You are on page 1of 32

Menurut Wartapa dkk.

(2010), sistem pertanian vertikultur pertama kali
dikembangkan di Indonesia pada tahun 1897. Sistem pertanian vertikultur sendiri
merupakan cara bercocok tanam di dalam susunan rak dan wadah yang dibuat vertikal
menuju udara bebas. Umumnya dalam sistem pertanian vertikultur, media tanam di
tampung dalam wadah sederhana seperti kaleng, paralon PCV, riul, kerangka bambu
ataupun papan kayu yang dapat dimanfaatkan sebagai alternatif tempat media tanam.
Yulida (2012), menambahkan bahwa budidaya tanaman dengan vertikultur dapat
dilakukan di pekarangan rumah dengan skala ruang yang sempit karena disusun secara
vertikal.
Menurut Sutarminingsih (2008), kelebihan sistem pertanian vertikultur
diantaranya adalah lebih hemat biaya operasional karena pupuk yang diberikan tidak
mudah tercuci sehingga pemberiannya total dosis yang diberikan lebih sedikit jika
dibandingan dengan sistem tanam konvensional di lahan terbuka, jumlah gulma yang
tumbuh lebih sedikit, efisiensi dalam penggunaan lahan budidaya karena dapat diterapkan
di lahan yang sempit namun cukup intensitas cahaya serta dapat digunakan sebagai
keindahan untuk pekarangan rumah karena memiliki nilai estetika yang lebih jika
penanamannya dikombinasikan dan disusun rapi dengan tanaman lain. Akan tetapi di balik
kelebihannya tentu ada kelemahan dari sistem budidaya ini, diantaranya adalah rawan
terhadap serangan patogen terutama serangan jamur akibat permukaan tanah yang lembab
dikarenakan penyiraman yang harus dilakukan secara teratur setiap harinya. Selain itu,
untuk awal budidaya diperlukan media tanam berupa campuran tanah yang benar-benar
subur, kompos dan pasir. Kelemahan sistem pertanian ini adalah biaya yang cukup mahal
untuk membuat bangunan, pembelian sarana dan prasaranya serta untuk benih atau bibit
yang hendak dibudidayakan.
Desiliyarni dkk. (2003), menyatakan bahwa jenis-jenis tanaman yang dapat
dibudidayakan dengan cara vertikultur diantaranya adalah tanaman-tanaman yang
memiliki umur pendek, memiliki nilai ekonomis yang tinggi, dan memiliki sistem
perakaran yang tidak terlalu luas. Perwitasari dkk. (2012), memberikan contoh komoditi
yang dapat dibudidayakan dalam sistem pertanian vertikultur, yaitu sayuran sawi. Sawi
merupakan salah satu tanaman sayur yang dapat dimanfaatkan dalam sistem pertanian

8

vertikultur. Hal ini dikarenakan sawi merupakan salah satu tanaman populer di Indonesia
yang memiliki nilai ekonomis dan pasar yang cukup luas, merupakan tanaman semusim
yang memiliki umur pendek serta memiliki kandungan gizi dan puluhan manfaat yang
baik untuk tumbuh.
Tanaman lain yang dapat dibudidayakan pada sisem vertikultur adalah tanaman
kangkung. Kangkung merupakan tanaman jenis sayuran yang dapat ditumbuhkan dengan
stek batang ataupun dengan benih. Tanaman kangkung dianggap tanaman liar yang sangat
bergizi dan memiliki sifat antioksidan dan anti-inflamasi. Kandungan vitamin K, vitamin
C, lutein, kalsium, zeaxanthin serta beta-karoten pada kangkung cukup tinggi, ditambah
aktivitas antioksidan pada kangkung yang lebih baik dari pada kandungan antioksidan
pada bawang putih, bayam, kubis brussel serta brokoli bunga, membuat sayuran ini
digemari oleh berbagai kalangan baik kalangan rendah, menengah hingga kalangan atas.
Faktor lain yang membuat tanaman ini laku keras yaitu memiliki daya simpan yang lebih
lama jika dibandingan dengan sayuran lain seperti bayam (Ligor dan Buszewski, 2012).
Dalam setiap tindakan pembudidayaan tanaman baik secara tradisional dan
vertikultur selalu dipengaruhi oleh faktor lingkungan dan faktor internal yang berasal dari
benih atau bibit yang di tanam. Hal ini sesui dengan pendapat Nilum dkk. (2011), yang
menyatakan bahwa iklim dan kondisi tanah dimana tanaman ditumbuhkan merupakan
sebuah parameter yang dapat mempengaruhi proses pertumbuhan dari benih ataupun bibit
yang ditanam di media tanam. Dalam hal ini, jika menginginkan hasil yang optimum
budidaya tanaman dapat dilakukan di dalam rumah tanaman atau green house. Mangal
dkk. (2013), menyatakan bahwa setiap tanaman yang ditumbuhkan di suatu media tanam
memiliki toleransi yang tidak sama terhadap unsur-unsur hara tertentu yang diberikan.
Menurut Costaneda dkk. (2013), identifikasi terhadap faktor-faktor yang dapat
menjadi pemicu perkecambahan dari suatu benih yang ditanam harus dilakukan untuk
memperbaiki dan meningkatkan daya perkecambahannya. Perbaikan dan peningkatan
daya kecambah tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan teknologi yang dapat
memperbaiki daya perkecambahan dan tingkat kenormalan dari benih yang ditumbuhkan.
Dengan demikian diharapkan agar benih yang ditanam langsung di media tanam dapat
tumbuh dengan baik sebagaimana benih yang dikecambahkan di dalam wadah atau bak

9

perkecambahan.

