You are on page 1of 42

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kehadiran mahasiswa dalam ranah politik bukanlah hal yang baru dibangsa

ini, eksistensi kehadiran mahasiswa dalam ranah politik kebangsaan dapat kita

pelajari dari garis sejarah kebangsaan yang menempatakan mahasiswa ikut

berpatisipasi mulai dari pra kemerdekaan Negara Indonesia hingga kemudia Negara

Indonesia sudah merdeka mahasiswa tetap menunjukan eksistensinya untuk

mengawal perpolitikan kebagsaan demi mewujudkan cita-cita Negara republic

Indonesia, sebut saja peristiwa-peristiwa seperti hari Kebangkitan Nasional yang

diperingati setiap tanggal 20 mey untuk memperingati hari lahirnya organisasi Budi

utomo sebagai organisasi yang dibentuk oleh para pelajar dari sekolah tinggi Stovia

Di Jakarta.

Peristiwa sumpah pemuda yang di pelopori oleh mahasiswa yang tergabung

dalam PPPI pada 28 Oktober 1928, peristiwa penculikan Soekarno-Hatta pada tangga

16 agustus 1945 yang di dalangi oleh sahril, wikana dkk, untuk mendorong

percepatan proklamasi kemerdekaan Negara Indonesia, peristiwa runtuhnya rezim

orde lama pada tahun 1966 yang melibatkan Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia,

serta momen yang paling bersejarah bagi bangsa ini adalah lahirnya era Reformasi

yang ditandai dengan runtuhnya Rezim Orde Baru yang dalangi oleh mahasiswa yang

1
kemudian berhasil menduduki Gedung DPR-RI dan Memaksa Soeharto untuk

melepaskan jabatan sebagai Presiden pada tanggal 20 mey 1998.

Era Reformasi melahirkan berbagai macam pencapaian yang luar biasa yakni

lahirnya otonomi daerah, lahirnya era demokrasi yang bebas dan bertanggung jawab,

hingga yang paling fenomenal adalah terjadinya amandemen UUD 1945 sebaganyak

empat (4) kali1. Melalui gambaran peristiwa-peristiwa diatas maka dapat kita menarik

suatu benang merah bagaimana fenomena gekarakan mahasiswa untuk

mengkonsolidasi dan mengorganisir diri serta kelompok-kelempok mereka kepada

suatu bentuk gerakan sosial yang secara lansung atau tidak lansung mempengaruhi

gerak roda pemerintahan bangsa ini yang mengidentikan mahasiswa sebagai Agen of

sosial control.

Berdasarkan hal tersebut maka secara tidak lansung gerakan sosial yang

dilakukan oleh mahasiswa juga merupakan bentuk partisipasi poltik secara aktif

seperti yang disampaikan oleh Ramlan Surbakti yang menyatakan bahwa partisipasi

politik terbagi menjadi dua yaitu partisipasi aktif dan pasrtisipasi pasif. Partisipasi

aktif adalah mengajukan usul mengenai suatu kebijakan umum, mengajukan alternatif

kebijakan umum yang berlainan dengan kebijakan yang dibuat pemerintah,

mengajukan kritik dan perbaikan untuk meluruskan kebijakan, membayar pajak dan

memilih pemimpin pemerintah. Sebaliknya, kegiatan yang termasuk dalam kategori

partisipasi pasif berupa kegiatan-kegiatan yang menaati pemerintah, menerima, dan

1
Arbi Sanit, 2014. Sistem Politik Indonesia: Kestabilan, Peta Kekuatan Politik, dan Pembangunan.
Jakarta:PT. Raja Grafindo Persada

2
melaksanakan saja setiap keputusan pemerintah2. Seperti yang disampaikan oleh

Ramlan Subakti, sehingga korelasi anatara konsolidasi gerakan sosial yang dipolopori

serta didalangi oleh mahasiswa itu sendiri merupakan bertuk partisipasi aktif secara

politik karena ikut mempengaruhi kebijakan pemerintah atau pemimpin dalam

Negara Indonesia.

setelah berkembangnya jaman bertuk partisipasi politik atau keterlibatan

mahasiswa dalam ranah politik kebangsaan juga ikut menyesuaikan diri sesuai

dengan kebutuhan, situasi dan keadaan sosial yang dihadapi oleh bangsa Indonesia.

jika sebelum pra kemerdekaan banyak dari kalangan pelajar atau kaum muda

membentuk oraganisasi baik dari kalangan mahasiswa atau kaum muda di bentuk

untuk mewujudkan kemerdekaan dalam hidup bernegara, maka untuk hari dalam

hidup dinegara yang sudah berhasil memerdekakan dirinya dari penjajahan secara

fisik maka gerak politik atau partisipasi politik kaum intelektual muda juga

disesuaikan dengan situasi dan kondisi bangsa salah satunya adalah untuk

mewujudkan cita-cita kebangsaan yang telah diperjuangkan sebelumnya.

Pergeseran gerak partisipasi politik mahasiswa dalam hidup bernegara juga

bisa kita lihat dengan diberlakukanya Keputusan Direktur Jendral Pendidkan Tinggi

Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 26/Dikti/Kep/2002

Tentang Pelarangan Organisasi Ekstra Kampus Atau Partai Politik Dalam Kehidupan

kampus, yang pada penetapanya berbunyi Melarang segala bentuk organisasi ekstra

2
Ramlan Surbakti, 2007.Memahami Ilmu Politik, Jakarta: PT. Gramedia Widisarana Indonesia,
2007, hal 142

3
kampus dan Partai Politik membuka Sekretariat (Perwakilan) dan atau melakukan

aktivitas politik praktis di kampus, yang pada intinya melarang politik praktis masuk

kedalam kampus3.

Dengan diberlakukanya Keputusan Direktur Jendral Pendidkan Tinggi

Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 26/Dikti/Kep/2002,

maka secara tidak lansung pemerintah membentengi diri dari keterlibatan politik aktif

mahasiswa dalam hubungan antara Negara dan kampus itu sendiri sebagai wadah

mencetak para intelektual muda yang kelak akan mewarisi kepemimpinan dinegara

Indonesia. hal tersebut berdampak pada konteks sosial budaya politik mahasiswa

yang pada dasarnya masih dipengaruhi oleh bentukan-bentukan sejarah dari

keberadaan kaum iltektual muda dipergolakan politik kebangsaan yang memang

partisipasi tersebut telah banyak menciptakan hal monumental dan fudalmental bagi

bangsa dan Negara.

Mahasiswa dengan keputusan tersebut memang sudah tidak bisa terlibat

kedalam politik praktis atau memabawa organisasi yang terlibat kedalam politik

praktis kedalam kampus, akan tetapi berbagai macam organisasi-organisasi yang

telah ada terdahulu baik yang berskala nasional (Patenbayan) atau local (Paguyuban)

masih tetap melakukan aktifitas dilingkungan kampus meskipun secara kelambagaan

diinternal kampus sudah tidak lagi mendapatkan tempat. Secara kelembagaan kampus

juga memiliki organisasi secara internal yang kemudian dibentuk kedalam tiga

3
Sumber Referensi: kelembagaan.ristekdikti.go.id/.../SKDirjen26-DIKTI-Kep-
2002LaranganOrganisasiKa. Diakses pada hari Senin, Tgl 19 Agustus 2018.

4
tingkatan sesuai dengan Keputusan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan Republik

Indonesia Nomor 155/U/1998 Tentang Pedoman Umum Organisasi Kemahasiswaan

Di Perguruan Tinggi Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan, BAB II Pasal 3 (3) yang

berbunyi Organisasi kemahasiswaan intra perguruan tinggi dibentuk pada tingkat

perguruan tinggi, fakultas dan jurusan4.

Dengan diberlakukanya Keputusan Direktur Jendral Pendidkan Tinggi

Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 26/Dikti/Kep/2002

tersebut secara otomatis ruang aspirasi politik mahasiswa untuk bisa melatih diri

dalam hal kepemimpinan dan kecakapan politik sesuai dengan tujuang pendidikan

tinggi pada UU RI Nomor 12 Tahun 2012 tentang pendidikan tinggi pasa 5 poin (a)

yang berbunyi berkembangnya potensi Mahasiswa agar menjadi manusia yang

beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia, sehat,

berilmu, cakap, kreatif, mandiri, terampil, kompeten, dan berbudaya untuk

kepentingan bangsa5.

Kemudian dengan diberlakukanya Kepmendikbud RI No 155 Tahun 1998

secara Otomatis Aktivitas Politik Mahasiswa secara legal menjadi terfokus kedalam

Perguruan Tinggi yang kemudian juga terbagi ditingkat perguruan tinggi ada Badan

Eksekutif Mahasiswa, Tingkat Fakultas ada Senat Mahasiswa (SENMA), ditingkat

Jurusan atau Program Studi ada Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) atau

4
Sumber Referensi: Situs Fakultas Teknologi Industri, Institusi Teknologi Bandung, 2015.
Kepmendikbud RI No 155 Tahun 1998 (www.fti.itb.ac.id/.../Kepmendikbud-RI-no.-155-
tahun-1998-tentang-Pedoman-Umum). Diakses pada hari Senin, Tgl 19 Agustus 2018.
5
Sumber Referensi:.https://unnes.ac.id/wp-content/uploads/uu-12-2012.pdf. Diakses pada hari Senin,
Tgl 19 Agustus 2018.

