasional perilaku dapat diartikan suatu

respons organisme atau seseorang terhadap rangsangan (stimulus) dari luar subjek tertentu.

Respon ini berbentuk 2 macam, yakni

a. Bentuk pasif adalah respons internal yaitu yang terjadi didalam diri manusia dan tidak secara

langsung dapat terlihat oleh orang lain

b. Bentuk aktif yaitu apabila itu jelas dapat diobservasi secara langsung

3. Faktor-faktor perilaku manusia

Menurut Wawan dan Dewi (2010) perilaku yang mempengaruhi kesehatan, meliputi:

a. Perilaku sadar yang menguntungkan kesehatan

Mencakup perilaku-perilaku yang secara sadar oleh seseorang yang berdampak

menguntungkan kesehatan. Golongan perilaku ini langsung berhubungan dengan kegiatan-

kegiatan pencegahan penyakit serta penyembuhan dan penyakit yang dijalankan dengan sengaja
atas dasar pengetahuan dan kepercayaan bagi diri yang bersangkutan, atau orang-orang lain, atau

suatu kelompok sosial.

b. Perilaku sadar yang merugikan kesehatan

Perilaku sadar yang dijalankan secara sadar atau diketahui tetapi tidak menguntungkan

kesehatan terdapat pula dikalangan orang berpendidikan atau professional, atau secara umum

pada masyarakat-masyarakat yang sudah maju. Kebiasaan merokok (termasuk kalangan Ibu

hamil), pegabaian pola makanan sehat sesuai dengan kondisi biomedis, ketidakteraturan dalam

pemeriksaan kondisi kehamilan, alkoholisme, pencemaran lingkungan dan lain sebagainya.

c. Perilaku tidak sadar yang merugikan kesehatan

Golongan masalah ini paling banyak dipelajari, terutama karena penanggulangannya

merupakan salah satu tujuan utama berbagai program pembangunan kesehatan masyarakat,

misalnya pencegahan penyakit dan promosi kesehatan kalangan pasangan usia subur, pada ibu

hamil, dan anak-anakbalita pada berbagai masyarakat pedesaan dan lapisan sosial bawah di kota-

kota.

d. Perilaku tidak sadar yang menguntungkan kesehatan

Golongan perilaku ini menunjukkan bahwa tanpa dasar pengetahuan manfaat biomedis

umum yang terkait, seseorang atau sekelompok orang dapat menjalankan kegiatan-kegiatan

tertentu yang secara lagsung atau tidak langsung memberi dampak positif terhadap derajad

kesehatan mereka.

4. Pengertian Perilaku Sehat


Perilaku sehat adalah pengetahuan, sikap dan tindakan proaktif untuk memelihara dan

mencegah resiko terjadinya penyakit, melindungi diri dari ancaman penyakit, serta berperan aktif

dalam gerakan Kesehatan Masyarakat (Maryunani A, 2013)

Menurut Gochman dalam Notoatmodjo (2003), perilaku sehat (health behaviour) dapat

dilihat sebagai atribut personal seperti kepercayaan-kepercayaan, harapan-harapan, motif-motif,

nilai-nilai, persepsi dan unsur-unsur kognitif lainnya, sebagai karakteristik individu meliputi

unsur-unsur dan keadaan afeksi dan emosi dan sebagai pola-pola perilaku yang tampak yakni

tindakan-tindakan dan kebiasaan-kebiasaan yang berhubungan dengan mempertahankan,

memelihara dan untuk meningkatkan kesehatan (Maryunani A, 2013).

5. Pengertian Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)

Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) adalah semua perilaku yang dilakukan atas

kesadaran sehingga anggota keluarga atau keluarga dapat menolong dirinya sendiri di bidang

kesehatan dan berperan aktif dalam kegiatan-kegiatan kesehatan dimasyarakat (Maryunani A,

2013).

Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) adalah upaya untuk memberikan pengalaman

belajar atau menciptakan suatu kondisi bagi perorangan, keluarga, kelompok dan masyarakat,

dengan membuka jalan komunikasi, memberikan informasi dan melakukan edukasi, untuk

meningkatkan pengetahuan, sikap dan perilaku, melalui pendekatan pimpinan (advokasi), bina

suasana (social support) dan pemberdayaan masyarakat (empowerman) sebagai suatu upaya

untuk membantu masyarakat mengenali dan mengatasi masalahnya sendiri, dalam tatanan

masing-masing, agar dapat menerapkan cara-cara hidup sehat, dalam rangka menjaga,

memelihara dan menigkatkan kesehatan (Maryunani A, 2013).


Menurut Atikah & Eni (2012), beberapa indikator yang digunakan sebagai dasar dalam

pelaksanaan pola hidup bersih dan sehat diantaranya adalah sebagai berikut:

a. Ibu hamil memeriksakan kehamilan sedini mungkin dan paling sedikit 4 kali selama masa

kehamilan.

b. Ibu hamil agar memeriksakan diri dan meminta pertolongan persalinan kepada bidan/tenaga

kesehatan.

c. Ibu memberikan ASI saja kepada bayinya selama 4 bulan pertama kelahiran

d. Semua bayi harus diimunisasi lengkap sebelum usia 1 tahun.

e. Semua bayi dan balita harus ditimbang berat badannya sejak lahir sampai usia 5 tahun diposyandu

dan sarana kesehatan

f. Setiap orang agar makan makanan yang mengandung unsur zat tenaga, pembangun, zat pengatur

sesuai dengan Pedoman Umum Gizi Seimbang (PUGS)

g. Semua orang menggunakan garam beryodium untuk keperluan makan sehari-hari

h. Ibu hamil agar minum tablet tambah darah atau tablet zat besi selama masa kehamilan

i. Semua orang agar membuang air besar atau tinja di jamban atau WC

j. Semua orang agar mencuci tangan dengan sabun setelah buang air besar dan waktu akan makan

k. Semua orang agar menggunakan air bersih dan untuk minum agar dimasak terlebih dahulu.

l. Setiap rumah, halaman dan pekarangan agar selalu bersih, bebas dari sampah dan bebas dari

sarang nyamuk

m. Setiap orang agar menggosok gigi paling sedikitnya 2 kali sehari, yaitu sesudah makan dan

sebelum tidur

n. Semua orang agar tidak merokok, terutama bila berdekatan dengan ibu hamil, bayi dan di tempat

umum
o. Semua orang agar menyadari bahaya HIV/AIDS dan berperilaku positif untuk terhindar dari

HIV/ AIDS namun tidak mengucilkan penderita

p. Semua orang agar berolahraga secara teratur

q. Semua orang agar menjadi peserta Dana Sehat (Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat).