Gambar 1. Tanaman dengan Metode Vertikultur

C. Media Tanam Vertikultur
Media tanam adalah tempat tanaman tumbuh dan berkembang (Hadiati dan
Aprianti, 2015). Komponen media tanam yang baik bagi pertumbuhan tanaman terdiri
dari tanah, bahan organik, air dan udara. Komponen utama tanah untuk kehidupan
tumbuhan yang optimal menurut Buckman dan Brady (1982) dalam jurnal pratiwi
dkk., (2017) terdiri dari 50% ruang pori, 45% bahan mineral (anorganik) dan 5% bahan
organik. Tanah humus bambu merupakan media tanah yang baik untuk tanaman. Hal
ini dikarenakan pada tanah bambu tercampur dengan serasah yang didekomposisi oleh
mikroorganisme sehingga tanah bambu menjadi lebih subur. Mikroorganisme tersebut
adalah Saccharomyces cerrevisiae, Lactobacillus sp., serta Aspergillus sp.
Mikroorganisme tersebut dapat mengurai sampah organik menjadi pupuk organik
yang dapat menyuburkan tanah (Ferawati dkk., 2014; Subba,1994 dalam Putra dkk.,
2014). Sekam berfungsi untuk memperbaiki sistem aerasi dan drainase media tanam.
Sekam mentah mudah mengikat air, tidak mudah lapuk, namun cenderung miskin hara

10

diperlukan penggunaan pupuk organik sebagai bahan amelioran tanah. Daerah Istimewa Yogyakarta b.210/6/2001. Berdasarkan penelitian dari Maryam dkk. Sleman. 2006). Departemen Pertanian yang berada di bawah dan bertanggungjawab kepada Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. dan nitrogen lebih tinggi daripada pupuk kompos dan pupuk kandang sapi. pupuk kandang ayam memiliki kandungan fosfor. IPPTP merupakan penggabungan unit kerja di bawah Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian dan Badan Pendidikan dan Latihan Pegawai Pertanian yaitu Laboratorium Hortikultura. Ngemplak. dan dalam pelaksanaannya dikoordinasikan oleh Kepala Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian (BBP2TP). (2015).. (Hadiati dan Aprianti. Faktor penting yang mempengaruhi peningkatan produktivitas sayuran adalah pemupukan namun penggunaan pupuk anorganik sintetis secara terus menerus mengakibatkan pengurasan hara S. Visi dan Misi BPTP DIY Visi 11 . D. Stasiun Tanah dan Balai Informasi Pertanian Yogyakarta. BPTP Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Yogyakarta merupakan Unit Pelaksana Teknis Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Wedomartani. Dengan demikian. 2015). kalium. BPTP Yogyakarta baru terbentuk pada tanggal 14 Juni 2001 berdasarkan SK Mentan Nomor 350/Kpts/OT. Bahan organik yang terkandung dalam pupuk organik dapat meningkatkan pertumbuhan dan hasil panen tanaman (Maryam dkk. Sampai dengan tahun 2001 unit kerja ini masih merupakan Instalasi Penelitian dan Pengkajian Teknologi Pertanian (IPPTP) Yogyakarta. Lokasi Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Yogyakarta beralamat di Jalan Stadion Maguwoharjo No. Mg. a. sehingga komponen pertumbuhan dan hasil pertumbuhan dari sayuran menjadi lebih tinggi juga. Zn dan Cu (Las et al.. 2015). 22. lembaga non- struktural yang merupakan instalasi dari BPTP Jawa Tengah. Ca.

Menjadi lembaga penelitian terkemuka penghasil teknologi dan inovasi pertanian modern untuk mewujudkan kedaulatan pangan dan kesejahteraan petani. Pelaksanaan pengembangan teknologi pertanian tepat guna spesifik lokasi Perakitan materi penyuluhan dan diseminasi hasil pengkajian teknologi e. tepat guna spesifik lokasi. BPTP menyelenggarakan fungsi: Pelaksanaan penyusunan program. d. laporan pengkajian. perakitan.lokasi. pengembangan dan diseminasi teknologi pertanian tepat guna spesifik lokasi. Misi 1. pertanian tepat guna spesifik lokasi. BPTP mempunyai tugas melaksanakan pengkajian. Pelaksanaan bimbingan teknis materi penyuluhan dan diseminasi hasil 12 . evaluasi. Pelaksanaan penelitian. pengkajian dan perakitan teknologi pertanianan c. rencana kerja. Dalam melaksanakan tugas tersebut. Pelaksanaan inventarisasi dan identifikasi kebutuhan teknologi pertanian b. anggaran. pengembangan dan diseminasi teknologi pertanian tepat guna spesifik lokasi. Menghasilkan dan mengembangkan teknologi pertanian modern yang memiliki scientific recognition dengan produktifitas dan efisienasi tinggi. f. Tugas Pokok dan Fungsi BPTP DIY Berdasarkan peraturan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor 19/Permentan/OT. tepat guna spesifik. 2. a. Hilirisasi dan masalisasi teknologi pertanian yang memiliki impact recognition.020/5/2017. perakitan. c.

dokumentasi. informasi. pengkajian teknologi pertanian tepat guna spesifik lokasi. pendayagunaan hasil pengkajian. Penyiapan kerja sama. dan pengembangan teknologi pertanian tepat guna spesifik lokasi. 13 . perakitan dan pengembangan h. rumah tangga dan i. perakitan. serta penyebarluasan dan g. dan Pelaksanaan urusan kepegawaian. keuangan. teknologi pertanian tepat guna spesifik lokasi. Pemberian pelayanan teknik pengkajian. perlengkapan BPTP.