5
Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS). Hal tersebut dikarenakan untuk

kepentingan melatih kecakapan kepemimpinan seorang mahasiswa sebagai regenerasi

yang akan memipin bangsa Indonesia dengan system demokrasi yang sedang

berjalan.

Akan tetapi jurang yang tercipta dengan dikeluarkanya Keputusan Direktur

Jendral Pendidkan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia

Nomor 26/Dikti/Kep/2002 Tentang Pelarangan Organisasi Ekstra Kampus Atau

Partai Politik Dalam Kehidupan kampus6, sudah terlalu lebar untuk memisahkan

mahasiswa dengan politik dalam artian bukan hanya menjadi benteng terhadap

kegiatan politik mahasiswa di dalam kampus dan diluar kampus akan tetapi juga

meningkatkan apatisme politik mahasiswa itu sendiri.

Dalam hipotesis awal yang ditemukan dilapangan tepatnya di lingkungan

Universitas Negeri Gorontalo pada pemilihan presiden BEM Universitas Negeri

Gorontalo Periode 2018 s/d 2019 memberikan gambaran terhadap tingkat apatisme

mahasiswa yang sangat tinggi, dimana daftar pemilih tetap (DPT) yang terdaftar

dengan jumlah mahasiswa yang ikut memilih atau berpartisipasi itu sangat jauh

menurut data DPT jumlah pemilih 18.8407 mahasiswa yang ikut berpartisipasi

berjumlah 9.332 pemilih yang terbagi atas surat suara sah yang berjumlah 8.047,

6
Sumber data Situs Direktorat Jendral. 2018. Keputusan Direktur Jendral Pendidkan Tinggi
Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 26/Dikti/Kep/2002 Tentang
Pelarangan Organisasi Ekstra Kampus Atau Partai Politik Dalam Kehidupan kampus
(kelembagaan.ristekdikti.go.id/.../SKDirjen26-DIKTI-Kep-2002LaranganOrganisasiKa).
Diakses Pada Hari Senin, Tgl 19 Agustus 2018.
7
Sumber data PUSTIKOM Universitas Negeri Gorontalo, Diambil pada hari Selasa, Tgl 20 Agustus
2018

6
surat suara tidak sah 1.080, serta surat suara rusak berjumlah 2118. Dari data tersebut

menunjukan ada lebih dari sebagian mahasiswa yang tidak ikut berpartisipasi sesuai

dengan jumlah DPT pada pemilihan BEM UNG Tahun 2018. Bahkan dari data

temuan awal dilapangan ada Fakultas yang kemudian tidak ada satu (1)

mahasiswanya ikut berpartisipasi yaitu dari Fakultas Tehnik,

Ditidak lanjuti juga dengan wawancara awal kepada beberapa mahasiswa

yang ikut berpartisipasi atau pemilih yang mengetahui secara jelas prosfek dari bakal

calon yang dipilihnya dalam artian terk rekod serta visi-misi bakal calon dll, seperti

wawacara kepada narasumber atas nama Joko dari Dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis

yang menyapaikan bahwa “saya memilih kandidat dari nomor 2 (dua) dari Fakultas

Hukum karena menurut senior kami fakultas ekonomi memiliki hutang budi terhadap

Fakultas Hukum waktu Fakultas ekonomi naik sebagai presiden BEM dan secara

pribadi sebenarnya saya tidak terlalu mengenal masing-masing kandidat itu sendiri”.

Wawacara lainya dengan mahasiswa yang tidak menggunakan hak suaranya atas

nama Hidjra yang menyatakan bahwa “ saya sengaja tidak ikut berpartisipasi karena

saya merasa tidak berkepentingan terhadap hal tersebut dan saya juga tidak

mengenal bakal calon dari presiden BEM UNG”.

Pada pembahasan diatas narasumber pertama termasuk pada pemilih yang

bersifat pasif karena yang hanya mengikuti ajakan seniornya tanpa melakukan

pertibangan terhadap bakal calon yang dipilihnya, pendapat tersebut berdasarkan

8
Sumber Data Dokumentasi KPL BEM UNG tahun 2018, Diambil pada hari Senin, Tgl 19 Agustus
2018

7
pada pendekatan Ramlan Subakti (2013:142) yang Menyakatan partisipasi politik

terbagi menjadi dua yaitu partisipasi aktif dan pasrtisipasi pasif. Partisipasi aktif

adalah mengajukan usul mengenai suatu kebijakan umum, mengajukan alternatif

kebijakan umum yang berlainan dengan kebijakan yang dibuat pemerintah,

mengajukan kritik dan perbaikan untuk meluruskan kebijakan, membayar pajak dan

memilih pemimpin pemerintah. Sebaliknya, kegiatan yang termasuk dalam kategori

partisipasi pasif berupa kegiatan - kegiatan yang menaati pemerintah, menerima, dan

melaksanakan saja setiap keputusan pemerintah9.

Sedangkan narasumber kedua menunjukan sikap apatisme dengan tidak ingin

terlibat untuk memberikan hak suara hal tersebut didasarkan pada pendekatan Samuel

L. Long (Dalam Nurhasim, 2014) yang menyatakan bahwa Dimensi partisipasi tidak

lagi tunggal, paling tidak ada tiga mode yang dapat dilihat dari partisipasi politik

yaitu apatis (apathetics) adalah orang-orang yang menarik diri dari politik, penonton

(spectators) adalah orang-orang minimal terlibat dalam politik, dan gladiator sebagai

orang-orang yang aktif terlibat dalam partisipasi10.

Dengan melihat kepada kenyataan diatas yang seharusnya jumlah pengguna

hak suara pada pemilihan presiden BEM di UNG tahun 2018 berdasarkan DPT

harusnya mencapai angka yang mendekati jumlah maksimalnya itu tidak terealisasi,

dengan data temuan awal diatas maka akan melahirkan beberapa indikasi masalah

9
Ramlan Surbakti, op.,cit.hal 142
10
Nurhasim, 2014. Partisipasi Pemilih Pada Pemilu 2014: Studi Penjajakan
(www.kpu.go.id/.../Partisipasi _Pemilih_ pada_Pemilu_2014_Studi_Penjajakan.pd).
Diakses hari Kamis, tanggal 1 Februari 2018. Pukul 02:00

8
yang kemudian menjadi penyebab dari kurangnya jumlah partisipasi pemiliha pada

pemilihan presiden BEM di UNG tahun 2018. Mulai dari tingkat kesiapan

penyelenggaraan Komisi Pemilihan Lansung (KPL) BEM yang kurang maksimal

dalam hal ini Kurangnya Sosialisasi sampai kampanye bakal calon termasuk

kurangnya kordinasi secara horizontal (Organisasi Mahasiswa Internal Kampus)) atau

secara vertical (Pihak Birokrasi Kampus) oleh pihak pelaksana penyelenggara KPL

BEM, yang berikutnya adalah menyangkut dengan meningkatnya apatisme

mahasiswa terhadap politik dilingkungan kampus, termasuk kepada adanya

kemungkinan intervensi organisasi baik intra atau ekstra kampus untuk mengatur hak

pilih mahasiswa yang terlibat kedalamnya sebagai bagian dari kelompok yang

berkepentingan dalam pertarungan politik tersebut.

Dengan mencermati masalah dilapangan dan dengan beberapa indikasi yang

menyebabkan hal tersebut maka secara politik mulai dari menyangkut dengan

tingginya apatisme mahasiswa dan kurang maksimalnya kesiapan atau kerja panitia

pelaksana kegiatan (KPL) serta indikasi intervensi pengaruh organisasi-organisasi

internal atau eksternal terhadap hak pilih anggotanya untuk menggunakan atau tidak

hak pilihnya. Kesemua masalah dan indikasi penyebabnya secara politik bisa dikaji

atau dianalisi melalui pendekatan Strategi Mobilisasi Pemilih pada pemilihan

Presiden BEM UNG tahun 2018, dengan menggunakan pendekatan tersebut

diharapkan kita mampu mengkaji serta menganalisis penyebab serta solusi dari

masalah yang telah dijelaskan pada paragraf diatas.

9
Mobilisasi politik menurut Prof. Dr. Damsar (254:2015) merupakan proses

pengerahan massa dalam proses-proses politik. Lebih lanjut dalam referensi yang

sama Prof. Dr. Damsar juga mengutarakan bahwa pengarahan massa dilakukan dalam

rangka melakukan pemilihan, pengangkatan, dan penetapan sehingga seorang atau

sekelompok orang menduduki jabatan politik atau pemerintahan, maka mobilisasi

tersebut dikategorikan sebagai rekrumen politik11. Sehingga pedekatan mobilisasi

politik untuk mengkaji atau menganalisis masalah diatas dibutuhkan karena memiliki

relevansi yang dengan obejek yang dikaji sesuai dengan focus serta locus dari

penelitian.

