You are on page 1of 18

MAKALAH

PEMBERANTASAN PENYAKIT MENULAR DAN


PENYEHATAN LINGKUNGAN PEMUKIMAN

Disusun Oleh :

1. Ariesti
2. Eri Rahmawati
3. Henik Setyowati
4. Yosi Yulinda Dwi Astari

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN ANNUR PURWODADI
TAHUN PELAJARAN 2018

i
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha
Panyayang, Kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah
melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat
menyelesaikan makalah tentang Pemberantasan Penyakit Menular Dan
Penyehatan Lingkungan
Makalah ilmiah ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan
bantuan dari berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah
ini. Untuk itu kami menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang
telah berkontribusi dalam pembuatan makalah ini.
Terlepas dari semua itu, Kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada
kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena
itu dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca
agar kami dapat memperbaiki makalah ini.
Akhir kata kami berharap semoga makalah Pemberantasan Penyakit
Menular Dan Penyehatan Lingkungan ini dapat memberikan manfaat terhadap
pembaca.

Purwodadi, September 2018

Penyusun

ii
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL .............................................................................................. i
KATA PENGANTAR ........................................................................................... ii
DAFTAR ISI ......................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ............................................................................................. 1
B. Rumusan Masalah ........................................................................................ 1
C. Tujuan...........................................................................................................1

BAB II PEMBAHASAN .........................................................................................2


A. Pemberantasan Penyakit Menular ................................................................ 2
B. Penyehatan Lingkungan Pemukiman ......................................................... 10

BAB III PENUTUP .................................................................................................13


A. Kesimpulan ................................................................................................ 13
B. Saran ...........................................................................................................14

DAFTAR PUSTAKA ..............................................................................................15

iii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Perhatian terhadap penyakit menular dan tidak menular makin hari
makin meningkat,karena semakin meningkatnya frekuensi kejadiannya
pada masyarakat. Dari tiga penyebab utama kematian (WHO, 1990)
Perkembangan sosio-ekonomi dan kultural bangsa dan dunia kemudian
menurut epidemiologi untuk memberikan perhatian kepada penyakit tidak
menular karena sudah mulai meningkatkan sesuai dengan perkembangan
masyarakat.
Interaksi manusia dengan lingkungan telah menyebabkan kontak
antara kuman dengan manusia. Sering terjadi kuman yang tinggal di tubuh
host kemudian berpindah ke manusia karena manusia tidak mampu
menjaga kebersihan lingkungan. Hal ini tercermin dari tingginya kejadian
penyakit menular berbasis lingkungan yang masih merupakan masalah
kesehatan terbesar masyarakat Indonesia

B. Rumusan masalah
1. Bagaimana cara pemberantasan penyakit menular ?
2. Bagaimana cara penyehatan lingkungan pemukiman ?

C. Tujuan
1. Agar dapat mengetahui cara pemberantasan penyaki menular.
2. Agar dapat mengetahui cara penyehatan lingkungan pemukiman,

1
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pemberantasan Penyakit Menular


1. TB (TUBERCULOSIS)
Tuberkulosis paru merupakan penyakit infeksi menular,
menyerang pada paru, disebabkan oleh basil mycobacterium
tuberkulosa (Murwani, 2009). Kompleks ini termasuk M. tuberculosis
dan M. africanum terutama berasal dari manusia dan M. bovis yang
berasal dari sapi. Mycobacteria lain biasanya menimbulkan gejala
klinis yang sulit dibedakan dengan tuberkulosis. Etiologi penyakit
dapat di identifikasi dengan kultur.
Penularan terjadi melalui udara yang mengandung basil TB
dalam percikan ludah yang dikeluarkan oleh penderita TB paru atau
TB laring pada waktu mereka batuk, bersin atau pada waktu bernyanyi.
Kontak jangka panjang dengan penderita TB menyebabkan risiko
tertulari, infeksi melalui selaput lendir atau kulit yang lecet bisa terjadi
namun sangat jarang. TB bovinum penularannya dapat tejadi jika
orang terpajan dengan sapi yang menderita TB, bisanya karena minum
susu yang tidak dipasteurisasi atau karena mengkonsumsi produk susu
yang tidak diolah dengan sempurna. Penularan lewat udara juga terjadi
kepada petani dan perternakan
a. Cara-cara Pemberantasan
1) Pencegahan
Tindakan pencegahan yang dapat dilakukan untuk mencegah
infeksi mycobacterium tuberkuloisi dengan melakukan penkes
adalah sebagai berikut :
a) Oleh penderita dapat dilakukan dengan menutup mulut
sewaktu batuk, dan membuang dahak tidak di sembatang
tempat (di dalam larutan disinfektan).

