You are on page 1of 7



Jurnal STIKES RS. Baptis Kediri
Volume 4, No. 2, Desember 2011
ISSN 2085-0921
KAJIAN STRES HOSPITALISASI TERHADAP PEMENUHAN POLA TIDUR ANAK
USIA PRASEKOLAH DI RUANG ANAK RS BAPTIS KEDIRI

Desita Febriana
Mahasiswa STIKES RS. Baptis Kediri
Email :stikesbaptisjurnal@ymail.com
Aries Wahyuningsih
Dosen STIKES RS. Baptis Kediri
aries.wahyuningsih@yahoo.com

ABSTRACT

Backgorund : Hosptalized stress is a process which causes a reason that obliging child to stay
temporarly in the hospital, experiencing therapy and treatment until discharge instruction to return
back home. Hospitalized stress can cause the child experience impairment of sleep pattern,
especially pre school children. The negative impact from hospitalized stress to pre school children
including physical disorder, psychological disorder, social and adaptation disorders towards
environment. Most problem which is often complained was the difficulty to minimize child’s sleep
in improving freedom on their bed.
Method : The design used in this study was linear regression. The population was all parents with
pre school children who stayed in pediatric ward. The samples were 30 respondents who met
criteriaa inclusion using total sampling. The independent variable was hospitalized stress and the
dependent variable was disorder of sleep pattern, the data was collected using questionnaire and
interview, then analyzed using linear regression with significantt level α ≤ 0,05.
Conclusion : The result of this study showed that respondents had moderate hospitalized stress,
they were 24 respondents (85,4%). More that 50% respondents had worse sleep pattern, they were
23 respondents (62%). The result of statistical test using linear regression was p = 0,035, it meant
ho was refused and ha was accepted.

Key words : Stretching, Joint Pain, and the Elderly

Pendahuluan Dampak negatif dari hospitalisasi pada usia
anak prasekolah adalah gangguan fisik, psikis,
Stres merupakan istilah yang berasal sosial dan adaptasi terhadap lingkungan
dari bahasa latin “Stingere” yang berarti (Parini, 2002). Sedangkan masalah yang sering
“keras” (stricus), yaitu sebagai keadaan atau dikeluhkan orang tua adalah mereka sulit untuk
kondisi dari tubuh terhadap situasi yang meminimalkan tidur anak dalam meningkatkan
menakutkan, mengejutkan, membingungkan, kebebasan selama di tempat tidur.
membahayakan, dan merisaukan seseorang Berdasarkan data dari Ruang Anak RS
(Yosep, 2009). Berbicara mengenai stres, kita Baptis Kediri, jumlah pasien anak usia 3 – 6
cenderung menggambarkannya menurut apa tahun selama bulan Januari 2011 sampai pada
yang kita rasakan atau apa akibatnya bagi kita. bulan Maret 2011 sebanyak 126 pasien. Data
Stres itu diawali dengan adanya ketidak dari studi pendahuluan yang dilakukan peneliti
seimbangan antara tuntutan dan sumber daya pada tanggal 1 – 11 April 2011 pada 15 anak
yang dimiliki oleh semua individu, semakin yang sedang dirawat di ruang anak RS Baptis
tinggi kesenjangan terjadi semakin tinggi pula Kediri, didapatkan anak 10 (6%) menunjukkan
tingkat stres yang dialami oleh individu respon terhadap hospitalisasi dengan menangis,
tersebut (Yosep, 2009). Anak yang belum takut, tidak kooperatif terhadap petugas
pernah mengalami hospitalisasi lebih tinggi kesehatan, tidak mau makan dan selalu
tingkat stresnya dibanding dengan anak yang bertanya kepada ibunya kapan bisa pulang,
sudah pernah mengalami hospitalisasi beberapa sedangkan anak 5 (3%) menunjukkan respon
kali (Hellen, 2001). Pada anak prasekolah adaptif terhadap hospitalisasi, yaitu dengan
umumnya merasakan banyak ketakutan.

