You are on page 1of 20

Laporan Pendahuluan Luka Bakar (Combutsio)

  • 1. Konsep Dasar Medis

    • A. Definisi

      • Luka bakar adalah kerusakan atau kehilangan jaringan yang disebabkan oleh kontak dengan sumber panas seperti api, air panas, bahan kimia, listrik dan radiasi.

      • Luka bakar adalah luka yang disebabkan oleh kontak dengan suhu tinggi seperti api, air panas, listrik, bahan kimia dan radiasi. Juga disebabkan oleh kontak dengan suhu rendah (ferosbite). Luka bakar ini dapat mengakibatkan kematian atau akibat lain yang berkaitan dengan problem fungsi maupun estetik.

      • Luka bakar adalah luka yang terjadi akibat sentuhan permukaan tubuh dengan benda-benda yang menghasilkan panas (api, air panas, listrik) atau zat-zat yang bersifat membakar (asam

 

kuat, basa kuat).

-

Luka bakar termal : Agen pencedera dapat berupa api, air panas, ataukontak dengan

objek panas.

-

Luka bakar api : Berhubungan dengan asap/cedera inhalasi.

-

Luka bakar kimia :Terjadi dari tipe/kandungan agenpencedera, sertakonsentrasi dan suhu agen.

-

Luka bakar listrik :Suatu trauma yang disebabkan oleh arus listrik,yang mengenai kulit, mukosa dan jaringan yanglebih dalam. Faktor yang membedakan keparahan karena arus listrik:

1) Jenis dan besarnya arus listrik 2) Jalan masuknya arus listrik 3) Lama kontak dengan arus listrik.

  • B. Etiologi Luka bakar disebabkan oleh pengalihan energi dari suatu sumber panas kepada tubuh. Panas dapat dipindahkan melalui hantaran atau radiasi elektromagnetik. Destruksi jaringan terjadi akibat koagulasi denaturasi protein atau iosinasi isi sel. Ada lima mekanisme timbulnya luka bakar: 1) Api: kontak dengan kobaran api. 2) Luka bakar cair: kontak dengan air mendidih, uap panas, dan minyak panas. 3) Luka bakar kimia: asam akan menimbulkan panas ketika kontak dengan jaringan organik. 4) Luka bakar listrik: tidak terlalu sering terjadi di Indonesia. Bisa timbul dari sambaran petir atau aliran listrik. Luka bakar listrik memiliki karakteristik yang unik, sebab sekalipun sumber panas (listrik) berasal dari luar tubuh, kebakaran/kerusakan yang parah justru terjadi di dalam tubuh. 5) Luka bakar kontak : kontak langsung dengan obyek panas, misalnya dengan wajan panas atau knalpot sepeda motor. Hal ini sangat sering terjadi di Indonesia.

  • C. Patofisiologi Luka bakar disebabkan oleh pengalihan energi dari sumber-sumber panas kepada tubuh. Panas dapat dipindahkan oleh radiasi elektromagnetik.Pada kasus luka bakar listrik kerusakan diakibatkan oleh arus listrik yang masuk ketubuh dan menjalar ke jaringan. Ekstremitas biasanya terkena kerusakan jaringan yang lebih parah karena ukurannya lebih kecil di banding tubuh, menyebabkan arus yang besar terkumpul diekstremitas. Luka tambahan karena listrik adalah luka bakar pada kulit pada tempat masuk dan keluarnya arus listrik karena putaran suhu tinggi oleh aliran listrik (2,5000C) pada permukaan kulit, luka bakar yang terjadi karena baju korban terbakar. Mungkin disertai patah tulang dan dislokasi karena otot-otot berkontraksi akibat listrik. Luka bagian dalam biasanya termasuk kerusakan otot, kerusakan saraf dan kemungkinan penggumpalan darah disebabkan tekanan arus listrik, kerusakan organ dalam rongga atau perut. Penderita luka bakar juga dapat mengalami kenaikan penguapan air. Di mana selama 48 jam pertama kehilangan ini terutama disebabkan oleh eksudat pada permukaan luka. Daerah kehilangan seluruh ketebalan kulit yang mula-mula kering dan kurang mengalami penguapan air tetapi dengan semakin melunaknya luka bakar maka penguapan air akan meningkat dengan cepat. Pada luka bakar seluruh ketebalan kulit yang luas, penguapan dapat mencapai 6-8 liter sehari.

  • D. Fase Fase Luka Bakar Fase fase luka bakar yaitu :

1)

Fase akut.

  • a. Proses inflamasi dan infeksi.

2)

Disebut sebagai fase awal atau fase syok. Dalam fase awal penderita akan mengalami ancaman gangguan airway (jalan nafas), breathing (mekanisme bernafas), dan circulation (sirkulasi). Gangguan airway tidak hanya dapat terjadi segera atau beberapa saat setelah terbakar, namun masih dapat terjadi obstruksi saluran pernafasan akibat cedera inhalasi dalam 48-72 jam pasca trauma. Cedera inhalasi adalah penyebab kematian utama penderita pada fase akut. Pada fase akut sering terjadi gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit akibat cedera termal yang berdampak sistemik. Fase sub akut

Berlangsung setelah fase syok teratasi. Masalah yang terjadi adalah kerusakan atau kehilangan jaringan akibat kontak denga sumber panas. Luka yang terjadi menyebabkan:

  • b. Problem penutupan luka dengan titik perhatian pada luka telanjang atau tidak berbaju epitel luas dan atau pada struktur atau organ -organ fungsional.

  • c. Keadaan hipermetabolisme.

3)

Fase lanjut Fase lanjut akan berlangsung hingga terjadinya maturasi parut akibat luka dan pemulihan fungsi organ-organ fungsional. Problem yang muncul pada fase ini adalah penyulit berupa

parut yang hipertropik, keloid, gangguan pigmentasi, deformitas dan kontraktur

  • E. Manifestasi Klinis Beratnya luka bakar tergantung kepada jumlah jaringan yang terkena dan kedalaman luka: 1) Luka bakar derajat I Merupakan luka bakar yang paling ringan. Kulit yang terbakar menjadi merah,nyeri, sangat sensitif terhadap sentuhan dan lembab, atau membengkak.Jika ditekan , daerah yang terbakar akan memutih, belum terbentuk lepuhan.

