You are on page 1of 18

LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASUHAN

KEPERAWATAN ANAK DENGAN WILM’S TUMOR

OLEH :

1. I GUSTI NGURAH NYOMAN PUTRA WIRYAWAN (C2117144)


2. I KOMANG NGURAH ANJASMARA ( C2117146 )
3. I MADE DWIANTARA SAPUTRA ( C2117147 )
4. YULIANA SUPRAMANTI (C2117148)
5. NI PUTU WIJAYANTI PARIANA ( C2117149)
6. IDA RATNAWATI ( C2117150)
7. ENNY HERAWATI DWI HANDAYANI ( C2117151)

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
BINA USADA
2018
LAPORAN PENDAHULUAN
TUMOR WILMS PADA ANAK
A. Definisi
Tumor wilms adalah tumor ginjal campuran ganas yang tumbuh dengan cepat,
terbentuk dari unsur embrional, biasanya mengenai anak-anak sebelum usia lima tahun
(kamus kedokteran dorland)
Tumor wilms adalah tumor padat intraabdomen yang paling sering dijumpai pada anak.
Tumor ini merupakan neoplasma embrional dari ginjal, biasanya muncul sebagai massa
asimtomatik di abdomen atas atau pinggang. Tumor sering ditemukan saat orang tua
memandikan atau mengenakan baju anaknya atau saat dokter melakukan pemeriksaan fisik
terhadap anak yang tampak sehat. (Basuki,2011)

B. Etiologi
Penyebabnya tidak diketahui pasti, tetapi diduga melibatkan faktor genetic. Tumor wilms
berhubungan dengan kelainan bawaan tertentu, seperti :

• WAGR syndrome :

- Genitourinary malformation

- Retardasi mental

- Aniridia – bayi lahir tanpa iris

• Deny-Drash Syndrome

Sindrom ini menyebabkan kerusakan ginjal sebelum umur 3 tahun dan sangat
langka. Didapati perkembangan genital yang abnormal. Anak dengan sindrom ini berada
dalam resiko tinggi terkena tipe kanker lain, selain Tumor Wilms.

• Beckwith- Wiedemann Syndrome

Bayi lahir dengan berat badan yang lebih tinggi dari bayi normal, lidah yang besar,
pembesaran organ – organ.

Tumor wilms berasal dari poliferasi patologik blastema meta nefron akibat tidak

adanya stimulasi yang normal dari duktus metanefron untuk menghasilkan tubuli dan
glomeruli yang berdiferensiasi baik. Perkembangan blastema renalis untuk membentuk

struktur ginjal terjadi pada umur kehamilan 8-34 minggu. Sehingga diperkirakan bahwa

kemampuan blastema primitive untuk merintis jalan kearah pembentukan tumor wilms,

apakah sebagai mutasi germinal atau somatic, itu terjadi pada usia kehailan 8-34 minggu.

Sekitar 1,5% penderita mempunyai saudara atau anggota lain yang juga menderita

tumor wilms. Hampir semua kasus unilateral tidak bersifat keturunan yang berbeda dengan

kasus tumor bilateral. Sekitar 7-10% kasus tumor wilms diturunkan secara autosomal

dominan.
D. Penentuan Stadium Tumor Wilms

a. Stdium I

Tumor terbatas pada ginjal dan dapat disekresi total.

b. Stadium II

Tumor meluas hingga diluar ginjal tetapi masih dapat disekresi total

c. Stadium III

Tumor non hematogen yang tersisa terbatas pada daerah abdomen

d. Stadium IV

Metastasis hematogen, adanya deposit tumor diluar stadium III yaitu pada paru, hati, tulang

dan otot

e. Stadium V

Tumor sudah mengenai kedua ginjal (lesi, bilateral). Pada saat diagnosis.

E. Patofisiologi

Tumor Wilm’s ini terjadi pada parenchym renal.Tumor tersebut tumbuh dengan cpat

di lokasi yang dapat unilateral atau bilateral.Pertumbuhan tumor tersebut akan meluas atau

menyimpang ke luar renal.Mempunyai gambaran khas berupa glomerulus dan tubulus yang

primitif atau abortif dengan ruangan bowman yang tidak nyata, dan tubulus abortif di kelilingi

stroma sel kumparan.

Pertama-tama jaringan ginjal hanya mengalami distorsi,tetapi kemudian di invasi oleh

sel tumor.Tumor ini pada sayatan memperlihatkan warna yang putih atau keabu-abuan

homogen,lunak dan Encepaloid (menyerupai jaringan ikat ).Tumor tersebut akan menyebar

atau meluas hingga ke abdomen dan di katakana sebagai suatu massa abdomen.Akan teraba

pada abdominaldengandi lakukan palpasi.


Munculnya tumor Wim’s sejak dalam perkembangan embrio dan aka tumbuh dengan

cepat setelah lahir.Pertumbuhan tumor akan mengenai ginjal atau pembuluh vena renal dan

menyebar ke organ lain.Tumor yang biasanya baik terbatas dan sering terjadi nekrosis,cystic

dan perdarahan.Terjadinya hipertensi biasanya terkait iskemik pada renal.

F. Tanda dan Gejala

Keluhan utama biasanya hanya benjolan perut, jarang dilaporkan adanya nyeri perut

dan hematuria, nyeri perut dapat timbul bila terjadi infasi tumor yang menembus ginjal

sedangkan hematuria terjadi karena infasi tumor yang menembus system velveo kalises.

Demam dapat terjadi sebagai reaksi anafilaksis tubuh terdapat protein tumor dan gejala lain

yang bisa muncul adalah:

a. Adanya massa dalam perut (tumor abdomen)

b. Hematuri akibat infiltrasi tumor ke dalam sistem kaliks

c. Hipertensi diduga karena penekanan tumor atau hematom pada pembuluh- pembuluh darah

yang mensuplai darah ke ginjal, sehingga terjadi iskemi jaringan yang akan merangsang

pelepasan renin atau tumor sendiri mengeluarkan rennin

d. Anemia

e. Penurunan berat badan

f. Infeksi saluran kencing

g. Demam

h. Malaise

i. Anoreksia

j. Nyeri perut yang bersifat kolik, akibat adanya gumpalan darah dalam saluran kencing

Tumor Wilms tidak jarang dijumpai bersama kelainan kongenital lainnya,seperti

aniridia, hemihiperttofi, anomali saluran kemih atau genitalia danretardasi mental


G. Pemeriksaan Penunjang

Tumor Wilms harus dicurigai pada setiap anak kecil dengan massa di abdomen. Pada

10-25% kasus, hematuria mikroskopik memberi kesan tumor ginjal.

a. IVP

Dengan pemeriksaan IVP tampak distorsi sistem pielokalises (perubahan bentuk

sistem pielokalises) dan sekaligus pemeriksaan ini berguna untuk mengetahui fungsi ginjal.

b. Foto thoraks (Rontgen)

Merupakan pemeriksaan untuk mengevaluasi ada tidaknya metastasis ke paru-paru.

Arteriografi khusus hanya diindikasikan untuk pasien dengan tumor Wilms bilateral atau

termasuk horseshoe kidney.

c. Ultrasonografi

Merupakan pemeriksaan non invasif yang dapat membedakan tumor solid dengan

tumor yang mengandung cairan. Dengan pemeriksaan USG, tumor Wilms nampak sebagai

tumor padat di daerah ginjal. USG juga dapat digunakan sebagai pemandu pada biopsi. Pada

potongan sagital USG bagian ginjal yang terdapat tumor akan tampak mengalami

pembesaran, lebih predominan digambarkan sebagai massa hiperechoic dan menampakkan

area yang echotekstur heterogenus.

d. CT-Scan

Memberi beberapa keuntungan dalam mengevaluasi tumor Wilms. Ini meliputi

konfirmasi mengenai asal tumor intrarenal yang biasanya menyingkirkan neuroblastoma;

deteksi massa multipel; penentuan perluasan tumor, termasuk keterlibatan pembuluh darah

besar dan evaluasi dari ginjal yang lain. CT scan memperlihatkan massa heterogenus di ginjal

kiri danmetastasis hepar multiple. CT scan dengan level yang lebih tinggi lagi menunjukkan

metastasishepar multipel dengan thrombus tumor di dalam vena porta.


e. Magnetic Resonance Imaging (MRI)

MRI dapat menunjukkan informasi penting untuk menentukan perluasan tumor di

dalam vena cava inferior termasuk perluasan ke daerah intarkardial. Pada MRI tumor Wilms

akanmemperlihatkan hipointensitas (low density intensity) dan hiperintensitas (high density

intensity).

f. Laboratorium

Hasil pemeriksaan laboratorium yang penting yangmenunjang untuk tumor Wilms

adalah kadar lactic dehydro genase (LDH) meninggi dan Vinyl mandelic acid (VMA) dalam

batas normal. Urinalisis juga dapat menunjukkan bukti hematuria, LED meningkat, dan

anemia dapat juga terjadi, terlebih pada pasien dengan perdarahan subkapsuler. Pasien

dengan metastasis di hepar dapat menunjukkan abnormalitas pada analisa serum.

H. Penatalaksanaan Medis

Tujuan pengobatan tumor Wilms adalah mengusahakan penyembuhan dengan

komplikasi dan morbiditas serendah mungkin. Biasanya dianjurkan kombinasi pembedahan,

radioterapi dan kemoterapi. Dengan terapi kombinasi ini dapat diharapkan hasil yang

memuaskan. Jika secara klinis tumor masih berada dalam stadium dini dan ginjal di sebelah

kontra lateral normal, dilakukan nefrektomiradikal. Ukuran tumor pada saat datang

menentukan cara pengobatan. Masing-masing jenis ditangani secara berbeda, tetapi tujuannya

adalah menyingkirkan tumor dan memberikan kemoterapi atau terapi radiasi yang sesuai.

Apabila tumor besar maka pembedahan definitive mungkin harus di tunda sampai kemoterapi

atau radiasi selesai. Kemoterapi dapat memperkecil tumor dan memungkinkan reaksi yang

lebih akurat dan aman.

a. Farmakologi

1) Kemoterapi
Tumor Wilms termasuk tumor yang paling peka terhadap obatkemoterapi. Prinsip

dasar kemoterpai adalah suatu cara penggunaan obat sitostatika yang berkhasiat sitotoksik

tinggi terhadap sel ganas danmempunyai efek samping yang rendah terhadap sel yang

normal.Terapi sitostatika dapat diberikan pra maupun pasca bedah didasarkan penelitian

sekitar 16-32% dari tumor yang mudah ruptur. Biasanya, jika diberikan prabedah selama 4–8

minggu. Jadi tujuan pemberian terapi adalah untuk menurunkan resiko ruptur intraoperatif

dan mengecilkan massa tumor sehingga lebih midah direseksi total. Ada lima macam obat

sitostatika yang terbukti efektif dalam pengobatan tumor Wilms, yaitu Aktinomisin D,

Vinkristin, Adriamisin, Cisplatin dan siklofosfamid. Mekanisme kerja obat tersebut adalah

menghambat sintesa DNA sehingga pembentukan protein tidak terjadi akibat tidak

terbentuknya sintesa RNA di sitoplasma kanker, sehingga pembelahan sel-sel kanker tidak

terjadi.

2) Aktinomisin D

Golongan antibiotika yang berasal dari spesies Streptomyces, diberikan lima hari

berturut-turut dengan dosis 15 mg/KgBB/hari secara intravena. Dosis total tidak melebihi 500

mikrogram. Aktinomisin D bersama dengan vinkristin selalu digunakan sebagai terapi

prabedah.

