BAB I PENGERTIAN HUKUM PIDANA

1.1 Arti Kata Hukum Pidana Hukum pidana adalah peraturan hukum mengenai pidana. Kata “pidana” berarti hal yang ”dipidanakan” yaitu yang oleh instansi yang berkuasa dilimpahkan kepada seorang oknum sebagai hal yang tidak enak dirasakannya dan juga hal yang tidak sehari-hari dilimpahkan. 1.2 Penggolongan Hukum Pidana Ternyata ada perbedaan pula antara ”hukum perdata” (privaatrecht) dan ”hukum publik” (publick recht), sedangkan hukum pidasna (strafrech) masuk golongan hukum publik. Hukum perdata ini juga dinamakan hukum sipil sebagai terjemahan belaka dari ”burgerlijk recht” dari bahasa Belanda.

1.3 Pembedaan Hukum Publik dari Hukum Perdata Dalam dunia ilmu pengetahuan hukum kiranya tiada seorangpun yang mengatakan bahwa ada perpisahan antara hukum publik dan hukum perdata sedemikian rupa, sehingga pada segala hubungan-hubungan yang berada di masyarakat selalu dapat dikatakan, bahwa hubungan-hubungan itu masuk golongan hukum publik atau golongan hukum perdata. Banyak hubungan hukum itu masuk

1

golongan hukum perdata. Selaku contoh dapat ditunjuk pada hukum perburuhan yang mengatur hubungan-hukum antara buruh dan majikan, dan pada hukum ekonomi pada umumnya. Ini memang selayaknya. Pada pokoknya semua hukum mengatur tingkah laku dalam masyarakat untuk keselamatan masyarakat, sedangkan masyarakat itu terdiri dari manusia. Maka kepentingan masyarakatlah yang selalu menjadi faktor dalam segala peraturan hukum. Hanya saja dalam suatu hubungan hukum tertentu keadaannya adalah sedemikian rupa, bahwa titik berat berada pada kepentingan satu orang menusia, sedasngkan pada hubungan hukum lain yang keadaannya manusia yang merupakan suatu kumpulan, yang kepentingannya nampak lain daripada kepentingan suatu orang manusia yang tertentu. Sudah barang tentu dalam keadaan yang tersebut pertama itu, lebih terserah kepada kemauan seorang manusia yang tertentu itu untuk menetapkan, apakah suatu hak dalam hubunga-hubungan harus dilaksanakan atau tidak. Sedangkan dalam keadaan yang tersebut kedua tadi, harus dinyatakan kepada kumpulan orang-orang manusia atau kepada wakilnya tentang ya atau tidaknya dilaksanakan hak-hak yang ada pada hubungan-hukum itu. Disinilah letak perbedaan yang nampak antara yang sejak dahulu kala dinamakan hukum publik dan hukum perdata.

2

1.4 Ujud Hukum Pidana Hukum publik terbagi ke dalam tiga golongan hukum, yaitu ke-1 hukum tata negara, ke-2 hukum tata usaha negara, dan ke-3 hukum pidana, sehingga dengan hukum perdata ada empat golongan hukum. Hukum pidana yang tergambar ini dapat terwujud tiga macam, yaitu ke-1 secara dikumpulkan dalam satu Kitab Kodifikasi (Kitab Undang-Undang Hukum Pidana atau Wetboek van Strafrecth, atau code penal atau straf gezetsbuch), ke-2 secara tesebar dalam pelbagai undang-undang tentang hal-hal tertentu, yang dalam bagian penghabisan memuat ancaman hukuman pidanan atas pelanggaran beberapa pasl dari undang-undang itu, dan ke-3 secara ancaman hukuman pidana ”kosong” (blanco strafbepaling) yaitu penentuan hukuman pidana pelanggaran suatu jenis larangan yang mungkin sudah ada atau yang masih akan diadakan dalam undangundang lain.

1.5 Isi Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) Kitab ini terdiri dari tiga buku. Buku I memuat ”ketentuan-ketentuan umum” (Algmene Leerstukken). Yaitu ketentuan-ketentuan untuk semua tindakan-tindakan (perbuatna yang pembuatnya dapat dikenakan hukuman pidana, strafbare feiten), baik yang disebutkan dalam buku II dan buku III maupun yang disebutkan dalam undangundang lain.

3

ada pengaruh penting dari adat-kebiasaan dalam melaksanakan hukum pidana. Van Hattum dalam bukunya Hand en leerboek van het Nederlandsche Strafrech jilid I halaman 46/47.C. sekarang merata diinsafi (algemene ingezien) di Benua Eropa. tetapi sekitarnya di desa-desa daerah pedalaman di Indonesia ada sisa-sisa dari peraturan kepidanaan yang berdasar atas adat-kebiasaan dan yang secara kongkret mungkin sekali berpengaruh dalam menafsirkan pasal-pasal dari KUHP.F.6 Hukum Adat Kebiasaan (Gewoonterecht) Maka tidaklah ada hukum adat-kebiasaan atau gewoonteerecht dalam rangkaian hukum pidana. Hukum semacam ini juga dinamakan ”case-law” yaitu hukum yang perumusannnya didasarkan pada apa yang nampak dalam peristiwaperistiwa tertentu. Di Inggris dan Amerika Serikat adat kebiasaan ini secara resmi merupakan sumber bagain besar dari hukum.1. 4 . termasuk hukum pidana dengan berlakunya apa yang dinamakan ”Comon Law” yan terutama tercermin dalam putusan-putusan pengadilan yang harus diperhatikan oleh hakim-hakim dalam memutuskan perkaraperakara baru kemudian. di mana seperti di Indonesia dianut sistem hukum tertulis bagi hukum pidana. Ini resminya menurut pasal 1 KUHP. Menurut Prof. W. Mr.