6. Tujuan PHBS Rumah Tangga

Menurut Maryunani A (2013), tujuan PHBS rumah tangga adalah sebagai berikut:

a. Untuk meningkatkan dukungan dan peran aktif petugas kesehatan, petugas lintas sektror, media

massa, organisasi masyarakat, LSM, tokoh masyarakat, tim penggerak PKK dan dunia usaha

dalam pembinaan PHBS di rumah tangga.

b. Meningkatkan kemampuan keluarga untuk melaksanakan PHBS berperan aktif dalam gerakan

kesehatan masyarakat

7. Sepuluh (10) Indikator Perilaku Hidup Bersih dan Sehat di Tatanan Rumah Tangga

Menurut Maryunani A (2013), indikator PHBS dalam tatanan rumah tangga terdiri dari:

a. Persalinan di tolong oleh tenaga kesehatan

Persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan merupakan persalinan atas kesadaran dan

permintaan si Ibu di tolong oleh tenaga kesehatan (doker, bidan dan para medis lainnya) di

rumah atau di sarana kesehatan.

Alasan mengapa setiap persalinan harus di tolong oleh tenaga kesehatan

a) Tenaga kesehatan merupakan orang yang sudah ahli dalam membantu persalinan, sehingga

keselamatan Ibu dan bayi lebih terjamin

b) Apabila terdapat kelainan dapat diketahui dan segera di tolong atau dirujuk ke puskesmas atau

rumah sakit
c) Persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan menggunakan peralatan yang aman, bersih dan

steril sehingga mencegah terjadinya infeksi dan bahaya kesehatan lainnya.

b. Memberi bayi ASI eksklusif

Bayi yang diberi ASI eksklusif adalah bayi usia 0-6 bulan hanya diberi ASI saja tanpa

memberikan tambahan makanan atau minuman lain.

Keunggulan ASI:

a) Mengandung zat gizi sesuai kebutuhan bayi untuk pertumbuhan dan perkembangan fisik serta

kecerdasan

b) Mengandung zat kekebalan

c) Melindungi bayi dari alergi

d) Aman dan terjamin kebersihan, karena langsung di susukan kepada bayi dalam keadaan segar

e) Tidak akan pernah basi, mempunyai suhu yang tepat dan dapat di berikan kapan saja dan di

mana saja

f) Membantu memperbaiki refleks menghisap, menelan, dan pernafasan bayi.

c. Menimbang bayi dan balita

Menimbang bayi dan balita adalah menimbang bayi/ balita setiap bulan dan mencatat

berat badan bayi/balita dalam kartu menuju sehat (KMS).

Menimbang bayi dan balita di maksudkan untuk memantau pertumbuhannya setiap bulan.

d. Menggunakan air bersih

Air merupakan kebutuhan dasar yang di pergunakan sehari hari untuk minum, memasak,

mandi, berkumur, membersihkan lantai, mencuci alat-alat dapur, mencuci pakaian, dan

sebagainya, agar kita tidak terkena penyakit atau terhindar dari sakit.

Syarat-syarat air bersih:


1) Air tidak berwarna harus bening/jernih

2) Air tidak keruh, harus bebas dari pasir, debu, lumpur, sampah, busa dan kotoran lainnya

3) Air tidak berasa, tidak berasa asin, tidak berasa asam, tidak payau, dan tidak pahit harus bebas

dari bahan kimia beracun

4) Air tidak berbau seperti bau amis, anyir, busuk atau belerang.

e. Mencuci tangan dengan air bersih dan sabun

Beberapa alasan setiap anggota keluarga harus mencuci tangan dengan menggunakan air

bersih dan sabun antara lain:

1) Air yang bersih dan banyak mengandung kuman dan bakteri penyebab penyakit. Bila digunakan,

kuman berpindah ke tangan. Pada saat makan, kuman berpindah ke tangan. Pada saat makan,

kuman dengan cepat masuk ke dalam tubuh, yang bisa menimbulkan penyakit

2) Sabun dapat membersihkan kotoran dan membunuh kuman, karena tanpa sabun kotoran dan

masih tertinggal ditangan.

f. Menggunakan jamban sehat

Jamban merupakan suatu ruangan yang mempunyai fasilitas pembuangan kotoran

manusia yang terdiri atas tempat jongkok atau tempat duduk dengan leher angsa (cemplung)

yang di lengkapi dengan unit penampungan kotoran dan air unuk membersihkannya.

Adapun jenis-jenis jamban yang sering digunakan antara lain:

1) Jamban cemplung adalah jamban yang penampungannya berupa lubang yang berfungsi

menyimpan kotoran/tinja ke dalam tanah dan mengendapkan kotoran ke dasar lubang. Untuk

jamban cemplung di haruskan ada penutup agar tidak berbau.


