You are on page 1of 22

ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN

MENJELANG AJAL

OLEH :
1. NI PUTU SUDIANI (P07120215006)
2. NI MADE DIAH KARTIKA SARI (P07120215007)
3. TRIANA SAVITRI (P07120215008)
4. LUH YUNING JUNIANA DEWI (P07120215009)
5. NI KOMANG AYU ARISTA (P07120215010)

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN DENPASAR
JURUSAN KEPERAWATAN
TAHUN PELAJARAN
2016
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Perawat adalah profesi yang difokuskan pada perawatan individu, keluarga,dan
masyarakat sehingga mereka dapat mencapai, mempertahankan, atau memulihkan kesehatan
yang optimal dan kualitas hidup dari lahir sampai mati .Peran perawat sangat konprehensif
dalam menangani pasien karena peran perawat adalah membimbing rohani pasien yang
merupakan bagian integral dari bentuk pelayanan kesehatan dalam upaya memenuhi
kebutuhan biologis-psikologis-sosiologis-spritual (APA, 1992), karena pada dasarnya setiap
diri manusia terdapat kebutuhan dasar spiritual ( DadangHawari, 1999).
Pentingnya bimbingan spiritual dalam kesehatan telah menjadi ketetapan WHO yang
menyatakan bahwa aspek agama (spiritual) merupakan salah satu unsur dari pengertian
kesehataan seutuhnya (WHO, 1984). Oleh karena itudibutuhkan dokter dan terutama
perawat untuk memenuhi kebutuhan spritual pasien. Karena peran perawat yang
konfrehensif tersebut pasien senantiasa mendudukan perawat dalam tugas mulia
mengantarkan pasien diakhir hayatnya dan perawat juga dapat bertindak sebagai fasilisator
(memfasilitasi) agar pasien tetap melakukan yang terbaik seoptimal mungkin sesuai dengan
kondisinya. Namun peran spiritual ini sering kali diabaikan oleh perawat. Padahal aspek
spiritual ini sangat penting terutama untuk pasien terminal yang didiagnoseharapan
sembuhnya sangat tipis dan mendekati sakaratul maut. Menurut Dadang Hawari (1977,53)
“orang yang mengalami penyakit terminal dan menjelang sakaratul maut lebih banyak
mengalami penyakit kejiwaan, krisis spiritual, dan krisis kerohanian sehingga pembinaan
kerohanian saat klien menjelang ajal perlu mendapatkan perhatian khusus
Kehilangan dan kematian adalah peristiwa dari pengalaman manusia yang bersifat
universal dan unik secara individual. Manusia dapat mengantisipasi kematian. Hal ini dapat
menyebabkan banyak reaksi termasuk ansietas, perencanaan, menyangkal, mencintai,
kesepian, pencapaian, dan kurang pencapaian. Kematian dapat merupakan suatu pengalaman
yang luar biasa sehingga dapat mempengaruhi seseorang menjelang ajal dan keluarga, teman
serta pemberi asuhan mereka. Perawat membantu klien untuk memahami dan menerima
kehilangan dalam konteks kultur mereka sehingga kehidupan klien dapat berlanjut.
Kehilangan dan kematian adalah realitas yang sering terjadi dalam lingkungan asuhan
keperawatan. Sebagian besar perawat berinteraksi dengan klien dan keluarga yang
mengalami kehilangan dan dukacita. Penting bagi perawat memahami kehilangan dan
dukacita.

1.2 Rumusan Masalah


1.2.1 Apa pengertian dari konsep kematian dan menjelang ajal?
1.2.2 Apa saja tahapan menjelang kematian?
1.2.3 Bagaimana konsep bimbingan spiritual pada keluarga dan pasien menjelang ajal?
1.2.4 Bagaimana aplikasi caring pada pasien menjelang ajal?

1.3 Tujuan
1.3.1 Untuk mengetahui pengertian dari konsep kematian dan menjelang ajal
1.3.2 Untuk mengetahui tahapan menjelang kematian
1.3.3 Untuk mengetahui konsep bimbingan spiritual pada keluarga dan pasien menjelang
ajal
1.3.4 Untuk mengetahui aplikasi caring pada pasien menjelang ajal
1.4 Manfaat
1.4.1 Mahasiswa memahami pengertian dari konsep kematian dan menjelang ajal
1.4.2 Mahasiswa memahami tahapan menjelang kematian
1.4.3 Mahasiswa memahami konsep bimbingan spiritual pada keluarga dan pasien
menjelang ajal
1.4.4 Mahasiswa memahami aplikasi caring pada pasien menjelang ajal
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Konsep Kematian dan Menjelang Ajal


Menjelang ajal adalah bagian dari kehidupan, yang merupakan proses menuju akhir.
Kematian adalah penghentian permanen semua fungsi tubuh yang vital, akhir dari kehidupan
manusia(Buku Ajar Keperawatan Gerontik : 435).
Pengertian kematian / mati adalah apabila seseorang tidak teraba lagi denyut nadinya
tidak bernafas selama beberapa menit dan tidak menunjukan segala refleks, serta tidak ada
kegiatan otak.(Nugroho: 153).Ada 4 tipe dari perjalanan proses kematian, yaitu :
1) Kematian yang pasti dengan waktu yang diketahui, yaitu adanya perubahan yang
cepat dari fase akut ke kronik.
2) Kematian yang pasti dengan waktu tidak bisa diketahui, baisanya terjadi pada kondisi
penyakit yang kronik.
3) Kematian yang belum pasti, kemungkinan sembuh belum pasti, biasanya terjadi pada
pasien dengan operasi radikal karena adanya kanker.
4) Kemungkinan mati dan sembuh yang tidak tentu, terjadi pada pasien dengan sakit
kronik dan telah berjalan lama.

