You are on page 1of 23

INFLUENCE THE LEVEL OF KNOWLEDGE AND ATTITUDES OF

NURSES TOWARD IMPLEMENTATION OF STANDARD OPERATING
PROCEDURES (SOP) OF INFUSION IN RS PKU MUHAMMADIYAH
BANTUL

1
Qurratul Aini, 2Muhammad Firdaus
Master of Hospital Management
Muhammadiyah University of Yogyakarta

ABSTRACT
Most of action for infusion in the emergency department. Action of
infusion more frequently performed by nurses and should be in accordance with
standard operating procedures (SOP). The occurrence of plebitis incident,
swollen, and trauma of due to repeated infusion is result of actions that do not
prioritize of the patient safety. The purpose of research is knowing influence the
level of knowledge and attitudes of nurses toward the implementation of Standard
Operating Procedures in infusion. This research used descriptive quantitative
research methods with cross sectional. The respondent of it is nurses working in
the emergency department of RS PKU Muhammadiyah Bantul. Data was
collected using a questionnaires and observation. The analytical tool used are
univariate, bivariate, and multivariate. Results is the level of knowledge most of
nurses in good category (80,00%), the attitude of most of the nurses has a good
category (53,33%) and the application of standard operating procedures infusion
majority of categories has been implemented (53,33%). There is a relationship
between the level of knowledge and the application of standard operating
procedures (p<0,05). There is a relationship between the attitude and the
application of standard operating procedures (p<0,05). The magnitude of the
influence level of knowledge and attitudes of nurses toward the implementation of
SOP for 53,4% (R Square) while the remaining 46,6% is explained by other
variables. Conclusion is there is influence between knowledge and attitude toward
the implementation of standard operating procedures of infusion in RS PKU
Muhammadiyah Bantul. The suggestion is the hospital should be providing the
instrument of infusion accordance with the principles of safety and alertness in
the application of standard operating procedures of infusion.

Keyword: Level of Knowledge, Attitude, Implementation of Standard Operating
Procedures of Infusion
1. Lecture of Master Program of Hospital Management, Muhammadiyah
University of Yogyakarta
2. Student of Master Program of Hospital Management, Muhammadiyah
University of Yogyakarta

1

PENGARUH TINGKAT PENGETAHUAN DAN SIKAP PERAWAT
TERHADAP PENERAPAN STANDAR PROSEDUR
OPERASIONAL (SPO) PEMASANGAN INFUS
DI RS PKU MUHAMMADIYAH BANTUL

1
Qurratul Aini, 2Muhammad Firdaus
Pascasarjana Manajemen Rumah Sakit
Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

ABSTRAK
Tindakan paling banyak untuk pemasangan infus adalah di Instalasi Gawat
darurat. Tindakan pemasangan infus lebih sering dilakukan oleh perawat dan
harus sesuai dengan standart prosedur operasional (SPO).Terjadinya kejadian
plebitis, bengkak, dan trauma akibat pemasangan infus yang berulang- ulang
adalah akibat tindakan pemasangan infus yang tidak mengutamakan patient
safety. Tujuan penelitian adalah mengetahui tingkat pengetahuan dan sikap
perawat terhadap penerapan Standar Prosedur Operasional dalam pemasangan
infus. Penelitian ini menggunakan penenlitian metode deskriptif kuantitatif
dengan pendekatan cross sectional. Responden dari penelitian ini adalah perawat
yang bekerja di IDG RS PKU Muhammadiyah Bantul. Data dikumpulkan dengan
menggunakan kuesioner dan observasi. Alat analisis yang digunakan adalah
univariat, bivariat dan multivariat. Hasil menunjukkan tingkat pengetahuan
perawat sebagian besar dalam kategori baik (80,00%), sikap perawat sebagian
besar mempunyai kategori baik (53,33%) dan penerapan SPO pemasangan infus
sebagian besar mempunyai kategori telah melaksanakan (53,33%). Ada hubungan
antara tingkat pengetahuan dan penerapan SPO pemasangan infus (p<0,05). Ada
hubungan antara sikap dan penerapan SPO pemasangan infus (p<0,05). Besanya
pengaruh tingkat pengetahuan dan sikap perawat terhadap penerapan SPO
sebesar 53,4% (R square) sedangkan sisanya sebesar 46,6% dijelaskan oleh
variabel-variabel lain. Kesimpulannya terdapat pengaruh antara pengetahuan dan
sikap perawat terhadap penerapan standart prosedur operational (SPO)
pemasangan infus di RS PKU Muhammadiyah Bantul. Sarannya adalah Rumah
Sakit hendaknya menyediakan instrumen pemasangan infus sesuai ketentuan serta
memperhatikan prinsip keselamatan dan kewaspadaan dalam penerapan SPO
pemasangan infus.

Kata kunci: Tingkat pengetahuan, Sikap, SPO pemasangan infus
1. Dosen Pascasarjana Program Manajemen Rumah Sakit, Universitas
Muhammadiyah Yogyakarta
2. Mahasiswa Pascasarjana Program Manajemen Rumah Sakit, Universitas
Muhammadiyah Yogyakarta

2

yang paling sering dilakukan di terutama dalam hal keterampilan rumah sakit ialah pemasangan infus. dilakukan dalam upaya dimana mereka harus memiliki meningkatkan derajat kesehatan.PENDAHULUAN dalam melakukan tugas delegasi. serta pemeliharaan dengan pengkajian. pemasangan kanula secara aseptik Infus sebagai salah satu terapi dan tepat. Pemasangan infus untuk memungkinkan setiap diinstruksikan oleh dokter tetapi penduduk mencapai kemampuan perawatlah yang bertanggung jawab hidup sehat dan produktif yang pada pemberian serta dilakukan sesuai dengan wewenang. mempertahankan terapi tersebut pada tanggung jawab dan etika profesi pasien3. tetapi pengetahuan dengan menggunakan lebih luas meliputi pemasangan alat metode pemecahan masalah yaitu akses IV. perawat 3 . Pelayanan keperawatan dapat bertindak sebagai care giver. Keterlibatan perawat dalam perencanaan (planning). sehingga mengurangi intravena merupakan prosedur yang risiko terjadinya kegagalan paling sering dilakukan di seluruh pemasangan. penyembuhan. monitoring. Oleh karena itu. Peran perawat dalam keperawatan1. perencanaan. selain itu juga harus rumah sakit di dunia2. keperawatan (nursing diagnosis). keperawatan yang berhubungan pemulihan. dan evaluasi dalam upaya pelayanan kesehatan utama pemasangan infus. dan evaluasi tanggung jawab dalam mencegah (evaluation). kesehatan dengan pelaksanaan pada implementasi. terjadinya komplikasi plebitis dan Salah satu tindakan invasif ketidaknyamanan pada pasien. perawatan. dan proses keperawatan yang meliputi yang paling penting adalah pengkajian (assesment). diagnosa pencegahan infeksi4. Peran perawat menguasai tentang regimen dalam pemasangan infus terutama pengobatan. Ciri utama pelayanan pemasangan infus bukan hanya untuk keperawatan didasari ilmu pemberian agen medikasi. pelaksanaan pemasangan infus memiliki implikasi (implementation). pengetahuan tentang bidang praktik mencegah penyakit.

