You are on page 1of 24

1.

Seni Pedalangan
a. Deskripsi
Pedalangan adalah suatu kegiatan di mana titik permasalahannya ialah terletak pada dalang
yang dibantu oleh pengrawit, swarawati atau pesinden, dan dengan kelengkapan sarana
penyajian pedalangan lainya. ( Supriyono, 2008)

Sumber: Supriyono, dkk. 2008. Pedalangan. Jakarta: Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah
Kejuruan
 Kebutuhan Ruang
- Ruang Belajar
- Ruang Praktik Pedalangan
- Galeri
- Ruang Pengelola
- Auditorium
- Perpustakaan

b. Standar Ruang dan Kapasitas


Ruang Belajar
Nama Ruang Kapasitas Standart Perhitungan Total
(m2) (m2)
Hall 100 0.8 – 2 m 2
100 x 2 200
Orang /Orang
Ruang Informasi 2 Orang 6 m2 / Orang 2 x 6 12
Ruang Staf Pengajar 10 Orang 5.5 m2/ 5,5 x 10 55
Orang
Ruang Kelas 5 Kelas 70 m2/ 5 x 70 350
Orang
Locker 45 Orang 0,25 m2/ 0,25 x 45 11,25
Orang
Toilet 2 m2/ WC Pria: 2 WC + 4 14
2
1,6 m / Urinoir + 4
Urinoir Wastafel: (2x2)
2
0,9m / + (4x1,6) +
Wastafel (4x0,9)
Wanita: 2WC + 11,6
2 Wastafel:
(2x2) + (2x0,9)
Ruang Praktik Bidang Keahlian Pedalangan
Nama Ruang Kapasitas Standart Perhitungan Total
(m2) (m2)
2
Ruang Olah 8 Orang 6 m / Peserta 8 x 6 48
Vokal Didik
Ruang 8 Orang 6 m 2/ Peserta 8 x 6 48
Praktik Didik
Individu
Ruang 8 Orang 6 m 2/ Peserta 8x6 48
Praktik Didik
Bersama
Ruang 8 Orang 8 m2/ Orang 8x8 64
Pegelaran
Pedalangan
Toilet 2 m2/ WC Pria: 8 WC + 68,8
1,6 m2/ 24 Urinoir +8
Urinoir Wastafel:
0,9m2/ (8x2) +
Wastafel (24x1,6) +
(8x0,9)
Wanita: 12 31,2
WC + 8
Wastafel:
(12x2) +
(8x0,9)

Galeri
Nama Ruang Kapasitas Standart Perhitungan Total
(m2) (m2)
Ruang 100 Orang 10 m 2/ 100 x 10 1000
Pameran Peserta Didik
Karya
Ruang 50 Orang 5 m 2/ 50 x 5 250
Sejarah Peserta Didik
Ruang Data 50 Orang 5 m 2/ 50 x 5 250
Wayang Peserta Didik
Ruang 20 Orang 2 m2/ Orang 20 x 2 40
Diskusi
Toilet 2 m2/ WC Pria: 2 WC + 14
1,6 m2/ 4 Urinoir +
Urinoir 4Wastafel:
0,9m2/ (2x2) +
Wastafel (4x1,6) +
(4x0,9)
Wanita: 2 WC 11,6
+ 2 Wastafel:
(2x2) +
(2x0,9)

Ruang Pengelola
Nama Ruang Kapasitas Standart Perhitungan Total
(m2) (m2)
2
Ruang Kepala 1 Orang 20 m / 1 x 20 20
Pengelola Orang
Ruang 1 Orang 4 m 2/ Orang 1 x 4 4
Sekretaris
Ruang 1 Orang 4 m 2/ Orang 1x4 4
Bendahara
Ruang Rapat 50 Orang 1,5 m2/ 50 x 1,5 75
Orang
Toilet 2 m2/ WC Pria: 2 WC + 14
1,6 m2/ 4 Urinoir +
Urinoir 4Wastafel:
0,9m2/ (2x2) +
Wastafel (4x1,6) +
(4x0,9)
Wanita: 2 WC 11,6
+ 2 Wastafel:
(2x2) +
(2x0,9)

