You are on page 1of 22

REFERAT

PARALISIS NERVUS VII PERIFER

Pembimbing:
dr. Wariyah Lawole, Sp.S

Penyusun:
Ignatius Jasen Hutomo
(406162118)

KEPANITERAAN BAGIAN ILMU SARAF
RUMAH SAKIT PENYAKIT INFEKSI SULIANTI SAROSO
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TARUMANAGARA
PERIODE 13 Agustus 2018 – 16 September 2018
JAKARTA

BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang

Masalah parese n.VII perifer atau lumpuh pada satu sisi wajah merupakan hal yang
cukup menakuktkan di kalangan masyarakat, terlebih dari banyaknya yang mengira bahwa
kejadian tersebut adalah gejala stroke, atau stroke ringan, sehingga mereka panic dan
mengatakan dirinya terserang stroke, ditambah cukup banyaknya kejadian ini di kalangan
masyarakat. Selain dari sisi medis kelemahan nervus VII inipun sangat mengganggu khususnya
di bidang kosmetik karena setengah dari wajah tidak dapat berekspresi seperti senyum maupun
tertawa. Insiden Bell’s Palsy adalah sebesar 20-30 kasus dari 100.000 orang, dan merupakan
60 – 70% dari seluruh kasus kelumpuhan perifer wajah unilateral. Sebanyak 5-10% kasus
Bell’s palsy adalah penderita diabetes mellitus

Epidemiologi
Insiden pada laki-laki dan perempuan sama, namun rata-rata muncul pada usia 40 tahun
meskipun penyakit ini dapat timbul di semua umur. Insiden terendah adalah pada anak di
bawah 10 tahun, meningkat pada umur di atas 70 tahun. Frekuensi kelumpuhan saraf fasialis
kanan dan kiri sama. Kausa tumor merupakan hal yang jarang, hanya sekitar 5% dari semua
kasus kelumpuhan saraf fasialis.
Foester melaporkan bahwa kerusakan saraf fasialis sebanyak 120 dari 3907 kasus (3%)
dari seluruh trauma kepala saat Perang Dunia I. Friedman dan Merit menemukan sekitar 7 dari
430 kasus trauma kepala.Adapun kelumpuhan saraf fasialis yang tidak diketahui penyebabnya
(Bell’s Palsy) sekitar 20-30 kasus per 100.000 penduduk pertahun, sekitar 60-75% dari semua
kasus merupakan paralysis nervus fasialis unilatera

Kelumpuhan saraf fasialis dapat terjadi sentral dan perifer. karena itu dimasukkan ke dalam mix cranial nerve. menangis. glandula saliva. gangguan dalam pengecapan. dalam perjalanannya bekerja sama dengan nervus karnialis yang lain. Dalam menggerakkan otot ketika menggembungkan pipi dan mengerutkan dahi akan tampak sekali wajah pasien tidak simetris. Kelumpuhan saraf fasialis biasanya mengarah pada suatu lesi saraf fasialis ipsilateral atau dapat pula disebabkan lesi nucleus fasialis ipsilateral pada pons. kekeringan pada mata atau mulut. Oleh karena itu. Kelumpuhan saraf fasialis memberikan dampak yang besar bagi kehidupan seseorang dimana pasien tidak dapat atau kurang dapat menggerakkan otot wajah sehingga tampak wajah pasien tidak simetris. tersenyum dan berbagai ekspresi fasial lainnya. yang menyebabkan kelemahan otot wajah. Informasi yang disampaikan akan menimbulkan ekspresi fasial seperti tertawa. Saraf fasialis memiliki anatomi yang sangat komplek dan terdiri dari 7000 serat masing-masing berfungsi membawa impuls listrik ke otot- otot wajah. TINJAUAN PUSTAKA Nervus facialis merupakan saraf cranial yang mempersarafi otot ekspressi wajah dan menerima sensorik dari lidah. Kelumpuhan saraf fasialis memberikan dampak yang besar bagi kehidupan seseorang dimana pasien tidak dapat atau kurang dapat menggerakkan otot wajah sehingga tampak wajah pasien tidak simetris. Kelumpuhan saraf fasialis perifer merupakan kelemahan jenis motor neuron yang terjadi bila nucleus atau serabut distal saraf fasialis terganggu. bila terjadi kerusakan setengah atau lebih dari serat-serat saraf ini maka akan timbul gejala lumpuh atau paralysis pada wajah. dan ke otot dekat tulang pendengaran (stapes) serta menstransmisikan rasa dari bagian depan lidah. Hal ini tampak sekali ketika pasien diminta untuk menggembungkan pipi dan mengerutkan dahi. sehingga wajah pasien tampak tidak simetris pada waktu berbicara maupun saat berekspresi. Hal ini menimbulkan suatu deformitas kosmetik dan fungsional yang berat. sehingga wajah pasien tidak simetris. Hal ini berhubungan dengan lokasi lesi jaras saraf fasialis dan dapat dibedakan dengan melihat gejala kelumpuhan yang timbul. Dalam menggerakkan otot ketika menggembungkan pipi dan . Definisi Kelumpuhan saraf fasialis (N VII) merupakan kelumpuhan otot-otot wajah dimana pasien tidak atau kurang dapat menggerakkan otot wajah. Kelumpuhan (parese) saraf fasialis merupakan kelumpuhan yang meliputi otot-otot wajah. Saraf fasial tidak hanya membawa impuls ke otot-otot wajah tetapi juga ke glandula lakrimal.

