You are on page 1of 31

LAPORAN KASUS

REGIONAL ANASTESI PADA TINDAKAN ORIF PADA FRAKTUR
DISTAL OS FIBULA DEXTRA DAN MALLEOLUS MEDIA OS TIBIA
DEXTRA

Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan
Pendidikan Program Profesi Dokter Stase Anestesi
Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta

Pembimbing :
dr. Damai Suri, Sp.An

Diajukan Oleh:
Nita Dewi Novitasari
J510 1700 52

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2018

LEMBAR PENGESAHAN

CASE REPORT
REGIONAL ANASTESI PADA TINDAKAN ORIF PADA FRAKTUR
DISTAL OS FIBULA DEXTRA DAN MALLEOLUS MEDIA OS TIBIA
DEXTRA

Diajukan Oleh :
Nita Dewi Novitasari
J510 1700 52

Telah disetujui dan disahkan oleh Bagian Program Pendidikan Profesi Fakultas
Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta
Pada hari

Pembimbing :
dr. Damai Suri, Sp.An (..................................)

Dipresentasikan di hadapan :
dr. Damai Suri, Sp.An (..................................)

Disahkan Ketua Program Profesi :
dr. Dona Dewi N (.................................)

BAB I
STATUS PASIEN

I. IDENTITAS PASIEN
Nama : Ny. S
No.RM : 28.2X.XX
Jenis Kelamin : Wanita
Masuk Tgl : 23 Agustus 2018
Umur : 40 tahun
Pekerjaan : IRT
Agama : Islam
Alamat : Bejen, Karanganyar
Dokter Anestesi : dr. Damai Suri, Sp.An
Dokter Operator : dr. Bunarwan, Sp.OT
II. Anamnesa :
a. A (Alergy)
Tidak ada alergi terhadap obat-obatan, makanan dan asma.
b. M (Medication)
Tidak sedang menjalani pengobatan
c. P (Past Medical History)
Riwayat DM (-), hipertensi (-), sakit yang sama dan riwayat operasi (-)
d. L (Last Meal)
Pasien puasa 6 jam
e. E (Elicit History)
Seorang pasien wanita usia 40 tahun datang ke IGD RSUD
Karanganyar dengan keluhan kaki kanan tidak dapat digerakkan dan
terasa nyeri setelah terpeleset saat berjalan.

III. Keluhan Utama
Kaki kanan terasa nyeri dan tidak dapat digerakkan.
IV. Riwayat Penyakit Sekarang :

Pasien tidak langsung dibawa ke RSUD. nyeri perut kanan bawah (-) Urologi : BAK (+) dan BAB(+). Riwayat Penyakit Dahulu a. dada berdebar-debar (-) Pulmo : Sesak napas (-). Riwayat Diabetes : disangkal g. sulit tidur (-) Kardio : Nyeri dada (-). Setelah terjatuh pasien mengaku kaki kanan tidak bisa digerakkan dan terasa sangat nyeri. Gemetaran (-). Pasien juga mengatakan kakinya dipijit terlebih dahulu sebelum keesokan harinya pasien dibawa ke RSUD. Seorang pasien wanita usia 40 tahun datang ke IGD RSUD Karanganyar dengan keluhan kaki kanan tidak bisa digerakkan dan terasa nyeri. Riwayat penyakit jantung : disangkal VI. Riwayat Hipertensi : disangkal f. Riwayat Penyakit Keluarga  Riwayat penyakit serupa : disangkal  Riwayat Asma : disangkal  Riwayat Alergi : disangkal  Riwayat Hipertensi : disangkal  Riwayat Diabetes : disangkal  Riwayat penyakit jantung : disangkal . Riwayat Alergi : disangkal c. batuk lama (-) Abdomen : Diare (-). Riwayat penyakit yang sama : disangkal b. Anamnesis Sistemik Neuro : sensasi nyeri baik. Pasien mengaku 1 hari sebelumnya pasien terpleset dalam posisi duduk dan saat terjatuh kaki kanan pasien tertindih oleh bokong. Riwayat Mondok : disangkal e. panas (-) Muskolo : Nyeri pada kaki kanan (+) V. konstipasi (-). Riwayat Asma : disangkal d.

Rhonki (-/-) Jantung : Inspeksi : ictus cordis tidak tampak Palpasi : ictus cordis tidak kuat angkat Perkusi : redup Auskultasi : Bunyi jantung I dan II murni reguler. krepitasi – Perkusi : sonor Auskultasi : Suara dasar vesikuler (+/+). pernapasan cuping hidung (-) Leher : Retraksi supra sterna (-). PEMERIKSAAN FISIK A.7 o C Kepala : Konjungtiva pucat (-). peningkatan JVP (-). Suhu : 36. dipsneu ( -). Wheezing (-/-). Frekuensi Nafas : 20 x/ menit . Murmur (-). Pemeriksaan Fisik 1) Status Generisal Keadaan Umum : Baik Kesadaran : Compos Mentis Vital Sign : . pembesaran kelenjar limfe (-) Thorak Paru : Inspeksi :pergerakan dinding dada simetris Palpasi :fremitus dinding dada simetris.VII. Riwayat Operasi dan Anastesi Disangkal VIII.Tekanan darah : 130/80 mmHg . sklera ikterik (-). Frekuensi Nadi : 91/ menit . Edema (-) . Gallop (-) Ekstremitas : Ekstremitas Superior Dextra Akral Hangat (+).

