You are on page 1of 11

ANALISIS FASIES DAN PETROFISIKA FORMASI TALANG AKAR

SUB-CEKUNGAN JAMBI SUMATERA SELATAN

Andriansyah Permana1*, Faisal Helmi1, Vijaya Isnaniawardhani1, Yusi Firmansyah1.
1
Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran, Bandung

*Korespondensi: andriansyahprmn@gmail.com

ABSTRAK
Pada penelitian ini digunakan data well logging dari tiga sumur eksplorasi di daerah Sub-cekungan Jambi,
Sumatera Selatan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui lingkungan pengendapan Formasi Talang Akar
sehingga dapat mengetahui gambaran kualitas dari reservoir berdasarkan karakteritik tekstur pada
lingkungan pengendapan hasil analisis fasies yang kemudian dibuktikan dengan data petrofisikanya
sebagai data kuantitatif reservoir tersebut. Untuk penentuan lingkungan pengendapan dilakukan analisis
fasies dari elektrofasies dan lithofasies. Dari elektrofasies diperoleh bentuk kurva log gamma ray Bloky,
Bloky Serrated, Funnel, Funnel Serrated, Bell, dan Bell Serrated. Kemudian diperoleh juga lithofasies
yang pada umumnya pada bagian bawah setiap sumur tersusun atas batupasir konglomratik sampai
batupasir sangat kasar dan pada bagian atas tersusun atas batulempung dengan keterdapatan lapisan
batubara dan batugamping sebagai sisipan. Berdasarkan analisis tersebut ditentukan lingkungan
pengendapan pada Formasi Talang Akar yaitu berada pada lingkungan darat (fluvial) sampai transisi
(estuarine). Analisis kuantitatif berupa perhitungan petrofisika ini dilakukan dengan bantuan perangkat
lunak, dalam perhitungan volume shale rumus yang digunakan adalah rumus linear, perhitungan porositas
dan saturasi air menggunakan metode Dual Water, dan perhitungan permeabilitas digunakan rumus
Timur. Hasil petrofisika ini menunjukan adanya reservoir pada Formasi Talang Akar dengan porositas
dan permeabilitas baik-istimewa.
Kata Kunci : Lingkungan pengendapan, Reservoir, Formasi Talang Akar.

ABSTRACT
In this research we use well logging data from three exploration wells in Sub-basin Jambi, South
Sumatera. With the aim of research to know the deposition environment of Talang Akar Formation so as
to know the description of the quality of the reservoir based on the texture characteristic in the
environment of sedimentation of facies analysis which then proved with petrophysical data as proof of the
quantitative of the reservoir. For the determination of the sedimentary environment, facies analysis of
electrofacies and lithofacies was performed. From elektrofasies gamma ray curve obtained log forms
Bloky, Bloky Serrated, Funnel, Funnel Serrated, Bell, and Bell Serrated. Lithofasies are generally
obtained at the bottom of each well composed of conglomerate sandstones to very coarse sandstones and
at the top is composed of claystone with the availability of coal seams and limestone as inserts. Based on
the analysis determined the deposition environment on Talang Akar Formation is located in the land
environment (fluvial) until transition environment (estuarine). Quantitative analysis of the calculation of
petrophysics is done with the help of software, in calculating the volume shale of the formula used is a
linear formula, porosity calculation and water saturation using Dual Water method, and calculation of
permeability used Timur formula. The results of this petrophysics show the existence of reservoir on
Talang Akar Formation with porosity and permeability good-special.

Keywords : Deposition environment, Reservoir, Formasi Talang Akar.

