PENJERAPAN ZAT WARNA REAKTIF CIBACRON RED

MENGGUNAKAN ADSORBEN SEKAM PADI













JENI YULIKA



























DEPARTEMEN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2010
ABSTRAK
JENI YULIKA. Penjerapan Zat Warna Reaktif Cibacron Red Menggunakan Adsorben
Sekam Padi. Dibimbing oleh BETTY MARITA SOEBRATA dan MOHAMMAD
KHOTIB.
Limbah tekstil yang mengandung zat warna dapat mencemari lingkungan perairan.
Penelitian ini memanfaatkan sekam padi sebagai adsorben zat warna reaktif Cibacron Red
yang banyak digunakan dalam industri tekstil. Sekam padi dibuat menjadi adsorben tanpa
modifikasi (ATM) dan adsorben termodifikasi asam (AMA). Kondisi optimum ATM
diperoleh dengan waktu adsorpsi 30 menit, 1.0 g adsorben, dan 150 ppm konsentrasi
awal. Kondisi optimum AMA diperoleh dengan waktu adsorpsi 60 menit, 2.0 g adsorben,
dan 150 ppm konsentrasi awal. Kondisi optimum arang aktif (AA) sebagai pembanding
memiliki waktu adsorpsi 30 menit, 3.0 g adsorben, dan 150 ppm konsentrasi awal.
Kapasitas adsorpsi ATM, AMA, dan AA pada kondisi optimum adalah 2879.00, 6898.3,
dan 2470.00 µg/g. Efisiensi adsorpsi ATM, AMA, dan AA pada kondisi optimum
berturut-turut adalah 19.86, 91.71, dan 40.51%. Tipe isoterm ketiga jenis adsorben yang
digunakan adalah isoterm Freundlich. Penerapan terhadap limbah tekstil menunjukkan
penurunan warna setelah dijerap oleh ATM, AMA, dan AA, masing-masing sebesar
52.05, 98.86, dan 48.69% dengan intensitas warna awal 1485 Pt-co. Pengukuran KOK
limbah awal adalah 7372.0 mg/L, setelah dijerap dengan ATM, AMA, dan AA masing-
masing menurun sebesar 43.30, 98.56, dan 52.58%. Pengukuran KOB limbah awal
sebesar 149.09 mg/L, dan menurun setelah dijerap oleh ATM, AMA, dan AA masing-
masing 63.41, 76.09, dan 72.46%. Berdasarkan hasil ini dapat dinyatakan bahwa sekam
padi berpotensi sebagai penjerap zat warna, sehingga mampu mengurangi tingkat
pencemaran lingkungan perairan.
ABSTRACT
JENI YULIKA. Adsorption of Cibacron Red Reactive Dye Using Rice Husk as
Adsorbent. Supervised by BETTY MARITA SOEBRATA and MOHAMMAD KHOTIB.
Textile wastewater containing dyes can pollute aquatic environment. This study
utilized rice husk as adsorbent for Cibacron Red reactive dyes which are widely used in
textile industries. Husks were made into adsorbent without modification (ATM) and acid
modified adsorbent (AMA). The optimum condition was obtained under adsorption time
of 30 minutes, 1.0 g of adsorbent, and initial concentration of dye solution was 150
ppm. The optimum condition for AMA was obtained under adsorption time of 60
minutes, 2.0 g of adsorbent, and 150 ppm initial concentration of dye solution. The
optimum condition of activated charcoal (AA) as a comparison was 30 minute time of
adsorption, 3.0 g of adsorbent, and 150 ppm initial concentration dye
solution. Adsorption capacity of ATM, AMA, and AA at the optimum conditions was
2879.00, 6898.30, and 2470.00 µg/g, respectively. Adsorption efficiency of ATM, AMA,
and AA at the optimum conditions was 19.86, 91.71, and 40.51%, respectively. All three
types of adsorbent followed the Freundlich isotherm. Application of the adsorbent on
waste of textile manufacture showed a decrease in colour after adsorption by ATM,
AMA, and AA, up to 52.05, 98.86 and 48.69%, respectively, with the initial colour
intensity of 1485 Pt-Co. Starting with COD of the wastewater which was 7372.0 mg/L,
the values decreased after the adsorption with ATM, AMA, and AA were 43.30, 98.56
and 52.58%, respectively. Starting with BOD of 149.09 mg/L, the values decreased after
adsorption by ATM, AMA, and AA were 63.41, 76.09, and 72.46%, respectively. Based
on these results, rice husk is potentially used as an adsorbent of dyes, thereby reducing
the level of pollution of aquatic environment.
PENJERAPAN ZAT WARNA REAKTIF CIBACRON RED
MENGGUNAKAN ADSORBEN SEKAM PADI











JENI YULIKA






Skripsi
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Sarjana Sains pada
Departemen Kimia












DEPARTEMEN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2010
Judul Skripsi : Penjerapan Zat Warna Rreaktif Cibacron Red Menggunakan
Adsorben Sekam Padi
Nama : Jeni Yulika
NIM : G44052917








Disetujui

Pembimbing I, Pembimbing II,







Betty Marita Soebrata, S.Si., M.Si. Mohammad Khotib, S.Si.
NIP 19630621 198703 2 013 NIP 19781018 200701 1 002







Diketahui

Ketua Departemen,




Prof. Dr. Ir. Tun Tedja Irawadi, M.S.
NIP 19501227 197603 2 002






Tanggal Lulus:
PRAKATA
Puji dan syukur ke hadirat Allah SWT atas rahmat, kasih sayang, nikmat,
dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan karya ilmiah ini. Karya
ilmiah berjudul Adsorpsi Zat Warna Reaktif Cibacron Red Menggunakan
Adsorben Sekam Padi ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar
sarjana sains pada Departemen Kimia FMIPA IPB, yang penelitiannya
dilaksanakan pada pertengahan bulan Juni 2009 sampai dengan Februari 2010
bertempat di Laboratorium Kimia Fisik dan Lingkungan, IPB.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada Ibu Betty Marita Soebrata, S.Si,
M.Si. dan Bapak Mohammad Khotib, S.Si. selaku pembimbing yang telah
memberikan masukan dan pengarahan kepada penulis selama pelaksanaan
penelitian dan penulisan karya ilmiah ini.
Ungkapan terima kasih penulis berikan kepada keluarga tercinta, Ayah, Ibu,
Kakak tercinta dan Robby Hardian Kusuma yang selalu memberikan semangat,
doa, dan kasih sayang dalam berbagai bentuk yang tak pernah putus. Terima kasih
juga kepada Pak Nano, Pak Ismail, Bu Ai, dan seluruh staf Laboratorium Kimia
Fisik atas fasilitas dan bantuan yang diberikan selama penelitian. Ucapan terima
kasih tak lupa penulis berikan kepada Andayani, Hafidz, Gina, dan teman-teman
seperjuangan Kimia 42 yang turut membantu, memberikan semangat, dan
dukungannya dalam penyusunan karya ilmiah.
Akhir kata, penulis menyampaikan semoga karya ilmiah ini bermanfaat bagi
pembaca.





Bogor, Agustus 2010



Jeni Yulika
















RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Kudus pada tanggal 14 januari 1988 dari ayah M.
Solikhin dan ibu Suwira. Penulis merupakan putri ketiga dari tiga bersaudara.
Tahun 2005 penulis lulus dari SMA Negeri 101 Jakarta Barat dan pada
tahun yang sama lulus seleksi masuk Institut Pertanian Bogor (IPB) melalui jalur
Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI). Tahun 2006 Penulis memilih Program
Studi Kimia, Departemen Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan
Alam.
Penulis melakukan praktik lapangan pada tahun 2008 di Pusat Penelitian
dan Pengembangan Teknologi Minyak dan Gas Bumi (PPPTMGB) “LEMIGAS”.
Judul yang dipilih adalah Pengaruh Komposisi Hidrokarbon Terhadap Nilai
Oktana dari Bahan Bakar Minyak. Selama mengikuti perkuliahan, penulis pernah
menjadi asisten praktikum Kimia Fisik 2008/2009. Penulis juga aktif dalam
kegiatan-kegiatan yang diadakan oleh Ikatan Mahasiswa Kimia (Imasika). Penulis
juga pernah mengikuti beberapa seminar-seminar yang berbasis iptek selama
mengikuti perkuliahan di IPB.



























DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR TABEL .......................................................................................... viii
DAFTAR GAMBAR ...................................................................................... viii
DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................... ix
PENDAHULUAN .......................................................................................... 1
TINJAUAN PUSTAKA
Sekam Padi ............................................................................................ 2
Adsorpsi ................................................................................................ 2
Isoterm Adsorpsi.................................................................................... 2
Isoterm Freundlich ................................................................................. 2
Isoterm Langmuir .................................................................................. 3
Arang Aktif ........................................................................................... 3
Modifikasi Adsorben ............................................................................. 3
Zat Warna Reaktif.................................................................................. 3
Cibacron Red ......................................................................................... 4
Kebutuhan Oksigen Kimia (KOK) ......................................................... 4
Kebutuhan oksigen Biokimia (KOB) ..................................................... 4
BAHAN DAN METODE
Bahan dan Alat ...................................................................................... 5
Metode Penelitian .................................................................................. 5
HASIL DAN PEMBAHASAN
Panjang Gelombang Maksimum dan Pembuatan Kurva Standar............. 7
Kondisi Optimum Adsorben Tanpa Modifikasi ...................................... 7
Kondisi Optimum Adsorben Modifikasi Asam ....................................... 7
Kondisi Optimum Arang Aktif ............................................................... 8
Adsorpsi Larutan Tunggal...................................................................... 8
Isoterm Adsorpsi.................................................................................... 9
Adsorpsi Limbah Industri ...................................................................... 10
Analisis KOK ........................................................................................ 11
Analisis KOB ........................................................................................ 11
SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan ............................................................................................... 12
Saran ..................................................................................................... 12
DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 12
LAMPIRAN ................................................................................................... 15
DAFTAR TABEL
Halaman
1 Komposisi kimia sekam padi ...................................................................... 2
2 Kondisi optimum ATM .............................................................................. 7
3 Kondisi optimum AMA .............................................................................. 8
4 Kondisi optimum AA ................................................................................. 8
DAFTAR GAMBAR
Halaman
1 Struktur Arang Aktif (Bates 2008) .............................................................. 3
2 Struktur Cibacron Red (Aldrich 2007) ........................................................ 4
3 Kurva standar Cibacron Red ....................................................................... 7
4 Perbandingan kapasitas adsorpsi Cibacron Red oleh ATM, AMA dan AA . 9
5 Perbandingan efisiensi adsorpsi Cibacron Red oleh ATM, AMA, dan AA .. 9
6 Isoterm Langmuir adsorpsi Cibacron Red oleh ATM .................................. 9
7 Isoterm Freundlich adsorpsi Cibacron Red oleh ATM ................................ 9
8 Isoterm Langmuir adsorpsi Cibacron Red oleh AMA ................................ 9
9 Isoterm Freundlich adsorpsi Cibacron Red oleh AMA ................................ 10
10 Isoterm Langmuir adsorpsi Cibacron Red oleh AA .................................... 10
11 Isoterm Freundlich adsorpsi Cibacron Red oleh AA ................................... 10
12 Intensitas warna limbah awal dan setelah dijerap oleh ATM, AMA,
dan AA…................................................................................................... 11
13 Persen penurunan warna limbah tekstil setelah dijerap oleh ATM,
AMA, dan AA ........................................................................................... 11
14 Persen penurunan nilai KOK setelah dijerap oleh ATM, AMA, dan AA... .. 11
15 Persen penurunan nilai KOB setelah dijerap oleh ATM, AMA, dan AA... .. 12



DAFTAR LAMPIRAN
Halaman
1 Bagan alir penelitian ................................................................................... 16
2 Pembuatan larutan KOK dan KOB ............................................................. 17
3 Penentuan panjang gelombang maksimum zat warna Cibacron Red ........... 18
4 Penentuan kondisi optimum adsorben tanpa modifikasi .............................. 19
5 Analisis statistik kondisi optimum adsorben tanpa modifikasi .................... 20
6 Penentuan kondisi optimum adsorben modifikasi asam .............................. 21
7 Analisis statistik kondisi optimum adsorben modifikasi asam ..................... 22
8 Penentuan kondisi optimum arang aktif ...................................................... 23
9 Analisis statistik kondisi optimum arang aktif............................................. 24
10 Isoterm Langmuir dan Freundlich untuk adsorpsi Cibacron Red oleh
adsorben tanpa modifikasi .......................................................................... 25
11 Isoterm Langmuir dan Freundlich untuk adsorpsi Cibacron Red oleh
adsorben modifikasi asam…….. .................................................................. 25
12 Isoterm Langmuir dan Freundlich untuk adsorpsi Cibacron Red oleh
arang aktif .................................................................................................. 26
13 Penentuan intensitas warna dan persen penurunan warna untuk adsorpsi
limbah industri tekstil ................................................................................. 27
14 Hasil analisis KOK ..................................................................................... 28
15 Hasil analisis KOB ..................................................................................... 29









PENDAHULUAN
Air merupakan salah satu zat yang sangat
penting bagi semua makhluk dan lingkungan
hidup. Namun, semakin berkembangnya
perindustrian, lingkungan perairan rentan
terhadap bahaya pencemaran. Salah satu
penyebabnya adalah buangan hasil industri
yang prosesnya menggunakan zat-zat kimia
berupa zat warna seperti industri tekstil.
Kebanyakan industri tekstil menggunakan zat
warna yang sifatnya tidak berbau, warna yang
cerah, tahan luntur, dan memiliki daya serap
terhadap serat kain yang cukup tinggi. Salah
satu zat warna yang banyak digunakan adalah
Cibacron Red.
Buangan hasil industri berupa limbah
tekstil secara fisik terlihat keruh, berwarna,
berbau, kadang-kadang terlihat berbuih, dan
sulit terbiodegradasi secara alami. Hal ini
dapat menimbulkan berbagai masalah jika
limbah tersebut dibuang langsung ke perairan
yaitu dapat mengganggu ekosistem,
memperlambat proses fotosintesis, dan
menghambat pertumbuhan biota, karena sinar
matahari tidak secara langsung masuk ke
dalam perairan. Oleh karena itu, limbah zat
warna harus diolah terlebih dahulu sebelum
dibuang ke perairan agar mencapai batas
aman di lingkungan.
Beberapa teknik pengolahan limbah yang
telah dilakukan diantaranya adalah secara
kimia dengan teknik koagulasi dan flokulasi,
secara fisika dengan proses adsorpsi
menggunakan arang aktif sebagai adsorben,
dan melalui proses biologi dengan
menggunakan mikroba (Forlink 2000). Akan
tetapi, selain keunggulannya dalam hasil
proses pengolahan, teknik-teknik tersebut
memiliki beberapa kekurangan, seperti
timbulnya lumpur dalam jumlah cukup besar
sehingga menimbulkan masalah baru terhadap
lingkungan dan membutuhkan pengolahan
lebih lanjut terhadap lumpur yang terbentuk,
biaya yang dibutuhkan cukup besar untuk
penggunaan arang aktif, terlebih jika
digunakan dalam pengolahan limbah dengan
skala yang besar atau terhadap limbah yang
memiliki konsentrasi tinggi (Manurung et al.
2004).
Kelemahan-kelemahan teknik pengolahan
limbah tersebut membuat beberapa peneliti
mencari metode alternatif, seperti penggunaan
produk samping pertanian yang tidak
membutuhkan biaya besar sebagai adsorben
menggantikan arang aktif. Beberapa produk
samping pertanian yang berpotensi sebagai
adsorben yaitu bahan baku yang berasal dari
hewan, tumbuh-tumbuhan, limbah ataupun
mineral yang mengandung karbon, beberapa
diantaranya yang telah diteliti adalah tulang,
kayu lunak, sekam, tempurung kelapa, sabut
kelapa, ampas pembuatan kertas, serbuk
gergaji, kayu keras, batu bara (Sembiring &
Sinaga 2003), tongkol jagung, gabah padi,
gabah kedelai, biji kapas, jerami, ampas tebu,
serta kulit kacang tanah (Marshall & Mitchell
1996).
Sekam padi merupakan salah satu produk
samping pertanian yang tersedia dalam jumlah
banyak dan murah. Menurut data Badan Pusat
Statistik (BPS 2009) dan Departemen
Pertanian ([Deptan] 2009) produksi padi di
Indonesia pada tahun 2009 mencapai 60,9 juta
ton gabah kering giling (GKG) yang dapat
menghasilkan sekam padi sebanyak 20–25 %
dari berat keseluruhan. Penggunaan sekam
padi sebagai adsorben diharapkan dapat
menjadi nilai tambah serta meningkatkan daya
dukungnya terhadap lingkungan dalam
penanganan buangan hasil industri tekstil
yang mengandung zat warna maupun logam
berat.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa,
sekam padi mampu menjerap polutan beracun
hasil buangan industri, yaitu fenol sebesar
82,8% yang dilaporkan oleh Srihari et al.
(2005). Abdelwahab et al. (2005) melaporkan
bahwa sekam padi tanpa modifikasi dan
termodifikasi asam nitrat mampu menjerap zat
warna Direct F. Scarlet (Direct Red 23)
hingga mencapai 80,0%. Beberapa penelitian
terkait mengenai adsorpsi zat warna adalah
penggunaan jerami padi yang mampu
menjerap zat warna tekstil BR Red HE 7B
dengan kapasitas maksimum adsorpsi 9,8
mg/g (Suwarsa 1998), adsorpsi zat warna
Cibacron Red sebagai model juga telah
dilakukan sebelumnya oleh Diapati (2009)
menggunakan ampas tebu sebagai adsorben
dengan penurunan warna mencapai 97,6% dan
kulit kacang tanah dengan penurunan warna
mencapai 97,08% yang dilaporkan oleh
Susanti (2009).
Penelitian ini bertujuan untuk
memanfaatkan sekam padi sebagai adsorben
zat warna reaktif Cibacron Red, yaitu dengan
menentukan kondisi optimum dan jenis
isoterm adsorpsi dari proses adsorpsi yang
dilakukan. Penerapan hasil tersebut dilakukan
pada limbah tekstil dengan mengukur
intensitas warna, nilai kebutuhan oksigen
kimia (KOK), dan kebutuhan oksigen
biokimia (KOB) sebelum dan sesudah
mengalami proses adsorpsi dengan sekam
padi.
2
TINJAUAN PUSTAKA
Sekam Padi
Biji padi atau gabah terdiri atas dua
penyusun utama, yaitu 72–82% bagian dapat
dimakan atau kariopsis yang disebut beras
pecah, dan 18–28% kulit gabah atau sekam.
Sekam padi merupakan salah satu bahan atau
material sisa dari proses pengolahan padi yang
selama ini dianggap sebagai produk samping.
Persentase jumlah ketersediaan sekam padi
yang cukup tinggi dapat menimbulkan
masalah lingkungan. Oleh karena itu,
dilakukan suatu penelitian yang mampu
mereduksi masalah lingkungan tersebut
dengan cara digunakan menjadi sesuatu yang
bermanfaat.
Sekam tersusun terutama dari jaringan
serat-serat selulosa dan mengandung silika.
Menurut Hattotuwa et al. (2002), kandungan
kimiawi sekam cukup tinggi yang ditunjukkan
pada Tabel 1. Hal ini mengindikasikan potensi
besar yang dimiliki sekam padi untuk
dimanfaatkan.
Tabel 1 Komposisi kimia sekam padi
Komponen Komposisi (%)
Selulosa 35
Hemiselulosa 25
Lignin 20
Abu 17
Lain-lain 3
Sumber: Hattotuwa et al. (2002)
Komponen selulosa yang terkandung
cukup tinggi dibanding komponen lainnya.
Oleh karena itu, sekam padi diperkirakan
mempunyai potensi sebagai adsorben.
Adsorpsi
Adsorpsi merupakan peristiwa akumulasi
partikel pada suatu permukaan (Atkins 1999).
Partikel yang terakumulasi dan dijerap oleh
permukaan disebut adsorbat, sedangkan
material tempat terjadinya adsorpsi disebut
adsorben. Adsorpsi terjadi karena gaya tarik
menarik antara molekul adsorbat dan tapak-
tapak yang aktif di permukaan adsorben
(Setyaningsih 1995). Jika gaya tarik-menarik
ini lebih kuat daripada gaya tarik
antarmolekul adsorbat, maka terjadi
perpindahan massa adsorbat dari fase gerak ke
permukaan adsorben (Bird 1993).
Berdasarkan jenis gaya tariknya, dikenal dua
jenis adsorpsi, yaitu adsorpsi fisik (fisisorpsi)
yang melibatkan gaya van der Waals dan
adsorpsi kimia (kimisorpsi) yang melibatkan
reaksi kimia.
Proses adsorpsi dapat berlangsung melalui
tiga tahapan, yaitu makrotranspor,
mikrotranspor, dan sorpsi. Makrotranspor
merupakan perpindahan adsorbat melalui air
menuju interfase cair-padat dengan proses
pemanasan dan difusi. Mikrotranspor meliputi
difusi adsorbat melalui sistem makropori dan
submikropori. Sorpsi adalah istilah untuk
menjelaskan kontak adsorbat terhadap
adsorben (Tchobanoglous & Franklin 1991).
Faktor-faktor yang mempengaruhi proses
adsorpsi antara lain sifat fisik dan kimia
adsorben (luas permukaan, ukuran partikel,
dan komposisi kimia), sifat fisik dan kimia
adsorbat (ukuran molekul dan komposisi
kimia), serta konsentrasi adsorbat dalam fase
cairan. Ukuran pori dan luas permukaan
adsorben merupakan hal yang sangat penting
dalam adsorpsi. Semakin kecil ukuran
partikel, semakin besar luas permukaan
padatan per satuan volume, sehingga semakin
banyak zat yang dapat diadsorpsi (Atkins
1999).
Isoterm Adsorpsi
Proses adsorpsi antara adsorben dengan
adsorbat memiliki kesetimbangan tersendiri
dan menunjukkan bahwa jumlah zat yang
diserap merupakan fungsi konsentrasi pada
temperatur tetap (Husni et al. 2005).
Pemodelan adsorpsi umumnya menggunakan
isoterm yang merupakan fungsi konsentrasi
zat terlarut teradsorpsi persatuan bobot
adsorben terhadap konsentrasi larutan. Isoterm
adsorpsi dapat digunakan untuk mempelajari
mekanisme adsorpsi suatu zat. Ada beberapa
tipe isoterm adsorpsi yang dikembangkan
untuk mendeskripsikan interaksi antara
adsorben dengan adsorbat. Umumnya
mengikuti persamaan adsorpsi Freundlich atau
Langmuir (Suardana 2008).
Isoterm Freundlich
Isoterm Freundlich merupakan isoterm
yang paling umum digunakan dan dapat
mencirikan proses adsorpsi dengan lebih baik
(Jason 2004). Isoterm Freundlich
menggambarkan hubungan antara sejumlah
komponen yang teradsorpsi per unit adsorben
dan konsentrasi komponen tersebut pada
kesetimbangan. Freundlich menyusun isoterm
adsorpsi dengan mengasumsikan bahwa
permukaan adsorben adalah heterogen.
Formulasi persamaan isotermnya (Barral et al.
2007) dituliskan sebagai berikut:
n
1
C k Q =
3
Apabila dilogaritmakan, persamaan akan
menjadi:
C log
n
1
k log Q log + =

Dengan Q adalah
m
x
(µg/g) yaitu jumlah
adsorbat yang teradsorpsi per satuan bobot
adsorben, C (ppm) adalah konsentrasi
keseimbangan adsorbat dalam larutan setelah
adsorpsi, sedangkan k dan n adalah tetapan
empiris yang menunjukkan ikatan antara
adsorbat dan adsorben.
Isoterm Langmuir
Isoterm Langmuir merupakan isoterm
paling sederhana yang mengasumsikan bahwa
setiap sisi adsorpsi adalah ekuivalen, dan
kemampuan partikel untuk terjerap pada sisi
tersebut, tidak bergantung pada ditempati atau
tidaknya sisi yang berdekatan (Atkins 1999).
Isoterm Langmuir diturunkan berdasarkan
persamaan berikut:
C
C
m
x

 
+
=
1

Konstanta α, β dapat ditentukan dari kurva
hubungan
m / x
C
terhadap C dengan persamaan
C
1 1
m / x
C
  
+ =

Isoterm langmuir dipelajari untuk
mengambarkan pembatasan sisi adsorpsi
dengan asumsi bahwa sejumlah tertentu sisi
sentuh adsorben ada pada permukaannya dan
semuanya memiliki energi yang sama, serta
adsorpsi bersifat dapat balik (Atkins 1999).
Arang Aktif
Arang aktif merupakan senyawa padatan
bersifat amorf, memiliki luas permukaan dan
pori-pori sangat banyak (Baker et al. 1997),
dihasilkan dari proses pembakaran bahan
mengandung karbon. Arang aktif tersusun dari
atom-atom karbon yang berikatan secara
kovalen membentuk struktur heksagonal datar
dengan sebuah atom C pada setiap sudutnya.
Susunan kisi-kisi heksagonal datar tampak
seolah-olah seperti pelat-pelat datar yang
saling bertumpuk dengan sela-sela
diantaranya (Gambar 1).