2) Jamban tangki septik/leher angsa adalah jamban jamban yang berbentuk leher angsa yang

penampungannya berupa tangki septik kedap air yang berfungsi sebagai wadah proses

penguraian/dekomposisi kotoran manusia yang di lengkapi dengan resapan.

g. Memberantas jentik di rumah sekali seminggu

Rumah bebas jentik adalah rumah tangga yang setelah dilakukan pemeriksaan jentik

secara berkala tidak terdapat jentik nyamuk. Pemeriksaan Jentik Berkala (PJB) adalah

pemeriksaan tempat tempat perkembangbiakan nyamuk (tempat-tempat penampung air) yang

ada di dalam rumah seperti bak mandi/WC, vas bunga, kulkas, dll. Dan di luar rumah seperti

talang air, alas pot kembang, ketiak daun, lubang pohon, pagar bambu, dll dilakukan secara

teratur sekali dalam seminggu.

h. Makan buah dan sayur setiap hari

Orang yang diharapkan makan sayur dan buah adalah setiap anggota rumah tangga di

harapkan mengkonsumsi minimal 3 porsi buah dan 2 porsi sayuran atau sebaliknya setiap hari.

i. Melakukan aktivitas fisik setiap hari

Melakukan aktivitas fisik setiap hari. Aktivitas fisik adalah pergerakan anggota tubuh

yang menyebabkan pengeluaran tenaga yang sangat penting bagi pemeliharaan kesehatan fisik,

mental, dan mempertahankan kualitas hidup agar tetap sehat dan bugar sepanjang hari.

j. Tidak merokok di dalam rumah

Tidak merokok di dalam rumah. Setiap anggota keluarga tidak boleh merokok di dalam

rumah. Rokok ibarat pabrik bahan kimia. Dalam satu batang rokok yang di hisap akan di

keluarkan sekitar 4.000 bahan kimia berbahaya, di antaranya yang paling berbahaya adalah

nikotin, tar, dan carbon Monoksida (CO).


Berdasarkan hasil Susenas (Survey Sosial Ekonomi Nasional) tahun 2001 menyatakan bahwa

92,0 % dari perokok menyatakan kebiasaannya merokok di dalam rumah ketika bersama anggota

rumah tangga lainnya, hal ini biasa dilakukan pada pagi hari di saat sarapan bersama anak-anak

dan sore sampai malam hari ketika sedang berkumpul dengan keluargnya.

8. Manfaat Perilaku Hidup Bersih dan Sehat

Keluarga yang melaksanakan PHBS maka setiap rumah tangga yang sehat akan menigkat

kesehatannya dan tidak mudah sakit. Rumah tangga yang sehat dapat menigkatkan produktivitas

kerja anggota rumah tangga maka biaya yang tadinya dialokasikan untuk kesehatan dapat

dialihkan untuk biaya investasi seperti biaya pendidikan dan usaha lain yang dapat meningkatkan

kesejahteraan anggota rumah tangga. Salah satu indikator menilai keberhasilan Pemerintah

daerah Kabupaten/Kota dibidang kesehatan adalah pelaksanaan PHBS. PHBS juga bermanfaat

untuk meningkatkan citra pemerintah daerah dalam bidang kesehatan, sehingga dapat menjadi

percontohan rumah tangga sehat bagi daerah lain (Atikah & Eni, 2012).

Makalah Jamban Yang Sehat Oleh : Joharuddin

BAB I

PENDAHULUAN

Jamban merupakan sanitasi dasar penting yang harus dimiliki setiap masyarakat
sebenarnya,masyarakat sadar dan mengerti arti pentingnya mempunyai jamban sendiri di
rumah. Alasan utama yangselalu diungkapkan masyarakat mengapa sampai saat ini belum
memiliki jamban keluarga adalah tidak atau belummempunyai uang melihat faktor kenyataan
tersebut, sebenarnya tidak adanya jamban di setiap rumah tangga bukansemata faktor
ekonomi, Tetapi lebih kepada adanya kesedaran masyarakat untuk menerapkan pola hidup
sehat (PHBS), jamban pun tidak harus mewah dengan biaya yang mahal.
Cukup yang sederhana saja disesuaikan dengan kemampuan ekonomi rumag tangga.
Buat apa jamaban yang mewah sementara perilaku buang air besar (BAB) masih tetap
sembarangan. Ada faktor lain yang menyebabkan masyarakat untuk membuat atau
membangun jamban yaitu ketergantungan pada bantuan pemerintah dalam hal membangun
jamban. Hal ini merupakan bagian dari kesalahan masa lalu dalam penerapan kebijakan yang
justru cenderung memanjakan masyarakat. Program pembangunan jamban yang dilakukan
selama ini kurang optimal khususnya dalam membangun perubahan masyarakat. pendekatan
yang dilakukan mempunyai karakttreistik yang berorientasi kepada konstruksi atau bangunan
fisik jamban saja,tanpa ada upaya pendidikan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) yang
memadai selain itu desain jamban yang dianjurkan seringkali mahal bagi keluarga miskin.
Subsidi proyek tidak efektif menjangkau kelompok masyarakat miskin. jamban dibangun,
tetapi seringkali tidak digunakan masyarakat.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

MEMILIKI DAN MENGGUNAKAN JAMBAN SEHAT

A. Pengertian

Jamban adalah suatu ruangan yang mempunyai fasilitas pembuangan


kotoran manusia yang terdiri atas tempat jongkok atau tempat duduk dengan leher
angsa atau tanpa leher angsa (cemplung) yang dilengkapi dengan unit
penampungan kotoran dan air untuk membersihkannya.

b. Jenis jamban yang digunakan


1. Jamban cemplung: Adalah jamban yang penampungannya berupa lupang yang
ebrfungsi menyimpan dan meresapkan cairan kotoran/tinja ke dalam tanah dan
mengendapkan kotoran ke dasar lubang. Untuk jamban cemplung diharuskan ada
penutup agar tidak berbau.

2. Jamban tangki septik/leher angsa: Adalah jamban berbentuk leher angsa yang
penampungannya berupa tangki septik kedap air yang berfungsi sebagai wadah
proses penguraian/dekomposisi kotoran manusia yang dilengkapi dengan
resapannya. Pilihan leher angsa yang terbuat dari keramik, porselin atau kaca serat
(fiber glass). Tempat air perapat harus terbuat dari kaca serat atau keramik karena
permukaanya licin dan cukup kuat sehingga mudah dibersihkan. Juga tidak berbau
dan tidak mengundang serangga. Tinggi air perapat harus paling sedikit 2 cm, agar
bau dari

c. Bagaimana memilih jenis jamban?