yaitu ke1 adanya suatu norma.2 Hubungan Dengan Hukum Publik Seyogyanya pendapat dari para sarjana hukum itu merata. Hanya sebagai kekecualian. bahwa hukum pidana termasuk ke dalam golongan hukum publik. ada beberapa tindak pidana yang hanya dapat diajukan dimuka pengadilan atas pengaduan (klacht) dari oknum yang diganggu 5 . Juga menurut ukuran yang dipergunakan. adalah sedemikian rupa. ke-2 adanya sanksi (sanctie) atas pelanggaran norma itu berupa ancaman dengan hukuman pidana. yang juga dapat dinamakan ”kepentingan umum”. Ukuran seperti di atas telah saya terangkan. yaitu suatu larangan atau suruhan (kaidah). 2. Norma-norma ini ada di salah satu dari bidang-bidang hukum lain.BAB II SIFAT HUKUM PIDANA 2.1 Dua Unsur Pokok Hukum Pidana Diatas sudah disingguh adanya dua unsur pokok dari hukum pidana. bidang hukum tata usaha negara (administratief recht) dan bidang hukum perdata (privaatrecht atau bugerlijjk recht). yaitu bidang hukum tata negara (staatsrecht). hukukm pidana dapat dinyatakan merupakan hukum publik. melainkan pada kepentingan orang-orang banyak. yaitu bahwa hubungan hukum yang teratur dalam hukum pidana. bahwa titik berat berada tidak pada kepentingan seorang individu.

sedangkan satu-satunya tujuan dari hukum ialah mengadakan keselamatna. Hanya apabila administrasi dan sanksi perdata ini belum mencukupi untuk mencapai tujuan meluruskan neraca kemasyarakatan. bahwa norma-norma atau kaidah-kaidah dalam bidang hukum tata negara dan hukum tata usaha negara harus pertama-tama ditanggapi dengan sanksi administrasi. bahwa tujuan hukum pidana ialah : 6 . dan tata tertib di dalam masyarakat. kebahagiaan.4 Kapan Harus Ada Sanksi Pidana Dari uraian di atas sudah dapat disimpulkan. 2. Di antara para sarjana hukum diutarkan. seperti misalnya tindak pidana ”penghinaan” atau ”perzinaan” dan sebagainya.kepentingannya.5 Tujuan Hukum Pidana Dari uraian di atas dapat disimpulkan. 2. bahwa menurut hemat saya. tujuan dari hukum pidana ialah untuk memenuhi rasa keadailan. Begitu pula norma-norma dalam bidang hukum perdata pertama-tama harus ditanggapi dengan sanksi perdata.3 Sifat Perbuatan Melanggar Hukum Hukum adalah serangkaian peraturan-peraturan mengenai tingkah laku orangorang sebagai anggota-anggota masyarakat. maka baru diadakan juga sanksi pidana sebagai senjata pamungkas (terakhir) atau ultimatum remedium. 2.

a. sehingga bermanfaat bagi masyarakat. Untuk mendidik atau memperbaiki orang-orang yang sudah menandakan suka melakukan kejahatan. baik secara menakut-nakuti orang banyak (generate preventive) maupun secara menakutnakuti orang tertentu yang sudah menjalankan kejahatan. 7 . agar di kemudian hari tidak melakukan kejahatan lagi b. Untuk menakut-nakuti orang jangan sampai melakukan kejahatan. agar menjadi orang yang baik tabiatnnya.

8 . Untuk ini tidaklah cukup adanya suatu kejahatan. Tujuan ini pertama-tama harus diarahkan kepada usaha agar di kemudiah hari. melainkan juga pada masa depan.BAB III TEORI-TEORI HUKUM PIDANA (Strafrecht-theorien) 3.4 Teori-Teori Relatif atau Nisbi Menurut teori-teori ini. Tidak dilihat akibat-akibat apa pun yang mungkin timbul dari dijatuhkannya pidana.1 Teori Absolut atau Mutlak Menurut teori-teori absolut ini setiap kejahatan harus diikuti dengan pidana. tidak terulang lagi. Seorang mendapat pidana oleh karena telah melakukan kejahatan. tanpa tawar-menawar. Maka harus ada tujuan lebih dari daripada hanya menjatuhkan pidana saja. kejahatan yang telah dilakukan itu. Tidak dipedulikan apa dengan demikian masyarakat mungkin akan dirugikan. suatu kejahatan tidak mutlak harus diikuti dengan suatu pidana. 3. Dengan demikian teori-teori ini juga dinamakan teori-teori ”tujuan”. Tidaklah saja dilihat pada masa lampau. tidak boleh tidak. melainkan harus dipersoalkan perlu dan manfaatnya suatu pidana bagi masyarakat atau bagi si penjahat sendiri.

melainkan secara positif dianggap baik. maka ada konsekuensinya sebagai berikut : Untuk mencapai tujuan ”prevensi” atau ”memperbaiki si penjahat” tidak hanya secara negatif.5 Konsekuensi dari Teori-Teori Relatif Kalau menurut teori ”relatif” atau teori-teori ”tujuan” ini menjatuhkannya pidana digantungkan kepada kemanfaatannya bagi masyarakat. maka tidaklah layak dijatuhkan pidana.3. 9 . bahwa pemerintah mengambil tindakan yang tidak bersifat pidana.

