You are on page 1of 59

MAKALAH

KESEHATAN REPRODUKSI REMAJA DAN PERENCANAAN
KELUARGA

“Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja”

Disusun oleh kelompok 3:

P3.73..24.1.17.006 Chaerani Tri H

P3.73.24.1.17.008 Edah Machfudzoh

P3.73.24.1.17.009 Fanni Ariva

P3.73.24.1.17.010 Fernanda Dian S

P3.73.24.1.17.011 Fika Kristi Febrian

KELAS 2A
JURUSAN KEBIDANAN
PROGRAM STUDI PROFESI BIDAN
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES JAKARTA III
TAHUN AJARAN 2018/2019
SATUAN ACARA PENYULUHAN PELATIHAN PELAYANAN KESEHATAN
PEDULI REMAJA

I. PENDAHULUAN
Remaja Indonesia menghadapi berbagai tantangan, yaitu perilaku berisiko,
bidang pengetahuan, dan akses terhadap informasi. Melihat berbagai masalah di
atas, Pembinaan kesehatan remaja dijadikan sebagai bagian dari prioritas
pemerintah. Kementerian Kesehatan RI telah mengembangkan Program Kesehatan
Remaja di Indonesia dengan menggunakan pendekatan Pelayanan Kesehatan Peduli
Remaja (PKPR) sejak tahun 2003.PKPR yang diselengarakan di puskesmas dan
tempat pelayan remaja lainnya mempunyai tujuan umum, yaitu mampu menghargai,
memenuhi hak-hak, dan kebutuhan remaja sebagai individu dalam upaya
mewujudkan derajat kesehatan, pertumbuhan, dan perkembangan yang optimal bagi
remaja sesuai dengan potensi yang mereka miliki (Ministry of Health Republic of
Indonesia 2014).
Secara konsisten,masyarakat internasional telah mengukuhkan hak-hak remaja
akan informasi tentang kesehatan reproduksi (KRR) yang benar dan pelayanan
kesehatan reproduksi (KR) termasuk konseling. Posyandu Remaja memiliki fungsi
sebagai wadah, media, dan pembinaan untuk komunikasi bagi remaja agar remaja
tidak salah menginterpretasikan perilakunya. Upaya promotif dan preventif
dilakukan untk menghindarkan remaja dari perilaku seksual dini (Putri et al 2018).
Pubertas adalah periode dalam rentang perkembangan ketika anak-anak berubah
dari mahluk aseksual menjadi mahluk seksual. Kata pubertas berasal dari kata latin
yang berarti “usia kedewasaan”. Kata ini lebih menunjukkan pada perubahan fisik
daripada perubahan perilaku yang terjadi pada saat individu secara seksual menjadi
matang dan mampu memperbaiki keturunan. Pada masa ini, anak-anak berada
dalam rentang perkembangan yang berubag dari makhluk aseksual menjadi
makhluk seksual (Hurlock, 1980).

II. TUJUAN PELATIHAN
A. TUJUAN UMUM
Kegiatan ini dilakukan untuk meningkatkan kemampuan tenaga kesehatan
dalam memberikan pelayanan kesehatan ke remaja dan meningkatkan
kemampuan teman sebaya dalam memberikan informasi tentang kesehatan
reproduksi remaja yang berkaitan dengan siklus menstruasi, personal hygiene,
dan permasalahan pada saat menstruasi.

B. TUJUAN KHUSUS
1. Untuk mengetahui tentang pelayanan PKPR
2. Untuk mengenali permasalahan kesehatan reproduksi remaja
3. Mampu memberikan konseling yang mengenai permasalahan kesehatan
reproduksi remaja

III. KOMPETENSI YANG DIHARAPKAN
1. Memiliki kemampuan dalam memberikan pelayanan kesehatan peduli remaja
(PKPR)
2. Memiliki pengetahuan dan kemampuan informasi mengenai kesehatan
reproduksi remaja dengan menggunakan teknik dan metode komunikasi efektif
3. Memberikan pelayanan kesehatan konseling kepada teman sebaya dalam
mengatasi permasalahan yang berkaitan dengan kesehatan reproduksi remaja

IV. SASARAN
a. Kriteria Peserta
- Remaja perempuan yang berusia 12-22 tahun
b. Kriteria Pelatih
- Berkuliah dibidang kesehatan
c. Jumlah Peserta
Jumlah peserta : 11 orang

V. MATERI
- Kesehatan reproduksi remaja
1. Siklus menstruasi
2. Gangguan menstruasi
3. Personal hygiene

VI. METODE DAN PROSES
A. METODE
1. Metode:
- Diskusi
- Ceramah
- Sharing
- Tanya jawab
- Konselor

2. Proses belajar
Pelatihan ini menempatkan peserta sebagai orang yang memiliki bekal
dalam menyampaikan materi kepada teman sebayanya dalam memberikan
informasi yang mengenai kesehatan reproduksi remaja dan permasalahan
pada masa remaja.

VII. WAKTU DAN TEMPAT
1. Waktu
2. Tempat
VIII. PENILAIAN
1. Peserta latihan
- Pendahuluan
- Pemberian edukasi kepada konselor sebaya
- Memberikan perhatian kepada materi yang disampaikan
2. Pengajar
- Penguasaan materi
- Penyajian materi
- Kemampuan menyajikan
- Sikap dan perilaku
- Metode dan alat bantu
- Kerapihan berpakaian
- Cara menjawab pertanyaan
- Penggunaan tata bahasa
- Pemberian motivasi kepada peserta
3. Pelaksanaan
Evaluasi meliputi kurikulum penyediaan bahan pembelajaran, alat bantu
pembelajaran, akomodasi, dan transportasi.
RANCANGAN JADWAL PKPR

HARI/WAKTU MATERI METODE PEMBERI PENANGGUNG
MATERI JAWAB

HARI I  Pembukaan
 Pengenalan Dan
Sabtu, 8 Pembagian Snack Diskusi
 Pre Test
September 2018
 Pengenalan Remaja
 Pengenalan
Menstruasi Ceramah
 Siklus Menstruasi
 Gangguan Dalam
Menstruasi
 Games/ Hiburan
Tanya jawab
 Perawatan Diri Pada
Saat Menstruasi
(Personal Hygiene)

HARI II  Pengumpulan Perserta
 Sharing Dan Evaluasi
Materi Yang Telah
Diberikan.
 Konselor Sebaya
 Post Test
 Sayonara

PRE TEST DAN POST TEST

I. DATA DEMOGRAFI

A. RESPONDEN
Nama Responden (Initial) : ..........................................................
Umur : ………………………………….....
Jenis Kelamin : Laki-laki/perempuan
Pendidikan/Kelas :…………………………………......
Agama :…………………………………......
Alamat Responden :........................................................
RT....... .........RW............. No ....
II. DATA STATISTIK KESEHATAN

A. Tinggi Badan: ………………………………………………………………..

B. Berat Badan:…………………………………………………………………

III. PENDIDIKAN KESEHATAN

Pengetahuan Kesehatan Reproduksi

Jawablah dengan memberikan tanda cek list (√)) pada kolom pernyataan yang saudara anggap benar atau
salah pada kolom yang telah tersedia

No Pernyataan Benar Salah
1 Remaja perempuan mengalami pembesaran buah dada saat memasuki
masa puber
2 Remaja laki-laki mengalami mimpi basah disertai keluarnya cairan
sperma saat memasuki masa puber
3 Awal masa remaja emosinya berubah-rubah seperti mudah marah
dan agresif
4 Remaja mengkonsumsi makanan bergizi untuk memelihara
kesehatan reproduksi
5 Sperma dihasilkan oleh saluran kencing
6 Saluran kencing termasuk organ reproduksi laki- laki
7 Sel telur dihasilkan oleh rahim
8 Remaja melakukan hubungan seksual pada masa subur
menyebabkan kehamilan
9 Tanda-tanda kehamilan pada remaja adalah tidak datang haid
disertai mual-mual
10 HIV/AIDS adalah penyakit yang tidak dapat disembuhkan
11 HIV/AIDS adalah penyakit yang menurunkan kekebalan tubuh
12 Jika seseorang melakukan hubungan seksual berganti-ganti
pasangan akan menimbulkan resiko penyakit menular seksual
(PMS)

Mengenal Organ Reproduksi

Pilih salah satu jawaban yang pada pernyataan dibawah ini dengan tanda X

No Pernyataan Benar Salah

1 Ovarium organ reproduksi laki-laki
2 Clitoris adalah organ reproduksi laki-laki

3 Saluran telur (tuba falopi), saluran jalannya sel telur dari indung telur
menuju rahim.
4 Rahim (uterus), sebuah rongga terbuat dari otot-otot ya kuat untuk
membesarkan bayi selama 9 bulan.
5 Testis adalah organ reproduksi penghasil sperma

6 Kelenjar prostat adalah kelenjar yang menghasilkan cairan mani/sperma
yang ikut mempengaruhi kesuburan sperma.
7 Epididimis adalah organ reproduksi perempuan

8 Tuba falopii adalah saluran yang dilalui oleh sel telur yang keluar dari
indung telur menuju rahim
9 Indung telur berfungsi mengeluarkan sel telur satu bulan satu kali.

10 Bibir kelamin (labia), berada di bagian dalam vagina

Haid/Menstruasi Pada Perempuan

Pilih salah satu jawaban pada pernyataan dibawah ini dengan tanda X

No Pernyataan Benar Salah
1 Menstruasi merupakan keluarnya cairan bercampur darah dari indung telur.

2 Mengganti pembalut saat menstruasi setiap 4 jam sekali

3 Yang punya peran dalam mentruasi adalah kadung kemih

4 Haid yang pertama kali (menarche) usia 9 tuhun – 16 tahun

5 Menstruasi pertama yang dialami oleh remaja dipengaruhi oleh gizi yang
dimakan
6 Nyeri menstruasi terjadi karena kontraksi rahim

7 Sejak pubertas, indung telur akan melepaskan sel telur sebulan sekali

8 Informasi tentang seks memicu otak untuk mengaktifkan hormon seksual

9 Sel telur yang tidak dibuahi oleh sperma menyebabkan menstruasi

10 Lamanya menstruasi 2-8 hari
ALAT BANTU KONSELING KEPADA REMAJA
2.1 Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR)
2.1.1 Pengertian PKPR
PKPR singkatan dari Pelayananan Kesehatan Peduli Remaja. PKPR adalah program
pemerintah yang diampu Dinas Kesehatan di tingkat Kabupaten/Kota, dikoordinas
Dinas kesehatan tingkat Provinsi untuk melayani kesehatan remaja. Program ini secara
resmi telah berjalan sejak tahun 2003. Di tingkat lapangan, PKPR dijalankan oleh
Puskesmas. PKPR adalah pelayanan kesehatan yang ditujukan untuk remaja melalui
pendekatan yang disesuaikan dengan kondisi psikologis remaja dan peka terhadap
kebutuhan yang terkait dengan kesehatan remaja. Pelayanan kesehatan yang ditujukan
dan dapat dijangkau oleh remaja, menyenangkan, menerima remaja dengan tangan
terbuka, menghargai remaja, menjaga kerahasiaan, peka akan kebutuhan terkait dengan
kesehatannya, serta efektif dan efisien dalam memenuhi kebutuhan tersebut.Singkatnya,
PKPR adalah pelayanan kesehatan kepada remaja yang mengakses semua golongan
remaja, dapat diterima, sesuai, komprehensif, efektif dan efisien.
2.1.2 Tujuan PKPR
Tujuan Umum:
Optimalisasi pelayanan kesehatan remaja di Puskesmas.
Tujuan Khusus:
1. Meningkatkan penyediaan pelayanan kesehatan remaja yang berkualitas.
2. Meningkatkan pemanfaatan Puskesmas oleh remaja untuk mendapatkan pelayanan
kesehatan.
3. Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan remaja dalam pencegahan masalah
kesehatan khusus pada remaja.
4. Meningkatkan keterlibatan remaja dalam perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi
pelayanan kesehatan remaja.
2.1.3 Manfaat PKPR
1. Dengan adanya PKPR dapat menambah wawasan dan teman melalui kegiatan-
kegiatan penyuluhan, dialog interaktif, Focus Group Discussion (FGD), seminar,
jambore, dll
2. Sebagai tempat unutuk konseling/curhat mengenai masalsh kesehatan dan berbagai
masalah remaja lainnya yang dimana kerahasiaannya terjamin
3. Dalam PKPR ini remaja dapat menjadi peer counselor/ kader kesehatan remaja agar
dapat ikut membantu teman yang sedang punya masalah.

2.1.4 Alur dan Langkah Pelaksanaan PKPR Pada Remaja
Kebijakan dan penganggaran untuk pelaksanaan suatu program atau kegiatan di suatu
wilayah, termasuk pelaksanaan PKPR merupakan domain dan kewenangan
Pemerintah Kabupaten/Kota. Oleh sebab itu, pelaksanaan PKPR baik di Puskesmas
dan FKTP lainnya, maupun di Rumah Sakit Pemerintah dan Pemerintah Daerah
Provinsi Kabupaten/Kota dan FKRTL lainnya, harus difasilitasi dan diinisiasi oleh
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota (Kemenkes, 2015). Berikut tahapan yang
dapat dilakukan di tingkat Kabupaten/Kota dalam pelaksanaan PKPR di wilayahnya
berdasarkan Pedoman Manajemen PKPR yang dirancang oleh Direktorat Bina Anak
Kementerian Kesehatan RI Tahun 2015.
1. Persiapan
Untuk memulai pelaksanaan PKPR di suatu Kabupaten/Kota, perlu dilakukan berbagai
macam langkah persiapan yang dapat diuraikan sebagai berikut:
a. Kajian awal
Langkah awal yang harus dilakukan sebelum mengembangkan PKPR adalah
pengumpulan dan analisis data yang terkait dengan remaja dengan menggunakan
berbagai sumber, dan hasilnya diharapkan mampu menggambarkan seluruh
permasalahan yang terkait dengan kesehatan remaja di wilayah Kabupaten/Kota
yang bersangkutan. Data tersebut dapat berupa Profil remaja; data demografi;
masalah kesehatan dan perilaku; informasi tentang peraturan dan hukum kebijakan
terkait kesehatan remaja; dan identifikasi sektor dan institusi yang dapat terlibat
dalam program kesehatan remaja.
b. Advokasi dan Konsolidasi
Advokasi diperlukan untuk mendapatkan komitmen dan dukungan pengambil
keputusan, penentu kebijakan dan pemangku kepentingan terkait, dan dilakukan
dengan menggunakan informasi yang akurat dan teknik yang tepat. Hasil yang
diharapkan adalah adanya komitmen dan kebijakan untuk melaksanakan PKPR, yang
diaktualisasikan dengan penyediaan sumber daya untuk pelaksanaannya berupa
sumber daya manusia, sarana, dan dana.
c. Pembentukan Tim/Satgas PKPR dan Jejaring Kemitraan PKPR
Tahap berikutnya, adalah pengembangan kemitraan yang dapat dilakukan dengan
berbagai cara sesuai situasi masing-masing Kabupaten/Kota. Pilihannya antara lain
dengan membentuk Tim atau Satgas atau membuat Nota kesepahaman
(Memorandum of Understanding [MoU]) antar mitra/pemangku kepentingan.
Apapun pilihannya, tidak masalah, asal semua pemangku kepentingan berkomitmen
untuk memenuhi dan melaksanakan secara sungguh-sungguh peran, fungsi dan
tanggung jawab sesuai dengan kesepakatan pada saat konsolidasi.
Yang paling penting adalah bahwa semuanya ini harus diikuti dengan pembentukan
dan pengembangan jejaring kemitraan PKPR yang kuat dalam pelaksanaannya. Agar
kemitraan dapat berlanjut secara berkesinambungan, perlu dikembangkan forum
komunikasi secara berkala antar anggota jejaring melalui tatap muka (pertemuan,
rapat koordinasi) atau menggunakan media elektronik dan sosial yang ada.
Frekuensi, jadwal, pokok bahasan, pelaksana, penanggung jawab setiap kali
dilaksanakan forum komunikasi, dapat disepakati bersama oleh semua anggota
jejaring.
d. Pembuatan Plan of Action (POA)
Penyusunan POA ini dilakukan bersama oleh semua mitra/pemangku kepentingan
melalui forum komunikasi atau bahkan dengan melaksanakan lokakarya perencanaan
PKPR Kabupaten/Kota. Semua kegiatan yang sudah disepakati dituangkan secara
jelas dalam suatu matriks yang antara lain berisikan: Nama Kegiatan, Tujuan
Kegiatan, Waktu Pelaksanaan, Mitra Yang Terlibat, Penanggung Jawab, Sumber
Dana, dan lain-lain.
2. Pelaksanaan
Pelaksanaan PKPR di wilayah Kabupaten/Kota awalnya dapat dilakukan pada satu atau
lebih Puskesmas yang ada di wilayahnya, kemudian dikembangkan di Puskesmas dan
FKTP lainnya secara bertahap sampai semua Puskesmas dan FKTP yang ada, mampu
melaksanakan PKPR. Selanjutnya untuk pelayanan rujukan medis bagi remaja mau
tidak mau haruslah dikembangkan juga sedikitnya di salah satu Rumah Sakit Pemerintah
Daerah atau FKRTL lainnya yang ada di Kabupaten/Kota tersebut.
a. Memilih Puskesmas Pelaksana PKPR
Puskesmas yang dipilih bisa berdasarkan hasil kajian awal yang sudah dilakukan.
Dalam pemilihan tersebut perhatian dan minat Kepala Puskesmas, potensi
ketersediaan tenaga pelaksana, besaran permasalahan kesehatan remaja, adanya
kelompok sasaran yang relatif mudah di intervensi, serta adanya dukungan
masyarakat, harus dijadikan acuan utama dalam mempertimbangkan penentuan
Puskesmas yang akan dikembangkan menjadi Puskesmas PKPR. Selanjutnya,
Pengembangan PKPR dilakukan secara bertahap, sesuai dengan situasi dan kondisi
serta kemampuan Kabupaten/Kota, sehingga pada akhirnya semua Puskesmas dan
FKTP yang ada di wilayah Kabupaten/Kota tersebut dapat dikembangkan menjadi
Puskesmas dan FKTP PKPR.
b. Menjajaki Pembentukan PKPR Rumah Sakit
Keberadaan RS dan atau FKRTL PKPR menjadi suatu keharusan, ketika Puskesmas
dan atau FKTP lainnya sudah memberikan layanan PKPR. Kasus-kasus medis yang
tidak tertangani di Puskesmas dan FKTP lainnya harus dirujuk ke RS atau FKRTL
PKPR terdekat, sehingga dengan demikian RS dan FKRTL juga harus mampu
memberikan pelayanan kesehatan remaja sesuai standar pelayanan kesehatan PKPR.
Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota, harus secepatnya menjajagi kemungkinan untuk
menfasilitasi RS Pemerintah/Pemerintah Daerah setempat atau FKRTL lainnya
untuk dikembangkan menjadi RS PKPR.
c. Melatih Petugas
Salah satu syarat pengembangan PKPR baik di Puskesmas dan FKTP lainnya,
maupun di Rumah Sakit Pemerintah/Pemerintah Daerah atau FKRTL lainnya, adalah
tersedianya tenaga pelaksana pelayanan kesehatan remaja yang terlatih PKPR
termasuk konseling. Oleh karena itu sebelum pengembangan PKPR dilakukan,
sesuai dengan tanggung jawabnya Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota harus
melaksanakan pelatihan terhadap tenaga pelaksana dimaksud. Pelatihan dapat
dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota yang bersangkutan, bisa juga
menjadi bagian atau bergabung dengan pelatihan yang bakal diadakan oleh Dinas
Kesehatan Provinsi.
d. Menyiapkan Sarana Prasarana
Pengadaan sarana prasarana untuk mengembangkan PKPR khususnya di Puskesmas,
merupakan tanggung jawab Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Oleh karena itu
berdasarkan permintaan Puskesmas, Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dapat
menganggarkan biaya untuk pengadaan sarana dan prasarana yang dibutuhkan
Puskesmas dalam pengembangan PKPR ini. Sedangkan penyiapan sarana dan
prasarana di RS, merupakan tanggung jawab Manajemen RS yang bersangkutan.
Khusus untuk RS Kabupaten/Kota penyediaan anggaran untuk pengadaan sarana
prasarana ini menjadi tanggung jawab jajaran manajemen dengan mengusulkannya
melalui APBD Kabupaten/Kota atau menganggarkannya melalui anggaran internal
Rumah Sakit untuk RS yang berstatus Badan Layanan Umum Daerah (BLUD).
e. Konsolidasi Kemitraan dan Jejaring Pelaksanaan PKPR
Konsolidasi yang dapat dilakukan dengan berbagai cara sesuai situasi masing
Kabupaten/Kota. Apabila kemitraan dibangun berbasiskan Nota kesepahaman
(Memorandumof Understanding [MoU]) antar mitra/pemangku kepentingan, maka
MoU dimaksud harus menjadi acuan dalam pelaksanaan di lapangan. Konsolidasi
dapat dilakukan dengan melaksanakan pertemuan bilateral secara berkala.
3. Pencatatan dan Pelaporan
Pencatatan dilakukan oleh Rumah Sakit dan FKRTL lainnya, Puskesmas dan FKTP
lainnya, dilakukan sesuai dengan ketentuan yang ada, mengacu pada Sistem Informasi
Kesehatan yang berlaku (Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit [SIM RS], Sistem
Pencatatan dan Pelaporan Terpadu Puskesmas [SP2TP]). Hasilnya di kompilasi dan
dilaporkan ke unit yang lebih atas, yaitu Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dan atau Dinas
Kesehatan Provinsi, sesuai alur pelaporan yang ada.
Pelaporan merupakan serangkaian proses yang dimulai dari pencatatan tentang kegiatan
dan hasilnya kemudian dilaporkan kepada institusi yang lebih tinggi. Pelaksanaan PKPR
ini wajib dilaporkan ke Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota, dan atau Dinas Kesehatan
Provinsi, menggunakan format pencatatan dan pelaporan yang ada. Bila mana diperlukan
format pelaporan khusus PKPR, sebaiknya diupayakan untuk meminimalisasi variabel
yang harus dilaporkan.
4. Pembinaan dan Pengawasan
Mengacu pada Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 2014,
tentang Upaya Kesehatan Anak, pasal 54,pembinaan dan pengawasan terhadap
penyelenggaraan Upaya Kesehatan Anak di fasilitas pelayanan kesehatan di wilayahnya
dilakukan oleh pemerintah (Kemenkes), pemerintah daerah provinsi (Dinas Kesehatan),
dan pemerintah daerah kabupaten/kota (Dinas Kesehatan), melalui monitoring dan
evaluasi. Selain itu pembinaan dan pengawasan juga dapat dilakukan melalui peningkatan
pengetahuan tenaga kesehatan melalui pendidikan dan pelatihan. Pembinaan dan
pengawasan ini dilakukan paling sedikit dua kali dalam setahun. Kegiatan pemantauan
dilakukan dalam rangka pelaksanaan pembinaan pengawasan, pengontrolan, dan
pengendalian terhadap pelaksanaan suatu kegiatan atau program melalui proses
pengumpulan dan analisis data secara teratur, dan hasilnya dapat digunakan untuk
mengetahui apakah program berjalan sesuai rencana, sejauh mana kemajuannya, apakah
ada perbaikan atau penyimpangan, apakah ada umpan balik terkait input dan proses, serta
apakah ada faktor eksternal yang berpengaruh.
2.2 Konseling
2.2.1 Pengertian Konseling

Konseling merupakan proses pemberian informasi objektif dan lengkap yang dilakukan
secara sistematik dengan panduan komunikasi interpersonal, teknik bimbingan dan
penguasaan pengetahuan klinik yang bertujuan untuk membantu seseorang mengenali
kondisi nya saat ini, masalah yang dihadapi, dan menentukan jalan keluar atau upaya
mengatasi masalah tersebut. (Saefudin Abdul Bari, 2002)

Konseling Kebidanan adalah pertolongan dalam bentuk wawancara yang menuntut
adanya komunikasi, interaksi yang mendalam, dan usaha bersama antara konselor
(bidan) dengan konseli (klien) untuk mencapai tujuan konseling yang dapat berupa
pemecahan masalah, pemenuhan kebutuhan, ataupun perubahan tingkah laku atau sikap
dalam ruang lingkup pelayanan kebidanan. (M. Taufik, et al., 2010)

2.2.2 Tujuan Konseling
Menurut (Christina, et al., 2003), tujuan konseling kebidanan adalah :
 Membantu klien memecahkan masalah, meningkatkan keefektifan individu dalam
pengambilan keputusan secara tepat. (Christina, et al., 2003)
 Membantu pemenuhan kebutuhan klien, meliputi menghilangkan perasaan yang
menekan/mengganggu dan mencapai kesehatan mental yang positif.
 Mengubah sikap dan tingkah laku yang negative menjadi positif dan yang
merugikan klien menjadi meng untungkan klien.

2.2.3 Pengertian Komunikasi Terapeutik
Ada beberapa pengertian komunikasi terapeutik dan di antaranya adalah sebagai berikut.
1. Suatu kemampuan atau ketrampilan bidan dalam adalam membantu klien beradaptasi
terhadap stress, mengatasi gangguan psikologi dan belajar bagaimana berhubungan
dengan orang lain (Northouse dalam Suryani 2006).
2. Hubungan interpersonal anatar bidan dengan klien,sehingga memperoleh pengalaman
belajar yang sama dalam rangka memperbaiki pengalaman emosional klien (Stuart
1998).
3. Komunikasi yang direncanakan secara sadar dimana kegiatan dan tujuan dipusatkan
untuk kesembuhan pasien (Uripni dkk 2003).

Dari beberapa definisi di atas, secara sederhana komunikasi terpeutik dapat diartikan
sebagai suatu ketrampilan atau proses interasi secara sadar yang dilakukan oleh bidan pada
klien untuk beradaptasi terhadap gangguan baik secara fisik maupun psikologi sehingga
bisa membantu klien untuk mencapai kesembuhan atau mengatasi masalahnya.

Kunci membangun komunikasi terapeutik adalah:

a. Kejujuran
b. Lemah lembut berbicara dan meyakinkan
c. Tata bahasanya jelas,ekpresisf dan tidak membingungkan
d. Bersikap positip dan penuh harapan kedepan
e. Empati
f. Memberikan sikap hormat pada klien
g. Responsif dan peka,mengerti perasaan orang lain
h. Tidak terpengaruh masa lalu klien.

2.2.4 Teknik Komunikasi Teraupetik
1. Mendengar Aktif dengan Penuh Perhatian
Teknik mendengar ada dua macam yaitu mendengar pasif dan mendengar aktif.
Mendengar pasif misalnya menganggukan kepala atau kontak mata. Sedangkan
mendengar aktif adalah mendengar dengan penuh perhatian dan bertujuan untuk
mengetahui perasaan orang lain. Keuntungan mendengar aktif adalah pasien merasa
dihargai dan merasa penting serta pasien merasa didengarkan sehingga pasien merasa
nyaman. Mendengar aktif dengan penuh perhatian bisa dilakukan dengan cara-cara
sebagai berikut :
1. Pandang klien dan keluarga saat berbicara
2. Pertahankan kontak mata yang memancarkan keinginan untuk mendengarkan
3. Sikap tubuh yang menunjukan perhatian
4. Tidak menyilangkan kaki dan tangan
5. Menghindari gerakan yang tidak perlu
6. Anggukan kepala apabila klien membicarakan hal yang penting.
7. Condongkan tubuh kearah lawan bicara.
2. Menunjukkan Penerimaan
Menunjukkan penerimaan berarti bersedia mendengarkan orang lain tanpa
keraguan tetapi bukan berarti bidan menyetuji semua hal. Bidan tidak harus menerima
perilaku klien tetapi harus menghindari ekspresi wajah yang menunjukan tidak setuju,
misalnya menggelengkan kepala atau mengerutkan dahi/wajah.
Contoh sikap bidan yang menyatakan penerimaan adalah sebagai berikut.
1. Mendengarkan tanpa memutus pembicaraan
2. Memberikan umpan balik verbal
3. Memastikan bahwa isyarat verbal cocok dengan komunikasi verbal
4. Menghindari untuk berdebat
3. Mengajukan Pertanyaan yang Berkaitan
Tujuan bidan mengajukan suatu pertanyaan yang berkaitan adalah untuk
mendapatkan informasi yang spesifik mengenai apa yang disampaikan oleh pasien atau
keluarganya. Contoh: “Tadi Ibu katakan kalau anak Ibu ada tiga. Anak yang mana yang
paling dekat dengan Ibu?”.

4. Mengajukan Pertanyaan Terbuka
Pertanyaan terbuka adalah pertanyaan yang memerlukan jawaban yang luas,
sehingga pasien bisa mengemukakan masalah dan perasaannya dengan kata-kata
sendiri. Contoh: “Coba ceritakan apa yang biasa ibu lakukan kalau ibu mengalami
demam yang tinggi?”.
5. Mengulang Ucapan Klien
Mengulang ucapan klien dengan menggunakan kata-kata sendiri. Contoh: Klien:
“Saya semalan tidak bisa tidur Bu....” Bidan: “Ibu mengalami kesulitan untuk tidur?”
6. Mengajukan Pertanyaan Klarifiksi
Mengajukan pertanyaan klarifikasi tujuanya adalah untuk menglarifikasikan
hal-hal yang belum dimengerti untuk menghindari kesalahpahaman. Contoh: Bidan:
“Apa yang Ibu maksudkan tadi? Saya kurang jelas.” Klien : “Yang saya maksudkan
adalah.....”
7. Menfokuskan
Menfokuskan tujuanya adalah untuk membatasi pembicaraan sehingga
pembicaraan menjadi lebih spesifik. Contoh: “Hal ini nampaknya penting,maka perlu
kita bicarakan lebih lanjut di lain waktu.”
8. Menyampaikan Hasil Observasi
Menyampaikan hasil observasi bertujuan untuk memberikan umpan balik dari
hasil pengamatan yang dilakukan. Contoh : Bidan : “Kelihatannya Ibu cemas? Apakah
Ibu merasa cemas apabila ....”
9. Menawarkan Informasi
Menawarkan informasi adalah untuk memberikan tambahan informasi yang
merupakan bagian dari pendidikan kesehatan.
10. Diam
Diam menurut Damayanti (2008) digunakan pada saat klien perlu
mengekpresikan ide tetapi klien tidak tahu bagaimana menyampaikan hal tersebut.
Sikap diam juga bisa digunakan, baik oleh klien ataupun bidan, untuk mengorganisir
pikirannya. Sikap diam memungkinkan klien untuk dapat berkomunikasi secara internal
dengan dirinya sendiri,mengorganisir dan memproses informasi yang didapat.
11. Meringkas
Meringkas tujuanya untuk membantu bidan mengulang aspek penting yang
dibicarakan sehingga dapat dilanjutkan pembicaraan dengan topik yang berkaitan.
Contoh: “Selama 30 menit Ibu dan saya telah membicarakan tentang KB....”
12. Memberikan Penghargaan
Memberikan penghargaan dapat dilakukan bila pasien sudah mengalami
perubahan secara nyata,maka perlu disampaikan demikian Contoh : “Selamat pagi
Bu....., saya perhatikan Ibu Ani hari ini sudah rapi....”
13. . Asertif
Asertif adalah kemampuan untuk meyakinkan dan nyaman untuk
mengekspresikan pikiran dan perasaan dengan tetap menghargai orang lain.
2.3 Tutor Sebaya
2.3.1 Pengertian Tutor Sebaya
Metode tutor sebaya adalah bimbingan atau bantuan yang diberikan kepada orang lain
dengan umur yang sebaya. Belajar bersama dalam kelompok dengan tutor sebaya
merupakan salah satu ciri pembelajaran berbasis kompetensi, melalui kegiatan
berinteraksi dan komunikasi, siswa menjadi aktif belajar, mereka menjadi efektif.
Kerjasama dalam kelompok dengan tutor sebaya dapat dikaitkan dengan nilai sehingga
kerjasama makin intensif dan siswa dapat mencapai kompetensinya. Dipandang dari
tingkat partisipasi aktif siswa, tutor sebaya mempunyai tingkat partisipasi aktif siswa
lebih tinggi dengan keuntungan belajar secara berkelompok . Menurut Thomson
proses, belajar tidak harus berasal dari guru ke siswa, melainkan dapat juga siswa saling
mengajar sesama siswa lainnya.
2.3.2 Tujuan Tutor Sebaya
1. Dapat mengatasi keterbatasan media atau alat pembelajaran.
2. Dengan adanya kelompok guru bertugas sebagai fasilitator karena kesulitan
yang dihadapi kelompok/siswa dapat diatasi melalui tutor sebaya yang
ditunjuk guru karena kepandaiannya.
3. Dengan kerja kelompok anak yang kesulitan dapat dibantu dengan tutor
sebaya tanpa perasaan takut atau malu.
4. Dapat meningkatkan partisipasi dan kerjasama siswa serta belajar
bertanggung jawab.
5. Dengan belajar kelompok tutor sebaya melatih siswa untuk belajar
bersosialisasi.
6. Menghargai orang lain.
2.3.3 Teknik Pemilihan Tutor Sebaya
1. Dapat diterima atau disetujui oleh siswa yang mendapat program perbaikan
sehingga sisa tidak mempunyai rasa takut atau enggan untuk bertanya
kepadanya.
2. Dapat menerangkan bahan-bahan materi yang dibutuhkan siswa yang
berkesulitan.
3. Tidak tinggi hati atau keras hati terhadap sesama teman.
4. Mempunyai daya kreatifitas yang cukup untuk memberikan bimbingan
kepada temannya.
2.4 Permasalahan Pada Masa Remaja

2.4.1 Defisini Remaja

Remaja dalam bahasa Latin adalah adolescence, yang artinya “tumbuh atau
tumbuh untuk mencapai kematangan”. Istilah adolescence sesungguhnya mempunyai
arti yang luas, mencakup kematangan mental,emosional, social, dan fisik (Hurlock,
1991). Pandangan ini didukung oleh Piaget (Hurlock, 1991) yang mangatakan bahwa
secara psikologis remaja adalah suatu usia dimana individu menjadi terintegrasi ke
dalam masyarakat dewasa, suatu usia dimana anak tidak merasa bahwa dirinya berada
di bawah tingkat orang yang lebih tua melainkan merasa sama, atau paling tidak sejajar.
Memasuki masyarakat dewasa ini mengandung banyak aspek afektif, lebih atau kurang
dari usia pubertas (Sudrajat, 2015).

Masa remaja adalah waktu meningkatnya perbedaan di antara anak muda
mayoritas, yang diarahkan untuk mengisi masa dewasa dan menjadikannya produktif,
dan minoritas yang akan berhadapan dengan masalah besar. Masa remaja, menurut
Mappiare (1982), berlangsung antara umur 12 tahun sampai dengan 21 tahun bagi
wanita dan 13 tahun sampai dengan 22 tahun bagi pria. Rentang usia remaja ini dapat
di bagi menjadi dua bagian, yaitu usia 12 atau 13 tahun sampai dengan 17 atau 18 tahun
adalah masa remaja awal dan usia 17 atau 18 sampai dengan 21 atau 22 tahun adalah
masa remaja akhir (Sudrajat, 2015).

Remaja sebenarnya tidak memiliki tempat yang jelas. Mereka sudah tidak
termasuk golongan anak-anak, tetapi belum juga dapat diterima secara penuh untuk
masuk ke golongan orang dewasa. Remaja berada di antara anak dan orang dewasa.
Oleh karena itu remaja seringkali dikenal dengan fase “mencari jati diri” atau fase
“Topan dan Badai”. Remaja masih belum mampu menguasai dan memfungsikan
secara maksimal fungsi fisik maupun psikisnya. Namun fase remaja merupakan fase
perkembangan yang berada pada masa amat potensial, baik dilihat dari aspek kognitif,
emosi maupun fisik (Sudrajat, 2015).

Dari seluruh definisi remaja yang dikemukakan di atas dapat disimpulkan bahwa
remaja termasuk dalam kategori usia 12 tahun sampai 22 tahun, berada pada masa
transisi antara masa anak-anak dan masa dewasa yang mengalami fase perkembangan
menuju kematangan secara mental, emosi, fisik, dan sosial (Sudrajat, 2015).

Tahap – tahap masa remaja
Masa remaja digolongkan menjadi 3 tahap yaitu :

1. Masa pra remaja : 12 – 14 tahun

Yaitu periode sekitar kurang lebih 2 tahun sebelum terjadinya pemasakan seksual yang
sesungguhnya tetapi sudah terjadi perkembangan fisiologi yang berhubungan dengan
pemasakan beberapa kelenjar endokrin.

2. Masa remaja awal : 14 – 17 tahun

Yaitu periode dalam rentang perkembangan dimana terjadi kematangan alat – alat
seksual dan tercapai kemampuan reproduksi.

3. Masa remaja akhir : 17 – 21 tahun

Berarti tumbuh menjadi dewasa yang mencakup kematangan mental, emosional, sosial
dan fisik (Hurlock, Elizabeth B. 1999 : 206).

Ciri-Ciri Remaja

1. Masa remaja adalah masa peralihan. Yaitu peralihan dari satu tahap perkembangan ke
perkembangan berikutnya secara berkesinambungan. Pada masa ini remaja bukan lagi
seorang anak dan juga bukan seorang dewasa dan merupakan masa yang sangat
strategis, karena memberi waktu kepada remaja untuk membentuk gaya hidup dan
menentukan pola perilaku, nilai-nilai dan sifat-sifat yang sesuai dengan yang
diinginkannya.

2. Masa remaja adalah masa terjadi perubahan. Perubahan fisik terjadi dengan pesat,
perubahan perilaku dan sikap juga berkembang. Ada empat perubahan besar yang
terjadi pada remaja, yaitu perubahan emosi, perubahan peran dan minat, perubahan
pola perilaku dan perubahan sikap menjadi ambivalen.

3. Masa remaja adalah masa yang banyak masalah. Masa remaja sering menjadi masalah
yang sulit untuk diatasi. Hal ini terjadi karena tidak terbiasanya remaja menyelesaikan
masalahnya sendiri tanpa meminta bantuan orang lain sehingga kadang-kadang terjadi
penyelesaian yang tidak sesuai dengan yang diharapkan.

4. Masa remaja adalah masa mencari identitas. Identitas diri yang dicari remaja adalah
berupa kejelasan siapa dirinya dan apa peran dirinya di masyarakat. Remaja tidak puas
dirinya sama dengan kebanyakan orang. Ia ingin memperlihatkan dirinya sebagai
individu, sementara pada saat yang sama ia ingin mempertahankan dirinya terhadap
kelompok sebaya.

5. Masa remaja sebagai masa yang menimbulkan ketakutan. Stigma dari masyarakat
bahwa remaja adalah anak yang tidak rapi, tidak dapat dipercaya, cenderung
berperilaku merusak sehingga menyebabkan orang dewasa harus membimbing dan
mengawasi kehidupan remaja. Dengan adanya stigma ini akan membuat masa
peralihan remaja ke dewasa menjadi sulit, karena peran orangtua yang memiliki
pandangan seperti ini akan mencurigai dan menimbulkan pertentangan antara orangtua
dengan remaja serta membuat jarak diantara keluarga.

6. Masa remaja sebagai masa yang tidak realistik. Remaja cenderung memandang
kehidupan melalui kacamatanya sendiri, baik dalam melihat dirinya maupun melihat
orang lain, mereka belum melihat apa adanya, tetapi menginginkan sebagaimana yang
diharapkan.

7. Masa remaja adalah ambang masa dewasa. Usia belasan yang terus berjalan, membuat
remaja semakin matang berkembang dan berusaha memberi kesan seseorang yang
hampir dewasa. Ia akan memusatkan dirinya pada perilaku yang dihubungkan dengan
status orang dewasa, misalnya dalam berpakaian dan bertindak (Hurlock, Elizabeth B.
1999 : 206).

2.4.2 Pacaran

Defisini Pacaran

Knight (2004) mendefinisikan pacaran dalam arti sepenuhnya, yaitu hubungan
antara seorang pria degan seorang wanita. Pada intinya, pacaran merupakan proses
persatuan atau perencanaan khusus atara dua orang yang berlawanan jenis, yang saling
tertarik satu sama lain, dalam berbagai tingkat tertentu. Proses ini dapat berupa
hubungan yang sederhana, namun dapat juga berupa hubungan yang lebih
kompleks.berpacaran umumnya dimulai dengan tingkat permulaan. Hubungan itu bisa
berkembang secara perlahan-lahan atau cepat menjadi hubungan pribadi yang lebih
dewasa tergantung pada apa yang terjadi dan bagaimana persahabatan itu tumbuh
menjadi dewasa. Berpacaran adalah suatu hal yang normal terjadi antara pasangan-
pasangan. Dalam proses berpacaran mereka saling mengerti, saling memperlihatkan
watak masing-masing menunjukkan tipe kepribadian dan mulai mengerti tipe-tipe
tabiat dasar.

Menurut Miller dan Clark (2010), pacaran merupakan sebuah proses menjajaki,
menyelidiki, dan mengukur kemungkinan untuk mencapai komitmen nantinya dengan
seseorang. Komitmen yang dimaksud adalah titik dimana kedua individu dalam relasi
pacaran memutuskan untuk menikah dan membuat hubungan mereka permanen.
Dalam hal, ini mereka menyebut bahwa tujuan untuk mengukur kemungkinan untuk
mencapai komitmen tidak selalu merupakan proses yang disadari dan tidak selalu ada
intensi formal untuk itu. Pacaran bisa saja sekedar merupakan eksekusi dari proses
internal yang dilakukan tanpa banyak pemikiran tentang masa depan.

Pacaran juga diartikan sebuah hubugan romantis yang terjalin pada pasangan
pria dan wanita yang melibatkan emosi cinta. Pacara bisa dikatakan sebagai hubungan
antara dua individu berbeda jenis kelamin yang memiliki ikatan emosi karena adanya
perasaan-perasaan tertentu dalam hati masing-masinga. Perasaan-perasaan tersebut
anatar lain seperti kasih sayang dan cinta, ingin memperhatikan dan diperhatikan, ingin
memiliki, selalu ingin berdekatan, serta rasa rindu (Kar’an, 2003).

Dari beberapa penjelasan mengenai berpacaran, maka istilah berpacaran dapat
diartikan sebagai hubugan antara seorang pria dengan seorang wanita dengan suatu
perencanaan khusus, yang dapat bertujuan untuk mencapai sebuah komitmen berupa
pernikahan. Pacaran juga biasanya melibatkan emosi-emosi cinta seperti kasih sayang,
ingin memperhatikan dan diperhatikan, ingin memiliki, selalu ingin berdekatan, serta
rasa rindu (Tridarmanto, 2017).

Rice (2001) menjelaskan bahwa remaja berpacaran dengan berbagai maksud, beberapa
diantaranya adalah :

1. Pacaran sebagai rekreasi;

2. Pacaran sebagai sarana untuk memperoleh persahabatan tanpa harus menikah;

3. Pacaran sebagai sarana untuk memperoleh status;

4. Pacaran sebagai sarana bersosialisasi;

5. Pacaran sebagai sarana eksperimentasi dan kepuasan seksual;

6. Pacaran sebagai sarana untuk menyeleksi pasangan untuk menikah;
7. Memperoleh keintiman.

Pacaran sehat

Pacaran sehat sendiri sering dimaknai sebagai suatu proses pacaran dimana
keadaan fisik, mental dan social dua remaja yang pacaran dalam keadaan baik. Sehat
secara fisik berarti tak ada kekerasan dalam berpacaran. Biarpun laki-laki secara fisik
lebih kuat, bukan berarti bisa seenaknya menindas kaum hawa. Pada intinya dilarang
kontak dalam bentuk kekerasan fisik. Selain itu, menjaga kondisi tubuh diri dan
pasangan agar tetap sehat juga merupakan hal yang harus dilakukan dan tentunya
menguntungkan satu sama lain.

Pacaran sebenarnya merupakan waktu bagi sepasang individu untuk saling
mengenal satu dengan yang lain. Pacaran pastinya memiliki efek dan bias terhadap
kehidupan masing-masing. baik secara positif ataupun negatif tergantung bagaimana
cara menjalaninya. Selama pacaran dilakukan dalam batas-batas yang benar, pacaran
dapat mendatangkan banyak hal positif. Dengan kata lain yang perlu dan harus dijalani
adalah ”pacaran sehat”.

Di dalam proses pacaran, sepasang remaja tidak hanya dituntut untuk mengenali
emosi diri sendiri, tetapi juga emosi orang lain. Dan yang tak kalah penting adalah
bagaimana mengungkapkan dan mengendalikan emosi dengan baik. Jadi tak bijaksana
bila melakukan kekerasan nonfisik, marah-marah, apalagi mengumpat-umpat orang
lain termasuk pacar kita. Tapi bukan dalam arti diam saat timbul masalah, selesaikanlah
dengan bijak, bicarakan secara terbuka. Tanpa keterbukaan akan menimbulkan konflik
dalam diri masing-masing yang bahkan bisa mengarah terhadap rutinitas harian dan
prestasi belajar ataupun bekerja.

