You are on page 1of 24

Penaklukan Qadisiyah di

Era Kepemimpinan Umar


ibn Khaththab (1)
ON JULY 16, 2017 BY KAMMIUNJ IN SEJARAH

Oleh : Adi Sopyan

Penulis mencoba mengutip kisah dari tulisan yang tertuang


dalam buku Tarikh Khulafa, yang mana judul aslinya
yakni Asy-Syifa Fi Tarikh al-Khulafa karangan Prof. Dr.
Ibrahim Al-Quraibi. Yaitu peristiwa penaklukan Qadisiyah di
era kepemimpinan Khilafah Umar ibn Khaththab. Peristiwa ini
terjadi pada Bulan Muharam tahun 14 H, dipimpin oleh
panglima Sa‟ad ibn Abi Waqqash. Kejadian luar biasa ini
belum pernah terjadi sebelumnya di Irak. Bahkan setelah
mengalami Perang Qadisiyah ini, kaum Muslimin tak menganggap
besar kejadian-kejadian setelahnya. Mari kita kaji secara
runtut.

Dialog yang menarik antara Kisra Persia dan Delegasi kaum


Muslimin

Ada hal yang menarik ketika Penaklukan Qadisiyah di era


Khalifah Umar Ibn Khaththab. Ketika itu bangsa Persia dan
para pemimpinnya merasa sangat dirugikan karena pasukan kaum
muslimin yang dipimpin oleh seseorang yang disebut oleh
Abdurahman ibn Auf dengan sebutan Singa yang berada dalam
kandangnya, yakni Sa‟äd ibn Abi Waqqash, melakukan
penaklukan di wilayah-wilayah kekuasaan Persia. Ekspedisi-
ekspedisi tersebut juga berhasil mendapatkan ghanimah dalam
jumlah besar.

Alhasil mereka melaporkan kepada Kisra (Raja) Persia kala


itu yakni Kisra Yazdajird. ”jika kisra tidak segera
melakukan perlawanan dan melindungi rakyat Persia dari kaum
Muslimin, rakyat makin terdesak dan terpaksa menyerahkan apa
yang mereka miliki. Pilihan lain adalah melakukan perdamaian
dengan musuh”

Mendengar laporan ini Kisra Yazdajird memanggil panglimanya


Rustum dan memerintahnya agar segera menyerang pasukan kaum
Muslimin. Yazdajird akan mengirimkan bantuan pasukan sebesar
120.000 prajurit (wow). Rustum panglima perang Kisra kala
itu melaksanakan perintah Kisra dengan terpaksa, karena ia
lebih suka membiarkan umat Islam dengan keadaannya, sampai
mereka terdesak dan kekurangan bekal karena harus menunggu
lama. Dengan begitu, kaum muslimin akan menarik diri.

Namun Kisra Yazdajird bersikeras, akhirnya Rustum berangkat


bersama pasukannya dan bermarkas di daerah Sabath. Berita
ini terdengar oleh Sa‟äd, lantas ia segera mengirim surat
kepada Umar. Umar menjawab melalui surat yang ditulisnya.

”Kabar tentang rencana mereka yang engkau dengar jangan


sampai membuatmu GENTAR, Mintalah pertolongan kepada Allah
dan bertawakallah kepada Allah. Utuslah beberapa orang juru
runding dan cerdas untuk berdakwah pada mereka. Sebab, Allah
menjadikan dakwah sebagai penghinaan bagi orang-orang kafir
itu.”
Sa‟ad lantas mengirimkan sejumlah sahabat senior untuk
mengajak Yazdajird masuk Islam. Delegasi yang dikirim adalah
Nu‟man ibn Muqrin, Qais ibn Zurarah, Asy‟ats ibn Qais, Furat
ibn Hayyan, Ashim ibn Amr, Amr ibn Ma‟di Yakrib, dan
Mughirah ibn Syu‟bah. Begitu sampai di Madain, mereka segera
menemui Yazdajird.

Melalui penerjemahnya, Kisra Persia itu menanyai delegasi


kaum muslimin. “Apa yang membuat kalian datang ke wilayah
kami? Apa yang membuat kalian memerangi dan menguasai
wilayah kami? Apakah kami mengganggu kalian hingga kalian
melakukan semua itu pada kami?

Nu‟man aibn Muqrin mewakili para sahabatnya, “Sesungguhnya


Allah telah menganugerahkan rahmat-Nya pada kita. Lalu Dia
mengutus kita seorang Rasul. Beliau memerintahkan kebaikan
pada kita, melarang kita untuk berbuat jahat. Beliau
menjanjikan kebaikan dunia dan akhirat kepada kita. Ia
berdakwah di setiap kabilah. Ada yang menyambutnya, dan ada
pula yang menjauhinya.

Utusan Allah itu memerintahkan kepada kami untuk mulai


berdakwah pada bangsa Arab yang berada di sekitar kami. Kami
lakukan itu dan mereka berbondong-bondong masuk agama islam.
Namun diantara mereka ada yang terpaksa kemudian bergembira,
ada pula yang taat, hingga kesilaman mereka bertambah. Kami
semua menyadari kemuliaan risalah yang dibawa utusannya
Allah itu.

