You are on page 1of 25

BAB II

PEMBAHASAN

A. Pasar Faktor Produksi
Pasar barang produksi adalah pasar yang memperjual belikan atau menyediakan
faktor produksi. Faktor produksi adalah semua hal yang dibutuhkan sebagai masukan
(input) dalam proses produksi.
Jenis-jenis faktor produksi ada empat yaitu sumber daya alam, sumber daya
manusia (tenaga kerja), sumber daya modal, dan kewirausahaan.
1. Pasar Sumber Daya Alam (Tanah)
Faktor produksi alam adalah kekayaan alam yang digunakan dalam proses produksi.
Faktor produksi alam terdiri atas tanah, air, udara, hewan, tumbuhan, barang
tambang, panas bumi, dan lain-lain. Faktor produksi alam meliputi permukaan dan
semua yang terkandung didalamnya. Balas jasa yang diterima adalah sewa. Harga dan
jumlah permintaan alam berbeda – beda karena perbedaan kesuburan, letak, dan
banyaknya alam yang digunakan.
Permintaan tanah semakin lama semakin bertambah karena perkembangan industri
begitu pesat. Masalahnya adalah persediaan tanah yang terbatas sementara
permintaan selalu bertambah. Jadi, semakin tinggi permintaan semakin tinggi harga
atau sewa tanah, dan sebaliknya.
Kareteristik tanah yang tidak ada pada faktor produksi lain adalah :
a) Jumlah yang tersedia tetap
b) Tidak dapat dipindahan ke tempat lain
c) Tidak ada biaya produksi tanah
Pasar ini berupa pasar abstrak, barang yang diperdagangkan tidak berada di
tempat. Mereka bertemu hanya untuk mengadakan perjanjian jual beli. Misalnya
pasar tembakau di Bremen (Jerman), pasar kopi di Sao Paulo (Brasil), dan pasar karet
di New York (Amerika Serikat).
Jumlah tanah adalah tetap atau penawarannya tetap, maka kurva penawaran tanah
bersifat inelastis sempurna (berbentuk garis lurus), sedangkan permintaan akan tanah
terus bertambah, sehingga harga tanah akan semakin meningkat.

2. Pasar Tenaga Kerja
Pasar tenaga kerja merupakan aktivitas dari pelaku yang tujuannya mempertemukan
para pencari kerja dengan pengguna tenaga kerja. Sifat pasar tenaga kerja ditentukan
oleh para pelaku tersebut. Pelaku – pelaku dalam pasar tenaga kerja antara lain
penjual tenaga kerja, pembeli tenaga kerja, dan pengelola atau penyelenggara bursa.
Jasa tenaga kerja sebagai pelaksana dalam kegiatan produksi tidak dapat digantikan
posisinya secara total. Walau sebagian tenaga kerja saat ini mulai digantikan
peranannya oleh mesin, namun mesin pun masih memerlukan manusia (jasa tenaga
kerja) untuk mengoperasikannya.
Tenaga kerja membutuhkan pengetahuan dan keterampilan agar ia
memiliki skill dan kemampuan sesuai yang dibutuhkan dunia kerja untuk berperan
dalam kegiatan produksi. Jasa tenaga kerja diberikan kepada para pengusaha yang
membutuhkan tenaga kerja dan dengan memberi imbalan upah atau gaji. Upah atau
gaji adalah jasa tenaga kerja yang dapat dihitung berdasarkan jam kerja ataupun unit
hasil yang dikerjakan. Pasar tenaga kerja terjadi apabila pemilik perusahaan
menggunakan jasa tenaga kerja dan terjadi perjanjian-perjanjian kerja antara pemilik
perusahaan, tenaga kerja, dan serikat kerja. Misalnya bursa tenaga kerja.
a. Permintaan Tenaga Kerja
Permintaan Tenaga kerja adalah Jumlah TK yang diminta oleh masyarakat dalam
periode tertentu pada berbagai tingkat upah nyata/ riil.

W= w/P

dimana:

W= tingkat upah riil,

w= upah nominal, dan

P= harga

Permintaan tenaga kerja mempunyai hubungan yang negative dengan tingkat
upah riil. Permintaan tenaga kerja datang dari rumah tangga produksi.

Tingkat upah riil sangat mempengaruhi penawaran tenaga kerja. Maka fungsi penawaran tenaga kerja adalah : . Jika tingkat upah naik dan barang modal tetap maka pengusaha menggunakan mesin sehingga pengguna tenaga kerja akan menurun. 2) Perubahan Permintaan Pasar terhadap Hasil–Hasil Produksi Jika permintaan produksi meningkat. maka biaya produksi juga akan meningkat. Pengurangan tenaga kerja yang dibutuhkan karena adanya penambahan pengunaan mesin disebut efek subtitusi tenaga kerja. Peningkatan kegiatan perusahan tersebut akan menambah permintaan tenaga kerja. Penawaran Tenaga Kerja Penawaran tenaga kerja dipengaruhi oleh tingkat upah terutama untuk jenis jabatan yang sifatnya kusus. produsen akan menambah produksinya. Penurunan jumalah tenaga kerja sebagai sebagai akibat dari turunnya skala produksi disebut efek skala produksi. Terdapat hubungan positif antara tingkat upah rill dan jumlah tenaga kerja yang ditawarkan sehingga apabila upah rill meningkat maka jumlah tenaga kerja yang ditawarkan meningkat. Jika tingat upah mengalami kenaikan. 3) Harga Barang-Barang Modal Jika harga barang-barang modal turun akan mengaibatan harga jual produksi juga turun. Penawaran tenaga kerja ini datang dari masyarakat. Penambahan jumalah produksi juga akan menambah jumlah tenaga kerja. Sebaliknya penurunan kegiatan produksi akan beraibat pada turunnya jumlah permintaan tenaga kerja. b. Hal ini mengakibatkan permintaan bertambah besar dan produsen cenderung meningkatkan produksinya. Banyak sedikitnya permintaan tenaga kerja dipengaruhi oleh perubahan tingkat upah dan perubahan faktor – faktor lain yang memengaruhi permintaan tenaga kerja antara lain sebagai berikut. 1) Perubahan Tingkat Upah Perubahan tingkat upah mempengaruhitinggi rendahnya biaya produksi perusahaan. perusahaan akan mengurangi jumlah produksi yang mengakibatkan berkurangnya tenaga kerja yang dibutuhkan.