 Jamban cemplung digunakan untuk daerah yang sulit air

 Jamban tangki septik/leher angsa digunakan untuk daerah yang cukup air dan
daerah padat penduduk, karena dapat menggunakan multiple latrine yaitu satu
lubang penampungan tinja/tangki septik digunakan oleh beberapa jamban (satu
lubang dapat menampung kotoran/tinja dari 3-5 jamban)

 Daerah pasang surut, tempat penampungan kotoran/tinja hendaknya ditinggikan


kurang lebih 60 cm dari permukaan air pasang.
Siapa yang diharapkan menggunakan jamban?
Setiap aggota rumah tangga harus menggunakan jamban untuk buang
airbesar/buang air kecil.

d. Mengapa harus menggunakan jamban

 Menjaga lingkungan bersih, sehat dan tidak berbau

 Tidak mencemari sumber air yang ada di sekitamya.


 Tidak mengundang datangnya lalat atau serangga yang dapat menjadi penular
penyakit Diare, Kolera Disentri, Thypus, kecacingan, penyakit saluran pencernaan,
penyakit kulit dan keracuanan.

e. Syarat jamban sehat

 Tidak mencemari sumber air minum (jarak antara sumber air minum dengan
lubang penampungan minimal 10 meter

 Tidak berbau

 Kotorarr tidak dapat dijamah oleh serangga dan tikus

 Tidak mencemari tanah di sekitamya

 Mudah dibersihkan dan aman digunakan

 Dilengkapi dinding dan atap pelindung

 Penerangan dan ventilasi cukup

 Lantai kedap air dan luas ruangan memadai

 Tersedia air, sabun, dan alat pembersih

f. Bagaimana cara memelihara jamban sehat

 Lantai jamban selalu bersih dan tidak ada genangan air

 Bersihkan jamban secara teratur sehingga ruang jamban dalam keadaan bersih

 Di dalam jamban tidak ada kotoran yang terlihat

 Tidak ada serangga (kecoa, lalat) dan tikur yang berkeliaran

 Tersedia alat pembersih (sabun, sikat dan air bersih)

 Bila ada kerusakan segera diperbaiki.


G. Pengetahuan Dan Tindakan Masyarakat Dalam Pemanfaatan
Jamban Keluarga.

Masalah penyehatan lingkungan pemukiman khususnya pada pembuangan


tinja merupakan salah satu dari berbagai masalah kesehatan yang perlu
mendapatkan prioritas. Penyediaan sarana pembuangan tinja masyarakat terutama
dalam pelaksanaannya tidaklah mudah, karena menyangkut peran serta
masyarakat yang biasanya sangat erat kaitannya dengan prilaku, tingkat ekonomi,
kebudayaan dan pendidikan.

Tempat jamban dapat dipilih yang baik, sehingga bau dari jamban tidak
tercium. Secara tersendiri dan ditempatkan di luar atau di dalam rumah dan
berfungsi untuk melayani 1 sampai dengan 5 keluarga, atau untuk melayani orang-
orang di tempat-tempat umum (terminal, bioskop, dan sebagainya).

Pembuangan tinja perlu mendapat perhatian khusus karena merupakan


satu bahan buangan yang banyak mendatangkan masalah dalam bidang kesehatan
dan sebagai media bibit penyakit, seperti diare, typhus, muntaber, disentri,
cacingan dan gatal-gatal. Selain itu dapat menimbulkan pencemaran lingkungan
pada sumber air dan bau busuk serta estetika.

Jamban keluarga adalah suatu bangunan yang dipergunakan untuk


membuang tinja atau kotoran manusia atau najis bagi suatu keluarga yang lazim
disebut kakus atau WC. Syarat jamban yang sehat sesuai kaidah-kaidah kesehatan
adalah sebagai berikut :

1. Tidak memncemari sumber air minum


2. Tidak berbau tinja dan tidak bebas dijamah oleh serangga maupun tikus.
3. Air seni, air bersih dan air penggelontor tidak mencemari tanah sekitar
olehnya itu lantai sedikitnya berukuran 1 X 1 meter dan dibuat cukup landai,
miring kearah lobang jongkok.
4. Mudah dibersihkan dan aman penggunaannnya.
5. Dilengkapi dengan dinding dan penutup
6. Cukup penerangan dan sirkulasi udara.
7. Luas ruangan yang cukup
8. Tersedia air dan alat pembersih.

Pemanfaatan jamban keluarga sangat dipengaruhi oleh tingkat pengetahuan


dan kebiasaan masyarakat. Tujuan program JAGA (jamban keluarga) yaitu tidak
membuang tinja ditempat terbuka melaingkan membangun jamban untuk diri
sendiri dan keluarga. Penggunaan jamban yang baik adalah kotoran yang masuk
hendaknya disiram dengan air yang cukup, hal ini selalu dikerjakan sehabis buang
tinja sehingga kotoran tidak tampak lagi. Secara periodic Bowl, leher angsa dan
lantai jamban digunakan dan dipelihara dengan baik, sedangkan pada jamban
cemplung lubang harus selalu ditutup jika jamban tidak digunakan lagi, agar tidak
kemasukan benda-benda lain.
Faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam menentukan jarak jamban dan
sumber air bersih adalah sebagai berikut :

1. Kondisi daerah, datar atau miring


2. Tinggi rendahnya permukaan air
3. Arah aliran air tanah
4. Sifat, macam dan struktur tanah

Pemeliharaan jamban keluarga sehat yang baik adalah lantai jamban


hendaknya selalu bersih dan tidak ada genangan air, bersihkan jamban secara
teratur sehingga ruang jamban selalu dalam keadaan bersih, didalam jamban tidak
ada kotoran terlihat, tidak ada serangga(kecoa, lalat) dan tikus berkeliaran,
tersedia alat pembersih dan bila ada kerusakan segera diperbaiki.
H. Tempat Jamban