2
b) Dengan memberikan vaksin BCG pada bayi
c) Disinfeksi, cuci tangan, dan tata rumah tangga dan
kebersihan yang ketat, perlu perhatian khusus terhadap
muntahan dan ludah, memperbaiki ventilasi, sirkulasi udara,
dan penyinaran matahari di rumah.
d) Menghindari faktor predisposisi seperti merokok, udara
yang lembab dan kotor (polusi).
e) Mencegah kontak langsung dengan penderita tuberculosis
paru.
2) Pengobatan
Pengobatan tuberkulosis terbagi menjadi 2 fase yaitu
intensif (2-3 bulan) dan fase lanjutan (4-7 bulan). Paduan obat
yang digunakan terdiri dari obat utama dan obat tambahan. Pada
fase intensif pasien akan di beri obat berwarna merah yang di
minum setiap hari selama 2–3 bulan, setelah itu pada fase
lanjutan kita akan di beri obat berwarna kuning yang di minum 3
kali seminggu selama 4-7 bulan. Jenis obat utama yang
digunakan sesuai dengan rekomendasi WHO adalah
Rifampisin,(R) INH (H), Pirazinamid (Z), Streptomisin dan
Etambutol (E). Sedang jenis obat tambahan adalah Kanamisin,
Kuinolon, Makrolide dan Amoksisilin + Asam Klavulanat,
derivat Rifampisin/INH.
Untuk keperluan pengobatan perlu dibuat batasan kasus
terlebih dahulu berdasarkan lokasi tuberkulosa, berat ringannya
penyakit, hasil pemeriksaan bakteriologik, hapusan dahak dan
riwayat pengobatan sebelumnya. Di samping itu perlu
pemahaman tentang strategi penanggulangan TB yang dikenal
sebagai Directly Observed Treatment Short Course (DOTS)
yang direkomendasikan oleh WHO yang terdiri dari lima
komponen yaitu:

3
a. Adanya komitmen politis berupa dukungan pengambil
keputusan dalam penanggulangan TB.
b. Diagnosis TB melalui pemeriksaan dahak secara
mikroskopik langsung sedang pemeriksaan penunjang
lainnya seperti pemeriksaan radiologis dan kultur dapat
dilaksanakan di unit pelayanan yang memiliki sarana
tersebut.
c. Pengobatan TB dengan paduan OAT jangka pendek
dengan pengawasan langsung oleh Pengawas Menelan
Obat (PMO) khususnya dalam 2 bulan pertama dimana
penderita harus minum obat setiap hari.
d. Kesinambungan ketersediaan paduan OAT jangka pendek
yang cukup.
e. Pencatatan dan pelaporan yang baku.
Dosis mengkonsumsi OAT berdasarkan berat badan pasien :
Berat Badan Tahap Intensiv Tahap Lanjutan
(Kg)
30 – 37 2 tablet 4 KDT 2 tablet 2 KDT
38 – 54 3 tablet 4 KDT 3 tablet 2 KDT
55 – 70 4 tablet 4 KDT 4 tablet 2 KDT
> 71 5 tablet 4 KDT 5 tablet 2 KDT

2. AIDS
HIV atau Human Immunodeficiency Virus adalah virus yang
menyerang sistem kekebalan tubuh manusia yang kemudian berdampak
pada penurunan sistem kekebalan tubuh sehingga menimbulkan satu
penyakit yang disebut AIDS. HIV menyerang sel-sel darah putih yang
dimana sel-sel darah putih itu merupakan bagian dari sitem kekebalan
tubuh yang berfungsi melindungi tubuh dari serangan penyakit (Depkes
RI, 2915)