Dari sana. baik operatif maupun secara konservatif akan menentukan keberhasilann dalam pengobatan. Kelumpuhan saraf fasialis merupakan suatu gejala penyakit. Anatomi dan Fisiologi Saraf Fasialis Saraf fasialis mempunyai 2 subdivisi . dan penyakit-penyakit tertentu seperti DM. Hal ini menimbulkan suatu deformitas kosmetik dan fungsional yang berat. . impuls berjalan ke glandula sublingualis dan submandibularis. Aferen otonom: mengantar impuls dari alat pengecap di dua pertiga depan lidah. Terletak di kaudal nukleus. Penyebabnya dapat berupa kelaian congenital. aferen somatis. yaitu subdivisi saraf yang lebih tipis yang membawa saraf aferen otonom. digastrikus bagian posterior dan stapedius di telinga tengah. palatum. Sensasi pengecapan dari 2/3 bagian depan lidah dihantar melalui saraf lingual ke korda timpani dan kemudian ke ganglion genikulatum dan kemudian ke nukleus traktus solitarius. Inti motorik saraf VII terletak di pons. Aferen somatik: rasa nyeri (dan mungkin juga rasa suhu dan rasa raba) dari sebagian daerah kulit dan mukosa yang disarafi oleh saraf trigeminus. Penanganan pasien dengan kelumpuhan saraf fasialis secara dini. dimana impuls merangsang salivasi. berpisah dari saraf fasilalis pada tingkat ganglion genikulatum dan diperjalanannya akan bercabang dua yaitu ke glandula lakrimalis dan glandula mukosa nasal. dan keluar di bagian lateral pons. sehingga harus dicari penyebab dan ditentukan derajat kelumpuhannya dengan pemeriksaan tertentu guna menetukan terapi dan prognosisnya. . eferen otonom. meatus akustikus eksterna. otot platisma. Saraf fasialis propius: yaitu saraf fasialis yang murni untuk mempersarafi otot-otot ekspresi wajah. Saraf intermediet (pars intermedius wisberg). Satu kelompok akson dari nukleus ini. . Kelompok akson lain akan berjalan terus ke kaudal dan menyertai korda timpani serta saraf lingualis ke ganglion submandibularis. Eferen otonom (parasimpatik eferen): datang dari nukleus salivatorius superior. dan infeksi telinga tengah. tumor. dan bagian luar membran timpani. stilohioid. trauma. 2. Saraf intermedius keluar di permukaan lateral pons di antara saraf VII dan saraf . yaitu: 1. Serabutnya mengitari saraf VI. hipertensi berat. Daerah overlapping (disarafi oleh lebih dari satu saraf atau tumpang tindih) ini terdapat di lidah. infeksi. idiopatik.mengerutkan dahi akan tampak sekali wajah pasien tidak simetris.

saraf fasialis meninggalkan kranium melalui foramen stilomastoideus. Ketiga saraf ini bersama-sama memasuki meatus akustikus internus. Dalam melakukan penyebaran itu. Di dalam meatus ini.VIII. saraf fasialis dan intermediet berpisah dari saraf VIII dan terus ke lateral dalam kanalis fasialis. kemudian ke atas ke tingkat ganglion genikulatum. Dari titik ini. saraf fasialis beserta saraf intermedius dan saraf VIII masuk ke dalam tulang temporal melalui porus akustikus internus. Pada ujung akhir kanalis. serat motorik menyebar di atas wajah. Dalam perjalanan di dalam . beberapa melubangi glandula parotis Sewaktu meninggalkan pons.

