You are on page 1of 27

V.

DAFTAR MASALAH DAN PEMBINAAN KELUARGA

A. MASALAH MEDIS
Diare akut dengan dehidrasi ringan sedang e.c bakteri

B. MASALAH NONMEDIS
1. Pasien memiliki kebiasaan membeli makan makanan sembarangan.
2. Pasien dan istri pasien memiliki kebiasaan tidak mencuci tangan sebelum dan
dan setelah keluar dari kamar mandi.
3. Rendahnya pemahaman pasien dan keluarga mengenai faktor resiko, agen
penyebab, gejala klinis dan pengobatan diare.
4. Pasien tergolong dalam keluarga dengan kelas ekonomi menengah kebawah.

C. DIAGRAM PERMASALAHAN PASIEN

Kebiasaan memakan Kebiasaan tidak mencuci
makanan sembarangan. tangan sebelum dan setelah
makan, setelah bermain
Kelas ekonomi dan setelah keluar dari
menengah kamar mandi.
kebawah.
Tn. T 78 Tahun
Diare akut

Kebiasaan makan tanpa
Rendahnya pemahaman pasien dan mengggunakan sendok
keluarga mengenai faktor resiko, agen makan
penyebab, gejala klinis dan pengobatan
diare akut.

Gambar 5.1 Diagram Permasalahan Pasien

D. MATRIKULASI MASALAH
Prioritas masalah ini ditentukan melalui teknik kriteria matriks:

1

Tabel 5.1 Matrikulasi Masalah
I T R Jumlah
No. Daftar Masalah
P S SB Mn Mo Ma IxTxR
1. Pengetahuan tentang
5 5 5 4 5 4 5 93,33
penyakit rendah
2. Perilaku tidak mencuci
5 5 4 3 4 5 5 65,33
tangan
3. Kondisi rumah dan
lingkungan sekitar yang 5 5 4 3 3 3 2 37,33
kurang sehat
4. Kondisi ekonomi keluarga
adalah kelas menengah
4 5 5 1 1 1 1 4,66
kebawah

Keterangan:
I : Importancy (pentingnya masalah)
P : Prevalence (besarnya masalah)
S : Severity (akibat yang ditimbulkan oleh masalah)
SB : Social Benefit (keuntungan sosial karena selesainya masalah)
T : Technology (teknologi yang tersedia)
R : Resources (sumber daya yang tersedia)
Mn : Man (tenaga yang tersedia)
Mo : Money (sarana yang tersedia)
Ma : Material (ketersediaan sarana)

Kriteria penilaian:
1 : tidak penting
2 : agak penting
3 : cukup penting
4 : penting
5 : sangat penting

2

PRIORITAS MASALAH Berdasarkan kriteria matriks diatas. hingga sangat mahal (5). 3 . Penyuluhan kepada pasien dan keluarga mengenai pengertian. serta penanganan dan pencegahan diare akut. tanda dan gejala. Pengetahuan tentang penyakit rendah 2. maka urutan prioritas masalah keluarga An. penyebab. dan kecepatan penyelesaian masalah.E. Perilaku pasien tidak mencuci tangan 3. Skoring efisiensi jalan keluar adalah dari sangat murah (1). cara penularan. faktor risiko.A adalah sebagai berikut : 1. kelanggengan selesainya masalah. 2. Efisiensi dikaitkan dengan jumlah biaya yang diperlukan untuk menyelesaikan masalah. ALTERNATIF PEMECAHAN MASALAH Beberapa alternatif pemecahan masalah yang bisa dilakukan adalah sebagai berikut : 1. Kondisi rumah dan lingkungan sekitar yang kurang sehat 4. F. PENENTUAN ALTERNATIF TERPILIH Penentuan alternatif terpilih berdasarkan Metode Rinke yang menggunakan dua kriteria yaitu efektifitas dan efiseiensi jalan keluar. Kriteria efektifitas terdiri dari pertimbangan mengenai besarnya masalah yang dapat diatasi. Pembagian leaflet mengenai diare akut dan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). F. Kondisi ekonomi keluarga kelas menengah kebawah Prioritas masalah yang diambil adalah tingkat pengetahuan pasien dan keluarga tentang penyakit yang diderita masih rendah.

4 . Berdasarkan hasil perhitungan penentuan alternatif terpilih menggunakan metode Rinke. cara penularan. 2. Tabel 5. penyebab.2 Kriteria dan Skoring Efektivitas dan Efisiensi Jalan Keluar C M I V (jumlah biaya (besarnya (kelanggengan (kecepatan yang diperlukan Skor masalah selesainya penyelesaian untuk yang dapat masalah) masalah) menyelesaikan diatasi) masalah) 1 Sangat kecil Sangat tidak Sangat lambat Sangat murah langgeng 2 Kecil Tidak langgeng Lambat Murah 3 Cukup besar Cukup langgeng Cukup cepat Cukup murah 4 Besar Langgeng Cepat Mahal 5 Sangat besar Sangat langgeng Sangat cepat Sangat mahal Prioritas alternatif terpilih dengan menggunakan metode Rinke adalah sebagai berikut: Tabel 5. cara penularan. faktor risiko. penyebab. tanda dan gejala. Pembagian leaflet 3 2 2 4 3 2 mengenai diare akut dan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). didapatkan alternatif terpilih yaitu penyuluhan kepada pasien dan keluarga mengenai pengertian. serta penanganan dan pencegahan diare akut dengan skor 36. serta penanganan dan pencegahan diare akut. Prioritas Keluar M I V C C Masalah 1. tanda dan gejala. faktor risiko. Penyuluhan kepada pasien 4 3 3 1 36 1 dan keluarga mengenai pengertian.3 Alternatif Terpilih Urutan Daftar Alternatif Jalan Efektivitas Efisiensi MxIxV No.

