You are on page 1of 18

REKAYASA PENAKAR HUJAN SEDERHANA

UNTUK MENDUKUNG MITIGASI DAN ADAPTASI PERUBAHANAN IKLIM

Oleh :
Hunggul Y.S.H. Nugroho
Peneliti Madya Bidang Hidrologi dan Konservasi Tanah
Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BP2LHK) Makassar
Jl. Perintis Kemerdekaan Km. 16,5 Sudiang, Makassar, Sulawesi Selatan
Email : hunggulys@yahoo.com; hunggulys@forda-mof.org

ABSTRAK

Pemahaman karakter hujan adalah faktor penting penunjang keberhasilan upaya mitigasi dan
adaptasi perubahan iklim serta pengembangan sistem peringatan dini bencana banjir dan
longsor pada suatu daerah. Tanpa data curah hujan yang akurat dalam jumlah yang cukup,
upaya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim serta pengembangan sistim peringatan dini
tidak akan berhasil optimal. Untuk hasil analisis yang akurat, data curah hujan yang
diperlukan adalah curah hujan rata-rata dari beberapa titik pengamatan curah hujan yang
merepresentasikan curah hujan wilayah, bukan curah hujan pada suatu titik tertentu.
Semakin banyak alat penakar hujan dipasang pada daerah-daerah yang mempunyai curah
hujan yang beragam, data curah hujan area yang diperoleh akan semakin baik. Pada
kenyataanya, data curah hujan yang ada saat ini sangat terbatas karena terbatasnya jumlah
alat penakar hujan dan keterbatasan pengamat. Keterbataasan data ini terutama terjadi di
daerah hulu DAS yang sesungguhnya merupakan wilayah yang memberikan kontribusi
penting pada kejadian banjir. Alat penakar hujan milik BMG dan Departemen Pertanian pada
umumnya dipasang di daerah tengah dan hilir DAS. Alat penakar hujan buatan pabrik yang
ada selama ini, selain mahal, apabila mengalami kerusakan untuk memperbaikinya diperlukan
tenaga terampil khusus, sehingga banyak alat penakar hujan terpasang di lapangan yang
rusak dan dibiarkan tidak berfungsi. Untuk menjawab persoalan di atas, BP2LHK Makassar
merancang alat penakar hujan sederhana, murah dan apabila rusak mudah diperbaiki yang
diberi nama ATHUS (Alat Takar Hujan Sederhana). Tujuannya adalah untuk mengatasi
persoalan kekurangan data hujan melalui penyediaan alat penakar hujan alternatif. ATHUS
adalah alat penakar hujan manual dari pipa PVC. Berbeda dengan penakar hujan manual tipe
ombrometer yang pengukuran curah hujannya memerlukan gelas ukur, pada ATHUS fungsi
gelas ukur digantikan oleh pembacaan pada pipa transparan berskala yang terpasang di luar
tabung. Pendayagunaan ATHUS untuk pengamatan curah hujan dengan konsep utuh diakui
oleh Kementerian Riset dan Teknologi sebagai salah satu dari 102 inovasi paling prospektif di
Indonesia tahun 2010. Selanjutnya, dalam Peraturan Dirjen PHKA no P.07/IV-SET/2014
tentang Pedoman Inventarisasi SD Air di Kawasan Konservasi, ATHUS direkomendasikan
sebagai alat yang digunakan untuk pengamatan curah hujan.

