You are on page 1of 4

Kemerdekaan Aceh sebenarnya telah dijamin dalam Traktat London pada tanggal 17 Maret

1824 antara Kerajaan Britania Raya dan Kerajaan Belanda, namun pada kenyataannya traktat
tersebut tidak bertahan lama. Pembukaan Terusan Suez pada tahun 1869 menjadikan Selat
Malaka menjadi salah satu jalur laut paling penting di dunia. Oleh karena itu Belanda sangat
menginginkan untuk bisa mengontrol sepenuhnya kawasan utara pulau Sumatera.Untuk itu
Belanda melangsungkan negosiasi dengan Inggris yang menghasilkan Perjanjian Sumatera
yang ditandatangani pada tanggal 2 November 1871 Perjanjian Sumatera ini dilakukan tanpa
sama sekali berkonsultasi dengan Sultan Aceh sebagai penguasa Kesultanan Aceh di utara
Sumatera.

Berdasarkan perjanjian itu maka kini Belanda mulai melakukan tekanan diplomatik di Aceh
untuk menerima poin-poin hasil perjanjian itu. Utusan Belanda Krayenhoff mengunjungi
Aceh bulan Mei 1872 tetapi tidak diizinkan untuk bertemu sultan.

Perkembangan dari diplomasi Aceh yang gagal membuat Gubernur Jenderal di Batavia,
James Loudon menganggap bahwa sultan Aceh harus diberikan pilihan untuk mengakui
supremasi Belanda atau menghadapi perang.Pada bulan Maret 1873 Belanda secara resmi
memberangkatkan Frederik Nicolaas Nieuwenhuijzen ke Aceh. Sesampainya di dermaga di
luar ibukota ia mengeluarkan ultimatum bagi kesultanan Aceh, namun sultan menolak
tawaran Belanda sehingga pada tanggal 26 Maret Nieuwenhuijzen mengeluarkan pernyataan
perang.

Perang Aceh Pertama (1873-1874) dipimpin oleh Panglima Polim dan Sultan Mahmud
Syah melawan Belanda yang dipimpin Köhler. Dalam usaha merebut istana Sultan Köhler
berhasil merebut pertahanan Aceh di Masjid Raya Baiturrahman, namun langkahnya
menguasai istana sama sekali gagal setelah ia terbunuh oleh tembakan tentara Aceh di
halaman masjid itu. Kedudukannya sebagai panglima tertinggi dalam ekspedisi pertama
digantikan oleh Kol. E.C. van Daalen. Setelah gugurnya Jend. Johan Harmen Rudolf Kohler
pada tanggal 14 April 1873, ia harus mengambil alih komando sebagai perwira paling senior.
Pada saat itu, ekspedisi tersebut mengalami kegagalan. Orang Aceh tampak dipersenjatai
dengan baik dan memiliki semangat yang lebih baik daripada orang Belanda. Militer Belanda
menyerbu dengan sengit saat maju, begitupun di malam hari. Daerah tersebut dirasakan tidak
aman dan pasukan Belanda tampak tak memiliki rencana perang yang teratur.

Perang Aceh Kedua (1874-1880) diumumkan oleh KNIL terhadap Aceh pada tanggal 20
November 1873 setelah kegagalan serangan pertama.

Pada saat itu, Belanda sedang mencoba menguasai seluruh Nusantara. Ekspedisi yang
dipimpin oleh Jan van Swieten itu terdiri atas 8.500 prajurit, 4.500 pembantu dan kuli, dan
belakangan ditambahkan 1.500 pasukan. Serangan kali ini telah dipersiapkan dengan baik
sehingga masjid Baiturrahman dapat dikuasai pada tanggal 6 Januari 1874, istana dapat
dikuasai sepenuhnya dua pekan kemudian pada tanggal 24 Januari setelah para tentara Aceh
meninggalkannya.
Setelah Banda Aceh ditinggalkan, Belanda bergerak pada bulan Januari 1874 dan berpikir
mereka telah menang perang. Mereka mengumumkan bahwa Kesultanan Aceh dibubarkan
dan dianeksasi.

Namun, kuasa asing menahan diri ikut campur, sehingga masih ada serangan yang
dilancarkan oleh pihak Aceh. Sultan Mahmud Syah dan pengikutnya menarik diri ke bukit,
dan sultan meninggal di sana akibat kolera. Pihak Aceh mengumumkan cucu muda Tuanku
Ibrahim yang bernama Tuanku Muhammad Daud Syah, sebagai Sultan Muhammad Daud
Syah (berkuasa 1874-1903).

Taktik berikutnya yang dilakukan Belanda adalah dengan cara penculikan anggota keluarga
gerilyawan Aceh. Panglima Polim dapat meloloskan diri, tetapi sebagai gantinya ditangkap
putera Panglima Polim, Cut Po Radeu saudara perempuannya dan beberapa keluarga
terdekatnya. Akibatnya Panglima Polim meletakkan senjata dan menyerah ke Lhokseumawe
pada Desember 1903. Setelah Panglima Polim menyerah, banyak penghulu-penghulu rakyat
yang menyerah mengikuti jejak Panglima Polim.

Perang Aceh ketiga (1881-1896), perang dilanjutkan secara gerilya dan dikobarkan perang
fi'sabilillah. Sekitar tahun 1875, Teuku Umar melakukan gerakan dengan mendekati Belanda
dan hubungannya dengan orang Belanda semakin kuat. Pada tanggal 30 September 1893,
Teuku Umar dan pasukannya yang berjumlah 250 orang pergi ke Kutaraja dan "menyerahkan
diri" kepada Belanda. Belanda sangat senang karena musuh yang berbahaya mau membantu
mereka.

Teuku Umar merahasiakan rencana untuk menipu Belanda, meskipun ia dituduh sebagai
penghianat oleh orang Aceh. Istrinya, Cut Nyak Dien sempat bingung, malu, dan marah atas
keputusan suaminya itu. Cut Nyak Dien berusaha menasihatinya untuk kembali melawan
Belanda. Namun, Teuku Umar masih terus berhubungan dengan Belanda. Umar lalu
mencoba untuk mempelajari taktik Belanda, sementara pelan-pelan mengganti sebanyak
mungkin orang Belanda di unit yang ia kuasai. Ketika jumlah orang Aceh pada pasukan
tersebut cukup, Teuku Umar melakukan rencana palsu pada orang Belanda dan mengklaim
bahwa ia ingin menyerang basis Aceh.

Pada suatu hari di Lampisang, Teuku Umar mengadakan Pertemuan rahasia yang dihadiri
para pemimpin pejuang Aceh, membicarakan rencana Teuku Umar untuk kembali memihak
Aceh dengan membawa lari semua senjata dan perlengkapan perang milik Belanda yang
dikuasainya. Cut Nyak Dhien pun sadar bahwa selama ini suaminya telah bersandiwara
dihadapan Belanda untuk mendapatkan keuntungan demi perjuangan Aceh.

Teuku Umar dan Cut Nyak Dhien pergi dengan semua pasukan dan perlengkapan berat,
senjata, dan amunisi Belanda, lalu tidak pernah kembali. Penghianatan ini disebut Het
verraad van Teukoe Oemar (pengkhianatan Teuku Umar).

Teuku Umar mengajak uleebalang-uleebalang yang lain untuk memerangi Belanda. Seluruh
komando perang Aceh mulai tahun 1896 berada di bawah pimginan Teuku Umar. la dibantu
oleh istrinya Cut Nyak Dhien dan Panglima Pang Laot. Pertama kali dalam sejarah perang
Aceh, tentara Aceh dipegang oleh satu komando.

Teuku Umar yang mengkhianati Belanda menyebabkan Belanda marah dan melancarkan
operasi besar-besaran untuk menangkap baik Cut Nyak Dhien dan Teuku Umar.Namun,
gerilyawan kini dilengkapi perlengkapan dari Belanda. Mereka mulai menyerang Belanda
sementara Jend. Van Swieten diganti. Penggantinya, Jend. Jakobus Ludovicius Hubertus Pel,
dengan cepat terbunuh dan pasukan Belanda berada pada kekacauan. Belanda lalu mencabut
gelar Teuku Umar dan membakar rumahnya, dan juga mengejar keberadaannya.

Untuk mengalahkan pertahanan dan perlawan Aceh, Belanda memakai tenaga ahli Dr.
Christiaan Snouck Hurgronje yang menyamar selama 2 tahun di pedalaman Aceh untuk
meneliti kemasyarakatan dan ketatanegaraan Aceh. Hasil kerjanya itu dibukukan dengan
judul Rakyat Aceh (De Acehers). Dalam buku itu disebutkan strategi bagaimana untuk
menaklukkan Aceh.

Usulan strategi Snouck Hurgronje kepada Gubernur Militer Belanda Joannes Benedictus van
Heutsz adalah, supaya golongan Keumala (yaitu Sultan yang berkedudukan di Keumala)
dengan pengikutnya dikesampingkan dahulu. Tetap menyerang terus dan menghantam terus
kaum ulama. Jangan mau berunding dengan pimpinan-pimpinan gerilya. Mendirikan
pangkalan tetap di Aceh Raya. Menunjukkan niat baik Belanda kepada rakyat Aceh, dengan
cara mendirikan langgar, masjid, memperbaiki jalan-jalan irigasi dan membantu pekerjaan
sosial rakyat Aceh. Ternyata siasat Dr Snouck Hurgronje diterima oleh Van Heutz yang
menjadi Gubernur militer dan sipil di Aceh (1898-1904).

Dien dan Umar terus menekan Belanda, lalu menyerang Banda Aceh (Kutaraja) dan
Meulaboh (bekas basis Teuku Umar), sehingga Belanda terus-terusan mengganti jenderal
yang bertugas.Unit "Maréchaussée" lalu dikirim ke Aceh. Mereka dianggap biadab dan
sangat sulit ditaklukan oleh orang Aceh. Selain itu, kebanyakan pasukan "De Marsose"
merupakan orang Tionghoa-Ambon yang menghancurkan semua yang ada di jalannya.
Peristiwa ini juga menyebabkan kesuksesan jenderal selanjutnya karena banyak orang yang
tidak ikut melakukan jihad kehilangan nyawa mereka, dan ketakutan masih tetap ada pada
penduduk Aceh.

Jenderal Joannes Benedictus van Heutsz memanfaatkan ketakutan ini dan mulai menyewa
orang Aceh untuk memata-matai pasukan pemberontak sebagai informan sehingga Belanda
menemukan rencana Teuku Umar untuk menyerang Meulaboh pada tanggal 11 Februari
1899. Malam menjelang 11 Februari 1899 Teuku Umar bersama pasukannya tiba di
pinggiran kota Meulaboh. Pasukan Aceh terkejut ketika pasukan Van Heutsz mencegat.
Posisi pasukan Umar tidak menguntungkan dan tidak mungkin mundur. Satu-satunya jalan
untuk menyelamatkan pasukannya adalah bertempur. Dalam pertempuran itu Teuku Umar
gugur terkena peluru musuh yang menembus dadanya.

Ketika Cut Gambang, anak Cut Nyak Dhien, menangis karena kematian ayahnya, ia ditampar
oleh ibunya yang lalu memeluknya dan berkata:

“Sebagai perempuan Aceh, kita tidak boleh menumpahkan air mata pada orang yang sudah syahid”

Cut Nyak Dien lalu memimpin perlawanan melawan Belanda di daerah pedalaman Meulaboh
bersama pasukan kecilnya dan mencoba melupakan suaminya. Pasukan ini terus bertempur
sampai kehancurannya pada tahun 1901 karena tentara Belanda sudah terbiasa berperang di
medan daerah Aceh. Selain itu, Cut Nyak Dien sudah semakin tua. Matanya sudah mulai
rabun, dan ia terkena penyakit encok dan juga jumlah pasukannya terus berkurang, serta sulit
memperoleh makanan. Hal ini membuat iba para pasukan-pasukannya.
Anak buah Cut Nyak Dhien yang bernama Pang Laot melaporkan lokasi markasnya kepada
Belanda karena iba. Akibatnya, Belanda menyerang markas Cut Nyak Dien di Beutong Le
Sageu. Mereka terkejut dan bertempur mati-matian. Dhien berusaha mengambil rencong dan
mencoba untuk melawan musuh. Namun, aksi Dhien berhasil dihentikan oleh Belanda.Cut
Nyak Dhien ditangkap, sementara Cut Gambang berhasil melarikan diri ke hutan dan
meneruskan perlawanan yang sudah dilakukan oleh ayah dan ibunya.

Setelah ditangkap, Cut Nyak Dhien dibawa ke Banda Aceh dan dirawat di situ. Penyakitnya
seperti rabun dan encok berangsur-angsur sembuh. Namun, Cut Nyak Dien akhirnya dibuang
ke Sumedang, Jawa Barat, karena ketakutan Belanda bahwa kehadirannya akan menciptakan
semangat perlawanan dan juga karena ia terus berhubungan dengan pejuang yang belum
tunduk.

Selama perang Aceh, Van Heutz telah menciptakan surat pendek (korte verklaring, Traktat
Pendek) tentang penyerahan yang harus ditandatangani oleh para pemimpin Aceh yang telah
tertangkap dan menyerah. Di mana isi dari surat pendek penyerahan diri itu berisikan, Raja
(Sultan) mengakui daerahnya sebagai bagian dari daerah Hindia Belanda, Raja berjanji tidak
akan mengadakan hubungan dengan kekuasaan di luar negeri, berjanji akan mematuhi
seluruh perintah-perintah yang ditetapkan Belanda. Perjanjian pendek ini menggantikan
perjanjian-perjanjian terdahulu yang rumit dan panjang dengan para pemimpin setempat.

Walau demikian, wilayah Aceh tetap tidak bisa dikuasai Belanda seluruhnya, dikarenakan
pada saat itu tetap saja terjadi perlawanan terhadap Belanda meskipun dilakukan oleh
sekelompok orang (masyarakat). Hal ini berlanjut sampai Belanda enyah dari Nusantara dan
diganti kedatangan penjajah baru yakni Jepang (Nippon).