Materi Pembinaan Materi utama pada penyuluhan dan edukasi yang diberikan kepada pasien dan keluarga adalah mengenai pengertian.Penyuluhan dan edukasi dilakukan dalam suasana santai sehingga materi yang disampaikan dapat diterima. 5. 4. RENCANA PEMBINAAN KELUARGA A. Cara Pembinaan Pembinaan dilakukan di rumah pasien dalam waktu yang sudah ditentukan bersama dengan cara memberikan penyuluhan dan edukasi pada pasien dan keluarga. Evaluasi Pembinaan Evaluasi yang dilakukan adalah dengan memberikan beberapa pertanyaan mengenai materi yang telah disampaikan sebelumnya kepada pasien dan keluarga. tanda-gejala. penyebab. tanda dan gejala. RENCANA PEMBINAAN KELUARGA 1.Jika salah satu dari anggota keluarga ada yang bisa menjawab. Materi selanjutnya adalah mengenali tanda-tanda dehidrasi. serta penanganan dini 2. cara penularan. Tujuan Tujuan Umum Mengubah perilaku pasien dan keluarga dalam menjaga kebersihan dan kesehatan anggota keluarga Tujuan Khusus Meningkatkan pengetahuan mengenai penyakit diare terutama mengenai sumber penularan. VI. penggunaan jamban sehat dan pertolongan pertama untuk diare dan alur pengobatannya. serta penanganan dan pencegahan diare. Sasaran Pembinaan Sasaran dari pembinaan yang dilakukan adalah pasien beserta seluruh anggota keluarga pasien yang tinggal di rumah tersebut sebanyak 4 orang. pentingnya cuci tangan. 5 . 3.

dan pertolongan pertama untuk diare dan alur pengobatanya 6 . maka dianggap mereka sudah memahami materi yang telah disampaikan sebelumnya dan dapat saling mengingatkan antar anggota keluarga . penggunaan tentang tanda- jamban sehat dan tanda pertolongan pertama dehidrasi. B. serta tanda dan gejala. penyebab.1 Hasil Pembinaan Keluarga No Tanggal Kegiatan yang Anggota Hasil kegiatan Tanda Tanda dilakukan keluarga Tangan Tangan yang terlibat Koass Pasien 1 29 Juni 1. jamban sehat. cuci tangan. perkembangan 2. Mendiskusikan dengan nya. HASIL PEMBINAAN KELUARGA Tabel 6. untuk diare dan alur pentingnya pengobatannya. cara pentingnya penularan serta perilaku sehat penatalaksanaan diare  Edukasi mengenali Pasien dan Pasien dan tanda-tanda dehidrasi. keluarga keluarga pentingnya cuci memahami tangan. diantaranya dikunjungi perkenalan dan lebih lanjut bercerita mengenai untuk dipantau kehidupan sehari-hari. Membina hubungan Pasien dan Pasien 2018 saling percaya dengan keluarga bersedia untuk pasien. pasien untuk kedatangan berikutnya 2 01 Juli Menggali pengetahuan Pasien dan Pasien dan 2018 dan pemahaman pasien keluarga keluarga tentang penyakitnya memahami  Memberikan tentang penjelasan mengenai penyakit diare pengertian.

T. 3. Konseling berjalan dengan lancar dan pasien merasa puas karena merasa lebih diperhatikan dengan adanya kunjungan ke rumahnya untuk memberikan edukasi tentang penyakit yang sedang di derita Tn. EVALUASI 1. cara minum obat. narasumber memberikan 10 pertanyaan dan pasien beserta keluarga dapat menjawab 8 pertanyaan dengan tepat sehingga tingkat pengetahuan pasien meningkat menjadi 80% dari sebelumnya yang hanya 40%.n. dan istri pasien. 2. T. T terutama yang tinggal serumah dengan pasien. cara penularan. Setelah konseling dilakukan tanya jawab. faktor resiko. Edukasi juga diberikan mengenai cara mengenali tanda-tanda dehidrasi. pentingnya cuci tangan. dan istri pasien. T sehingga dengan adanya konseling pasien merasa puas dan senang karena menjadi lebih paham tentang penyakitnya. penggunaan jamban sehat dan pertolongan pertama untuk diare dan alur pengobatannya. edukasi PHBS serta pencegahan bagi orang yang berada di sekitar Tn. etiologi. pasien Tn. Evaluasi Promotif Sasaran konseling sebanyak 2 orang yang terdiri dari. Evaluasi Sumatif Sebelum dilakukan konseling pasien dan keluarga mengaku belum memahami penyakit yang diderita Tn. Waktu pelaksanaan kegiatan pada Sabtu 16 Sepetember 2017 dan Minggu 01 juli 2018 di rumah pasien. 7 . Metode yang digunakan berupa konseling edukasi tentang penyakit diare mulai dari definisi.C. T. Evaluasi Formatif Pelaksanaan kegiatan dilakukan pada 2 orang yang terdiri dari. pasien Tn.