Kata Kunci : curah hujan, mitigasi, adaptasi, perubahan iklim, peringatan dini

07 / IV-SET / 2014 on Guidelines for Water Resources Inventory in Conservation Areas. Subsequently. ATHUS was recommended as a tool for observation of rainfall. Nugroho Hydrology and Soil Conservation Researcher Environment and Forestry Research and Development Institute of Macassar Jl. SIMPLE RAIN GAUGE ENGINEERING TO SUPPORT CLIMATE CHANGE MITIGATION AND ADAPTATION By : Hunggul Y. 16. early warning . there must be data of an average rainfall over an area collected from several rainfall observation stations. Perintis Kemerdekaan Km. In contrast to a factory-made rain gauge which need a measuring glass to measure the rainfall. Without accurate rainfall data in sufficient quantities. hunggulys@forda-mof. The lack of data mainly occurs in the upstream watershed which provides important contributions to the flood event. causing many rain gauge in field is not functioning. A Rain gauge installed by BMG and the Ministry of Agriculture are generally mounted in the middle and lower area of the watershed. The more rain gauge in such area with diverse rainfall. ATHUS is a manual rain gauge made from PVC pipe. For accurate analysis results. BP2LHK Makassar designing a rain gauge which is simple. Sulawesi Selatan Email : hunggulys@yahoo. Makassar. Factory-made rain gauge. adaptation. P.H. In fact. The aim is to overcome the problem of rainfall data limitation through the provision of an alternative rain gauge. in addition to expensive. the rainfall data is currently very limited due to the limited amount of installed rain gauge and the limitation of observer. in The Director General of Forest Protection and Nature Conservation regulation No. Key words : rainfall data.S.org ABSTRACT An understanding of rain characters is an important factor of supporting the success of climate change mitigation and adaptation efforts and development of early warning system for floods and landslides disaster of certain area. To solve the problem above. mitigation. not rainfall data from a single station.com. The use of ATHUS for rainfall observation in the whole concept was recognized by the Ministry of Research and Technology as one of the 102 most prospective innovation in Indonesia in 2010. inexpensive and easy to use named ATHUS. in ATHUS the function of measuring glass is replaced by a transparent pipe with scale installed outside the tube. the better data acquired. climate change. mitigation and adaptation of climate change and early warning system will not work optimally.5 Sudiang. there must be a special technician to repair when damaged.

Kegiatan dimulai pada tahun 2003 dengan merancang alat penakar hujan sederhana yang diberi nama ATHUS (Alat Takar Hujan Sederhana). Data hujan yang digunakan hanya berasal dari alat penakar yang berada di stasiun klimatologi yang cukup jauh dari lokasi kegiatan yang nota bene memiliki karakteristik hujan yang berbeda dengan dengan data yang ada. Balai Penelitian dan Pengembangan LHK merancang model pengumpulan data hujan dan pengelolaannya berbasis masyarakat. Pengabaian karakter curah hujan akan mengakibatkan terjadinya kegagalan yang berujung pada kerugian waktu. PENGELOLAAN DATA HUJAN PARTISIPATIF BERBASIS MASYARAKAT LATAR BELAKANG Pemahaman karakter curah hujan adalah salah satu faktor penentu keberhasilan dalam pengelolaan sumberdaya lahan. kemitraan dan pemberdayaan. ATHUS dipasang di sekolah-sekolah SD yang tersebar di pelosok-pelosok desa. tepat. Tanpa data yang akurat dalam jumlah yang cukup . upaya ini juga dimaksudkan untuk memperkenalkan IPTEK sedini mungkin kepada generasi penerus di hulu DAS. Data ini kemudian akan dikumpulkan secara bertahap di kelurahan. dan kontinuitas pengamatan. ATHUS (Gambar 1) adalah alat penakar hujan yang murah dan mudah digunakan dan dirancang untuk mengatasi masalah keterbatasan data curah hujan. Untuk menjawab persoalan diatas. maka data hujan yang bisa dipakai untuk perencanaan pengelolaan SDA maupun pengendalian bencana banjir dan longsor akan lebih baik.. Alat penakar hujan milik BMG (Badan Meteorologi dan Geofisika) dan Departemen Pertanian pada umumnya dipasang di daerah tengah dan hilir DAS yang secara teknis tidak mampu merepresentasikan kondisi curah hujan dibagian hulu yang menjadi sumber air banjir. Pemahaman karakter curah hujan juga sangat penting dalam upaya mitigasi dan adaptasi bencana banjir dan longsor serta membangun sistem peringatan dini. tenaga. Pengukuran curah hujan dilakukan oleh anak-anak SD di sekolah-sekolah yang berada di hulu DAS. Kegiatan utama adalah pemasangan alat penakar hujan dan pencatatannya pada daerah-daerah di hulu DAS yang mempunyai karakter curah hujan berbeda. berdaya guna dan berhasil guna. Pencatatan data hujan bisa dilaksanakan oleh murid dari kelas IV SD keatas secara bergiliran. Selain untuk keamanan alat. . maupun biaya. Pada kenyataannya data curah hujan yang dibutuhkan sangat terbatas sebagai akibat terbatasnya jumlah alat penakar hujan terpasang khususnya pada hulu DAS. PENGELOLAAN DATA HUJAN PARTISIPATIF BERBASIS MASYARAKAT (Korelasi dengan program ”Kampung Iklim”) Model pengelolaan data curah hujan berbasis masyarakat dirancang untuk mendukung kebutuhan data hujan untuk perencanaan pengelolaan sumberdaya alam dan mitigasi bencana dengan prinsip- prinsip : cepat. sistem peringatan dini dan upaya mitigasi bencana yang akan dilaksanakan tidak akan akurat. Semakin banyak wilayah yang terwakili informasi hujannya. kecamatan dan terakhir di Kabupaten.