E. Manifestasi Klinis Beratnya luka bakar tergantung kepada jumlah jaringan yang terkena dan kedalaman luka: 1)
E. Manifestasi Klinis Beratnya luka bakar tergantung kepada jumlah jaringan yang terkena dan kedalaman luka: 1)

2) Luka bakar derajat II Menyebabkan kerusakan yang lebih dalam. Terjadi kerusakan epidermis dan dermis. Kulit melepuh, dasarnya tampak merah, atau keputihan dan terisi oleh cairan kental yang jernih. Jika disentuh warnanya berubah menjadi putih dan terasa nyeri.

E. Manifestasi Klinis Beratnya luka bakar tergantung kepada jumlah jaringan yang terkena dan kedalaman luka: 1)

-

E. Manifestasi Klinis Beratnya luka bakar tergantung kepada jumlah jaringan yang terkena dan kedalaman luka: 1)

3) Luka bakar derajat III Menyebabkan kerusakan yang paling dalam.Seluruh epidermis dan dermis telah rusak dan telah pula merusak jaringan di bawahnya (lemak atau otot). Permukaannya bisa berwarna putih dan lembut atau berwarna hitam, hangus dan kasar. Kerusakan sel darah merah pada daerah yang terbakar bisa menyebabkan luka bakar berwarna merah terang. Kadang daerah yang terbakar melepuh dan rambut/ bulu ditempat tersebut mudah dicabut dari akarnya. Jika disentuh, tidak timbul rasa nyeri karena ujung saraf pada kulit telah mengalami kerusakan.Jaringan yang terbakar bisa mati. Jika jaringan mengalami kerusakan akibat luka bakar, maka cairan akan merembes dan pembuluh darah dan menyebabkan pembengkakan.

Pada luka bakar yang luas, kehilangan sejumlah besar cairan karena perembesan tersebut bisa menyebabkan terjadinya syok. Tekanan darah sangat rendah sehingga darah yang mengalir ke otak sangat sedikit.

Pada luka bakar yang luas, kehilangan sejumlah besar cairan karena perembesan tersebut bisa menyebabkan terjadinya syok.
  • F. Kedalaman Luka Bakar 1) Luka bakar derajat I

    • a. Kerusakan terjadi pada lapisan epidermis

    • b. Kulit kering, hiperemi berupa eritema

    • c. Tidak dijumpai bulla

    • d. Nyeri karena ujung-ujung saraf sensorik teriritasi

    • e. Penyembuhan terjadi spontan dalam waktu 5-10 hari

2) Luka bakar derajat II Tampak bullae, dasar luka kemerahan (derajat IIA), dasar pucat keputihan (derajat IIB), nyeri

hebat terutama pada derajat IIA. Luka bakar derajat II ini dibedakan menjadi 2 (dua), yaitu :

  • Derajat II dangkal (superficial)

    • a. Kerusakan mengenai bagian superfisial dari dermis.

    • b. Organ-organ kulit seperti folikel rambut, kelenjar keringat, kelenjar sebasea masih utuh.

    • c. Penyembuhan terjadi spontan dalam waktu 10-14 hari.

  • Derajat II dalam (deep)

    • a. Kerusakan mengenai hampir seluruh bagian dermis.

    • b. Organ-organ kulit seperti folikel rambut, kelenjar keringat, kelenjar sebasea sebagian besar masih utuh.

    • c. Penyembuhan terjadi lebih lama, tergantung epitel yang tersisa. Biasanya penyembuhanterjadi lebih dari sebulan. 3) Luka bakar derajat III

      • a. Kerusakan meliputi seluruh lapisan dermis dan lapisan yang lebih dalam.

      • b. Organ-organ kulit seperti folikel rambut, kelenjar keringat, kelenjar sebasea mengalami kerusakan

      • c. Tidak dijumpai bulae.

      • d. Kulit yang terbakar berwarna abu-abu dan pucat. Karena kering letaknya lebih rendah dibanding kulit sekitar

      • e. Terjadi koagulasi protein pada epidermis dan dermis yang dikenal sebagai eskar.

    • f. Tidak dijumpai rasa nyeri dan hilang sensasi, oleh karena ujung- ujung saraf sensorik mengalami kerusakan/kematian.

    • g. Penyembuhan terjadi lama karena tidak terjadi proses epitelisasi spontan dari dasar luka. Gambar Klasifikasi luka bakar sesuai kedalamannya

    f. Tidak dijumpai rasa nyeri dan hilang sensasi, oleh karena ujung- ujung saraf sensorik mengalami kerusakan/kematian.

    Perbedaan

    Derajat 2

    Derajat 3

    • 1. Penyebab

    • - Suhu lama & kontak sedang

    • - Suhu > tinggi atau kontak lebih lama.

    • 2. Warna kulit bila epitel lepas

    • - Merah

    • - Putih pucat

    • 3. Rasa sakit

    • - +

    • - Tidak sakit

    • 4. Penyerapan warna

    • - +

    • - +++

    • 5. Penyembuhan

    • - Superfisial 2 - 3 minggu

    • - Melalui jaringan

    Dalam

    • - 3 4 minggu

    granulasi

    • G. Luas Luka Bakar Luas luka tubuh dinyatakan sebagai persentase terhadap luas permukaan tubuh atau Total Body Surface Area (TBSA). Untuk menghitung secara cepat dipakai Rules of Nine atau Rules of Walles dari Walles. Perhitungan cara ini hanya dapat diterapkan pada orang dewasa, karena anak-anak mempunyai proporsi tubuh yang berbeda. Pada anak-anak dipakai modifikasi Rule of Nines menurut Lund and Browder, yaitu ditekankan pada umur 15 tahun, 5 tahun dan 1 tahun.