Setelah itu Rasulullah memerintahkan kepada kami untuk


melebarkan dakwah kepada bangsa-bangsa di sekitar kami. Kami
pun mengajak mereka untuk masuk Islam. Karena itulah, kami
mengajak kalian untuk masuk pada agama kami, sebuah agama
yang menilai baik sesuatu yang baik, dan menilai buruk
sesuatu yang buruk.

Jika kalian enggan, maka kami akan berlakukan pada kalian


keputusan yang buruk, namun lebih ringan daripada yang lain,
yang lebih buruk lagi, yakni jizyah. Bila kalian enggan
juga, maka kami akan putuskan, kita Perang. Jika kalian
merespon ajakan kami untuk memeluk Islam, kami akan
membekali kalian dengan Kitabullah, supaya kalian bisa
menjadikannya sebagai pedoman hukum. Setelah itu, kami akan
meninggalkan kalian dan urusan kalian, begitu pula negara
kalian.

Jika kalian membayar jizyah, kami akan menerimanya dan kami


akan memberi kalian perlindungan, persis seperti
perlindungan kami terhadap diri kami sendiri. Namun jika
kalian enggan membayar jizyah, kami akan memerangi kalian.

Alhasil Kisra Yazdajird merasa jengkel dengan pejelasan


Nu‟man ibn Muqrin itu. “Aku belum pernah meliihat
sebelumnya, satu bangsapun di muka bumi ini yang lebih
celaka, lebih sedikit jumlahnya, dan lebih buruk kondisinya
daripada kalian. Kami sudah menyerahkan wilayah sekitar, dan
perkara kalian sudah cukup bagi kami. Jangan lagi punya
ambisi menguasai Persia! Jika memang ada sesuatu yang telah
menipu kalian, maka jangan sampai hal itu juga membuat
kalian salah kira tentang kami. Bila kalian memang sedang
dilanda kesusahan, kami akan memberi kebutuhan pokok, kami
akan memberikan kehormatan, dan kami akan memberi pakaian.
Kami menguasai kalian dengan kekuasaan yang pantas bagi
kalian.”Jelas Yazdajird.

Qais ibn Zurahah berdiri dan menjawab tegas, “Tentang


kondisi buruk kami, memang seperti yang engkau sebutkan
barusan, bahkan mungkin lebih dahsyat”. Lalu Qais ibn
Zurahah menjelaskan panjang lebar bahwa di antara kasih
sayang Allah kepada mereka adalah dengan diutusnya Nabi
Muhammad saw. Ia lalu melanjutkan “Pilihlah antara jizyah
yang kau serahkan dalam keadaan hina, atau pedang. Atau kau
selamatkan dirimu dengan memeluk Islam.”

Ucapaan Qais makin membuat Yazdajird murka.”Seandainya tidak


ada aturan bahwa utusan tidak boleh dibunuh, pasti aku akan
membunuh kalian, Kalian tidak ada apa-apanya disisiku!”
ujarnya angkuh.Yazdajird lalu meminta diambilkan tanah.
Setelah itu ia berkata pada pengikutnya, “Berikan tanah ini
pada orang yang paling mulia diantara mereka, lalu kawal
sampai ia bisa keluar dari pintu Madain”

Ashim ibn Amr berdiri sambil mengatakan, “Aku yang paling


mulia di antara mereka.

Ia mengambil tanah itu dan berjalan menuju kudanya.


Sesampainya di tempat Sa‟ad ibn Abi Waqqash, ia mengatakan,
“Bergembiralah. Demi Allah, ia telah memberikan pada kita
tradisi kerajaan mereka.”

Di lain pihak, Rustum dan pasukannya yang berjumlah besar,


bergerak menuju Sabath. Saat melewati Kutsai, desa antara
Madain dan Babel, ia bertemu dengan seorang Pria Arab.
Rustum mengatakan, “Apa yang kalian bawa, dan apa yang
kalian minta dari kami?”

Lelaki Arab itu menjawab, “Kami datang untuk menjemput janji


Allah, dengan menaklukan wilayah dan rakyat kalian, jika
kalian enggan memilih Islam.”

Rustum menanggapi, “Jika kalian terbunuh sebelum janji itu


tercapai?”

“Yang terbunuh di antara kami akan masuk surga. Sedang yang


tidak terbunuh, akan dianugerahi Allah keberhasilan untuk
meraih janji-Nya. Kami meyakini itu!”

“Kalau demikian, berarti kami akan menjadi rendah di hadapan


kalian?”

“Perbuatan kalian sendiri yang merendahkan kalan. Allah akan


menyelamatkan kalian melalui perbuatan kalian. Oleh karena
itu, janganlah tertipu oleh apa yang kalian lihat. Kalian
tdak melawan manusia, namun yang kalian hadapi adalah
takdir!”

Setelah mendengar itu, Rustum pun kontan marah dan membunuh


lelaki Arab itu. Konon, saat ia bersama pasukannya melintasi
daerah Birs, yakni daerah antara Kufah dan Hullah,
pasukannya merampas harta dan menculik anak-anak. Mereka
juga meminum khamr (arak) dan memerkosa kaum wanita disana.

Penduduk daerah itu mengadu kepada panglima perang Rustum,


atas laporan tersebut, Rustum menyumpahi pasukannya, “Demi
Tuhan, orang Arab itu benar, tak ada yang menyelamatkan
kita kecuali perbuatan kita. Demi Tuhan, sesungguhnya orang
Arab bersama penduduk-penduduk itu. Mereka punya cara
pandang yang lebih baik daripada perbuatan kalian”.

