You are on page 1of 12

PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI PADA KASUS HNP DENGAN

MODALITAS SHORTWAVE DIATERMY,TRAKSI LUMBAL DAN


MC. KENZIE EXERCISE DI RSUD. Prof. Dr. MARGONO
SOEKARJO PURWOKERTO
Dwi Susilo Ady nugroho, Andung Maheswara ( Prodi Fisioterapi FIK- UNIKAL )

Abstract

In patients with HNP (Hernia Nucleus Pulposus) will usually arise low back pain that
radiates to the lower leg area even up to the end of the toes and also characterized by
severe pain when the patient straining or sneezing. Given the pain, then there will be
muscle spasm around the vertebrae and limited motion in the lumbar spine (flexion,
extension,). Issues arising from this, will affect the activities of daily life can’t work
according to their field and can’t enjoy leisure time due to pain breaks. For effective and
efficient handling performed an inspection method nyri with VDS (Visual Descriptive
Scale), muscle strength checks MMT (Manual Muscle Testing) examination joints with
limitation of motion of LGS (Mid line) Examination of the functional activity Owestry
scale. As for the goal to be achieved in reducing muscle spasm pain and, increase
muscle strength, increase range of motion, and improve the patient's functional
activities for daily life - today. Most patients will improve HNP in 6 weeks with
conservative therapy. Small proportion will develop into chronic despite terapeutik, in
patients in surgery 90% will be improved, especially leg pain, but the likelihood of
recurrence is 50% and can be at the same level or different discs.

Key Word : HNP, Intervensi SWD, Traksi Lumbal, and Mc. Kenzie exercise.

PENDAHULUAN memperhatikan segi keamanan dalam


beraktivitas (Azrul Azuar, 2000)..
Pada dasarnya keluhan nyeri dapat
terjadi pada bangunan neuro Dari karekteristik keluhan nyeri ini,
muskuloskeletal yang mana dari tubuh memungkinkan nyeri punggung merupakan
manusia, diantaranya nyeri punggung sindroma yang sangat kompleks. Perlu
bawah, dalam dunia medis disebut Low adanya pendekatan yang tidak cukup
Back Pain, yang terjadi oleh karena dilayani oleh satu pilihan ilmu terapi harus
Hernia Nucleus Pulposus disebut juga ada kerjasama dari berbagai disiplin ilmu
HNP. Dimana orang awam menyebutnya tenaga kesehatan, antara lain dokter,
dengan sebutan sakit boyok, encok dan perawat, ahli gizi, psikologi dan fisioterapi
sebagainya. Berbagai macam bentuk (Azrul Azuar, 2000).
keluhan di daerah ini dapat timbul karena
kurang berhati-hati dan sikap yang kurang

28
Nyeri punggung bawah (LBP) Y : Keadaan psien setelah diberikan
sebenarnya bukanlah suatu diagnosis, program fisioterapi.
namun sering dipakai sebagai kajian nyeri Z : Program Fisioterapi.
pada regio punggung bawah dan seakan- Permasalahan yang timbul sebelum
akan menutupi diagnosis yang pasien menjalani program fisioterapi
sebenarnya. Dengan perubahan kebiasaan adalah pasien merasakan nyeri gerak
dalam kehidupan sosial banyak pasien ,nyeri tekan,nyeri diam, penurunan
dengan keluhan Low Back Pain, sering kekuatan otot, keterbatasan gerak, dan
tidak mengerti harus bagaimana untuk gangguan aktifitas fungsional, kemudian
menempatkan postur yang benar untuk pasien menjalani pemeriksaan fisioterapi
mengurangi nyeri yang timbul, sehingga berupa nyeri dengan VDS, kekutan otot
banyak usaha yang ditempuh tetapi dengan MMT, lingkup gerak sendi dengan
hasilnya nihil. midline.
Setelah dilakukan pemeriksaan
METODE PENELITIAN
didapat permasalahan kapasitas fisisk dan
1. Pendekatan kemampuan fungsional oleh fisioterapi
Rancangan penelitian yang diberikan modalitas terapi latihan. Dengan
digunakan adalah studi kasus. pemberian terapi latihan diharapkan adnya
2. Desain Penelitian peningkatan pada kapasitas fisik dan
Penelitian ini dilakukan dengan cara kemapuan fungsional.
melakukan interview dan observasional Instrumen Penelitian
pada seseorang pasien dengan kondisi 1. Nyeri diukur dengan VDS
kasus HNP. VDS (Visual Descriptive Scale).
Desain penelitian digambarkan Prosedur pengukuran tingkat nyeri
sebagai berikut : dengan VDS adalah sebagai berikut
: 1) Tidak nyeri, 2) Nyeri sangat
X Y
ringan, 3) Nyeri ringan, 4) Nyeri
tidak begitu berat, 5) Nyeri cukup
berat, 6) Nyeri berat, 7) Nyeri
Z
taktertahankan.