    Wallace membagi tubuh bagian 9 % atau kelipatan 9 yang terkenal dengan nama rule of nine

    Wallace membagi tubuh bagian 9 % atau kelipatan 9 yang terkenal dengan nama rule of nine atau rule of Wallace, yaitu:

    1)

    Kepala sampai leher

    : 9 %

    2)

    Lengan kanan

    : 9 %

    3)

    Lengan kiri

    : 9 %

    4)

    Dada sampai prosessus sipoideus

    : 9 %

    5)

    Prosessus sipoideus sampai umbilicus

    : 9 %

    6)

    Punggung

    : 9 %

    7)

    Bokong

    : 9 %

    8)

    Genetalia

    : 1 %

    9)

    Paha sampai kaki kanan depan

    : 9 %

    10)

    Paha sampai kaki kanan belakang

    : 9 %

    11)

    Paha sampai kaki kiri depan

    : 9 %

    12)

    Paha sampai kaki kiri belakang

    : 9 %

     

    100%

    Berdasarkan tingkat keseriusan luka :

    1)

    Luka bakar ringan/ minor

    • a. Luka bakar dengan luas < 15 % pada dewasa

    • b. Luka bakar dengan luas < 10 % pada anak dan usia lanjut

    • c. Luka bakar dengan luas < 2 % pada segala usia (tidak mengenai muka, tangan, kaki, dan perineum.

    2)

    Luka bakar sedang (moderate burn)

    • a. Luka bakar dengan luas 15 25 % pada dewasa, dengan luka bakar derajat III kurang dari 10 %

     

    b.

    Luka bakar dengan luas 10 20 % pada anak usia < 10 tahun atau dewasa > 40 tahun, dengan luka bakar derajat III kurang dari 10 %

    c.

    Luka bakar dengan derajat III < 10 % pada anak maupun dewasa yang tidak mengenai muka, tangan, kaki, dan perineum.

    3)

    Luka bakar berat (major burn)

    a.

    Derajat II-III > 20 % pada pasien berusia di bawah 10 tahun atau di atas usia 50 tahun

    b.

    Derajat II-III > 25 % pada kelompok usia selain disebutkan pada butir pertama

    c.

    Luka bakar pada muka, telinga, tangan, kaki, dan perineum

    d.

    Adanya cedera pada jalan nafas (cedera inhalasi) tanpa memperhitungkan luas luka bakar

    e.

    Luka bakar listrik tegangan tinggi

    f.

    Disertai trauma lainnya

    g.

    Pasien-pasien dengan resiko tinggi.

    • H. Komplikasi

    1)

    Syok hipovolemik

    2)

    Kekurangan cairan dan elektrolit

     

    3) Hypermetabolisme

    4) Infeksi

    5)

    Gagal ginjal akut

    6)

    Masalah pernapasan akut; injury inhalasi, aspirasi gastric, pneumonia bakteri, edema.

    7)

    Paru dan emboli

    8)

    Sepsis pada luka

    9)

    Ilius paralitik.

    • I. Pertolongan Pertama Pada Luka Bakar

    1)

    Jauhkan dari sumber trauma

    a.

    Api dipadamkan

    b.

    Kulit yang panas disiram dengan air

    c.

    Bahan kimia disiram dengan air mengalir.

    d.

    Cara mematikan api :

    • Pasien dibaringkan

    • Ditutup dengan kain basah atau berguling guling.

    2) Cooling Dinginkan daerah yang terkena luka bakar dengan menggunakan air mengalir selama 20 menit, hindari hipotermia (penurunan suhu di bawah normal, terutama pada anak dan orang tua). Cara ini efektif samapai dengan 3 jam setelah kejadian luka bakar Kompres dengan air dingin (air sering diganti agar efektif tetap memberikan rasa dingin) sebagai analgesia (penghilang rasa nyeri) untuk luka yang terlokalisasi Jangan pergunakan es karena es menyebabkan pembuluh darah mengkerut (vasokonstriksi) sehingga justru akan memperberat derajat luka dan risiko hipotermia Untuk luka bakar karena zat kimia dan luka bakar di daerah mata, siram dengan air mengalir yang banyak selama 15 menit atau lebih.

    3)

    Bebaskan jalan nafas, misalnya :

    • a. Buka baju

    • b. Lendir diisap

    • c. Trakheotomi dilakukan bila ada keraguan akan jalan napas.

    4)

    Perbaiki pernapasan ( resusitasi pernapasan )

    5)

    Terbakar di ruangan tertutup, persangkaan keracunan CO, maka diberikan O2 murni.

    6)

    Perbaiki sirkulasi ( infus RL / NaCl )

    7)

    Trauma asam / basa, bilas dengan air mengalir terus menerus.

    8)

    Baju , alas & penutup luka/ tubuh, diganti dengan yang steril.

    Tindakan Sebelum RS Untuk Melindungi Luka :

    1) Isolasi luka dari sekitarnya 2) Jaga agar luka tidak dehidrasi 3) Jaga agar luka dalam keadaan istirahat.

    Gangguan Yang Segera Terjadi :

    1)

    Akibat listrik

    : Apnea, fibrillasi ventrikel

    2)

    Rasa sakit

    : Bilas dengan air dingin

    3)

    Keracunan CO

    : Sakit kepala, muntah muntah ( berikan O2 murni)

    4) Edema luas & mendadak, gangguan sirkulasi terjadi karena :

    • a. Perubahan permeabilitas pembuluh darah. Koloid dengan molekul 300.000 dapat keluar dari pembuluh darah → menurunkan tekanan onkotik → edema

    • b. Potensial membrane sel menurun → Na& air masuk → K keluar sel → peristaltik usus menurun.