Ada dua prinsip yang harus dipegang oleh dua remaja baik laki-laki maupun
perempuan yang sedang pacaran. Kedua prinsip tersebut adalah:

1. Pertama, pacaran itu tak mengikat. Artinya, hubungan sosial dengan yang lain harus
tetap terjaga. Kalau pagi, siang dan malam seorang remaja selalu bersama pacar, itu
bisa berbahaya. Karena bisa-bisa yang bersangkutan tidak punya teman. Dan bukan tak
mungkin, ia akan merasa asing di lingkungan sendiri. Tentunya dua remaja yang
sedang berpacaran harus menghormati apa yang menjadi pegangan serta tujuan dalam
berpacaran. Jika status telah mengarah pada ikatan lebih ”serius” (dalam arti
penikahan) maka mereka harus lebih bijak dalam menjaga kepercayaan untuk
mencegah terlukainya perasaan pasangan masing-masing. Membangun kepercayaan
merupakan hal yang penting dalam keharmonisan suatu hubungan.

2. Kedua, jangan sekali-kali melakukan hubungan seks saat pacaran. Secara biologis,
masa remaja merupakan masa perkembangan dari kematangan seksual. Tanpa disadari,
pacaran mempengaruhi kehidupan seksual seseorang. Kedekatan secara fisik bisa
memicu keinginan untuk melakukan kontak fisik yang merupakan insting dasar setiap
organisme. Apabila diteruskan dapat menjadi tak terkontrol alias kebablasan. Jadi,
dalam berpacaran kedua remaja lain jenis itu harus saling menjaga untuk tak
melakukan hal-hal yang berisiko terhadap perkembangan fisik dan mentalnya, salah
satunya adalah perilaku seksual. Oleh karena itu, pengendalian diri dalam berpacaran
tentunya sangat diperlukan.

Jika menginginkan pacaran tak sehat terjadi pada diri remaja maka beberapa hal yang
perlu diresapi dan dipertimbangkan untuk dilakukan oleh para remaja yang sedang
pacaran antara lain:

1. Kasih sayang, setia

2. Jangan melakukan tindakan kekerasan

3. Luangkan waktu untuk bergaul dengan teman-teman

4. Jangan sakiti perasaan pasangan; jangan cemburu yang berlebih

5. Jangan menghabiskan waktu seharian berdua saja apalagi di tempat-tempat sepi

6. Lakukan kegiatan-kegiatan positif bersama seperti belajar, berolahraga, dan
sembahyang bersama

7. Hindari buku-buku, majalah, gambar-gambar, video yang isinya seputar seks. Karena
sekali dan sekilas saja kita melihat gambar, video atau cerita seks tersebut bakal

„terekam tak pernah mati‟ di pikiran dan akan timbul keinginan untuk mengulangi

ataupun mempraktekkannya

8. Pengendalian diri untuk tidak berbuat diluar batas ketika sedang kontak fisik dengan
pasangan

9. Jangan pernah mengatasnamakan hubungan seks sebagai bukti cinta kalian (cinta tak
sama dengan seks).
Akhirnya, untuk menjaga agar hubungan menjadi tetap awet dan aman, sepasang
remaja yang sedang berpacaran harus punya prinsip bahwa segala sesuatu yang akan
dilakukan ada dasar dan jelas tujuannya. Dalam pacaran, bukan tak mungkin kita
menemukan perbedaan prinsip, beda batasan tentang apa yang boleh dan tak boleh
dilakukan. Hal tersebut wajar saja, asalkan bisa tetap saling menghargai. Tiap orang
punya hak untuk bicara terbuka termasuk mengungkapkan prinsip masing-masing.
Sikap saling pengertian sangat diperlukan dalm proses ini. Mengungkapkan prinsip
yang kita pegang akan berpengaruh pada penerimaan orang lain. Maksud dan
keinginan kita akan sulit diterima dan dimengerti orang lain kalau kita tak bisa
mengkomunikasikannya dengan baik.

Bahaya/Dampak Pacaran

Jangan dulu pacaran kalau masih kecil. Begitu nasihat yang sering disampaikan orang
tua pada anaknya yang masih remaja.Ternyata nasihat orang tua itu didukung oleh
beberapa peneliti yang mengatakan bahwa “semakin dini seseorang menjalin cinta
semakin besar resiko sakit hati, depresi bahkan sakitsakitan”.

Dalam Jurnal of Pain, peneliti dari Universite de Montreal, University Hospital Center
dan Mc Gill University menemukan bahwa anak remaja yang mulai pacaran sejak usia
dini lebih banyak mengalami sakit kepala, perut dan pinggang. Mereka lebih banyak
depresi dibanding rekan seusianya yang belum Fransisca Mudjijanti Masa Pacaran Dini
(Early Dating) 53 pernah pacaran. Isabelle Temblay, seorang peneliti dari Universite
de Montreal dan Michael Sullivan, seorang profesor psikolog dari Mc Gill University
melakukan studi untuk mengetahui pengaruh menjalin hubungan sejak dini terhadap
kesehatan seseorang. Sebanyak 382 pelajar remaja yang berumur 12-17 tahun di
Kanada dijadikan responden penelitiannya. Mereka diminta mengisi kuesioner tentang
frekuensi dan intensitas mengalami gangguan emosi serta fisik dan juga usia awal
mengenal cinta. Hasilnya bahwa seorang yang mengenal cinta lebih dini cenderung
menjadi pribadi yang rapuh, sakit-sakitan, merasa tidak aman dan depresi. Gejala itu
berkembang dari sejak masih kanak-kanak, lalu remaja, dan akhirnya ketika dewasa.

Remaja yang menjalin hubungan sejak dini, akan memiliki alarm rasa sakit yang lebih
tinggi, terutama jika remaja itu menjalin hubungan yang buruk dengan pasangannya.
Mereka mempunyai kecenderungan tingkat rasa sakit yang lebih mendalam. Mereka
benar-benar meresapi perasaan buruk seperti sedih atau kesal karena secara psikologis
mereka sudah mengenalnya ketika berhubungan dengan pasangannya. Akibat terlalu
mendalami perasaan sedih dan emosional itu adalah depresi dan penyakit lainnya.
Karena terlalu sedih atau marah, perasaan depresi pun bisa muncul. Akibatnya mereka
menjadi tidak nafsu makan, kurang tidur, atau tidak mau melakukan apa-apa. Dari
situlah muncul penyakit-penyakit seperti pusing, sakit perut, dan lainnya. Sementara
mereka yang belum menjalin cinta pada usia dini cenderung lebih ekspresif dan lebih
banyak bersosialisasi dengan teman-teman lainnya sebagai bentuk mencari dukungan
pada saat mereka sedih atau bermasalah (Ulfah, 2009).

Early dating sebagian besar berakibat fatal, mereka diperkosa dan mengalami
kekerasan dalam pacaran (dating violence) pada tingkat yang cukup mengenaskan.
Elkin (2003:26) seorang guru besar dalam bidang studi anak di Tufts University
mengatakan bahwa ”remaja di bawah usia 14 tahun tidak mempunyai kemampuan
antar personal dan sosial yang dibutuhkan untuk melakukan dating”. Artinya mereka
belum memiliki kepribadian dan kemampuan berinteraksi secara sosial. Cara berpikir
yang masih terombangambing dan selalu meniru setiap saat aktivitas yang ditampilkan
di layar kaca maupun media cetak, membuat para remaja melaksanakan early dating
dengan penuh kepura-puraan.

Fakta lain, setiap pelaku early dating akan lebih cepat melakukan eksplorasi hubungan
seksual akibat kehilangan kendali atas gejolak hasratnya. Eksplorasi dalam bidang
seksual pada usia dini sering terjadi karena pengaruh dari rangsangan atau teman sang
pelaku (peer group). Riset yang dilakukan Elkin (2003:30) menemukan bahwa “sekali
remaja yang sedang terlibat early dating terjebak dalam masalah eksplorasi seksual
dini, mereka akan mengalami banyak masalah dibanding para remaja yang menunda
early dating mereka” (Mudjijanti, 2010).

2.4.3. Seks Bebas

Defisini Seks Bebas

Manusia adalah mahkluk seksual. Seksualitas diartikan sebagai perbedaan
antara laki-laki dan perempuan baik secara fisik, psikologis, dan dalam istilah-istilah
perilaku :

a. Aktivitas, perasaan dan sikap yang dihubungkan sengan reproduksi, dan ;
b. Bagaimana laki-laki dan perempuan berinteraksi dalam berpasangan dan di dalam
kelompok.

Dengan demikian seksualitas adalah bagaimana orang merasakan dan
mengekspresikan sifat dasar dan ciri-ciri seksualnya yang khusus (Nugraha &
Windy,1997).

Menurut Mutadin (2002), pengertian seksual secara umum adalah sesuatu yang
berkaitan dengan alat kelamin atau hal-hal yang berhubungan dengan perkaraperkara
hubungan intim antara laki-laki dengan perempuan. Perilaku seksual adalah segala
tingkah laku yang didorong oleh hasrat seksual, baik dengan lawan jenis maupun
sesama jenis. Bentuk-bentuk tingkah laku ini dapat beraneka ragam, mulai dari
perasaan tertarik hingga tingkah laku berkencan, bercumbu dan bersenggama. Objek
seksual dapat berupa orang, baik sejenis maupun lawan jenis, orang dalam khayalan
atau diri sendiri. Dalam hal ini tingkah laku seksual diurutkan sebagai berikut:

1. Berkencan

2. Berpegangan tangan

3. Mencium pipi

4. Berpelukan

5. Mencium bibir

6. Memegang buah dada di atas baju

7. Memegang buah dada di balik baju

8. Memegang alat kelamin di atas baju

9. Memegang alat kelamin di bawah baju

10. Melakukan senggama

Menurut Luthfie (2002), perilaku seks bebas adalah perilaku seks yang
dilakukan tanpa melalui proses pernikahan yang resmi menurut hukum maupun
menurut agama dan kepercayaan masing-masing individu. Menurut Akbar (1992),
perilaku seksual pranikah merupakan segala bentuk perilaku atau aktivitas seksual
yang dilakukan tanpa adanya ikatan perkawinan. Perilaku seksual adalah segala
tingkah laku yang didorong oleh hasrat seksual, baik dengan lawan jenis maupun
sesama jenis. Bentuk-bentuk tingkah laku ini dapat beraneka ragam, mulai dari
perasaan tertarik hingga tingkah laku berkencan, berciuman, bercumbu dan
bersenggama. Objek seksual dapat berupa orang, baik sesama jenis maupun lawan
jenis, orang dalam khayalan atau diri sendiri (Behrman, Kliegman & Jenson 2004)

Bahaya/Dampak Seks Bebas

Dampak seks bebas Perilaku seks bebas pada remaja akan menimbulkan beberapa
manifestasi khususnya di kalangan remaja itu sendiri. Dampak yang berkaitan dengan
perilaku seks bebas ini menurut BKKBN (2008) meliputi :

a. Masalah penyakit menular seksual termasuk HIV/AIDS

b. Kehamilan yang tidak diinginkan c. Dampak sosial seperti putus sekolah

d. Kanker

e. Infertilitas/kemandulan

Dari Data tentang Seks Bebas, disebutkan “Kehamilan yang tidak diinginkan”
merupakan salah satu dampak yang terjadi akibat Seks bebas/ Seks Pranikah yang juga
sebagai salah satu faktor Penyebab terjadinya Praktek Aborsi Ilegal yang mulai marak
terjadi di kalangan remaja.

2.4.5. Alur Bantu Dalam Pelayanan Konseling Permasalahan Remaja

Pelayanan bimbingan dan konseling dilaksanakan dari manusia, untuk manusia
dan oleh manusia. Dari manusia artinya pelayanan itu diselenggarakan berdasarkan
hakikat keberadaan manusia dengan segenap dimensi kemanusiaannya. Untuk
manusia, dimaksudkan bahwa pelayanan tersebut diselenggarakan demi tujuan-tujuan
yang agung, mulia dan positif bagi kehidupan kemanusiaan menuju manusia
seutuhnya, baik manusia sebagai individu maupun kelompok (Marlynda, 2017).

Bimbingan adalah suatu proses pemberian bantuan yang dilakukan oleh orang
yang ahli kepada seseorang atau beberapa orang individu, baik anak-anak, remaja,
maupun dewasa agar orang yang dibimbing dapat mengembangkan kemampuan
dirinya sendiri dan mandiri dengan memanfaatkan kekuatan individu dan sarana yang
ada dan dapat dikembangkan berdasarkan norma-norma yang berlaku (Marlynda,
2017).
Sedangkan konseling adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan melalui
wawancara konseling oleh seorang ahli kepada individu yang sedang mengalami suatu
masalah yang bermuara pada teratasinya masalah yang dihadapi oleh klien (Marlynda,
2017).

Bimbingan dalam konseling permasalah remaja dapat di bantu dengan adanya
konseling teman sebaya. Hubungan sebaya memiliki peranan yang kuat dalam
kehidupan remaja. Fokus dari hubungan sebaya adalah bagaimana seseorang dapat
diterima dalam suatu pertemanan dengan teman yang memiliki kesamaan dalam
usia, latar belakang ataupun nasib. Hubungan dapat terjadi dengan eratnya. Bahkan
hubungan ini dapat memberikan kenyamanan serta kepercayaan antar sebaya (Sarmin,
2017).

Kelompok teman sebaya sebagai lingkungan social bagi remaja (siswa)
mempunyai peranan yang cukup penting bagi perkembangan kepribadiannya.
Peranan itu semakin penting, terutama pada saat terjadinya perubahan dalam
struktur masyarakat pada beberapa dekade terakhir ini yaitu (1) perubahan struktur
keluarga, dari keluarga besar ke keluarga kecil, (2) kesenjangan antara generasi tua
dan generasi muda, (3) ekspansi jaringan komunikasi di antara kawula muda, dan
(4) panjangnya masa atau penundaan memasuki masyarakat orang dewasa (Yusuf,
2016:59).

Hubungan sebaya menimbulkan suatu hubungan saling percaya antar teman
sebaya. Hubungan ini dapat menimbulkan suatu perilaku dimana remaja lebih
percaya terhadap teman sebaya daripada dengan orang tua. Walaupun sejatinya
seorang remaja tetap membutuhkan orangtua sebagai pembimbing terutama ketiga
menghadapi suatu masalah yang akut. Orang tua tetap sebagai tempat kembali bagi
anak atau remaja.