didapatkan. dan komplikasi plebitis. pengelolaan komplikasi. Nursing/RCN6 memberikan standar sedangkan faktor reinforcing berupa tentang teori dan praktek terapi infus peraturan. bengkak. prinsip pengendalian terhadap suatu objek tertentu karena infeksi. Perilaku itu sendiri Operasional Prosedur (SOP) yang dipengaruhi oleh faktor sudah ditetapkan. yang paling penting Dengan pengetahuan pengetahuan yang harus dimiliki oleh perawat tersebut. Faktor enabling terdiri dari Royal College of ketersediaan sarana prasarana. anatomi fisiologi kesadaran serta sikap yang positif akses vaskuler. adalah akibat 4 . dan faktor reinforcing.harus memiliki kompetensi klinik pengetahuan. pemasangan infus. perawatan infus. penatalaksanaan. pencegahan Selain pengetahuan tentang komplikasi. penggunaan peralatan terapi kurangnya informasi yang infus. maka perawat diharapkan adalah pengetahuan tentang mempunyai critical thinking dalam keselamatan pasien (patient safety). sikap dan perilaku yang harus dikuasai oleh perawat tenaga kesehatan lain7. Kurangnya pengetahuan dan sistemik. bagaimana mencegah terjadinya Berbagai intervensi atau kerugian bagi pasien selama tindakan yang harus dilakukan untuk pengobatan dan perawatan. Salah mencegah terjadinya infeksi satu tindakan patient safety dalam nosokomial plebitis pada pasien yang penatalaksanaan infus adalah akan atau sudah terpasang infus melakukan tindakan pemasangan merupakan suatu bentuk dari infus berdasarkan Standar perilaku. faktor enabling. tradisi. dari semua aspek terapi infus5. farmakologi cairan maka perilaku tersebut akan bersifat dan obat intravena. Faktor trauma akibat pemasangan infus predisposing yaitu meliputi yang berulangulang. Terjadinya predispoding. sikap. komplikasi lokal langgeng7. dan nilai. prosedur pemasangan infus. UU. pengambilan keputusan berkaitan Pengetahuan ini berkaitan dengan dengan tindakannya. Apabila meliputi: aspek legal dan profesional perilaku didasari oleh pengetahuan.

5%10. dan Pencegahan Infeksi (PPI) Rumah Hal ini menyebabkan pasien akan Sakit PKU Muhammadiyah Bantul dirugikan. dan tidak dilakukan berkaitan dengan Pada penelitian ini. Untuk sikap menggunakan Penting bagi para petugas kesehatan indikator yang terdiri dari 3 khusunya perawat untuk mengetahui komponen pokok yaitu (1) tindakan-tindakan spesifik untuk Kepercayaan (keyakinan). (comprehension). selama insersi kateter.6% tetapi Muhammadiyah Bantul (2009)11. karena rentang waktu didapatkan angka kejadian plebitis rawat inap pasien akan bertambah sebesar 2. ide dan mencegah infeksi plebitis8. (2) Berdasarkan hasil studi Kehidupan emosional atau evaluasi pendahuluan yang peneliti lakukan di emosional terhadap suatu obyek dan IGD RS PKU Muhammadiyah (3) Kecenderungan untuk bertindak Bantul pada tanggal 4 Desember (trend to behave). Pencegahan Infeksi (PPI) Rumah Sedangkan SPO Pemasangan Infus Sakit pada tahun 2011 yaitu angka yang digunakan menurut RS PKU kejadian plebitis sebesar 0.3%9. atas standar yang telah ditetapkan Hal-hal yang oleh Menteri Kesehatan RI yaitu direkomendasikan untuk dilakukan 1. bahwa data yang peneliti ini secara bersama-sama membentuk temukan dari Tim Pengendalian dan sikap yang utuh (total attitude)7. Angka ini berada di panjang5. monitoring Sintesis (Synthesis). Memahami tangan.tindakan pemasangan infus yang tahun 2013 dari Tim Pengendalian tidak mengutamakan patient safety. pemilihan lokasi vena. penggantian infus serta balutan. kebersihan (Know). setelah didapatkan data terbaru pada 5 . Ketiga komponen 2012. Aplikasi mempertahankan teknik aseptik (Aplication). dan Evaluasi area dipasangnya infus. indikator pemasangan infus yang meliputi pengetahuan yang terdiri dari 6 mengikuti pendidikan dan pelatihan (enam) tingkatan yaitu: Tahu mengenai terapi infus. dan (Evaluation)7. Analisis (analysis). konsep terhadap suatu obyek.

Uji validitas uji reliabilitas menunjukkan bahwa menggunakan rumus korelasi nilai cronbach alfa > 0. 12 BAHAN DAN CARA . Uji validitas dilakukan pada 30 Rancangan penelitian adalah perawat pelaksana yang bertugas di cross-sectional yaitu Analitik ruang rawat jalan di RS PKU kuantitatif dengan pendekatan cross Muhammadiyah Bantul. 6 . Sebelum item pertanyaan pada tiap-tiap digunakan sebagai instrumen variabel gugur atau tidak valid penelitian. Muhammadiyah Bantul. sectional dimana data yang Pada penelitian ini peneliti bersangkutan diambil dalam waktu mengolah data dengan menggunakan bersamaan dengan alat ukur berupa komputer dengan Software kuesioner dan observasi. Populasi menganalisis data penelitian ini penelitian adalah tindakan menggunakan uji regresi logistik pemasangan infus yang dilakukan yaitu untuk menganalisa pengaruh oleh perawat yang bertugas di ruang tingkat pengetahuan dan sikap Instalasi Gawat Darurat RS PKU dengan penerapan standar SPO.60 dinyatakan andal (reliabel). sedangkan untuk Muhammadiyah Bantul.361). pertanyaan dalam karena nilai r hitung lebih kecil dari r kuesioner terlebih dahulu diuji tabel (0.60 sehingga product moment (Sugiyono11) dapat dikatakan item-item sedangkan uji reliabilitas dengan pertanyaan pada tiap variabel melihat nilai Cronbach Alpha> 0. HASIL Instrumen dalam bentuk Uji Validitas dan Reliabilitas kuesioner dan lembar observasi Hasil dari uji validitas yang disebarkan kepada responden dilakukan terhadap semua item penelitian yang terdiri dari sejumlah pertanyaan dalam penelitian ini pertanyaan dengan alternatif pilihan menunjukkan bahwa ada beberapa jawaban yang telah disusun. sedangkan hasil dari validitas dan reliabilitas. Penelitian ”Statistical Products and Solution ini dilaksanakan pada bulan Oktober Services 20” for Windows biasa 2013 di RS PKU Muhammadiyah disingkat dengan SPSS 20 for Bantul di ruang IGD RSU PKU Windows.

2%) dan paling klasifikasi yang diprediksi dengan sedikit pada kategori rendah 7 . Angka tingkat signifikan > 0.011 banyak dibandingkan kategori buruk (p<0.331 perawat kategori baik (80.0%).006 (p tidak ada.147 dengan tingkat (20. Sedangkan Hasil Analisis Univariat hasil koefesien regresi variabel Hasil penelitian menunjukkan tingkat pengetahuan menunjukkan bahwa bahwa tingkat pengetahuan nilai koefisien positif sebesar 1.05).05. Hal ini mengandung arti penerapan SPO pemasangan infus bahwa sikap mempunyai pengaruh sebagian besar mempunyai kategori terhadap penerapan SPO telah melaksanakan (53.33%).00%) lebih Hosmer and Lemeshow Goodness of banyak dibandingkan kategori buruk fit adalah 11.67%).33%) dan terakhir infus.084 yang nilainya diatas dengan penelitian mengenai tingkat 0.05 pengetahuan perawat tentang isap sehingga Ho diterima.05). Sikap nilai koefisien positif sebesar 0. Dr.295 perawat untuk kategori sangat buruk dengan probabilitas sebesar 0.0%). Hasil Analisis Multivariat tingkat pengetahuan perawat di ruang Hasil penelitian menunjukkan IGD RS PKU Muhammadiyah bahwa besarnya nilai statistik Bantul kategori baik (80.33%) pemasangan infus. Sedangkan untuk <0. Hal ini mengandung arti (20. Margono Soekarjo analisa selanjutnya. Berdasarkan Tabel 4. karena tidak ada Purwokerto sebagian besar dalam perbedaan yangnyata antara kategori tinggi (68.6. sementara itu yang tidak PEMBAHASAN melaksanakan relatif sedikit Tingkat pengetahuan perawat (46. sikap perawat sebagian bahwa tingkat pengetahuan besar mempunyai kategori baik mempunyai pengaruh terhadap (53.Variabel sikap menunjukkan kategori buruk (13.Pengujian Hipotesis klasifikasi yang diamati.00%) lebih dengan probabilitas sebesar 0.33%) kemudian diikuti kategori penerapan SPO pemasangan sangat baik (33. Hal ini berarti lendir/suction di Ruang ICU RSUD model regresi layak dipakai untuk Prof. Hasil penelitian ini sesuai signifikan 0.

sosial kurang 30 tahun 20. kategori baik 80. kategori baik tinggi sehingga diharapkan dapat 80.67% dan dinyatakan bahwa tingkat perempuan 33. yaitu tingkat pendidikan. apabila pendidikan. Apabila dilihat dihubungkan dengan jenis kelamin tingkat pengetahuan buruk yang responden.0% semuanya Apabila tingkat pengetahuan berpendidikan D3. kategori baik 80. Salah satu faktor yang dicermati tingkat pengetahuan baik berpengaruh terhadap tingkat tersebar pada perawat laki-laki pengetahuan adalah pendidikan. Namun demikian data terdiri dari laki-laki 6.67% dan usia kelamin tidak berpengaruh.5%)13.33%.0% pendidikan. pengalaman. Sementara itu untuk dengan standar prosedur yang ada. pengetahuan buruk 20.0% terdiri dari usia sosial budaya.67% dan pendidikan S1 sangat kecil yaitu 1 perempuan 13. lebih dari 35 tahun 13.0% semuanya berpendidikan D3 bisa terdiri dari laki-laki 46.33%. usia 30 ekonomi dan umur. Sementara itu pengetahuan berhubungan dengan untuk pengetahuan buruk 20.0% terdiri dari S1 6.33%. bahwa faktor-faktor yang yang Apabila tingkat pengetahuan mempengaruhi tingkat pengetahuan dihubungkan dengan usia responden. sehingga jenis sampai 35 tahun 46. informasi. Hasil ini tidak orang maka tidak dapat diambil dapat dibuat kesimpulan bahwa kesimpulan bahwa tingkat tingkat pengetahuan berhubungan pengetahuan berhubungan dengan dengan jenis kelamin. Hasil penelitian ini sebagian besar dalam kategori baik sesuai dengan pendapat Wahyunah5 merupakan sesuatu kewajaran saja7.33%.(4. Sementara itu untuk pengetahuan 8 .67% dan D3 mengambil tindakan medis sesuai 73. Hal ini menunjukkan Apabila tingkat pengetahuan bahwa sebagian besar perawat telah dihubungkan dengan tingkat mempunyai pengetahuan yang cukup pendidikan responden.0%. maupun perempuan demikian juga sehingga apabila sebagian besar tingkat pengetahuan buruk tersebar pendidikan perawat sudah cukup pada perawat laki-laki maupun tinggi maka tingkat pengetahuan perempuan.

komplikasi belasan tahun. Perawat harus memiliki pengetahuan 9 .33% dan usia 30 sampai teknik aseptik. perawatan infus. dan tetapi pada usia tertentu indikasi terapi infus. tujuan. pengelolaan komplikasi. stabilitas.buruk 20.67%. akan berikut: pengertian. penggunaan harus memiliki dasar pengetahuan peralatan terapi infus. dengan terapi infus. tingkat ditegaskan oleh RCN6. Pengetahuan Usia mempunyai peran dalam merupakan salah satu aspek penting memperoleh pengetahuan karena yang harus dimiliki oleh seorang daya ingatan seseorang itu salah perawat karena dapat mempengaruhi satunya dipengaruhi oleh umur14. 35 tahun 6. mengatakan kematangan dan kekuatan seseorang bahwa seorang perawat yang akan akan lebih matang dalam berfikir dan melakukan pemasangan atau bekerja. Seperti yang Semakin cukup usia. prinsip Seorang perawat idealnya pengendalian infeksi. keterampilan tertentu5. Hal ini akan pencegahan komplikasi. Hasil ini penyimpanan. lokal dan sistemik. interaksi.0% terdiri dari usia kurang mendalam tentang prinsip-prinsip 30 tahun 13. farmakologi ini tidak secepat ketika berusia cairan dan obat intravena. perawatan infus. pelabelan. terutama tentang prinsip-prinsip yang Pengetahuan ini harus di aplikasikan berkaitan dengan protokol dalam perilaku saat perawat pelaksanaan serta implementasi melakukan pemasangan dan untuk pencegahan komplikasi. semakin tinggi usia perawat memberikan terapi infus dengan makin tinggi pula pengetahuannya. mengindikasikan bahwa tingkat dosis dan perhitungan dan peralatan pengetahuan berhubungan dengan yang tepat sehingga dapat usia. aman kepada pasien. dan mempengaruhi dalam perilakunya. anatomi bertambahnya proses perkembangan fisiologi akses vaskuler. prosedur tentang berbagai teori yang berkaitan pemasangan infus. Makin tua usia seseorang pemberian terapi infus harus maka proses–proses perkembangan memiliki pengetahuan sebagai mentalnya bertambah baik.

dengan pendidikan dan pelatihan7. Pengetahuan yang telah meningkatkan pengetahuan dan sikap dimiliki tersebut menjadikan perawat di Kenya. Peneltian tersebut seseorang memiliki kemampuan memberikan informasi tentang untuk menggunakan materi yang pengetahuan dan sikap perawat telah dipelajari pada situasi atau dalam kaitannya dengan manajemen kondisi sebenarnya. sehingga dapat pekerjaan mereka yang sekarang atau dikatakan bahwa pengetahuan yang akan datang melalui merupakan stimuli terhadap tindakan pengembangan kebiasaan tentang seseorang. Nyeri merupakan faktor yang paling umum 10 . penerapan SPO pemasangan infus. Tindakan pemasangan infus Pengetahuan merupakan paling banyak ada di IGD dan IGD dasar untuk mengerjakan sesuatu RSU PKU Muhammadiyah Bantul atau bertindak serta terkait dengan menyelenggarakan pelayanan gawat pengalaman dan pendidikan. mengingat suatu materi yang telah pengetahuan. Pengetahuan merupakan domain Pengetahuan dapat diperoleh melalui yang sangat penting untuk proses belajar. secara terstruktur terbentuknya tindakan seseorang. dan dapat dengan melaui Pain Management menginterpretasikan materi tersebut Programme (PMP) dapat secara benar. Pengetahuan diperlukan sebagai Pelatihan merupakan proses dorongan pikir dalam menumbuhkan membantu para tenaga kerja untuk kepercayaan diri maupun dorongan memperoleh efektifitas dalam sikap dan perilaku. Seorang perawat dapat pikiran. nyeri secara optimal. kecakapan. darurat secara terus menerus selama Pengetahuan yang baik sangat 24 jam. Perawat yang bekerja di IGD mungkin sampai pada penerapan di haruslah perawat yang mempunyai lapangan sehingga pengetahuan pengetahuan dan keterampilan yang dapat berhubungan dengan baik terhadap pemasangan infus. tindakan. dipelajari sebelumnya dan Hasil penelitian Machira G et al16 menjelaskan secara benar tentang menunjukkan bahwa pelatihan objek yang diketahui. dan sikap yang layak15.

33% semuanya menerapkan SPO lebih berhasil dan berpendidikan D3.00% Sikap perawat dan perempuan 13. Sikap seseorang sikap perawat berhubungan dengan terhadap suatu obyek adalah jenis kelamin.33% dan sebagian besar mempunyai kategori perempuan 20.33%. motivasi infus muncul dari berbagai bentuk bersaing maupun kemampuan penilaian yang banyak didapatkan belajar. Sikap perawat terhadap pemasangan keterampilan analisis.33% terdiri dari S1 6.33%) kemudian diikuti buruk 13.pasien untuk mencari bantuan dari Apabila sikap perawat tenaga medis dan perawat dihubungkan dengan jenis kelamin menghabiskan sebagian besar waktu responden. Sikap perawat Apabila sikap perawat tersebut juga merupakan hasil belajar dihubungkan dengan tingkat sosial dari lingkungannya.33% semuanya adalah kategori sangat baik (33. apabila pendidikan responden maka kategori ada rekan sesama perawat yang sangat baik 33.33% PKU Muhammadiyah Bantul terdiri dari laki-laki 33. mengindikasikan bahwa ada Sikap perawat untuk kategori sangat kecenderungan sikap perawat laki- buruk tidak ada.00%.33%). 53.33%) dan perempuan. Sikap perawat baik (53.0% terdiri dari laki-laki 20. Sementara Sikap perawat di IGD RSU itu untuk sikap perawat baik 53. Sementara itu mudah maka petani tersebut juga untuk sikap perawat kategori baik akan menerapkan SPO. namun demikian tidak sikap adalah suatu bentuk evaluasi dapat diambil kesimpulan bahwa atau reaksi perasaan. kategori sangat baik kontak dengan pasien tersebut.67% dan D3 11 . Hal tersebut perasaan mendukung atau memihak sependapat dengan Robbin18 yang (favourable) maupun perasaan tidak menyatakan tidak ada perbedaan mendukung atau memihak antara laki-laki dan perempuan (unfavourable) pada obyek tersebut. laki lebih baik dibandingkan Menurut para ahli psikologis. dari pengalaman17. 33. Hasil ini terakhir kategori buruk (13. perempuan. dalam memecahkan masalah.