Buku II memuat penyebutan tindak-tindak pidana yang masuk golongan kejahatan atau misdjriven. Perbuatan percobaan (poging) dan membantu untuk pelanggaran pada umumnya tidak merupakan tindak pidana 2.1 Kejahatan (Misdrijf) dan Pelanggaran (Overtreding) Penggolongan tindak-tindak pidana yang terang dan tegas dengan beberapa konsekuensi diadakan dalam perundang-undangan di Indonesia. Kesimpulan ini dapat saya setujui dan memang sesuai denagn kenyataan. ialah penggolongan kejahatan dan pelanggaran. seperti misalnya : 1. Buku III memuat penyebutan tindak-tindak pidana yang masuk golongan ”pelanggaran” atau overtredingen.BAB IV UJUD PERUNDANG-UNDANGAN DALAM HUKUM PIDANA 4. Buk I memuat penentuan-penentuan umum. bahwa ada beberapa prinsip termuat dalam buku I KUHP yang hanya berlaku bagi ”kejahatan” dan tidak bagi ”pelanggaran” atau berlaku secara berlainan. Tenggang waktu untuk daluwarsa (verjaring) bagi ”kejahatan” adalah lebih panjang dari pada bagi ”pelanggaran” 10 . Penggolongan ini pertama-tama terlihat dalam kitab Undang-Undang Hukum Pidana atau KUHP yang terdiri dari tiga buku. atau dalam bahasa Belanda misdrijven en overtredingen.

Perbuatan percobaan (poging) dan membantu untuk pelanggaran pada umumnya tidak merupakan tindak pidana b. Kesimpulan ini dapat saya setujui dan memang sesuai dengan kenyataan. hanya ada terhadap beberapa “kejahatan” tidak ada terhadap pelanggaran 11 . Tenggang waktu untuk daluwarsa (verjaring) bagi kejahatan adalah lebih panjang dari pada bagi pelanggaran c. hanya ada terhadap beberapa ”kejahatan” tidak ada terhadap pelanggaran 4. Maka dalam tiap ketentuan hukum pidana dalam undang-undang di luar KUHP harus ditentukan. Peraturan tentang gabungan tindak pidana (samenloop) adalah berlainan bagi kejahatan dan pelanggaran Dengan demikian penggolongan kejahatan terhadap pelanggaran ini penting dengan adanya konsekuensi tersebut diatas. seperti misalnya : a. bahwa ada beberapa prinsip termuat dalam Buku I KUHP yang hanya berlaku bagi ”kejahatan” dan tidak bagi ”pelanggaran” atau berlaku secara berlainan. Kemungkinan keharusan adanya pengaduan (klacht) untuk penuntutan di muka hakim. Kemungkinan keharusan adanya pengaduan (klacht) untuk penuntutan di muka hakim. apa tindak pidana yang bersangkutan adalah kejahatan atau pelanggaran.3.

12 .4 Kejahatan Ringan (Lichte Misdrjiven) Dalam KUHP ada beberapa kejahatan mengenai harta benda.d. Peraturan tentang gabungan tindak pidana adalah berlainan bagi kejahatan dan pelanggaran 4. apabila kerugian yang diakibatkan tidak melebihi dua puluh rupiah. dinamakan “kejahatan ringan” dan hanya diancam dengan hukuman seberat-beratnya hukuman penjara selama tiga bulan.

bahwa perbuatan yang ia lakukan merupakan tindak pidana atau tidak. 5.2 Prinsip Teritorialitas 13 .BAB V LUAS-RUANG HUKUM PIDANA Penentuan syarat perundang-undangan ini ada hubungan dengan kenyataan.1 Kapasitas Hukum (Rechts-Zekerheid) Biasanya larangan berlaku surut bagi hukum pidana dikatakan menegakkan kepastian hukum bagi penduduk. bahwa sanksi pidana pada sifatnya lebih keras dari pada sanksi perdata atau sanksi administrasi. Bagi saya larangan berlaku surat ini memenuhi rasa keadilan. seusai dengan sikap saya pada umumnya terhadap hukum. 5. dan merupakan ultimatum remedium atau senjata pamungkas (terakhir) untuk menegakkan tata hukum. yang selayaknya harus tahu.