Laboratorium Darah Rutin Nilai Nilai normal Satuan Hb 13.00 – 16.0 % Monosit 5.1 82 – 92 fL MCH 29.0 – 10.04 <1 mg/dL Ureum 22 10-50 mg/dL HbsAg NR NR HIV NR NR CT 04.0 – 9.50 10^6/uL MCV 86.5–5.00 g/dL Ht 40.0 % Basofil 0. Pemeriksaan penunjang 1. Ekstremitas Superior Sinistra Akral Hangat (+).00 2-8 Menit BT 02.3 0 .0– 40.00 1-3 Menit Kesan hasil laboratorium : dalam batas normal .0 % GDS 146 70 – 150 mg/dL Creatinin 1.2 32-37 g/dL Limfosit 26.4 3.59 5.0 10^3/uL Trombosit 261 150 – 300 mm3 Eritrosit 4. gerak terbatas (+) IX.0 % Eosinofil 0.9 37 – 47 Vol% Leukosit 8.65 4.8 12. Edema (-) 2) Status lokalis Ekstremitas inferior dextra : edema (+). Edema (+) Ekstremitas Inferior Sinistra Akral Hangat (+). Edema (-) Ekstremitas Inferior Dextra Akral Hangat (+).50 – 5.5 27 – 31 Pg MCHC 34. deformitas (+).9 25.8 0. nyeri (+).0-1.

Fraktur komplit pada malleolus medial os tibia dextra X. Fraktur komplit pada distal os fibula dextra . Kegawatan Bedah : (-) Derajat ASA : II Rencana tindakan anastesi : Regional anastesi XIII. LAPORAN ANASTESI . TERAPI Pro ORIF os fibula dextra dan malleolus media os tibia dextra dengan regional anestesi XII. 2. Hasil laboratorium. DIAGNOSIS Close fraktur distal os fibula dextra dan malleolus media os tibia dextra XI. Rontgen Kesan : . KONSUL ANASTESI Seorang wanita usia 40 tahun dengan close fraktur distal os fibula dextra dan malleolus media os tibia dextra akan dilakukan tindakan ORIF os fibula dextra dan malleolus media os tibia dextra pada tanggal 24-8-2018 . foto rontgen dan Vital sign terlampir.

Di ruang operasi a. Cairan : RL 500 ml terastarch 500 ml  tutofusin 500ml 5. Pakaian pasien diganti pakaian operasi c. Transfusi sebelumnya : tidak pernah transfusi darah B.Nama : Ny. Perawatan pasca anestesi di ruang pulih sadar/ruang pindah 7. Rencana Anestesi 1. Premedikasi : . Posisi terlentang 2. Jenis Anestesi : Regional Anestesi (Subarachnoid Block) 3. HR : 90x/m. S Jenis kelamin : Wanita Umur : 40 tahun No RM : 28. TD 140/91 mmHg. Persetujuan operasi tertulis ( + ) b. Persiapan Operasi a. perdarahan. Cek persetujuan operasi dan identitas penderita b. Obat premedikasi dimasukan melalui IV line. Puasa ≥ 6 jam 2.xx Diagnosa pra bedah : close fraktur distal os fibula dextra dan malleolus media os tibia dextra A. . Tindakan Anestesi 1.45 pasien masuk kamar operasi. Saturasi Oksigen : 98% . Monitoring : Tanda vital selama operasi tiap 5 menit. Di ruang persiapan a.2x.Granisentron 3mg iv -Ranitidin 50 mg iv 4. Jam 09. dan produksi urin. Cek obat dan alat anestesi f. cairan. Pemeriksaan tanda-tanda vital d. kedalaman Anestesi. Lama puasa ≥ 6 jam e. 6. manset dan monitor dipasang.

Jam 10. lapisan durameter. ditanya apakah kedua tungkai mengalami parastesi dan sulit untuk digerakkan dan ditanyakan apa ada keluhan mual-muntah. Obat anastetik (Bupivacaine 20mg/4ml) yang telah disiapkan disuntikkan ke dalam ruang subarachnoid. Jam 11. Memastikan kondisi pasien stabil dengan vital sign dalam batas normal. Dilakukan penyuntikan jarum spinal 27G di tempat penusukan pada bidang medial dengan sudut 10-30% terhadap ligamentum flavum. 5. Jarum lumbal akan menembus ligamentum supraspinosum. 3. Jam 10.45 infus terastarch diganti Tuthofusion e. ligamentum interspinosum. Setelah pasien merasakan kedua kaki seperti kesemutan dan tak mampu lagi mengangkat kedua kaki maka tindakan operasi siap dimulai. Teknik Anestesi 1. dan lapisan subarachnoid. .00 dilakukan regional anastesi dengan Bupivakain. c. 7.10 operasi dimulai dan tanda vital serta saturasi oksigen dimonitor tiap 5 menit. Menempatkan kembali pasien dalam posisi supine (terlentang) dan pasien bidang horizontal kearah cranial. sehingga cairan serebrospinal akan keluar. Stilet kemudian dicabut.15 operasi selesai pasien dipindah ke ruang recovery C. Infus RL diganti dengan terastarch. 6. Granisentron 3mg iv . nyeri kepala. dan sesak. Mensterilkan tempat tusukan dengan povidon iodine dan alkohol . Menentukan tempat tusukan dari perpotongan garis yang menghubungkan kedua krista iliaka dengan tulang punggung. d. Ranitidin 25mg/ml (2ml) b. . Menyiapkan pasien di atas meja operasi dengan posisi duduk miring ke kanan dan membungkuk. Monitoring Selama Anestesi. 4. Jam 10. 2. yaitu L4 atau L4-L5.