67%.0% terdiri dari usia mengindikasikan bahwa sikap kurang 30 tahun 13.46.33% Sementara itu untuk sikap perawat (Lampiran).67% dan tingkat kategori sangat baik 33. sehingga adanya bermacam usaha perawat sikap perawat akan pembaharuan.67% dan semuanya berpendidikan D3 ada usia 30 sampai 35 tahun 6. Apabila dilihat perawat kategori buruk 13. usia 30 perawat berhubungan dengan tingkat 12 . sedangkan sikap perawat sampai 35 tahun 33. dapat menyesuaikan diri terhadap Hasil penelitian ini berbagai perubahan.33% dan usia kategori buruk 13.67%.33%.33% semuanya lebih dari 35 tahun 6. Hasil ini dapat diambil kesimpulan bahwa sejalan dengan Siagian20 yang sikap perawat berhubungan dengan menyatakan bahwa usia terkait pendidikan.67%. Sikap dari usia kurang 30 tahun 13. ia juga akan lebih berhubungan dengan usia.33% . Sementara itu sikap dengan pendidikan lebih rendah19. Hasil ini dapat kategori baik 20.33%). baik 46.67%.67%. Sikap berpendidikan D3.33% dan perawat mempunyai tingkat usia lebih dari 35 tahun 6.0% terdiri pengetahuan buruk 6. pengetahuan buruk 13. Orang berpendidikan dengan kedewasaan dalam tinggi akan lebih rasional dan kreatif melakukan pekerjaan maupun serta terbuka dalam menerima kematangan psikologisnya. Perawat yang menunjukkan bahwa sikap perawat mempunyai pendidikan lebih tinggi kategori sangat baik mempunyai cenderung bersikap yang baik tingkat pengetahuan yang baik dibandingkan dengan perawat (33. perawat kategori cukup terdiri dari usia 30 sampai 35 tahun 13. sikap perawat berhubungan dengan Namun demikian data pendidikan S1 usia. kecenderungan sikap perawat Hasil ini mengindikasikan bahwa berhubungan dengan pendidikan. semakin tinggi usia perawat sangat kecil yaitu 1 orang maka tidak makin baik pula sikapnya. perawat kategori baik terdiri dari Apabila sikap perawat perawat dengan tingkat pengetahuan dihubungkan dengan usia responden.3% terdiri sikap perawat kategori buruk yang dari usia kurang 30 tahun 6.

kepercayaan yang selanjutnya akan yang dapat diterima oleh seorang memberikan dasar bagi yang berwenang atau yang pengembangan selanjutnya dan bertanggungjawab untuk menentukan sikap terhadap objek. hal ini dapat infus yang sesuai dengan Standar menyebabkan pelayanan diberikan Prosedur Operasional (SPO) baik di kurang baik. salah satu penerapan SPO pemasangan infus 13 . demikian menerapkan patient safety sejak pula sebaliknya semakin buruk tahun 2006 dan telah diperbaharui pengetahuan perawat maka semakin dengan diadakan pelatihan patient buruk pula sikap perawat. Semakin tinggi isu yang pernah ada adalah kejadian pengetahuan perawat maka semakin nursing error. Muhammadiyah Bantul sebagian prosedur juga lingkungan dimana besar mempunyai kategori individu berada (Instalasi Perawatan melaksanakan SPO yaitu 73. standart. Rumah sakit ini mulai baik pula sikap perawat.67%. rawat inap maupun ruang sesuai dengan pendapat Sadiman21 lainnya. safety pada tanggal 13-15 Oktober Pengetahuan yang kurang akan 2011. mempertahankan tingkat penampilan Perubahan sikap individu atau kondisi tertentu sehingga suatu dipengaruhi oleh adanya faktor kegiatan dapat diselesaikan secara internal perawat (pengetahuan dan efektif dan efisien22. kategori tidak melaksakan SPO Penerapan SPO pemasangan infus sebesar 26. Penerapan SPO motivasi) dan faktor eksternal antara pemasangan infus di IGD RSU PKU lain: adanya kebijakan. SPO sendiri merupakan tata yang menyatakan bahwa cara atau tahapan yang harus dilalui pengetahuan akan membutuhkan dalam suatu proses kerja tertentu. Hasil penelitian ini IGD.33% dan Intensif). sakit swasta yang telah memiliki Apabila dilihat dari standart ISO 2001:2008. Penerapan SPO RS PKU Muhammadiyah pemasangan infus untuk kategori Bantul merupakan salah satu rumah sangat baik dan kurang tidak ada.pengetahuan. Implementasi dari patient memberikan dampak yang negatif safety salah satunya pemasangan terhadap perawat.

asuhan keperawatan. handuk melaksanakan SPO sebanyak 26. bahwa program dengan SPO dan apabila tidak sesuai peningkatan mutu asuhan standar dapat mengakibatkan infeksi keperawatan diselenggarakan melalui dan mengancam keselamatan pasien kegiatan-kegiatan studi dokumentasi itu sendiri. RI22.34% dan antibiotik. kategori melaksanakan SPO Persiapan pemasangan infus sebanyak 73. Tindakan akibatnya rentang waktu rawat inap pemasangan infus lebih sering pasien akan bertambah panjang. Berdasarkan larutan kloril 0. Apabila meletakkan kassa yang sudah diberi pemasangan infus tidak sesuai salep serta atur pengaturan tetesan dengan SPO dapat mengakibatkan infus. gunting perban. sarung tangan steril.5%. betadine dan alkohol. memasang pemerintah tentang peningkatan perlak dibawah area inserti. persepsi pasien Apabila penerapan SPO terhadap mutu asuhan keperawatan pemasangan infus dihubungkan dan evaluasi pelaksanaan tindakan dengan jenis kelamin responden keperawatan berdasarkan SPO.yang baik berarti perawat di IGD diperhatikan oleh perawat yaitu RSU PKU Muhammadiyah Bantul melakukan komunikasi dengan telah sesuai dengan anjuran pasien atau keluarga.33%.33% terdiri dari laki- yang sering tidak diperhatikan oleh laki 40. Tindakan pemasangan infus kejadian phlebitis. dilakukan oleh perawat dan dalam Berdasarkan kebijakan dari pemasangan infus harus sesuai Depkes.67% bersih. mutu asuhan keperawatan. ulang sehingga dokter yang bertanggung jawab pasien akan banyak dirugikan mengobati pasien. bengkak. pemasangan infus kategori tidak kassa steril.00% dan perempuan 33. dan perempuan 13.33%. dan dapat saja dilakukan perawat setelah trauma akibat pemasangan infus adanya pelimpahan wewenang dari yang berulang. perawat di yaitu mempersiapkan Sementara itu untuk penerapan SPO perlak. Pelaksanaan hasil tersebut mengindikasikan pemasangan infus yang sering tidak bahwa tidak ada kecenderungan 14 . bengkok dan kantung plastik. salep terdiri dari laki-laki 13.