Gambar 1 Struktur Arang Aktif (Bates
2008)
Manes (1998) menyatakan bahwa arang
aktif adalah bentuk umum dari berbagai
macam produk yang mengandung karbon
yang telah teraktifkan untuk meningkatkan
luas permukaannya. Luas permukaan,
dimensi, dan distribusi arang aktif bergantung
pada bahan baku, pengarangan, dan proses
aktivasi. Berdasarkan ukuran porinya, arang
aktif diklasifikasikan menjadi tiga, yaitu
mikropori (diameter <2 nm), mesopori
(diameter 2–50 nm), dan makropori (diameter
>50 nm) (Baker et al. 1997).
Modifikasi Adsorben
Modifikasi adsorben bertujuan
meningkatkan kapasitas dan efisiensi adsorpsi
dari adsorben. Modifikasi dapat dilakukan
dengan memberi perlakuan kimia seperti
direaksikan dengan asam dan basa atau
dengan perlakuan fisika seperti pemanasan
dan pencucian (Marshall & Mitchell 1996).
Asam sulfat merupakan salah satu asam yang
sering digunakan untuk memodifikasi
adsorben, selain HCl, asam fosfat, asam nitrat,
dan asam sitrat.
Asam yang digunakan pada
penelitian ini adalah asam sulfat, dan
diharapkan mampu mengaktifkan gugus
hidroksi pada selulosa. Mekanisme reaksi
pada umumnya dapat digambarkan sebagai
adsorpsi unsur positif pada zat warna reaktif
terhadap gugus hidroksil pada selulosa yang
terionisasi (Manurung et al. 2004).
Zat Warna Reaktif
Zat warna adalah senyawa organik
berwarna yang digunakan untuk memberi
warna ke suatu objek atau suatu kain
(Fesssenden & Fessenden 1986). Zat warna
merupakan gabungan dari zat organik tidak
jenuh dengan kromofor sebagai pembawa
warna dan auksokrom sebagai pengikat warna
dengan serat. Kromogen adalah senyawa
4
aromatik berisi kromofor, yaitu zat pemberi
warna yang berasal dari radikal kimia, seperti
kelompok azo (N=N). Agar warna dapat
masuk dengan baik ke dalam serat, maka
diperlukan bahan dari auksokrom, yaitu
radikal yang memudahkan terjadinya
pelarutan, misalnya kelompok pembentuk
garam –NH
2
atau OH (Wardhana 1995).
Menurut Purwaningsih (2008) zat warna
digolongkan menjadi dua, yaitu zat warna
alam dan zat warna sintetis. Zat warna alam
adalah zat warna yang berasal dari alam, baik
yang berasal dari tanaman, hewan, maupun
bahan metal. Zat warna sintetis adalah zat
warna buatan, yang dapat dibuat dari bahan-
bahan kimia. Susanto (1973) menyatakan
beberapa zat warna sintesis, diantaranya
adalah zat warna naftol, zat warna indigosol,
zat warna reaktif, dan zat warna indanthreen.
Zat warna reaktif adalah zat warna yang
dapat mengadakan reaksi dengan serat,
sehingga zat warna tersebut merupakan bagian
dari serat. Zat warna reaktif merupakan
golongan zat warna yang mempunyai gugus
aktif, sehingga dengan bahan utama akan
terjadi hubungan secara kimia. Oleh karena
itu, hasil pencelupan zat warna reaktif
mempunyai ketahanan cuci yang sangat baik
dan lebih kilap dari zat warna biasa
(Purwaningsih 2008).
Zat warna reaktif merupakan jenis zat
warna yang banyak digunakan dalam industri
tekstil, terutama dalam proses pencelupan. Zat
warna reaktif adalah pewarna paling
permanen dari semua tipe zat warna. Berbeda
dengan zat warna lain, zat warna reaktif
membentuk ikatan kovalen yang kuat dengan
selulosa. Ketika ikatan kovalen terbentuk,
molekul zat warna akan menjadi bagian dari
molekul serat selulosa. Zat warna reaktif
menghasilkan warna yang cemerlang pada
serat kain, aman dicuci dan tidak mudah
luntur.
Zat warna reaktif dapat digolongkan
berdasarkan gugus fungsi yang terdapat
didalamnya, antara lain monoklorotriazin,
monofluoroklorotriazin, dikorotriazin,
difluorokloropirimidina, trikloropirimidina,
vinil sulfon, dan vinil amida. Zat warna yang
hanya mengandung salah satu gugus fungsi
disebut zat warna monofungsional, sedangkan
yang memiliki dua gugus fungsi disebut zat
warna bifungsional (Jagson 2008). Zat warna
reaktif mempunyai sifat yang umumnya sulit
terbiodegradasi, sehingga masih perlu
dikembangkan teknik pengolahan air limbah
yang mengandung zat warna reaktif.
Cibacron Red
Cibacron Red (C
32
H
19
ClN
8
Na
4
O
14
S
4
)
termasuk zat warna bifungsional yang
mengandung dua gugus reaktif, yaitu
monoklorotriazin dan vinil sulfon. Cibacron
Red merupakan bubuk berwarna merah,
memilki pH 6–7, kelarutan dalam air 100 g/L
(Ciba 2002). Cibacron Red merupakan zat
warna reaktif dalam kelas azo. Zat warna azo
merupakan jenis zat warna yang mempunyai
sistem kromofor dari gugus azo (-N=N-) dan
berikatan dengan gugus aromatik. Zat warna
ini mempunyai bobot molekul sebesar
1000,25 g/mol dan umumnya dianalisis
menggunakan spektroskopi sinar tampak
dengan panjang gelombang maksimum 517
nm (Aldrich 2007). Struktur Cibacron Red
dapat dilihat pada Gambar 2.

Gambar 2 Struktur Cibacron Red (Aldrich
2007).
Kebutuhan Oksigen Kimia (KOK)
Kualitas air ditentukan oleh beberapa
parameter, salah satu diantaranya adalah KOK
yang didefinisikan sebagai jumlah oksigen
yang dibutuhkan untuk mengoksidasi zat-zat
organik dalam sampel menjadi CO
2
dan H
2
O.
Sekitar 85% dari zat yang bereaksi dengan
oksigen dapat teroksidasi menjadi CO
2
dan
H
2
O dalam suasana asam (Fardiaz 1992).
Nilai KOK merupakan parameter
pencemaran air oleh zat-zat organik yang
secara alamiah dapat dioksidasikan melalui
proses mikrobiologis, dan mengakibatkan
berkurangnya oksigen terlarut di dalam air
(Alaerts & Santika 1984). KOK adalah
banyaknya jumlah oksigen setara dengan
bahan organik dalam sampel yang rentan
terhadap proses oksidasi terutama dengan
bahan kimia oksidator kuat. Kebutuhan
oksigen ditentukan dengan mengukur jumlah
oksidator kuat yang digunakan dalam proses
titrimetri (Boyle 1997).
Kebutuhan Oksigen Biokimia (KOB)
KOB didefinisikan sebagai banyaknya
oksigen yang diperlukan oleh organisme pada
5
saat pemecahan senyawa organik, pada
kondisi aerobik. Pemecahan bahan organik
diartikan bahwa bahan organik ini digunakan
oleh organisme sebagai bahan makanan dan
energinya diperoleh dari proses oksidasi.
Parameter KOB, secara umum banyak
dipakai untuk menentukan tingkat
pencemaran air buangan. Pemeriksaan KOB
tehadap air limbah harus bebas dari udara luar
untuk mencegah kontaminasi dari oksigen
yang ada di udara bebas. Konsentrasi air
limbah juga harus berada pada suatu tingkat
pencemaran tertentu, hal tersebut untuk
menjaga agar oksigen terlarut tetap tersedia
selama pemeriksaan. Hal ini perlu
diperhatikan mengingat pengukuran KOB
dilakukan biasanya 5 hari, sehingga perlu
dipertimbangkan akan kebutuhan oksigen
yang akan digunakan selama waktu tersebut.
Kelarutan oksigen dalam air terbatas, yaitu
sekitar 8 mg/L pada suhu kamar, dan pada
suhu yang lebih rendah meningkat hingga
mencapai 14,6 mg/L, hal tersebut juga akan
menigkat pada tekanan yang lebih rendah.
Pada suhu saat titik didih tercapai, kelarutan
oksigen dalam air adalah nol (Hach et al.
1997).
BAHAN DAN METODE
Bahan dan Alat
Bahan-bahan yang digunakan adalah
sekam padi, serbuk zat warna Cibacron Red,
arang aktif, dan limbah cair industri tekstil.
Alat-alat yang digunakan adalah
Spektronik 20D
+
Thermo Electron
Corporation dan Spektronik Hach DR/2000.
Metode Penelitian
Diagram alir penelitian ditunjukkan pada
Lampiran 1. Pembuatan larutan-larutan yang
digunakan untuk KOK dan KOB terdapat
pada Lampiran 2.
Adsorben
Adsorben yang digunakan adalah sekam
padi yang diperoleh dari tempat penggilingan
padi, Dramaga-Bogor. Adsorben sekam padi
dibuat menjadi ukuran +100 mesh. Adsorben
sekam padi kemudian dibandingkan dengan
adsorben komersil, yaitu arang aktif yang
terbuat dari tempurung kelapa.
Preparasi Sekam Padi (Raghuvanshi et al.
2004)
Sekam dicuci dengan air mengalir hingga
bersih kemudian direndam dengan air destilata
selama 48 jam. Setelah itu, direndam dengan
NaOH 0,1 N selama 12 jam dan dibilas
dengan air destilata kemudian dikeringkan
dalam oven pada suhu 60 °C selama 24 jam
lalu digiling dan disaring untuk mendapatkan
serbuk sekam padi berukuran 100 mesh.
Serbuk sekam padi ini selanjutnya disebut
adsorben tanpa modifikasi (ATM).
Sekam padi yang telah dihaluskan
ditambahkan asam sulfat pekat, lalu
dipanaskan pada suhu 160°C selama 36 jam.
Setelah itu, dibilas dengan air destilata untuk
menghilangkan kelebihan asam dengan
pencucian 200 mL per gram adsorben.
Kemudian bahan dikeringkan pada suhu
110°C. Serbuk sekam padi ini selanjutnya
disebut adsorben modifikasi asam (AMA).
Pembuatan Larutan Zat Warna
Larutan stok zat warna konsentrasi 1000
ppm dibuat dengan cara melarutkan 1,00 g
serbuk Cibacron Red dalam air destilata dan
diencerkan hingga satu liter. Kemudian
larutan tersebut dibuat dengan konsentrasi 0.5,
1,0; 5,0; 10,0; 15,0; 20,0; dan 25,0 ppm untuk
pembuatan kurva standar.
Penentuan Kondisi Optimum Waktu
Adsorpsi, Bobot, dan Konsentrasi Awal Zat
Warna
ATM, AMA, dan Arang Aktif (AA)
dengan variasi bobot adsorben 1,0; 2,0; dan
3,0 gram dimasukkan ke dalam 100 mL
larutan zat warna Cibacron Red dengan
konsentrasi awal 50, 100, dan 150 ppm,
kemudian larutan dikocok dengan pengocok.
Adsorpsi dilakukan dengan variasi waktu
adsorpsi 30, 45, dan 60 menit (Raghuvanshi et
al. 2004), dilihat perubahan warna yang
terjadi. Campuran disaring dan dibaca
absorbansi filtratnya dengan spektronik 20D
+

pada panjang gelombang maksimum. Desain
penentuan kondisi optimum adsorpsi
dilakukan menggunakan rancangan acak
lengkap faktorial dengan program statistika.
Kondisi yang digunakan sebagai faktor adalah
waktu adsorpsi, bobot adsorben, dan
konsentrasi awal zat warna, sedangkan
responnya kapasitas adsorpsi (Q) dan efisiensi
adsorpsi (E).
Kapasitas adsorpsi dan efisiensi adsorpsi
dapat dihitung dengan persamaan:

( )
m
C C V
Q
a o
÷
=


% 100 ×
|
|
.
|

\
| ÷
=
o
a o
C
C C
E

6
keterangan:
Q = kapasitas adsorpsi per bobot adsorben
(µg/g adsorben)
V = volume larutan (mL)
C
o
= konsentrasi awal larutan (ppm)
C
a
= konsentrasi akhir larutan (ppm)
m = bobot adsorben (g)
E = efisiensi adsorpsi (%)
Penentuan Isoterm Adsorpsi
Sejumlah bobot optimum ATM dan
AMA masing-masing dilarutkan dalam 100
mL larutan zat warna Cibacron Red dengan
variasi konsentrasi 0,0; 25,0; 50,0; 75,0;
100,0; dan 150,0 ppm pada kondisi waktu
optimum untuk masing-masing adsorben
kemudian disaring dan diukur adsorbansinya
pada panjang gelombang maksimum. Arang
aktif sebagai pembanding diperlakukan sama
seperti halnya adsorben sekam padi. Setelah
itu diukur kapasitas adsorpsi (Q) dan
konstanta afinitas dihitung dengan model
isoterm Langmuir dan Freundlich (Atkins
1999).
Penentuan Kapasitas Adsorpsi Limbah
Industri Tekstil
ATM, AMA, dan AA yang didapat pada
perlakuan kondisi optimum dilarutkan dalam
100 mL limbah cair industri tekstil yang
terlebih dahulu diketahui intensitas warnanya.
Campuran disaring dan filtrat yang diperoleh
diukur intensitas warnanya (unit Pt-Co) pada
panjang gelombang 455 nm dengan
spektronik Hach DR/2000.
Penentuan Kebutuhan Oksigen Kimia
(KOK) (SNI 06-6989.15-2004)
Standardisasi larutan ferro amonium
sulfat (FAS). Larutan K
2
Cr
2
O
7
0,025 N
sebanyak 10 mL dipipet, dimasukkan ke
dalam Erlenmeyer 200 ml dan ditambahkan 2
mL H
2
SO
4
pekat dan 3 tetes indikator ferroin.
Kemudian larutan dititrasi dengan larutan
FAS 0,1 N dengan perubahan warna dari hijau
menjadi merah kecoklatan. Volume larutan
FAS yang terpakai dicatat.
Uji sampel (filtrat limbah sebelum dan
sesudah dilakukan adsorpsi) sebanyak 10 mL
dimasukkan ke dalam Erlenmeyer,
ditambahkan 0,2 g HgSO
4
, 10 mL K
2
Cr
2
O
7
0,25 N, dan beberapa batu didih, lalu dikocok
supaya tercampur. Larutan H
2
SO
4
-Ag
2
SO
4

sebanyak 15 mL ditambahkan ke dalam
campuran tersebut dengan hati-hati, dikocok
kembali, dan dididihkan (refluks) selama 2
jam, lalu didinginkan. Indikator ferroin
sebanyak 2–5 tetes ditambahkan ke dalam
larutan sampel, lalu dititrasi dengan larutan
FAS dengan perubahan warna dari hijau
menjadi merah kecoklatan. Volume larutan
FAS yang terpakai dicatat. Blanko akuades
dibuat dengan perlakuan yang sama seperti
sampel. Nilai KOK ditentukan dengan rumus
berikut:
Vs
fp 1000 BE N Vs) - (Vb
KOK
2
O FAS
× × × ×
=

keterangan :
V
b
= volume blanko
V
s
= volume sampel
fp = faktor pengenceran
Penentuan Kebutuhan Oksigen Biokimia
(KOB) (SNI 06-6989.14-2004)
Standardisasi larutan natrium tiosulfat.
Larutan K
2
Cr
2
O
7
0,025 N sebanyak 10 mL
dimasukkan ke dalam Erlenmeyer berisi 80
mL air destilata lalu ditambahkan 1,0 mL
H
2
SO
4
pekat dan 1,0 gram KI sambil diaduk
sampai homogen. Kemudian larutan tersebut
disimpan di tempat gelap selama 6 menit
untuk selanjutnya dititrasi dengan Na-tiosulfat
0,025 N dengan indikator amilum sampai
tidak berwarna. Volume Na-tiosulfat yang
terpakai dicatat, lalu konsentrasi Na-tiosulfat
ditentukan sebagai Nt.
3 2 2
7 2 2 7 2 2
V
N V
O S Na Normalitas
3 2 2
O S Na
O Cr K O Cr K
×
=
Persiapan sampel. Filtrat hasil adsorpsi
optimum sebanyak 50 mL diencerkan dengan
larutan pengencer KOB sampai 1000 mL dan
diaerasi selama 15 menit. Kemudian sampel
dimasukkan ke dalam dua botol KOB 250 mL
(Vb) sampai penuh dan ditutup. Penutupan
botol diusahakan tidak ada gelembung udara.
Botol KOB yang satu disimpan untuk
pengujian pada hari kelima.
Uji sampel. Tutup botol KOB dibuka
kemudian ditambahkan dengan 1,0 mL larutan
MnSO
4
dan 1,0 mL larutan alkali iodida azida
melalui dinding botol. Botol ditutup dengan
hati-hati dan dikocok dengan cara membolak-
balikkan botol beberapa kali, kemudian
dibiarkan sampai terbentuk endapan. Setelah
itu, tutup botol dibuka dan ditambahkan 1,0
mL larutan H
2
SO
4
pekat melalui dinding
botol, lalu ditutup kembali. Larutan dikocok
sampai semua endapan larut. Larutan
sebanyak 50 mL (Vs) dimasukkan ke dalam
Erlenmeyer dan dititrasi dengan Na-tiosulfat
sampai warna kuning muda. Kemudian
larutan ditambahkan 3 tetes amilum dan titrasi
dilanjutkan sampai warna biru hilang pertama
kali. Volume Na-tiosulfat yang terpakai
dicatat sebagai Vt. Blanko larutan pengencer
7
KOB dibuat dengan perlakuan yang sama
seperti prosedur sampel. Uji dilakukan
terhadap botol kedua pada hari kelima.
Rumus:
Oksigen Terlarut (OT)
2) - (Vb Vs
1000 Vb O BE Nt Vt
OT
2
×
× × × ×
=

Nilai KOB pada hari kelima
KOB = [(OT
S1
-OT
S5
)-k(OT
B1
-OT
B5
)] x fp
keterangan:
OT
S
= oksigen terlarut sampel
OT
B
= oksigen terlarut blanko
k = (fp-1)/fp
HASIL DAN PEMBAHASAN
Panjang Gelombang Maksimum dan
Pembuatan Kurva Standar
Pemilihan panjang gelombang maksimum
ditujukan untuk menentukan panjang
gelombang yang tepat dalam pengukuran
sampel, karena energi yang paling banyak
diserap oleh sampel tersebut adalah pada
panjang gelombang maksimumnya.
Pengukuran pada panjang gelombang tersebut
akan memberikan kepekaan dan ketelitian
pengukuran yang paling tinggi dengan
spektrofotometer. Panjang gelombang
maksimum Cibacron Red yang diperoleh
adalah 518 nm (Lampiran 3).
Pengukuran serapan pada beberapa
konsentrasi untuk mendapatkan kurva standar
ditunjukkan pada Lampiran 3. Persamaan
kurva standar larutan Cibacron Red yang
dihasilkan adalah y = 0,0140x + 0,0000
dengan R
2
= 99,99% ditunjukkan pada
Gambar 3. Persamaan tersebut selanjutnya
digunakan dalam penentuan konsentrasi
setelah adsorpsi.

Gambar 3 Kurva standar Cibacron Red.
Kondisi Optimum Adsorben Tanpa
Modifikasi
Data pada Lampiran 4 dan 5 untuk ATM
menunjukkan bahwa adsorpsi mencapai
kesetimbangan (optimum) pada waktu
adsorpsi 30 menit, 1,0 gram bobot adsorben,
dan 150 ppm konsentrasi awal zat warna
Cibacron Red. Nilai kapasitas adsorpsi dan
efisiensi adsorpsi pada kondisi optimum
tersebut sebesar 2879,0 µg/g (artinya
sebanyak 2879,0 µg adsorbat yang terjerap
dalam 1,0 g adsorben) dan 19,86% (Tabel 2).
Tabel 2 Kondisi optimum ATM
Parameter Optimum
Q
(µg/g)
E
(%)
Waktu 30 menit
2879,0 19,86 Bobot 1,0 gram
Konsentrasi 150 ppm
Kapasitas adsorpsi dan efisiensi adsorpsi
meningkat seiring dengan meningkatnya
waktu adsorpsi. Waktu optimum yang
diperoleh ATM adalah 30 menit. Lampiran 5
menunjukkan bahwa kapasitas adsorpsi dan
efisiensi adsorpsi menurun setelah melewati
30 menit. Hal ini sesuai dengan hasil
penelitian Raghuvanshi et al. (2004) yang
menyatakan bahwa efisiensi adsorpsi
berbanding lurus dengan waktu sampai pada
titik tertentu, kemudian mengalami penurunan
setelah melewati titik tersebut. Begitu juga
dengan kondisi bobot ATM yang
menunjukkan adanya penurunan kapasitas
adsorpsi dan efisiensi adsorpsi seiring
meningkatnya bobot adsorben, dikarenakan
masih tersedianya ruang tapak aktif yang
belum berikatan dengan permukaan.
Peningkatan sisi aktif akan meningkatkan
penyebaran adsorbat, sehingga kapasitas
adsorpsi lebih rendah dibandingkan dengan
jumlah tapak aktif yang lebih sedikit.
Kapasitas dan efisiensi adsorpsi
meningkat seiring dengan kenaikan
konsentrasi awal Cibacron Red. Pencirian
adsorpsi Cibacron Red menunjukkan bahwa
kejenuhan permukaan adsorben bergantung
pada konsentrasi Cibacron Red tersebut, pada
konsentrasi yang rendah adsorben mampu
menjerap lebih banyak molekul Cibacron Red
yang tersedia dengan cepat, sedangkan pada
konsentrasi yang tinggi adsorben dapat
menjerap molekul Cibacron Red dengan
waktu yang lebih lama. Kapasitas adsorpsi
adsorben besar jika konsentrasi awal larutan
Cibacron Red lebih besar, hal ini dikarenakan
permukaan adsorben akan lebih cepat jenuh.
Kondisi Optimum Adsorben Modifikasi
Asam
Kondisi optimum AMA diperoleh pada
waktu adsorpsi 60 menit, bobot adsorben 2,0
y = 0,014x + 0,000
R² = 0,999
0,0000
0,1000
0,2000
0,3000
0,4000
0 5 10 15 20 25 30
A
b
s
o
r
b
a
n
s
Konsentrasi (ppm)
8
gram, dan konsentrasi awal zat warna 150
ppm. Data terdapat pada Lampiran 6 dan 7.
Kapasitas adsorpsi yang diperoleh pada
kondisi optimum sebesar 6898,30 µg/g artinya
sebanyak 6898,30 µg adsorbat yang terjerap
dalam 2,0 g adsorben, dengan efisiensi
adsorpsi 91,71% terlihat pada Tabel 3.
Tabel 3 Kondisi optimum AMA
Parameter optimum
Q
(µg/g)
E
(%)
Waktu 60 menit
6898,30 91,71 Bobot 2,0 gram
Konsentrasi 150 ppm
Berdasarkan hasil ini membuktikan
bahwa modifikasi asam pada adsorben sekam
padi dapat meningkatkan kapasitas adsorpsi
dan efisiensi adsorpsi. Modifikasi adsorben
sekam padi menggunakan asam sulfat terbukti
memiliki nilai kapasitas dan efisiensi adsorpsi
yang lebih tinggi dibandingkan dengan
adsorben sekam padi tanpa modifikasi.
Lampiran 7 menunjukkan waktu dan
bobot optimum AMA yang diperoleh adalah
selama 60 menit dan 2,0 gram adsorben.
Namun, setelah melewati titik optimum
tersebut, kapasitas adsorpsi menurun dan
efisiensi adsorpsi meningkat. Penurunan
kapasitas adsorpsi setelah mencapai nilai
bobot optimum dimungkinkan adanya sisi
aktif yang belum berikatan dengan adsorbat
sehingga kapasitas adsorpsi 2,0 gram lebih
besar dibandingkan 3,0 gram. Peningkatan
ketersediaan tapak aktif dengan penambahan
jumlah bobot, berbanding terbalik dengan
nilai kapasitas adsorpsi. Hal ini dikarenakan
tapak aktif dalam jumlah besar membutuhkan
waktu adsorpsi yang lebih lama.
Konsentrasi awal Cibacron Red optimum
yang diperoleh adalah 150 ppm. Kenaikan
kapasitas adsorpsi mengindikasikan jumlah
molekul Cibacron Red yang terjerap pada
tapak aktif semakin besar. Konsentrasi yang
tinggi akan meningkatkan jumlah molekul
Cibacron Red dalam larutan, sehingga
semakin besar kemungkinannya akan terjerap.
Semakin besar konsentrasi, semakin tinggi
jumlah molekul dalam larutan, sehingga
meningkatkan laju reaksi antara molekul
adsorbat dan adsorben (Barros et al. 2003).
Kondisi Optimum Arang Aktif
Data pada Lampiran 8 dan 9
menunjukkan pengaruh waktu adsorpsi,
bobot, dan konsentrasi terhadap kapasitas
adsorpsi dan efisiensi adsorpsi oleh AA.
Kondisi optimum AA ditunjukkan pada
Tabel 4, diperoleh waktu adsorpsi selama 30
menit, bobot adsorben 3,0 gram, dan
konsentrasi awal zat warna 150 ppm. Nilai
kapasitas adsorpsi pada kondisi optimum
diperoleh sebesar 2470.00 µg/g yang artinya
sebanyak 2470,00 µg adsorbat terjerap dalam
3,0 g adsorben dengan efisiensi adsorpsi
40,51%.
Tabel 4 Kondisi optimum AA
Parameter optimum
Q
(µg/g)
E
(%)
Waktu 30 menit
2470,00 40,51 Bobot 3,0 gram
Konsentrasi 150 ppm
Arang aktif yang digunakan berasal dari
tempurung kelapa, memiliki luas permukaan
yang besar, hal ini terlihat dari bentuk serbuk
halus adsorben yaitu sekitar 300 mesh. Luas
permukaan yang besar meningkatkan
ketersediaan tapak aktif, sehingga waktu yang
dibutuhkan untuk mencapai waktu
kesetimbangan lebih lama.
Bobot optimum AA sebesar 3,0 gram,
tetapi semakin besar bobot menyebabkan
kapasitas adsorpsi menurun dan efisiensi
adsorpsi meningkat, karena semakin besar
bobot adsorben menyebabkan luas permukaan
aktifnya juga meningkat. Peningkatan jumlah
luas permukaan aktif akan meningkatkan
efisiensi adsorpsi. Kapasitas adsorpsi terus
meningkat hingga konsentrasi 150 ppm, hal
ini dikarenakan jumlah molekul Cibacron Red
yang terjerap pada tapak aktif AA semakin
besar. Kondisi optimum yang diperoleh,
merupakan kondisi terbaik yang digunakan
dalam penelitian ini, namun kondisi optimum
yang sebenarnya dapat diperoleh dengan
meningkatkan kisaran taraf-taraf daerah titik
optimum.
Adsorpsi Larutan Tunggal
Sekam padi sebagai adsorben yang
potensial perlu diuji kemampuannya dalam
menjerap zat warna dengan cara
membandingkan dengan adsorben komersial,
yaitu AA. Kapasitas adsorpsi dan efisiensi
adsorpsi digunakan sebagai respon
pembanding. Perbandingan nilai kapasitas
adsorpsi antara ATM, AMA, dan AA terlihat
pada Gambar 4 yang menunjukkan bahwa
nilai kapasitas adsorpsi AMA lebih tinggi
dibandingkan ATM dan AA berturut-turut
sebesar 6898,30; 2879,00; dan 2470,00 µg/g
adsorben.
9

Gambar 4 Perbandingan kapasitas adsorpsi
Cibacron Red oleh ATM, AMA
dan AA.
Gambar 5 menunjukkan perbandingan
efisiensi adsorpsi ATM, AMA, dan AA
berturut-turut sebesar 19,86; 91,71; dan
40,51%. Efisiensi adsorpsi terbesar adalah
dengan menggunakan AMA.