Ini ditegaskan dalam pasal 2 KUHP yang menyatakan. siapa pun yang melakukan tindak pidana. Ini ditegaskan dalam pasal 2 KUHAP yang menyatakan. bahwa ketentuan-ketentuan hukum pidana Indonesia berlaku bagi siapa saja yang melakukan tindak pidana di dalam wilayah negara di Indonesia.Prinsip ini menganggap hukum pidana Indonesia berlaku di dalam wilayah Republik Indonesia.3 Prinsip Teritorialitas Prinsip ini menganggap hukum pidana Indonesia berlaku di dalam wilayah Republik Indonesia. bahwa ketentuan-ketentuan hukum pidana Indonesia berlaku bagi siapa saja yang melakukan tindak pidana di dalam wilayah Indonesia. 14 . siapapun yang melakukan tindak pidana. 5.

kurungan dan denda. yang dapat menjadi subjek tindak pidana adalah seorang manusia sebagai oknum.1 Subjek Tindak Pidana Dalam pandangan KUHP.BAB VI UNSUR-UNSUR TINDAK PIDANA 6. yaitu hukuman penjara. juga terlihat pada ujud hukuman / pidana yang termuat dalam pasal-pasal KUHP. 6.2 Perbuatan Dari Tindak Pidana Ujud dari perbuatan ini pertama-tama harus dilihat pada perumusan tindak pidana dalam pasal-pasal tertentu dari peraturan pidana. yang memaparkan daya berpikir sebagai syarat bagi subjek tindak pidana itu. 15 . Ini mudah terlihat pada perumusan-perumusan dari tindak pidana dalam KUHP.

6. ke-2 akibat yang menjadi pokok alasan diadakan larangan itu.4 Kesalahan Pelaku Tindak Pidana Sekarang.3 Kesalahan Pelaku Tindak Pidana Maka harus ada unsur kesalahan dari pelaku tindak pidana. akibat. tiba waktunya unutk membahas suatu unsur yang menghubungkan si pelaku dengan ketiga unsur tadi. 16 .Sebaliknya perumusan secara ”material” memuat penyebutan suatu akibat yang disebabkan oleh perbuatannya. dan ke-3 bahwa perbuatan itu melanggar hukum. 6.5 Kesengajaan (opzet) Kesengajaan ini harus mengenai ketiga unsur dari tindak pidana. 6. dan kedua : kurang hati-hati (culpa). yaitu ke-1. dan sifat melanggar hukum atau wederrechtelijkheid tadi. yaitu perbuatan. seperti misalnya tindak pidana. membunuh yang dalam pasal 338 KUHP dirumuskan sebagai mengakibatkan matinya orang lain. Kesalahan ini berupa dua macam. perbuatan yang dilarang. yaitu kesatu : kesengajaan (opzet).

17 . yang diberikan oleh seorang penguasa yang berwenang (pasal 51 ayat 1 : uitvoering van bevoegdelijk gegevan ambtelijk bevel). Apabila perbuatan yang bersangkutan itu dilakukan untuk melaksanakan suatu perintah jabatan. b.BAB VII ALASAN-ALASAN MENGHILANGKAN SIFAT TINDAK PIDANA (Straf-Uitsluiting-Gronden) 7.1 Dua Macam Alasan Menghilangkan Sifat Tindak Pidana Satu dari dua macam alasan menghilangkan sifat tindak pidana adalah menghilangkan sifat melanggar hukum atau wederrechtelijkheid atau onrechtmatigheid ini. Keperluan membela diri atau noodweer (pasal 49 ayat 1 KUHAP). Adanya suatu peraturan undang-undang yang pelaksanaannya justru berupa perbuatan yang bersangkutan (pasal 50 : uitvoering van een wettelijk voorschrift) c. yaitu : a.

bahwa suatu perintah jabatan yang tidak sah tidak menghilangkan sifat tindak pidana. Fait d’Excuse atau Hal Memaafkan Si Pelaku a. Pasal 45 KUHP yang menyatakan. b. tetapi ada hal-hal khusus yang menjadikan si pelaku toh tidak dapat dipertanggungjawabkan. kecuali apabila si pelaku sebagai orang bawahan secara jujur mengira. tidak dapat dihukum seorang yang perbuatannya tidak dapat dipertanggung jawabkan kepada orang itu berdasar kurang bertumbuhnya atau ada gangguan penyakit pada daya berpikir seorang pelaku itu. tetap ada. Pasal 51 ayat 2 KUHP yang menyatakan. termasuk unsur sifat melanggar hukum atau wederrechtelijkheid.Macam kedua dari alasan-alasan menghilangan sifat tindak pidana adalah demikian. didorong oleh suatu paksaan yang tidak dapat dicegah c. bahwa si pemberi perintah 18 . d. tidak dapat dihukum seorang yang untuk melakukan perbuatan yang bersangkutan. Pasal 44 ayat 1 KUHP yang menyatakan. Pasal 49 ayat 2 KUHP yang menyatakan. tidak dapat dihukum seorang yang melanggar batas membela diri disebabkan oleh suatu perasaan yang goyang sebagai akibat serangan terhadap dirinya. bahwa semua unsur pidana.

3 Paksa Mutlak (Absoluti Dwang. 7. Vis Absoluta) Paksaan dapat bersifat mutlak (absolut) yaitu suatu paksaan yang tidak mungkin dapat ditentang. dan inilah yang dimaksudkan oleh pasal 48 KUHP dengan hal memaksa atau overmacht. 7. dan lagi perbuatan yang bersangkutan berada dalam lingkungan pekerjaan seorang bawahan tadi. Ini adalah paksan mutlak yang bersifat fisik.berwenang untuk itu. bukan fisik. yang didorong oleh hal memaksa.4 Paksaan Tak Mutlak atau Relatif (Vis Compulsiva) Ini selalu bersifat psikis.2 Hal Memaksa (Overmacht) Mirip dengan hal keperluan membela diri dan hal pelampauan batas keperluan membela diri. 19 . adalah hal ”keadaan memaksa” atau overmacht dari pasal 45 KUHAP yang berbunyi ”tidaklah dihukum seorang yang melakukan perbuatan. Misalnya seorang A yang sepuluh kali lebih kuat dari pada B. memegang tangan si B dan memukulkan tangan si B kepada si C. 7.