Balas jasa yang diterima . Kurva pada pasar faktor produksi tenaga kerja dapat digambarkan sebagai berikut. Pasar modal adalah Permintaan modal datang dari pengusaha dan penawaran datang dari pemilik modal. 3. pencari kerja menerima pekerjaan dan pengusaha bersedia mempekerjakan tenaga kerja tersebut. Pasar Sumber Daya Modal Pasar sumber daya modal adalah pasar yang mempertemukan antara penjual dan pembeli atas modal yang berjangka waktu panjang atau tempat jual beli dana dan inventasi jangka panjang. SN= F (W/P) Dimana : SN = Jumlah tenaga kerja yang ditawarkan W/P = Tingkat upah rill c. Keseimbangan Pasar Tenaga Kerja Keseimbangan pasar tenaga kerja terjadi apabila pada saat suatu tingat upah.

4. Dan kemampuan dari tenaga kerja ini menghasilkan produksi nasional tergantung kepada fungsi produksi yang menerangkan hubungan diantara jumlah tenaga kerja dan faktor-faktor produksi lain untuk mewujudkan produksi nasional. Campur tangan pemerintah dalam penetapan tingkat bunga Modal yang berupa uang diperoleh dari tabungan dan pinjaman. Dua 1. a. memperoleh keuntungan. B. Diharapkan dengan investasi tersebut. Kemunginan resiko hilangnya modal yang dipinjam c. Dalam menjalankan suatu uasaha selain faktor – faktor di atas diperlukan juga oarang yang mampu memimpin dan menjalankan usaha dengan baik. pemilik modal adalah bunga. yang nantinya akan digunakan untuk investasi. Surat berharga dapat berupa saham dan obligasi. Tinggi rendahnya tingkat bunga modal dipengaruhi oleh faktor – faktor berikut. orangnya disebut wirausaha. Kondisi perekonomian d. Faktor yang Mempengaruhi Penawaran Agregat a. permintaan dan penawaran akan barang modal mengalami penigkatan. dan berani menghadapi resiko. Pasar Kewirausahaan Kewirausahaan adalah inisiatif untuk mengkoordinir faktor – faktor produksi guna mencapai efisiensi maksimal. Modal yang diperdagangkan di pasar modal berbentuk surat berharga. Permintaan dan penawaran modal dalam masyarakat b. mampu menghasilkan produk berkualitas tinggi. Penawaran Agregat Penawaran agregat adalah jumlah total barang dan jasa yang disediakan atau diproduksi oleh ekonomi serta dijual pada setiap tingkat harga dalam periode waktu tertentu secara keseluruhan. . sehingga kurva permintaan (D) dan kurva penawaran (S) bergeser ke kanan. Keseimbangan Pasar Tenaga Kerja Keseimbangan di pasar tenaga kerja akan menentukan jumlah tenaga kerja yang digunakan dalam kegiatan memproduksi barang dan jasa. Contoh pasar faktor produksi modal yaitu Bursa Efek Indonesia gabungan antara BEJ dengan BES. Seorang pengusaha adalah oraang yang mampu memanfaatkan faktor – faktor produksi tersebut agar dapat mengendalikan perusahaan dengan baik.

Secara sederhana. Hal ini karena besar kecil jumlah tenaga kerja yang ditawarkan dan diminta ditentukan oleh upah riil bukan upah nominal. Fungsi Produksi Fungsi Produksi adalah sebuah fungsi yang menunjukan hubungan antara output (jumlah produk barang/jasa) dan faktor-faktor produksi (input) Y= F(k. Maksudnya tingkat upah akan dengan cepat menyesuaikan diri terhadap perubahan tingkat harga. Fleksibilitas tingkat harga dan upah. Kurva Penawaran Agregat (Asumsi Klasik) Ada beberapa asumsi yang dianut oleh ekonom klasik ketika membentuk kurva penawaran agregat yaitu: a. . b. Tanpa adanya campur tangan pemerintah dalam perekonomian. kaum klasik mengarahkan bahwa penawaran agregat berdasar upah rill. Sehingga perekonomian selalu dalam kondisi full employment c. Jumlah tenaga kerja dalam perekonomian (employment) dalam keadaan keseimbangan terjadi pada perpotongan antara kurva permintaan dan penawaran tenaga kerja agregat. b. Tingkat pengangguran akan hilang dengan sendirinya.n) Dimana: Y = Jumlah Barang/jasa (output) K = Persediaan capital N = Jumlah tenaga kerja Kurva Fungsi Produksi 2.