Sedangkan American Academy of Pediatrics (AAP) mendefinisikan diare dengan karakteristik peningkatan frekuensi dan/atau perubahan konsistensi.Dari laporan surveilan terpadu tahun 1989 jumlah kasus diare didapatkan 13. demam atau sakit perut yang berlangsung selama 3 – 7 hari (Adisasmito et al. TINJAUAN PUSTAKA A. sementara di beberapa rumah sakit di Indonesia data menunjukkan diare akut karena infeksi terdapat peringkat pertama sampai ke empat pasien dewasa yang datang berobat ke rumah sakit (Adisasmito et al.3 % di Puskesmas. di rumah sakit didapat 0. muntah. dapat disertai atau tanpa gejala dan tanda seperti mual. 2007). setiap tahun sekitar 100 juta episode diare pada orang dewasa per tahun. dan Entamoeba histolytica. 2007).. Salmonela. Disentri berat umumnya disebabkan oleh Shigella dysentery. Bila angka itu diterapkan di Indonesia. B. kadang-kadang dapat juga 8 . Escherichia coli... Penyebab utama disentri di Indonesia adalah Shigella. Di USA dengan penduduk sekitar 200 juta diperkirakan 99 juta episode diare akut pada dewasa terjadi setiap tahunnya. VII.45% pada penderita rawat inap dan 0. DEFINISI Diare akut adalah keluarnya buang air besar sekali atau lebih yang berbentuk cair dalam satu hari dan berlangsung kurang 14 hari. Di Amerika Serikat keluhan diare menempati peringkat ketiga dari daftar keluhan pasien pada ruang praktek dokter. Di negara maju diperkirakan insiden sekitar 0. EPIDEMIOLOGI Diare akut merupakan masalah umum ditemukan diseluruh dunia. Campylobacter jejuni.5-2 episode/orang/tahun sedangkan di negara berkembang lebih dari itu.WHO memperkirakan ada sekitar 4 miliar kasus diare akut setiap tahun dengan mortalitas 3-4 juta pertahun (Adisasmito et al.05 % pasien rawat jalan. 2007).

. serta mikroskopis didapati sel leukosit polimorfonuklear (Juckett et al. 2007). berpergian. Salmonella dan Enteroinvasive E. disebabkan oleh Shigella flexneri. penggunaan antibiotik. C. Contohnya adalah malabsorbsi karbohidrat akibat defisiensi laktase atau akibat garam magnesium (Juckett et al. Pada pemeriksaan tinja secara rutin tidak ditemukan leukosit (Juckett et al. demam. muntah. sekretorik. Diare Inflamasi disebabkan invasi bakteri dan sitotoksin di kolon dengan manifestasi sindroma disentri dengan diare yang disertai lendir dan darah.. PATOFISIOLOGI Diare akut infeksi diklasifikasikan secara klinis dan patofisiologis menjadi diare non inflamasi dan Diare inflamasi. serta gejala dan tanda dehidrasi. Pada pemeriksaan tinja rutin secara makroskopis ditemukan lendir dan/atau darah.. 2011). Mekanisme terjadinya diare yang akut maupun yang kronik dapat dibagi menjadi kelompok osmotik. terutama pada kasus yang tidak mendapat cairan pengganti. 9 . merupakan petunjuk penting dalam mengidentifikasi pasien beresiko tinggi untuk diare infeksi (Adisasmito et al. namun gejala dan tanda dehidrasi cepat timbul. Gejala klinis yang menyertai keluhan abdomen seperti mulas sampai nyeri seperti kolik. Makanan atau minuman terkontaminasi. mual.. HIV positif atau AIDS. Pada diare non inflamasi. tenesmus.. Beberapa faktor epidemiologis penting dipandang untuk mendekati pasien diare akut yang disebabkan oleh infeksi. eksudatif dan gangguan motilitas. Keluhan abdomen biasanya minimal atau tidak ada sama sekali. 2007). 2011). 2011). diare disebabkan oleh enterotoksin yang mengakibatkan diare cair dengan volume yang besar tanpa lendir dan darah.coli ( EIEC) (Adisasmito et al. Diare osmotik terjadi bila ada bahan yang tidak dapat diserap meningkatkan osmolaritas dalam lumen yang menarik air dari plasma sehingga terjadi diare.