SPO pemasangan infus berhubungan motivasi bersaing maupun dengan pendidikan.00%. Penyebab lain 66.33% terdiri usia kurang 30 dibandingkan S1.67% semuanya lulusan usia.penerapan SPO pemasangan infus menyatakan salah satu faktor yang laki-laki lebih baik dibandingkan berpengaruh terhadap tingkat perempuan ataupun sebaliknya pengetahuan adalah pendidikan.00% dan usia lebih dari 35 15 .67% lulusan D3 dan 6. penerapan SPO pemasangan infus Penerapan penerapan SPO tidak berhubungan dengan jenis pemasangan infus akan berkaitan erat kelamin. Hasil ini tidak mengindikasikan infus dengan usia responden. bahwa penerapan SPO pemasangan kategori melaksanakan sebanyak infus lulusan D3 lebih baik SPO 73. keterampilan analisis. Dengan demikian dapat jumlah sampel perawat diambil kesimpulan bahwa berpendidikan S1 hanya satu orang. Hasil ini berbeda tahun 20.66% yang dapat menjelaskan mengapa lulusan S1. Sementara itu untuk sebagian besar tindakan dilakukan kategori tidak melaksanakan SPO perawat IGD dengan baik adalah sebanyak 26. dengan baik. Robbin18 menyatakan tidak dengan pengetahuan perawat ada perbedaan antara laki-laki dan terhadap SPO. kategori melaksanakan dalam melaksanakan pemasangan sebanyak SPO 73. Perawat IGD bertindak Berdasarkan penerapan SPO sesuai dengan langkah-langkah atau pemasangan infus dihubungkan prosedur operasional pemasangan dengan tingkat pendidikan infus yang berlaku di Rumah Sakit responden. dengan demikian perempuan dalam memecahkan secara tidak langsung penerapan masalah. Hal ini Berdasarkan data didapatkan menunjukkan bahwa jenis kelamin bahwa sebagian besar perawat IGD tidak berpengaruh terhadap telah menerapkan pemasangan infus penerapan SPO pemasangan infus.33% terdiri dari infus pada pasien. usia 30 sampai 35 pendapat Notoadmodjo7 yang tahun 40. perempuan lebih baik dibandingkan Perbedaaaan ini bisa dikarenakan laki-laki. kemampuan belajar. Penerapan SPO pemasangan D3.

dimana terdapat suatu probabilitas sebesar 0.33%. Penerapan SPO pemasangan infus demikian pula sebaliknya semakin dapat diartikan sebagai sebuah buruk pengetahuan perawat maka kinerja dari seorang perawat semakin buruk pula penerapan SPO sehingga pada penelitian ini dapat pemasangan infus.33% dan usia 30 infus kategori tidak melaksanakan sampai 35 tahun 13. Sementara itu untuk kategori melaksanakan semuanya penerapan SPO pemasangan infus mempunyai tingkat pengetahuan kategori tidak melaksanakan SPO yang baik. Hasil ini SPO 26. penerapan SPO pemasangan infus.05.00%. menyatakan bahwa makin penerapan SPO pemasangan infus bertambah umur seseorang akan kategori melaksanakan terdiri dari semakin bertambah kedewasaannya perawat dengan sikap sangat baik dan semakin menyerap informasi 33. Hasil ini dapat tinggi usia perawat makin baik pula mengindikasikan bahwa tingkat penerapan SPO pemasangan pengetahuan perawat berhubungan infusnya. semakin 20. Robbins18 menyatakan ada dengan penerapan SPO pemasangan hubungan antara umur dengan infus. Sementara itu perawat sebanyak 26. yang akan mempengaruhi kinerjanya.00%.011 atau p < keyakinan meluas bahwa 0.33% dan sikap baik 40. Lain halnya dengan menunjukkan bahwa perawat dengan Gibson23.67% terdiri dari perawat dapat mengindikasikan bahwa dengan pengetahuan kategori baik penerapan SPO pemasangan infus 6.67% dan pengetahuan yang buruk berhubungan dengan usia. Semakin tinggi pengetahuan produktifitas merosot dengan makin perawat maka semakin baik pula bertambahnya usia seseorang.67% terdiri dari usia dengan penerapan SPO pemasangan kurang 30 tahun 13. Sementara itu perawat dengan Hasil penelitian ini penerapan SPO pemasangan infus menunjukkan bahwa perawat dengan kategori tidak melaksanakan terdiri penerapan SPO pemasangan infus dari perawat dengan sikap baik 16 .tahun 13. yang ditunjukkan dengan nilai kinerja.34%. dikatakan bahwa usai berpengaruh Hasil penelitian ini juga terhadap kinerja.

33% dan sikap cukup 13. mempengaruhi penerapan SPO Penerapan pemasangan infus pemasangan infus. yang ditunjukkan yang bermaksud untuk memperbaiki dengan nilai probabilitas sebesar dan mengembangkan sikap. Latihan adalah menyatakan bahwa untuk dapat penyempurnaan potensi tenaga. Faktor pendukung yang sesuai dengan SPO dapat yaitu tersedianya sumber-sumber ditingkatkan melalui pelatihan atau sarana pelayanan kesehatan dan ataupun training.05. cepat bahwa sikap perawat mempunyai dan tepat. Diperlukan adanya hubungan dengan penerapan SPO training sebagai salah satu kegiatan pemasangan infus. Pelatihan kemudahan untuk mencapainya. keterampilan dan pengetahuan sikap perawat maka semakin baik staf sesuai keinginan instansi yang pula penerapan SPO pemasangan bersangkutan24. kemampuan maupun pembiasaan terutama terjadi dan ketrampilan yang memadai dari dalam taraf biologis. dengan standar tentunya harus ulang aktivitas tertentu.13. tetapi apabila SDM yang ada. Disamping harus selanjutnya berkembang dalam tahap pula ditunjang dengan fasilitas dan psikis maka kedua gejala itu akan sarana rumah sakit yang memadai menjadikan proses kesadaran sebagai sehingga pelayanan menjadi proses ketidaksadaran yang bersifat berkualitas dan berdampak besar biologis disebut proses otomatisme. terlaksananya pelayanan yang sesuai tenaga yang ada dengan mengulang. demikian pula sebaliknya Faktor-faktor pemungkin semakin kurang sikap perawat maka (enabling factors) merupakan salah semakin buruk pula penerapan SPO satu faktor yang dapat pemasangan infus.006 atau p < 0. Depkes RI22 keterampilan khusus7. Semakin baik laku. infus. Baik latihan didukung pengetahuan. merupakan bagian suatu proses Fasilitas adalah sarana untuk pendidikan yang bertujuan untuk melancarkan pelaksanaan fungsi meningkatkan kemampuan atau kemudahan. Proses tersebut menghasilkan Hasil ini dapat mengindikasikan tindakan yang tanpa disadari. tingkah 0.33%. terhadap citra pelayanan rumah sakit 17 .