1. PENDAHULUAN

27

1970). Dalam penelitian ini batupasir. kimia dan biologi Berdasarkan Gambar 1. yaitu reservoir tersebut.02. serpih dan batulanau berwarna digunakan data well logging sebagai objek abu-abu kehitaman dengan sisipan batubara penelitian pada tiga sumur eksplorasi di bituminous dan batulempung. Cekungan Sumatera Selatan. Pada Gambar 2. terjadinya sedimentasi di Cekungan Umumnya penulis membagi lingkungan Sumatera Selatan. akan tetapi Kasai merupakan formasi-formasi yang eksplorasi juga bagian dari peningkatan terbentuk dalam fase regresi. Fase suatu usaha produksi untuk sedimentasi tersebut terjadi pada saat fase mempertahankan besarnya cadangan. sehingga gambaran kondisi Akhir-Miosen Awal yang diendapkan tidak bawah permukaan tersebut dapat dijadikan selaras dengan Formasi Lahat. Formasi Muara Enim dan Formasi perluasan daerah produksi. Kelompok Telisa yang sedang berproduksi mengindikasikan terdiri atas Formasi Talang Akar. graben dengan material hasil erosi dari dan laut. keterjadian proses fisika. satu kegiatan eksplorasi adalah interpretasi Formasi Talang Akar data well logging karena dapat memberikan gambaran mengenai kondisi bawah Menurut Pulunggono (1976). 01. Formasi perlunya eksplorasi minyak dan gas bumi Baturaja dan Formasi Gumai merupakan sebagai pengadaan kebutuhan sumber daya formasi-formasi yang terbentuk dalam fase alam tersebut. dari permukaan bumi yaitu darat. permukaan berdasarkan sifat-sifat batuan Formasi Talang Akar berumur Oligosen dan fluidanya. Salah tektonik basin sag sampai compression. Februari 2018: 27-37 Keterbatasan cadangan minyak dan satu daur besar yang terdiri atas transgresi gas bumi pada cekungan-cekungan yang dan diikuti regresi. Formasi ini juga diendapkan 2. transisi. TINJAUAN PUSTAKA selaras dan berangsur dengan endapan laut terbuka berupa endapan batugamping Sub-cekungan Jambi merupakan terumbu dan batugamping pasiran dari cekungan yang merupakan bagian dari Formasi Baturaja. Sedangkan Kelompok eksplorasi tidak selalu seperti usaha untuk Palembang yang terdiri atas Formasi Air menambah lapangan minyak baru atau Benakat. formasi ini menjadi dua anggota yaitu Tujuan dari penelitian ini untuk anggota gritsand mb (GRM) dan anggota mengetahui lingkungan pengendapan transitional mb (TRM). batupasir kuarsa. Kemudian kawan (1992) dalam Posamentier dan menurut Jackson (1961) dalam Walker (2006) mengklasifikasikan Koesoemadinata (1980). Anggota GRM atau Formasi Talang Akar sehingga dapat Talang Akar Bagian Bawah terdiri atas mengetahui gambaran kualitas dari batuapasir konglomeratan. fase sedimentasi di lingkungan pengendapan pada lingkungan Cekungan Sumatera Selatan merupakan 28 . Pada dasarnya pengertian transgresi. reservoir berdasarkan karakteritik tekstur serpih dan lapisan batubara yang menyisip. kemudian Sub-cekungan Jambi Sumatera Selatan. membagi hidrokarbon. Vol. terdapat juga mineral gaukonit yang berlimpah. Boyd dan kawan daerah tinggian disekitarnya. pada lingkungan pengendapan hasil analisis Anggota TRM atau Talang Akar Bagian fasies yang kemudian dibuktikan dengan Atas terdiri atas perselingan sedimen klastik data petrofisikanya sebagai bukti kuantitas berukuran sedang sampai halus. extensional yang berbeda dengan daerah yang faulting merupakan pemicu proses berbatasan dengannya (Selley. sehingga pada waktu pengendapan berdasarkan tiga bagian besar tersebut sedimen-sedimen mengisi graben. Jenis cekungan ini adalah cekungan belakang Lingkungan Pengendapan dan Fasies busur (back arc basin) dengan bentuk Lingkungan pengendapan adalah relatif segi empat memanjang berarah barat bagian dari permukaan bumi dengan laut-tenggara.Padjadjaran Geoscience Journal. Spruyt sebagai acuan untuk pencarian zona (1956) dalam Pulunggono (1984). No.

