You are on page 1of 14

A.

Zona Subduksi
Zona subduksi adalah zona pertemuan antara dua buah lempeng dimana kedua lempeng
ini mengalami tumbukan, baik antara lempeng benua dengan lempeng samudra, maupun
lempeng samudra dengan lempeng samudra yang menyebabkan salah satu dari lempeng
tersebut menunjam di bawah lempeng yang lain. Akibatnya terjadilah proses magmatisme.
Proses magmatisme yang terjadi pada zona subduksi ini pun menghasilkan magma yang
sumbernya dibagi atas 3 (tiga) kemungkinan, yaitu:
a. Berasal dari pelelehan sebagian mantel atas ( Paling dominan terjadi).
b. Berasal dari pelelehan sebagian kerak samudra yang menunjam ke bawah.
c. Berasal dari pelelehan sebagian kerak benua bagian bawah (anateksis).

Secara umum, magma yang berasal dari pelelehan kerak samudra yang menunjam dan
dari pelelehan mantel atas akan bersifat basa, namun apabila magma naik menuju permukaan,
akan terjadi proses diferensiasi sehingga magma yang dihasilkan berubah sifat menjadi
intermediet hingga asam.
Secara lebih jelasnya, Zona subduksi dapat dikenali dengan adanya busur
kepulauan dan busur tepi benua aktif, yang keduanya mempunyai karakteristik seperti adanya
kepulauan yang berbentuk busur dan membentang hingga ribuan kilometer, adanya palung
samudera yang dalam, adanya volkanisme aktif dan gempa bumi, serta asosiasi volkanik yang
khas, yang disebut ‘orogenic andesit’.
Proses magmatisme di zona subduksi berbeda dengan magmatisme di tatanan tektonik
lain karena adanya peran fluida pada kerak yang menunjam dan adanya pelelehan
sebagian baik dari baji mantel, kerak samudera, ataupun kerak benua bagian bawah. Secara
umum, mekanisme magmatismenya adalah adanya finger tip effect, dimana kerak samudera
yang menunjam menjadi lebih panas oleh mantel dan gesekan yang mengakibatkan mineral
melepas H2O dan adanya pelelehan sebagian mantel.

Maka dari itu zona subduksi ini dibagi menjadi dua tatanan tektonik yaitu :

1. Setting Tektonik dan Magmatisme Busur Kepulauan
Busur Kepulauan ini sendiri terbentuk akibat adanya proses magmatisme
yang disebabkan oleh tumbukan antara lempeng samudra dengan lempeng

samudra yang diikuti oleh penunjaman salah satu lempeng samudra tersebut. Lempeng samudra dan benua yang dimaksud adalah Lempeng Australia yg menunjam ke bawah Lempeng Eurasia (Eropa dan Asia. selatan Jawa sampe ke Laut Banda. Pada daerah ini. Busur Kepulauan 2. Busur Aktif Tepi Benua Di Indonesia contohnya dapat terlihat di sepanjang pesisir barat Sumatra. Gambar 2. Setting Tektonik dan Magmatisme Busur Aktif Tepi Benua Jenis kedua dari zona subduksi adalah Active Continental Margin atau disebut juga Busur aktif tepi benua. Pada gambar diatas. Segitiga yang "menghadap" ke arah Indonesia maksudnya adalah menggambarkan Lempeng Australia yang masuk menunjam ke bawah Lempeng Eurasia. di mana Indonesia bagian barat termasuk di dalam-nya). subduction zone ditandai dengan simbol segitiga. Gambar 1. Bisa di-liat bahwa . Daerah ini terbentuk akibat adanya tumbukan antara lempeng benua dengan lempeng samudra yang diikuti oleh penunjaman kerak samudra di bawah kerak benua. magma berasal dari pelelehan sebagian mantel dan pelelehan sebagian kerak samudra itu sendiri.