25 107/66 90 99% Kondisi pasien stabil 10. Infus RL diganti dengan terastarch 10.35 108/67 80 99% Kondisi Pasien stabil 10. Terastarch .Jam Tensi Nadi SaO2 Keterangan 09.15 113/70 84 99% Operasi selesai.45 110/63 87 99% Kondisi Pasien stabil.30 107/68 84 99% Kondisi Pasien stabil 10.45 140/91 90 98% Masuk ruang operasi. infus terastarch diganti Tuthofusion 10.15 110/67 81 99% Kondisi pasien stabil 10.20 103/65 81 99% Kondisi pasien stabil 10.50 110/65 79 99% Kondisi Pasien stabil 10.55 108/66 82 99% Kondisi pasien stabil 11. pasien dipindahkan ke ruang recovery Intake Cairan : i. obat premedikasi dimasukan melalui IV line 10.40 110/66 84 99% Kondisi Pasien stabil 10. RL ii.00 110/67 84 99% Kondisi pasien stabil 11.00 140/90 88 97% Regional anastesi dimulai.10 125/74 90 99% Operasi dimulai 10.05 110/65 84 99% Kondisi pasien stabil 11.10 110/68 82 99% Kondisi pasien stabil 11. infuse RL 300cc.

 Bila muntah diberikan ondansetron dan bila kesakitan diberikan analgesik.  Kontrol vital sign jika TD < 100 mmHg. Setelah pasien sadar. Obyek Kriteria Nilai Kriteria 1. POST-OPERASI Setelah operasi selesai di pindahkan ke ruang pemulihan atau recovery room . konsultasi ke bagian anestesi. Analgesik . boleh diberi makan dan minum secara bertahap. Pasien diperbolehkan pindah ruang (keluar dari ruangan operasi) bila Aldrete score > 8 . pasien dipindahkan ke ruangan Teratai.  Bila tidak ada mual. bising usus (+). Instruksi Pasca Anestesi Pasien dirawat di ruang pindah dalam posisi supine. Tak mampu ekstensi tungkai 1 3. Tuthofusion D. Setelah pemulihan pasca anestesi pasien di rawat di bangsal sesuai dengan bagian operator. Monitor vital sign E. Tak mampu fleksi lutut 2 . infus dipercepat. Puasa sampai dengan flatus . beri efedrin. Pasien masih sadar dan ada refleks setelah operasi.  Infus RL 20 tpm  Lain – lain . Gerakan penuh dari tungkai 0 2. iii. Antibiotik . tidak ada muntah. Bila nyeri bertambah. Bromage score Pasien dapat keluar dari RR apabila sudah mencapai skor Bromage <2(kurang dari dua).

Skor 1 didapatkan dari 1. 4. pasien telah dapat dipindahkan dari ruang recovery ke ruangan ruang Cempaka yaitu bangsal di RSUD Karanganyar sebelum dapat pulang ke rumah. didapatkan skornya 1. Tak mampu fleksi pergelangan kaki 3 pasien keluar RR total score <2 Sedangkan pada pasien . Tak mampu ekstensi tungkai (1) Dengan skor 1 ini. .

Trauma langsung berarti benturan pada tulang dan mengakibatkan fraktur di tempat itu. Definisi dan Penyebab Fraktur Fraktur adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang. II. Fraktur dapat disebabkan trauma langsung atau tidak langsung. yang dapat berupa pemukulan. Fraktur dapat terjadi akibat peristiwa trauma tunggal. pemuntiran. . atau kelemahan abnormal pada tulang (fraktur patologik). tulang rawan epifisis dan atau tulang rawan sendi. Klasifikasi Fraktur a.tidak komplit . Trauma tidak langsung bila titik tumpu benturan dengan terjadinya fraktur berjauhan. tekanan yang berulang-ulang. Sebagian besar fraktur disebabkan oleh kekuatan yang tiba-tiba dan berlebihan. atau metatarsal. Komplit .Fraktur tidak komplit : garis patah tidak melalui seluruh penampang tulang seperti: . penghancuran. BAB II TINJAUAN PUSTAKA I. Keadaan ini paling sering ditemui pada tibia. Fraktur dapat pula terjadi oleh tekanan yang normal kalau tulang itu lemah (misalnya oleh tumor) atau kalau tulang itu sangat rapuh (misalnya pada penyakit paget). fibula. atau penarikan.Fraktur komplit : garis patah melalui seluruh penampang tulang atau melalui kedua korteks tulang seperti terlihat pada foto. Tekanan yang berulang-ulang dapat menyebabkan keretakan pada tulang. penekukan.