BAB III METODE A. Cara Kerja Cara kerja yang dilakukan mengikuti prosedur yang telah dilaksanakan di BPTP. Sleman. sekop. Yogyakarta. 22. Alat dan Bahan Alat yang digunakan antara lain.5cm x 2. Yogyakarta. dan rockwool. kemudian dilubangi dengan tusuk gigi sedalam 0. Waktu dan Tempat Pelaksanaan Kerja praktek ini dilakukan selama 4 minggu. Setelah rockwool sudah cukup basah. selang. Wedomartani.5cm. Sleman. rockwool dipotong berbentuk kubus dengan ukuran 2. Pembibitan Masa pembenihan tanaman tanaman selada selama dua minggu. rockwool dijaga. Ngemplak. supaya selalu dalam kondisi lembab. rockwool tidak pecah. sebagai tempat benih yang akan ditumbuhkan. Ngemplak. Media yang digunakan untuk pembenihan adalah rockwool. Benih kemudian dimasukkan kedalam lubang yang telah dibuat di rockwool. Ngemplak. wadah vertikultur. Kerja praktek dimulai pada tanggal 23 Juli 2018 sampai dengan 23 Agustus 2018 dan dilaksanakan dari pukul 07. benih selada. Pada proses pemberian pupuk organik cair meliputi : a. Rockwool kemudian disimpan di tempat gelap sampai benih pecah dan keluar kecambah. ember. Pelaksanaan kerja praktek ini dilakukan di Balai Pengujian Teknologi Pertanian (BPTP). Sebelum digunakan sebagai media. yang terletak di Jalan Stadion Maguwoharjo No.00 WIB. Selama proses penyimpanan. I. D.30 WIB hingga pukul 16. Sleman. 14 .5 cm. rockwool terlebih dahulu direndam dalam air supaya dalam proses pemotongan. pipa peralon. pisau cutter dan tusuk gigi. I. D. B.5cm x 2. Benih selada terlebih dahulu direndam dalam air hangat selama 20 menit. Daerah Istimewa Yogyakarta. Air. C. Bahan yang digunakan antara lain. rockwool yang sudah dipotong- potong. cangkul.

Parameter Pengamatan Parameter yang diamati dalam penelitian ini adalah : 1. yaitu menggunakan cangkul. c. Tinggi tanaman (cm) Tinggi tanaman diukur mulai dari pangkal batang sampai titik tumbuh tanaman. yaitu media tanah. Pencampuran media dilakukan secara manual. benih dapat dikenakan sinar matahari secara tidak langsung. media tanah dicampur dengan sekam dengan perbandingan 1:1. Pemeliharaan dan Penanggulangan Hama Penyakit Setiap hari vertikultur yang telah ditanam. serta dicek apakah ada hama perusak tanaman. dan media tanah campur sekam dan pupuk kendang dengan perbandingan 1:1:1. lebar daun. e. Pengamatan dan Pengambilan Data Pengamatan dan pengambilan data dilakukan setiap seminggu sekali dimulai dari H-0 (hari penanaman bibit) selama empat minggu. Media yang sudah siap dan tercampur rata dimasukkan ke dalam pipa peralon yang bagaian sampingnya sudah diberi lubang untuk tempat menanam bibit selada. Pengukuran dilakukan mulai tanaman berumur 15. 2. panjang daun. tinggi tanaman. Jumlah daun 15 . 25 dan 35 hari setelah tanam. Data yang diamati berupa jumlah daun. Setelah berkecambah. dan kesegaran tanaman. Benih yang telah berkecambah ditumbuhkan sampai umur dua minggu. dengan ukuran jumlah ember media yang ditambahkan. Pemeliharan tanaman dilakukan tanpa penambahan pestisida. Penanaman Bibit selada yang sudah berumur dua minggu siap untuk dipindahkan ke media vertikultur dengan cara membuat cekungan pada lubang pada peralon yang kemudian bibit dimasukkan beserta dengan rockwool-nya d. Penyiapan Media Tumbuh Terdapat tiga macam media tumbuh yang digunakan sebagai bentuk perlakuan. Untuk mengairi tanaman pada vertikultur. digunakan irigasi tetes. D. dialiri air dengan irigasi tetes pada pagi dan sore hari. jika ada maka hama tersebut langsung diambil. b.

dan kesegaran tanaman) dengan variable independent (media yang digunakan/perlakuan dan tanaman yang ditanam/ulangan) signifikan atau tidak. Taraf signifikansi yang digunakan pada uji DMRT adalah 5% (0. Lebar Daun Lebar daun diukur dengan mistar menggunakan mistar dari sisi kiri daun sampai sisi kanan daun. jumlah daun. begitu sebaliknya.05). Panjang Daun Panjang daun diukur menggunakan mistar dari ujung daun sampai ujung pangkal daun. 5. panjang daun. jika nilai signifikansi lebih besar dari taraf signifikansi maka variabel independent tidak memberikan efek signifikan (tidak berpengaruh) pada variabel dependent (Nawari. Jika nilai signifikansi yang diperoleh dari uji DMRT kurang dari taraf signifikansi yang digunakan (0. Jika mulai mengguning maka nutrisi tanaman tersebut mulai terganggu E. Jumlah daun yang diamati pada saat tanaman berumur 15. 3. 4. Kesegaran Tanaman Kesegaran tanaman dapat diamati dari warna daun itu sendiri jika berwarna hijau maka nutrisi yang didapat tanaman tersebut stabil. 16 .05) maka dapat dikatakan variabel independent memberikan efek yang signifikan (berpengaruh) pada variabel dependent. Hasil Uji Duncan akan menunjukkan hungan variabel dependent (tinggi tanaman. 25 dan 35 hari setelah tanam. lebar daun. 2010).0. Analisis Data Data yang diperoleh dari setiap pengamatan kemudian dianalisis hubungan setiap variabelnya menggunkan Uji Duncan Multiple Range Test (DMRT) dengan software SPSS 16.

