You are on page 1of 5

TUGAS MIKROBIOLOGI

“Vibrio cholerae”

Anggota Kelompok :
1. Laily Qurata Ayun 141711233043
2. Bentar Firmandika 141711233067
3. Nabila Aulia 141711233077
4. Himna Sayyidatul Islamiyah 141711233078
5. Moch. Masruri Ircham 141711233083

FAKULTAS PERIKANAN DAN KELAUTAN
UNIVERSITAS AIRLANGGA
SURABAYA
2018
1. Etiologi
Kolera adalah suatu penyakit akut yang menyerang saluran pencernaan yang
disebabkan oleh suatu enterotoksin yang dihasilkan oleh Vibrio cholera, ditandai
dengan diare cair ringan sampai diare cair berat dengan muntah yang dengan cepat
menimbulkan syok hipololemik, asidosis metabolik dan tidak jarang menimbulkan
kematian.
Kolera adalah mikroorganisme berbentuk batang, berukuran pendek, sedikit
melengkung dapat bergerak, bersifat gram negatif dan mempunyai flagela polar
tunggal. Terdapat berbagai serotipe V. cholera yang dapat menimbulkan diare akut.
V. cholera tumbuh dengan mudah pada bermacam media laboratorium nonselektif
yaitu agar Mac Conkey dan bebrapa media selektf termasuk agar garam empedu,
agar gliserin-telulit-taurokholat serta agar trosulfat-sitrat-garam-empedu=sukrosa
(TCBS). Dikenal 2 biotipe V. cholera diklasifikasikan sebagai klasik dan Elthor
berdasarkan atas hemolisin, hemaglutinasi, kerentanan terhadap polmiksin B, dan
kerentanan terhadap bakteriofag. Basil ini juga dibagi menjadi serogrup (yaitu
serovar) didasarkan pada aniten somatik atau O. V. cholera mempunyai 2 tipe
antigenik O mayor (Ogawa dan India) dan tipe intermediate tidak stabil (Hikojima).

2. Epidemiology
Vibrio cholerae dapat menjadi pencemar pada air dan makanan yang
menyebabkan diare pada seseorang yang mengkomsumsinya. Pada suatu komunitas
masyarakat dengan tingkat sanitasi dan higiene yang buruk bakteri ini dapat
menyebabkan wabah kolera. Timbulnya wabah kolera ini tidak hanya dipengaruhi
sanitasi dan higiene yang buruk, akan tetapi faktor kemampuan bakteri yang dapat
bertahan hidup dalam jangka waktu lama dalam bentuk viable but nonculturable.
Penyebabnya adalah lingkungan extrim yang kurang mendukung pertumbuhan
bakteri, sehingga bakteri menyesuaikan diri dengan cara mengurangi metabolisme
dan bentuk ukuran bakteri yang lebih kecil dari ukuran semula. Pada lingkungan,
bakteri ini disebut viable but nonculturable, Sehingga secara epidemiologi
lingkungan ini mempunyai andil dalam menyebabkan wabah kolera. Sebaliknya
pada kondisi lingkungan yang menguntungkan dengan pH alkali (8,5 - 9,5) , suhu
37°C dan nutrisi yang mengandung garam mineral dan asparagin sebagai sumber
karbon dan nitrogen, V.cholerae dapat tumbuh dan berkembang dengan cepat.
Kecepatan pertumbuhan bakteri V.cholerae pada lingkungan yang menguntungkan
akan meningkatkan daya infeksi terhadap seseorang. Sel bakteri ini mempunyai
kemampuan untuk memperbanyak diri pada kondisi lingkungan yang optimum
dengan nutrisi dan suhu yang sesuai. Jumlah bakteri yang sedikit ini jika
menginfeksi manusia secara langsung (oral) belum menimbulkan daya infeksi kuat
atau tidak akan menimbulkan gejala klinis yang berarti. Namun, apabila jumlah
bakteri yang sedikit ini mengkontaminasi makanan atau minuman, maka dalam
waktu beberapa jam V.cholerae ini akan berkembang dan meningkat jumlahnya
terlebih lagi jika makanan atau minuman tersebut mempunyai kandungan nutrisi
yang cukup untuk pertumbuhan V.cholerae sehingga makanan dan minuman yang
terkontaminasi ini akan menjadi sumber penularan infeksi. (Aaron, 2008)

3. Gejala Penyakit

Gejala umumnya dimulai dengan kelesuan dan hilangnya selera makan.
Penyakit Vibriosis juga ditandai dengan kulit menjadi buram (discolored), merah
dan necrotic (mati), sakit seperti melepuh dapat terlihat pada permukaan tubuh,
adakalanya pecah pada permukaan kulit menghasilkan luka terbuka. Bintik-bintik
darah (Erythema) umum terjadi di sekitar sirip dan mulut. Ketika penyakit menjadi
systemic, dapat menyebabkan exopthalmia ("pop-eye"), dan saluran usus dan dubur
menjadi berdarah dan terisi dengan cairan. semua gejala ini dapat disebabkan oleh
penyakit bakterial lainnya, dan bukan hanya oleh Infeksi Vibrio. (Reed P. A and
Floyd R.F., 1994). penyakit ini bersifat akut atau sub akut. Pada tingkat akut, rata-
rata waktu kematian sekitar 4 hari dan dalam satu minggu dapat mencapai
mortalitas hingga 90% atau lebih. Dan gejala eksternal sering tidak tampak jelas.

Gejala klinis setelah dilakukan uji tantang dengan V. alginolyticus ikan
terlihat kemerahan, terjadi peradangan, nekrosis dan ulser. Perlakuan dengan
pemberian immunostimulan proses penyembuhan ulser lebih cepat. Total Lekosit
23,1-36,3 x106; Netrofil: 0,3-6,3%; Monosit : 25,0-27,0%; Limfosit: 58,3-67,7%
dan Trombosit: 0,3-10,3%. Fagositik indek: 5,5 – 9,3. Kelangsungan hidup tertinggi
pada perlakuan Bakterin : 75,0 %
4. Jenis Virulensi, Toksin, dan Pathogenesitasnya
Beberapa faktor virulensi utama yang dihasilkan oleh Vibrio Cholerae
adalah enterotoksin ekstraseluler yang kuat dan berperan pada sel usus kecil. Dalam
struktur dan fungsinya, toksin Cholerae (CT) atau “coleragen” merupakan suatu
molekul protein kompleks dengan berat molekul sekitar 84.000 di susun oleh dua
submit utama. CT memiliki submit toksin A dan B. submit A yang melakukan
respon untuk aktivitas biologi sedangkan submit B yang melakukan respon
pengikatan seluler toksin. Seluler A terdiri dari dua polipetida yang diikat bersama
oleh suatu ikatan disulfide tunggal. Dalam keadaan alamiah, V. cholerae hanya
pathogen terhadap manusia.V. cholerae dapat menginfeksi manusia melalui rute
pencernaan (fecal-oral).Seseorang memiliki asam lambung yang normal
memerlukan menelan sebanyak 10^10 atau lebih V. cholerae dalam air agar dapat
menginfeksi, sebab kuman ini sangat sensitive pada suasana asam. Jika
mediatornya makanan, sebanyak 10^2-10^4 organisme yang diperlukan, karena
kapasitas buffer yang cukup dari makanan.

5. Deteksi Pathogens
Adanya metode deteksi dini yang dapat dengan cepat mendeteksi adanya
kontaminasi bakteri pathogen Vibrio berpendar akan sangat membantu dalam
penanganan dan pencegahan awal yang tepat waktu untuk mengurangi kematian
udang. Telah diketahui bahwa kemampuan bakteri dalam menginfeksi inangnya
juga dipengaruhi oleh kepadatan bakteri dalam media budidaya (Kadriah, 2012)
Apabila keberadaan bakteri pathogen Vibrio dapat dideteksi sebelum jumlahnya
mencapai quorum, maka dapat segera dilakukan tindakan pencegahan untuk
menekan perkembangan populasi bakteri pathogen tersebut.

Bakteri Vibrio sangat sulit diidentifikasi, karena mereka memiliki ciri
fenotip yang beragam. Gen Hemolisin diketahui merupakan salah satu gen spesifik
yang dimiliki bakteri pathogen termasuk bakteri Vibrio. Gen hemolisin dapat
digunakan sebagai penanda untuk deteksi vibriosis. Sekuen gen hemolisin ini
bervariasi pada spesies bakteri yang berbeda, sehingga gen ini dapat digunakan
untuk mendeteksi keberadaan bakteri Vibrio sampai pada tingkat spesies. (Suriyani
et al, 2013)

6. Penanggulangan
Bakteri vibrio dapat hidup bebas dan berkembang di alam baik ada atau
tidak ada inang. Wabah akan timbul apabila bakteri yang telah berkembang cukup
banyak dan daya tahan ikan lemah. Keadaan demikian terutama karena kualitas
lingkungan rendah. Untuk itu, cara terbaik untuk mencegah timbulnya wabah
adlalah menjaga lingkungan yaitu kualitas air tetap baik terutama kandungan bahan
organic. Kemudian dapat pula dilakukan pengenceran agar jumlah bakteri tidak
mencapai 10-3 sel/ml. cara lain adalah memutus atau mengurangi sumber penularan
antara lain dengan membuang ikan yang telah terserang atau terinfeksi. Vaksinasi
dapat digunakan untuk pencegahan dan saat ini telah dijual berbagai jenis vaksin
vibrio. Vaksinasi dapat dilakukan baik secara rendaman, oral, dicampur pakan atau
suntikan

DAFTAR PUSTAKA

Aaron, A. K. (2008). Inapparent infections and cholera dynamics. Nature vol 454,
877-881.

Kadriah, I.A.K. 2012. Pengembangan Metode Deteksi Cepat Vibrio Berpendar
Patogenik Pada Udang Penaeid [Disertasi]. Bogor: Institut Pertanian Bogor.

Noviardi, Dri, Pramuanggit, dan Haribowo, Arik. 2014. Penyakit Infeksi Pada
Budidaya Ikan Laut di Indonesia. Jakarta : Balai Perikanan Budidaya Laut

Suriyani, I., Ince, A.K.K., Ilmiah, K. 2013. Deteksi Vibrio harveyi Menggunakan
Primer Hemolisin Pada Benur Udang WIndu Penaeus monodon. Jurnal
Akuakultur Indonesia 12(2): 101-105