Pelat Jongkok

Pelat jongkok harus selalu bersih dan licin. Untuk itu pilihlah pelat jongkok yang
terbuat dari bahan yang mudah dibersihkan, misalnya keramik, kaca serat,
porselin, dan sebagainya.
Pondasi

Umumnya tebal pondasi jamban 20-40 cm dan dalamnya 40 cm, terbuat dari batu
kali, bata atau batako. Adukannya terdiri dari semen : pasir = 1 : 6. Jika semen
diganti dengan kapur dan semen merah : pasir = 1 : 3 : 4

Lantai

Lantai beton setebal 10 cm, kedap air, awet, dan mudah dibersihkan. Lantai tegel
dapat dipasang dengan adukan semen : pasir = 1 : 3.

Pintu

Pintu dapat dibuat dari bambu atau kayu yang dilapisi seng atau aluminium
sehingga tidak mudah lapuk. jarak tepi bawah pintu dari lantai sekitar 5-7,5 cm.
Ukuran :
tinggi 1,80 m.
lebar 0,65 m.

Dinding

Dinding dapat dibuat dari bata/batako, kayu/papan, anyaman bambu. Tinggi


dinding : 1,00 - 2,00 m. dinding depan 20 cm lebih tinggi supaya atapnya miring ke
belakang.

Untuk menghemat biaya, dinding dapat dibagi dua:

 bagian bawah dibuat dari bata setinggi 1,5 m supaya pemakaiannya


terlindung
 bagian atas dapat dari anyaman bambu atau papan
 dinding bawah setinggi 40-50 cm harus dplester dengan kedap air agar tidak
lembab dan mudah dibersihkan.

Lubang Angin
Lubang angin sangat diperlukan agar selalu terjadi pergantian udara di dalam
jamban

Atap

Atap jamban berguna sebagai pelindung di waktu hujan dan mencegah air hujan
masuk ke dalam pelat jongkok. Bahan atap misalnya genting, seng gelombang,
ijuk, atap plastik tembus cahaya, daun bambu, alang-alang, dan sebagainya.
Kemiringan atap minimum 15 derajat.

Jarak Cubluk atau Resepan dari Tangki Septik ke Sumur

Bila letak cubluk atau resapan dan tangki septik berdekatan dengan sumur, maka
jarak minimum antara cubluk dan sumur tersebut harus 10 m.

Petunjuk Pemakaian dan Pemeliharaan Jamban yang Dilengkapi dengan


Leher Angsa

1. Sebelum dipakai plat jongkok disiram terlebih dahulu dengan air supaya najis tidak
melekat dan penggelontorannya lancar

2. Jika tidak ada bak penampung air di dalam kakus, sediakan tempat/ember dengan
isi 2 sampai 3 liter

3. Air hujan jangan dialirkan langsung ke dalam jamban demikian juga air dari kamar
mandi. Hal ini untuk menghindarkan gangguan terhadap Tangki Septik atau Cubluk
yang digunakan sebagai tempat pengolahan.

4. Pelat jongkok harus dibersihkan dengan sikat yang khusus untuk itu (yang
bertangkai). Untuk membersihkan dipakai sedikit air dan bubuk sabun atau abu
gosok. Demikian juga lantai kakus/jamban harus dibersihkan setiap hari.

5. Untuk menghindarkan tersumbatnya perangkap air, jangan membuang sampah dan


kotoran rumah tangga lainnya ke dalam lubang jamban
6. Jangan membuang puntung rokok yang masih menyala ke lubang jamban, karena
dapat mengakibatkan adanya tanda yang berbekas.

7. Perangkap air yang tersumbat dibersihkan dengan belahan bambu dari arah lubang
jamban atau jika ada dari lubang/bak pemeriksa di belakang kakus

8. Jika ada bau busuk dari kakus/jamban, periksalah apakah perangkap air kosong
atau rusak. Jika perangkap air kosong, siramkan air kedalam lubang jamban.

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Jamban keluarga adalah suatu bangunan yang dipergunakan untuk


membuang tinja atau kotoran manusia atau najis bagi suatu keluarga yang lazim
disebut kakus atau WC.

Pemeliharaan jamban keluarga sehat yang baik adalah lantai jamban


hendaknya selalu bersih dan tidak ada genangan air, bersihkan jamban secara
teratur sehingga ruang jamban selalu dalam keadaan bersih, didalam jamban tidak
ada kotoran terlihat, tidak ada serangga(kecoa, lalat) dan tikus berkeliaran,
tersedia alat pembersih dan bila ada kerusakan segera diperbaiki.

B. Sasaran

Cara pengendalian yang paling sederhana adalah dengan menumbuhkan


kesadaran dari dalam diri untuk untuk selalu menggunakan jamban yang sehat
tidak merusak lingkungan dan pencemarannya. Selain itu diperlukan juga kontrol
sosial budaya masyarakat untuk lebih menghargai sanitasi lingkungan, walaupun
kadang harus dihadapkan pada mitos tertentu. Peraturan yang tegas dari
pemerintah juga sangat diharapkan karena jika tidak maka perilaku masyarakat
untuk menggunakan jamban yang sehat tidak optimal.
DAFTAR PUSTAKA

1. Sumber : Prof. Dr. Soekidjo Notoatmodjo. Prinsip-Prinsip Dasar Ilmu Kesehatan


Masyarakat. Cet. ke-2, Mei. Jakarta : Rineka Cipta. 2003.

2. http//:Sanitasi Lingkunga.htm di kunjungi situsnya pada tanggal 07 Novrmber 2009

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar
Beranda

Langganan: Entri (Atom)

Laman
 Halaman Muka
 Makalah Jamban Yang Sehat ...
Pengikut
Arsip Blog
 ▼ 2010 (1)
o ▼ Februari (1)

Mengenai Saya

Jojo

Salah seorang pendatang baru di dunia kesehatan yg ingin menciptakan mutu pelayanan
Kesehatan yang optimal, sebagai mana misi FKM

Lihat profil lengkapku

Jamban Improved dan Macam Jenis Jamban


Pembuangan tinja atau buang air besar disebut secara eksplisit dalam dokumen Millenium
Development Goals (MDGs). Dalam nomenklatur ini buang air besar disebut sebagai sanitasi
yang antra lain meliputi jenis pemakaian atau penggunaan tempat buang air besar, jenis kloset
yang digunakan dan jenis tempat pembuangan akhir tinja. Dalam laporan MDGs 2010, kriteria
akses terhadap sanitasi layak adalah bila penggunaan fasilitas tempat BAB milik sendiri atau
bersama, jenis kloset yang digunakan jenis ‘latrine’ dan tempat pembuangan akhir tinjanya
menggunakan tangki septik atau sarana pembuangan air limbah atau SPAL. Sedangkan kriteria
yang digunakan Joint Monitoring Program (JMP) WHO-UNICEF 2008, sanitasi terbagi dalam
empat kriteria, yaitu ‘improved’, ‘shared’, ‘unimproved’ dan ‘open defecation’. Dikategorikan
sebagai ‘improved’ bila penggunaan sarana pembuangan kotoran nya sendiri, jenis kloset latrine
dan tempat pembuangan akhir tinjanya tangki septik atau SPAL.
Pengertin lain terkait jamban menyebutkan bahwa jamban
keluarga adalah suatu bangunan yang digunakan untuk tempat membuang dan mengumpulkan
kotoran/najis manusia yang lazim disebut kakus atau WC, sehingga kotoran tersebut disimpan
dalam suatu tempat tertentu dan tidak menjadi penyebab atau penyebar penyakit dan mengotori
lingkungan pemukiman. Kotoran manusia yang dibuang dalam praktek sehari-hari bercampur
dengan air, maka pengolahan kotoran manusia tersebut pada dasarnya sama dengan pengolahan
air limbah. Oleh sebab itu pengolahan kotoran manusia, demikian pula syarat-syarat yang
dibutuhkan pada dasarnya sama dengan syarat pembuangan air limbah.

Sedangkan menurut WSP (2008) kriterian Jamban Sehat (improved latrine), merupakan fasilitas
pembuangan tinja yang memenuhi syarat :

 Tidak mengkontaminasi badan air.


 Menjaga agar tidak kontak antara manusia dan tinja.
 Membuang tinja manusia yang aman sehingga tidak dihinggapi lalat atau serangga vektor
lainnya termasuk binatang.
 Menjaga buangan tidak menimbulkan bau
 Konstruksi dudukan jamban dibuat dengan baik dan aman bagi pengguna

Menurut kriterian Depkes RI (1985), syarat sebuah jamban keluarga dikatagorikan jamban sehat,
jika memenuhi persyaratan sebagai berikut :

1. Tidak mencemari sumber air minum, untuk itu letak lubang penampungan kotoran paling
sedikit berjarak 10 meter dari sumur (SPT SGL maupun jenis sumur lainnya).
Perkecualian jarak ini menjadi lebih jauh pada kondisi tanah liat atau berkapur yang
terkait dengan porositas tanah. Juga akan berbeda pada kondisi topografi yang
menjadikan posisi jamban diatas muka dan arah aliran air tanah.
2. Tidak berbau serta tidak memungkinkan serangga dapat masuk ke penampungan tinja.
Hal ini misalnya dapat dilakukan dengan menutup lubang jamban atau dengan sistem
leher angsa.
3. Air seni, air pembersih dan air penggelontor tidak mencemari tanah di sekitarnya. Hal ini
dapat dilakukan dengan membuat lantai jamban dengan luas minimal 1x1 meter, dengan
sudut kemiringan yang cukup kearah lubang jamban.
4. Mudah dibersihkan, aman digunakan, untuk itu harus dibuat dari bahan-bahan yang kuat
dan tahan lama dan agar tidak mahal hendaknya dipergunakan bahan-bahan yang ada
setempat;
5. Dilengkapi dinding dan atap pelindung, dinding kedap air dan berwarna terang;
6. Cukup penerangan;
7. Lantai kedap air;
8. Luas ruangan cukup, atau tidak terlalu rendah;
9. Ventilasi cukup baik, dan
10. Tersedia air dan alat pembersih.

Terdapat beberapa jenis jamban sesuai bentuk dan namanya, antara lain Azwar (1983 :

1. Pit privy (Cubluk)


Kakus ini dibuat dengan jalan membuat lubang ke dalam tanah sedalam 2,5 sampai 8 meter
dengan diameter 80-120 cm. Dindingnya diperkuat dari batu bata ataupun tidak. Sesuai dengan
daerah pedesaan maka rumah kakus tersebut dapat dibuat dari bambu, dinding bambu dan atap
daun kelapa. Jarak dari sumber air minum sekurang-kurangnya 15 meter.

2. Jamban cemplung berventilasi (ventilasi improved pit latrine)


Jamban ini hampir sama dengan jamban cubluk, bedanya menggunakan ventilasi pipa. Untuk
daerah pedesaan pipa ventilasi ini dapat dibuat dari bambu.

3. Jamban empang (fish pond latrine)


Merupakan jamban ini dibangun di atas empang ikan. Sistem jamban empang memungkinkan
terjadi daur ulang (recycling) yaitu tinja dapat langsung dimakan ikan, ikan dimakan orang, dan
selanjutnya orang mengeluarkan tinja, demikian seterusnya.

4. Jamban pupuk (the compost privy)


Secara prinsip jamban ini seperti kakus cemplung, hanya lebih dangkal galiannya, di dalam
jamban ini juga untuk membuang kotoran binatang dan sampah, daun-daunan.