Pelaksanaan KP Penyelesaian laporan a. Presentasi 17 . Jadwal kegiatan pelaksanaan KP Juli Agustus September Oktober November Desember No Jadwal Kegiatan 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 Persiapan a. Penyusunan laporan Presentasi KP a. Pendafatran KP Pelaksanaan 2 a. Survei lokasi c. Penjelasan 1 proposal d. Pembuatan proposal e. Konsultasi b. Pendaftaran 4 presntasi KP b. Pengumpulan data b. F. Analisis hasil 3 c. Jadwal Kegiatan Tabel 1. Penjelasan laporan d.

21.3 4 4 4.5 6.>0.5 4. 14.75. Sedangkan taraf signifikan antara tinggi tanaman dengan ulangan (tanaman yang ditanam) adalah 0.747 atau sig.5 8 8 8 7.5 7 7 7 6. sekam dan pupuk kendang) 18 . T+S+P (media campuran tanah.5 6 6 6 6 6 6 6 5.1 3 3 3 2 0 T1 T2 T3 T4 T5 T1 T2 T3 T4 T5 T1 T2 T3 T4 T5 T1 T2 T3 T4 T5 T1 T2 T3 T4 T5 0 7 14 21 28 Hari Ke- T T+S T+S+P Ket: T (media tanah).3 5 5 5 4.6 5 4. T+S (media campuran tanah dan sekam).3 4. Tinggi Tanaman Uji DMRT yang dilakukan pada data tinggi tanaman terhadap media yang digunakan menunjukkan taraf signifikan (sig.2 7.3 4.6 5.5 6 5.5 3.5 9.5 5.2 4.2 5. 16 15 14 12 11.) <0. Hasil pengukuran tinggi tanaman selada.3 4 4.5 5.5 6.2 4. Rata-rata tinggi setiap tanaman selada pada hari pengukuran disajikan dalam grafik pada gambar 3. BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN A. dan 28.5 5.5 6.5 4.2 4 4 4 3. Hasil Penelitian 1.5 6 5 5 5 5 5.5 5 4.5 4.5 10 8.6 12 11 11 Tinggi Tanaman (cm) 9. Data pengukuran tinggi tanaman terdiri dari lima tanaman pada setiap media pada hari ke-0.5 5. disajikan dalam bentuk grafik dalam gambar 2.5 4.05.05.5 4. 7.5 5 5 5 5.

T+S (media campuran tanah dan sekam). 21. Sedangkan tanaman selada yang ditanam pada media T hanya mengalami pertumbuhan 1.46 4. sekam dan pupuk kendang) Gambar 3.2 5.56 cm.3 5. 14.74 6. 19 . Rata-rata tinggi tanaman selada pada pengukuran hari ke-0.Gambar 1. 14.3 3.8 4.46 cm atau tumbuh sebanyak 1.1 cm pada hari ke-28.9 2 0 0 7 14 21 28 Hari ke- T T+S T+S+P Ket: T (media tanah).1 6 5. Tanaman selada yang ditanam pada media T+S pada hari ke- 0 rata-rata tingginya adalah 3.62 5. 7. T+S+P (media campuran tanah. Rata-rata tinggi tanaman selada yang ditanam pada media T+S+P pada hari ke-0 adalah 4.9 cm dan pada hari terakhir pengamatan menjadi 5.42 cm dengan rata-rata pertumbuhan 1. 21. yaitu dari 4.16 4 4. dan 28 12 11.8 cm pada hari ke-0 menjadi 6.8 cm setiap minggunya.22 cm dan pada hari terakhir pengamatan atau hari ke-28 rata-rata tinggi tanaman adalah 11.8 8 7.14 5.36 4.22 5. dan 28 Hasil yang diperoleh menunjukkan tanaman selada yang mengalami pertambahan tinggi paling signifikan adalah tanaman selada yang ditanam pada media T+S+P.3 cm. Tinggi tanaman selada pada pengukuran hari ke-0.42 10 Rata-rata Tinggi Tanaman (cm) 8. 7.

) <0. 7. dan 28 20 . 21. 14. 14. Rata-rata jumlah daun setiap tanaman selada pada hari pengukuran disajikan dalam grafik pada gambar 5. T+S+P (media campuran tanah. Hasil pengukuran jumlah daun tanaman selada. dan 28. Jumlah Daun Uji DMRT yang dilakukan pada data jumlah daun terhadap media yang digunakan menunjukkan taraf signifikan (sig.>0.05. 7. Jumlah daun tanaman selada pada pengukuran hari ke-0. 21. Sedangkan taraf signifikan antara jumlah daun dengan ulangan (tanaman yang ditanam) adalah 0. Data pengukuran jumlah daun terdiri dari lima tanaman pada setiap media pada hari ke-0. disajikan dalam bentuk grafik dalam gambar 4.05. 2. 25 20 20 16 15 Jumlah Daun 15 12 11 10 10 11 10 10 10 10 9 9 9 9 88 8 88 8 8 8 8 7 7 7 7 7 7 7 7 7 6 66 6 6 6 6 6 6 65 6 6 6 6 6 6 6 6 4 4 545 6 5 5 4 5 5 0 T1 T2 T3 T4 T5 T1 T2 T3 T4 T5 T1 T2 T3 T4 T5 T1 T2 T3 T4 T5 T1 T2 T3 T4 T5 0 7 14 21 28 Hari Ke- T T+S T+S+P Ket: T (media tanah). T+S (media campuran tanah dan sekam). sekam dan pupuk kendang) Gambar 4.683 atau sig.

14. Rata-rata panjang 21 . 16 14.05. Data pengukuran panjang daun tanaman terdiri dari lima tanaman pada setiap media pada hari ke-0. semua selada yang ditanam memiliki jumlah daun 6. T+S+P (media campuran tanah. Selada yang ditanam pada medium T+S+P rata-rata memiliki jumlah daun 14. T+S (media campuran tanah dan sekam). 14.8 5. selada yang memiliki rata-rata jumlah daun paling banyak adalah selada yang ditanam pada media T+S+P. disajikan dalam bentuk grafik dalam gambar 4. 21.6 6. 21. Panjang Daun Uji DMRT yang dilakukan pada data panjang daun terhadap media yang digunakan menunjukkan bahwa taraf signifikan (sig. Sedangkan taraf signifikan antara jumlah daun dengan ulangan (tanaman yang ditanam) adalah 0. sekam dan pupuk kendang) Gambar 5. dan 28 Seperti halnya dengan tinggi tanaman. 7.2 4 5. 7.) <0.>0. pada medium T+S memiliki rata-rata jumlah daun 9 buah.6 6 5.8 6 7. 3.4 8 6 5. dan 28.2 daun.6 10 9 8.4 daun. Hasil pengukuran panjang daun tanaman selada. Rata-rata jumlah daun tanaman selada pada pengukuran hari ke-0.8 2 0 0 7 14 21 28 Hari ke- T T+S T+S+P Ket: T (media tanah).8 5. Pada awal penanaman. dan selada yang ditanam pada medium T hanya memiliki jumlah daun 7.4 14 Rata-rata Jumlah Daun 12 9.2 7.393 atau sig.6 5.05.

7 3. 21. sekam dan pupuk kendang) Gambar 6.28 8 6.7 7.6 5.48 4 5.9 4.5 5.6 5 4.3 3. 25 20 20 Panjang Daun (cm) 16 15 15 11 10.92 Rata-rata Panjang Daun (cm) 12 10 9.2 5. Panjang daun tanaman selada pada pengukuran hari ke-0.7 6 6 66.8 5.14 4. T+S (media campuran tanah dan sekam).8 7 7 7 6 6 6 6 64.88 6 4.5 4.1 7.6 5.94 4.4 5. 7.26.14 0 0 7 14 21 28 Hari ke- T T+S T+S+P 22 .5 4.5 6.5 3.5 5.5 6.5 6.36 3.1 2. T+S+P (media campuran tanah.54.24 4.86. daun setiap tanaman selada pada hari pengukuran disajikan dalam grafik pada gambar 5.5 6 6.66 3.5 2 3 3 3 4 4 3.6 0 T1 T2 T3 T4 T5 T1 T2 T3 T4 T5 T1 T2 T3 T4 T5 T1 T2 T3 T4 T5 T1 T2 T3 T4 T5 0 7 14 21 28 Hari Ke- T T+S T+S+P Ket: T (media tanah).5 4. 14.34 5.7 3.9 2 3.1 5 3.7 4.5 5.5 43 3.5 3.1 3.6 3.4 6. dan 28 14 11.5 4.5 11 10 10 10 10 10 9 9 9 8 8 8 7.

Hasil pengukuran lebar daun tanaman selada. sekam dan pupuk kendang) Gambar 7. Rata-rata lebar daun setiap tanaman selada pada hari pengukuran disajikan dalam grafik pada gambar 5.28 cm pada hari terakhir pengamatan. Data pengukuran lebar daun tanaman terdiri dari lima tanaman pada setiap media pada hari ke-0.Ket: T (media tanah). Pada hari ke-0 rata-rata panjang daun selada yang ditanam pada media T+S+P adalah 3. 23 . 21. 14. pada hari ke-0 memiliki rata-rata panjang daun 3. Selada yang ditanam pada media T.157 atau sig. Rata-rata panjang daun tanaman selada pada pengukuran hari ke-0. diikuti selada yang ditanam pada media T.>0. 7. 4.92 cm. Sedangkan taraf signifikan antara lebar daun dengan ulangan (tanaman yang ditanam) adalah 0. disajikan dalam bentuk grafik dalam gambar 4.05. Lebar Daun Uji DMRT yang dilakukan pada data lebar daun terhadap media yang digunakan menunjukkan bahwa taraf signifikan (sig.34 cm dan 7. 21.66 cm dan pada hari terakhir rata-rata panjang daunnya mencapai 11.) <0. dan pertumbuhan paling lambat pada selada yang ditanam pada media T+S. dan 28 Hasil pengukuran menunjukkan bahwa rata-rata pertumbuhan panjang daun tanaman selada yang paling pesat adalah selada yang ditanam pada media T+S+P. 14. 7. dan 28.05. T+S (media campuran tanah dan sekam). T+S+P (media campuran tanah.

