You are on page 1of 17

MAKALAH

DRUG RELATED PROBLEM (DRPs) DAN


METODE SOAP

Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Farmakoterapi Terapan


pada Program Sarjana Profesi Apoteker

TIFFANY SABILLA RAMADHANI


2601112180088

UNIVERSITAS PADJADJARAN
FAKULTAS FARMASI
2018
DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR ISI …………………………………………………………………. i

BAB I PENDAHULUAN................................................................................. 1

1.1 Drug Related Problems (DRPs) .................................................... 1

1.1.1 Definisi ................................................................................ 1

1.1.2 Klasifikasi ............................................................................ 3

1.2 SOAP (Subjective Objective Assesment Plan) .............................. 5

1.2.1 Definisi ................................................................................ 5

BAB II CONTOH KASUS................................................................................ 8

2.1 Kasus 1 .......................................................................................... 8

2.1.1 Penyelesaian ........................................................................ 8

i
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1. Drug Related Problems (DRPs)


1.1.1. Definisi
Drug Related Problems (DRPs) merupakan situasi tidak ingin dialami
oleh pasien yang disebabkan oleh terapi obat sehingga dapat berpotensi
menimbulkan masalah bagi keberhasilan penyembuhan yang dikehendaki.
Suatu kejadian dapat disebut DRPs bila memenuhi komponen-komponen.
Komponen tersebut adalah kejadian tidak diinginkan yang dialami pasien
berupa keluhan medis, gejala, diagnosis, penyakit, dan ketidakmampuan
(disability) serta memiliki hubungan antara kejadian tersebut dengan terapi
obat dimana hubungan ini dapat berupa konsekuensi dari terapi obat atau
kejadian yang memerlukan terapi obat sebagai solusi maupun preventif
(Cipolle et al., 2004). Komponen primer dari Drug Related Problems:
1. Pasien mengalami keadaan yang tidak dikehendaki.
Pasien mengalami keluhan medis, gejala, diagnosa penyakit kerusakan,
cacat atau sindrom dan dapat mengakibatkan gangguan psikologis,
fisiologis, sosial, bahkan kondisi ekonomi.
2. Ada hubungan antara keadaan yang tidak dikehendaki dengan terapi obat.
Sifat hubungan ini tergantung akan kekhususan Drug Related Problems
(DRPs). Hubungan yang biasanya terjadi antara keadaan yang tidak
dikehendaki dengan terapi obat adalah kejadiaan itu akibat dari terapi obat
atau kejadian itu membutuhkan terapi obat ( Cipolle et al., 1998).
Drug Related Problems (DRPs) terdiri dari DRPs aktual dan DRPs
potensial. DRPs aktual adalah problem yang sedang terjadi berkaitan dengan
terapi obat yang sedang diberikan pada pasien. DRPs potensial adalah
problem yang diperkirakan akan terjadi yang berkaitan dengan terapi obat
yang sedang digunakan oleh pasien (Yunita et al., 2004). Kategori umum
Drug Related Problems (DRPs) :
a. Membutuhkan obat tambahan.
Penyebabnya yaitu pasien membutuhkan obat tambahan misalnya
untuk profilaksis atau pramedikasi, memiliki penyakit kronik yang