Untuk itu, peran teman sebaya merupakan suatu agen yang strategis dan vital
dalam membimbing dan mengarahkan kehidupan remaja. Terlebih kepribadian
remaja yang memiliki kecenderungan merasa dewasa, ingin menang sendiri dan
mencari jati diri. Masa remaja merupakan masa pencarian jati diri yang mendorongnya
mempunyai rasa keingintahuan yang tinggi, ingin tampil menonjol, dan diakui
eksistensinya. Namun disisi lain remaja mengalami ketidakstabilan emosi sehingga
mudah dipengaruhi teman dan mengutamakan solidaritas kelompok (Pratiwi,
2011:347).
Sehingga pembentukan dan pelatihan konselor sebaya dapat menjadi suatu
pilihan yang tepat dalam upaya membentengi anak atau remaja dari pengaruh
negative lingkungan. Serta dampak negative pergaulan yang semakin bebas seiring
pesatnya perkembangan teknologi (Sarmin, 2017)..

Kemudian didasari pentingnya dan vitalnya peran teman sebaya dalam
perkembangan anak maka muncullah suatu gagasan tentang konselor sebaya. Konselor
sebaya adalah pendidik sebaya (tutor sebaya) yang secara fungsional punya komitmen
dan motivasi yang tinggi untuk memberikan konseling bagi kelompok
remaja/mahasiswa sebayanya, telah mengikuti pelatihan/orientasi konseling (BKKBN,
2012:13).

Gagasan tersebut dianggap penting mengingat fungsi-fungsi dari tema sebaya.
Juga untuk membantu anak untuk memecahkan masalahnya serta menghindari
pengaruh negatif yang ditumbulkan oleh pertemanan dengan teman sebaya. Keeratan,
keterbukaan dan perasaan senasib yang muncul diantara sesama remaja dapat menjadi
peluang bagi upaya fasilitasi perkembangan remaja. Pada sisi lain, beberapa
karakteristik psikologis remaja (antara lain emosional, labil) juga merupakan tantangan
bagi efektifitas layanan terhadap mereka (Suwarjo, 2008:1). Konseling sebaya
memungkinkan siswa memiliki keterampilan guna mengimplementasikan pengalaman
kemandirian dan kemampuan mengontrol diri secara bermakna bagi remaja. Secara
khusus, konseling teman sebaya tidak memfokuskan pada evaluasi isi, namun lebih
memfokuskan pada proses berfikir, poses perasaan, dan proses pengambilan keputusan
(Wahid, 2013:7).

Dibutuhkan sebuah strategi pengelolaan bimbingan konseling yang baru untuk
membantu siswa dalam memecahkan permasalahan pribadinya. Salah satu strategi
yang dapat digunakan adalah dengan membentuk kelompok konselor sebaya (Shohib,
2016:35). Hal ini dapat dipahami karena periode remaja merupakan periode yang
sangat dekat dengan peer group, membutuhkan pengakuan dari kelompok atau teman
sebaya dan membutuhkan identitas baru yang bisa meningkatkan harga dirinya
(Hurlock, 2002). Hal ini juga yang mungkin mendasari suatu perilaku dimana anak
(remaja) lebih memilih untuk menyampaikan curahan hatinya kepada teman sebaya
dari pada kepada orang tua. Dimana teman sebaya memiliki persamaan dan bahasa
khas sebaya yang lebih diterima anak (Sarmin, 2017).
Dalam layanan bimbingan dan konseling terhadap berbagai fungsi antara lain
(a) Pemahaman, yaitu fungsi untuk membantu peserta didik memahami diri dan
lingkungannya, (b) Pencegahan, yaitu fungsi untuk membantu peserta didik mampu
mencegah atau menghindarkan diri dari berbagai permasalahan yang dapat
menghambat perkembangan dirinya, (c) Pengentasan, yaitu fungsi untuk membantu
peserta didik mengatasi masalah yang dialaminya, (d) Pemeliharaan dan
pengembangan, yaitu fungsi untuk membantu peserta didik memelihara dan 108
BRILLIANT: Jurnal Riset dan Konseptual Volume 2 Nomor 1, Februari 2017
menumbuh-kembangkan berbagai potensi dan kondisi positif yang dimilikinya
(Shohib, 2016:35). Selain dalam hal pendidikan dalam kelas, biasanya konselor sebaya
juga melayani konseling tentang kasus kehidupan-khas remaja seperti persahabatan,
perilaku, dan percintaan. Namun, konselor sebaya pada hakikatnya adalah anak pada
usia yang masih setara dengan klien yang masih kurang dari segi pengalaman. Oleh
karena itu, tetap diperlukan pendampingan oleh orang dewasa (Sarmin, 2017).

Gagasan tentang konselor sebaya telah diterapkan di berbagai instansi seperti
sekolah, perguruan tinggi, dan Pusat Informasi dan Konseling Remaja/Mahasiswa
(PIK R/M) yang berada dibawah naungan Badan Kependudukan dan Keluarga
Berencana Nasional (BKKBN). Efektivitas dari gagasan tersebut telah dapat diakui.
Dibuktikan oleh hasil penelitian Maryatun (2011:739) tentang proses penerapan
konselor sebaya melalui PIK R/M. Hasil penelitian tersebut menyatakan bahwa dari 20
kelompok PIK R/M 16 kelompok telah memberdayakan konselor sebaya dengan baik
dampaknya terjadi perkembangan dan perubahan perilaku siswa yang positif dari
sebelumnya memiliki kecenderungan berperilaku negatif (Sarmin, 2017).

Sampai saat ini pemberdayaan konselor sebaya terus digalakkan serta
dikembangkan. Konsep ini ternyata efektif dan efisien dalam memcahkan
permasalahan sebaya. Bahkan dewasa ini jaringan kelompok PIK R/M di Indonesia
semakin luas dan terus berkembang. Selain itu, mulai banyak pemerintah daerah yang
secara khusus memberikan perhatian pada pemberdayaan konselor sebaya untuk
mengembangkan kualitas pendidikan dan pembelajaran serta karakter siswa (Sarmin,
2017).

2.4.6. Bahaya Kehamilan Dini.
Pada saat ini banyak sekali menemui kejadian atau kasus kehamilan pada remaja
putri,bahkan kasus tersebut paling banyak dialami pada saat para remaja putri belum
menikah alias hamil di luar nikah. Padahal, kehamilan di usia muda memiliki resiko
yang tinggi , tidak hanya merusak masa depan remaja yang bersangkutan, tetapi juga
sangat berbahaya untuk kesehatannya.

Kehamilan di bawah umur memuat risiko yang tidak kalah berat. Pasalnya,
emosional ibu belum stabil dan ibu mudah tegang. Sementara kecacatan kelahiran bisa
muncul akibat ketegangan saat dalam kandungan, adanya rasa penolakan secara
emosional ketika si ibu mengandung bayinya. (Ubaydillah, 2000).

Mengapa beresiko untuk kesehatan? , Di karenakan perempuan yang belum
dewasa, memiliki organ reproduksi yang belum kuat untuk berhubungan intim dan
melahirkan, sehingga gadis dibawah umur memiliki resiko 4 kali lipat mengalami luka
serius dan meninggal akibat melahirkan.

Berikut ini resiko atau bahaya yang mengancam gadis dibawah umur saat hamil di usia
muda (Di bawah 20 tahun) :

1. Secara ilmu kedokteran ,organ reproduksi untuk gadis dengan umur dibawah 20 tahun
ia belum siap untuk berhubungan seks atau mengandung, sehingga jika terjadi
kehamilan berisiko mengalami tekanan darah tinggi (karena tubuhnya tidak kuat).
Kondisi ini biasanya tidak terdeteksi pada tahap-tahap awal, tapi nantinya
menyebabkan kejang-kejang, perdarahan bahkan kematian pada ibu atau bayinya.

2. Kondisi sel telur pada gadis dibawah 20 tahun , belum begitu sempurna, sehingga
dikhawatirkan bayi yang dilahirkan mengalami cacat fisik.

3. Berisiko mengalami kanker serviks (kanker leher rahim), karena semakin muda usia
pertama kali seseorang berhubungan seks, maka semakin besar risiko daerah
reproduksi terkontaminasi virus.

Beberapa risiko medis lain yang kemungkinan akan dialami, diantaranya :

1. Kurangnya perawatan kehamilan

Remaja perempuan yang sedang hamil, terutama jika tidak memiliki dukungan dari
orang tua, dapat berada pada risiko tidak mendapatkan perawatan kehamilan yang
memadai. Kehamilannya menjadi genting, terutama pada bulan-bulan pertama
kehamilan.
2. Keguguran

Keguguran pada usia muda dapat terjadi secara tidak disengaja. misalnya : karena
terkejut, cemas, stres. Tetapi ada juga keguguran yang sengaja dilakukan oleh tenaga
non profesional sehingga dapat menimbulkan akibat efek samping yang serius seperti
tingginya angka kematian dan infeksi alat reproduksi yang pada akhirnya dapat
menimbulkan kemandulan.

3. Tekanan darah tinggi

Remaja perempuan yang hamil memiliki risiko lebih tinggi terkena tekanan darah
tinggi dibandingkan dengan wanita hamil yang berusia 20-30 tahun. Kondisi tersebut
disebut dengan pregnancy-induced hypertension. Remaja perempuan yang hamil juga
memiliki risiko lebih tinggi dari preeklamsia. Preeklamsia merupakan kondisi medis
berbahaya yang merupakan komninasi dari tekanan darah tinggi dengan kelebihan
protein dalam urin, pembengkakan tangan dan wajah, serta kerusakan organ.

4. Kelahiran prematur

Persalinan prematur, berat badan lahir rendah (BBLR) dan kelainan bawaan.
Prematuritas terjadi karena kurang matangnya alat reproduksi terutama rahim yang
belum siap dalam suatu proses kehamilan, berat badan lahir rendah (BBLR) juga
dipengaruhi gizi saat hamil kurang dan juga umur ibu yang belum menginjak 20 tahun.
cacat bawaan dipengaruhi kurangnya pengetahuan ibu tentang kehamilan, pengetahuan
akan asupan gizi rendah, pemeriksaan kehamilan (ANC) kurang, keadaan psikologi ibu
kurang stabil. selain itu cacat bawaan juga di sebabkan karena keturunan (genetik)
proses pengguguran sendiri yang gagal, seperti dengan minum obat-obatan (gynecosit
sytotec) atau dengan loncat-loncat dan memijat perutnya sendiri.

Ibu yang hamil pada usia muda biasanya pengetahuannya akan gizi masih kurang,
sehingga akan berakibat kekurangan berbagai zat yang diperlukan saat pertumbuhan
dengan demikian akan mengakibatkan makin tingginya kelahiran prematur, berat
badan lahir rendah dan cacat bawaan.

5. Berat lahir bayi rendah Remaja perempuan yang hamil berisiko lebih tinggi untuk
melahirkan bayi dengan berat badan yang rendah. Hal tersebut karena bayi memiliki
waktu yang kurang dalam rahim untuk tumbuh. Bayi lahir dengan berat badan rendah
biasanya memiliki berat badan sekitar 1.500-2.500 gram.
6. Penyakit menular seksual (PMS) Untuk remaja yang berhubungan seks selama
kehamilan, penyakit menular seksual seperti klamidia dan HIV adalah perhatian utama.
PMS ini dapat naik melalui serviks dan menginfeksi rahim dan pertumbuhan bayi.

7. Anemia kehamilan / kekurangan zat besi. Penyebab anemia pada saat hamil di usia
muda disebabkan kurang pengetahuan akan pentingnya gizi pada saat hamil di usia
muda.karena pada saat hamil mayoritas seorang ibu mengalami anemia. tambahan zat
besi dalam tubuh fungsinya untuk meningkatkan jumlah sel darah merah, membentuk
sel darah merah janin dan plasenta.lama kelamaan seorang yang kehilangan sel darah
merah akan menjadi anemis.

8. Depresi postpartum Remaja perempuan yang hamil mungkin lebih berisiko mengalami
depresi postpartum, yaitu depresi yang dimulai setelah melahirkan bayi. Remaja
perempuan yang merasa down dan sedih, baik saat hamil atau setelah melahirkan, harus
berbicara secara terbuka dengan dokter atau orang lain yang mereka percaya. Depresi
dapat mengganggu merawat bayi yang baru lahir.

9. Merasa sendirian dan terkucilkan Khusus untuk remaja yang berpikir tidak dapat
memberitahu orang tuanya bahwa sedang hamil, merasa takut, terisolasi, dan merasa
sendiri dapat menjadi masalah nyata.

10. Kematian ibu yang tinggi. Kematian ibu pada saat melahirkan banyak disebabkan
karena perdarahan dan infeksi. Selain itu angka kematian ibu karena gugur kandung
juga cukup tinggi.yang kebanyakan dilakukan oleh tenaga non profesional (dukun).

Adapun akibat resiko tinggi kehamilan usia dibawah 20 tahun antara lain:

a. Resiko bagi ibunya :

1. Mengalami perdarahan.

Perdarahan pada saat melahirkan antara lain disebabkan karena otot rahim yang terlalu
lemah dalam proses involusi. selain itu juga disebabkan selaput ketuban stosel (bekuan
darah yang tertinggal didalam rahim).kemudian proses pembekuan darah yang lambat
dan juga dipengaruhi oleh adanya sobekan pada jalan lahir.

2. Kemungkinan keguguran / abortus.
Pada saat hamil seorang ibu sangat memungkinkan terjadi keguguran. hal ini
disebabkan oleh faktor-faktor alamiah dan juga abortus yang disengaja, baik dengan
obat-obatan maupun memakai alat.

3. Persalinan yang lama dan sulit.

Adalah persalinan yang disertai komplikasi ibu maupun janin.penyebab dari persalinan
lama sendiri dipengaruhi oleh kelainan letak janin, kelainan panggul, kelaina kekuatan
his dan mengejan serta pimpinan persalinan yang salahKematian ibu.

4. Kematian pada saat melahirkan yang disebabkan oleh perdarahan dan infeksi.

b. Dari bayinya :

1. Kemungkinan lahir belum cukup usia kehamilan.

Adalah kelahiran prematur yang kurang dari 37 minggu (259 hari). hal ini terjadi
karena pada saat pertumbuhan janin zat yang diperlukan berkurang.

2. Berat badan lahir rendah (BBLR).

Yaitu bayi yang lahir dengan berat badan yang kurang dari 2.500 gram. kebanyakan
hal ini dipengaruhi kurangnya gizi saat hamil, umur ibu saat hamil kurang dari 20
tahun. dapat juga dipengaruhi penyakit menahun yang diderita oleh ibu hamil.

3. Cacat bawaan.

Merupakan kelainan pertumbuhan struktur organ janin sejak saat pertumbuhan.hal ini
dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya kelainan genetik dan kromosom, infeksi,
virus rubela serta faktor gizi dan kelainan hormon.

4. Kematian bayi.

Kematian bayi yang masih berumur 7 hari pertama hidupnya atau kematian
perinatal.yang disebabkan berat badan kurang dari 2.500 gram, kehamilan kurang dari
37 minggu (259 hari), kelahiran kongenital serta lahir dengan
asfiksia.(Manuaba,1998).
2.5 Rokok

2.5.1 Definisi Rokok

Menurut PP No. 81/1999 Pasal 1 ayat (1), rokok adalah hasil olahan tembakau
terbungkus termasuk cerutu atau bentuk lainnya yang dihasilkan dari tanaman
Nicotiana tabacum, Nicotiana rustica dan spesies lainnya atau sintetisnya yang
mengandung nikotin dan tar dengan atau tanpa bahan tambahan. Rokok adalah silinder
dari kertas berukuran panjang antara 70 hingga 120 mm (bervariasi tergantung negara)
dengan diameter sekitar 10 mm yang berisi daundaun tembakau yang telah dicacah.
Rokok dibakar pada salah satu ujungnya dan dibiarkan membara agar asapnya dapat
dihirup lewat mulut pada ujung lainnya.

Rokok juga termasuk zat adiktif karena dapat menyebabkan adiksi (ketagihan) dan
dependensi (ketergantungan) bagi orang yang menghisapnya. Dengan kata lain, rokok
termasuk golongan NAPZA (Narkotika, Psikotropika, Alkohol, dan Zat Adiktif).

2.5.2 Bahan-Bahan Rokok yang Berbahaya Bagi Kesehatan

Setiap batang rokok mengandung lebih dari 4000 jenis bahan kimia berbahaya bagi
tubuh. Empat ratus diantaranya bisa berefek racun, sedangkan 40 diantaranya bisa
mengakibatkan kanker. Ini adalah sebagaian dari contoh-contohnya:
a. Nikotin
Nikotin merupakan zat yang menyebabkan adiksi (ketagihan) dengan toleransi tinggi,
yaitu semakin lama dikonsumsi semakin bertambah.
b. Karbon monoksida (CO)
Gas berbahaya ini seharusnya hanya ada dalam pembuangan asap kendaraan. Namun,
dengan adanya sumbangan dari para perokok, gas yang juga dapat berikatan kuat
dengan haemoglobin darah ini menjadi lebih banyak di udara dan di dalam tubuh
manusia. Dengan adanya karbon monoksida (CO) yang berikatan
dengan haemoglobin darah, maka jantung seorang perokok yang memerlukan lebih
banyak oksigen ternyata mendapat oksigen lebih sedikit. Ini akan menyebabkan
bertambahnya risiko penyakit jantung dan paru-paru, serta penyakit saluran nafas.
c. Tar
Tar biasanya digunakan untuk mengaspal jalan raya. Apabila terdapat pada tubuh
melalui menghisap rokok, maka secara berangsur-angsur dan pasti, akan menyebabkan
kanker.
d. DDT (Dikloro Difenil Trikloroetana)
DDT merupakan racun serangga, yang biasanya digunakan untuk membunuh nyamuk,
semut, atau kecoa.
e. Aseton
Aseton adalah zat yang digunakan untuk melunturkan cat. Bisa dibayangkan
bahayanya, apabila zat ini berada dalam tubuh kita.
f. Formaldehid
Formaldehid atau lebih sering kita kenal sebagai zat formalin, digunakan untuk
mengawetkan mayat.
g. Kadmium
Kadmium adalah bahan kimia yang biasanya terdapat pada accu atau aki kendaraan
bermotor.
h. Arsenik
Seperti DDT, arsenik merupakan bahan kimia yang sering digunakan untuk membasmi
seranga-serangga pengganggu.
i. Ammonia
Ammonia merupakan bahan aktif yang terdapat dalam pembersih lantai.
j. Polonium-210
Bahan ini merupakan salah satu zat radioaktif, yaitu zat yang mampu mengeluarkan
radiasi aktif, yang bisa menyebabkan perubahan struktur dan fungsi sel normal. Bahan
-bahan radioaktif juga bisa menyebabkan kanker.
k. Hidrogen sianida
Hidrogen sianida merupakan bahan yang digunakan sebagai racun dalam bentuk gas.
l. Vinil klorida
Zat ini biasanya digunakan sebagai bahan baku pembuatan plastik.
m. Naftalena
n. Seperti DDT dan arsenik, bahan ini terdapat pada obat-obat pembasmi serangga.

2.5.3 Pengertian Perokok aktif

Perokok Aktif adalah seseorang yang dengan sengaja menghisap lintingan atau
gulungan tembakau yang dibungkus biasanya dengan kertas, daun, dan kulit jagung.
Secara langsung mereka juga menghirup asap rokok yang mereka hembuskan dari
mulut mereka. Tujuan mereka merokok pada umumnya adalah untuk menghangatkan
badan mereka dari suhu yang dingin. Tapi seiring perjalanan waktu pemanfaatan rokok
disalah artikan, sekarang rokok dianggap sebagai suatu sarana untuk pembuktian jati
diri bahwa mereka yang merokok adalah ”keren”.

Ciri-ciri fisik seorang perokok:
 Gigi kuning karena nikotin.
 Kuku kotor karena nikotin.
 Mata pedih.
 Sering batuk – batuk.
 Mulut dan nafas bau rokok.

2.5.4 Pengertian Perokok Pasif

Perokok Pasif adalah seseorang atau sekelompok orang yang menghirup asap rokok
orang lain. Telah terbukti bahwa perokok pasif mengalami risiko gangguan kesehatan
yang sama seperti perokok aktif, yaitu orang yang menghirup asap rokoknya sendiri.

Adapun gejala awal yang dapat timbul pada perokok pasif :

 Mata pedih
 Hidung beringus
 Tekak yang serak
 Pening / pusing kepala
 Apabila perokok pasif terus-menerus ”menekuni” kebiasaanya, maka akan
mempertinggi risiko gangguan kesehatan, seperti :
 Kanker paru-paru,
 Serangan jantung dan mati mendadak,
 Bronchitis akut maupun kronis,
 Emfisema,
 Flu dan alergi, serta berbagai penyakit pada organ tubuh seperti yang disebutkan di
atas.

2.5.5 Penyakit yang Ditimbulkan Oleh Rokok

Kebiasaan merokok dapat menyebabkan berbagai penyakit dan bahkan bisa
menyebabkan kematian. Berikut beberapa penyakit yang ditimbulkan oleh rokok, yaitu
:

a. Rambut rontok
Rokok memperlemah system kekebalan sehingga tubuh lebih rentan terhadap penyakit
yang menyebabkan rambut rontok, sariawan mulut ,dll.
b. Katarak
Rokok dapat menyebabkan katarak dengan 2 cara, yaitu cara mengiritasi mata dan
dengan terlepasnya zat-zat kimia dalam paru yang oleh aliran darah dibawa sampai ke
mata. Merokok dapat juga dihubungkan dengan degrasi muscular yang berhubungan
dengan usia tua yaitu penyakit mata yang tak tersembuhkan yang disebabkan oleh
memburuknya bagian pusat retina yang disebut Mucula..
c. Kulit keriput
Merokok dapat menyebabkan penuaan dini pada kulit karena rusaknya protein yang
berguna untuk menjaga elastisitas kulit, terkikisnya vitamin A, terhambatnya aliran
darah. Kulit perokok menjadi kering dan keriput terutama disekitar bibir dan mata.
d. Hilangnya pendengaran
Perokok dapat kehilangan pendengaran lebih awal dari pada orang yang tidak merokok
atau lebih mudah kehilangan pendengaran karena infeksi telinga atau suara yang keras.
e. Kanker kulit
Merokok tidak menyebabkan melanoma (sejenis kanker kulit yang kadang-kadang
menyebabkan kematian) tetapi merokok mengakibatkan meningkatnya kemungkinan
kematian akibat penyakit tersebut. Ditengarai bahwa perokok berisiko
menderita Custaneus Scuamus Cell Cancer sejenis kanker yang meninggalkan bercak
merah pada kulit 2 kali lebih besar dibandingkan dengan non perokok.
f. Enfisema
Selain kanker paru, merokok dapat menyebabkan enfisema yaitu pelebaran dan
rusaknya kantong udara pada paru-paru yang menurunkan kapasitas paru untuk
menghisap oksigen dan melepaskan karbondioksida. Ibarat suatu sayatan untuk lubang
ventilasi pada tenggorokan sebagai jalan masuk udara ke dalam paru-paru.
g. Berisiko tinggi terkena kanker paru-paru dan jantung
Telah ditetapkan bahwa asap rokok mengandung lebih dari 40 macam zat racun.
Kemungkinan timbulnya kanker paru dan jantung pada perokok 22 kali lebih besar
daripada yang tidak merokok.
h. Osteoporosis
Karbon monoksida (CO) yaitu zat kimia beracun yang banyak terdapat pada gas
buangan mobil dan asap rokok lebih mudah terikat pada darah dari pada oksigen
sehingga kemampuan darah untuk mengangkat oksigen turun 15% pada perokok.
Akibatnya tulang pada perokok kehilangan densitasnya menjadi lebih mudah patah
atau retak dan penyembuhannya 805 lebih lama.
i. Penyakit jantung
Penyakit kardiovaskuler yang menyangkut pemakaian tembakau di Negara-negara
maju membunuh lebih dari 600.000 orang setiap tahun. Rokok menyebabkan jantung
berdenyut lebih cepat, menaikkkan tekanan darah dan meningkatkan resiko terjadinya
hipertensi dan penyumbatan arteri yang akhirnya menyebabkan serangan jantung dan
stroke.
j. Tukak lambung
Konsumsi tembakau menurunkan resistensi terhadap bakteri yang menyebabkan tukak
lambung juga meminimalisasi kemampuan lambung untuk menetralkan asam lambung
setelah makan sehingga sisa asam akan mengerogoti dinding lambung.
k. Diskolori jari-jari
Tar yang terdapat pada asap rokok terakumulasi pada jari-jari dan kuku yang
meninggalkan warna coklat kekuningan.
l. Kerusakan sperma
Rokok dapat menyebabkan deformasi pada sperma dan kerusakan pada DNA-nya
sehingga mengakibatkan aborsi. Beberapa studi menemukan bahwa pria yang merokok
meningkatkan resiko menjadi ayah dari anak yang berbakat kanker. Rokok juga
memperkecil jumlah sperma dan infertilitas (ketidak suburan) banyak terjadi pada
perokok.
m. Penyakit Buerger
Terjadinya inflamasi pada arteri, vena, dan saraf terutama di kaki, yang mengakibatkan
terhambatnya aliran darah. Dan jika dibiarkan tanpa perawatan akan mengarah ke
gangrene (matinya jaringan tubuh) sehingga pasien perlu diamputasi.

2.5.6 Persamaan Dan Perbedaan Rokok Elektrik Dan Rokok Tembakau

Rokok elektrik, sering disebut juga vape atau e-cigarette, awalnya diciptakan di Cina
pada tahun 2003 oleh seorang apoteker untuk mengurangi asap rokok, dan merupakan
salah satu cara untuk membantu orang-orang untuk berhenti merokok. Vape terdiri dari
sebuah baterai, sebuah cartridge yang berisi cairan, dan sebuah elemen pemanas yang
dapat menghangatkan dan menguapkan cairan tersebut ke udara.

Apa bahaya rokok elektrik dibanding rokok tembakau?

Rokok tembakau mengeluarkan asap hasil pembakaran tembakau; rokok elektrik
menghasilkan uap dari cairan perasa buah, dan nikotin yang dipanaskan.
Rokok tembakau dapat menyebabkan penyakit jantung, paru-paru, impotensi,
gangguan kehamilan dan janin; vape menyebabkan gangguan tenggorokan hidung dan
pernapasan.

Rokok tembakau mengandung nikotin, tar, arsenic, karbon monoksida, ammonia dan
berbagai bahan kimia lainnya; rokok elektrik mengandung nikotin, gliserol
sayuran, propylene glycol, pemanis buatan, dan macam-macam rasa buah.

Selain asap, rokok tembakau meninggalkan sampah seperti abu rokok dan batang
rokok; sedangkan vape tidak meninggalkan sampah.

Asap rokok tembakau meninggalkan bau dan tidak larut dalam cairan; rokok elektrik
meninggalkan uap yang larut dalam cairan dan bau dari perasa buah.

Satu bungkus rokok tembakau dijual dengan harga ±Rp16.000,00; vape dijual dengan
harga ±Rp150.000,00 hingga Rp500.000,00.

Rokok tembakau memiliki peraturan khusus dalam Peraturan Pemerintah no. 109
belum ada peraturan khusus mengenai peredaran vape di Indonesia.

Mana yang lebih aman?

Menurut dr. Nauki Kunugita, seorang peneliti dari National Institute of Public Health
di Jepang, dalam salah satu rokok elektrik ditemukan 10 kali
tingkat karsinogen (kelompok zat yang secara langsung dapat merusak DNA,
mempromosikan atau membantu kanker) dibandingkan satu batang rokok biasa.

Tjandra Yoga Aditama, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
(Balitbangkes) Kementrian Kesehatan menjelaskan dalam siaran persnya bahwa
larutan nikotin yang terdapat pada rokok elektrik memiliki komposisi yang berbeda-
beda dan secara umum ada 4 jenis campuran. Namun semua jenis campuran
mengandung nikotin, propilen glikol.

Tak hanya rokoknya yang berbahaya, uap yang terhirup dapat menimbulkan serangan
asma, sesak napas, dan batuk. Rokok ini juga berbahaya untuk penderita pneumonia,
gagal jantung, disorientasi, kejang, hipotensi, sampai luka bakar akibat meledaknya
rokok elektrik dalam mulut.

Jadi, hingga saat ini tidak ada fakta yang membuktikan bahwa rokok elektrik lebih
aman dibandingkan dengan rokok tembakau. Seperti yang dilansir dari
cnnindonesia.com, berbagai studi telah melakukan penelitian terhadap rokok elektrik
dan hasil dari penelitian tersebut adalah:

Rokok elektrik ini diklaim mengandung zat berbahaya seperti Tobacco Specific
Nitrosamines (TSNA), Diethylene Glycol (DEG) dan karbon monoksida.Penggunaan
rokok elektrik dalam jangka panjang bisa meningkatkan kadar plasma nikotin secara
signifikan setelah lima menit penggunaannya.Tak hanya itu, rokok ini juga
meningkatkan kadar plasma karbon monoksida dan frekuensi nadi secara signifikan
yang dapat mengganggu kesehatan.Memiliki efek akut pada paru seperti pada rokok
tembakau, yaitu kadar nitrit oksida udara ekshalasi menurun secara signifikan dan
tahanan jalan napas meningkat signifikan.

2.5.7 Pola Hidup Sehat Dan Cara Untuk Berhenti Merokok:

a. Sadari bahwa merokok sangat berbahaya untuk kesehatan dan sangat merugikan hidup
Anda.
b. Selalu ingat bahaya dari merokok yang mampu mengancam kematian untuk hidup
Anda.
c. Tekad yang kuat untuk berhenti merokok demi kesehatan Anda dan keluarga Anda.
d. Gantilah kebiasaan merokok Anda dengan makan makanan ringan yang sehat.
e. Kurangi konsumsi rokok Anda ,sedikit demi sedikit,Agar Anda terbiasa tanpa rokok.
f. Ingat bahwa banyak sekali manfaat yang akan Anda dapat dengan cara sehat berhenti
merokok.
g. Mencari kesibukan yang membuat Anda lupa dengan merokok.

2.6 Kesehatan Reproduksi
2.6.1 Definisi Kesehatan Reproduksi
Kesehatan Reproduksi adalah segala aspek kesehatan yang berkaitan dengan
sistem reproduksi, dimana keadaan fungsi serta prosesnya yang berada dalam keadaan
sempurna baik secara fisik, mental, maupun sosial dan bukan semata-mata hanya
terbebas dari penyakit atau kecacatan. Menurut WHO, kesehatan reproduksi adalah
suatu keadaan fisik, mental dan sosial yang utuh bukan hanya terbebas dari penyakit
atau kecacatan dalam segala aspek yang berhubungan dengan sistem reproduksi serta
fungsi reproduksi.
Pada hasil ICPD 1994 di Kairo, kesehatan reproduksi merupakan keadaan
sempurna fisik, mental dan kesejahteraan sosial yang tidak hanya semata-mata
ketiadaan penyakit atau kelemahan, dalam segala hal yang berkaitan dengan system,
fungsi, dan proses reproduksi.
Kesehatan reproduksi merupakan suatu hal yang penting sekali terutama
terhadap remaja. Berikut ini komponen yang mendasari pentingnya kesehatan
reproduksi pada remaja:
1. Masa remaja (Usia 10 sampai 19 tahun) adalah masa yang khusus dan penting
karena pada masa ini merupakan periode pematangan organ reproduksi manusia.
Masa remaja biasanya juga disebut sebagai masa pubertas, yang dimana pada masa
tersebut terjadinya masa transisi yang unik ditandai dengan berbagai perubahan
fisik, emosi, dan psikis.
2. Pada masa remaja terjadi perubahan organ biologic yang cepat dan tidak seimbang
dengan perubahan mental emosional (kejiwaan). Hal ini dapat menyebabkan remaja
menjadi bingungoleh karena itu, remaja perlu mendapatkan pengertian, bimbingan
dan dukungan dari lingkungan di sekitarnya sehingga remaja dapat tumbuh dan
berkembang menjadi manusia dewasa yang sehat baik jasmani, menta dan
sikososialnya.
3. Pada lingkungan sosial tertentu, perbedaan perlakuan terhadap remaja laki-laki dan
perempuan sering terjadi. Bagi laki-laki masa remaja merupakan saat diperolehnya
kebebasan, sedangkan bagi perempuan masa remaja merupakan saat dimulainya
segala bentuk pembatasan. Agar masalah kesehatan remaja dapat ditangani dengan
tuntas, diperlukan adanya kesetaraan perlakuan terhadap remaja laki-laki dan
perempuan.
4. Perilaku kesehatan reproduksi remaja saat ini cenderung kurang mendukung
terciptanya remaja berkualitas. Angka aborsi dikalangan remaja saat ini
diperkirakan sekitar 700-800 ribu kasus pertahun, perempuan usia 15-19 tahun yang
telah menjadi ibu mencapai 10%
5. Pengetahuan remaja tentang masalah kesehatan reproduksi masih relative rendah.
Hal ini mengakibatkan masih banyaknya remaja yang belum mengetahui tentang
resiko yang berhubungan dengan tubuh mereka dan cara menghindarinya.

2.6.2 Tujuan dari pengetahuan kesehatan reproduksi
Tujuan dari program kesehatan reproduksi remaja ini adalah upaya yang dilakukan
untuk membantu remaja agar dapat memahami kesehatan reproduksinya sehingga
remaja memiliki sikap dan perilaku sehat serta bertanggung jawab dengan masalah
kehidupan reproduksi.

2.6.3 Organ reproduksi pria dan wanita
Alat reproduksi merupakan organ yang berperan sebagai proses untuk
berkembangbiakan atau memperbanyak keturunan. Ketiak ingin mendapatkan
keturunan, manusia harus memiliki organ-organ reproduksi dengan fungsi dan
dalam keadaan normal. Alat reproduksi wanita berbeda dengan alat reproduksi pria.
a. Organ Reproduksi Wanita
Secara garis besar, alat reproduksi wanita terdiri dari dua bagian, yaitu bagian
luar dan bagian dalam.
Alat Reproduksi Wanita Bagian Luar

1. Mons Veneris

Mon veneris merupakan bagian yang sedikit menonjol yang terlihat dari luar
dan merupakan bagian yang menutupi tulang kemaluan (Simfisis pubis).
2. Labia Mayora (Bibir besar kemaluan)

Disebut sebagai Labia karena bagian ini memiliki bentuk seperti bibir. Labiya
Mayora merupakan bagian lanjutan dari MOns Veneris yang berbentuk
lonjok ke arah bawah dan bersatu membentuk perineum.
3. Labia Minora (Bibir kecil kemaluan)

Labia Minora merupakan organ yang sama seperti Labia Mayora namun
memiliki ukuran lebih kecil dan terdapat di bagian dalam Labia Mayora.
Namun pada Labia Minora tidak terdapat rambut kemaluan.
4. Klitoris
Klitoris merupakan organ yang bersifat erektil dan sangat sensitif terhadap
rangsangan pada saat berhubungan seksual. Klitoris merupakan bangunan
yang terdiri dari Glans klitoris,korpus klitoris dan krura klitoris
5. Vestibulum

Vestibulum merupakan rongga pembatas antara labia minora pada sisi kanan
dan kiri
6. Himen (Selaput Dara)

Himen merupakan selaput membran tipis yang menutupi lubang vagina.
Organ himen sangat mudah robek sehingga keperawan seorang wanita ddi
nilai sari salah satu aspek ini.

Alat Reproduksi Wanita Bagian Dalam

1. Vagina
Vagina adalah muskulomembranasea (Otot-Selaput) yang menghubungkan
rahim dengan dunia luar. Vagina terletak diantara kandung kemih dan rektum,
Vagina memiliki panjang sekitar 8-10cm.
.

2. Uterus (Rahim)
Uterus atau rahum merupakan organ bagian dalam yang memiliki bentuk seperti
buah pir dengan berat sekitar 30 gram yang tersusun atas lapisan-lapisan otot.
Ruang pada uterus ini berbetuk segitiga dengan bagian atas lebih besar. Uterus
berfungsi sebagai tempat tumbuh dan berkembangnya janin.

3. Tuba Fallopi (Oviduk)
Tuba Fallopi (Oviduk) merupakan organ yang menghubungkan Uterus dengan
Indung Telur (Ovarium). Tuba Fallopi (Oviduk) juga sering disebut sebagai
saluran telur karena memiliki bentuk seperti saluran. Organ Oviduk berjumlah
dua buah dengan panjang sekitar 8-20 cm.

4. Ovarium (Indung Telur)
Ovarium merupakan kelenjar reproduksi utama pada wanita yang berfungsi
untuk menghasilkan ovum (sel telur) dan sebagai penghasil hormon seks utama.
Ovarium memiliki bentuk oval, dengan panjang 2,5-4cm. Ovarium terdiri dari
dua bagian yaitu terletak di sebelah kanan dan kiri yang dihubungkan dengan
rahim oleh Tuba Fallopi.

b. Organ Reproduksi Laki-Laki
Organ reproduksi laki-laki antara lain adalah:

Organ Reproduksi Luar
1. Skrotum
Skrotum merupakan lapisan kulit berbentuk kantung yang melindungi testis
yang berada di luar tubuh. Skrotum mengatur suhu yang cocok bagi
kehidupan sperma.

2. Uretra
Uretra adalah saluran yang berfungsi membawa sperma dan urine agar keluar
dari tubuh.

3. Penis
Penis merupakan alat untuk memasukkan sperma ke dalam alat reproduksi
perempuan.

Organ Reproduksi Laki-Laki Bagian Dalam
1. Testis

Testis adalah tempat pembentukan sel kelamin jantan (spermatozoa) dan
hormon kelamin (testoteron). Testis berbentuk bulat telur, berjumlah
sepasang dan berada pada posisi skrotum.

2. Tubulus Seminiferus

Bagian ini merupakan pembuluh halus yang berada di dalam testis. Pada
dinding tubulus terdapat spermatogonium yang diploid. Diantara tubulus
seminiferus terdapat sel-sel interstitial yang menghasilkan hormon testoteron
dan hormon kelamin jantan yang lain. Pada tubulus juga terdapat sel-sel
berukuran besar yang disebut sel Sertoil yang berfungsi sebagai penyedia
makanan bagi spermatozoa.

3. Epididimis
Epididimis merupakan bagian yang berfungsi sebagai tempat pematangan
sperma lebih lanjut dan penyimpanan sementara sperma yang dihasilkan dari
testis. Terjadi proses pematangan sperma di bagian ini.

4. Vas Deferens
Bagian ini merupakan saluran yang menghubungkan epididimis dengan
kantung sperma.
5. Vesikula Seminalis
Bagian yang berfungsi untuk menampung sperma sebelum dikeluarkan.
Jumlah nya sepasang dan berada di bagian atas dan bagian bawah kantung
kemih. Pada bagian ini dihasilkan 60% lebih total semen.

Cairan yang dihasilkan oleh vesikula seminalis berwarna jernih, kental,
berlendir, mengandung asam amino dan fruktosa. Fungsi cairan ini adalah
untuk memberi makan sperma. Vesikula seminalis juga mengekskresikan
protaglandin yang berfungsi mendorong semen agar mencapai uterus.

6. Kelenjar Prostat
Bagian ini merupakan kelenjar yang memproduksi larutan asam yang
berwarna putih.

7. Kelenjar Cowpery
Atau juga disebut sebagai kelenjar bulbouretral adalah bagian kelenjar yang
menghasilkan cairan alkali untuk menetralkan suasana asam dalam uretra.
Kelenjar ini merupakan kelenjar yang berukuran kecil, berjumlah sepasang
dan terletak di sepanjang uretra.

2.6.4 Mengetahui Perbedaan gender & jenis kelamin
a. Pengertian Gender
Menurut WHO, Gender adalah seperangkat peran, perilaku, kegiatan, dan atribut
yang dianggap layak bagi laki-laki dan perempuan yang dikontruksi secara
sosial dalam suatu masyarakat. Gender dalam sosiologi mengacu pada
sekumpulan ciri-ciri khas yang dapat dikaitkan dengan jenis kelamin seseorang
dan diarahkan pada peran sosial atau identitasnya dalam masyarakat. Dalam
konsep gender yang dikenal adalah peran gender individu di masyarakat
sehingga orang mengenal maskulin dan feminitas. Identitas gender adalah salah
satu istilah dalam lingkup seksualitas. Identitas ini dapat diartikan sebagai cara
pandang seseorang untuk melihat dirinya perempuan, laki-laki, atau transgender.
Identitas gender ini berbeda dengan jenis kelamin seseorang karena identitas
gender ini lebih mengarah kepada apa yang dirasakan oleh orang tersebut (Jenny
2016).
Gender adalah pembagian peran sosial dimana peran laki-laki dan perempuan
ditentukan dengan perbedaan fungsi, peran dan tanggung jawab laki-laki dan
perempuan sebagai hasil konstruksi sosial yang dapat berubah atau diubah
sesuai perkembangan zaman, budaya, peran, dan kedudukan seseorang yang
dikntrusksikan oleh masyarakat. Ketidakadilan dan Ketidaksetaraan Gender ini
dapat dijumpai dalam beberapa bentuk gender inequality yaitu perbedaan akses
pelayanan kesehatan antara penduduk laki-laki dan perempuan.

b. Pengertian Jenis Kelamin
Jenis kelamin atau seks manusia adalah pengelompokan dari suatu spesies
dengan perbedaan organ kelamin yang dimiliki dimana wanita memiliki vagina
dan rahim untuk memproduksi sel telur, sedangkan laki-laki memiliki penis dan
skrotum untuk memproduksi sperma sebagai sarana untuk mempertahankan
keberlangsungan keturunannya. Selain dari organ, perbedaan sekunder yang
menonjol diantaranya adalah payudara dan sebaran rambut (Jenny 2016).

2.6.5 Mengetahu proses menstruasi dan mimpi basah
a. Proses Menstruasi
Menstruasi adalah proses peluruhan dinding rahim (endometrium) yang disertai
dengan adanya perdarahan dan menstruasi ini biasanya terjadi secara berulang
setiap bulan kecuali pada saat kehamilan. Menstruasi pertama pada remaja
umumnya terjadi pada usia 11 tahun. Menstruasi ini juga dapat terjadi pada
remaja dengan usia 8-16 tahun. Menstruasi merupakan tanda dari masa
reproduktif pada kehidupan seorang perempuan. Menstruasi yang berulang
setiap bulan tersebut akan membentuk siklus menstruasi. Awal siklus menstruasi
ini dihitung sejak terjadinya perdarahan pada hari ke-1 dan berakhir tepat
sebelum siklus menstruasi berikutnya. Siklus menstruasi umumnya terjadi
berkisar antara 21-40 hari. Terdapat 10-15% wanita yang memiliki siklus 28
hari.
Fase siklus menstruasi terbagi menjadi empat, masing-masing fase memiliki
keunikan tersendiri. Masing-masing fase siklus menstruasi akan memberikan
efek fisik dan emosional yang berbeda pada diri wanita.
Empat fase siklus menstruasi diantaranya adalah:

1. Fase Menstruasi atau Pendarahan
Fase keluarnya darah haid ini dimulai pada hari pertama menstruasi dan
berlangsung sampai hari ke-5 dari siklus menstruasi. Beberapa sumber
menyebutkan bisa berlangsung sampai hari ke-7 dan ini masih dianggap normal.

Peristiwa berikut terjadi selama fase haid ini:
 Hormon progesteron turun drastis.
 Lapisan rahim luruh dan keluar dalam bentuk darah menstruasi.
 Darah yang keluar sekitar 10 ml sampai 80 ml.
Pada fase menstruasi ini Anda mungkin mengalami kram perut. Kram ini
disebabkan oleh kontraksi rahim dan otot-otot perut untuk mengusir darah haid.

Selama pekan ini, kondisi fisik berada pada titik terendah, bahkan bisa
dikatakan memiliki energi terendah diantara fase siklus menstruasi lainnya. Oleh
sebab itu, wanita cenderung lemas dan ingin beristirahat. Meskipun butuh
istirahat, namun tiduran saja di kamar juga tidak dianjurkan. Lakukanlah
gerakan ringan seperti berjalan di halaman, melihat pemandangan, dan aktifitas
ringan lainnya. Di samping itu, penuhilah kebutuhan cairan dan asupan
makanan, karena pada fase ini Anda butuh energi ekstra.

2. Fase Folikular
Disebut fase folikuler karena kelenjar pituitari (hipofisia) melepaskan
hormon yang disebut Follicle Stimulating Hormone (FSH), yang merangsang
folikel dalam ovarium untuk tumbuh menjadi dewasa (matang). Fase ini juga
dimulai dari hari pertama menstruasi, tetapi berlangsung sampai hari ke-13 dari
siklus menstruasi.

Peristiwa berikut terjadi selama fase ini:
 Kelenjar hipofisis di otak mengeluarkan hormon FSH yang merangsang sel-sel
telur dalam ovarium untuk tumbuh.
 Salah satu sel telur mulai masak di dalam struktur yang disebut folikel (kantung).
Dibutuhkan 13 hari bagi sel telur untuk mencapai kematangan.
 Ketika sel telur matang, folikel mengeluarkan hormon yang merangsang rahim
untuk membentuk lapisan pembuluh darah dan jaringan lunak yang baru disebut
endometrium. Ini merupakan langkah untuk pemulihan dari fase menstruasi
yang pertama.

Selain itu, estrogen dan testosteron mulai meningkat selama fase ini. Hal
ini akan memberikan dorongan energi, dan juga dapat meningkatkan mood dan
otak. Anda bahkan mungkin merasa lebih tegas dan berani mengambil risiko.
Testosteron merangsang libido sedangkan estrogen membuat wanita merasa
lebih terbuka dan menekan nafsu makannya.

3. Fase Ovulasi
Ovulasi adalah puncak dari semua kerja keras tubuh selama fase
menstruasi sebelumnya. Atas perintah otak melalui produksi homron LH
(luteinizing hormone) sel telur yang sudah matang akan dilepaskan dari folikel
di ovarium ke saluran tuba (tuba fallopi) dan akan bertahan selama 12-24 jam.
Kejadian ini terjadi pada hari ke-14 dari siklus, sel telur yang dilepaskan tersapu
ke tuba falopi oleh silia fimbriae.
Fimbriae adalah struktur berbentuk seperti jari-jari yang terletak di ujung
tuba falopi dekat dengan ovarium, sedangkan silia yang merupakan rambut getar
yang halus yang depat menghantarkan sel telur menuju ke rahim. Pada fase ini
Estrogen dan testosteron meningkat ke tingkat puncak, sehingga meningkatkan
efek dari fase folikular. Anda mungkin merasa bahwa Anda terlihat lebih baik
dan merasa lebih percaya diri sehingga akan lebih mudah untuk verbalisasi
pikiran dan perasaan.
4. Fase Luteal
Disebut fase luteal karena pada fase menstruasi ini terbentuk korpus
luteum pada ovarium yang merupakan bekas folikel setelah ditinggal sel telur.
Korpus luteum menghasilkan hormon progesteron. Ini adalah fase menstruasi
yang terkahir. Fase luteal dimulai pada hari ke-15 dan berlangsung sampai akhir
siklus menstruasi.

Peristiwa berikut terjadi selama fase luteal:
 Sel telur dilepaskan selama fase ovulasi tetap di tuba falopi selama 24 jam.
 Jika sel sperma tidak membuahi sel telur dalam waktu tersebut, sel telur akan
hancur.
 Hormon progesteron yang menyebabkan rahim untuk mempertahankan
endometrium akan habis pada akhir siklus menstruasi. Hal ini menyebabkan
dimulainya kembali fase siklus menstruasi berikutnya.

Pada fase luteal estrogen dan testosteron akan menurun dan sebagai
gantinya tubuh mulai memproduksi progesteron seperti penjelasan di atas. Ini
adalah hormon anti-kecemasan alami sehingga berada pada suasana perasaan
yang ‘stabil’ setelah ‘menggebu-gebu’ pada fase Ovulasi. Namun, pada bagian
kedua dari fase menstruasi yang terkahir ini adalah sangat sulit bagi kebanyakan
kaum hawa. Pasalnya, bagi yang ada kecendrungan, bisa merasakan gejala PMS
seperti keinginan makan karbohidrat tinggi, perut kembung, sakit kepala,
kecemasan dan kemurungan. Tak lama lagi dari gejala-gejala ini, maka
datanglah menstruasi berikutnya.

b. Mimpi Basah
Mimpi basah merupakan salah satu tanda pubertas pada pria. Dalam proses ini
akan terjadi pengeluaran cairan sperma yang tidak diperlukan secara alami.
Mimpi basah pertama kali terjadi pada remaja laki-laki berusia antara 9-14
tahun. Selanjutnya akan terjadi secara periodik setiap 2-3 minggu. Hal tersebut
terjadi karena testis mulai bereproduksi dan menghasilkan sperma. Apabila hasil
produksi tersebut tidak dikeluarkan maka akan keluar sendirinya pada saat tidur
baik melalui mimpi atau tidak (Eryani 2010).

2.6.6 Mengetahui permasalahan kesehatan reproduksi remaja
Menurut Septian Cahyo Susilo (2013), permasalahan kesehatan reproduksi yang
terjadi pada remaja diantaranya adalah:

1. Masalah Kehamilan Remaja

Kehamilan usia dini memuat risiko yang tidak kalah berat. Pasalnya, emosional
ibu belum stabil dan ibu mudah tegang. Sementara kecacatan kelahiran bisa
muncul akibat ketegangan saat dalam kandungan, adanya rasa penolakan secara
emosional ketika si ibu mengandung bayinya.

2. Masalah Aborsi

Aborsi memiliki resiko yang tinggi terhadap kesehatan maupun keselamatan
seorang wanita. Tidak benar jika dikatakan bahwa jika seseorang melakukan
aborsi tidak merasakan apa-apa dan langsung boleh pulang. Ini adalah informasi
yang sangat menyesatkan bagi setiap wanita, terutama mereka yang sedang
kebingungan karena tidak menginginkan kehamilan yang sudah terjadi.

3. Infeksi Menular Seksual (IMS)

Infeksi Menular Seksual (IMS) adalah infeksi yang menyerang organ kelamin
seseorang dan sebagian besar ditularkan melalui hubungan seksual. Penyakit
menular seksual akan lebih berisiko bila melakukan hubungan seksual dengan
berganti-ganti pasangan baik melalui vagina, oral maupun anal.

a. HIV dan AIDS

1) HIV
HIV merupakan singkatan dari ’human immunodeficiency virus’. HIV
merupakan retrovirus yang menjangkiti sel-sel sistem kekebalan tubuh manusia
(terutama CD4 positive T-sel dan macrophages– komponen-komponen utama
sistem kekebalan sel), dan menghancurkan atau mengganggu fungsinya. Infeksi
virus ini mengakibatkan terjadinya penurunan sistem kekebalan yang terus-
menerus, yang akan mengakibatkan defisiensi kekebalan tubuh.

Sistem kekebalan dianggap defisien ketika sistem tersebut tidak dapat
lagi menjalankan fungsinya memerangi infeksi dan penyakit- penyakit. Orang
yang kekebalan tubuhnya defisien (Immunodeficient) menjadi lebih rentan
terhadap berbagai ragam infeksi, yang sebagian besar jarang menjangkiti orang
yang tidak mengalami defisiensi kekebalan. Penyakit-penyakit yang berkaitan
dengan defisiensi kekebalan yang parah dikenal sebagai “infeksi oportunistik”
karena infeksi-infeksi tersebut memanfaatkan sistem kekebalan tubuh yang
melemah.

2) AIDS

AIDS adalah singkatan dari ‘acquired immunodeficiency syndrome’ dan
menggambarkan berbagai gejala dan infeksi yang terkait dengan menurunnya
sistem kekebalan tubuh. Infeksi HIV telah ditahbiskan sebagai penyebab AIDS.
Tingkat HIV dalam tubuh dan timbulnya berbagai infeksi tertentu merupakan
indikator bahwa infeksi HIV telah berkembang menjadi AIDS.

4. Tingkat Pengetahuan Kesehatan Reproduksi Remaja
Tingkat pengetahuan remaja di Indonesia tentang kesehatan reproduksi masih
rendah, khususnya dalam hal cara-cara melindungi diri terhadap risiko
kesehatan reproduksi, seperti pencegahan KTD, IMS, dan HIV dan AIDS. Hasil
Survei Kesehatan Reproduksi Remaja (SKRRI) tahun 2002-2003 yang
dilakukan oleh BPS memperlihatkan bahwa tingkat pengetahuan dasar
penduduk usia 15-24 tahun tentang ciri-ciri pubertas sudah cukup baik, namun
dalam hal pengetahuan tentang masa subur, risiko kehamilan, dan anemia relatif
masih rendah.
2.6.7 Mengetahui nutrisi yang baik bagi remaja
Masa remaja amat penting diperhatikan karena merupakan masa transisi antara
anak-anak dan dewasa. Gizi Seimbang pada masa ini akan sangat menentukan
kematangan mereka dimasa depan. Perhatian khusus perlu diberikan kepada
remaja perempuan agar status gizi dan kesehatan yang optimal dapat dicapai.
Alasannya remaja perempuan akan menjadi seorang ibu yang akan melahirkan
generasi penerus yang lebih baik. Kebutuhan energi dan zat gizi diusia remaja
ditunjukkan untuk deposisi jaringan tubuhnya. Total kebutuhan energi dan zat
gizi remaja juga lebih tinggi dibandingkan dengan rentan usia sebelum dan
sesudahnya(Dedeh et al 2010).

Energi dan protein yang dibutuhkan remaja lebih banyak dari pada orang
dewasa, begitu juga vitamin dan mineral. Seorang remaja laki-laki yang aktif
membutuhkan 3.000 kalori atau lebih perhari untuk mempertahankan berat
badan normal. Seorang remaja putri membutuhkan 2.000 kalori perhari untuk
mempertahankan badan agar tidak gemuk. Vitamin B1, B2 dan B3 penting
untuk metabolisme karbohidrat menjadi energi, asam folat dan vitamin B12
untuk pembentukan sel darah merah, dan vitamin A untuk pertumbuhan
jaringan. Sebagai tambahan, untuk pertumbuhan tulang dibutuhkan kalsium
dan vitamin D yang cukup. Vitamin A, C dan E penting untuk menjaga
jaringan-jaringan baru supaya berfungsi optimal. Dan yang amat penting
adalah zat besi terutama untuk perempuan dibutuhkan dalam metabolism
pembentukan sel-sel darah merah (Husaini 2006).

Remaja membutuhkan energi dan nutrisi untuk melakukan deposisi
jaringan. Peristiwa ini merupakan suatu fenomena pertumbuhan tercepat yang
terjadi kedua kali setelah yang pertama dialami pada tahun pertama
kehidupannya. Nutrisi dan pertumbuhan mempunyai hubungan yang sangat
erat. Kebutuhan nutrisi remaja dapat dikenal dari perubahan tubuhnya.
Perbedaan jenis kelamin akan membedakan komposisi tubuhnya, dan
selanjutnya mempengaruhi kebutuhan nutrisinya.

Kecukupan energi diperlukan untuk kegiatan sehari-hari dan proses
metabolisme tubuh. Cara sederhana untuk mengetahui kecukupan energi dapat
dilihat dari BB-nya. Pada remaja perempuan usia 10-12 tahun, kebutuhan
energinya sebesar 50-60 kkal/kg BB/hari, sedangkan usia 13-18 tahun sebesar
40- 50 kkal/kg BB/hari. Pada remaja laki-laki usia 10-12 tahun, kebutuhan
energiya sebesar 55-60 kkal/kg BB/hari, sedangkan usia 13-18 tahun sebesar
45-55 kkal/kg BB/hari (Dedeh et al 2010).

Energi dibutuhkan untuk mendukung pertumbuhan, perkembangan,
aktifitas otot, fungsi metabolik lainnya (menjaga suhu tubuh, menyimpan
lemak tubuh), dan untuk memperbaiki kerusakan jaringan dan tulang
disebabkan oleh karena sakit dan cedera.

WHO menganjurkan rata-rata konsumsi energi makanan sehari adalah
10-15% berasal dari protein, 15-30% dari lemak, dan 55-75% dari karbohidrat
(Almatsier 2002).

a. Karbohidrat
Karbohidrat dikenal sebagai zat gizi makro sumber bahan bakar (energi)utama
bagi tubuh. Sumber karbohidrat utama dalam pola makanan Indonesia adalah
beras. Di beberapa daerah, selain beras digunakan juga jagung, ubi, sagu,
sukun dan lain-lain. sebagian masyarakat, terutama dikota, juga menggunakan
mie dan roti yang dibuat dari tepung terigu.
b. Protein
Protein diperlukan untuk sebagian besar proses metabolic, terutama
pertumbuhan, perkembangan, dan mainteen/merawat jaringan tubuh.
c. Lemak
Kebutuhan lemak belum direkomendasikan sebelumnya. Hanya saja pesan
dalam pedoman gizi seimbang menganjurkan bahwa kebutuhan lemak
sebaiknya seperempat dai kebutuhan enegi. Saat ini kebutuhan lemak
ditentukan sebesar 20% dari kebutuhan energi (Soekirman 2006).
d. Serat
Serat pada diet jumlahnya berlimpah, fungsinya pada tubuh adalah untuk
melancarkan proses pengeluaran tubuh. Sumber yang baik dari diet, misalnya
seluruh produk padi-padian, beberapa jenis buah dan sayur, kacang-kacangan
kering, dan biji-bijian.
e. Zat besi
Remaja adalah salah satu kelompok yang rawan terhadap defesiensi zat besi,
dapat mengacu semua kelompok status sosial ekonomi, terutama yang
berstatus ekonomi rendah. Penyebab sebagian besar oleh karena
ketidakcukupan asimilasi zat besi yang berasal dari diet, zat besi dari cadangan
dalam tubuh dengan cepatnya pertumbuhan dan kehilangan zat besi.
f. Kalsium
Pertumbuhan tinggi pada masa remaja mencapai 20 % pertumbuhan tingginya
dewasa dan 40 % masa dewasa. Kebutuhan kalsium pararel dengan
pertumbuhan, dan meningkat dari 800 mg/hari menjadi 1200 mg/hari pada
kedua jenis kelamin pada umur 11-19 tahun.
g. Seng
Seng merupakan mineral mikro esensial. Seng diperlukan untuk sistem
reproduksi, pertumbuhan janin, system pusat syaraf, dan fungsi kekebalan
tubuh.
h. Vitamin
Vitamin adalah senyawa organik yang diperlukan oleh tubuh kita untuk
mengatur metabolime tubuh agar tetap sehat dan membantu proses
pertumbuhan. Tubuh kita tidak dapat memproduksi Vitamin sendiri, oleh
karena itu kita perlu mendapatkan Vitamin dari berbagai makanan dan
Supplemen agar kesehatan tubuh kita tetap terjaga.

2.6.8 Mengetahui cara pola hidup sehat bagi kesehatan reproduksi
1. Aturlah pola makan
2. Hindari Merokok
3. Istirahat yang cukup
4. Olahraga yang teratur
5. Hindari stress
6. Pakaian dalam dan celana dalam (CD) diganti minimal dua kali sehari
7. Menggunakan CD berbahan menyerap keringat
8. Pakai handuk yang bersih, kering, tidak lembab, dan bau.
9. Bagi wanita, setelah buang air kecil cara cebok yang benar dari arah
depan ke belakang agar kuman dari anus tidak ikut ke organ reproduksi.
10. Untuk pria, dianjurkan disunat atau dikhitan agar terhindar dari kanker
penis dan kanker leher rahim pada istrinya.
Kemenkes. 2015. Pedoman Manajemen Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja. Jakarta:
Direktorat Bina Kesehatan Anak, Direktorat Jendral Bina Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak
Kementrian Kesehatan RI

Cristina, et al., 2003. “Komunikasi Kebidanan” Penerbit buku kedokteran, EGC.

Ermawati, et al., 2009. “Komunikasi dan Konseling dalam Praktik Kebidanan”.
Trans Info Media, Jakarta.

M. Taufik, et al., 2010. “Komunikasi Terapeutik dan Konseling dalam Praktik
Kebidanan”. Penerbit Salemba Medika, Jakarta.