Maksimum hukuman-hukuman pokok (hoofdstraffen) pada kejahatan yang bersangkutan dikurangi dengan sepertiga. 2. 20 .1 Pengertian Dalam Hukum Pidana Pasal 53 KUHP berbunyi sebagai berikut : 1. dan pelaksanaan ini tidak selesai hanya sebagai akibat dari hal-hal yang tidak tergantung dari kemauan si pelaku. Percobaan akan melakukan suatu kejahatan. dikenakan hukuman pidana.BAB VIII PERCOBAAN (Poging) 8. apabila kehendak si pelaku sudah nampak dengan permulaan pelaksanaan.

yang mendasarkan semua tindak pidana pada tabiat si pelaku.3 Kehendak Melakukan Tindak Pidana 21 .2 Alasan Mempidana Percobaan Teori-teori subjektif. Teori-teori objektif yang mendasarkan semua tindak pidana pada sifat membahayakan bagi kepentingan-kepentingan dalam masyarakat. maka pantaslah percobaan ini sudah dapat dikenakan hukuman pidana. menganggap suatu percobaan untuk melakukan suatu tindak pidana sudah mulai membahayakan kepentingan-kepentingan itu. Apabila suatu kejahatan dapat dikenakan hukuman mati atau hukuman penjara seumur hidup. 8. menganggap tabiat si pelaku ini sudah menjelma dalam percobaan melakukan tindak pidana. maka pantaslah percobaan dapat dikenakan hukuman pidana. Hukuman-hukuman tambahan (bijkomende straffen) bagi ”percobaan kejahatan” adalah sama dengan kejahatan yang selesai diperbuat. maka maksimum hukuman menjadi hukuman penjara selamalamanya lima belas tahun 4.3. 8.

Diatas telah dikemukakan. 22 . BAB IX PESERTAAN MELAKUKAN TINDAK PIDANA (Deelneming) 9. bahwa pasal 53 KUHP menentukan syarat-syarat untuk mengenakan hukuman pidana pada percobaan tindak pidana. Tentang orang-orang tersebut belakangan (sub ke 2) hanya perbuatanperbuatan yang oleh mereka dengan sengaja dilakukan. serta akibat-akibatnya dapat diperhatikan.1 Rumusan Perundang-Undangan Rumusan ini terlihat pada pasal 55 dan pasal 56 KUHP yang berbunyi : Pasal 55 1. Syarat pertama ialah kehendak (voornemen) melakukan tindak pidana. Sebagai pelaku suatu tindak pidana akan dihukum 2.

Si pelaku semacam ini dalam ilmu pengetahuan hukum dinamakan manus ministra (tangan yang dikuasai). Yang menyuruh melakukan perbuatan c. dan si penyuruh dinamakan manus domina (tangan yang menguasai).3 Menyuruh Melakukan diluar adanya alasan mengilangkan sifat tindak 23 . Jadi si pelaku (dader) itu seolah-olah menjadi alat belaka (instrument) yang dikendalikan oleh si penyuruh. Yang turut melakukan perbuatan d.2 Menyuruh Melakukan Perbuatan (Doen Plegen) Ujud pesertaan (deelneming) yang pertama-tama disebutkan oleh pasal 55 ialah : menyuruh melakukan perbuatan (doen plegen). tetapi oleh karena beberapa hal si pelaku itu tidak dapat dikenakan hukuman pidana. 9. Yang membujuk supaya perbuatan dilakukan e. yang biasanya merupakan tindak pidana. Yang membantu perbuatan 9.Pasal 56 Sebagai pembantu melakukan kejahatan akan dihukum : a. Ini terjadi apabila seorang lain menyuruh si pelaku melakukan perbuatan. Yang melakukan perbuatan b.

Di situ diadakan dua golongan ”membantu melakukan” yaitu kesatu perbuatan bantuan pada waktu tindak pidana dilakukan. Kemudian cara-cara ini ditambah dengan memberi kesempatan. 9. 9. bahwa tidak semua pembujukan untuk melakukan tindak pidana dikenakan hukuman. paksaan. oleh karena pada si pelaku tidak ada salah suatu unsur dari tindak pidana tertentu.pidana Adanya kalanya seorang pelaku disuruh oleh orang lain tanpa paksaan dan tanpa perintah jabatan. dan bantuan itu dilakukan dengan cara memberi kesempatan. sarana. atau penipuan. penyalahgunaan kekuasaan atau martabat. melainkan hanya pembujukan dnegna cara-cara yang disebutkan dalam pasal 55 ayat 1 nomor 2.5 Membujuk Melakukan Tindak Pidana (Uitlokking) Di atas sudah pernah saya katakan. untuk melakukan suatu perbuatan yang tidak merupakan tindak pidana. atau keterangan. atau keterangan. Mula-mula yang disebutkan hanya pemberian kesanggupan. ancaman. sebaiknya istilah ”membantu melakukan” dijelaskan secara tegas dalam pasal 56 KUHP. dan kedua perbuatan bantuan sebelum pelaku utama bertindak.4 Membantu Melakukan Tindak Pidana (Medeplichtigheid) Kalau istilkah ”turu melakukan” oleh KUHP tidak dijelaskan artinya. sarana. sedangkan unsur itu ada pada si penyuruh. 24 .

bahwa orang yang dibujuk dapat dikenakan hukuman. 9. bahwa pembujukan ini harus dilakukan dengan sengaja. maka si pembujuk hanya dapat dihukum apabila dapat dinamakan ”penyuruh”. sudah saya utarakan.9. Menurut Hazewinkel-Suringa (halaman 257) ada berlainan pendapat dalam hal seorang pembujuk mengira.7 Kesengajaan Dalam Membujuk Dalam pasal 55 ayat 1 No. Tegasnya. oleh suatu sebab tertentu. orang yang dibujuk. tetapi ini tidak berarti. 2 adalah terang. bahwa hal kesengajaaan ini harus meliputi semua bagian dari tindak pidana. dalam bab mengenai menyuruh melakukan. pada akhirnya tidak dapat dikenakan hukuman.6 Perbedaan dengan Menyuruh Melakukan (Doen Plegen) Diatas. Maka mungkinlah orang dengan sengaja membujuk suatu tindak pidana yang berunsur culpa. sedangkan orang yang disuruh. justru tidak. apabila dalam hal pembujukan. bahwa orang yang dibujuk itu dapat dikenakan hukuman tetapi sebenarnya tidak. bahwa perbedaan antara pembujukan dan penyuruhan ini ialah. 25 .

diatur dalam pasal 64 KUHP 26 . Seorang melakukan beberapa perbuatan yang masing-masing merupakan tindak pidana. tetapi dengan adanya hubungan antara satu sama yang lain. Seorang dengan satu perbuatan melakukan beberapa tindak pidana. yang dalam ilmu pengetahuan hukum dinamakan ”gabungan berupa satu perbuatan” diatur dalam pasal 63 KUHP b. dianggap sebagai satu perbuatan yang dilanjutkan.BAB X GABUNGAN TINDAK-TINDAK PIDANA (Samenloop van Strafbare Feiten) Ada tiga macam gabungan tindak-tindak pidana. yaitu : a.

1 Gabungan Beberapa Perbuatan (Meerdaadcshe Samenloop) Misalnya ada seorang pada suatu hari melakukan pencurian. Dalam hal ini pasal 65 KUHP berlaku oleh karena ada beberapa perbuatan yang masing-masing berdiri sendiri dan masing-masing merupakan tindak pidana ”kejahatan” (bukan ”pelanggaran”). yang benar-benar merupakan gabungan ialah yang tersebut yaitu beberapa perbuatan digabungkan menjadi satu. maka juga dinamakan concursus realis.c. beberapa bulan lagi melakukan pembunuhan. dan lagi hukuman pokok yang diancamkan pada ketiga macam tindak pidana itu sama jenisnya yaitu hukuman penjara yang 27 . bahwa orang itu melakukan tiga tindak pidana berturut-turut. maka mungkin sudah nampak. Seorang melakukan beberapa perbuatan yang tidak ada hubungan satu sama lain. dan masing-masing merupakan tindak pidana. beberapa hari atau beberapa bulan kemudian melakukan penipuan. sedasngkan gabungan sub a dinamakan concurcus idealis oleh karena sebenarnya tidak ada hal-hal yang digabungkan. 10. Kalau baru kemudian lagi orang itu ditangkap dan diajukan di muka pengadilan. melainkan ada satu perbuatan yang memencarkan sayapnya kepada beberapa pasal ketentuan hukum pidana. hal tersebut dalam ilmu pengetahuan hukum dinamakan gabungan beberapa perbuatan diatur dalam pasal 65 dan 66 KUHP Dari ketiga macam gabungan ini.

mengenai penipuan empat tahun dan mengenai pembunuhan lima belas tahun (pasal 338 KUHP). maka lamanya pencabutan hak itu harus minimum dua tahun dan maksimum lima tahun. dan ayat 2 menentukan. jadi kini tidak boleh lebih dari satu dan sepertiga kali 15 tahun menjadi 20 tahun. seperti halnya dengan hukuman kurungan sebagai gantinya hukuman perampasan. 10. apabila sebagai hukuman pokok hanya dijatuhkan hukuman denda. yang lamanya melebihi pendeknya dua tahun dan selama-lamanya lima tahun. Ke-2 : pencabutan pelbagai hak harus dijatuhkan untuk maing-masing tindak pidana tanpa dikurangi. bahwa maksimumnya tidak boleh melebihi maksimum yang terberat dengan ditambah dengan sepertiga. Menurut pasal 65 ayat 1 oleh pengadilan harus dijatuhkan satu hukuman saja. 28 .2 Hukuman-Hukuman Tambahan Mengenai hukuman-hukuman tambahan pasal 68 menentukan sebagai berikut : Ke-1 : pencabutan hak-hak yang sama dijadikan satu hukuman. tidak tiga. Ke-3 : perampasan barang-barang tertentu.maksimumnya mengenai pencurian lima tahun. harus dijatuhkan untuk tiap-tiap tindak pidana masing-masing tanpa dikurangi.