sedangkan porositas efektif adalah merupakan suatu nilai batas dari parameter perbandingan antara ruang pori yang saling reservoir. Volume shale dalam shale. yaitu : dihitung dalam penelitian ini. dan hidrokarbon. sehingga setelah mengevaluasi data log Dalam proses perhitungan porositas dan maka dapat diperoleh informasi nilai saturasi air digunakan metode Dual Water. yaitu : air dalam ruang pori dan air yang terikat 1. Porositas Swi = Saturasi Terdapat dua jenis porositas yaitu irreducible porositass total dan prorositas efektif. Kemudian berdasarkan pada penciri fisika. Berikut Metode ini disebut Dual Water karena parameter-parameter petrofisika yang mempertimbangkan dua resistivitas. Permeabilitas linear. Fasies sendiri batuan merupakan penciri fisika. Menurut Keener (1967) berhubungan dengan volume bulk batuan. 2006). persen atau fraksi. kimia dan biologi pada batuan maka dapat direkonstruksi lingkungan tempat dimana proses batuan sedimen diendapkan. fasies log (Walker dan Posamentier. kondisi reservoir shally sand. Petrofisika Analisis petrofisika bertujuan untuk mengevaluasi data log secara tepat dengan Keterangan : S = Saturasi mengkoreksi data terhadap kondisi Vf = Volume fluida lingkungan. sehingga sesuai dengan Volume shale adalah derajat volume yang kondisi batuan Formasi Talang Akar yang menyatakan perbandingan volume lempung didominasi oleh batupasir dan lempung atau terhadap volume total suatu formasi. kimia dan biologi 3. Cut off Porositas total merupakan perbandingan antara volume pori dengan volume bulk Pada dasarnya cut off pada reservoir batuan. Dalam penentuan permeabilitas pada penelitian ini digunakan persamaan Timur. Keterangan : Vp = Volume pori Proses rekonstruksi tersebut merupakan Vb = Volume bulk analisis fasies (Gambar 3). Keterangan : GR max = Dibaca pada defleksi log maximum GR min = Dibaca pada defleksi log minimum Keterangan: K = GR log = Dibaca pada defleksi log di Permeabilitas (darcy) zona yang bersangkutan PHIE = Porositas efektif 2. Perbandingan ini penampang kurva log juga dapat digunakan dinyatakan dalam satuan persen atau fraksi. Rumus yang digunakan adalah persamaan 4. penentuan nilai cut off dilakukan dengan menggunakan tiga parameter cut-off untuk 29 .Analisis Fasies Dan Petrofisika Formasi Talang Akar Sub-Cekungan Jambi Sumatera Selatan (Andriansyah Permana) transisi yang dipengaruhi oleh naik turun Perbandingan ini dinyatakan dalam satuan muka air laut. Permeabilitas adalah kemampuan batuan dalam melewatkan atau meloloskan fluida melalui pori-pori. serpih. parameter petrofisika batuan. Konsep Kejenuhan atau saturasi didefinisikan fasies ini juga dapat diperluas tidak hanya sebagai perbandingan antara volume fluida dalam batuan yang bisa diobservasi akan yang menempati pori dengan volume pori tetapi perbedaan karakteristik pola log pada dari batuan tersebut. Saturasi air dari suatu satuan batuan sedimen.

