You are on page 1of 13

SUMBER SUMBER AJARAN AGAMA ISLAM

Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas


Mata Kuliah Pendidikan Agama Islam
Dosen Pembimbing : Muhyidin, S.Ag, M.Ag

Di Susun Oleh

Kelompok 3

1. Tri Aditya Hary Salsabila Putri NIM : 40010418060017


2. Rika Graha Fatmawati NIM : 40010418060018
3. Reynaldi Tri Wahyu Pamungkas NIM : 40010418060019
4. Abell Aryawan Adhe Saputra NIM : 40010418060020
5. Bagas Albizar Putra Ardana NIM : 40010418060062

Sekolah Vokasi Jurusan Keuangan Daerah

Universitas Diponegoro

2018/2019
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................ 1


DAFTAR ISI ..................................................................................... ...... 2
BAB I PENDAHULUAN ................................................................. …. 3
1. Latar Belakang ............................................................................... 3
2. Tujuan ............................................................................................ 3
BAB II PEMBAHASAN .................................................................. ….. 4
1. Al-Quran dan Hubungannya dengan Sunnah dan Ijtihad……… 4
2. Al-Quran Sebagai Sumber Ajaran Islam………………………. 5
3. As-Sunnah Sebagai Sumber Ajaran Islam……………………… 6
4. Ijtihad Sebagai Sumber Ajaran Islam……………………………. 7

BAB III PENUTUP


1. Kesimpulan ...................................................................................... 8
2. Saran ............................................................................................... 8
KATA PENGANTAR

Alhamdulillah kami panjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT. atas limpahan rahmat,
taufik, dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan pembuatan tugas makalah diskusi
Pendidikan Agama Islam dengan judul Sumber – sumber Ajaran Agama Islam.
Sholawat dan salam kami curahkan kepada Nabi besar Muhammad SAW karena beliaulah
satu – satunya Nabi yang mampu mengubah dunia dari zaman kegelapan menuju zaman
terang benderang yakni Agama Islam.
Makalah ini disusun dan diuraikan secara efektif dengan landasan pengetahuan yang diambil
dari buku untuk menambah wawasan, kemudian makalah ini disusun berdasarkan hasil
diskusi anggota masing – masing kelompok yang dijilid menjadi satu kedalam bentuk
makalah.
Kiranya makalah ini masih sangat jauh dari kata kesempurnaan oleh karena itu kami
menerima kritik dan saran yang sifatnya membangun demi memperbaiki isi dari makalah ini.
Kami berharap semoga makalah ini dapat menambah ilmu pengetahuan dan wawasan kepada
pembaca serta ridho dari Allah SWT.
BAB I

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang
Sumber ajaran islam ialah segala sesuatu yang dijadikan dasar, acuan, atau pedoman
syariat islam. Ajaran Islam adalah pengembangan agama Islam. Agama Islam bersumber
dari Al-Quran yang memuat wahyu Allah dan al-Hadis yang memuat Sunnah Rasulullah.
Komponen utama agama Islam atau unsur utama ajaran agama Islam (akidah, syari’ah
dan akhlak) dikembangkan dengan rakyu atau akal pikiran manusia yang memenuhi
syarat runtuk mengembangkannya.Mempelajari agama Islam merupakan fardhu ’ain ,
yakni kewajiban pribadi setiap muslim dan muslimah, sedang mengkaji ajaran Islam
terutama yang dikembangkan oleh akal pikiran manusia, diwajibkan kepada masyarakat
atau kelompok masyarakat.
Dalam upaya memahami ajaran Islam, berbagai aspek yang berkenaan dengan Islam
perlu dikaji secara seksama, sehingga dapat menghasilkan pemahaman Islam yang
komprehensif. Hal ini penting dilakukan, karena kualitas pemahaman ke Islaman
seseorang akan mempengaruhi pola pikir, sikap, dan tindakan ke Islaman yang
bersangkutan. Untuk itu uraian di bawah ini diarahkan untuk mendapatkan pemahaman
tentang Islam.

