You are on page 1of 29
Skip to content
Skip to content
 About
About
Search for:
Search for:

ASKEP TYPOID PADA ANAK DAN TEORINYA

TYPOID

  • 1. DEFENISI Typoid adalah penyakit infeksi sistemik akut yang disebabkan infeksi salmonella Thypi. Organisme ini masuk melalui makanan dan minuman yang sudah terkontaminasi oleh faeses dan urine dari orang yang terinfeksi kuman salmonella. ( Bruner and Sudart, 1994). Typhoid adalah penyakit infeksi akut usus halus yang disebabkan oleh kuman salmonella thypi dan salmonella para thypi A,B,C. sinonim dari penyakit ini adalah Typhoid dan paratyphoid abdominalis. (Syaifullah Noer, 1996). Typhoid adalah suatu penyakit pada usus yang menimbulkan gejala-gejala sistemik yang disebabkan oleh salmonella typhosa, salmonella type A.B.C. penularan terjadi secara pecal, oral melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi (Mansoer Orief.M. 1999).

  • 1. ETOLOGI Etiologi typhoid adalah salmonella typhi. Salmonella para typhi A. B dan C. ada dua sumber penularan salmonella typhi yaitu pasien dengan demam typhoid dan pasien dengan carier. Carier adalah orang yang sembuh dari demam typhoid dan masih terus mengekresi salmonella typhi dalam tinja dan air kemih selama lebih dari 1 tahun.

1.

PATOFISIOLOGI

Penularan salmonella thypi dapat ditularkan melalui berbagai cara, yang dikenal dengan 5 F yaitu Food (makanan), Fingers (jari tangan / kuku), Fomitus (muntah), Fly (lalat), dan melalui Feses. Feses dan muntah pada penderita typhoid dapat menularkan kuman salmonella thypi kepada orang lain. Kuman tersebut dapat ditularkan melalui perantara lalat, dimana lalat akan hinggap dimakanan yang akan dimakan oleh orang yang sehat. Apabila orang tersebut kurang memperhatikan kebersihan dirinya seperti mencuci tangan dan makanan yang tercemar kuman salmonella thypi masuk ke tubuh orang yang sehat melalui mulut. Kemudian kuman masuk ke dalam lambung, sebagian kuman akan dimusnahkan oleh asam lambung dan sebagian lagi masuk ke usus halus bagian distal dan mencapai jaringan limpoid. Di dalam jaringan limpoid ini kuman berkembang biak, lalu masuk ke aliran darah dan mencapai sel-sel retikuloendotelial. Sel-sel retikuloendotelial ini kemudian melepaskan kuman ke dalam sirkulasi darah dan menimbulkan bakterimia, kuman selanjutnya masuk limpa, usus halus dan kandung empedu.

  • 1. TANDA DAN GEJALA Masa tunas typhoid 10 14 hari Minggu I Pada umumnya demam berangsur naik, terutama sore hari dan malam hari. Dengan keluhan dan gejala demam, nyeri otot, nyeri kepala, anorexia dan mual, batuk, epitaksis, obstipasi / diare, perasaan tidak enak di perut. Minggu II Pada minggu II gejala sudah jelas dapat berupa demam, bradikardi, lidah yang khas (putih, kotor, pinggirnya hiperemi), hepatomegali, meteorismus, penurunan kesadaran.

  • 1. PEMERIKSAAN PENUNJANG

  • 1. Uji Widal

Uji widal adalah suatu reaksi aglutinasi antara antigen dan antibodi (aglutinin). Aglutinin yang spesifik terhadap salmonella thypi terdapat dalam serum klien dengan typhoid juga terdapat pada orang yang pernah divaksinasikan. Antigen yang digunakan pada uji widal adalah suspensi salmonella yang sudah dimatikan dan diolah di laboratorium. Tujuan dari uji widal ini adalah untuk menentukan adanya aglutinin dalam serum klien yang disangka menderita typhoid. Akibat infeksi oleh salmonella thypi, klien membuat antibodi atau aglutinin yaitu :

  • 1. Aglutinin O, yang dibuat karena rangsangan antigen O (berasal dari tubuh kuman).

  • 2. Aglutinin H, yang dibuat karena rangsangan antigen H (berasal dari flagel kuman).

Dari ketiga aglutinin tersebut hanya aglutinin O dan H yang ditentukan titernya untuk diagnosa, makin tinggi titernya makin besar klien menderita typhoid.

  • 1. Pemeriksaan SGOT dan SGPT SGOT dan SGPT pada demam typhoid seringkali meningkat tetapi dapat kembali normal setelah sembuhnya typhoid.