Greenstick fracture (mengenai satu korteks dengan angulasi korteks lainnya yang terjadi pada tulang panjang anak) b.garis patah melintang . 3. garis patah oblique . Hairline fracture (patah retak rambut) 2. Buckle fracture atau torus fracture (terjadi lipatan dari satu korteks dengan kompresi tulang spongiosa dibawahnya). 1. Bentuk garis patah dan hubungannya dengan mekanisme trauma .

tidak bergeser (displaced-undisplaced) . Jumlah garis patah . . garis patah berhubungan. 1. Periosteumnya masih utuh.fraktur undisplaced (tidak bergeser) : garis patah komplit tetapi kedua fragmen tidak bergeser. dislokasi ad longitudinam cum contractionum (pergeseran searah sumbu dan overlapping) 2.fraktur kominutif : garis patah lebih dari satu dan saling berhubungan .fraktur segmental : garis patah lebih dari satu tetapi tidak . Bergeser .fraktur multipel : garis patah lebih dari satu tetapi pada tulang yang berlainan tempatnya. Bila dua garis patah disebut pula fraktur spiral bifokal Fraktur kompresi c. d. . dislokasi ad axim (pergeseran yang membentuk sudut) .Fraktur displaced (bergeser) : terjadi pergeseran fragmen-fragmen fraktur yang juga disebut dislokasi fragmen.

tidak peduli berapa banyak kerusakan jaringan lunak yang lain. termasuk AP pelvis juga harus didapatkan. III A : tulang yang mengalami fraktur mungkin dapat ditutupi secara memadai oleh jaringan lunak. luka tusuk yang bersih pada tempat tulang menonjol keluar. Terdapat sedikit kerusakan pada jaringan lunak. disertai banyak kontaminasi luka.Fraktur tertutup : bila tidak ada luka yang menghubungkan fraktur dengan udara luar atau permukaan kulit. Terbuka . III. e. Grade III : terdapat kerusakan yang luas pada kulit. Fraktur terbuka dibagi menjadi 3 derajat yang ditentukan oleh berat ringannya luka dan berat ringannya patah tulang.Fraktur terbuka : bila terdapat luka yang menghubungkan tulang yang fraktur dengan udara luar atau permukaan kulit. tanpa penghancuran dan fraktur tidak kominutif. . Tidak banyak terdapat kerusakan jaringan lunak. Grade II : luka > 1 cm. III C : terdapat cedera arteri yang perlu diperbaiki. proyeksi panggul dan lutut ipsilateral. III B : terdapat pelepasan periosteum dan fraktur kominutif yang berat. Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan Radiologis Dilakukan foto rontgen sinar X minimal harus 2 proyeksi yaitu AP dan lateral. Grade I : luka biasanya kecil. 3. dislokasi ad latus (pergeseran dimana kedua fragmen saling menjauhi). jaringan lunak dan struktur neurovaskuler. dan tidak lebih dari kehancuran atau kominusi fraktur tingkat sedang. Pemeriksaan radiologis pada fraktur femur selain proyeksi AP dan lateral. Fraktur intertrochanter dan femoral neck ipsilateral telah dilaporkan pada 10% pasien dengan fraktur femur.tertutup . . tetapi tidak ada penutup kulit.

fraktur supracondylair humerus. misalnya : fraktur colles. diagnosis dapat dibuat secara klinis sedangkan pemeriksaan radiologis tetap diperlukan untuk melengkapi deskripsi fraktur dan dasar untuk tindakan selanjutnya. besar-ringannya trauma.Kemungkinan politrauma. . Trauma harus diperinci jenisnya. Untuk fraktur-fraktur yang tidak memberikan tanda-tanda klasik memang diagnosanya harus dibantu pemeriksaan radiologis baik rontgen biasa ataupun pemeriksaan canggih seperti MRI. Dari anamnesa saja dapat diduga : . arah trauma dan posisi penderita atau ekstremitas yang bersangkutan (mekanisme trauma).Kemungkinan fraktur-fraktur tertentu. 1. IV. Anamnesa : ada trauma Bila tidak ada riwayat trauma berarti fraktur patologis. namun sangat penting untuk dikonfirmasikan dengan melakukan pemeriksaan penunjang berupa foto rontgen untuk membantu mengarahkan dan menilai secara objektif keadaan yang sebenarnya.Kemungkinan fraktur multipel. . .Pada anamnesa ada nyeri tetapi tidak jelas pada fraktur inkomplit . contohnya untuk fraktur tulang belakang dengan komplikasi neurologis. Untuk fraktur-fraktur dengan tanda-tanda klasik. Diagnosis Menegakkan diagnosis fraktur dapat secara klinis meliputi anamnesis lengkap dan melakukan pemeriksaan fisik yang baik. fraktur collum femur.