1
memerlukan pengobatan kontinu, memerlukan terapi kombinasi untuk
menghasilkan efek sinergis atau potensiasi dan atau ada kondisi
kesehatan baru yang memerlukan terapi obat.
b. Menerima obat tanpa indikasi yang sesuai atau tidak perlu obat.
Hal ini dapat terjadi sebagai berikut : menggunakan obat tanpa
indikasi yang tepat, dapat membaik kondisinya dengan terapi non obat,
minum beberapa obat padahal hanya satu terapi obat yang diindikasikan
atau minum obat untuk mengobati efek samping.
c. Menerima obat yang salah.
Kasus yang mungkin terjadi adalah : obat tidak efektif,
ketidaktepatan pemilihan obat, alergi, adanya resiko kontraindikasi,
resisten terhadap obat yang diberikan, kombinasi obat yang tidak perlu
dan atau obat bukan yang paling aman.
d. Dosis terlalu besar.
Beberapa penyebabnya adalah dosis salah, frekuensi tidak tepat, dan
jangka waktu tidak tepat.
e. Dosis terlalu kecil.
Penyebabnya antara lain : dosis terlalu kecil untuk menghasilkan
respon yang diinginkan, jangka waktu terlalu pendek, pemilihan obat,
dosis, rute pemberian, dan sediaan yang tidak tepat.
f. Pasien mengalami adverse drug reactions.
Penyebab umum untuk kategori ini : pasien menerima obat yang
tidak aman, pemakaian obat tidak tepat, interaksi dengan obat lain, dosis
dinaikkan atau diturunkan terlalu cepat sehingga menyebabkan adverse
drug reaction dan atau pasien mengalami efek yang tak dikehendaki
yang tidak diprediksi.
g. Pasien mengalami kondisi keadaan yang tidak diinginkan akibat tidak
minum obat secara benar (non compliance).
Beberapa penyebabnya adalah : obat yang dibutuhkan tidak ada,
pasien tidak mampu membeli, pasien tidak memahami instruksi, pasien
memilih untuk tidak mau minum obat karena alasan pribadi dan atau
pasien lupa minum obat (Cipolle et al., 1998).
Identifikasi dan pemecahan masalah pada Drug Related Problems
(DRPs) tergantung pada beberapa faktor. Faktor pertama adalah adanya semua

2
data esensial dan farmasis bertugas menentukan data apa yang dibutuhkan
(Cipolle et al., 1998).
Data yang penting mengenai pasien dapat digolongkan dalam tiga kategori :
a. Karakter klinis dari penyakit atau kondisi pasien, meliputi : umur, seks, etnis,
ras, sejarah sosial, status kehamilan, status kekebalan, fungsi ginjal, hati dan
jantung, status nutrisi, serta harapan pasien.
b. Obat lain yang dikonsumsi pasien, berkaitan dengan terapi obat pada saat
ini dan masa lalu, alergi obat, profil toksisitas, adverse drug reaction, rute
dan cara pemberian obat, dan persepsi mengenai pengobatannya.
c. Penyakit, keluhan, gejala pasien meliputi masalah sakitnya pasien,
keseriusan, prognosa, kerusakan, cacat, persepsi pasien mengenai proses
penyakitnya.
Data dapat diperoleh dari beberapa sumber misalnya pasien sendiri,
orang yang merawat pasien, keluarga pasien, medical record, profil pasien dari
farmasis, data laboratorium, dokter, perawat dan profesi kesehatan lainnya
(Cipolle et al., 1998).
Secara umum perhatian farmasis terhadap Drug Related Problems
sebaiknya diprioritaskan pada pasien geriatri, pasien pediatri, ibu hamil dan
menyusui, serta pasien yang mendapatkan obat dengan indeks terapi sempit
(Cipolle et al., 1998).
Farmasis mempunyai tanggung jawab untuk mengidentifikasi,
mencegah dan memecahkan Drug Related Problems (DRPs), walaupun hal
tersebut tidak selalu mudah dicapai. Faktor kepatuhan pasien ikut bertanggung
jawab atas kesembuhannya. Sebab itu farmasis juga harus dapat melakukan
konseling, edukasi dan informasi kepada pasien (Cipolle et al., 1998).

1.1.2. Klasifikasi

Pharmaceutical Care Network Europe (PCNE) Classification V 5.01

mengklasifikasikan DRPs secara umum yang dapat dilihat pada (Tabel 1).