Gambar 5 Perbandingan efisiensi adsorpsi
Cibacron Red oleh ATM, AMA,
dan AA.
Hasil ini membuktikan bahwa modifikasi
asam pada adsorben sekam padi dapat
meningkatkan kapasitas adsorpsi dan efisiensi
adsorpsi. Hal ini sesuai dengan penelitian
yang dilakukan oleh Abdelwahab et al. (2005)
yang menyatakan bahwa sekam padi
termodifikasi asam mampu meningkatkan
kapasitas adsorpsi.
Isoterm Adsorpsi
Kurva regresi linier untuk tipe isoterm
Freundlich dan Langmuir menggunakan data
konsentrasi awal Cibacron Red, konsentrasi
terjerap, dan bobot adsorben (Lampiran 10,
11, dan 12). Semua kurva dibuat linier
berdasarkan hubungan antara sumbu x dan
sumbu y dari penurunan rumus yang terdapat
pada Lampiran 12.

Gambar 6 Isoterm Langmuir adsorpsi
Cibacron Red oleh ATM.

Gambar 7 Isoterm Freundlich adsorpsi
Cibacron Red oleh ATM.
Linieritas kedua tipe isoterm adsorpsi
Cibacron Red oleh ATM adalah sebesar
72,00% untuk isoterm Langmuir (Gambar 6)
dan 98,20% untuk isoterm Freundlich
(Gambar 7). Berdasarkan hasil tersebut
linieritas isoterm adsorpsi tipe Freundlich
lebih tinggi dibandingkan isoterm Langmuir.
Hal ini menunjukkan bahwa adsorpsi zat
warna reaktif Cibacron Red dengan ATM
mengikuti tipe isoterm Freundlich. Hasil
penelitian ini dikuatkan oleh Hussein et al.
(2004) yang menyatakan bahwa dengan
linieritas di atas 90%, tipe isoterm adsorpsi
Freundlich dan Langmuir dapat terjadi pada
proses adsorpsi zat warna.

Gambar 8 Isoterm Langmuir adsorpsi
Cibacron Red oleh AMA.
2879,00
6898,30
2470,00
0,00
2000,00
4000,00
6000,00
8000,00
ATM AMA AA
K
a
p
a
s
i
t
a
s

a
d
s
o
r
p
s
i

(
µ
g
/
g
)
Jenis adsorben
19,86%
91,71%
40,51%
0
10
20
30
40
50
60
70
80
90
100
ATM AMA AA
E
f
i
s
i
e
n
s
i

a
d
s
o
r
p
s
i

(
%
)
Jenis adsorben
y = -29.216,50x + 2.741.338,71
R² = 0,72
0,0
500000,0
1000000,0
1500000,0
2000000,0
2500000,0
3000000,0
0 25 50 75 100 125 150
c
/
(
x
/
m
)
c (ppm)
y = 4,086x - 10,85
R² = 0,982
-6,0000
-5,0000
-4,0000
-3,0000
-2,0000
-1,0000
0,0000
0
,
0
0
0
0
0
,
5
0
0
0
1
,
0
0
0
0
1
,
5
0
0
0
2
,
0
0
0
0
2
,
5
0
0
0
l
o
g

x
/
m
log c
y = -171,0x + 280,6
R² = 0,824
0,0
50,0
100,0
150,0
200,0
250,0
300,0
0,0000 0,2500 0,5000 0,7500 1,0000
c
/
(
x
/
m
)

c (ppm)
10

Gambar 9 Isoterm Freundlich adsorpsi
Cibacron Red oleh AMA.
Isoterm adsorpsi Cibacron Red oleh AMA
menunjukkan linieritas sebesar 82,40% untuk
isoterm Langmuir (Gambar 8) dan 98,90%
untuk isoterm Freundlich (Gambar 9).
Berdasarkan linieritas kedua tipe isoterm
adsorpsi tersebut, maka adsorpsi
menggunakan AMA mengikuti tipe isoterm
Freundlich.

Gambar 10 Isoterm Langmuir adsorpsi
Cibacron Red oleh AA.

Gambar 11 Isoterm Freundlich adsorpsi
Cibacron Red oleh AA.
Isoterm adsorpsi oleh arang aktif juga
mengikuti isoterm Freundlich berdasarkan
linieritasnya, yaitu 99,20% untuk isoterm
Freundlich (Gambar 10) dan 82,90% untuk
isoterm Langmuir (Gambar 11). Berdasarkan
hasil tersebut dinyatakan bahwa adsorpsi
dengan menggunakan adsorben sekam padi
mengikuti pola isoterm Freundlich yang
mengasumsikan bahwa permukaannya bersifat
heterogen, terdapat sisi aktif adsorpsi yang
memiliki afinitas tinggi, dan bagian lainnya
memiliki afinitas yang rendah, isoterm
Freundlich melibatkan gaya van der Waals
sehingga ikatan antara adsorbat dengan
adsorben bersifat lemah. Hal ini
memungkinkan adsorbat leluasa bergerak
hingga akhirnya berlangsung proses adsorpsi
banyak lapisan. Sehingga, dapat dikatakan
bahwa proses adsorpsi yang terjadi untuk
adsorben sekam padi adalah adsorpsi secara
fisik. Hasil ini serupa dengan penelitian yang
dilakukan oleh Diapati (2009) dan Susanti
(2009) dengan menggunakan adsorben dari
ampas tebu dan kacang tanah, isoterm yang
dihasilkan mengikuti pola isoterm Freundlich.
Namun hasil ini berbeda dengan penelitian
yang dilakukan oleh Abdelwahab, et al.
(2005) yang menyatakan bahwa adsorpsi zat
warna Direct Red 23 dengan sekam padi tanpa
perlakuan dan perlakuan asam, keduanya
mengikuti isoterm Langmuir.
Adsorpsi Limbah Industri
Kemampuan adsorpsi adsorben sekam
padi juga diterapkan pada limbah industri
tekstil. Data pada Lampiran 13 menunjukkan
hasil adsorpsi limbah industri tektil dengan
mengukur intensitas warna sebelum dan
sesudah adsorpsi, sedangkan nilai kapasitas
adsorpsi zat warna tunggal Cibacron Red
tidak dapat diketahui. Hal ini dikarenakan
limbah tekstil banyak mengandung jenis zat
warna, sehingga terjadi persaingan antara zat
yang satu dan lainnya untuk mendapatkan
tapak aktif (Notodarmojo 2004). Parameter
warna diukur dengan spektronik Hach
DR/2000 dalam unit Pt-Co, yaitu satuan nilai
untuk intensitas warna yang didapat. Panjang
gelombang yang digunakan adalah panjang
gelombang yang terbaik untuk pengukuran
warna dalam limbah, yaitu 455 nm.
Intensitas warna limbah awal yang
terukur adalah 1485 unit Pt-Co. Setelah
dijerap dengan ATM, AMA, dan AA
intensitas warnanya menurun menjadi 712, 17,
dan 762 unit Pt-Co secara berturut-turut
(Gambar 12). Persen penurunan warna
intensitas awal limbah setelah dijerap oleh
ATM, AMA, dan AA adalah 52,05; 98,86;
dan 48,69% secara berturut-turut yang
ditunjukkan pada Gambar 13. Persen
penurunan warna terbesar adalah dengan
menggunakan AMA, sehingga dapat
dikatakan bahwa modifikasi asam terhadap
sekam padi mampu meningkatkan kapasitas
adsorpsi zat warna. Hasil ini sesuai dengan
y = 1,553x - 2,097
R² = 0,989
-
4
,
0
0
0
0
-
3
,
0
0
0
0
-
2
,
0
0
0
0
-
1
,
0
0
0
0
0
,
0
0
0
0
-
0
,
6
0
0
0
-
0
,
5
0
0
0
-
0
,
4
0
0
0
-
0
,
3
0
0
0
-
0
,
2
0
0
0
-
0
,
1
0
0
0
0
,
0
0
0
0
l
o
g

x
/
m
log c
y = -5244,x + 62519
R² = 0,829
0
200000
400000
600000
800000
0 50 100 150
c
/
(
x
/
m
)
c (ppm)
y = 2,140x - 7,371
R² = 0,992
-5,0000
-4,0000
-3,0000
-2,0000
-1,0000
0,0000
0
,
0
0
0
0
0
,
5
0
0
0
1
,
0
0
0
0
1
,
5
0
0
0
2
,
0
0
0
0
2
,
5
0
0
0
l
o
g

x
/
m
log c
11
penelitian Abdelwahab et al. (2005) yang
menunjukkan bahwa kapasitas adsorpsi
adsorben sekam padi termodifikasi asam nitrat
lebih besar, yaitu 4350 µg/g dibandingkan
adsorben sekam padi tanpa modifikasi, yaitu
2415 µg/g.

Gambar 12 Intensitas warna limbah tekstil
awal dan setelah dijerap oleh
ATM, AMA, dan AA.

Gambar 13 Persen penurunan warna limbah
tekstil setelah dijerap oleh ATM,
AMA, dan AA.
Berdasarkan standar baku mutu air bersih
Permenkes No. 416/Men.Kes/Per./IX/1990
untuk intensitas warna yang dapat diterima
pada umumnya sebesar 50 unit Pt-Co.
Berdasarkan hasil penelitian ini, maka filtrat
hasil adsorpsi dengan AMA dapat diterima
umumnya untuk kategori air bersih karena
intensitas warnanya telah memenuhi standar
baku mutu air bersih yang ditetapkan.
Analisis KOK
Pengukuran KOK dilakukan secara
titrimetri menggunakan oksidator kuat
K
2
Cr
2
O
7
. Nilai KOK awal adalah 7372,0
mg/L (Lampiran 14), nilai ini jauh dari nilai
standar baku mutu yang diharuskan untuk air
bersih menurut SK Gub. Jawa Barat No.6
Tahun 1999, yaitu sebesar 150 mg/L.
Berdasarkan analisis yang dilakukan nilai
KOK limbah setelah dijerap oleh ATM,
AMA, dan AA mengalami penurunan
berturut-turut sebesar 43,30; 98,56; dan
52,58% (Gambar 14).

Gambar 14 Persen penurunan nilai KOK
setelah dijerap dengan ATM,
AMA, dan AA.
Nilai KOK yang diperoleh menunjukkan
jumlah oksigen yang dibutuhkan untuk
mengoksidasi zat-zat organik yang ada dalam
1 liter sampel air, dengan menggunakan zat
pengoksidator K
2
Cr
2
O
7
sebagai sumber
oksigen. Analisis KOK merupakan reaksi
oksidasi kimia yang menyerupai proses
oksidasi biologi di alam, sehingga tidak dapat
membedakan antara zat-zat yang sebenarnya
tidak teroksidasi dan zat-zat yang teroksidasi
secara biologi (Sudarmaji 1997, Alaerts &
Santika 1984).
Hasil analisis penurunan nilai KOK
terbesar yaitu 98,56%, setelah limbah dijerap
menggunakan AMA. Berdasarkan hasil ini
dapat dikatakan bahwa AMA mampu
menjerap bahan-bahan organik yang terdapat
dalam limbah, oleh karenanya pengukuran
KOK hasil adsorpsinya menurun akibat
berkurangnya kadar bahan organik yang ada
dalam limbah. Pengukuran KOK dilakukan
untuk memastikan bahwa limbah tekstil siap
dibuang ke lingkungan perairan, karena selain
zat warna sebagai parameter pencemaran
lingkungan perairan, nilai KOK dan KOB
juga perlu ditentukan agar sesuai dengan
standar baku mutu air bersih.
Analisis KOB
Analisis KOB merupakan pengukuran
kadar oksigen terlarut dalam air yang
digunakan dalam proses penguraian bahan-
bahan organik oleh mikroorganisme.
Pengukuran nilai KOB membutuhkan waktu 5
hari agar diperoleh sekitar 60-70%
kesempurnaan (Saeni 1989; Eckenfelder
1485
712
17
762
0
200
400
600
800
1000
1200
1400
1600
Limbah ATM AMA AA
I
n
t
e
n
s
i
t
a
s

w
a
r
n
a

(
P
t
-
C
o
)
Sampel yang diukur
52,05%
98,86%
48,69%
0,00
20,00
40,00
60,00
80,00
100,00
120,00
ATM AMA AA
P
e
n
u
r
u
n
a
n

w
a
r
n
a

(
%
)
Jenis adsorben
43,30%
98,56%
52,58%
0,00
20,00
40,00
60,00
80,00
100,00
120,00
ATM AMA AA
P
e
n
u
r
u
n
a
n

K
O
K

(
%
)
Jenis adsorben
12
1989). Hasil analisis KOB yang dilakukan
terhadap limbah tekstil dan filtrat hasil
adsorpsi menggunakan ATM, AMA dan AA
ditunjukkan pada Lampiran 15. Berdasarkan
hasil analisis KOB menunjukkan bahwa
adsorpsi dengan menggunakan ATM, AMA
dan AA dapat menurunkan nilai KOB limbah
dari nilai KOB awal yaitu 194,09 mg/L
berturut-turut sebesar 63,41; 76,09; dan
72,46% (Gambar 15). Adsorpsi dengan AMA
merupakan yang paling baik karena dapat
menurunkan nilai KOB paling besar menjadi
46,41 mg/L, nilai ini tidak memenuhi standar
baku mutu yang ditetapkan oleh SK Gubernur
Jawa Barat, yaitu sebesar 60 mg/L.

Gambar 15 Persen penurunan nilai KOB
setelah dijerap oleh ATM, AMA,
dan AA.
Nilai KOB didapatkan dari perbandingan
kandungan oksigen terlarut (OT) yang tersisa
dari dua bagian contoh air. Bagian pertama,
kandungan oksigen diukur setelah limbah
diambil yaitu pada hari ke-0 (OT
0
), sedangkan
bagian kedua diukur setelah diinkubasikan
selama 5 hari (OT
5
). Selama masa inkubasi,
oksigen terlarut digunakan oleh
mikroorganisme dalam proses kimiawi dan
mikrobiologi untuk mendekomposisi bahan
organik yang terlarut dalam limbah, sehingga
akan terbebas dari material organik dan dapat
dialirkan ke lingkungan dengan aman.
Nilai KOB yang terukur tidak lebih besar
dari nilai KOK, menurut Purwaningsih (2008)
perbedaan nilai tersebut dipengaruhi oleh
beberapa faktor, yaitu adanya bahan kimia
yang tahan terhadap oksidasi biokimia tetapi
tidak tahan terhadap oksidasi kimia seperti
lignin, terdapat bahan kimia yang dapat
dioksidasi secara kimia dan peka terhadap
oksidasi biokimia tetapi tidak dalam uji KOB
5

seperti sellulosa, lemak berantai panjang atau
sel-sel mikroba. Adanya bahan toksik dalam
limbah yang akan mengganggu uji KOB tetapi
tidak uji KOK, dikarenakan mikroorganisme
dapat mati.
SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
Sekam padi dapat digunakan sebagai
adsorben zat warna. Modifikasi asam terhadap
sekam padi terbukti mampu meningkatkan
kapasitas adsorpsi dan efisiensi adsorpsi zat
warna Cibacron Red. Tipe isoterm mengikuti
tipe Freundlich yang mengasumsikan bahwa
permukaannya bersifat heterogen, membentuk
banyak lapisan, terdapat sisi aktif adsorpsi
memiliki afinitas yang tinggi, dan bagian
lainnya memiliki afinitas yang rendah.
Kapasitas adsorpsi dan efisiensi adsorpsi
Cibacron Red oleh adsorben sekam padi
termodifikasi asam sulfat lebih besar
dibandingkan dengan adsorben tanpa
modifikasi dan arang aktif sebagai
pembanding. Persen penurunan intensitas
warna limbah industri tekstil, penurunan nilai
KOK serta penurunan nilai KOB oleh
adsorben sekam padi termodifikasi asam
sulfat adalah yang terbesar jika dibandingkan
dengan adsorben sekam padi tanpa modifikasi
dan arang aktif. Hal ini dapat dikatakan bahwa
adsorben sekam padi termodifikasi asam lebih
efektif dalam menurunkan kadar zat warna,
nilai KOK, dan nilai KOB yang merupakan
parameter daya cemar air.
Saran
Berdasarkan hasil penelitian ini, maka
tahapan selanjutnya yang perlu dilakukan
adalah memperluas kisaran taraf yang
digunakan sebagai faktor kondisi optimum
karena masih teramati pada ujung-ujung taraf.
Pencirian lebih lanjut AMA dari sekam padi
dengan Scanning electron microscopy (SEM)
dan spektrofotometri inframerah.
DAFTAR PUSTAKA
Abdelwahab O, Nemr AE, Sikaily AE,
Khaleed A. 2005. Use of Rice Husk for
Adorption of Direct Dyes from Aqueous
Solution: a Case Study of Direct F.
Scarlet. Egyptian Journal of Aquatic
Research 31:1–5 .
Aldrich S. 2007. Cibacron brilliant red 3G-A.
[terhubung berkala]. http: //www.sigma-
aldrich.com [20 Apr 2009].
Alaerts, Santika SS. 1984. Metode penelitian
air. Surabaya: Usaha Nasional Surabaya,
Indonesia.
Atkins PW. 1999. Kimia Fisika jilid II.
Kartohadiprodjo II, penerjemah;
63,41%
76,09%
72,46%
0,00
10,00
20,00
30,00
40,00
50,00
60,00
70,00
80,00
ATM AMA AA
P
e
n
u
r
u
n
a
n

n
i
l
a
i

K
O
B

(
%
)
Jenis adsorben
13
Rohhadyan T, editor. Oxford: Oxford
University Press. Terjemahan dari:
Physical Chemistry.
BPS. 2009. Statistik Pertanian Indonesia.
Jakarta: Biro Pusat Statistik.
[BSN] Badan Standardisasi Nasional. 2004.
SNI-06-6989.14-2004 Air dan Air
Limbah-Cara Uji Oksigen Terlarut secara
yodometri (modifikasi azida). Serpong:
BSN.
[BSN] Badan Standardisasi Nasional. 2004.
SNI-06-6989.15-2004 Air dan Air
Limbah-Cara Uji Kebutuhan Oksigen
Kimiawi (KOK) Refluks terbuka dengan
refluks terbuka secara titrimetri. Serpong:
BSN.
Baker FS, Miller CE, Repik AJ, Tollens ED.
1997. Activated Carbon. New York: J
Wiley.
Baral SS, Dasa, SN Chaudhury GR, Swamya,
YV Rath P. 2009. Removal of Cr(VI) by
thermally activated weed Salvinia
cucullata in a fixed-bed column. Journal
of Hazardous Materials 161:1427–1435.
Barros JLM, Macedo GR, Duarte MML, Silva
EP, Lobato AKCL. 2003. Biosorption of
cadmium using the fungus aspergillus
niger. Braz J Chem Eng 20:1-17.
Bates C. 2008. The “Diamond Age”.
[terhubung berkala].
http://ret.coe.drexel.edu/RETNANO/2008
/ChristopherBates/MyExpeirencesinaNan
oProject.aspx [14 Agstus 2010].
Bird T. 1993. Kimia Fisik untuk Universitas.
Jakarta: Gramedia Pustaka Utama
Boyle W, 1997. The Science of Chemical
Oxygen Demand Technical Information
Series, Booklet No. 9. USA: Hach
Company.
[Ciba] Specialty Chemicals Indonesia. 2002.
Cibacron Red B-E. [terhubung berkala].
http://agrippina.bcs.deakin.edu.au/bcs_ad
min/msds/msds_docs/Cibacron%20Red%
20B-E.pdf [15 Mei 2008].
[Depkes]. 1977. Peraturan Menteri Kesehatan
RI No. 173/Men.Kes/Per./VIII/1977 ten-
tang syarat-syarat evaluasi kualitas badan
air. Jakarta: Depkes.
[Depkes]. 1990. Peraturan Menteri Kesehatan
RI No. 416/Menkes/Per./IX/1990 tentang
syarat-syarat dan pengawasan kualitas air
bersih. Jakarta: Depkes.
[Deptan]. 2009. Hasil Pencarian Lokasi Sub
Sektor Tanaman Pangan. [terhubung
berkala].http://www.departemenpertanian
indonesia/search/hasil_lok_TP_PADI.asp
.xls. [23 Maret 2009].
Diapati M. 2009. Ampas Tebu sebagai
Adsorben Zat Warna Reaktif Cibacron
Red [Skripsi]. Bogor: Institut Pertanian
Bogor.
Eckenfelder WW. 1989. Industrial Water
Pollution Control. Ed ke-2. New York:
McGraw-Hill.
Fardiaz, S. 1992. Polusi Air Dan Udara.
Bogor: PAU Pangan dan Gizi.
Fessenden RJ dan Fessenden JS. 1986. Kimia
Organik jilid 1. Edisi ke-3. penerjemah;
Pudjaatmaka AH. Jakarta: Erlangga.
Terjemahan dari: Organic Chemistry.
Forlink. 2000. Paket terapan produksi
bersihpada industi tekstil. [terhubung
berkala].Http://www.Forlink.dml.or.id/pte
rabp/te.html. [6 Februari2009].
Hach CC, Klein RL, Gibbs CR. 1997.
Introduction to Biochemichal Oxygen
Demand. USA: Hach Company.
Hattotuwa GBP, Ismail H, dan Baharin A.
2002. Comparison of the Mechanical
Properties of Rice Husk Powder Filled
Polypropylene Composites with Talc
Filled Polypropylene Composites.
Polymer Testing 21:833–839.
Husni H, Wahyu R, Bastia A, Azwir. 2005.
Pembuatan Karbon Aktif dari Tempurung
Kelapa Sawit (Elaies Guineensis Jacq.)
Menggunakan NaOH dan Gas Nitrogen
sebagai Aktifator. Proceedings National
Conference On Chemical Banda Aceh
Engineering Sciences And Applications
(CHESA), Banda Aceh, Indonesia.
Hussein H, Ibrahim SF, Kandeel K, Moawad
H. 2004. Biosorption heavy metal from
waste water using Pseudomonas sp. Elec
J Biotechnol 7:1–8.
Jagson CL. 2008. Reactive dyes. [terhubung
Berkala]. Http://www.jagson.com.htm.
[10 Apr 2008].
Jason PP. 2004. Activated carbon and some
applications for the remediation soil and
ground water pollution. [terhubung
berkala]. http://www.ce.edu/program
areas [16 Feb 2008].
14
Manes M. 1998. Activated Carbon Adsorption
Fundamental. Di dalam: R.A. Meyers
(penyunting). Encyclopedia of Environ-
mental Analysis and Remediation.
Volume 1. New York: J Wiley.
Manurung R, Hasibuan R, Irvan. 2004.
Perombakan zat warna azo reaktif secara
aerob-anaerob. [terhubung berkala].
http://library.usu.ac.id/download/ft/tkimia
-renita2. [16 Feb 2008].
Marshall WE, Mitchell M J. 1996. Agriculture
by-product as metal adsorbent: Sorption
properties and resistance to Mechanical
abrasion. J Chem Tech Biotechnology 66:
192-198.
Notodarmojo S. 2004. Pencemaran Tanah
dan Air Tanah. Bandung: ITB Press.
Purwaningsih I. 2008. Pengolahan Limbah
Cair Industri Batik CV. Batik Indah
Raradjonggrang Yogyakarta dengan
Metode Elektrokoagulasi Ditinjau Dari
Parameter Chemical Oxygen Demand
(COD) dan Warna [skripsi]. Yogyakarta:
Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan,
Universitas Islam Indonesia.
Raghuvanshi SP, Singh R, Kaushik CP. 2004.
Kinetics study of methylene blue dye
bioadsorption on bagasse. App Ecol
Environ Research 2: 35-43.
Saeni MS. 1989. Kimia Lingkungan. Bogor:
Dirjen Pendidikan Tinggi Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan Pusat Antar
Universitas Ilmu Hayati IPB.
Sembiring MT, Sinaga TS. 2003. Arang Aktif
(Pengenalan dan Proses Pembuatannya).
USU digital library. 1-9.