4
Belum ada penyembuhan untuk AIDS, jadi perlu dilakukan
pencegahan Human Immunodeficiency Virus (HIV) untuk mencegah
terjadinya Human Immunodeficiency Virus (HIV), bisa dilakukan
dengan melakukan penkes menjelaskan tentang:
a. Melakukan abstinensi seks/melakukan hubungan kelamin
dengan pasangan yang terinfeksi
b. Memeriksa adanya virus paling lambat 6 bulan setelah
hubungan seks terakhir yang tidak terlindungi
c. Menggunakan pelindung jika berhubungan dengan orang yang
tidak jelas status Human Immunodefieciency Virus (HIV) nya
d. Tidak bertukar jarum suntuik, jarum tato, dan sebaginya
e. Mencegah infeksi kejanin/bayi baru lahir
1) Program Pemberantasan Penyakit Menular
Program pemberantasan penyakit menular bertujuan untuk
menurunkan angka kesakitan, kematian, dan kecacatan akibat
penyakit menular dan tidak menular. Penyakit menular yang
diprioritaskan dalam program ini adalah: malaria, demam berdarah
dengue, tuberkulosis paru, HIV/ AIDS, diare, polio, filaria, kusta,
pneumonia, dan penyakit-penyakit yang dapat dicegah dengan
imunisasi, termasuk penyakit karantina dan risiko masalah kesehatan
masyarakat yang memperoleh perhatian dunia internasional (public
health risk of international concern).
Adapun Kebijakan Pelaksanaannya yaitu:
a) Pencegahan dan pemberantasan penyakit diarahkan untuk
mendorong peran, membangun komitmen, dan menjadi bagian
integral pembangunan kesehatan dalam mewujudkan manusia
Indonesia yang sehat dan produktif terutama bagi masyarakat
rentan dan miskin hingga ke desa.
b) Pencegahan dan pemberantasan penyakit diselenggarakan melalui
penatalaksanaan kasus secara cepat dan tepat, imunisasi,

5
peningkatan perilaku hidup bersih dan sehat, serta pengendalian
faktor risiko baik di perkotaan dan di perdesaan.
c) Pencegahan dan pemberantasan penyakit diarahkan untuk
mengembangkan dan memperkuat jejaring surveilans
epidemiologi dengan fokus pemantauan wilayah setempat dan
kewaspadaan dini, guna mengantisipasi ancaman penyebaran
penyakit antar daerah maupun antar negara yang melibatkan
masyarakat hingga ke desa.
d) Pencegahan dan pemberantasan penyakit diarahkan untuk
mengembangkan sentra rujukan penyakit, sentra pelatihan
penanggulangan penyakit, sentra regional untuk kesiapsiagaan
penanggulangan KLB/ wabah.
e) Pencegahan dan pemberantasan penyakit diarahkan untuk
memantapkan jejaring lintas program, lintas sektor, serta
kemitraan dengan masyarakat termasuk swasta untuk percepatan
program pencegahan dan pemberantasan penyakit menular
melalui pertukaran informasi, pelatihan, pemanfaatan teknologi
tepat guna, dan pemanfaatan sumberdaya lainnya.
f) Pencegahan dan pemberantasan penyakit diarahkan untuk
dilakukan melalui penyusunan, review, sosialisasi, dan advokasi
produk hukum penyelenggaraan program pencegahan dan
pemberantasan penyakit di tingkat pusat hingga desa.
g) Pencegahan dan pemberantasan penyakit diarahkan untuk
meningkatkan profesionalisme sumberdaya manusia di bidang
pencegahan dan pemberantasan penyakit sehingga mampu
menggerakkan dan meningkatkan partisipasi masyarakat secara
berjenjang hingga ke desa.
h) Pencegahan dan pemberantasan penyakit diarahkan untuk
meningkatkan cakupan, jangkauan, dan pemerataan pelayanan
penatalaksanaan kasus penyakit secara berkualitas hingga ke desa.

6
Adapun langkah-langkah pemberantasan penyakit menular
yaitu :
a) Mengumpulkan dan menganalisa data tentang penyakit.
b) Melaporkan penyakit menular.
c) Menyelidiki di lapangan untuk mengetahui benar atau tidaknya
laporan yang masuk untuk menemukan kasus-kasus lagi dan
untuk mengetahui sumber penularan.
d) Menyembuhkan penderita hingga ia tidak lagi menjadi sumber
infeksi.
e) Pemberantasan vektor (pembawa penyakit)
f) Pendidikan kesehatan.
Cara-cara pencegahan penyakit menular secara umum, yaitu :
a) Mempertinggi nilai kesehatan.
Ditempuh dengan cara usaha kesehatan (hygiene) perorangan dan
usaha kesehatan lingkungan (sanitasi).
b) Memberi vaksinasi/imunisasi
Merupakan usaha untuk pengebalan tubuh. Ada dua macam, yaitu
:Pengebalan aktif, yaitu dengan cara memasukkan vaksin ( bibit
penyakit yang telah dilemahkan), sehingga tubuh akan dipaksa
membuat antibodi. Contohnya pemberian vaksin BCG, DPT,
campak, dan hepatitis. Pengebalan pasif, yaitu memasukkan
serum yang mengandung antibodi. Contohnya pemberian ATS
(Anti Tetanus Serum).
c) Pemeriksaan kesehatan berkala
Merupakan upaya mencegah munculnya atau menyebarnya suatu
penyakit, sehingga munculnya wabah dapat dideteksi sedini
mungkin. Dengan cara ini juga, masyarakat bisa mendapatkan
pengarahan rutin tentang perawatan kesehatan, penanganan suatu
penyakit, usaha mempertinggi nilai kesehatan, dan mendapat
vaksinasi.

7
3. ISPA
Infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) adalah infeksi saluran
pernafasan akut yang menyerang tenggorokan, hidung dan paru-paru yang
berlangsung kurang lebih 14 hari, ISPA mengenai struktur saluran di
ataslaring, tetapi kebanyakan penyakit ini mengenai bagian saluran atas
dan bawah secara stimulan atau berurutan (Muttaqin, 2008).
Cara pencegahan berdasarkan level of prevention :
1) Pencegahan Tingkat Pertama (Primary Prevention) Ditujukan pada
orang sehat dengan usaha peningkatan derajat kesehatan (health
promotion) dan pencegahan khusus (spesific protection) terhadap
penyakit tertentu. Termasuk disini adalah :
a) Penyuluhan, dilakukan oleh tenaga kesehatan dimana kegiatan
ini diharapkan dapat mengubah sikap dan perilaku masyarakat
terhadap hal-hal yang dapat meningkatkan faktor resiko
penyakit ISPA. Kegiatan penyuluhan ini dapat berupa
penyuluhan penyakit ISPA, penyuluhan ASI Eksklusif,
penyuluhan imunisasi, penyuluhan gizi seimbang pada ibu dan
anak, penyuluhan kesehatan lingkungan, penyuluhan bahaya
rokok.
b) Imunisasi, yang merupakan strategi spesifik untuk dapat
mengurangi angka kesakitan ISPA.
c) Usaha di bidang gizi yaitu untuk mengurangi mal nutrisi.
d) Program KIA yang menangani kesehatan ibu dan bayi berat
badan lahir rendah.
e) Program Penyehatan Lingkungan Pemukiman (PLP) yang
menangani masalah polusi di dalam maupun di luar rumah.
2) Pencegahan Tingkat Kedua (Secondary Prevention)
Dalam penanggulangan ISPA dilakukan dengan upaya
pengobatan dan diagnosis sedini mungkin. Dalam pelaksanaan
program P2 ISPA, seorang balita keadaan penyakitnya termasuk
dalam klasifikasi bukan pneumonia apabila ditandai dengan batuk,

8
serak, pilek, panas atau demam (suhu tubuh lebih dari 370C), maka
dianjurkan untuk segera diberi pengobatan.
Upaya pengobatan yang dilakukan terhadap klasifikasi ISPaA
atau bukan pneumonia adalah tanpa pemberian obat antibiotik dan
diberikan perawatan di rumah. Adapun beberapa hal yang perlu
dilakukan ibu untuk mengatasi anaknya yang menderita ISPA
adalah :
a) Mengatasi panas (demam).
b) Untuk balita, demam diatasi dengan memberikan parasetamol
atau dengan kompres dengan menggunakan kain bersih,
celupkan pada air (tidak perlu air es).
c) Pemberian makanan dan minuman
Memberikan makanan yang cukup tinggi gizi sedikit-sedikit
tetapi sering, memberi ASI lebih sering. Usahakan memberikan
cairan (air putih, air buah) lebih banyak dari biasanya.
3) Pencegahan Tingkat Ketiga (Tertiary Prevention)
Tingkat pencegahan ini ditujukan kepada balita yang bukan
pneumonia agar tidak menjadi lebih parah (pneumonia) dan
mengakibatkan kecacatan (pneumonia berat) dan berakhir dengan
kematian.
Upaya yang dapat dilakukan pada pencegahan Penyakit
bukan pneumonia pada bayi dan balita yaitu perhatikan apabila
timbul gejala pneumonia seperti nafas menjadi sesak, anak tidak
mampu minum dan sakit menjadi bertambah parah, agar tidak
bertambah parah bawalah anak kembali pada petugas kesehatan
dan pemberian perawatan yang spesifik di rumah dengan
memperhatikan asupan gizi dan lebih sering memberikan ASI.
Mencegah seseorang yang terkena ISPA agar tidak kambuh
dengan cara menghindari debu dengan menggunakan masker ketika
melakukan kegiatan yang berpotensi menimbulkan debu,