Sehingga untuk mengkaji atau menganalisis serta untuk menciptakan solusi

terhadap masalah kurangnya partisipasi pemilih dari jumlah DPT yang terdaftar

sebagai mahasiswa aktif, hingga apatisme politik mahasiswa serta adanya fakultas

yang mahasiswanya tidak ada yang berpartisipasi, Maka dibutuhkan suatu tindak

lanjut yang sesuai dengan masalah yang ditelah dibahas diatas. Dengan penjelasan

tersebut maka dibutuhkan penelitian tetang mobilisasi pemilih pada pemilihan

presiden BEM UNG Periode 2018 s/d 2019. Berangkant dengan penjelasan tersebut

maka penulis melakukan penelitian dengan judul “Analisis Mobilisasi Pemilih Pada

Pemilihan Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Negeri Gorontalo

Periode 2018 s/d 2019”.

11
Prof. Dr. Damsar. 2015. Pengantar Sosiologi Politik. Kencana:Jakarta

10
B. Indentifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, maka penulis dapat melakukan identifikasi

masalah untuk memperjelas focus dari penulisan ini, yaitu sebagai berikut :

1. Jumlah pemilih yang memilih hanya sebagian dari jumlah daftar pemilih tetap

2. Tingginya tingkat apatisme politik mahasiswa

3. Adanya pengaruh kelompok kepentingan (organisasi intra atau ekstra kampus)

dalam melakukan mobilisasi pemilih pada pemilihan presiden BEM UNG 2018.

C. Batasan Masalah

Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah diatas maka penulis dapat

melakukan pembatasan terhadap terhadap locus dan focus dari penulisan dan

penelitian ini, yaitu sebagai berikut :

1. Focus Penelitian yaitu menyangkut dengan mobilisasi pemilih pada pemilihan

presiden BEM Universitas Negeri Gorontalo tahun 2018.

2. Locus Penelitian yaitu berada pada ruang lingkup Universitas Negeri Gorontalo.

D. Rumusan Masalah

Berdasarkan pada latar belakang serta identifikasi masalah sebelumnya maka

penulis dapat memfokuskan rumusan masalah yang kemudian akan menjebatani

focus dari pembahasan, yaitu sebagai beriku :

1. Apa yang melatar belakangi tingginya apatisme politik mahasiswa Pada

pemilihan Presiden BEM Universitas Negeri Gorontalo periode 2018 s/d 2019?

11
2. Bagamanakah peran KPL BEM dalam melakukan mobilisasi pemilih pada

pemelihan presiden BEM Universitas Negeri Gorontalo Periode 2018 s/d 2019?

3. Bagaimanakah pengaruh kelompok kepentingan (organisasi intra dan ekstra

kampus, Serta KPL BEM) dalam melakukan Mobilisasi Pemilih Pada pemilihan

presiden BEM Universitas Negeri Gorontalo tahun 2018?

E. Tujuan Penelitian

Sesuai dengan latar belakang dan rumusan masalah diatas maka penulis dapat

memberikan gambaran tentang tunjuan dari penelitian yang akan menjadi tolak ukur

dari ketercapaian penulisan ini, yaitu sebagai berikut:

1. Untuk menguraikan secara deskritif penyebab dari timbulnya masalah serta sejauh

mana kosekuensi logis dari masalah yang telah dijelaskan pada penelitian yang

dimaksud.

2. agar dapat menemukan solusi dan menyiapkan langkah-langkah strategis untuk

menghadapi masalah saya pada focus dan locus yang sama.

3. Agar dapat menarik suaru fenomena secara empiris dari bagaimana hubungan

antara mahasiswa dan politik setelah era Reformasi.

F. Manfaat Penelitian

Dengan adanya hasil dari penelitian ini maka penulis mengharapkan adanya

manfaat dari penulisan ini, diantanya sebagai berikut :

1. Manfaat Secara Teoritis

Diharapkan penelitian ini dapat menjadi salah satu sumbangan untuk

12
menggali atau memperdalam teori-teori terkait yang insaalah dapat menjadi, referensi

bagi adanaya penelitian terkait serta diharapkan mampu memberikan deskritif

terhadap pengembangan pembelajaran terkait dalam artian dapat memberikan

pengetahuan dan pengantar wawasan terutama bagi kalangan mahasiswa.

2. Manfaat Bagi Pihak Terkait

Diharapkan penelitian ini juga dapat memberikan manfaat pada pihak terkait

dalam artian UNG, pihak Birokrasi Kampus, Organisasi Intra Kampus dan

mahasiswa pada umumnya untuk dapat menajadi refenrensi dan gambaran terhadap

bentuk dinaminak politik kampus dalam hal untuk menelaah efektifitas kebijakan

Badan Kordinasi Kemahasiswaan untuk dapat menjadi wahana implementasi

pembelajaran mahasiswa untuk melakukan partisipasi politik agara lahir suatu budaya

politik kampus yang sejalan dengan cita-cita Perguruan Tinggi.

3. Manfaat Secara Praktis

Diharapkan pula penelitian ini dapat menjadi referensi bagi para mahasiswa

dan kelompok kepentingan lainya untuk mempelajari bagaimana budaya politik

masahasiswa sesuai dengan locus penelitian serta dapat memberikan subangsi sebagai

strategi politik dalam artian direalisasikan secara nyata pada dinamikan perpolitikan

baik didalam kampus atau diluar kampus.

G. Sistematika Penulisan
Penulisan ini terdiri atas lima (5) bab yang masing-maing bab memiliki
kedudukan masing-maing yang kemudian dibagi lagi kedalam beberapa sub bab

13
sebagai upaya memperjelas isi dari masing-masing bab yang kemudian dapat di
jelaskan sebagai beriku:
BAB I PENDAHULUAN

Bab ini digambarkan latar belakang masalah, identifikasi masalah, batasan

masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, serta

sistematika penulisan.

BAB II KAJIAN PUSTAKA

Kajian Pustaka menjelaskan tentang pendekatan-pendekata teoritis yang

digunakan oleh penulis atau peniliti serta kerangka berfikir dalam

penelitian.

BAB III METODE PENELITIAN

Metode Penelitian berisikan tentang metode pendekatan penelitian, Fokus

Penelitian, Lokasi dan Waktu, Kehadiran Peneliti, Tehnik Pengumpulan

Data, Sumber Data, serta Tehnik Analisis Data dll.

BAB IV PEMBAHASAN

Dalam bab ini menyangkut dengan isi dari konstalasi teoritis dan temuan

data dilapangan sehingga menghasilkan gambaran tetang apa yang

kemudian menjadi pokok kajian dan persoalan serta menjadi tolak ukur

dari penarikan kesimpulan.

BAB V PENUTUP

14
Bab ini berisikan simpulan yang diambil dari pembahasan disingkronkan

dengan rumusan masalah dan judul penelitian kemudian saran yang ditarik

dari kesimpulan.

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

15
BAB II

STUDI KEPUSTAKAAN

A. Partisipasi Politik

Istilah partisipasi diambil dari bahasa inggris, “participation” yang secara

umum dapat diartikan keikutsertaan warga negara secara aktif dalam aktivitas-

aktivitas tertentu. Menurut Ramlan Surbakti (Ramlan Subakti, 2007) yang dimaksud

dengan partisipasi politik adalah keikutsertaan warga negara biasa dalam menentukan

segala keputusan yang menyangkut atau memengaruhi hidupnya 12. Pendapat tersebut

juga selaras dengan pendapat Herbert McClosky (dalam Miriam Budiardjo, 2008)

seorang tokoh masalah partisipasi berpendapat bahwa partisipasi politik adalah

kegiatan-kegiatan sukarela dari warga masyarakat melalui mana mereka mengambil

bagian dalam proses pemilihan penguasa, dan secara langsung atau tidak langsung,

dalam proses pembentukan kebijakan umum13.

Lebih lanjut Meriam budiardjo (2015:367) mendefinisikan partisipasi politik

adalah kegiatan seseorang atau kelompok orang untuk ikut serta secara aktif dalam

kehidupan politik, antara lain dengan jalan memilih pimpinan negara, dan secara

lansung atau tidak lansung, memengaruhi kebijakan pemerintah (Public Policy).

kegiatan ini mencangkup tindakan seperti memberikan suara dalam pemilihan umum,

mengahadiri rapat umum, mengadakan hubungan (Countacting) atau Lobbying

12
Ramlan Surbakti, 2007.Memahami Ilmu Politik, Jakarta: PT. Gramedia Widisarana Indonesia,
2007, hlm. 140
13
Miriam Budiardjo, 2008. Dasar-Dasar Ilmu Politik , Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2008,
hlm. 367

16
dengan pejabat pemerintah atau anggota parlemen, menjadi anggota partai atau salah

satu gerakan sosial atau direct actionnya, dan sebagainya14.