Kadang-kadang fungsi masih dapat bertahan pada fraktur inkomplit dan fraktur impacted ( impaksi tulang kortikal ke dalam tulang spongiosa). fraktur pelvis atau fraktur terbuka. Menentukan teknik yang sesuai untuk pengobatan . Pemeriksaan umum Dicari kemungkinan kompikasi umum. misalnya : fraktur femur. fraktur epifisis. tanda-tanda sepsis pada fraktur terbuka terinfeksi. Penatalaksanaan Secara umum prinsip pengobatan fraktur ada 4: 1. fraktur avulsi. Lokasi fraktur . Bentuk fraktur . misalnya : shock pada fraktur multipel. dan acetabulum mempunyai tanda- tanda tersendiri. Pada awal pengobatan perlu diperhatikan: . . Pemeriksaan status lokalis Tanda-tanda fraktur yang klasik adalah untuk tulang panjang. diagnosis dan penilaian fraktur Prinsip pertama adalah mengetahui dan menilai keadaan fraktur dengan anamnesis. Fraktur tulang. V. Fraktur tulang-tulang yang dalam misalnya odontoid-cervical. Komplikasi yang mungkin terjadi selama dan sesudah pengobatan . pemeriksan klinis dan radiologis. penderita tidak dapat berjalan.Ada gangguan fungsi. . Recognition. cervical.tulang kecil misalnya: naviculare manus. 3. fraktur intraartikuler.

2. Rehabilitation. pilihan berdasarkan banyak faktor seperti bentuk fraktur. dan pilihan dokter sendiri. mengembalikan aktifitas fungsional semaksimal mungkin Pilihan Terapi Ada 2 terapi. Reposisi tertutup dan fiksasi dengan gips . Proteksi saja Untuk penanganan fraktur dengan dislokasi fragüen yang minimal atau dengan dislokasi yang tidak akan menyebabkan cacat di kemudian hari. 3.terapi konservatif 1. 3. usia penderita. Reduction. level aktivitas. Terapi pada fraktur tertutup Pilihannya adalah terapi konservatif atau operatif . Immobilisasi saja tanpa reposisi Misalnya pemasangan gips pada fraktur inkomplit dan fraktur dengan kedudukan yang baik. Retention. imobilisasi fraktur 4. . deformitas. Pada fraktur intraartikuler diperlukan reduksi anatomis dan sedapat mungkin mengembalikan fungsi normal dan mencegah komplikasi seperti kekakuan. reduksi fraktur apabila perlu Restorasi fragmen fraktur dilakukan untuk mendapatkan posisi yang dapat diterima. serta perubahan osteoartritis di kemudian hari. 2. a.

Untuk orang dewasa traksi definitif harus traksi skeletal berupa balanced traction. bilamana tidak maka diteruskan dengan immobilisasi gips. Cara ini dilakukan pada fraktur dengan otot yang kuat. Traksi dapat untuk reposisi secara perlahan dan fiksasi hingga sembuh atau dipasang gips setelah tidak sakit lagi. untuk anak. Pada anak-anak dipakai traksi kulit (traksi Hamilton Russel/traksi Bryant).Terapi operatif Terapi operatif dengan reposisi secara tertutup dengan bimbingan radiologis. 1. 4. Traksi Ini dilakukan pada fraktur yang akan terdislokasi kembali di dalam gips. Reposisi tertutup – fiksasi externa . Fragüen distal dikembalikan ke kedudukan semula terhadap fragüen proksimal dan dipertahankan dalam kedudukan yang stabil dalam gips.anak waktu dan beban tersebut mencukupi untuk dipakai sebagai traksi definitif. Ini dilakukan pada fraktur dengan dislokasi fragmen yang berarti. . Traksi kulit terbatas untuk 4 minggu dan beban < 5 kg.

Keuntungan ORIF adalah bisa dicapai reposisi sempurna dan bila dipasang fiksasi interna yang kokoh. Fragmen direposisi secara non operatif dengan meja traksi. Untuk fiksasi fragmen patahan tulang. sesudah operasi tidak perlu lagi dipasang gips dan segera bisa dilakukan immobilisasi. Kerugiannya adalah reposisi secara operatif ini mengundang resiko infeksi tulang Indikasi ORIF: a) fraktur yang tidak bisa sembuh atau bahaya avasculair necrosis tinggi. misalnya fraktur femur. reposisi tertutup dengan control radiologis diikuti fiksasi interna. Setelah tereposisi dilakukan pemasangan pen secara operatif Terapi operatif dengan membuka frakturnya 1. 2.Setelah reposisi berdasarkan control radiologis intraoperatif maka dipasang fiksasi externa. 3. Reposisi terbuka dan fikasasi interna /ORIF (Open Reduction and Internal Fixation) fiksasi interna yang dipakai bisa berupa pen di dalam sumsum tulang panjang. b) Fraktur yang tidak bisa direposisi tertutup c) Fraktur yang dapat direposisi tetapi sulit dipertahankan. 2. Excisional arthroplasty Membuang fragmen yang patah yang membentuk sendi. digunakan pin baja yang ditusukkan pada fragmen tulang. d) Fraktur yang berdasarkan pengalaman memberi hasil yang lebih baik dengan operasi. bisa juga berupa plat dengan skrup di permukaan tulang. Excisi fragmen dan pemasangan endoprosthesis dilakukan pada fraktur kolum femur . kemudian pin baja tadi disatukan secara kokoh dengan batangan logam di luar kulit.