  • 1. Pemeriksaan darah tepi : Leukopenia, Limfositosis, Aneosinofilia, Anemia, Trombositopenia.

  • 2. Pemeriksaan sum-sum tulang : menunjukan gambaran hiperaktif sum-sum tulang.

  • 3. Biakan empedu : terdapat basil salmonella typhosa pada urin dan tinja. Jika pada pemeriksaan selama dua kali berturut-turut tidak didapatkan basil salmonella typhosa pada urin dan tinja, maka pasien dinyatakan betul-betul sembuh.

  • 1. PENATALAKSANAAN

  • 1. Perawatan

  • 1. Istirahat dan perawatan professional; bertujuan mencegah komplikasi dan mempercepat pertumbuhan. Pasien harus tirah baring absolute sampai minimal 7 hari bebas demam atau kurang lebih selama 14 hari. Mobilisasi dilakukan bertahap sesuai dengan pulihnay kekuatan pasien. Dalam perawatan perlu sekali dijaga hygiene perseorangan, kebersihan tempat tidur, pakaian dan peralatan yang dipakai oleh pasien. Pasien dengan kesadaran menurun, posisinya perlu diubah-ubah untuk mencegah dekubitus dan pneumonia nipostatik. Defekasi dan buang air kecil perlu diperhatikan karena kadang-kadang terjadi abstipasi dan retensi urin.

  • 2. Mobilisasi bertahap bila tidak ada panas, sesuai dengan pulihnya tranfusi bila ada komplikasi perdarahan.

  • 1. Diet

  • 1. Diet yang sesuai, cukup kalori dan tinggi protein.

  • 2. Pada penderita yang akut dapat diberi bubur saring.

  • 3. Setelah bebas demam diberi bubur kasar selama 2 hari lalu nasi tim.

  • 4. Dilanjutkan dengan nasi biasa setelah penderita bebas dari demam selama 7 hari.

  • 5. Vitamin dan mineral

  • 1. Pengobatan Pemberian antibiotic; untuk menghentikan dan memusnakan penyebaran kuman. Antibiotik yang dapat digunakan :

  • 1. Klorampenikol Kloramfenikoldosis hari pertama 4 x 250 mg, hari kedua 4 x 500 mg, diberikan selama demam dilanjutkan sampai 2 hari bebas demam, kemudian dosis diturunkan menjadi 4 x 250 mg selama 5 hari kemudian. Penelitian terakhir (Nelwan, dkk di RSUP

Persahabatan), penggunaan kloramfenikol masih memperlihatkan hasil penurunan suhu 4 hari, sama seperti obat-obat terbaru dari jenis kuinolon.

  • 1. Tiampenikol

  • 2. Kotrimoxazol Kotrimoksasol; 2 x 2 tablet (a tablet mengandung 400 mg sulfametoksasol 80 mg trimetoprim, diberikan selama 2 minggu pula.

  • 1. Amoxilin dan ampicillin Ampisilin / Amoksilin; dosis 50 150 mg / kg BB, diberikan selama 2 minggu

  • 1. Sefalosporin Sefalosporin generasi II dan III. Di Sub bagian Penyakit Tropik dan Infeksi FKUI RSCM, pemberian sefalosporin berhasil mengatasi demam tipoid dengan baik. Demam pada umumnya mengalami reda pada hari ke-3 atau menjelang hari ke-4

PENGKAJIAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN TYPOID

  • 1. PENGKAJIAN

  • 1. Riwayat Kesehatan Sekarang Mengapa pasien masuk Rumah Sakit dan apa keluahan utama pasien, sehingga dapat ditegakkan prioritas masalah keperawatan yang dapat muncul.

  • 1. Riwayat Kesehatan Sebelumnya Apakah sudah pernah sakit dan dirawat dengan penyakit yang sama.

  • 1. Riwayat Kesehatan Keluarga Apakah ada dalam keluarga pasien yang sakit seperti pasien.

  • 2. Riwayat Psikososial Intrapersonal : perasaan yang dirasakan klien (cemas / sedih) Interpersonal : hubungan dengan orang lain.

  • 3. Pola Fungsi kesehatan Pola nutrisi dan metabolisme : Biasanya nafsu makan klien berkurang karena terjadi gangguan pada usus halus

Selama sakit pasien merasa tidak dapat istirahat karena pasien merasakan sakit pada perutnya, mual, muntah, kadang diare.

  • 1. Pemeriksaan Fisik

  • 1. Kesadaran dan keadaan umum pasien Kesadaran pasien perlu di kaji dari sadar tidak sadar (composmentis coma) untuk mengetahui berat ringannya prognosis penyakit pasien.

  • 2. Tanda tanda vital dan pemeriksaan fisik Kepala kaki TD, Nadi, Respirasi, Temperatur yang merupakan tolak ukur dari keadaan umum pasien / kondisi pasien dan termasuk pemeriksaan dari kepala sampai kaki dengan menggunakan prinsip-prinsip inspeksi, auskultasi, palpasi, perkusi), disamping itu juga penimbangan BB untuk mengetahui adanya penurunan BB karena peningakatan gangguan nutrisi yang terjadi, sehingga dapat dihitung kebutuhan nutrisi yang dibutuhkan.

  • 1. MASALAH KEPERAWATAN

  • 1. Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan proses infeksi salmonella thypi.

  • 2. Resiko tinggi pemenuhan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake yang tidak adekuat.

  • 3. Kurangnya pengetahuan tentang penyakitnya berhubungan dengan kurang informasi.

  • 1. INTERVENSI

  • 1. Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan proses infeksi salmonella thypi. Tujuan : Suhu tubuh normal Intervensi:

  • 1. observasi suhu tubuh klien Rasional : mengetahui perubahan suhu tubuh.

  • 2. Beri kompres dengan air hangat (air biasa) pada daerah axila, lipat paha, temporal bila terjadi panas Rasional : melancarkan aliran darah dalam pembuluh darah.

  • 3. Anjurkan keluarga untuk memakaikan pakaian yang dapat menyerap keringat seperti katun Rasional : menjaga kebersihan badan

  • 4. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat anti piretik Rasional : menurunkan panas dengan obat.

  • 5. Resiko tinggi pemenuhan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake yang tidak adekuat. Tujuan :

Nutrisi kebutuhan tubuh terpenuhi

Intervensi :

  • 1. Kaji pola nutrisi klien Rasional : mengetahui pola makan, kebiasaan makan, keteraturan waktu makan.

  • 2. Kaji makan yang di sukai dan tidak disukai Rasional : meningkatkan status makanan yang disukai dan menghindari pemberian makan yang tidak disukai.

  • 3. Anjurkan tirah baring / pembatasan aktivitas selama fase akut Rasional : penghematan tenaga, mengurangi kerja tubuh.

  • 4. Timbang berat badan tiap hari Rasional : mengetahui adanya penurunan atau kenaikan berat badan.

  • 5. Anjurkan klien makan sedikit tapi sering Rasional : mengurangi kerja usus, menghindari kebosanan makan.

  • 6. Kolaborasi dengan ahli gizi untuk pemberian diet Rasional : mengetahui makanan apa saja yang dianjurkan dan makanan yang tidak boleh dikonsumsi.

  • 7. Kurangnya pengetahuan tentang penyakitnya berhubungan dengan kurang informasi. Tujuan : Pengetahuan keluarga meningkat Intervensi :

  • 1. Kaji sejauh mana tingkat pengetahuan pasien tentang penyakitnya Rasional : mengetahui apa yang diketahui pasien tentang penyakitnya.

  • 2. Beri pendidikan kesehatan tentang penyakit dan perawatan pasien Rasional : supaya pasien tahu tata laksana penyakit, perawatan dan pencegahan penyakit typhoid.

  • 3. Beri kesempatan pasien dan keluaga pasien untuk bertanya bila ada yang belum dimengerti Rasional : mengetahui sejauh mana pengetahuan pasien dan keluarga pasien setelah di beri penjelasan tantang penyakitnya.

ASUHAN KEPERAWATAN PADA An “A” DENGAN TYPOID FEVER DI RUANG PERAWATAN x RSU.x

Tanggal pengkajian

: 2 desember 2013

 

Ruangan

:

1.

BIODATA

2.

Identitas Klien

Nama

: An. A

Tanggal lahir

: 19-09-2002 ( 11 tahun 3 bulan )

Jenis kelamin

: Perempuan

Agama

:

Islam

Pendidikan

:

SD

Alamat

: P——-

Tanggal masuk : 27-11-2013

Diagnose medic : Typoid

1.

1.

Ibu

Nama

:

NY. A

Usia

:

39 tahun

Pendidikan : SMA

Pekerjaan

: IRT

Agama

: Islam

Alamat

: P———–

Identitas orang tua

  • 1. Ayah

Nama

:

Tn.A

Usia

:

40 tahun

Pendidikan

:

S1

Pekerjaan

: wiraswasta

Agama

:

Islam

Alamat : P——–

  • 1. KELUHAN UTAMA

  • 2. Keluhan utama Demam

  • 1. Riwayat keluhan utama Klien masuk rs dengan keluhan demam yang dialami sejak 6 hari sebelum masuk rs.

  • 1. RIWAYAT KESEHATAN

  • 2. Riwayat kesehatan sekarang

  • 1. Penyakit yang pernah dialami klien yaitu demam

  • 2. Riwayat obat 6 bulan

  • 3. Klien tidak pernah mengalami kecelakaan

  • 4. Klien biasa mengkonsumsi parasetamol jika demam

  • 5. Pertumbuhan dan perkembangan anak disbanding saudaranya sama

  • 6. Saat dikaji, pasien Nampak lemah

  • 7. Ibu klien mengatakan anaknya demam

  • 1. Riwayat kesehatan keluarga Genogram :

11thnnn

G I

: meninggal karena factor usia

G II

:

G III : pasien dengan penyakit typoid

  • 1. RIWAYAT IMUNISASI

No

Jenis Imunisasi

Waktu Pemberian

Reaksi Setelah pemberian

 
  • 1. 1X

BCG

 

 
  • 2. 3X

DPT

 

DEMAM

 
  • 3. 4X

POLIO

 

 
  • 4. 1X

CAMPAK

 

DEMAM

 
  • 5. 3X

HEPATITIS B

 

  • 1. RIWAYAT TUMBUH KEMBANG ANAK

  • 2. Pertumbuhan fisik

  • 1. Berat bdan saat lahir : 2.500 gr

  • 2. Tinggi badan

: 48 cm

  • 3. Waktu tumbuh gigi

: 7 bulan

  • 4. Perkembangan tiap tahap Usia saat anak :

2. Duduk : 4 bulan
2.
Duduk
: 4 bulan
2. Duduk : 4 bulan
2. Duduk : 4 bulan
  • 3. Merangkak

: lupa

  • 4. Berdiri

: 8 bulan

  • 5. Senyum kepada orang lain pertama kali : lupa

  • 6. Bicara pertama kali

: 12 bulan

  • 7. Berpakaian tanpa bantuan

: 9 bulan

  • 8. RIWAYAT NUTRISI

  • 9. Pemberian ASI

  • 1. Pertama kali disusui sejak 2 hari lahir karena asi ibu belum ada

  • 2. Lama pemberian : 1 tahun 8 bulan

  • 3. Pemberian susu formula

  • 1. Alasan pemberian : asi ibu belum keluar

  • 2. Jumlah pemberian : 4 gelas sehari

  • 3. Cara pemberian dengan sendok

  • 1. Pemberian makanan tambahan

  • 2. Pertama kali diberikan , pada usia 6 bulan

  • 3. Jenis : bubur, biskuit

  • 4. Perubahan nutrisi tiap tahap usia sampai saat ini

No

Usia

Jenis nutrisi

Lama pemberian

 

0-4 bulan

ASI

  • 1 tahun 8 bulan

 

4-12 bulan

ASI, bubur susu, buah-buahan

  • 6 bulan

 

Sekarang

Nasi , sayur, daging, ikan, buah, susu

 
  • 1. RIWAYAT PSIKOLOGI

  • 2. Lingkungan rumah berada dikota

  • 3. Tidak ada tetangga yang berbahaya

  • 4. Hubungan dengan anggota keluarga harmonis

  • 5. Anak diasuh oleh orang tua

  • 1. RIWAYAT SPIRITUAL

  • 2. Hubungan dengan keluarga harmonis

  • 3. Kegiatan keagamaan diselenggarakan dirumah dan dimesjid

  • 1. REAKSI HOSPITALISASI

  • 2. Pemahaman keluarga tentang sakit dan rawat inap

2.

Perasaan orang tua saat ini cemas

2. Perasaan orang tua saat ini cemas
2. Perasaan orang tua saat ini cemas
  • 3. Orang tua selalu mengunjungi anaknya di RS

  • 4. Yang tinggal bersama anak adalah ayah, ibu,dan nenek

  • 5. Pemahaman anak tentang sakit dan rawat inap

  • 1. Anak mengerti bahwa ia dibawah dirumah sakit karena sakit

  • 2. Klien belum mengerti apa yang menyebabkan dia sakit

  • 3. AKTIVITAS SEHARI-HARI

  • 4. Nutrisi

 

No

Kondisi

Sebelum sakit

Saat sakit

1.

Selera makan

Baik

Kurang

2.

Menu makan

Nasi +sayur+lauk

Bubur

3

Frekuensi makan

3 x sehari

1x sehari

4

Makanan yang disukai

semua

Apel

5

Makanan pantangan

6

Pembatasan pola

7

Makan

Makan sendiri

Makan sendiri

8

Cara makan

Memakai sendok

Memakai sendok

9

Ritual saat makan

Berdoa

Berdoa

  • 1. Cairan

 
 

No

Kondisi

Sebelum sakit

Saat sakit

1

Jenis minuman

Air putih, susu, teh

Air putih, susu

2

Frekuensi minum

6 gelas/hari

4 gelas/hari

 

3

Kebutuhan cairan

800-1000 cc/hari

800-100 cc/hr

4

Cara pemenuhan

Gelas

Gelas, cairan infus

  • 1. Eliminasi (BAB/BAK)

 
 

No

Kondisi

Sebelum sakit

 

Saat sakit

BAB

BAK

BAB

BAK

1

Tempat pembuangan

Wc

Wc

Wc

Wc

2

Frekuensi

1x sehari

3x sehari

1x sehari,

3x sehari

3

Konsistensi

Lunak

Kuning

Lunak

Kuning

4

Kesulitan

5

Obat pencahar

  • 1. Istirahat tidur

 
 

No

Kondisi jam tidur

Sebelum sakit

 

Saat sakit

1

Siang

15.00-16.30 wita

Tidak teratur

2

Malam

10.30-05.00 wta

Tidak teratur

  • 1. Olah raga

 
 

No

Kondisi

Sebelum sakit

Saat sakit

 

1

Program olahraga

Olahraga disekolah

2

Jenis dan frekuensi

1x seminggu

3

Kondisi setelah olahraga

Segar

1.

Personal hygiene

 

No

Kegiatan

Sebelum sakit

Saat sakit

1

Mandi

2x sehari

Mandi sendiri

Frekuensi

Cara

Sabun+air

Alat mandi

2

Cuci rambut

3x seminggu

1x selama sakit

Shampoo+air

Frekuensi

Cara

3

Gunting kuku

1x seminggu

1 x selam sakit

Frekuensi

Pake gunting kuku

Cara

4

Gosok gigi

2x sehari

2x sehari

 

frekuensi

Pasta gigi+sikat gigi,

Pasta gigi+sikat gigi,

cara

pagi dan malam sebelum tidur

pagi dan malam sebelum tidur

  • 1. Aktivitas mobilitas fisik

 

No

Kondisi

Sebelum sakit

Saat sakit

1

Kegiatan sehari-hari

Sekolah, belajar, makan, main.

Baring, nonton tv

2

Pengaturan jadwal harian

 

3

Penggunaan alat bantu aktivitas

4

Kesulitan pergerakan tubuh

  • 1. Rekreasi

 
 

No

Kondisi

Sebelum sakit

Saat sakit

1

Perasaan saat sekolah

Senang

2

Waktu luang

Main, nonton tv, belajar

3

Perasaan setelah rekreasi/bermain

Senang

4

Waktu senggang keluarga

Nonton tv

5

Kegiatan hari libur

Main, nonton tv

  • 1. PEMERIKSAAN FISIK

  • 2. Keadaan umum klien Lemah

  • 1. Tanda-tanda vital

1.Suhu

: 38

2.Nadi

: 104 x/ i

3.Respirasi

: 24 x/i

4.Tekanan darah : 100/60 mmhg

  • 1. Antropometri

  • 1. Tinggi badan

:120 cm

  • 2. Berat badan

: 20 kg

  • 3. Lingkar lengan atas :

  • 4. Lingkar kepala

:

  • 5. Lingkar dada

:

  • 6. Lingkar perut

:

  • 7. System pernafasan

  • 1. Hidung

  • 1. Inspeksi

  • Lubang hidung simetris kiri dan kanan

  • Tidak tampak polip,epitaksis

  • Tidak tampak pernafasan cuping hidung

    • 1. Palpasi

      • Tidak ada nyeri tekan

      • Tidak teraba adanya massa

        • 1. Leher

        • 1. Inspeksi

          • Tidak terdapat pembesaran kelenjar tiroid dan limfe

  • Jugularis venous Pressure (JVU) 2 cm

    • 1. Palpasi

    • 2. Dada

    • 1. Inspeksi

      • Ø Bentuk dada normal

      • Ø Selama insipirasi dada mengembang

      • Ø Tidak Nampak menggunakan otot bantu pernafasan

      • Ø Frekuensi nafas 24 x/i

        • 1. Palpasi

          • Tidak ada nyeri tekan

          • Tidak teraba addanya massa

            • 1. Auskultasi

              • Bunyi nafas bronkovesikuler pada area bronkus

              • Bunyi nafas tambahan ronchi

                • 1. Perkusi

                  • Resonan pada semua lapang paru

                    • 1. System kardiovaskuler

                    • 1. Konjungtiva tampak pucat

                    • 2. Suara jantung

                    • 1. System pencernaan

                    • 1. Skelera tidak ikterus

                    • 2. Mulut : tidak stomatitis,

                    • 3. Tonsil T2-T2

                    • 4. Nyeri tekan pada abdomen kuadran kiri atas

                    • 5. Peristaltik usus menurun

                    • 6. Jumlah gigi

                    • 1. System indra

                    • 1. Mata

                    • 1. Inspeksi

                      • Alis dan bulu mata tumbuh merata

                      • Kelopak mata menutup dengan sempurna

                      • Skera tidak ikterus

                      • Lapang pandang baik

1. Palpasi
1.
Palpasi
  • Tidak terdapat massa

    • 1. Hidung

    • 1. Penciuman baik

    • 2. Tampak adanya secret

    • 3. Tidak ada nyeri tekan dan tidak teraba massa

    • 4. Telinga

    • 1. Inspeksi

      • Daun telinga simetris kiri dan kanan

      • Fungsi pendengaran baik

        • 1. Palpasi

          • Tidak ada nyeri tekan

          • Tidak terdapat massa

            • 1. System saraf

            • 1. Fungsi cerebral

            • 2. Status mental :

            • 3. : compos mentis dgn GCS 15 ( E4 M6 V5)

Kesadaran

  • 4. Fungsi cranial

  • 1. Nervus I (olfaktorius ) : klien dapat membedakan bau

  • 2. Nervus II (optikus ) : lapang pandang baik

  • 3. Nervus III( okulomotorius )

    • Klien dapat menggerakkan bola mata ke atas

    • Pupil isokor

      • 1. Nervus IV (troclearis ) Klien mampu menggerakkan bola mata ke bawah

      • 1. Nervus V ( trigeminus)

        • Sensorik Klien dapat merasakan sensasi pada daerah maksila dan mandibula

        • Motorik Klien dapat tersenyum, menutup mata dengan rapat, mengangkat kedua alis dan mampu mengembangkan pipinya

1.

Nervus VI ( abdusen)

1. Nervus VI ( abdusen)
  • Klien mampu menggerakkan bola mata kesamping

  • Reflex kornea baik

    • 1. Nervus VII ( pasialis )

      • Sensorik Klien dapat merasakan rasa asam, manis, asin, dan pahit

      • Motorik Klien dapat tersenyum, menutup mata dengan rapat, mengangkat kedua alis, mengembangkan pipinya.

        • 1. Nervus VIII ( akustikus ) Klien dapat mendengar dengan baik

        • 1. Nervus IX ( glosofaringeus ) Klien dapat merasakan fungsi pengecapan pada 1/3 posterior lidah

        • 1. Nervus X ( vagus )

          • Fungsi menelan baik

          • Gerakan ovula simetris dan tertarik ke atas

            • 1. Nervus XI ( aksesorius )

              • Klien dapat mengangkat bahu

              • Klien dapat mengalihkan kepala ke samping

                • 1. Nervus XII ( hypoglosus)

                  • Klien dapat menggerakkan lidah

                    • 1. Fungsi motorik

Keterangan :

  • 5 : normal

  • 4 : dapat melawan tekanan

  • 3 : dapat menahan berat tapi tidak dapat melawan tekanan

  • 2 : hanya dapat menggerakkan anggota badan

  • 1 : teraba gerakan kontraksi otot, tidak dapat bergerak

  • 0 : tidak ada kontraksi

Tonus otot

  • 5 5

  • 5 5

  • 1. Fungsi sensorik Dapat merasakan sensasi panas dan dingin

  • 1. Fungsi cerebellum Tidak ada tremor

  • 1. Reflex

  • 1. Bisep ka/ki : +/+ (normal )

  • 2. Trisep ka/ki : +/+ ( normal)

  • 3. Patella ka/ki :+/+ (normal )

  • 1. System musculoskeletal

  • 1. Inspeksi

    • Bentuk kepala hormocepal

    • Tidak Nampak skoliosis, dordosis, maupun kepotis

    • Tidak Nampak pembengkakan pada lutut dan kaki

    • Tidak terdapat pembengkakan pada tangan

1. Palpasi
1.
Palpasi

Tidak teraba pembengkakan pada tangan dan kaki

  • 1. System integument

  • 1. Warna rambut hitam merata

  • 2. Warna kulit sawo matang

  • 3. Turgor kulit kering

  • 4. Suhu 38

  • 5. System endokrin

  • 1. Eksresi urine tidak berlebih

  • 2. Tidak ada bekas air seni dikelilingi semut

  • 3. System perkemihan

  • 1. Tidak Nampak udeme palpebral

  • 2. Tidak teraba distensi kandung kemih

  • 3. System imun

  • 1. Tidak ada riwayat alergi

  • 2. Penyakit yang berhubungan dengan cuaca adalah flu

  • 1. Pemeriksaan nyeri

  • 1. Klien mengatakan bahwa dia merasa nyeri pada kepala

  • 2. Lama nyeri : hilang timbul

  • 3. Pencetus yang memperburuk nyeri : pada saat beraktivitas

  • 4. Intensitas nyeri : sedang Visual analog scale (VAS) 0

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

  • 1. TEST DIAGNOSTIK

  • 1. Laboratorium

Pemeriksaan

Hasil

Nilai Normal

Hematologi

11,5

11,4-17,7 g/dl

Hemoglobin

4.700-10.300/cmm

9600

Lekosit

30,2

37-48%

Hematokrit

4.780.000

L 4,5-5,5 P4-5

Eritrosit

173.000

150.000-350.000

Trombosit

Laboratorium

Pemeriksaan

Hasil

Nilai normal

Imunologi Imunologi : widal

Negatif

Negatif

Negatif

Negatif

O

 

Negatif

Negatif

H

 

1/200

Negatif

PA

 

8

5,5 7

PB

 

Negatif

Negatif

Urinalisis

 

Negatif

Negatif

PH

 

Negatif

Negatif

Protein

Glukosa

Normal

Normal

Bilirubin

0-1

0,1/lp

Urobilin

Sedimen

Lekosit

0,1

1-2/lp

Eritrosit

Silinder

Epitel

Kristal

Lain-lain

1. PENGOBATAN

  • Terafi infuse RL 10 tetes/i DATA SUBJEKTIF:

KLASIFIKASI DATA

  • Klien mengatakan nyeri pada kepala

  • Klien mengatakan nyeri pada saat menelan

  • Klien mengatakan nyeri pada perut jika di tekan

  • Ibu klien mengatakan anaknya demam

DATA OBJEKTIF

BB: 20 kg

TB: 120 cm

IMT= 13,8 ( =gizi kurang )

Makanan tidak dihabiskan

Klien nampak lemah

Skala nyeri : 5 (nyeri sedang )

TTV

Suhu

: 38

Nadi

: 104 x/

Respirasi

: 24 x/i

TD

: 100/60 mmhg

ANALISA DATA

NO

DATA

ETIOLOGI

MASALAH

 

DS:

Salmonella typhosa

Nutrisi kurang dari

Klien mengatakan nyeri pada saat menelan

Mengkontaminasi makanan dan air

kebutuhan

Klien mengatan nyeri pada perut jika di tekan

Masuk ke dalam saluran pencernaan

DO:

Pada lambung

BB: 20 kg

 

TB: 120 cm

Peningkatan HCl lambung

 

IMT= 13,8 ( =gizi kurang )

Merangsang N. Vagal

Makanan tidak dihabiskan Klien Nampak lemah

Merangsang CTZ di hypothalamus

Mual / muntah

Rasa tidak enak pada mulut

Nutrisi kurang dari kebutuhan

 

DS:

Kuman masuk ke jaringan /

Hipertermi

ibu klien mengatakan anaknya demam

organ tubuh terutama limpa

DO:

dan hati

TTV

Kuman mengeluarkan endotoksin

S

: 38

N

: 104 x/

Proses inflamasi pada jaringan tempat kuman berkembangbiak

P

: 24 x/i

TD : 100/60 mmhg

Merangsang pengeluaran / sintesis zat pirogen oleh

 

Klien Nampak lemah

leukosit pada jaringan yang meradang

 

Melepaskan zat IL-1, prostaglandin E 2 (pirogen leukosit dan pirogen endogen)

Mencapai hypothalamus

(merangsang set point)

Reaksi peningkatan suhu tubuh

hipertermi

3

DS:

Proses inflamasi pada

Nyeri

Klien mengatakan nyeri pada kepala

jaringan tempat kuman

DO:

berkembangbiak

Skala nyeri : 5 (nyeri sedang ) TTV

Menghasilkan mediator kimia (histamine, bradikinin & serotonin)

Suhu

: 38

Merangsang ujung saraf

 

Nadi

: 104 x/

Nyeri pada perabaan

 

Respirasi

: 24 x/i

Nyeri

TD

: 100/60 mmhg

Klien Nampak lemah

RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN

 

DIAGNOSA

RENCANA KEPERAWATAN

 

NO

KEPERAWATAN

RASIONAL

TUJUAN

INTERVENSI

 

Nutrisi kurang dari

Nutrisi sesuai

Kaji pola nutrisi klien

 

kebutuhan DS:

dengan kebutuhan

pola makan, kebiasaan

ditandai dengan

Kaji makan yang di

makan, keteraturan waktu

Klien mengatakan nyeri pada saat menelan

Berat badan

sukai dan tidak disukai Anjurkan tirah baring /

makan.

Klien mengatan nyeri pada

normal

pembatasan aktivitas

meningkatkan status

perut jika di tekan

Porsi makanan

selama fase akut

makanan yang disukai dan

dihabiskan

Timbang berat badan

menghindari pemberian

DO:

makan yang tidak disukai.

BB: 20 kg TB: 120 cm

tiap hari Anjurkan klien makan sedikit tapi sering

penghematan tenaga, mengurangi kerja tubuh. mengetahui adanya penurunan atau kenaikan berat badan.

 

IMT= 13,8 ( =gizi kurang )

 

Kolaborasi dengan ahli gizi untuk pemberian

mengurangi kerja usus, menghindari kebosanan

Makanan tidak dihabiskan Klien Nampak lemah

diet mengetahui

makan. mengetahui makanan apa saja yang dianjurkan dan makanan yang tidak boleh dikonsumsi.

   

DIAGNOSA

RENCANA KEPERAWATAN

   

NO

KEPERAWATAN

 

RASIONAL

 

TUJUAN

 

INTERVENSI

 
 

Hipertermi berhubungan

 

Suhu tubuh

Observasi suhu tubuh

.

dengan proses inflamasi

normal.

klien

DS:

Beri kompres dengan air

menjaga kebersihan badan

Ibu klien mengatakan anaknya demam

hangat (air biasa) pada daerah axila, lipat paha,

menurunkan panas

 

dengan obat.

DO:

temporal bila terjadi panas Anjurkan keluarga untuk

TTV

memakaikan pakaian yang dapat menyerap keringat seperti katun

Suhu

: 38

Nadi

: 104 x/

Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat anti piretik

 

Respirasi

: 24 x/i

 

mengetahui perubahan suhu tubuh.

   

TD

: 100/60 mmhg

Klien Nampak lemah

 

melancarkan aliran darah dalam pembuluh darah

   

DIAGNOSA

 

RENCANA KEPERAWATAN

 

NO

KEPERAWATAN

   

RASIONAL

   

TUJUAN

INTERVENSI

 
 

Nyeri berhubungan

Nyeri teratasi.

Kaji keluhan nyeri

Mengevaluasi

dengan proses inflamasi DS:

Ditandai dengan

(skala 1-10), perubahan karakteristik nyeri,

perkembangan nyeri untuk menetapkan

Klien mengatakan nyeri pada kepala

Skala nyeri 0 TTV dalam batas normal

petunjuk verbal dan non verbal

intervensi selanjutnya Menurunkan tegangan

DO:

 

Atur posisi yang nyaman bagi klien,

permukaan abdomen dan mengurangi nyeri

Skala nyeri : 5 (nyeri sedang ) TTV

misalnya dengan lutut fleksi. Ajarkan klien teknik relaksasi dan distraksi Kolaborasi pemberian

Meningkatkan relaksasi, mengalihkan fokus perhatian kliendan meningkatkan kemampuan koping.

Suhu

: 38

Nadi

: 104 x/

obat analgetika dan atau antikolinergik sesuai indikasi

Analgetik sebagai agen anti nyeri dan antikolinergik untuk menurunkan spasme

 

Respirasi

: 24 x/i

     

TD

: 100/60 mmhg

Klien nampak lemah

Share this:  Twitter  Facebook  Google
Share this:
Twitter
Facebook
Google

Report this ad Report this ad

Post navigation

Leave a Reply

Leave a Reply
Leave a Reply
Leave a Reply

Respirasi : 24 x/i TD : 100/60 mmhg Klien nampak lemah Share this:  Twitter ASKEP ANAK DENGAN DIARE DAN TEORINYA Leave a Reply Create a free website or blog at WordPress.com.Follow  " id="pdf-obj-28-59" src="pdf-obj-28-59.jpg">