maka akan terjadi tumbukan antar kerak benua. . Samudera kemudian semakin menyempit oleh semakin mendekatnya kedua benua dan akhirnya tertutup ketika kedua benua berbenturan. Zona Collision Zona collision adalah salah satu jenis pergerakan lempeng yang saling mendekat (konvergen). Bedanya dengan pergerakan lempeng konvergen yang lainnya. Penebalan kerak benua dapat terjadi karena pensesaran naik yang berjenjang dan saling menumpang (imbrikasi). Artinya sepanjang daerah itu adalah daerah rawan gempa. Contohnya adalah collision antara lempeng India dan lempeng Eurasia yang menghasilkan pegunungan Himalaya. Pada penunjaman kerak samudera yang membawa kerak benua di belakangnya ke bawah kerak benua. Kaledonid. selatan Jawa sampe ke Laut Banda adalah jalur subduction. jika hal ini berlanjut. Alpen dan Ural. Suatu collision antar benua akan didahului oleh subduction lempeng samudera di bawah satu benua. melainkan keduanya sama . Contoh zona subduksi B. Gambar 3. Pada batas kolisi (suture) sering tersisa pecahan kerak samodera (ofiolit). sedangkan yang relatif lebih tua adalah Pegunungan Appalachia.sama terangkat. Tumbukan tersebut dapat mengakibatkan terbentuknya suatu relief yang tinggi seperti Himalaya. pesisir barat Sumatra. collision ini merupakan pergerakan lempeng yang saling mendekat antara dua lempeng benua yang berat jenisnya sama-sama besar sehingga tidak ada subduksi yang terjadi. Kenampakan hasil tumbukan termuda yang dijumpai di dunia adalah Pegunungan Himalaya.

Lempeng yang turun membawa sedimen berisi air dari dasar laut menghunjam kedalam mantel. juga disebut zona pengkonsumsian atau zona penghancuran. ketika mencapai permukaan akan membentuk . Lempeng yang lebih tua turun ke zona subduksi saat lempeng litosfer samudera bertabrakan di sepanjang parit (Gambar 4 ). Contoh wilayah zona konvergen ini adalah sepanjang pantai barat pulau Sumatera (Gambar 3. salah satu lempeng masuk menghunjam kedalam mantel dan mengalami penghancuran (peleburan) akibat suhu yang tinggi. Lempeng yang menghunjam ini biasanya mencapai kedalaman 700 km.5a). Kebanyakan zona ini diwakili oleh zona dalam /parit (trench). Batas konvergen memiliki tiga variasi tergantung pada jenis litosfer yang disandingkan di zona subduksi. Batas zona cillision C. Magma naik melalui lempeng samudra. Kehadiran air merubah sifat fisika dan kimia magma. dimana lempeng relative saling mendekat. Gambar 4. juga system kepulaun dari zona subduksi yang mana pada zona subduksi ini. tenggara Jepang. Trench / Parit Sepanjang batas konvergen (Convergent). Aleutians dan bererapa tempat lainnya. pantai selatan pulau Jawa.

(a) Batas lempeng samudera vs konvergensi lantai samudera. 1986).>100 m dalam sheared matrik yang biasanya terdiri dari klorit dan mika. asal. Zona suture sering teraktifkan ulang sebagai sesar regional. berukuran 10 . et al. Zona Suture Zona suture adalah zona batas benturan terranes atau blok-blok kecil penyusun lempeng tektonik yang masing-masing punya sejarah tektonik. Zona suture memiliki lebar antara 100 m . D. Parit laut sering berbatasan dengan rantai pulau (busur pulau) yang dibentuk oleh magma dari subduksi lempeng.gunung api. mungkin bisa lebih tinggi dari permukaan laut dan membentuk sebuah pulau. Aktivitas vulkanik saat ini di pulau Montserrat di Karibia adalah hasil dari subduksi Pelat Amerika Selatan di bawah busur pulau yang menandai tepi lempeng Karibia. Gambar 5. dan stratigrafi yang berbeda sehingga zona ini lemah secara tektonik. Batuan dari zona suture berasal dari zone hinterland plate. Saat gunung berapi tumbuh. biasanya berhubungan dengan batuan volkanik dan sedimen dari overrinding plate (foreland plate).>3 km dalam collision orogen (Coward. Fragmennya terdiri dari ophiolite yang bercampur dengan struktur melange. Kepulauan Aleutian di ujung Alaska dibentuk oleh magma yang dihasilkan saat lempeng Pasifik turun di bawah litosfer samudra di tepi lempeng Amerika Utara. (b) Batas lempeng samudera vs konvergensi lantai Benua. .

permukaan bumi terpecah menjadi beberapa lempeng besar. merupakan tempat-tempatyang memiliki kondisi tektonik yang aktif. jalur gunung api. Ukuran dan posisi dari tiap-tiap lempeng ini selalu berubah-ubah. Zona suture di Himalaya E. Pada interaksi konvergen. Gunung dan Gunung Berapi Tektonik lempeng adalah suatu teori yang menerangkan proses dinamika(pergerakan) bumi tentang pembentukan jalur pegunungan. Ketika mencapai mantel. Jika lempeng yang bengkok tersebut kembali ke posisi semula. yang menyebabkan yaitu gempa bumi. dan cekungan endapan di muka bumi yang diakibatkan oleh pergerakan lempeng. Jika dalam konteks bumi.Tabrakan dan gesekan ini menimbulkan tegangan pada kedua lempeng. Menurut teori ini. lempeng-lempeng saling bertabrakan atau bergesekan. akan timbul getaran yang dirasakan manusia sebagai gempa bumi tektonik. lempeng yang menunjam ini mengalami pelelehan sebagian (partial melting).gunung berapi. salah satu lempeng akan dibengkokkan oleh desakan lempeng lain. Lelehan lempeng ini merupakan bahan baku magma. akan terbentuk palung pada sepanjang batas antara kedua lempeng. Pertemuan antara lempeng-lempeng ini. Jika tabrakan terjadidi laut. Gambar 6. Dalam interaksi konvergen dan persinggungan.Lempeng yang menunjam adalah lempeng yang lebih berat (densitasnya lebih tinggi). terjadi tabrakan antar lempeng dan kemudian salah satulempeng menunjam (membenam) ke bawah lempeng lainnya. disertai patahnya lempeng tersebut. jalur gempa bumi. yang biasanya adalah lempeng samudra. Kuat . dan pembentukan dataran tinggi.

lemahnya getaran gempa tersebut antara lain bergantung pada kedalaman terjadinya patahan. Deformasi disebabkan oleh gaya atau tekanan yang bekerja pada materi tersebut. Selain patah. membeku. dimensi dan posisi dari suatu materi baik merupakan bagian dari alam ataupun buatan manusia dalam skala waktu dan ruang. terkumpul dan tertimbun membentuk gunung api. terutama pada bagian tepi masing-masing lempeng. Adapun faktor-faktor yang mengontrol terjadinya deformasi suatu materi adalah : . atau dengan kata lain kedalaman pusat gempa. Magma kemudian keluar ke permukaan. Deformasi Batuan Deformasi adalah perubahan bentuk. Inilah salah satu mekanisme terbentuknya gunung di batas lempeng. pegunungan di selatan Pulau Jawa. dan pengunungan di sebelah barat daya Pulau Sumatera. Gambar 7. Contohnya adalah Pegunungan Himalaya. tabrakan dan gesekan juga memunculkan retakan/rekahan. Proses terbentuknya gunung dan gunung berapi F. Mekanisme lain adalah bagian lempeng yang tidak terbenam terlipat atau menggumpal ke atas membentuk tonjolan pegunungan. Rekahan yang timbul akan menjadi saluran lewatnya magma dari dalam mantel.

dan tekanan diferensial atau tekanan dengan gaya yang bekerja tidak sama di setiap arah. maka batuan itu akan mengalami tiga tahap deformasi. gerakan yang cepat dapat menyebabkan patahan. yang bisa lebih rapuh atau lebih lentur.  Ductile deformation Ductile deformation merupakan tahapan deformasi setelah elastic limit dilampaui dan perubahan bentuk dan volume batuan tidak kembali. dan shear stress. jadi ketika tekanan yang diberikan pada batuan tersebut dihilangkan. 2. compressional stress. pada temperatur dan tekanan yang rendah akan lebih cepat terjadi patahan. Temperatur dan tekanan ke semua arah. Elastisitas ini memiliki batas yang disebut elastic limit. pada temperatur dan tekanan yang tinggi akan terjadi lenturan atau bahkan lelehan. . tergantung dari bahan yang bersangkutan dan dari keadaan-keadaan lain. maka bentuk batuan tidak akan kembali seperti semula. maka bentuk batuan tersebut akan kembali seperti semula. Tekanan diferensial terbagi menjadi tensional stress.  Fracture deformation Fracture deformation merupakan tahapan deformasi yang tejadi setelah batas atau limit elastic deformationdan ductile deformation dilampaui. Sifat material. Kecepatan gerakan yang disebabkan oleh gaya yang diberikan. 1. 3. yaitu :  Elastic deformation Elastic deformation adalah deformasi batuan yang bersifat sementara atau tidak permanen. Apabila batas elastisitas ini dilampaui. Ketika suatu batuan dikenakan tekanan dengan besar tertentu. Tekanan merupakan gaya yang diberikan atau dikenakan pada suatu medan atau area. sedangkan gerakan yang lambat dapat menimbulkan lenturan. Tekanan terbagi menjadi tekanan seragam (uniform stress) yaitu gaya yang bekerja pada suatu materi sama atau seragam di semua arah.

Gambar 8. selain tergantung pada besarnya gaya yang bekerja. karena regas (brittle). bila dipaksa akan patah. Strain yang terjadi bergantung kepada berapa lama batuan dikenai stress. sedangkan yang lainnya (seperti mika. . juga kepada sifat fisika dan kompisis batuan serta lingkungan tektonik dan waktu. Misalnya pipa kaca tidak dapat dibengkokan pada suhu udara normal. memperlemah ikatan kimia mineral-mineral dan melapisi butiran-butiran mineral yang memperlemah friksi antar butir. Pengaruh air. yang dinyatakan dalam volume per unit volume per detik. Proses tahapan deformasi Percobaan-percobaan di laboratorium menunjukkan bahwa deformasi batuan. lempung. beberapa mineral (seperti kuarsa. Komposisi mempunyai dua aspek.  Waktu dan Strain Rate Pengaruh waktu dalam deformasi batuan sangat penting. Kecepatan batuan untuk berubah bentuk dan volume disebut strain rate. Adapun faktor-faktor pengontrol deformasi batuan adalah :  Suhu Makin tinggi suhu suatu benda padat semakin ductile sifatnya dan keregasannya makin berkurang. Kecepatan strain sangat dipengaruhi oleh waktu. Kedua. Pertama. kandungan air dalam batuan akan mengurangi keregasannya dan memperbesar keduktilannya. garnet dan olivin) sangat brittle. jenis dan kandungan mineral dalam batuan. kalsit dan gypsum) bersifat ductile. di bumi berkisar antara 10 -14/ detik sampai 10-15/ detik  Komposisi Komposisi batuan berpengaruh pada cara deformasinya.

Gempa bumi terjadi pada saat batuan di kerak bumi mengalami tekanan yang sangat hebat oleh pergerakan lempeng-lempeng yang menjadi landasan benua. Aliran konveksi tersebut sangat besar. Lempengan yang dimaksud yaitu lempeng samudera dan lempeng benua. selalu bergerak dan gempa bumi terjadi apabila tekanan yang terjadi karena pergerakan itu sudah terlalu besar untuk dapat ditahan. menarik. Sumber energi tektonik berasal dari energi panas bumi yang diubah menjadi energi mekanik oleh arus konveksi. Proses terjadinya gempa bumi . Bumi kita walaupun padat. batuan panas di dalam mesosfir dan astenosfir perlahan-lahan menyeret dan melengkungan litosfir secara kontinu yang akhirnya menyebabkan batuan terdeformasi. Ketika lempeng saling bergesek dan bertumbukan. Kata gempa bumi juga digunakan untuk menunjukkan daerah asal terjadinya kejadian gempa bumi tersebut. Gerakannya tidak teramati tetapi hasilnya berupa Bukit- barisan dan seringnya terjadi gempa bumi di daerah ini. Sebagian besar terjadi ketika dua lempengan di kerak bumi saling bergesekan. Contohnya adalah lempeng India-Australia yang mendesak lempeng Eurasia. yang kita rasakan sebagai gempa bumi. Gempa Bumi Gempa bumi ialah pergerakan atau pergeseran lapisan batu bumi yang berasal dari dasar ataupun dari bawah permukaan bumi. Proses terjadinya gempa bumi tersebut kira-kira adalah sebagai berikut : Gambar 9. Gaya tektonik secara kontinu akan menekan. Deformasi batuan litosfir terlalu lambat dan terlalu dalam untuk diamati. melengkungkan dan mematahkan batuan di litosfer. tercermin pada sesar Sumatera. G. Gempa bumi biasa disebabkan oleh pergerakan kerak bumi (lempeng bumi). akan menghasilkan gelombang kejut.

sehingga membentuk suatu formasi batuan yang juga khas yang telah umum dinamakan sebagai mélange. Jenis pertambahan dan pertumbuhan benua ini disebut sebagai accretionary wedge. H. Gerakan lempeng itu akan mengalami perlambatan akibat bergesekan dengan selubung bumi. Kedua keadaan ini mengakibatkan busur kepulauan dan sediment pinggiran benua tertekan. magmatik dan metamorfisme yang saling tumpang-tindih dan berulang. di sekitar daerah tumbukan lempeng-lempeng itulah gempa bumi bisa terjadi. karena baik system busur kepulauan ataupun benua tidak terjunjamkan. Jalur orogenesa ini kemudian bertumbukan. sedimenter. terakramasi dan bergabung (amalgamsi) dengan benua. Pada proses tumbukan. Akibatnya. Proses tersebut mengakibatkan getaran partikel ke segala arah yang disebut sebagai gelombang gempa bumi (seismic waves). terlipat. tarikan. Contoh bencana alam akibat pergerakan lempeng konvergen adalah gempa bumi yang mengakibatkan tsunami di Nanggroe Aceh Darussalam pada 26 Desember 2014 lalu.ulang (Festa et. 2010). Batas lempeng konvergen terjadi akibat pergerakan lempeng kulit bumi yang saling bertumbukan. yang lebih lanjut menyebabkan akumulasi energi di area patahan dan area subduksi. Nah. terdeformasi. Oleh karena itu. maka kedua system menjadi terkunci total. tersesar sungkupkan dan terangkat. tergencet. dan geseran. Lempeng samudera yang rapat massa lebih besar ketika bertumbukan dengan lempeng benua di area tumbukan (subduksi) akan bergerak menyusup ke bawah. Proses pembentukan mélange dipengaruhi oleh proses-proses struktural. Prisma Akresi dan Batuan Melange Prisma akresi memiliki sifat tektonik yang khas dan sangat aktif.al. membentuk jalur lipatan dan sesar yang menjadi cirri jalur orogenesa. di sekitar area- area tersebut terjadi tekanan. Accretionary wedge atau accretionary prism dibentuk oleh proses tumbukan (collision) antar lempeng benua serta oleh proses penunjaman (subduction) antara lempeng benua dan lempeng samudra. Ketika batas elastisitas lempeng terlampaui. salah satu lempeng akan tertekuk dan masuk ke bawah bagian lempeng lainnya. maka terjadilah patahan batuan yang diikuti oleh lepasnya energi secara tiba-tiba. . Gerakan ini dapat menimbulkan getaran yang kuat.

Pada proses subduction. ofiolit) yang umumnya berupa batuan Skist yang berumur muda. karena prisma akresi di kawasan ini masih belum melepaskan energi kegempaan (locked zone) sementara kawasan disekitarnya sudah terpicu dan melepaskan energi melalui serangkaian gempa-gempa sedang-kuat. diramu dalam sedimentasi dan tektonik imbrikasi jadilah accretionary widge yang bentuknya membaji mirip geometri prisma . Gempa kuat yang pernah tercatat mencapai skala 9 Richter pada tagl 26 Desember 2004. Batuan accretionary wedge memiliki kekhasan yaitu ditemukannya batuan campur aduk (mélange. . Beberapa ahli geologi juga masih mengkhawatirkan suatu saat akan terulang gempa sebesar ini di kawasan barat Bengkulu. Sejarah kegempaan membuktikan bahwa episentrum gempa –gempa kuat umumnya terletak pada accretionary wedge ini karena merupakan gempa dangkal (< 30 km). seduction menghasilkan kerak accretionary widge melalui proses subduction off-scraping (penyuguan dalam penunjaman) sebagian massa kerak oseanik dikerok- disugu. Proses terbentuknya prisma akresi Accretionary pism merupakan daerah yang paling rawan terhadap gempa karena pusat- pusat gempa berada dibawahnya. Adanya outer arc high yang memisahkan dua prisma akresi tersebut mengalibatkan sedimen yang berasal dari daratan induknya tidak dapat menerus ke bagian barat tetapi terendapkan di cekungan busur muka. Gambar 10. yaitu accretionary wedge 1 di bagian luar & accretionary wedge 2 di bagian dalam outer arc high yang memisahkan prisma akresi dengan cekungan busur muka (Mentawai forearc asin). dicampur dengan massa dari pinggir kontinen. Di Sumatera ditemukan dua prisma akresi.

Gambar 11. Geomorfologi prisma akresi yang naik kepermukaan sebagai pulau prisma akresi di lepas pantai sebelah barat Aceh. .

mgi.carleton.edu/research_education/cyberinfrastructure/navdat/questions.utexas.portal-gallery.id/content/bentuk-geomorfologi-dasar-laut-pada-tepian-lempeng-aktif- di-lepas-pantai-barat-sumatera-dan .com/2011/08/06/deformasi-batuan/2/ http://www.wordpress.go.esdm.edu/tmm/npl/mineralogy/mineralgenesis/igneousprocessesvolcanism.html http://serc. DAFTAR PUSTAKA http://www.html https://primaedu.com/pengertian-gempa-bumi-penyebab-jenis-serta-tandanya/ http://www.