setiap log parameter petrofisika dan analisis kuantitatif. dengan hasil analisis elektrofasies dan analisis ektrapolasi data akan menurun dengan lithofasies. kasar (grid) atau perata-rataan nilai variabel karena berdasarkan “Rule of Thumb”: pada volume dengan skala yang lebih kecil. Analisis kualitatif perlu dilakukan scale up. seperti jenis lithologi pada kedalaman tertentu serta Pemodelan Petrofisika top-bottom Formasi Talang Akar. batuan yang mengandung batupasir dan telah mengalami porses cut off 3. batuan yang mengandung gas mempunyai Teknik perata-rataannya dapat digunakan permeabilitas >= 0. Scale up dilakukan dengan memberikan batas atas dan bawah zona yang menarik atau gross 30 . Sehingga objek utama yang menjadi bahan penelitian ini reservoir yang tersaturasi oleh yaitu data kurva well log. 01. lithologi sidewall core pada titik tertentu Geostatistika merupakan teknik dijadikan acuan karakteritik pola dan nilai statistika yang dipakai untuk mencari kurva well log pada jenis lithologi-nya. yaitu volume shale. kemudian memodelkannya kuantitatif seperti contoh dalam melakukan dengan metode Sequential Gaussian penentuan lithologi pada sumur. maka Pemodelan ini dilakukan untuk data tersebut juga menjadi bahan mengetahui sebaran parameter-parrameter pertimbangan dalam melakukan interpretasi petrofisika dengan cara pendekatan saat pengolahan data kualitatif maupun geostatistika.Padjadjaran Geoscience Journal. Berikut sequential adalah nilai yang telah istilah-istilah dalam perhitungan ketebalan disimulasikan yang akan digunakan sebagai reservoir. METODE volume shale. Pengertian Gaussian adalah proses mengetahui ketebalan batupasir sebagai sampling yang dilakukan berdasarkan reservoir sampai untuk mengetahui proses distribusi Gaussian. data Simulation. yaitu: data masukan ke dalam daerah yang tidak  Gross sand merupakan lapisan ada data berikutnya.1md sebagai net pay dan metode Aretmatika (Petrel 2002). No.02. Fungsi korelasi saat sampai asosiasi fasiesnya dapat pendistribusian sampel sehingga hubungan memperlihatkan lingkungan tempat proses jarak tersebut dapat dikuatifikasikan sedimentasinya. hubungan antar ruang. yaitu dari Penentukan lingkungan sekelompok variabel terhadap lokasi lain pengendapan dilakukan dengan cara yang tidak memiliki data. Sumatera Selatan. Akan tetapi nilai ini tetap resolusi objek yang halus menjadi lebih dihubungkan dengan nilai permeabilitas. laporan penelitian sumur-sumur ini. Vol. dan merupakan sebuah proses yang mengubah saturasi air. Februari 2018: 27-37 net pay. data well log hidrokarbon sehingga lapisan ini tersebut dapat mengetahui sifat-sifat fisika juga merupakan net reservoir yang batuan di bawah permukaan. Kemudian untuk mengetahui zona Sebelum melakukan pemodelan hidrokarbon dilakukan analisis kualitatif petrofisika. sehingga suksesi fasiesnya bertambahnya jarak. Namun telah mengalami proses cut off adanya data hasil penelitian terdahulu pada saturasi air. batuan yang mengandung minyak Metode yang digunakan untuk mempunyai permeabilitas >= 1md sebagai simulasi ini adalah metode stokastik dengan net pay. digunakan tiga proses cut off porositas efktif. merupakan pengertian dari variogram. porositas. sedangkan besarnya cadangan hidrokarbon. Sequential Gaussian Simulation berbasis Proses ini dilakukan agar dapat grid. sumur eksplorasi yang telah tersedia data  Net pay merupakan zona produktif well log nya (Gambar 4). Pada penelitian Formasi Talang  Net reservoir merupakan lapisan Akar ini yang berlokasi di Sub-cekungan gross sand yang telah mengalami Jambi.

elektrofasies dan data lithologinya 2279. dapat diasumsikan lingkungan metasedimen dengan warna beragam. berikut adalah ringkasannya. kemudian bentuk  Pada kedalaman 5700-7180ft (1738.8. jenis batuannya dominan estuary-shelf. Berdasarkan Tabel 2.  Pada kedalaman 7387-7438ft (2251.6- batupasir berbutir halus sampai kasar 2267. dapat diasumsikan lingkungan pengendapan darat-transisi pada  Pada kedalaman 7180-7296ft (2189.02. dengan kedalaman tertentu. batupasir dan batulanau.9. perselingan batupasir energi pengendapan yang membesar ke konglomratan dengan batulempung dan arah atas.294.  Pada kedalaman 7387-7450ft (2251.32m). batulanau. batuannya shale lanauan warna abu-abu.1 Penentuan Lingkungan Pengendapan berada pada daerah darat sampai transisi. berikut adalah namun terdapat juga material laut seperti ringkasannya. perselingan batupasir memperlihatkan lingkungan pengendapan konglomratan dengan batulempung Formasi Talang Akar pada Sumur WA-3 ini berada pada daerah transisi. batupasir konglomratan. batupasir halus-kasar yang tebal seperti 2295. 31 . dominan batulempung (bed perselingan yang relatif tipis-tipis dengan warna merah) dengan sedikit batulanau. jenis batuan yaitu: funnel Serrated yang menunjukan adanya perselingan batulempung. yang menunjukan material darat seperti  Pada kedalaman 7478-7530ft (2279. 2223. dan lapisan yang mengkasar ke atas dengan 2332.02m).6m). argillite. batuan dengan kedalaman tertentu. jenis batuannya perselingan dan argilisious. variasi lithologi karbonatan dan sedikit batulanau. Pada Sumur WA-3 terdapat jenis  Pada kedalaman 7296-7387ft (2223. energi pengendapan yang relatif konstan  Pada kedalaman 7590-7650ft (2314.1m).144- serrated yang menunjukan adanya lapisan 2314.294m).Analisis Fasies Dan Petrofisika Formasi Talang Akar Sub-Cekungan Jambi Sumatera Selatan (Andriansyah Permana) berdasarkan anomali log porositas dan log Berdasarkan Tabel 1. konstan dan lapisan yang mengkasar ke atas batubara.8m). batupasir lapisan perselingan yang relatif tipis-tipis (batupasir dominan sangat kasar dan dengan energi pengendapan yang relatif batupasir sangat halus-halus). jenis batulempung. jenis batuannya perselingan  Pada kedalaman 1411-1470m. dan dengan energi pengendapan yang kuarsit.144m). memadai untuk akumulasi sedimen. lapisan resistivity.5- elektrofasies bloky serrated.6- 2270. funnel dan 2189. yaitu : batugamping. dan batubara kadang batulempung. bagian fluvial pada channel bar-floodplain. variasi lithologi yang menunjukan material Pada Sumur WA-2 terdapat jenis batuan darat seperti batupasir tebal konglomratan. Hasil analisis tersebut kemudian Formasi Talang Akar yang relatif tebal dianalisis secara kuantitatif berdasarkan pada Sumur WA-2 ini mencirikan parameter-parameter petrofisikanya lingkungan pengendapan yang sangat sehingga diperoleh sebuah net pay. batupasir konglomratan dengan sisipan batulempung. Berdasarkan data elektrofasies dan data lithologi.8m). kemudian bentuk elektrofaies bloky serrated dan funnel  Pada kedalaman 7530-7590ft (2295. membesar ke arah atas.9 m). muncul beberapa lapisan.8. batugamping. batupasir dan batulanau. perselingan batulanau pada endapan channel serta batubara yang dengan batulempung dan batupasir umumnya muncul pada rawa-rawa di konglomratan. yaitu : 2251. maka dapat diduga lingkungan 4. daerah transisi. data  Pada kedalaman 7450-7478ft (2270. HASIL DAN PEMBAHASAN pengendapan Formasi Talang Akar ini 4.

5ft). dapat diasumsikan batulempung dan batupasir konglomratan lingkungan pengendapan transisi pada tebal ini diendapkan di lingkungan darat bagian estuary pada bay head delta atau pada fluvial-channel.5ft). terdapat kalah tebalnya lapisan batupasir terhadap batas Gumai yang selaras. serta elektrofasies yang menghalus ke atas dengan energi sangat bloky dan tegas diasumsikan pengendapan yang membesar juga batupasir pada lithofasies perselingan mengecil ke arah atas. lingkungan pengendapan transisi ini menunjukan bahwa proses pengendapan Pada Sumur WA-4 terdapat jenis yang sangat intensif dibarengi oleh naiknya batuan dengan kedalaman tertentu. berikut zona- sedang (secara lokal berbutir kasar) pada zonanya dengan rata-rata ketebalan 6. mengandung hidrokarbon. Batuannya berupa WA-2 ditemukan 14 zona yang menarik lapisan perselingan batubara. Zona D (MD 6374.Padjadjaran Geoscience Journal. dan sisipan ini diendapkan di lingkungan funnel serrated yang menunjukan adanya transisi pada bay head delta atau tidal lapisan perselingan yang relatif tipis-tipis fluvial channel. data 7455-7475. Zona E (MD 6418-6436. Batupasir pada zona A-J elektrofasies dan data lithologinya. Pada 6834ft). Zona C (MD dan batupasir sedang pemilahan buruk 6253. sehingga tercermin dari tidak  Pada kedalaman 1742-1976m.2 Analisis Kualitatif Zona Hidrokarbon tanda perubahan lingkungan terrestrial Talang Akar ke lingkungan fluvial/delta.5-7426. namun terdapat lithofasies perselingan batulempung dan juga material laut seperti batugamping. kemudian pada zona K-N dengan energi pengendapan yang relatif mempunyai batupasir dengan karakteristik konstan dan lapisan yang mengkasar serta konglomratan. Zona H (MD 6875. yaitu : muka air laut.5ft). serta berada pada daerah transisi. bagian bawah muncul lapisan tipis Zona I (MD 6908-6927ft).5ft). ditandai oleh batulempung warna merah yang berasosiasi dengan lapisan coal. dan Zona N (MD Berdasarkan Tabel 3. batupasir dominan saangat kasar tebal kemudian bentuk elektrofaies bloky. Adanya bentuk 32 .5-6899. bell. variasi lithologi munculnya material karbonan dan mineral yang menunjukan material darat seperti glauconite diasumsikan batupasir pada batupasir konglomratik.5ft).4m.5-6264ft). Zona Batupasir umumnya porous walaupun F (MD 6684-6706. Zona G (MD 6812- secara lokal tersementasi oleh pirit.5ft). 6402ft). Zona K (MD 7192- langsung menindihi basement. No. Februari 2018: 27-37 pengendapan transisi pada estuary pada bay elektrofasies funnel. funnel. semakin ke bawah sekuen yaitu : Zona A (MD 6181-6197. tidal fluvial channel. Zona J (MD barugamping hasil rombakan yang 6946. Vol. berikut adalah ringkasannya. 01. bervariasi untuk dianalisis lebih lanjut dan diduga batulempung dan batupasir kuarsa halus.5ft).5- sampai batupasir konglomratik. Pada anaisa kualitatif di sumur marin Lower Gumai. bagian atas.02.5ft).5ft). yaitu batulempung ke arah atas. dan bloky pada head delta atau tidal fluvial channel. Zona L (MD 7344-7357. bell. Zona berubah menjadi bervariasi batulempung B (MD 6217-6229. mempunyai ukuran yang sangat kasar memperlihatkan lingkungan pengendapan sampai halus. bloky dengan batugamping muncul sebagai serrated. 4. 7242ft).5-6956. Zona M (MD 7399. bell serrated. dengan karakteristik Formasi Talang Akar pada Sumur WA-4 ini elektrofasies bloky-bell yang tegas.

yaitu : nilai volume shale software pertofisika.7. 1954. serta memperlihatkan adanya suatu lapisan yang elektrofasies yang cenderung bloky-funnel bagus untuk reservoir minyak dan gas. ditemukan 1 zona yang menarik untuk Menurut Koesoemadinata (1980) harga dianalisis lebih lanjut dan diduga permeabilitas yang lebih dari 1000md pada mengandung hidrokarbon. yaitu : Pada Tabel 4.25-1801. Zona E (MD 1832.Analisis Fasies Dan Petrofisika Formasi Talang Akar Sub-Cekungan Jambi Sumatera Selatan (Andriansyah Permana) Pada anaisa kualitatif di sumur WA-3 bagus untuk reservoir minyak dan gas.04-1430. 4. serta elektrofasies yang sangat baik. sumur WA-3.23 pada lapisan reservoir mempunyai batupasir kasar-halus ini juga merupakan kualitas yang baik- argillaceous. net pay C memperlihatkan adanya suatu lapisan yang 33 . berkisar 0.34m). Adanya lapisan batulempung lithofasies batulempung dan batupasir yang relatif tebal dengan tercermin dari konglomratik tebal dengan batugamping data v-shale yang tinggi serta permeabilitas muncul sebagai sisipan.15. setiap zona reservoir.94m. diasumsikan yang sangat rendah menunjukan lapisan batupasir-batupasir tersebut diendapkan di tersebut dapat berperan sebagai lapisan lingkungan transisi pada bay head delta seal. seal. lapisan Formasi  Sumur WA-2. Pada zona A berkisar 0.28m).48-1827.29m.45-1792. ketebalan net pay A Talang Akar pada sumur ini 5. berikut zona. kemudian harga porositas (MD 1422.07 dan saturasi air berurutan hasil perhitunga petrofisika pada sumur WA-2. kemudian harga porositas pemilahan buruk sampai batupasir berkisar 0.5m. Pada anaisa kualitatif di sumur WA-4 Pada Tabel 5. net pay B 4. Menurut Koesoemadinata (1980) harga yaitu : Zona A (MD 1784. zonanya dengan rata-rata ketebalan 7. Zona D (MD yang istimewa.2 pada lapisan reservoir ini juga 1844.58m). Pada zona A-E mempunyai Pada Tabel 6. dan Zona F (MD 1946. porositas >= 0. berikut secara <= 0. permeabilitas yang lebih dari 1000md pada Zona B (MD 1797.67. yaitu : Zona A yang istimewa. atau tidal fluvial channel. Zona C lapisan reservoir ini merupakan kualitas (MD 1805. merupakan kualitas sangat baik. pada lithofasies perselingan batupasir Menurut Koesoemadinata (1980) harga halus-kasar tebal dan batulempung dengan permeabilitas yang lebih dari 1000md pada batubara muncul sebagai sisipan. serta ini juga merupakan kualitas yang baik- elektrofasies yang cenderung bloky pada sangat baik. kemudian harga porositas 1821.58m).22m).16-0.16-0.21 pada lapisan reservoir konglomratik umumnya porous. kemudian lapisan reservoir ini merupakan kualitas pada zona F mempunyai batupasir sedang yang istimewa. lapisan Formasi batupasir batupasir kuarsa halus-sedang Talang Akar pada sumur ini (secara lokal berbutir kasar). Adanya lapisan batulempung cenderung bloky diasumsikan batupasir yang relatif tebal dengan tercermin dari pada lithofasies batupasir halus-kasar tebal data v-shale yang tinggi serta permeabilitas dan batulempung ini diendapkan di yang sangat rendah menunjukan lapisan lingkungan transisi pada bay head delta tersebut dapat berperan sebagai lapisan atau tidal fluvial channel. Sehingga diperoleh net pay pada WA-4.1 Analisis Kuantitatif Zona 4. lapisan Formasi ditemukan 6 zona yang menarik untuk Talang Akar pada sumur ini dianalisis lebih lanjut dan diduga memperlihatkan adanya suatu lapisan yang mengandung hidrokarbon.06m).3.48-1811.54m.76.3 Analisis Kuantitatif Petrofisika Hidrokarbon Pada analisa kuantitatif berupa Pada Sumur WA-2 diperoleh nilai perhitungan parameter-parameter cut off berdasarkan nilai permeabilitas petrofisika ini digunakan dengan bantuan efektif >= 1md. bagus untuk reservoir minyak dan gas. dan sumur <= 0.83m). berikut zonanya lapisan reservoir ini merupakan kualitas dengan ketebalan 8.

yaitu berada pada 4. nilai cut off berdasarkan nilai kemudian volume shale. net pay H 8. 3. dan net pay N 6.16m. Sehingga kecendrungan arah sebarannya cukup diperoleh net pay pada setiap zona berkaitan dengan parameter-parameter reservoir.Padjadjaran Geoscience Journal.69.35m. yaitu : baik-istimewa.4 Model Sebaran Parameter hidrokarbon.05m.04m. net pay D 9.05m menyebabkan korelasi antar bagian bawah 34 . dan tidak selaras dengan Formasi Lahat yang paling tipis net pay Zona B 3. dan net pay F 8. ketebalan net pay A diketahui lingkungan pengendapan pada 7. pada Sumur WA-3 Diketahui bahwa pada bagian atas terdapat 1 zona.05m.02. porositas efektif. net pay I diendapkannya Formasi Talang Akar.46m. 5b dan 5c. 01. net pay C daerah penelitian ini. transgresi pada lingkungan transisi.075 dan saturasi air <= 0.52. Februari 2018: 27-37 4. net pay E lingkungan darat-transisi secara spesifik fluvial-estuarin. sebaran volume shale.69. terlihat jelas sebaran parameter petrofisika pada batuan Formasi Talang Akar. Vol.4m. Dari hasil analisis kualitatif didapat zona yang menarik untuk dianalisis lebih lanjut yang diperkirakan terdapat 4. 11.07m.05m.49m.34m.41m. porositas dan permeabilitas efektif >= 1md. ketebalan net Akar pada setiap sumur ini cukup bisa pay Zona A 8.25m.24m. batubara dan kualitas reservoir. seperti semakin besarnya nilai volume shale maka porositas  Sumur WA-3. yaitu : petrofisika lainnya.083 dan saturasi air <= 0. net pay D 5. net pay G mencerminkan morfologi saat sedang 6.09m.69m. diterima dan dapat dilakukan. yaitu : pada Sumur WA-2 Petrofisika terdapat 14 zona. net pay B 3. Sehingga diperoleh net pay pada setiap zona 5. net pay E Formasi Talang Akar pada setiap sumur 7.04m. yaitu : barat laut-tenggara) sesuai pola struktur dan nilai volume shale <= 0. porositas >= sebaran batuan 0. No.57. net pay K 12.53m. Kemudian Pada Sumur WA-4. dan yang paling tipis net morfologi yang digenanginya. yaitu : Pada Sumur WA-3 diperoleh semakin ke arah timur laut semakin dalam. 8. yaitu : saturasi air mempunyai nilai-nilai tertentu nilai volume shale <= 0. Variasi batuan tersebut Diperoleh juga net pay berdasarkan nilai- mencirikan hasil pengendapan proses nilai cut off pada masing-masing sumur.43m. dan pada Sumur WA-4 Formasi Talang Akar mengandung terdapat 6 zona. net pay M Berdasarkan Gambar 5a. yaitu : Berdasarkan analisis fasies  Sumur WA-4. sehingga pay Zona J 3. ketebalan net pay A mengecil. net pay J 3. batugamping.43m. Kemudian dilakukan batulempung yang tebal dengan batuan analisis kuantitatif sehingga diketahui penyisip berupa batupasir. porositas >= pada perlapisan-perlapisan tertentu.11m. namun 0. ketebalan yang bagian bawah Formasi Talang Akar yang paling tebal net pay Zona E 11. net pay F 7. dan Pada Sumur WA-4 diperoleh saturasi air dengan variogram major nilai cut off berdasarkan nilai direction orientation azimuth 50o (relatif permeabilitas efektif >= 1md. korelasi antar bagian atas Formasi Talang  Pada Sumur WA-3. net pay L 5.69m. KESIMPULAN reservoir. Berikut statik model atau model 8.23m. yaitu : Pengendapan batulempung saat proses  Pada Sumur WA-2 ketebalan yang genang air laut ini akan menyebabkan paling tebal net pay Zona K sebaran batuannya jauh melampar pada 12.

selaku dosen pembimbing. South Sumatera. 1967. R.G...R. diakses tgl 1 April Pulunggono.. Ancient Sedimentary Symposium. R. Edisi Selley. 2002. U. Academic Press. A. J. M. H Freeman & Petrel..S. Hansen. L. Log Interpretation Geologi Lembar Baturaja. N. Computer Selley. W. 1974. Gafoer. IPA 20th Annual Convention. dan Walker R. 1956.. G.. bermanfaat bagi penulis. Jakarta..spec2000..C..net/12- phivisual. Trans. 1985. Revisited Sepm sediments of the Djambi (Society for Sedimentary Palembang area. 1984. Minyak dan Gas Bumi.. New York. berkat beliau karya tulis ilmiah ini bisa Pulunggono. Chapman and Hall. 2006. Penerbit ITB..A..Analisis Fasies Dan Petrofisika Formasi Talang Akar Sub-Cekungan Jambi Sumatera Selatan (Andriansyah Permana) UCAPAN TERIMAKASIH South Sumatera Basins. Djumlati. Texas. Houston. Keener. Applied sedimentology. Their Characteristics and Their Role in the Evolution of the Central and 35 .W. Houston. MT. Environments. Koesoemadinata R. SPWLA 6th Annual Logging Selley. Pertamina Geology). Coordinated Core and Log 2nd Ed. MT. Jilid 2.Si.C. Company. Sumatera Microplates. Oklahoma: Special Internal Report. 255-277. 1976.htm. saran-saran serta masukan- of hydrocarbon potensials in masukannya yang membangun akan selalu sedimentary basins of Indonesia. Schlumberger. Laporan Schlumberger. L.. Terimakasih kepada Bapak Yusi Proceedings Indonesian Firmansyah S.P. R. N. Proceeding Convention IPA. Recent knowledge tersusun. Penelitian dan Pengembangan Schlumberger Educational Geologi. Petrel 2002 : Manual. DAFTAR PUSTAKA Sardjito. Juni 1974. Pusat Principles and Application. p. dan Cameron. vol. The Geology of the 1991. 1988. De Coster. A. C. AAPG Memoir 25. dalam Francisco. Elements of Petroleum kedua. Pardede. S dan R. S. 1970. (https://www. Publications SEPM Special Sumber dari internet : Publication 84 Tulsa.. Geologi London. 1980. Subdivisions and Posamentier. H. E. Spruyt. 1991. Service. Proceedings 3rdAnnual Area. 1. karena Annual Convention. USA. San Interpolation. Fadianto. Geology. 2017)g. H. dan Faisal Helmi Petroleum Association (IPA) 13th ST. Bandung. 2000. nomenclature of the Tertiary Facies Models. Hydrocarbon Prospect of Central and South Sumatera Pre Tertiary Basement in Kuang Basin.

No.02. Februari 2018: 27-37 36 .Padjadjaran Geoscience Journal. Vol. 01.

Analisis Fasies Dan Petrofisika Formasi Talang Akar Sub-Cekungan Jambi Sumatera Selatan (Andriansyah Permana) 37 .