Di lain pihak, Sa‟ad ibn Abi Waqqash sadar bahwa Rustum


sudah berancang-ancang untuk menyerang. Ia juga sudah
mengetahui rencana jahat panglima perang Persia itu. Karena
itu, ia mengirim Amr ibn Ma‟di Yakrib az-Zubaidi dan
Thulailah ibn Khuwailid al-Asadi, dibantu sepuluh prajurit,
untuk mencari tambahan informasi tentang Rustum dan
pasukannya.

Tak begitu jauh berjalan, kesepuluh orang tersebut melihat


musuh telah menyebar. Mereka yang di utus Saád kembali,
kecuali Thulaihah ibn Khuwailid. Ia terus berjalan dan
berhasil menyusup ke tengah pasukan musuh. Setelah itu
Thulaihah ibn Khuwailid kembali dan melaporkan hasil
temuannya kepada Saád.[1]

[1] Lihat: Cerita rinci tentang hal ini dalam al-bidayah wa


an-Nihayah, karya Ibnu Katsir, jilid 7, hlm 37-43 dan Itmam
al Wafa, karya al-Khudhar Bek, hlm. 62-77. (bersambung)

Komunikasi Antara Saád


dan Rustum (2)
ON JULY 16, 2017 BY KAMMIUNJ IN SEJARAH

Oleh Adi Sopyan


Bersama pasukannya, Rustum meninggalkan Hirah menuju
Qadisiyah. Ia menulis surat pada paglima pasukan kaum
Muslimin, Saád ibn Abi Wasqqash. Isinya meminta Saád
mengiirim seorang utusan untuk diajak berdialog. Saád lalu
mengutus Rub‟i ibn Amir.[1]

Setelah Rub‟i tiba di markas pasukan Persia, Rustum sedang


duduk di atas singgasananya yang terbuat dari emas,
permadani Namariq, serta bantal-bantal yang dilapisi emas.
Rub‟i ibn Amr menghampiri singgasana Rustum dengan tetap
berada di atas kuda. Tetap menenteng pedang yang terselubung
sarung, serta tombak yang diikat seutas tali.

Sesampai didepan hamparan permadani, kaki kudanya menginjak


alas itu. Dengan tenang, ia turun dan mengikatkan tali kuda
di kedua bantal Rustum. Rub‟i lalu mengambil muatan untanya
dan membopongnya.

Para pengawal Rustum mengisyaratkan agar Rub‟i meletakkan


persenjataannya. Ia pun meletakkan dan berkata, “Kalau aku
datang pada kalian, aku akan melakukannya sesuai perintah,
karena kalianlah yang mengundangku kesini.”

Rub‟i ibn Amir lalu menghadap Rustum dan bersandar pada


tombaknya. Ia melangkah mendekat, sampai merusak hamparan
permadani yang dilaluinya. Ia terus mendekati Rustum dan
duduk di atas tanah, kemudian menancapkan tombaknya di atas
hamparan permadani. Ia beralasan, “Aku tak akan duduk di
atas perhiasan kalian!” (Lihat kehormatan dan keberanian
para sahabat di era kepemimpinan Umar ibn Khaththab)

Rustum lantas bertanya, “Apa yang kalian bawa?”


Rub‟i menjawab, “Allah datang bersama kami. Dialah yang
mengirim kami, agar kami bisa menyelamatkan orang yang kami
inginkan dari penyembahan sesama hamba untuk menyembah Allah
semata. Kami akan mengeluarkan mereka dari kezaliman agama-
agama menuju keadilan Islam. Allah megutus Rasul-Nya kepada
seluruh makhluk dengan membawa agama-Nya. Barangsiapa
menerima agama-Nya, kami akan menerimanya, lalu kami akan
meninggalkanya, juga wilayahnya. Barangsiapa enggan
menerimanya, akan kami perangi, sampai jalan kami berakhir
di surga, atau kami menang.”

Mendengar itu, Rustum menjawab, “Aku telah mendengar ucapan


kalian. Apakah kalian bisa menunda sebentar agar kami
memikirkan permintaan kalian?”

Rub‟i menjawab, “Yang diajarkan Rasulullah kepada kami


adalah untuk memberi tempo kepada para musuh tidak lebih
dari tiga hari. Kami akan memberi tenggat tiga hari. Karena
itu pikirkan, dan pilih salah satu dari tiga perkara setelah
jatuh tempo. Pertama, Islam. Kalau kalian masuk Islam, kami
akan meninggalkan kalian dan wilayah
kalian. Kedua, jizyah. Kami menerima jizyah, dan kami akan
meninggalkan kalian. Jika kalian membutuhkan, kami akan
membantu. Ketiga, bertempur di hari keempat, kecuali kalian
lebih dulu menyerang kami. Aku bertanggung jawab dalam hal
ini dari apa yang dilakukan oleh teman-temanku.”

“Apakah engkau pimpinan mereka?” Tanya Rustum.


“Tidak,” jawab Rub‟i, “Namun Islam seperti satu tubuh. Orang
rendah di antara mereka bisa melindungi orang yang lebih
tinggi derajatnya.”