. atau laksantif non osmotik.. Satu bakteri dapat menggunakan satu atau lebih mekanisme tersebut untuk dapat mengatasi pertahanan mukosa usus (Juckett et al. 2011). Diare dapat terjadi akibat lebih dari satu mekanisme. Kelompok lain adalah akibat gangguan motilitas yang mengakibatkan waktu tansit usus menjadi lebih cepat. Mekanisme adhesi yang pertama terjadi dengan ikatan antara struktur polimer fimbria atau pili dengan reseptor atau ligan spesifik pada permukaan sel epitel. Beberapa hormon intestinal seperti gastrin vasoactive intestinal polypeptide (VIP) juga dapat menyebabkan diare sekretorik (Juckett et al. Infeksi bakteri yang invasif mengakibatkan perdarahan atau adanya leukosit dalam feses (Juckett et al. inflamasi akan mengakibatkan kerusakan mukosa baik usus halus maupun usus besar. Hal ini dapat terjadi akibat toksin yang dikeluarkan bakteri misalnya toksin kolera atau pengaruh garam empedu.. dan produksi enterotoksin atau sitotoksin. 2011). sindroma usus iritabel atau diabetes mellitus (Juckett et al. 2011). 2011). Pada dasarnya mekanisme terjadinya diare akibat kuman enteropatogen meliputi penempelan bakteri pada sel epitel dengan atau tanpa kerusakan mukosa. Diare eksudatif. inflamatory bowel disease (IBD) atau akibat radiasi (Juckett et al. invasi mukosa. Inflamasi dan eksudasi dapat terjadi akibat infeksi bakteri atau bersifat non infeksi seperti gluten sensitive enteropathy.. asam lemak rantai pendek. Pada infeksi bakteri paling tidak ada dua mekanisme yang bekerja peningkatan sekresi usus dan penurunan absorbsi di usus. 2011). Infeksi bakteri menyebabkan inflamasi dan mengeluarkan toksin yang menyebabkan terjadinya diare. disebut juga sebagai colonization factor antigen (CFA) yang lebih sering ditemukan pada enteropatogen seperti Enterotoxic E. Coli (ETEC). Fimbria terdiri atas lebih dari 7 jenis. Hal ini terjadi pada keadaan tirotoksikosis. Diare sekretorik bila terjadi gangguan transport elektrolit baik absorbsi yang berkurang ataupun sekresi yang meningkat. Mekanisme adhesi yang 10 ..

Kuman Shigella juga memproduksi toksin shiga yang menimbulkan kerusakan sel. 2011). kinin. rasa lemah. Proses patologis ini akan menimbulkan gejala sistemik seperti demam. Invasi intraselluler yang ekstensif tidak terlihat pada infeksi EPEC ini dan diare terjadi akibat shiga like toksin. Bakteri lain bersifat invasif misalnya Salmonella(Juckett et al. ETEC menghasilkan heat labile toxin (LT) yang mekanisme kerjanya sama dengan CT serta heat Stabile toxin (ST). dan zat vasoaktif lain. Kuman Shigella melakukan invasi melalui membran basolateral sel epitel usus. Subunit A1 akan merangsang aktivitas adenil siklase... Prototipe kelompok toksin ini adalah toksin shiga yang dihasilkan oleh Shigella dysentrie yang bersifat sitotoksik. Di dalam sel terjadi multiplikasi di dalam fagosom dan menyebar ke sel epitel sekitarnya. Mekanisme adhesi yang ketiga adalah dengan pola agregasi yang terlihat pada jenis kuman enteropatogenik yang berbeda dari ETEC atau EHEC(Juckett et al. dan gejala disentri. nyeri perut.kedua terlihat pada infeksi Enteropatogenic E. Parahemolyticus(Juckett et al.coli (EPEC).. Prototipe klasik enterotoksin adalah toksin kolera atau Cholera toxin (CT) yang secara biologis sangat aktif meningkatkan sekresi epitel usus halus. yang melibatkan gen EPEC adherence factor (EAF). Invasi dan multiplikasi intraselluler menimbulkan reaksi inflamasi serta kematian sel epitel. meningkatkan konsentrasi cAMP intraseluler sehingga terjadi inhibisi absorbsi Na dan klorida pada sel vilus serta peningkatan sekresi klorida dan HCO3 pada sel kripta mukosa usus. Coli (EHEC) serogroup 0157 yang dapat menyebabkan kolitis hemoragik dan sindroma uremik hemolitik. interleukin. Toksin kolera terdiri dari satu subunit A dan 5 subunit B. Reaksi inflamasi terjadi akibat dilepaskannya mediator seperti leukotrien. 11 . Kuman lain yang menghasilkan sitotoksin adalah Enterohemorrhagic E. kuman EPEC serta V. 2011). 2011).ST akan meningkatkan kadar cGMP selular. menyebabkan perubahan konsentrasi kalsium intraselluler dan arsitektur sitoskleton di bawah membran mikrovilus.

