You are on page 1of 10

https://watergius.wordpress.

com/2011/03/19/biaya-dalam-pembangkitan-
tenaga-listrik/

Biaya dalam Pembangkitan Tenaga Listrik


11 CommentsPosted by watergius on March 19, 2011

tulisan ini merupakan ringkasan dari setengah catatan kuliah Ekonomi Energi saya beserta tugasnya

***

Berbicara tentang biaya dalam pembangkitan tenaga listrik, berarti kita berbicara tentang harga yang jelas-jelas
berbeda dengan tarif. Bila harga itu nilainya ditentukan oleh besarnya investment yang dilakukan, maka tarif itu
sendiri tergantung kepada kebijakan pemerintah. Itulah sebabnya biaya tagihan listrik yang kita bayar setiap
bulannya itu dikenal dengan nama tarif listrik.

Dalam pembangkitan tenaga listrik ada empat komponen biaya yang biasanya harus diperhitungkan, komponen
A,B,C, dan D. Namun, dalam kasus-kasus tertentu, ada tambahan satu komponen lagi yang dikenal dengan
komponen E.

 Komponen A
Merupakan fixed cost, yakni biaya yang harus tetap dikeluarkan terlepas dari pembangkit listrik tersebut dioperasikan
atau tidak. Komponen ini umumnya terdiri dari biaya konstruksi PLT (Pembangkit Listrik Tenaga …) seperti pekerjaan
sipil, biaya pembelian turbin, generator, dan lain-lain.

 Komponen B dan D
Kedua komponen ini dikenal dengan nama variable cost dan biasanya nilainya kecil. Selain itu, keduanya juga sering
disebut sebagai OM Cost yang berarti biaya yang dikeluarkan untuk operasi dan maintenance si pembangkit.

– komponen B

merupakan fixed OM Cost, seperti gaji pegawai/karyawan, biaya manajemen, dan lain-lain

– komponen D

merupakan variable OM Cost, seperti biaya untuk pelumas. Semakin sering dan berat kerja si pembangkit, semakin
dibutuhkan pulalah pelumas. Maka, biaya komponen D ini akan meningkat. Dan demikian pulalah sebaliknya.

 Komponen C
Komponen ini merupakan fuel cost atau biaya bahan bakar. Beberapa faktor yang mempengaruhi harga komponen
ini misalnya banyaknya konsumsi bahan bakar yang diperlukan, jenis bahan bakarnya, lama waktu penyalaan
pembangkit, dan beberapa hal lainnya.

 Komponen E (optional)
Biaya ini tidak merupakan biaya wajib yang harus ada dalam komponen biaya pembangkitan. Namun, saat kita
berada dalam posisi IPP (Independent Power Producer) atau penyedia listrik non-PLN (Pemerintah), terkadang
komponen biaya ini turut kita perhitungkan.

Komponen E ini adalah komponen biaya saluran dari trafo step-up yang ada di pembangkit kita ke gardu induk PLN
terdekat. Misalnya kita membangun PLTU sendiri di pinggir pantai. Sementara itu, gardu induk PLN terdekat berada
pada jarak 5 km dari PLTU Anda. Nah, untuk menghubungkan output trafo step-up di pembangkit Anda ke gardu
induk tersebut tentu dibutuhkan saluran listrik kan. Biaya instalasi saluran inilah yang dikenal dengan nama
komponen E dan biasanya dibebankan ke PLN selaku pembeli.
***

Kemudian, setelah komponen-komponen tadi diketahui nilainya, kita tinggal menjumlahkannya untuk mendapatkan
nilai yang dikenal dengan nama BPP (Biaya Pokok Pembangkitan). Inilah biaya pembangkitan sebenarnya yang
dikeluarkan oleh si pembangkit.

Berikut ini adalah contoh perhitungan beberapa komponen biaya :

1. Komponen A

– Capital Cost (CC) adalah biaya konstruksi PLT. Biaya ini meliputi biaya turbin, generator, switchgear, BOP (Balance
of Plant), dll.

– CRF (Capital Recovery Factor) atau faktor pengembalian investasi biasanya direpresentasikan oleh persamaan

berikut:
dengan i = interest dan n = masa manfaat

– kapasitas merupakan kapasitas total pembangkit.

– 8760 dinyatakan dalam jam, yang merupakan lamanya jam dalam satu tahun. Hal ini mewakili waktu nyala si
pembangkit dalam selama satu tahun.

– CF (Capacity Factor) merupakan faktor kesediaan PLT dalam memproduksi listrik. Nilai CF ini umumnya bervariasi
antara 0,8-0,9.

2. Komponen C

Besarnya komponen C dipengaruhi oleh harga bahan bakar per satuan (misalnya Rp/liter untuk diesel) dan
harga SFC (Specific Fuel Consumption) yang dinyatakan dalam satuan per kwh (misalnya liter/kwh untuk diesel)

Contoh kasus:

Sebuah pembangkit memiliki kapasitas 3×1000 kW dengan masa manfaat 5 tahun. Harga capital cost adalah $
300/kWh. Bahan bakar solar (diesel) yang digunakan memiliki efisiensi 0,275 liter/kWh. Besarnya komponen B dan D
adalah sebagai berikut berturut-turut (dalam cent dollar) 0,3 dan 0,6. Hitunglah BPP bila:

(a) Take or Pay

(b) PLT bekerja sebagai peaker yang hanya menyala 2 jam/hari

Jawab

Total kapasitas pembangkit adalah 3X1000 kW.

Capital cost totalnya adalah : $ 300/kW x 3000 kW = $ 900.000

Masa manfaatnya (n) adalah 5 tahun

Dengan mengasumsikan nilai i = 30%, maka


Dengan menggunakan harga diesel untuk industri (Rp 8.800/kWh), komponen C akan bernilai : Rp 8.800/liter x
0,275 liter/kWh = Rp 2420/kWh

CF sendiri kita asumsikan sebesar 0,8. Jadi:

(a) Saat pembangkit digunakan take or pay, itu berarti pembangkit akan menjadi IPP yang menjual listriknya
sepanjang tahun. Maka

Dan dengan mengambil kurs 1$ = Rp 9.000, maka BPP menjadi :

BPP = (0,018 x 9000) + ((0,3+0,6)/100 x 9000) + 2420

= Rp 2663/kWh

(b) Saat pembangkit digunakan sebagai peaker dengan waktu menyala 2 jam/hari = 2 x 365 hari = 730 jam/tahun,
maka

Dan dengan mengambil kurs 1$ = Rp 9.000, maka BPP menjadi :

BPP = (0,211 x 9000) + ((0,3*+0,6)/100 x 9000) + 2420

= Rp 4400/kWh

*menurut dosen saya, nilai komponen B juga akan mengalami perubahan saat PLT digunakan
sebagai peaker. Namun, saya masih kurang paham akan hal itu. Karenanya saya masih menuliskan hal
yang saya tangkap. Namun yang pasti, nilai komponen A saat digunakan sebagai peaker jauh lebih
besar dibandingkan saat penggunaan biasa.

***

Agus Praditya T
https://newbensagung.wordpress.com/2013/01/25/perhitu

ngan-biaya-pembangkitan-energi-listrik/

Perhitungan Biaya
Pembangkitan Energi Listrik
Posted on January 25, 2013

4 Votes

Tulisan kali ini akan membawa pembaca semua sedikit berhitung. Perhitungan
yang akan dilkaukan adalah perhitungan sederhana biaya bahan bakar
pembangkitan listrik. Langsung aja kita ke contoh kasusnya ya.

Direncanakan suatu pembangkit listrik dalam waktu setahun dapat


menghasilkan energi listrik sebesar 1 TWh (terra watt hour). Spesifikasi
pembangkit diketahui memiliki efisiensi (ɳ) 33%. Pilihan bahan bakar yang akan
digunakan pada pembangkit ini adalah minyak bumi, gas bumi, dan batubara.
Masing-masing memiliki satuan harga sebagai berikut:
minyak bumi : $ 95/barrel
gas bumi : $ 8/MMBTU
batubara : $ 90/ton
Dengan target harga jual listrik adalah Rp 800/KWh, analisis bagaimana
sebaiknya mengoperasikan pembangkit ini.

Perhitungan dan Analisis:

Langkah 1. Hitung jumlah energi yang diperlukan untuk membangkitkan energi


listrik

Energi listrik 1 TWh merupakan energi output maka dengan efisiensi


pembangkit 33% maka energi input yang dibutuhkan :

Energi Input = Energi Output / Efisiensi


= 1 TWh / 33%
≈ 3 TWh = 3.000.000.000 KWh
Langkah 2. Konversi energi ke masing-masing satuan bahan bakar

– minyak bumi :
Dengan nilai konversi 1700 KWh/barrel, maka:
valume minyak yang digunakan = 3 Milyar KWh / 1700
≈ 1.782.500 barrel
Biaya bahan bakar minyak yang digunakan = 1.782.500 x $ 95
≈ $ 169.340.463
– gas bumi
dengan konversi energi gas 3412 BTU/KWh, maka:
volume gas dalam MMBTU = 3 Milyar KWh x 3412 BTU/KWh / 1.000.000
≈ 10.339.394 MMBTU
Biaya bahan bakar gas bumi pada pembangkit = 10.339.394 x $ 8
≈ $ 82.715.151
– Batubara
untuk batubara variabel konversinya ada 3:
KWh –> BTU = 3412 BTU/KWh
BTU –> Kcalori = 0.252 Kcal/BTU
heat rate batubara = 5000 KCal/kg
maka total batubara yang digunakan = 3 Milyar x 3412 x 0.252 /(5000 x
1000) ton
≈ 521.105. 45 ton batubara
Biaya yang digunakan untuk batubara ≈ $ 46.899.490
– Langkah 3. Hitung pemasukan dari penjualan energi listrik
income = 1 TWh x Rp 800/KWh
= Rp 800 Milyar
≈ $ 80.000.000
Dari hasil perhitungan di atas kita ketahui bahwa hanya bahan bakar batu bara
yang bisa memberikan margin. Sedangkan untuk bahan bakar gas dan minyak
bumi biaya bahan bakar lebih mahal pemasukan hasil penjualan energi listrik.
Secara bisnis tentu saja dari sisi keekonomian bahan bakar gas dan minyak
bumi tidak layak.

Meskipun masih banyak variabel yang belum diperhitungkan pada perhitungan


di atas seperti capacity factor pembangkit. Namun perhitungan di atas
menguatkan kita bahwa pembangkit batu bara merupakan pembangkit yang
murah. Namun perlu diperhatikan dampak lingkungan dari pemanfaatan batu
bara. Dampak yang perlu diperhitungkan mulai dari penambangan batu bara
sampai pasca penggunaannya di pembangkit. Banyak kasus yang bisa menjadi
bahan diskusi nanti.

Alasan ini yang paling menguatkan PLN untuk mengambil langkah


mengembangkan pembangkit batubara pada program pembangunan
pembangkit di Indonesia. Sebab selama ini PLN mengandalakn bahan bakar
minyak untuk membangkitkan listrik. seperti hitungan di atas, selisih
kerugiannya lebih dari 100%. Maka wajar beban subsidi listrik selama ini begitu
besar bahkan pada tahun 2012 mencapai 80 Triliun rupiah.

Sedangkan gas, penggunaannya jangan dihindarkan. Meskipun biayanya masih


terhitung mahal, namun gas perlu menjadi salah satu alternatif energi
pembangkit listrik untuk menggantikan BBM, Gas memiliki nilai lingkungan yang
jauh lebih baik dibanding batubara. Serta penghematan yang bisa dihasilkan
akan sangat besar jika dibandingkan biaya subsidi listrik selama ini. Dari sisi
ketahanan energi pun, pemanfaatan gas bumi yang diproduksi sendiri akan
meningkatkan ketahanan energi nasional.

Benny Nafariza. ST
Pascasarjana UNHAN
Prodi Energi Security

Tingkatkan Efisiensi

Kementerian ESDM Terbitkan Aturan Jual-Beli dan


Penyediaan Tenaga Listrik
02 February 2017, Editor Anovianti Muharti
Terkait

Teknologi, Kunci Strategi Pemerintah Dongkrak Produksi Migas Nasional

 PHE ONWJ Memulai Pengembangan Lapangan Migas Baru


 Keberlanjutan Sektor Ketenagalistrikan Dorong Perekonomian Indonesia

 Implementasi B20 Ditargetkan 100% di Akhir 2018

 Tingkatkan Aktivitas Hulu Migas ke Daerah Lepas Pantai

 Sekitar 3,6 Juta Barel Minyak Berstatus Dead Stock

 Pelaku Industri Minerba Wajib Gunakan Rekening Bank Domestik

 PHE Kelola WK Southeast Sumatera

 Panasbumi, Sumber Energi Bersih untuk Kebutuhan Energi di Tanah Air

 Kendalikan Impor dan Perkuat Devisa, Kementerian ESDM Terapkan Kebijakan Strategis

facebook
10

twitter

google+
0

linkedin
0

MigasReview, Jakarta - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan,
Kamis (02/02/2017), telah menandatangani tiga Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya
Mineral (Permen ESDM) tekait pengaturan jual beli dan penyediaan tenaga listrik sistem
ketenagalistrikan, yaitu Permen ESDM Nomor 10 Tahun 2017 tentang Pokok-Pokok dalam
Perjanjian Jual Beli Tenaga Listrik; Permen ESDM Nomor 11 Tahun 2017 tentang Pemanfaatan
Gas Bumi untuk Pembangkit Listrik dan Permen ESDM Nomor 12 Tahun 2017 tentang
Pemanfaatan Sumber Energi Baru Terbarukan untuk Penyediaan Tenaga Listrik.

Ketiga Permen ESDM tersebut diterbitkan untuk mendorong usaha penyediaan tenaga listrik
yang lebih efisien.

“Permen ini diluncurkan demi mewujudkan kegiatan usaha penyediaan tenaga listrik yang
efisien, adil dan transparan,” kata Direktur Jenderal (Dirjen) Ketenagalistrikan Jarman dalam
Konferensi Pers di Gedung Kementerian ESDM.

Melalui Permen ini, Pemerintah juga terus mengupayakan pengembangan listrik berbasis Energi
Baru Terbarukan (EBT) di Indonesia.

“Adanya aturan ini ingin mengedepankan EBT dengan memperhatikan kewajaran harga dan
prinsip usaha yang sehat dan memperbaiki kondisi lingkungan,” ujar Dirjen Energi Baru,
Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Rida Mulyana.
Dia menjelaskan bahwa Pemerintah akan mengatur pembelian tenaga listrik melalui mekanisme
harga patokan atau pemilihan langsung.
Permen ESDM Nomor 10 Tahun 2017 tentang Pokok-Pokok
Perjanjian Jual Beli Tenaga Listrik

Aturan ini diterbitkan dengan maksud agar terdapat kesetaraan risiko aspek komersial antara
PLN dan IPP untuk seluruh jenis pembangkit listrik. Sementara, untuk pembangkit EBT yang
intermiten dan Hidro di bawah 10 MW diatur dalam peraturan tersendiri. Pengaturan jual beli
tenaga listrik ini merupakan bentuk kontrol negara dalam penyediaan listrik untuk kepentingan
umum.

“Ini sebagai tindak lanjut dari Amar Putusan Mahkamah Konstitusi No. 111/PUU-XIII/2015
mengenai Pasal 10 Ayat 2 dan Pasal 11 Ayat 1 Undang-Undang (UU) Ketenagalistrikan," lanjut
Jarman.

Pola kerja sama yang diatur dalam Permen ini menggunakan prinsip Membangun (Build),
Memiliki (Own), Mengoperasikan (Operate), dan Mengalihkan (Transfer) (BOOT). Pola ini
memastikan bahwa seluruh aset pembangkit menjadi milik negara setelah masa kontrak 30
tahun.

Dalam Permen tersebut juga mengatur adanya insetif dan pinalti. Jika terjadi
percepatan Commercial of Date (COD) karena diminta PLN, maka IPP berhak mendapat
insentif. Bentuk insentif ditentukan secara Business to Business. Sedangkan, dalam hal
keterlambatan usaha COD, Badan Usaha dikenakan pinalti yang besarnya senilai biaya
pembangkitan oleh PT PLN untuk mengganti daya yang dibangkitkan akibat keterlambatan
pelaksanaan COD.

PLN wajib membeli energi listrik sesuai kontrak (take or pay). Sementara itu, IPP wajib
menyediakan energi sesuai kontrak (deliver or pay). IPP atau PLN wajib membayar pinalti
apabila IPP tidak dapat mengirimkan atau menyerap listrik sesuai kontrak. Besarnya pinalti
proporsional sesuai komponen investasi.
Permen ESDM Nomor 11 Tahun 2017 tentang Pemanfaatan Gas Bumi
untuk Pembangkit Listrik

Permen ini mendorong pemanfaatan gas bumi di mulut sumur (wellhead) untuk pembangkit
tenaga listrik. Pengadaan pembangkit listrik di mulut sumur gas bumi dapat dilakukan melalui
skema penunjukan langsung atau pelelangan umum. Penunjukkan langsung antara lain untuk
harga gas bumi paling tinggi 8% Indonesian Crude Price (ICP)/MMBTU pada pembangkit listrik
(plant gate) dan specific fuel consumption setara minyak solar sebesar 0,25 liter/kWh.
Sedangkan pelelangan umum dilakukan dalam hal harga gas bumi lebih tinggi dari 8% dari
ICP/MMBTU.

Sementara itu, pengaturan terkait harga Gas Bumi diatur dengan mempertimbangkan:
keekonomian lapangan, harga gas bumi dalam negeri dan intenasional, kemampuan daya beli gas
bumi dalam negeri serta nilai tambah dari pemanfaatan gas bumi dalam negeri.
Permen ESDM Nomor 12 Tahun 2017 tentang Pemanfaatan Sumber
Energi Baru Terbarukan untuk Penyediaan Tenaga Listrik

Dalam Permen ESDM tersebut ditegaskan bahwa PT PLN (Persero) berkewajiban membeli
tenaga listrik dari pembangkit tenaga listrik yang memanfaatkan sumber energi terbarukan, yaitu
Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Fotovoltaik, Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB),
Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA), Pembangkit Listrik Tenaga Biomassa (PLTBm),
Pembangkit Listrik Tenaga Biogas (PLTBg), Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa), dan
Pembangkit Listrik Tenaga Panasbumi (PLTP).

Pembelian tenaga listrik dari pembangkit energi terbarukan dilakukan dengan mekanisme harga
patokan atau pemilihan langsung. PLN wajib mengoperasikan pembangkit energi terbarukan
dengan kapasitas sampai dengan 10 MW secara terus menerus (must run).

“PT PLN (Persero) wajib mengoperasikan pembangkit tenaga listrik yang memanfaatkan
Sumber Energi Terbarukan dengan kapasitas sampai dengan 10 MW secara terus-menerus
(must-run),” ungkap Rida.

Secara umum Permen ESDM tersebut mengatur pembelian tenaga listrik dari PLTS Fotovoltaik,
PLTB, PLTA, PLTBm, PLTBg paling tinggi 85% dari Biaya Pokok Penyediaan (BPP)
Pembangkitan di sistem ketenagalistrikan setempat. Dalam hal BPP Pembangkitan di sistem
ketenagalistrikan setempat sama atau di bawah rata-rata BPP Pembangkitan nasional, maka harga
pembelian tenaga listriknya sebesar sama dengan BPP Pembangkitan di sistem ketenagalistrikan
setempat.

Sedangkan pembelian tenaga listrik dari PLTSa dan PLTP menggunakan harga patokan paling
tinggi sebesar BPP Pembangkitan di sistem ketenagaslitrikan setempat. Dalam hal BPP
Pembangkitan di sistem ketenagalistrikan di wilayah Sumatera, Jawa, dan Bali atau sistem
ketenagalistrikan setempat lainnya sama atau di bawah rata-rata BPP Pembangkitan nasional,
harga pembelian tenaga listrik dari PLTSa ditetapkan berdasarkan kesepakatan para pihak.
PLTSa dapat diberikan fasilitas berupa insentif sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan.