You are on page 1of 13

LAPORAN PENDAHULUAN ASFIKSIA NEONATUS

A. Konsep Penyakit
I. Definisi Penyakit
Suatu keadaan bayi baru lahir yang mengalami gangguan tidak segera bernafas secara spontan
dan teratur setelah lahir. Asfiksia dapat terjadi selama kehamilan atau persalinan.
Asfiksia dalam kehamilan dapat disebabkan oleh: (dikutip Sofian 2012 dalam buku nanda nic-noc
2016)
1. Penyakit infeksiakut atau kronis, keracunan obat bius, uremia, toksemia, gravidarum,
anemia berat, cacat bawaan atau trauma.
Asfiksia dalam persalinan dapat disebabkan oleh :
Partus lama, rupture uteri yang membakat, tekanan terlalu kuat kepala anak pada plasenta,
prolapses, pemberian obat bius terlalu banyak dan tidak tepat pada waktunya, plasenta previa,
solusio plasenta, plasenta tua (sertinus).
APGAR score
Nilai
Tanda
0 1 2
Tubuh dan
A: Appearance Tubuh kemerahan,
Biru/pucat ekstremitas
(color) warna kulit ekstremitas biru
kemerahan
P: Pulse (heart rate)
Tidak ada <100x/mnt >100x/mnt
denyut nadi
G: Grimance (reflek) Tidak ada Gerakan sedikit Menangis
A: Activity (tonus
Lumpuh Fleksi lemah Aktif
otot)
R: Respiration
Tidak ada Lemah merintih Tangisan kuat
(usaha napas)
Penilaian:
7-10 :Normal (vigorous baby)
4-6 :Asfiksia sedang
0-3 :Asfiksia berat

II.Etiologi
Asfiksia dapat terjadi karena beberapa factor : (dikutip Saifudin, 1991)
1. Faktor ibu

1
a. Hipoksia ibu
b. Gangguan aliran darah fetus
 Gangguan kontraksi uterus pada hipertoni, hipotoni, tetani uteri
 Hipotensi mendadak pada ibu karena perdarahan
 Hipertensi pada penyakit toksemia, eklamsia, dll.
c. Primi tua, DM, anemia, riwayat lahir mati, ketuban pecah dini, infeksi.
2. Factor plasenta
Abruption plasenta, solution plasenta
3. Factor fetus
Tali pusat menumbung, lilitan tali pusat, meconium kental, prematuritas, persalinan
ganda.
4. Factor lama persalinan
Persalinan lama, VE, kelainan letak, operasi cesar.
5. Factor neonates
a. Anastesi/analgetik yang berlebihan pada ibu secara langsung dapat
menimbulkan depresi pernafasan pada bayi.
b. Trauma lahir sehingga mengakibatkan perdarahan intracranial.
c. Kelainan kongenital seperti hernia diafragmatika, atresia/stenosis saluran
pernafasan, hipoplasi paru-paru dll.
III. Manifestasi Klinis
Ada 2 macam kriteria
Perbedaan Asfiksia pallida Asfiksia livida
Warna kulit Pucat Kebiru-biruan
Tonus otot Sudah kurang Masih baik
Reaksi rangsangan Negative Positif
Bunyi jantung Tak teratur Masih teratur
Prognosis Jelek Lebih baik
Klasifikasi klinik berdasarkan nilai APGAR
1. Asfiksia berat (nilai APGAR 0-3)
2. Asfiksia ringan sedang (nilai APGAR 4-6)
3. Bayi normal atau sedikit Asfiksia (nilai APGAR 7-9)
4. Bayi normal dengan nilai APGAR 10
IV. Penatalaksanaan

2
Pencegahan yang komprehensif dimulai dari masa kehamilan, persalinan dan beberapa saat
setelah persalinan. Pencegahan berupa :

1. Melakukan pemeriksaan antenatal rutin minimal 4 kali kunjungan untuk mendeteksi


secaradini kelainan pada ibu hamil dan janin dan ibu mendapat rujukan ke rumah sakit
secara segera.
2. Melakukan rujukan ke fasilitas pelayanan kesehatan yang lebih lengkap pada kehamilan
yang diduga berisiko bayinya lahir dengan asfiksia neonatorum untuk penangan segera
agra tidak terjadi kematian ibu dan bayi.
3. Memberikan terapi kortikosteroid antenatal untuk persalinan pada usia kehamilan kurang
dari 37 minggu.
4. Melakukan pemantauan yang baik terhadap kesejahteraan janin dan deteksi dini terhadap
tanda-tanda asfiksia fetal selama persalinan dengan kardiotokografi untuk mengontrol
pernafasan bayi.
5. Meningkatkan ketrampilan tenaga obstetri dalam penanganan asfiksia neonatorum di
masing-masing tingkat pelayanan kesehatan.
6. Meningkatkan kerjasama tenaga obstetri dalam pemantauan dan penanganan persalinan.
7. Melakukan Perawatan Neonatal Esensial untuk meminimalisir resiko saat persalinan
berlangsung yang terdiri dari :
a. Persalinan yang bersih dan aman
b. Stabilisasi suhu
c. Inisiasi pernapasan spontan
d. Inisiasi menyusu dini
e. Pencegahan infeksi serta pemberian imunisasi
V. Komplikasi
Komplikasi yang muncul pada asfiksia neonatus antara lain :
1. Edema otak & Perdarahan otak
Pada penderita asfiksia dengan gangguan fungsi jantung yang telah berlarut sehingga
terjadi renjatan neonatus, sehingga aliran darah ke otak pun akan menurun, keadaaan ini
akan menyebabkan hipoksia dan iskemik otak yang berakibat terjadinya edema otak, hal
ini juga dapat menimbulkan perdarahan otak.
2. Anuria atau oliguria
3. Disfungsi ventrikel jantung dapat pula terjadi pada penderita asfiksia, keadaan ini dikenal
istilah disfungsi miokardium pada saat terjadinya, yang disertai dengan perubahan
sirkulasi. Pada keadaan ini curah jantung akan lebih banyak mengalir ke organ seperti
mesentrium dan ginjal. Hal inilah yang menyebabkan terjadinya hipoksemia pada
pembuluh darah mesentrium dan ginjal yang menyebabkan pengeluaran urine sedikit.
4. Kejang
Pada bayi yang mengalami asfiksia akan mengalami gangguan pertukaran gas dan
transport O2 sehingga penderita kekurangan persediaan O2 dan kesulitan pengeluaran

3
CO2 hal ini dapat menyebabkan kejang pada anak tersebut karena perfusi jaringan tak
efektif.
5. Koma
Apabila pada pasien asfiksia berat segera tidak ditangani akan menyebabkan koma
karena beberapa hal diantaranya hipoksemia dan perdarahan pada otak.
VI. Diagnose Banding
1. Hipoglikemia
2. Insufisiensi adrenal,
3. Kelainan jantung
4. Gagal ginjal
5. Abnormalitas metabolik (hipokalsemia, hiponatremia, hipernatremia, hipomagnesemia,
defisiensi piridoksin).

VII. Pathway

Resiko ketidak seimbangann Persalinan lama , lilitan tali Factor lain: obat-obatan narkotik
suhu tubuh pusat, presentasi janin abnormal

Suplai o2 dalam darah  ASFIKSIA Peralisis pusat pernafasan

Janin kekurangan o2 dan kadar Bersihan jalan napas tidak Paru-paru terisi cairan
o2 meningkat efektif

Gangguan metabolisme dan


perubahan asam basa
Napas cepat Suplai o2 ke paru 

Apneu Kerusakan otak Asidosis respiratorik

Resiko cedera Kematian bayi Gangguan perfisi ventalasi

4
DJJ dan TD  Proses keluarga terhenti
Nafas cuping hidung,
sianosis, hipoksia

Ketidakektifan pola nafas Janin tidak bereaksi terhadap


rangsangan
Gangguan pertukaran gas

Resiko syndrome kematian


bayi mendadak

B. Pengkajian
1. Identitas klien dan keluarga
a. Riwayat kehamilan ibu dan persalinan ibu
b. Pengukur hasil nilai apgar score bila nilainya 0-3 asfiksia berat,bila nilainya 4-6
asfiksia ringan
2. Pemeriksaan fisik
a. Sirkulasi
1) Nadi apikal dapat berfluktuasi dari 110 sampai 180 x/mnt. Tekanan
darah 60 sampai 80 mmHg (sistolik), 40 sampai 45 mmHg (diastolik).
2) Bunyi jantung, lokasi di mediasternum dengan titik intensitas maksimal
tepat di kiri dari mediastinum pada ruang intercosta III/ IV.
3) Murmur biasa terjadi di selama beberapa jam pertama kehidupan.
4) Tali pusat putih dan bergelatin, mengandung 2 arteri dan 1 vena.
b. Eliminasi
1) Dapat berkemih saat lahir.
2) Berat badan : 2500-4000 gram
3) Panjang badan : 44-45 cm

5
4) Turgor kulit elastis (bervariasi sesuai gestasi
c. Neurosensori
1) Tonus otot : fleksi hipertonik dari semua ekstremitas.
2) Sadar dan aktif mendemonstrasikan refleks menghisap selama 30 menit
pertama setelah kelahiran (periode pertama reaktivitas). Penampilan
asimetris (molding, edema, hematoma).
3) Menangis kuat, sehat, nada sedang (nada menangis tinggi
menunjukkan abnormalitas genetik, hipoglikemi atau efek narkotik yang
memanjang)
d. Pernafasan
1) Skor APGAR : 1 menit......5 menit....... skor optimal harus antara 7-10.
2) Rentang dari 30-60 permenit, pola periodik dapat terlihat.
3) Bunyi nafas bilateral, kadang-kadang krekels umum pada awalnya
silindrik thorak : kartilago xifoid menonjol, umum terjadi.
e. Keamanan
1) Suhu rentang dari 36,5º C sampai 37,5º C. Ada verniks (jumlah dan
distribusi tergantung pada usia gestasi).
2) Kulit : lembut, fleksibel, pengelupasan tangan/ kaki dapat terlihat, warna
merah muda atau kemerahan, mungkin belang-belang menunjukkan
memar minor (misal : kelahiran dengan forseps), atau perubahan warna
herlequin, petekie pada kepala/ wajah (dapat menunjukkan peningkatan
tekanan berkenaan dengan kelahiran atau tanda nukhal), bercak
portwine, nevi telengiektasis (kelopak mata, antara alis mata, atau pada
nukhal) atau bercak mongolia (terutama punggung bawah dan bokong)
dapat terlihat. Abrasi kulit kepala mungkin ada (penempatan elektroda
internal)
3. Pemeriksaan Diagnostik
a. PH tali pusat : tingkat 7,20 sampai 7,24 menunjukkan status parasidosis, tingkat
rendah menunjukkan asfiksia bermakna.
b. Hemoglobin/ hematokrit (HB/ Ht) : kadar Hb 15-20 gr dan Ht 43%-61%.
c. Tes combs langsung pada daerah tali pusat. Menentukan adanya kompleks
antigen-antibodi pada membran sel darah merah, menunjukkan kondisi
hemolitik.

6
d. FungsiLumbal
Untuk menunjukan adanya cairan spinal yang bercampur darah atau xantokrom
disertai dengan peninggian jumlah sel darah merah dan protein, serta penurunan
glukosa.
e. USG
Untuk memantau berbagai perubahan yang terjadi akibat perdarahan.

C. Diagnosa Keperawatan Dan Fokus Intervensi


1. Bersihan jalan nafas tidak efektif b.d produksi mukus banyak.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama proses keperawatan diharapkan
jalan nafas lancar.
NOC I : Status Pernafasan : Kepatenan Jalan Nafas
Kriteria Hasil :
a. Tidak menunjukkan demam.
b. Tidak menunjukkan cemas.
c. Rata-rata repirasi dalam batas normal.
d. Pengeluaran sputum melalui jalan nafas.
e. Tidak ada suara nafas tambahan.
NOC II : Status Pernafasan : Pertukaran Gas
Kriteria Hasil :
a. Mudah dalam bernafas.
b. Tidak menunjukkan kegelisahan.
c. Tidak adanya sianosis.
d. PaCO2 dalam batas normal.
e. PaO2 dalam batas normal.
f. Keseimbangan perfusi ventilasi
g. Keterangan skala :
1 : Selalu Menunjukkan
2 : Sering Menunjukkan
3 : Kadang Menunjukkan
4 : Jarang Menunjukkan
5 : Tidak Menunjukkan
Intevensi
NIC I : Suction jalan nafas

7
a. Tentukan kebutuhan oral/ suction tracheal.
b. Auskultasi suara nafas sebelum dan sesudah suction.Beritahu keluarga tentang
suction.
c. Bersihkan daerah bagian tracheal setelah suction selesai dilakukan.
d. Monitor status oksigen pasien, status hemodinamik segera sebelum, selama dan
sesudah suction.
NIC II : Resusitasi : Neonatus
a. Siapkan perlengkapan resusitasi sebelum persalinan.
b. Tes resusitasi bagian suction dan aliran O2 untuk memastikan dapat berfungsi
dengan baik.
c. Tempatkan BBL di bawah lampu pemanas radiasi.
d. Masukkan laryngoskopy untuk memvisualisasi trachea untuk menghisap
mekonium.
e. Intubasi dengan endotracheal untuk mengeluarkan mekonium dari jalan nafas
bawah.
f. Berikan stimulasi taktil pada telapak kaki atau punggung bayi
g. Monitor respirasi.
h. Lakukan auskultasi untuk memastikan vetilasi adekuat.
2. Pola nafas tidak efektif b.d hipoventilasi/ hiperventilasi.
a. Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama proses keperawatan
diharapkan pola nafas menjadi efektif.
b. Kriteria hasil
c. NOC : Status respirasi : Ventilasi
d. Pasien menunjukkan pola nafas yang efektif.
e. Ekspansi dada simetris.
f. Tidak ada bunyi nafas tambahan.
g. Kecepatan dan irama respirasi dalam batas normal.
h. Keterangan skala :
1 : Selalu Menunjukkan
2 : Sering Menunjukkan
3 : Kadang Menunjukkan
4 : Jarang Menunjukkan
5 : Tidak Menunjukkan
Intervensi

8
NIC : Manajemen jalan nafas
a. Pertahankan kepatenan jalan nafas dengan melakukan pengisapan lender.
b. Pantau status pernafasan dan oksigenasi sesuai dengan kebutuhan.
c. Auskultasi jalan nafas untuk mengetahui adanya penurunan ventilasi.
Kolaborasi dengan dokter untuk pemeriksaan AGD dan pemakaian alan bantu
nafas
d. Siapkan pasien untuk ventilasi mekanik bila perlu.
e. Berikan oksigenasi sesuai kebutuhan.
3. Kerusakan pertukaran gas b.d ketidakseimbangan perfusi ventilasi.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama proses keperawatan diharapkan
pertukaran gas teratasi.
NOC : Status respiratorius : Pertukaran gas
a. Kriteria hasil :
b. Tidak sesak nafas
c. Fungsi paru dalam batas normal
d. Keterangan skala :
1 : Selalu Menunjukkan
2 : Sering Menunjukkan
3 : Kadang Menunjukkan
4 : Jarang Menunjukkan
5 : Tidak Menunjukkan
NIC : Manajemen asam basa
Intervensi :
a. Kaji bunyi paru, frekuensi nafas, kedalaman nafas dan produksi sputum.
b. Pantau saturasi O2 dengan oksimetri
c. Pantau hasil Analisa Gas Darah
4. Risiko cedera b.d anomali kongenital tidak terdeteksi atau tidak teratasi pemajanan pada
agen-agen infeksius.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama proses keperawatan diharapkan
risiko cidera dapat dicegah
NOC : Pengetahuan : Keamanan Anak
Kriteria hasil :
a. Bebas dari cidera/ komplikasi.
b. Mendeskripsikan aktivitas yang tepat dari level perkembangan anak.

9
c. Mendeskripsikan teknik pertolongan pertama.
Keterangan Skala :
1 : Tidak sama sekali
2 : Sedikit
3 : Agak
4 : Kadang
5 : Selalu
NIC : Kontrol Infeksi
Intervensi :
a. Cuci tangan setiap sebelum dan sesudah merawat bayi.
b. Pakai sarung tangan steril.
c. Lakukan pengkajian fisik secara rutin terhadap bayi baru lahir, perhatikan
pembuluh darah tali pusat dan adanya anomali.
d. Ajarkan keluarga tentang tanda dan gejala infeksi dan melaporkannya pada
pemberi pelayanan kesehatan.
e. Berikan agen imunisasi sesuai indikasi (imunoglobulin hepatitis B dari vaksin
hepatitis B bila serum ibu mengandung antigen permukaan hepatitis B (Hbs Ag),
antigen inti hepatitis B (Hbs Ag) atau antigen E (Hbe Ag).
5. Risiko ketidakseimbangan suhu tubuh b.d kurangnya suplai O2 dalam darah.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama proses keperawatan diharapkan
suhu tubuh normal.
NOC I : Termoregulasi : Neonatus
Kriteria Hasil :
a. Temperatur badan dalam batas normal.
b. Tidak terjadi distress pernafasan.
c. Tidak gelisah.
d. Perubahan warna kulit.
e. Bilirubin dalam batas normal.
Keterangan skala :
1 : Selalu Menunjukkan
2 : Sering Menunjukkan
3 : Kadang Menunjukkan
4 : Jarang Menunjukkan
5 : Tidak Menunjukkan

10
NIC I : Perawatan Hipotermi
Intervensi :
a. Hindarkan pasien dari kedinginan dan tempatkan pada lingkungan yang hangat.
b. Monitor gejala yang berhubungan dengan hipotermi, misal fatigue, apatis,
perubahan warna kulit dll.
c. Monitor temperatur dan warna kulit.
d. Monitor TTV.
e. Monitor adanya bradikardi.
f. Monitor status pernafasan.
NIC II : Temperatur Regulasi
Intervensi :
a. Monitor temperatur BBL setiap 2 jam sampai suhu stabil.
b. Jaga temperatur suhu tubuh bayi agar tetap hangat.
c. Tempatkan BBL pada inkubator bila perlu.
6. DP VI. Proses keluarga terhenti b.d pergantian dalam status kesehatan anggota keluarga.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama proses keperawatan diharapkan
koping keluarga adekuat.
NOC I : Koping keluarga
Kriteria Hasil :
a. Percaya dapat mengatasi masalah.
b. Kestabilan prioritas.
c. Mempunyai rencana darurat.
d. Mengatur ulang cara perawatan.
Keterangan skala :
1 : Tidak pernah dilakukan
2 : Jarang dilakukan
3 : Kadang dilakukan
4 : Sering dilakukan5 : Selalu dilakukan
NOC II : Status Kesehatan Keluarga
Kriteria Hasil :
a. Status kekebalan anggota keluarga.
b. Anak mendapatkan perawatan tindakan pencegahan.
c. Akses perawatan kesehatan.
d. Kesehatan fisik anggota keluarga.

11
Keterangan Skala :
1 : Selalu Menunjukkan
2 : Sering Menunjukkan
3 : Kadang Menunjukkan
4 : Jarang Menunjukkan
5 : Tidak Menunjukkan
NIC I : Pemeliharaan proses keluarga
Intervensi :
a. Tentukan tipe proses keluarga.
b. Identifikasi efek pertukaran peran dalam proses keluarga.
c. Bantu anggota keluarga untuk menggunakan mekanisme support yang ada.
d. Bantu anggota keluarga untuk merencanakan strategi normal dalam segala situasi.
NIC II : Dukungan Keluarga
a. Intervensi :
Pastikan anggota keluarga bahwa pasien memperoleh perawat yang terbaik.
b. Tentukan prognosis beban psikologi dari keluarga.
c. Beri harapan realistik.
d. Identifikasi alam spiritual yang diberikan keluarga.

12
DAFTAR PUSTAKA
Hardi Kusuma, Amin Huda. Jogjakarta. Asuhan Keperawatan Praktis. Berdasarkan Penerapan
Diagnosa Nanda, NIC, NOC dalam Berbagai Kasus Edisi Revisi Jilid I. Penerbit Mediaction Jogja.
2016.
https://plus.google.com/+anyeannie/posts/GJQhBHVPVSc (diakse tanggal 16 agustus 2018)
https://www.google.com/search?safe=strict&ei=kz55W4n0C5L69QPtpYOoBw&q=askep+teori+asfi
ksia+neonatorum&oq=askep+teori+asfik&gs_l=psy-
ab.1.2.0l3j0i22i30k1l2.313915.319131.0.321275.17.14.0.3.3.0.195.1471.8j6.14.0....0...1c.1.64.psy-
ab..0.17.1558...0i67k1j0i131k1.0.PSPTAGM-Ovc (diakses tanggal 19 agustus 2018)

13