Rub‟i lalu pergi. Setelah itu, Rustum menghampiri teman-


temannya dan mengatakan, “Apakah kalian pernah mendengarkan
ucapan seperti ucapan laki-laki tadi?”

Mereka yang ditanya menjawab dan menghina penampilan Rubí


ibn Amir. Namun Rustum panglima pasukan Persia kala tu
berkata. “Celakalah kalian. Aku hanya melihat pendapat dan
ucapannya. Orang-orang Arab memang tidak menjaga penampilan
mereka, namun Kemulian mereka.” Lihat betapa terkesimanya
Panglima Persia kala itu melihat kemuliaan kaum muslimin
yang ditampilkan oleh Rub‟i ibn Amir, Semoga Allah
merahmatinya.

Pada hari kedua, Rustum kembali mengirimkan surat kepada


Sa‟ad ibn Abi Waqqash meminta Rub‟i kembali menemuinya.
Namun panglima kaum Muslimin itu mengirim Hudzaifah ibn
Muhshan al-Ghathfani. Sikap dan jawabnnya pada Rustum tak
jauh berbeda dengan jawaban Rub‟i.

Rustum bertanya.”Ia tidak mau melunak?”

Hudzaifah menjawab, “Pimpinan kami berlaku adil di antara


kami, baik dalam keadaan susah maupun senang. Dan kini
adalah giliranku.”
“Perjanjian tentang tenggang waktu, sampai kapan?” tanya
Rustum.

Hudzaifah menjawab, “Sampai tiga hari, terhitung sejak


kemarin.”

Pada hari ketiga, Rustum meminta pada Sa‟ad untuk


mengirimkan seorang utusan lagi. Kali ini yang diutus adalah
Mughirah ibn Syu‟bah. Sahabat itu pun berangkat dan tiba di
hadapan Rustum. Lantas, ia duduk bersama Rustum di atas
singgasananya. Sontak, para punggawa Rustum menariknya.

Mughirah berkata, “Dulu kabar yang aku terima tentang kalian


adalah sifat tenang dan tidak ceroboh. Dan sekarang aku
tidak melihat suatu kaumpun yang lebih bodoh dari kalian.
Kami bangsa Arab, sebagian kami tidak menjadikan yang lain
sebagai budak, kecuali ia menyerang yang lain. Aku pikir
kalian menempatkan bangsa kalian sama rata, sebagaimana yang
kami lakukan. Yang lebih tepat untuk kalian adalah
memberitahu kami bahwa sebagian kalian adalah tuan bagi
sebagian yang lain, dan bahwa perkara ini tidak bisa
berjalan secara adil diantara kalian. Aku tidak datang pada
kalian, namun kalianlah yang mengundangku. Hari ini aku tahu
bahwa kalian sesungguhnya telah kalah. Sistem kerajaan tidak
boleh seperti ini, dan tidak boleh berjalan di atas prinsip-
prinsip semacam ini.”

Mendengar kritikan tajam dari Mughirah pada bangsa Persia,


pemilik kasta rendah diantara mereka berkata, “Demi Allah,
Orang Arab ini benar, sedang para pemimpin dan pembesar kita
berkata, „Orang Arab ini telah melontarkan ucapan yang
membuat budak-budak kita menuntut,‟ Semoga Tuhan
membinasakan para pendahulu kita. Mereka selalu mengecilkan
kita.”

Rustum lalu menimpali ucapan Mughrah dengan mengagung-


agungkan bangsa Persia dan merendahkan bangsa Arab. Ia
menyebut soal kondisi bangsa Arab yang buruk serta
kehidupannya yang serba sulit. Namun Mughirah menjawab,
“Yang kau sebutkan tentang kami, perihal kondisi buruk,
kesulitan dunia, serta perselisihan itu kami tidak
memungkirinya. Namun Dunia itu berputar. Sesudah susah pasti
senang. Andai saja kalian mensyukuri apa yang telah
dikaruniakan Allah kepada bangsa kalian. Namun kalian tidak
bisa mensyukuri Anugerah Allah itu. Sikap kalian yang tidak
pandai bersyukur telah menjerumuskan kalian pada perubahan
kondisi dan keadaan. Sesungguhnya Allah swt telah mengutus
kepada kami seorang Rasul. Beliau memuji sesuatu yang baik
dan mengkritik yang buruk. Beliau memerintahkan kami untuk
mengajak manusia memeluk agama ini.”

Selanjutnya Mughirah menyebutkan penjelasan seperti yang


dilakukan dua pendahulunya yakni, di antara Islam, Jizyah,
atau perang. Setelah itu Mughirah pergi meninggalkan Rustum
beserta orang-orang Persia. Rustum lalu berkata kepada
pengikutnya, “Di manakah kalian dibanding mereka? Bukankah
dua orang lebih datang dan memberikan tiga pilhan bagi
kalian. Lantas orang ketiga ini datang dan tidak berbeda
dengan dua orang sebelumnya. Mereka menempuh cara yang sama
dan mewajibkan perkara yang sama. Demi Tuhan, mereka adalah
laki-laki. Aku bersumpah, jika orang memiliki etika dan
konsistensi, mereka pasti tidak akan berbeda pendapat. Tak
ada satu kaum pun yang sangat serius dalam menuntut
keinginan mereka, yang melebihi bangsa Arab ini.”