2. Tujuan
Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah :
a) Memamparkan dan menjelaskan sumber-sumber ajaran islam
b) Sebagai penambah pengetahuan dan wawasan akan sumber – sumber ajaran Agama
Islam
BAB II

PEMBAHASAN

A. Al-Quran dan Hubungannya dengan Sunnah dan Ijtihad


Sumber ajaran islam adalah wahyu Allah yang disampaikan kepada nabi Muhammad
SAW. Wahyu Allah iu diturunkan dalam Bahasa Arab dan secara autentik terhimpun
dalam mushaf Al-Quran. Al-Quran adalah kitab suci yang demikian mahsyur sehingga
sulit untuk menemukan suatu definisi yang mencakup keseluruhan Al-Quran karena itu
definisi Al-Quran masih bersifat parsial, tergantung dari jenis kajian yang dilakukan.
Berikut ini adalah definisi yang mengandung beberapa kekhususan dari Al-Quran :
a) Al-Quran sebagai wahyu Allah, yaitu seluruh ayat Al-Quran adalah wahyu Allah
dan tidak ada satu katapun yang dating dari perkataan atau pikiran nabi.
b) Al-Quran diturunkan dalam bentuk lisan dengan makna dan gaya bahasanya,
artinya isi dari Al-Quran dating dari Allah sendiri.
c) Al-Quran terhimpun dalam mushaf, artinya Al-Quran tidak mencakup wahyu
Allah kepada Nabi Muhammad dalam bentuk hokum-hukum yang kemudian
disampaikan dalam Bahasa nabi sendiri.
d) Al-Quran dinukil secara mutawatir, artinya Al-Quran disampaikan kepada orang
lain secara terus menerus oleh sekelompok orang yang tidak mungkin bersepakat
untuk berdusta karena banyaknya jumlah orang dan tempat tinggal mereka yang
berbeda.

Al-Quran turun secara berangsur-angsur dalam tenggang waktu lebih kurang 23


tahun, yaitu sejak diangkatnya Nabi Muhammad sebagai nabi dan rasul Allah hingga
beliau wafat. Ayat-ayat Al-Quran yang turun difalkan dan ditulis oleh sejumlah
sabahat nabi dan hasil dari pencatatan mereka diserahkan kepada Rasulullah dan
disimpan di rumah Rasulullah sendiri.
Berbeda dengan Al-Quran Sunnah dan hadis yang tersebar di kalangan para
sahabat nabi secara individual, Rasul yang melarang menuliskan sabdanya
dikarenakan hal ini mengisyaratkan kekhawatiran beliau akan kemungkinan
bercampur baurnya ayat Al-Quran dengan sabdanya. Selain kedua sumber di atas
terdapat pula sumber lain yakni ijtihad, Ijtihad adalah penggunaan akal untuk
merumuskan hokum yang tidak tersurat dalam Al-Quran dan Sunnah dengan cara
Istinbat kepada dua sumber tersebut. Secara substansial, ijtihad berbeda dari kedua
sumber ajaran lainnya yaitu Al-Quran dan Sunnah. Ijtihad lebih bersifat sumber
metodologis praktis. Dengan kata lain Ijtihad merupakan aktualisasi hukum-hukum
umum dari Al-Quran dan Sunnah.
Al-Quran, As-Sunnah dan Ijtihad memiliki posisi dan bobot nilai yang satu sama
lain berbeda. Berdasarkan analisis hakikat dan sistem teriwayatnya, maka Al-Quran
mengambil posisi sebagai sumber pertama dan utama, kemudian berturut-turut As-
Sunnah dan Ijtihad. Kebenaran Al-Quran bersifat mutlak atau absolut, sementara As-
Sunnah bersifat zanni ( relative karena perlu pembuktian kebenarannya terlebih
dahulu). Adapun Ijtiad bersifat kondisional dan temporal dan karenanya sangat
terbuka untuk terjadinya perubahan.

B. Al-Quran Sebagai Sumber Ajaran Islam


 Pengertian Al-Quran
A-Qur’an berasal dari bahasa Arab ‫ قُ ْرآن‬adalah kitab suci agama Islam. Umat Islam
mempercayai bahwa al-Qur’an merupakan puncak dan penutup wahyu Allah yang
diperuntukkan bagi manusia, yang disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW melalui
perantaraan Malaikat Jibril. Ditinjau dari segi kebahasaan (etimologi), al- Qur’an berasal
dari bahasa Arab yang berarti "bacaan" atau "sesuatu yang dibaca berulang-ulang". Kata
al-Qur’an adalah bentuk kata benda (masdar) dari kata kerja qara'a yang artinya membaca.
Konsep pemakaian kata ini dapat juga dijumpai pada salah satu surat Al-Qur'an sendiri
yakni pada ayat 17 dan 18 Surah Al-Qiyamah :