Pada hari ke 5 atau 6 data semua kecamatan diharapkan sudah terkumpul di kantor kabupaten atau lembaga tertentu yang ditunjuk. Dalam satu desa. Biaya pengamatan tidak diberikan dalam bentuk uang namun diberikan dalam bentuk indentif buku. biaya insentif pengamat (anak sekolah) dihitung per tahun. Data curah hujan yang dicatat dari setiap sekolah dua hari sekali dikumpulkan ke kantor desa setempat. Setiap instansi pengguna data bisa memperoleh data di kantor kabupaten. ATHUS direkomendasikan sebagai alat yang digunakan untuk pengamatan curah hujan. bangunan konservasi maupun sarana-prasarana lain. Selanjutnya. kekurangan tenaga pengamat dapat diatasi dan sekaligus pemasyarakatan IPTEK kepada siswa-siswa dan aparat pemerintah daerah di pelosok. ketersediaan data yang akurat dan mampu merepresentasikan kondisi riil curah hujan akan sangat mempengaruhi keberhasilan. PENUTUP ATHUS adalah alat penakar hujan sederhana yang murah dan mudah dibuat. jumlah ATHUS terpasang di dekati berdasarkan informasi sebaran variasi curah hujan dari masyarakat dikombinasikan dengan konfigurasi topografi. Informasi ini selain berguna untuk pengelolaan SDA pada level kabupaten.-. fasilitas sekolah dan lainnya.000. Dengan pemasangan ATHUS secara massal di hulu-hulu DAS. Data curah hujan di tingkat kabupaten bisa merupakan data mentah maupun data hujan yang sudah diolah. dan biaya insentif pengumpul dan pengolah data. 350. Di samping itu dengan pemasangan ATHUS di sekolah dan pendayagunaan siswa serta aparat pemerintah desa. Dalam pemilihan komoditi tanaman. ATHUS dapat diaplikasikan untuk berbagai kebutuhan mendasar dalam pengelolaan pengelolaan sumberdaya lahan maupun antisipasi banjir dan longsor. dibutuhkan waktu 2-3 tahun pengamatan. Biaya yang diperlukan terdiri dari biaya pengadaan ATHUS (satu kali). Sasaran lainnya adalah pengenalan IPTEK sedini mungkin dan peningkatan sadar bencana pada masyarakat yang bermukim di daerah rawan bencana maupun di daerah yang potensial menjadi kontributor terjadinya bencana Kegiatan ini terdiri dari tiga rangkaian kegiatan yaitu : pengukuran. dan perancangan bangunan-bangunan air. penentuan jadwal waktu pengelolaan lahan. Hal lain yang tidak kalah penting adalah meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang iklim khususnya curah hujan dan hubungannya dengan lingkungan. Biaya pengadaan satu unit ATHUS saat ini Rp. . Pada hari ke 3 data dikirim dari desa ke kecamatan. Pendayagunaan ATHUS untuk pengamatan curah hujan dengan konsep utuh diakui oleh Kemenristek sebagai salah satu inovasi paling prospektif di Indonesia tahun 2010 (Gambar 1).07/IV-SET/2014 tentang Pedoman Inventarisasi SD Air di Kawasan Konservasi. dalam Peraturan Dirjen PHKA no P. dan pengolahan data curah hujan. pengumpulan. juga bermanfaat bagi Desa itu sendiri dalam pengelolaan lahan dan peningkatan sadar bencana. dan kecepatan lalu lintas data guna membangun sistem informasi yang tepat. kendala kekurangan data hujan dalam perencanaan pengelolaan sumberdaya alam dan mitigasi banjir dan longsor dapat di minimalkan. Untuk membangun basis data di tingkat desa.Sasaran kegiatan adalah menjawab keterbatasan data akibat keterbatasan alat dan tenaga pengamat. cepat dan akurat.