Kurva Penawaran Agregat (Asumsi Keynes) Menurut Keynes. Hal ini dimungkinkan karena adanya institusi seperti serikat pekerja dan adanya aturan upah minimum yang ditetapkan oleh pemerintah bersama serikat pekerja. sehingga menghasilkan jumlah produk nasional ekuilibrium Y*. Penurunan kurva agregat Keynes dapat dilihat pada gambar berikut ini: . upah bersifat tegar. Sehingga bentuk kurva penawaran agregat menurut ekonom klasik adalah sebagai berikut : Pada pasar tenaga kerja. keseimbangan terjadi pada titik E dengan penggunaan tenaga kerja sebesar N*. 3.Upah nominal tidak berpengaruh terhadap jumlah tenaga kerja yang diminta oleh perusahaan dan ditawarkan oleh rumah tangga. maka penurunan harga menyebabkan kurva kesamaan upah nominal bergeser dari Rp 30 ke Rp 22 dan ke Rp 15.Dengan tingkat upah riil yang tidak berubah.

perusahaan bisa mempertahankan harga agar tidak merepotkan pelanggantetap mereka dengan sering berubahnya harga. Asumsi tersebut menyederhanakan masalah dan berguna dalam berbagai keadaan. setiap jalur berakhir pada tempat yang lama. Meskipun masing-masing dari ketiga model itu membawa kita pada jalur teoritis yang berbeda. buku ini dimulai dengan teori makroekonomi klasik. bila tingkat harga menyimpang dari tingkat harga yang diperkirakan. Model Harga Kaku Penjelasan pertama kita tentang mengapa kurva penawaran agregat jangka pendek miring ke atas. Kadang-kadang harga ditetapkan oleh kontrak jangka panjang antara perusahaan dan pelanggan bahkan tanpa kesepakatan formal. Persinggahan akhir itu adalah persamaan penawaran agregat jangka pendek dalam bentuk Y = Y + α(P – Pe). a.4. danPeadalah tingkat harga yang diharapkan. Tiga Model Penawaran Agregat Ketika kelas-kelas dalam ilmu fisika mempelajari tentang bola yang digelindingkan di bidang miring. Tugas kita sekarang adalah mempelajari lebih dalam tentang "friksi" dari ilmu makroekonorni. tetapi akan menjadi sebuah kesalahan jika kita mengasumsikan bahwa model ini benar untuk semua kondisi. Demikian pula. Y adalah tingkat output alami. Kita menulis harga yang diinginkan perusahaan sebagai p = P + α(Y — Y). mereka sering memulainya dengan mengasumsikan ketiadaan friksi. Model ini memungkinkan bahwa perusahaan tidak secara instan menyesuaikan harga yang mereka tetapkan sebagai respons terhadap perubahan permintaan. disebut sebagai model harga kaku (sticky price model). 1/α adalah kemiringan dari kurva penawaran agregat. α>0. Persamaan ini menyatakan bahwa output menyimpang dari tingkat alamiah. Parameter αmenunjukkan berapa banyak output merespons terhadap perubahan yang tidak arapkan dalam tingkat harga. di mana Y adalah output. . P adalah tingkat harga. tetapi tidak ada insinyur hebat yang menggunakan asurnsi ini sebagai uraian tertulis tentang bagaimana dunia sesungguhnya bekerja.

dan simbol kedua adalah harga dari perusahaan dengan harga fleksibel yang ditimbang menurut fraksinya. Sebagian memiliki harga yang fleksibel: perusahaan ini selalu menetapkan harga menurut persamaan ini. Perusahaan dengan harga kaku menetapkan harga yang mengacu pada p = Pe + α(Ye – Ye).s)[P + a(Y – Y)].kemudian perusahaan ini . perusahaan dengan harga kaku menetapkan harga berdasarkan prediksi bahwa perusahaan-perusahaan lain menetapkan harga yang sama. Untuk mempermudah. jika s adalah fraksi perusahaan dengan harga kaku dan (1 – s) adalah fraksi dengan harga fleksibel. Sebagian lain memiliki harga yang kaku: perusahaan ini mencamtumkan harga berdasarkan kondisi perekonomian yang mereka harapkan. kita mendapatkan tingkat harga keseluruhan dalam perekonomian. Simbol pertarna adalah harga dari perusahaan dengan harga-kaku yang ditimbang menurut fraksinya dalam perekonomian. maka tingkat harga keseluruhan adalah P = sPe + (1 . sehingga α (Ye – Ye) adalah nol. huruf kecil "e" Menunjukan nilai yang diharapkan dari sebuah variabel.menetapkan harga p = Pe Artinya. Parameter α (yang lebih besar dari nol) mengukur berapa besar harga yang diinginkan perusahaan untuk menanggapi tingkat output agregat. yang merupakan rata-rata tertimbang dari harga yang ditetapkan oleh kedua kelompok perusahaan tersebut. Bagilah kedua sisi dengan s untuk mencari tingkat harga keseluruhan: P = Pe + [(1 – s)α /s](Y – Y). . Sekarang kurangi (1 – s)P dari kedua sisi persamaan ini untuk mendapatkan sP = sPe + (1 – s) [α(Y – Y)]. Kita bisa menggunakan kaidah penetapan harga dari dua kelompok perusahaan untuk menderivasi persamaan penawaran agregat. Sekarang asumsikanlah bahwa ada dua jenis perusahaan.Persamaan ini menyatakan bahwa harga yang diinginkan p tergantung pada tingkat harga keseluruhan P dan pada tingkat output agregat relatif terhadap tingkat alainiah Y — Y. asumsikanlah bahwa perusahaan mengharapkan output berada dalam tingkat alamiah. dimana sebagaimana sebelumnya. Untuk melakukan hal ini.

Darnpak output terhadap tingkat harga tergantung pada proporsi perusahaan dengan harga fleksibel. perusahaan mengharapkan biaya yang tinggi. tingkat harga tinggi yang diharapkan Pemenyebabkan tingkat harga aktual P yang tinggi. jadi. Dalam banyak industri. Model upah kaku (sticky wage model) menunjukkan implikasi dari upah nominal kaku pada penawaran agregat. Bahkan dalam industri yang tidak dilindungi oleh kontrak formal. Kedua simbol dalam persamaan ini dijelaskan sebagai berikut: Bila mengharapkan tingkat harga yang tinggi. banyak ekonom menekankan lambannya penyesuaian upah nominal. Model harga kaku menyatakan bahwa penyimpangan output dari tingkat alamiah secara positif berkaitan dengan penyimpangan tingkat harga dari tingkat harga yang diharapkan. permintaan terhadap barang juga tinggi. Apa di mana α = s/[l -s)α]. Perusahaan yang memberlakukan harga tetap pada akhimya menetapkan harga yang tinggi. jadi. upah nominal ditetapkan dalam kontrak jangka panjang. Manipulasi aljabar ini membentuk persamaan penetapan harga agregat menjadi rumus yang lebih kita kenal Y = Y + α(P – Pe). Harga yang tinggi ini menyebabkan perusahaan lain menetapkan harga yang juga tinggi. . tingkat harga keseluruhan tergantung pada tingkat harga yang diharapkan dan pada tingkat output. Model Upah Kaku Untuk menjelaskan mengapa kurva penawaran agregat jangka pendek miring ke atas. sehingga upah tidak disesuaikan dengan cepat ketika kondisi ekonomi berubah. Untuk mengkaji ulang model tersebut. yang menyebabkan tingkat harga menjadi tinggi. Perusahaan- perusahaan dengan harga fleksibel menetapkan harga yang tinggi. Upah juga bergantung pada norma-norma sosial dan gagasan tentang keadilan yang terus berevolusi. kesepakatan-kesepakatan implisit antara para pekerja dan perusahaan dapat membatasi perubahan upah. banyak ekonom percaya bahwa upah nominal bersifat kaku dalam jangka pendek. b. Ketika output tinggi. Akibatnya.

dan tingkat harga yang diharapkan Pe. Upah riil kemudian menjadi W/P = ω × Pe/P 𝑇𝑖𝑛𝑔𝑘𝑎𝑡 𝐻𝑎𝑟𝑔𝑎 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖ℎ𝑎𝑟𝑎𝑝𝑘𝑎𝑛 Upah riil = Upah riil target × 𝑇𝑖𝑛𝑔𝑘𝑎𝑡 𝐻𝑎𝑟𝑔𝑎 𝐴𝑘𝑡𝑢𝑎𝑙 .perhatikanlah apa yang terjadi pada jumlah output yang diproduksi ketika harga naik:  Ketika upah nominal tidak berubah. yang menyebabkan tenaga kerja menjadi lebih murah  Upah riil yang lebih rendah mendorong perusahaan menggunakan lebih banyak tenaga kerja.  Tenaga kerja tambahan yang digunakan memproduksi lebih banyak output. Para pekerja dan perusahaan menetapkan upah nominal W berdasarrkan upah riil target ω. Untuk mengembangkan proses terbentuknya penawaran agregat ini dengan lebih formal. kenaikan tingkat harga menurunkan upah riil. Kedua belah pihak mengetahui upah riil target. Hubungan positif antara tingkat harga dengan jumlah output ini berarti bahwa kurva penawaran agregat miring ke atas selama upah nominal tidak dapat disesuaikan. asumsikan bahwa para pekerja dan pihak perusahaan melakukan tawar-menawar serta sepakat pada upah nominal tertentu sebelum mereka mengetahui tingkat harga yang akan tercipta ketika kesepakatan mereka mulai menujukkan pengaruhnya. Upah nominal yang mereka tetapkan adalah : W = ω x Pe Upah nominal = Upah riil target x Tingkat Harga yang Diharapkan Setelah upah nominal ditetapkan sebelum tenaga kerja ditarik. perusahaan mempelajari tingkat harga aktual P. Target itu mungkin merupakan upah riil yang menyeimbangkan permintaan dan penawaran tenaga kerja.

ketika harga aktual lebih kecil darii yang diharapkan maka upah riil lebih besaar dari targetnya. upah riil lebih kecil dari targetnya . semakin banyak output yang dihasilkan. Output menyimpang dari tingkat alamiahnya bila tingkat harga menyimpang dari tingkat harga yang diharapkan. tawar-menawar antara para pekrja dan perusahaan tidak menetukan tingkat kesempatan kerja untuk selanjutnya. Ketika tingkat harga aktual lebih besar dari yang diharapkan. .. Asumsi akhir dari model upah kaku (sticky wage model) adalah kesempatan kerja ditentukan oleh jumlah tenaga kerja yang diminta perusahaan. Output ditentukan oleh fungsi produksi Y = F(L) Yang menyatakan bahwa semakin banyak tenaga kerja yang digunakan. Dengan kata lain. kecuali bila para pekerja sepakat untuk memberikan tenaga kerja sebanyak yang ingin dipekerjakan oleh perusahaan pada tingkat upah yang telah ditetapkan sebelumnya. Kita menggambarkan keputusan penggunaan tenaga kerja oleh perusahaan dengan fungsi permintaan tenaga kerja L = Ld(W/P) Yang menyatakan bahwa semakin rendah upah riil. perubahan upah riil ini mempengaruhi jumlah tenaga kera yang digunakan serta output yang diproduksi. semakin banyak tenaga kerja yang digunakan perusahaan.Persamaan ini menujukkan bahwa upah riil menyimpang dari targetnya jika tingkat harga aktual berbeda dari tingkat harga yang diharapkan. perubahan yang tidak diharapkan dalam tingkat harga menjauhkan upah riil dari upah riil target. Karena upah nominal bersifat kaku. Kurva penawaran agregat bias ditulis sebagai Y = + α(P — Pe).

Karena jumlah barang begitu besar. Tidak seperti kedua model sebelumnya. Model Informasi Tidak Sempurna Penjelasan ketiga mengenai mengapa kurva penawaran agregat jangka pendek miring ke atas. kurva penawaran agregat jangka pendek dan jangka panjang berbeda karma kesalahan persepsi temporer mengenai harga. Merekamemantau dengan ketat harga barang yang mereka produksi tetapi kurang memantau harga seluruhbarang yang mereka konsumsi. mereka kadang-kadang bingung antara perubahan seluruh tingkat harga dengan perubahan harga relatif. Kebingungan ini menimbulkan hubungan positif antara tingkat harga dan output dalam jangka pendek. Dalam model. Ringkasnya. adalah yang disebut sebagai model informasi tak sempurna (imperfect-information rnodeO.c. Karena informasi yang tidak sempurna itu. para pemasok tidak dapat mengamati seluruh harga. model informasi tak sempurna menyatakan bahwa bila harga aktual melebihi harga yang diharapkan. baik dalam jangka panjang maupunjangka pendek. para pemasok akan meningkatkan output . Model infomasi tak sempurna mengasumsikan bahwa setiap pemasok dalam perekonorman memproduksi barang tunggal dan mengkonsumsi banyak barang. ini. model ini mengasumsikan bahwa dalarn pasar semua upah dan harga akan betas menyesuaikan diri untuk menyeimbangkan penawaran dan permintaan.

Ingatlah bahwa model penawaran agregat ini tidak saling bertentangan. Ingatlah bahwa kurva penawaran agregat jangka pendek dibentuk untuk ekspektasi Pe tertentu dan bahwa perubahan dalamPe akan menggeser kurva itu. mereka. Gambar di bawah ini memperlihatkan persamaan ini. output turim lebih rendah dari tingkat alamiah. Meskipun tiga model penawaran agregat berbeda dalam asumsi dan penekanannya. Y = y + α(P – Pe). model kedua penawaran. Jika tingkat harga lebih rendah dari tingkat harga yang diharapkan. Jika tingkat harga lebih tinggi dari tingkat harga yang diharapkan. Kita tidak perlu menerima satu model dan menolak yang lain. dan seluruhnya memberi kontribusi pada perilaku penawaran agregat jangka pendek. Semua bisa diringkas dengan persamaan Y = Y + a(Pe). output akan naik melebihi tingkat alamiah. Model pertama mengasumsikan bahwa harga bersifat kaku. implikasinya terhadap output agregat adalah serupa. Model tersebut menunjuk-kan kurva penawaran agregat yang sekarang kita kenal: d. 5. model ketiga mengasumsikan bahwa informasi tentang harga adalah tidak sempurna. Persamaan ini menyatakan bahwa penyimpangan output dari tingkat alamiah dikaitkan dengan penyimpangan tingkat harga dari tingkat harga yang diharapkan. Ketiga ketidak sempurnaan pasar itu ada di dunia ini. Penawaran Agregat Jangka Pendek dan Jangka Panjang Kita sudah melihat tiga model penawaran agregat dan ketidak sempurnaan pasar yang masing-masing digunakan untuk menjelaskan mengapa kurva penawaran agregat jangka pendek miring ke alas. . mengasumsikan bahwa upah nominal bersifat kaku. Output menyimpang dari tingkat alamiah bila tingkat harga menyimpang dari tingkat harga yang diharapkan.

produksi barang dan jasa ekonomi (PDB riilnya) bergantung pada penawaran tenaga kerja. .dan tingkat output alamiah adalah tingkat produksi yang akan terjadi dalam perekonomian jangka panjang.Kurva penawaran agregat jangka panjang konsisten dengan gagasan ini karna hal ini secara tidak langsung menyatakan bahwa jumlah output (variabel riil)tidak bergantung pada tingkat harga (variabel nominal).dan sumber daya alam.harga dari barang dan jasa tersebut dibandingkan dengan harga lain dalam perekonomian.Tingkatproduksi ini sering disebut dengan output potensial atau output alamiah karena menunjukan apa yang dihasilkan dalam ekonomi ketika pengangguran pada kondisi tingkat alamiahnya atau normal. Bentuk kurva penawaran agregat jangka panjang yang vertikal.modal. Posisi kurva penawaran agregat jangka panjang menunjukkan jumlah barang dan jasa yang diperkirakan oleh teori ekonomi makro. pada intinya hanyalah suatupenetapan konsep dikotomi klasik dan kenetralan moneter.Kurvapenawaran barang dan jasa dapat berbentuk miring ke atas jika kurva penawaran agregat jangka panjang berbentuk vertical karena penawaran untuk barang dan jasa tertentu bergantung pada harga relative.serta pada penguasaan teknologi yang digunakan untuk mengubah faktor-faktor produksi tersebut menjadi barang dan jasa.Selanjutnya kurva penawaran agregat jangka panjang berbentuk vertikal karena dalam jangka panjang.

Kenaikan dalam permintaan agregat meningkatkan tingkat harga aktual dari P1. ekspansi yang tidak diharapkan dalam permintaan agregat menyebabkan perekonomian mengalami booming. tapi pada tingkat harga yang jauh lebih tinggi. jadi. ke P2. Gambar di bawah ini menggunakan persamaan penawaran agregat untuk menunjukkan bagaimana perekonomian menanggapi kenaikan yang tidak diharapkan dalam permintaan agregat. ekuilibrium bergerak dari titik A ke titik B. dan output turun dari Y2 ke Y3. Namun demikian ledakan itu tidak abadi. Tingkat harga aktual naik dari P2 ke P3. katakanlah. Ketidaknetralan jangka pendek ditunjukkan di sini dengan pergerakan dari titik A ke titik B. terhadap ekspansi moneter yang tidak diharapkan. yang menyebabkan kurva penawaran agregat jangka pendek bergeser ke kiri. Karena tingkat harga yang diharapkan naik dari P2e ke P3e. Kita . Dalam jangka pendek. tingkat harga yang diharapkan tetap pada P 2. Karena orang-orang tidak mengharapkan kenaikan tingkat harga ini.Setelah memiliki pemahaman yang lebih baiktentang penawaran agregat. Dalam jangka panjang. Dengan kata lain. dan netralitas moneter jangka panjang ditunjukkan dengan pergerakan dari titik A ke titik C. perekonomian kembali ke tingkat output alamiah dalam jangka panjang. yaitu di atas tingkat alamiah Y. Analisis ini menunjukkan sebuah prinsip penting. kita kembali pada penawaran agregat dan permintaan agregat. dan output meningkat dari Y1 ke Y2. ekuilibrium Perekonomian bergerak dari titik B ke titik C. tingkat harga yang diharapkan naik untuk menyesuaikan dengan realitas. yang dimiliki ketiga model penawaran agregat tersebut: netralitas moneter jangka panjang dan ketidaknetralan moneter jangka pendek Saling kompatibel secara sempurna.

Sebaliknya.Sebagai hasilnya.akan merekonsiliasi dampak jangka pendek dan jangka panjang dari uang dengan menekankan penyesuaian ekspektasi tentang tingkat harga.Hasilnya. Pergeseran yang Berasal dari Pengetahuan Teknologi . Pergeseran kurva penawaran agregat juga disebabkan beberapa hal lain yaitu a.jika banyakpekerja yang meninggalkan pekerjaannya ke luar negeri maka kurva penawaran agregat jangka panjang akan bergeser ke kiri.Perubahan dalam pola cuaca yang mengakibatkan pertanian menjadi sulit meneser kurva penawaran agregat jangka panjang ke kiri.Sebaliknya. b.kurva penawaran agregat jangka panjang bergeser ke kanan. d.Posisi kurva penawaran agregat jangka panjang juga bergantung pada tingkat pengangguran alamiahnya sehingga terjadi perubahan dalam tingkat pengangguran alamiah maka akan menggeser kurva penawaran agregat jangka panjang.penurunan jumlah modal dalam suatu perekonomian menurunkan produktivitas dan jumlah penawaran barang dan jasa yang kemudian menggeser kurva penawaran agregat jangka panjang ke kiri c.Penemuan jenis mineral menggeser kurva penawaran agregat jangka panjang ke kanan. Pergesaran yang Berasal dari Modal Kenaikan jumlah modal dalam suatu perekonomian akan meningkatkan produktivitas sehingga jumlah penawaran barang dan jasa juga meningkat. Pergeseran yang berasal dari Tenaga Kerja Jika jumlah pekerja lebih besar maka jumlah penawaran barang dan jasa akan meningkat. Pergeseran yang Berasal dari Sumber Daya Alam Produksi perekonomian bergantung pada sumber daya alamnya.kurva penawaran agregat jangka panjang akan bergeser ke kanan.

Kebijakan ini akan menggerakkan perekonomian sepanjang kurva penawaran agregat jangka pendek ke titik output yang lebih tinggi dan tingkat harga yang lebih tinggi. Pengangguran dan Kurva Philips Dua tujuan yang ingin dicapai Para pembuat kebijakan ekonomi adalah inflasi yang rendah dan pengangguran yang rendah. kurva Phillips merupakan refleksi dari kurva penawaran agregat jangka pendek: ketika para pembuat kebijakan menggerakkan perekonomian sepanjang kurva penawaran agregat jangka pendek. C. yang disebut kurva Phillips. pengangguran dan inflasi turun. Penemuan dalam hal teknologi membuat bergesernya kurva penawaran agregat jangka panjang ke kanan.mungkin karena terlaluberbahaya bagi pekerja.jika pemerintah melarang perusahaan menggunakan metode produksi tertentu. Kurva Phillips adalah cara yang berguna untuk menunjukan penawaran agregat karena inflasi dan pengangguran merupakan ukuran kinerja perekonomian yang penting. berarti inflasi yang lebih tinggi. jadi. Anggaplah. tetapi sering kali kedua tujuan ini bertentangan. bahwa pembuat kebijakan menggunakan kebijakan fiskal atau moneter untuk memperbesar permintaan agregat.Sebaliknya. misalnya. Tingkat harga yang tinggi. Output yang lebih tinggi berarti pengangguran yang lebih rendah. karena perusahaan membutuhkan lebih banyak pekerja ketika memproduksi lebih banyak. pengangguran dan inflasi bergerak dalam arah berlawanan. ketika mereka mengontraksi permintaan agregat dan menggerakkan perekonomian ke bawah pada kurva penawaran agregat jangka pendek. Tradeoff antara inflasi dan pengangguran ini. adalah topik kita pada bagian ini. ketika para pembuat kebijakan menggerakkan perekonomian ke alas sepanjang kurva penawaran agregat: jangka pendek.sebagaimana kita lihat (dan akan diderivasikan sccara lebih formal). berdasarkantingkat harga tahun sebelmunya.Hasilnya adalah pergeseran ke kiri dalam kurva penawaran agregat jangka panjang. Sebaliknya. . mereka menurunkan tingkat pengangguran dan menaikkan tingkat inflasi. Inflasi.

. pengangguran yang tinggi cenderung mengurangi inflasi. kurangi tingkat harga tahun lalu P-1 dari kedua sisi persamaan untuk mendapatkan (P – P-1) = (Pe . Selanjutnya.(β x Pengangguran Siklis) + Guncangan yang diharapkan Penawaran di mana β adalah parameter yang mengukur respon inflasi terhadap pengangguran siklis. yang disebut pengangguran siklis  Guncangan penawaran. Tiga kekuatan ini ditunjukkan dalam persamaan berikut: π = πe . satu pengurangan. Dari manakah persamaan untuk kurva Phillips ini berasal? Meskipun kelihatannya tidak biasa.un) + v inflasi = inflasi . tulislah persamaan penawaran agregat sebagai P = Pe + (1/a)(Y — Y). Untuk melihat bagaimana caranya. Dengan satu penambahan. untuk mengubah dari tingkat harga menjadi tingkat inflasi. Menderivisi Kurva Phillips dari Kurva Penawaran Agregat Kurva Phillips (Phillips curve) dalam bentuk modernnya menyatakan bahwa tingkat inflasi tergantung pada tiga kekuatan:  Inflasi yang diharapkan.P-1 + (1/a)(Y .Y) + v.1. dan satu substitusi.ahan harga minyak dunia) yang mengubah tingkat harga dan menggeser kurva penawaran agregat jangka pendek: P = Pe + (1/α)(Y.Y) + v. β (u . kita bisa memanipulasi persamaan ini untuk mendapatkan hubungan antara inflasi dan pengangguran. tambahkan sisi kanan persamaan itu dengan guncangan penawaran v untuk menunjukkan per-istiwa eksogen (seperti perub. kita bisa menderivasinya dari persamaan untuk penawaran agregat. Pertama.  Deviasi pengangguran dari tingkat alamiah. Ingatlah bahwa ada tanda minus sebelum simbol pengangguran siklis: dengan mengasumsikan variabel lainnya tidak berubah. Inilah tiga tahap tersebut.

Sato versi dari hukum Okun nienyatakan bahwa penyimpangan output dari tingkat alamiah berbanding terbalik dengan penyimpangan pengangguran dari tingkat alamiah. Kira bisa menulisnya sebagai (1/α) (Y – Y) = .u") untuk (1/α) (Y — Y) dalam persamaan sebelumnya untuk mendapatkan: π – πe . kita bisa mensubstitusi .P- 1 adalah perbedaanantara tingkat harga yang diharapkan dan tingkat harga tahun lalu. anggaplah orang-orang mengharapkan harga meningkat tahun ini pada tingkat yang sama . penyebab inflasi yang diharapkan harus ditentukan. Asumsi sederhana dan sering kali masuk akal adalah bahwa orang-orang membentuk ekspektasi mereka terhadap inflasi berdasarkan inflasi yang sedang diamati. kita bisa mengantiP — P- 1 dengan π dan Pe'. Pe .P-1.β(u.P-1 dengan πe π= π+(1-α)(Y — Y) + v. kita bisa menderivasi persamaan kurva Phillips dari persamaan penawaran agregat. Sebagai contoh. 2. ingatlah dari Bab 9 bahwahukum Okun memberikan hubungan antara dua variabel ini. yaitu. untuk beralih dari output ke pengangguran. bila output lebih tinggi dari tingkat output alamiah. Seluruh proses aljabar ini menunjukkan satu hal: persamaan kurva Phillips dan persamaan penawaran agregat jangka pendek pada dasarnya menunjukkan gagasan makroekonomi yang sama. kurva penawaran agregat hanyalah dua sisi dari mata uang yang sama. π8Karna itu. Asumsi ini disebut ekspektasi adaptif (adaptive expectations). P. Ekspektasi Adaptif dan Inersia Inflasi Agar kurva Phillips bermanfaat dalam menganalisis pilihan-pilihan yang dihadapi para pembuat kebijakan. Dengan menggunakan hubungan hukum Okun ini. kedua persamaan itu menunjukkan hubungan antara variabel riil dan nominal.β(u – ue) + v jadi. adalah perbedaan antara tingkat harga sekarang dan tingkat harga tahun lalu. yang merupakan inflasi yang (diharapkan. Ketiga. pengangguran lebih rendah daripada tingkat pengangguran alamiah. Lebih jelasnya. Symbol pada sisi kiri. yang merupakan inflasi π8simbolpada sisi kanan.β(u – ue).

Simbol ketiga. seperti kenaikan harga minyak dunia pada tahun 1970-an. Pengangguran yang rendah akan menarik inflasi ke atas. seperti persediaan minyak berlimpah yang menyebabkan turunnya harga minyak pada tahun 1980-an. 4. Simbol kedua. menunjukkan nilai positifv dan menyebabkan inflasi naik. menunjukkan bahwa inflasi juga naik dan turun karena guncangan penawaran. Ketika kurva Phillips ditulis dalam bentuk ini. Guncangan penawaran yang bermanfaat. tingkat pengangguran alamiah kadang kala disebut NAIRU atau Non- AcceleratingInflation Rate of Unemployment. Ini disebut inflasi dorongan-biaya (cost-push inflation) karena goncangan penawaran yang memperburuk adalah peristiwa-peristiwa tipikal yang mendorong ke atas biaya produksi. kita bisa menulis kurva Phillips sebagai π = π-1 – β(u – ue) + v Yang menyatakan bahwa inflasi tergantung pada inflasi yang lalu. inflasi yang diharapkan dan guncangan penawaran bisa saja berada di . Parametermengukur sejauh mana responsivitas inflasi terhadap pengangguran siklis. pengangguran siklis. v. Kemudian inflasi yang diharapkan πe sama dengan inflasi tahun lalu π-1 πe = π-1 Dalam kasus ini. sebagaimana tahun lalu. membuat v negatif dan menyebabkan turunnya inflasi. Dua Penyebab Naik dan Turunnya Inflasi Simbol kedua dan ketiga dalam persamaan kurva Phillips menunjukkan dua kekuatan yang dapat mengubah tingkat inflasi. Pengangguran yang tinggi menarik tingkat inflasi ke bawah. β(u – ue)menunjukkan bahwa pengangguran siklis – penyimpangan pengangguran dari tingkat alamiah—memberi tekanan ke atas dan ke bawah pada inflasi. Tradeoff Jangka-Pendek antara Inflasi dan pengangguran Perhatikanlah pilihan yang diberikan kurva Phillips kepada pembuat kebijakan yang dapat mempengaruhi permintaan agregat dengan kebijakan moneter atau fiskal. Guncangan penawaran yang memperburuk. 3. dan guncangan penawaran. pada setiap waktu. Indah yang disebut inflasi tarikanpermintaan (demand-pull inflation) karena permintaan agregat yang tinggi bertanggung jawab atas jenis inflasi ini.

Ingat. dengan mengubah permintaan agregat. pembuat kebijakan bisa memperbesar permintaan agregat untuk menurunkan pengangguran dan meningkatkan inflasi. pembuat kebijakan dapat memanipulasi permintaan agregat untuk memilih kombinasi inflasi dan pengangguran pada kurva ini. Jika inflasi yang diharapkan naik. dan inflasi. untuk suatu tingkat inflasi yang diprediksikan. Atau pembuat kebijakan bisa menekan permintaan agregat untuk meningkatkan pengangguran dan menurunkan inflasi. yang disebut kurva Phillips jangka pendek. kurva tersebut bergeser ke atas. pengangguran. bahwa posisi kurva Phillips jangka pendek tergantung pada tingkat inflasi yang diharapkan. Ketika pengangguran berada pada tingkat alamiahnya (u – ue)inflasi bergantung pada inflasi yang diperkirakan dan guncangan penawaran (π = πe + v). pembuat kebijakan bisa mengubah output. Parameter β menentukan kemiringan dari tradeoffantara inflasi dan pengangguran. dan tradeoff yang dihadapi pernbuat kebijakan menjadi kurang bernilai: inflasi akan lebih tinggi pada seluruh tingkat pengangguran. Gambar di bawah ini menunjukkan bagaimanatradeoff tergantung pada inflasi yang diharapkan. Dalam jangka pendek. .luar kendali pembuat kebijakan tersebut. Namun. Gambar di bawah ini menggambarkan persamaan kurva Phillips dan menunjukkan tradeoff jangka pendek antara inflasi dan pengangguran.

Karena orang-orang menyesuaikan ekspektasinya atas inflasi sepanjang waktu. Serta tidak ada tradeoff antara inflasi dan pengangguran. tahun yang sedang berjalan dengan tahun sebelumnya. pengangguran kembali ke tingkat alamiah. maka tradeoff antara inflasi dan pengangguran hanya sertahan dalam jangka pendek. Pertumbuhan ekonomi dapat diartikan juga sebagai proses kenaikan kapasitas produksi suatu perekonomian yang diwujudkan dalam bentuk kenaikan pendapatan nasional. Dalam jangka panjang. ekspektasi akan beradaptasi pada setiap tingkat inflasi yang dipilih pembuat kebijakan tersebut. Adanya pertumbuhan ekonomi merupakan indikasi keberhasilan pembangunan ekonomi. . Pertumbuhan ekonomi suatu negara dapat diukur dengan cara membandingkan. Secara berangsur-angsur. dikotomi klasik akan berlaku. D. misalnya untuk ukuran nasional. Gross National Product (GNP). Pertumbuhan Ekonomi Pertumbuhan ekonomi adalah proses perubahan kondisi perekonomian suatu negara secara berkesinambungan menuju keadaan yang lebih baik selama periode tertentu. Pembuat kebijakan tidak bisa mempertahankan inflasi di atas inflasi yang diharapkan (dan dengan demikian pengangguran berada di bawah tingkat alamiah) selamanya.

a. Teori Pertumbuhan Ekonomi .

Scott dan Stephen Silver.co. “Real Wages. Makroekonomi Edisi Keenam. Employment. Juni. 3 April 2018 Mankiw.id/2017/04/penawaran-agregat-dan-pertumbuhan. and Philips Curve. N.blogspot. Jakarta: Erlangga.” Diunduh Rabu. Summer.html. “ Penawaran Agregat dan Pertumbuhan Ekonomi. 2006. 1989. Hlm 706-720. DAFTAR PUSTAKA http://ekawijayasakti. .” dalam jurnal Political Economy. Gregory. Edisi 97. 2017.