3
Tabel 1. Klasifikasi Drug Related Problems (DRPs) Secara Umum
(PCNE, 2006).

Kode Domain primer


V5.01
Masalah P1 Reaksi merugikan
Pasien menderita dari suatu peristiwa obat yang merugikan
P2 Masalah Pilihan Obat
Pasien mendapat atau akan mendapatkan kesalahan pada
penggunaan obat untuk penyakitnya
P3 Masalah dosis
Pasien mendapat lebih atau kurang dari jumlah obat yang dia
butuhkan.
P4 Masalah Penggunaan Obat
Kesalahan atau tidak adanya obat yang diambil atau diberikan
P5 Interaksi
Adanya manifestasi atau potensial interaksi obat-obat atau
obat-makanan
Penyebab C1 Seleksi Obat/Dosis
Penyebab DRPs dapat berhubungan dengan pemilihan jadwal
obat dan atau dosis
C2 Proses Penggunaan Obat
Penyebab DRPs dapat berhubungan dengan cara pasien
menggunakan obat, terlepas dari petunjuk dosis yang tepat.
C3 Informasi
Penyebab DRPs dapat berhubungan dengan kurangnya atau
salah tafsir informasi
C4 Pasien / psikologis
Penyebab DRPs dapat berhubungan dengan kepribadian atau
perilaku pasien
C5 (Farmasi) logistik
Penyebab DRPs dapat berhubungan dengan mekanisme
logistik peresepan
C6 Dan Lain Lain
Intervensi I0 Tidak ada intervensi
I1 Pada tingkat peresepan
I2 Pada tingkat pasien
I3 Pada tingkat Obat
I4 Lainnya
Hasil Intervensi O0 Hasil intervensi tidak diketahui
O1 Masalah benar-benar dipecahkan
O3 Masalah sebagian dipecahkan
O4 Masalah tidak dipecahkan

PCNE juga mengklasifikasi masalah dalam tabel klasifikasi umum yang

terdiri dari efek samping, masalah pilihan obat, masalah dosis, masalah

penggunaan obat dan interaksi (Tabel 2).

4
Tabel 2. Klasifikasi Masalah Dalam Drug Related Problems (PCNE, 2006)

Kode
Domain Primer Masalah
V5.01
Efek samping
Pasien menderita suatu P1.1 Efek samping diderita (non-alergi)
efek racun obat yang P1.2 Efek samping diderita (alergi)
merugikan P1.3 Efek toksis diderita
Masalah pilihan obat
Pasien mendapat atau akan P2.1 Obat tidak tepat (tidak tepat untuk indikasi)
mendapatkan kesalahan P2.2 Sediaan obat yang tidak tepat (tidak tepat untuk indikasi)
pada penggunaan obat P2.3 Duplikasi tidak tepat pada kelompok terapi atau bahan
untuk penyakitnya Aktif
P2.4 Kontra-indikasi obat (Kehamilan atau menyusui)
P2.5 Tidak ada indikasi yang jelas pada penggunaan obat
P2.6 Tidak ada obat yang diresepkan tetapi indikasi yang
Jelas
Masalah Dosis
Pasien mendapat lebih atau P3.1 Dosis obat terlalu rendah atau pemberian dosis tidak
kurang dari jumlah obat mencukupi
yang dia butuhkan. P3.2 Dosis obat terlalu tinggi atau pemberian dosis berlebihan
P3.3 Lama pengobatan terlalu pendek
P3.4 Lama pengobatan terlalu lama
Masalah penggunaan
obat
Kesalahan atau tidak P4.1 Obat tidak diambil atau diberikan sama sekali
adanya obat yang diambil P4.2 Kesalahan pengambilan atau administrasi obat
atau diberikan
Interaksi
Adanya manifestasi atau P5.1 Potensi interaksi.
potensial interaksi obat- P5.2 Manifestasi interaksi
obat atau obat-makanan
Lainnya P6.1 Pasien tidak puas dengan terapi meskipun mendapat
obat yang tepat
P6.2 Ketidakcukupan pengetahuan kesehatan dan penyakit
P6.3 Keluhan yang tidak jelas. Diperlukan klarifikasi lebih
Lanjut
P6.4 Kegagalan terapi (alasan yang tidak diketahui)

1.2 SOAP (Subjective Objective Assesment Plan)

1.2.1 Definisi

Praktek farmasi klinik memerlukan metodologi yang tepat guna dan tepat
sasaran. Penggunaan SOAP untuk menulis di rekam medis pasien merupakan
salah satu cara efektif untuk mengkomunikasikan hasil telaah apoteker farmasi
klinik terhadap pasien. Sebelum menulis di rekam medis, hendaknya apoteker
farmasi klinik mengumpulkan data-data sebagai bahan bakunya. Data tersebut
dapat bersumber dari pemeriksaan laboratorium maupun keluhan pasien secara
langsung. Metode SOAP akan sangat membantu apoteker farmasi klinik di
dalam menyusun kerangka pikir bertindak dan sebagai alat untuk

5
mempermudah proses telaah status pasien di hari berikutnya (Mc Mullen,
2013).

SOAP merupakan singkatan dari Subjektif, Objektif, Asesmen, dan Plan.


Data yang berupa keluhan pasien yang diperoleh selama visite merupakan data
yang bersifat subjektif. Ciri-ciri data yang bersifat subjektif adalah tidak adanya
ukuran yang pasti dan persepsi masing-masing orang bisa saja berbeda terhadap
hal yang sama. Misalnya pada saat visite pasien mengatakan bahwa setelah
minum obat terasa mual. Rasa mual ini merupakan data subjektif karena persepsi
masing-masing orang tidaklah sama, dan tidak bisa dikonfirmasikan dengan bukti
tertulis karena hanya dirasakan oleh pasien (Mc Mullen, 2013).

Sebaliknya, data yang bersifat objektif merupakan data yang dapat


dikonfirmasikan kebenarannya dengan orang lain, misalnya data hasil
pemeriksaan laboratorium. Contoh kasus adalah pasien yang mengalami efek
samping hipokalemia akibat penggunaan obat diuretika. Hipokalemia ditandai
dengan penurunan kadar kalium serum di bawah ambang normal berdasarkan
pemeriksaan laboratorium. Hipokalemia ini dapat diketahui kebenarannya dan
dapat dibaca oleh siapa saja dengan cara melihat hasil pemeriksaan laboratorium.
Selain hasil pemeriksaan laboratorium, hasil pemeriksaan radiologis juga dapat
dijadikan sebagai data objektif. Lingkup data objektif juga termasuk obat-obatan
yang digunakan pasien selama perawatan (Mc Mullen, 2013).

Setelah mengetahui dan menuliskan data subjektif dan objektif, maka


selanjutnya dilakukan asesmen atau penilaian. Pada bagian asesmen ini, seorang
apoteker farmasi klinik akan menganalisis permasalahan berdasarkan data
subjektif dan objektif yang telah diperoleh sebelumnya. Kesimpulan analisis
ditulis sebagai asesmen. Misalnya pasien dengan data objektif berupa “mual
setelah minum obat”, data subjektif berupa “pasien mengalami hipokalemia” dan
“pasien mendapat obat aspirin dan furosemid”, maka asesmen yang dapat
dituliskan adalah “diduga mual karena aspirin” dan “diduga hipokalemia karena
furosemid”. Untuk mendukung asesmen, sertakan pula skor Naranjo yang dapat
memberikan derajat efek samping obat (bila ada) yang dialami pasien (Mc
Mullen, 2013).

Setelah menuliskan asesmen, langkah selanjutnya adalah menuliskan plan


atau rencana. Plan merupakan rekomendasi yang dibuat berdasarkan asesmen.

6
Pada kasus ini, plan yang ditulis adalah “gunakan aspirin setelah makan untuk
meminimalkan efek mual” dan “rekomendasikan penggunaan suplemen kalium
selama pasien menggunakan furosemid”. Plan atau rencana hendaklah rasional
dan mampu dilaksanakan. Komunikasikan pula rencana atau plan tersebut dengan
tenaga kesehatan lain secara lisan maupun tertulis di rekam medis pasien.

7
BAB 2
CONTOH KASUS

2.1 KASUS 1
Seorang pria 42 tahun dengan diabetes melitus tipe 2 dan hipertensi dirujuk
ke klinik untuk assassment (penilaian) mixed hyperlipidemia yang ditemukan
dalam pemeriksaan rutinnya. Hasil pemeriksaan fisik yang dilakukan di klinik
menunjukan hasil yang biasa. Pasien tidak memiliki xanthomatous. Riwayat
keluarga ada yang menderita diabetes melitus tipe 2. Pengobatan saat ini ramipril,
glyburide, dan hydroclorthiazide. Hasil analisis sampel darah (puasa) kolesterol
total 356,34 mg/dL, total trigliserida 5927,4 mg/dL, HDL-c 23,4 mg/dL, TSH 0,94
mIU/L. Urea, kreatininm elektrolit, bilirubin, AST, ALT normal. HbA1c 9,5%.
Kemudian dokter meresepkan fenofibrate, metformin, dan rosuvastatin termasuk
ramipril, glyburide, dan hydroclorothiazide. Empat minggu kemudian lipid profil
pasien mengalami peningkatan. Hasil laboratorium menunjukkan kadar kolesterol
total 213,45 mg/dL, trigliserida 825,5 mg/dL, HDL-c 37,05 mg/dL. Dengan terus
dilakukan follow up, 3 bulan kemudian kolesterol total 145,9 mg/dL, trigliserida
330,4 mg/dL, HDL-c 27,84 mg/dL.
2.1.1 Penyelesaian
A. Subjective
Pria berusia 55 tahun
1. Past Medical History
 Diabetes melitus tipe 2
 Hipertensi
2. Medication History (Dosis tidak dicantumkan di dalam jurnal)
 Ramipril
 Glyburide
 Hydrochlorothiazid
3. Physical Examination
Results of our physical examination were unremarkable
B. Objective
Data Laboratorium (Puasa)

8
Saat pertama Nilai uji Nilai normal
Kolestrol Total 536.34 mg/dL 146.94 - 201.08 mg/dL
Trigliserida 5927.4 mg/dL 31.15 - 151.3 mg/dL
HDL-c 23.4 mg/dL 35.1 - 93.6 mg/dL
TSH 0.94 mIU/L 0.49 - 4.67 mIU/L
HbA1c 9.5% < 6,5%
Urea, kreatininm elektrolit,
bilirubin, AST, ALT normal

4 minggu kemudian
Kolestrol Total 213.45 mg/dL 146.94 - 201.08 mg/dL
Trigliserida 825.5 mg/dL 31.15 - 151.3 mg/dL
HDL-c 37.05 mg/dL 35.1 - 93.6 mg/dL

C. 3 minggu kemudian
Kolestrol Total 145.9 mg/dL, 146.94 - 201.08 mg/dL
Trigliserida 330.4 mg/dL 31.15 - 151.3 mg/dL
HDL-c 27.84 mg/dL 35.1 - 93.6 mg/dL
Assesment
Pasien mempunyai riwayat penyakit diabetes melitus tipe 2 dan
hipertensi. Glyburide (dosis tidak dicantumkan) digunakan untuk terapi
diabetes pasien. Ramipril dan hydroclorothiazide (dosis tidak dicantumkan)
digunakan untuk terapi hipertensi pasien. Berdasarkan data diatas,
kolesterol total dan trigliserida pasien sangat tinggi sementara kadar HDL-c
dibawah normal. Menurut NCEP (National Cholestrol Education
Program) kolesterol total normal < 200 mg/dL, trigliserida normal < 150
mg/dL, dan HDL-c 35-93 mg/dL. Hal ini mengindikasikan bahwa pasien
menderita hiperlipidemia (mixed hyperlipidemia). Diabetes melitus tipe 2
yang diderita pasien merupakan salah satu penyebab terjadinya
hiperlipidemia sekunder karena kondisi tersebut dapat menyebabkan
meningkatnya level VLDL dan menurunkan HDL (Rader & Hobbs, 2012).
Menurut Koda-Kimble et al (2005), pemakaian obat hipertensi golongan
tiazid juga menyebabkan peningkatan kolestrol 5-7% dan peningkatan
trigliserida 30-50%. Sementara menurut Martin et al. 2009, pasien dengan
kadar trigliserida > 2001,77 mg/dL semuanya hampir memiliki
hiperlipidemia sekunder dan primer. Dokter meresepkan fenofibrate (dosis
tidak dicantumkan) untuk mengatasi hiperlipidemia. Saat pemeriksaan
HbA1c pasien sebesar 9,5% maka dokter memberi metformin (dosis tidak
dicantumkan) tambahan obat untuk diabetes pasien. Rusovastatin (dosis
tidak dicantumkan) untuk terapi mixed hyperlipidemia.
D. Plan

9
Tujuan terapi yang ingin dicapai dalam pengobatan adalah
penurunan kadar kolesterol total dan trigliserida, meningkatkan kadar
HDL-c, menormalkan kadar gula darah dan tekanan darah tinggi serta
mengurangi resiko pertama atu berulang dari infark miokardiak, angina,
gagal jantung, stroke iskemia, dan kejadian lain pada penyakit arterial
(karotid stenosis atau aortik abdominal).
1. Terapi hiperlipidemia
 Fenofibrate
Dosis inisial yang biasa digunakan dalam terapi mixed
hyperlipidemia yaitu sebesar 300 mg per hari dan dapat ditingkatkan
menjadi 400 mg perhari. Dosis pemeliharan 200 mg per hari. Obat
diminum setelah makan.
 Rusovastatin
Dosis inisial yang biasa digunakan yaitu 20 mg per hari. Range
dosis 5 – 40 mg per hari dan tidak lebih dari 40 mg perhari. Obat sebelum
atau setelah makan
.
2. Terapi hipertensi
 Ramipril
Dosis pemeliharaan yaitu 2,5-5 mg per hari diminum pagi sebelum
atau setelah makan.
 Hidrochlortiazide
Dosis yang biasanya digunakan yaitu 12,5 mg per hari diminum
pagi sebelum atau setelah makan.
3. Terapi Diabetes melitus tipe 2
 Glyburide
Dosis pemeliharaan yaitu 1,25 – 20 mg per hari diminum segera
sebelum makan.
 Metformin
Dosis pemeliharan yaitu 500 mg 1 – 2 kali perhari diminum setelah
makan.

E. Drug Related Problem dalam Kasus 1


Pasien dengan mixed hyperlipidemia , diabetes metitus tipe 2 dan
hipertensi dalam kasus ini menerima 6 macam obat dalam pengobatannya.
Walaupun dokter tetap melakukan follow up terhadap pasien tersebut,
analisis DRP tetap harus dilakukan untuk mencegah pasien mengalami
kegagalan terapi dan kejadian DRP yang dapat merugikan pasien. Adapun
analisis DRP antara lain: indikasi tanpa obat, obat tanpa indikasi,
ketidaktepatan pemilihan obat, kelebihan dosis obat, interaksi obat, efek
samping obat, dan kegagalan pasien menerima terapi.
1. Indikasi tanpa obat

10
Pasien menderita mixed hyperlipidemia, diabetes melitus tipe 2, dan
hipertensi. Dari data hasil laboratorium dan pemeriksaan fisik tidak
ditemukan adanya indikasi penyakit lain.
2. Obat tanpa indikasi
Enam jenis obat yang digunakan (glyburide, ramipril,
hydrochlortiazide, fenofibrate, rusovostatin, dan metformin) diindikasikan
untuk mengobati mixed hyperlipidemia, diabetes melitus tipe 2, dan
hipertensi. Tidak ditemukan obat tanpa indikasi dalam kasus ini.
3. Ketidaktepatan pemilihan obat
Ketidaktepatan pemilihan obat pada pasien artinya ada pemberian
obat yang tidak efektif, seperti produk obat tidak efektif berdasarkan kondisi
medisnya atau obat bukan paling efektif untuk mengatasi penyakit.
Rusovostatin efektif menurunkan kadar kolesterol total dan LDL dan
merupakan terapi utama untuk mayoritas pasien hiperlipidemik. Namun
dalam kasus tertentu dapat ditambahkan agen hipolipidemik lain untuk
mencapai tujuan terapi yang lebih agresif. Oleh sebab itu, Fenofibrate
ditambahkan karena memiliki kemampuan menurunkan kadar VLDL.
Mekanisme kunci obat golongan fibrat adalah dengan meningkatkan
lipolisis, meningkatkan asupan lemak hati dan menurunkan produksi
trigliserida hati, meningkankan asupan LDL oleh reseptor LDL, dan
menstrimulasi transpor balik sehingga meningkatkan HDL. Fibrat utamanya
digunakan pada pasien yang hanya mengalami peningkatan trigliserida dan
juga digunakan dalam terapi mixed hyperlipidemia, terutama jika HDL
rendah. Kombinasi golongan statin dan fibrat meningkatkan resiko miopati
bermakna, pertimbangan pemilihan obat baru seperti ezetimid mungkin akan
lebih tepat.
Glyburide golongan sulfonil urea dapat menurunkan HbA1C sebesar
~ 1,5% dengan menstimulasi sekresi insulin. Metformin memiliki efek utama
metformin adalah menurunkan “hepatic glucose output” dan menurunkan
kadar glukosa puasa. Monoterapi dengan metformin dapat menurunkan
HbA1C sebesar ~ 1,5%. Algoritma pengelolaan diabetes melitu tipe 2
menurut ADA/EASD yang pertama yaitu dengan intervensi pola hidup dan
metformin. Bila belum maksimal maka obat kedua dapat ditambahkan agar
HbA1C pasien < 7%, konsensus menganjurkan penambahan sulfonilurea
atau insulin. Pemilihan kombinasi glyburide dan metformin sebagai
antidiabetes melitus tipe 2 dinilai cukup tepat.

11
Terapi hipertensi dalam kasus ini menggunakan ramipril dan
hydrochlortiazide. Ramipril adalah antihipertensi golongan ACEi yang
merupakan vasodilator yang menghambat angiotensin II (vasokonstriktor
kuat). Penghambatan pembentukan angiotensin II akan menurunkan tekanan
darah. Jika sistem angiotensin-renin-aldonsteron teraktivasi (misalnya pada
keadaaan penurunan sodium, atau terapi diuretik) efek antihipertensi ACEi
akan lebih besar. Oleh karena itu dalam kasus itu menggunakan kombinasi
ramipril dengan hydrochlorothiazide. Pasien diabetes memerlukan kombinasi
antihipertensi untuk mencapai target tekanan darah optimal. ACEi
merupakan terapi pilihan karena dapat mencegah progresi mikroalbuminoria
ke nefropati. Selain itu, penggunaan beta-blocker tidak lagi
direkomendasikan oleh NICE karena kurang efektif untuk mengurangi resiko
diabetes terutama untuk pasien yang mendapatkan diuretik tiazid.
4. Dosis obat kurang dan berlebih
Dalam kasus ini hanya terdapat data jenis kelamin dan usia pasien,
tidak dicantumkan berapa dosis yang digunakan dan juga tidak tersedia data
berat badan pasien. Penilaian apakah dosis yang diberikan oleh dokter
kurang atau berlebih sangat sulit dilakukan, kerena perhitungan dosis tidak
dapat dilakukan. Namun, apabila dokter memberikan dosis obat-obat tersebut
dalam jumlah dan range dosis lazimnya maka dapat dikatakan tidak terjadi
kekurangan dan kelebihan dosis obat. Mengingat kondisi organ pasien dalam
keadaan baik (dilihat dari data laboratorium dan pernyataan dokter mengenai
pemeriksaan fisik) maka tidak perlu dilakukan penyesuaian dosis.

F. Interaksi Obat
Obat A Obat B Tingkat Interaksi
Fenofibrate Rosuvastatin Serius Meningkatkan efek karena sinergisme
farmakodinamik. Fenofibrate dapat
meningkatkan risiko rhabdomyolysis ketika di
kombinasi dengan statin untuk menurun
trigliserida dan meningkatkan HDL. Jika tetap
digunakan maka lakukan monitoring dengan
ketat. Gunakan alternatif obat lain (ezetimibe).
Glyburide Signifikan
Fenofibrate meningkatkan efek dari glyburide
dengan berkompetisi membentuk ikatan
protein plasma. Signifikan interaksi dapat
terjadi, lakukan monitoring.

12
Rosuvastatin Glyburide Signifikan Glyburide meningkatkan toksisitas
rosuvastatin. Merupakan inhibitor OATP1B1,
dapat meningkatkan risiko myopathy. Lakukan
monitoring.
Hydrochloro Metformin Minor / Hydrochlorothiazide akan meningkatkan efek
-thiazide tidak metformin melalui mekanisme kompetisi
signifikan klirens tubular ginjal.

Ramipril Glyburide Signifikan Ramipril meningkatkan efek glyburide melalui


interaksi aksi sinergisme farmakodinamik. Monitoring
mungkin dengan ketat.
terjadi

G. Efek Samping

Obat Efek samping Keterangan


Fenofibrate Nyeri otot, myopathi, myositis, diare, Pasien diingatkan
flatulance, pankreatitis, ulser peptik, tentang efek samping
kolelitiasis, depresi CNS, disarithmia, yang mungkin terjadi.
pulmonari emboli, gangguan ginjal, Efek yang mungkin
anemia, leukopenia. terjadi berbeda antar
Rosuvastatin Keluhan abdominal ringan, ruam kulit,
invidu, tergantung
gatal, nyeri kepala, nyeri otot, kejang
dengan respon tubuh.
otot, lelah, dan gangguan tidur. Kenaikan
konsentrasi transminase. Efek samping
yang jarang terjadi: rhabdomiolisis dan
miopati.

13
Anafilaksis, aneroksia, kebingungan,
gangguan hematopoetik, pusing,
gangguan lambung, kelelahan, sakit
Hydrochlorothiazide kepala, hiperkalemia, hiperkolestro,
hiperurisemi, hipotensi, metabolik
asidosis, nausea, pankreatitis, vertigo,
dan vomitting.
Batuk, hipotensi, pusing, angina
Metformin pektoris, sakit kepala, vomitting, vertigo,
abnormalitas fungsi ginjal, dan diare.
Gangguan saluran cerna, sakit kepala,
gejala hematologik, trombositopenia,
Glyburide agranulositosis, anemia aplastik (jarang).
Gangguan fungsi hati dan ginjal pada
pasien lanjut usia
Neutropenia, agranulosis, proteinuria,
Ramipril
glomerulusnefrosis, gagal ginjal akut.

H. Kegagalan Terapi
Tidak ditemukan kegagalan terapi dalam kasus ini, sejauh follow up
yang dilakukan oleh dokter pasien terus mengalami perkembangan
peningkatan profil lipid. Kegagalan terapi dalam suatu pengobatan dapat
disebabkan oleh faktor psikososial, ketidakmampuan ekonomi, kurangnya
pemahaman pasien tentang terapi yang dia lakukan, dosis yang tidak
sesuai, dan pasien menggunakan obat lain tanpa sepengetahuan dokter.
Kegagalan terapi juga dapat disebabkan oleh petugas kesehatan yang tidak
memberitahu cara penggunaan obat dengan benar.

14
DAFTAR PUSTAKA

Cipolle, R., Strand, L.M., Morley, P.C. 1992. Pharmaceutical Care An Introduction Current
Concept. New York : McGraw-Hill.
Cipolle, R., Strand, L.M., Morley, P.C. 1998. Pharmaceutical Care. New York : McGraw-Hill.
Cipolle, R., Strand, L.M., Morley, P.C., 2004. Pharmaceutical Care An Introduction Current
Concept. New York : McGraw-Hill.
PCNE. 2006. Classification for Drug Related Problems V5.01. Europe: Pharmaceutical Care
Network Europe Foundation.
Mc Mullen, M., LeFebre R. 2013. S-O-A-P/Progress Note. University of Western States.
Rader DJ, Hobbs HH. 2012. Disorders of lipoprotein metabolism. In: Kasper DL,Fauci AS, Dani
LL, Braunwald E, Hauser SL, Jameson JL, Harrison’s principles of internal medicine.18

thed. New York: McGraw-Hill,Inc.

15