membuka kanal dan mengaktifkan sekresi klorida (Juckett et al. Dehidrasi menurut keadaan klinisnya dapat dibagi menjadi tanpa dehidrasi. dehidrasi ringan. Anamnesis Pasien diare datang dengan keluhan utama berupa BAB encer 3 kali atau lebih dalam 24 jam dan dapat disertai gejala klinik lainnya tergantung yang mendasarinya. mengaktifkan protein kinase. D. fosforilasi protein membran mikrovili. dehidrasi sedang dan dehidrasi berat (Wiryani dan Wibawa. 2011). 2013). pemeriksaan abdomen dengan menilai bunyi usus.. Gold standard untuk diagnosa dehidrasi adalah pengukuran kehilangan berat badan secara mendadak. ada tidaknya distensi abdomen dan pembesaran hati atau massa. 12 . yaitu selisih berat badan sebelum dan sesudah pemberian cairan atau secara klinis didefinisikan sebagai kekurangan cairan yang ditentukan dari pertambahan berat badan setelah rehidrasi (Wawan. 2. 2007). Dehidrasi dapat timbul pada kasus diare berat terutama pada anak-anak yang asupan oralnya terbatas karena timbul nausea dan muntah. Pemeriksaan fisik Pemeriksaan fisik digunakan untuk menentukan derajat keparahan diare berdasarkan penyebabnya. Pemeriksaan fisik pada kasus diare dengan melakukan pengukuran tanda vital (vital sign). Adanya kelainan pada pemeriksaan fisik dapat digunakan untuk menentukan derajat dehidrasi. PENEGAKAN DIAGNOSIS 1.

PENATALAKSANAAN 1) Penggantian Cairan dan Elektrolit Aspek paling penting adalah menjaga hidrasi yang adekuat dan keseimbangan elektrolit selama episode akut. dan hitung jenis leukosit. maupun parasit penyebab pada dewasa. dan pemeriksaan enzym-linked immunosorbent assay (ELISA) untuk menetahui adanya giardiasis. hematokrit (Ht). Pemeriksaan penunjang Pemeriksaan penunjang yang dilakukan dapat berupa pemeriksaan darah lengkap berupa hemoglobin (Hb). Pada pasien diare yang disebabkan oleh bakteri menunjukkan leukositosis. Ini dilakukan dengan rehidrasi oral. pemeriksaan foto sinar x abdomen. G. telur cacing pada anak-anak. 3. kecuali jika tidak dapat 13 . ureum dan kreatinin. Pemeriksaan dengan biopsi mukosa digunakan jika pada mukosa usus dijumpai inflamasi yang berat (Wawan. leukosit. pemeriksaan feses. yang harus dilakukan pada semua pasien. Pada pasien diare yang disebabkan oleh virus menunjukkan limfositosis atau jumlah dan hitung jenis leukosit normal. pemeriksaan kadar elektrolit serum. Selain itu. 2013). Pemeriksaan feses digunakan untuk mengetahui adanya leukosit.

2.5 gram natrium bikarbonat. Cairan seperti itu tersedia secara komersial dalam paket yang mudah disiapkan dengan dicampur air. Idealnya. Status hidrasi harus dipantau dengan baik dengan memperhatikan tanda-tanda vital. seperti cairan salin normal atau ringer laktat. ½ sendok teh baking soda. cairan rehidrasi oral pengganti dapat dibuat dengan menambahkan ½ sendok the garam. .Dehidrasi sedang: kebutuhan cairan 8% x kgBB. suplemen kalium diberikan sesuai panduan kimia darah. Jumlah cairan yang hendak diberikan sesuai dengan jumlah cairan yang keluar.Dehidrasi berat: kebutuhan cairan 10% x kgBB. dan 20 gram glukosa per liter air. Jika sediaan secara komersial tidak ada. .Dehidrasi ringan: kebutuhan cairan 5% x kgBB. 1.5 gram kalium klorida. Dua pisang atau 1 cangkir jus jeruk diberikan untuk mengganti kalium.minum atau diare hebat membahayakan jiwa yang memerlukan hidrasi intavena. 14 . Pasien harus minum cairan tersebut sebanyak mungkin sejak merasa haus pertama kalinya. Pemberian harus diubah ke cairan rehidrasi oral sesegera mungkin.5 gram natrium klorida. serta penyesuaian infus jika diperlukan. dan 2-4 sendok makan gula per liter air. Jika terapi intravena diperlukan. pernapasan. Kehilangan cairan dari badan dapat dihitung dengan memakai rumus: Metode Pierce berdasarkan keadaan klinis: . dan urin. cairan rehidrasi oral harus terdiri dari 3. dapat diberikan cairan normotonik.

Pemberian antibiotik dapat secara empiris (tabel). feses berdarah. mengurangi ekskresi dan kontaminasi lingkungan. diare pada pelancong. Antibiotik diindikasikan pada pasien dengan gejala dan tanda diare infeksi. leukosit pada feses. ///////////////////////////////////////////////// 15 . karena 40% kasus diare infeksi sembuh kurang dari 3 hari tanpa pemberian antibiotik. persisten atau penyelamatan jiwa pada diare infeksi. dan pasien immunocompromised. seperti demam. tetapi terapi antibiotik spesifik diberikan berdasarkan kultur dan resistensi kuman. Metode Daldiyono berdasarkan keadaan klinis dengan skor 2) Antibiotik Pemberian antibotik secara empiris jarang diindikasikan pada diare akut infeksi.