T+S+P (media campuran tanah.3 4.4 7.5 2.3 20 17 Lebar Daun (cm) 15.2 2 3.82 3.34.52 6 4.1 0 0 7 14 21 28 Hari ke- T T+S T+S+P Ket: T (media tanah).4 15 13.06 4.5 4. 7.5 2.6 5.27. dan 28 18 16. 21. 14.3 6. T+S (media campuran tanah dan sekam).5 2.26 2.4 4 4 4 4.4 4 3.6 5 3 3 3 3 3.8 5.1 3 3. 25 18.7 16 Rata-rata Lebar Daun (cm) 14 12 10.8 4.3 3. T+S+P (media campuran tanah. Lebar daun tanaman selada pada pengukuran hari ke-0.8 6.1 3.3 4.6 4.3 12 9.8 0 T1 T2 T3 T4 T5 T1 T2 T3 T4 T5 T1 T2 T3 T4 T5 T1 T2 T3 T4 T5 T1 T2 T3 T4 T5 0 7 14 21 28 Hari Ke- T T+S T+S+P Ket: T (media tanah).7 4.13.5 13.9 3.5 2. dan 28 24 . 7.66 4.3 3. 14.5 5.5 4.5 8 5.2 4 4 4.7 5.2 3.5 19.3 4.3 9 10 10 8 88 6. sekam dan pupuk kendang) Gambar 9.8 7 7.5 5.7 4.5 5. Rata-rata lebar daun tanaman selada pada pengukuran hari ke-0.5 3. 21. T+S (media campuran tanah dan sekam).5 3.5 4.4 3 4.5 3.52 2.36 10 6.98 7.98 5.8 6. sekam dan pupuk kendang) Gambar 8.58 4 2.5 5 4.5 6.

Rata-rata lebar daun selada yang ditanaman pada media T+S+P sangat jauh berbeda dibandingkan dengan rata-rata lebar daun selada yang ditanam pada media T dan T+S bahkan mencapai tiga kali lipatnya. 14. 21.457 atau sig.>0. rata-rata lebar daun selada yang ditanam di media T+S+P 16. Table 2.05. Pada hari ke-28. dan 28 MEDIA Hari Tanaman Tanah + Tanah+Sekam + Ke. Kesegaran tanaman selada pada hari ke-0. Tanah Sekam Pupuk Kandang T1 +++ +++ +++ T2 +++ +++ +++ 0 T3 +++ +++ +++ T4 +++ +++ +++ T5 +++ +++ +++ T1 +++ ++ +++ T2 +++ ++ +++ 7 T3 +++ ++ +++ T4 ++ ++ +++ T5 ++ ++ +++ T1 ++ ++ +++ T2 ++ ++ +++ 14 T3 ++ ++ +++ T4 ++ ++ +++ T5 ++ ++ +++ 21 T1 +++ + +++ 25 . Sedangkan taraf signifikan antara kesegaran tanaman dengan ulangan (tanaman yang ditanam) adalah 0.) <0.5 cm dan selada yang ditanam pada media T 5. 5. 7.2 cm. sedangkan rata-rata lebar daun selada yang ditanam pada media T+S adalah 7.05.7 cm. Hasil pengamatan kesegaran tanaman disajikan dalam tabel berikut. Kesegaran Tanaman Uji DMRT yang dilakukan pada data kesegaran tanaman terhadap media yang digunakan menunjukkan bahwa taraf signifikan (sig. pertumbuhan lebar daun mulai signifikan pada hari ke-14.

sementara selada pada media T+S+P tidak mengalami penurunan kesuburan. Uji ini bisanya dilakukan untuk menguji apakah suatu variabel memiliki efek/hubungan yang signifikan atau tidak (Nawari. lebar daun dan kesegaran tanaman. Hal ini menunjukkan perlakuan penggunggunaan media yang berbeda memberikan efek yang signifikan terhadap variabel dependent. Uji Duncan yang dilakukan pada data tinggi tanaman. Pembahasan Uji DMRT (Duncan Multiple Range Test) atau dikenal juga dengan Uji Duncan memiliki niali kritis yang tidak tunggal. jumlah daun. tetapi nilai ini tidak dapat diketahui tepatnya dikarenakan sangat kecil. T2 +++ + +++ T3 ++ + +++ T4 + + +++ T5 ++ + +++ T1 ++ + +++ T2 ++ + +++ 28 T3 ++ + +++ T4 ++ + +++ T5 + + +++ ket: + : tidak segar ++ : cukup segar +++ :sangat segar Tanaman selada yang mengalami penurunan kesegaran paling tampak adalah selada yang ditanam pada media T+S. yang kemudian disebut variabel dependent terhadap media yang digunakan dan selada yang ditanam (ulangan). melainkan mengikuti urutan rata-rata yang dibandingkan. B. panjang daun. sehingga hanya tertulis 0 (nol) pada tabel uji DMRT (lampiran…). Sedangkan nilai signifikansi pada uji DMRT 26 . sedangkan selada yang ditanam pada media T mengalami penurunan dan pertambahan kesuburan di setiap pengamatan.05). yang kemudian disebut dengan variabel independent menunjukkan bahwa nilai signifikansi lebih kecil dari taraf signifikan (0. 2010).

lebar daun. sekam dan pupuk kendang. selada yang ditanam di bagian yang lebih tinggi terlihat sedikit lebih subur. Dari hasil pengamatan tinggi tanaman. panjang daun.variabel dependent terhadap ulangan lebih besar dari 0. jumlah daun.05 pada semua variabel dependent yang diuji. Tetapi pada hari ke-14. jumlah daun. Pada media T+S+P selada yang terlihat paling subur adalah media yang ditanam di titik paling tinggi. Selada yang ditanam berumur dan berukuran seragam. yaitu media tanah dan media campuran tanah dan sekam. Dilihat dari pertumbuhan rata- rata tinggi tanaman. Dari ketiga komponen tersebut yang sangat berpenganruh atau membuat media tersebut paling baik adalah pupuk kendang. Dalam setiap media vertikultur ditanam 5 (lima) selada sebagai ulangan yang disusun secara acak dari atas ke bawah. Dapat juga dikatakan bahwa pada semua ulangan disetiap perlakuan memiliki keseragaman hasil yang tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa ulangan yang dilakukan tidak berpengaruh terhadap variabel dependent. media tanah memiliki kesuburan yang lebih baik dari media campuran tanah dan sekam.05 maka faktor cahaya matahari ini dapat diabaikan karena pengaruhnya terhadap variabel dependent sangat kecil. dan kesegaran tanaman menunjukkan media yang paling baik atau paling subur adalah media campuran tanah. Hal ini dapat dilihat dari kedua media yang tanpa pupuk kendang. factor tanaman itu sendiri tidak atau sangat minim berpengaruh pada variabel dependent. panjang daun. Intensitas cahaya matahari menjadi salah satu faktor yang membuat selada yang ditanam paling tinggi lebih subur dari selada yang ditanam di titik bawahnya. pH tanah. Selada yang ditanam di titik yang lebih atas akan mendapat sinar matahari yang lebih banyak. Umur dan ukuran seragam untuk membatasi faktor lain selain variabel independent mempengaruhi variabel dependent. seperti suhu. intensistas cahaya. sehingga energi yang dihasilkan dari proses fotosintesis akan lebih banyak. Dikarenakan pada uji DMRT nilai signifikansi ulangan terhadap variabel dependent lebih besar dari 0. Perbedaan yang paling tampak pada selada yang ditanam pada media T+S+P. dan lebar daun serta penururunan kesuburan tanaman. 27 . Artinya faktor lain diluar perlakuan.

. Pupuk kendang yang digunakan merupakan kotoran ayam yang telah dikeringkan. Selada yang ditanam pada media T+S memiliki pertumbuhan yang paling lambat. Unsur P berperan dalam pembentukan dan perkembangan akar tanaman. 2015). Sehingga proses ini menjadi sangat penting untuk dilakukan. kimia dan terutama biologis (Hayati. Nitrogen berperan penting dalam berbagai biosintesis tanaman. Kalium (K). Salah jamur yang dapat menyerang tanaman selada adalah jamur Phytophthora sp. Hal ini dikarenakan sekam mentah yang ditambahkan pada media tidak sepenuhnya sekam 28 . dikarenakan bentuk vertikultur yang tegak. dilihat dari variabel dependent pada hari terakhir pengamatan. lemak dan enzim. bukan arang sekam. Berdasarkan hasil yang diperoleh. dkk. penambah sekam pada media justru memperlambat pertumbuhan tanaman selada. 2003). 2009 dalam Laude dan Tambing. Hal ini yang membuat tanaman selada pada media T+S+P memiliki pertumbuhan dan kesegaran paling tinggi. 2010).. Penambahan sekam pada media ditujukan untuk mengikat air supaya air yang masuk ke vertikultur tidak langsung mengalir ke bawah. Pengeringan kotoran ayam dilakukan untuk mengurangi kandungan airnya sehingga tidak menjadi media pertumbuhan jamur. Perbedaan paling tampak dari tanaman selada yang ditanam pada media T+S+P muncul pada hari ke-14. Dikarenakan sekam mentah miskin akan unsur hara. 2010). Kotoran ayam memiliki kandungan mineral Posfor (P). dan Nitrogen (N) yang tinggi. sehingga penambahan sekam ini tidak menambah kesuburan tanah. Perbedaan baru tampak dikarenakan pupuk kandang membutuhkan waktu untuk meremediasi tanah sehingga tanah subur untuk media tanam. Kandungan unsur hara yang tinggi ini sangat berpengaruh pada proses fisiologis tanaman selada. Unsur N dalam kotoran ayam dapat memacu pertumbuhan selada. dibandingkan dengan kotoran sapi (Maryam dkk. asam amino. Sedangkan unsur K berperan dalam proses biosintesis protein dan peningkatan resistensi tanaman terhadap penyakit (Purwa. seperti pembentukan klorofil. Sekam yang digunakan merupakan sekam yang masih mentah. Pupuk kandang membutuhkan waktu sekitar 15 hari untuk meremediasi tanah baik secara fisik. Jamur ini dapat menyebabkan pembusukan pada akar tanaman selada (Setyowati.

yang kosong. Media tanah yang digunakan yaitu tanah humus bambu. sehingga pada beberapa vertikultur terdapat tanaman gulma berupa tanaman padi yang tumbuh dari sekam yang ditambahkan pada media. Sedangkan selada yang ditanam pada media T memiliki pertumbuhan yang lebih baik. 29 . tetapi masih ada yang berisi bulir padi. Tanah humus bambu baik digunakan untuk media tanam dikarenakan memiliki berbagai macam mikro organisme yang dapat menyuburkan tanah.

BAB IV KESIMPULAN Dari penelitian yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa: 1. 2. 30 . 3. dan pupuk kendang. Pertumbuhan tanaman selada dengan metode vertikultur paling baik pada media campuran tanah. Penambahan pupuk kendang berupa kotoran ayam pada media vertikultur dapat menyuburkan tanah sehingga tanaman dapat tumbuh jauh lebih baik. sekam. Faktor yang paling berpengaruh pada metode vertikultur adalah media yang digunakan.