2.2 Tahap-tahap Menjelang Kematian


Dr. Elisabeth kubler-Rosa (1969) telah mengidentifikasi lima tahap berduka yang
dapat terjadi pada pasien menjelang ajal. Tahap-tahap tersebut adalah mengingkari, marah,
tawar-menawar, depresi dan menerima.Jika terdapat cukup waktu dan dukungan mental,
beberapa pasien dapat menggerakkan emosinya melalui tiap tahap sampai titik penerimaan
penyakitnya dan kematiannya. Tahap-tahap tersebut yaitu:
1. Menolak ( Denial )
Tahap ii biasanya ditandai oleh komentar “saya? Tidak,tak mungkin”. Selama
tahap ini, pasien sesungguhnya ingin mengatakan bahwa maut menimpa semua orang
kecuali dia. Pasien biasanya begitu terpengaruh oleh penolakannya sehingga ia tidak
begitu memperhatikan fakta-fakta yang mungkin sedag dijelaskan kepadanya. Pasien
malahan dapat menekan apa yang telah ia dengar atau mungkin akan meminta
pertolongan dari berbagai macam sumberprofesional dan nonprofessional dalam
upayanya melarikan diri dari kenyataan bahwa maut sudah berada di ambang pintu.
Perawat perlu waspada terhadap isyarat pasien dengan denial dengan cara
mananyakan tentang kondisinya atau prognosisnya dan pasien dapat mengekspresikan
perasaan-perasaannya.
2. Marah (Anger )
Kemarahan terjadi karena kondisi klien mengancam kehidupannya dengan
segala hal yang telah diperbuatnya sehingga menggagalkan cita-citanya. Timbul
pemikiran pada diri klien, seperti:
“Mengapa hal ini terjadi dengan diriku?”
Kemarahan-Kemarahan tersebut biasanya diekspresikan kepada obyek-obyek
yang dekat dengan klien, seperti keluarga, teman dan tenaga kesehatan yang
merawatnya.Kubler Ross mengatakan bahwa pada tahap ini bagi pasien lebih
merupakan hikmah daripada kutukan.Kemarahan merupakan mekanisme pertahanan
pasien,akan tetapi kemarahan yang sesungguhnya tertuju pada kesehatan dan
kehidupan ,dua hal yang diwakili oleh petugas kesehatan. Inilah saatnya perawat harus
berhati-hati dalam memberikan penilaian dan mengenali kemarahan serta emosi yang
tak terkendalikan sebagai reaksi -reaksi yang normal terhadap kematian yang perlu
diungkapkan. Perawat perlu membantu pasien agar mengerti bahwa masih me rupakan
hal yang normal dalam merespon perasaan kehilangan menjelang kamatian. Akan
lebih baik bila kemarahan ditujukan kepada perawat sebagai orang yang dapat
dipercaya, memberikan ras aman dan akan menerima kemarahan tersebut, serta
meneruskan asuhan sehingga membantu pasien dalam menumbuhkan rasa aman.
3. Menawar ( Bargaining )

2
Pada tahap ini kemarahan baisanya mereda dan pasien malahan dapat
menimbulkan kesan sudah dapat menerima apa yang terjadi dengan dirinya. Akan
tetapi, tahap tawar menawar adalah waktu untuk melakukan gencatan senjata dan
pasien sekarang berusaha tawar menawar untuk mengulur-ulur waktu. Pasien
seringkali akan berjanji pada Tuhan, jika ia orang yang percaya, umpamanya bahwa ia
akan hidup secara lebih baik apabila ia diberi lebih banyak waktu. Ia akan
mengajukan permohonan-permohonan yang akan memngkinkannya untuk hidup
lama.Ada cerita-cerita tentang pasien yang mempunyai satu permintaan terakhir
,untuk melihat pertandingan olahraga, megunjungi seorang kerabat tertentu, melihat
cucunya yang paling kecil,dan sebagainya. Perawat dianjurkan untuk memenuhi
permohonan –permohonan itu, oleh karena tawar menawar membantu pasien
memasuki tahap berikutnya, meskipun ia cenderung untuk terus menambahkan satu
permohonan lagi.Pada pasien yang sedang dying, keadaan demikian dapat terjadi,
seringkali klien berkata:
“Ya Tuhan,jika saya diberikan kesempatan untuk hidup lebih lama saya akan
mengabdikan hidup saya untuk melakukan kebaikan”
4. Kemurungan ( Depresi)
Tahap ini biasanya mrupakan satu waktu yang sedih, oleh karena pasien sedang
berada dalam suasana berkabung karena di masa lampau ia sudah kehilangan orang-
orang yang ia cintai dan sekarang ia akan kehilangan nyawanya sendiri,dan bersamaan
dengan itu harus meninggalkan semua hal menyenangkan yang telah ia nimati.
Selama tahap ini, pasien cenderung untuk tidak banyak bicara dan mungkin banyak
menangis. Pada fase ini perawat selalu hadir di dekatnya dan mendengarkan apa yang
dikeluhkan oleh pasien. Akan lebih baik jika berkomunikasi secara non verbal yaitu
duduk dengan tenang disampingnya dan mengamati reaksi-reaksi non verbal dari
pasien sehingga menumbuhkan rasa aman bagi pasien.
5. Menerima/Pasrah ( Acceptance)
Pada fase ini terjadi proses penerimaan secara sadar oleh klien dan keluarga
tentang kondisi yang terjadi dan hal-hal yang akan terjadi yaitu kematian. Fase ini
sangat membantu apabila kien dapat menyatakan reaksi-reaksinya atau rencana-
rencana yang terbaik bagi dirinya menjelang ajal. Misalnya ingin bertemu dengan
keluarga terdekat, menulis surat wasiat, dan sebagainya.
Menurut Kubler-Ros sangat penting bagi perawat untuk memungkinkan pasien
melalui tahap-tahap itu dan untuk bertindak sebagai katalis sehingga pasien bias
mencapai tahap akhir yakni menerima. Kenalilah kebutuhan-kebutuhan pasien dan
bukannya kebutuhan –kebutuhan sendiri,dan berusahalah untuk memenuhinya.
Biarkan dan dorong pasien untuk berbicara dan mengungkapkan emosi-emosinya
dengan bebas dalam suasana dimana ia tidak merasa sedang dinilai. Selalu siap utuk
melayani pasien,terutama di waktu amalm,dimana kebanyakan pasien biasanya
terbangun dan ingin berbicara. Hormatilah perilaku pasien karena itu merupakan
mekanisme pertahanannya; menanggakan pertahanannya pada saat –saat ia sedang
menghadapi maut berarti membuka pintu utuk menambah kesedihan dan penderitaan
psikologisnya.

2.3 Konsep Bimbingan Spiritual Pada Pasien dan Keluarga Menjelang Ajal
Beberapa pandangan tentang kematian dari agama-agama yang terkemuka di dunia
a) Agama Kristen
Dalam agama Kristen terdapat berbagai aliran-aliran. Dua aliran yang paling
utama adalah: agama Katolik dan agama Protestan. Dalam ajaran agama Katolik
Roma mati itu hanya suatu perpisahan untuk waktu sementara. Setelah kematian akan
muncul kehidupan yang abadi dan Tuhan.
Tuhan itu baik hati dan mengampuni semua dosa dan kesalahan. Seorang
katolik yang baik tidak usah takut menghadapi kematian, karena setelah kematian
akan ada kehidupan yang lebih baik. Yang penting dalam untuk seorang pasien

3
Katolik adalah bahwa ia memperoleh kesempatan untuk Sakramen orang sakit, yang
juga dinamakan Pembalseman orang sakit.
Dalam agama Protestan, terdapat berbagai perbedaan pandangan terhadap
penyakit dan kematian. Contoh:
- Penyakit dan kematian adalah sebagai akibat dari dosa Adam. Seseorang
dengan sadar harus memilih Tuhan, dan dapat mengetahui dan merasa bahwa ia
dapat masuk dalam kerajaan Allah setelah ia meninggal.
- Penyakit adalah suatu penguasaan iblis atas diri kita dan melalui doa
diusahakan agar iblis itu keluar.
- Penyakit adalah suatu hukuman yang dijalani manusia karena kesalahannya.
b) Agama Islam
Penyakit dalam agama Islam adalah suatu gangguan keseimbangan
sebagaimana yang dimaksud oleh Allah.Sebab-sebab dari gangguan ini dapat dicari
baik dalam kekuatan yang meguasai alam semesta maupun yang berasal dari kuasa-
kuasa manusia. Kematian bagi orang-orang islam berarti suatu pemindahan dari
kehidupan karena suatu situasi menuggu sampai akhir zaman. Dan pada saat itu akan
tiba masa pengadilan bagi semua orang. Orang islam pada saat pengadilan itu boleh
percaya akan kebaikan-kebaikan Allah. Orang islam percaya bahwa di dalam kuburan
akan datang dua malaikat yang akan menanyakan masalah kepercayaannya.
c) Tradisi Yahudi
Menurut tradisi Yahudi orang-orang mati akan bangkit pada akhir jaman.
Disamping itu tradisi Yahudi mengenal banyak peraturan-peraturan yang
berhubungan dengan fase akhir kehidupan manusia.
d) Agama Hindu
Bagi orang-orang yang beragama Hindu dikatakan bahwa penyakit adalah
akibat dari dewa-dewa yang marah atau kuasa-kuasa yang lain.
Penyakit harus dihindari dan dilawan dengan cara membawa persembahan-
persembahan bahan melalui pembacaan mantera. Setelah kematian maka manusia
akan kembali muncul di bumi baik dalam bentuk manusia atau binatang (reinkarnasi),
sampai rohnya menjadi sempurna.
Jika kondisi pasien kritis, dokter akan secara resmi menuliskan namanya di
Daftar kritis. Kemudian keluarga dan pemuka agama akan diberitahu.
a) Jika pasien Katolik tampak sedang menyongsong ajal, seorang pendeta harus
dipanggil untuk melakukan sakramen orang sakit. Akan lebih baik jika keluarga
hadir dan meninggalkan ruangan pada saat dilakukan pengakuan dosa.Penganut
agama Katolik dan keluarga menganggapnya sebagai suatu keistimewaan
karena memiliki kesempatan untuk mengaku dosa ketika masih memiliki
kemampuan.Banyak pasien yang sembuh dengan sempurna, tetapi harapan ini
tidak boleh mencegah penerimaan sekramen. Pendeta akan memutuskannya
setelah berdiskusi dengan keluarga.
b) Sementara hampir semua agama lainnya tidak memiliki ritual khusus seperti
sakramen ini, oleh sebab itu pemberian privasi pada pasien dan keluarga adalah
hal yang penting. Privasi tidak berarti membiarkan pasien dan keluarganya
sendirian tetapi juga tetap melanjutkan perawatan yang ditugaskan pada anda
yang dengan perilaku yang tenang dan menghargai.
c) Pembacaan kitab suci, jika diminta, dapat menjadi bantuan spiritual untuk
melalui saat-saat kritis ini. Bersikap sopan dan beri privasi jika pemuka agama
pasien berkunjung.

2.4 Aplikasi Caring pada Klien Menjelang Ajal


Penderita yang akan meninggal tidak akan kembali lagi ke tengah keluarga,kenyataan ini sangat berat
bagi keluarga yang akan ditinggalkannya. Untuk menghindari hal di atas, bukan hanya keluarganya saja yang
berduka, bahkan klien lebih tertekan dengan penyakit yang dideritanya.
Tujuan aplikasi caring pada klien menjelang ajal adalah:

4
1. Memberikan perasaan tenang dan tentram kepada klien dalam menghadapimaut dengan memberikan
bantuan fisik dan spiritual sehingga meringankan penderitaannya.
2. Membantu keluarga memberi support pada klien
3. Membantu klien dan keluarga untuk menerima perhatian.
Asuhan keperawatan klien menjelang ajal sangat menuntut danmenegangkan. Namun demikian,
membantu klien menjelang ajal untuk meraih kembali martabatnya dapat menjadi salah satu penghargaan
terbesar keperawatan. Perawat dapat berbagi penderitaan klien menjelang jal dan mengintervensi dalam
carameningkatkan kualitas hidup. Klien menjelang ajal harus dirawat dengan respek danperhatian.
Secara umum, pengaplikasian caring pada klien menjelang ajal berupa:
1. Peningkatan Kenyamanan
Kenyamanan bagi klien menjelang ajal termasuk pengenalan dan peredaandistres
psikobiologis. Perawat memberi berbagai tindakan penenangan bagi kliensakit terminal. Kontrol nyeri
terutama penting karena nyeri mengganggu tidur, nafsu makan, mobilitas, dan fungsi psikologis.
Higiene personal adalah bagian rutin dari mempertahankan kenyamann klien dengan penyakit
terminal. Klien mungkin padaakhirnya bergantung pada perawat atau keluarganya untuk pemunuhan
kebutuhan dasarnya.
2. Pemeliharaan Kemandirian
Sebagian besar klien menjelang ajal menginginkan sebanyak mungkin mapandiri.
Mengizinkan klien untuk melakukan tugas sederhana seperti mandi dan makanakan mempertahankan
martabat dan rasa makna diri. Ketika klien tidak mampusecara fisik untuk melakukan perawatan diri,
perawat dapat memberikan dorongandengan berpartisipasi dalam pembuatan keputusan untuk
memberikan rasa kontroldiri pasien. Perawat mencari isyarat non-verbal yang menunjukan
ketidakinginanberpartisipasi dalam perawatan. Perawat tidak boleh memaksakan partisipasi,
terutama jika ketidakmampuan secara fisik membuat partsipasi menjadi sulit.
3. Pencegahan Kesepian dan Isolasi
Untuk mencegah kesepian dan penyimpangan sensori, perawatmengintervensi untuk
meningkatkan kualitas lingkungan. Klien menjelang ajal tidak harus secara rutin ditempatkan dalam
ruang tersendiri di lokasi yang sangat jauh.Klien merasakan keterlibatan ketika dirawat bersama dan
memperhatikan aktivitasperawat. Klien menjelang ajal dapat merasa sangat kesepian terutama pada
malamhari dan mungkin merasa lebih aman jika seseorang tetap menemaninya di smpingtempat tidur.
Perawat harus mengetahui cara menghubungi kondisi anggota keluarga jika kunjungan diperlukan atau
kondisi klien memburuk. Klien harus ditemani olehseseorang ketika terjadi kematian. Perawat tidak
boleh merasa bersalah jika tidak dapat selalu memberikan dukungan ini. Perawat harus mencoba untuk
beradabersama klien menjelang kematian ketika diperlukan dan memperlihatkan perhatiandan
keharuan.
4. Peningkatan Ketenangan Spiritual
Memberikan ketenangan spiritual mempunyai arti lebih besar dari sekedarkunjungan
rohaniawan. Perawat dapat memberi dukungan kepada klien dalammengekspresikan filosofi
kehidupan. Ketika kematian mendekat, klien sering mencariketenangan dengan menganalisis nilai dan
keyakinan yang berhubungan denganhidup dan mati. Perawat dan keluarga dapat membantu klien
dengan mendengarkandan mendorong klien untuk mengekspresikan tentang nilai dan keyakinan.
Perawatdan keluarga dapat memberikan ketenangan spiritual dengan menggunakanketerampilan
komunikasi, mengekspresikan simpati, berdoa dengan klien, membacaliteratur yang memberi inspirasi,
dan memainkan musik.
5. Dukungan untuk Keluarga yang Berduka
Anggota keluarga harus didukung melewati waktu menjelang ajal dankematian dari orang yang
mereka cintai dan, waktu yang bersamaan, siap sedia untuk memberikan dukungan. Perawat harus
mengenali nilai anggota keluarga sebagaisumber dan membantu mereka untuk tetap berada dengan
klien menjelang ajal.
Banyak hal yang bisa dilakukan oleh perawat dalam mempersiapkan klien,antara lain:
a. Fase Denial
1) Beri keamanan emosional yaitu dengan memberikan sentuhan danciptakan suasana
tenang.
2) Konfirmasikan rasa takut terhadap sesuatu yang tidak diketahuinyadengan menanyakan
kepada klien apa yang dipersepsikannya tentangkehidupan setelah mati.