2. Kekutan otot diukur dengan MMT


Keterangan :
Pemeriksaankekutanotot
X : Keadaan pasien sebelum diberikan
menggunakan MMT ( Manual
program fisioterapi.
29
Muscle Testing ) yang memiliki nilai Pemeriksaan ini terdiri dari:
0 ( zero/ tidak da kontraksi dan Vital sign, Inspeksi, Palpasi,
gerakan ), 1 ( Trace/ hanya ada Pemeriksaan Gerak Dasar,
kontraksi otot ), 2 (Poor/ ada dan Kemampuan Aktifitas
gerakan tetapi tidak melawan Fungsional serta Lingkungan
gravitasi ), 3 (Fair/ ada gerakan dan Aktifitas.
melawan gravitasi ), 4 (Good / ada b. Interview Metode ini
gerakan dan melawan gravitasi digunakan untuk
dengan tahanan minimal dari mengumpulkan data dengan
terapis ), 5 ( Normal/ ada gerakan jalan Tanya jawab antara
malawan gravitasi dan melwan terapis dengan sumber data
tahanan dari terapis ) pasien.
3. Lingkup Gerak Sendi (LGS) c. Observasi Dilakukan untuk
Yaitu suatu cara yang dilakukan oleh mengamati
terapis untuk mengetahui besarnya perkembangan pasien
lingkup gerak sendi yang dilakukan sebelum terapi, selama terapi
pada suayu sendi. Disini penulis dan sesudah terapi.
menggunakan pengukuran LGS 2. Data Sekunder
dengan Midline. a. Studi Dokumentasi
4. Aktifitas Fungsional dengan Skala b. Data Pustaka
Owestry Didapat dari buku untuk
Oswestry low back pain questionaire data refrensi dan kumpulan
didesain untuk membantu berbagai jurnal yang
fisioterapis mendapatkan informasi berkaitan dengan kasus
tentang bagaimana nyeri punggung yang diambil.
bawah yang diderita pasien dapat Anatomi dan Fisiologi
berdampak pada kemampuan 1. Anatomi Fungsional
fungsional pasien sehari-hari. Untuk menegakkan diagnosis yang
tepat, mengetahui prognosa suatu
Prosedur Pengambilan Data
penyakit dan pemberian pengobatan
1. Data Primer
yang sesuai dibutuhkan pengetahuan
a. Pemeriksaan fisik
tentang anatomi fisiologi yang
Bertujuan untuk mengetahui
berhubungan dengan kondisi penyakit
keadaan umum pasien.
tersebut. HNP lumbal 4-5, maka

30
penulis akan kemukakan anatomi yang berkurang ketebalannya dan bertambah
mencakup hal-hal: 1) Susunan tulang ke posterior. Nukleus polposus bergerak
belakang, 2) Struktur otot, 3) Struktur ke posterior mengukur serabut posterior
persendian, 4) Sistem peredaran darah, dari annular fibrosis. Processus
5) Sistem persyarafan. artikularis inferior dari vertebrae
2. Biomekanik superior slide dan bergerak dari
Gerakan dari vetikal lumbalis boleh processue artikularis superior slide dan
dikatakan relatif bebas dibandingkan bergerak dari prosesus artikularis
dengan vertebra lainnya. Hal ini oleh superior vertebra inferior.
karena bentuk diskusnya besar dari arah Sebagai penggerak utama flexor
foccetnya berlainan. Gerakan fleksi dari batang tubuh adalah otot rektus
lumbal berakhir pada lumbal 4-5 dan abdominis, otot obligus eksternus.
diperkirakan 75% dari fleksi kedepan Obligus internus, otot quadratus
seluruhnya terjadi pada L4-S1 yang lumborum secara bilateral dan otot
disebut lumbo sakral dan luas interkostalis gerakan ini dihambat oleh
gerakannya merupakan terbesar dari otot-otot ekstensor spina dan
seluruh gerakan fleksi dari vertebra ketegangan ligamentum longitudinal
spinalis (Soekarno, 1999). posterior dan ligamentum

Untuk mengetahui supraspinale. Luas gerak batang tubuh


o o
arthokinematika pada sendi-sendi adalah 65 -85 atau 50 cm – 60 cm
daerah lumbal sangat rumit mengingat dengan midline (International Standart
osteokinematika antara segmen satu Orthopedic Measurment). b. Ekstensi
dengan segmen yang lainnya saling
berhubungan. Gerakan yang terjadi Gerakan ini pada posisi tegak,
pada lumbal : kemudian membungkukkan badan ke
a. Fleksi belakang gerakan terjadi pada bidang

Gerakan ini terjadi pada posisi sagital dengan aksis frontal. Besar atau

tegak kemudian membungkukkan luas gerak batang tubuh orang normal


o
badan ke depan. Gerakan ini terjadi ke 25 -40º atau 40-50 cm dengan mid line
arah ventro-kaudal pada bidang segital (International Standart Orthopedic
dan pada axis frontal horizontal (x) Measurment) penggerak utama ekstensi
pada gerakan ini korpus vertebra adalah otot interspinale (otot
miring dan sliding secara pelan ke iliokostalistorakalis, otot longsimus
anterior sehingga diskus anterior torakalis, otot spinalis torakalis, otot

31
ilikostalis, otot notatoris, otot Pada gerakan ini, corpus vertebra
multifiduc) yang bekerja secara superior miring ipsi lateral. Diskus
simetris. Dari gerakan ini terdapat menjadi lebih lebar pada permukaan
hambatan dari ketegangan ligamentum kontra lateral. Sedangkan bila dilihat
spinosus anterior. Otot fleksor spinalis dari posterior, procarus kontrallateral
dan adanya kontak antara processus vertebra superior trunk dan processus
anterior vertebra satu dengan yang lain. spisilateral trunk.
Pada gerakan ini, corpus vertebra d. Rotasi
superior miring dan letak ke posterior. Gerakan rotasi dikerjakan pada
Diskus anterior bertambah posisi duduk maupun tidur terlentang,
ketebalannya dan berkembangnya di gerakan ini terjadi pada bidang
bagian posterior. Nucleus posterior, horisontal dengan axis vertikal melalui
nucleus pulposus bergerak ke anterior processus spinosus, sudut gerakan ini
mengulur serabut anterior dari annulus sekitar 45 .
o
Penggerak utamanya
fibrosis. adalah rotasi ipsilateral, bila otot
c. Lateral fleksi berkontraksi dapat memutar columna
Gerakan ini dimulai dari sikap vertebralis sepihaknya, digerakkan
berdiri tegak, kemudian menekukkan oleh otot obligus internus abdominis,
badan ke samping kanan maupun kiri. otot illiocostalis lumborum dan otot
Gerakan ini terjadi pada bidang frontal spinatiansversarium. Rotasi kontral
dan axis sagital. Besarnya sudut lateral bila otot berkontraksi terjadi
normal gerakan ini sekitar 25º kontraksi sepihak berlawanan,
(International Standart Orthopedic digerakkan oleh otot-otot obligus
Measurment). Penggerak utama dari eksternus abdominis, multifidus,
gerakan ini adalah otot obligus rotator longus, rotator brevis. Dan otot
eksternus dan internus abdominis, otot tranversospinal selama gerakan ini
quadratus lumborum. Otot rectus diskus intervertebralis tidak ikut
abdominis dan otot psoas. Otot-otot bergerak .
tersebut bekerja lateral pada samping Dengan menggunakan alat
yang sama, kecuali otot obligus penunjuk yang ditentukan di dalam
eksternus abdominis. Dan gerakan ini nukleus pulposus manusia, tekanan
dibatasi oleh ketegangan otot lateral intra diskus dapat diselidiki pada
fleksor yang berlawanan dan bagian sikap tubuh dan keadaan.
ligamentum plavum. Sebagai standart dipakai tekanan
32
intradiskus ketika berdiri tegak, pada iritasi pada selaput yang menyertai
daftar dibawah ini terdapat radiks atau saraf yang masuk ke dalam
peningkatan tekanan intra diskus pada foramen intervertebralis; (2) adanya
berbagai sikap dan tekanan. iritasi dari penonjolan nukleus
3. Patologi pulposus ke ligamentum longitudinal
Patologi adalah ilmu yang posterior karena mendapat innervasi
mempelajari mengenai penyakit atau dari syaraf siniferbrais; (3) spasme
gangguan hidup (Abrahams, 1992). otot-otot erector spine yang innervasi
HNP adalah keluarnya material olah ramus primasius posterior nevus
nukleus dari pembungkus annulus spinalis sifat nyeri dapat lokal maupun
fibrosis kapsul (Calliet, 1981). radikuler (Salfer, 1970).
Penyebab HNP paling besar Tingkat atau gradual HNP dapat
adalah trauma (50%) baik langsung dikatakan menjadi (1) protuted
maupun tidak langsung pada diskus intervertebralis discus yaitu penonjolan
invertebralis yang akan menyebabkan nukleus pulposus ke satu arah tanpa
kontraksi hebat dari nukleus pulposus, disertai ruptur dari annulus fibrosus;
perobekan serat-serat fibrolastis (2) protuted intervertebral discus yaitu
annulus fibrosis sehingga annulus nukleus pulposus berpindah tempat
menjadi pecah-pecah bahkan robek, tetapi belum keluar dari lingkaran
nukelus pulposus yang tertekan akan annulus fibrosus (3) Extruded
mencari jalan keluar melalui sobekan intervertebral discus yaitu nukleus
annulus fibrosis mendorong ligamentum pulposus proses yaitu proses jelas
longitudinal dan terjadilan keluar menembus ligamen
herniasi. Setelah annulus fibrosis longitudinal posterior (Mugel, 1997).
robek, nukelus pulposus akan Arah prolaps atau penonjolan
mengalami difusi melalui robekan hernia nukleus pulposus lumbal
tersebut. Difusi tersebut menyebabkan biasanya ke arah postero sentral atau
penyempitan jarak antara kedua posterior dan postero lateral. Tetapi
korpus vertebra. Saat terjadi lebih banyak yang mengarah ke
penjebolan ini akan dirasakan nyeri posterolateral.
tajam dan hebat segera atau beberapa a. Prolaps ke posterolateral
saat didaerah punggung. Pada vertebra lumbal 4-5 prolaps
Nyeri yang terjadi pada HNP L4-5 ke postero lateral ini sering terjadi
dapat disebabkan oleh (1) adanya karena di daerah postero lateral ini,

33
annulus fibrosis paling lemah dan jaringan atau yang digambarkan sebagai
ligamen longitudinal posterior lebih suatu kerusakan jaringan. Nyeri
sempit dibandingkan diatasnya, diungkapkan oleh seseorang secsra
sehingga dengan adanya hernia disini subyektif dengan keluhan “sakit” yang
dapat menyentuh secara langsung pada dapat diukur dengan instrument VDS
akar syaraf yang akan memberikan (Visual Descriptive Scale). Visual
gejala pada nerveroot (nerve spinalis) Descriptive Scale (VDS) adalah suatu
yaitu terjadi penekanan segmental dan cara pengukuran nyeri. Dikataka bahwa
akan menyebabkan nyeri radikuler VDS merupakan sistem pengukuran
terhadap akar syaraf lumbal 5. Kelainan nyeri yang valid dan lebih sensitive
motoris terjadi flaccid LMN (Lower dibanding metode-metode lain. Visual
Motor Neuron) pada otot yang Descriptive Scale. Cara pengukuran
mendapat innervasi dari serabut saraf derajat nyeri dengan menunjjukkan satu
yang keluar dari tapis lesi. b. Prolaps ke titik pada garis skala nyeri (1-7). Awal
posterior garis menunjjukkan tidak adanya nyeri,
Arah ini dapat terjadi pada lumbal sedang ujung garis menunjjukkan nyeri
4-5 yang dapat digolongkan menjadi : yang tidak tertahankan (Ellis, 1991).
1) Penekanan ringan ke belakang dan Pasien diminta menunjukkan lokasi nilai
terjadi pelan akan menimbulkan gejala rasa nyerinya pada garis tersebut,
dura saja; 2) Penekanan hebat ke arah kamudian diukur dan dinyatakan dalam
belakang dan terjadi mendadak akan milimeter.
menimbulkan gejala dura dan nyeri
2. Kekuatan otot
radikuler; 3) Penonjolan secara masih
Pemeriksaankekuatanotot
kearah belakang yang merobekkan
digunakan sebagai ukuran untuk
ligamen longitudinal posterior dan
Menentukan / mengetahui kemampuan
terjadi penekanan pada candaequine.
seseorang dalam mengkontraksikan
Prolaps ke posterior ini pada keadaan
otot /group otot secara voluntary
lanjut dapat diikuti gangguan motoris
(DP3FT). Pemeriksaan kekuatan otot ini
upper motor neuron.
dengan menggunakan sistem manual dan
Objek yang dibahas
penilaian menggunakan blanko MMT
1. Nyeri
yaitu dengan cara terapis memberikan
Nyeri adalah suatu pengalaman
tahanan kepada pasien dan pasien
sensorik dan emosional yang tidak enak
disuruh melawan tahanan terapis
yang berkaitan dengan kerusakan

34
dan disaat itu terapis menilai sesuai dapat terjadi karena kemampuan
dengan kriteria nilai kekuatan otot pekerja dan tuntutan tugas yang tidak
(Sujatno, et al, 1998). sesuai, tubuh atau otot yang belum
siap atau kerja yang mendadak, sikap
3. Lingkup Gerak Sendi
atau posisi yang menetap, kemajuan
Adanya nyeri pada daerah lumbal
teknologi industri sarana dan
menyebabkan keterbatasan gerak pada
prasaran yang memadai, struktur
trunk untuk itu perlu diperiksa. HNP
tubuh yang tidak sesuai dengan
bisa menyebabkan adanya keterbatasan
pekerjaan, tidak tahu cara
LGS dikarenakan adanya nyeri pada
mengangkat dan mengangkut barang
daerah lumbal dan adanya spasme otot
yang benar (Sumarno, 1997).
pada m. latisimus dorsi. LGS trunk
dengan menggunakan midline yaitu Hasil dan Penelitian
dengan cara 1. Nyeri
a. Fleksi-ekstensi trunk, posisi pasien Nyeri adalah suatu
berdiri kemudian membungkuk dan pengalaman sensorik dan
ukur jarak dari jari tengah tangan emosional yang tidak enak yang
sampai lantai dengan menggunakan berkaitan dengan kerusakan
midline. Untuk gerakan ekstensi jaringan atau yang digambarkan
pasien disuruh menengadah sebagai suatu kerusakan
semampunya ukur jarak jari tengah jaringan. Nyeri diungkapkan
sampai lantai. oleh seseorang secsra subyektif
b. Latero fleksi atau side fleksi, posisi dengan keluhan “sakit” yang
pasien berdiri tegak ukur jarak jari dapat diukur dengan instrument
tangan terpanjang ke lantai kemudian VDS (Visual Descriptive Scale).
suruh pasien untuk gerak side fleksi ke Visual Descriptive Scale (VDS)
kiri kemudian ukur kembali jaraknya adalah suatu cara pengukuran
demikian pula pada sisi yang kanan. nyeri. Dikataka bahwa VDS
(Maskun pujianto, 1984). merupakan sistem pengukuran
4. Aktifitas Fungsional nyeri yang valid dan lebih
Pada penderita HNP Lumbal sensitive dibanding metode-
mengalami masalah tentang metode lain. Visual Descriptive
aktivitas fungsional yang Scale .
berhubungan dengan mengangkat
dan memindahkan benda hal ini

35
Cara pengukuran derajat nyeri mengetahui besarnya LGS yang
dengan menunjukkan satu titik ada pada suatu sendi dan
pada garis skala nyeri (1-7). membandingkannya dengan LGS
Awal garis menunjukkan tidak pada sendi normal. yang sama.
adanya nyeri, sedang ujung Informasi pemeriksaan LGS
garis menunjukkan nyeri yang digunakan untuk menentukan
tidak tertahankan (Ellis, 1991). tujuan dan rencana terapi yang
akan digunakan dalam menambah
Tabel 1 Evaluasi Nyeri (VDS)
06/04/20 09/04/20 23/04/20 atau mengurangi LGS (DP3FT).
13 (T1) 13 (T2) 13 (T6)
Nyeri Diam 2 1 1
Nyeri Tekan 6 5 2 Tabel 3 LGS (Mid Line)
Nyeri Gerak 6 6 3
(T1) (T2) (T6)

2. Kekuatan otot Normal


Tegak (C7- 39 cm 39 cm 39 cm
Pemeriksaan kekuatan otot ini S2)
Flexi 49 cm 50 cm 52 cm
dengan menggunakan sistem Ekstensi 36 cm 36 cm 37 cm
manual dan penilaian Normal
Tegak Ujung 55 cm 57 cm 57 cm
menggunakan blanko MMT Jari
Lateral Flexi
yaitu dengan cara terapis Dextra 43 cm 43 cm 45 cm

memberikan tahanan kepada Normal


Tegak Ujung 58 cm 57 cm 57 cm
pasien dan pasien disuruh Jari
Lateral Flexi
melawan tahanan terapis dan Sinistra 43 cm 41 cm 40 cm

disaat itu terapis menilai sesuai


dengan kriteria nilai kekuatan 4. Aktifitas Fungsional
otot (Sujatno, et al, 1998). Pemeriksaan kemampuan
Tabel 2 Kekuatan Otot (MMT) aktifitas fungsional ini bertujuan
(T1) (T2) (T6) untuk mengetahui berapa
Trunk 3 3 4 kemampuan bagian yang
Flexi 3 3 4 mengalami lesi untuk aktifitas
Ekstensi 4 4 4
Lateral Flexi
4 4 4
tertentu misalnya pada kondisi
Dextra
Lateral Flexi
4 4 4
HNP ini apakah pasien mampu
Sinistra
untuk aktifitas fungsional secara
mandiri.
3. Lingkup Gerak Sendi
Pemeriksaan dengan menggunakan Oswestry low back pain

goneometer/midlineuntuk questionaire didesain untuk

36
membantu fisioterapis dan spasme otot, terdapat keterbatasan
mendapatkan informasi tentang lingkup gerak sendi, penurunan kekuatan
bagaimana nyeri punggung otot, dan penurunun aktifitas fungsional
bawah yang diderita pasien sehari-hari seperti berpakaian, toleting,
dapat berdampak pada sholat.
kemampuan fungsional pasien
Dalam hal ini teknologi intervensi
sehari-hari.
fisioterapi yang dipilih untuk mengatasi
Tabel 4 Aktivitas Fungsional permasalahan yang muncul pada

No. Sesi
permasalahan diatas dengan terapi latihan .
(T1) (T2) (T6)
berdasarkan terapi yang telah di lakukan di
1 Intensitas Nyeri 3 3 2
dapat hasil sebagai berikut ; (1). Adanya
2 Perawatan Diri 2 1 0
3 Aktivitas penurunan nyeri selama 6 kali terapi Hasil
3 2 3
Mengangkat
4 Berjalan 3 3 0
pemeriksaan nyeri pada T1 nyeri diam 2,
5 Duduk 2 2 2 nyeri tekan 6 dan nyeri gerak 6. Setelah
6 Berdiri 3 3 1
dilakukan terapi selama 6 kali didapatkan
7 Tidur 1 1 0
8 hasil untuk pemeriksaan nyeri T6 nyeri
Aktivitas Seksual 2 2 2
9 Aktivitas Sosial 3 3 1 diam 1, nyeri tekan 2 dan nyeri gerak 3,
10 Rekreasi 5 5 1 (2).Adanya Penambahan Lingkup Gerak
Jumlah 27 25 12
Sendi pada Trunk dengan menggunakan
Mid Line dariterapi T1 sampaiterapi T6,
KESIMPULAN
Dari hasil pemeriksaan keterbatasan lingkup
HNP yang terjadi pada Nucleus gerak sendi pada terapi pertama (T1)
pulposus yang tertekan hebat akan mencari Normal dari C7 – S2 : 39 cm, Flexi 49 cm,
jalan keluar dan melalui robekan annulus Ekstensi 36 cm, Normal Tegak Ujung Jari
fibrosus mendorong ligamen longitudinal 55 cm, Lateral Flexi Dextra 43 cm, Normal
terjadilah hernia. Hal ini akan menyebabkan Tegak Ujung Jari 58 cm, Lateral Flexi
penjepitan jarak antara corpus vertebra yang Sinistra 43 cm. Setelah dilakukan terapi
akhirnya akan mengiritasi akar saraf yang selama 6 kali didapatkan hasil pemeriksaan
masukke foramen intervertebralis sehingga (T6) Normal dari C7 – S2 : 39 cm, Flexi 52
timbul nyeri yang hebat kadang-kadang cm, Ekstensi 37 cm, Normal Tegak Ujung
menjalar sampai ketungkai. Pada kondisi Jari 57 cm, Lateral Flexi Dextra 45 cm,
kasus HNP akan mengakibatkan terjadinya Normal Tegak Ujung Jari 57 cm, Lateral
nyeri Flexi Sinistra 40

37
cm(3).Adanya Peningkatan Kekuatan Otot
dengan menggunakan pengukuran Chusid, J. G; Neurotomi Korelatifdan
Neurology Fungsional; Gajah
MMTdariterapi T1 sampaiterapi T6, Dari Mada Press, Yogyakarta, 1993.
hasil pemeriksaan kekuatan otot pada Foster, angela; Clayton’s Electrotherapy;
terapi pertama (T1).Trunk 3, Flexi 3, Bailliere Tindall, London, 1981.
Hal 99 – 143.
Ekstensi 4, Lateral Flexi Dextra 4, Lateral
Garrison .J. Susan, Dasar – Dasar Terapi
Flexi sinistra 4. Setelah dilakukan terapi Fisik dan Rehabilitasi Fisik,
selama 6 kali maka didapatkan hasil dari Jakarta : Hipokrates; 2001.

pemeriksaan akhir (T6) Trunk 4, Flexi 4, Gresh, T. Meryl, ed; Electrotherap in


Rehabilitation; Philadelphia,
Ekstensi 4, Lateral Flexi Dextra 4, Lateral David Company, 1992.
Flexi sinistra 4 , (4). Adanya peningkatan IG. Suyatno, et al; Sumber Fisis, Akademi
Fisioterapi Surakarta, Dep. Kes.
aktifitas fungsional dengan menggunakan
RI, 1993.
Skala Owestry dari terapi pertama Dari
IsmiatiS. W; Temu Ilmiah Tahunan
hasil pemeriksaan aktivitas fungsional Fisioterapi (TITAFI XIII), Malang,
11 – 13 September 1997. Hal. 23 –
pada hari terapi pertama (T1) didapatkan
28.
hasil sebagai berikut :Intensitas Nyeri 3,
Kapandji, L. A; The Physiologi of The
Perawatan Diri 2, Aktivitas Mengangkat Joint, Vol. 3, Churchill
Livingstone, Endinburgh London
3, Berjalan 3, Duduk 2, Berdiri 3, Tidur 1, ang New York, 1974.
Aktivitas Seksual 2, Aktivitas Sosial 3, Marjono, M; priguna Sidharta; Neurology
Rekreasi 5, Jumlah 27. Setelah dilakukan Klinis Dasa; Edisi Keenam, PT.
Dian Rakyat, Jakarta, Hal 95 103.
terapi selama 6 kali maka didapatkan hasil
Mardiman Sri, et. Al; Dokumentasi
Intensitas Nyeri 2, Perawatan Diri 0, Persiapan Praktek Profesional
Aktivitas Mengangkat 3, Berjalan 0, Fisioterap, Akademi Fisioterapi
Surakarta, Dep.Kes. RI, 1998.
Duduk 2, Berdiri 1, Tidur 0, Aktivitas
Netter H. Frank; Atlas of Human
Seksual 2, Aktivitas Sosial 1, Rekreasi 1, Anatomy; Cibagergy
Jumlah 12 Coorporation, New Jersey, 1990.
Oppenfeld S, “Physical Examination Of
DAFTAR PUSTAKA The Spine and Extremities”,
Appleton-Century-
Akademi Fisioterapi Surakarta.
Crofts/Norwalk, USA; 1986.
Pemeriksaan Nyeri,
Dokumentasi Persiapan Parjoto; Terapi Listrik Untuk Nyeri;
Praktek Fisioterapi, Depkes RI. Akademi Fisioterapi Surakarta
1994. Bagian IRM RSUD dr. Karyadi,
Semarang, 1998, Hal. 95 – 103.
Calliet, Rene, Low Back Pain Syndrome;
Second Edition, F.A. Davis
Company, Philadelphia, 1995.

38
39