Anestesi Spinal Anestesi spinal ialah pemberian obat anestetik lokal ke dalam ruang subarachnoid. Tindakan sekitar rektum perineum 4. Pada bedah abdomen atas dan bawah pediatrik biasanya dikombinasikan dengan anestesi umum ringan  Kontra indikasi absolut: 1. Tetapi pasien tetap sadar. Anestesi spinal diperoleh dengan cara menyuntikkan anestetik lokal ke dalam ruang subarachnoid.REGIONAL ANESTESIA 1. perlu persiapan resusitasi. Bedah abdomen bawah 7. Persiapan Regional Anestesi Persiapan anestesi regional sama dengan persiapan anestesi umum karena untuk mengantisipasi terjadinya reaksi toksik sistemik yg bisa berakibat fatal. Bedah panggul 3. Bedah ekstremitas bawah 2. Juga untuk mengantisipasi terjadinya kegagalan. Pada dewasa berakhir setinggi L1. pada anak L2 dan pada bayi L3. anestesi/analgesi spinal dilakukan ruang sub arachnoid di daerah antara vertebra L2-L3 atau L3-L4 atau L4-L5. Definisi Anestesi regional adalah hambatan impuls nyeri suatu bagian tubuh sementara pada impuls saraf sensorik. Fungsi motorik dapat terpengaruh sebagian atau seluruhnya. sehingga impuls nyeri dari satu bagian tubuh diblokir untuk sementara (reversibel). Oleh karena itu. 2. Bedah obstetrik-ginekologi 5. 3. Anestesi spinal/subaraknoid disebut juga sebagai analgesi/blok spinal intradural atau blok intratekal. Misalnya: obat anestesi spinal/epidural masuk ke pembuluh darah → kolaps kardiovaskular sampai cardiac arrest. Bedah urologi 6. sehingga operasi bisa dilanjutkan dg anestesi umum.  Indikasi: 1. dibungkus oleh meningens (duramater. lemak dan pleksus venosus). Infeksi pada tempat suntikan . Pasien menolak 2. Medula spinalis berada didalam kanalis spinalis dikelilingi oleh cairan serebrospinal.

Penyakit jantung 7. Hipovolemia berat. Infeksi sekitar tempat suntikan 3. Kelainan psikis 5. dosis 20- 100mg (2-5ml) 2. Beri bantal kepala. dosis 20-50 mg (1-2ml) 3. Infeksi sistemik 2. selain enak untuk pasien juga supaya tulang belakang stabil. sifat hiperbarik.006. Tekanan intrakranial meningkat 6. Hipovolemia ringan 8. Kelainan neurologis 4. Bupivakaine (markaine) 0. Koagulapatia atau mendapat terapi koagulan 5. sifat hyperbarik. dosis 5- 20mg (1-4ml) 4. 1. Perubahan posisi berlebihan dalam 30 menit pertama akan menyebabkan menyebarnya obat.005. Biasanya dikerjakan di atas meja operasi tanpa dipindah lagi dan hanya diperlukan sedikit perubahan posisi pasien. sifat isobarik.5% dlm air: berat jenis 1. Setelah dimonitor. Bedah lama 6. Kurang pengalaman tanpa didampingi konsulen anestesi. Bupivakaine (markaine) 0.  Kontra indikasi relatif: 1. syok 4. dosis 5-15mg (1-3ml).25%: berat jenis 1. lignokain) 2%: berat jenis 1. 3. tidurkan pasien misalkan dalam posisi lateral dekubitus. Buat pasien membungkuk maximal agar processus spinosus mudah teraba. Nyeri punggung kronik Anestetik lokal yang paling sering digunakan: 1. Fasilitas resusitasi minim 7.lignokain) 5% dalam dextrose 7. sifat isobarik.5%: berat jenis 1. .  Teknik analgesia spinal Posisi duduk atau posisi tidur lateral dekubitus dengan tusukan pada garis tengah ialah posisi yang paling sering dikerjakan.033.027.5% dlm dextrose 8. Lidokaine (xylocain. Lidokaine (xylocain. Posisi lain adalah duduk.

Beri anastesi lokal pada tempat tusukan.2. misal L2- L3. Untuk analgesia spinal kontinyu dapat dimasukan kateter. misalnya dengan lidokain 1-2% 2-3ml 5. 25G dapat langsung digunakan. L3-L4. pasang semprit berisi obat dan obat dapat dimasukkan pelan-pelan (0. Tusukkan introduser sedalam kira-kira 2cm agak sedikit ke arah sefal. mandarin jarum spinal dicabut dan keluar likuor. L4-L5. Tusukan pada L1-L2 atau di atasnya berisiko trauma terhadap medula spinalis. kemudian masukkan jarum spinal berikut mandrinnya ke lubang jarum tersebut. 3. Kalau yakin ujung jarum spinal pada posisi yang benar dan likuor tidak keluar. Sterilkan tempat tusukan dengan betadine atau alkohol. 4. Sedangkan untuk yang kecil 27G atau 29G dianjurkan menggunakan penuntun jarum yaitu jarum suntik biasa semprit 10 cc. Untuk jarum spinal besar 22G. yaitu pada posisi tidur miring bevel mengarah ke atas atau ke bawah. Cara tusukan median atau paramedian. Setelah resistensi menghilang. Perpotongan antara garis yang menghubungkan kedua garis Krista iliaka. hanya untuk meyakinkan posisi jarum tetap baik. putar arah jarum 90º biasanya likuor keluar. 23G. .5ml/detik) diselingi aspirasi sedikit. untuk menghindari kebocoran likuor yang dapat berakibat timbulnya nyeri kepala pasca spinal. Jika menggunakan jarum tajam (Quincke-Babcock) irisan jarum (bevel) harus sejajar dengan serat duramater.

