You are on page 1of 22

BAB IX

Biokimia Respirasi

Integrasi Biokimia dalam Modul Kedokteran (Endah Wulandari & Laifa Annisa Hendarmin)
pg. 165

A. RESPIRASI DAN FOSFORILASI OKSIDATIF

Mitokondria merupakan pusat energi sel yang memproduksi zat berenergi tinggi dalam
ATP melalui reaksi fosforilasi oksidatif. Mitokondria berisi sejumlah rangkaian katalisator dalam
rantai respirasi serta menangkap energi bebas (fosfat energi tinggienzim-enzim penghasil
energi).

Gambar 9A.1 Struktur membran mitokondria
Membran mitokondria terdiri atas :
 Membran eksternal yang bersifat permeable, mengandung enzim monoamin oksidase,
asil-KoA sintetase, gliserolfosfat asiltransferase, monoasilgliserolfosfat asiltranferase,
fosfolipase
 Membran internal bersifat selektif, struktur berlipat terdiri atas fosfolipid, bagian luar
mengandung suksinat dehidrogenase dan bagian dalam mengandung enzim gliserol-3-
Fosfatase
 Ruang antar membran mengandung enzim adenilil kinase dan kreatin kinase
 Matriks mengandung enzim-enzim siklus asam sitrat (Siklus Krebs) dan enzim oksidasi-β-
asam lemak

Gambar 9A.2 Rantai espirasi dimana energi makanan menjadi ATP

Integrasi Biokimia dalam Modul Kedokteran (Endah Wulandari & Laifa Annisa Hendarmin)
pg. 166

Pada tanaman identik dengan flastokuinon di kloroplas.3 Ekuivalen pereduksi rantai pernafasan Ubiquinon/Q/Koenzim Q merupakan karier penghubung flavoprotein dan sitokrom. Gambar 9A. 167 . pembentuk lipid/fosfolipid mitokondria. Gambar 9A.4 Peranan ubiquinon dalam rantai respirasi Gambar 9A.5 Struktur ubiquinon Integrasi Biokimia dalam Modul Kedokteran (Endah Wulandari & Laifa Annisa Hendarmin) pg.

7 Komponen respirasi di membran internal mitokondria Integrasi Biokimia dalam Modul Kedokteran (Endah Wulandari & Laifa Annisa Hendarmin) pg. berikatan dengan koenzim falvoprotein (metaloprotein) dan sitokrom b serta berperan dalam oksidasi reduksi antara falvin dan Q Gambar 9A. Protein besi-sulfur merupakan FeS jenis ikatan besi non-heme.6 Peranan metaloprotein Gambar 9A. 168 .

III dan IV pada rantai respirasi Gambar 9A.9 Inhibitor rantai respirasi Laju Pengndalian Respirasi  Status 1 : tersedianya ADP dan substrat  Status 2 : tersedianya substrat saja  Status 3 : kapasitas rantai respirasi pada kondisi substrat dan komponen respirasi jenuh  Status 4 : tersedia ADP saja  Status 5 : tersedia oksigen saja kondisi dimana proses yang memerlukan energi Integrasi Biokimia dalam Modul Kedokteran (Endah Wulandari & Laifa Annisa Hendarmin) pg. II. Gambar 9A.8 Komplek I. 169 .

insektisida rotenon. menghambat respirasi secara total Integrasi Biokimia dalam Modul Kedokteran (Endah Wulandari & Laifa Annisa Hendarmin) pg. menghambat antara sit b dan sit c denganinhibitor dimerkaprol dan antimisin A. saat olah raga pada status 3 atau status 5 pada kapasitas rantai respirasi jenuh atau PO 2 turun di Sit. antibiotik pierrisidin A. 170 .10 Pengendalian Respirasi Mitokondria A.11 Fosforilasi ADP Inhibitor penghambat respirasi dapat melalui inhibitor rantai respirasi. Status 4 diberi ADP terjadi reaksi fosforilasi menjadi ATP akibatnya pemutusan rangkaian uncoupler menjadi status 4 B. Contoh kondisi istirahat terjadi pada status 4.aa3 jumlah ADP/ATP konstan akibatnya transloksi ADP/ATP Gambar 9A. Inhibitor rantai respirasi dalam hal ini berperan dalam mencegah substrat berikatan dengan enzim. inhibitornya yaitu amobarbital (barbutirat). inhibitor fosforilasi oksidatif dan pemutusan rangkaian (uncoupler) fosforilasi oksidatif. Penambahan oligomisin dalam pemutusan fosforilasi ADP menjadi ATP Peran ADP dalam hal ini ADP terfosfolrilasi menjadi ATP serta memungkinkan lebih banyak reaksi respirasi dalam memperbaharui simpanan ATP Gambar 9A.

Gambar 9A. CCCP (m-klorokarbonial sianida fenil hidrazon). Inhibitor fosforilasi oksidatif yitu inhibitor pada keseluruhan proses dan fosforilasi oleh oligomisin. Inhibitor system pengangkutan ini dihambat oleh N- tilmaleimida. 171 . inhibitor kompetitif untuk suksinat dehidrogenase oleh malonat. inhibitor fosforilasi oksidatif tergantung pengangkutan senyawa nukleotida meliputi inhibitor pengangkutan ADP dan ATP keluar oleh atraktilosid. hidroksinamat.yaitu inhibitor oksidase antara lain H2S. pengangkut α-Ketoglutarat dan pengangkut nukleotida adenin.4 dinitrofenol. pengangkut piruvat. pengangkut trikarboksilat. serta memisahkan proses oksidasi dan fosforilasi dalam rantai respirasi oleh 2.12 Sistem Pengangkutan Mitokondria dapat bersifat sinport-antiport Integrasi Biokimia dalam Modul Kedokteran (Endah Wulandari & Laifa Annisa Hendarmin) pg. dinitrokresol. Sistem pengankutan dalam membran mitokondria melalui pengangkut fosfat. araktilosida. pentaklorofenol. Pemutusan rangkaian (uncoupler) fosforilasi oksidatif melalui cara oksidasi tanpa fosforilasi yang diakibatkan dinitrofenol. inhibitor suksinat dehidrogenase ke Q yaitu karboksin dan TTFA. pengangkut dikarboksilat. CO dan sianida.

menjelaskan kerja zat pemutus rangkaian dan dapat menjelaskan keberadaan sistem pengangkutan pertukaran mitokondria.IV. Gambar 9A. Teori Kimiosmotik (Kimia Osmotik) menyatakan translokasi proton H oleh pompa proton terdapat pada kompleks I.14 Pengangkut Fosfat melalui pengangkutan nukleotida dengan adenin yang terjadi dalam sintesis ATP. Oligomisin bersifat menghambat hantaran H lewat Fo. zat pemutus rangkaian oleh dinitrofenol melalui kebocoran H dalam mengurangi proton. Gambar 9A. Integrasi Biokimia dalam Modul Kedokteran (Endah Wulandari & Laifa Annisa Hendarmin) pg. Terjadinya fosforilasi oksidatif serta dapat menjelaskan pengendalian respirasi.13 Teori kimiosmotik Hasil kimiosmotik yaitu penambahan proton (asam) kepada media eksternal mitokondria yang utuh akan menimbulkan produk ATP. F1 & F0/subprotein yang menggunakan energi.III. 172 .

CKb berupaya mempertahankan kreatin.15 Transport gliserolfosfat dari sitosol ke mitokondria Gambar 9A. ATP dan ADP. 173 . Gambar 9A. Integrasi Biokimia dalam Modul Kedokteran (Endah Wulandari & Laifa Annisa Hendarmin) pg. selanjutnya Ckg mensintesis kreatin fosfat dengan bantuan kreatin kinase dan CKm melakukan pembentukan kreatin fosfat dari ATP Fosforilasi Oksidatif. kreatin fosfat.16 Transport Malat dari sitosol ke mitokondria Transport Kreatin Fosfat dalam matriks ke sitosol dimana Cka suatu kreatin kinase u reaksinya membutuhkan ATP yang besar.

17 Transport kreatin fosfat Gambar 9A. Gambar 9A.18 Pembentukan keasaman Integrasi Biokimia dalam Modul Kedokteran (Endah Wulandari & Laifa Annisa Hendarmin) pg. 174 .

8 L tekanan turun 0. Kimia Pernafasan (Kesetimbangan asam basa) Pernafasan secara biokimia didefinisikan pertukaran 2 gas yaitu O2 dan CO2 antara tubuh dan lingkungan. Hk Boyle berkaitan dengan gas yaitu bila suhu dan massa (jumlah molar suatu gas dalam suatu ruangan konstan. ► Volume = konstan x Suhu (°Kelvin) Integrasi Biokimia dalam Modul Kedokteran (Endah Wulandari & Laifa Annisa Hendarmin) pg. 1 gram molekul gas menempati 22. Hk.5x menjadi 380 mmHg Hk. Ventilasi paru-paru : masuk-keluarnya udara pernafasan antara atmosfir dan alveoli 2. ► Tekanan = konstante : Volume Tekanan x Volume = konstan Contoh pada O°C dan tekanan 1 atm (760 mmHg). Proses respirasi meliputi 4 tahap yaitu 1. Transport O2 dan CO2 oleh darah ke sel-sel tubuh 4. 175 . Difusi O2 dan CO2 antara alveoli dan darah 3.04% CO2 dan 0. tetapi volume ruangan bertambah atau berkurang.2 L maka tekanan naik 2x menjadi 1520 mmHg.84% O2.4 L. maka tekanan gas dalam ruangan tersebut akan berubah sebaliknya denganvolume yaitu pada massa dan suhu gas ideal tetap. Semua aliran gas tunduk pada Hk Boyle. bila volume berkurang setengah menjadi 11. Gay- Lussac dan Hk Dalton. 20. volume gas juga berubah sebanding dengan kenaikan atau penurunan suhu.1 Sistem respirasi Proses difusi O2 dan CO2 yaitu membutuhkan udara normal yang mengandung78. 0.5% uap air. dan sebaliknya volume gas bertambah 44. Pengaturan ventilasi Gambar 9B. bila suhu berubah. Gay-Lussac menyatakan bila suatu gas dengan massa tetap pada tekanan yang konstan.62% N2.

Koefisien kelarutan gas pernafasan dalam air pada 37oC pada P 1 atm.Contoh : 1 gram ideal molekul gas pada 273°K (O°C) menempati volume 22. Benturan dan masuknya molekul gas dalam cairan disebut difusi. Integrasi Biokimia dalam Modul Kedokteran (Endah Wulandari & Laifa Annisa Hendarmin) pg.4 L Hk Dalton (Hukum Gas Ideal) Gabungan Hukum Boyle dan Gay-Lussac ► PV = nRT ► P = tekanan (mm Hg) V = Volume (L) n = jumlah massa gas (gram molekul) R = Konstante ((62.5% uap air = 3. gas tersebut akan menempati volume 25. PN2 Tekanan parsial keseluruhan gas 760 mmHg meliputi : Ekspirasi 78. Steady state equilibrium adalah jumlah molekul gas yang masuk dalam fasa cair = jumlah molekul gas yang keluar dari fasa cair atau tekanan parsial sama dengan tekanan gas.04% CO2 = 0.4 L.3 mmHg 5% 0.84% O2 = 159 mmHg 15% 0. Koefisien kelarutan gas CO2 pada 37oC. Daya yang dikeluarkan oleh gas dalam usahanya memasuki cairan sama dengan daya usaha gas dalam meninggalkan gas. 176 . 1 atm adalah 20 kali lebih besar dari pada gas O 2.62% N2 = 597 mmHg 79% 20. P uap air 47 mmHg. bila gas dinaikkan menjadi 37°C (310°K). total 713 mmHg ► Perbedaan kadar O2 dan CO2 : O2 berkurang 5% (diambil darah) dan CO 2 bertambah dari jaringan Tabel 9B. PCO2.36) T = suhu (Absolut/Kelvin) Tekanan parsial menyatakan desakan yang ditimbulkan oleh gas dalam usahanya untuk meninggalkan cairan disebut tekanan gas.1 Tekanan parsial gas-gas pernafasan dalam udara Steady state equilibrium menyatakan molekul gas memasuki fasa air.7 mmHg Catatan : ► Pada suhu 37oC . gas yang larut dalam cairan meninggalkan fasa cair.Tekanan gas sama denga tekanan parsial menjadi antara lain PO2. Faktor yang mempengaruhi steady state equilibrium yaitu tekanan parsial gas yang mengelilingi cairan dan kelarutan gas dalam cairan pada suhu tertentu.

Makin luas penampang gas-cairan. difusi makin cepat 3. 2 Kapasitas difusi CO. makin cepat pergerakan kinetik dan makin besar kecepatan difusi. O2 dan CO Integrasi Biokimia dalam Modul Kedokteran (Endah Wulandari & Laifa Annisa Hendarmin) pg. Tabel 9B. difusi makin lambat 4. Jarak tempuh yang ditembus molekul-molekul panjang. 177 .2 Komposisi beberapa senyawa di atmosfir Proses difusi belangsung melalui kecepatan difusi (diffusion rate/DR) yang dipengaruhi oleh : 1. Difussion rate (DR) Gambar 9B. Perbedaan tekanan parsial gas dan tekanan gas antara alveoli dan darah 2. Daya larut gas makin besar makin banyak molekul yang berdifusi.

Jarak yang harus dilalui gas tipis (dinding alveoli sangat tipis) Pertukaran Gas disebabkan adanya perbedaan tekanan gas antara alveoli dan darah yaitu : O2 CO2 P alveoli /darah : 104/40 mmHg 40/45 mmHg P jaringan/darah : 40/95 mmHg 45/40 mmHg Perbedaan tekanan parsial O2 antara alveoli / darah 104-40 = 64 menyebabkan O2 berdifusi dari alveoli ke darah. Perbedaan tekanan Parsial CO2 antara jaringan dan darah 45-40 = 5 mmHg. Perbedaan tekanan parsial O2 besar menyebab difusi O2 cepat. sehingga pada ujung vena sudah terjadi keseimbangan. koefisien O 2 naik menjadi 65 mL/menit. Daerah permukaan untuk pertukaran gas sangat luas karena kedua paru-paru terdapat 300 juta alveoli sehingga seluruh luas permukaan membran pernafasan sekitar 70 m 2 3. 178 . Tekanan dan tegangan parsial O2 . Kapasitas Difusi yaitu volume gas yang berdifusi melalui membran pernafasan dalam 1 menit dan perbedaan tekanan 1 mmHg.53. Koefisien difusi gas antara lain gas CO 2 = 20. volume gas yang terlarut tergantung pada tekanan parsial gas (P) dan Koefisien Kelarutan gas () yaitu : Vol gas yang larut = .81 dan N2 = 0. Keseimbangan CO2 cepat tercapai karena Koefisien difusi CO 2 tinggi.volume O2 yang berdifusi = 11 x 21 = 231 mL. Perbedaan tekanan parsial CO2 kecil. Contohnya kapasitas difusi O2 = 21 mL/menit. CO2 berdifusi dari jaringan ke darah. Difusi alveoli adalah ideal. Keseimbangan O2 di Alveoli antara lain pada ujung arteri O2 dari alveoli banyak berdifusi ke darah. Pada pertukaran gas. Semakin tinggi tekanan O2 darah semakin banyak O2 berdifusi ke dalam alveoli. Perbedaan tekanan parsial O2 antara jaringan dan darah = 95-40 = 55 mmHg menyebabkan O2 berdifusi dari darah ke jaringan. Pgas dan  gas CO2 = 20x  gas O2. Sehingga tekanan O2 makin tinggi. CO2 dan air pada sistem pulmonari. dengan alasan yaitu : 1. tetapi Koefisien difusi besar : 20x Koefisien difusi O 2. O2. Gambar 9B.3 Keseimbangan O2 di alveoli Integrasi Biokimia dalam Modul Kedokteran (Endah Wulandari & Laifa Annisa Hendarmin) pg. 11x65=715 (volume O 2 yang berdifusi lebih besar/ 3x lipat normal). Pertukaran gas juga dapat disebabkan perbedaan tekanan parsial CO2 antara alveoli dan darah 45 – 40 = 5 mmHg menyebabkan CO2 berdifusi dari darah ke alveoli. mudah larut dalam membran sel 2. gas-gas larut dalam lipid (membran sel). Dif. CO = 0.3. perbedaan tekanan antara membran pernafasan = 11 mmHg. pada waktu latihan. Koefisien difusi CO2 = 20 x Koef. sedang O2 dari darah ke alveoli sedikit.

Bila kadar Hb = 14.34 ml = 19.  63).5% : jumlah O2 yang diangkut 14. Kapasitas pengangkutan O2 ~ kadar Hb. P O2 rata-rata = 40 mmHg dengan selisih 55 mmHg.34 = 13. Akibat tekanan pada jaringan mendorong O2 dan masuk ke jaringan (terjadi difusi O2 dari darah ke jaringan). O2 yang larut (keadaan sebenarnya) = 20 ml/100 ml darah. Dalam hal ini O2 yang diangkut adalah 1. PCO2 = 45 mmHg sedangkan PCO2 dalam udara alveoli adalah 40 mmHg. Disosiasi Oksi-Hb terjadi di jaringan dimana P O 2 rendah. Eritrosit mengandung heme yang dapat mengikat O2 .393 ml menjadi total O2 = 19.5 x 1.4 Kesimbangan CO2 di alveoli Keseimbangan tekanan CO2 pada waktu darah sampai dalam kapiler paru-paru.393 ml/ 100 ml darah. Hb O2 → Hb + O2 dipengaruhi P O2.34 ml/g Hb. Pada latihan fisiologi jaringan membutuhkan banyak O 2 menyebabkan O2 banyak dipakai jaringan. karena Koefisien CO 2 20 kali lebih besar maka lebih cepat keseimbangan kurang dari pertengahan waktu aliran darah melalui kapiler paru-paru. Gambar 9B.Hb) → HbO2 (oxy. Kemampuan Hb dalam transport O2 meliputi dalam substansi darah.823 ml (± 20 vol%).43 ml akibatnya O2 yang larut secara fisis (Hk Henry) = 0. Cara pengangkutan O2 berdasarkan O2 larut (Hk Henry) = 0. temperature dan kadar 2.393. 179 . elektrolit. Difusi CO2 dari darah paru-paru ke dalam alveoli. Bila diketahui P O2 = 104 mmHg ( saturasi 97%) dan P O2 = 50 mmHg O2 (Saturasi 80%). eritrosit jumlahnya paling banyak dibandingkan leukosit dan trombosit. Bila kadar Hb = 10 g% (sedikit anemi) O2 yang diangkut Hb = 10 x 1. sebab adanya perbedaan kemampuan Hb dalam transport O2. akibatnya P O2 jaringan menurun menjadi 15 mmHg akibatnya lebih banyak O2 dibebaskan dari normal. diperoleh selisih saturasi 17% maka pada saat P O2 jaringan 50 mmHg maka darah melepaskan O2 ( berkisar 15 – 20 Vol %) maka tekanan dimana oksigen akan dibongkar/ dilepas. karena adanya heme kelarutan menjadi banyak. yang 40 terjadi keseimbangan). hingga pada ujung vena tekanan O 2 sama.4 O2 yang larut (Hk Henry) = 0. Hb + O2 (red. Sirkulasi aliran penghantaran O2 darah tidak efisien mencapai sekitar 15% O2 berkurang (tidak 100% yang diinspirasi dan ekspirasi) Integrasi Biokimia dalam Modul Kedokteran (Endah Wulandari & Laifa Annisa Hendarmin) pg. P CO2. Tekanan O2 di jaringan yaitu P O2 tinggi = 95 mmHg. Makin banyak Hb maka makin banyak O2 yang dapat diangkut.3 BPG. pH. Walaupun kelarutan O2 kecil dalam darah (Hk Henry). dimana 1 Hb mengikat 4 molekul O 2.Hb) dan pada Hb O2 terikat pada residu Histidin Hb ( 58.

jika P CO2 = 40 mmHg dan P O2 = 30 mmHg dan jika P CO2 = 80 mmHg dan P O2 = 50 mmHg. Integrasi Biokimia dalam Modul Kedokteran (Endah Wulandari & Laifa Annisa Hendarmin) pg. Contohnya pada P O2 = 140 mmHg pada saturasi 100% .yang harus ada yang disimpan untuk emergensi dikeluarkan untuk menghasilkan energi guna bertahan hidup untuk beberapa menit. Semakin menurun P O2 semakin banyak membutuhkan O2 akibatnya disosiasi meningkat selanjutnya O2 bebas semakin banyak ke jaringan. 180 . tetapi pada P O2 = 100 mmHg mencapai saturasi menurun sampai 97% menunjukkan terjadi proses pemecahan Hb O2 memnyebabkan disosiasi sebesar 3%. P O2 = 30 mmHg dengan kejenuhan tercapai 50% terjadi disosiasi dari pemecahan Hb O 2 → Hb + O2.5 Kurva Disosiasi oksigen Hb Gambar 9B. Untuk mencapai saturasi 5% tergantung pada P CO2 dilakukan penurunan saturasi tidak bersifat linier pada P O2 = 100 mmHg hingga P O2 = 50 mmHg saturasi meurun 17% dan pada P O2 = 140 hingga P O2 = 100 mmHg saturasi menurun 3%. Makin menurun P O2 menyebabkan saturasi HbO2 menurun akibatnya disosiasi meningkat. ada 3 titik untuk untuk mencapai saturasi 50% yaitu jika P CO2 = 20 mmHg dan P O2 = 23 mmHg.6 Pergeseran Kurva Disosiasi oksigen Hb Pada pergeseran kurva disosiasi oksigen Hb. Pada P CO2 = 40 mmHg. Gambar 9B.

181 . P CO2 = 40 (65%) dan P CO2 = 80 (50%). Pengaruh Temperatur Peningkatan suhu mempermudah pembebasan O 2 ke jaringan. P CO2 = 80 mmHg dikatakan asidosis respiratorik. Pada Hb teroksidasi tidak terdapat DPG. Pengaruh P CO2 terhadap disosiasi oksi-Hb disebut Efek Bohr yaitu Pada P O2 = 40 mmHg kejenuhan oksi Hb pada keadaan P CO2 = 20 (80%). Pengaruh P CO2 Pengaruh P CO2 antara lain dengan kondisi P CO2 = 40 mmHg dikatakan normal fisiologis. Semakin tinggai CO2 → identik dengan penurunan pH karena semakin banyak H + yang akan di hasilkan. Bila P CO2 meningkat dalam kurva disosiasi Oksi-Hb ke kanan dan P CO2 menurun menyebabkan kurva disosiasi Oksi-Hb ke kiri. masih ada cadangan yang dapat dipakai bila oksigenasi di paru mengalami gangguan. Peningkatan P CO2 menyebabkan penurunan pH.3 Bifosfogliserat (BPG/DPG) 2. Di jaringan P O2 = 40 banyak O2 dilepaskan (30%). Dalam satu sirkulasi darah jumlah O 2 berkurang 15 Vol %. P CO2 = 20 mmHg dikatakan alkalosis respiratorik. Pengaruh pH Pengaryh pH dimana CO2 membentuk H2CO3 selanjutnya H+ menyebabkan penurunan pH (melepas HCO3-). sehingga makin tinggi DPG makin tinggi pelepasan O2 dari oksi Hb. sehingga dissosiasi akan meningkat (karena kebutuhan O 2 meningkat akibatnya saturasi menurun. terikat kovalen dengan gugus alfa amino terminal residu valin pada rantai deoksi Hb.Pengaruh P O2 Pengaruh P O2 yaitu pada kondisi berikut : P CO2 = 40 (Jaringan) Kejenuhan Oksy Hb P O2 = 100 mmHg 98% P O2 = 80 mmHg 93% P O2 = 50 mmHg 80% P O2 = 40 mmHg 65% Pada P O2 = 80 mmHg : kapasitas pengikatan O2 tidak banyak berbeda pada P O 2 = 100 mmHg. DPG meningkat dissosiasi meningkat akibatnya P O2 Integrasi Biokimia dalam Modul Kedokteran (Endah Wulandari & Laifa Annisa Hendarmin) pg. Kadar 2.3 BPG merupakan zat antara metabolisme dalam glikolisis Emden-Meyerhof. Pengaruh Elektrolit Pengaruh elektrolit mempermudah pembebasan O2 dalam jaringan akibatnya elektrolit meningkat dan dissosiasi meningkat. DPG akan menggeser ke kanan. Karena peningkatan suhu meningkatkan metabolisme serta pengangkutan hasil metabolisme meningkat demikian pula kebutuhan O2 meningkat untuk metabolism. P CO2 =50 mmHg tekanan O2 dimana Hb 50% jenuh dengan O2.

maka ikatan Hb dan O2 menjadi menurun. 182 . Penting dimana CO2 dan DPG berikatan dengan NH2 -valin rantai  Hb. sehingga CO2 dan DPG kompetitif. dalam hal ini menguntungkan janin karena PO2 plasenta rendah. Variasi Gambaran Klinis Darah antara lain deoksi-Hb = reduced Hb akan berwarna merah gelap. Pengangkutan CO2 CO2 diangkut dalam eritrosit dan plasma. CO-Hb : Hb mempunyai afinitas terhadap CO 210 kali lebih besar dari pada terhadap O2 bila kadar CO 0. P O2 menurun menyebabkan kurva ke kiri. tapi dengan adanya DPG meningkat. afinitas Hb F terhadap DPG menurun menyebabkan P CO2 rendah sehingga membutuh suplai O2 yang tinggi. P CO2 meningkat 5 kali dan transport O2 15 kali. Ion karbonat dalam plasma 70% Ikatan karbamino Ikatan protein dan Hb . Bila P O2 > 4 mmHg : reaksi-reaksi kimia dalam jaringan dapat terus tanpa pengaruh O2 dan bila P O2 < 4 mmHg dipengaruhi persediaan Hb. Kecepatan transport O2 ke jaringan yaitu pada koefisien Pemakaian O2 normal 25%. Ikatan karbamino 20% 4. penting karena mempengaruhi reaksi : CO2 + H2O → H2CO3 → H+ + HCO3- 2. Kelainan Kongenital Hb yaitu HB F terjadi peningkatan Hb. DPG meningkat agar O2 yang berdissosiasi meningkat serta O2 yang dilepaskan ke jaringan akan meningkat dalam hal ini DPG menguntungkan. Pemakaian O2 di jaringan di atur berkaitan dengan persediaan O2 dan kadar ADP (cadangan energi).02% (pusing) dan 0. kurva dissosiasi ke kiri menyebabkan eritrosit yang mengandung Hb F mempunyai afinitas yang besar terhadap O2. Bila reduced Hb > 5 g% akan menyebabkan sianosis (bibir/mukosa terlihat biru misal gangguan oksigenasi pada peunomia berat dan keracunan sianida yang sukar terjadi pada anemia berat karena kadar Hb rendah tidak memungkinkan kadar red-Hb mencapai 5 g%. Oksi Hb berwarna merah terang dan CO-Hb berwarna merah cerry.akan meningkat. akan terjadi hipoksia ( naik gunung 2500-2750 m). CO2 yang larut 6% Secara fisiologis sedikit. DPG menurun menyebabkan dissosiasi menurun akibatnya saturasi Hb O2 menurun . tetapi mempengaruhi reaksi di atas H2CO3 → H+ + HCO3- 3. Pada latihan berat Koefisien O2 meningkat 3 kali. Pada kondisi anemia. Hb-NH2 → Hb-NHCOOH (melepas CO2). menyebabkan inspirasi terganggu dalam hal ini DPG merugikan.1% dalam 1 jam pingsan dan 4 jam meninggal. Peningkatan DPG. Integrasi Biokimia dalam Modul Kedokteran (Endah Wulandari & Laifa Annisa Hendarmin) pg. bentuk pengangkutan CO2 antara lain : 1. Hb mengikat O2 pada paru-paru. Protein-NH2 → Protein- NHCOOH (melepas CO2). arah kurva ke kanan. pada keadaan ini menurunkan afinitas Hb terhadap O2 sehingga udara inspirasi menurun. Hb F dan Hb A sama. Asam karbonat 4% Sebagai H2CO3 sedikit.

Transport CO2 dalam bentuk ikatan karbamino hanya 10%. tetapi efek haldane meningkatkan hingga 2x lipat pada waktu oksigenasi dan deoksigenasi di jaringan.→ H2CO3 → CO2 + H2O + Eliminasi CO2 dari darah setelah oksigenai diakibatkan meningkatnya proton yang kemudian berikatan dengan H2CO3 yang oleh karbonik anhidrase dipecah menjadi CO 2 dan H2O. H+ dan pH darah normal Ion karbonat dalam plasma dimana CO2 yang masuk plasma akan masuk ke dalam eritrosit. HHb → H+ + HbO2- H + H CO3. semakin berkurang Krabamino-Hb. Efek Haldane merupakan akibat dari red-Hb dimana oksigenasi Hb (menjadi P O 2 ) meningkatkan pelepasan proton (H+) dari molekul Hb. P O2 . Efek Haldane secara kwantitatif dalam meningkatkan transport CO 2 lebih penting dari pada Efek Bohr dalam meningkatkan transport O 2. CO2 dan N Efek Haldane Pengikatan O2 pada Hb akan mengeliminasi CO2 (pelepasan CO2 dari ikatannya sebagai karbamino-Hb). 7 Diagram hubungan HCO3-.Tabel 9B. dan di ubah menjadi H2CO3 yang terionisasi menjadi H+ + HCO3- CO2 + H2O → H2CO3 → H+ + HCO3- K Hb + H+ → HHb Integrasi Biokimia dalam Modul Kedokteran (Endah Wulandari & Laifa Annisa Hendarmin) pg. pengikatan O2 oleh Hb mengakibatkan eliminasi CO2 dari ikatan karbamino. Bila P CO2 > 15 mmHg pembentukan karbamino-Hb tidak dipengaruhi P CO2 tetapi dipengaruhi oksi-Hb.3 Perbandingan kadar O2 . 183 . Gambar 9B. Semakin asam Oksi-Hb.

184 . Plasma : protein plasma (10%) .4. Sistem Buffer Darah Dalam pengangkutan CO2 diperlukan buffer dalam: 1. pembentukan asam lambung dan sekresi H+ . fosfat eritrosit (25%). bikarbonat plasma (kecil) dan fosfat plasma (kecil) 2. protein plasma (10%) dan bikarbonat plasma-fosfat plasma-bikarbonat eritrosit (5%) Gambar 9B. campuran H2CO3 dan KHCO3 aadalah Dapar bikarbonat (pers. oksi-Hb (60%). Pengaruh CO2 terhadap pH darah yaitu pH darah normal = 7. H akan diikat oleh K Hb menjadi Hb + K . Kapasitas Dapar :Hb/ oksi-Hb (60%). Karbonik Anhidrase sangat berperan dalam reaksi ini. Sehingga HCO3.dari plasma masuk ke eritrosit (Chloride Shift). sel parietal lambung dan sel tubuli ginja. Karbonik anhidrase banyak dalam eritrosit. bila HCO3-/ H2CO3 > 20 (akalosis) dan bila HCO3-/ H2CO3 < 20 (asidosis). Eritrosit : Hb (60%). Peranan Karbonik anhidrase yaitu dalam eritrosit sebagai pengangkutan CO2. Hendersen-Hasselbach).8 Normogram sistem dapar HCO3-.CO2 dalam darah Integrasi Biokimia dalam Modul Kedokteran (Endah Wulandari & Laifa Annisa Hendarmin) pg. fosfat (25%) dan bikarbonat (kecil) 3.akan keluar dari eritrosit masuk ke plasma dan sebgai gantinya Cl .

88-1.Dapar Hb dan Oksi-hb Oksi-Hb merupakan asam yang relatif lebih kuat dari red-Hb. Transport CO2 tanpa perubahan pH darah disebut Isohydric transport of CO2. oksi Hb menjadi H Hb.darah vena < darah arteri atau kadar Cl .4 x 10-7 dan K oksi-Hb = 2. sedangkan H+ bereaksi dengan Hb. Hal di atas terjadi karena adanya chloride Shift yaitu HCO3 – yang keluar dari eritrosit di gantikan oleh Cl .35 : 1 Mol oksi-Hb melepaskan 1.88 mEq H+ . Akibat : kadar Cl. Dalam eritrosit CO2 meenjadi HCO3.masuk ke plasma dan diangkut ke paru-paru.di dapar (1. Pada saat yang sama hasil metabolisme masuk dalam darah.28) mEq H+ . perubahan H Hb menjadi Hb O2 yang disertai pelepasan H+ selanjutnya bergabung dengan HCO3. Perubahan pH sangat kecil karena : H+ di dapar oleh Hb merupakan asam lemah (sedikit berionisasi).dengan enzim karbonik anhidrase HO2CO3 terurai menjadi H+ dan HCO3.dalam plasma. 1 Mol red-Hb melepaskan 1. 9 Chloride Shift Integrasi Biokimia dalam Modul Kedokteran (Endah Wulandari & Laifa Annisa Hendarmin) pg.membentuk H2CO3. Pada pH =7. karena tekanan CO2 dalam paru rendah H2CO3 terurai menjadi CO2 dan H2O yang dikeluarkan bersama udara ekspirasi . Pada sistem dapar di paru-paru. Gambar 9B.→ H Hb. Chloride Shift Dapar Hb dan oksi-Hb 60% menybabkan pengangkutan CO2 (buffer dalam eritrosit).4 x 10-9 . Di jaringan bila 1 mol oksi-Hb 1 mEq H+ . Sistem dapar di jaringan terjadi karena P CO2 jaringan rendah terjadi pembebasan O2 . sehingga H Hb sebagai pH tidak berubah. K oksi-Hb = 2.28 mEq H+ . Pengangkutan CO2 terbesar dalam bentuk HCO3 . 185 .darah arteri > darah vena.yang masuk ke dalam eritrosit.

Alkalosis respiratorik : penurunan asam karbonat akibat hiperventilas. CO2 masuk ke eritrosit. Alkalosis metabolik : terjadi peningkatan bikarbonat dibandingan asam karbonat (hiperalkali..(dapar). Cl. 186 . keracunan morfin). KHb + H+ →K+ + HHb.Masuk erittrosit dan terbentuk KCl. Gangguan Keseimbangan Asam Basa antara lain asidosis respiratorik : terjadi peningkatan asam karbonat dibandingan bikarbonat (penumonia. defisiensi kalium). HCO3– akan keluar dari eritrosit ke plasma dan diangkut menjadi NaHCO 3 H. HCO3– yang keluar dari eritrosit sebgai gantinya. yang terbentuk : sebagian kecil keluar ke plasma dan sebagian besar berionisasi menjadi H + dan HCO3– . dengan bantuan karbonik anhidrase membentuk H2CO3. H2CO3. HCO3– dan Cl. Bila P CO2 rendah seperti dalam paru-paru maka terjadi sebaliknya. H2CO3. Integrasi Biokimia dalam Modul Kedokteran (Endah Wulandari & Laifa Annisa Hendarmin) pg. Pada Chloride Shift eritrosit permeabel terhadap CO2 .