Meskipun Rustum berdecak kagum dengan sikap sahabat Nabi


iitu, namun bangsa Persia tidak dapat mengambil pelajaran
dan manfaat. Bahkan mereka tetap bersikukuh untuk terus
berbuat lalim, hingga Allah memutuskan perkara yang pasti
akan terjadi.[2]

Perang yang Menentukan

Bangsa Persia bersikukuh untuk berperang melawan kaum


Muslimin. Mereka menyiapkan pasukan dalam jumlah yang sangat
besar, dilengkap dengan peralatan canggih pada zamannya. Di
front terdepan, pasukan gajah yang terlatih berbaris. Hati
mereka benar-benar sudah dipenuhi dengan rasa sombong,
congkak, dan pongah. Di medan pertempuran, di antara kedua
pasukan membentang sungai al-Atiq (salah satu anak Sungai
Eufrat). Rustum lalu menulis surat kepada Sa‟ad yang
berbunyi, “kamu melintasi sungai menuju kami atau kami yang
akan melintasiinya menuju kalian”.

Sa‟ad menjawab, “Tidak, kalianlah yang melintasinya.”

Rustum dan pasukannya lantas melintasi Sungai al-Atiq. Ia


mengatur kekuatan pasukannya. Di bagian tengah, ia
memposisikan 18 gajah. Masing-masing dilengkap meriam dan
prajurit (Gajah waktu itu, kedudukannya seperti tank saat
ini. Mereka meletakkan di atas punggungnya alat seperti
tandu yang digunakan untuk melindungi orang yang berada di
dalamnya. Ia melempar meriamnya dari atas tanpa bisa dilihat
dari luar)

Di salah satu sisi barisan pasukan, Rustum memposisikan


delapan gajah dan di sisi lain tujuh gajah. Masing-masing
gajah itu dilengkapi meriam dan prajurit. Jalinus (pemimpin
perang Persia) berada di antara Rustum dan sayap kanan.
Bairuzan (pemimpin perang Persia) berada di antara Rustum
dan sayap kiri. Sedang antara Rustum dan Kisra (raja) Persia
yakni Yazdajird terdapat kurir yang bertugas mensuplai
informasi kejadian perang, detik per detik.

Di pihak kaum muslimin, Sa‟ad ibn Abi Waqqash membagi


pasukannya menjad lima bagian: lini tengah, sayap kanan,
sayap kiri, front depan, dan pasukan garis belakang. Ia
menunjuk beberapa orang yang fasih. Mereka bertugas
mengobarkan semangat pasukan kaum Muslimin untuk tegar
berjihad dan teguh menghadapi musuh. Sa‟ad ibn Abi Waqqash
juga memerintahkan beberapa pembaca Al-Qur‟an membaca Surah
al-Anfal.

Saat surah al-Anfal dibaca, ketenangan menyelimuti jiwa para


pasukan kaum Muslimin. Semuanya merindukan surga, Sa‟ad lalu
menginstruksikan pasukannya untuk tetap berada di posisi dan
barisannya. “Jangan bergerak sedikit pun sampai kalian
melakukan shalat Dzuhur. Seusai sholat, aku akan meneriakkan
takbir. Pada takbir pertama, ikutlah bertakbir, dan bersiap-
siaplah. Jika aku bertakbir untuk yang kedua kalinya,
bertakbirlah kalian serta pakailah perlengkapan dan
persenjataan perang. Jika aku bertakbir untuk yang ketiga
kalinya, bertakbirlah dan beri semangat sesama pasukan. Pada
pada takbir ke empat, seranglah sampai kalian berbaur dengan
pasukan musuh. Senantiasa ucapkan la haula wa la quwwata
illa billah al-aliy al-azhim (tidak ada daya dan upaya
kecuali dari Allah Yang Mahatinggi lagi Maha agung).

Perang berkecamuk dengan dahsyat, kedua kubu bertempur


sampai titik darah penghabisan. Pedang saling berdentingan,
tombak melayang kesana-kemari. Kedua belah pihak terlibat
dalam pertempuran yang tak ada bandingannya. Peperangan ini
berlangsung selama empat hari.[3] Setiap kali terhenti,
perang berkecamuk lagi. Setiap melemah, perang bergelora
lagi. Banyak sekali korban gugur dari kedua belah pihak,
demikian pula korban luka-luka.

Yang paling merepotkan kaum Muslimin adalah pasukan gajah.


Hampir saja para komandan pasukan berguguran karena kuda-
kuda mereka berlarian menghadapi pasukan gajah itu. Melihat
kondisi ini, pasukan kaum muslimin dari kalangan Bani Asad
yang dipimpin kepala sukunya, Thulaihah ibn Khuwailid al-
Asadi menyerang pasukan gajah.

Saat pasukan Persia melihat tindakan Bani Asad terhadap


pasukan gajahnya, mereka berputar. Gajah-gajah itu menginjak
pasukan Bani Asad, sedang disisi lain panah pasukan Persia
juga berhamburan ke arah mereka. Sa‟ad ibn Abi Waqqash
melihat kondisi Bani Asad yang serba kesulitan. Ia
memerintahkan Ashim ibn Amr at-Tamimi untuk memberikan
perlindungan. Lantas Ashim memberikan instruksi kepada
kaumnya untuk menyerang punggung gajah itu dengan panah. Ia
juga memerintahkan untuk memutus tali sabuk yang mengikat
meriam yang ada di atas punggung gajah-gajah itu. Bani Tamim
melakukan instruksi tersebut dan membuat gajah-gajah itu
panik dan saling menyerang satu sama lain.