66

Jurnal STIKES RS. Baptis Kediri
Volume 4, No. 2, Desember 2011

menunjukkan respon kooperatif dengan Umur Frekuensi %
petugas kesehatan dan mau minum obat. 2 - < 3thn 12 39 %
Keadaan hospitalisasi dapat menjadi 3 - < 4thn 3 7%
stresor bagi anak saat dirawat di rumah sakit, 4 - < 5thn 6 24 %
sehingga anak akan mengalami stres 5 - < 6thn 4 10 %
6 thn 5 20 %
hospitalisasi yang ditunjukkan dengan adanya
Jumlah 30 100 %
perubahan beberapa perilaku pada anak.
Apabila masalah tidak teratasi, maka hal ini
Berdasarkan tabel 1 menunjukkan
akan menghambat proses perawatan anak dan
bahwa responden yang paling banyak berumur
kesembuhan anak itu sendiri. Upaya mengatasi
2 - < 3 tahun yaitu sebanyak 12 responden
masalah yang timbul pada anak dalam upaya
(39%).
perawatan di rumah sakit, difokuskan pada
Tabel 2. Karakteristik Responden Berdasarkan
intervensi keperawatan dengan cara
Hubungan dengan Pasien di Ruang
meminimalkan stresor, memaksimalkan
Anak Rumah Sakit Baptis Kediri
manfaat hospitalisasi dan memberi dukungan
pada tgl 23 Oktober s.d 14
psikologis pada anggota keluarga. Media yang
Nopember 2011
paling efektif dalam upaya meminimalkan
stresor atau penyebab stres adalah melalui
Hubungan
kegiatan permainan anak, oleh karena itu dengan pasien
Frekuensi %
pemberian aktivitas bermain pada anak di Orang tua 30 100
rumah sakit memiliki nilai terapeutik yang Jumlah 30 100
akan sangat berperan dalam memberikan
pelepasan stres dan ketegangan pada anak Berdasarkan tabel 2 menunjukkan
(Wong, 2003). Berdasarkan uraian diatas perlu bahwa mayoritas responden adalah orang tua
dilakukan penelitian tentang “Pengaruh Stres pasien yaitu sebanyak 30 responden (100%).
Hospitalisasi Terhadap Gangguan Pola Tidur
Anak Usia Prasekolah di Ruang Anak RS Tabel 3. Karakteristik Responden Berdasarkan
Baptis Kediri”. Jenis Kelamin Responden di Ruang
Anak Rumah Sakit Baptis Kediri
Metodologi Penelitian pada tgl 23 Oktober s.d 14
Desain yang digunakan adalah analitik Nopember 2011
cross sectional. Dalam penelitian ini variabel
sebab atau resiko dan akibat atau kasus yang Jenis
terjadi pada obyek penelitian diukur dan Frekuensi Presentase
Kelamin
dikumpulkan secara stimultan, sesaat atau satu Laki-laki 19 51 %
kali saja dalam satu kali waktu atau dalam Perempuan 11 49 %
waktu yang bersamaan. Jumlah 30 100 %
Populasi dalam penelitian ini adalah
Orang tua yang mempunyai anak usia Berdasarkan tabel 3 menunjukkan
prasekolah yang dirawat di Ruang Anak RS bahwa lebih dari 50% responden berjenis
Baptis Kediri. kelamin laki- laki yaitu sebanyak 19 responden
Besar sampel dalam penelitian tidak (51%).
dihitung karena sampel yang digunakan adalah
total sampling yaitu teknik pengambilan DATA KHUSUS
sampel dengan cara mengambil seluruh Tabel 4. Stres Hospitalisasi pada Anak di
populasi yang ada. Ruang Anak Rumah Sakit Baptis
Kediri pada tgl 23 Oktober s.d 14
Hasil Penelitian Nopember 2011
Data Umum No Stres Hospitalisasi Frekuensi %
Tabel 1. Karakteristik Responden Berdasarkan 1 Ringan 76-100 % 1 2%
Umur Pasien yang di Rawat di 2 Sedang 56-75 % 24 85 %
Ruang Anak Rumah Sakit Baptis 3 Berat ≤ 55 % 5 12 %
Kediri pada tgl 23 Oktober s.d 14 Jumlah 30 100 %
Nopember 2011

67

Jurnal STIKES RS. Baptis Kediri
Volume 4, No. 2, Desember 2011

Berdasarkan tabel 4 menunjukkan sedang yaitu 24 responden (85%).
bahwa sebagian besar anak mengalami stres

Tabel 5. Tabel 5 Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Berdasarkan Gangguan Pola
Tidur pada anak usia prasekolah di Ruang Anak Rumah Sakit Baptis Kediri Pada tgl 23
Oktober s.d 14 Nopember 2011

Kualitas Tidur Frekuensi %
Baik 7 38
Buruk 23 62
Total 30 100

Dari data di atas dapat diketahui bahwa lebih dari 50 % anak mengalami tidur yang buruk
yaitu sejumlah 23 orang (62%), sedangkan responden yang tidurnya baik sejumlah 7 responden
(38%).

Tabel 6. Tabulasi Silang Stres Hospitalisasi terhadap Gangguan pola tidur anak usia prasekolah
Pada Anak Di Ruang Anak Rumah Sakit Baptis Kediri pada tgl 23 Oktober s.d 14
Nopember 2011
Stres Hospitalisasi Total
Ringan Sedang Berat
Gangguan Baik 0 (0%) 7 (100%) 0 (0%) 7 (100%)
Pola Tidur Buruk 1 (2%) 17 (34%) 5 (64%) 23 (100%)
Total 1 (1%) 24 (55%) 5 (44%) 30 (100%)

Berdasarkan hasil tabulasi silang sebanyak 24 responden (85%). Anak yang
tersebut menunjukkan responden dengan mengalami stres berat sebanyak 5 responden
gangguan pola tidur (baik) dan stres (12%). Anak yang mengalami stres ringan 1
hospitalisasi (sedang) sebanyak 7 responden responden (2%).
(100%), gangguan pola tidur (buruk) dan stres Stres dapat didefinisikan sebagai,
hospitalisasi ringan sebanyak 1 responden respon adaptif, dipengaruhi oleh karakteristik
(2%), gangguan pola tidur (buruk) dan stres individual atau proses psikologis, yaitu akibat
hospitalisasi (sedang) sebanyak 17 responden dari tindakan, situasi, atau kejadian eksternal
(34%), gangguan pola tidur (buruk) dan stres yang menyebabkan tuntutan fisik atau
hospitalisasi (berat) sebanyak 5 responden psikologis terhadap seseorang (Ivancevich dan
(64%). Berdasarkan uji statistik regresi linear Matteson, 1980 dalam Kreitner dan Kinicki,
yang didasarkan taraf kemaknaan yang 2004 dalam Hidayat, 2006). Stres hospitalisasi
ditetapkan (α ≤ 0,05) didapatkan p = 0,035 merupakan gangguan psikologis yang
maka Ho ditolak dan H1diterima yang artinya diterima oleh seorang anak sebagai akibat
ada Pengaruh Stres Hospitalisasi Terhadap perawatan dirinya di rumah sakit (Dorland,
Gangguan Pola Tidur Pada Anak Di Ruang 1996). Hal ini disebabkan karena anak belum
Anak Rumah Sakit Baptis Kediri. mengerti mengapa mereka dirawat di rumah
sakit atau mengapa mereka terluka karena
Pembahasan tindakan keperawatan yang dilakukan
terhadapnya. Sumber stres yang terjadi pada
1. Stres Hospitalisasi pada Anak yang di anak usia prasekolah adalah segala sesuatu
rawat di Ruang Anak Rumah Sakit yang berhubungan dengan interaksi sosialnya
Baptis Kediri dengan lingkungan sekitar dan hubungan
Berdasarkan hasil penelitian stres interpersonal dengan orang yang sudah
hospitalisasi pada anak di Ruang Anak Rumah dikenal maupun yang belum dikenal dan juga
Sakit Baptis Kediri didapatkan bahwa mengenai hal – hal yang berkaitan dengan
sebagian besar anak mengalami stres sedang pribadinya misalnya, rasa percaya diri,

68

Jurnal STIKES RS. Baptis Kediri
Volume 4, No. 2, Desember 2011

kemampuan komunikasi yang terbatas (Ibung, metabolisme tubuh, meningkatnya detak
2008). Anak usia prasekolah sangat rentang jantung dan pernafasan, peningkatan tekanan
dengan stres dikarenakan kemampuan anak darah, timbulnya sakit kepala, serta yang lebih
untuk mengatasi stres masih terbatas, emosi berat lagi terjadinya serangan jantung. Gejala
mulai berkembang namun anak sebagai Psikologis, dari segi psikologis, stres dapat
individu belum mampu mengolahnya secara menyebabkan ketidakpuasan. Hal itu
tepat selain itu interaksi sosialnya meluas merupakan efek psikologis yang paling
mencakup lingkungan sosial yang tidak lagi sederhana dan paling jelas. Namun bisa saja
terbatas pada lingkungan rumah dan mulai muncul keadaan psikologis lainnya, misalnya
berhubungan dengan individu dari berbagai ketegangan, kecemasan, mudah marah,
usia dan latar belakang. Situasional stres tidak kebosanan, suka menunda-nunda. Gejala
terjadi dalam pola-pola yang dapat diramalkan Perilaku, gejala stres yang dikaitkan dengan
seperti kehidupan yang terus berkembang perilaku mencakup dalam produktivitas bicara
lebih dari itu situasi stres dapat terjadi dalam cepat, gelisah, dan gangguan pola tidur.
beberapa waktu, meskipun kemampuan
adaptasi mungkin sangat dipengaruhi oleh 2. Gangguan Pola Tidur pada Anak Usia
tingkat perkembangan individu, misalnya Prasekolah di Ruang Anak Rumah
sakit, kecelakaan, pernikahan, perceraian, Sakit Baptis Kediri
kematian, kerja baru dan peran baru (Hawari, Berdasarkan hasil penelitian
2001). Gangguan Pola Tidur pada Anak Usia
Stres hospitalisasi pada anak di ruang Prasekolah di Ruang Anak Rumah Sakit
anak RS Baptis Kediri ditunjukkan dengan Baptis Kediri didapatkan bahwa anak usia
anak menangis, suka mengeluh, tampak prasekolah dengan kualitas tidur yang buruk
ketakutan dan sedih, tidak mau berpisah yaitu lebih dari 50% sebanyak 23 responden
dengan keluarga, terkadang ada penurunan (62,0%) dari jumlah total 30 responden
nafsu makan. Diketahui bahwa sebagian besar (100%).
anak yang berusia 2 sampai kurang dari 3 Secara teori kuantitas tidur adalah
tahun yang berjenis kelamin laki – laki dan jumlah kebutuhan tidur manusia yang
perempuan mengalami stres sedang ini biasanya dijelaskan dengan waktu yang
dikarenakan anak masih belum bisa dibutuhkan untuk menjalani aktivitas tidur
mengungkapkan apa yang dirasakan karena dalam satu hari untuk memulihkan kondisi
anak masih mulai pengembangan kemampuan individu tersebut (Hurlock, 2000). Kebutuhan
berbahasa dan anak masih mulai belajar tidur pada manusia bergantung pada tingkat
mengembangkan emosi selain itu perkembangan. Anak usia prasekolah
kemungkinan karena adanya faktor lain, umumnya membutuhkan 7-8 jam/hari untuk
misalnya dari faktor internal karena karakter tidur. Kuantitas tidur dipengaruhi oleh
anak, kondisi fisik anak, dan dari faktor beberapa faktor, diantaranya faktor yang dapat
eksternal karena kondisi lingkungan rumah mempengaruhinya adalah : penyakit, latihan
sakit yang tidak seperti dirumah karena dan kelelahan, stres, obat, nutrisi, lingkungan
adanya petugas yang akan melakukan dan motivasi. Gangguan tidur sebagai
tindakan dan pola asuh orang tua. Dampak kebutuhan fisiologis dasar manusia terjadi
stres diantaranya dapat dilihat dari sakit yang secara alami dengan fungsi fisiologis dan
diderita misalnya: tekanan darah tinggi, tukak psikologis yang melekat merupakan suatu
lambung, maag, stroke, atau dari perilaku, proses perbaikan tubuh (Aziz, 2008).
kesulitan mengambil; keputusan, hilangnya Gangguan tidur padaanak usia prasekolah
selera makan dan lain sebagainya. Kondisi merupakan keadaan dimana individu
tersebut menandakan bahwa individu tersebut mengalami suatu perubahan dalam kuantitas
sedang mengalami stres. Dari kondisi dan kualitas pola tidur yang menyebabkan
tersebut, Robbins (1996) menyatakan ada tiga rasa tidak nyaman atau mengganggu gaya
kategori umum dari dampak stres, yaitu: hidup yang diinginkan. Ganguan tidur pada
gejala fisiologis, gejala fisiologis merupakan anak jika tidak segera ditangani akan
gejala awal yang bisa diamati, terutama pada berdampak serius dan akan menjadi gangguan
penelitian medis dan ilmu kesehatan. Stres tidur yang kronis secara fisiologis, jika
cenderung berakibat pada perubahan seseorang tidak mendapatkan tidur yang

69

Jurnal STIKES RS. Baptis Kediri
Volume 4, No. 2, Desember 2011

cukup untuk mempertahankan kesehatan dirinya (Newman dalam Herliana, dkk, 2004).
tubuh dapat menurun. Gangguan pola tidur Selain itu perkembangan juga mempengaruhi
pada anak usia prasekolah misal : kontrol diri (Hurlock, 1990). Salah satunya
meningkatnya frekuensi terbangun di malam adalah perkembangan kognitif, perkembangan
hari atau meningkatnya fragmentasi tidur kognitif yang terjadi selama masa prasekolah
karena seringnya terbangun. Walaupun dan masa kanak-kanak secara bertahap akan
demikian, rata-rata waktu tidur total anak meningkatkan kapasitas individu untuk
hampir sama dengan dewasa muda. Ritmik membuat pertimbangan sosial dan mengontrol
sirkadian tidur-bangun anak juga sering perilakunya. Di mana ketika individu beranjak
terganggu. Seringnya terbangun pada malam dewasa akan memiliki kemampuan berpikir
hari menyebabkan keletihan, mengantuk, dan yang lebih kompleks (Santrock 1999).
mudah jatuh tidur pada siang hari. Pengukuran gangguan kualitas tidur dengan
Berdasarkan uraian di atas menggunakan kuesioner dan pengukuran stres
memperhatikan tidur dengan baik serta hospitalisasi pada anak yang dirawat di Ruang
pemberian pendidikan kesehatan oleh petugas Anak RS Baptis Kediri dengan cara
kesehatan tentang pentingnya mencukupi wawancara.
waktu tidur yang masih kurang sangatlah Dalam penelitian ini anak yang
diperlukan khususnya bagi para orang tua dari berumur 2 sampai kurang dari 3 tahun
anak mereka yang sedang di rawat di rumah sebagian besar mengalami stres sedang dan
sakit. Apabila anak mengalami gangguan pada kehilangan kendali sedang sebanyak 12
siklus tidurnya maka dampak yang responden hal ini ditunjukkan anak sering
ditimbulkan keadaan fisik anak menjadi menangis, menolak perhatian, kurang
lemah, tidak dapat berkonsentrasi, sehingga berminat bermain, anak menjadi pendiam,
dapat memperlambat proses penyembuhan. mudah marah, anak merasa kehilangan
Sehingga perlu dihimbau pada orang tua dari kebebasaanya. Kehilangan kendali tidak
anak mereka agar memperhatikan pentingnya mempengaruhi stres hospitalisasi pada anak,
menjaga kualitas tidur. Apabila anak pernah dikarenakan ada faktor lain yang
mengalami pengalaman yang tidak mempengaruhi kehilangan kendali pada anak
menyenangkan selama dirawat di rumah sakit seperti pola asuh orang tua yang sangat
sebelumnya akan menyebabkan anak takut disiplin sehingga membuat anak bersikap baik
dan trauma, sebaliknya apabila anak dirawat atau menurut pada orang tua selama dalam
di rumah sakit mendapatkan perawatan yang perawatan dan anak dapat mengontrol dirinya
baik dan menyenangkan maka anak akan lebih dengan baik, selain itu anak sudah terbiasa
kooperatif pada perawat dan dokter. dengan kondisi lingkungan Rumah Sakit
selain itu mayoritas orang tua selalu berada
3. Pengaruh stres hospitalisasi terhadap didekat anak sehingga anak merasa lebih
gangguan pola tidur anak prasekolah aman dan nyaman selama dalam proses
yang dirawat di Ruang Anak RS Baptis perawatan di Rumah Sakit. Anak akan merasa
Kediri. asing apabila berada di tempat yang sama
Hasil penelitian Pengaruh stres sekali belum pernah ditemuinya demikian
hospitalisasi terhadap gangguanpola tidur sebaliknya, anak akan merasa lebih tenang
anak prasekolah yang dirawat di Ruang Anak karena sebelumnya pernah menjumpai tempat
RS Baptis Kedirimenunjukkan bahwa stres perawatan seperti di rumah sakit.
hospitalisasi berpengaruh terhadap gangguan Gangguan pola tidur merupakan suatu
pola tidur anak usia prasekolah.Setelah keluhan yang paling sering ditemukan pada
dilakukan dilakukan uji statistik regresi linear penderita yang datang ke praktik. Gangguan
yang didasarkan taraf kemaknaan yang pola tidur dapat dialami oleh semua lapisan
ditetapkan (α ≤ 0,05) didapatkan p = 0,035 masyarakat, yang paling sering ditemukan
maka Ho ditolak dan H1diterima yang artinya pada anak yang sedang di rawat di rumah
ada Pengaruh Stres Hospitalisasi Terhadap sakit. Pada orang normal gangguan tidur yang
Gangguan Pola Tidur Pada Anak Di Ruang berkepanjangan mengakibatkan perubahan
Anak Rumah Sakit Baptis Kediri. pada siklus tidur biologinya, menurun daya
Semakin bertambah usia seseorang tahan tubuh serta menurunkan prestasi kerja,
maka semakin baik kemampuan mengontrol mudah tersinggung, depresi, kurang

70

Jurnal STIKES RS. Baptis Kediri
Volume 4, No. 2, Desember 2011

konsentrasi, kelelahan yang pada akhirnya DAFTAR PUSTAKA
dapat mempengaruhi keselamatan diri sendiri
dan orang lain (Rahmat, 2004). Kuantitas Alimul H., Aziz, (2006). Pengantar
tidur dipengaruhi oleh beberapa faktor, Kebutuhan Dasar Manusia
diantaranya faktor yang dapat Aplikasi Konsep dan Proses
mempengaruhinya adalah stres. Bila anak Keperawatan. Salemba Medika :
mengalami stres maka dalam dirinya akan Jakarta
timbul gejala-gejala diantaranya gejala Alimul H., Aziz, (2008). Keperawatan anak I.
fisiologis, psikologis dan perilaku. Gejala Salemba Medika : Jakarta
psikologis seperti kecemasan akan membuat Hall D, Guyton, (1996). Buku Ajar Fisiologi
respon hipotamus meningkat sehingga Kedokteran. EGC : Jakarta
individu yang mengalami kecemasan akan Hurlock. (1990). Psikologi Perkembangan.
sulit untuk tertidur dan cenderung terjaga. Jakarta : Erlangga
Hasil penelitian membuktikan bahwa Hurlock. (2000). Psikologi Perkembangan.
ada Pengaruh Stres Hospitalisasi terhadap Jakarta : Erlangga
Gangguan Pola Tidur pada Anak Usia Iyus, Yosep. (2009). Keperawatan Jiwa. PT
Prasekolah Di Ruang Anak Rumah Sakit Revika Aditama : Bandung.
Baptis Kediri. Hal ini disebabkan karena Notoatmojo, (2002). Metodologi Penelitian
Kuantitas pada anak usia prasekolah di ruang Keperawatan. Jakarta : Rineka
anak Rumah Sakit Baptis Kediri kurang dari 7 Cipta,
jam dan memiliki memiliki tingkat stres berat. Nursalam, (2003). Konsep Dan Penerapan
Dengan mengetahui bahwa tingkat stres Metodologi penelitian Ilmu
berpengaruh terhadap kuantitas tidur Keperawatan.Jakarta : Salemba
diharapkan anak dapat mengurangi tingkat Medika
stresnya, sehingga kuantitas tidurnya dapat Nursalam. (2008). Konsep & Penerapan
lebih optimal. Metodologi Penelitian Ilmu
Keperawatan Pedoman Skripsi,
Kesimpulan Tesis Dan Instrument Penelitian
Keperawatan. Jakarta : Salemba
Dari 30 responden yang dilakukan Medika.
pada tanggal 23 Juni 2011 sampai dengan 14 Rafiudin, Rahmat, (2004). Insomnia dan
Juli 2011 di Ruang Anak Rumah Sakit Baptis Gangguan Tidur Lainnya. Jakarta :
Kediri didapatkan : Gramedia
1. 85% anak mengalami stres hospitalisasi
sedang pada anak di Ruang Anak Rumah
Sakit Baptis Kediri.
2. 62% anak mengalami gangguan pola tidur
pada anak usia prasekolah di Ruang Anak
Rumah Sakit Baptis Kediri.
3. Hasil uji statistik regresi linear yang
didasarkan taraf kemaknaan yang
ditetapkan (α ≤ 0,05) didapatkan p = 0,035
maka Ho ditolak dan H1diterima yang
artinya ada Pengaruh Stres Hospitalisasi
Terhadap Gangguan Pola Tidur Pada Anak
Di Ruang Anak Rumah Sakit Baptis
Kediri.

71

Jurnal STIKES RS. Baptis Kediri
Volume 4, No. 2, Desember 2011

72