Setyaningsih H. 1995. Pengolahan limbah
batik dengan proses kimia dan adsorpsi
karbon aktif [tesis]. Jakarta: Program
Pascasarjana, Universitas Indonesia.
Srihari V, Babu SM, Das A. 2005. Kinetics of
Phenol-sorption by Raw Agro-wastes. J.
Applied Sci. 6:47-50.
Suardana IN. 2008. Optimalisasi Daya
Adsorpsi Zeolit Terhadap Ion Kromium
(III). Jurnal Penelitian dan
Pengembangan Sains & Humaniora 2:17-
33.
Sudarmaji. 1997. Petunjuk Praktikum
Kualitas Air.Laboratorium Hidrologi dan
Kualitas Air. Yogyakarta: Fakultas
Geografi UGM.
Susanti A. 2009. Potensi Kulit Kacang Tanah
sebagai Adsorben Zat Warna Reaktif
Cibacron Red [Skripsi]. Bogor: Institut
Pertanian Bogor.
Susanto SKS. 1973. Seni Kerajinan Batik
Indonesia. Jakarta: Balai Penelitian Batik
dan Kerajinan, Lembaga Penelitian dan
Pendidikan Industri, Departemen
Perindustrian Republik Indonesia.
Suwarsa S. 1998. Adsorpsi Zat Warna Tekstil
BR Red HE 7B oleh Jerami Padi. JMS 3:
32-40.
Tchobanoglous G, Franklin LB. 1991.
Wastewater Enginering: Treatment,
Diposal, and Reuse. Singapura: McGraw-
Hill.
Wardhana 1995. Dampak Pencemaran
Lingkungan. Yogyakarta: Penerbit Andi
Offset.
























LAMPIRAN

























16

Lampiran 1 Bagan alir penelitian




























Penentuan kondisi optimum: Waktu adsorpsi, bobot adsorben, dan
konsentrasi awal zat warna
Penentuan isoterm adsorpsi
Aplikasi terhadap limbah industri
Tanpa modifikasi Modifikasi asam
Arang
aktif
Preparasi Sampel
Penyaringan 100 mesh
Sekam Padi
Analisis warna Analisis KOK Analisis KOB
17

Lampiran 2 Pembuatan larutan KOK dan KOB
Larutan-larutan KOK
Larutan K
2
Cr
2
O
7
0,25 N
Sebanyak 12,259 gram serbuk K
2
Cr
2
O
7
dikeringkan dalam oven pada suhu 150
o
C
selama 2 jam, lalu dilarutkan dengan akuades dan ditepatkan volumenya sampai dengan
1,0 L.

Larutan Ferro ammonium sulfat (FAS) 0,1 N
Sebanyak 19,6 gram serbuk FAS dilarutkan dengan akuades, lalu ditambahkan 20
ml H
2
SO
4
pekat dan ditepatkan volumenya sampai dengan 500 mL dengan akuades.

Campuran H
2
SO
4
-Ag
2
SO
4
Sebanyak 5 gram Ag
2
SO
4
dimasukkan ke dalam 500 mL H
2
SO
4
pekat, diaduk dan
didiamkan selama satu sampai dua hari untuk proses pelarutannya. Campuran disimpan di
dalam botol gelap dan ditutup.
Larutan-larutan KOB
Larutan Kalium Dikromat 0,025 N
K
2
Cr
2
O
7
(p.a) dikeringkan pada suhu 150°C selama 2 jam, kemudian ditimbang
sebanyak 1,2259 gram, lalu dilarutkan dalam akuades dan ditepatkan volumenya menjadi
1000 mL.

Larutan Natrium tiosulfat 0,025N
Sebanyak 6,2 gram Na
2
S
2
O
3
.5H
2
O (p.a) dilarutkan ke dalam akuades, kemudian
volumenya ditepatkan menjadi 1000 mL.

Larutan MnSO
4
.H
2
O
Sebanyak 36,4 gram MnSO
4
dilarutkan ke dalam akuades, kemudian diencerkan
hingga volumenya tepat 100 mL.

Larutan Alkali Iodida Azida
Sebanyak 50 gram padatan NaOH dan 15 gram KI dilarutkan ke dalam akuades
hingga volume 100 mL. Kemudian ditambahkan larutan 1 gram NaN
3
dalam 4 mL
akuades.

Larutan Amilum
Sebanyak 2,0 gram amilum dilarutkan ke dalam akuades yang telah dididihkan
sebanyak 100 mL.

Larutan pengencer KOB
Akuades sebanyak 1 L diaerasi selama 30 menit. Kemudian ditambahkan 1 ml
larutan MgSO
4
(2,25 gram MgSO
4
dalam 100 mL larutan), 1 ml larutan CaCl
2
(2,75 gram
CaCl
2
dalam 100 mL larutan), 1 mL FeCl
3
(0,25 gram dalam 100 mL larutan), dan 1 mL
buffer fosfat (0,2125 gram KH
2
PO
4
; 0,5438 gram K
2
HPO
4
; 0,835 gram Na
2
HPO
4
; dan
0,0425 gram NH
4
Cl dalam 25 mL larutan).




18

Lampiran 3 Penentuan panjang gelombang maksimum zat warna Cibacron Red
Hasil penentuan panjang gelombang maksimum
Panjang gelombang Transmittans Absorbans
495 73,0 0,1367
500 73,6 0,1331
505 72,6 0,1391
510 72,2 0,1415
515 72,2 0,1415
516 72,0 0,1427
517 72,0 0,1427
518 71,2 0,1475
519 71,8 0,1439
520 72,0 0,1427
525 72,2 0,1415
530 72,2 0,1415
535 72,2 0,1415
540 72,2 0,1415


Kurva panjang gelombang maksimum Cibacron Red

Pengukuran larutan standar Cibacron Red pada panjang gelombang maksimum
konsentrasi (ppm) Transmittans Absorbans
0,5 98,4 0,0070
1,0 97,2 0,0123
5,0 84,8 0,0716
10,0 71,6 0,1451
15,0 61,0 0,2147
20,0 52,2 0,2823
25,0 44,2 0,3546
0,1410
0,1420
0,1430
0,1440
0,1450
0,1460
0,1470
0,1480
500 510 520 530 540 550
A
b
s
o
r
b
a
n
s
Panjang gelombang (nm)
19

Lampiran 4 Penentuan kondisi optimum adsorben tanpa modifikasi
Bobot
(g)
Waktu
(menit)
Konsentrasi
awal (ppm)
Konsentrasi
akhir (ppm)
Q (µg/g) E (%)
1,0112 30 50 49,9264 7,2756 0,15
1,0042 30 100 92,9307 703,9719 7,07
1,0021 30 150 121,3550 2858,4971 19,10
2,0019 30 50 49,3121 34,3608 1,38
2,0008 30 100 91,7140 414,1320 8,29
2,0062 30 150 121,3550 1427,8237 19,10
3,0133 30 50 49,9264 2,4415 0,15
3,0042 30 100 90,5433 314,7825 9,46
3,0090 30 150 124,6234 843,3568 16,92
1,0016 45 50 49,3121 68,6770 1,38
1,0017 45 100 94,1971 579,3097 5,80
1,0005 45 150 124,6234 2536,3926 16,92
2,0030 45 50 49,6178 19,0834 0,76
2,0008 45 100 91,7140 414,1320 8,29
2,0010 45 150 124,6234 1268,1963 16,92
3,0025 45 50 49,6178 12,7307 0,76
3,0057 45 100 92,9307 235,1960 7,07
3,0004 45 150 124,6234 845,7741 16,92
1,0059 60 50 49,3121 68,3834 1,38
1,0012 60 100 92,9307 706,0813 7,07
1,0019 60 150 121,3550 2859,0677 19,10
2,0027 60 50 49,6178 19,0863 0,76
2,0017 60 100 90,5433 472,4333 9,46
2,0071 60 150 137,2013 637,6693 8,53
3,0031 60 50 49,0095 32,9831 1,98
3,0027 60 100 91,7140 275,9501 8,29
3,0008 60 150 124,6234 845,6614 16,92

Contoh perhitungan:
Kapasitas adsorpsi
( )
m
C C V
Q
a o
÷
=
Q = 100 ml x 1 liter /1000 ml x (50,0000 – 49,9624) mg/liter x 1000 µg/mg
1,0112 gram
= 7,2756 µg/g adsorben

Efisiensi adsorpsi
% 100 ×
|
|
.
|

\
| ÷
=
o
a o
C
C C
E
% 100
0000 , 50
49,9624 0000 , 50
×
|
|
.
|

\
| ÷
=
ppm
ppm ppm
E
= 0,15%

20

Lampiran 5 Analisis statistik kondisi optimum adsorben tanpa modifikasi
Profiles for Predicted Values and Desirability
waktu
-1000.
2879.0
4000.0
konsentrasi bobot Desirability
#1 #2 #3 #4 #5 #6 #7 #8 #9 #10 #11 #12 #13 #14 #15 #16 #17 #18 #19
0. #21 #22 #23 #24 #25 #26 #27 #28 #29 #30 #31 #32 #33 #34 #35 #36 #37 #38 #39 #40 #41 #42 #43 #44 #45 #46 #47 #48 .5 #50 #51 #52 #53 #54 #55 #56 #57 #58 #59 #60 #61 #62 #63 #64 #65 #66 #67 #68 #69 #70 #71 #72 #73 #74 #75 #76
1. #78 #79 #80 #81 #82 #83 #84 #85 #86 #87 #88 #89 #90 #91 #92 #93 #94 #95 #96 #97
2.4415
1430.8
2859.1
Q
(
A
T
M
2
)
-10.00
19.587
30.000
#1 #2 #3 #4 #5 #6 #7 #8 #9 #10 #11 #12 #13 #14 #15 #16 #17 #18 #19 #20 #21 #22 #23 #24 #25 0. #27 #28 #29 #30 #31 #32 #33 #34 #35 #36 #37 #38 #39 #40 #41 #42 #43 #44 #45 #46 #47 #48 .5 #50 #51 #52 #53 #54 #55 #56 #57 #58 #59 #60 #61 #62 #63 #64 #65 #66 #67 #68 #69 #70 #71 #72 1. #74 #75 #76 #77 #78 #79 #80 #81 #82 #83 #84 #85 #86 #87 #88 #89 #90 #91 #92 #93 #94 #95 #96
.14714
9.6219
19.097
E
(
A
T
M
2
)
30. 60.
1.0000
50. 150. 1. 3.
D
e
s
i
r
a
b
i
l
i
t
y



Kondisi optimum yang dihasilkan:
waktu = 30 menit
bobot = 1,0 gram
konsentrasi = 150 ppm

















21

Lampiran 6 Penentuan kondisi optimum adsorben modifikasi asam
Bobot
(g)
Waktu
(menit)
Konsentrasi
awal (ppm)
Konsentrasi
akhir (ppm)
Q (µg/g) E (%)
1,0010 30 50 5,4826 4447,2957 89,03
1,0004 30 100 41,3140 5866,2530 58,69
1,0015 30 150 75,3941 7449,4164 49,74
2,0014 30 50 1,7877 2408,9280 96,42
2,0003 30 100 6,7674 4660,9296 93,23
2,0012 30 150 32,3898 5876,9833 78,41
3,0039 30 50 0,8810 1635,1749 98,24
3,0130 30 100 13,5548 2869,0733 86,45
3,0000 30 150 17,8760 4404,1341 88,08
1,0001 45 50 4,6066 4538,8837 90,79
1,0024 45 100 32,0393 6779,7999 67,96
1,0006 45 150 72,0553 7789,7981 51,96
2,0008 45 50 0,9449 2451,7755 98,11
2,0242 45 100 6,0052 4643,5530 93,99
2,0049 45 150 17,0052 6633,4902 88,66
3,0000 45 50 1,5912 1613,6276 96,82
3,0024 45 100 3,8951 3200,9359 96,10
3,0009 45 150 5,1146 4828,0655 96,59
1,0013 60 50 4,6066 4533,4441 90,79
1,0014 60 100 23,0281 7686,4315 76,97
1,0072 60 150 58,0342 9130,8346 61,31
2,0022 60 50 2,0517 2394,7795 95,90
2,0027 60 100 2,2512 4880,8500 97,75
2,0261 60 150 9,4245 6938,2288 93,72
3,0048 60 50 1,0731 1628,2927 97,85
3,0005 60 100 2,4520 3251,0581 97,55
3,0027 60 150 5,2613 4820,2866 96,49













22

Lampiran 7 Analisis statistik kondisi optimum adsorben modifikasi asam
Profiles for Predicted Values and Desirability
waktu
-1000.
6898.3
11000.
konsentrasi bobot Desirability
#1 #2 #3 #4 #5 #6 #7 #8 #9 #10 #11 #12 #13 #14 #15 #16 #17 #18 #19 #20 #21
0. #23 #24 #25 #26 #27 #28 #29 #30 #31 #32 #33 #34 #35 #36 #37 #38 #39 #40 #41 #42 #43 #44 #45 #46 #47 #48 #49 #50 #51 #52
.5 #54 #55 #56 #57 #58 #59 #60 #61 #62 #63 #64 #65 #66 #67 #68 #69 #70 #71 #72 #73 #74 #75 #76 #77 #78 #79 #80 #81 #82 #83
1. #85 #86 #87 #88 #89 #90 #91 #92 #93 #94 #95 #96 #97
1613.6
5372.2
9130.8
Q
(
A
M
A
)
30.000
91.710
120.00
#1 #2 #3 #4 #5 #6 #7 #8 #9 #10 #11 #12 #13 #14 #15 #16 #17 #18 #19 #20 #21 0. #23 #24 #25 #26 #27 #28 #29 #30 #31 #32 #33 #34 #35 #36 #37 #38 #39 #40 #41 #42 #43 #44 #45 #46 #47 #48 .5 #50 #51 #52 #53 #54 #55 #56 #57 #58 #59 #60 #61 #62 #63 #64 #65 #66 #67 #68 #69 #70 #71 #72 #73 #74 #75 1. #77 #78 #79 #80 #81 #82 #83 #84 #85 #86 #87 #88 #89 #90 #91 #92 #93 #94 #95 #96
49.737
73.988
98.238
E
(
A
M
A
)
30. 60.
.78000
50. 150. 1. 2. 3.
D
e
s
i
r
a
b
i
l
i
t
y


Kondisi optimum yang dihasilkan:
waktu = 60 menit
bobot = 2,0 gram
konsentrasi = 150 ppm






















23

Lampiran 8 Penentuan kondisi optimum arang aktif
Bobot
(g)
Waktu
(menit)
Konsentrasi
awal (ppm)
Konsentrasi
akhir (ppm)
Q (µg/g) E (%)
1,0078 30 50 42,7571 718,6838 14,49
1,0047 30 100 79,9419 1996,4282 20,06
1,0006 30 150 108,7771 4119,8228 27,48
2,0002 30 50 37,3485 632,5127 25,30
2,0035 30 100 72,0553 1394,7951 27,94
2,0079 30 150 88,3266 3071,5388 41,12
3,0042 30 50 39,0487 364,5333 21,90
3,0059 30 100 86,2577 457,1763 13,74
3,0081 30 150 99,8529 1667,0703 33,43
1,0021 45 50 44,2706 571,7368 11,46
1,0195 45 100 89,4151 1038,2402 10,58
1,0194 45 150 113,2162 3608,3785 24,52
2,0198 45 50 46,6891 163,9235 6,62
2,0210 45 100 84,3183 775,9381 15,68
2,0024 45 150 98,3393 2579,9373 34,44
3,0031 45 50 25,1869 826,2485 49,63
3,0099 45 100 56,4632 1446,4529 43,54
3,0083 45 150 88,3266 2050,1090 41,12
1,0037 60 50 41,3140 865,3975 17,37
1,0178 60 100 88,3266 1146,9275 11,67
1,0076 60 150 118,3984 3136,3259 21,07
2,0072 60 50 43,7579 310,9870 12,48
2,0124 60 100 76,8372 1151,0041 23,16
2,0249 60 150 110,9173 1930,1060 26,06
3,0212 60 50 28,7361 703,8244 42,53
3,0045 60 100 70,8143 971,4005 29,19
3,0074 60 150 98,3393 1717,7849 34,44













24

Lampiran 9 Analisis statistik kondisi optimum arang aktif
Profiles for Predicted Values and Desirability
waktu
-1000.
2470.0
5000.0
konsentrasi bobot Desirability
#1 #2 #3 #4 #5 #6 #7 #8 #9 #10 #11 #12 #13 #14 #15 #16 #17 #18 #19 0. #21 #22 #23 #24 #25 #26 #27 #28 #29 #30 #31 #32 #33 #34 #35 #36 #37 #38 #39 #40 #41 #42 #43 #44 #45 #46 #47 #48 #49 #50 #51
.5 #53 #54 #55 #56 #57 #58 #59 #60 #61 #62 #63 #64 #65 #66 #67 #68 #69 #70 #71 #72 #73 #74 #75 #76 #77 #78 #79 #80 #81 #82 #83 #84
1. #86 #87 #88 #89 #90 #91 #92 #93 #94 #95 #96 #97
163.92
2141.9
4119.8
Q
(
A
A
)
-10.00
40.514
60.000
#1 #2 #3 #4 #5 #6 #7 #8 #9 #10 #11 #12 #13 #14 #15 #16 #17 #18 #19 #20 #21 #22 #23 0. #25 #26 #27 #28 #29 #30 #31 #32 #33 #34 #35 #36 #37 #38 #39 #40 #41 #42 #43 #44 #45 #46 #47 #48 #49 #50 #51 #52 #53
.5 #55 #56 #57 #58 #59 #60 #61 #62 #63 #64 #65 #66 #67 #68 #69 #70 #71 #72 #73 #74 #75 #76 #77 #78 #79 #80 #81 #82 #83 #84 1. #86 #87 #88 #89 #90 #91 #92 #93 #94 #95 #96
6.6219
28.124
49.626
E
(
A
A
)
30. 60.
.67782
50. 150. 1. 3.
D
e
s
i
r
a
b
i
l
i
t
y


Kondisi optimum yang dihasilkan:
waktu = 30 menit
bobot = 3,0 gram
konsentrasi =150 ppm






















25

Lampiran 10 Isoterm Langmuir dan Freundlich untuk adsorpsi Cibacron Red oleh
adsorben tanpa modifikasi
C
0
*C
a

m (g)
Isoterm Langmuir Isoterm Freundlich
(ppm) c
(ppm) x* x/m c/(x/m) log c log x/m
25 24,9087 1,0003 0,0000 0,00001 2729442,7 1,3964 -5,0397
50 49,3121 1,0032 0,0001 0,00007 719176,5 1,6930 -4,1639
75 69,6210 1,0064 0,0005 0,00053 130259,7 1,8427 -3,2721
100 88,3266 1,0000 0,0012 0,00117 75664,6 1,9461 -2,9328
150 110,9173 1,0002 0,0039 0,00391 28385,8 2,0450 -2,4081
*C
a
digunakan sebagai variabel c pada rumus Isoterm Langmuir dan Freundlich
Nilai x = C
teradsorpsi
(ppm) x Volume larutan (L) x
mg 1000
g 1

- Persamaan garis isoterm Langmuir yang diperoleh y = -29216,50x + 2741338,71
R² = 72,0% maka dari persamaan
C
m x
C
 
1 1
/
+ =
,
diperoleh nilai α = -3,4227 x 10
-
5 dan β = -1,2485 x 10
-10

- Persamaan garis isoterm Freundlich yang diperoleh y = 4,086x - 10,85
R² = 98,2% maka dari persamaan log
m
x
= log k +
n
1
log C,
diperoleh nilai n = 0,2447 dan k = 1,4125 x 10
-11


Lampiran 11 Isoterm Langmuir dan Freundlich untuk adsorpsi Cibacron Red
oleh adsorben modifikasi asam
C
0
*C
a

m (g)
Isoterm Langmuir Isoterm Freundlich
(ppm) c
(ppm) x* x/m c/(x/m) log c log x/m
25 0,3118 2,0014 0,0025 0,00123 252,7 -0,5062 -2,9088
50 0,5635 2,0031 0,0050 0,00247 176,8 -0,3592 -2,6065
75 0,7536 2,0046 0,0074 0,00371 168,9 -0,2029 -2,4306
100 1,1374 2,0007 0,0099 0,00496 151,9 -0,1229 -2,3045
150 3,8248 2,0006 0,0149 0,00745 126,8 -0,0246 -2,1278
*C
a
digunakan sebagai variabel c pada rumus Isoterm Langmuir dan Freundlich
Nilai x = C
teradsorpsi
(ppm) x Volume larutan (L) x
mg 1000
g 1

- Persamaan garis isoterm Langmuir yang diperoleh y = -171x + 280,6
R² = 82,4% maka dari persamaan
C
m x
C
 
1 1
/
+ =
,
diperoleh nilai α = -5,8479 x 10
-3
dan β = -0,6094
- Persamaan garis isoterm Freundlich yang diperoleh y = 1,553x - 2,097
R² = 98,9% maka dari persamaan log
m
x
= log k +
n
1
log C,
diperoleh nilai n = 0,.6439dan k = 7,998 x 10
-3


26

Lampiran 12 Isoterm Langmuir dan Freundlich untuk adsorpsi Cibacron Red oleh arang
aktif
C
0
*C
a

m (g)
Isoterm Langmuir Isoterm Freundlich
(ppm) c
(ppm) x* x/m c/(x/m) log c log x/m
25 23,8201 3,0020 0,0001 0,00004 606074,71 1,3769 -4,4056
50 45,3223 3,0043 0,0005 0,00016 291086,14 1,6563 -3,8077
75 66,2941 3,0054 0,0009 0,00029 228857,88 1,8215 -3,5381
100 84,3183 3,0013 0,0016 0,00052 161375,57 1,9259 -3,2819
150 113,2162 3,0038 0,0037 0,00122 92453,388 2,0539 -2,9120
*C
a
digunakan sebagai variabel c pada rumus Isoterm Langmuir dan Freundlich
Nilai x = C
teradsorpsi
(ppm) x Volume larutan (L) x
mg 1000
g 1

- Persamaan garis isoterm Langmuir yang diperoleh y = -5244x + 62519
R² = 82,9% maka dari persamaan
C
m x
C
 
1 1
/
+ =
,
diperoleh nilai α = -1,9069 x 10
-4
dan β = -0,0839
- Persamaan garis isoterm Freundlich yang diperoleh y = 2,140x - 7,371
R² = 99,2% maka dari persamaan log
m
x
= log k +
n
1
log C,
diperoleh nilai n = 0,4673 dan k = 4,256 x 10
-8


Penurunan rumus untuk pembuatan kurva:
Isoterm Freundlich Isoterm Langmuir
n
1
C k Q = (Barral, dkk. 2007)
C log
n
1
k log Q log
C log k log Q log
kC log Q log
n
1
n
1
+ =
+ =
=

Dengan Q adalah
m
x
(µg/g), maka
C log
n
1
k log
m
x
log + =

y = a + b x
C
C
m
x

 
+
=
1
(Langmuir 1918)
( )
( )
( )
( )
C
m
x
C
C
m
x
C
C
m
x
C
m
x
C C
 





 
1 1
1
1
1
+ =
+ =
+
=
+ =


y = a + b x



27

Lampiran 13 Penentuan intensitas warna dan persen penurunan warna untuk
adsorpsi limbah industri tekstil

Jenis
adsorben
Waktu
(menit)
Bobot
(g)
Gambar Intensitas
warna
(unit Pt-Co)
Penurunan
warna
(%)
Limbah - -

1485 -
ATM


30 1,0000

712 52,05
AMA 60 2,0000

17 98,86
Arang
aktif
30 3,0000

762 48,69






28

Lampiran 14 Hasil analisis KOK
Hasil standardisasi FAS
Ulangan
ke-
Volume awal
(mL)
Volume
akhir
(mL)
Volume FAS terpakai
(mL)
[FAS]
(N)
1 0,2 2,8 2,6 0,096
2 2,8 5,5 2,7 0,093
3 5,5 8,1 2,6 0,096
Rerata [FAS] 0,095
Contoh perhitungan:
(V x N)
FAS
= (V x N)
K2Cr2O7

2.6 mL x N
FAS
= 10 mL x 0,025 N
N
FAS
= 0,095

Hasil analisis nilai KOK
Perlakuan
Volume FAS (mL) Nilai
KOK
(mg/L)
fp
Penurunan
KOK
(%)
Volume
awal
Volume
akhir
Volume
terpakai
Blangko 0,0 20,3 20,3
Limbah awal 20,3 30,9 10,6 7372,0 10 0,0
ATM 30,9 45,7 14,8 4180,0 10 43,30
AMA 0,0 18,9 18,9 106,4 1 98,56
AA 18,9 34,6 15,7 3496,0 10 52,58
Indikator = Ferroin
Perubahan warna = Biru kehijauan menjadi merah kecoklatan
Contoh perhitungan :
( )
contoh
FAS
V
N B A 8000
KOK
× × ÷
= x fp
( )
mL 10
8000 095 , 0 mL 6 , 10 3 , 20
KOK
× × ÷
= x 10
= KOK 7372,0 mg/L













29

Lampiran 15 Hasil Analisis KOB
Hasil Standardisasi Na
2
S
2
O
3

Ulangan
ke-
Volume Na
2
S
2
O
3
awal
(mL)
Volume
Na
2
S
2
O
3
akhir
(mL)
Volume
Na
2
S
2
O
3

terpakai
(mL)
[Na
2
S
2
O
3
]
(N)
1 0,0 11,4 11,4 0,0219
2 11,4 22,9 11,5 0,0217
3 22,9 34,4 11,5 0,0217
Rerata [Na
2
S
2
O
3
] 0,0218
Contoh perhitungan:
(V x N)
Na2S2O3
= (V x N)
K2Cr2O7

