You are on page 1of 11

Evaluasi Efektivitas dan Keamanan Penggunaan Obat Anestesi

Umum di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta

Istiqoma Dewi Kurniawati1, Zullies Ikawati2, Inayati3
1
RSUD Tuban, Jawa Timur
2
Fakultas Farmasi, Universitas Gadjah Mada
3
Unit Farmasi, RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta

ABSTRACT

Anesthesia is given to more than 75 million surgical patients annually, wordwide. An ideal
anesthetic drug would induce anesthesia smoothly and rapidly while allowing for prompt recovery
after its administration is discontinued. The drug would also prossess a wide margin of safety
and be devoid of adverse effects. The objective of the study was to get an overview on use of
general anesthesia at PKU Muhammadiyah hospital, Yogyakarta which included aspects of
dose induction relevance, effectiveness of general anesthesia based on onset dan duration recovery
and safety based on cardiovascular and respiratory side effects which happened due to induction
anesthesia.The study used descriptive case series design carried out prospectively. Data were
obtained from observation of elective surgery patient in Instalasi Bedah Sentral at PKU
Muhammadiyah hospital, Yogyakarta. Sample were collected by concecutive sampling methods
on Maret-Juni 2010. Onset, duration recovery were monitored after induction anesthesia. Systolic
and diastolic blood pressure, heart rate, saturation were monitored 0 minute before induction
and 5 minute after induction anesthesia.From 84 patient, as many as 72,62% were relevant
dose with induction and 27,38% were irrelevant dose. Effectivity anesthesia based on onset was
100% effective Recovery from isoflurane was 4-11 minute faster than with sevoflurane and 1-
4 minute faster than hallotane. Cardiovascular side effect was not significant between relevant
and irrelevant dose Induction. No respiratory side effect was found.

Key word : induction anesthesia, case serries, concecutive sampling

ABSTRAK

Anestesi diberikan lebih dari 75 juta pasien operasi di dunia setiap tahun. Suatu anestetika yang
ideal dapat menimbulkan efek anestesi dengan tenang dan cepat serta memungkinkan waktu
pemulihan yang lebih cepat. Obat tersebut juga harus punya batasan keamanan yang luas dan
tidak menimbulkan dampak yang keras. Di RS PKU Muhammadiyah, Propofol banyak digunakan
sebagai induksi anestesi dan anestesi pemeliharaan yang bervariasi.Evaluasi penggunaan anestesi
umum bertujuan untuk mengetahui kesesuian pemberian dan dosis induksi anestesi umum,
efektivitas berdasarkan awitan dan waktu pemulihan, keamanan berdasarkan kejadian efek
samping kardiovaskular dan pernafasan pada fase induksi.Penelitian ini adalah penelitian
observasional dengan cara mengamati kasus-kasus operasi elektif, pengumpulan data dilakukan
secara prospektif dan data diolah secara analitik pada pasien bedah di Instalasi Bedah Sentral
RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta. Sampel diambil dengan metode concecutive sampling
pada bulan maret-juni 2010. Pasien yang mendapat anestesi umum diamati keamanan anestesi
berdasarkan awitan dan waktu pemulihan dari pemberian anestesi umum dan diobservasi efek
samping induksi anestesi berdasarkan nilai tekanan darah sistolik, tekanan darah diastolik, nadi
dan saturasi pada menit ke 0 sebelum induksi dan menit ke 5 setelah induksi. dari total 84
pasien, induksi sesuai 100%, Dosis induksi sesuai sebesar 72,62%, tidak sesuai sebesar 27,38%.
Efektifitas berdasarkan awitan 100% efektif dan waktu pemulihan isofluran lebih cepat 4-11
menit dibanding sevofluran, dan lebih cepat1-4 menit dibanding halotan. Secara statistik tidak
ada perbedaan bermakna jumlah pasien yang mengalami efek samping kardiovaskular (nilai
p>0,05). Tidak terjadi efek samping pernafasan pada semua kelompok induksi.

Kata Kunci : induksi anestesi, case serries, concecutive sampling

PENDAHULUAN perlindungan central nervous system,
Anestesi telah diberikan pada lebih supresi adenocorticoid). Pemilihan anestesi
dari 75 juta pasien operasi di dunia setiap intr avena sebaiknya berdasarkan
tahun (Apfel et al., 2004). Anestesi umum karakteristik pasien dan kondisi yang
merupakan keadaan tidak terdapatnya berhubungan dengan operasi dan biaya
sensasi yang berhubungan dengan hilangnya (Koda-Kimble, 2009).
kesadaran yang reversibel (Neal, 2006). Anestesi yang digunakan di RS PKU
Anestesi dapat dibagi menjadi tiga fase yaitu Muhammadiyah adalah anestesi intravena
fase induksi, pemeliharaan dan sadar dan anestesi inhalasi. Penggunaan propofol
kembali dari anestesi (Mycek, 2001).Suatu sebagai induksi anestesi intravena cukup
anestesi yang ideal dapat menimbulkan banyak digunakan dan ketika induksi
anestesi dengan tenang dan cepat serta anestesi pasien mendapat premedikasi yang
memungkinkan pemulihan segera setelah bervariasi. Selama prosedur pembedahan
penanganan selesai. Obat tersebut juga harus pasien bedah mendapat anestesi inhalasi
punya batasan keamanan yang luas dan yang bervariasi sebagai anestesi
tidak menimbulkan dampak yang merugikan pemeliharaan. Berdasarkan permasalahan di
(Katzung, 2002). atas, maka dilakukan penelitian lebih lanjut
Anestesi umum yang poten diberikan mengenai kesesesuaian dosis pemberian
secara inhalasi atau suntikan intravena induksi anestesi, perbandingan efektivitas
(Mycek, 2001). Awitan dan durasi dan kejadian efek samping serta mengetahui
merupakan efek farmakokinetik yang paling efektivitas dari anestesi pemeliharaan.
penting pada anestetik intravena ketika
digunakan sebagai induksi anestesi. Anestesi METODOLOGI PENELITIAN
intravena dapat menghasilkan berbagai Penelitian ini merupakan penelitian
manfaat dan efek samping (seperti depresi observasional dengan cara mengamati
atau stimulasi kardiovaskular, nyeri pada kasus-kasus operasi elektif yang sebelumnya
sisi injeksi, mual dan muntah, depresi atau dilakukan anestesi umum pada periode
stimulasi pernafasan, eksitasi atau maret-juni 2010, penggumpulan data
dilakukan secara prospektif dan data diolah dengan nilai persentase sebesar 38,10% dan
secara analitik. Pemilihan sampel dilakukan induksi yang paling sedikit dilakukan adalah
dengan metode consecutive sampling. induksi dengan premedikasi midazolam dan
Cara kerja: fentanyl hanya sebesar 11,90%.
Pasien yang akan menjalani
pembedahan elektif dengan anestesi umum Profil Induksi Anestesi dan Pemeliharaan
diseleksi dan ditentukan oleh klinisi Anestesi
berdasarkan kriteria inklusi. Sebelum di Rumatan anestesi yang paling sering
induksi dengan anestesi, dilakukan digunakan adalah sevofluran dengan
pencatatan kondisi preoperasi, data persentase sebesar 48,81% dan yang paling
karakteristik awal yang terdiri dari umur, sedikit digunakan adalah rumatan dengan
diagnosa pembedahan, obat dan dosis kombinasi dua anestesi inhalasi yaitu
anestesi, tekanan darah sistolik, diastolik, kombinasi antara halotan dan sevofluran,
laju nadi dan saturasi oksigen. Pasien kombinasi sevofluran dan isofluran dengan
mendapat perlakuan induksi anestesi diamati persentase masing-masing sebessar 3,57%.
awitan diobservasi tekanan darah sistolik, Sevofluran merupakan anestesi inhalasi
tekanan darah diastolik, nadi dan saturasi golongan halogen eter yang memiliki
pada menit ke 0 sebelum induksi dan menit keuntungan waktu pulih dari anestesi yang
ke 5 setelah induksi. Pasien yang mendapat lebih cepat dibandingkan dengan isofluran,
anestesi pemeliharaan diamati durasi sehingga lebih banyak digunakan.
anestesi dan waktu pemulihan. Data yang
diperoleh dari observasi di lembar observasi. Kesesuaian Induksi Anestesi
Kesesuaian dosis anestesi induksi
HASIL DAN PEMBAHASAN pada operasi elektif di RS PKU
Profil Pasien Muhammadiyah sebesar 72,62% dan
Sampel pada penelitian ini adalah ketidaksesuaian dosis sebesar 27,38%.
sebanyak 84 terdiri dari 41,38% laki-laki Ketidaksesuaian tertinggi terjadi pada pasien
dan sisanya 56,62% adalah perempuan. di atas > 59 tahun yaitu sebesar 19,05%.
Jenis induksi yang banyak dilakukan di RS Ketidaksesuaian karena pasien mendapat
PKU Muhammadiyah Yogyakarta adalah dosis yang berlebih.
induksi dengan pramedikasi midazolam
Efektivitas Penggunaan Anestesi Umum disesuaikan dengan proses berjalannya
Penentuan efektivitas induksi anestesi operasi. Dari hasil penelitian menujukkan
umum intravena berdasarkan nilai awitan bahwa waktu pemulihan isofluran pada
hasil pengamatan pada masing-masing masing-masing kelompok premedikasi
pasien sampel penelitian dibandingkan memiliki waktu pemulihan yang lebih cepat
dengan nilai awitan propofol yang telah ada 4 menit hingga 11 menit dibanding dengan
diliteratur. Awitan dari propofol yang sevofluran, dan isofluran lebih cepat 1 menit
diberikan secara bolus (tergantung dengan hingga 4 menit dibanding dengan halotan.
dosis) kira-kira 9-51 detik dan rata-rata 30 Kejadian efek samping hipertensi tertinggi
detik (Lacy et al., 2008). Obat induksi bolus pada pasien yang mendapat induksi anestesi
disuntikkan dengan kecepatan antara 30-60 hanya menggunakan propofol (Dosis Tidak
detik (Latief et al., 2001). sesuai) sebesar 28,57%. Secara statistik
Secara statistik tidak ada perbedaan tidak terdapat perbedaan bermakna kejadian
yang bermakna nilai awitan antara induksi efek samping hipertensi pada induksi dengan
dengan dosis propofol sesuai dan tidak dosis propofol sesuai dan tidak sesuai (nilai
sesuai (nilai p = 0,382, nilai p > 0,05). Dari p > 0,05).
data awitan di atas menunjukkan bahwa
semua jenis induksi baik yang sesuai Keamanan Anestesi Umum
maupun yang tidak sesuai terbukti efektif Keamanan anestesi umum dinilai dari
pada pasien dengan nilai awitan masuk efek samping yang terjadi pada fase induksi,
dalam range stadar nilai awitan dalam bukan pada fase pemeliharaan atau pada
literatur yaitu 9-51 detik. Awitan dari fase pemulihan. Karena, efek samping
anestesi dipengaruhi oleh kecepatan injeksi hipertensi dapat disebabkan karena nyeri
anestesi, injeksi yang cepat menyebabkan akibat pembedahan, iritasi pipa trakhea,
konsentrasi propofol dalam darah lebih cairan infuse berlebihan, buli-buli penuh
tinggi setelah injeksi (Zhenk et al., atau aktivasi saraf simpatis karena hipoksia,
1998).Durasi operasi menujukkan waktu hiperkapnia dan asidosis. Hipotensi sendiri
pasien diberikan anestesi pemeliharaan bisa disebabkan karena pendarahan, terapi
cairan kurang adekuat, hilangnya cairan ke untuk meningkatkan efek analgesia selama
rongga ketiga, keluaran air kemih belum prosedur operasi dan menurunkan respon
diganti, kontraksi miokardium kurang kuat hipertensi karena intubasi (Cork et al., 1984;
atau tahanan vaskular ferifer menurun. Dahlgren et al., 1981; Martin et al., 1982).
Penurunan nilai saturasi (hipoksemia, Hal ini juga sama pada penelitian yang
SpO2 < 90 mmHg) bisa disebabkan karena dilakukan oleh Baley dimana pada pasien
pernafasan pasien lambat dan dangkal yang menerima induksi propofol dengan
(hipoventilasi). Pernafasan lambat bisa fentanyl tidak ditemukan kejadian hipertensi
disebabkan karena opioid dan dangkal sering (Bailey et al., 1990).
diakibatkan oleh pelumpuh otot yang masih Kejadian efek hipertensi dapat
bekerja (Latief et al., 2001). Dalam anestesi disebabkan karena nyeri injeksi setelah
dikatakan hipotensi apabila penurunan pemberian induksi propofol dan efek
tekanan darah > 25% dari nilai awal. intubasi. Iritasi propofol pada vena
Hipotensi dikategorikan berat bila menyebabkan aktivasi protease yang akan
penurunan tekanan darah sistolik dibawah memecah kininogen jaringan plasma menjadi
70 mmHg dan memerlukan intervensi. bradikinin nonpeptida yang merupakan
Begitu juga dengan hipertensi dinyatakan substansi nyeri yang sangat kuat. Nyeri
hipertensi apabila tekanan darah > 25% dari akibat pemberian propofol dipengaruhi oleh:
awal (Wahyuni, 2007). Propofol merupakan kecepatan injeksi, tempat penyuntikan pada
obat induksi anestesi dengan efek samping vena, pemberian narkotik sebelum injeksi
penurunan tekanan darah 25-40% (Poltak, propofol, pengenceran larutan propofol/
2006). konsentrasi, pendinginan larutan propofol
Kejadian efek samping hipertensi tidak sebelum diinjeksikan. Sedangkan mekanisme
terjadi pada pasien yang menerima induksi timbulnya nyeri itu sendiri belum diketahui
anestesi menggunakan premedikasi fentanyl secara pasti (Siahaan, 2003).
baik yang sesuai maupun yang tidak sesuai Efek samping hipertensi bisa
karena penambahan fentanyl untuk induksi disebabkan karena nyeri pada saat intubasi.
Hal ini terlihat pada kejadian efek samping dilakukan oleh Baley dimana pada pasien
hipertensi tidak terjadi pada pasien yang yang menerima induksi propofol dengan
menerima induksi anestesi menggunakan fentanyl tidak ditemukan kejadian hipertensi
premedikasi fentanyl baik yang sesuai (Bailey et al., 1990).
maupun yang tidak sesuai karena Hipertensi dengan takikardi selama
penambahan fentanyl untuk induksi untuk induksi anestesi umum bisa disebabkan
meningkatkan efek analgesia selama karena nyeri, hipoventilasi, pendarahan
prosedur operasi dan menurunkan respon intrakranial dan iskemik myokard tetapi
hipertensi karena intubasi (Cork et al., 1984; tidak semuannya dapat menujukkan gejala
Dahlgren et al., 1981; Martin et al., 1982). klinik. Penelitian sebelumnya menujukkan
Hal ini juga sama pada penelitian yang bahwa propofol dapat menginduksi
vasokontriksi dan dosis rendah propofol
untuk mencegah terjadinya hipotensi selama Efek samping hipotensi lebih minimal pada
induksi dapat menyebabkan hipertensi induksi propofol dengan menggunakan
dengan takikardi (Imanaka et al., 2009). premedikasi fentanyl, dan kejadian efek
Propofol menghambat respon hemodinamik samping hipotensi tidak terjadi pada induksi
terhadap laringoskopi dan intubasi dengan premedikasi midazolam dan fentanyl
(Omoigui, 1995). Penurunan tekanan darah baik yang sesuai maupun yang tidak sesuai.
dapat disebabkan oleh vasodilatasi dan Berdasarkan penelitian yang
penurunan kotraktilitas myocardial. dilakukan oleh Short, TG., et al, ketika
Dilaporkan oleh pemilik produk propofol diberikan induksi anestesi menggunakan
kejadian efek samping hipotensi setelah propofol dengan fentanyl tanpa pemberian
pemberian induksi propofol sebesar 53%. midazolam akan dapat meningkatkan
hipotensi pada saat postinduksi (TG Short,
1991., McClune, 1992., Billard, 1994). rate dan cardiac output (Claeys et al; 1988;
Begitu juga dengan penelitian yang Schmidt et al; 1999).
dilakukan Billard, dkk., Induksi propofol Kejadian hipotensi dan bradikardi
dengan fentanyl dapat meningkatkan persentase tertinggi terjadi pada kelompok
hipotensi postinduksi. Penurunan tekanan pasien yang mendapat induksi anestesi
darah sistolik sebesar 40% selama induksi dengan fentanyl (Dosis Sesuai) 28,57%,
anestesi dengan propofol secara bolus dan (Dosis Tidak Sesuai) sebesar 20,00%. Tidak
fentanyl 2 ìg/kg (Billard et al., 1994). Ketika terdapat perbedaan yang bermakna kejadian
ditambahkan midazolam, hipotensi tidak efek samping hipotensi dan bradikardi pada
mengalami peningkatan secara signifikan antara induksi dengan dosis propofol yang
dibandingkan dengan kelompok yang hanya sesuai dan tidak sesuai (nilai p > 0,05). Pada
mendapatkan fentanyl (Short et al., 1991; umumnya tidak ada hubungan antara
McClun et al., 1991; Tzabar et al., 1996). hipotensi dan bradikardi (Hug, dkk; 1993).
Penurunan tekanan darah pada fase induksi Penurunan tekanan darah pada fase induksi
dipengaruhi oleh dosis dan kecepatan dipengaruhi oleh dosis dan kecepatan
pemberian anestesi (Peacock et al; 1992; pemberian anestesi (Peacock et al; 1992;
Claeys et al; 1988; Kazama et al; 1998). Claeys, et al; 1988; Kazama et al; 1998).
Penggunaan propofol dalam induksi Mekanisme penurunan tekanan darah setelah
anestesi dapat menurunkan tekanan arteri pemberian propofol masih diperdebatkan,
dan tekanan vaskular sistemik, Tekanan tetapi hal ini menghasilkan pre- dan after-
darah sistolik menurun setelah dimulainya load tanpa kompensasi peningkatan heart
induksi, tekanan diastolik turun setelah 60 rate dan cardiac output (Claeys et al; 1988;
detik dari awal induksi anestesi dan akan Schmidt et al; 1999).
turun hingga menit ke 210 setelah induksi. Takikardi tertinggi terjadi pada
Mekanisme penurunan tekanan darah setelah kelompok pasien yang mendapat induksi
pemberian propofol masih diperdebatkan, dengan premedikasi midazolam dan fentanyl
tetapi hal ini dari penurunan pre- dan after- yaitu sebesar 26,00%. Tidak terdapat
load tanpa kompensasi peningkatan heart perbedaan yang bermakna kejadian efek
samping hipotensi dan bradikardi pada pernafasan. Saturasi oksigen merupakan
antara induksi dengan dosis propofol yang persentase hemoglobin dalam oksigen pada
sesuai dan tidak sesuai (nilai p > 0,05). suatu waktu pengukuran. Berdasarkan
Diketahui bahwa propofol dapat memiliki ketentuan ASA pada tanggal 27 oktober
efek konduksi pada nodus atrioventricular 2004 dan diamandemen pada tanggal 21
(Kannan et al., 2002). Kannan, et al., oktober 2009, pada pasien yang mendapat
melaporkan bahwa terdapat kasus takikardi anestesi umum propofol harus dimonitor
supraventrikular pada pasien dewasa. Kasus saturasi oksigen secara teratur.
ini terjadi pada pasien dengan jenis kelamin Efek samping terhadap saturasi
laki-laki dan berusia 68 tahun dan memiliki dilakukan dengan monitor saturasi oksigen
berat kira-kira 80 kg yang mendapat dosis (SpO2). Kriteria hipoksemia : hipoksemia
propofol 100 mg dan tidak menerima ringan jika saturasi oksigen (SpO2) 86-90%,
pelemas otot. hipoksemia sedang jika SpO2 81-85%,
Propofol menginduksi bradikardi itu hipoksemia beratjika nilai SpO2 < 81%
umum terjadi. Persentase bradikardi teringgi (Anonim, 2009). Efek samping terhadap
terjadi pada kelompok pasien yang mendapat saturasi pada pasien tidak ditemukan selama
induksi propofol dengan pramedikasi penggunaan Propofol selama fase induksi
fentanyl (Dosis Sesuai) 28,57% karena pasien mendapat suplai oksigen
dibandingkan dengan induksi dengan secara berkecukupan selama dilakukan
premedikasi fentanyl yang sesuai yaitu induksi anestesi dan sebelum induksi jika
20,00%. Tidak terjadi kejadian efek samping saturasi pasien kurang dari 90.
bradikardi pada kelompok pasien yang Perbandingan dengan penelitian yang
mendapat induksi dengan premedikasi dilakukan oleh Drumoond et al., hasilnya
midazolam dan fentanyl. Secara statistik menujukkan bahwa lebih dari 200 pasien
jumlah pasien yang mengalami efek samping bedah, fentanyl mempengaruhi hasil akhir.
bradikardi antara induksi dengan dosis Depresi pernafasan, sehingga end-tidal
sesuai dan dosis tidak sesuai pada masing- fraksi karbondioksida lebih besar 1%.
masing kelompok induksi menujukkan Saturasi oksigen juga berkurang, 27%
perbedaan yang tidak bermakna (nilai p pasien yang menerima fentanyl menujukkan
>0,05). saturasi oksigen < 92% (Drummond et al.,
Berdasarkan penelitian Hug (1993) 2010). Berdasarkan laporan efek samping
bradikardi secara signifikan lebih umum pada tanggal 25 agustus 2010 pada 10175
terjadi pada pasien yang mendapat propofol pasien yang menerima propofol 395 pasien
dengan kombinasi golongan opioid (3,88% dari total pasien yang menerima
(fentanyl). Kejadian bradikardi tidak terjadi propofol) mengalami penurunan saturasi
pada pasien yang mendapat induksi dengan oksigen.
pramedikasi midazolam dan fentanyl baik
yang sesuai maupun yang tidak sesuai. KESIMPULAN
Severe bradikardi pernah dilaporkan karena Dari total 84 pasien, induksi sesuai
penggunaan propofol dengan fentanyl, 100%, Dosis induksi sesuai sebesar 72,62%,
succinylcholine. (Baraka A et al., 1990). tidak sesuai sebesar 27,38%. Efektifitas
Efek samping pernafasan yang diamati pada berdasarkan onset 100% efektif dan waktu
penelitian ini adalah efek pada saturasi recovery isofluran lebih cepat 4-11 menit
dibanding sevofluran, dan lebih cepat1-4 Drummond, G.B., Lafferty, B., 2010,
menit dibanding halotan. Secara statistik Oxygen saturation decrease acutely
tidak ada perbedaan bermakna jumlah pasien when opioids are given during
yang mengalami efek samping anaesthesia, British Journal of
kardiovaskular (nilai p>0,05). Tidak terjadi Anaesthesia 2010 104(5):661-663;
efek samping pernafasan pada semua 10.1093/bja/aeq076
kelompok induksi. Hug, CC., McLeskey., Nahrwold, ML et al.,
1993, Hemodinamic Effects of
DAFTAR PUSTAKA Propofol: Data from Over 25000
Apfel, CC., Korttila, K., Abdalla, M et al., Patients, Departement of
2004, A Factorial Trial of Six Anesthesiology, Emory University
Interventions for the Prevention of School of Medicine, Atlanta,
Postoperative Nausea and Georgia, PMID: 8214693
Vomiting, Vol.350 No.24. [PubMed-indexed for MEDLINE]
Bailey, PL., Wilbrink, J., Zwanikken, P et Kannan, S., Sherwood, N., 2002,
al., Narcotic Intravenous Termination of supraventricular
anesthetic, Anesthesia, 3rd edition, tachycardia by propofol, br J
Edited by Miller RD, New-York, Anaesth 2002; 88:874-5
Churchill Livingstone, 1990, pp Katzung, B.G., 2002, Farmakologi : Dasar
281-366 dan Klinik, Buku 2, Edisi 8,
Baraka, 1998, Severe Bradycardia following Penerbit Salemba Medika, Jakarta,
P ropofol-S uxamethonium hal.129-148.
Sequence. Br J Anaesth;61:482-3, Kazama, T., Ikeda, K., Morita, K., 1998,
61. The Pharmacodynamic Interaction
Billard, V., Moulla, F., Megnigbeto, A et al, between Propofol and Fentanyl with
1994., Hemodynamic Response to Respect to the Suppresion of
Induction and Intubation: Propofol/ Somatic or Hemodinamic
Fentanyl Interaction. Responses to Skin Insision,
Anesthesiology 1994;81:1384-93. Peritonium Insision, and Abdominal
Claeys, MA., dkk., Haemodynamic Changes Wall Retraction. Anesthesiology
During Anesthesia Induced and 1998;89:894-906
Maintenaned with Propofol. Br Martin, DE., Rosenberg, H., Aukburg, SJ
JAnaesth 1988;60:3-9 et al., 1982, Low-dose Fentanyl
Cork, RC., Weiss, JL., Hameroff, SR., Blunts Circulatory Response to
Bentley et al., 1984, Fentanyl Tracheal Intubation. Anesth Analg
Preloading for Rapid-sequence 61:680-684, 1982.
Induction of Anesthesia, Anest Mycek, M.J., 2001, Farmakologi Ulasan
Analg 63:60-64. Bergambar, Edisi II, Penerbit
Dahlgren, N., Messeter, K., 1981. Treatment Widya Media, Jakarta, hal.110
of Stress Response to Laringoscopy
and Intubation with Fentanyl. Neal, 2006, Farmakologi Medis, Edisi
Anesthesia 36: 1022-1026. kelima, Penerbit Erlangga, Jakarta, hal 52.
Peacock, JE., Spier, SPW., McLauchlan et
al., 1992, Infution of Propofol to
Identifity Smallest Effective Dose for
Induction of Aneshesia in Young and
Elderly Patients. Br. J Anaesth
1992;69:363-7.
Poltak, Marihot., 2006, Daya Guna
Premedikasi Oral Midazolam 0,1 mg/
kgbb dalam Menurunkan Dosis
Induksi Propofol pada Operasi Elektif
Dewasa, 02/1779/II-SP/0087, RT
617_96.
Schmidt, C., Roosens, C., Struys, M et
al.,1999, Contractility in Humans
after Coronary after Surgery.
Anaeshtisiology 1999;91:58-70
Short, TG., Plummer, JL., Chui, MB et al.,
1991, Propofol and Midazolam Act
Synergistically in Combination. Br J
Anaesth 1991; 67:539-45.
Stachnik, J. dan Bonk, M. E, 2006, Inhaled
Anesthetic Agents. American Journal
of Health-System Pharmacy, 63, 623-
634.
White, PF., Romero, G., 2006, Nonopioid
Intravenous Anesthesia, In: Barash
PG et al., eds, Clinical Anesthesia,
Philadelphia: Lippincott William &
Wilkins; 2006: 334.
Zheng, D., Upton, RN., Martinez, AM.,
Grant, C dan Ludbrook, GL., 1998,
The Influence of the Bolus Injection
Rate of Propofol on its
Cardiovascular Effects and Peak
Blood Concentration in Sheep, A & A
Vol. 86 no 5 1109-1115