bismut subsalisilat. Melalui efek tersebut. Penggunaan kodein adalah 15-60 mg 3x sehari. sehingga keseimbangan cairan dapat dikembalikan. sehingga dapat memperbaiki konsistensi feses dan mengurangi frekuensi diare. Pemakaiannya adalah 5-10 mL/2 kali sehari dilarutkan dalam air atau diberikan dalam bentuk kapsul atau tablet. sel mukosa usus terhindar kontak langsung dengan zat-zat yang dapat merangsang sekresi elektrolit. kaolin. atau smektit diberikan atas dasar argumentasi bahwa zat ini dapat menyerap bahan infeksius atau toksin. Karaya (Strerculia). peningkatan absorbsi cairan. c) Kelompok Absorbent Arang aktif. Coptidis. Bila diberikan dengan benar cukup aman dan dapat mengurangi frekuensi defekasi sampai 80%. attapulgit aktif. loperamid HCl. Obat ini tidak dianjurkan pada diare akut dengan gejala demam dan sindrom disentri. loperamid 2-4 mg/3-4 kali sehari. b) Kelompok Opiat Dalam kelompok ini tergolong kodein fosfat. d) Zat Hidrofi lik Ekstrak tumbuh-tumbuhan yang berasal dari Plantago oveta. Efek kelompok obat tersebut meliputi penghambatan propulsi. tetapi tidak dapat mengurangi kehilangan cairan dan elektrolit. pektin. Ispraghulla. e) Probiotik 16 . Perbaikan fungsi akan menormalkan sekresi elektrolit. Hidrasec sebagai generasi pertama jenis obat baru anti-diare dapat pula digunakan dan lebih aman pada anak. serta kombinasi difenoksilat dan atropin sulfat.3) Obat Anti Diare a) Kelompok Anti-sekresi Selektif Terobosan terbaru milenium ini adalah mulai tersedianya secara luas racecadotril yang bermanfaat sebagai penghambat enzim enkephalinase. Psyllium. dan Catechu dapat membentuk koloid dengan cairan dalam lumen usus dan akan mengurangi frekuensi dan konsistensi feses. sehingga enkephalin dapat bekerja normal kembali.

2010). Kelompok probiotik terdiri dari Lactobacillus dan Bifi dobacteria atau Saccharomyces boulardii. Artritis pasca infeksi dapat 17 . Sindrom Guillain – Barre. Mekanisme dimana infeksi menyebabkan Sindrom Guillain – Barre tetap belum diketahui. dan trombositopeni 12-14 hari setelah diare. 20 – 40 % nya menderita infeksi C. bila meningkat jumlahnya di saluran cerna akan memiliki efek positif karena berkompetisi untuk nutrisi dan reseptor saluran cerna. Komplikasi ini dapat juga terjadi bila penanganan pemberian cairan tidak adekuat sehingga tidak tecapai rehidrasi yang optimal (WGO. KOMPLIKASI Kehilangan cairan dan kelainan elektrolit merupakan komplikasi utama. jejuni. khususnya setelah infeksi C. 2010). Dari pasien dengan Guillain – Barre. Pasien dengan HUS menderita gagal ginjal. Pada kasus-kasus yang terlambat meminta pertolongan medis. terutama pada usia lanjut dan anak-anak. H. Kehilangan elektrolit melalui feses potensial mengarah ke hipokalemia dan asidosis metabolic (WGO. tetapi penggunaan antibiotik untuk terjadinya HUS masih kontroversi (WGO. jejuni beberapa minggu sebelumnya. Haemolityc uremic Syndrome (HUS) adalah komplikasi yang disebabkan terbanyak oleh EHEC. Untuk mengurangi/ menghilangkan diare harus diberikan dalam jumlah adekuat. adalah merupakan komplikasi potensial lainnya dari infeksi enterik. sehingga syok hipovolemik yang terjadi sudah tidak dapat diatasi lagi maka dapat timbul Tubular Nekrosis Akut pada ginjal yang selanjutnya terjadi gagal multi organ. suatu demielinasi polineuropati akut. Pada diare akut karena kolera kehilangan cairan secara mendadak sehingga terjadi shock hipovolemik yang cepat. anemia hemolisis. 2010). Risiko HUS akan meningkat setelah infeksi EHEC dengan penggunaan obat anti diare. Biasanya pasien menderita kelemahan motorik dan memerlukan ventilasi mekanis untuk mengaktifkan otot pernafasan.