    • J. Terapi Cairan

    Tujuan

    : Memperbaiki sirkulasi & mempertahankan keseimbangancairan

    Indikasi :

    1)

    Luka bakar derajat

    2 3

    dan > 25

    %

    2) Tidak dapat minum 3) Terapi cairan stop “intake” oral dapat menggantikan parenteral

    • K. Resusitasi Cairan Tujuan resusitasi cairan pada syok luka bakar adalah:

    Preservasi reperfusi yang adekuat dan seimbang diseluruh pembuluh vaskuler regional sehingga tidak terjadi iskemia jaringan Minimalisasi dan eliminasi pemberian cairan bebas yang tidak diperlukan. Optimalisasi status volume dan komposisi intravaskuler untuk menjamin survival seluruh sel Minimalisasi respon inflamasi dan hipermetabolik dan mengupayakan stabilisasi pasien secepat mungkin kembali ke kondisi fisiologis.

    • a. Jenis cairan Terdapat tiga jenis cairan secara umum yaitu kristaloid, cairan hipertonik dan koloid: Larutan Kristaloid Larutan ini terdiri atas cairan dan elektrolit. Contoh larutan ini adalah Ringer Laktat dan NaCl 0,9%. Komposisi elektrolit mendekati kadarnya dalam plasma atau memiliki osmolalitas hampir sama dengan plasma. Pada keadaan normal, cairan ini tidak hanya dipertahankan di ruang intravaskular karena cairan ini banyak keluar ke ruang interstisial. Pemberian 1 L Ringer Laktat (RL) akan meningkatkan volume intravaskuer 300 ml. Larutan Hipertonik Larutan ini dapat meningkatkan volume intravaskuler 2,5 kali dan penggunaannya dapat mengurangi kebutuhan cairan kristaloid. Larutan garam hiperonik tersedia dalam beberapa konsentrasi, yaitu NaCl 1,8%, 3%, 5 %, 7,5% dan 10%. Osmolalitas cairan ini melebihi cairan intraseluler sehingga cairan akan berpindah dari intraseluler ke ekstraseluler. Larutan garam hipertonik meningkatkan volume intravaskuler melalui mekanisme penarikan cairan dari intraseluler. Larutan Koloid Contoh larutan koloid adalah Hydroxy-ethyl starch (HES) dan Dextran. Molekul koloid cukup besar sehingga tidak dapat melintasi membran kapiler, oleh karena itu sebagian akan tetap dipertahankan didalam ruang intravaskuler. Pada luka bakar dan sepsis, terjadi peningkatan permeabilitas kapiler sehingga molekul akan berpindah ke ruang interstisium. Hal ini akan memperburuk edema interstisium yang ada. HES merupakan suatu bentuk hydroxy-substitued amilopectin sintetik, HES berbentuk larutan 6% dan 10% dalam larutan fisiologik. T ½ dalam plasma selama 5 hari, tidak bersifat toksik, memiliki efek samping koagulopati namun umumnya tidak menyebabkan masalah klinis. HES dapat memperbaiki permeabilitas kapiler dengan cara menutup celah interseluler pada lapisan endotel sehingga menghentikan kebocoran cairan, elektrolit dan protein. Penelitian terakhir mengemukakan bahwa HES memiliki efek antiinflamasi dengan menurunkan lipid protein complex yang dihasilkan oleh endotel, hal ini diikuti oleh perbaikan permeabilitas kapiler. Efek antiinflamasi diharapkan dapat mencegah terjadinya SIRS.

    • b. Dasar pemilihan Cairan Beberapa faktor yang harus diperhatikan dalam pemilihan cairan adalah efek hemodinamik, distribusi cairan dihubungkan dengan permeabilitas kapiler, oksigen, PH buffering, efek hemostasis, modulasi respon inflamasi, faktor keamanan, eliminasi praktis dan efisien. Jenis cairan terbaik untuk resusitasi dalam berbagai kondisi klinis masih menjadi perdebatan terus diteliti. Sebagian orang berpendapat bahwa kristaloid adalah cairan yang paling aman digunakan untuk tujuan resusitasi awal pada kondisi klinis tertentu. Sebagian pendapat koloid bermanfaat untuk entitas klinik lain. Hal ini dihubungkan dengan karakteristik masing-masing cairan yang memiliki kelebihan dan kekurangan. Pada kasus luka bakar, terjadi kehilangan ciran di kompartemen interstisial secara masif dan bermakna sehingga dalam 24 jam pertama resusitasi dilakukan dengan pemberian cairan kristaloid.

    • c. Penentuan jumlah cairan Untuk melakukan resusitasi dengan cairan kristaloid dibutuhkan tiga sampai empat kali jumlah defisit intravaskuler. 1 L cairan kristaloid akan meningkatkan volume intravaskuler 300 ml. Kristaloid hanya sedikit meningkatkan cardiac output dan memperbaiki transpor oksigen.

    Penatalaksanaan dalam 24 jam pertama

    Resusitasi syok menggunakan Ringer laktat atau ringer asetat, menggunakan beberapa jalur intravena. Pemberian cairan pada syok atau kasus luka bakar > 25-30% atau dijumpai keterlambatan > 2 jam. Dalam <4 jam pertama diberikan cairan kristaloid sebanyak 3[25%(70%xBBkg)] ml. 70% adalah volume total cairan tubuh, sedangkan 25% dari jumlah minimal kehilangan cairan tubuh dapat menimbulkan gejala klinik sidrom syok. Pada resusitasi cairan tanpa adanya syok atau kasus luka bakar luas < 25-30%, tanpa atau dijumpai keterlambatan < 2 jam. Kebutuhan dihitung berdasarkan rumus baxter 3-4 ml/kgBB/% LB. Metode Parkland merupakan metode resusitasi yang paling umum digunakan pada kasus luka bakar, menggunakan cairan kristaloid. Metode ini mengacu pada waktu iskemik sel tubulus ginjal < 8 jam sehingga lebih tepat diterapkan pada kasus luka bakar yang tidak terlalu luas tanpa keterlambatan.

    Pemberian cairan menurut formula Parkland adalah sebagai berikut:

    Pada 24 jam pertama: separuh jumlah cairan diberikan dalam 8 jampertama, sisanya diberikan dalam 16 jam berikutnya. Pada bayi, anak dan orang tua, kebutuhan cairan adalah 4 ml. Bila dijumpai cedera inhalasi maka kebutuhan cairan 4 ml ditambah 1% dari kebutuhan. Penggunaan zat vasoaktif (dopamin dan dobutamin) dengan dosis 3 mg/kgBB dengan titrasi atau dilarutkan dalam 500ml Glukosa 5% jumlah tetesan dibagi rata dalam 24 jam. Pemantauan untuk menilai sirkulasi sentral melalui tekanan vena sentral (minimal 6-12cm H20) sirkulasi perifer (sirkulasi renal). Jumlah produksi urin melalui kateter, saat resusitasi (0,5- 1ml /kg BB/jam maka jumlah cairan ditingkatkan 50% dari jam sebelumnya. Pemeriksaan fungsi renal (ureum, kreatinin) dan urinalisis (berat jenis dan sedimen). Pemantauan sirkulasi splangnikus dengan menilai kualitas dan kuantitas cairan lambung melaui pipa nasogastrik. Jika , 200ml tidak ada gangguan pasase lambung, 200-400ml ada gangguan ringan, >400 ml gangguan berat.

    Penatalaksanaan 24 jam kedua

     

    Pemberian cairan yang menggunakan glukosa dan dibagi rata dalam 24 jam. Jenis cairan yang dapat

    diberikan adalah glukosa5% atau 10% 1500-2000 ml. Batasan ringer laktat dapat memperberat edema interstisial. Pemantauan sirkulasi dengan menilai tekanan vena pusat dan jumlah produksi uin <1-2

    ml/kgBB/jam,berikan vasoaktif samapi 5 mg/kgBB Pemantauan analisa gas darah, elektrolit

    Penatalaksanaan setelah 48 jam Cairan diberikan sesuai kebutuhan maintanance

    Pemantauan sirkulasi dengan menilai produksi urin (3-4 ml/kgBB), hemoglobin dan hematokrit.

     

    Rumus Baxter:

    Pada dewasa:

    Hari I: 3-4 ml x kgBB x % luas luka bakar

    Hari II:Koloid: 200-2000 cc + glukosa 5% Pemberian cairan ½ volume pada 8 jam pertama dan ½ volume diberikan 16jamberikutnya.

    Pada anak:

    Hari I:

    RL:dex 5% = 17:3 (2cc x kgBB x % luas luka bakar) + keb. faal

    Kebutuhan Faal:

    <1 thn = kgBB X 100cc

    5-15 thn = kgBB X 75cc >15 thn = kgBB X 50cc

    Hari II: sesuai kebutuhan faal Formula Parkland:

    Hari I (24jam pertama):

    • 8 jam pertama: [0,5 x (4 cc x kgBB x % TBSA )] / 8 jam =cc/jam

    16 jam kedua: [0,5 X (4 cc x kg BB x % TBSA)] / 16 jam = cc/jam Penambahan cairan rumatan pada anak :

    • 4 cc/kgBB/jam dalam 10 kg pertama

    • 2 cc/kg BB/jam dalam 10 kg

    kedua (11-20kg)

    • 1 cc/kgBB/jam untuk tiap >20kg

    Bila

    dijumpai

    cedera

    inhalasi

    maka

    kebutuhan

    cairan

    4

    ml

    ditambah

    1%

    dari

    kebutuhan.Pengawasan kecukupan cairan yang diberikan dapat dilihat dari produksi urin yaitu pada

    dewasa 0,5-1,0 cc/kg/jam dan pada anak 1,0-1,5 cc/kg/jam.

    • 2. Perawatan luka Perawatan luka dilakukan setelah tindakan resusitasi jalan napas, mekanisme bernapas dan resusitasi cairan dilakukan. Tindakan meliputi debridement secara alami, mekanik (nekrotomi) atau tindakan bedah (eksisi), pencucian luka, wound dressing dan pemberian antibiotik topikal . Tujuan perawatan luka adalah untuk menutup luka dengan mengupaya proses reepiteliasasi, mencegah infeksi, mengurangi jaringan parut dan kontraktur dan untuk menyamankan pasien. Debridement diusahakan sedini mungkin untuk membuang jaringan mati dengan jalan eksisi tangensial.Tindakan ini dilakukan setelah keadaan penderita stabil, karena merupakan tindakan yang cukup berat.Untuk bullae ukuran kecil tindakannya konservatif sedangkan untuk ukuran besar(>5cm) dipecahkan tanpa membuang lapisan epidermis diatasnya. Pengangkatan keropeng (eskar) atau eskarotomi dilakukan juga pada luka bakar derajat III yang melingkar pada ekstremitas atau tubuh sebab pengerutan keropeng(eskar) da pembengkakan yang terus berlangsung dapat mengakibatkan penjepitan (compartment syndrome) yang membahayakan sirkulasi sehingga bahgian distal iskemik dan nekrosis(mati). Tanda dini penjepitan (compartment syndrome) berupa nyeri kemudian kehilangan daya rasa (sensibilitas) menjadi kebas pada ujung-ujung distal.Keaadan ini harus cepat ditolong dengan membuat irisan memanjang yang membuka keropeng sampai penjepitan bebas.

    Pencucian luka dilakukan dengan hidroterapi yaitu memandikan pasien atau dengan air hangat mengalir dan sabun mandi bayi. Lalu luka dibalut dengan kasa lembab steril dengan atau tanpa krim pelembap.Perawatan luka tertutup dengan occlusive dressing untuk mencegah penguapan berlebihan.Penggunaan tulle (antibiotik dalam bentuk sediaan kasa) berfungsi sebagai penutup luka yang memfasilitasi drainage dan epitelisasi.Sedangkan krim antibiotik diperlukan untuk mengatasi infeksi pada luka.

    • L. Penatalaksanaan

    1)

    Perawatan Luka

    • a. Pencucian dengan larutan detergen encer

    • b. Kulit compang camping dibuang

    • c. Bila luka utuh > 5 cm cairan dihisap, < 5 cc dibiarkan

    • d. Luka dikeringkan, diolesi dengan mercurochrome atau silver sulfadiazine.

    • e. Perawatan terbuka atau tertutup dengan balutan

    • f. Pasien dirawat di ruangan steril

    2)

    Perawatan Di Ruangan

    • a. Perawatan terbuka dengan krim SSD (Silver Sulfadiazine), merupakan obat yang dapat

    menembus eskar.

    • b. Mandi 2 hari sekali dengan air mengalir

    • c. Eskratomi dilakukan bila ada penekanan saraf / pembuluh darah.

    • d. “Skin Graft” dilakukan setelah mulai ada granulasi

    3)

    Antibiotik :

    • a. Disesuaikan dengan epid. Kuman di ruangan.

    • b. Pemberian selanjutnya disesuaikan hasil kultur

    4)

    Toxoid ATS :

    Diberikan semua pasien 1 cc tiap 2 minggu/ 3 x, selama 5 hari. Antasid→ Mengurangi asam lambung Nutrisi → Jumlah kalori + protein ( TKTP )→ Kalori> 60 % dari perhitungan

    Reborantin diberikan → Vitamin C, B Compleks, Vitamin A (10.000/Mgg ). Fisioterapi → Dilakukan lebih awal berupa latihan pernafasan &pergerakan otot atau sendi.

    5)

    Nilai Lab :

    • a. Pemeriksaan Hb, Ht tiap 8 jam → 2 hari I. dan tiap – tiap 2 hari pada 10 hari berikutnya.

    • b. Fungsi hati & ginjal tiap minggu

    • c. Elektrolit / hari → I minggu pertama

    • d. Analisa gas darah bila nafas > 32 x / menit.

    • e. Kultur jaringan pada hari I, III, VIII

    • M. Pemeriksaan Penunjang 1)

    Sel darah merah (RBC) Dapat terjadi penurunan sel darah merah (Red Blood Cell) karena kerusakan sel darah merah pada saat injuri dan juga disebabkan oleh menurunnya produksi sel darah merah karena depresi sumsum tulang.

    2)

    Sel darah putih (WBC)

    3)

    Dapat terjadi leukositosis (peningkatan sel darah putih/White Blood Cell) sebagai respon inflamasi terhadap injuri. Gas darah arteri (AGD)

    4)

    Penurunan PaO2 atau peningkatan PaCO2. Karboksihemoglobin (COHbg)

    5)

    Kadar COHbg (karboksihemoglobin) dapat meningkat lebih dari 15 % yang mengindikasikan keracunan karbon monoksida. Serum elektrolit :

    6)

    Potasium pada permukaan akan meningkat karena injuri jaringan atau kerusakan sel darah merah dan menurunnya fungsi renal; hipokalemiadapat terjadi ketika diuresis dimulai; magnesium mungkin mengalami penurunan. Sodium pada tahap permulaan menurun seiring dengan kehilangan air dari tubuh; selanjutnya dapat terjadi hipernatremia. Sodium urine

    7)

    Jika lebih besar dari 20 mEq/L mengindikasikan kelebihan resusitasi cairan, sedangkan jika kurang dari 10 mEq/L menunjukan tidak adekuatnya resusitasi cairan. Alkaline pospatase

    8)

    Meningkat akibat berpindahnya cairan interstitial/kerusakan pompa sodium. Glukosa serum Meningkat sebagai refleksi respon terhadap stres.

    9) BUN/Creatinin Meningkat yang merefleksikan menurunnya perfusi/fungsi renal, namun demikian creatinin mungkin meningkat karena injuri jaringan.

    10)

    Urin

    12) Bronhoskopi

    11)

    Adanya albumin, Hb, dan mioglobin dalam urin mengindikasikan kerusakan jaringan yang dalam dan kehilangan/pengeluaran protein. Warna urine merah kehitaman menunjukan adanya mioglobin Rontgen dada

    Untuk mengetahui gambaran paru terutama pada injuri inhalasi.

    13)

    Untuk mendiagnosa luasnya injuri inhalasi. Mungkin dapat ditemukan adanya edema, perdarahan dan atau ulserasi padasaluran nafas bagian atas. ECG

    14)

    Untuk mengetahui adanya gangguan irama jantung pada luka bakar karena elektrik. Foto Luka Sebagai dokumentasi untukmembandingkan perkembanganpenyembuhan luka bakar.

    2.

    Konsep Dasar Keperawatan A. Pengkajian

    1) Aktivitas/istirahat

    2)

    Tanda : Penurunan kekuatan, tahanan; keterbatasan rentang gerak pada area yang sakit; gangguan massa otot, perubahan tonus. Sirkulasi Tanda : (Dengan cedera luka bakar lebih dari 20% APTT): hipotensi(syok); penurunan nadi perifer distal pada ekstremitas yangcedera; vasokontriksi perifer umum dengan kehilangan nadi,kulit putih dan dingin (syok listrik); takikardia(syok/ansietas/nyeri);

    3)

    disritmia (syok listrik); pembentukan oedema jaringan(semua luka bakar) Integritas ego

    Gejala

    : Masalah tentang keluarga, pekerjaan, keuangan,kecacatan.

    Tanda

    : Ansietas, menangis, ketergantungan, menyangkal, menarikdiri, marah.

    4)

    Eliminasi Tanda : Haluaran urine menurun/tak ada selama fase darurat; warnamungkin hitam kemerahan bila terjadi mioglobin,mengindikasikan kerusakan otot dalam; diuresis

    (setelahkebocoran kapiler dan mobilisasi cairan ke dalam sirkulasi);penurunan bising usus/tak ada; khususnya pada luka bakarkutaneus lebih besar dari 20% sebagai stres penurunanmotilitas/peristaltik gastrik. 5) Makanan/cairan Tanda : Oedema jaringan umum; anoreksia; mual/muntah.