5
3) Tanyakan tentang pengalaman klien menghadapi kematian yangdiketahui klien,
tanyakan apa saja ketakutan yang dihadapi proseskematian.
4) Menganjurkan klien untuk tetap diam dalam pertahanan dengan tidak menghindar dari
situasi sesungguhnya.

b. Fase Anger
1) Pertahankan sentuhan fisik dan suaa tenang dan juga rahasia klien
2) Membicarakan klien untuk mengekspresikan keinginan, apa yang dansedang terjadi
pada mereka
3) Beri perhatian dan lingkungan yang nyaman dan cegah injury
c. Fase Bargaining
1) Ajarkan klien agar dapat membuat keputusan dalam hidupnya yangbermakna.
2) Dengarkan klien saat berscerita tentang hidupnya mengenai apa yang diperolehnya,
kesukaan dan kegagalannya, kesenangan dan keputusan yang dialaminya.
d. Fase Depresi
1) Beri kenyataan emosional yaitu dengan memberikan sentuhan dan ciptakan lingkungan
yang tenang
2) Perlakuan klien dengan sabar, penuh perhatian dan tetap realitas
3) Kaji pikiran dan perasaan serta persepsi klien, jika salah pengertianharusnya diklarifikasi
4) Untuk klien yang tidak mau berkomunikasi secara verbal, tetapberikan supporte.
e. Fase Acceptance
1) Bina hubungan saling percaya sehingga klien akan terbuka,menanyakan dan
mengklarifikasikan alternatif pemecahan masalahbila klien di diagnosa penyakit
terminal
2) Identifikasikan dengan siapa klien ingin bicara terbuka, beri tahukeluarga untuk
menghadapi masalah regresi yang akan terjadi
3) Bantu klien memperoleh dan membertitahukan kualitas hidup jikamungkin
4) Bantu klien dalam mengatur waktu agar merasa kepuasan dalam hidupmereka
5) Pertahankan hubungan klien dengan orang-orang tedekat
6) Bantu klien dalam mendapatkan informasi dan apa yang dapat klienlakukan dengan
informasi yang diberikan olehnya
7) Berikan jawaban terbuka dan jujur terhadap semua pertanyaan yangdiajukan klien
8) Tetap merespon dan mencari tahu bagaimana klien menerima informasi sebelum
mereka mencari kolaborasi lebih jauh.
Dalam memberikan pelayanan keperawatan pada klien yang sedang dalam keadaan terminal,
perawat harus memperhatikan hak-hak pasien berikut ini:
1. Hak diperlakukan sebagaimana manusia yang hidup sampai ajal tiba
2. Hak mempertahankan harapannya, tidak peduli apapun perubahan yang terjadi
3. Hak mendapatkan perawatan yang dapat mempertahankan harapannya apapun yang
terjadi
4. Hak mengekspresikan perasaan dan emosinya sehubungan dengan kematian yang
sedang dihadapinya
5. Hak berpartisipasi dalam pengambilan keputusan berkaitan dengan perawatan
6. Hak memperoleh perhatian dalam pengobatan dan perawatan secara
berkesinambungan, walaupun tujuan penyembuhannya harus diubah menjadi tujuan
memberikan rasa nyaman
7. Hak untuk tidak meninggal dalam kesendirian
8. Hak untuk bebas dari rasa sakit
9. Hak untuk memperoleh jawaban atas pertanyaannya secara jujur
10. Hak untuk memperoleh bantuan dari perawat atau medis untuk keluarga yang
ditinggalkan agar dapat menerima kematiannya
11. Hak untuk meninggal dalam damai dan bermartabat
12. Hak untuk tetap dalam kepercayaan atau agamanya dan tidak diambil keputusan yang
bertentangan dengan kepercayaan yang dianut

6
13. Hak untuk memperdalam dan meningkatkan kepercayaannya, apapun artinya bagi
orang lain
14. Hak untuk mengharapkan bahwa kesucian raga manusia akan dihormati setelah yang
bersangkutan meninggal
15. Hak untuk mendapatkan perawatan dari orang yang profesional, yang dapatmengerti
kebutuhan dan kepuasan dalam mnghadapi kematian.

6. Pohon Masalah

Pasrah, Distres Spiritual,


Gangguan Proses Keluarga,
Dukacita

Menolak(denial) Marah (anger)


Menawar (bargaining) Kemurungan
Menerima/pasrah(acceptanced)

Penyakit Keganasan Penyakit Kronis Penyakit Terminal

Menjelang Ajal

7
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN MENJELANG AJAL

3.1 Pengkajian Keperawatan


Untuk mendapatkan data dasar lengkap yang memungkinkan analisis akurat dan
identifikasi diagnosis keperawatan yang tepat untuk klien menjelang ajal dan keluarga
mereka, perawat pertama kali perlu mengetahui status pemahaman yang ditunjukkan oleh
klien dan anggota keluarga
 Wawancara pengkajian klien menjelang ajal
Tanyakan kepada pasangan, rekan, atau orang terdekat :
1. Pernahkah anda dekat dengan seseorang yang sebelumnya menjelang ajal?
2. Apa yang pernah dikatakan kepada anda mengenai sesuatu yang mungkin
terjadi apabila terjadi kematian?
3. Apakah anda mempunyai pertanyaan mengenaai apa yang mungkin terjadi di
saat kematian?
4. Menurut anda, bagaimana anda akan mengatakan selamat tinggal:
5. Bagaimana anda merawat diri sendiri selama ini?
6. Kepada siapa anda meminta bantuan pada masa ini?
7. Apakah ada orang yang ingin anda hubungi melalui saya saat ini atau saat
kematian terjadi?

Sebelas (11) Pola Kesehatan Fungsional menurut Gordon:


A. Pola 1: Persepsi Kesehatan/ Penanganan Kesehatan, Menggambarkan persepsi klien
dan penanganan kesehatan dan kesejahteraan
a. Data Subyektif
1. Alasan masuk rumah sakit
2. Obat-obatan dengan atau tanpa resep
3. Riwayat medic dan sosial
4. Harapan pemberi perawatan kesehatan
5. Pengobatan saat ini yang tidak berhubungan dengan diagnosa saat masuk
rumah sakit
6. Persepsi klien tentang status kesehatan dan kesejahteraan

b. Data Objektif
1. Pengamatan umum
2. Bukti penggunaan obat ilegal
3. Hitung sel darah putih
4. Kemampuan menyusun tujuan; pengetahuan tentang praktik kesehatan
5. Higiene, berhias
6. Umur, bahaya kerja
B. Pola 2: Nutrisi atau Metabolik, menggambarkan masukan nutrisi; keseimbangan
cairan dan elektrolit, kondisi kulit, rambut dan kuku
a. Data Subjektif
1. Masukan lemak; masukan natrium
2. Nafsu makan, konsumsi kafein
3. Masalah dengan makan, menelan dan pencernaan kemampuan menelan
4. Mual
5. Penggunaan alkohol
6. Perawatan rutin terhadap rambut, kulit, kuku dan mulut
7. Urtikaria (gatal)
8. Perubahan berat badan
9. Makanan kesukaan
b. Data Objektif
1. Diet yang dianjurkan
2. Persentase makanan yang dimakan

8
3. Kemampuan menelan
4. Selang nasogastrik (NGT)
5. Masukan kalori
6. Cairan intravena
7. Makanan yang alergi nutrisi parenteral total
8. Keseimbangna nitrogen
9. Albumin serum
10. Muntah
11. Nilai elektrolit
12. Masukan dan keluaran
13. Suhu
14. Tinggi badan, berat badan, kulit
15. Kepala, leher, rambut
16. Kuku, mulut, bibir
17. Gigi, gigi palsu, gusi
18. Edema
C. Pola 3: Eliminasi, menggambarkan pola fungsi ekskresi usus, kandung kemih dan
kulit
a. Data Subjetkif
1. Kandung kemih
2. Frekuensi, nokturia
3. Karakteristik keluaran urin yang biasa
4. Masalah berkemih
5. Pola masukan cairan
6. Infeksi saluran kemih
7. Usus
8. Frekuensi dari karakteristik feses yang biasa
9. Penggunaan laksatil
10. Masalah dengan konstipasi ataudiare
11. Penggunaan pelunak feses
12. Kulit
13. Persepsi berlebihan
14. Masalah bau badan
b. Data Obyektif
1. Kandung kemih
2. Jumlah urin, warna, bau
3. Berat jenis
4. Kateter, kondom, ostomi
5. Kandung kemih teraba
6. Ginjal teraba
7. Ekskoriasi kulit
8. Masukan dan keluaran
9. Usus
10. Jumlah feses, warna, konsistensi
11. Abdomen lemas, distensi, nyeri tekan
12. Bising usus
13. Fistula, ostomi
14. Selang drainase
15. Eksodasi kulit
16. Diet kasar
17. Kulit
18. Dialoresis
19. Bau badan
20. Selang drainase

9
D. Pola 4: Aktivitas atau Latihan, menggambarkan pola latihan dan aktivitas, fungsi
pernapasan dan sirkulasi
a. Data Subyektif
1. Napas pendek atau nyeri saat latihan
2. Merokok
3. Riwayat asma, bronchitis dan emfisema
4. Riwayat penyakit paru dalam keluarga
5. Bahaya kerja
Sirkulasi:
1. Riwayat penyakit jantung dalam keluarga
2. Infark miokard, stroke sebelumnya pacu jantung
3. Klaudikasi intermiten
4. Obat-obatan
Mobilitas
1. Pola latihan yang biasa dilakukan
2. Aktivitas di waktu luang
3. Menaiki tangga
4. Penggunaan tongkat, walker
5. Keterbatasan aktivitas sehari-hari
6. Kecukupan energy untuk melakukan aktivitas
7. Aktivitas sejak sakit
b. Data Objektif
1. Frekuensi, kedalaman, dan irama pernapasan
2. Bunyinapas
3. Selang dada
5. Adanya batuk
6. Penggunaan otot bantu
Sirkulasi:
1. Frekuensi, irama apikal
2. Tekanan darah
3. Nadi periler
4. Warna kulit
5. Suhu ekstremitas bawah dan kehilangan rambut
6. Kehilangan atau transfuse darah
7. Tekanan vena sentral
8. Faktor pembekuan
9. Transaminase (SGOT)
10. Laktal dehidrogenase (LDH)
11. Creatine phosphokinase (CPK)
Mobilitas:
1. Rentang gerak (tange of nnlion)
2. Kekuatan, postur
3. Genggaman tangan, refleks
4. Kemampuan melakukan aktivitas sehari-hari (ADL): makan, mandi, buang
air, tidur, mobilitas, berpakaian, berbelanja
5. Masalah berjalan
6. Tidak adanya bagian tubuh
7. Protese
8. Keseimbangan berjalan
E. Pola 5: Tidur atau Istirahat, menggambarkan pola tidur, istirahat, dan persepsi tentang
tingkat energi
a. Data Subyektif
1. Kebiasaan lama tidur
2. Istirahat untuk aktivitas sehari-hari
3. Keluhan mengantuk

10
4. Mengeluh letih
5. Waktu tidur rutin

b. Data Objektif
1. Waktu tidur atau tidur siang yang diamati, sering menguap
2. Hipnotik, sedatif
3. Lingkaran gelap di bawah mata; plosis kelopak mata
4. Rentang perhatian
F. Pola 6: Kognitif atau Perseptual, menggambarkan pola pendengaran, penglihatan,
pengecapan, perbaan, penghidu, persepsi nyeri, bahasa, memorian penggambaran
keputusan.
a. Data Subjektif
1. Masalah sensori dan perseptual: pendengaran, penglihatan, perabaan,
penghidu, dan pengecapan
2. Bahasa Inggris sebagai bahasa kedua
3. Tingkat pendidikan
4. Persepsi nyeri dan penanganan nyeri
5. Perubahan memori
6. Menilai nyeri pada skala 0-10
7. Pemakaian alat bantu dengan atau kacamata
8. Kehilangan bagian tubuh atau fungsinya.
b. Data objektif
1. Kemampuan melihat, mendengar, menghidu, merasakan
2. Aktivitas kejang
3. Bahasa yang diucapkan
4. Kemampuan untuk mengikut
5. Kemampuan mengambil keputusan
6. Tingkat kesadaran
7. Pemeriksaan neurologis
8. Berorientasi terhadap waktu, tempat, orang
9. Memperhatikan kesadaran bagian-bagian tubuh yang akurat
G. Pola 7: Persepsi Diri/ Konsep Diri, menggambarkan sikap tentang diri sendiri dan
persepsi terhadap kemampuan.
a. Data subjektif
1. Sikap tentang diri
2. Dampak sakit terhadap diri
3. Keinginan untuk mengubah diri
4. Gugup atau relaks; nilai 1-5
5. Merasa tak berdaya
b. Data objektif
1. Postur tubuh
2. Kontak mata
3. Asertil atau pasif; nilai 1-5
4. Isyarat non verbal perubahan harga diri
5. Ekspresi wajah
H. Pola 8: peran atau hubungan, menggambarkan keefektifan peran dan hubungan
dengna orang terdekat.
a. Data subjektif
1. Pekerjaan
2. Keefektifan hubungan dengan orang terdekat
3. Efek perubahan peran terhadap hubungan
4. Tempat tinggal, tidak punya rumah
b. Data objektif
1. Interaksi yang diamati
2. Tingkah laku yang pasif atau agresif terhadap orang lain

11
3. Masalah keuangan
I. Pola 9: Seksualitas atau Reproduksi
a. Data Subjetif
1. Dampak sakit terhadap seksualitas
2. Riwayat haid; anak-anak
3. Pemeriksaan payudara sendiri
4. Pruritus
5. Tindakan pengendalian kelahiran
6. Riwayat penyakit hubungan seksual
b. Data Objektif
1. Pemeriksaan payudara
2. Pemeriksaan lestis
3. Pemeriksaan genitalia
4. Lesi
5. Drainase
6. Veneral disease research laboratory (VDRL)
J. Pola 10: Koping atauToleransi Stres, menggambarkan kemampuan untuk menangani
stress dan penggunaan sistem pendukung
a. Data Subjektif
1. Stresor pada tahun lalu
2. Metode koping yang biasa digunakan
3. Sistem pendukung
4. Penggunaan alkohol dan obat resep dokter dan obat illegal untuk
mengatasi stres
5. Efek penyakit terhadap tingkat stres
6. Nada suara
b. Data Objektif
1. Interaksi dengan orang terdekat
2. Pergerakan kinetik
3. Berjalan bolak-balik
4. Tidak ada kontak mata
5. Menangis bersuara
6. Nilai ansietas skala 1-5
7. Ekspresi
K. Pola 11: Nilaiataukepercayaan
a. Data Subjektif
1. Agama, spiritual
2. Kegiatan keagamaan dan budaya, berbagi dengan orang lain
3. Sikap terhadap tidak
b. Data Objektif
1. Mencari bantuan spiritual
2. Bukti melaksanakan nilai dan kepercayaan.

3.2 Diagnosa Keperawatan


a. Dukacita
Proses kompleks normal yang meliputi respons dan perilaku emosional, fisik, spiritual,
sosial, dan intelektual yakni individu, keluarga dan komunitas memasukkan kehilangan
yang actual, adaptif atau dipersepsikan kedalam kehidupan sehari-hari mereka.

1) Batasan karakteristik
 Perubahan tingkat aktivitas
 Perubahan pola mimpi
 Perubahan fungsi imun
 Gangguan fungsi neuroendokrin

12
 Marah
 Menyalahkan berpisah/menarik diri
 Putus asa
 Disorganisasi/ kacau
 Gangguan pola tidur
 Mengalami kelegaan
 Memelihara hubungan dengan almarhum/ah
 Membuat makna kehilangan
 Kepedihan
 Perilaku panic
 Pertumbuhan personal
 Distress psikologis
 Menderita
2) Faktor Yang Berhubungan
 Mengantisipasi kehilangan yang bermakna (mis., kepemilikan, pekerjaan,
status, rumah, bagian dan proses tubuh)
 Mengantisipasi kehilangan orang terdekat
 Kematian orang terdekat
 Kehilangan objek penting (mis., kepemilikan, pekerjaan, status, rumah, bagian
dan proses tubuh)
b. Gangguan Proses Keluarga
Perubahan dalam hubungan dan/ atau fungsi keluarga
1) Batasan Karakteristik
 Perubahan dalam tugas yang telah ditetapkan
 Perubahan ketersediaan untuk menunjukkan respons kasih saying
 Perubahan dalam ketersesiaan untuk dukungan emosi
 Perubahan dalam pola komunikasi
 Perubahan dalam ekspresi konflik dengn sumber komunitas
 Perubahan dalam ekspresi konflik di dalam keluarga
 Perubahan dalam dukungan bersama
 Perubahan dalam partisipasi di dalam penyelesaian masalah
 Perubahan di dalam partisipasi di dalam membuat keputusan
 Perubahan dalam kepuasan terhadap keluarga
 Perubahan dalam keluhan somatic
 Perubahan dalam keintiman
 Perubahan dalam persatuan kekuatan
 Perubahan dalam ritual
 Perubahan dalam perilaku meredakan stres
2) Faktor Yang Berhubungan
 Krisis perkembangan
 Transisi perkembangan
 Interaksi dengan komunitas
 Modifikasi dalam keuangan keluarga
 Modifikasi dalam status sosial keluarga
 Pergeseran kekuatan anggota keluarga
 Pergeseran peran keluarga
 Pergeseran pada status kesehatan anggota keluarga
 Situasi transisi
 Krisis situasi
c. Ansietas Kematian
Perasaan tidak nyaman atau gelisah yang samar yang ditimbulkan oleh persepsi
ancaman nyata atau imajinasi terhadap eksistensi seseorang

13
1) Batasan Karakteristik
 Menyatakan kekhawatiran membebani pemberi asuhan
 Menyatakan kesedihan yang mendalam
 Menyatakan ketakutan mengalami sakit terminal
 Menyatakan ketakutan kehilangan kemampuan mental saat menjelang ajal
 Menyatakan ketakutan cepat mati
 Menyatakan ketakutan terhadap proses menjelang ajal
 Menyatakan ketakutan akan menjelang ajal yang berlangsung lama
 Menyatakan ketakutan menderita terkait menjelang ajal
 Menyatakan perasaan tidak berdaya menjelang ajal
 Menyatakan pikiran negartif terkait kematian dan menjelang ajal
 Meyatakan kekhawatiran mengenai dampak kematian seseorang terhadap
orang terdekat
2) Faktor yang Berhubungan
 Mengantisipasi efek merugikan anesthesia umum
 Mengantisipasi dampak kematian pada orang lain
 Mengantisipasi nyeri
 Mengantisipasi penderitaan
 Konfrontasi terhadap realita penyakit terminal
 Pembahasan mengenai topic kematian
 Mengakami proses menjelang ajal
 Hampir mengalami kematian
 Tidak menerima kematian sendiri
 Observasi terkait kematian
 Merasa dekat dengan kematian
 Ragu mengenai menghadapi kekuatan yang lebih tinggi
 Ragu mengenai eksistensi/keberadaan kekuatan yang lebih tinggi
 Ragu/tidak percaya dengan kehidupan setelah kematian
 Ragu/tidak percaya dengan prognosis
d. Distres spiritual
Gangguan kemampuan untuk mengalami dan mengintegrasikan makna dan tujuan
hidup melalui hubungan dengan diri sendiri, orang lain, seni, music, literature, alam,
dan/atau kekuatan yang lebih besar dari dirinya sendiri
1) Batasan Karakteristik
a) Hubungan dengan Diri Sendiri
 Marah
 Mengungkapkan kurang dapat menerima (kurang pasrah)
 Mengungkapkan kurangnya motivasi
 Mengungkapkan kurang dapat memanfaatakan diri sendiri
 Mengungkapkan kekurangan harapan
 Mengungkapkan kekurangan cinta
 Mengungkapkan kurangnya makna hidup
 Mengungkapkan kekurangan tujuan hidup
 Mengungkapkan kekurangan ketenangan (mis., kedamaian)
 Merasa bersalah
 Koping tidak efektif
b) Hubungan dengan Orang Lain
 Mengungkapkan rasa terasing
 Menolak interaksi dengan orang yang diaanggap penting
 Menolak interaksi dengan pemimpin spiritual
 Mengungkapkan dengan kata-kata telah terpisah dari sistem pendukung
c) Hubungan dengan Seni, Musik, Literatur, Alam

14
 Tidak berminat pada alam
 Tidak minat membaca literature spiritual
 Ketidakmampuan mengungkapkan kondisi kreativitas sebelumnya (mis.,
menyanyi/mendengarkan/music/menulis)
d) Hubungan dengan kekuatan yang lebih besar daripada dirinya sendiri
 Mengungkapkan kemarahan terhadap kekuatan yang lebih besar dari
dirinya
 Mengungkapkan telah diabaikan
 Mengungkapkan ketidakberdayaan
 Mengungkapkan penderitaan
 Ketidakmampuan berinstrospeksi
 Ketidakmampuan mengalami pengalaman religiositas
 Ketidakmampuan berpartisipasi dalam aktivitas keagamaan
 Ketidakmampuan berdoa
 Meminta menemui pemimpin keagamaan
 Perubahan yang tiba-tiba dalam praktik spiritual

2) Faktor Yang Berhubungan


 Menjelang ajal
 Ansietas
 Sakit kronis
 Kematian
 Perubahan hidup
 Kesepian
 Nyeri
 Keterasingan diri
 Keterasingan sosial
 Gangguan sosiolultural

3.3 Rencana Keperawatan


Prioritas Diagnosa Keperawatan :
Dukacita b.d antisipasi kehilangan hal yang bermakna
Diagnosa Tindakan dan Kriteria
No Intervensi Rasional
Keperawatan Hasil
1 Dukacita Setelah dilakukan 1. Kaji pengalaman 1. Untuk
tindakan keperawatan masa lalu membantu
selama 3x24 jam pasien/keluarga mengatasi
diharapkan pasien tentang kehilangan yang
berhasil mengatasi kehilangan, berarti
duka cita dengan keberadaan
kriteria hasil : system
Pasien dan keluarga pendukung, dan
akan penyelesaian
1. Menunjukkan dukacita saat ini 2. memperbaiki
kemampuan untuk 2. Ajarkan secara sadar dan
membuat karakteristik tidak sadar serta
keputusan yang proses berduka sikap pasien
bermanfaat yang normal dan terhadap
tentang kehilangan tidak normal tubuhnya sendiri
yang dirasakan 3. Untuk
2. Mengungkapkan 3. Ajarkan fase – meningkatkan

15
pikiran, perasaan, fase proses upaya berduka
dan keprcayaan dukacita, jika pada setiap
spiritual tentang perlu respons
kehilangan 4. Untuk
3. Menyatakan 4. Bantu memberikan,pen
secara verbal pasien/keluarga eriman, dan
ketakutan dan untuk dorongan
kekhawatiran mengungkapkan selama periode
tentang potensial ketakutan/kekhaw stress
kehilangan atirannya secara
4. Berpartisipasi verbal terhadap
dalam potensial
penyelesaian kehilangan,
proses dukacita termasuk dampak
5. Tidak pada unit 5. Untuk
menunjukkan keluarga memberikan
distress somatic 5. Anjurkan pasien cara
6. Mengungkapkan untuk menenangkan
perasaan tentang mengekpresikan yang tepat bagi
produktivitas, perasaan tentang pasien
kebergunaan, kehilangan
keberdayaan, dan 6. Anjurkan paien 6. Diskusi terbuka
optimisme mengidentifikasi dan jujur dapat
perasaan yang membantu klien
paling dalam dan anggota
tentang keluarga
kehilangan menerima dan
mengatasi
situasi dan
respon mereka
terhdap situasi
7. Dorong keluarga tersebut
untuk melibatkan 7. meningkatkan
klien dalam ikatan dan
rutinitas dan kesatuan
aktivitas keluarga keluarga
sebanyak
mungkin

2 Gangguan Setelah dilakukan 1. Kaji interaksi 1. Untuk


Proses tindakan keperawatan antara pasien dan meningkatkan
Keluarga selama 3x24 jam keluarga, waspada terhadap
diharapkan pasien terhadapa keakraban dan
tidak memperlihatkan potensial perilaku kebutuhan
gangguan proses merusak keluarga
keluarga dengan
kriteria hasil : 2. Ajari 2. memfasilitasi
1. Memahami keterampilan partisipasi
perubahan dalam merawat pasien keluarga dalam
peran keluarga yang diperlukan perawatan emosi
2. Mengidentifikasik oleh keluarga dan fisik pasien
oping keluarga 3. kehadiran
3. Berpartisipasi 3. Dukung keluarga keluarga dalam
dalam proses untuk menyatakan mendukung
membuat perasaan dan individu yang

16
keputusan tentang masalahnya secara menjalani
perawatan seksual verbal resusitasi
rawat inap dan/atau
4. Berfungsi untuk 4. Berikan prosedur
saling memberikan penguatan positif invasive
dukungan kepada terhadapa 4. membantu
setiap anggota penggunaan pasien uttuk
keluarga mekanisme beradaptasi
5. Mengidentifikasi koping yang dengan persepsi
cara untuk efektif stressor
berkoping secara perubahan atau
efektif ancaman yang
menggangu
pemenuhan
5. Bantu kelrga kebutuhan dalam
untuk hidup dan peran
menyelesaikan 5. untuk
konflik meminimalkan
dampak
gangguan proses
keluarga

3 Ansietas Setelah dilakukan 1. Pantau tanda dan 1. Meminimalkan


Kematian tindakan keperawatan gejala ansietas, perasaan
selama 3x24 jam sumber ansietas kekhawatiran,
diharapkan ansietas ketakutan,
kematian mereda firasat, atau
dengan kriteria hasil : perasaan tidak
1. Mempertahankan menentu yang
kenyamanan berhubungan
psikologis selama dengan sumber
proses menjelang bahaya yang
ajal diantisipasi dan
2. Mengungkapkan tidak jelas.
secara verbal 2. Berikan informasi 2. Memberikan
perasaan mengenasi informasi dan
(misalnya, marah, penyakit dan bantuan kepada
sedih, atau prognosis pasien pasien yang
kehilangan) dan membuat
pikiran denagn keputusan yang
staf perawat dan/ berhubungan
atau orang dengan
terdekat perawatan
3. Mengungkapkan 3. Berikan jawaban kesehatan.
penurunan langsung dan 3. Memberikan
perasaan ansietas jujur terhadap penenangan,
4. Mengungkapakan pertanyaan pasien penerimaan,
kekhawatiran tentang proses dan dorongan
tentang bagaimana menjelang selama masa –
kematian akan kematian masa stress
memperngaruhi 4. Dukung kebutuhan
orang terdekat spiritual tanpa 4. Membantu
5. Mengidentifikasi memaksakan pasien untuk
area control kepercayaan merasa
pribadi perawat kepada seimbang dan

17
6. Mengekspresikan pasien terhubungan
perasaan positif dengan Yang
mengenai 5. Dorong pasien Maha Kuasa
hubungan dengan untuk 5. memfasilitasi
orang terdekat mengekspresikan pengembangan
7. Meneriman perasaan kepada cara pandang
keterbatasan dan orang terdekat yang positif
mencari bantuan 6. Luangkan waktu dalam situasi
sesuai kebutuhan bersama pasien tertentu
untuk mengatasi 6. Kebersamaan
rasa takut dengan orang
ditinggal sendiri lain, baik
secara fisik dan
psikologis
7. Berikan selama masa –
kenyamanan fisika masa yang
dan keamanan dibutuhkan
7. meningkatkan
kenyamanan
fisik dan
kedamaian
8. Dorong anggota psikologi dalam
keluarga untuk fase akhir
hadir sesering kehidupan.
mungkin sesuai 8. Untuk
harapan pasien; meningkatkan
tetapinformasikan kebersamaan
mereka; dorong dengan
mereka untuk keluarga
menyentuh dan selama masa-
dekat secara fisik masa yang
dengan pasien dibutuhkan

4 Distres Setelah dilakukan 1. kaji adanya 1. Untuk


Spiritual tindakan keperawatan indicator mengidentifikasi
selama 3x24 jam langsung status kebutuhan
diharapkan pasien spiritual pasien spiritual pasien
menunjukkan 2. Agar makanan
kesehatan spiritual 2. Komunikasikan pasien sesuai
dengan kriteria hasil : kebutuhan nutrisi dengan anjuran
1. Memahami bahwa dengan ahli gizi kepercayaannya
penyakit adalah 3. memberi
suatu tantangan 3. Buat perubahan ketenangan,
terhadap system yang diperlukan penerimaan, dan
keyakinan segera untuk dukungan saat
2. Memahami bahwa membantu stress
terapi bertentangan memenuhi
dengan system kebutuhan pasien
kepercayaan 4. membantu
3. Menunjukkan 4. Jaga privasi dan pasien untuk
teknik koping beri waktu kepada merasakan
untuk menghadapi pasien untuk keseimbangan
distress spiritual mengamati dan hubungan
4. Mengungkapkan praktik dengan tuhan
penerimaan keagamaan 5. untuk

18
terhadap menumbukan
keterbatasan ikatan 5. Terbuka terhadap rasa percaya
budaya atau ungkapan pasien pada pasien
keagamaan tentang kesepian
5. Mendiskusikan dan 6. untuk
praktik dan ketidakberdayaan meningkatkan
keluahan spiritual; 6. Beri jaminan rasa
6. Pesien menjelang kepada pasien kenyamanan dan
ajal akan: bahwa perawat keamanan
a. Mengungkapk selalu ada untuk pasien
an penerimaan mendukung
atau kesiapan pasien saat pasien
menghadapi merasakan
kematian penderitaan 7. untuk
b. Berbahagian 7. Anjurkan memfasilitasi
dengan kunjungan perkembangan
hubungan pelayan spiritual psien
sebelumnya keagamaan dan kekuatan
c. Mengungkapk dalam harapan
an kasih hidup pasien
sayang
terhadap orang
terdekat

19
EUTHANASIA

KEPADA KELURGA SAYA, DOKTER SAYA, PENGACARA SAYA, PENDETA


SAYA
KEPADA SETIAP FASILITAS YANG KEBETULAN SEDANG MERAWAT SAYA
KEPADA SETIAP ORANG YANG MUNGKIN BERTANGGUNGJAWAB ATAS
KESEHATAN SAYA, KESEJAHTERAAN SAYA ATAU URUSAN SAYA.

Kematian merupakan suatu realitas, sama halnya seperti kelahiran, pertumbuhan,


kematangan dan usia lanjut – ia merupakan satu-satunya kepastian dalam hidup.
Apabila tiba saatnya dimana saya, …………… tidak dapat mengambil bagian dalam
membuat keputusan-keputusan mnegenai masa depan saya, maka hendaknya
pernyataan ini berlaku sebagai pernyataan mengenai keinginan-keinginan saya,
sementara saya masih berpikiran waras.
Seandainya timbul suatu situasi dimana menurut akal sehat saya tidak bisa diharapkan
lagi untuk dapat disembuhkan dari suatu cedera fisik atau mental, maka saya minta
agar saya diperkenankan mati dan tidak diusahakan untuk hidup lebih lama lagi
dengan menggunakan cara-cara artificial atau “upaya-upaya heroic”. Saya bukannya
tidak merasa takut menghadapi maut itu sendiri, akan tetapi saya lebih takut lagi
terhadap keaiban yang disebabkan oleh keadaan yang memburuk, ketergantungan dan
rasa nyeri yang tak memberi harapan. Oleh karena itu, saya minta agar saya diberi
pengobatan atas dasar belas kasihan untuk mengurangi penderitaan meskipun hal itu
dapat mempercepat kematian.
Permintaan ini saya buat berdasarkan pertimbangan yang masak. Saya berharap
bahwa anda yang merawat saya akan merasa terikat secara moril untuk melaksanakan
mandatnya. Saya menyadari bahwa hal ini nampaknya menempatkan tanggungjawab
yang berat di atas pundak anda, akan tetapi pernyataan ini justru dibuat dengan
maksud untuk membebaskan anda dari tanggungjawab itu dan untuk meletakkan
tanggungjawab tersebut diatas pundak saya sendiri sesuai dengan keyakinan-
keyakinan saya yang teguh.
Tandatangan……………
…………..
Tanggal……………….
Saksi ………………..

Tindakan permintaan ini telah diberikan kepada :


……………………………………
……………………………………
……………………………………

20
BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Asuhan terhadap orang yang menjelang ajal telah memasuki dimensi baru, apa yang
sebelumnya dianggap tabu telah muncul sampai tingkat sensitivitas yang meningkat dan
kesadaran akan persamaan publik dan profesional. Ada juga perubahan sosial dalam
mengenali kebutuhan unit lansia.Tidak hanya itu, dua perubahan vital ini telah memengaruhi
peran dan tanggung jawab perawat dalam memberikan asuhan yang kompeten kepada lansia
yang menjelang ajal.

4.2 Saran
Sebaiknya perawat dapat mengarahkan klien dengan kondisi menjelang ajal untuk
dapat memberikan ketenangan dan kedamaian, tidak ada lagi ketakutan untuk menjelang
ajal.

21