11,4 mL x N
Na2S2O3
= 10 mL x 0,025 N
N
Na2S2O3
= 0,0219 N
Hasil pengukuran oksigen terlarut pada hari ke-0
Sampel
V
0

(mL)
OT
0

(mg/L)
Rerata
OT
0

(mg/L)
Ulangan
1
Ulangan
2
Ulangan
1
Ulangan
2
Blanko 2,0 - 7,0323 - -
Limbah awal 1,5 1,6 5,2742 5,6258 5,4500
ATM 1,5 1,4 5,2742 4,9226 5,0984
AMA 1,8 1,9 6,3290 6,6806 6,5048
AA 1,4 1,4 4,9226 4,9226 4,9226
Keterangan :
V
0
= volume titran yang dipakai pada hari ke-0
OT
0
=

oksigen terlarut pada hari ke-0
Hasil pengukuran oksigen terlarut pada hari ke-5
Sampel
V
5

(mL)
OT
5

(mg/L)
Rerata
OT
5
(mg/L)
Ulangan
1
Ulangan
2
Ulangan
1
Ulangan
2
Blanko 1,8 - 6,3290 - -
Limbah awal 0,8 0,8 2,8129 2,8129 2,8129
ATM 1,0 1,1 3,5161 3,8677 3,6919
AMA 0,4 0,3 1,4065 1,0548 1,2306
AA 1,1 1,0 3,8677 3,5161 3,6919
Keterangan :
V
5
= volume titran yang dipakai pada hari ke-5
OT
5
= oksigen terlarut pada hari ke-5

30

Lanjutan Lampiran 15 Hasil Analisis KOB
Contoh perhitungan:
Oksigen terlarut hari ke-0 (OT
0
)
mg/L 0323 , 7 OT
mL ) 2 250 ( mL 50
mL 250 8000 N 0218 , 0 mL 2,0
OT
0
0
=
÷ ×
× × ×
=

Oksigen terlarut hari ke-5 (OT
5
)
mg/L 3290 , 6 OT
mL ) 2 250 ( mL 50
mL 250 8000 N 0218 , 0 mL 1,8
OT
5
5
=
÷ ×
× × ×
=

Hasil analisis nilai KOB

Sampel
Rerata
OT
0

(mg/L)
Rerata
OT
5

(mg/L)
fp k
Nilai
KOB
5

(mg/L)
penurunan
nilai KOB
(%)
limbah awal 5,4500 2,8129 100 0,99 194,09 -
ATM 5,0984 3,6919 100 0,99 71,03 63,41
AMA 6,5048 1,2306 10 0,90 46,41 76,09
AA 4,9226 3,6919 100 0,99 53,45 72,46
Keterangan :
fp = faktor pengenceran
k = faktor (fp-1)/fp

Contoh perhitungan:
Kebutuhan oksigen biokimia hari ke-5
KOB
5
= | | fp ) OT OT ( ) OT OT (
5 0 5 0
× ÷ ÷ ÷
blanko sampel
k
= | | 100 ) 6,3290 7,0323 ( 99 , 0 ) 8129 , 2 5,4500 ( × ÷ ÷ ÷
= 194,09 mg/L
Penurunan kadar KOB setelah adsorpsi

63,41% KOB Penurunan
% 100
194,0903
71,0258) - (194,0903
KOB Penurunan
=
× =

ABSTRAK
JENI YULIKA. Penjerapan Zat Warna Reaktif Cibacron Red Menggunakan Adsorben Sekam Padi. Dibimbing oleh BETTY MARITA SOEBRATA dan MOHAMMAD KHOTIB. Limbah tekstil yang mengandung zat warna dapat mencemari lingkungan perairan. Penelitian ini memanfaatkan sekam padi sebagai adsorben zat warna reaktif Cibacron Red yang banyak digunakan dalam industri tekstil. Sekam padi dibuat menjadi adsorben tanpa modifikasi (ATM) dan adsorben termodifikasi asam (AMA). Kondisi optimum ATM diperoleh dengan waktu adsorpsi 30 menit, 1.0 g adsorben, dan 150 ppm konsentrasi awal. Kondisi optimum AMA diperoleh dengan waktu adsorpsi 60 menit, 2.0 g adsorben, dan 150 ppm konsentrasi awal. Kondisi optimum arang aktif (AA) sebagai pembanding memiliki waktu adsorpsi 30 menit, 3.0 g adsorben, dan 150 ppm konsentrasi awal. Kapasitas adsorpsi ATM, AMA, dan AA pada kondisi optimum adalah 2879.00, 6898.3, dan 2470.00 µg/g. Efisiensi adsorpsi ATM, AMA, dan AA pada kondisi optimum berturut-turut adalah 19.86, 91.71, dan 40.51%. Tipe isoterm ketiga jenis adsorben yang digunakan adalah isoterm Freundlich. Penerapan terhadap limbah tekstil menunjukkan penurunan warna setelah dijerap oleh ATM, AMA, dan AA, masing-masing sebesar 52.05, 98.86, dan 48.69% dengan intensitas warna awal 1485 Pt-co. Pengukuran KOK limbah awal adalah 7372.0 mg/L, setelah dijerap dengan ATM, AMA, dan AA masingmasing menurun sebesar 43.30, 98.56, dan 52.58%. Pengukuran KOB limbah awal sebesar 149.09 mg/L, dan menurun setelah dijerap oleh ATM, AMA, dan AA masingmasing 63.41, 76.09, dan 72.46%. Berdasarkan hasil ini dapat dinyatakan bahwa sekam padi berpotensi sebagai penjerap zat warna, sehingga mampu mengurangi tingkat pencemaran lingkungan perairan.

ABSTRACT
JENI YULIKA. Adsorption of Cibacron Red Reactive Dye Using Rice Husk as Adsorbent. Supervised by BETTY MARITA SOEBRATA and MOHAMMAD KHOTIB. Textile wastewater containing dyes can pollute aquatic environment. This study utilized rice husk as adsorbent for Cibacron Red reactive dyes which are widely used in textile industries. Husks were made into adsorbent without modification (ATM) and acid modified adsorbent (AMA). The optimum condition was obtained under adsorption time of 30 minutes, 1.0 g of adsorbent, and initial concentration of dye solution was 150 ppm. The optimum condition for AMA was obtained under adsorption time of 60 minutes, 2.0 g of adsorbent, and 150 ppm initial concentration of dye solution. The optimum condition of activated charcoal (AA) as a comparison was 30 minute time of adsorption, 3.0 g of adsorbent, and 150 ppm initial concentration dye solution. Adsorption capacity of ATM, AMA, and AA at the optimum conditions was 2879.00, 6898.30, and 2470.00 µg/g, respectively. Adsorption efficiency of ATM, AMA, and AA at the optimum conditions was 19.86, 91.71, and 40.51%, respectively. All three types of adsorbent followed the Freundlich isotherm. Application of the adsorbent on waste of textile manufacture showed a decrease in colour after adsorption by ATM, AMA, and AA, up to 52.05, 98.86 and 48.69%, respectively, with the initial colour intensity of 1485 Pt-Co. Starting with COD of the wastewater which was 7372.0 mg/L, the values decreased after the adsorption with ATM, AMA, and AA were 43.30, 98.56 and 52.58%, respectively. Starting with BOD of 149.09 mg/L, the values decreased after adsorption by ATM, AMA, and AA were 63.41, 76.09, and 72.46%, respectively. Based on these results, rice husk is potentially used as an adsorbent of dyes, thereby reducing the level of pollution of aquatic environment.

PENJERAPAN ZAT WARNA REAKTIF CIBACRON RED MENGGUNAKAN ADSORBEN SEKAM PADI

JENI YULIKA

Skripsi sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Sains pada Departemen Kimia

DEPARTEMEN KIMIA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2010

S.. S. M.Si.Si.Si. NIP 19781018 200701 1 002 Diketahui Ketua Departemen. NIP 19630621 198703 2 013 Mohammad Khotib.Judul Skripsi : Penjerapan Zat Warna Rreaktif Cibacron Red Menggunakan Adsorben Sekam Padi Nama : Jeni Yulika NIM : G44052917 Disetujui Pembimbing I. NIP 19501227 197603 2 002 Tanggal Lulus: . S. Ir. Prof. Betty Marita Soebrata. Pembimbing II. Dr. Tun Tedja Irawadi. M.

Ucapan terima kasih tak lupa penulis berikan kepada Andayani. dan kasih sayang dalam berbagai bentuk yang tak pernah putus. doa. Ayah. selaku pembimbing yang telah memberikan masukan dan pengarahan kepada penulis selama pelaksanaan penelitian dan penulisan karya ilmiah ini. Akhir kata. dan seluruh staf Laboratorium Kimia Fisik atas fasilitas dan bantuan yang diberikan selama penelitian.PRAKATA Puji dan syukur ke hadirat Allah SWT atas rahmat. M. Pak Ismail. Gina. S.Si. Penulis mengucapkan terima kasih kepada Ibu Betty Marita Soebrata. kasih sayang.Si. Ibu. Bogor. dan teman-teman seperjuangan Kimia 42 yang turut membantu. penulis menyampaikan semoga karya ilmiah ini bermanfaat bagi pembaca. Bu Ai.Si. memberikan semangat. yang penelitiannya dilaksanakan pada pertengahan bulan Juni 2009 sampai dengan Februari 2010 bertempat di Laboratorium Kimia Fisik dan Lingkungan. dan dukungannya dalam penyusunan karya ilmiah. IPB. Agustus 2010 Jeni Yulika . dan Bapak Mohammad Khotib. nikmat. Kakak tercinta dan Robby Hardian Kusuma yang selalu memberikan semangat. dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan karya ilmiah ini. S. Ungkapan terima kasih penulis berikan kepada keluarga tercinta. Hafidz. Terima kasih juga kepada Pak Nano. Karya ilmiah berjudul Adsorpsi Zat Warna Reaktif Cibacron Red Menggunakan Adsorben Sekam Padi ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana sains pada Departemen Kimia FMIPA IPB.

Selama mengikuti perkuliahan. Departemen Kimia. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Tahun 2005 penulis lulus dari SMA Negeri 101 Jakarta Barat dan pada tahun yang sama lulus seleksi masuk Institut Pertanian Bogor (IPB) melalui jalur Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI). Solikhin dan ibu Suwira. Penulis juga aktif dalam kegiatan-kegiatan yang diadakan oleh Ikatan Mahasiswa Kimia (Imasika). . Tahun 2006 Penulis memilih Program Studi Kimia. Penulis juga pernah mengikuti beberapa seminar-seminar yang berbasis iptek selama mengikuti perkuliahan di IPB. penulis pernah menjadi asisten praktikum Kimia Fisik 2008/2009. Penulis melakukan praktik lapangan pada tahun 2008 di Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Minyak dan Gas Bumi (PPPTMGB) “LEMIGAS”. Penulis merupakan putri ketiga dari tiga bersaudara. Judul yang dipilih adalah Pengaruh Komposisi Hidrokarbon Terhadap Nilai Oktana dari Bahan Bakar Minyak.RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Kudus pada tanggal 14 januari 1988 dari ayah M.

.............................................. Isoterm Freundlich .............................. 7 Kondisi Optimum Adsorben Modifikasi Asam...................................... Adsorpsi ..... Metode Penelitian ...................... TINJAUAN PUSTAKA Sekam Padi ......................... viii DAFTAR GAMBAR ......................................................................................................................................................................................................................................... BAHAN DAN METODE Bahan dan Alat ............................................................................................................................................DAFTAR ISI Halaman DAFTAR TABEL ........................................................................................................................................................................... Isoterm Langmuir ...................................................................................................................................................................................................... 9 Adsorpsi Limbah Industri ............................................................................................ 15 .............................................................................................................................. 10 Analisis KOK ...................... 12 DAFTAR PUSTAKA ... PENDAHULUAN ............... Kebutuhan Oksigen Kimia (KOK) .............................................................................................. Modifikasi Adsorben ................................................. 7 Kondisi Optimum Arang Aktif................................................................... 12 Saran ................................. Cibacron Red .............. 12 LAMPIRAN ............................... 11 SIMPULAN DAN SARAN Simpulan ....................................................................................... Zat Warna Reaktif......................................................................................... viii DAFTAR LAMPIRAN ............................................... 11 Analisis KOB ............................................................................... 8 Adsorpsi Larutan Tunggal........................................................................................................................................................................................................ 7 Kondisi Optimum Adsorben Tanpa Modifikasi ................................ Kebutuhan oksigen Biokimia (KOB) .......... ix 1 2 2 2 2 3 3 3 3 4 4 4 5 5 HASIL DAN PEMBAHASAN Panjang Gelombang Maksimum dan Pembuatan Kurva Standar.......................... Arang Aktif .......................... 8 Isoterm Adsorpsi................................................................................................................................................................................. Isoterm Adsorpsi............................................................................................................

.......................... 12 ................................ 10 10 Isoterm Langmuir adsorpsi Cibacron Red oleh AA .............................................................................................. 6 Isoterm Langmuir adsorpsi Cibacron Red oleh ATM .................. AMA.............. 2 Kondisi optimum ATM .............................. AMA...... dan AA.............................................................................................. 7 Isoterm Freundlich adsorpsi Cibacron Red oleh ATM ................................... 10 11 Isoterm Freundlich adsorpsi Cibacron Red oleh AA ................................................................................................................................................ 2 7 8 8 DAFTAR GAMBAR Halaman 1 Struktur Arang Aktif (Bates 2008) ............. 11 15 Persen penurunan nilai KOB setelah dijerap oleh ATM...................................... AMA.............................. dan AA ...... 4 Kondisi optimum AA ............ 11 13 Persen penurunan warna limbah tekstil setelah dijerap oleh ATM............... AMA........... 8 Isoterm Langmuir adsorpsi Cibacron Red oleh AMA .......... 10 12 Intensitas warna limbah awal dan setelah dijerap oleh ATM............................................... ...... dan AA ....... 11 14 Persen penurunan nilai KOK setelah dijerap oleh ATM............................ 5 Perbandingan efisiensi adsorpsi Cibacron Red oleh ATM..... dan AA…............. 3 Kurva standar Cibacron Red ..................................DAFTAR TABEL Halaman 1 Komposisi kimia sekam padi ................................. 3 Kondisi optimum AMA ................... AMA dan AA .... AMA.......... 2 Struktur Cibacron Red (Aldrich 2007) .......................... 4 Perbandingan kapasitas adsorpsi Cibacron Red oleh ATM............................. 3 4 7 9 9 9 9 9 9 Isoterm Freundlich adsorpsi Cibacron Red oleh AMA .......... ........... dan AA..

.................. 23 9 Analisis statistik kondisi optimum arang aktif.. 29 . ................................................................................................................................................................................ 26 13 Penentuan intensitas warna dan persen penurunan warna untuk adsorpsi limbah industri tekstil ........... 17 3 Penentuan panjang gelombang maksimum zat warna Cibacron Red ........... 24 10 Isoterm Langmuir dan Freundlich untuk adsorpsi Cibacron Red oleh adsorben tanpa modifikasi ................... 25 11 Isoterm Langmuir dan Freundlich untuk adsorpsi Cibacron Red oleh adsorben modifikasi asam……................................................... 21 7 Analisis statistik kondisi optimum adsorben modifikasi asam ..................... 18 4 Penentuan kondisi optimum adsorben tanpa modifikasi .................................................................................. 27 14 Hasil analisis KOK .................................................................................................................................................... 25 12 Isoterm Langmuir dan Freundlich untuk adsorpsi Cibacron Red oleh arang aktif ............................................................ 19 5 Analisis statistik kondisi optimum adsorben tanpa modifikasi .... 16 2 Pembuatan larutan KOK dan KOB ....DAFTAR LAMPIRAN Halaman 1 Bagan alir penelitian .............................................................. 28 15 Hasil analisis KOB ................................................. 20 6 Penentuan kondisi optimum adsorben modifikasi asam ...................................................................................... 22 8 Penentuan kondisi optimum arang aktif ..........................................

Hal ini dapat menimbulkan berbagai masalah jika limbah tersebut dibuang langsung ke perairan yaitu dapat mengganggu ekosistem.0%. yaitu fenol sebesar 82. memperlambat proses fotosintesis. Penggunaan sekam padi sebagai adsorben diharapkan dapat menjadi nilai tambah serta meningkatkan daya dukungnya terhadap lingkungan dalam penanganan buangan hasil industri tekstil yang mengandung zat warna maupun logam berat. Oleh karena itu. berbau. Salah satu penyebabnya adalah buangan hasil industri yang prosesnya menggunakan zat-zat kimia berupa zat warna seperti industri tekstil. sabut kelapa. selain keunggulannya dalam hasil proses pengolahan.PENDAHULUAN Air merupakan salah satu zat yang sangat penting bagi semua makhluk dan lingkungan hidup. dan memiliki daya serap terhadap serat kain yang cukup tinggi. karena sinar matahari tidak secara langsung masuk ke dalam perairan. nilai kebutuhan oksigen kimia (KOK). Kelemahan-kelemahan teknik pengolahan limbah tersebut membuat beberapa peneliti mencari metode alternatif. limbah ataupun mineral yang mengandung karbon.8 mg/g (Suwarsa 1998). ampas pembuatan kertas. gabah kedelai. Sekam padi merupakan salah satu produk samping pertanian yang tersedia dalam jumlah banyak dan murah. Buangan hasil industri berupa limbah tekstil secara fisik terlihat keruh. batu bara (Sembiring & Sinaga 2003). tahan luntur. . Beberapa produk samping pertanian yang berpotensi sebagai adsorben yaitu bahan baku yang berasal dari hewan. secara fisika dengan proses adsorpsi menggunakan arang aktif sebagai adsorben. seperti timbulnya lumpur dalam jumlah cukup besar sehingga menimbulkan masalah baru terhadap lingkungan dan membutuhkan pengolahan lebih lanjut terhadap lumpur yang terbentuk. Abdelwahab et al. sekam padi mampu menjerap polutan beracun hasil buangan industri. serta kulit kacang tanah (Marshall & Mitchell 1996). Penelitian ini bertujuan untuk memanfaatkan sekam padi sebagai adsorben zat warna reaktif Cibacron Red. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa. gabah padi. dan kebutuhan oksigen biokimia (KOB) sebelum dan sesudah mengalami proses adsorpsi dengan sekam padi. limbah zat warna harus diolah terlebih dahulu sebelum dibuang ke perairan agar mencapai batas aman di lingkungan. Kebanyakan industri tekstil menggunakan zat warna yang sifatnya tidak berbau.8% yang dilaporkan oleh Srihari et al. Salah satu zat warna yang banyak digunakan adalah Cibacron Red. beberapa diantaranya yang telah diteliti adalah tulang. Namun. berwarna. tumbuh-tumbuhan. jerami.6% dan kulit kacang tanah dengan penurunan warna mencapai 97. adsorpsi zat warna Cibacron Red sebagai model juga telah dilakukan sebelumnya oleh Diapati (2009) menggunakan ampas tebu sebagai adsorben dengan penurunan warna mencapai 97. terlebih jika digunakan dalam pengolahan limbah dengan skala yang besar atau terhadap limbah yang memiliki konsentrasi tinggi (Manurung et al. tongkol jagung. biji kapas. serbuk gergaji. lingkungan perairan rentan terhadap bahaya pencemaran. sekam. tempurung kelapa. Beberapa teknik pengolahan limbah yang telah dilakukan diantaranya adalah secara kimia dengan teknik koagulasi dan flokulasi. dan menghambat pertumbuhan biota. biaya yang dibutuhkan cukup besar untuk penggunaan arang aktif. 2004).9 juta ton gabah kering giling (GKG) yang dapat menghasilkan sekam padi sebanyak 20–25 % dari berat keseluruhan. (2005). seperti penggunaan produk samping pertanian yang tidak membutuhkan biaya besar sebagai adsorben menggantikan arang aktif. yaitu dengan menentukan kondisi optimum dan jenis isoterm adsorpsi dari proses adsorpsi yang dilakukan.08% yang dilaporkan oleh Susanti (2009). Penerapan hasil tersebut dilakukan pada limbah tekstil dengan mengukur intensitas warna. Akan tetapi. kadang-kadang terlihat berbuih. warna yang cerah. dan sulit terbiodegradasi secara alami. Beberapa penelitian terkait mengenai adsorpsi zat warna adalah penggunaan jerami padi yang mampu menjerap zat warna tekstil BR Red HE 7B dengan kapasitas maksimum adsorpsi 9. semakin berkembangnya perindustrian. kayu keras. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS 2009) dan Departemen Pertanian ([Deptan] 2009) produksi padi di Indonesia pada tahun 2009 mencapai 60. ampas tebu. kayu lunak. Scarlet (Direct Red 23) hingga mencapai 80. teknik-teknik tersebut memiliki beberapa kekurangan. (2005) melaporkan bahwa sekam padi tanpa modifikasi dan termodifikasi asam nitrat mampu menjerap zat warna Direct F. dan melalui proses biologi dengan menggunakan mikroba (Forlink 2000).

Isoterm adsorpsi dapat digunakan untuk mempelajari mekanisme adsorpsi suatu zat. Isoterm Freundlich menggambarkan hubungan antara sejumlah komponen yang teradsorpsi per unit adsorben dan konsentrasi komponen tersebut pada kesetimbangan. Tabel 1 Komposisi kimia sekam padi Komponen Komposisi (%) Selulosa 35 Hemiselulosa 25 Lignin 20 Abu 17 Lain-lain 3 Sumber: Hattotuwa et al. Persentase jumlah ketersediaan sekam padi yang cukup tinggi dapat menimbulkan masalah lingkungan. ukuran partikel. Sekam tersusun terutama dari jaringan serat-serat selulosa dan mengandung silika. Proses adsorpsi dapat berlangsung melalui tiga tahapan. sehingga semakin banyak zat yang dapat diadsorpsi (Atkins 1999). Partikel yang terakumulasi dan dijerap oleh permukaan disebut adsorbat. Isoterm Adsorpsi Proses adsorpsi antara adsorben dengan adsorbat memiliki kesetimbangan tersendiri dan menunjukkan bahwa jumlah zat yang diserap merupakan fungsi konsentrasi pada temperatur tetap (Husni et al. Sekam padi merupakan salah satu bahan atau material sisa dari proses pengolahan padi yang selama ini dianggap sebagai produk samping. yaitu makrotranspor. Isoterm Freundlich Isoterm Freundlich merupakan isoterm yang paling umum digunakan dan dapat mencirikan proses adsorpsi dengan lebih baik (Jason 2004). semakin besar luas permukaan padatan per satuan volume. Berdasarkan jenis gaya tariknya.2 TINJAUAN PUSTAKA Sekam Padi Biji padi atau gabah terdiri atas dua penyusun utama. kandungan kimiawi sekam cukup tinggi yang ditunjukkan pada Tabel 1. Pemodelan adsorpsi umumnya menggunakan isoterm yang merupakan fungsi konsentrasi zat terlarut teradsorpsi persatuan bobot adsorben terhadap konsentrasi larutan. Formulasi persamaan isotermnya (Barral et al. dikenal dua jenis adsorpsi. Makrotranspor merupakan perpindahan adsorbat melalui air menuju interfase cair-padat dengan proses pemanasan dan difusi. Menurut Hattotuwa et al. dan 18–28% kulit gabah atau sekam. mikrotranspor. Hal ini mengindikasikan potensi besar yang dimiliki sekam padi untuk dimanfaatkan. 2005). (2002) Komponen selulosa yang terkandung cukup tinggi dibanding komponen lainnya. Faktor-faktor yang mempengaruhi proses adsorpsi antara lain sifat fisik dan kimia adsorben (luas permukaan. serta konsentrasi adsorbat dalam fase cairan. maka terjadi perpindahan massa adsorbat dari fase gerak ke permukaan adsorben (Bird 1993). Freundlich menyusun isoterm adsorpsi dengan mengasumsikan bahwa permukaan adsorben adalah heterogen. Umumnya mengikuti persamaan adsorpsi Freundlich atau Langmuir (Suardana 2008). yaitu adsorpsi fisik (fisisorpsi) yang melibatkan gaya van der Waals dan adsorpsi kimia (kimisorpsi) yang melibatkan reaksi kimia. Oleh karena itu. sedangkan material tempat terjadinya adsorpsi disebut adsorben. Sorpsi adalah istilah untuk menjelaskan kontak adsorbat terhadap adsorben (Tchobanoglous & Franklin 1991). sekam padi diperkirakan mempunyai potensi sebagai adsorben. Semakin kecil ukuran partikel. Oleh karena itu. sifat fisik dan kimia adsorbat (ukuran molekul dan komposisi kimia). 2007) dituliskan sebagai berikut: QkC 1 n . (2002). dilakukan suatu penelitian yang mampu mereduksi masalah lingkungan tersebut dengan cara digunakan menjadi sesuatu yang bermanfaat. dan sorpsi. yaitu 72–82% bagian dapat dimakan atau kariopsis yang disebut beras pecah. Jika gaya tarik-menarik ini lebih kuat daripada gaya tarik antarmolekul adsorbat. Ada beberapa tipe isoterm adsorpsi yang dikembangkan untuk mendeskripsikan interaksi antara adsorben dengan adsorbat. Ukuran pori dan luas permukaan adsorben merupakan hal yang sangat penting dalam adsorpsi. dan komposisi kimia). Adsorpsi terjadi karena gaya tarik menarik antara molekul adsorbat dan tapaktapak yang aktif di permukaan adsorben (Setyaningsih 1995). Adsorpsi Adsorpsi merupakan peristiwa akumulasi partikel pada suatu permukaan (Atkins 1999). Mikrotranspor meliputi difusi adsorbat melalui sistem makropori dan submikropori.