infeksi. lalu turun kemudian terletak sejajar dengan kanal semisirkularis horizontal. gangguan pembuluh darah. Segmen timpani (segmen vertikal). Kongenital Kelumpuhan yang didapat sejak lahir (congenital) bersifat irreversible dan terdapat bersamaan dengan anomaly pada telinga dan tulang pendengaran. kemudian naik ke arah tingkap lonjong (venestra ovalis) dan stapes. mungkin terdapat penurunan atau hilangnya ekspresi wajah (hipomimia atau amimi). saraf VII dibagi dalam 3 segmen. Segmen labirin terletak antara akhir kanal akustik internus dan ganglion genikulatum . tumor. Juga ada hubungan dengan gangglion basalis. Pada kelumpuhan saraf fasialis bilateral dapat terjadi karena adanya gangguan perkembangan saraf fasialis dan seringkali bersamaan dengan kelemahan okular (sindrom Mobius) 2.tulang temporal. yaitu segmen labirin. dan penyakit-penyakit tertentu. Infeksi . Selanjutnya segmen ini berjalan ke arah kaudal menuju segmen stilomaoid . segman timpani dan segmen mastoid. Segmen mastoid (segmen vertikal) mulai dari dinding medial dan superior kavum timpani . perubahan posisi dari segman timpani menjadi segmen mastoid. Panjang segmen ini kira-kira 12 milimeter. trauma. Nukleus fasialis juga menerima impuls dari talamus yang mengarahkan yang mengarahkan gerakan ekspresi emosional pada otot-otot wajah. Jika bagian ini atau bagian lain dari sistem piramidal menderita penyakit penyakit. sehingga mudah terkena trauma pada saat operasi. terletak di antara bagian distal ganglion genikulatum dan berjalan ke arah posterior telinga tengah . 1. panjang segmen ini 15-20 milimeter.6 
 Etiologi Penyebab kelumpuhan saraf fasialis bisa disebabkan oleh kelainan congenital. idiopatik. Bagian ini merupakan bagian paling posterior dari saraf VII. panjang segmen ini 2-4 milimeter. disebut segman piramidal atau genu eksterna.

khususnya bila terjadi fraktur longitudinal. Juga dilaporkan bahwa penyebaran langsung dari tumor regional dan sel schwann. 5. luka tembak serta penekanan forsep saat lahir juga bisa menjadi penyebab. Gangguan Pembuluh Darah Gangguan pembuluh darah yang dapat menyebabkan kelumpuhan saraf fasialis diantaranya thrombosis arteri karotis. terutama jika terjadi fraktur basis cranii. Tumor Tumor yang bermetastasis ke tulang temporal merupakan penyebab yang paling sering ditemukan. Trauma Kelumpuhan saraf fasialis bisa terjadi karena trauma kepala. Infeksi intracranial yang menyebabkan kelumpuhan ini seperti pada Sindrom Ramsay-Hunt. Herpes otikus. Karena terjepit di dalam foramen stilomastoideus dan menimbulkan kelumpuhan tipe LMN yang disebut sebagai Bell’s Palsy. Pada kasus yang sangat jarang. kista dan tumor ganas maupun jinak dari kelenjar parotis bisa menginvasi cabang akhir dari saraf fasialis yang berdampak sebagai bermacam-macam tingkat kelumpuhan. Infeksi Telinga tengah yang dapat menimbulkan kelumpuhan saraf fasialis adalah otitis media supuratif kronik (OMSK) 3. arteri maksilaris dan arteri serebri media. Idiopatik ( Bell’s Palsy ) Parese Bell merupakan lesi nervus fasialis yang tidak diketahui penyebabnya atau tidak menyertai penyakit lain. Pada parese Bell terjadi edema fasialis. Proses infeksi di intracranial atau infeksi telinga tengah dapat menyebabkan kelumpuhan saraf fasialis. dan prostat. Biasanya berasal dari tumor payudara. 6. operasi neuroma akustik/neuralgia trigeminal dan operasi kelenjar parotis. karena pelebaran aneurisma arteri karotis dapat mengganggu fungsi motorik saraf fasialis secara ipsilateral. Selain itu luka tusuk. . paru-paru. Saraf fasialis pun dapat cedera pada operasi mastoid. 4.

7. Pada gangguan sentral. Kontraksi involunter masih dapat terjadi. sedangkan yang mengurus wajah bagian atas mendapat persarafan dari kedua sisi korteks motorik (bilateral). anestesi local pada pencabutan gigi. infeksi telinga tengah. Fasialis. tetapi pasien kurang dapat mengangkat sudut mulut (menyeringai. sekitar mata dan dahi yang mendapat persarafan dari 2 sisi. Karena itu. memperlihatkan gigi geligi) pada sisi yang lumpuh bila disuruh. Karenanya kerusakan sesisi pada upper motor neuron dari saraf VII (lesi pada traktus piramidalis atau korteks motorik) akan mengakibatkan kelumpuhan pada otot-otot wajah bagian bawah. sindrom Guillian Barre Manifestasi Klinis Otot-otot bagian atas wajah mendapat persarafan dari 2 sisi. mengerutkan dahi dan menutup mata (persarafan bilateral) . hepertensi berat. bila penderita tertawa secara spontan. . Penyakit-penyakit tertentu Kelumpuhan fasialis perifer dapat terjadi pada penyakit-penyakit tertentu. yang lumpuh ialah bagian bawah dari wajah. Penderitanya masih dapat mengangkat alis. sedangkan bagian atasnya tidak. maka sudut mulut dapat terangkat. Pada gangguan N VII jenis perifer (gangguan berada di inti atau di serabut saraf) maka semua otot sesisi wajah lumpuh dan mungkin juga termasuk cabang saraf yang mengurus pengecapan dan sekresi ludah yang berjalan bersama N. Bagian inti motorik yang mengurus wajah bagian bawah mendapat persarafan dari korteks motorik kontralateral. tidak lumpuh . misalnya DM. terdapat perbedaan antara gejala kelumpuhan saraf VII jenis sentral dan perifer.