dengan pengertian bahwa sepanjang dijatuhkan hukuman penjara. 10. pasal 352 tentang penganiayaan rinigan terhadap manusia. paal 373 tentang penggelapan ringan. bahwa mengenai pelanggaran jumlah lamanya hukuman kurungan sebagai hukuman pokok dan sebagai hukuman pengganti tidak boleh melebihi satu tahun empat bulan. 10.10. jumlah lamanya tidak boleh melebihi delapan bulan. dan jumlah lamanya kurungan sebagai hukuman pengganti tidak boleh lebih dari delapan bulan. pasal 379 tentang penipuan ringan. dan paal 482 mengenai perusakan barang secara ringan.3 Gabungan Kejahatan dan Pelanggaran Menurut pasal 70 ayat 1 KUHP. maka untuk tiap tindak pidana pelanggaran dijatuhkan hukuman tanpa pengurangan. apabila beberapa tindak pidana tergabung mengenai pelanggaran atau kejahatan bersama-sama pelanggaran. bahwa dalam melaksanakan pasal-pasal 65. Ayat 2 dari pasal ini menentukan.5 Perbedaan Dari Recidive 29 .4 Kejahatan Ringan (Lichte Misdrijen) Pada tahun 1934 ditambahkan pasal 70 bis yang menentukan. yaitu yang termuat dalam pasal 302 tentang penganiayaan ringan terhadap hewan. 66 dan 70 tadi harus dianggap sebagai pelanggaran beberapa kejahatan ringan. pasal 364 tentang pencurian ringan.

maka kini ada apa yang dinamakan recidive. dan kemudian. maka hanya satu pasal dilakukan. Sebaiknya. Ini menurut ajaran lex specialis derogat legi generali. Perbedaan ini dapat dimengerti oleh karena seorang recidivist dapat dikatakan tidak kapok meskipun sudah dijatuhi hukuman. 10.6 Gabungan Berupa Satu Perbuatan (Eendaadsche Samenloop) Hal ini diatur dalam pasal 63 KUHP yng menentukan apabila suatu perbuatan meliputi lebih dari satu pasal ketentuan hukum pidana.7 Arti ”Satu Perbuatan” 30 . jika hukumannya berlainan.Nada peraturan tersebut tentang gabungan beberapa perbuatan adalah agak mengurangi hukuman. sedangkan pasal dengan hukuman lebih berat merupakan suatu ketentuan umum. Dalam hal ini. melakukan suatu kejahatan lagi. paal yang memuat hukuman yang terberat. maka ternyata ancaman maksimum hukuman kurang berat baginya. apabila seorang sudah dijatuhi hukuman perihal suatu kejahatan. 10. yaitu dapat melebihi hukuman maksimum. yaitu apabila pasal dengan hukuman lebih ringan merupakan suatu ketentuan hukum khusus. bahwa hukuman yang akan dijatuhkan kemudian malahan diperberat. Ayat 2 mengemukakan suatu kekecualiaan. selalu ketentuan khusus yang dilakukan. yang berakibat. setelah selesai menjalani hukuman.

membahayakan lalu lintas secara jalan amat cepat. Seorang naik sepeda di jalan raya tanpa bel dan tanpa tanda telah membayar pajak c. dan menabrak orang lain yang sebagai akibatnya kemudian meninggal dunia.1 Absolut Klachtdelict (Mutlak) Istilah ini dipakai untuk kejahatan-kejahatan yang selalu penuntutannya tertunda sampai adanya suatu pengaduan. 31 . yaitu bersetubuh dengan orang lain dari pada suami atau istirinya (pasal 284). membuka rahasia (pasal 322). seperti misalnya berzinah. Misalnya : a. yang terlepas dari perumusan suatu pasal ketentuan hukum pidana.Dalam hal ini terjadi suatu perubahan pendapat bagi Hoge Raad Belanda yang sangat penting. mengancam dengan penghinaan atau dengan memuka rahasia agar mendapat barang (pasal 369. Seorang dengan tembakan satu kali mengakibatkan matinya dua orang sekaligus b. melarikan orang perempuan (pasal 332. yaitu sejak tahun 1932. schaking). BAB XI PENUNDAAN HAK MENUNTUT HUKUMAN 11. Seorang sopir mengendarai mobil di jalan raya tanpa surat tanda nomor kendaraan dari mobilnya. Dulu ”kata perbuatan” dari pasal 63 diartikan sebagai suatu kejadian.

terhadap siapa hukum pidana dilakukan (si korban) apabila si pelaku (dader) atau si pembantu (medeplichtige) adalah suami atau istirinya. tentang pencurian yang menentukan. 11. seperti misalnya pasal 367 ayat 2 KUHP.3 Relatief Klachtdelict (Nisbi) Istilah ini menunjuk pada kejahatan-kejahatan yang penuntutannya hanya digantungkan kepada suatu pengaduan apabila antara si pelaku dan si korban ada hubungan kekeluargaan. tentang pencurian yang menentukan. 11. bahwa penuntutan hanya dapat dilakukan atas pengaduan seorang. seperti misalnya pasal 367 ayat 2 KUHP. macam-macam penghinaan (pasal 310 dan seterusnya).afdreiging). bahwa penuntutan hanya dapat dilakukan atas pengaduan seorang. atau sekeluarga sedarah atau keluarga semendo. baik 32 .2 Relatief Klachtdelict (Nisbi) Istilah ini menunjuk pada kejahatan-kejahatan yang penuntutannya hanya digantungkan kepada suatu pengaduan apabila antara si pelaku dan si korban ada hubungan kekeluargaan. yang dibebaskandari kewajiban tinggal dirumah. terhadap seorang penguasa selama atau tentang melakukan jabatan. kecuali penghinaan terhadap seorang penguasa selama atau tentang melakukan jabatan.