Jarak kulit-ligamentum flavum dewasa ± 6cm. Nyeri kepala karena kebocoran likuor 4.v) . Eliminasi lewat ginjal sebesar 70% tanpa mengalami perubahan. Granisetrone . Ranitinin terikat pada protein plasma hanya sebesar 15%. dosis dewasa 50 mg ampul iv. Retensio urine 5. rumatan dan bangun dari anestesi diantaranya:  Meredakan kecemasan dan ketakutan  Memperlancar induksi anestesi  Mengontrol nyeri post operasi  Mengurangi sekresi kelenjar ludah dan bronkus  Meminimalkan jumlah obat anestesi  Mengurangi mual muntah pasca operasi  Menciptakan amnesia  Mengurangi resiko aspirasi isi lambung a. b. Nyeri punggung 3.Onset ranitidin 10-15 menit (i.  Komplikasi pasca tindakan 1. 6. Posisi duduk sering dikerjakan untuk bedah perineal misalnya bedah hemoroid (wasir) dengan anestetik hiperbarik. Nyeri tempat suntikan 2. Meningitis  Obat Premedikasi Premedikasi ialah pemberian obat 1-2 jam sebelum induksi anestesi dengan tujuan untuk melancarkan induksi.durasi 8- 12 . Ranitidin Merupakan obat golongan AH2 blocker yang bekerja dengan menghambat histamine untuk dapat terikat pada reseptor H2 sehingga terjadi penurunan produksi asam lambung dan peningkatan pH di gaster. Waktu paruhnya berkisar antara 2-3 jam.

Metabolisme obat ini terutama secara hidroksilasi dan konjugasi dengan glukonida atau sulfat dalam hati. Dalam suatu penelitian kombinasi antara Granisetron dosis kecil yang diberikan sesaat sebelum ekstubasi trakhea ditambah Dexamethasone yang diberikan saat induksi anestesi merupakan suatu alternatif dalam mencegah muntah selama 0-2 jam setelah ekstubasi trakhea daripada ondansetron dan dexamethasone. . Merupakan suatu antiemetik selektif serotonin 5-HT3 reseptor yang sangat efektif yang dapat menekan mual dan muntah karena sitostatika misalnya cisplatin dan radiasi. Dosis yang biasanya diberikan untuk premedikasi dosis tunggal 3mg dan maksimal pemberian 9 mg/hari. Granisetron dieliminasi dengan cepat dari tubuh. Tetapi waktu transit saluran cerna memanjang sehingga dapat terjadi konstipasi. Granisetron mempercepat pengosongan lambung. bila kecepatan pengosongan basal rendah.

Ranitidine . Pada pasien ini dilakukan regional anestesi. kemudian tempat tusukan ditentukan. Posisi ini akan mengekspose area lumbal yang akan dilakukan anestesi. BAB III PEMBAHASAN Diagnosis Pre op Close fraktur distal os fibula dextra dan malleolus media os tibia dextra didapatkan dari anamnesis. kram uterus. Teknik ini umumnya sederhana. area tersebut disterilkan dengan betadin atau alkohol. Teknik anestesi regional pada pasien ini dengan menggunakan jarum 27 G dan dibantu dengan introducer (penuntun jarum). Pada pasien ini diberikan obat premedikasi berupa inj. Setelah itu. dll). mandrin jarum spinal dicabut dan keluar likuor. mempercepat pengosongan lambung dan menurunkan volume cairan lambung sehingga efek-efek ini akan meminimalisir terjadinya pnemonia aspirasi. Setelah memberi tanda pada L5 atau S1. Pemilihan anestesi regional sebagai teknik anestesi pada pasien ini berdasarkan pertimbangan bahwa pasien akan menjalani operasi ORIF pada ekstremitas inferior sehingga pasien memerlukan blockade pada regio abdomen bawah untuk mempermudah operator dalam melakukan operasi. Granisentron. Pemilihan granisentron dikarenakan obat ini mempunyai efek menstimulasi asetilkolin pada otot polos saluran cerna. Granisentron juga mempunyai efek analgesik pada kondisi-kondisi yang berhubungan dengan spasme otot polos (seperti kolik bilier atau ureter. kemudian jarum spinal berikut mandrinnya dimasukkan ke lubang jarum tersebut. pemeriksaan fisik dan hasil pemeriksaan penunjang untuk mengetahui keadaan umum pasien dan memastikan apakah operasi dapat dilakukan. angka mortalitas 16%). Setelah resistensi menghilang. Selain itu granisentron juga berefek memblok receptor Dopamine pada chemoreceptor triggerzone pada sistem saraf pusat sehingga sangat berguna untuk pencegahan muntah pasca operasi. Granisentron dan ranitidine diberikan untuk profilaksis dari PONV (post operatif nausea vomiting). Pemilihan ranitidin dikarenakan obat ini mempunyai fungsi sebagai anti reseptor H2 sehingga dapat mengurangi produksi asam lambung yang nantinya dapat mengurangi risiko pnemonia aspirasi. cukup efektif. Setelah . meningkatkan tonus sfingter esofagus bagian bawah. Setelah itu. Setelah introduser disuntikkan sedalam kira-kira 2 cm agak sedikit ke arah sefal. pasien diposisikan duduk fleksi dengan posisi kaki lurus tangan memegang lutut dan dagu menempel ke dada. inj. dan mudah digunakan. Granisentron digunakan sebagai anti emetik dan untuk mengurangi sekresi kelenjar. Status fisik pada pasien ini dimasukkan ke dalam ASA II (pasien dengan kelainan sistemik ringan sampai dengan sedang akibat kelainan bedah atau proses patofisiologus.

5 ml/detik) diselingi aspirasi sedikit.5-8 jam) dibandingkan lidocain (1-2 jam). Pada kasus ini Bromage Score-nya adalah 1 yaitu tak mampu ekstensi tungkai. Meskipun demikian. hanya utuk meyakinkan posisi jarum tetap baik. Jadi Bromage Score pada pasien ini adalah 1 sehingga layak untuk pindah ke bangsal. Selama operasi berlangsung juga tetap diberikan cairan intravena terastarch dan tutofusin. Pasien dipindah ke ruang pemulihan dan dilakukan observasi sesuai skor Bromage. . Selama operasi berlangsung. supaya dapat bekerja dengan aman.terjadi barbotage. Monitoring secara elektronik membantu ahli anestesi mengadakan observasi pasien lebih efisien secara terus menerus. Selain itu diberikan morphine 0. perlu diwaspadai efek samping hipotensi akibat pemakaian obat ini. maka pasang semprit berisi obat dan obat dapat dimasukkan pelan-pelan (0. dilakukan monitoring perioperasi untuk membantu ahli anestesi mendapatkan informasi fungsi organ vital selama perioperasi. yaitu keluarnya cairan serebrospinal tanpa disertai keluarnya darah. Pada pasien ini diberikan obat anestesi bupivacain dikarenakan toksisitas bupivacain lebih rendah dibandingkan lidocain.1 mg dengan tujuan untuk memperpanjang waktu kerja obat anestesi dan sebagai analgetik. Walaupun onset kerja bupivacain lebih lama (10-15 menit) dibandingkan lidocain (5-10 menit) tetapi durasi kerjanya lebih lama yaitu sekitar (1. Bila pasien tenang dan Bromage Score <2 pasien dapat dipindahkan ke bangsal.

Tidak ditemukan kelainan lain yang menjadi kontraindikasi dilakukannya anestesi regional. pasien digolongkan dalam ASA II . . Hal ini dipilih karena keadaan pasien sesuai dengan indikasi anestesi regional. Berdasarkan klasifikasi status fisik pasien pra-anestesi menurut American Society of Anesthesiologist. BAB IV KESIMPULAN Seorang perempuan 40 tahun dengan diagnosis Close fraktur distal os fibula dextra dan malleolus media os tibia dextra yang dilakukan tindakan oprasi ORIF pada tanggal 24 Agustus 2018. Evaluasi pre operasi pada pasien dalam batas normal. tidak ditemukan adanya tanda komplikasi dari regional anastes dan nilai bromage score pada pasien ini <2 yaitu 1 sehingga pasien bisa dipindahkan ke bangsal. Tindakan anestesi yang dilakukan adalah anestesi regional dengan blok subarachnoid.Di ruang pemulihan (recovery room) vital sign pasien dalam batas normal.

Teori Anestesiologi:Yayasan Pustaka Wina:Bandung. Rasjad. Diunduh dari: http://www. Himendra. Obat-obatan Anastesia. Petunjuk Praktis Anestesiologi edisi ketiga. Kapita Selekta Kedokteran.pdf Latief. SA. Edisi ketiga. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia: Jakarta. ANESTESIOLOGI .dkk. Makassar: Bintang Lamumpatue. Cetakan pertama.com/downloads/basic_sciences_articles/iv- anaesthetic-agents/intravenous-anaesthetic-agents. Current Diagnosis and Treatment Surgery. 2000. Muhiman. KA. Jakarta : Universitas Udayana Indeks. R. . New York: Mc Grow Hill. 2004. Jaideep J Pandit. Jakarta: Media Aesculapius. EGC : Jakarta. Omoigui. Roesli Thaib.13th Edition. 2003. Arif. Sunatrio. Chairuddin. 2010. 2009 Mansjoer. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia: Jakarta. DAFTAR PUSTAKA Doherty M. Dachlan. Intravenous Anaesthetic Drug. 1998. 1997. Gerard. Jilid 2.philippelefevre. 2007. Suryadi. A.2007. S. Bagian Anestesiologi dan Terapi Intensif. Pengantar Ilmu Bedah Ortopedi. Bagian Anestesiologi dan Terapi Intensif. Dahlan. Mangku G. Anaesthesia And Intensive Care Medicine 9:4. Buku Ajar Ilmu Anasthesia dan Reanimasi.