ATHUS (Alat Takar Hujan Sederhana) BP2LHK Makassar Gambar 2. Serifikat penghargaan Inovasi Indonesia 2010 .Gambar 1.

Tanpa data yang akurat dalam jumlah yang cukup. Pengabaian karakter curah hujan akan mengakibatkan terjadinya kegagalan yang berujung pada kerugian waktu. ATHUS (ALAT TAKAR HUJAN SEDERHANA): ALAT PENAKAR HUJAN SEDERHANA UNTUK MENDUKUNG SISTEM PERINGATAN DINI BENCANA BANJIR DAN LONGSOR ABSTRACT ATHUS adalah alat penakar hujan sederhana yang murah dan mudah dibuat. kendala kekurangan data hujan dalam perencanaan pengelolaan sumberdaya alam dan mitigasi banjir dan longsor dapat di minimalkan. tenaga. Melalui pemasangan ATHUS di sekolah dan pendayagunaan siswa serta aparat pemerintah desa. 1999). Pemahaman karakter curah hujan juga sangat penting dalam upaya mitigasi dan adaptasi bencana banjir dan longsor serta membangun sistem peringatan dini. Curah hujan yang diperlukan untuk penyusunan suatu rancangan pemanfaatan air dan rancangan pengendalian banjir adalah curah hujan rata-rata di seluruh daerah yang bersangkutan. Curah hujan ini disebut curah hujan wilayah/daerah dan dinyatakan dalam milimeter (mm) (Sosrodarsono dan Takeda. Curah hujan daerah ini harus . PENDAHULUAN Pemahaman karakter curah hujan adalah salah satu faktor penentu keberhasilan dalam pengelolaan sumberdaya lahan. maupun biaya. bukan curah hujan pada suatu titik tertentu. kekurangan tenaga pengamat dapat diatasi dan sekaligus pemasyarakatan IPTEK kepada anak-anak sedini mungkin dan aparat pemerintah daerah di pelosok. sistem peringatan dini dan upaya mitigasi bencana yang akan dilaksanakan tidak akan akurat. Dengan pemasangan ATHUS secara massal di hulu-hulu DAS.