Zat Warna Reaktif Zat warna adalah senyawa organik berwarna yang digunakan untuk memberi warna ke suatu objek atau suatu kain (Fesssenden & Fessenden 1986). serta adsorpsi bersifat dapat balik (Atkins 1999). dan diharapkan mampu mengaktifkan gugus hidroksi pada selulosa. Modifikasi Adsorben Modifikasi adsorben bertujuan meningkatkan kapasitas dan efisiensi adsorpsi dari adsorben.3 Apabila dilogaritmakan. C (ppm) adalah konsentrasi keseimbangan adsorbat dalam larutan setelah adsorpsi. arang aktif diklasifikasikan menjadi tiga. 1997). Berdasarkan ukuran porinya. β dapat ditentukan dari kurva hubungan C terhadap C dengan persamaan x /m Gambar 1 Struktur 2008) Arang Aktif (Bates Manes (1998) menyatakan bahwa arang aktif adalah bentuk umum dari berbagai macam produk yang mengandung karbon yang telah teraktifkan untuk meningkatkan luas permukaannya. Mekanisme reaksi pada umumnya dapat digambarkan sebagai adsorpsi unsur positif pada zat warna reaktif terhadap gugus hidroksil pada selulosa yang terionisasi (Manurung et al. dan proses aktivasi. . yaitu mikropori (diameter <2 nm). pengarangan. Asam sulfat merupakan salah satu asam yang sering digunakan untuk memodifikasi adsorben. Arang Aktif Arang aktif merupakan senyawa padatan bersifat amorf. dimensi. asam fosfat. sedangkan k dan n adalah tetapan empiris yang menunjukkan ikatan antara adsorbat dan adsorben. memiliki luas permukaan dan pori-pori sangat banyak (Baker et al. dan asam sitrat. Zat warna merupakan gabungan dari zat organik tidak jenuh dengan kromofor sebagai pembawa warna dan auksokrom sebagai pengikat warna dengan serat. mesopori (diameter 2–50 nm). Isoterm Langmuir diturunkan berdasarkan persamaan berikut: x C  m 1  C Konstanta α. selain HCl. dihasilkan dari proses pembakaran bahan mengandung karbon. Isoterm Langmuir Isoterm Langmuir merupakan isoterm paling sederhana yang mengasumsikan bahwa setiap sisi adsorpsi adalah ekuivalen. tidak bergantung pada ditempati atau tidaknya sisi yang berdekatan (Atkins 1999). dan kemampuan partikel untuk terjerap pada sisi tersebut. menjadi: persamaan akan log Q  log k  Dengan Q adalah 1 log C n x (µg/g) yaitu jumlah m adsorbat yang teradsorpsi per satuan bobot adsorben. 1997). asam nitrat. Modifikasi dapat dilakukan dengan memberi perlakuan kimia seperti direaksikan dengan asam dan basa atau dengan perlakuan fisika seperti pemanasan dan pencucian (Marshall & Mitchell 1996). Kromogen adalah senyawa C 1 1   C x/m    Isoterm langmuir dipelajari untuk mengambarkan pembatasan sisi adsorpsi dengan asumsi bahwa sejumlah tertentu sisi sentuh adsorben ada pada permukaannya dan semuanya memiliki energi yang sama. 2004). Luas permukaan. dan distribusi arang aktif bergantung pada bahan baku. Susunan kisi-kisi heksagonal datar tampak seolah-olah seperti pelat-pelat datar yang saling bertumpuk dengan sela-sela diantaranya (Gambar 1). Arang aktif tersusun dari atom-atom karbon yang berikatan secara kovalen membentuk struktur heksagonal datar dengan sebuah atom C pada setiap sudutnya. dan makropori (diameter >50 nm) (Baker et al. Asam yang digunakan pada penelitian ini adalah asam sulfat.

misalnya kelompok pembentuk garam –NH2 atau OH (Wardhana 1995). Agar warna dapat masuk dengan baik ke dalam serat. Berbeda dengan zat warna lain. antara lain monoklorotriazin. memilki pH 6–7. Zat warna reaktif adalah pewarna paling permanen dari semua tipe zat warna. yaitu zat warna alam dan zat warna sintetis. Zat warna reaktif merupakan golongan zat warna yang mempunyai gugus aktif. Cibacron Red merupakan bubuk berwarna merah. Gambar 2 Struktur Cibacron Red (Aldrich 2007). difluorokloropirimidina. vinil sulfon. Zat warna alam adalah zat warna yang berasal dari alam. yaitu monoklorotriazin dan vinil sulfon. aman dicuci dan tidak mudah luntur. maka diperlukan bahan dari auksokrom. Zat warna reaktif adalah zat warna yang dapat mengadakan reaksi dengan serat. Zat warna reaktif mempunyai sifat yang umumnya sulit terbiodegradasi. zat warna reaktif membentuk ikatan kovalen yang kuat dengan selulosa. sehingga dengan bahan utama akan terjadi hubungan secara kimia. Menurut Purwaningsih (2008) zat warna digolongkan menjadi dua. Kebutuhan Oksigen Kimia (KOK) Kualitas air ditentukan oleh beberapa parameter. yang dapat dibuat dari bahanbahan kimia. diantaranya adalah zat warna naftol. Struktur Cibacron Red dapat dilihat pada Gambar 2. dan vinil amida. Zat warna reaktif menghasilkan warna yang cemerlang pada serat kain. monofluoroklorotriazin. seperti kelompok azo (N=N). terutama dalam proses pencelupan.4 aromatik berisi kromofor. Kebutuhan oksigen ditentukan dengan mengukur jumlah oksidator kuat yang digunakan dalam proses titrimetri (Boyle 1997). KOK adalah banyaknya jumlah oksigen setara dengan bahan organik dalam sampel yang rentan terhadap proses oksidasi terutama dengan bahan kimia oksidator kuat. Zat warna reaktif dapat digolongkan berdasarkan gugus fungsi yang terdapat didalamnya.25 g/mol dan umumnya dianalisis menggunakan spektroskopi sinar tampak dengan panjang gelombang maksimum 517 nm (Aldrich 2007). Nilai KOK merupakan parameter pencemaran air oleh zat-zat organik yang secara alamiah dapat dioksidasikan melalui proses mikrobiologis. Zat warna ini mempunyai bobot molekul sebesar 1000. Oleh karena itu. trikloropirimidina. yaitu radikal yang memudahkan terjadinya pelarutan. sehingga zat warna tersebut merupakan bagian dari serat. hewan. dikorotriazin. sehingga masih perlu dikembangkan teknik pengolahan air limbah yang mengandung zat warna reaktif. maupun bahan metal. Zat warna reaktif merupakan jenis zat warna yang banyak digunakan dalam industri tekstil. dan zat warna indanthreen. zat warna indigosol. Zat warna yang hanya mengandung salah satu gugus fungsi disebut zat warna monofungsional. Kebutuhan Oksigen Biokimia (KOB) KOB didefinisikan sebagai banyaknya oksigen yang diperlukan oleh organisme pada . kelarutan dalam air 100 g/L (Ciba 2002). sedangkan yang memiliki dua gugus fungsi disebut zat warna bifungsional (Jagson 2008). baik yang berasal dari tanaman. Susanto (1973) menyatakan beberapa zat warna sintesis. Cibacron Red Cibacron Red (C32H19ClN8Na4O14S4) termasuk zat warna bifungsional yang mengandung dua gugus reaktif. zat warna reaktif. salah satu diantaranya adalah KOK yang didefinisikan sebagai jumlah oksigen yang dibutuhkan untuk mengoksidasi zat-zat organik dalam sampel menjadi CO2 dan H2O. hasil pencelupan zat warna reaktif mempunyai ketahanan cuci yang sangat baik dan lebih kilap dari zat warna biasa (Purwaningsih 2008). Zat warna sintetis adalah zat warna buatan. yaitu zat pemberi warna yang berasal dari radikal kimia. Sekitar 85% dari zat yang bereaksi dengan oksigen dapat teroksidasi menjadi CO2 dan H2O dalam suasana asam (Fardiaz 1992). Zat warna azo merupakan jenis zat warna yang mempunyai sistem kromofor dari gugus azo (-N=N-) dan berikatan dengan gugus aromatik. Cibacron Red merupakan zat warna reaktif dalam kelas azo. Ketika ikatan kovalen terbentuk. dan mengakibatkan berkurangnya oksigen terlarut di dalam air (Alaerts & Santika 1984). molekul zat warna akan menjadi bagian dari molekul serat selulosa.

Bobot. Serbuk sekam padi ini selanjutnya disebut adsorben tanpa modifikasi (ATM). Campuran disaring dan dibaca absorbansi filtratnya dengan spektronik 20D+ pada panjang gelombang maksimum. sehingga perlu dipertimbangkan akan kebutuhan oksigen yang akan digunakan selama waktu tersebut.0. 10. 100.6 mg/L. 2004). Sekam padi yang telah dihaluskan ditambahkan asam sulfat pekat. selama 48 jam. Pada suhu saat titik didih tercapai. Preparasi Sekam Padi (Raghuvanshi et al. dan 150 ppm.1 N selama 12 jam dan dibilas dengan air destilata kemudian dikeringkan dalam oven pada suhu 60 °C selama 24 jam lalu digiling dan disaring untuk mendapatkan serbuk sekam padi berukuran 100 mesh. Dramaga-Bogor.0. dan limbah cair industri tekstil. Hal ini perlu diperhatikan mengingat pengukuran KOB dilakukan biasanya 5 hari.5 saat pemecahan senyawa organik. hal tersebut juga akan menigkat pada tekanan yang lebih rendah. Kelarutan oksigen dalam air terbatas. kemudian larutan dikocok dengan pengocok. Pembuatan larutan-larutan yang digunakan untuk KOK dan KOB terdapat pada Lampiran 2. Adsorben sekam padi kemudian dibandingkan dengan adsorben komersil. secara umum banyak dipakai untuk menentukan tingkat pencemaran air buangan. dan 3. 5. yaitu arang aktif yang terbuat dari tempurung kelapa. Metode Penelitian Diagram alir penelitian ditunjukkan pada Lampiran 1. bobot adsorben. hal tersebut untuk menjaga agar oksigen terlarut tetap tersedia selama pemeriksaan.0. dan 25. dibilas dengan air destilata untuk menghilangkan kelebihan asam dengan pencucian 200 mL per gram adsorben. 2004) Sekam dicuci dengan air mengalir hingga bersih kemudian direndam dengan air destilata Q  V C o  C a  m  C  Ca    100% E o  C  o   .0. AMA. Adsorpsi dilakukan dengan variasi waktu adsorpsi 30. dan pada suhu yang lebih rendah meningkat hingga mencapai 14.5. 15. 1. Desain penentuan kondisi optimum adsorpsi dilakukan menggunakan rancangan acak lengkap faktorial dengan program statistika. Kemudian larutan tersebut dibuat dengan konsentrasi 0. pada kondisi aerobik. Parameter KOB.0. Pembuatan Larutan Zat Warna Larutan stok zat warna konsentrasi 1000 ppm dibuat dengan cara melarutkan 1. 1997). Kapasitas adsorpsi dan efisiensi adsorpsi dapat dihitung dengan persamaan: BAHAN DAN METODE Bahan dan Alat Bahan-bahan yang digunakan adalah sekam padi. dan Konsentrasi Awal Zat Warna ATM. kelarutan oksigen dalam air adalah nol (Hach et al.0 ppm untuk pembuatan kurva standar. Setelah itu. Setelah itu. 45. direndam dengan NaOH 0. 2. Penentuan Kondisi Optimum Waktu Adsorpsi. serbuk zat warna Cibacron Red. dan konsentrasi awal zat warna. dan 60 menit (Raghuvanshi et al. Pemeriksaan KOB tehadap air limbah harus bebas dari udara luar untuk mencegah kontaminasi dari oksigen yang ada di udara bebas. 20. sedangkan responnya kapasitas adsorpsi (Q) dan efisiensi adsorpsi (E).0 gram dimasukkan ke dalam 100 mL larutan zat warna Cibacron Red dengan konsentrasi awal 50. Pemecahan bahan organik diartikan bahwa bahan organik ini digunakan oleh organisme sebagai bahan makanan dan energinya diperoleh dari proses oksidasi. lalu dipanaskan pada suhu 160°C selama 36 jam. dan Arang Aktif (AA) dengan variasi bobot adsorben 1. Alat-alat yang digunakan adalah Spektronik 20D+ Thermo Electron Corporation dan Spektronik Hach DR/2000.0.0. Adsorben sekam padi dibuat menjadi ukuran +100 mesh. Kemudian bahan dikeringkan pada suhu 110°C. Konsentrasi air limbah juga harus berada pada suatu tingkat pencemaran tertentu. Kondisi yang digunakan sebagai faktor adalah waktu adsorpsi.00 g serbuk Cibacron Red dalam air destilata dan diencerkan hingga satu liter. dilihat perubahan warna yang terjadi. Serbuk sekam padi ini selanjutnya disebut adsorben modifikasi asam (AMA). Adsorben Adsorben yang digunakan adalah sekam padi yang diperoleh dari tempat penggilingan padi. arang aktif. yaitu sekitar 8 mg/L pada suhu kamar.

Larutan sebanyak 50 mL (Vs) dimasukkan ke dalam Erlenmeyer dan dititrasi dengan Na-tiosulfat sampai warna kuning muda. Larutan dikocok sampai semua endapan larut. Volume larutan FAS yang terpakai dicatat. ditambahkan 0. dan beberapa batu didih. Penutupan botol diusahakan tidak ada gelembung udara. 100.0 mL H2SO4 pekat dan 1.25 N.0. 75.2 g HgSO4. Penentuan Kebutuhan Oksigen (KOK) (SNI 06-6989. Volume larutan FAS yang terpakai dicatat. Filtrat hasil adsorpsi optimum sebanyak 50 mL diencerkan dengan larutan pengencer KOB sampai 1000 mL dan diaerasi selama 15 menit.0. Botol ditutup dengan hati-hati dan dikocok dengan cara membolakbalikkan botol beberapa kali. dikocok kembali. dimasukkan ke dalam Erlenmeyer 200 ml dan ditambahkan 2 mL H2SO4 pekat dan 3 tetes indikator ferroin. Tutup botol KOB dibuka kemudian ditambahkan dengan 1.14-2004) Standardisasi larutan natrium tiosulfat. AMA. Kemudian sampel dimasukkan ke dalam dua botol KOB 250 mL (Vb) sampai penuh dan ditutup. kemudian dibiarkan sampai terbentuk endapan.0 mL larutan alkali iodida azida melalui dinding botol. Nilai KOK ditentukan dengan rumus berikut: (Vb . Campuran disaring dan filtrat yang diperoleh diukur intensitas warnanya (unit Pt-Co) pada panjang gelombang 455 nm dengan spektronik Hach DR/2000.0. Uji sampel (filtrat limbah sebelum dan sesudah dilakukan adsorpsi) sebanyak 10 mL dimasukkan ke dalam Erlenmeyer.0 mL larutan H2SO4 pekat melalui dinding botol. Larutan K2Cr2O7 0. Setelah itu.0. lalu dikocok supaya tercampur. Kemudian larutan tersebut disimpan di tempat gelap selama 6 menit untuk selanjutnya dititrasi dengan Na-tiosulfat 0.0. tutup botol dibuka dan ditambahkan 1. lalu didinginkan.0 ppm pada kondisi waktu optimum untuk masing-masing adsorben kemudian disaring dan diukur adsorbansinya pada panjang gelombang maksimum.025 N sebanyak 10 mL dipipet.1 N dengan perubahan warna dari hijau menjadi merah kecoklatan. lalu dititrasi dengan larutan FAS dengan perubahan warna dari hijau menjadi merah kecoklatan. 25. Blanko akuades dibuat dengan perlakuan yang sama seperti sampel. Botol KOB yang satu disimpan untuk pengujian pada hari kelima. Volume Na-tiosulfat yang terpakai dicatat sebagai Vt. 50. lalu ditutup kembali. dan AA yang didapat pada perlakuan kondisi optimum dilarutkan dalam 100 mL limbah cair industri tekstil yang terlebih dahulu diketahui intensitas warnanya. Volume Na-tiosulfat yang terpakai dicatat. dan dididihkan (refluks) selama 2 jam. Larutan K2Cr2O7 0.6 keterangan: Q = kapasitas adsorpsi per bobot adsorben (µg/g adsorben) V = volume larutan (mL) Co = konsentrasi awal larutan (ppm) Ca = konsentrasi akhir larutan (ppm) m = bobot adsorben (g) E = efisiensi adsorpsi (%) Penentuan Isoterm Adsorpsi Sejumlah bobot optimum ATM dan AMA masing-masing dilarutkan dalam 100 mL larutan zat warna Cibacron Red dengan variasi konsentrasi 0. Kemudian larutan dititrasi dengan larutan FAS 0. Setelah itu diukur kapasitas adsorpsi (Q) dan konstanta afinitas dihitung dengan model isoterm Langmuir dan Freundlich (Atkins 1999).0 mL larutan MnSO4 dan 1. Larutan H2SO4-Ag2SO4 sebanyak 15 mL ditambahkan ke dalam campuran tersebut dengan hati-hati.025 N dengan indikator amilum sampai tidak berwarna.Vs)  N FAS  BEO 2  1000  fp KOK  Vs keterangan : Vb = volume blanko Vs = volume sampel fp = faktor pengenceran Penentuan Kebutuhan Oksigen Biokimia (KOB) (SNI 06-6989.0 gram KI sambil diaduk sampai homogen. Uji sampel. VK 2Cr2O7  N K 2Cr2O7 Normalitas Na 2S 2 O 3  VNa 2 S2O3 Persiapan sampel. Penentuan Kapasitas Adsorpsi Limbah Industri Tekstil ATM. Blanko larutan pengencer Standardisasi larutan ferro amonium sulfat (FAS). dan 150. Kemudian larutan ditambahkan 3 tetes amilum dan titrasi dilanjutkan sampai warna biru hilang pertama kali. 10 mL K2Cr2O7 0.025 N sebanyak 10 mL dimasukkan ke dalam Erlenmeyer berisi 80 mL air destilata lalu ditambahkan 1. Indikator ferroin sebanyak 2–5 tetes ditambahkan ke dalam . Arang aktif sebagai pembanding diperlakukan sama seperti halnya adsorben sekam padi.15-2004) Kimia larutan sampel. lalu konsentrasi Na-tiosulfat ditentukan sebagai Nt.

1000 0. 1. Pencirian adsorpsi Cibacron Red menunjukkan bahwa kejenuhan permukaan adsorben bergantung pada konsentrasi Cibacron Red tersebut. sehingga kapasitas adsorpsi lebih rendah dibandingkan dengan jumlah tapak aktif yang lebih sedikit. kemudian mengalami penurunan setelah melewati titik tersebut. karena energi yang paling banyak diserap oleh sampel tersebut adalah pada panjang gelombang maksimumnya. Pengukuran serapan pada beberapa konsentrasi untuk mendapatkan kurva standar ditunjukkan pada Lampiran 3. Lampiran 5 menunjukkan bahwa kapasitas adsorpsi dan efisiensi adsorpsi menurun setelah melewati 30 menit.2000 0.3000 Absorbans 0. Uji dilakukan terhadap botol kedua pada hari kelima.99% ditunjukkan pada Gambar 3. Panjang gelombang maksimum Cibacron Red yang diperoleh adalah 518 nm (Lampiran 3).0 gram 150 ppm Q (µg/g) 2879. pada konsentrasi yang rendah adsorben mampu menjerap lebih banyak molekul Cibacron Red yang tersedia dengan cepat. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Raghuvanshi et al.0 µg adsorbat yang terjerap dalam 1. Kapasitas dan efisiensi adsorpsi meningkat seiring dengan kenaikan konsentrasi awal Cibacron Red. Waktu optimum yang diperoleh ATM adalah 30 menit. dikarenakan masih tersedianya ruang tapak aktif yang belum berikatan dengan permukaan. Kondisi Optimum Adsorben Tanpa Modifikasi Data pada Lampiran 4 dan 5 untuk ATM menunjukkan bahwa adsorpsi mencapai Kapasitas adsorpsi dan efisiensi adsorpsi meningkat seiring dengan meningkatnya waktu adsorpsi.0 g adsorben) dan 19.86% (Tabel 2).86 HASIL DAN PEMBAHASAN Panjang Gelombang Maksimum dan Pembuatan Kurva Standar Pemilihan panjang gelombang maksimum ditujukan untuk menentukan panjang gelombang yang tepat dalam pengukuran sampel.0 E (%) 19.0 gram bobot adsorben. Kondisi Optimum Adsorben Modifikasi Asam Kondisi optimum AMA diperoleh pada waktu adsorpsi 60 menit. Rumus: Oksigen Terlarut (OT) Vt  Nt  BE O 2  Vb  1000 OT  Vs  (Vb . hal ini dikarenakan permukaan adsorben akan lebih cepat jenuh. sedangkan pada konsentrasi yang tinggi adsorben dapat menjerap molekul Cibacron Red dengan waktu yang lebih lama. 0. Nilai kapasitas adsorpsi dan efisiensi adsorpsi pada kondisi optimum tersebut sebesar 2879.4000 0. Persamaan tersebut selanjutnya digunakan dalam penentuan konsentrasi setelah adsorpsi. (2004) yang menyatakan bahwa efisiensi adsorpsi berbanding lurus dengan waktu sampai pada titik tertentu. Kapasitas adsorpsi adsorben besar jika konsentrasi awal larutan Cibacron Red lebih besar.0000 0 5 y = 0.000 R² = 0.2) Nilai KOB pada hari kelima KOB = [(OTS1-OTS5)-k(OTB1-OTB5)] x fp keterangan: OTS = oksigen terlarut sampel OTB = oksigen terlarut blanko k = (fp-1)/fp kesetimbangan (optimum) pada waktu adsorpsi 30 menit.0 µg/g (artinya sebanyak 2879. bobot adsorben 2. Begitu juga dengan kondisi bobot ATM yang menunjukkan adanya penurunan kapasitas adsorpsi dan efisiensi adsorpsi seiring meningkatnya bobot adsorben. dan 150 ppm konsentrasi awal zat warna Cibacron Red. Persamaan kurva standar larutan Cibacron Red yang dihasilkan adalah y = 0.0000 dengan R2 = 99.0140x + 0.999 10 15 20 Konsentrasi (ppm) 25 30 Gambar 3 Kurva standar Cibacron Red.014x + 0. Peningkatan sisi aktif akan meningkatkan penyebaran adsorbat. Tabel 2 Kondisi optimum ATM Parameter Waktu Bobot Konsentrasi Optimum 30 menit 1. Pengukuran pada panjang gelombang tersebut akan memberikan kepekaan dan ketelitian pengukuran yang paling tinggi dengan spektrofotometer.7 KOB dibuat dengan perlakuan yang sama seperti prosedur sampel.0 .

Peningkatan jumlah luas permukaan aktif akan meningkatkan efisiensi adsorpsi. setelah melewati titik optimum tersebut.51%. 2003).00 E (%) 40.51 Berdasarkan hasil ini membuktikan bahwa modifikasi asam pada adsorben sekam padi dapat meningkatkan kapasitas adsorpsi dan efisiensi adsorpsi. dan 2470. merupakan kondisi terbaik yang digunakan dalam penelitian ini.30 µg adsorbat yang terjerap dalam 2. 2879. sehingga semakin besar kemungkinannya akan terjerap. Modifikasi adsorben sekam padi menggunakan asam sulfat terbukti memiliki nilai kapasitas dan efisiensi adsorpsi yang lebih tinggi dibandingkan dengan adsorben sekam padi tanpa modifikasi. diperoleh waktu adsorpsi selama 30 menit. dan konsentrasi awal zat warna 150 ppm. Luas permukaan yang besar meningkatkan ketersediaan tapak aktif. Kapasitas adsorpsi terus meningkat hingga konsentrasi 150 ppm. sehingga waktu yang dibutuhkan untuk mencapai waktu kesetimbangan lebih lama. Konsentrasi yang tinggi akan meningkatkan jumlah molekul Cibacron Red dalam larutan. hal ini terlihat dari bentuk serbuk halus adsorben yaitu sekitar 300 mesh. Kapasitas adsorpsi dan efisiensi adsorpsi digunakan sebagai respon pembanding.00 µg/g yang artinya sebanyak 2470.0 gram adsorben.00. Penurunan kapasitas adsorpsi setelah mencapai nilai bobot optimum dimungkinkan adanya sisi aktif yang belum berikatan dengan adsorbat sehingga kapasitas adsorpsi 2.0 gram. dan konsentrasi terhadap kapasitas adsorpsi dan efisiensi adsorpsi oleh AA. Hal ini dikarenakan tapak aktif dalam jumlah besar membutuhkan waktu adsorpsi yang lebih lama. Kondisi Optimum Arang Aktif Data pada Lampiran 8 dan 9 menunjukkan pengaruh waktu adsorpsi. Arang aktif yang digunakan berasal dari tempurung kelapa.0 g adsorben. Kapasitas adsorpsi yang diperoleh pada kondisi optimum sebesar 6898.0 gram. AMA. semakin tinggi jumlah molekul dalam larutan.0 gram 150 ppm Q (µg/g) 2470.30 Konsentrasi 150 ppm E (%) 91.0 gram lebih besar dibandingkan 3. dan AA terlihat pada Gambar 4 yang menunjukkan bahwa nilai kapasitas adsorpsi AMA lebih tinggi dibandingkan ATM dan AA berturut-turut sebesar 6898. berbanding terbalik dengan nilai kapasitas adsorpsi. karena semakin besar bobot adsorben menyebabkan luas permukaan aktifnya juga meningkat. memiliki luas permukaan yang besar. dengan efisiensi adsorpsi 91.71% terlihat pada Tabel 3. sehingga meningkatkan laju reaksi antara molekul adsorbat dan adsorben (Barros et al.00 µg/g adsorben. hal ini dikarenakan jumlah molekul Cibacron Red yang terjerap pada tapak aktif AA semakin besar. Semakin besar konsentrasi.00 µg adsorbat terjerap dalam 3. Tabel 3 Kondisi optimum AMA Q Parameter optimum (µg/g) Waktu 60 menit Bobot 2.0 gram 6898. bobot adsorben 3.71 Kondisi optimum AA ditunjukkan pada Tabel 4. yaitu AA. Konsentrasi awal Cibacron Red optimum yang diperoleh adalah 150 ppm. Data terdapat pada Lampiran 6 dan 7.8 gram.30. Namun. namun kondisi optimum yang sebenarnya dapat diperoleh dengan meningkatkan kisaran taraf-taraf daerah titik optimum. Kenaikan kapasitas adsorpsi mengindikasikan jumlah molekul Cibacron Red yang terjerap pada tapak aktif semakin besar. kapasitas adsorpsi menurun dan efisiensi adsorpsi meningkat. Kondisi optimum yang diperoleh. dan konsentrasi awal zat warna 150 ppm. Nilai kapasitas adsorpsi pada kondisi optimum diperoleh sebesar 2470. Tabel 4 Kondisi optimum AA Parameter Waktu Bobot Konsentrasi optimum 30 menit 3. Lampiran 7 menunjukkan waktu dan bobot optimum AMA yang diperoleh adalah selama 60 menit dan 2. bobot. tetapi semakin besar bobot menyebabkan kapasitas adsorpsi menurun dan efisiensi adsorpsi meningkat. Peningkatan ketersediaan tapak aktif dengan penambahan jumlah bobot. Perbandingan nilai kapasitas adsorpsi antara ATM. Adsorpsi Larutan Tunggal Sekam padi sebagai adsorben yang potensial perlu diuji kemampuannya dalam menjerap zat warna dengan cara membandingkan dengan adsorben komersial.30 µg/g artinya sebanyak 6898. .0 g adsorben dengan efisiensi adsorpsi 40.0 gram. Bobot optimum AA sebesar 3.