maka timbul pertanyaan. sedangkan mengenai relatief klachtdelict keadaan ini baru terjadi sesudah diketahui hubungan kekelurgaan sebagai syarat harus adanya pengaduan. adik.4 Mulai Pemeriksaan Penyidikan Oleh karena yang ditunda sampai adanya pengaduan adalah penuntutan (vervolging). 33 .dalam keturunan yang lurus maupun di samping sampai derajat ke dua (kakak. apakah instansi kepolisian atau kejaksaan dapat mulai dengan penyidikan atau pengusutan (opspring) sebelum ada diajukan pengaduan. bahwa mengenai absoluti klachtdelict kepolisian dan kejaksanaan tidak dapat melakukan penyidikan sebelum ada pengaduan. maka adalah layak. BAB XII KEHILANGAN HAK MENUNTUT DAN HAK MENJALANKAN HUKUMAN 12. Mengingat alasan tertundanya penuntutan ialah menghindarkan ketahuan oleh khalayak ramai. 11. yaitu bahwa seseorang tidak dapat dituntut sekali lagi karena perbuatan yang baginya telah diputuskan oleh hakim dengan putusan yang telah berkekuatan tetap (gewijsde atau res judicata).1 Putusan Tetap Dari Hukum (Gewjisde) Pasal 76 KUHP mengandung prinsip penting. atau ipar).

tidak hanya mengenai hal. Di situ ada keluasaan mengubah bunyi surat tuduhan dengan suatu pembatasan. maka atas perbuatan yang sama itu tidak boleh dilakukan penuntutan lagi. bahwa seseorang yang telah dihukum karena melakukan suatu tindak pidana. melainkan juga jika orang dalam perkara pertama dibebaskan (vrijspraak) atau dilepaskan dari segala tuntutan (ontslag van rechsvervolging).Prinsip ini yang juga terkenal sebagai ne bis in idem (tidak dua kali dalam hal yang sama). bahwa hal ”perbuatan yang sama” ini ada hubungan dengan (a) bunyi penuntutan oleh kejaksaan dan (b) kemungkinan mengubah bunyi penuntutan selama pemeriksaan perkara berjalan. jadi perubahan diperbolehkan asal perbuatan yang dituduhkan tetap merupakan ”perbuatan yang sama” (hezelfde feit) yang termaksud dalam pasal 76 KUHP.3 Daluwarsa Penuntutan (Verjaring) 34 . tidak boleh dituntut lagi mengenai perbuata itu lagi.2 Kemungkinan Mengubah Bunyi Penuntutan Di atas sudah saya singgung. yaitu bahwa dengan perubahan surat tuduhan yang dituduhkan kepada terdakwa tidak boleh menjadi lain kejadian (ander feit). 12. 12. Kesulitan-kesulitan tersebut yang berkisar pada pengertian ”perbuatan yang sama” (hetzelfde feit) sebenarnya dapat dikatakan hampir lenyap dengan adanya kemungkinan mengubah bunyi penuntutan secara yang dirumuskan dalam pasal 282 HIR (Herzine Indonesia Reglement) sebagai ketentuan hukum acara pidana.

yaitu secara membayar kepada kejaksaan maksimum denda yang diancamkan. yang juga menentukan tempo yang di dalamnya maksimum dendan harus dibayar. Hak menjalankan hukuman hilang karena daluwarsa 35 .4 Penyelesaian Perkara di Luar Pengadilan Pasal 83 KUHP membuka kemungkinan dalam hal pelanggaran yang hanya diancam dengan hukuman pokok berupa denda. ditambah dengan biaya perkara yang telah dikeluarkan oleh jaksa. Hal ini terutama berlaku bagi tindak-tindak pidana yang ringan. yang untuk itu ditentukan dalam suatu undang-undang. Tetapi ini hanya dengan izin seorang pegawai negeri. bahwa soalnya dapat diselesaikan di luar pengadilan. 12. lebih-lebih denda. maka masyarakat tidak begitu ingat lagi kepadanya sehingga tidak begitu dirasakan perlunya dan manfaatnya menjatuhkan hukuman kepada si pelaku.Apabila suatu tindak pidana oleh karena beberapa hal tidak saja diselidiki dalam waktu yang agak lama.5 Daluwarsa Hak Menjalankan Hukuman Ini diatur dalam pasal 84 dan pasal 85 KUHP Pasal 84 perkara : 1. yaitu golongan pelanggaran seluruhnya dan golongan kejahatan yang diancam dengan hukuman kurungan. 12.

2. Tenggang daluwarsa ini sekali-sekali tidak boleh kurang dari lamanya hukuman yang telah dijatuhkan. untuk kejahatan yang dilakukan dengan alat percetakan lima tahun. Tenggang daluwarsa ini untuk pelanggaran adalah dua tahun. 36 . 3. dan untuk kejahatan-kejahatan yang lain sepertiga lebih dari pada tenggang daluwarsa hak menuntut hukuman. dengan adanya ayat 3. Sebetulnya. juga hukuman penjara seumur hidup praktis tidak dapat kena daluwarsa. 4. Hak menjalankan hukuman mati tidak kena daluwarsa.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful