You are on page 1of 9

BAB 2

KONSEP DASAR

A. Definisi

Sinusitis merupakan salah satu penyakit atau kelainan pada sinus paranasal yang akhir-
akhir ini semakin meningkat. Dampak yang di timbulkan oleh penyakit ini bervariasi, mulai
dari yang ringan sampai dengan yang berat. Betapapun ringannya dampak yang ditimbulkan,
penyakit ini selalu menyebabkan penurunan kualitas kualitas hidup penderitanya. Sehingga
akan terjadi pula kerugian, baik yang dapat ternilai maupun yang tidak dapat ternilai
harganya (Mehra dan Murad, 2004).

Sinusitis merupakan suatu proses peradangan pada mukrosa atau selaput lendir sinus
paranasal. Akibat peradangan ini dapat menyeabkan pembentukan ciran atau kerusakan
tulang di bawahnya. Sinus paranasal adalah rongga-rongga yang terdapat pada tulang di
wajah. Terdiri dari sinus frontal (di dahi), sinus edmoid (pangkal hidung). Sinus maksila (di
pipi kanan dan kiri), sinus sfeniod (di belakang sinus edmoid). Definisi sinusitis yang paling
sederhana berasal dari bahasa latinnya. Akhiran umum dalam dunia kedokteran itis berarti
“peradangan”, karena itu sinusitis adalah suatu peradangan sinus. Sinusitis adalah masalah
sinus. Di dalam hidung kita terdapat empat pasang sinus yaitu:

a. Sinus Etmoidalis yang terletak di belakang jembatan hidung ,diantara kedua mata.
b. Sinus Maksilaris adalah sinus pipi.Sinus ini terletak di belakang tulang pipi,meluas dari
tepat dibawah mata hingga ke tepat di atas gigi atas.Akar gigi di rahang atas sering
menonjol ke dalam dasar sinus maksilaris,yang menjadi penyebab mengapa banyak orang
yang menderita infeksi sinus mengalami sakit gigi.Sinus maksilaris biasanya adalah sinus
yang pertama kali terbentuk di dalam rahim.Sinus maksilaris biasanya berbentuk segitiga
dan berukuran kenari besar.
c. Sinus Frontalis adalah sinus dahi.Sinus ini terletak di dalam tulang frontal dahi.Dinding
belakang sinus frontalis sebenarnya membentuk tulang yang menutupi otak.Ukuran sinus
frontalis dapat bervariasi dari satu orang ke orang lain.Menariknya 10% populasi tidak
pernah membentuk sinus frontalis dan kita tidak tahu alasannya.
d. Sinus Sfenoidalis dapat dianggap sebagai sinus dalam.Sinus ini terletak di bagian belakang
hidung,jauh di dalam tengkorak,terletak di bagian belakang hidung,jauh di dalam
tengkorak,terletak di lokasi di mana mata dan otak bertemu.
Didalam hidung kita juga mempunyai KOM atau kompleks Ostiomeatus yang merupakan
sebagai pintu pagar sempit,daerah sempit di meatus medius,tempat mengalirnya lendir dari
sinus ke hidung,tempat keluar masuknya cairan lendir atau udara ke dalam sinus. Karena Di
dalam sinus terdapat lendir,silia dan kelenjar. Sehingga ketika sinus yang sehat tersumbat
lendir akan mengalir balik dan pintu dari sinus (ostium) juga tersumbat dan silia berhenti
bergerak secara efektif,dan drainase dari sinus terhenti kemudian hidung mulai merasa
tersumbat,dan setelah beberapa hari atau minggu,mulai merasakan tekanan sinus di wajah
atau di dahi karena produksi lendir yang seharusnya keluar melalui KOM tidak dapat karena
sinus tersumbat. Penyebab timbulnya sinusitis,namun berbagai penyebab itu termasuk dalam
salah satu dari tiga kategori besar anatomis misalnya patah tulang hidung, polip hidung,
tumor, genetis misalnya penyakit imunodefisiensi,asma triad dll dan lingkungan misalnya
alergi, asap rokok, flu, dan polusi udara (Drake,1997).

Penyakit sinusitis dibedakan menjadi dua yaitu:

1. Sinusitis Akut

Gejala biasanya di dahului oleh infeksi salurin pernafasan atas (terutama pada anak kecil),
berupa pilek dan batuk yang lama, lebih dari tujuh hari. Gejala subyektif terbagi atas gejala
sistemamik yaitu demam dan rasa lesu. Serta gejala lokal yaitu hidung tersumbat, cairan
hidung mengental yang kadang berbau dan dan mengalir ke naso faring (post nasal drip),
halitosis, sakit kepala yang berlebih berat pada pagi hari, nyeri di daerah sinus yang terkena
bahkan nyeri di bagian tempat lain sekitas sinus.

2. Sinus Kronis

Sinusitis kronis berbeda dengan dinusitis akut dalam berbagai aspek, umumnya sukar
disembuhkan dengan pengobatan medik saja. harus di cari penyebab dan faktor
predisposisinya (keadaan mudah terjangkit ileh penyakit). Populasi bahan kimia dan polusi
dapat menyebabkan silia rusak, sehingga terjadi perubahan mukosa hidung. Perubahan
tersebut juga dapat disebabkan oleh alergi, sehingga mempermudah terjadinya infeksi, dan
memudahkan infeksi itu menjadi kronis apabila pengobatan sinusitis akut tidak sempurna.
Adapun gejala yang ditimbulkan di antaralnya hidung tersumbat, terasa tidak nyaman dan
gatal di daerah tenggorokan, pendengaran terganggu,nyeri atau sakit kepala, serta sering
batuk dahkan terjadi komplikasi bronkitis dan asma bronkhial.

B. Etiologi
Mangunkusomo dan Soetjipto,2007 penyebab pada sinus akut yaitu :
1. Inveksi virus
Sinusitis akut bisa terjadi setelah adanya infeksi virus pada salura pernafasan bagian
atas (misalnya rhinovirus, influenza, dan parainfluenza virus).
1) Bakteri
Di dalam tubuh manusia terdapat beberapa jenis bakteri yang dalam keadaan
normal tidak menimbulkan penyakit (misalnya streptococcus pnemouniae,
haemophilus influenzae). Jika sistem pertahanan tubuh menurun atau drainase dari
sinus tersumbat akibat pilek atau infeksi virus lainnya, maka bakteri yang
sebelumnya tidak berbahaya akan berkembang biak dan menyusup ke dalam sinus,
sehingga terjadi infeksi sinus akut.
2) Infeksi Jamur
Infeksi jamur bisa menyebabkan sinusitis akut pada penderita gangguan sistem
kekebalan, contohnya aspergillus.
3) Peradangan menahun pada saluran hidung
Pada penderita rhinitis alergi dan juga penderita rhinitis vasomotor. Septum nasi
yang bengkok dan tonilitis yang kronis.

Sedangkan pada Sinusitis akut yaitu:

1) Sinusitis akut yang sering kambuh atau tidak sembuh.


2) Alergi.
3) Karies dentis (gigi geraham atas).
4) Septum nasiyang bengkok sehingga mengganggu aliran mucosa.
5) Benda asing dan sinus paranasal.
6) Sinus akut yang sering kambuh atau tidak sembuh.
7) Tumor di hidung dan sinus paranasal
C. Epedemiologi

Menurut Hilger 1994 untuk memahami tentang sinusitis kronis maka perlu mengetahui
mekanisme patofisiologi sinusitis pada umumnya untuk mengetahui mekanisme patofisiologi
sinusitis kronis umumnya, untuk mengidentifikasi faktor risiko paling sering dikaitkan
dengan onset, termasuk:

1. Perubahan pernapasan hidung (atresia choanal, hidung deviasi septum, benda asing,
tumor,) dan obstruksi ostia.;
2. Infeksi pada saluran napas atas, sering dan berulang-ulang;
3. Cacat dalam transportasi mukosiliar;
4. Penyakit umum membuang-buang seperti diabetes, penyakit kolagen, sepsis, AIDS.
5. Penggunaan vasokonstriktor topikal, terutama pada remaja yang bermain olahraga dan
wanita hamil.
6. Penggunaan dan penyalahgunaan obat-obatan seperti mariyuana, kokain, lem.
7. Iritasi Homemade, seperti insektisida, deterjen dan cat.
8. Iritasi seperti asap rokok.
9. Iritasi di tempat kerja.

D. Patogenesis / Patofisiologi

Kesehatan sinus dipengaruhi oleh patensi ostium-ostium sinus dan lancarnya klirens
mukosiliar (mucociliary clearance) di dalam kompleks osteo-meatal. Sinus dilapisi oleh sel
epitel respiratorius. Lapisan mukosa yang melapisi sinus dapat dibagi menjadi dua yaitu
lapisan viscous superficial dan lapisan serous profunda. Cairan mukus dilepaskan oleh sel
epitel untuk membunuh bakteri maka bersifat sebagai antimikroba serta mengandungi zat-zat
yang berfungsi sebagai mekanisme pertahanan tubuh terhadap kuman yang masuk bersama
udara pernafasan. Cairan mukus secara alami menuju ke ostium untuk dikeluarkan jika
jumlahnya berlebihan (Ramalinggam, 1990; Mangunkusomo dan Soetjipto,2007).

Faktor yang paling penting yang mempengaruhi patogenesis terjadinya sinusitis yaitu
apakah terjadi obstruksi dari ostium. Jika terjadi obstruksi ostium sinus akan menyebabkan
terjadinya hipooksigenasi, yang menyebabkan fungsi silia berkurang dan epitel sel
mensekresikan cairan mucus dengan kualitas yang kurang baik (Kieff dan Busaba, 2004).
Disfungsi silia ini akan menyebabkan retensi mukus yang kurang baik pada sinus (Hilger,
1997).

Kejadian sinusitis maksila akibat infeksi gigi rahang atas terjadi karena infeksi bakteri
(anaerob) menyebabkan terjadinya karies profunda sehingga jaringan lunak gigi dan
sekitarnya rusak (Prabhu; Padwa; Robsen; Rahbar, 2009). Pulpa terbuka maka kuman akan
masuk dan mengadakan pembusukan pada pulpa sehingga membentuk gangren pulpa. Infeksi
ini meluas dan mengenai selaput periodontium menyebabkan periodontitis dan iritasi akan
berlangsung lama sehingga terbentuk pus. Abses periodontal ini kemudian dapat meluas dan
mencapai tulang alveolar menyebabkan abses alveolar. Tulang alveolar membentuk dasar
sinus maksila sehingga memicu inflamasi
mukosa sinus. Disfungsi silia, obstruksi ostium sinus serta abnormalitas sekresi mukus
menyebabkan akumulasi cairan dalam sinus sehingga terjadinya sinusitis maksila (Drake, 1997).

Dengan ini dapat disimpulkan bahwa patofisiologi sinusitis ini berhubungan dengan tiga
faktor, yaitu patensi ostium, fungsi silia, dan kualitas sekresi hidung. Perubahan salah satu dari
faktor ini akan merubah sistem fisiologis dan menyebabkan sinusitis.

E. Manifestasi Klinis (Tandadan Gejala)


Menurut Tucker dan Schow, 2008 ada 3 tanda gejala yaitu:
1. Gejala mayor dan gejala minor:
1) Nyeri, berat, dan tertekan pada wajah.
2) Hidung tersumbat.
3) Lendir pada hidung berwarna kuning atau kehijauan.
4) Nyeri gigi.
5) Gangguan membau.
6) Batuk.
7) Telinga terasa nyeri dan panas
2. Gejala sinusitis
Ada beberapa gejala yang terjadi disaat infeksi sinus kita mulai dengan tiga besar yang
dialami banyak orang nyeri dan tekanan nyeri, tumpu berdenyut (atau terasa berat). Tekanan
yang terjadi pada sinus terjadi akibat yang ditimbulkan oleh jaringan yang meradang pada
ujung-ujung syaraf di dinding dalam sinus. Lokasi nyeri ini kerap kali khas untuk sinus yang
terinfeksi antara lain:
1) Sinusitis frontalis menyebabkan nyeri dahi atau sakit kepala.\
2) Sinusitis maksilaris menyebabkan nyeri pipi yang mungkin menyebar ke gigi di rahang
atas.
3) Sinusitis etmoidalis menyebabkan nyeri di antara mata atau di jembatan hidung.
4) Sinusitis sfenoidalis menyebabkan nyeri di belakang mata, puncak kepala, atau di
sepanjang tengkuk.
3. Terjadi kesulitan bernafas dan penyumbatan.
Kombinasi pembengkakan membran atau selaput hidung dan peningkatan pembentukan
lendir menyebabkan sulit bahakan mustahil bernafas melalui hidung. Penyumbatan ini dpat
mengenai satu atau kedua sisi hidung. Bagi sebagian penderita sinusitis istilah penyumbatan
merujuk bukan pada tersumbatnya pernafasan hidung melainkan perasaan penuh atau
tersumbat di wajah terutama pada bagian pipi. Sensai ini disebabkan oleh tersumbatnya
sinus itu sendiri. Jika ostium yang membengkak tertutup, membrane mukosa pada sinus
akan menyerap oksigen, menghasilkan tekanan negative, yang dapat menimbulkan sensasi
penyumbatan wajah atau bahkan nyeri.

F. Komplikasi

Komplikasi sinusitis telah menurun secara nyata sejak ditemukannya antibiotic. Komplikasi
berat biasanya terjadi pada sinusitis akut atau pada sinusitis kronik dengan eksaserbasi akut,
berupa komplikasi orbita atau intracranial. Kelainan orbita disebabkan oleh sinus paranasal yang
berdekatan dengan mata (orbita). Yang paling sering adalah sinusitis etmoid, kemudian sinusitis
frontal maksila. Penyebaran infeksi terjadi melalui tromboflebitis dan perkontinuitatum.
Kelainan yang dapat timbul ialah edema palpebra,selulitis orbita, asbes subperiostal, abses orbita
dan selanjutnya dapat terjadi thrombosis sinus kavernosus. Kelainan Intrakranial. Dapat berupa
meningitis, abses ekstradural atau subdural, abses otak dan thrombosis sinus kavernosus (Hilger,
1997).

Komplikasi juga dapat terjadi pada sinusitis kronis berupa: osteomelitis dan abses
suberiostal. Paling sering timbul akibat sinusitis frontal dan biasanya di temukan pada anak-anak.
pada osteomielitis sinus maksila dapat timbul fistula oroantral fistula pada pipi. Kelainan paru,
seperti bronchitis kronik dan bronki ektasis. Adanya kelainan sinus paran asal disertai dengan
kelainan paru ini disebut sinobronkitis, selain itu dapat juga menyebabkan kambuhnya asma
bronchial yang sukar dihilangkan sebelum sinusitisnya disembuhkan (Tucker dan Schow, 2008).

G. Pencegahan

Pencegahan merupakan upaya yang dapat dilakukan untuk menghindari faktor penyebab
ataupun faktor resiko dari penyakit itu sendiri.

1. Pencegahan Primer
1) Atasi terlebih dahulu penyakit primer yang menjadi pemicunya jika yang bermasai adala
gigi geraham, maka kujingilah dokter gigi langganan anda untuk mendapatkan perawatan
yang tepat begitu juga dengan pemicu yang lain.
2) Setelah anda menyelesaikan masalah dengan pemicunya, anda dapat berkonsultasi
dengan dokter spesialis THT untuk memulai pengobatan sinusitis. Ada beberapa bentuk
pengobatan yang bisa anda lakukan pengobatan dengan obat-obatan antik biotik akan
membantu mengatasi sinusitis yang diakibatkan oleh infeksi kuman. Penggunaan obat
anti biotik akan disesuaikan dengan bakteri penyebab infeksi. Dari sekian banyak bakteri,
ada lima jenis yang diketahui paling sering menginfeksi rongga sinus. Kelima jenis
tersebut diantaranya haemophilus influenzae, staphylococcus aureus, stephylococcus
pneumoniae, steplococcus pyogenes, dan moraxella catarrhalis.
3) Untuk melonggarkan hidung yang tersumbat, anda bisa menggunakan dekongestan. Obat
ini tersedia dalam dua bentuk, yaitu obat tetes atau semprot, dan obat topikal. Sedangkan
jika anda kesulitan mengeluarkan lendir di hidung maka anda memerlukan bantuan obat-
obatan mukolitik seperti bromhexine. Tapi, pastikan anda berkonsultasi terlebih dulu
dengan dokter sebelum menggunakannya.
4) Saat sinusitis tak memberi respon positif terhadap obat-obatan yang anda gunakan, maka
anda memerlukan proses drainase. Proses ini bertujuan untuk mengeluarkan lendir yang
menumpuk di dalam rongga sinus. Sementara itu, untuk para penderita alergi, anda juga
akan memerlukan antihistamin.
2. Pencegahan Sekunder
1) Istirahat yang cukup untuk membantu tubuh melawan infeksi.
2) Minum banyak cairan seperti air atau jus. Akan membantu mencairkan sekresi
mukosa dan meningkatkan graenase.
3) Uapi sinus dengan menggantungkan handuk di kepala saat anda menghirup uap dari
semangkuk air panas.
4) Beri kompres hangat ke wajah dan tempelkan handuk hangat di sekitar pipi, hidung,
dan mata untuk meringankan rasa sakit pada wajah.
5) Hindari asap rokok dan polusi udara karena dapat mengiritasi saluran hidung.
6) Tidur dengan kepala di tinggikan untuk menguras sinus dan mengurangi sumbatan.
3. Pencegahan Tersier
1) Istirahat yang cukup minum banyak cairan serta menghindari asap rokok dan polusi
udara
2) Untuk penderita alergi akan memerlukan antihistamin dan penangan lebih jauh dari
dokter.

H. Penatalaksanaan
Tujuan terapi sinusitis ialah:
1. Mempercepat penyembuhan.
2. Mencegah komplikasi.
3. Mencegah perubahan menjadi kronik.

Prinsip pengobatan ialah membuka di KOM sehingga drenase dan ventilasi sinus-sinus pulih
secara alami.antibiotik dan dekongestan merupakan terapi pilihan pada sinusitis akut
bacterial,untuk menghilangkan infeksi dan pembengkakan maukosa serta membuka sumbatan
ostium sinus. Antibiotik yang dipilih adalah golongan penisilin seperti amoksilin. Jika
diperkirakan kuman telah resisten atau memproduksi beta-laktamase, maka dapat diberikan
amoksilin-klavulanat atau jenis sefalosporin generasi ke-2. Pada sinusitis antibiotic yang sesuai
untuk kuman negative gram dan anaerob.

Selain dekongestan oral dan topical, terapi lain dapat diberikan jika diperlukan, seperti
analgetik,mukolitik,teroidoral/topical, pencucian rongga hidung dengan NaCi atau pemanasan
(diatemi). Antihistamin tidak rutin diberikan, karena sifat antikolinergiknya dapat menyebabkan
secret jadi lebih kental. Bila ada alergi berat sebaiknya diberikan antihistamin generasi ke-2
irigasi sinus maksila atau proetz displa cement therapy juga merupakan terapi tambahan yang
bermanfaat. Imunoterapi dapat dipertimbangkan jika pasien menderita kelainan alergi yang
berat.

Tindakan operasi. Bedah sinus endoskopi fungsional (BSEF/FESS)merupakan operasi


terkini untuk sinusitis kronik yang memerlukanoperasi. Tindakan ini telah menggantikan hampir
semua jenis bedah sinus terdahulu karena memberikan hasil yang lebih memuaskan dan tindakan
ringan dan tidak radikal. Indikasinya berupa:sinusitis kronik yang tidak membaik setelah terapi
adekuat;sinusitis kronik disertai kista atau kelainan yang irreversible;polip ekstensif, adanya
komplikasi sinusitis serta sinusitis jamur (Cho dan Hwang, 2008).