3) Vinkristin

Golongan alkaloid murni dari tanaman Vina rossa, biasanya diberikan dalam satu

dosis 1,5 mg/m2setiap minggu secara intravena (tidak lebihdari 2 mg/m2). Bila melebihi

dosis dapat menimbulkan neurotoksis, bersifat iritatif, hindarkan agar tidak terjadi

ekstravasasi pada waktu pemberian secara intravena. Vinkristin dapat dikombinasi dengan

obat lain karena jarang menyebabkan depresi hematologi, sedangkan bila digunakan sebagai

obat tunggal dapat menyebab relaps.


4) Adriamisin

Golongan antibiotika antrasiklin diisolasi dari streptomyces pencetius, diberikan

secara intravena dengan dosis 20 mg/m2/hari selama tiga hari berturut-turut. Dosis maksimal

250 mg/m2. obat ini tidak dapat melewati sawar otak dapat menimbulkan toksisitas pada

miokard bila melebihidosis. Dapat dikombinasi dengan Aktinomisin

5) Cisplatin Dosis yang umum digunakan adalah 2-3 mg/KgBB/hari atau 20mg/m2/hari selama

lima hari berturut-turut.

6) Siklofosfamid Dari nitrogen mustard golongan alkilator. Dosis 250-1800 mg/m2/hari secara

intravena dengan interval 3-4 mg. Dosis peroral 100-300mg/m2/hari.

b. Non Farmakologi

1) Pembedahan

Keperawatan Perioperatif

Karena banyak anak dengan tumor wilms mungkin mendapat obatkemoterapi

kardiotoksik, maka mereka harus diperiksa oleh ahli onkologidan di izinkan untuk menjalani

operasi. Mereka perlu menjalani pemeriksaan jantung yang menyeluruh untuk menentukan

status fungsi jantung. Tumor wilms jangan di palpasi untuk menghindari rupture dan

pecahnya sel-sel tumor. Pasien di letakkan dalam posisi telentang dengan sebuah gulungan di

bawah sisi yang terkena. Seluruh abdomen dan dada di bersihkan.

Hasil akhir pada pasien pasca operatif

Pasien tumor wilms menerima kemoterapi dan terapi radiasi yang sesuai dengan lesi.

Gambaran histologik lesi merupakan suatu indikator penting untuk prognosis, karena

gambaran tersebut menentukan derajat anaplasia. Anak yang histologiknya relative baik.

Maka memiliki prognosis baik. Sedangkan anak yang gambaran histologiknya buruk, maka

memiliki prognosis buruk. Terapi dibuat sespesifik mungkin untuk masing-masing anak,
karena terapi yang lebih sedikit menghasilkan kualitas hidup yang lebih baik dengan lebih

sedikit efek sampingnya. Nefrektomi radikal dilakukan bila tumor belum melewati garis

tengah dan belum menginfiltrasi jaringan lain. Pengeluaran kelenjar limferetro peritoneal

total tidak perlu dilakukan tetapi biopsi kelenjar di daerah hilus dan para aorta sebaiknya

dilakukan. Pada pembedahan perlu diperhatikan ginjal kontra lateral karena kemungkinan lesi

bilateral cukup tinggi. Apabila ditemukan penjalaran tumor ke vena kava, tumor tersebut

harus diangkat. Tumor Wilms dikenal sebagai tumor yang radiosensitif, tapiradioterapi dapat

mengganggu pertumbuhan anak dan menimbulkan penyulit jantung, hati dan paru. Karena itu

radioterapi hanya diberikan pada penderita dengan tumor yang termasuk golongan patologi

prognosis buruk atau stadium III dan IV. Jika ada sisa tumor pasca bedah juga diberikan

radioterapi. Radioterapi dapat juga digunakan untuk metastase ke paru, otak, hepar serta

tulang.
ASUHAN KEPERAWATAN

1. Pengkajian

a. Identitas

b. Riwayat kesehatan

1) Riwayat kesehatan sekarang

Klien mengeluh kencing berwarna seperti cucian daging, bengkak sekitar perut. Tidak nafsu

makan, mual, muntah dan diare. Badan panas hanya 1 hari pertama sakit.

2) Riwayat kesehatan dahulu

Apakah klien pernah mengeluh kelainan pada ginjal sebelumnya, atau gejala-gejala tumor

wilms.