5. Septic tank
Jamban jenis septic tank merupakan jamban yang paling memenuhi syarat. Tangki septick
(septic tank) terdiri dari tangki sedimentasi yang kedap air, dimana tinja dan air buangan masuk
mengalami dekomposisi. Dalam tangki ini tinja akan berada selama beberapa hari. Selama waktu
tersebut tinja akan mengalami 2 proses, yaitu proses kimiawi dan proses biologis. Pada proses
kimiawi, sebagai tinja (60- 70%), akan mengalami penghancuran dan direduksi. Sebagian besar
zat-zat padat akan mengendap di dalam tangki sebagai sludge Zat-zat yang tidak dapat hancur
bersama-sama dengan lemak dan busa akan mengapung dan membentuk lapisan yang menutup
permukaan air dalam tangki tersebut. Lapisan ini disebut scum yang berfungsi mempertahankan
suasana anaerob dari cairan di bawahnya, yang memungkinkan bakteri-bakteri anaerob dan
fakultatif anaerob dapat tumbuh subur, yang akan berfungsi pada proses selanjutnya.

Dalam proses biologis, terjadi dekomposisi melalui aktivitas bakteri anaerob dan fakultatif
anaerob yang memakan zat-zat organik alam sludge dan scum. Hasilnya selain terbentuknya gas
dan zat cair lainnya, adalah juga pengurangan volume sludge, sehingga memungkinkan septic
tank tidak cepat penuh. Kemudian cairan influent sudah tidak mengandung bagian-bagian tinja
dan mempunyai BOD yang relatif rendah. Selanjutnya cairan influent dialirkan melalui pipa,
untuk dilakukan proses peresapan dalam tanah atau dialirkan melalui pipa pada fasilitas riol kota.

Refference
• Juklak Program Sanitasi Total & Pemasaran Sanitasi (SToPS), WSP. 2008
• Riskesdas 2010, Depkes RI.
• Pedoman Teknis Penilaian Rumah Sehat, Direktorat Jenderal PPM & PL. 2003
• Pengantar Ilmu Kesehatan Lingkungan, Azwar, A. 1983

Standard Sanitasi Jamban


Sanitasi sesuai nomenklatur MDGs adalah pembuangan tinja. Termasuk dalam pengertian ini
meliputi jenis pemakaian atau penggunaan tempat buang air besar, jenis kloset yang digunakan
dan jenis tempat pembuangan akhir tinja. Sedangkan kriteria akses terhadap sanitasi layak jika
penggunaan fasilitas tempat BAB milik sendiri atau bersama, jenis kloset yang digunakan jenis
‘latrine’ dan tempat pembuangan akhir tinjanya menggunakan tangki septik atau sarana
pembuangan air limbah (SPAL). Sedangkan kriteria yang digunakan JMP WHO-UNICEF 2008,
sanitasi terbagi dalam empat kriteria, yaitu ‘improved’, ‘shared’, ‘unimproved’ dan ‘open
defecation’. (Depkes RI, 2010).

Jamban merupakan fasilitas atau sarana pembuangan tinja. Menurut Kusnoputranto (1997),
pengertian jamban keluarga adalah suatu bangunan yang digunakan untuk membuang dan
mengumpulkan kotoran sehingga kotoran tersebut tersimpan dalam suatu tempat tertentu dan
tidak menjadi penyebab suatu penyakit serta tidak mengotori permukaan. Sedangkan pengertian
lain menyebutkan bahwa pengertian jamban adalah pengumpulan kotoran manusia disuatu
tempat sehingga tidak menyebabkan bibit penyakit yang ada pada kotoran manusia dan
mengganggu estetika.
Sanitasi Jamban Sehat

Rekan-rekan Sanitarian tentu sudah paham, bahwa dampak buruk jamban terhadap penularan
penyakit, menyangkut transmisi penyakit dari tinja. Berbagai penyakit menular seperti hepatitis
A, polio, kholera, dan lainnya merupakan penyakit yang terkait dengan akses penyediaan
jamban. Dan sebagai salah satu indikator utama terjadinya pencemaran karena tinja ini adalah
bakteri E.Coli. Sebagaimana rekan-rekan Sanitarian ketahui escherichia coli hidup dalam saluran
pencernaan manusia.

Diperlukan beberapa faktor untuk terjadinya proses penularan penyakit antara lain kuman
penyebab penyakit, sumber infeksi (reservoir) dari kuman penyebab, cara keluar dari sumber,
cara berpindah dari sumber ke inang (host) baru yang potensial, cara masuk ke inang yang baru,
serta inang yang peka (susceptible). Sedangkan proses pemindahan kuman penyakit dari tinja
sampai inang baru dapat melalui berbagai perantara, antara lain air , tanah , makanan, tangan,
atau serangga.

Fungsi jamban dari aspek kesehatan lingkungan antara lain dapat mencegah berkembangnya
berbagai penyakit yang disebabkan oleh kotoran manusia. Sementara dampak serius membuang
kotoran di sembarang tempat menyebabkan pencemaran tanah, air dan udara karena
menimbulkan bau. Pembuangan tinja yang tidak dikelola dengan baik berdampak
mengkawatirkan terutama pada kesehatan dan kualitas air untuk rumah tangga maupun
keperluan komersial.

Selain menyangkut perilaku buang air besar masyarakat yang belum semuanya menggunakan
jamban, kita juga dihadapkan pada masih banyaknya jumlah jamban yang tidak memenuhi
standar. Banyak di masyarakat jamban unimproved atau jamban yang tidak sehat. Sebagai
Sanitarian kita harus paham berbagai informasi terkait jamban, baik kriteria maupun prosedur
pemeliharaannya, diantaranya persyaratan pembuangan tinja. Menurut Kumoro (1998), terdapat
beberapa bagian sanitasi pembuangan tinja, antara lain :

Rumah Kakus: Berfungsi sebagai tempat berlindung dari lingkunagn sekitar, harus memenuhi
syarat ditinjau dari segi kenyamanan maupun estetika. Konstruksi disesuaikan dengan keadaan
tingkat ekonomi rumah tangga.

Lantai Kakus: Berfungsi sebagai sarana penahan atau tempat pemakai yang sifatnya harus baik,
kuat dan mudah dibersihkan serta tidak menyerap air. Konstruksinya juga disesuaikan dengan
bentuk rumah kakus.

Tempat Duduk Kakus: Fungsi tempat duduk kakus merupakan tempat penampungan tinja,
harus kuat, mudah dibersihkan, berbentuk leher angsa atau memakai tutup yang mudah diangkat.

Kecukupan Air Bersih: Jamban hendaklah disiram minimal 4-5 gayung, bertujuan menghindari
penyebaran bau tinja dan menjaga kondisi jamban tetap bersih. Juga agar menghindari kotoran
tidak dihinggapi serangga sehingga dapat mencegah penularan penyakit.
Tersedia Alat Pembersih: Tujuan pemakaian alat pembersih, agar jamban tetap bersih setelah
jamban disiram air. Pembersihan dilakukan minimal 2-3 hari sekali meliputi kebersihan lantai
agar tidak berlumut dan licin. Sedangkan peralatan pembersih merupakan bahan yang ada di
rumah kakus didekat jamban.

Tempat Penampungan Tinja: Adalah rangkaian dari sarana pembuangan tinja yang berfungsi
sebagai tempat mengumpulkan kotoran/tinja. Konstruksi lubang harus kedap air dapat terbuat
dari pasangan batu bata dan semen, sehingga menghindari pencemaran lingkungan.

Saluran Peresapan: Merupakan sarana terakhir dari suatu sistem pembuangan tinja yang
lengkap, berfungsi mengalirkan dan meresapkan cairan yang bercampur tinja.

Selain Sanitasi tinja diatas, kita juga harus paham berbagai jenis jamban keluarga. Menurut
Azwar (1990), terdapat beberapa jenis jamban, antara lain :

1. Jamban cubluk (Pit Privy): adalah jamban yang tempat penampungan tinjanya dibangun
dibawah tempat injakan atau dibawah bangunan jamban. Fungsi dari lubang adalah
mengisolasi tinja sedemikian rupa sehingga tidak dimungkinkan penyebaran dari bakteri
secara langsung ke pejamu yang baru. Jenis jamban ini, kotoran langsung masuk ke
jamban dan tidak terlalu dalam karena akan menotori air tanah, kedalamannya sekitar
1,5-3 meter (Mashuri, 1994).
2. Jamban Empang (Overhung Latrine): Adalah jamban yang dibangun diatas empang,
sungai ataupun rawa. Jamban model ini ada yang kotorannya tersebar begitu saja, yang
biasanya dipakai untuk makanan ikan, ayam.
3. Jamban Kimia (Chemical Toilet): Jamban model ini biasanya dibangun pada tempat-
tempat rekreasi, pada transportasi seperti kereta api dan pesawat terbang dan lain-lain.
Disini tinja disenfeksi dengan zat-zat kimia seperti caustic soda dan pembersihnya
dipakai kertas tissue (toilet paper). Sedangkan jamban kimia ada dua macam, yaitu tipe
lemari (commode type), dan tipe tangki (tank type). Jamban kimia sifatnya sementara,
karena kotoran yang telah terkumpul perlu di buang lagi.
4. Jamban Leher Angsa (Angsa Trine): Jamban leher angsa merupakan jamban leher lubang
closet berbentuk lengkungan, dengan demikian akan terisi air gunanya sebagai sumbat
sehingga dapat mencegah bau busuk serta masuknya binatang-binatang kecil. Jamban
model ini adalah model yang terbaik yang dianjurkan dalam kesehatan lingkungan.

Menurut Depkes RI (2004), terdapat beberapa syarat Jamban Sehat, antara lain :

1. Tidak mencemari sumber air minum, letak lubang penampung berjarak 10-15 meter dari
sumber air minum.
2. Tidak berbau dan tinja tidak dapat dijamah oleh serangga maupun tikus.
3. Cukup luas dan landai/miring ke arah lubang jongkok sehingga tidak mencemari tanah di
sekitarnya.
4. Mudah dibersihkan dan aman penggunannya.
5. Dilengkapi dinding dan atap pelindung, dinding kedap air dan berwarna.
6. Cukup penerangan
7. Lantai kedap air
8. Ventilasi cukup baik
9. Tersedia air dan alat pembersih.

Manfaat dan Fungsi Jamban Keluarga


Jamban berfungsi sebagai pengisolasi tinja dari lingkungan. Jamban yang baik dan memenuhi
syarat kesehatan akan menjamin beberapa hal, yaitu :

1. Melindungi kesehatan masyarkat dari penyakit


2. Melindungi dari gangguan estetika, bau dan penggunaan saran yang aman
3. Bukan tempat berkembangnya serangga sebagai vektor penyakit
4. Melindungi pencemaran pada penyediaan air bersih dan lingkungan

Sedangkan prosedur pemeliharaan jamban menurut Depkes RI (2004) adalah sebagai berikut:

1. Lantai jamban hendaknya selalu bersih dan kering


2. Di sekeliling jamban tidak ada genangan air
3. Tidak ada sampah berserakanan
4. Rumah jamban dalam keadaan baik
5. Lantai selalu bersih dan tidak ada kotoran yang terlihat
6. Lalat, tikus dan kecoa tidak ada
7. Tersedia alat pembersih
8. Bila ada yang rusak segera diperbaiki
Refference, antara lain :

 Azwar, A, 1990, Pengantar Ilmu Kesehatan Lingkungan. Mutiara, Jakarta.


 Kusnoputranto, H, 2000. Kesehatan Lingkungan, FKM-UI Jakarta
 Riskesdas 2010