You are on page 1of 34

PRESENTASI KASUS

KONDILOMA AKUMINATA

Disusun Untuk Memenuhi Syarat Kelulusan Kepaniteraan Klinik

Bagian Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin di Rumah Sakit Umum Daerah Salatiga

Disusun oleh :

Disusun Oleh:

Shafira Rizqa Ananda (20120310088)

Pembimbing:

dr. Lucky Handaryati, Sp. KK

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI DOKTER


FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
2017
HALAMAN PENGESAHAN

Telah disetujui dan disahkan refleksi kasus dengan judul

KONDILOMA AKUMINATA

Disusun oleh:

Shafira Rizqa Ananda (20120310088)

Telah dipresentasikan

Hari/Tanggal:

Senin, 27 November 2017

Disahkan oleh:

Pembimbing:

dr. Lucky Handaryati, Sp. KK


BAB I

STATUS PASIEN

I. Identitas Pasien
Nama : Ny. CE
Usia : 57 tahun
Agama : Kristen
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Tanggal Pemeriksaan : 7 November 2017

II. Anamnesa
a. Keluhan Utama
Terdapat benjolan kecil-kecil di bagian alat kelaminnya.

b. Riwayat Penyakit Sekarang


Pasien datang ke poli klinik kulit kelamin RSUD Salatiga dengan
keluhan terdapat benjolan seperti kutil di daerah kemaluannya. Benjolan
tersebut pada mulanya muncul sekitar 10 hari SMRS. Terdapat benjolan
berukuran kecil sekitar 0.5 cm x 0.5 cm x 0.5 cm dan bertambah banyak
dari hari ke hari. Benjolan tersebut tidak membesar dan tidak sakit ataupun
gatal. Pasien juga tidak mengalami keputihan. Namun, pasien khawatir
akan berakibat buruk apabila benjolan tersebut tidak ditangani.

c. Riwayat Penyakit Dahulu


Pasien tidak pernah memiliki keluhan seperti ini sebelumnya. Pasien
juga menyangkal adanya penyakit sistemik seperti diabetes melitus dan
hipertensi. Pasien juga menyangkal pernah menderita penyakit kelamin
lainnya.

d. Riwayat Penyakit Keluarga


Pasien menyangkal terdapat keluhan yang sama pada suami.
e. Riwayat Lingkungan Sosial
Pasien adalah seorang ibu rumah tangga, aktifitas sehari-harinya
paling banyak dihabiskan di dalam rumah. Pasien masih aktif berhubungan
sex dengan suaminya, yang bekerja sebagai pensiunan guru namun sering
pergi ke luar kota. Suami pasien tidak mengeluhkan hal serupa, tidak
terdapat bintil pada daerah kemaluannya, menurut pasien. Riwayat
hubungan sex dengan pasangan yang lain disangkal oleh pasien. Pasien
sempat berhubungan sex satu kali ketika sudah mengalami keluhan
tersebut.

III. Pemeriksaan Fisik

1. Status Generalis

Keadaan Umum : Baik


Kesadaran : Compos Mentis
Tanda Vital :
Tekanan Darah : tidak dilakukan
Nadi : 72 x/menit
Pernapasan : 20 x/menit
Kepala : Tidak ada kelainan
Thorax : Tidak ada kelainan
Abdomen : Tidak ada kelainan
Ekstremitas : Tidak ada kelainan
Genitalia : tampak lesi kulit (lihat status dermatologis)

2. Status Dermatologik

Lokasi : genitalia

Efloresensi : Papul-papul verukosa (permukaan kasar), soliter, ukuran


0.5 cm x 0.5 cm x 0.5 cm
IV. Resume
Pasien datang ke poli klinik kulit kelamin RSUD Salatiga dengan
keluhan terdapat benjolan seperti kutil di daerah kemaluannya. Benjolan
tersebut pada mulanya muncul sekitar 10 hari SMRS. Terdapat benjolan
berukuran kecil sekitar 1x1 cm dan bertambah banyak dari hari ke hari yang
bejumlah kurang lebih 10 buah. Benjolan tersebut tidak membesar dan tidak
sakit ataupun gatal. Pasien juga tidak mengalami keputihan. Namun, pasien
khawatir akan berakibat buruk apabila benjolan tersebut tidak ditangani.
Pasien adalah seorang ibu rumah tangga, aktifitas sehari-harinya paling banyak
dihabiskan di dalam rumah. Pasien masih aktif berhubungan sex dengan
suaminya, yang bekerja sebagai pensiunan guru namun sering pergi ke luar
kota. Suami pasien tidak mengeluhkan hal serupa, tidak terdapat bintil pada
daerah kemaluannya, menurut pasien. Riwayat hubungan sex dengan pasangan
yang lain disangkal oleh pasien. Pasien sempat berhubungan sex satu kali
ketika sudah mengalami keluhan tersebut.
Dari hasil pemeriksaan fisik (status dermatologis) didapatkan hasil
berupa: papul-papul verukosa (permukaan kasar) yang berjumlah 5 buah
(soliter), ukuran 1 cm x 0,5 cm x 0.5 cm.