I. dan hewan ternak harus terjaga dari kotoran manusia (WGO. J. prognosis diare infeksius hasilnya sangat baik dengan morbiditas dan mortalitas yang minimal. Semua buah dan sayuran harus dibersihkan menyeluruh dengan air yang bersih (air rebusan. Pengecualiannya pada infeksi EHEC dengan mortalitas 1. penularannya dapat dicegah dengan menjaga higiene pribadi yang baik. 2010). Makanan dan air merupakan penularan yang utama. mortalits berhubungan dengan diare infeksius < 1. Shigella. Jika ada kecurigaan tentang keamanan air atau air yang tidak dimurnikan yang diambil dari danau atau air. harus direbus dahulu beberapa menit sebelum dikonsumsi. Di Amerika Serikat. morbiditas dan mortalitas ditujukan pada anak-anak dan pada lanjut usia. harus diperingatkan untuk tidak menelan air (WGO. Seperti kebanyakan penyakit. Limbah manusia atau hewan yang tidak diolah tidak dapat digunakan sebagai pupuk pada buah-buahan dan sayuran. terjadi beberapa minggu setelah penyakit diare karena Campylobakter. atau Yersinia spp (WGO. Hanya produk susu yang dipasteurisasi dan jus yang boleh 18 . ini harus diberikan perhatian khusus. Kotoran manusia harus diasingkan dari daerah pemukiman. 2010). atau olahan) sebelum dikonsumsi. Semua daging dan makanan laut harus dimasak. PROGNOSIS Dengan penggantian Cairan yang adekuat. dan terapi antimikrobial jika diindikasikan. perawatan yang mendukung. 2010). PENCEGAHAN Penularan diare menyebar melalui jalur fekal-oral. Minum air.0 %. Ketika berenang di danau atau sungai. saringan.2 % yang berhubungan dengan sindrom uremik hemolitik (WGO. 2010). Salmonella. air yang digunakan untuk membersihkan makanan. Ini termasuk sering mencuci tangan setelah keluar dari toilet dan khususnya selama mengolah makanan. atau air yang digunakan untuk memasak harus disaring dan diklorinasi.

2010).dikonsumsi. dan durasi imunitasnya lebih panjang. tetapi hanya memerlukan 1 dosis dan memberikan efek samping yang lebih sedikit. setelah jatuh dan terkena kotoran ternak (WGO. tetapi efektivitas dan ketersediaan vaksin sangat terbatas. Wabah EHEC terakhir berhubungan dengan meminum jus apel yang tidak dipasteurisasi yang dibuat dari apel terkontaminasi. vaksin yang tersedia adalah untuk V. 2010). Vaksinasi cukup menjanjikan dalam mencegah diare infeksius. hanya diperlukan 1 kapsul setiap dua hari selama 4 kali dan memberikan efikasi yang mirip dengan dua vaksin lainnya (WGO. 19 . Vaksin tipoid oral telah tersedia. Vaksin tipoid parenteral yang lama hanya 70% efektif dan sering memberikan efek samping. Vaksin parenteral terbaru juga melindungi 70%. Vaksin oral kolera terbaru lebih efektif. Pada saat ini. dan demam tipoid. colera. Vaksin kolera parenteral kini tidak begitu efektif dan tidak direkomendasikan untuk digunakan.

rentan terjadi penyakit menular.c bakteri 3. Aspek Klinis a. Kondisi lingkungan tempat tinggal pasien merupakan lingkungan padat penduduk meruapakan predisposisi terjadinya penyakit menular.c virus b. 1. b. Aspek Personal Keluhan utama : BAB cair Keluhan penyerta: Perut terasa nyeri. antara lain pencahayaan. muntah. Kesimpulan Dapat disimpulkan bahwa Tn. Anxiety : Pasien dan keluarga pasien khawatir penyakit pasien tidak sembuh dan atau menjadi lebih parah 2. ventilasi. kebersihan dan keadaan lingkungan rumah secara umum yang kurang sehat. Reason for encounter a. T adalah seorang pasien yang didiagnosis Diare akut tanpa tanda dehidrasi e. b. kembung. PENUTUP A. Pasien sering tidak mencuci tangan dengan sabun sebelum makan.c virus. Kondisi hunian tidak memenuhi kriteria rumah sehat. 20 . Diagnosis : Diare akut dehidrasi ringan sedang e. d. mual. Usia pasien yang termasuk usia tua. VIII. Diagnosa banding : Diare akut dehidrasi ringan sedang e. badan greges. Aspek Faktor Risiko Internal Aspek faktor risiko intrinsik individu diantaranya adalah sebagai berikut : a. Expectacy : Pasien dan keluarga pasien mempunyai harapan agar penyakit pasien dapat segera sembuh dan dapat segera beraktivitas lagi. Concern : Pasien merasa badannya tidak nyaman dan lemas c. Aspek faktor ekstrinsik Aspek faktor ekstrinsik pada pasien diantaranya adalah sebagai berikut : a. Idea : Pasien ingin berobat b. 4.

Personal Care a. Aspek Skala Penilaian Fungsi Sosial Skala penilaian fungsi sosial pasien adalah 2. 5. informasi dan edukasi) Pasien dan keluarganya perlu diedukasi mengenai: a) Memberi informasi mengenai penyebab dan cara penularan mikroorganisme penyebab diare b) Selalu mencuci tangan dengan sabun setelah dari kamar mandi dan sebelum makan c) Hanya makan/minum yang terjamin kebersihan dan kematangannya. hindari beli makanan/jajanan yang tidak terjamin kebersihan bahan dan proses pengolahannya 21 . Akan tetapi. B. pasien mulai mengurangi aktivitas dan kegiatan sehari-hari. c. Pendidikan ibu yang rendah merupakan predisposisi higiene sanitasi yang rendah seperti kebiasaan ibu untuk mencucitangan ketika menyiapkan makanan masih kurang. yaitu bermain bersama teman-teman dan kakak pasien. d. Kebiasaan ibu pasien jarang mencuci tangan ketika akan memberi makan pasien. karena pasien masih mampu untuk melakukan aktivitas di dalam dan di luar rumah. Aspek kuratif 1) Medikamentosa a) IVFD RL 20 tpm b) PO Domperidone 3x1 tab c) PO Ranitidine 2 x 1 tab d) PO Loperamid 2 x 1 2) Non Medika mentosa Diet lunak tinggi kalori tinggi protein 3) KIE (konseling. Saran 1.