Samuel L. Long (Dalam Nurhasim, 2014) yang menyatakan bahwa Dimensi

partisipasi tidak lagi tunggal, paling tidak ada tiga mode yang dapat dilihat dari

partisipasi politik yaitu apatis (apathetics) adalah orang-orang yang menarik diri dari

politik, penonton (spectators) adalah orang-orang minimal terlibat dalam politik, dan

gladiator sebagai orang-orang yang aktif terlibat dalam partisipasi15. Pangadangan ini

untuk bisa melihat demensi dari partisipasi mahasiswa untuk memilih.

Menurut Ramlan Surbakti partisipasi politik terbagi menjadi dua yaitu

partisipasi aktif dan pasrtisipasi pasif. Partisipasi aktif adalah mengajukan usul

mengenai suatu kebijakan umum, mengajukan alternatif kebijakan umum yang

berlainan dengan kebijakan yang dibuat pemerintah, mengajukan kritik dan perbaikan

untuk meluruskan kebijakan, membayar pajak dan memilih pemimpin pemerintah.

Sebaliknya, kegiatan yang termasuk dalam kategori partisipasi pasif berupa kegiatan-

kegiatan yang menaati pemerintah, menerima, dan melaksanakan saja setiap

keputusan pemerintah16. Pembedaan Ramlan Subakti terhadap partisipasi politik

memberikan pemahamn terhadap penulis untuk membedakan bentuk-bentuk

partisipasi mahasiswa dalam memilih dilihat dari partisipasi aktif atau partisipasi

pasih.

14
Ibid
15
Nurhasim, 2014. Partisipasi Pemilih Pada Pemilu 2014: Studi Penjajakan (www.kpu.go
.id/.../Partisipasi_Pemilih_pada_Pemilu_2014_Studi_Penjajakan.pd). Diakses hari Kamis,
tanggal 1 Februari 2018. Pukul 02:00
16
Ramlan Surbakti, op.,cit.hal 142

17
Menurut Angell (dalam Ross 1967:130) partisipasi yang tumbuh dalam

masyarakat dipengaruhi oleh banyak faktor. Faktor-faktor yang mempengaruhi

kecendrungan seseorang dalam berpartisipasi, yaitu: usia, jenis kelamin, pendidikan,

pekerjaan dan penghasilan, dan lamanya tinggal17. Pendekatan yang digunakan

Angell dapat dipahami sebagai bentuk kualifikasi partisipasi pemilih kecenderungan

seorang mahasiswa dalam berpartisipasi itu sendiri. Seperti halnya pendapat Dan

Nimmo (2001:141) yang dalam penelitianya terhadap partisipasi dengan

menggunakan pendekatan kelas sosial dimana Dan Nimmo berpendapat bahwa pada

umumnya orang dari strata sosial yang lebih tinggi lebih sering berpartisipasi dari

orang yang strata sosialnya lebih rendah18. Dalam hal itu Dan Nimmo memberikan

gambaran tetang pengaruh tingkat pendidikan terhadap minat partisipasi politik apa

bila tingkat pendiikan yang semakin tinggi menunjukan minat partisipasi poltik yang

lebih tinggi.

Lebih lanjut david f. Roth dan Frank L. Wilson (dalam Susi Fitria Dewi

2017:73) membagi tipelogi partisipasi kedalam empat tipelogi. Pertama, aktivis

mreka adalah pemimpin partai dan kelompok kepentingan, Kedua partisipan yaitu

juru kampanye, pelobi politik, pengurus partai, dan kelompok kepentingan. Ketiga

Pengamat orang yang ikut memilih pada pemilu berdiskusi dalam kelas politik.

17
UI, 2012. Tinjauan Putaka Deskritif Teori Partisipasi Politik (http://www .pdfmode. com/view?t=
II.+TINJA UAN+ PUSTAKA+A.Deskripsi+Teori+Partisipasi+politik+). Diakses Hari
Kamis, Tanggal 1 Februari 2019, Pukul 02:45
18
Dan Nimmo, 2001. Komunikai Politik Khalayak dan Efek . PT Remaja Rosdakarya: Bandung 2001.
Hal 141

18
KeEmpat, Apolitis Orang yang tidak peduli pada kegiatan dan berita politik19.

Pedekatan ini dapat membantu peneliti untuk melihat tipelogi partisipan secara umum

pada penelitian yang sedang penulis..

B. Mobilisasi Pemilih

Nedelmann (dalam Ikbal Tawakal 2009:46) Mobilisasi didefinisikan sebagai

pengembangan sebuah hubungan sosial (merujuk pada istilah yang digunakan Weber)

antara dua actor, individu dan Partai. Konsep aktivitas Mobilisasi terdiri dari 3

proses: proses kepentingan (dimensikognitif), proses pembentukan komunitas

(dimensi affectif), dan proses pemanfaatan instrumen ( dimensi instrumental).

Mobilisasi politik didefinisikan sebagai usaha actor untuk mempengaruhi distribusi

kekuasaan. Suatu variabel directional diperkenalkan dalam rangka menggambarkan

dengan tepat jenis hubungan yang berkembang antara Partai dan Individu20.

Arbi Sanit (1985:100-101) berpendapat bahwa mobilisasi adalah sebagai

usaha yang terorganisir dari para warga masyarakat untuk mempengaruhi bentuk dan

jalannya kebijaksanaan umum. Mobilisasi politik dalam bentuk yang umum adalah

menyediakan sarana-sarana pembantu bagi pemimpin-pemimpin politik. Hal ini dapat

dilakukan melalui penarikan pajak, penyitaan, pembelian, penyewaan, dan

penyerahan pendukungan serta pemberian sarana-sarana lain21. Dalam perguruan

19
Susi Fitria Dewi, S.Sos., M.Si., Ph.D. Sosiologi Politik. Gre Publishing:Yogyakarta.hal 73
20
Ikbal Tawakkal. 2009. Peran Partai Politik Dalam Mobilisasi Pemilih Studi Kegagalan Parpol
Pada Pemilu Legislatif Di Kabupaten Demak 2009
(davidefendi.staff.umy.ac.id/.../\GEORGE_TOWAR_IKBAL_TAWAKKALskripsi.pdf. Universi
as Diponenegoro Semarang:semarang. Hal 46. Diakses pada tanggal 19-08-2018
21
Arbi Sanit, Swadaya Politik Masyarakat, (Jakarta; Rajawali 1985). 100-101

19
tinggi mobilisasi politik secara aktif dilakukan oleh berbagai macam Organisasi

mahasiswa yang kelompok atau anggotanaya ada dalam pergurua tinggi baik itu

organisasi intra atau organisasi ektra kampus.

Hoogerwef (1985:198) menyampaikan Adapun faktor-faktor yang yang

menunjang terciptanya mobilisasi politik antara lain adalah : Pertama, adanya

kebijaksanaan dari golongan-golongan pelaksana mobilisasi politik yang aktif di

bidang politik. Pada khususnya tingkatan usahasa golongan-golongan ini

menyesuaikan idiologi dan organisasi mereka kepada kebutuhan setempat. Kedua,

sampai diamana golongan-golongan tertentu menganggap dirinya di beda-badakan.

Dan bahwa mereka ada pada perwujudan kebijaksanaan yang mempunyai posisi

sebagai orang luar (adanya jurang pemisah sosial). Ketiga, bukan jurang pemisah itu

sendiri, tetapi bagaimana jurang pemisah itu dialihkan menjadi jurang pemisah

politik22. Mahasiswa dalam dialektika politiknya yang kemudian mulai dari awar

karir pendidikanya dalam perguruan tinggi telah berada pada posisi yang mengatas

namakan suatu kelompok serta golongan tertentu. Sehingga tingkat mobilisasi yang

lebih diarahkan pada kebutuhan serta kepentingan dari berbagai macam individu-

individu yang telah terkoptasi pada kelompok dengan tinggkat-tingkat tertentu. dalam

hal ini tingkat kehadiran partisipasn tergantung pada sejauh mana prospek dari

ketercapaian kebutuhan partisipan.

Nadelman (dalam George Towar Ikbal Tawakkal 2009:46) berpendapat

bahwa Ada 2 model dalam mobilisasi. Pertama, mobilisasi vertical, yakni mobilisasi

22
Hoogerwef, Politikologi, (Jakarta; Pusat AirLangga1985). 198

20
yang bekerja dalam hubungan vertical. Mobilisasi vertical meliputi Downward

mobilization model, grass-root or populist mobilization model, dan ideal democratic

model. Kedua, mobilisasi horizontal, yakni menyertakan segala kemungkinan dari

proses-proses internal dalam mobilisasi yang berlangsung diantara Partai dan

Individu23. Pendekatan-pendekatan tersebut masih bersifat sruktural dalam keadaan

politik namun masih terlalu rapuh untuk kemudian lebih mendekatkan penulis pada

alasan tingkat partisipan yang rendah pada suatu situasi politik.