DESKRIPSI ATHUS ATHUS adalah model penakar hujan yang rancangan dasarnya mengambil model ombrometer (alat penakar hujan standar) ukuran 100 ml. Alat penakar hujan milik BMG (Badan Meteorologi dan Geofisika) dan Departemen Pertanian pada umumnya dipasang di daerah tengah dan hilir DAS yang secara teknis tidak mampu merepresentasikan kondisi curah hujan dibagian hulu yang menjadi sumber air banjir. Pada kenyataannya data curah hujan yang tersedia sangat terbatas sebagai akibat terbatasnya jumlah alat penakar hujan terpasang khususnya pada hulu DAS. Untuk menjawab persoalan diatas. ATHUS adalah alat penakar hujan yang murah dan mudah digunakan dan dirancang untuk mengatasi masalah keterbatasan data curah hujan. Data hujan yang digunakan hanya berasal dari alat penakar yang berada di stasiun klimatologi yang cukup jauh dari lokasi kegiatan yang nota bene memiliki karakteristik hujan yang berbeda dengan dengan data yang ada. Perbedaan dengan ombrometer adalah pada bahannya. Semakin banyak alat penakar hujan dipasang pada daerah-daerah yang mempunyai curah hujan yang beragam.diperkirakan dari beberapa titik pengamatan curah hujan. data curah hujan area yang diperoleh akan semakin baik. Balai Penelitian dan Pengembangan LHK merancang alat penakar hujan sederhana yang yang diberi nama ATHUS (Alat Takar Hujan Sederhana). dimana ombrometer terbuat dari aluminium sedangkan ATHUS terbuat dari pipa paralon (PVC). .

Kiri : ATHUS (Alat Takar Hujan Sederhana) Kanan : Tera ukur pada pipa acrylic transparan Spesifikasi ATHUS : Bahan Utama : Penampung : Pipa PVC 3” panjang 350 mm. diamater dalam 85 mm Cover : Pipa PVC 4” panjang 400 mm Pipa Tera : Pipa Acrilic diameter luar 25mm.Berbeda dengan OMBROMETER yang ada di pasaran yang pengamatannya menggunakan gelas ukur. Gambar 1. diameter dalam 21mm.5” Bahan lainnya : . dengan ATHUS data curah hujan harian dicatat dari tera yang ada di pipa transparan yang mengambarkan ketinggian curah hujan pada waktu tertentu. panjang 400 mm Mulut penakar : Pipa PVC 3” panjang 150 mm Ukuran CH maksimal : 350 mm Keran buangan : keran 0.

Bahan yang digunakan untuk pembuatan ATHUS pada dasarnya merupakan bahan-bahan yang mudah diperoleh di toko-toko bahan bangunan di kota kecamatan sekalipun. T PVC 0. Tutup pipa PVC 3” . Berbeda dengan ombrometer yang ada di pasaran. Penggunaan pipa transparan berskala lebih praktis dibandingkan dengan penggunaan gelas ukur. Penggunaan pipa transparan berskala yang terbuat dari pipa acrylic ini dimaksudkan untuk mengatasi kendala dalam pengamatan hujan dengan gelas ukur. Pembuatan ATHUS menggunakan rancangan dasar penakar hujan manual standar model ombrometer ukuran 100 ml.. Over shock PVC 3x4” . murah. Shock drat luar PVC 0. Persoalan kehilangan data seringkali dipicu oleh gelas ukur yang pecah sehingga ada kekosongan data akibat menunggu adanya gelas ukur baru yang didatangkan dari kota.5” . Perbedaan dengan ombrometer adalah pada bahannya.5” .5” . pengukuran curah hujan pada ATHUS tidak lagi menggunakan gelas ukur melainkan melalui pipa transparan yang dihubungkan dengan tabung penampung air hujan. . Shock drat dalam PVC 0. dan mudah dibuat yang diharapkan mampu menjawab persoalan mendasar mengenai kebutuhan akan alat penakar hujan.5” . Sambungan lurus PVC 3” . Elbow PVC 0. Dengan adanya ATHUS dapat dimungkinkan pemasangan penakar hujan di hulu-hulu DAS kritis secara masal sehingga kebutuhan akan data hujan dapat terpenuhi sesuai kebutuhan. Tutup Pipa PVC 4” KEUNGGULAN TEKNOLOGI ATHUS adalah alat penakar hujan yang sederhana.