Aspek Rehabilitatif Monitoring terhadap keluhan pasien. Memotivasi keluarga untuk menjaga lingkungan yang sehat dan bersih. h) Menjelaskan cara membuang sampah yang baik b. 2) Memberi informasi mengenai dehidrasi sebagai komplikasi diare serta pentingnya penanganan tepat dan dini dalam kasus diare. serta pencegahan dan penanganan diare secara mudah dan komprehensif. b. Aspek Promotif 1) Memberi informasi mengenai penyebab dan cara penularan mikroorganisme penyebab diare. d) Buah dan sayuran yang dikonsumsi harus dicuci dengan bersih e) Harus menjaga kesehatan peralatan makanan/minuman dengan cara mencucinya menggunakan air bersih dan sabun cuci piring antibakteri f) Menjelaskan mengenai syarat-syarat rumah sehat secara lengkap. protein. serta tanda tanda dehidrasi pada pasien diare. Family Care a. 22 . g) Menjelaskan pentingnya menjaga nutrisi melalui makanan yang sehat dan bergizi. lemak. vitamin. Aspek Preventif 1) Menjelaskan mengenai higienitas makanan dan minuman 2) Menjelaskan mengenai kriteria rumah sehat serta memberi saran-saran yang dapat diterapkan dan tepat guna 3) Memberikan anjuran pola hidup bersih dan sehat c. Memberikan edukasi pengetahuan kepada keluarga mengenai perjalanan penyakit diare. memenuhi kebutuhan karbohidrat. pencegahan penularan dan pemantauan diare berkelanjutan. beberapa contohnya antara lain mengenai adanya kandang ayam di dekat dapur dan toilet yang tidak higienis. keadaan umum. tanda vital. sehingga mendukung kontrol dan pengobatan pasien. 2. d. dan mineral.

Memberikan anjuran kepada anggorta keluargalainnya yang berisiko tinggi untuk pola hidup sehat. Memotivasi komunitas untuk memberikan dukungan psikologis terhadap pasien mengenai penyakitnya. Dukungan moral dari keluarga dalam pengendalian dan penyembuhanpenyakit pasien. c. baik tanda gejala penyakit tersebut dan perjalanan alamiahnya melalui penyuluhan. d. Memotivasi lingkungan untuk menjaga lingkungan yang sehat dan bersih. 3. Memberikan pengetahuan kepada masyarakatmengenai penyakit diare. Community Care a. karena lingkungan yang tidak sehat akan memicu faktor risiko terjadinya diare b. 23 . pemantauan diare secara berkelanjutan. c.

Jilid I Edisi V. P. Faktor Resiko Diare Pada Bayi dan Balita di Indonesia. Hal. Pudjiadi AH. Evaluation of Chronic Diarrhea. Jakarta: FK UI Wawan. 2008. World Gastroenterology Organization. No. 8. Simadibrata M. Wiryani. 84(10):1119-1126 Kementrian Kesehatan RI (Kemenkes RI). 2010. Daldiyono dan Simadibrata M. World Health Organization. Pendekatan Diagnostik dan Terapi Diare Kronis. 2007. dalam Sudoyo AW. Diare Akut. Vol. W. 1. Artikel. Probiotik Sebagai Terapi Diare Akut Pada Bayi dan Anak. The Treatment of Diarrhea : A Manual for Physicians and Other Senior Health Workers 4th Review. 2005. DAFTAR PUSTAKA Adisasmito W. 2011. N. I. 2009. 2011. Juckett G and Trivedi R. Jakarta: IDAI Suharyono. Setiyohadi B. I. Geneva : Who Library Cataloguing. 24 . SMF Ilmu Kesehatan Anak FK Universiats Udayana/RSUP Sanglah Denpasar. Handryastuti S. WGO Practice Guideline :Acute Diarrhea. Pedoman Pelayanan Medis Ikatan Dokter Anak Indonesia. Situasi Diare di Indonesia. Triwulan II. Buletin Jendela Data dan Informasi Kesehatan. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Hegar B. Jurnal Penyakit Dalam. C. Gastrologi Anak Praktis. Alwi. Wibawa. G. Jakarta: Interna Publishing. dan Setiati S. et al. Makara Kesehatan. N. American Academy of Family Physicians. Gandaputra EP. 2009. 66-78.. 11(1): 1-10. Idris NS. Harmoniati ED. 2013. D. 2007.

Ruang Keluarga Rumah Pasien Gambar 2. DOKUMENTASI KEGIATAN Gambar 1. Kamar Mandi 25 .

Penyuluhan 5 Langkah Cuci Tangan 26 . Dapur Gambar 4. Gambar 3.

27 .