Sehingga penulis juga mengangkat pendapat Arbi Sanit (1985:100-101) yang

berpandangan bahwa Secara teoritis memang tidak dapat dikatakan bahwa suatu

kondisi politik dapat berakibat secara diamentral berlawanan pada partisipasi politik

di suatu pihak, dan kepada mobilisasi politik di latar belakangi oleh kepentingan elite

kekuasaan akan dukungan masyarakat yang menunjukkan kekuasaan sementara.

Dalam saat yang sama elite tersebut tidak tersedia menanggungresiko berupa

pengkaitan dukungan terhadap tuntutan pemberian dukungan. Singkatnya elit

menginginkan dukungan tanpa perlu memberi imbalan nyata kepada pemberi

dukungan tersebut. Untuk itu mobilisasi politik diyakini sebagai sarana yang sesuai

untuk terciptanya suatu cita-cita politik masyarakat24.

Penekana Arbi Sanit pada bagaimana pentingnya mobilisasi politik agar

ketercapaian informasi dari kepentingan dan keterbukaan kepada partisipan serta
23
Ikbal Tawakkal. 2009. Peran Partai Politik Dalam Mobilisasi Pemilih Studi Kegagalan Parpol
Pada Pemilu Legislatif Di Kabupaten Demak 2009
(davidefendi.staff.umy.ac.id/.../\GEORGE_TOWAR_IKBAL
_TAWAKKAL-skripsi.pdf.Universitas Diponenegoro Semarang:semarang. Hal 46. Diakses
pada tanggal 19-08-2018
24
Arbi Sanit, Swadaya Politik Masyarakat, (Jakarta; Rajawali 1985). 100-101

21
kecenderungan para elit politik untuk tidak melakukan mobilisasi adalah bentuk

ketidak percayaan untuk mewujudkan tuntutan para pendukung. Mobilisasi

dikategorikan dalam dua bentuk, yakni mobilisasi langsung dan mobilisasi tidak

langsung. Mobilisasi langsung merupakan kegiatan mobilisasi dalam bentuk

pengerahan terhadap pemilih agar melakukan tindakan politik sebagaimana yang

dikehendaki partai politik. Mobilisasi tidak langsung merupakan kegiatan mobilisasi

dalam bentuk pemengaruhan cara pikir atau cara pandang pemilih, sehingga pemilih

akan mengekspresikan pemahamannya dalam bentuk keputusan politik pemilih25.

Pembedaan kategori antara mobilisasi langsung dan tidak langsung berdasar

pada mekanisme-mekanisme mobilisasi yang dilakukan oleh partai politik. Mobilisasi

langsung dapat dilakukan dengan memberikan instruksi-instruksi melalui mekanisme

partai politik kepada para pemilih. Sedangkan mobilisasi tidak langsung dapat

dilakukan dengan kampanye-kampanye langsung maupun melalui media-media.

Mobilisasi langsung, semisal adalah menggerakkan simpatisan partai untuk

melakukan konvoi jalanan, untuk melakukan aksi-aksi politik, dan lain sebagainya.

Mobilisasi tidak langsung, semisal adalah iklan-iklan politik di media massa,

seminar-seminar partai, kampanye dialogis, dan lain sebagainya26

C. Perilaku Pemilih

Pendekatan perilaku dimaksudkan seperti yang disampaikan oleh

25
Dr. Muslim Mufti, M.Si. 2016. Teori Politik:Mobilisasi (http://www.anakadam.com/2016/08/teori-
politik-mobilisasi/) . diakses pada hari Selasa, 21-08-2018
26
Dr. Muslim Mufti, M.Si. 2016. Teori Politik:Mobilisasi (http://www.anakadam.com/2016/08/teori-
politik-mobilisasi/) . diakses pada hari Selasa, 21-08-2018

22
Meriam Budiarjo (2013:74) bahwa tidak ada gunanya membahas lembaga-lembaga

formal Karena pembahasan seperti itu tidak akan banyak member informasi terhadap

proses politik yang sebenarnya. Pendekatan perilaku tidak hanya terbatas pada

perilaku perseorangan saja, tetapi dapat juga mencangkup kesatuan-kesatuan yang

besar seperti organisasi kemasyarakat, kelompok elit, gerakan nasional atau suatu

masyarakat politik.

Menurut Afan Gaffar (dalam Dwidyawati Esther Mopeng 2016: 5), dalam

menganalisis dalam menganalisis voting behavior dan untuk menjelaskan

pertimbangan-pertimbangan yang digunakan sebagai alasan oleh para pemilih dalam

menjatuhkan pilihannya, dikenal dua macam pendekatan, yaitu Mazhab Columbia

yang menggunakan pendekatan sosiologis dan Mazhab Michigan yang dikenal

dengan pendekatan psikologis. (Afan Gaffar 1992:4)27.

Pendekatan sosiologis berasal dari Eropa Barat yang dikembangkan oleh para

ahli politik dan sosiologi. Mereka memandang masyarakat sebagai sesuatu yang

bersifat hirarkis terutama berdasarkan status, karena masyarakat secara keseluruhan

merupakan kelompok orang yang mempunyai kesadaran status yang kuat. Mereka

percaya bahwa masyarakat sudah tertata sedemikian rupa sesuai dengan latar

belakang dan karakteristik sosialnya, maka memahami karakteristik sosial tersebut

merupakan sesuatu yang penting dalam memahami perilaku politik individu. Afan

Gaffar (1992:4-5). Seymour M. Lipset, yang dikutip Alwis (2001), karakteristik

27
Dwidyawati Esther Mopeng. 2016. Perilaku Pemilih Pada Pemilihan Kepala Daerah Minahasa
Utara Periode 2016-2021 (Studi Di Desa Sawangan Kecamatan Airmadidi). Diakses pada
Hari Senin, Tgl 19 agustus 2018

23
sosiologis pemilih dipengaruhi oleh beberapa kategori, yaitu pendapatan, pendidikan,

pekerjaan, ras, jenis kelamin, umur, tempat tinggal, situasi, status dan organisasi28,

D. Budaya Politik

Selain memahami bagaimana perilaku pemilih dan pendekatan-pendekatan

dalam mobilisasi maka tidak lengkap rasanya tanpa memahi kultur dari pada politik

itu sendiri hal dalam aspek untuk memperdalam kajian teoritis dalam melihat

fenomena politik yang terjadi pada penelitian ini, seperti yang disampaikan oleh

David Easton (dalam Winarno 2007:14) yang Menyatakan bahwa budaya politik

merujuk pada tindakan atau tingkah laku yang membentuk tujuan-tujuan umum

maupun khusus mereka dan prosedur-prosedur yang mereka anggap harus diterapkan

untuk meraih tujuan-tujuan yang tersebut dengan kata lain budaya politik adalah

merujuk keapda orientasi semua anggota, system politik, dan juga orientasi semua

aspek politik29.

Selanjutnya Menurut Hitchner dan leviana (dalam Dwi winarno 2007:16-17)

budaya politik menghasilkan orientasi khusus kea rah hubungan politik, suatu

kombinasi informasi, perasaan, dan pendapat yang cukup berpariasi dari suatu Negara

ke Negara lain guna menghasilkan suatu gaya politik yang berbeda. Dalam hal ini

budaya politik mahasiswa dapat dilihat sebagai suatu kesatuan perasaan dari pelaku

serta partisipan politik yang yang didapat lewat hubungan-hubungan diantara mereka

28
Ibid. hal 6
29
Budi Winarno. 2007. Sistem Politik Indonesia Era Reformasi. Gramedia Pustaka Utama:Jakarta.
Halaman 14

24
yang juga dipengaruhi oleh kecenderungan informasi yang didapat, pada aspek ini

situasi pendidikan merupakan lahan subur bagi informasi politik yang akan

melahirkan suatu sebuah gaya politik yang tentunya berbeda dengan masyarakat

awam yang minim akan informasi tentang politik30.

Lebih lanjut Budi Winarno (2007:14) menguarikan tentang aspek yang

mempengaruhi budaya politik itu sendiri yang menurut Budi Winarno bahwa proses

sosialisasi akan sangat mempengaruhi budaya politik dan faktor-faktor yang

mempengaruhi diantanya adalah sebagai berikut. Pertama, Karakter Nasional.

Pembedaan budaya politik sering didasarkan pada bahwa cirri-ciri umum yang

spesifik dan utama memberikan suatu bangsa yang membedakan dirinya dikenali oleh

orang lain sebagai dirinya sendiri. Kedua, Orientasi terhadap kekuasaan. Ketiga,

Rekrumen Pemimpin. Pemimpin politik lebih dari orang-orang biasa yang

mempunyai pengaruh terhadap kelompok-kelompok politik. Cara dimana mereka

naik kepuncak kekuasaan untuk meraih control alat-alat kekuasaan politik adalah

aspek signifikan dalam budaya politik suatu bangsa. Dalam banyak Negara

kepemimpinan politik dimonopoli oleh keluarga-keluaraga khusus, status sosial,

agama, latar belakang etnik, dan pendidikan31.

Gabriel Almond dan Bingham Powell Jr. (dalam Winarno 2007:15) mereka

mendefinisikan budaya politik sebagai “the set of attitudes, beliefs, and feeling

abouts politics currents in a nation at given time”. Perbedaan-perbedaan ini sangat

30
Ibid 16-17
31
Ibid. hal 65

25
dipengaruhi oleh sejarah kebangsaan dan proses yang terus berlangsung dalam

aktivitas ekonomi, sosial, dan juga politik. Dalam pendekatan tesebut Gabriel almon

melihat bahwa himpunan sikap, keyakinan, dan perasaan tentang arus politik di suatu

negara pada waktu tertentu yang kemudian menghasilkan budaya politik32. Pada sisi

kampus sebagai ruang penelitian penulis menyangkut dengan budaya politik hal yang

dimaksud dengan Negara mengarah pada kampus itu sendiri dalam presfektif ini

kecenderungan kurangnya partisiapan dilihat sebagai respon terhadap proses politik

dalam kampus.

Budi Winarno (2007:66-67) berpendapat bahwa budaya sanagat dipengaruhi

oleh sruktur politik sedangkan daya operasional sruktur tadi akan sanagat dipengaruhi

oleh konteks kultur dimana sruktur itu berada. Lebihlanjut menurut Winarno

landasan berfikir seperti inilah yang dapat digunakan untuk dapat menjelaskan

mengapa sruktur politik yang muncul pasca kejatuhan Suharto pada akhirnya kurang

bisa melaksanakan fungsi-fungsi demokratisnya karena adopsi system politik hanya

menyentuh sruktur dan fungsi dan bukan pada semangat budaya 33. Pedekatan yang

ditawarkan Winarno tersebut sangat efektif secara kasar untuk melihat system politik

mahasiswa paska orde baru dengan Kepmendikbud 015/u/1998 diberlakukan hinggga

mempengaruhi budaya semangat politik mahasiswa.

Lebih lanjut Dwi Winarno (2007:67-68) berpendapat bahwa budaya politik

dibedakan menjadi tiga tipe, yaitu budaya politik partisipan, budaya politik subjek

32
Ibid. hal 15
33
Ibid, hal 66-67

26
dan budaya politik parochial. Budaya poltik partisipan ditandai oleh partisipasi aktif

oleh anggota-anggota system politik. Mereka mempunyai kesadaran yang cukup

tinggi menyangkut dengan hak dan kewajiban, dan dengan demikian menuntut untuk

senantiasa terlibat dalam kegiatan politik. Sementara itu budaya politik parochial

ditandai oleh orientasi yang bersifat kewilayaan. Berikutnya budaya politik subjek

atau yang menyebutnya sebagai budaya politik kaula merujuk pada budaya politik

dimana anggota masyarakat mempunyai kepedulian terhadap output system politik

dibandingkan input system politik. Dalam budaya poltik kaula semacam ini, anggota-

anggota system politik lebih bersifat pasif dank arena itu bukan sebagai warga Negara

yang aktif34.

E. Kelompok Kepentingan

Jargon dalam politik “tidak ada yang abadi kecuali kepentingan iu sendiri”

bukanlah isapan jempol belakang namun meruapakan realitas yang nyata dari

kehidupan kita sehari yang termasuk hal itu pula yang mempengaruhi kehadiran dari

kelompok-kelompok untuk berpartisipasi atau tidak dalam kanca perpolitikan.

Meriam Budiarjo dalam bukunya Dasar-dasar Ilmu Politik (2013) menyatakan

Kelompok-kelompok kepentingan muncul pertama kali pada abad ke 19. Salah satu

sebab munculnya kelompok kepentingan menurut Meriam Budiarjo bahwa orang

mulai menyadari suara satu orang sangat kecil pengaruhnya terutama di negara-

negara yang penduduknya besar Lebih lanjut dalam buku yang sama Marcus Ethridge

34
Ibid, hal 67-68

27
dan Howard Handamel (dalam Meriam Budiarjo 2013:383) mendefinisikan

kelompok kepentingan adalah suatu organisasi yang berusaha untuk memengaruhi

kebijakan public dalam suatu bidang yang penting untuk anggota-anggotanya35.

Sementara itu dalam analisisnya Enrique Larana, Hank Johnston, dan Joseph

R. Gusfield (dalam Meriam Budiarjo 2013:385-386) salah satu karakteristik dari

kelompok kepentingan adalah dalam kehidupan sehari-hari NSM (New Social

Movements) dalam arti kelompok kepentingan menumbuhkan dimensi identitas,

sifatnya lebih memperhatikan masalah identitas dari pada masalah ekonomi, NSM

atau kelompok kepentingan mendasarkan diri pada suatu kepercayaan dan nilai-nilai

yang menyangkut keyakinanya,menyangkut citra mengenai diri sendiri. taktik

mobilisasi oleh NMS ialah melalui anti kekerasan dan ketidak patuhan,

berkembangnya kelompok-kelompok NSM dipicu oleh adanya ketidak percayaan

terhadap saranya-sarana partisipasi politik, terutama perilaku partai massa

tradisional36.

Selanjutnya Gabriel A. Almond dan Bingham dalam buku Comparative

Politik Today: A World View (1992) yang dikutip oleh Meriam Budiarjo dalam

bukunya Dasar-Dasar Ilmu Politik (2013:387) dimana mereka membagi kelompok

kepentingan dalam 4 kategori, yaitu: pertama kelompok Anomi (Anomic Grups)

menurut mereka kelompok ini tidak mempunyai organisasi tetapi, invidu-individu

yang terlibat merasa mempunyai perasaan prustasi dan ketidak puasan yang sama.

35
Meriam Budiarjo. 2013. Dasar-dasar Ilmu Politik. PT. Gramedia Pustaka Utama:Jakarta. hal 383
36
Ibid. hal 385-386

28
kelompok ini menghadi keadaan Anomi dalam referensi yang sama lebih diakibatkan

oleh Chaos dan lawlessness yang diakibatkan runtuhnya perangkat nilai dan norma

sudah menjadi tradisi, tanpa diganti nilai-nilai baru yang dapat diterima secara

umum37. Jika dilihat sebenarnya ini hanya individu-individu yang kemudian

mempunyai presepsi yan sama dan terlibat dalam komunikasi antar individu

kelompok seperti ini dalam kehidupan kampus lebih cenderung seperti mahasiswa

yang meletakaan ketidak percayaan mereka terhadap system politik kampus yang

sedang berjalan.

Kedua,Kelompok Nonasosiasional dimana kepentingan ini tumbuh

berdasarkan rasa solidaritas pada sanak saudara, agama, wilaya, kelompok etnis, dan

pekerjaan. Kelompok-kelompok ini biasanya tidak aktif secara politik dan tidak

mempunyai organisasi ketat, walau lebih mempunyai ikatan dari pada kelompok

anomi. Anggota-anggotanya merasa mempunyai hubungan batin karena mempunyai

hubungan ekonomi, massa konsumen, kelompok etnis, dan kedaerahan. Kelompok

seperti ini dilingkungan kampus lebih memposisikan diri sebagai organisasi ekstra

kampus atau paguyuban, kelompok usaha yang berdiri otonom serta kelompok-

kelompok aliansi yang terhimpun dalam satu visi dan tidak memiliki keterikatan

dengan pihak kampus38.

Ketiga, Kelompok Institusional dimana kelompok ini adalah kelompok-

kelompok formal yang berada dalam atau bekerja sama secara erat dengan

37
Ibid, hal 387
38
Ibid 387

29
pemerintah seperti birokrasi dan kelompok militer. Kelompok seperti ini dalam

lingkup kampus seperti organisasi intra kampus (BEM, SENMA, HMJ/HMPS),

Resimen Militer Mahasiswa, UKM Kampus dll, yang secara lansung dikontrol dan

bekerja sama dengan pihak birokrasi kampus39.

Keempat, Kelompok Asosiasional dimana kelompok ini dibentuk dengan

suatu tujuan yang implicit, mempunyai organisasi yang baik dengan staf yang bekerja

sepenuh waktu40. Dalam lingkup perguruan tinggi mahasiswa sering kali terlibat

dengan organisasi-organisasi mahasiswa ekstra atau intra kampus yang memiliki

jaringan keanggotaan yang lebih luas, contohnya Di Indonesia ada Pergerakan

Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia

(GMNI), serta Himpunan Mahasiswa Pancasila dan KewargaNegaraan dll.

F. Sosialisasi Politik

Dalam hal melakukan pedekatan terhadap mobilisasi politik dan budaya plitik

maka tak lengkap rasanya jika tidak mendalami proses politik itu sendiri tanpa

mengenal pendekatan sosialisasi politik untuk bisa mengurai masalah terutama

dengan tingkat partisipasi pemilih seperti yang disampikan oleh Gabriel Almond

(dalam Susi Fitria Dewi 2017:58) Bagian dari proses sosialisasi yang khusus

membentuk nilai-nilai politik, yang menunjukan bagaimana seharusnya masing-

masing anggota masyarakat berpartisispasi politik41. Pendapat tersebut serupa dengan

39
Ibid 388
40
Ibid 388
41
Susi Fitria Dewi, S.Sos., M.Si., Ph.D. Sosiologi Politik. Gre Publishing:Yogyakarta. Hal 58

30
apa yang disampaikan oleh Susi Fitria Dewi (2017:57) Sosilialisi politik adalah suatu

proses yang memungkinkan individu bisa mengenali system politik yang kemudian

menentukan sifat presepsi-presepsinya mengenai politik serta reaksi-reasinya

terhadap gejala-gejala politik42.

Sosialisasi politik menurut Syarbaini, dkk. (2004: dalam Yusa Djuyandi

2014:5) adalah proses pembentukan sikap dan orietansi politik pada anggota

masyarakat. Masyarakat melalui proses sosialisasi politik inilah memperoleh sikap

dan orientasi terhadap kehidupan politik yang berlangsung dalam masyarakat. Proses

ini berlangsung seumur hidup melalui pendidikan formal dan informal atau tidak

sengaja melalui kontak dan pengalaman sehari-hari, baik dalam kehidupan keluarga

atau tetangga maupun dalam pergaulan masyarakat. Pendekatan Syarbaini tersebut

juga dapat menjadi alasan mengenai pentingnya sosialisasi politik43.

Sedangkan berdasarkan tipenya, jenis-jenis sosialisasi oleh Syarbaini, dkk.

(2004, dalam Yusa Djuyandi 2014:5) dibagi menjadi dua, yaitu: (1) Sosialisasi

formal, yaitu sosialisasi yang dilakukan melalui lembaga-lembaga berwenang

menurut ketentuan negara atau melalui lembaga-lembaga yang dibentuk menurut

undangundang dan peraturan pemerintah yang berlaku. (2) Sosialisasi informal, yaitu

sosialisasi yang bersifat kekeluargaan, pertemanan atau sifatnya tidak resmi44.

42
Ibid. hal 57
43
Yusa Djuyandi. 2014.Efektivitas Sosialisasi Politik Pemilihan Umum Legislatif Tahun 2014 Oleh
Komisi Pemilihan Umum (journal.binus.ac.id/Index.php/Humani ora/artic le/viewF
ile/3263/2647). Diakses hari Rabu tanggal 22 Agustus 2018
44
Ibid.

31
Pendekatan syarbaini dapat menjadi referensi mengenai jenis-jenis sosialisasi dan

agen yang berperan.

G. Penelitian Yang Relevan

Untuk tujuan akan penelitian ini dapat menghasilkan data reliable maka

dibutuhkan suatu referensi yang berkaitan penelitian ini sendiri sehingga itu penulis

akan menjelaskan beberapa penelitian yang sebulumnya sebagai berikut:

1. Penelitian yang dilakukan oleh George Towar Ikbal Tawakkal pada tahun 2009

dengan judul “Peran Partai Politik Dalam Mobilisasi Pemilih Studi Kegagalan

Parpol Pada Pemilu Legislatif Di Kabupaten Demak 2009” dimana menurut

kesimpulan dari penelitiannya pada halaman 224 beliau menyatakan bahwa Dari

berbagai hubungan emosional, hubungan kekeluargaan atau persaudaraan menjadi

faktor paling kuat dalam mobilisasi pemilih. Sedangkan bentuk bantuan-bantuan

menjadi faktor penting mobilisasi setelah hubungan emosional.

Seorang pemilih dapat mengalami bentuk mobilisasi yang bermacam

macam pada dirinya. Semisal saudaranya ada yang menjadi Caleg, tetangganya

menjadi Caleg, temannya menjadi Caleg, menerima bantuan, dan lain sebagainya

dalam satu waktu. Pertimbangan terkuat terletak pada bentuk hubungan

emosional. Namun, ikatan emosional yang demikian antara Caleg dan pemilih

tidak cukup untuk memenuhi perolehan suara satu BPP. Sehingga, bentuk

32
mibilisasi berupa bantuanbantuan menjadi sangat penting untuk mengarahkan

pemilih yang belum memliki hubungan emosional dengan Caleg45.

Dalam analisis tersebut dimana George Towar Ikbal Tawakkal melihat

bahwa hubungan emosianal antara calon dan partisipan menjadi kunci dari

keberhasilan dalam mobilisasi serta tingkat partisipasi terhadap bakal calon

ditentukan oleh hubungan-hubungan emosional yang terbangun.

2. Meilisa Mustaman tahun 2014 “Peranan Partai Politik Dalam Memobilisasi

Pemilih Pada Pemilu Legislatif Tahun 2014 Di Kota Manado1 (Suatu Studi Di

Dewan Pimpinan Cabang Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan)” dimana

dalam kesimpulanya Meilisa Mustaman Dari berbagai hubungan emosional,

hubungan kekeluargaan atau persaudaraan menjadi faktor paling kuat dalam

mobilisasi pemilih.

Sedangkan bentuk bantuan-bantuan menjadi faktor penting mobilisasi

setelah hubungan emosional. Seorang pemilih dapat mengalami bentuk mobilisasi

yang bermacam-macam pada dirinya. Namun, ikatan emosional yang demikian

antara caleg dan pemilih tidak cukup untuk memenuhi perolehan suara atau BPP.

Sehingga, bentuk mobilisasi berupa bantuan-bantuan menjadi sangat penting ntuk

mengarahkan pemilih yang belum memiliki hubungan emosional dengan caleg46.

45
ikbal tawakkal. 2009. Peran partai politik dalam mobilisasi pemilih studi kegagalan parpol pada
pemilu legislatif di kabupaten demak 2009
(davidefendi.staff.umy.ac.id/.../\george_towar_ikbal_tawakkal skripsi.pdf. Univ ersitas
diponenegoro semarang:semarang. Halaman 224. . Diakses pada tanggal 19-08-2018
46
Meilisa Mustaman . 2014. Peranan Partai Politik Dalam Memobilisasi Pemilih Pada Pemilu
Legislatif Tahun 2014 Di Kota Manado1 (Suatu Studi Di Dewan Pimpinan Cabang Partai

33
Dari penelitian tersebut peneulis juga masih menemukan hal yang

sama terhadap kesempulan penelitian sebelumnya yang kemudian menitik

beratkan pada tingkat paritisipasi yang ditentukan oleh hubungan emosional,

kekeluargaan, atau persaudaraan yang menjadi faktor yang kuat dalam melakukan

mobilisasi pemilih agar tercapai jumlah partisipasi pemilih yang diharapkan.

Demokrasi Indonesia Perjuangan. https://media.neliti.com/media/publications/1105-ID-
peranan-partai-politik-dalam-memobilisasi-pemilih-pada-pemilu-legislatif-tahun-2.pdf).
Diakses Pada Hari Senin Tanggal 19 Agustus 2014

34
BAB III

METODE PENELITIAN

A. Metode Dan Alasan Menggunakan Metode

Dalam peneitian ini, penelitian yang dipakai adalah jenis penelitian analisis

deskriptif dengan menggunakan metode kualitatif. Seperti yang disampaikan oleh

creswell (dalam sugiyono 2014:347) yang menyatakan bahwa penelitian kualitatif

berarti proses eksplorasi dan memahami makna perilaku individu dan kelompok,

menggambarkan masalah sosial atau masalah kemanusiaan. Penelitian ini sendiri

merupakan masalah sosial yang kemudian menyangkut dengan perilaku invidu atau

kelompok47.

Penggunaan metode kualitatif didasarkan pada pokok masalah yang bersifat

kompleks dan dinamis dengan melihat pola-pola pada situsi sosial yang terjadi dalam

ruang lingkup penelitian yaitu Universitas Negeri Gorontalo, atas dasar itulah peneliti

menggunakan metode kualitatif agar bisa menghasilkan penelitian yang memahami

situasi sosial secara mendalam serta dapat dideskritifkan dengan pendekatan

Kualitatif agar dapat menemukan pola, hipotesis, dan teori yang sesuai dengan judul

“Analisi Mobilisasi Pemilih Pada Pemilihan Presiden BEM Universitas Negeri

Gorontalo Periode 2018 s/d 2019”.

47
Sugiyono. 2014. Metode Penelitian Manajemen (Pendekatan: Kuantitatif, Kualitatif, Kombinasi,
Penelitian Tindakan, Penelitian Evaluasi). Bandung : ALFABET, CV. Hal 347

35
B. Tempat Penelitian

Agar penelitian ini dapat terarahkan dengan locus penelitian yang sesuai

dengan judul dan masalah terkait maka peneliti akan membatasi penelitian pada ruang

Lingkup Universitas Negeri Gorontalo, Sekretarian Ormawa, Serta Lembaga

Birokrasi kampus dll. pembatasan tersebut didasarkan pada kebutuhan untuk

menemukan data primer dan sekunder.

C. Instrumen Penelitian

Sesuai dengan metode yang digunakan yaitu metode penelitian kualitatif maka

intrumen penelitian adalah peneliti sendiri serta instrument pendukung lainya (alat

perekam atau alat dokumentasi serta serta berbagai sumber pendukung lainya) yang

digunakan untuk mengumpulkan data.