5: 113 – 123 ITIS. Laude. http://www2. Agrotekbis. Jurnal Floratek. K. Y. Novotna. 2003. M. Effect of Cadmium and Zinc on Growth and Biochemical Parameters of Selected Vegetables. 2010. Pengaruh Jenis Pupuk Organik terhadap Pertumbuhan dan Hasil.2013. 2015.P. Jakarta. A.. Description of Morphological Characters of Lettuce (Lactuca sativa L. E. dari Integrated Taxonomic Information System (ITIS).). Hortikultura Aspek Budidaya. DAFTAR PUSTAKA Ashari. Jakarta.. Tambing. Astuti. Pengaruh Pupuk Organik Mikroba Rumpun Bambu terhadap Pertumbuhan Tanaman Cabai (Capsicum annuum L. dan Kartika. A. 2 (1): 106-114 Maryam.2011.. H. 2008. Universitas Indonesia Press. Desiliyarni T. A.. A. 2018. Pengaruh Pupuk Organik dan Anorganik Terhadap Kandungan Logam Berat Dalam Tanah dan Jaringan Tanaman Selada.) pada Berbagai Dosis Pupuk Kandang Ayam. 3(2): 263 – 275 31 . 17(2): 144 – 148 Mangal M. Lebeda. Isu dan Pengelolaan Lingkungan dalam Revitalisasi Pertanian. J. Jurnal Litbang Pertanian. Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanianm Bogor. Agroland. dan A.. Pharmacognosy and Phytochemistry.. Ferawati.Sci. S. Fauzi dan J. Taxonomic of Lactuca sativa L.info/. Y. F.itis. 25(3): 106-114. Pertumbuhan dan Hasil Bawang Daun (Allium Fistulosum L. diakses 29 Juli 2018. Bul. A. 2006. F. Hort. I. Bhargava. 2010. Vinter.. dan Setiyanto. Subagyono. 1995. Barus. Agromedia. S. Vertikultur: Teknik Bertanam di Lahan Sempit. e-J. 2014. Susila. 35 (3): 113-129 Las. Vertikultur Konsep Praktis Pertanian Masyarakat Urban. Agrohorti. I. http://www. Dolezalova. Endah. D. C. Jatnika. 2010. E. dan Aiyen. Agarwalk dan D. V.. N. G. Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian. Panen Tanaman Sayuran di dalam Nethouse. 2(3): 269-276 Hayati. Buku Pedoman Umum Pelaksanaan M-KRPL.gov. Diakses 29 Juli 2018 Kristkova..bbpp-lembang.) Genetic Resources.

. Hal. N. Pengaruh Media Tanam dan Nutrisi Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Pakcoy (Brassica juncea L. Simanjuntak. Jakarta. Derita. N. Bandung. C.. Tripatmasari. B. 2017. Yogyakarta. ITB. 5(1):14-25 Pratiwi. 6 (2):152-156 32 . 1993.Astuti. 2003. N. M. Penurunan Penyakit Busuk Akar dan Pertumbuhan Gulma pada Tanaman Selada yang Dipupuk Mikrobia. I. Bertaman 36 Jenis Sayuran. V. Analisis Statistik Dengan MS Excel 2007 Dan SPSS 17. C.. 2(3): 230-236 Rubatzky. Jurusan Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada. Penebar Swadaya. 29(1): 11-20 Putra.. Agrotekbis. C. 2012. dan D. 2014. Nutrient Limitation of Tree Seedling of Growth in Three Soil Types Found in Sabah. 2014. I. Maycock. S. 1998. M. Bustaman.2011.Nawari. Pengaruh Campuran Media Tanam terhadap Pertumbuhan Tanaman Stroberi (Fragaria vesca L. 2010.) sebagai Tanaman Hias Taman Vertikal. M. Sayuran Dunia : Prinsip. S. E. 210 Nilum R. S.. 5(2): 48 – 57 Sunarjono. 2010. Lily Publisher.2008. Sugihartiningsih. Jakarta: 195. dan M. Saparinto..180 Setyowati. Yamaguchi. 2013. Uji Efektivitas Mikroba Rumpun Bambu terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Bawang Merah (Allium ascalonicum L. M. Hal. Pengaruh Jenis Pupuk dan Tanaman Antagonis Terhadap Hasil Cabai Rawit (Capsicum frutencens) Budidaya Vertikultur. H. Herison. dan Banjarnahor. Produksi dan Gizi. H.). Lee.E.) dengan Sistem Hidroponik. Tropical Florest Science. dan C. Budidaya Sayuran Sistem Pertanian Vertikal.. 204 Sutarminingsih. Gown Your Own Vegetables-Paduan Praktis Menenam Sayuran Konsumsi Populer di Pekaranagan. dan Andrianton. Burslem. 23 (2): 133-142. dan M. D.L. Jurnal Agrivor. D. Terjemahan. Yogyakarta. Wasonowati. Sangadji. Nitisapto. e-J. Yogyakarta: Kanisius. Wartapa A. Jurnal Ilmu-Ilmu Pertanian Indonesia. Ilmu-ilmu Pertanian.R. AGRIC. Pola Bertanam Secara Vertikal Vertikultur. Perwitasari B.. H. Elex Media Komputindo. dan Sukadi. N.

33 .

34 .

35 .

36 .

37 .

38 .

39 .