Semua kurva dibuat linier berdasarkan hubungan antara sumbu x dan sumbu y dari penurunan rumus yang terdapat pada Lampiran 12. Hasil penelitian ini dikuatkan oleh Hussein et al. .0000 1. log c 0.7500 1.6 R² = 0.0000 2.0 50.5000 -1. dan 40. Hal ini menunjukkan bahwa adsorpsi zat warna reaktif Cibacron Red dengan ATM mengikuti tipe isoterm Freundlich. tipe isoterm adsorpsi Freundlich dan Langmuir dapat terjadi pada proses adsorpsi zat warna. Linieritas kedua tipe isoterm adsorpsi Cibacron Red oleh ATM adalah sebesar 72.00 2470. dan 12). AMA.0000 -5.51%. (2004) yang menyatakan bahwa dengan linieritas di atas 90%. konsentrasi terjerap.0000 -4.086x .0 6898.86.9 8000.2500 0.00 ATM AMA Jenis adsorben AA 0 25 50 75 100 125 150 c (ppm) Gambar 4 Perbandingan kapasitas adsorpsi Cibacron Red oleh ATM.824 150.0 100. Berdasarkan hasil tersebut linieritas isoterm adsorpsi tipe Freundlich lebih tinggi dibandingkan isoterm Langmuir.741. AMA.0 0.71.51% 19.0 0.0000 0.20% untuk isoterm Freundlich (Gambar 7).10.50x + 2. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Abdelwahab et al.00% untuk isoterm Langmuir (Gambar 6) dan 98. Isoterm Adsorpsi Kurva regresi linier untuk tipe isoterm Freundlich dan Langmuir menggunakan data konsentrasi awal Cibacron Red.216.0000 Gambar 8 Isoterm Langmuir adsorpsi Cibacron Red oleh AMA.71% Gambar 6 Isoterm Langmuir adsorpsi Cibacron Red oleh ATM.72 6000.0 2000.86% ATM AMA Jenis adsorben AA Gambar 5 Perbandingan efisiensi adsorpsi Cibacron Red oleh ATM.0 2000000.5000 c (ppm) 0. dan AA berturut-turut sebesar 19. dan bobot adsorben (Lampiran 10. Efisiensi adsorpsi terbesar adalah dengan menggunakan AMA.0000 log x/m -3.00 1500000.0 0. Gambar 5 menunjukkan perbandingan efisiensi adsorpsi ATM.0 0.71 R² = 0. 300. 100 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 91.0000 0.982 Efisiensi adsorpsi (%) Gambar 7 Isoterm Freundlich adsorpsi Cibacron Red oleh ATM. dan AA. 91.00 4000.00 500000.0 200.85 R² = 0. Hasil ini membuktikan bahwa modifikasi asam pada adsorben sekam padi dapat meningkatkan kapasitas adsorpsi dan efisiensi adsorpsi. AMA dan AA.0000 -2.0 y = -29.0 250. (2005) yang menyatakan bahwa sekam padi termodifikasi asam mampu meningkatkan kapasitas adsorpsi.5000 1.0x + 280.00 2879. 40.0 1000000.30 c/(x/m) 2500000.0000 -6. 11.0000 y = 4.0 c/(x/m) y = -171.338.00 Kapasitas adsorpsi (µg/g) 3000000.0000 0.5000 2.

sehingga dapat dikatakan bahwa modifikasi asam terhadap sekam padi mampu meningkatkan kapasitas adsorpsi zat warna. Hal ini dikarenakan limbah tekstil banyak mengandung jenis zat warna. yaitu 455 nm.0000 -3.40% untuk isoterm Langmuir (Gambar 8) dan 98. Panjang gelombang yang digunakan adalah panjang gelombang yang terbaik untuk pengukuran warna dalam limbah.3000 -0.0000 -2.5000 -1. Isoterm adsorpsi oleh arang aktif juga mengikuti isoterm Freundlich berdasarkan linieritasnya.7. 17. Persen penurunan warna intensitas awal limbah setelah dijerap oleh ATM.0000 0. Persen penurunan warna terbesar adalah dengan menggunakan AMA. Isoterm adsorpsi Cibacron Red oleh AMA menunjukkan linieritas sebesar 82. dan 762 unit Pt-Co secara berturut-turut (Gambar 12).90% untuk isoterm Langmuir (Gambar 11). Hasil ini serupa dengan penelitian yang dilakukan oleh Diapati (2009) dan Susanti (2009) dengan menggunakan adsorben dari ampas tebu dan kacang tanah. Sehingga.989 Gambar 9 Isoterm Freundlich adsorpsi Cibacron Red oleh AMA. AMA. 800000 600000 400000 200000 0 0 50 c (ppm) 100 150 y = -5244.0000 -2. sedangkan nilai kapasitas adsorpsi zat warna tunggal Cibacron Red tidak dapat diketahui.5000 -0.829 mengasumsikan bahwa permukaannya bersifat heterogen. AMA. yaitu satuan nilai untuk intensitas warna yang didapat. Berdasarkan hasil tersebut dinyatakan bahwa adsorpsi dengan menggunakan adsorben sekam padi mengikuti pola isoterm Freundlich yang log x/m 0. sehingga terjadi persaingan antara zat yang satu dan lainnya untuk mendapatkan tapak aktif (Notodarmojo 2004). Setelah dijerap dengan ATM. dan bagian lainnya memiliki afinitas yang rendah. isoterm Freundlich melibatkan gaya van der Waals sehingga ikatan antara adsorbat dengan adsorben bersifat lemah.05. dan 48.4000 -0. (2005) yang menyatakan bahwa adsorpsi zat warna Direct Red 23 dengan sekam padi tanpa perlakuan dan perlakuan asam.1000 y = 1. et al. Parameter warna diukur dengan spektronik Hach DR/2000 dalam unit Pt-Co.992 Gambar 11 Isoterm Freundlich adsorpsi Cibacron Red oleh AA.0000 y = 2.69% secara berturut-turut yang ditunjukkan pada Gambar 13.x + 62519 R² = 0.0000 -4.0000 .0000 -1.2000 -0. dan AA intensitas warnanya menurun menjadi 712. Adsorpsi Limbah Industri Kemampuan adsorpsi adsorben sekam padi juga diterapkan pada limbah industri tekstil.0000 1.0000 0.0000 0.90% untuk isoterm Freundlich (Gambar 9). dapat dikatakan bahwa proses adsorpsi yang terjadi untuk adsorben sekam padi adalah adsorpsi secara fisik. Data pada Lampiran 13 menunjukkan hasil adsorpsi limbah industri tektil dengan mengukur intensitas warna sebelum dan sesudah adsorpsi. Namun hasil ini berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Abdelwahab.371 R² = 0. dan AA adalah 52.5000 2.097 R² = 0. Hasil ini sesuai dengan Gambar 10 Isoterm Langmuir adsorpsi Cibacron Red oleh AA.2.20% untuk isoterm Freundlich (Gambar 10) dan 82. Berdasarkan linieritas kedua tipe isoterm adsorpsi tersebut.6000 c/(x/m) log x/m -0. Hal ini memungkinkan adsorbat leluasa bergerak hingga akhirnya berlangsung proses adsorpsi banyak lapisan.0000 -3.0000 2.0000 log c -0. yaitu 99.553x . Intensitas warna limbah awal yang terukur adalah 1485 unit Pt-Co. maka adsorpsi menggunakan AMA mengikuti tipe isoterm Freundlich.10 -4. 98.0000 -5. isoterm yang dihasilkan mengikuti pola isoterm Freundlich. log c 0.140x . keduanya mengikuti isoterm Langmuir. terdapat sisi aktif adsorpsi yang memiliki afinitas tinggi.86.5000 1.

120./IX/1990 untuk intensitas warna yang dapat diterima pada umumnya sebesar 50 unit Pt-Co.00 60. Berdasarkan hasil penelitian ini.56%. Berdasarkan standar baku mutu air bersih Permenkes No. setelah limbah dijerap menggunakan AMA.00 40. 98. dan AA. Pengukuran nilai KOB membutuhkan waktu 5 hari agar diperoleh sekitar 60-70% kesempurnaan (Saeni 1989.00 20. maka filtrat hasil adsorpsi dengan AMA dapat diterima umumnya untuk kategori air bersih karena intensitas warnanya telah memenuhi standar baku mutu air bersih yang ditetapkan.58% 43.30% 1400 1200 1000 800 600 400 200 0 Limbah ATM 17 AMA AA 712 762 ATM AMA Jenis adsorben AA Sampel yang diukur Gambar 12 Intensitas warna limbah tekstil awal dan setelah dijerap oleh ATM. nilai ini jauh dari nilai standar baku mutu yang diharuskan untuk air bersih menurut SK Gub.05% 48. nilai KOK dan KOB juga perlu ditentukan agar sesuai dengan standar baku mutu air bersih.00 ATM AMA Jenis adsorben AA 52. (2005) yang menunjukkan bahwa kapasitas adsorpsi adsorben sekam padi termodifikasi asam nitrat lebih besar.56% Penurunan KOK (%) 1485 80.00 52. AMA. dan AA. Analisis KOK merupakan reaksi oksidasi kimia yang menyerupai proses oksidasi biologi di alam.Kes/Per.56. 120.00 98. AMA. oleh karenanya pengukuran KOK hasil adsorpsinya menurun akibat berkurangnya kadar bahan organik yang ada dalam limbah. 416/Men. sehingga tidak dapat membedakan antara zat-zat yang sebenarnya tidak teroksidasi dan zat-zat yang teroksidasi secara biologi (Sudarmaji 1997. Analisis KOB Analisis KOB merupakan pengukuran kadar oksigen terlarut dalam air yang digunakan dalam proses penguraian bahanbahan organik oleh mikroorganisme. Jawa Barat No.00 0. dan 52.0 mg/L (Lampiran 14).30. AMA.00 98. Nilai KOK awal adalah 7372. Alaerts & Santika 1984). Nilai KOK yang diperoleh menunjukkan jumlah oksigen yang dibutuhkan untuk mengoksidasi zat-zat organik yang ada dalam 1 liter sampel air. Analisis KOK Pengukuran KOK dilakukan secara titrimetri menggunakan oksidator kuat K2Cr2O7.6 Tahun 1999.00 100. Eckenfelder 100. Hasil analisis penurunan nilai KOK terbesar yaitu 98. . 1600 Intensitas warna (Pt-Co) Berdasarkan analisis yang dilakukan nilai KOK limbah setelah dijerap oleh ATM. Berdasarkan hasil ini dapat dikatakan bahwa AMA mampu menjerap bahan-bahan organik yang terdapat dalam limbah. karena selain zat warna sebagai parameter pencemaran lingkungan perairan.00 0.00 Penurunan warna (%) Gambar 14 Persen penurunan nilai KOK setelah dijerap dengan ATM. dengan menggunakan zat pengoksidator K2Cr2O7 sebagai sumber oksigen. yaitu sebesar 150 mg/L.69% Gambar 13 Persen penurunan warna limbah tekstil setelah dijerap oleh ATM. yaitu 4350 µg/g dibandingkan adsorben sekam padi tanpa modifikasi.00 60.11 penelitian Abdelwahab et al.58% (Gambar 14). Pengukuran KOK dilakukan untuk memastikan bahwa limbah tekstil siap dibuang ke lingkungan perairan. yaitu 2415 µg/g.86% 80. dan AA. dan AA mengalami penurunan berturut-turut sebesar 43.00 20.00 40. AMA.

Surabaya: Usaha Nasional Surabaya. Alaerts. dan nilai KOB yang merupakan parameter daya cemar air. penurunan nilai KOK serta penurunan nilai KOB oleh adsorben sekam padi termodifikasi asam sulfat adalah yang terbesar jika dibandingkan dengan adsorben sekam padi tanpa modifikasi dan arang aktif. Tipe isoterm mengikuti tipe Freundlich yang mengasumsikan bahwa permukaannya bersifat heterogen. dikarenakan mikroorganisme dapat mati. AMA dan AA ditunjukkan pada Lampiran 15. Modifikasi asam terhadap sekam padi terbukti mampu meningkatkan kapasitas adsorpsi dan efisiensi adsorpsi zat warna Cibacron Red.00 30. Bagian pertama. Hal ini dapat dikatakan bahwa adsorben sekam padi termodifikasi asam lebih efektif dalam menurunkan kadar zat warna.46% AMA Jenis adsorben AA Gambar 15 Persen penurunan nilai KOB setelah dijerap oleh ATM. AMA.41 mg/L.09% 72. terdapat bahan kimia yang dapat dioksidasi secara kimia dan peka terhadap oksidasi biokimia tetapi tidak dalam uji KOB5 seperti sellulosa.09 mg/L berturut-turut sebesar 63. http: //www. menurut Purwaningsih (2008) perbedaan nilai tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor. Scarlet. lemak berantai panjang atau sel-sel mikroba. Selama masa inkubasi. yaitu adanya bahan kimia yang tahan terhadap oksidasi biokimia tetapi tidak tahan terhadap oksidasi kimia seperti lignin. kandungan oksigen diukur setelah limbah diambil yaitu pada hari ke-0 (OT0).00 Penurunan nilai KOB (%) SIMPULAN DAN SARAN Simpulan Sekam padi dapat digunakan sebagai adsorben zat warna. 2005. Santika SS. . Adsorpsi dengan AMA merupakan yang paling baik karena dapat menurunkan nilai KOB paling besar menjadi 46. Pencirian lebih lanjut AMA dari sekam padi dengan Scanning electron microscopy (SEM) dan spektrofotometri inframerah.sigmaaldrich. yaitu sebesar 60 mg/L. Sikaily AE.00 ATM 63.00 60.00 10. Saran Berdasarkan hasil penelitian ini. Khaleed A. AMA dan AA dapat menurunkan nilai KOB limbah dari nilai KOB awal yaitu 194. Cibacron brilliant red 3G-A.00 20.00 50. Egyptian Journal of Aquatic Research 31:1–5 .09. nilai KOK. Use of Rice Husk for Adorption of Direct Dyes from Aqueous Solution: a Case Study of Direct F. Indonesia. Nilai KOB yang terukur tidak lebih besar dari nilai KOK. penerjemah. Aldrich S. 1984.00 0. sedangkan bagian kedua diukur setelah diinkubasikan selama 5 hari (OT5). Nemr AE.41% 76. Metode penelitian air. 76. dan AA. Kartohadiprodjo II. 1999. oksigen terlarut digunakan oleh mikroorganisme dalam proses kimiawi dan mikrobiologi untuk mendekomposisi bahan organik yang terlarut dalam limbah.00 40. nilai ini tidak memenuhi standar baku mutu yang ditetapkan oleh SK Gubernur Jawa Barat.12 1989). Nilai KOB didapatkan dari perbandingan kandungan oksigen terlarut (OT) yang tersisa dari dua bagian contoh air. membentuk banyak lapisan.com [20 Apr 2009]. terdapat sisi aktif adsorpsi memiliki afinitas yang tinggi. Kapasitas adsorpsi dan efisiensi adsorpsi Cibacron Red oleh adsorben sekam padi termodifikasi asam sulfat lebih besar dibandingkan dengan adsorben tanpa modifikasi dan arang aktif sebagai pembanding. dan bagian lainnya memiliki afinitas yang rendah. sehingga akan terbebas dari material organik dan dapat dialirkan ke lingkungan dengan aman. Atkins PW. Persen penurunan intensitas warna limbah industri tekstil. dan 72.41. Adanya bahan toksik dalam limbah yang akan mengganggu uji KOB tetapi tidak uji KOK. 80. 2007. Kimia Fisika jilid II. maka tahapan selanjutnya yang perlu dilakukan adalah memperluas kisaran taraf yang digunakan sebagai faktor kondisi optimum karena masih teramati pada ujung-ujung taraf. 70. Hasil analisis KOB yang dilakukan terhadap limbah tekstil dan filtrat hasil adsorpsi menggunakan ATM. Berdasarkan hasil analisis KOB menunjukkan bahwa adsorpsi dengan menggunakan ATM. [terhubung berkala].46% (Gambar 15). DAFTAR PUSTAKA Abdelwahab O.

2004. Hasil Pencarian Lokasi Sub Sektor Tanaman Pangan. Statistik Pertanian Indonesia.au/bcs_ad min/msds/msds_docs/Cibacron%20Red% 20B-E.coe. Ampas Tebu sebagai Adsorben Zat Warna Reaktif Cibacron Red [Skripsi]. 1977.ce. Bates C. Bastia A.15-2004 Air dan Air Limbah-Cara Uji Kebutuhan Oksigen Kimiawi (KOK) Refluks terbuka dengan refluks terbuka secara titrimetri. Elec J Biotechnol 7:1–8. 1997. Bogor: Institut Pertanian Bogor.deakin. New York: McGraw-Hill. 1992. [terhubung berkala]. 2009. YV Rath P./VIII/1977 tentang syarat-syarat evaluasi kualitas badan air. Hach CC. Braz J Chem Eng 20:1-17. Serpong: BSN. Booklet No. Introduction to Biochemichal Oxygen Demand. 9. Bogor: PAU Pangan dan Gizi. Serpong: BSN. [10 Apr 2008].jagson. S. 2004. Hattotuwa GBP. Wahyu R. The “Diamond Age”.14-2004 Air dan Air Limbah-Cara Uji Oksigen Terlarut secara yodometri (modifikasi azida). [terhubung berkala].edu. Banda Aceh. Azwir. Biosorption of cadmium using the fungus aspergillus niger. SNI-06-6989. [BSN] Badan Standardisasi Nasional. BPS. Removal of Cr(VI) by thermally activated weed Salvinia cucullata in a fixed-bed column. 2004. Moawad H. Gibbs CR. Indonesia.pdf [15 Mei 2008]. editor. [terhubung berkala]. Lobato AKCL. Reactive dyes. Jakarta: Erlangga. Polusi Air Dan Udara. SNI-06-6989. 1997. Kimia Fisik untuk Universitas. 1997. Activated Carbon. Repik AJ.xls. [Ciba] Specialty Chemicals Indonesia. Polymer Testing 21:833–839. Jakarta: Biro Pusat Statistik. Journal of Hazardous Materials 161:1427–1435. New York: J Wiley. Peraturan Menteri Kesehatan RI No. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama Boyle W.Http://www. 2009. 2000. Silva EP.or. Bird T. 1990. Peraturan Menteri Kesehatan RI No. SN Chaudhury GR. http://www. Industrial Water Pollution Control. Hussein H. [Depkes]. Terjemahan dari: Organic Chemistry. Miller CE. Edisi ke-3. dan Baharin A. Swamya. 2004. Proceedings National Conference On Chemical Banda Aceh Engineering Sciences And Applications (CHESA).asp .aspx [14 Agstus 2010]. 2002. Oxford: Oxford University Press. Baral SS. [6 Februari2009]. Ed ke-2. [terhubung Berkala]. Tollens ED. The Science of Chemical Oxygen Demand Technical Information Series. Jagson CL. Pudjaatmaka AH. [BSN] Badan Standardisasi Nasional. 1989. Diapati M. 173/Men. Baker FS. [terhubung berkala].) Menggunakan NaOH dan Gas Nitrogen sebagai Aktifator. USA: Hach Company.dml.html.bcs. Husni H. Terjemahan dari: Physical Chemistry.drexel. 2009. Kandeel K. 1986. 2002. Forlink. [Depkes]. Activated carbon and some applications for the remediation soil and ground water pollution. Comparison of the Mechanical Properties of Rice Husk Powder Filled Polypropylene Composites with Talc Filled Polypropylene Composites. Cibacron Red B-E. Kimia Organik jilid 1. http://ret. [23 Maret 2009]. 2008. Fessenden RJ dan Fessenden JS. Http://www.edu/program areas [16 Feb 2008]. Ibrahim SF. . Eckenfelder WW.com.13 Rohhadyan T. Jason PP. [Deptan]. Pembuatan Karbon Aktif dari Tempurung Kelapa Sawit (Elaies Guineensis Jacq. Dasa. Macedo GR.Kes/Per. USA: Hach Company. Fardiaz.Forlink. [terhubung berkala]. 2005. Jakarta: Depkes. http://agrippina. Klein RL.id/pte rabp/te. Ismail H./IX/1990 tentang syarat-syarat dan pengawasan kualitas air bersih.edu/RETNANO/2008 /ChristopherBates/MyExpeirencesinaNan oProject. 1993.htm. 2008. Paket terapan produksi bersihpada industi tekstil. 416/Menkes/Per.departemenpertanian indonesia/search/hasil_lok_TP_PADI. Jakarta: Depkes. 2003.http://www. penerjemah. Duarte MML. Barros JLM. 2009. Biosorption heavy metal from waste water using Pseudomonas sp.

Raghuvanshi SP. Sudarmaji. Singapura: McGrawHill. 2008. 2004. Optimalisasi Daya Adsorpsi Zeolit Terhadap Ion Kromium (III). Irvan. Kaushik CP. Perombakan zat warna azo reaktif secara aerob-anaerob. Universitas Indonesia. Pencemaran Tanah dan Air Tanah. Marshall WE. Potensi Kulit Kacang Tanah sebagai Adsorben Zat Warna Reaktif Cibacron Red [Skripsi]. 2009. New York: J Wiley. Kimia Lingkungan. Bogor: Institut Pertanian Bogor. Das A. Jakarta: Balai Penelitian Batik dan Kerajinan.id/download/ft/tkimia -renita2.Laboratorium Hidrologi dan Kualitas Air. Yogyakarta: Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan.usu. 6:47-50. Kinetics of Phenol-sorption by Raw Agro-wastes. Arang Aktif (Pengenalan dan Proses Pembuatannya). [terhubung berkala]. Franklin LB.A. J Chem Tech Biotechnology 66: 192-198. Departemen Perindustrian Republik Indonesia. Manurung R. Srihari V. Lembaga Penelitian dan Pendidikan Industri. Susanti A. JMS 3: 32-40. Wastewater Enginering: Treatment. App Ecol Environ Research 2: 35-43. Saeni MS. 2004. Seni Kerajinan Batik Indonesia. 1998. Hasibuan R. Petunjuk Praktikum Kualitas Air. Yogyakarta: Penerbit Andi Offset. Suwarsa S. Sembiring MT. Diposal. Applied Sci.14 Manes M. Tchobanoglous G. 1973. 1997. Singh R. 2005. and Reuse. 1989. Sinaga TS. Pengolahan Limbah Cair Industri Batik CV. Kinetics study of methylene blue dye bioadsorption on bagasse. USU digital library. Universitas Islam Indonesia. Purwaningsih I. Activated Carbon Adsorption Fundamental. Bandung: ITB Press. Susanto SKS.ac. Adsorpsi Zat Warna Tekstil BR Red HE 7B oleh Jerami Padi. Dampak Pencemaran Lingkungan. Di dalam: R. 1996. Notodarmojo S. 1991. 1-9. Jakarta: Program Pascasarjana. 2008. 1995. Mitchell M J. Agriculture by-product as metal adsorbent: Sorption properties and resistance to Mechanical abrasion. 1998. J. Bogor: Dirjen Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Pusat Antar Universitas Ilmu Hayati IPB. 2003. 2004. . Yogyakarta: Fakultas Geografi UGM. Meyers (penyunting). Encyclopedia of Environmental Analysis and Remediation. Jurnal Penelitian dan Pengembangan Sains & Humaniora 2:1733. Setyaningsih H. Pengolahan limbah batik dengan proses kimia dan adsorpsi karbon aktif [tesis]. Babu SM. Volume 1. Wardhana 1995. Batik Indah Raradjonggrang Yogyakarta dengan Metode Elektrokoagulasi Ditinjau Dari Parameter Chemical Oxygen Demand (COD) dan Warna [skripsi]. [16 Feb 2008]. http://library. Suardana IN.