(١٨) ‫( قُ ْر َءانَ ۥهُ فَٱتَّبِ ْع قَ َرأْ َٰنَهُ فَإِذَا‬١٧) ‫َوقُ ْر َءانَ ۥهُ َج ْمعَ ۥهُ َعلَ ْينَا إِ َّن‬
“Sesungguhnya mengumpulkan Al-Qur’an (di dalam dadamu) dan (menetapkan)
bacaannya (pada lidahmu) itu adalah tanggungan Kami. (Karena itu), jika Kami telah
membacakannya, hendaklah kamu ikutibacaannya”.(75:17-75:18)

Al-Qur’an terdiri atas 114 bagian yang dikenal dengan nama surah (surat).
Setiap surat akan terdiri atas beberapa ayat, di mana surat terpanjang dengan 286 ayat
adalah surat Al Baqarah dan yang terpendek hanya memiliki 3 ayat yakni surat Al
Kautsar. Total jumlah ayat dalam al-Qur’an mencapai 6236 ayat di mana jumlah ini
dapat bervariasi menurut pendapat tertentu namun bukan disebabkan perbedaan isi
melainkan karena cara/aturan menghitung yang diterapkan. Surat-surat yang panjang
terbagi lagi atas sub bagian lagi yang disebut ruku' yang membahas tema atau topik
tertentu.
 Kandungan Pokok Ajaran Al-Quran
Alquran sebagai sumber islam mengandung pokokpokok ajaran sebagai berikut :
1. Pokok-pokok keyakinan atau keimanan terhadap Allah, malaikat, kitab-kitab,
rasul-rasul, dan hari akhir. Dari pokok-pokok yang terkandung dalam Alquran ini
lahir teologi atau ilmu kalam.
2. Pokok-pokok peraturan atau hukum, yaitu garisgaris besar aturan tentang
hubungan dengan Allah, antar manusia dan hubungan manusia dengan alam yang
melahirkan syariat, hukum atau ilmu fikih.
3. Pokok-pokok aturan tingkah laku atau nilai-nilai dasar etika tingkah laku.
4. Petunjuk dasar tentang tanda-tanda alam yang menunjukkan eksistensi dan
kebesaran Tuhanmsebagai pecinta. Petunjuk dasar ini merupakan isyarat-isyarat
ilmiah yang melahirkan ilmu pengetahuan.
5. Kisah-kisah para nabi dan umat terdahulu.
6. informasi tentang alam gaib, seperti adanya jin, kiamat, surga, dan neraka.
C. As-Sunnah Sebagai Sumber Ajaran Islam
 Pengertian As-Sunnah
Ditinjau dari segi Bahasa Sunnah berarti cara, jalan, kebiasaan, dan tradisi. Kebiasaan
dan tradisi yang baik dan buruk. Arti Sunnah yang popular adalah “At-tariqah al-
mu’tadah hasanah kanat am syayyah”, suatu cara yang berlaku, baik cara itu bersifat
terpuji maupun tercela.

‫َّللاُ َع ِلي ٌم َح ِكي ٌم‬ َ ُ ‫سنَنَ الَّذِينَ ِم ْن قَ ْب ِل ُك ْم َويَت‬


َّ ‫وب َعلَ ْي ُك ْم ۗ َو‬ ُ ‫َّللاُ ِليُ َب ِينَ لَ ُك ْم َو َي ْه ِد َي ُك ْم‬
َّ ُ‫يُ ِريد‬
(Allah hendak menerangkan padamu) syariat-syariat agamamu dan
kepentingan-kepentingan dirimu (dan memimpin kepada sunah-sunah) atau jalan-
jalan (orang-orang yang sebelum kamu) dari para nabi dalam soal menghalalkan dan
mengharamkan, sehingga kamu dapat mengikuti mereka (serta menerima tobatmu)
dan membawa kamu kembali dari perbuatan maksiatmu selama ini kepada menaati-
Nya. (Dan Allah Maha Mengetahui) keadaanmu (lagi Maha Bijaksana) mengenai
rencana dan peraturan-peraturan-Nya terhadapmu. (An-Nisaa’, 4:26)
‫َّللاِ ت َ ۡبد ِۡي ًل‬ ُ ‫َّللاِ الَّتِ ۡی قَ ۡد َخلَ ۡت ِم ۡن قَ ۡب ُل ۚۖ َو لَ ۡن ت َ ِجدَ ِل‬
‫سنَّ ِۃ ہ‬ ‫سنَّ َۃ ہ‬
ُ
Sebagai suatu sunnatullah yang telah berlaku sejak dahulu, kamu sekali-kali
tiada akan menemukan perubahan bagi sunnatullah itu. (Surat Al-Fath, 48:23)

Makna Sunnah secara etimologi menurut Muhammad ajaj al-khatib (1975) yaitu
informasi yang disandarkan pada Rasulullah SAW berupa ucapan perbuatan atau keizinan.
Sunnah merupakan salah satu nama dari dalil-dalil hukum, apabila suatu hokum
ditetapkan berdasarkan Sunnah, maksudnya adalah dasar dari ketetapan tersebut ialah
keterangan dari Nabi Muhammad baik berupa ucapan (Sunnah Qauliyah), perbuatan
(Sunnah Filiyah) maupun ketetapan atau keizinannya (Sunnah Taqririyah).
 Kedudukan As-Sunnah
Allah telah menetapkan syariat dan aturan-aturan serta menurunkannya secara
bertahap melalui para nabi supaya menjadi pedoman hidup manusia agar selamat dunia
akhirat. Kedudukan Sunnah dalam sumber ajaran Islam merupakan sumber hokum kedua
setelah Al-Quran karena merinci apa yang belum dijelaskan secara eksplisif oleh Al-
Quran serta sebagai syariat yang terakhir yang menghimpun syariat Allah sebelumnya.
Keberadaan Al-Quran mengharuskan adanya As-Sunnah sebagai bagian besar dari syariat
Al-Quran yang diturunkan Allah untuk melengkapi Al-Quran yang bersifat umum atau
garis-garis besar saja seperti kewajiban sholat, zakat, haji, dll. Karena itu hukum-hukum
tersebut tidak mempublikasikan secara jelas sehingga As-Sunnah yang dijadikan perunjuk
dari Rasulullah.
 Fungsi As-Sunnah
1. As- Sunnah Sebagai Penguat Al-Quran
Sunnah berfungsi sebagai penguat pesan-pesan atau peraturan-peraturan yang tersurat
dalam ayat Al-Quran misalnya Al-Quran menyebutkan suatu kewajiban dan larangan,
lalu Rasul dalam sunnahnya menguatkan kewajiban dan larangan tersebut. Dalam
menguatkan pesan-pesan Al-Quran, As-Sunnah berperan antara lain :
a) Menegaskan kedudukan hukum, seperti penyebutan hukum wajib dan
fardhu.
b) Menerangkan posisi kewajiban atau larangan dalam syariat Allah
c) Menjelaskan sanksi hukum bagi pelanggarnya.
َ‫ين َأ ُّي َها يا‬ َّ ُ َ ُ
ََ ‫آمنوا ال ِذ‬ ‫اّلل ِآمنوا‬
َّ
َِ ‫ول َِه ِب‬ ‫س‬ُ ‫اب َو َر‬
َ ‫ت‬
َ ْ َ
‫ك‬ ‫ال‬‫و‬ ‫ي‬ ‫ذ‬
َّ َ َّ َ ‫َ َ ى‬
‫ال‬ َ ‫ل نز‬
‫ل‬ َ ‫ع‬
ِ ِ ِ ِ
ُ َ َ ْ َ َّ َ َ ْ َ ْ ُ ْ َ ْ َ َ ْ ُ ْ َ َّ َ ََ َ
‫ول َِه‬
ِ ‫س‬ ‫ر‬ َ
‫اب‬ِ ِ‫ت‬ ‫ك‬ ‫ال‬ ‫و‬ ‫ي‬ ‫ذ‬ِ ‫ال‬ َ
‫ل‬ ‫ز‬ ‫ن‬ ‫أ‬ َ
‫ن‬ ‫م‬ ِ َ
‫ل‬ ‫ب‬‫َۚق‬ َ
‫ن‬ ‫م‬ ‫و‬ َ
‫ر‬ ‫ف‬ ‫ك‬ ‫ي‬ َ
‫اّلل‬
ِ ‫ب‬
ِ ِ ِ ‫ومَل ِئ‬
َ
‫ه‬ ‫ت‬‫ك‬
ُُ ْ ْ ْ َ َ َّ َ ً َ َ ً َ
‫ل ف َق َد اْل ِخرَ َوال َي ْو ِ َم َو ُر ُس ِل َِه َوكت ِب َِه‬ َ ‫لض‬ َ ‫ب ِعيدا ضَل‬

(Hai orang-orang yang beriman, berimanlah kamu) artinya tetaplah beriman


(kepada Allah dan rasul-Nya dan kepada kitab yang diturunkan-Nya kepada rasul-
Nya) Muhammad saw. yakni Alquran (serta kitab yang diturunkan-Nya sebelumnya)
maksudnya kitab-kitab yang diturunkan-Nya kepada para rasul, dan menurut satu
qiraat kedua kata kerjanya dalam bentuk pasif. (Dan siapa yang ingkar kepada Allah,
malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari akhirat, maka
sungguhnya ia telah sesat sejauh-jauhnya) dari kebenaran. (Surat An-Nisaa, 4:136)

2. As-Sunnah Sebagai Penjelas Al-Quran


a) Menjelaskan makna-makna yang rumit dari ayat-ayat Al-Quran ( AL-Baqarah,
2:38)
b) Mengikat makna-makna yang bersifat lepas dari ayat-ayat Al-Quran ( Al-
Maaidah, 5:38)
c) Menkhususkan ketetapan-ketetapan yang disebut Al-Quran secara umum (Al-
Baqarah, 2:275)
d) Menjelaskan ruang lingkup masalah yang terkandung dalam mushaf Al-Quran
(Ali-Imran, 3:97)
e) Menjelaskan mekanisme pelaksanaan dari hukum-hukum yang ditetapkan Al-
Quran (Al-Maaidah, 5:3)
3. As-Sunah Sebagai Pembuat Hukum
As-sunnah menetapkan hukum yang belum ditetapkan dalam alquran.
Misalnya Al-quran menyebutkan empat macam makanan yang haram dalam surat Al-
Maidah : 3. Kemudian As-sunnah datang dengan ketetapan baru menambah jumlah
78 barang yang dilarang dimakan yaitu : “dari Ibnu Abbas berkata : Rasulullah
melarang (memakan) setiap binatang Was yang bertaring dan burung yang berkaki
penyambar (hadis riwayat Muslim dan Ibnu Abbas)
D. Ijtihad Sebagai Sumber Ajaran Islam
 Pengertian Ijtihad
Ijtihad adalah derivasi dari kata jahada yang artinya berusaha sungguh-sungguh.
Dalam pengertian terminologi hukum, Mukti Ali (1990) menyebutkan bahwa ijtihad
adalah berusaha sekeras-kerasnya untuk membentuk penilaian yang bebas tentang suatu
masalah hukum. Ijtihad adalah kemampuan berdasarkan isyarat-isyarat Al-Quran yang
kemudian menetapkan kesimpulan mengenai hukum masalah tersebut. Objek ijtihad
adalah perbuatan secara eksplisit tidak terdapat dalam Al-Quran dan As-Sunnah. Hal ini
memberi pengertian bahwa suatu perbuatan yang hukumnya telah ditunjuk secara
jelas,tegas, dan tuntas oleh ayat-ayat Al-Quran dan Sunnah tidak termasuk kategori objek
ijtihad.
 Kedudukan Ijtihad
Ijtihad menempati kedudukan sebagai sumber hukum Islam setelah al Qur’an dan
Hadis. Dalilnya adalah al Qur’an dan Hadis. Allah SWT berfirman:

ُ َ َ َ َ َ ْ َ َ ْ َ ْ َ َ ْ ُ ْ َ َ َ ُْ ُ
َ‫ث َو ِم ْن‬
َ ‫ت َح ْي‬َ ‫ك ف َولَ خ َر ْج‬َ ‫ام ال َم ْس ِج َِد شط َر وجه‬ َ ِ ‫ث الحر‬َ ‫م ما وحي‬ َ ‫كنت‬
ْ ُّ َ ْ ُ َ ُ ُ ُ َ ْ َ َّ َ َ ُ َ َّ ْ ُ ْ َ َ َّ ُ َّ َ َّ ْ ُ َ َ ْ ُ ْ
َ ‫م ف َول‬
‫وا‬ َ ‫َل شطرَه وجوهك‬ َ ‫ون ِلئ‬
َ ‫م ِللناسَ يك‬ َ ‫ل حجةَ عليك‬ َ ‫ين ِإ‬
َ ‫وا ال ِذ‬
َ ‫م ظ لم‬
َ ‫ِمنه‬
َ َ ْ ُ ْ َ ْ َ ْ َ ْ َ َّ ُ َ َ ْ ْ ُ ْ َ َ ْ ُ َّ َ َ َ َ ُ َ ْ َ
َ ‫مف‬
‫َل‬ َ ‫ن تخشوه‬ َ ِ ِ ‫م واخشو‬َ ‫ت وأل ِت‬
َ ِ ِ ‫م ِنعم‬
َ ‫م عليك‬ َ ‫ون ولعلك‬َ ‫تهتد‬
“Dan darimana saja kamu keluar maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil
Haram dan dimana saja kamu (sekalian) berada maka palingkanlah wajahmu
kearahnya” (QS. al-Baqarah, 2: 150)
Dari ayat tersebut dapat dipahami bahwa orang yang berada jauh dari ka’bah
Masjidil Haram, apabila hendak mengerjakan shalat, ia dapat mencari dan
menentukan arah kiblat shalat itu (masjidil Haram) melalui ijtihad dengan
mencurahkan pikirannya berdasarkan tanda-tanda yang ada.
 Fungsi Ijtihad
Fungsi ijtihad ialah untuk menetapkan hukum sesuatu, yang tidak ditemukan dalil
hukumnya secara pasti didalam al Qur’an dan hadis. Masalah-masalah yang sudah jelas
hukumnya, karena telah ditemukan dalilnya secara pasti didalam al Qur’an dan Hadis
seperti kewajiban beriman kepada rukun iman uyang enam, kewajiban melaksanakan
rukun Islam yang lima, maka masalah-masalah tersebut tidak boleh diijtihadkan lagi. Di
tinjau dari segi sejarah ijtihad, ijtihad telah dilakukan dari semenjak Rasulullah masih
hidup dan terus berlanjut setelah beliau wafat. Pada masa Rasulullah masih hidup, ada
beberapa sahabat yang melakukan ijtihad, yaitu tatkala berada jauh dari Rasulullah SAW.
Metode Ijtihad yang dinilai valid antara lain:
a) Qiyas, yaitu menerapkan hukum perbuatan tertentu kepada perbuatan lain
yang memiliki kesamaan. Misalnya Al-Quran melarang jual beli ketika Jumat,
hukum perbuatan selain dagang juga terlarang, karena sama-sama
mengganggu sholat jumat.
b) Istihsan, yaitu menetapkan hukum suatu perbuatan berdasarkan prinsip-prinsip
umum ajaran Islam seperti prinsip keadilan dan kasih saying.
c) Masalihul Mursalah, yaitu menetapkan hukum berdasarkan tinjauan kegunaan
atau kemanfaatannya sesuai dengan tujuan syariat. Perbedaannya dengan
Istihsan adalah jika Ihstisan menggunakan konsiderasi hukum-hukum
Universal dari Al-Quran dan As-Sunnah atau menggunakan dalil-dalil umum
dari kedua sumber tersebut, sedangkan Masalihul Mursalah menitikberatkan
kepada perbuatan dan kaitannya dengan tujuan Universal syariat Islam.
BAB III

PENUTUP

1. Kesimpulan
Dari pemantapan diatas dapat dikatakan bahwa sumber nilai dari ajaran islam
bertumpu pada wahyu Allah. Referensi hukum islam tidak terletak secara mutlak pada
suatu lembaga agama,semisal lembaga para ahli agama seperti yang ada pada agama
islam. Referensi normatif islam adalah wahyu yang terdiri dari kalam Allah swt.dan
penjelasan Rasul terhadap wahyu qurani Adapun Ijtihad meskipun secara definitif
ekuivalen dengan penggunan akal, namun pada hakikatnya merupakan upaya ilmiah
untuk mendekati wahyu allah. Alquran, As-Sunnah dan Ijtihad memiliki dan bobot nilai
yang satu sama lain berbeda.Berdasarkan analisis hakikat dan sistem periwayatannya,
maka Alquran mengambil posisi sebagai sumber utama dan utama,kemudian berturut-
turut As-Sunnah dan Ijtihad.
2. Saran
Saran dari kami adalah agar kita sebagai umat islam dapat mengamalkan dan
mempraktikan sumber – sumber agama islam dalam kehidupaan sehari – hari agar
kita bisa menjadi manusia yang beriman serta dapat menjadi pedoman sebagai
bekal kita di akhirat nanti.
DAFTAR PUSTAKA

1. Buku teks pendidikan agama islam pada perguruan tinggi umum, Prof. Dr.
Azyumardi Azra, Drs. Toto Suryana, M.pd., Prof. Dr. H. Ishak Abdulhaq, M.pd.,
Dr. H. Didin Hafiduddin, September 2002
2. Buku modul pendidikan agama islam, Fauzah Nur Aksa, S.Ag, MH, Unimal Press,
Jl. Sulawesi No.1-2 Kampus Bukit Indah Lhokseumawe 24351.