namun apabila tangkap dan ingatan terhadap suatu tingkat pengetahuan menurun maka materi).yang pada akhirnya dapat prosedur tindakan7. Terdapat enam penelitian Bird dan Wallis26 tingkatan pengetahuan. dapat diperoleh melalui proses Pengetahuan. Hal ini Berdasarkan uji koefisien. Jadi. analisis.maka pelayanan dengan tingkat kepatuhan mengikuti kesehatan sudah dapat prosedur tindakan. Hasil juga akan menurun. Apabila pengetahuan yang baik sangat rumah sakit sudah memberikan mungkin harus sampai pada pelayanan sesuai dengan penerapan di lapangan sehingga pengetahuan dan standar yang telah pengetahuan dapat berhubungan ditetapkan.05). yaitu tahu. sikap perawat dan belajar. bekerja dengan baik tetapi dalam dimiliki responden dapat termasuk pengambilan keputusan klinis kurang dalam salah satu tingkat pengetahuan cepat. tingkat 0.011 atau p < 0. 18 . aplikasi. kesehatan tingkat pengetahuan meningkat maka fisik terutama kesehatan panca indra. menunjukkan para perawat memiliki memahami. penerapan SPO pemasangan infus usia (berhubungan dengan daya juga akan meningkat. Nilai koefisien pendidikan (semakin tinggi regresi pada sikap perawat (1. secara terstruktur dengan penerapan SPO pemasangan infus pendidikan dan pelatihan.331) pendidikan seseorang semakin tinggi adalah positif sehingga apabila pula pengetahuannya). sintesis basis pengetahuan yang baik dapat dan evaluasi. Pengetahuan dipertanggungjawabkan. memuaskan masyarakat. dan media masa/buku penerapan SPO pemasangan infus (sebagai sumber informasi). sesuai dengan teori yang analisis regresi logistik tingkat diungkapkan oleh Keraf25 bahwa pengetahuan mempunyai pengaruh secara umum pengetahuan seseorang signifikan terhadap penerapan SPO dipengaruhi oleh pengalaman hidup pemasangan infus (probabilitas = (pengetahuan sejati). Perawat yang memiliki tersebut sesuai tingkat pertanyaan pengalaman cenderung lebih cepat pada variabel pengetahuan tentang dalam pengambilan keputusan klinis. Pengetahuan yang.

kerendahan hati selalu dibutuhkan pada situasi (humility). keberanian. Perubahan menunjukkan ada hubungan yang sikap dapat disebabkan oleh faktor lemah antara pengetahuan dan adanya imbalan dan hukuman kinerja. namun apabila sikap diri secara fisik.295) semula28. Nilai koefisien bagi individu yang mengubah sikap regresi pada sikap perawat (0. Sikap adalah keadaan mental dan demikian halnya dengan pemasangan saraf dan kesiapan yang diatur infus yang sesuai dengan penerapan melalui pengalaman yang SPO. stimulus mengandung perawat mempunyai pengaruh harapan bagi individu sehingga dapat signifikan terhadap penerapan SPO terjadi perubahan dalam sikap serta pemasangan infus (probabilitas = stimulus mengandung prasangka 0. tidak berat sebelah. dan perawat menurun maka penerapan spiritual untuk merawat orang yang SPO pemasangan infus juga akan mengalami penyakit kritis. sikap hukuman. Sikap profesional perawat keperawatan khususnya di IGD dapat dilihat dari kemampuannya membutuhan kemampuan untuk dalam menerapkan karakteristik menyesuaikan situasi kritis dengan sikap profesional yaitu mandiri kecepatan dan ketepatan yang tidak dalam berpikir. dimana individu mengasosiasikan Berdasarkan uji koefisien reaksinya yang disertai imbalan dan analisis regresi logistik.Hasil penelitian tersebut berkaitan dengannya. berkenaan dengan kondisi pasien. memberikan pengaruh dinamis atau Hasil penelitian ini juga terarah terhadap respon individu menunjukkan bahwa terdapat pada semua obyek dan situasi yang pengaruh tingkat pengetahuan dan 19 . Asuhan menurun. dan dapat mengambil sikap yang tepat eksplorasi pikiran dan perasaan27.05). Perawat harus empati.006 atau p < 0. harus dapat mengaktualisasikan meningkat. keperawatan lain. Perawat sebagai tenaga adalah positif sehingga apabila sikap ujung tombak dan berhubungan perawat meningkat maka penerapan langsung dengan pasien selama 24 SPO pemasangan infus juga akan jam. ketekunan. emosional.

Faktor kejenuhan tertentu. sikap dan organisasi dan staf dari mal praktek persepsi yang baik terhadap prosedur atau kesalahan administrasi lainnya tindakan.4% (R square) SPO sendiri merupakan tata sedangkan sisanya sebesar 46. Adanya SPO ini perawat atau frustasi terhadap sistem yang dapat menjaga konsistensi dan ada atau adanya pekerjaan yang tingkat kinerja petugas atau tim kurang variasi berdampak pada dalam organisasi atau unit.6% cara atau tahapan yang dibakukan dijelaskan oleh variabel-variabel lain dan yang harus dilalui untuk diluar variabel bebas yang digunakan menyelesaikan suatu proses kerja dalam penelitian. SPO sebesar 53. pengetahuan. agar penurunan produktivitas18. memperjelas alur tugas. melindungi motivasi. 20 .sikap perawat terhadap penerapan penghargaan dan kesejahteraan yang SPO pemasangan infus. keraguan. terjadi kejadian diluar perkiraan perawat baru terutama dalam maka perawat tersebut tidak begitu pemasangan infus. meningkatan kesadaran untuk patuh wewenang dan tanggung jawab dari rnaupun meningkat dari segi petugas terkait. Perawat mengetahui dengan jelas peran dan yang bekerja di IGD secara terus fungsi tiap-tiap posisi dalam menurus tidak secara otomatis organisasi. Selain itu lama kerja dan untuk menghindari merupakan salah satu indikator kegagalan/kesalahan. Penerapan tingkat kewaspadaan. mentransfer nilai-nilai positif dalam Apabila perawat telah memenuhi memberikan pelayanan keperawatan SPO pemasangan infus maka apabila kepada pasien kepada perawat. pengalaman dan mempengaruhi duplikasi dan inefisiensi. Disamping itu saja dapat disalahkan. Besarnya dirasakan perawat tidak begitu pengaruh tingkat pengetahuan dan berpengaruh terhadap penerapan sikap perawat terhadap penerapan SPO pemasangan infus.Penerapan SPO SPO pemasangan infus tidak saja pemasangan infus di IGD termasuk melindungi pasien tetapi juga dalam kategori baik hal ini ada melindungi perawat dari kesalahan perawat senior bersedia untuk ataupun keselamatannya sendiri.

K. Buku Muhammadiyah Bantul. HR. Aditi. Scales. Penelitian Kesehatan. (2010). Rev. (2011). 23 (33). Notoadmojo (2010). EGC. Gaffar. Saku Keterampilan dan Prosedur Angka Kejadian Flebitis Di Dasar. Therapy: The Legal And 21 . 1. UI. London. Metodologi Keperawatan Professional. Ed. Uslusoy. Samiye. Rineka Cipta. Tim PPI RS PKU 3. 172-80. AA. Predisposing factors to phlebitis Amarullah. (2009). Edisi 5. LJ. Tesis di RS PKU Muhammadiyah Bantul. Jakarta. Bandung. operational (SPO) pemasangan infus (2005). Practitioners 20. Hubungan standart prosedur operational (SPO) Pengetahuan Perawat tentang pemasangan infus di RS PKU Terapi Infus dengan Kejadian Muhammadiyah Bantul. RCN IV Therapy DAFTAR PUSTAKA Forum. in patients with peripheral Pengetahuan Dan Sikap intravenous catheters: A Mahasiswa Akper Terhadap descriptive study. Agustina.KESIMPULAN Professional Aspects Of Practice Pengetahuan perawat Nursing Standard. 9. 4 (Apr 2008): Universitas Padjajaran. Perry dan Potter (2005). Instalasi Gawat Darurat RS PKU 4. Wahyunah (2011). 2. Standard for Infusion di RS PKU Muhammadiyah Bantul. Esin & Mete. Plebitis danKenyamanan Pasien Sikap perawat terhadap di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit penerapan standar prosedur Umum Daerah (RSUD) operational (SPO) pemasangan infus Kabupaten Indramayu. 51-57. Therapy. Journal of the Pencegahan Infeksi Nosokomial American Academy of Nurse Flebitis. Jakarta. (1999). 8. Magister Ilmu Keperawatan. terhadap penerapan standart prosedur 6. SG. Pengetahuan dan sikap perawat Jakarta. Pengantar 7. berpengaruh terhadap penerapan 5. Hasil Penelitian. Royal College of Nursing. Jakarta EGC. Intravenous Muhammadiyah Bantul.

Jakarta. Machira G. Praeger Publisher.E Osgood. ‘Aplikasi Analisis Palliative Nursing. Selected Paper of C. S. A (2002).B. Manajemen 20.10. Paryanti S. PT Raja 14. Impact of 129/Menkes/SK/II/2008 Tentang an Educational Pain Management Standar Pelayanan Minimal Programme on Nurses’ Pain Rumah Sakit Menteri Kesehatan Knowledge and Attitudes in Republik Indonesia. Pemanfaatannya. Melaksanakan Prosedur Tetap Jakarta. Grafindo Persada. Maltis. Republik Indonesia. Badan Penerbit Meaning. Praktik Keperawatan Profesional. PT Rineka Cipta. No. Haryati W dan York. Siagian. Robbins. Nursalam. Vol 19. No 7. Ghozali. Semarang. Kerja. New 12. 2008. Kariuki H and Indonesia Nomor : Martindale L. Sadiman. Osgood. Meningkatkan Produktivitas Volume 2. Manajemen Tenaga Kerja 21. I 2005. S. dengan Ketrampilan Macanan Jaya Cemerlang.P. Menteri Kesehatan Republik 15. Media Keperawatan: Aplikasi dalam Pendidikan Pengertian. Hubungan 17. Perilaku Tingkat Pengetahuan Perawat Organisasi. (2013). Jakarta. Kiat Soedirman Journal of Nursing). Robert. (1995).P. Jakarta. Keputusan Menteri Kesehatan Administrasi dan Operasional. Keperawatan Soedirman (The 19.1. Hartati. Jakarta: Salemba. C (1990). (2002). Depkes RI. Bumi Aksara. and Culture: The Universitas Diponegoro. (2007). Multivariate dengan program 16. Salemba Medika. Isap Lendir / Suction di Ruang 18. ICU RSUD Prof. (2000). Kenya. Edisi Lengkap. Language. (2007). (2002). Jakarta. SPSS’. Jurnal Manusia. Tzeng. Pengembangan dan edk 1. 13. S. International Journal of 11. Margono Manajemen Sumber Daya Soekarjo Purwokerto. Edited by Oliver C. Sastrohadiwiryo. Poko-pokok Indonesia : Pendekatan Pemantapan dan Pengembangan 22 . Dr. (2006).

Keraf. California. Nilai. 22. 25. Jakarta. Kozier and Oliveri. 522–531. Hidayat. Keperawatan. Bird and Wallis (2002). A. Jakarta. Darajat. Salemba Medika. J. Erlangga. Organisasi: Perilaku.. Addison Wesley Publishing Company. 27. 23. (2000). Gramedia. Nursing Knowledge and Assessment Skills in The Management of Patients Receiving Analgesia Via Epidural Infusion. UI. Jakarta. Proces and Practice. (1995) Fundamental of Nursing: Concepts. S (2001). (2005). A (2004). inc. Proses. R. Peristiwa Tentang Hubungan Antara Ilmu Pengetahuan dan Etika. Journal of Advanced Nursing. 40(5). Struktur. Pengantar Konsep Dasar Asuhan 23 . Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Kinerja Tenaga Pengajar dalam Proses Pembelajaran di Dua Akademi Keperawatan Swasta di Kabupaten Serang Tahun 2005. Fakta. Sistem Informasi Kesehatan. Jakarta: Tesis. Jakarta. 24. Gibson. Program Pascasarjana Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat. 26.