Setelah hampir saja binasa, Bani Asad berhasil diselamatkan,


meskipun sekitar 500 orang Bani Asad gugur sebagai syahid.
Perang terus berkorban laksana api yang menyala-nyala, dan
berlangsung hingga matahari terbenam. Kedua belah pihak
kemudian berpisah. Hari pertama dinamakan dengan Armats, dan
malamnya dinamakan malam Hud’ah (malam tenang, karena di
malam itu tidak terjadi peperangan).

Pada hari kedua, Sa‟ad memerintahkan agar korban yang


meninggal dikuburkan sedangkan yang terluka dibawa ke al-
Adzib untuk diobati. Ia lalu menyiapkan pasukannya. Sebelum
peperangan terjadi, datang bantuan dari Syam dibawah
pimpinan Hasyim ibn Utbah ibn Abi Waqqash. Ia punya julukan
al-Mirqal. Yang mengirim mereka adalah Abu Ubaidah ibn
Jarrah, sesuai perintah Amirul Mukminin Umar ibn Khaththab.
Brigade Qa‟qa‟ ibn Amr at-Tamimi berada barisan terdepan
pada pasukan ini.

Hati kaum Muslimin semakin kuat dengan bala bantuan


tersebut. Di medang perang, Qa‟qa‟menantang pasukan Persia
untuk bertarung dengannya satu lawan satu. Bahwan Jadzawaih
atau yang sering dikenal dengan sebutan Dzul Hajib, komandan
militer Persia, maju melayani tantangan Qa‟qa‟. Pria ini
dikalangan bangsa Persia memiliki kedudukan kedua setelah
Rustum dan memiliki peran penting dalam perang Jisr
(jembatan) bagi bangsa Persia. Qa‟qa‟mengenali Dzul Hajib.
Ia berteriak dengan suara lantang, “Wahai pembunuh Abu
Ubaid, Salith, dan para Syuhada perang Jisr.
Dengan gesit, Qa‟qa‟menyerang Dzul Hajib dan berhasil
mengalahkannya. Bahwan (Dzul Hajib) tewas. Sekali lagi,
Qa‟qa‟ menantang kembali, maka tampilah Bairzan dan
Bandawan. Keduanya juga panglima Persia. Qa‟qa‟ berhasil
mengalahkan Bairzan sedangkan Bandawan tewas di tangan
Harits ibn Dhiyan. Qa‟qa‟ berteriak, “Wahai kaum Muslimin,
terjanglah mereka dengan pedang kalian!.” Dengan
terbunuhnya mereka, kaum Muslimin bergembira, sedang di lain
pihak. Pasukan persia sangat sedih, karena yang tewas adalah
panglima-panglima perang mereka.

Dihari itu, kaum muslimin berada di atas angin, kelompok


Qa‟qa‟ melakukan taktik untuk menakut-nakuti kuda pasukan
Persia. Mereka menambali tubuh unta dengan barang-barang
agar tampak seperti gajah. Unta-unta itu mendesak kuda-kuda
pasukan Persia hingga lari tunggang langgang. Pasukan kaum
Muslimin mengejar dan menyerang mereka, dan banyak korban
berjatuhan dari pihak musuh. Qa‟qa‟ ibn Amr at-Tamimi pada
hari itu tampil sebagai pahlawan.

Tak seperti hari pertama, perang hari kedua ini terus


berlangsung hingga larut malam. Hari itu dinamakan dengan
Hari Aghwats, sedang malamnya dinamakan Malam as-Sawad.

Pada hari ketiga, dua kelompok kembali ke markasnya masing-


masing. Dari pihak kaum Muslimin, ada 2.000 korban, baik
korban meninggal ataupun luka-luka. Prajurit yang meninggal
segera dimakamkan, sedangkan prajurit yang terluka
dievakuasi untuk memperoleh pengobatan. Kaum wanita berperan
besar dalam pengobatan pasukan yang mengalami luka-luka itu.
Memang benar adanya setiap pasukan yang hebat pasti ada kaum
wanita yang hebat pula, begitupun dengan laki-laki yang
hebat pasti ada wanita hebat yang ada dibelakangnya untuk
mendukungnya.

Di pihak kaum Persia yang terbunuh pada hari itu sebanyak


10.000 orang. Mereka tidak mengurus atau memikirkan
pemakaman mayat-mayat itu. Dibiarkan saja bergelimpangan di
medan perang. Ini menunjukkan sangat tidak
berperikemanusiaan.

Perang hari ketiga dimulai. Kali ini Hasyim ibn Utbah al-
Mirqal datang bersama sisa-sisa pasukannya. Bersama
terbitnya matahari, pasukan Qa‟qa‟datang. Saat melihatnnya
Hasyim berteriak, “Datang bantuan!” Saudaranya, Ashim,
melakukan hal yang sama seperti Qa‟qa‟.