3) Riwayat kesehatan keluarga

Apakah ada riwayat keluarga klien pernah mengidap kanker atau tumor sebelumnya.

c. Pemeriksaan Fisik

Melakukan pemeriksaan TTV pada klien, melakukan pemeriksaan secara head to toe yang

harus diperhatikan adalah palpasi abdomen yang cermat dan pengukuran tekanan darah pada

klien. Tumor dapat memproduksi rennin atau menyebabkan kompresi vaskuler sehingga

mengakibatkan hipertensi pada anak.

d. Analisa Data

Data Etiologi Masalah

Data subjektif : Tumor wilms Nyeri


§ Anak mengatakan ↓
nyeri di daerah Tumor belum
perutnya menembus kapsul
Data objektif : ginjal
§ Anak tampak ↓
memegangdaerah Berdiferensiasi
perutnya Nyeri akut ↓
§ Tekanan darah Tumor menembus
140/110mmHg kapsul ginjal (perineal,
§ Takikardi dan takipnea hilus, vena renal

Nyeri

Data subjektif : Tumor wilms Perubahan nutrisi:


§ Anak mengatakan ↓
kurang dari kebutuhan
tidak mau makan Tumor belum
tubuh.
Data objektif : menembus kapsul
§ Terjadi penurunan ginjal
berat bada ↓
§ Makanan tidak di Berdiferensiasi
habiskan ↓
Tumor menembus
kapsul ginjal (perineal,
hilus, vena renal

Disfungsi ginjal

Gangguan
keseimbangan asam
dan basa

Asidosis metabolic

Mual dan muntah

Nafsu makan
berkurang

Data Objektif: Tumor wilms Resiko Tinggi Infeksi


§ Adanya tanda infeksi ↓
(bengkak, kemerahan, Sayatan operasi
nyeri, demam) ↓
§ Peningkatan suhu Adanya luka operasi
tubuh ↓
Luka terbuka

Resiko tinggi infeksi

I. Diagnosa Keperawatan

1. Nyeri akut berhubungan dengan agen injury.

2. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake

nutrisi kurang.

3. Risiko Infeksi berhubungan dengan rusak atau terputusnya kontunuitas jaringan kulit,

otot, dan vaskuler


J. Rencana Asuhan Keperawatan

Diagnosa Tujuan Intervensi

Keperawatan

Ketidakseimbangan Setelah diberikan asuhan keperawatan NIC : Nutritional Status


nutrisi kurang dari selama … x 24 jam diharapkan 1. Kaji intake nutrisi pasien
kebutuhan tubuh kebutuhan nutrisi pasien dapat 2. Kaji intake makanan pasien,
berhubungan terpenuhi dengan criteria hasil: 3. Anjurkan klien makan sedikit tapi sering,
dengan intake Label : NOC : Nutritional Status 4. Timbang berat badan secara teratur,
nutrisi kurang
ditandai dengan 1. Pemasukan nutrisi mencapai
mual muntah. skala 5
2. Pemasukan makanan mencapai
skala 5
3. Berat badan dalam batas normal
Nyeri akut Setelah dilakukan tindakan NIC Label : Pain Management
berhubungan keperawatan selama … x 24 jam 1. Kaji secara komprehensip terhadap nyeri termasuk
dengan agen injury diharapkan klien dapat mengontrol lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas,
ditandai dengan nyeri dengan kriteria hasil : intensitas nyeri dan faktor presipitasi
klien melaporkan LabelNOC: Pain Control 2. Observasi reaksi ketidaknyaman secara nonverbal
mengalami nyeri, 1. Klien melaporkan nyeri khusunya bagi yang tidak dapat melakukan
klien tampak berkurang (skala 5) komunikasi dengan efektif
meringis. 2. Klien dapat mengenal lamanya 3. Gunakan strategi komunikasi terapeutik untuk
(onset) nyeri (skala 5) mengungkapkan pengalaman nyeri dan penerimaan
3. Klien dapat menggambarkan klien terhadap respon nyeri
faktor penyebab (skala 5) 4. Gali pengetahuan dan kepercayaan klien tentang
4. Klien dapat menggunakan nyeri
teknik non farmakologis (skala 5. Kaji pengaruh budaya terhadap respon nyeri
5) 6. Tentukan pengaruh pengalaman nyeri terhadap
5. Klien menggunakan analgesic kualitas hidup( napsu makan, tidur, aktivitas,mood,
sesuai instruksi (skala 5) hubungan sosial)
(skala 1 : never demonstrated, 7. Tentukan faktor yang dapat memperburuk nyeri
skala 2 : rarely demonstrated, 8. Lakukan evaluasi dengan klien dan tim kesehatan
skala 3 : somestimes lain tentang ukuran pengontrolan nyeri yang telah
demonstrated, skala 4 : often dilakukan
demonstrated, skala 5 : 9. Berikan informasi tentang nyeri termasuk penyebab
consistenly demonstrated) nyeri, berapa lama nyeri akan hilang, antisipasi
terhadap ketidaknyamanan dari prosedur
NOC Label : Pain Level 10. Control lingkungan yang dapat mempengaruhi respon
1. Klien melaporkan nyeri ketidaknyamanan klien( suhu ruangan, cahaya dan
berkurang (skala 5) suara)
2. Klien tidak tampak mengeluh 11. Hilangkan faktor presipitasi yang dapat
dan menangis (skala 5) meningkatkan pengalaman nyeri klien( ketakutan,
3. Ekspresi wajah klien tidak kurang pengetahuan)
menunjukkan nyeri (skala 5) 12. Ajarkan cara penggunaan terapi non farmakologi
4. Klien tidak gelisah (skala 5) (distraksi, guide imagery,relaksasi)
(skala 1 : Severe, skala 2 : 13. Kolaborasi pemberian analgesic
Substantial, skala 3 : Moderate,
skala 4 : Mild, skala 5 : None)
Risiko Infeksi Setelah dilakukan asuhan keperawatan NIC : Infection control
berhubungan selama …x24 jam diharapkan infeksi
1. Batasi jumlah pengunjung
dengan rusak atau dapat diatasi dengan kriteria hasil :
2. Kolaborasi dengan pemberian antibiotik
terputusnya
NOC : Risk control 3. Dorong pasien untuk istirahat
kontunuitas jaringan
4. Ajari pasien dan keluarga tentang tanda dan gejala infeksi
kulit, otot, dan
1. Klien dapat mengetahui factor
5. Pertahankan teknik isolasi
vaskuler
resiko dari luar
2. Klien dapat mngendalikan factor
resiko pada diri sendiri
DAFTAR PUSTAKA
Carpenito,L.J. 2000. Buku Saku Diagnosa Keperawatan Edisi 8. Jakarta : EGC.

Charette, Jane. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan Onkologi. Jakarta : EGC.

Doengoes,M.E. 1999. Pedoman Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien.


Jakarta : EGC.

Http://www. combiphar.com/article / 2008 / 6 / 7.

Http://www. Dokterfoto.com/ patofisiologi/ 2008/6/7.

Http://www. Gizi. net/Berita/2008/6/7.

Http://www. Kalbe. co. id/article/ Penatalaksanaan tumor wilms/2008/6/7.


Tumor wilms.

Jhonson,Marion,dkk. 1997. Iowa Outcomes Project Nursing Classification (NOC) Edisi 2 St.
Louis ,Missouri ; Mosby.

Mc Closkey, Joanner. 1996. Iowa Intervention Project


Nursing Intervention Classification (NIC) Edisi 2. Westline Industrial Drive, t.Louis
:Mosby.

Nelson, Waldo. 2000. Ilmu Kesehatan Anak Nelson. Jakarta : EGC.

Santosa,Budi . 2005 - 2006. Diagnosa Keperawatan NANDA . Jakarta : Prima Medika.

Staf pengajar ilmu keperawatan anak. 1985. Buku Kuliah Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta : FKUI.