V. Diagnosa Kerja
Kondiloma Akuminata

VI. Diagnosa Banding


1. Molukum Kontangiosum
2. Veruka Vulgaris

VII.Terapi
TCA 50 % 1 dd ue
Cefixim 1 x 100 mg
Asam mefenamat 1 x 500 mg
Asam Fusidat cream 2 % 2 dd ue (bila luka)

VIII. Prognosis
Quo ad Vitam : dubia ad bonam
Quo ad Fungsionam : dubia ad bonam
Quo ad Sanationam : dubia ad malam
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. DEFINISI

Kondiloma akuminata adalah kelainan kulit memiliki bentuk

vegetasi bertangkai dengan permukaan berjonjot dan disebabkan oleh virus

yaitu Human Papilloma Virus (HPV) dari berbagai sub tipe1. Kondiloma

adalah tumor jinak epiderma yang disebabkan oleh infeksi human papilloma

virus (HPV) pada kulit dan mukosa2,3

B. EPIDEMIOLOGI

Frekuensi terjadinya kondiloma akuminata pada pria dan wanita


sama, penyebarannya kosmopolit, dan transmisinya bisa melalui kontak
kulit langsung maupun hubungan seksual1
Kondiloma akuminata adalah penyakit infeksi menular seksual yang
paling sering terjadi setelah genital herpes.4

Sebanyak 65% orang yang yang melakukan hubungan seksual


dengan pasangan yang terinfeksi kondiloma akuminata akan tertular, dan
90% disebabkan oleh non-oncogenic HPV tipe 6 dan 11.4

C. ETIOLOGI

Virus penyebabnya adalah Human Papilloma Virus (HPV), ialah

virus DNA yang tergolong dalam family virus Papova. Sampai saat ini telah

dikenal sekitar 60 tipe VPH , namun tidak seluruhnya dapat menyebabkan

kondiloma akuminata. Tipe yang pernah ditemui pada kondiloma


akuminata adalah tipe 6, 11, 16,18, 30,31, 33,35, 39, 41, 42, 44, 51, 52, dan

56.5

Pada referensi lain menyebutkan, lebih dari 120 subtipe yang

berbeda dari HPV yang telah diidentifikasi, dengan 40 subtipe yang mampu

menginfeksi traktus anogenital. Jenis ini dapat dibagi menjadi 3 kategori

yaitu low risk, intermediate risk, dan high risk. HPV tipe 6 dan 11 jarang

menimbulkan kanker serviks sehingga disebut subtipe low risk. Infeksi dari

genotif ini bertanggung jawab sekitar 90% pada formasi genital warts.

Sebaliknya tipe 16 dan 18 sangat berhubungan dengan displasia serviks

sehingga dianggap high risk, subtipe onkogenik. Penelitian menunjukkan

infeksi pada genotif ini adalah sampai 70% terjadi Squamous Cell

Carcinoma (SCC) dari serviks. HPV tipe 31, 33, 45, 51, 52, 56, 58, dan 59

adalah tipe intermediate risk, sering ditemukan pada neoplasma skuamosa,

tetapi jarang dihubungkan dengan SCC serviks. Pasien dengan kondiloma

akuminata dapat terinfeksi stimultan oleh beberapa jenis HPV.6


Beberapa tipe HPV tertentu mempunyai potensi onkogenik yang

tinggi, yaitu tipe 16 dan 18. Tipe ini merupakan jenis virus yang paling

sering dijumpai pada kanker serviks. Sedangkan tipe 6 dan 11 lebih sering

ditemui pada kondiloma akuminata dan neoplasia intraepitelial serviks

derajat ringan.1 kondiloma juga dapat menjadi koinfeksi yang “high risk”

HPV seperti HPV tipe 16. Merupakan penyakit menular seksual, dengan

transmisi rata-rata 60% di antara partner seksual.7

D. FAKTOR RESIKO

a. Usia dan jenis kelamin

Pakar mengemukakan, usia adalah faktor risiko independen pada

kondiloma akuminata, 80% penderita kondiloma akuminata terjadi pada

usia 17-33 tahun, puncak usia menderita penyakit ini di usaia 20-24
tahun. Pria rata-rata diusia 22 tahun bisa menderita kondiloma

akuminata dan wanita 19 tahun, pria wanita proporsi adalah 1:1,4.

b. Status perkawinan dan kehamilan

Data menunjukan perceraian, suami istri tidak serumah, janda atau

duda, belum nikah adalah paling mudah menderita kondiloma

akuminata, karena keadaan diatas mudah terjadi perilaku seksual yang

berisiko tinggi.

Penyakit ini tidak mempengaruhi kesuburan, hanya pada masa

kehamilan pertumbuhannya makin cepat, dan jika pertumbuhannya

terlalu besar dapat menghalangi lahirnya bayi dan dapat timbul

perdarahan pasca persalinan. Selain itudapat juga menimbulkan

kondiloma akuminata atau papilomatosis laring (kutil padasaluran

nafas) pada bayi baru lahir.

c. Fungsi kekebalan tubuh lemah

Kekebalan tubuh lemah individual seperti tumor ganas, kemoterapi

imunosupresif dan mengunakan dexamethasone. Persentase menderita

kondiloma akuminata serta persentase kambuh juga tinggi dan jumlah

kutil pun bertambah banyak.

d. Merokok dan minum alkohol

Merokok dapat menurunkan daya tahan tubuh, dan persentase

menderita penyakit ini pun bertambah berdasarkan lama merokok dan

jumlah batang rokok yang dihisap per hari. Minum alkohol juga bisa

menghambat kekebalan tubuh. Merokok dan alkohol bisa menghambat

sistem saraf tengah, mengurangi kecemasan, meningkatan libido, resiko


seksual pun bertambah, sehingga meningkatkan kekambuhan akuminata

mudah.

e. Hubungan seksual

Berdasarkan hasil penelitian dan statistik menunjukan, penyebab

terjadinya kondiloma akuminata karena memiliki banyak pasangan

yang menderita kondiloma akuminata, dan tingkat kekambuhan lebih

tinggi dibandingkan pasangan seksual tunggal.

f. Pemakaian kontrasepsi yang tidak tepat

Berdasarkan banyak hasil penelitian menunjukan infeksi HPV bisa

dicegah dimana harus mengunakan alat kontrasepsi. Penelitian lain

menunjukan, penyebab terjadinya kondiloma akuminata dimana wanita

yang mengunakan obat kontrasepsi persentase terjadinya kondiloma

akuminata lebih tinggi dibandingkan tidak memakai obat kontrasepsi.

g. Menderita penyakit lain

Penyebab terjadinya kondiloma akuminata ada hubungannya

dengan penyakit menular seksual lainnya seperti alat kelamin, kencing

nanah dan AIDS. Banyak penderita kondiloma akuminata bisa

menyebabkan penyakit kelamin lainnya, dan beberapa patogen penyakit

menular seksual merusak mukosa, sehingga kemampuan tubuh

melawan HPV pun menurun.

E. PATOFISIOLOGI

Kondiloma akuminata dapat disebabkan kontak dengan penderita


yang terinfeksi HPV. HPV ini masuk melalui mikro lesi pada kulit, biasanya
pada daerah kelamin dan melakukan penetrasi pada kulit sehingga
menyebabkan abrasi permukaan epitel. Human Papilloma Virus adalah
epiteliotropik; yang sifatnya mempunyai afinitas tinggi pada sel-sel epitel.
Replikasinya tergantung pada adanya diferensiasi epitel skuamosa. Virus
DNA (Deoxyribonucleic Acid) dapat ditemukan pada lapisan terbawah dari
epitel. Protein kapsid dan virus infeksius ditemukan pada lapisan superfisial
sel-sel yang berdiferensiasi. HPV dapat masuk ke lapisan basal,
menyebabkan respon radang. Pada wanita menyebabkan keputihan dan
infeksi mikroorganisme. HPV yang masuk ke lapisan basal sel epidermis
dapat mengambil alih DNA dan mengalami replikasi yang tidak
terkendali.8,9

Fase laten virus dimulai dengan tidak adanya tanda dan gejala yang
dapat berlangsung sebulan bahkan setahun. Setelah fase laten, produksi
virus DNA, kapsid dan partikel dimulai. Sel dari tuan rumah menjadi
infeksius dari struktur koilosit atipik dari kondiloma akuminata
(morphologic atypical koilocytosis of condiloma acuminate) berkembang.
Lamanya inkubasi sejak pertama kali terpapar virus sekitar 3 minggu
sampai 8 bulan atau dapat lebih lama.3 HPV yang masuk ke sel basal
epidermis ini dapat menyebabkan nodul kemerahan di sekitar genitalia.
Penumpukan nodul merah ini membentuk gambaran seperti bunga kol.
Nodul ini bisa pecah dan terbuka sehingga terpajan mikroorganisme dan
bisa terjadi penularan karena pelepasan virus bersama epitel.10
HPV yang masuk ke epitel dapat menyebabkan respon radang yang
merangsang pelepasan mediator inflamasi yaitu histamin yang dapat
menstimulasi saraf perifer. Stimulasi ini menghantarkan pesan gatal ke otak
dan timbul impuls elektrokimia sepanjang nervus ke dorsal spinal cord
kemudian ke thalamus dan dipersepsikan sebagai rasa gatal di korteks
serebri. Pada wanita yang terinfeksi HPV dapat menyebabkan keputihan
dan disertai infeksi mikroorganisme yang berbau, gatal dan rasa terbakar
sehingga tidak nyaman pada saat melakukan hubungan seksual.10
Hubungan seksual

Kontak dengan HPV

PV 6 & 11 masuk
melalui mikro lesi

Penetrasi melalui kulit

Ditumpangi oleh patogen Mikroabrasi permukaan epitel

HPV masuk lapisan basal


Keputihan Respon radang
disertai infeksi
mikrorganisme Mengambil alih DNA
Merangsang
mediator kimia:
Bau, berwarna histamin
kehijauan HPV naik ke epidermis
Stimulasi saraf perifer

Gatal dan terasa Bereplikasi


Menghantarkan pesan
terbakar
gatal ke otak
Tidak terkendali
Tidak nyaman Impuls elektronikimia
saat melakukan (gatal) sepanjang nervus ke
hubungan dorsal spinal cord Nodul kemerahan di
seksual sekitar genitalia
Gangguan Thalamus
pola fungsi
Penumpukan nodul merah Gangguan
seksual Korteks (intensitas) dan
membentuk seperti bunga citra diri
lokasi gatal kol
dipersepsikan
Persepsi gatal Pecah/muncul lesi Gang. Integritas
kulit
Gangguan rasa
Lesi terbuka,
nyaman : Gatal
terpajan
mikroorganisme
Pelepasan virus
bersama sel epitel

Resti
penularan
F. KLASIFIKASI

Pada pria tempat predileksinya di perineum dan sekitar anus, sulkus

koronarius, glans penis, muara uretra eksterna, korpus dan pangkal penis.

Pada wanita di daerah vulva dan sekitarnya, introitus vagina, kadang pada

porsio uteri. Pada wanita yang banyak mengeluarkan fluor albus atau wanita

yang hamil pertumbuhan penyakit lebih cepat.7

Secara klinis kondiloma akuminata dibagi 3, yaitu11:

1. Bentuk akuminata

Terlihat vegetasi bertangkai dengan permukaan yang berjonjot-jonjot

seperti jari. Beberapa kutil dapat bersatu membentuk lesi yang lebih

besar sehingga tampak seperti kembang kol. Lesi yang besar ini sering

ditemui pada wanita yang mengalami flour albus dan pada wanita hamil

atau dengan gangguan imunitas.

Gambar 1. Condylomata acuminata penis with Multiple cauliflower

floret-lke papules
Gambar 2. Condylomata acuminata penis with Multiple cauliflower

floret-lke papules

2. Bentuk papul

Lesi berbentuk papul biasanya didapati di daerah dengan keratinisasi

sempurna, seperti batang penis, vulva bagian lateral, daerah perianal,

dan perineum. Kelainan berupa papul dengan permukaan yang halus dan

licin, multiple, dan tersebar secara diskret.

Gambar 3. Kondiloma akuminata dengan lesi berbentuk papul

3. Bentuk datar

Secara klinis, lesi terlihat seperti macula atau bahkan sama sekali tidak

tampak dengan mata telanjang (infeksi subklinis), dan baru terlihat saat

pemeriksaan asam asetat.


Gambar 4. Penile condylomata acuminate (genital warts)

Selain ketiga bentuk diatas juga dijumpai bentuk klinis lainnya yang telah

diketahui berhubungan dengan keganasan pada genitalia, yaitu:

1. Giant Condyloma Buschke – Lowenstein

Diklasifikasikan sebagai karsinoma sel skuamosa dengan keganasan

derajat rendah. Hubungan dengan KA dengan Gian Condyloma

Buschke – Lowenstein adalah ditemukannya HPV tipe 6 dan tipe 11.

Klinis tampak sebagai kondiloma yang besar, bersifat invansif local dan

tidak bermetastasis.

Gambar 5. Giant condylomata acuminate (Buschke–Löwenstein tumor).


2. Papulosis Bowenoid

Secara klinis berupa papul likenoid berwarna coklat kemerahan dan

dapat berkonfluens menjadi plakat. Ada pula lesi yang berbentuk

macula eritematosa dan lesi yang mirip leukoplakiaatau lesi subklinis.

Permukaan lesi papulosis Bowenoid biasanya halus atau hamya sedikit

papilomatosa.

Gambar 6. Bowenoid papulosis of the vulva (histologically vulvar intraepithelial

neoplasia, VIN)

G. MANIFESTASI KLINIK

Kebanyakan pasien dengan kondiloma akuminata datang dengan

keluhan ringan. Keluhan yang paling sering adalah ada bejolan atau terdapat

lesi di perianal.7

1. Gejala

Kebanyakan pasien hanya mengeluhkan adanya lesi, yang

dinyatakan tanpa gejala. Jarang terdapat gejala seperti gatal, perdarahan,

atau dispaurenia. Tetapi terkadang lesi dapat menimbulkan


ketidaknyamanan, rasa panas, dan pruritus. Lesi yang besar dapat

berdarah dan iritasi bila kontak dengan pakaian atau selama hubungan

seksual.5

2. Tanda-Tanda Fisik

Kondiloma biasanya pada jaringan yang lembab pada area

anogenital. Lesi sering ditemukan di daerah yang mengalami trauma

selama hubungan seksual. Pada pria tempat predileksinya di perineum

dan sekitar anus, sulkus koronarius, glands penis, muara uretra eksterna,

korpus dan pangkal penis. Pada wanita di daerah vulva dan sekitarnya,

introitus vagina, kadang-kadang pada porsio uteri. Terkadang dapat

berkembang di mulut atau tenggorokam setelah kontak seksual secara

oral yang terinfeksi dari partnernya. Kondiloma akuminata memiliki

bentuk yang sangat bervariasi, mungkin flat (datar), dome-shaped

(seperti kubah), cauliflower-shape (kembang kol) atau pedunculated.

Kondiloma dapat bermanifestasi sebagai soliter keratotik papul atau

plak. Awalnya dalam bentuk kecil, ukuran 1-2 mm flesh-colored papule

dari kulit dan bentuk ini dapat bertahan selama infeksi.6

Kelainan kulit berupa vegetasi yang bertangkai dan

berwarna kemerahan kalau masih baru, jika telah lama agak kehitaman.

Permukaannya berjonjot (papilomatosa) sehingga pada vegetasi yang

besar dapat dilakukan percobaan sondase. Jika timbul infeksi sekunder

warna kemerahan akan berubah menjadi keabu-abuan dan berbau tidak

enak.7
Terdapat lesi pada penis, gambaran multiple kembang kol pada batang dan kulit penis.

Kondiloma Akuminata pada Vulva. Multiple papuls pada labia yang berwarna
pink-coklat.

Vegetasi yang besar disebut sebagai giant condyloma

(Buschke) yang pernah dilaporkan menimbulkan degenerasi maligna,

sehingga harus dilakukan biopsy. sering terdapat pada gland penis,

daerah perianal.5
Giant condyloma dari Buschke-Lowenstein atau Buschke-

Loewenstein tumor (BLT) pertama kali ditemukan oleh Buschke pada tahun

1886. Oleh Buschke dan Loewenstein tahun 1925, kemudian dinamai oleh

Loewenstein “carcinoma-like condyloma acuminata” pada penis.

Pertumbuhannya sangat lambat tumor verukosa dan mencapai ukuran besar.

Beberapa penulis menyebutkan bahwa etiologinya adalah HPV low risk

yaitu tipe 6 dan 11, sementara yang lain melaporkan pentingnya munculnya

HPV risiko tinggi onkogenik yaitu tipe 16 dan 18. Faktor risikonya adalah

kebersihan yang buruk, pasien yang tidak disirkumsisi, seks bebas, iritasi

kronik, imunosupresi karena infeksi virus HIV.6

H. PENEGAKKAN DIAGNOSIS

a. Anamnesis

 Partner seksual multipel dan usia coitus yang lebih muda merupakan

faktor risiko kondiloma akuminata.

 Umumnya, 2/3 dari individu yang memiliki pasangan kontak

seksual dengan kondiloma akuminata, lesi dapat berkembang dalam

waktu 3 bulan.

 Keluhan utama biasanya salah satu benjolan nyeri, pruritus atau

discharge. Terlibatnya lebih dari satu area sering terjadi. Riwayat

lesi multipel.

 Lesi pada mukosa oral, laring atau trakea (tapi jarang) mungkin

terjadi karena kontak oral-genital.


 Riwayat hubungan seksual anal baik pada lak-laki maupun

perempuan dapat menyebabkan lesi pada perianal.

 Perdarahan uretra atau obstruksi uretra meskipun jarang dapat

terjadi, dapat disebabkan oleh kondiloma yang terdapat di meatus.

 Riwayat pasien dengan PMS sebelumnya atau sedang terjadi.

 Perdarahan saat koitus dapat terjadi. Perdarahan vagina selama

kehamilan terjadi karena erupsi dari kondiloma.11

b. Pemeriksaan Fisik

 Erupsi papular single atau multipel dapat diobservasi. Erupsi

mungkin muncul mutiara, filiform, kembang kol (caulifowler) atau

plaquelike. Semuanya ini dapat secara halus (terutama pada penis),

verukosa atau lobular. Erupsi ini mungkin tidak berbahaya atau

dapat mengganggu penampilan.

 Warna erupsi mungkin sama dengan warna kulit atau dapat juga

eritema atau hiperpigmentasi. Periksa ketidakteraturan dalam

bentuk, warna yang mensugesti melanoma atau keganasan.

 Kecenderungan pada glands penis pada pria dan daerah vulvovagina

dan serviks pada perempuan.

 Lesi meatus uretra dan mukosa dapat terjadi.

 Mencari adanya klinis dari PMS lainnya (misalnya ulserasi,

adenopati, vesikelm discharge).

 Melihat lesi perianal, terutama pada pasien dengan riwayat atau

risiko dari imunosupresi atau hubungan seksual secara anal.11

c. Pemeriksaan Penunjang
 Kolposkopi (Stereoskopi Mikroskopik)

Hal ini sangat berguna untuk mengidentifikasi (sebagian besar)

lesi pada serviks, dimana lebih baik mengidentifikasi dengan

menggunakan asam asetat.

 Biopsi

Biopsi diindikasikan untuk lesi yang atipikal, rekurent setelah

terapi awal berhasil atau resisten terhadap pengobatan atau pasien

dengan risiko tinggi untuk neoplasia atau imunosupresi. Biopsi

tidak diperlukan untuk kutil anogenital yang khas.

I. DIAGNOSIS BANDING

a. Veruka vulgaris

Vegetasi yang tidak bertangkai, kering dan berwarna abu-

abu atau sama dengan warna kulit. Terutama terdapat pada anal-anak,

tetapi dapat juga pada dewasa dan orang tua. Tempat predileksinya

terutama di ekstremitas bagian ekstensor, walaupun penyebarannya

dapat ke tubuh bagian lain termasuk mukosa mulut dan hidung. Kutil ini

bentuknya bulat berwarna abu-abu, besarnya lentikular, permukaan

kasar (verukosa). Dengan goresan dapat timbul autoinkolusi sepanjang

goresan (fenomenan Kobner).6


b. Kondiloma latum

Pada sifilis, biasanya dengan permukaan rata dan STS

positif, ditemukan banyak Spirochaeta pallidum dengan mikroskop

lapangan gelap.12

c. Karsinoma sel skuamosa

Vegetasi yang seperti kembang kol, mudah berdarah dan

berbau. Karsinoma sel skuamosa berasal dari sel epidermis yang

mempunyai beberapa tingkat kematangan, dapat intraepidermal, dapat

pula bersifat invasif dan bermetastasis jauh. Umur yang paling sering

adalah 40-50 tahun (dekade V-VI).6


d. Moluskum Kontagiosum

Penyakit yang disebabkan oleh pox virus, klinis berupa

papul-papul, pada permukaannya terdapat lekukan, berisi massa yang

mengandung badan moluskum. Penyakit ini merupakan penyakit akibat

hubungan seksual. Transmisinya melalui kontak kulit langsung.

Lokalisasi di daerah muka, badan dan esktremitas, sedangkan pada

orang dewasa di daerah pubis dan genitalia eksterna.4

J. PENATALAKSANAAN

Banyak metode pengobatan kondiloma akuminata tetapi secara umum dapat

dibedakan menjadi kemoterapi, dan bedah.

1. Kemoterapi
a. Podophyllin

Podophyllin pertama direkomendasikan untuk pengobatan

kondiloma oleh Culp dan Kaplan pada tahun 1942, bahan ini adalah

agen sitotoksik yang berasal dari resin podofilum emodi dan

peltatum podofilum yang mengandung senyawa lignin biologis aktif,

termasuk podofilox, yang merupakan komponen paling aktif

terhadap kondiloma akuminata. Podophyllin memiliki keuntungan

menjadi mudah digunakan dan sangat murah. Yang digunakan iaah

tingtura podofilin 25%. Kulit disekitarnya dilindungi dengan vaselin

atau pasta agar tidak terjadi iritasi. Jika belum ada penyembuhan

dapat diulangi setelah 3 hari. Setiap kali pemberian jangan melebihi

0,3 cc karena akan diserap dan bersifat toksik. Gejala toksisitas ialah

mual, muntah, nyeri abdomen, gangguan alat napas, dan keringat

yang disertai kulit dingin. Dapat pula terjadi supresi sumsum tulang

yang disertai trombositopenia dan leukopenia. Pada wanita hamil

sebaiknya jangan diberikan karena dapat terjadi kematian fetus.4

Beberapa kelemahan, termasuk keterbatasan penggunaan

dan toksisitas sistemik. Podophyllin harus dicuci setelah 6 jam

karena sangat mengiritasi kulit normal di sekitarnya dan

menyebabkan reaksi lokal yang parah berupa dermatitis, nekrosis,

dan jaringan parut. 6

b. Bichloracetic Acid atau Trichloracetic Acid

Bichloracetic Acid adalah keratolitik kuat dan telah berhasil

digunakan untuk terapi kondiloma akuminata. Seperti podophyllin,


Bichloracetic Acid atau Trichloracetic Acid murah dan mudah

diterapkan. Namun, juga dapat menyebabkan iritasi kulit lokal dan

seringkali memerlukan kunjungan beberapa kali, umumnya pada

interval mingguan. Dalam sebuah studi oleh Swerdlow dan Salvati,

bichloracetic acid dan trichloracetic acid lebih nyaman digunakan

oleh pasien dan memiliki kemungkinan kekambuhan yang minimal

dibandingkan yang lain. Mempunyai efek kaustik dengan

menimbulkan koagulasi dan nekrosis pada jaringan superfisial

terutama pada bentuk hiperkeratotik . 6

c. 5-fluorourasil

Konsentrasinya antara 1-5% dalam krim. Bersifat sebagai

antimetabolit yang dapat mengganggu sintesis DNA, dipakai

terutama pada lesi di meatus uretra. 5-FU krem 1 % digunakan 2 kali

sehari secara periodik selama 2-6 minggu, dan krem 5% digunakan

4 kali sehari secara. periodik selama 10 minggu. Sebaiknya

penderita tidak miksi selam 2 jam setelah pengobatan.4

2. Bedah Terapi

a. Elektrokauterisasi

Elektrokauterisasi adalah cara yang efektif untuk

menghancurkan kondiloma akuminata di anus internal dan eksternal

tetapi teknik ini memerlukan anestesi lokal dan tergantung pada

keterampilan operator untuk mengontrol kedalaman dan lebar

kauterisasi tersebut. Mengontrol kedalaman luka penting untuk

mencegah jaringan parut dan luka pada sfingter ani mendasarinya.


Luka bakar melingkar harus dihindari untuk mencegah stenosis ani.

Jika penyakit ini sangat luas atau melingkar, upaya-upaya harus

dilakukan untuk mempertahankan kontinuitas kulit.6

b. Eksisi bedah

Eksisi bedah telah lama digunakan untuk mengobati

kondiloma akuminata dengan tingkat keberhasilan tinggi.

Kombinasi eksisi dan elektrokauter dianggap sebagai gold standard

untuk pengobatan kondiloma akuminata.6

c. Bedah Beku (N2, N2O cair)

Bedah beku merupakan metode pengobatan umum

dermatologist, berbahan dasar nitrogen atau karbondioksida cair, es

beku kering penghancur kulit, penghancur kulit untuk edema lokal,

bertujuan untuk mencapai tujuan pengobatan. Virus kondiloma

akuminata menyebabkan terjadinya hiperplasia prostatik jinak pada

kulit dan membran mukosa. Ini memiliki pembuluh darah lecil

dalam jumlah banyak, berproliferasi secara cepat. Metode dapat

menggunakan es beku untuk kondiloma akuminata, membentuk

edema lokal derajat tinggi. Keuntungan yang paling bagus dari

bedah beku ini ialah hanya bersifat lokal tanpa meninggalkan bekas,

tingkat keberhasilan pengobatan kira-kira 70%. Tersedia dalam

metode semprot atau kontak langsung, mampu diaplikasikan pada

bentuk kecil. Dapat digunakan dalam 1 minggu sebanyak 2-3 kali.

Bedah beku ini banyak menolong untuk pengobatan kondiloma

akuminata pada wanita hamil dengan lesi yang banyak dan basah.
3. Terapi Laser

Terapi laser karbon dioksida untuk menghancurkan kondiloma

pertama kali dilaporkan oleh Baggish pada tahun 1980. Sebuah tingkat

keberhasilan keseluruhan dari 88 sampai 95% telah dilaporkan. Ini mirip

dengan elektrokauter, namun ablasi laser memiliki tingkat kekambuhan

tinggi dan menimbulkan nyeri pasca operasi, keuntunganya luka lebih

cepat sembuh, dan meninggalkan sedikit jaringan parut.4,6

4. Interferon

Dapat diberikan dalam bentuk suntikan (i.m atau intralesi) dan

topikal (krim). Interferon alfa diberikan dengan dosis 4-6 mU. i.m 3 kali

seminggu selama 6 minggu atau dengan dosis 1-5 mU i.m selama 6

minggu. Interferon beta diberikan dengan dosis 2x106 unit i.m selama

10 hari berturut-turut.4

Interferon tidak direkomendasikan sebagai modalitas pengobatan

utama. Diproduksi secara alami oleh protein dengan antivirus, antitumor

dan immunomodulatory actions.

5. Imunoterapi

Pada penderita dengan lesi yang luas dan resisten terhadap

pengobatan dapat diberikan pengobatan bersama imunostimulator.4

K. PENCEGAHAN

Pencegahan dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:

1. Pasien wanita harus diberitahu tentang skrining sitologi serviks sesuai


dengan pedoman lokal/nasional. Rekomendasi di Inggris adalah bahwa
perempuan dengan kondiloma akuminata harus diskrining sesuai
dengan pedoman standar.
2. Konseling tentang PMS (Penyakit Menular Seksual) dan pencegahan
penularannya.
3. Analisis apakah kondom melindungi terhadap penularan HPV yang
lebih kompleks dengan hasil yang beragam. Namun data terbaru
menunjukkan bahwa penggunaan kondom laki-laki dapat melindungi
perempuan terhadap penularan HPV.

L. KOMPLIKASI

 Transformasi untuk keganasan genitourinaria pada laki-laki maupun

perempuan

 Penularan pada neonatus

 Kondiloma akuminata yang berulang. 11

 Pre-cancer dan cancer

Pre-malignant (vulva, anal, penile intra-epithelial neoplasia) atau lesi

invasif (vulva, anal dan kanker penis) dapat muncul bersamaan dengan

kondiloma. Bowenoid papulosis (BP) adalah lesi coklat kemerahan yang

dihubungkan dengan tipe HPV yang onkogenik dan merupakan bagian

dari spektrum klinis neoplasia intraepithelial anogenital. Biopsi dapat

dilakukan. Varian lain yang jarang adalah HPV tipe 6/11 yaitu penyakit

kondiloma raksasa atau Buschke-Lowenstein tumor. Ini merupakan

karsinoma verukosa, ditandai dengan infiltrasi lokal yang agresig sampai

ke struktur dermal.7
M. PROGNOSIS

Walaupun sering mengalami residif, prognosisnya baik. Faktor

predisposisinya dicari, misalnya higiene, adanya flour albus, atau

kelembaban pada pria akibat tidak disirkumsisi.6

Banyak pasien baik itu gagal untuk merespon pengobatan atau

rekuren. Tingkat kekambuhan lebih dari 50% setelah 1 tahun dihubungkan

dengan:

 Infeksi berulang dari kontak seksual

 Masa inkubasi yang panjang dari HPV

 Lokasi virus pada lapisan kulit superfisial

 Virus yang persisten di kulit, folikel rambut

 Lesi yang dalam

 Lesi subklinik

 Anunderlying immunosuppression. 11
BAB III

DISKUSI

Pasien datang ke poli klinik kulit kelamin RSUD Salatiga dengan keluhan

terdapat benjolan seperti kutil di daerah kemaluannya. Benjolan tersebut pada

mulanya muncul sekitar 10 hari SMRS. Terdapat benjolan berukuran kecil sekitar

1x1 cm dan bertambah banyak dari hari ke hari yang bejumlah kurang lebih 10

buah. Benjolan tersebut tidak membesar dan tidak sakit ataupun gatal. Pasien juga

tidak mengalami keputihan. Namun, pasien khawatir akan berakibat buruk apabila

benjolan tersebut tidak ditangani.

Pasien adalah seorang ibu rumah tangga, aktifitas sehari-harinya paling

banyak dihabiskan di dalam rumah. Pasien masih aktif berhubungan sex dengan

suaminya, yang bekerja sebagai pensiunan guru namun sering pergi ke luar kota.

Suami pasien tidak mengeluhkan hal serupa, tidak terdapat bintil pada daerah

kemaluannya, menurut pasien. Riwayat hubungan sex dengan pasangan yang lain

disangkal oleh pasien. Pasien sempat berhubungan sex satu kali ketika sudah

mengalami keluhan tersebut.

Dari hasil pemeriksaan fisik (status dermatologis) didapatkan hasil berupa:

papul-papul verukosa (permukaan kasar) yang berjumlah 5 buah (soliter), ukuran 1

cm x 0,5 cm x 0.5 cm.

Kondiloma akuminata merupakan salah satu manifestasi klinis yang

disebabkan oleh infeksi Human Papillomavirus Virus (HPV), paling sering

ditemukan di daerah genital dan jarang di selaput lendir. Penyakit ini biasanya

asimptomatik dan terdiri dari papilomatous papula atau nodul pada perineum,
genitalia dan anus. Penyebaran virus ini melalui kontak seksual. Sehingga terdapat

kemungkinan bahwa penyakit pasien dapat terjadi akibat penyakit menular seksual.

Adapun diagnosa banding untuk penyakit ini adalah moluskum

kontangiosum dan veruka vulgaris. Pada penyakit moluskum kontangiosum

gambaran klinis berupa papul miliar, dibagian tengahnya terdapat lekukan (delle)

dan berisi masa yang mengandung badan moluskum dan penyakit kulit ini akibat

infeksi virus pox. Pada veruka vulgaris terdapat gambaran klinis berupa vegetasi

yang tidak bertangkai, kering dan berwarna abu-abu atau sama dengan warna kulit

dan biasanya mengenai bagian tubuh selain organ genital. Sehingga secara klinis

kondiloma akuminta dapat ditegakkan.

Terapi yang diberikan pada pasien ini adalah trichloroacetic acid (TCA) 50

% yang ditotol pada kutil kelamin. Obat ini mengandung asam yang berguna untuk

menghancurkan kutil-kutil yang ada pada kelamin. Selain itu, pasien juga diberikan

cefixime. Gentamsin adalah golongan Sefalosporin yang merupakan antibiotic

broad spectrum. Pemberian antibiotik ditujukan untuk mencegah terjadinya infeksi

sekunder. Pasien juga diberikan asam mefenamat guna meringankan rasa nyeri.

Dan diberikan juga asam fusidat untuk mencegah infeksi sekunder jika terjadi luka

pada kutil.
DAFTAR PUSTAKA

1. Galloway DA. Biology of genital human papillomaviruses. In: Holmes K K,


Sparling P F, Mardh P A, Lemon S M, Stamm W E, et al, editors. Sexually
transmitted diseases. 3rd ed. New York: McGraw Hill; 1999. p.335-346.
2. Handoko, R. P. 2010. Penyakit Virus. In A. Djuanda, M. Hamzah, & S. Aisah
(Eds.), Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin edisi 5. Jakarta: Balai Penerbit FKUI.
hal 113-4
3. Koutsky LA, Kiviat NB. Genital human papillomaviruses. In: Holmes K K,
Sparling P F, Mardh P A, Lemon S M, Stamm W E, et al, editors. Sexually
transmitted diseases. 3rd ed. New York: McGraw Hill; 1999. p.347-360.
4. Chang, George J., Welton, Mark L.2004. Human Papillomavirus, Condylomata
Acuminata, and Anal Neoplasia. Clinics In Colom And Rectal Surgery; Volume
17, No.4; 221-227
5. Valarie, Yanofsky, Patel, & Goldenberg. Genital Warts: A Comprehensive
Review. The Journal of Clinical and Aesthetic Dermatology. June 2012: Vol
5:61.
6. Djuanda A. Hamzah M, Aisah S. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Edisi
kelima. Jakarta: Balai Penerbit FK UI. 2009.
7. Lacey, Woodhall, Wikstrom, Ross. European Guideline for the Management of
Anogenital Warts. 2011: 130911.
8. Bakardzhiev I, Pehlivanov G, Stransky D, Gonevski M. Treatment of
Candylomata Acuminata and Bowenoid Papulosis With CO2 Laser and
Imiquimod. J of IMAB- Annual Procceding (Scientific Papers). 2012;18:246-9.
9. Hatmoko. Condyloma Acuminata. 2009:2-5.
10. Djuanda A. Penyakit Virus. In: Djuanda A, Hamzah M, Aisah S, editors. Ilmu
Penyakit Kulit dan Kelamin. 6th ed. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia; 2010. p. 112-4.
11. Ghadishah,Delaram.Reference:Condyloma-Acuminata.
http://emedicine.medscape.com/article/781735-overview.
12. Siregar, R.S. Saripati Penyakit Kulit. Edisi 2. Jakarta: EGC. 2005. p. 90-91.