D. Sampel Sumber Data

Pada penelitian ini pengambilan sampel sumber data sesuai dengan judul dan

masalah penelitian yaitu pihak KPL BEM UNG tahun 2018, Pihak partisipan atau

pemilih, pihak mahasiswa yang apolitis terhadap politik kampus yang ada situasi

politik saat itu, serta pihak tim sukse dari bakal calon atau tim pemenangan bakal

calon, serta yang terakhir adalah pengurus BEM terpilih.

E. Tehnik Pengumpulan Data

Dengan melihat pada sampel sumber data diatas maka peneliti dapat

menguraikan Tehnik Pengumpulan data dari penelitian, yaitu sebagai berikut:

36
1. Observasi

Observasi itu sendiri bertujuan agar peneliti dapat lebih memperdalam

pemahan peniti terhadap situasi sosial kampus dan menemukan pola dalam

hubungan mobilisasi massa pada pemilihan presiden BEM UNG tahun 2018.

2. Wawancara

Dalam hal ini sesuai dengan sumber sampel diatas maka tehnik wawancara

sangat dibutuhkan agar bisa mendapatkan data untuk memahami situsi sosial

secara mendalam. Wawanacara yang dalam penelitian sendiri ditujukan pada

sumber sampel.

3. Studi Dokumentasi

Studi dokumentasi dilakukan utuk bisa mendapatkan data-data sekunder

untuk memperjelas masalah pada ruang lingkup penelitian sehingga penelitian

sendiri lebih reliable dukumentasi diarahkan apda segenap data dan arsip yang

berkaitan dengan penelitian.

4. Trianggulasi

Dalam teknik trianggulasi peneliti akan mennggambungkan berbagai tehnik

pengumpulan data mulai dari wawancara secara mendalam, dokumentasi,

termasuk observasi partisipan. agar sekaligus dapat melakukan pengujian

kredibilitas dari data temuan yang telah ada.

37
F. Tehnik Analisis Data

Berdasarkan pada pada masalah serta tehnik pengumpulan data berserta

sumber sampel yang telah dijelaskan diatas maka penulis dapat memberikan uraian

mengenai tehnik analisis data yang digunakan yaitu sebagai berikut:

1. Analisis Data Domain

Penggunanaan analisis data domain untuk memperoleh gambaran yang

umum dan menyeluruh dari objek/penelitian atau situasi sosial. Ditemukan

berbagai domain atau kategori. Diperoleh dengan pertanyaan grand dan minitour.

Penelitian menetapkan domain tertentu sebagai pijakan penelitian selanjtnya.

2. Analisis Data Taksonomi

Setelah memperoleh domain dan melakukan pemilihan terhadap domain

yang dipilih selanjutnya dijabarkan menjadi lebih rinci, untuk ,mengetahui sruktur

internalnya. Yang dilakukan dengan observasi berfokus.

3. Analisis Data Komponensial

Kemudian setelah penjelasan diatas selanjutnya mencari cirri spesifik pada

setiap struktur internal dengan cara mengkontraskan antara elemen. Dilakukan

melalui observasi dan wawancara terseleksi dengan pertanyaan yang

mengkontraskan.

4. Analisis Tema cultural

Setelah langkah-langkah diatas sudah dilakukan kemudian mencari

hubungan diantara domain, dengan bagaimana hubungan keseluruhan dari hingga

38
pada kontruksi pedekatamn teoritis yang dari penelitian selanjutnya tahap finising

atau pengambila kesimpulan dengan judul yang diambil.

G. Rencana Pengujian Keabsahan Data

Demi keabsahan data maka diperlukan uji keabsahan data yaitu sebagai

meliputi uji kredibilitas data yang dilakukan dengan perpanjangan pengamatan,

meningktakan ketekunan, serta trianggulasi. Uji dependabilitas atau reabilitas data,

uji transferabilitas (validitas eksternal atau generalisasi), dan uji konfirmabilitas

(objektifitas.

H. Jadwal Penelitian

Dengan melihat kepada semua langka-langkah metode penelitian diatas maka

selanjutnya dibutuhkan skema jadwal dalam penelitian demi tercapainya tujuan dari

penelitian itu sendiri. Berikut adalah skema jadwal penelitian:

Table 1.1 Jadwal Penelitian

Jadwal Penelitian

Bulan ke:
No Kegiatan
1 2 3 4 5 6 7 8
1 Penyusunan Proposal 
2 Diskusi Proposal 
Memasuki Lapangan,
3 Grentour end Minitour 
Question, analisis

39
taksonomi
Menentukan Fokus,
4 Minitoring Question, 
analisis taksonomi
Tahap Selektion,
5 sruktural question,
Analisis komponensial
6 Uji keabsahan Data 
Membuat Draf
7 
Laporan Penelitian
Penyempurnaan
8 
Penelitian

40
DAFTAR PUSTAKA

BUKU
Arbi Sanit, 2014. Sistem Politik Indonesia: Kestabilan, Peta Kekuatan Politik, dan
Pembangunan. Jakarta:PT. Raja Grafindo Persada
Ramlan Surbakti, 2007.Memahami Ilmu Politik, Jakarta: PT. Gramedia Widisarana
Indonesia
Prof. Dr. Damsar. 2015. Pengantar Sosiologi Politik. Kencana:Jakarta

Sugiyono. 2014. Metode Penelitian Manajemen (Pendekatan: Kuantitatif, Kualitatif,
Kombinasi, Penelitian Tindakan, Penelitian Evaluasi). Bandung : ALFABET,
CV
Miriam Budiardjo, 2008. Dasar-Dasar Ilmu Politik , Jakarta: PT Gramedia Pustaka
Utama, 2008
Hoogerwef. 1985. Politikologi .Jakarta; Pusat AirLangga

Susi Fitria Dewi, S.Sos., M.Si., Ph.D. Sosiologi Politik. Gre Publishing:Yogyakarta.

Sumber-Sumber Lain:
Sumber Referensi: Situs Fakultas Teknologi Industri, Institusi Teknologi Bandung,
2015. Kepmendikbud RI No 155 Tahun 1998
(www.fti.itb.ac.id/.../Kepmendikbud-RI-no.-155-tahun-1998-tentang-
Pedoman-Umum). Diakses pada hari Senin, Tgl 19 Agustus 2018.
Sumber Referensi:.https://unnes.ac.id/wp-content/uploads/uu-12-2012.pdf.
Diakses pada hari Senin, Tgl 19 Agustus 2018

Meilisa Mustaman . 2014. Peranan Partai Politik Dalam Memobilisasi Pemilih Pada
Pemilu Legislatif Tahun 2014 Di Kota Manado1 (Suatu Studi Di Dewan
Pimpinan Cabang Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan.
https://media.neliti.com/media/publications/1105-ID-peranan-partai-politik-
dalam-memobilisasi-pemilih-pada-pemilu-legislatif-tahun-2.pdf). Diakses
Pada Hari Senin Tanggal 19 Agustus 2014

Sumber Referensi: kelembagaan.ristekdikti.go.id/.../SKDirjen26-DIKTI-Kep-
2002LaranganOrganisasiKa. Diakses pada hari Senin, Tgl 19 Agustus 2018.

Sumber data Situs Direktorat Jendral. 2018. Keputusan Direktur Jendral Pendidkan
Tinggi Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor
26/Dikti/Kep/2002 Tentang Pelarangan Organisasi Ekstra Kampus Atau
Partai Politik Dalam Kehidupan kampus
(kelembagaan.ristekdikti.go.id/.../SKDirjen26-DIKTI-Kep-

41
2002LaranganOrganisasiKa). Diakses Pada Hari Senin, Tgl 19 Agustus
2018.

Sumber data PUSTIKOM Universitas Negeri Gorontalo, Diambil pada hari Selasa,
Tgl 20 Agustus 2018

Sumber Data Dokumentasi KPL BEM UNG tahun 2018, Diambil pada hari Senin,
Tgl 19 Agustus 2018

Nurhasim, 2014. Partisipasi Pemilih Pada Pemilu 2014: Studi Penjajakan
(www.kpu.go.id/.../Partisipasi _Pemilih_
pada_Pemilu_2014_Studi_Penjajakan.pd). Diakses hari Kamis, tanggal 1
Februari 2018. Pukul 02:00

Ikbal Tawakkal. 2009. Peran Partai Politik Dalam Mobilisasi Pemilih Studi

Kegagalan Parpol Pada Pemilu Legislatif Di Kabupaten Demak 2009

(davidefendi.staff.umy.ac.id/.../\GEORGE_TOWAR_IKBAL_TAWAKKAL

skripsi.pdf. Univ ersitas Diponenegoro Semarang:semarang. Halaman 224. .

Diakses pada tanggal 19-08-2018

Yusa Djuyandi. 2014. Efektivitas sosialisasi politik pemilihan umum legislatif tahun

2014 oleh komisi pemilihan umum (journal.binus.ac.id/index.php/humani

ora/artic le/viewf ile/3263/2647). Diakses hari Rabu tanggal 22 Agustus 2018

42