Pasukan kaum Muslimin datang dari segala penjuru. Ini tentu


membuat moril dan semangat pasukan kaum Muslimin bertambah,
di lain pihak pasukan Persia makin melemah dengan banyaknya
pasukan terbunuh beserta panglima-panglimanya. Mereka
kembali menurunkan pasukan gajah ke tengah pertempuran, agar
pasukan Islam tidak memutus tali pengikatnya seperti pada
hari pertama perang. Namun kuda-kuda milik pasukan kaum
Muslimin tidak lari karena sudah terbiasa dengan kondisi
tersebut. Demikian pula gajah, jika berdiri sendirian dia
menjadi buas, namun jika dikelilingi orang, gajah akan
menjadi tenang.

Pertempuran pada hari ketiga makin memanas. Kedua belah


pihak merupakan pasukan yang berani mati. Sa‟ad menyuruh
Qa‟qa‟ dan Ashim untuk menyerang gajah, terutama gajah putih
dan gajah terlatih. Keduanya lalu mengambil busur panah dan
melesatkannya sehingga berhasil menembus mata gajah tu dan
memutus belalainya. Gajah itu menjadi panik dan akhirnya
membunuh pawang-pawangnya. Mereka lantas terjun ke Sungai
al-Atiq. Gajah-gajah itu mengikuti, hingga hewan dan
pelatihnya sama-sama tenggelam dan terbunuh di sungai.

Peperangan terus berlangsung hingga malam tiba, kedua belah


kubu berpisah sebentar, namun Sa‟ad kembali memerintahkan
pasukannya untuk menyerang Persia. Malam itu diramaikan
dengan dentingan suara besi. Pasukan kaum Muslimin tidak
mengeluarkan suara sedikit pun. Mereka hanya berdesis
layaknya suara kucing, oleh karenanya malam itu
dinamakan al-Harir (kucing). Peperangan terus berlanjut
hingga pagi hari.

Di tengah peperangan Qa‟qa‟ berseru, “Kemenangan akan diraih


oleh mereka yang sabar di saat-saat seperti ini. Karena itu
Bersabarlah! Kemenangan akan diraih dengan kesabaran.”
Beberapa panglima bergabung bersama pasukan Qa‟qa‟ hingga
sampai waktu siang hari. Lihat betapa hebatnya pasukan-
pasukan kaum Muslimin di peperangan ini, mereka bertarung
pagi, siang, malam tanpa henti. Ini membuktikan bahwa mereka
memiliki stamina yang prima, semangat yang berapi-api,
kesabaran yang luar biasa, dan cita-cita yang mulia!.

Dan puncaknya, Hilal ibn Ulfah, salah seorang anggota


pasukan kavaleri Muslim, bergerak mendekati Rustum dan
berhasil membunuh panglima besar kaum Persia. Dengan
kematian Panglima besar Persia ini, harapan pasukan Persia
untk memenangi pertempuran pun pupus.
Melihat panglimanya terbunuh, mereka memutuskan untuk
melarikan diri. Jalinus memerintahkan pasukannya melintasi
sungai. Saat mereka berusaha lari itulah,
sebanyak 30.000 orang terjatuh dan tenggelam. Korban
sebanyak itu jatuh karena mereka terikat satu sama lain,
memang seperti ini budaya perang bangsa Persia. Hal ini
diberlakukan bagi pasukannya agar mereka tidak lari
meninggalkan yang lainnya ketika sedang berperang, alhasil
ini malah menjadi bomerang bagi mereka yang mana jika di
peribahasakan seperti “Buah Simalakama”.

Dalam keadaan terikat dan diserang pasukan Muslim dengan


tombak, tak ada seorangpun yang selamat. Akhirnya mereka
yang berusaha lari itu menemui ajalnya juga, setelah
sebelumnya mereka melakukan pertempuran yang tak pernah
mereka alami sebelumnya. Dhirar ibn Khaththab al-Fahri
mengambil Darfasy Kabiyan. Apa itu Darfasy Kabiyan? Yaitu
bendera besar kebanggaan bangsa Persia. Hari ini dinamakan
dengan Hari al-Qadisiyyah.[4]

Seusai peperangan, Sa‟ad menginstruksikan untuk


mengumpulkan ghanimah lalu ia membagikannya sesuai dengan
ketentuan Allah swt. Pasukan islam benar-benar mendapatkan
kemenangan yang nyata. Sa‟ad mengirimkan
seperlima ghanimah beserta kabar gembira kepada Umar ibn
Khatthab di Madinnah.

Cerita menarik pada peristiwa ini yang dilakukan oleh Umar


ibn Khaththab
Ada cerita menarik ketika selesai peperangan. Konon, setiap
hari Umar ke luar Madinah, menunggu datangnya kabar dari
pasukan kaum Muslimin. Ia baru kembali ke kota di siang
hari. Saat seorang kurir pembawa berita datang, umar
bergegas menghampirinya, lalu bertanya, “Dari mana?”

Pria itu menjawab bahwa ia diutus Sa‟ad ibn Abi Waqqash


untuk memberikan kabar pada Umar.

Umar berkata, “Wahai hamba Allah, beri tahu aku kabar berita
itu”

Pria itu menjawab, “Allah mengalahkan kaum musyrikin”

Umar terus berjalan dibelakangnya, dan kurir tak mengetahui


bahwa orang yang membututinya adalah sang Khalifah. Sampai
ketika Umar ibn Khaththab masuk ke kota Madinah, orang-orang
mengucapkan salam dan menyapanya dengan panggilan Amirul
Mukminin. Pria pembawa berita itu lantas kaget dan berkata
kepada Amirul Mukminin Umar, “Kenapa engkau tidak
memberitahu aku sebelumnya bahwa engkau adalah Umar. Semoga
Allah merahmatimu.” Umar menjawab, “Tidak mengapa,
saudaraku”. Sungguh ini menunjukkan bahwa Khalifah Umar ibn
Khaththab adalah seorang yang tawadhu dan dekat dengan
rakyatnya . (bersambung)

[1] Rub‟i ibn ats-Tsaqafi ibn Khalid ibn Amr. Namanya sering
disebut dalam peperangan di Irak. Lihat: al-Ishabah, jilid
1, hlm. 503

[2] Lihat: Ibnu Katsir, al-Bidayah wa an-Nhayah, jilid 7,


hlm. 39-42
[3] Hari pertama dinamakan dengan hari Armats, hari kedua
dinamakan Aghwats, hari ketiga dinamakan Ammats, dan hari
keempat dinamakan hari al-Qadisiyyah.

[4] Lihat: ath-Thabari, Tarikh al-Umam wa ar-Rusul wa al-


Muluk, jilid 3, hlm. 563-564

Penutup kisah Penaklukan


Qadisiyah di era
kepemimpinan Umar ibn
Khaththab (3)
ON JULY 16, 2017 BY KAMMIUNJ IN SEJARAH

Oleh Adi Sopyan

Peristiwa penaklukan ini merupakan kejadian terbesar yang di


alami kaum Muslimin bersama bangsa Persia. Dalam pertempuran
ini banyak tokoh dan pemimpin pasukan musuh yang tewas,
demikian pula pasukannya, baik tewas karena perang maupun
karena tenggelam. Disebutkan, jumlah tewas dari pihak mereka
hampir mencapai 50.000 orang. Di pihak kaum Muslimin, banyak
pula tokoh-tokoh Arab dan pemuka sahabat yang gugur sebagai
syuhada. Karena demikian besarnya korban yang meninggal pada
peperangan ini, dampaknya kaum Muslimin tidak begitu
menganggap besar kejadian-kejadian yang terjadi di kemudian
harinya. Dalam pertempuran kali selama tiga hari
ini, sebanyak 2.500 mujahidin meninggal dunia.[1]

Pada penaklukan Qadisiyah, iman kaum Muslimin kepada Allah


swt serta sikap tawakal mereka benar-benar terbukti. Sebagai
balasannya, Allah swt menurunkan ketenangan dalam hati
mereka sehingga Allah swt menganugerahkan kemenangan yang
nyata bagi mereka, meskipun jumlah pasukan dan persiapan
kaum Muslimin sengat sedikit dibandingkan persiapan bangsa
Persia.

Mahabenar Allah swt yang berfirman,

“Dan Kami selalu berkewajiban menolong orang-orang yang


beriman.” (QS. Ar-Rum: 47)

Allah swt juga berfirman,

“Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat


mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan
Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah:249)

Dalam Firman-Nya yang lain, Allah juga berfirman,

“Dan kemenanganmu itu hanyalah dari Allah yang Mahaperkasa


lagi Mahabijaksana.” (QS. Ali-Imran: 126)

Begitulah kisah singkat mengenai penaklukan Qadisiyah di era


kepemimpinan Umar ibn Khaththab, semoga kita semua mengambil
manfaat dari kisah tersebut. Dan selalu ingat Firman Allah
swt “Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat
mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan
Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah:249).

Teruslah membaca untuk meningkatkan kapasitas diri dan


teruslah membaca sejarah-sejarah Islam, karena tak ada satu
bangsa pun yang memiliki sejarah secemerlang umat Islam.
Umat islam sudah mencapai kemajuan dan kejayaan dalam
berbagai ranah keilmuan, pengetahuan, serta fakta sejarah
yang terpuji. Peradaban Islam tidak akan mampu disaingi oleh
peradaban lain. Para tokoh Islam juga tidak akan tersaingi
oleh tokoh bangsa lain, khususnya al-Khulafa ar-
Rasyidun yakni Abu Bakar ash-Shiddiq, Umar ibn Khaththab,
Utsman ibn Affan, dan Ali ibn Abi Thalib.

So JASMERAHIM (Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah Islam)

Mulailah mencintai Sejarah Islam, Mulailah mencintai membaca


buku, dan mulailah mencintai segelas kopi hangat . Dengan
itu, “Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu
dustakan?”

Semoga shalawat serta salam tercurah kepada junjungan kita,


Nabi Muhammad saw, beserta keluarga, dan semua sahabatnya.

Akhir doa mari kita ucapkan alhamdulillahi Rabbil’Alamin.

[1] Lihat: Ibnu Katsir, al-Bidayah wa an-Nihayah, jilid 7,


hlm. 43-44; Ibnu al-Atsir, al-Kamil fi at-Tarikh, jilid 2,
hlm. 334-337; Muhammad sayyid al-Wakil, Jaulah Tarkhiyyah
fi’Ashri al-Khulafa ar-Rasyidin, hlm. 123-129; dan Khudhari
Bek, Itmam al-Wafa, hlm. 65-71.