sekaligus menunjukkan lesi di antara pons dan titik dimana korda timpani bergabung dengan saraf fasialis di kanalis fasialis. 4. Lesi di kanalis fasialis lebih tinggi lagi (melibatkan muskulus stapedius) Gejala dan tanda klinik seperti (1) dan (2) di tambah dengan hiperakusis. Hilangnya daya pengecapan pada lidah menunjukkan terlibatnya saraf intermedius. ditambah dengan hilangnya ketajaman pengecapan lidah (2/3 bagian depan) dan salivasi di sisi yang terkena berkurang. semua gerakan otot wajah. baik yang volunter maupun yang involunter. Gejala dan tanda klinik yang berhubungan dengan lokasi lesi . Lesi di luar foramen stilomastoideus Mulut tertarik kearah sisi mulut yang sehat. mesensefalon dan pons di atas inti saraf VII. 1. Kelumpuhan saraf VII supranuklir pada kedua sisi dapat dijumpai pada paralisis pseudobulber. Lesi ditempat yang lebih tinggi lagi (melibatkan ganglion genikulatum) . kapsula interna. Lesi di kanalis fasialis (melibatkan korda timpani) Gejala dan tanda klinik seperti pada (1). Lipatan kulit dahi menghilang. makan terkumpul di antara pipi dan gusi. Pada lesi motor neuron. 3. 2. Apabila mata yang terkena tidak ditutup atau tidak dilindungi maka air mata akan keluar terus menerus. Lesi supranuklir (upper motor neuron) saraf VII sering merupakan bagian dari hemiplegia. lumpuh. butuh-ruang (space occupying lesion) yang mengenai korteks motorik. Hal ini dapat dijumpai pada strok dan lesi. talamus. Dalam hal demikian pengecapan dan salivasi tidak terganggu.

kegagalan pendengaran. dan kegagalan lakrimal. Kasus seperti ini dapat terjadi pascaherpes di membrana timpani dan konka. Klasifikasi Kelumpuhan Fasialis . terjadi tinitus.(3) disertai dengan nyeri di belakang dan didalam liang telinga. saraf aksesorius dan saraf hipoglossus. 5. Gejala dan tanda kilinik seperti pada (1). Gejala dan tanda klinik sama dengan diatas. Tanda- tandanya adalah herpes zoster otikus. 6. disertai gejala dan tanda terlibatnya saraf trigeminus. dengan nyeri dan pembentukan vesikel dalam kanalis auditorius dan dibelakang aurikel (saraf aurikularis posterior). saraf akustikus dan kadang – kadang juga saraf abdusen. gangguan pengecapan. Sindrom Ramsay-Hunt adalah kelumpuhan fasialis perifer yang berhubungan dengan herpes zoster di ganglion genikulatum. Lesi di meatus akustikus internus Gejala dan tanda klinik seperti diatas ditambah dengan tuli akibat terlibatnya nervus akustikus.(2). pengeluaran air mata dan salivasi. Lesi ditempat keluarnya saraf fasialis dari pons.

Ini diringkas dalam tabel: . Gambaran dari disfungsi motorik fasial ini sangat luas dan karakteristik dari kelumpuhan ini sangat sulit. pada klasifikasi ini grade 1 merupakan fungsi yang normal dan grade 6 merupakan kelumpuhan yang komplit. Beberapa sistem telah usulkan tetapi semenjak pertengahan 1980 sistem House-Brackmann yang selalu atau sangat dianjurkan. Pertengahan grade ini sistem berbeda penyesuaian dari fungsi ini pada istirahat dan dengan kegiatan.

Pergerakan dahi sedang sampai baik Menutup mata dengan usaha yang minimal Terdapat sedikit asimetris pada mulut jika melakukan pergerakan III Disfungsi sedang Terlihat tapi tidak tampak adanya perbedaan antara kedua sisi Adanya sinkinesis ringan Dapat ditemukam spasme atau kontraktur hemifasial Pada istirahat simetris dan selaras Pergerakan dahi ringan sampai sedang Menutup mata dengan usaha Mulut sedikit lemah dengan pergerakan yang maksimum IV Disfungsi sedang Tampak kelemahan bagian wajah yang jelas dan asimetri berat Kemampuan menggerakkan dahi tidak ada Tidak dapat menutup mata dengan sempurna Mulut tampak asimetris dan sulit digerakkan. V Disfungsi berat Wajah tampak asimetris Pergerakan wajah tidak ada dan sulit dinilai Dahi tidak dapat digerakkan Tidak dapat menutup mata Mulut tidak simetris dan sulit digerakkan VI Total parese Tidak ada pergerakkan . Pada istirahat simetri dan selaras. bisa ada sedikit sinkinesis. Klasifikasi House-Brackmann Grade Penjelasan Karakteristik I Normal Fungsi fasial normal II Disfungsi ringan Kelemahan yang sedikit yang terlihat pada inspeksi dekat.

Mentalis : diperiksa dengan cara memoncongkan mulut yang tertutup rapat ke depan Pada tiap gerakan dari ke 10 otot tersebut. Orbikularis Okuli : diperiksa dengan cara memejamkan kedua mata kuat-kuat e. Orbikularis Oris : diperiksa dengan cara menyuruh penderita bersiul i. M. M.Uji Diagnostik Diagnosis ditegakkan dengan melakukan pemeriksaan fungsi saraf fasialis. M. Tujuan pemeriksaan fungsi saraf fasialis adalah untuk menentukan letak lesi dan menentukan derajat kelumpuhannya. M. Adapun urutan ke-10 otot-otot tersebut dari sisi superior adalah sebagai berikut : a. Untuk gerakan yang normal dan simetris dinilai dengan angka tiga ( 3 ) b. 1. kita bandingkan antara kanan dan kiri : a. b. Pemeriksaan fungsi saraf motorik Terdapat 10 otot-otot utama wajah yang bertanggung jawab untuk terciptanya mimic dan ekspresi wajah seseorang. Diantaranya dinilai dengan angka dua ( 2 ) d. M. M. M. Sourcilier : diperiksa dengan cara mengerutkan alis c. Businator : diperiksa dengan cara menggembungkan kedua pipi h. Piramidalis : diperiksa dengan cara mengangkat dan mengerutkan hidung ke atas d. Tidak ada gerakan sama sekali dinilai dengan angka nol ( 0 ) . Triangularis : diperiksa dengan cara menarik kedua sudut bibir ke bawah j. M. Relever Komunis : diperiksa dengan cara memoncongkan mulut kedepan sambil memperlihatkan gigi g. Sedikit ada gerakan dinilai dengan angka satu ( 1 ) c. M. Frontalis : diperiksa dengan cara mengangkat alis ke atas. Zigomatikus : diperiksa dengan cara tertawa lebar sambil memperlihatkan gigi f. M.

maka kemungkinan sembuh juga berkurang secara bermakna. Terdapat beberapa uji fungsi saraf yang tersedia antara lain Elektromigrafi (EMG). 2. Elektromiografi (EMG) EMG sering kali dilakukan oleh bagian neurologi. Seluruh otot ekspresi tiap sisi muka dalam keadaan normal akan mempunyai nilai tiga puluh ( 30 ). jika wajah tidak bergerak. EMG akan memperlihatkan potensial denervasi. 1. Pemeriksaan Penunjang Salah satu pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan untuk mengetahui kelumpuhan saraf fasialis adalah dengan uji fungsi saraf. Kecepatan hantaran saraf dapat diperhitungkan. Pola EMG dapat diklasifikasikan sebagai respon normal. Sebelum 21 hari. Potensial fibrilasi merupakan suatu tanda positif yang menunjukkan kepulihan sebagian serabut. sementara 77 persen pasien yang mampu mempertahankan respons di atas angka tersebut mengalami penyembuhan normal saraf fasialis. Fisch Eselin melaporkan bahwa suatu penurunan sebesar 25 persen berakibat penyembuhan tidak lengkap pada 88 persen pasien mereka. Pemeriksaan ini bermanfaat untuk menentukan perjalanan respons reinervasi pasien. dan uji stimulasi maksimal. pola denervasi. Elektroneuronografi (ENOG) ENOG memberi informasi lebih awal dibandingkan dengan EMG. pola fibrilasi. Namun. Elektroneuronografi (ENOG). . nilai suatu EMG sangat terbatas kurang dari 21 hari setelah paralisis akut. Potensial ini terlihat sebelum 21 hari. atau suatu pola yang kacau yang mengesankan suatu miopati atau neuropati. ENOG melakukan stimulasi pada satu titik dan pengukuran EMG pada satu titik yang lebih distal dari saraf. Bila terdapat reduksi 90% pada ENOG bila dibandingkan dengan sisi lainnya dalam sepuluh hari.

Electrical Stimulation Stimulasi energi listrik dengan aliran galvanic berenergi lemah. Asam Nikotinik Pada kelumpuhan saraf fasialis yang dikarenakan iskemia Asam nikotinik dan obat-obatan yang bekerja menghambat ganglion simpatik servikal digunakan untuk memicu vasodilatasi sehingga dapat meningkatkan suplai darah ke saraf fasialis. mengangkat dan mengerutkan hidung. Fisioterapi 1. Pengobatan terhadap kelumpuhan saraf fasialis A. Antimikroba Obat ini diberikan pada kelumpuhan saraf fasialis yang disebabkan oleh kompresi saraf fasialis pada kanal falopi. menggembungkan pipi dan menyeringai. Kegiatan ini dilakukan selama 5 menit 2 kali sehari. . B. memejamkan kedua mata kuat-kuat. setelah itu handuk diperas dan diletakkan dimuka hingga handuk mendingin.Masase dilakukan dengan menggunakan krim wajah dan idealnya juga dengan menggunakan alat penggetar listrik. Facial Excercise Basahkan handuk dengan air panas. Kemudian pasien diminta untuk memasase otot-otot wajah yang lumpuh terutama daerah sekitar mata. Heat Theraphy. Farmakologi Obat-obatan yang dapat diberikan dalam penatalaksanaan kelumpuhan saraf fasialis antara lain: 1. Tindakan ini bertujuan untuk memicu kontraksi buatan pada otot-otot yang lumpuh dan juga berfungsi untuk mempertahankan aliran darah serta tonus otot. dan inflamasi pada keadaan diatas. 2. Vasokonstriktor. pembengkakkan. Face Massage. Setelah itu pasien diminta untuk berdiri didepan cermin dan melakukan beberapa latihan wajah seperti mengangkat alis mata.Penatalaksanaan Pengobatan terhadap kelumpuhan saraf VII dapat dikelompokkan dalam 3 bagian: 1. Obat ini bekerja mengurangi bendungan . 2. bersiul. mulut dan daerah tengah wajah.

Sindrom air mata buaya (refleks gastrolakrimalis paradoksikal) tampaknya didasarkan oleh persarafan baru yang salah. BELL’S PALSY Definisi Kelumpuhan wajah adalah suatu bentuk kecacatan yang memberikan dampak yang kuat pada seseorang. . Bell’s palsy ditemukan oleh dokter dari inggris yang bernama Charles Bell. dapat menjelaskan kontraktur atau sinkinesis (gerakan yang berhubungan) dalam otot-otot mimik wajah. Di perkirakan bahwa serat sekretoris untuk kelenjar air liur tumbuh ke dalam selubung Schwann dari serat yang cedera yang berdegenerasi dan pada asalnya serat tersebut bertanggung jawab untuk glandula lakrimalis. Komplikasi Setelah kelumpuhan fasial perifer. Serat yang terlindung mungkin memberikan akson baru yang tumbuh ke dalam bagian yang rusak. Sodium Kromoglikat Diberikan pada kelumpuhan saraf fasialis jika dipikirkan adanya reaksi alergi. Yang paling sering menyebabkan kelumpuhan unilateral pada wajah adalah Bell’s palsy. Persarafan baru yang abnormal ini. Steroid Obat ini diberikan untuk mengurangi proses inflamasi yang menyebabkan Bell’s Palsy. neoplasma. trauma. paparan toksik ataupun penyebab iatrogenik. Antivirus Baru-baru ini antivirus diberikan dengan atau tanpa penggunaan prednisone secara simultan. 3. 4. terutama serat otonom dapat sebagian atau pada arah yang salah. regenerasi saraf yang rusak. 5. Bell’s palsy didefinisikan sebagai suatu keadaan paresis atau kelumpuhan yang akut dan idiopatik akibat disfungsi nervus facialis perifer. infeksi. Kelumpuhan nervus facialis dapat disebabkan oleh bawaan lahir (kongenital).

bahkan bisa mencapai 10 kali lipat Etiologi Diperkirakan. akan terjadi reaktivasi virus yang akan menyebabkan kerusakan local pada myelin Patofisiologi Para ahli menyebutkan bahwa pada Bell’s palsy terjadi proses inflamasi akut pada nervus fasialis di daerah tulang temporal. Penderita diabetes mempunyai resiko 29% lebih tinggi.Epidemiologi Bell’s palsy menempati urutan ketiga penyebab terbanyak dari paralisis fasial akut. Di dunia. insiden tertinggi ditemukan di Seckori. penyebab Bell’s palsy adalah edema dan iskemia akibat penekanan (kompresi) pada nervus fasialis. Akan tetapi. paparan suasana/suhu dingin (misalnya hawa dingin. insiden Bell’s palsy setiap tahun sekitar 23 kasus per 100.VII penderita Bell’s palsy berat yang menjalani pembedahan dan menemukan HSV dalam cairan endoneural. Insiden Bell’s palsy rata-rata 15-30 kasus per 100. Akan tetapi.000 populasi. Murakami et all juga melakukan tes PCR (Polymerase-Chain Reaction) pada cairan endoneural N. Dulu. Perjalanan nervus fasialis keluar dari tulang . Pada kehamilan trisemester ketiga dan 2 minggu pasca persalinan kemungkinan timbulnya Bell’s palsy lebih tinggi daripada wanita tidak hamil. Penyebab edema dan iskemia ini sampai saat ini masih diperdebatkan. sekarang mulai diyakini HSV sebagai penyebab Bell’s palsy. Virus ini diperkirakan dapat berpindah secara axonal dari saraf sensori dan menempati sel ganglion. dibanding non-diabetes. 63% mengenai wajah sisi kanan. wanita muda yang berumur 10-19 tahun lebih rentan terkena daripada laki-laki pada kelompok umur yang sama. Di Amerika Serikat. Jepang tahun 1986 dan insiden terendah ditemukan di Swedia tahun 1997. AC. namun lebih sering terjadi pada umur 15-50 tahun. karena telah diidentifikasi HSV pada ganglion geniculata pada beberapa penelitian otopsi. Bell’s palsy hampir selalu terjadi secara unilateral. di sekitar foramen stilomastoideus. tetapi salah satu teori menyebutkan terjadinya proses inflamasi pada nervus fasialis yang menyebabkan peningkatan diameter nervus fasialis sehingga terjadi kompresi dari saraf tersebut pada saat melalui tulang temporal. Bell’s palsy mengenai laki-laki dan wanita dengan perbandingan yang sama. atau menyetir mobil dengan jendela yang terbuka) dianggap sebagai satu-satunya pemicu Bell’s palsy.000 orang. Patofisiologinya belum jelas. Penyakit ini dapat mengenai semua umur. pada saat adanya stress.

Gejala Klinis Kelumpuhan perifer N. Gejala kelumpuhan perifer ini tergantung dari lokalisasi kerusakan. Gangguan: seperti (d) ditambah dengan gangguan pada N.VII memberikan ciri yang khas hingga dapat didiagnosa dengan inspeksi. Impuls motorik yang dihantarkan oleh nervus fasialis bisa mendapat gangguan di lintasan supranuklear. Lipatan-lipatan di dahi akan menghilang dan Nampak seluruh muka sisi yang sakit akan mencong tertarik ke arah sisi yang sehat. Pengecapan dan sekresi air liur masih baik.VIII. Lesi setinggi ganglion genikulatum. Gejala : kelumpuhan otot-otot wajah pada sebelah lesi. Gejala: seperti (c) ditambah dengan gangguan sekresi kelenjar hidung dan gangguan kelenjar air mata (lakrimasi). Gejala: seperti (b) ditambah dengan gangguan pendengaran yaitu hiperakusis. Lesi di porus akustikus internus. Dengan bentukan kanalis yang unik tersebut. Lesi setinggi diantara n. b.(3) a.stapedeus (didalam kanalis fasialis). Gejala: seperti (a) ditambah dengan gangguan pengecapan 2/3 depan lidah dan gangguan salivasi. d. demyelinisasi atau iskemik dapat menyebabkan gangguan dari konduksi. e. Lesi setinggi diantara khorda tympani dengan n. temporal melalui kanalis fasialis yang mempunyai bentuk seperti corong yang menyempit pada pintu keluar sebagai foramen mental. adanya inflamasi. . nuklear dan infranuklear. Otot muka pada sisi yang sakit tak dapat bergerak. LMN. c.stapedeus dengan ganglion genikulatum.  Sudut mulut sisi lesi jatuh dan tidak dapat diangkat  Makanan berkumpul diantara pipi dan gusi pada sebelah lesi  Tidak dapat menutup mata dan mengerutkan kening pada sisi lesi Kelumpuhan ini adalah berupa tipe flaksid. Lesi supranuklear bisa terletak di daerah wajah korteks motorik primer atau di jaras kortikobulbar ataupun di lintasan asosiasi yang berhubungan dengan daerah somatotropik wajah di korteks motorik primer. Kerusakan setinggi foramen stilomastoideus.

(5) Nama obat Acyclovir (Zovirax) – menunjukkan aktivitas hambatan langsung melawan HSV-1 dan HSV-2. Dosis pediatrik < 2 tahun : tidak dianjurkan. Kontraindikasi Pernah dilaporkan adanya hipersensitivitas. Interaksi obat Penggunaan bersama dengan probenecid atau zidovudine dapat memperpanjang waktu paruh dan meningkatkan toksisitas acyclovir terhadap SSP. Yang paling sering ditemui ialah kerusakan pada tempat setinggi foramen stilomastoideus dan pada setinggi ganglion genikulatum. Perhatian Hati-hati pada gagal ginjal atau bila menggunakan obat yang bersifat nefrotoksik. otitis media perforata dan mastoiditis. > 2 tahun : 1000 mg peroral dibagi 4 dosis selama 10 hari. Kehamilan C – keamanan penggunaan selama kehamilan belum pernah dilaporkan. . Acyclovir akan berguna jika diberikan pada 3 hari pertama dari onset penyakit untuk mencegah replikasi virus. Agen antiviral. Dosis dewasa 4000 mg/24 jam peroral selama 7-10 hari. Penemuan genom virus disekitar nervus fasialis memungkinkan digunakannya agen-agen antivirus pada penatalaksanaan Bell’s palsy. Oleh karena itu. Adapun penyebab yang sering pada kerusakan setinggi genikulatum adalah : Herpes Zoster. Penatalaksanaan a. Acyclovir 400 mg selama 10 hari dapat digunakan dalam penatalaksanaan Bell’s palsy. Meskipun pada penelitian yang pernah dilakukan masih kurang menunjukkan efektifitas obat-obat antivirus pada Bell’s palsy. dan sel yang terinfeksi secara selektif. zat antiviral merupakan pilihan yang logis sebagai penatalaksaan farmakologis dan sering dianjurkan pemberiannya. hampir semua ahli percaya pada etiologi virus.

Dosis pediatrik Pemberian sama dengan dosis dewasa. diturunkan perlahan-lahan selama 7 hari kemudian. . dan rifampin dapat meningkatkan metabolisme glukokortikoid (tingkatkan dosis pemeliharaan). edema. disfungsi hepatik. Prednison dengan dosis 40-60 mg/ hari per oral atau 1 mg/ kgBB/ hari selama 3 hari. Kontraindikasi Pernah dilaporkan adanya hipersensitivitas. miopati. Para peneliti lebih cenderung memilih menggunakan steroid untuk memperoleh hasil yang lebih baik. penggunaan dengan digoksin dapat menyebabkan toksisitas digitalis akibat hipokalemia. Perhatian Penghentian pemberian glukokortikoid secara tiba-tiba dapat menyebabkan krisis adrenal. fenitoin. Berbagai artikel penelitian telah diterbitkan mengenai keuntungan dan kerugian pemberian steroid pada Bell’s palsy.b. dan infeksi kulit tuberkuler. penyakit tukak lambung. Nama obat Prednisone (Deltasone. Dosis dewasa 1 mg/kg/hari peroral selama 7 hari. Bila telah diputuskan untuk menggunakan steroid. penyakit gastrointestinal. Interaksi obat Pemberian bersamaan dengan estrogen dapat menurunkan klirens prednisone. Sterapred) – efek farmakologis yang berguna adalah efek antiinflamasinya. dimana pemberiannya dimulai pada hari kelima setelah onset penyakit. yang menurunkan kompresi nervus facialis di canalis facialis. jamur. gunanya untuk meningkatkan peluang kesembuhan pasien. Orasone. infeksi virus. jaringan konektif. hiperglikemia. Kortikosteroid. fenobarbital. osteonekrosis. monitor hipokalemia bila pemberian bersama dengan obat diuretik. maka harus segera dilakukan konsensus. Pengobatan Bell’s palsy dengan menggunakan steroid masih merpakan suatu kontroversi. penyakit tukak lambung. Kehamilan B – biasanya aman tetapi keuntungan obat ini dapat memperberat resiko.

mempunyai peluang 40% sembuh total dan beresiko tinggi meninggalkan gejala sisa. Penderita yang berumur 60 tahun atau lebih. crocodile tears dan kadang spasme hemifasial. Usia di atas 60 tahun. Menurunnya fungsi pengecapan atau aliran saliva pada sisi yang lumpuh. osteoporosis. Berkurangnya air mata. penurunan pertumbuhan. Penderita yang berusia 30 tahun atau kurang. psikosis. Prognosis Penderita Bell’s palsy dapat sembuh total atau meninggalkan gejala sisa. . yaitu sinkinesis. b. VII atau tumor kelenjar parotis. hipokalemia. Sekitar 30 % penderita yang kambuh ipsilateral menderita tumor N. myasthenia gravis. euforia. Nyeri pada bagian belakang telinga. Jika tidak sembuh dalam waktu 4 bulan. maka penderita cenderung meninggalkan gejala sisa. Hanya 23% kasus Bell’s palsy yang mengenai kedua sisi wajah. c. e. Pada umumnya prognosis Bell’s palsy baik: sekitar 80-90 % penderita sembuh dalam waktu 6 minggu sampai tiga bulan tanpa ada kecacatan. Paralisis komplit. dan infeksi dapat muncul dengan penggunaan bersama glukokortikoid. Bell’s palsy kambuh pada 10- 15 % penderita. hanya memiliki perbedaan peluang 10-15 persen antara sembuh total dengan meninggalkan gejala sisa. Faktor resiko yang memperburuk prognosis Bell’s palsy adalah: a. d.(6) Penderita diabetes 30% lebih sering sembuh secara parsial dibanding penderita nondiabetik dan penderita DM lebih sering kambuh dibanding yang non DM.

Kelumpuhan dapat diakibatkan oleh kelainan congenital. idiopatik. Kelainan ini dapat diobati dengan fisioterapi. . gangguan pembuluh darah. dan penyakit-penyakit tertentu yang dapat mengakibatkan deformitas kosmetik dan fungsional yang berat. dapat terjadi sentral dan perifer. trauma. dan psikofisikal serta operasi. farmakologi. tumor. Kesimpulan Kelumpuhan saraf fasialis merupakan kelumpuhan yang meliputi otot-otot wajah. BAB III PENUTUP 2. infeksi.1.