You are on page 1of 4

HASIL

Karakteristik pasien yang baru pertama kali mengalami hemodialysis

Dari total 11 pasien (5 laki-laki, 6 perempuan) dengan usia rata-rata 57.4±13.1 tahun
(rentang usia: 33-86 tahun) direkrut untuk menjadi sampel penelitian. Diagnosis yang
mendasarinya adalah hipertensi (n=7) dan diabetes mellitus (n=4). Gejala klinis yang
dikeluhkan setelah siklus ke-5 hemodialisis ditunjukkan di Tabel 1.

Tingkat hemoglobin, IL-6 dan hepcidin pasien sebelum siklus pertama, sebelum siklus
kelima, dan setelah siklus ke-5 hemodialisis dicatat dan dibandingkan.

Tidak ditemukan perbedaan kadar hemoglobin yang signifikan dari data yang diperoleh
sebelum siklus pertama jika dibandingkan dengan data yang diperoleh sebelum siklus
kelima dan data setelah siklus kelima. Tidak juga ditemukan perbedaan IL-6 yang
signifikan dari data sebelum siklus pertama, sebelum siklus kelima dan setelah siklus
kelima hemodialysis, kecuali untuk tingkat reduksi rata-rata (P=0.04) pada tingkat IL-6
sebelum siklus kelima (rerata: 67.0±53.1 pg/ml) dan setelah siklus kelima (rerata:
42.9±42.0 pg/ml) (reduksi sebesar 64%). Perlu dicatat juga bahwa kadarnya tetap berada
di atas referensi normal yaitu kurang dari 5 pg/ml. Kadar rata-rata hepcidin menunjukkan
fluktuasu sebelum siklus pertama (rata-rata: 39.4±25.5 mg/ml) dan setelah siklus kelima
(rata-rata: 45.2±24.6) (reduksi sebesar 14.7%) dan sebelum siklus kelima (rata-rata:
89.3±125.9 mg/ml) dan setelah siklus kelima (reduksi sebesar 50.6%), namun data yang
didapat ini tidak signifikan secara statistic, yang kemungkinan dikarenakan lebarnya
variasi hasil yang didapatkan. Rentang normal kadar hepcidin adalah kurang dari 47
ng/dl. Terdapat perubahan level yang signifikan pada kadar hepcidin setelah siklus
kelima (454.5ng/ml), namun tidak ditemukan perubahan yang signifikan pada data
lainnya. Kadar Hb tidak menunjukkan peningkatan setelah dilakukan lima siklus
hemodialysis, walaupun kadar Hb rata-rata dari sebelum siklus pertama hemodialysis,
6.7±1.7 g/dl, ke 7.4±1.7 g/dl setelah siklus kelima. Anilisis varian tidak menunjukkan
cariasi yang signifikan pada parameter yang diteliti (table 2). Kadar rata-rata Hb, IL-6
dan hepcidin setelah siklus kelima hemodialysis bias dilihat di Figur 1.

Studi Korelasi

Digunakan Pearson’s correlation dalam studi ini, dan tidak ditemukan korelasi yang
signifikan secara statistic antara Hb dan IL-6 (r=0.031, P=0.87), antara Hb dan hepcidin
(r=0.076, P=0.67), serta antara IL-6 dan hepcidin (r=0.075, P=0,68).

Pembahasan

Hemodialysis merupakan tatalaksana jangka panjang untuk chronic kidney disease
(CKD) stadium 5. Tingkat mortalitas tertinggi berada pada 6 bulan pertama dilakukannya

dan penyebab utama kematian adalah karena adanya penyakit kardiovaskular.7]. Ditemukan juga korelasi antara meningkatnya kadar IL-6 dengan meningkatnya mortalitas pada pasien dengan CKD [4. dan harus diingat bahwa survival jangka panjang lebih penting daripada biokompatibiltas. Ditemukan korelasi antara kadar hemoglobin yang sangat rendah dengan tingginya konsentrasi marker inflamasi. Penggunan membrane dialysis sintetis lebih disaranakan karena lebih cocok secara biocompatibility. dan tidak ditemukan perubahan kadar hepcidin dan hemoglobin yang signifikan.4% (rata-rata: 7. karena terdapat perubahan konsentrasi IL-6 pada plasma setelah siklus hemodialysis pertama dan setelah 48 siklus hemodialysis selanjutnya [19].4±1. Tidak ditemukan korelasi yang signifikan antara hemoglobin dan hepcidin. Kadar hemoglobin naik ke angka 10. Dalam penelitian ini. Produksi sitokin tidak hanya berkaitan dengan hemodialysis yang menggunakan dyalizer membrane selulosa. Anemia merupakan komplikasi yang sering dialami oleh pasien yang melakukan terapi hemodialysis dan dapat mempengaruhi kualitas hidup pasien [21].6% antara sebelum siklus kelima dan setelah siklus kelima. dan ditemukan reduksi sebesar 50. hemoglobin dan IL-6. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Costa dkk.0 ng/ml (Setelah dialukan lime siklus hemodialysis). Tidak ditemuakn juga korelasi antara hepcidin dan marker inflamasi (termasuk IL-6) [25]. Pada pasien yang menjalani hemodialysis yang berkepanjangan.3]. melainkan melalui stimulasi oleh IL-6 [23]. Temuan ini berkontradiksi dengan temuan pada pasien yang telah lama menjalani hemodialysis.hemodialysis. Hemodialysis diperkirakan sedang mengalami penurunan. namun tetap berada di bawah nilai normal dan walaupun telah dilakukan lima siklus hemodialysis. usia harap hidupnya lebih rendah dari masyarakat lain dengan data demografi yang mirip [2.5]. Secara umum. walaupun telah dilakukan lima siklus hemodialysis. dimana ditemukan korelasi antara hepcidin dengan IL-6. yaitu kurang dari 5 pg/ml. anemia yang cukup parah masih ditemukan. dibandingkan dengan cellulose-based membrane [18].7%. Dalam penilitian ini ditemukan reduksi IL-6 sebelum siklus pertama dan setelah siklus kelima yang cukup signifikan (walaupun masih di atas nilai normal). Namun. dan hepcidin dengan hemoglobin (tidak terdapat korelasi antara hemoglobin dan IL-6) [23]. dan juga ditemukan bahwa IL-6 merupakan faktor indepen yang mempengaruhi kadar hemoglobin pada pasien dengan kanker epithelial stadium lanjut yang tidak ditangani dengan baik [24]. serta IL-6 dan hepcidin. dan produksi hepcidin tidak lagi bergantung pada zat besok dalam tubuh.4% (sebelum siklus pertama). ditemukan peningkan kadar IL-6 [22]. Telah dilaporkan bahwa terdapat penurunan klirens hepcidin yang disebabkan oleh disfungsi ginjal [15] namun keadaan ini akan . sebelum siklus pertama dan setelah siklus kelima sebesar 14.7 g/l) dibandingkan dengan sebelum siklus pertama hemodialysis. dengan kadar yang masih berada di ambang atas batas normal yaitu kurang dari 47. kadar rata-rata hepcidin berfluktuasi. Ini biasanya dijadikan predictor untuk mortalitas dan status gizi pada pasien hemodialysis [6. penggunaan dyalizer dengan membrane polysulphone selama lime siklus menunjukkan reduksi kadar IL-6 yang mencapai 64% (setelah siklus kelima dan sebelum siklus kelima) dan reduksi sebesar 60. karena resiko mortalitas meningkat hingga 10-20 kali lipat [1]. kadarnya masih berada di atas kadar normal. tingginya kadar hepcidin pada pasien hemodialysis mungkin berhubungan dengan suatu inflamasi kronik yang mendasarinya [20]. hemophane atau polyamide.

Karena itu. terutama untuk kadar IL-6 dan hepcidin. KESIMPULAN Pada penelitian ini. dan masih ditemukan anemia berat setelahnya. Disfungsi ginjal yang ditemukan kemungkinan disebabkan oleh berkurangnya klirens marker inflamasi. dibutuhkan pendekatan lebih lanjut untuk menuruunkan kadar marker inflamasi pada pasien dengan CKD. dan keadaan ini tidak mungkin mengalami perbaikan jika tidak dilakukan intervensi lebih lanjut selain hemodialysis. membaik siring dengan rutinnya hemodialysis dijalankan. agar zat beso dapat keluar daric el. Peningkatan marker inflamasi ditemukan pada pasien yang telah lama manjalani hemodialysis [19. Oleh karena itu. yang menunjukkan bahwa adanya reduksi signifikan pada IL-6 dan tidak perubahan signifikan pada kadar hepsidin dengan menggunakan dialyzer membrane polyulphone.22]. Junita Siahaan untuk bantuan teknis yang telah beliau berikan Conflicts of Interest Tidak ada . dibutuhkan sebuah pendeketan yang dapat menurunkan marker inflamasi ini. dilakukan pencatatan pada lima siklus hemodialysis. Acknowledgements Penulis ingin menyampaikan terima kasih untuk Mrs. yang nantinya diharapakan dapat meregenerasi sel darah merah dan meningkatkan kadar hemoglobin.