LAMPIRAN .

bobot adsorben. dan konsentrasi awal zat warna Penentuan isoterm adsorpsi Aplikasi terhadap limbah industri Analisis warna Analisis KOK Analisis KOB .16 Lampiran 1 Bagan alir penelitian Sekam Padi Preparasi Sampel Penyaringan 100 mesh Tanpa modifikasi Modifikasi asam Arang aktif Penentuan kondisi optimum: Waktu adsorpsi.

Kemudian ditambahkan larutan 1 gram NaN3 dalam 4 mL akuades. 1 ml larutan CaCl2 (2.025N Sebanyak 6.2 gram Na2S2O3.835 gram Na2HPO4.0 gram amilum dilarutkan ke dalam akuades yang telah dididihkan sebanyak 100 mL.5438 gram K2HPO4. 1 mL FeCl3 (0.75 gram CaCl2 dalam 100 mL larutan). kemudian volumenya ditepatkan menjadi 1000 mL. kemudian diencerkan hingga volumenya tepat 100 mL.17 Lampiran 2 Pembuatan larutan KOK dan KOB Larutan-larutan KOK Larutan K2Cr2O7 0.25 gram MgSO4 dalam 100 mL larutan). Kemudian ditambahkan 1 ml larutan MgSO4 (2.H2O Sebanyak 36.a) dilarutkan ke dalam akuades. Campuran H2SO4-Ag2SO4 Sebanyak 5 gram Ag2SO4 dimasukkan ke dalam 500 mL H2SO4 pekat.6 gram serbuk FAS dilarutkan dengan akuades.2125 gram KH2PO4. Larutan Ferro ammonium sulfat (FAS) 0.5H2O (p. Larutan MnSO4. Larutan Natrium tiosulfat 0.25 N Sebanyak 12.025 N K2Cr2O7 (p. dan 0. lalu dilarutkan dalam akuades dan ditepatkan volumenya menjadi 1000 mL.0425 gram NH4Cl dalam 25 mL larutan). kemudian ditimbang sebanyak 1.4 gram MnSO4 dilarutkan ke dalam akuades.0 L. . Larutan Amilum Sebanyak 2. 0. lalu ditambahkan 20 ml H2SO4 pekat dan ditepatkan volumenya sampai dengan 500 mL dengan akuades.2259 gram.259 gram serbuk K2Cr2O7 dikeringkan dalam oven pada suhu 150 oC selama 2 jam. diaduk dan didiamkan selama satu sampai dua hari untuk proses pelarutannya.a) dikeringkan pada suhu 150°C selama 2 jam.25 gram dalam 100 mL larutan). Campuran disimpan di dalam botol gelap dan ditutup.1 N Sebanyak 19. Larutan Alkali Iodida Azida Sebanyak 50 gram padatan NaOH dan 15 gram KI dilarutkan ke dalam akuades hingga volume 100 mL. lalu dilarutkan dengan akuades dan ditepatkan volumenya sampai dengan 1. 0. Larutan pengencer KOB Akuades sebanyak 1 L diaerasi selama 30 menit. Larutan-larutan KOB Larutan Kalium Dikromat 0. dan 1 mL buffer fosfat (0.

3546 .2 72.2 72.0 5.6 61.0 10.1415 Absorbans 0.6 72.1450 0.1475 0.1415 0.6 72.1480 0.0 15.0 52.2 72.1331 0.1430 0.1415 0.2 44.1460 Transmittans 73.1415 0.2 71.2 72.18 Lampiran 3 Penentuan panjang gelombang maksimum zat warna Cibacron Red Hasil penentuan panjang gelombang maksimum Panjang gelombang 495 500 505 510 515 516 517 518 519 520 525 530 535 540 0.0 73.1420 0.1367 0.0 20.5 1.0 Transmittans 98.0 72.1427 0.2 72.1415 0.1415 0.2 Absorbans 0.0 25.1440 0.8 71.8 72.1439 0.0716 0.1391 0.1427 0.2147 0.0123 0.1427 0.0 72.0 71.1470 0.0070 0.2 Absorbans 0.2 84.1451 0.4 97.1410 500 510 520 530 540 550 Panjang gelombang (nm) Kurva panjang gelombang maksimum Cibacron Red Pengukuran larutan standar Cibacron Red pada panjang gelombang maksimum konsentrasi (ppm) 0.2823 0.

15% .80 16.29 16.0090 1.7140 124.0008 2.0112 gram = 7.6234 49.1320 1427.4333 637.0000 ppm   = 0.6234 49.0042 1.3550 49.0005 2.6234 49.1960 845.15 9.29 19.9624) mg/liter x 1000 µg/mg 1.92 0.9264 90.92 Contoh perhitungan: Kapasitas adsorpsi V C o  C a  m Q = 100 ml x 1 liter /1000 ml x (50.38 5.6770 579.0027 3.10 1.3926 19.3121 91.2013 49.0834 414.10 0.7825 843.0071 3.0019 2.0031 3.3121 94.6614 E (%) 0.6234 49.9501 845.0062 3.3834 706.7140 121.9307 124.0017 2.38 8.0813 2859.9719 2858.0863 472.7140 124.07 19.92 1.0004 1.4415 314.6178 92.0095 91.46 8.9307 121.9307 121.3608 414.3550 49.0017 1.0057 3.07 16.6178 90.1963 12.6693 32.0027 2.76 8.10 0.92 0.46 16.5433 137.3097 2536.0021 2.5433 124.0019 2.7741 68.0008 Penentuan kondisi optimum adsorben tanpa modifikasi Waktu (menit) 30 30 30 30 30 30 30 30 30 45 45 45 45 45 45 45 45 45 60 60 60 60 60 60 60 60 60 Konsentrasi awal (ppm) 50 100 150 50 100 150 50 100 150 50 100 150 50 100 150 50 100 150 50 100 150 50 100 150 50 100 150 Konsentrasi akhir (ppm) 49.1971 124.9831 275.4971 34.2756 µg/g adsorben Q  Efisiensi adsorpsi  C  Ca    100 % E o  C   o   50.0133 3.0016 1.1320 1268.9624 ppm  100% E    50.19 Lampiran 4 Bobot (g) 1.0000 ppm  49.9264 92.3568 68.0112 1.0010 3.07 19.0677 19.3550 49.7307 235.0000 – 49.0030 2.0025 3.98 8.0008 2.76 9.6234 Q (µg/g) 7.2756 703.15 7.3121 92.92 1.8237 2.0059 1.53 1.76 7.0012 1.6178 91.0042 3.38 7.29 16.

8 #43 #42 #41 #40 #39 #38 #37 #36 #35 #34 #33 #32 #31 #30 #29 #28 #27 #26 #25 #24 #23 #22 #21 0. 60.14714 #17 #16 #15 #14 #13 #12 #11 #10 #9 #8 #7 #6 #5 #4 #3 #2 #1 4000. #25 #24 #23 #22 #21 #20 #19 #18 .4415 #14 #13 #12 #11 #10 #9 #8 #7 #6 #5 #4 #3 #2 #1 #96 #95 #94 #93 #92 #91 #90 #89 #88 #87 #86 #85 #84 #83 #82 #81 #80 #79 #78 #77 #76 #75 #74 1.20 Lampiran 5 Analisis statistik kondisi optimum adsorben tanpa modifikasi Profiles for Predicted Values and Desirability waktu konsentrasi bobot Desirability #97 #96 #95 #94 #93 #92 #91 #90 #89 #88 #87 #86 #85 #84 #83 #82 #81 #80 #79 #78 1.000 19.6219 #41 #40 #39 #38 #37 #36 #35 #34 #33 #32 #31 #30 #29 #28 #27 0.00 1.5 #48 #47 #46 #45 #44 #43 #42 9.0000 30.097 #66 #65 #64 #63 #62 #61 #60 #59 #58 #57 #56 #55 #54 #53 #52 #51 #50 . #76 #75 #74 #73 #72 2859.587 -10. 3. #19 #18 #17 #16 #15 2.0 -1000. 30.0 gram konsentrasi = 150 ppm Desirability E(ATM2) Q(ATM2) .1 #71 #70 #69 #68 #67 #66 #65 #64 #63 #62 #61 #60 #59 #58 #57 #56 #55 #54 #53 #52 #51 #50 . Kondisi optimum yang dihasilkan: waktu = 30 menit bobot = 1. 150. 1.5 #48 #47 #46 #45 #44 1430. 50.0 2879. #72 #71 #70 #69 #68 #67 19.

0009 45 1.96 51.4315 9130.6066 23.0024 45 3.0342 2.0024 45 1.03 58.90 97.0261 60 3.3140 75.0130 30 3.0013 60 1.6066 32.7795 4880.7999 7789.9359 4828.0003 30 2.59 90.97 61.4520 5.0039 30 3.0008 45 2.4441 7686.9833 1635.4164 2408.4826 41.6276 3200.9296 5876.0049 45 3.0027 60 2.49 Bobot Waktu (g) (menit) 1.0733 4404.2530 7449.0000 30 1.0014 60 1.0517 2.0393 72.0022 60 2.69 49.0006 45 2.0052 1.2512 9.7674 32.42 93.0004 30 1.1749 2869.08 90.79 67.75 93.2613 Q (µg/g) 4447.31 95.7981 2451.96 98.66 96.1341 4538.0052 17.85 97.5912 3.8346 2394.0012 30 3.10 96.0581 4820.99 88.8760 4.2927 3251.2957 5866.5530 6633.2288 1628.0000 45 3.2866 E (%) 89.0010 30 1.82 96.1146 4.0015 30 2.21 Lampiran 6 Penentuan kondisi optimum adsorben modifikasi asam Konsentrasi awal (ppm) 50 100 150 50 100 150 50 100 150 50 100 150 50 100 150 50 100 150 50 100 150 50 100 150 50 100 150 Konsentrasi akhir (ppm) 5.0048 60 3.7877 6.0655 4533.45 88.8951 5.7755 4643.9280 4660.41 98.0553 0.24 86.23 78.4245 1.11 93.0001 45 1.79 76.74 96.0281 58.8500 6938.0731 2.3898 0.9449 6.5548 17.0005 60 3.8810 13.8837 6779.55 96.72 97.3941 1.0027 60 .0242 45 2.0014 30 2.4902 1613.0072 60 2.

#83 #82 #81 #80 #79 9130. #75 #74 #73 #72 #71 #70 #69 98. Kondisi optimum yang dihasilkan: waktu = 60 menit bobot = 2. 50. 120. #21 #20 #19 #18 #17 1613. 150.710 Q(AMA) . 6898.5 #52 #51 #50 #49 #48 5372. #21 #20 #19 #18 #17 #16 #15 49.000 .8 #78 #77 #76 #75 #74 #73 #72 #71 #70 #69 #68 #67 #66 #65 #64 #63 #62 #61 #60 #59 #58 #57 #56 #55 #54 . 1.3 -1000.238 #68 #67 #66 #65 #64 #63 #62 #61 #60 #59 #58 #57 #56 #55 #54 #53 #52 #51 #50 .0 gram konsentrasi = 150 ppm E(AMA) 91. 60. 2.5 #48 #47 #46 #45 #44 #43 #42 #41 73.737 #14 #13 #12 #11 #10 #9 #8 #7 #6 #5 #4 #3 #2 #1 11000. 3.988 #40 #39 #38 #37 #36 #35 #34 #33 #32 #31 #30 #29 #28 #27 #26 #25 #24 #23 0.6 #16 #15 #14 #13 #12 #11 #10 #9 #8 #7 #6 #5 #4 #3 #2 #1 #96 #95 #94 #93 #92 #91 #90 #89 #88 #87 #86 #85 #84 #83 #82 #81 #80 #79 #78 #77 1.78000 Desirability 30.2 #47 #46 #45 #44 #43 #42 #41 #40 #39 #38 #37 #36 #35 #34 #33 #32 #31 #30 #29 #28 #27 #26 #25 #24 #23 0.00 30.22 Lampiran 7 Analisis statistik kondisi optimum adsorben modifikasi asam Profiles for Predicted Values and Desirability waktu konsentrasi bobot Desirability #97 #96 #95 #94 #93 #92 #91 #90 #89 #88 #87 #86 #85 1.

7951 3071.0035 30 100 2.2162 46.3259 310.0195 45 100 1.7361 70.0210 45 100 2.1763 1667.3140 88.48 23.06 42.9275 3136.3785 163.9870 1151.3266 41.3485 72.0083 45 150 1.44 49.5333 457.0042 30 50 3.4282 4119.3266 118.46 10.0041 1930.7368 1038.2402 3608.0194 45 150 2.3393 25.6891 84.9373 826.0002 30 50 2.12 21.0487 86.12 17.23 Lampiran 8 Penentuan kondisi optimum arang aktif Konsentrasi akhir (ppm) 42.6838 1996.0079 30 150 3.0124 60 100 2.3183 98.48 25.0047 30 100 1.4632 88.9419 108.8228 632.0553 88.62 15.0037 60 50 1.0703 571.2577 99.9381 2579.49 20.4005 1717.0074 60 150 .1090 865.0078 30 50 1.2706 89.9173 28.0178 60 100 1.9235 775.0021 45 50 1.58 24.5127 1394.68 34.0031 45 50 3.1869 56.0072 60 50 2.52 6.53 29.0045 60 100 3.67 21.3393 Q (µg/g) 718.0081 30 150 1.06 27.8244 971.54 41.2485 1446.44 Bobot Waktu Konsentrasi (g) (menit) awal (ppm) 1.8529 44.07 12.7771 37.7579 76.0099 45 100 3.74 33.3975 1146.7571 79.0212 60 50 3.90 13.0198 45 50 2.3266 39.94 41.30 27.5388 364.4151 113.7849 E (%) 14.0006 30 150 2.0076 60 150 2.8372 110.0059 30 100 3.4529 2050.43 11.16 26.0249 60 150 3.1060 703.19 34.37 11.8143 98.63 43.0024 45 150 3.3984 43.

#84 #83 #82 #81 #80 #79 4119. #84 #83 #82 #81 #80 #79 #78 #77 49.0 .00 30. 60.5 #53 #52 #51 #50 #49 #48 #47 28. #23 #22 #21 #20 #19 #18 #17 #16 6.6219 #15 #14 #13 #12 #11 #10 #9 #8 #7 #6 #5 #4 #3 #2 #1 5000. 150.9 #47 #46 #45 #44 #43 #42 #41 #40 #39 #38 #37 #36 #35 #34 #33 #32 #31 #30 #29 #28 #27 #26 #25 #24 #23 #22 #21 0.124 #46 #45 #44 #43 #42 #41 #40 #39 #38 #37 #36 #35 #34 #33 #32 #31 #30 #29 #28 #27 #26 #25 0.0 -1000. Kondisi optimum yang dihasilkan: waktu = 30 menit bobot = 3.5 #51 #50 #49 #48 2141. #19 #18 #17 #16 #15 163.000 40. 1.626 #76 #75 #74 #73 #72 #71 #70 #69 #68 #67 #66 #65 #64 #63 #62 #61 #60 #59 #58 #57 #56 #55 .67782 E(AA) Q(AA) 2470. 50.92 #14 #13 #12 #11 #10 #9 #8 #7 #6 #5 #4 #3 #2 #1 #96 #95 #94 #93 #92 #91 #90 #89 #88 #87 #86 1. 3.24 Lampiran 9 Analisis statistik kondisi optimum arang aktif Profiles for Predicted Values and Desirability waktu konsentrasi bobot Desirability #97 #96 #95 #94 #93 #92 #91 #90 #89 #88 #87 #86 1.8 #78 #77 #76 #75 #74 #73 #72 #71 #70 #69 #68 #67 #66 #65 #64 #63 #62 #61 #60 #59 #58 #57 #56 #55 #54 #53 .0 gram konsentrasi =150 ppm Desirability .514 -10. 60.

50x + 2741338.0005 0.0012 0.3964 -5.2485 x 10-10 Persamaan garis isoterm Freundlich yang diperoleh R² = 98.9 126.00247 0.0050 0.8 2.00001 2729442.0006 0.9461 -2.6065 -2.8248 m (g) x* 2.5 1.6094 Persamaan garis isoterm Freundlich yang diperoleh R² = 98.0014 2.0397 50 49.0064 0.9088 -2.0000 0.00391 28385.0% maka dari persamaan C  1  1 C . x/m -    diperoleh nilai α = -3.0007 2.0032 0.00117 75664.3121 1.0025 0.8427 -3.1278 *Ca digunakan sebagai variabel c pada rumus Isoterm Langmuir dan Freundlich 1g Nilai x = Cteradsorpsi (ppm) x Volume larutan (L) x 1000 mg  Persamaan garis isoterm Langmuir yang diperoleh y = -171x R² = 82.998 x 10-3 .9 151.097 = log k + 1 n log C.0149 Isoterm Langmuir x/m 0.00496 0.4227 x 10 5 dan β = -1.3266 1.0001 0.6 1.7 176.1374 3.9328 150 110.0074 0.25 Lampiran 10 Isoterm Langmuir dan Freundlich untuk adsorpsi Cibacron Red oleh adsorben tanpa modifikasi C0 *Ca Isoterm Langmuir Isoterm Freundlich m (g) (ppm) c (ppm) x* x/m c/(x/m) log c log x/m 25 24.9087 1..1229 -0.00007 719176.5635 0.6439dan k = 7.6    diperoleh nilai α = -5.9173 1.553x - 2.0031 2. m diperoleh nilai n = 0.85 = log k + 1 log C.4% maka dari persamaan C  1  1 C .6930 -4.00123 0.0003 0.0039 0.2029 -0.5062 -0.3592 -0.3045 -2.4125 x 10-11 Lampiran 11 Isoterm Langmuir dan Freundlich untuk adsorpsi Cibacron Red oleh adsorben modifikasi asam C0 (ppm) 25 50 75 100 150 *Ca c (ppm) 0.00745 c/(x/m) 252.2721 100 88.7536 1. x/m -3 + 280.2447 dan k = 1.0046 2.00053 130259.0002 0.8 168.8 Isoterm Freundlich log c -0. m n diperoleh nilai n = 0.086x - 10.2% maka dari persamaan log x y = 4.4306 -2.00371 0.7 1.6210 1.0099 0.3118 0.4081 *Ca digunakan sebagai variabel c pada rumus Isoterm Langmuir dan Freundlich 1g Nilai x = Cteradsorpsi (ppm) x Volume larutan (L) x 1000 mg  Persamaan garis isoterm Langmuir yang diperoleh y = -29216.1639 75 69.7 1.0000 0.0246 log x/m -2.0450 -2.8479 x 10 dan β = -0.71 R² = 72.9% maka dari persamaan log x y = 1.

9069 x 10-4 dan β = -0.0054 3.3183 113.9% maka dari persamaan C x/m  1 62519   1  C.0001 0. m diperoleh nilai n = 0.2941 84.26 Lampiran 12 Isoterm Langmuir dan Freundlich untuk adsorpsi Cibacron Red oleh arang aktif C0 *Ca Isoterm Langmuir Isoterm Freundlich m (g) (ppm) c (ppm) x* x/m c/(x/m) log c log x/m 25 50 75 100 150 23. maka m       log x 1  log k  log C m n a + b x C 1  C  x  m C 1 C   x   m C 1 1   C x   m y = a + b x y = . dkk.4673 dan k = 4.388 1.71 0.0005 0.00029 228857.256 x 10-8 Penurunan rumus untuk pembuatan kurva: Isoterm Freundlich 1 Isoterm Langmuir Q  k C n (Barral. 2007) log Q  log kC 1 n 1 n x C  m 1 C (Langmuir 1918)  C  1   C  x m log Q  log k  log C log Q  log k  Dengan Q adalah 1 log C n x (µg/g).371 = log k + 1 n log C.0038 0.4056 -3.57 0.0013 3.00004 606074.2% maka dari persamaan log x y = 2.00016 291086.  diperoleh nilai α = -1.0043 3.5381 -3.0037 0.0009 0.8077 -3.9120 *Ca digunakan sebagai variabel c pada rumus Isoterm Langmuir dan Freundlich 1g Nilai x = Cteradsorpsi (ppm) x Volume larutan (L) x 1000 mg  Persamaan garis isoterm Langmuir yang diperoleh y = -5244x + R² = 82.0016 0.9259 2.8215 1.88 0.8201 45.00052 161375.0539 -4.14 0.00122 92453.3769 1.2162 3.3223 66.140x - 7.0839 Persamaan garis isoterm Freundlich yang diperoleh R² = 99.0020 3.2819 -2.6563 1.

0000 712 52.0000 762 48.69 .05 AMA 60 2.86 Arang aktif 30 3.0000 17 98.27 Lampiran 13 Penentuan intensitas warna dan persen penurunan warna untuk adsorpsi limbah industri tekstil Jenis adsorben Limbah Waktu (menit) Bobot (g) Gambar Intensitas warna (unit Pt-Co) 1485 Penurunan warna (%) - ATM 30 1.

8 5.3 30.095 Hasil analisis nilai KOK Perlakuan Blangko Limbah awal ATM AMA AA Volume FAS (mL) Volume Volume Volume awal akhir terpakai 0.6 15.095 Contoh perhitungan: (V x N)FAS = (V x N)K2Cr2O7 2.4 3496.5 8.3 20.0 fp Penurunan KOK (%) 0.0 20.8 5.9 45.093 0.6 mL x NFAS = 10 mL x 0.5 Rerata [FAS] Volume akhir (mL) 2.6 30.0 106.9 34.2 2.30 98.095  8000 x 10 KOK  10 mL KOK  7372.025 N NFAS = 0.7 Nilai KOK (mg/L) 7372.3  10.9 18.6 [FAS] (N) 0.7 14.3 20.8 0.9 18.0 18.0 mg/L .56 52.28 Lampiran 14 Hasil analisis KOK Hasil standardisasi FAS Ulangan ke1 2 3 Volume awal (mL) 0.096 0.096 0.1 Volume FAS terpakai (mL) 2.0 43.6 mL  0.7 2.0 4180.9 10.58 10 10 1 10 Indikator = Ferroin Perubahan warna = Biru kehijauan menjadi merah kecoklatan Contoh perhitungan :  A  B   N FAS  8000 x fp KOK  Vcontoh 20.6 2.

1 0.9226 Rerata OT0 (mg/L) 5.4500 5.0218 Contoh perhitungan: (V x N)Na2S2O3= (V x N)K2Cr2O7 11.9 Rerata [Na2S2O3] Volume Na2S2O3 akhir (mL) 11.2742 5.0548 3.3290 2.2306 3.9 34.8 0.4 11.0219 0.0984 6.8129 3.0217 0.6806 4.8129 2.5161 3.3 1.0 1.9226 4.025 N NNa2S2O3 = 0.0 1.5 1.29 Lampiran 15 Hasil Analisis KOB Hasil Standardisasi Na2S2O3 Ulangan ke1 2 3 Volume Na2S2O3 awal (mL) 0.8 1.4 0.0323 5.8129 3.5161 Rerata OT5 (mg/L) 2.1 1.4 1.4 Volume Na2S2O3 terpakai (mL) 11.6258 5.3290 6.8677 3.8677 1.5048 4.8 1.5 11.2742 4.4 22.5 1.6 1.6919 .5 [Na2S2O3] (N) 0.4 OT0 (mg/L) Ulangan Ulangan 1 2 7.9226 6.0 Sampel Blanko Limbah awal ATM AMA AA Keterangan : V5 = volume titran yang dipakai pada hari ke-5 OT5 = oksigen terlarut pada hari ke-5 OT5 (mg/L) Ulangan Ulangan 1 2 6.4 1.8 0.4065 1.4 mL x NNa2S2O3 = 10 mL x 0.9 1.6919 1.4 22.0219 N Hasil pengukuran oksigen terlarut pada hari ke-0 V0 (mL) Ulangan Ulangan 1 2 2.9226 Sampel Blanko Limbah awal ATM AMA AA Keterangan : V0 = volume titran yang dipakai pada hari ke-0 OT0 = oksigen terlarut pada hari ke-0 Hasil pengukuran oksigen terlarut pada hari ke-5 V5 (mL) Ulangan Ulangan 1 2 1.0 11.0217 0.

0903 Penurunan KOB  63.0323 mg/L Oksigen terlarut hari ke-5 (OT5) OT5  1.3290 mg/L Hasil analisis nilai KOB Rerata Rerata Sampel OT0 OT5 (mg/L) (mg/L) limbah awal 5.41 76.71.09 72.8129)  0.09 mg/L Penurunan kadar KOB setelah adsorpsi (194.6919 Keterangan : fp = faktor pengenceran k = faktor (fp-1)/fp Contoh perhitungan: fp 100 100 10 100 k 0.99 0.09 71.3290)  100 = 194.03 46.0218 N  8000  250 mL 50 mL  (250  2) mL OT5  6.0323  6.0984 3.4500  2.0903 .99(7.9226 3.30 Lanjutan Lampiran 15 Hasil Analisis KOB Contoh perhitungan: Oksigen terlarut hari ke-0 (OT0) OT0  2.5048 1.6919 AMA 6.99 Nilai KOB5 (mg/L) 194.41 53.8129 ATM 5.4500 2.45 penurunan nilai KOB (%) 63.0 mL  0.0258)  100% 194.2306 AA 4.90 0.46 Kebutuhan oksigen biokimia hari ke-5 KOB5 = ( OT0  OT5 ) sampel  k (OT0  OT5 ) blanko  fp = (5.0218 N  8000  250 mL 50 mL  (250  2) mL OT0  7.99 0.8 mL  0.41% Penurunan KOB  .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful