You are on page 1of 10

ETIOLOGI

Penyebab paraneoplastik sindrom berhubungan dengan penyakit utamanya

yakni kanker. Penyakit ini timbul akibat adanya sekresi hormon tumor, peptide atau

sitokin atau reaktivitas imun antara sel-sel ganas tumor dengan jaringan normal.

KLASIFIKASI

Sindrom paraneoplastic secara umum dapat diklasifikasikan menjadi neurologis dan

non-neurologis, dan non-neurologis dapat dibagi lagi menjadi beberapa subtype

Non-neurologic

Endocrinophathy Hematological

Cushing Syndrome Granulocytosis


SIADH Polycythemia
Hypercalcemia Trousseau sign
Neurologic Hypoglycemia Nonbacterial thrombotic
Lambert-Eaton myasthenic Carcinoid syndrome endocarditis
Syndrome Polycythemia Anemia
Paraneoplastic cerebellar
Degeneration
Encephalomyelitis
Limbic encephalitis Fever
Mucocutaneous Others
Brainstem encephalitis Infection-associated
Paraneoplastic Opsoclonus Acanthosis nigricans Membranous Not infection-associated
Anti-NMDA receptor Dermatomyositis glomerulonephritis
Encephalitis Leser-Trélat sign Tumor-induced osteomalacia
Polymyositis Necrolytic migratory Stauffer syndrome
Erythema
Sweet's syndrome
Florid cutaneous
Papillomatosis
Pyoderma gangrenosum
Acquired generalized
Hypertrichosis
PROGNOSIS

Karena sindrom paraneoplastik berbeda secara luas dari individu ke individu,


prognosis sangat bervariasi. Sebagai contoh, LPS menunjukkan prognosis yang
buruk, sementara osteoarthropathy hipertrofik adalah salah satu dari beberapa
sindrom paraneoplastik yang dapat menunjukkan prognosis yang lebih
menguntungkan4

Hipoglikemia (Non-Islet cell tumor hypoglycemia)

Hipoglikemia yang bukan disebabkan karena produksi insulin ektopik (seperti

pada pasien dengan tumor sel islet pada pancreas). Keadaan ini dapat terjadi pada

kanker mesothelioma, sarcoma, paru dan gastrointestinal.

Manifestasi klinis yang terjadi pada pasien ini adalah keringat dingin,

ansietas, tremor, palpitasi, kelaparan, kelemahan, kejang, bingung dan koma. Temuan

laboratorium pada non-islet cell tumor dijumpai kadar glukosa dan insulin rendah

(sering <1.44-3.60 µIU/mL), kadar C-peptida rendah (<0,3 ng/mL), peningkatan ratio

IGF-2:IGF-1 (>10:1); dan pada insulinomas dijumpai glukosa rendah, peningkatan

insulin, peningkatan C-peptide, ratio IGF-2:IGF-1 normal.

Tatalaksana pada keadaan ini adalah pemberian glukosa (oral dan atau

parenteral), dexamethasone (4 mg 2 atau 3 kali sehari), prednisone (10-15 mg/hari),

doazoxide (3-8 mg/kg/hari per oral dibagi dalam 2 atau 3 dosis) infus glucagon

(0.06-0.3 mg/jam iv), octreotide (̴50-1500 µg/hari SC atau octreotide 20-30 mg IM


per bulan (sering dengan kortikosteroid), human growth hormone 2 U/hari SC (sering

dengan kortikosteroid).

Limbic encephalitis (LE)

Kanker yang berhubungan dengan keadaan ini adalah small cell lung cancer

(̴40%-50% pasien LE), testicular germ-cell (̴20% dari pasien LE), Ca Mammae (̴8%

dari pasien LE), timoma, teratoma, limfoma Hodgkin.

Manifetasi yang terjadi berupa perubahan mood, halusinasi, hilang ingatan,

kejang, dan gejala hipotalamik yang jarang (hipertermia, somnolen, disfungsi

endokrin); gejala dapat muncul berhari-hari hingga berbulan-bulan.

Pemeriksaan penunjang EEG: focus epileptic pada lobus temporal; aktivitas

lambat fokal atau general, FDG-PET: peningkatan metabolism pada lobus temporal,

MRI: hiperintensiti pada lobus temporal medial, analisis LCS: pleositosis,

peningkatan protein dan IgG, oligoclonal bands.

Tatalaksana untuk kasus ini adalah IVIG (400-1000 mg/hari sampai total 2-

3gr), metilprednisolone (sampai 1 gr/hari iv), prednisone (1 mg/kg per hari oral),

plasma exchange, cyclosphosphamide (̴2 mg/kg/hari oral), rituximab (375 mg/m2 iv

pre dosis).
Miastenia gravis (MG)

Kanker yang berhubungan pada kasus ini adalah timoma ( hampir 15% dari

pasien MG). Manifestasi yang timbul berupa kelemahan oto-otot volunteer ( bulbar-

okuli dan ekstemitas), kelemahan diafragma. Pada pemeriksaan penunjang EMG

dijumpai respon decremental terhadap stimulasi nervus repetitive. Tatalaksana berupa

timektomi, terapi farmakologis yakni pyridostigmine (̴600 mg/hari oral dalam dosis

terbagi), prednisone (̴1 mg/kg/hari oral), azathioprine ( sampai 2,5 mg/kg/hari oral

dengan kortikosteroid), cyclosporine A (̴3 mg/kg/hari oral), tacrolimus (3-4 mg/hari

oral), myclophenolate mofetil (1-3 gr/hari oral), rituximab (375 mg/m2 iv per dosis),

cyclophosphamide (50 mg/kg/hari iv selama 4 hari), plasma exchange, IVIG 400-

1000 mg/hari sampai total 2-3 gr)

Subakut (sensori neuropati perifer)

Keganasan yang berhubungan dengan kasus ini adalah paru (̴70%-80%)

biasanya SCLC; payudara, ovarium, sarcoma, limfoma Hodgkin. Manifestasi klinis

yang muncul nyeri/parastesia (secara tipikal terjadi pada ekstremitas atas kemudian

bawah) diikuti ataksia, distribusi multifocal/asimetris, penurunan sensoris,

penurunan/hilangnya refleks tendon dalam, onset lebih dari berminggu-minggu

sampai berbulan-bulan. Tatalaksana pada kasus ini adalah pemberian

metilprednisolone (sampai 1 gr/hari iv), cyclophosphamide (̴3 mg/kg/hari oral), IVIG

(400-1000 mg/hari sampai total 2-3 gr), plasma exchange.


Dermatomyositis

Keganasan yang berhubungan dengan kasus ini adalah kanker ovarium,

payudara, prostat, paru, kolorektal, limfoma non-hodgkin, nasofaring. Manifetasi

yang timbul berupa rash heliotrope (violaceous, rash edematous dikelopak mata atas),

rash erythematous pada wajah, leher, dada, punggung atau bahu, rash mungkin

fotosensitif, kelemahan otot proksimal, kesulitan menelan dan bernapas, nyeri otot.

Dari pemeriksaan penunjang temuan laboratory: peningkatan serum CK

(creatine kinase), AST (aspartate aminotransferase), ALT (alanine

aminotransferase), LDH dan aldolase; EMG: peningkatan spontan dengan fibrilasi,

pelepasan kompleks repetitive, dan positive sharp waves; biopsy otot: inflamasi

perivascular atau septal interfascicular dan atrofi perifascicular.

Tatalaksana pada kasus ini yakni pemberian prednisone (80-100 mg/hai oral),

metilprednisolone (sampai 1 gr/hari iv), azathioprine (sampai 2,5 mg/kg/hari oral),

cyclosporine A (100-150 mg dua kali sehari oral), mycophenolate mofetil (2 gr/hari

oral), cyclophosphamide (0,5-1,0 gr/m2 iv), IVIG (400-1000 mg/hari sampai total 2-3

gr).

Hypertrophic osteoarthrophaty

Keganasan yang berhubungan dengan kasus ini yakni tumor intrathoracic,

metastasi paru, metastasi tulang, karsinoma nasofaring, rabdomyosarcoma.

Manifestasi yang timbul berupa bentukan tulang baru subperiosteal pada phalangeal

(clubbing), efusi synovial (terutama sendi besar), nyeri, swelling pada tulang dan
sendi yang terkena. Pada pemeriksaan foto polos dijumpai reaksi periosteal tulang

panjang; dan pemeriksaan nuclear bone scan dijumpai penyerapan intens dan simetric

dalam tulang panjang.

Tatalaksana pada kasus ini adalah pemberian NSAID, analgetik opioid,

pamidronate (90 mg iv), zoledronate (4 mg iv) dan terapi radiasi local.

Leukocytoclastic vasculitis

Keganasan yang berhubungan dengan kasus ini adalah leukemia/limfoma,

myelodysplastic syndromes, kolon, paru, urologi, multiple myeloma,

rabdomyosarcoma. Gejala klinis yang timbul berupa ulserasi, sianosis, dan nyeri pada

daerah yang terkena (terutama jari-jari), purpura, lebih sering pada ekstremitas

bawah, gangguan ginjal dan neuropati perifer.

Pada pemeriksaan biopsy kulit secara histologi memperlihatkan nekrosis

fibrinoid, swelling endothelial, leukocytoclasis dan ekstravasasi sel darah merah.

Tatalaksana pada kasus ini yakni pemberian metilprednisolon (sampai 1gr/hari iv),

prednisone (1.0-1.5 mg/kg/hari oral) dapsone (̴25-50 mg/hari oral) Colchicine (~0.5

mg 2 atau 3 kali perhari oral), Methotrexate (5-20 mg/minggu oral), Azathioprine

(0.5-2.5 mg/kg/hari oral), IVIG (400-1000 mg/hari sampai total 2-3 g).
Paraneoplastic pemphigus

Keganasan yang berhubungan dengan kasus ini adalah limfoma non-hodgkin,

chronic lymphocytic leukemia, timoma, castleman disease, follicular dendritic cell

sarcoma. Gejala klinis berupa bula erosi cutaneous yang berat (dominan pada badan,

telapak tangan dan kaki), erosive mukosa yang berat, termasuk stomatitis. Pada

pemeriksaan adanya serum antibody pada epitelium kulit, dari biopsy kulit dijumpai

nekrosis keratinosit, acantholysis epidermal, dan deposisi komplemen IgG dalam

epidermal dan membrane basement.

Tatalaksana pada kasus ini adalah pemberian prednisone (~60-120 mg secara

oral per hari), azathioprine (~1.5 mg/kg/hari oral), cyclophosphamide (100-150

mg/hari oral), cyclosporine A (target plasma level 100-150 ng/L), IVIG (400-1000

mg/hari sampai total 1-3 gr), mycophenolate mofetil (1-2 gr/hari oral), plasma

exchange, rituximab (375 mg/m2 iv perdosis).

Polymyalgia rheumatic

Keganasan yang berhubungan dengan kasus ini adalah leukemia/limfoma,

myelodysplastic syndrome, colon, paru, ranal, prostat dan payudara. Gejala klinis

yang timbul berupa nyeri dan kekakuan disekeliling tubuh. Pada laboratory

ditemukan peningkatan serum ESR (erythrocyte sedimentation rate) dan CRP.

Tatalaksana pada kasus ini adalah pemberian prednisolone (~15 mg/hari oral),

methotrexate (~10 mg/minggu oral).


Sweet syndrome (acute febrile neutrophlici dermatosis)

Keganasan berhubungan pada kasus ini adalah leukemia (terutama AML),

limfoma non-hodgkin, myelodysplasia syndrome, genitourinary, payudara,

gastrointestinal, multiple myeloma, ginekologi, testicular, melanoma. Gejala klinis

yang dijumpai berupa nodul eritematous, papul, plak, atau pustule pada ekstremitas,

wajah dan badan, neutrofilia, demam, malaise. Pada pemeriksaan biopsy kulit secara

histologi menunjukkan infiltrate dermal suatu sel polimorfonuklear.

Tatalaksana berupa pemberian clobetasol propionate (0.05% topikal),

triamcinolone acetonide (3-10 mg/mL injeksi intralesi), metilprednisolone (sampai 1

gr/hari iv), prednisone (30-60 mg/hari oral), potassium iodide (300 mg tiga kali sehari

oral), colchicine (~0,5 mg tiga kali sehari oral).

Eosinophilia

Keganasan yang berhubungan dengan kasus ini adalah limfoma Hodgkin dan

non-hodgkin, CML, ALL, paru, tiroid, gastrointestinal, renal, payudara, ginekologi.

Gejala klinis berupa dispneu, wheezing. Pada pemeriksaan laboratorium ditemukan

hipereosinofilia (>0.5 x 109 /L); peningkatan serum IL-5, IL-3, IL-2 dan GM-CSF.

Tatalaksana berupa inhalasi kortikosteroid, prednisolone (1 mg/kg/hari oral).

Granulositosis

Keganasan yang berhubungan dengan kasus ini adalah limfoma Hodgkin,

gastrointestinal, paru, payudara, ginekologi, genitourinaria, brain dan sarcoma. Gejala


klinis asimptomatik. Pada pemeriksaan laboratorium dijumpai hitung granulosit

(neutrophil) >8 x 109 /L, secara tipikal tanpa pergeseran bentuk neutrophil immature,

peningkatan LAP (leukocyte alkaline phosphatase), peningkatan serum G-CSF. Tidak

ada terapi spesifik pada kasus ini.

Pure red cell aplasia

Keganasan yang berhubungan dengan kasus ini adalah timoma,

leukemia/limfoma, myelodisplasia sindrom. gejala klinis berupa sesak, pucat,

kelelahan, pingsan. Pemeriksaan laboratorium dijumpai anemia (hematocrit <20),

tidak ada retikulosit, pada bone marrow hampir tidak ada precursor erythroid,

trombosit dan sel darah putih dalam batas normal.

Tatalaksana pada kasus ini adalah transfuse darah, pemberian obat

prednisolone (1 mg/kg/hari oral), anthymocyte globulin (500 mg per hari iv dengan

kortikosteroid dan/atau siklofospamid), siklofospamid (1-3 mg/kg/hari oral),

cyclosporine A (100 mg dua kali sehari oral), rituximab (375 mg/m 2 iv per dosis),

alemtuzumab (30 mg iv per dosis), plasma exchange, dan splenektomi.

Trombositosis

Keganasan yang berhubungan dengan kasus ini adalah gastrointestinal, paru,

payudara, ginekologi, limfoma, RCC, prostat, mesothelioma, glioblastoma, kepala

dan leher. Gejala asimptomatik (tidak ada perdarahan atau gangguan pembekuan).
Pada pemeriksaan labaratorium dijumpai peningkatan hitung trombosit (>400 x 109

/L), peningkatan serum IL-6. Tidak ada terapi spesifik pada kasus ini.