Curah hujan yang diperlukan untuk penyusunan suatu rancangan pemanfaatan air dan rancangan pengendalian banjir dan longsor . dan perancangan bangunan-bangunan air. POTENSI APLIKASI Dengan harganya yang murah dan mudah penggunaannya. bangunan konservasi maupun sarana-prasarana lain. kendala keterbatasan anggaran pemerintah untuk memasang dan membayar tenaga pengamat curah hujan dibanyak tempat tersebut dapat diatasi dengan pemasangan ATHUS di sekolah-sekolah SD/SMP yang tersebar di pelosok pelosok desa. Skala pada pipa transparan ditentukan berdasarkan perhitungan luas penampang tabung utama dan luas penampang pipa acrilic sehingga angka terbaca pada skala sudah disamakan dengan ketinggian/kedalaman air hujan yang jatuh (dalam mm). ketersediaan data yang akurat dan mampu merepresentasikan kondisi riil curah hujan akan sangat mempengaruhi keberhasilan. penentuan jadwal waktu pengelolaan lahan. Dengan adanya ATHUS yang murah dan mudah. kapasitas tampung curah hujan yang bisa diukur dengan athus adalah 350 mm. Sebagai alat penakar curah hujan harian. ATHUS dapat diaplikasikan untuk berbagai kebutuhan mendasar dalam pengelolaan pengelolaan sumberdaya lahan maupun antisipasi banjir dan longsor.Pembacaan skala pada pipa transparan ini sesuai dengan prinsip bejana berhubungan dimana ketinggian air di dalam bak penampung sama dengan ketinggian air di dalam pipa berskala. Dalam pemilihan komoditi tanaman.

adalah curah hujan rata-rata di seluruh daerah yang bersangkutan. data hujan yang digunakan berasal alat penakar yang berada di stasiun klimatologi yang cukup jauh dari rencana lokasi kegiatan yang memiliki karakteristik hujan yang berbeda dengan data yang ada. disamping mahal dan tidak mudah diperoleh. Semakin banyak wilayah yang terwakili informasi hujannya. Semakin banyak alat penakar hujan terpasang pada daerah dengan topografi beragam. Alat curah hujan yang ada saat ini sangat terbatas sebagai akibat mahalnya harga alat dan juga sulitnya alat ini diperoleh di pasaran. upaya ini juga dimaksudkan untuk memperkenalkan IPTEK sedini mungkin kepada generasi penerus di hulu DAS yang seringkali menjadi tumpuan kesalahan ketika terjadi bencana banjir dan longsor. dan kontinuitas pengamatan. sehingga banyak alat penakar hujan terpasang di lapangan rusak dan dibiarkan tidak berfungsi. ATHUS dipasang di sekolah-sekolah SD yang tersebar di pelosok- pelosok desa di hulu DAS. apabila mengalami kerusakan yang untuk memperbaikinya diperlukan tenaga terampil khusus. Alat penakar hujan buatan pabrik yang selama ini banyak dipergunakan berbagai instansi. data curah hujan area yang diperoleh akan semakin baik. Pencatatan data hujan bisa dilaksanakan oleh murid dari kelas IV SD keatas secara bergiliran. Seringkali dalam perencanaan pengelolaan lahan. bukan curah hujan pada suatu titik tertentu. Selain untuk keamanan alat. . maka data hujan yang bisa dipakai untuk perencanaan pengelolaan SDA maupun pengendalian bencana banjir dan longsor akan lebih baik.

Data curah hujan hari tersebut dimasukkan ke dalam tally sheet seperti pada contoh berikut : Contoh .3 adalah hujan harian. seperti misalnya kerusakan alat. Tanggal Curah Hujan Keterangan Aktual (mm) 1 1 2 2 3 3 … … 31 31 Jumlah Bulubalea. 31 Desember 2005 (Nama Pengamat) Kolom nomor merupakan kolom jumlah hari hujan.PENGUKURAN DAN ANALISA DATA Pengukuran Data curah hujan yang diperoleh dari ATHUS ver. Pada contoh di atas. Kolom keterangan diisi dengan penjelasan mengenai segala sesuatu yang berkaitan dengan pengukuran. Pada kolom keterangan dituliskan waktu . Pencatatan data curah hujan dilakukan setiap hari pada jam 7 pagi melalui pembacaan langsung. sedangkan kolom tanggal merupakan kolom waktu kejadian hujan. TABEL PENGAMATAN CURAH HUJAN HARIAN NAMA STASIUN : Bulubalea BULAN : Desember TAHUN : 2005 No. kolom curah hujan merupakan data curah hujan actual.

garis isohyet. disamping data curah hujan titik (data tunggal dari satu stasiun). dst). data curah hujan area yang diperoleh akan semakin baik. cara garis potongan antara (intersection line method). siang. Atau paling tidak bisa disampaikan saat kejadian hujan seperti pagi. data curah hujan sering dimanfaatkan dalam bentuk curah hujan area. Curah hujan daerah ini harus diperkirakan dari beberapa titik pengamatan curah hujan. poligon thiessen.berlangsungnya hujan yaitu jam mulai dan jam berakhir hujan. . dua cara yang paling sering dipakai karena relatif lebih muda dibandingkan cara lain. Keterangan seperti ini penting sekali terutama apabila kita ingin menganalisa suatu kejadian erosi. cara dalam elevasi (Depth-elevation method). Semakin banyak alat penakar hujan dipasang pada daerah-daerah yang mempunyai curah hujan yang beragam. atau sore dan perkiraan lamanya hujan (1 jam. Keterangan ini bisa digunakan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti : mengapa volume curah hujan yang sama bisa menghasilkan erosi yang berbeda ? mengapa volume curah huja harian yang lebih kecil justru mengakibatkan erosi yang lebih besar dibandingkan dengan suatu kejadian lain yang volume hujannya lebih besar ? Analisa data hujan Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Data curah hujan seperti ini umumnya digunakan untuk perencaanaan dalam skala catchments area (daerah tangkapan) misalnya untuk penyusunan suatu rancangan pemanfaatan air dan rancangan pengendalian banjir. Terdapat banyak cara untuk menghitung curah hujan wilayah antara lain cara rata-rata aljabar. Berikut disampaiakan cara perhitungan curah hujan rata-rata dengan rata-rata aljabar dan poligon thiessen. 2 jam.

.. hasil yang diperoleh dengan cara ini tidak berbeda jauh dari hasil yang diperoleh dengan cara lain.1). 2) Cara Poligon Thiessen Apabila titik pengamatan tidak tersebar merata. Cara rata-rata aljabar Cara ini adalah perhitungan rata-rata secara aljabar curah hujan di dalam dan di sekitar daerah yang bersangkutan.. STA 1 STA 2 STA 3 STA 4 STA 5 STA 5 STA 6 .. + Rn : curah hujan di setiap titik pengamatan (mm). Ř = 1/n (R1 + R2 + . maka dipergunakan pendekatan yang berbeda dengan cara rata-rata yaitu dengan mempergunakan daerah yang terpengaruh oleh masing- masing titik alat. + Rn) Dimana : Ř = Curah hujan daerah (mm) N : jumlah titik-titik (pos-pos pengamatan) R1 + R2 + . Apabila jumlah titik pengamatan banyak dan tersebar merata diseluruh daerah. Keuntungan dari cara ini adalah obyektivitas yang berbeda dengan cara lain yang melibatkan unsur subyektivitas.

. A2. An di dalam peta topografi skala 1 : 50. . A A A Untuk menentukan A1.2.. . … n = nomor stasiun A1 A2 An W1. W2.  An A1R1  A2 R 2  ...... + WnRn dimana : Ř = curah hujan daerah R1. dipergunakan cara sebagai berikut : 1.. A1.. . Wn = .. . Curah hujan didalam .. A2. . Rn = curah hujan di tiap alat (stasiun pengamatan) dan n adalah jumlah titik alat.. gambarkan garis bagi tegak lurus pada setiap sisi segitiga untuk membentuk poligon-poligon. hubungkan masing-masing titik alat yang berdekatan dengan garis lurus sehingga terbentuk jaringan segitiga-segitiga 3.3.. An. AnRn = A = W1R1 + W2R2 + .. AnRn Ř = A1  A2  .Curah hujan daerah itu dapat dihitung dengan persamaan sebagai berikut : A1R1  A2 R 2  ... An = bagian daerah yang mewakili setiap titik alat 1. Tentukan titik-titik A1. .000 2.. A2.. R2.. ..

Pada hari ke 5 atau 6 data semua kecamatan diharapkan sudah terkumpul di kantor kabupaten atau lembaga tertentu yang ditunjuk. Setiap instansi pengguna data bisa memperoleh data di kantor kabupaten. Pada hari ke 3 data dikirim dari desa ke kecamatan. Di samping itu dengan pemasangan ATHUS di sekolah dan pendayagunaan siswa serta aparat pemerintah desa. Kesulitan akan terjadi apabila terjadi kehilangan data pada satu atau lebih titik alat maka perlu dilakukan kembali tahapan pembuatan poligon-poligon yang baru. Cara poligon thiessen memberikan hasil yang relatif lebih teliti dibandingkan cara aljabar rata-rata. Penyimpanan Data dan Arus Data/Informasi Data curah hujan yang dicatat dari setiap sekolah dua hari sekali dikumpulkan ke kantor desa setempat. Dengan pemasangan ATHUS secara massal di hulu-hulu DAS. PENUTUP ATHUS adalah alat penakar hujan sederhana yang murah dan mudah dibuat. Data curah hujan di tingkat kabupaten bisa merupakan data mentah maupun data hujan yang sudah diolah. kendala kekurangan data hujan dalam perencanaan pengelolaan sumberdaya alam dan mitigasi banjir dan longsor dapat di minimalkan. Analisas data ini bisa dilakukan di Bank Data (Kabupaten) atau di tingkat pengguna. ukur luas setiap poligon dengan menggunakan planimeter untuk menghitung luas wilayah yang diwakili oleh setiap alat pada masing-masing poligon tersebut. poligon dianggap diwakili oleh curah hujan dari alat penakar dalam poligon tersebut 4. kekurangan tenaga pengamat dapat diatasi dan sekaligus .

. penentuan jadwal waktu pengelolaan lahan. ATHUS dapat diaplikasikan untuk berbagai kebutuhan mendasar dalam pengelolaan pengelolaan sumberdaya lahan maupun antisipasi banjir dan longsor. Selanjutnya. juga bermanfaat bagi Desa itu sendiri dalam pengelolaan lahan dan peningkatan sadar bencana. dalam Peraturan Dirjen PHKA no P. dan perancangan bangunan-bangunan air. bangunan konservasi maupun sarana-prasarana lain.07/IV-SET/2014 tentang Pedoman Inventarisasi SD Air di Kawasan Konservasi. Informasi ini selain berguna untuk pengelolaan SDA pada level kabupaten. Pendayagunaan ATHUS untuk pengamatan curah hujan dengan konsep utuh diakui oleh Kemenristek sebagai salah satu inovasi paling prospektif di Indonesia tahun 2010 (Gambar 1).pemasyarakatan IPTEK kepada siswa-siswa dan aparat pemerintah daerah di pelosok. Dalam pemilihan komoditi tanaman. ATHUS direkomendasikan sebagai alat yang digunakan untuk pengamatan curah hujan. ketersediaan data yang akurat dan mampu merepresentasikan kondisi riil curah hujan akan sangat mempengaruhi keberhasilan.

Serifikat penghargaan Inovasi Indonesia 2010 . Gambar 2. Pemasangan ATHUS di lapangan Gambar 3.