9
menghindari asap yang berasal dari kendaraan dan rokok serta
istirahat yang cukup..
Bila ISPA terjadi secara mendadak ketika berada di rumah,
salah satu hal yang harus di lakukan adalah dengan memposisikan
klien semi fowler dan memberikan inhalasi sederhana dengan cara
memanfaatkan uap dari air panas yang diberi minyak penghangat/
minyak angin, cara seperti ini Cuma bisa diterapkan pada orang
dewasa, sedangkan bila digunakan pada balita uap air panas dan
bau minyak angin terlalu kuat, selain itu risiko kecelakaan
tumpahan air panas hingga cara ini amat tidak diajurkan bagi balita.
Orang dewasa pun sebaiknya tidak terlalu berharap inhalasi cara
tradisional ini akan efektif karena khasiat minyak ngin akan hilang
alias tidak efektif lagi bila dicampur air panas, biasanya Cuma
hidung saa terasa plong beberapa saat, sementara lendirnyabelum
hilang.

B. Penyehatan Lingkungan Pemukiman


Program Lingkungan Sehat bertujuan untuk mewujudkan mutu
lingkungan hidup yang lebih sehat melalui pengembangan system
kesehatan kewilayahan untuk menggerakkan pembangunan lintas sektor
berwawasan kesehatan. Adapun kegiatan pokok untuk mencapai tujuan
tersebut meliputi:
1. Penyediaan Sarana Air Bersih dan Sanitasi Dasar
2. Pemeliharaan dan Pengawasan Kualitas Lingkungan
3. Pengendalian dampak risiko pencemaran lingkungan
Pencapaian tujuan penyehatan lingkungan merupakan akumulasi
berbagai pelaksanaan kegiatan dari berbagai lintas sektor, peran swasta
dan masyarakat dimana pengelolaan kesehatan lingkungan merupakan
penanganan yang paling kompleks, kegiatan tersebut sangat berkaitan
antara satu dengan yang lainnya yaitu dari hulu berbagai lintas sector ikut
serta berperan baik kebijakan dan pembangunan fisik serta Departemen

10
Kesehatan sendiri terfokus kepada hilirnya yaitu pengelolaan dampak
kesehatan.
Sebagai gambaran pencapaian tujuan program lingkungan sehat
disajikan dalam per kegiatan pokok melalui indikator yang telah disepakati
serta beberapa kegiatan yang dilaksanakan sebagai berikut:
a. Penyediaan Air Bersih dan Sanitasi
Adanya perubahan paradigma dalam pembangunan sektor air
minum dan penyehatan lingkungan dalam penggunaan prasarana dan
sarana yang dibangun, melalui kebijakan Air Minum dan Penyehatan
Lingkungan yang ditandatangani oleh Bappenas, Departemen
Kesehatan, Departemen Dalam Negeri serta Departemen Pekerjaan
Umum sangat cukup signifikan terhadap penyelenggaraan kegiatan
penyediaan air bersih dan sanitasi khususnya di daerah. Strategi
pelaksanaan yang diantaranya meliputi penerapan pendekatan tanggap
kebutuhan, peningkatan sumber daya manusia, kampanye kesadaran
masyarakat, upaya peningkatan penyehatan lingkungan, pengembangan
kelembagaan dan penguatan sistem monitoring serta evaluasi pada
semua tingkatan proses pelaksanaan menjadi acuan pola pendekatan
kegiatan penyediaan Air Bersih dan Sanitasi.
b. Pemeliharaan dan Pengawasan Kualitas Lingkungan
1) Pengawasan Institusi Pendidikan
Kondisi kesehatan lingkungan pada sekolah dititik beratkan pada
aspek hygiene, sarana sanitasi di sekolah yang erat kaitannya dengan
kondisi fisik bangunan sekolah. Kegiatan yang dilakukan untuk
meningkatkan kesehatan lingkungan di sekolah adalah :
a) Pengendalian faktor risiko lingkungan di sekolah
b) Pembinaan kesehatan lingkungan di sekolah dan Pondok
Pesantren
c) Sosialisasi dan advokasi Kepmenkes 1429/2006 tentang pedoman
Penyelenggaraan Kesehatan Lingkungan di Sekolah
d) Penilaian lomba sekolah sehat

11
2) Rumah Sehat
Pada tahun 2006, cakupan rumah sehat mencapai 69%.
Kegiatan yang dilakukan: menyusun persyaratan kualitas udara di
dalam rumah serta menyusun petunjuk pelaksanaan monitoring
kualitas udara di dalam rumah.
Untuk menciptakan rumah sehat maka diperlukan perhatian
terhadap beberapa aspek yang sangat berpengaruh, antara lain:
a) Sirkulasi udara yang baik.
b) Penerangan yang cukup.
c) Air bersih terpenuhi.
d) Pembuangan air limbah diatur dengan baik agar tidak
menimbulkan pencemaran.
e) Bagian-bagian ruang seperti lantai dan dinding tidak lembab
serta tidak terpengaruh pencemaran seperti bau, rembesan air
kotor maupun udara kotor.
c. Pengawasan Tempat-tempat Umum
Pengawasan tempat-tempat umum perlu dilakukan karena tempat
berkumpulnya manusia, yang bisa menjadi sumber penularan berbagai
penyakit. Aspek yang dinilai antara lain :
1) Kondisi bangunan meliputi langit-langit, dinding, lantai, ventilasi,
pencahayaan, dll
2) Sarana sanitasi meliputi sarana air bersih, sarana pembuangan
kotoran, sarana pembuagan air limbah, dan sarana pembuangan
sampah.

12
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Tindakan pencegahan yang dapat dilakukan untuk mencegah infeksi
mycobacterium tuberkuloisi dengan melakukan penkes adalah sebagai
berikut :
a. Oleh penderita dapat dilakukan dengan menutup mulut sewaktu
batuk, dan membuang dahak tidak di sembatang tempat (di dalam
larutan disinfektan).
b. Dengan memberikan vaksin BCG pada bayi
2. Pencegahan ISPA ditujukan pada orang sehat dengan usaha
peningkatan derajat kesehatan (health promotion) dan pencegahan
khusus (spesific protection) terhadap penyakit tertentu. Termasuk disini
adalah : Penyuluhan, dilakukan oleh tenaga kesehatan dimana kegiatan
ini diharapkan dapat mengubah sikap dan perilaku masyarakat terhadap
hal-hal yang dapat meningkatkan faktor resiko penyakit ISPA. Kegiatan
penyuluhan ini dapat berupa penyuluhan penyakit ISPA, penyuluhan
ASI Eksklusif, penyuluhan imunisasi, penyuluhan gizi seimbang pada
ibu dan anak, penyuluhan kesehatan lingkungan, penyuluhan bahaya
rokok.
3. Belum ada penyembuhan untuk AIDS, jadi perlu dilakukan pencegahan
Human Immunodeficiency Virus (HIV) untuk mencegah terjadinya
Human Immunodeficiency Virus (HIV), bisa dilakukan dengan
melakukan penkes menjelaskan tentang:
a. Melakukan abstinensi seks/melakukan hubungan kelamin dengan
pasangan yang terinfeksi
b. Memeriksa adanya virus paling lambat 6 bulan setelah hubungan
seks terakhir yang tidak terlindungi

13
B. Saran
1. Dari keluarga sendiri disarankan untuk tidak melakukan pergaulan
bebas agar terhindar dari penyakit menular
2. Klien yang sudah terkena penyakit menular sebaiknya tetap menjalani
pengobatan dan selalu memeriksakan keadaannya
3. Sebaiknya keluarga dan masyarakat lebih meningkatkan iman dan
mendekatkan diri kepada Tuhan

14
DAFTAR PUSTAKA

Arif Muttaqin, ( 2008 ), Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien Dengan Gangguan
Sistem Pernafasan, Jakarta : Salemba Medika.
Departemen Kesehatan RI. 2005. Pharmaceutical Care Untuk Penyakit Infeksi
Saluran Pernapasan. Direktorat Bina Farmasi Komunitas dan Klinik Direktorat
Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan.
Murwani, Anita., 2009. Perawatan Pasien Penyakit Dalam, Jogjakarta: Nuha
Medika.

15