    6)

    Neurosensori

    Gejala

    : Area batas; kesemutan.

    Tanda

    : Perubahan orientasi; afek, perilaku; penurunan refleks tendondalam (RTD)

    pada cedera ekstremitas; aktifitas kejang (syoklistrik); laserasi korneal; kerusakan retinal; penurunanketajaman penglihatan (syok listrik); ruptur membranetimpani (syok listrik); paralisis (cedera listrik pada aliransaraf). 7) Nyeri/kenyamanan:

    Gejala : Berbagai nyeri; contoh luka bakar derajat pertama secaraeksteren sensitif untuk disentuh; ditekan; gerakan udara danperubahan suhu; luka bakar ketebalan sedang derajat keduasangat nyeri; smentara respon pada luka bakar ketebalanderajat kedua

    8)

    tergantung pada keutuhan ujung saraf; lukabakar derajat tiga tidak nyeri. Pernafasan

    Gejala

    : Terkurung dalam ruang tertutup; terpajan lama (kemungkinancedera inhalasi).

    Tanda

    : Serak; batuk mengii; partikel karbon dalam sputum;ketidakmampuan menelan

    sekresi oral dan sianosis; indikasicedera inhalasi. Pengembangan torak mungkin terbatas pada adanya luka bakar lingkar dada; jalan nafas atau stridor/mengii (obstruksi sehubungan dengan laringospasme, oedema laringeal); bunyi nafas:

    gemericik (oedema paru); stridor (oedema laringeal); sekret jalan nafas dalam (ronkhi).

    • B. Diagnosa Keperawatan Diagnosa yang muncul pada pasien luka bakar adalah : 1)

    Nyeri berhubungan dengan trauma luka bakar

    2) Defisit volume cairan berhubungan dengan peningkatan permeabilitas kapiler yang mengakibatkan cairan elektrolit dan protein masuk ke ruang interstisiel

    3)

    Ketidakefektifan perfusi jaringan berhubungan dengan penuruan curah jantung

    4)

    Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan peningkatan

    5)

    metabolisme, katabolisme, kehilangan nafsu makan Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan kerusakan jaringan

    6)

    Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan gangguan pergerakan

    7)

    Resiko infeksi

    • C. Intervensi Keperawatan

    No

    Diagnosa Keperawatan

     

    Rencana Tindakan

     

    Tujuan Dan Kriteria Hasil (NOC)

    Intervensi Keperawatan (NIC)

    1

    Nyeri berhubungan dengan

    Tujuan : Setelah dilakukan intervensi

    Kriteria Hasil :

    Manajemen Nyeri

    trauma luka bakar

    keperawatan selama 3x24 jam, klien mampu mengontrol nyeri, nyeri berkurang dan tingkat kenyamanan meningkat.

    • 1. Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif termasuk lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas dan ontro

    • a. Klien dapat melaporkan nyeri, frekuensi nyeri,

    presipitasi.

    ekspresi wajah, dan menyatakan kenyamanan fisik dan psikologis.

    • b. Skala Nyeri dalam batas normal

    • 2. Observasi reaksi nonverbal dari ketidaknyamanan.

    • 3. Gunakan teknik komunikasi terapeutik

    • c. TD : 120/80 mmHg, N : 60-100x/menit S : 36-36,5°C,

     
    • 4. Kontrol lingkungan yang mempengaruhi nyeri seperti suhu ruangan, pencahayaan, kebisingan.

    P : 16-20x/menit.

    • 5. Pilih dan lakukan penanganan nyeri (farmakologis/non farmakologis).

     
    • 6. Ajarkan teknik non farmakologis (relaksasi, distraksi dll)

    • 7. Evaluasi tindakan pengurangan nyeri/kontrol nyeri

    • 8. Penatalaksanaan dalam pemberian analgetik.

    2

    Defisit

    volume

    cairan

    Tujuan

    :

    Setelah

    dilakukan intervensi

    Hypovolemia Management

    berhubungan

     

    dengan

    keperawatan selama 3 x 24 jam, defisit volume cairan teratasi

    • a. Mempertahankan urine output sesuai dengan

    • 1. Observasi inteke dan output setiap jam.

    peningkatan

    permeabilitas

    • 2. Observasi tanda-tanda vital

    kapiler

    yang

    mengakibatkan

    Kriteria Hasil :

    • 3. Timbang berat badan

    cairan

    elektrolit

    dan

    protein

    usia dan BB, BJ urine normal

    • 4. Ukur lingkar ektremitas yang terbakar tiap

     

    masuk ke ruang interstisiel

     

    b.

    TTV dalam batas normal

    sesuai indikasi

    c.

    Turgor kulit dan membran mukosa lembab, tidak ada rasa haus yang berlebihan

    • 5. Kolaborasi dengan tim medis dalam. pemberian cairan lewat infuse

     

    d.

    Jumlah dan irama pernafasan dalam batas normal

    • 6. Awasi pemeriksaan laboratorium (Hb, Ht, Elektrolit, Natrium urine rando

     
    • 7. Monitor respon pasien terhadap penambahan cairan

    • 8. Dorong pasien untuk menambah intake oral

    3

    Ketidakefektifan perfusi

    Tujuan : Setelah dilakukan intervensi

    Manajemen sensasi perifer

    jaringan berhubungan dengan

    keperawatan selama 3 x 24 jam, perfusi jaringan dapat teratasi

    • 1. Observasi inteke dan output setiap jam.

    penuruan curah jantung

    Kriteria Hasil :

    • 2. Observasi tanda-tanda vital

    a.

    Tekanan systole dan diastole dalam rentang yang diharapkan

    • 3. Timbang berat badan

    • 4. Ukur lingkar ektremitas yang terbakar tiap sesuai indikasi

    b.

    Tidak ada ortostatik hipertensi

    c.

    Tidak ada tanda- tanda peningkatan tekanan intrakranial

    • 5. Kolaborasi dengan tim medis dalam. pemberian cairan lewat infuse

     
    • 6. Awasi pemeriksaan laboratorium (Hb, Ht, Elektrolit, Natrium urine rando

    4

    Ketidakseimbangan

    nutrisi

    Tujuan

    :

    Setelah dilakukan intervensi

    keperawatan selama 3 x 24 jam, kebutuhan nutrisi

    Kriteria hasil

    Manajemen Nutrisi

    kurang

    dari

    kebutuhan

    tubuh

    • 1. Kaji adanya alergi makanan

    berhubungan

    peningkatan

    dengan

    metabolisme,

    dapat teratasi

    • 2. Anjurkan klien untuk meningkatkan intake fe

    • 3. Anjurkan klien untuk meningkatkan protein

    katabolisme,

    kehilangan

    nafsu

    a.

    Adanya peningkatan BB

    dan vitamin C

    makan

    b.

    BB ideal sesuai dengan tinggi badan

    • 4. Monitor jumlah nutrisi dan kandungan kalori

    c.

    Mampu mengidentifikasi kebutuhan nutrisi

    • 5. Berikan informasi tentang kebutuhan nutrisi

     
    • 6. Kaji kemampuan pasien untuk mendapatkan nutrisi yang dibutuhkan

    • 7. Berikan perawatan oral

         

    8. Berikan tinggi kalori, tinggi protein dan makanan kecil untuk mencegah kekurangan protein dan memenuhi kebutuhan kalori. 9. Timbang BB tiap minggu untuk melengkapi status nutrisi 10. Catat intake dan output

    5

    Kerusakan integritas kulit

    Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan

    • 1. Kaji kerusakan integritas kulit

    berhubungan dengan kerusakan

    selama 3x 24 jam di harapkan tidak terjadi

    • 2. Observasi kerusakan integritas kulit

    kerusakan integritas kulit.

    • 3. Lakukan tindakan perawatan luka

    jaringan

    • 4. Anjurkan klien jaga kebersihan kulit

    Kriteria Hasil :

    • 5. Penatalaksanaan pemberianterapi

    • a. Tidak adanya infeksi pada luka

    • 6. Berikan tehnik distraksi pada pasien

    • b. Kelembaban luka tetap terjaga

    • 7. Berikan kalori tinggi, protein tinggi dan

    • c. Adanya jaringan granulasi

    makanan kecil

    • 8. Berikan vitamin tambahan dan mineral- mineral

    • 9. Tutup daerah terbakar untuk mencegah

    nekrosis jaringan 10. Monitor vital sign untuk mengetahui tanda infeksi

    6

    Hambatan mobilitas

    fisik

    Tujuan :

    Setelah dilakukan intervensi

    Bantuan Perawatan Diri

    berhubungan dengan gangguan

    keperawatan selama 3x24 jam, diharapkan klien

    • 1. Kaji kemampuan klien dalam memenuhi

    pergerakan

    menunjukkan mobilitas optimal.

    kebutuhan sehari-hari.

    Kriteria Hasil :

    • 2. Mengetahui kemampuan klien dan dapat memenuhi kebutuhannya

    • a. Mempertahankan posisi fungsional.

    • 3. Bantu klien dalam pemenuhan kebutuhan

    • b. Menunjukkan teknik yang memampukan

    sehari-hari.

    melakukan aktivitas

    • 4. Bantu dan latihan yang teratur membiasakan

         

    klien melakukan aktivitas sehari-hari.

    • 5. Anjurkan keluarga untuk kooperatif dalam perawatan

    • 6. Keluarga dapat membantu dan bekerja sama memenuhi kebutuhan klien dan mempercepat proses penyembuhan.

    7

    Resiko infeksi

    Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan

    Kontrol Infeksi

    selama 3 x24 jam pasien tidak mengalami infeksi

    • 1. Monitor tanda dan gejala infeksi

    Kriteria hasil :

    • 2. Pertahankan tekhnik aseptik

    • 3. Batasi pengunjung bila perlu

    • a. Klien bebas dari tanda dan gejala infeksi

    • 4. Pertahankan hand hygiene

    (Rubor, Kalor, Tumor, Dolor, dan fungsi Laesa)

    • 5. Penatalaksanaan pemberian antibiotik

    • b. Menunjukkan kemampuan untuk mencegah

    • c. Jumlah leukosit dalam batas normal 4,0-10,0

    • 6. Inspeksi kulit untuk adanya iritasi

    timbulnya infeksi

    • 7. Perhatikan keluhan klien terhadap keluhan peningkatan nyeri, rasa terbakar, eritema

    • 8. Observasi luka terhadap pembentukan bula,

    atau bau tak sedap.

    perubahan warna luka, bau drainase yang tidak sedap.

    • 9. Lakukan perawatan luka sesuai protocol dengan tehnik steril.

    • 10. Lakukan perlindungan infeksi.

    • 11. Berikan therapy obat-obatan sesuai indikasi; anti biotic, TT dll.

    • 12. Bersihkan lingkungan dengan baik setelah digunakan untuk setiap pasien

    Daftar Pustaka

    Brunner & Suddarth.2002. Keperawatan Medikal Bedah Vol. 2. Jakarta: EGC

    Carpenito-Moyet, Linda Jual. 2006. Buku Saku Diagnosa Keperawatan Edisi 10. Jakarta :

    EGC

    Corwin, Elizabeth J. 2009. Buku Saku Patofisiologi Edisi 3. Jakarta: EGC

    Doenges, E. Marilynn. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan Edisi 3. Jakarta: EGC

    Price, A. Sylvia. 1995. Patofisiologi Edisi 4. Jakarta: EGC

    Santosa Budi. 2005. Panduan Diagnosa Keperawatan Nanda. Prima Medika

    Smeltzer, 2002 .Keperawatan Medikal Bedah Vol. 3.ECG : Jakarta