Auditorium
Nama Ruang Kapasitas Standart Perhitungan Total
(m2) (m2)
Hall 500 Orang 2 m 2/ Orang 500 x 2 1000
Panggung 35 Orang 4 m 2/ Orang 35 x 4 140
Ruang Ganti 35 Orang 2,5 m 2/ 35 x 2,5 87,5
Orang
2. Seni Kerajinan
a. Definisi
Pelatihan :
Menurut Widodo (2015:82), pelatihan merupakan serangkaian aktivitas individu dalam
meningkatkan keahlian dan pengetahuan secara sistematis sehingga mamu memiliki
kinerja yang profesional di bidangnya
Kerajinan :
 Merupakan kerajinan tangan yang menghasilkan barang-barang bermutu seni, maka
dalam proses dibuatnya dengan rasa keindahan dan dengan ide-ide yang murni
sehingga menghasilkan produk yang berkualitas dan mempunyai bentuk yang indah
dan menarik. Suprapto (1985:16)
 Merupakan salah satu usaha yang dilakukan secara terus menerus dengan penuh
semangat ketekunan, kecekatan, kegigihan, berdedikasi tinggi dan berdaya maju yang
luas dalam melakukan suatu karya. kadjim (2011:10 )

Dapat disimpulkan bahwa pelatihan kerajinan merupakan suatu wadah untuk


meningkatkan wawasan, pengetahuan seseorang mengenai barang-barang yang
bernilai seni.

b. Standar Ruang dan Kapasitas


Ruang Pelatihan Kerajinan ini meliputi :
- Kerajinan Patung
- Kerajinan Lukis
- Kerajinan Perak
- Ruang kapasitas standar flow Jumlah Luas Sumber
Pelatihan
1.50 60 m2
Ruang Studio m2/org 2 unit + 18
20 30% DA
orang m2 =78
m2
1,76
Wastafel 0.84 m2 +
2 m2/org 30% 2 unit 0.52 TSS
orang m2 =
2.28 m2
9 m2 +
Gudang 30 % 2.7
Peralatan 1 unit Asumsi
m2 = 9
m2
Gudang 2 4mx 20% 1 unit 12 m2 TSS
Penyimpanan orang 3 + 2.4
m m2 =
14.4
m2
240
Ruang m2 +
Serbaguna 1.20 1 unit
200 m2/org 50% 100 TSS
orang m2 =
340 m2
1.20 60 m2
Ruang Galeri m2/org
50 30% 1 unit + 18 TSS
orang m2 =
78 m2
Toilet Pria
4.16
a. KM/WC 1.04 m2 +
4 m2/org 30% 4 unit 1,28 TSS
orang m2 =
5.44 m2
1,76
b. Uriner 0.44 m2 +
0.52
4 m2/org 30% 4 unit m2 = TSS
orang 2.28 m2
1.68
c. Wastafel 0.84 m2 +
2 m2/org 30% 2 unit 0.50 TSS
orang m2 =
2.18 m2
Toilet Wanita
a. KM/WC 4 1.04 30% 4 unit 4.16 TSS
orang m2
+1,28
m2 =
5.44 m2
1,76
b. Wastafel 0.84 m2 +
2 m2/org 30% 2 unit 0.52 TSS
orang m2 =
2.28 m2

Sumber :
No. Sumber Simbol
1. Ernest Neufert. 1992.Data Arsitek jilid 1 dan 2. Erlangga : Jakarta DA
2. Joseph de Chiara & John Callendar. 1973.Time Saver TSS
Standards for Building Types. New York : MC Graw Hill
3. Perundagian dan Arsitektur
a. Deskripsi

Arsitektur adalah seni yang dilakukan oleh setiap individual untuk berimajinasikan
diri mereka dan ilmu dalam merancang bangunan. Dalam artian yang lebih luas, arsitektur
mencakup merancang dan membangun keseluruhan lingkungan binaan, mulai dari level
makro yaitu perencanaan kota, perancangan perkotaan, arsitektur lanskap, hingga ke level
mikro yaitu desain bangunan, desain perabot dan desain produk. Arsitektur juga merujuk
kepada hasil-hasil proses perancangan tersebut.

Arsitektur di Bali dikenal dengan “Perundagian”. Perundagian berasalan dari kata


undagi yang berarti sebutan dari arsitek tradisional Bali. Seorang undagi tidak hanya
membekali dirinya dengan ilmu rancang bangun, namun juga harus mempelajari serta
memahami seni, budaya, adat dan agama. Hal tersebut wajib dikuasai oleh seorang
undagi agar dalam proses perancangan dan penciptaan karya bangunan selaras dan
sejalan dengan konsep Tri Hita Karana. Jadi Perundagian dapat dikatakan sebagai ilmu
yang mempelajari tentang arsitek tradisional Bali.

b. Standar Ruang
Ruang Pelatihan kapasitas standar flow Jumlah Luas Sumber
1.50 4 5 m2
Ruang Studio m2/org 1 unit + 13.5
30 30% DA
orang m2
=58.5
m2
1,76
Wastafel 0.84 m2 +
2 m2/org 30% 2 unit 0.52 TSS
orang m2 =
2.28 m2
1.20 60 m2
Ruang Galeri m2/org
50 30% 1 unit + 18 TSS
orang m2 =
78 m2
Gudang 2 4mx 20% 1 unit 12 m2 TSS
Penyimpanan orang 3m + 2.4
m2 =
14.4
m2
9 m2 +
Gudang 30 %
Peralatan 1 unit 2.7 Asumsi
m2 = 9
m2
240
Ruang m2 +
Serbaguna 1.20 1 unit
200 m2/org 50% 100 TSS
orang m2 =
340 m2
Toilet Pria
4.16
a. KM/WC 1.04 m2 +
4 m2/org 30% 4 unit 1,28 TSS
orang m2 =
5.44 m2
1,76
b. Uriner 0.44 m2 +
0.52
4 m2/org 30% 4 unit m2 = TSS
orang 2.28 m2
1.68
c. Wastafel 0.84 m2 +
2 m2/org 30% 2 unit 0.50 TSS
orang m2 =
2.18 m2
Toilet Wanita
a. KM/WC 4 1.04 30% 4 unit 4.16 TSS
orang m2
+1,28
m2 =
5.44 m2
1,76
b. Wastafel 0.84 m2 +
2 m2/org 30% 2 unit 0.52 TSS
orang m2 =
2.28 m2

4. Tenun dan Kain


a. Definisi
 Pelatihan
 Simamora:2006:273
Pelatihan (training) merupakan proses pembelajaran yang melibatkan perolehan
keahlian, konsep, peraturan, atau sikap untuk meningkatkan kinerja tenga kera
 Pasal I ayat 9 undang-undang No.13 Tahun 2003.

Pelatihan kerja adalah keseluruhan kegiatan untuk memberi, memperoleh,


meningkatkan, serta mengembangkan kompetensi kerja, produktivitas, disiplin, sikap,
dan etos kerja pada tingkat ketrampilan dan keahlian tertentu sesuai dengan jenjang
dan kualifikasi jabatan dan pekerjaan.

 Hani Handoko:2001:104

Latihan (training) dimaksudkan untuk memperbaiki penguasaan berbagal ketrampilan


dan teknik pelaksanaan kerja tertentu, terinci dan rutin.

 Gomes:2003:197
Pelatihan adalah setiap usaha untuk memperbaiki performansi pekerja pada suatu
pekerjaan tertentu yang sedang menjadi tanggungjawabnya.
 Syafaruddin:2001:217
Pelatihan Iebih terarah pada peningkatan kemampuan dan keahlian SDM organisasi
yang berkaitan dengan jabtan atau fungsi yang menjadi tanggung jawab individu yang
bersangkutan saat ini (current job oriented). Sasaran yang ingin dicapai dan suatu
program pelatihan adalah peningkatan kinerja individu dalam jabatan atau fungsi saat
ini.
 Hadari:2005:208
Pelatihan adaah program-program untuk memperbaiki kernampuan melaksanakan
pekerjaan secara individual, kelompok dan/atau berdasarkan jenjang jabatan dalam
organisasi atau perusahaan.
 Tenun
 Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1998
Tenun merupakan hasil kerajinan yang berupa bahan atau kain yang dibuat dari
benang (kapas, serat, sutera) dengan menggunakan pakan secara melintang pada lungsi.
 Ensiklopedia Nasional Indonesia, 1991
Tenun adalah bahan kerajinan berupa bahan kain yang dibuat dari benang serat, kapas,
sutera. Dengan cara memasukkan pakan secara melintang pada lungsi dua kelompok
benang yang membujur disebut lungsi, sedangkan benang yang melintang disebut
pakan.
 Pelatihan Tenun
 Callernder, 1983
Pelatihan Kerajinan Tenun adalah sebuah pengembangan fungsi bangunan baru yang
masuk ke dalam kategori pusat seni (art center) dapat digolongkan dalam dalam
kelompok tipologi bangunan cultural and entertaiment khususnya dalam pengertian
sebagai museum. “The traditional statement includes the mission “to preserve, to
protect, to exhibit”.”

b. Jenis Tenun
Adapun jenis tenun ikat, yaitu:
 Tenun Ikat Pakan Tenun ikat pakan yaitu bagian benangnya diikat kearah pakan
untuk mendapatkan ragam hias pada tenun. Ragam hias tenunnya terdapat pada
benang pakan.
 Tenun Ikat Lungsi Tenun ikat lungsi yaitu bagian benangnya diikat kearah
lungsi untuk mendapatkan ragam hias pada tenun.
 Tenun Ikat Ganda/Dobel
Tenun ikat ganda atau tenun ikat dobel yaitu ragam hias pada tenun didapat dari
mengikat kedua benangnya, yakni benang lungsi dan benang pakan. Tenun ikat
dobel pengerjaanya jauh lebih sulit daripada tenun ikat lungsi dan tenun ikat
pakan. Pengrajin tenun ikat dobel harus memperhitungkan terlebih dahulu
persilangan benang dengan motif yang diinginkan, sehingga pada waktu
menenun tidak terjadi persilangan yang menyimpang. Daerah yang terkenal
dengan tenun ikat ganda atau dobel ini adalah terdapat di Desa Tenganan Bali,
yang lebih dikenal dengan geringsingan.
https://id.wikipedia.org/wiki/Tenun_ikat
c. Jenis Peralatan Tenun
 Tenun Cagcag
Tenun cagcag yaitu peralatan tenun yang masih menggunakan peralatan tradisional
dan cara penggunaanya dengan cara memangku alat tersebut.
 Tenun ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin)
Tenun ATBM yaitu peralatan tenun yang tingkat teknologi pertenunan yang sudah
lebih maju yang menggunakan peralatan rangka kayu yang gerakkan teknisinya
masih dilakukan dengan tenaga.
Budhyani, Made dan Sri, Desak. (2016). Ragam Hias Tenun Endek
Di Pertenunan Artha Dharma,Sinabun Buleleng. Denpasar : Semnasvoktek
d. JENIS KAIN TENUN
 Kain Endek
Kain endek merupakan kain tradisonal Bali yang dibuat dengan teknik tenun ikat.
Saat ini teknik pembuatan endek mengalami perkembangan dengan melakukan
penyempurnaan ragam hias pada kain dibagian-bagian tertentu. Penyempurnaan
tersebut dilakukan dengan menambahkan coletan yang disebut nyantri. Nyantri
merupkan teknik penambahan warna pada kain dengan goresan kuas dari bambu,
seperti orang yang sedang melukis. Pembuatan pola nyantri ini ditekankan pada
penyempurnaan ragam hias warna dan motif kain endek, seperti motif yang
mengambil bentuk flora atupun fauna, serta motif-motif dari mitologi dan wayang
Bali. Keanekaragaman warna dan motif inilah yang menjadi ciri khas dari kain
endek.
UNDANG-UNDANG NOMOR 28 TAHUN 2014 TENTANG HAK CIPTA DI
KABUPATEN GIANYAR
 Kain Songket
Kain songket merupakan kain tradisonal Bali yang tergolong kain tenun ikat dan
memiliki nilai sosial dan prestise yang tinggi. Kain ini dibuat dengan cara
menenun dan menyisipkan benang warna-warni, benang emas dan benang perak
untuk membentuk suatu motif tertentu. Prinsip penggunaan benang tambahan
inilah yang disebut dengan songket, karena dihubungkan dengan proses
menyungkit atau mengjungkit benang lungsi dalam membuat pola hias. Pada
umumnya ragam hias motif yang di goreskan yaitu bentuk bunga teratai,
tetumbuhan, burung, bentuk swastika, dan lainnya. Pada jaman dahulu kain ini
hanya merupakan aktifitas bagi warga Puri. Kegiatan tenun kain songket hanya
dilakukan di Puripuri saja.
Yulyantini, LM. (2016). IPTEK BAGI PRODUK eksporkerajinan songket motif
bali di Karangasem bali. DENPASAR : UNIVERSITAS MAHASARASWATI
 Kain Gringsing
Kain gringsing merupakan satu-satunya kain tradisional yang dibuat
menggunakan teknik dobel ikat, dan proses pembuatan kain ini memakan waktu
hingga 2-5 tahun. Kain ini berasal dari Desa Tenganan Bali. Kata gringsing
berasal dari gring yang berarti ‘sakit’ dan sing yang berarti ‘tidak’, sehingga bila
digabungkan menjadi ‘tidak sakit’. Maksud yang terkandung di dalam kata
tersebut adalah penolak bala. Kain tenun yang berwarna gelap alami ini
digunakan oleh masyarakat Tenganan dalam ritual keagamaan yang dipercayai
memiliki kekuatan magis. Kain ini juga dipercayai mampu menyembuhkan
penyakit dan menangkal pengaruh buruk. Proses pembuatan kain gringsing mulai
dari proses penataan benang, pengikatan, dan pewarnaan dilakukan pada kedua
sisi kain yaitu pada sisi lungsi dan pakan, sehingga teknik tersebut disebut dobel
ikat.
Lodra, I Nyoman 2015. Di Balik Kain Tenun Gringsing. Denpasar: Bali Mangsi

e. Standard
f. Besaran Ruang
 RUMAH PENGRAJIN PROSES

Sumber :
Ajengtirani, Frisca. 2013. “Penataan Kampung Wanarejan Utara Sebagai
Sentra Industri Tenun Atbm Di Kabupaten Pemalang”.Semarang : Jurusan Arsitektur,
Fakultas Teknik, Universitas Diponogoro.

 RUMAH PENGRAJIN ALAT TENUN


Sumber :
Ajengtirani, Frisca. 2013. “Penataan Kampung Wanarejan Utara Sebagai
Sentra Industri Tenun Atbm Di Kabupaten Pemalang”.Semarang : Jurusan Arsitektur,
Fakultas Teknik, Universitas Diponogoro.

 RUMAH PENGRAJIN PROSES DAN ALAT TENUN

Sumber :
Ajengtirani, Frisca. 2013. “Penataan Kampung Wanarejan Utara Sebagai
Sentra Industri Tenun Atbm Di Kabupaten Pemalang”.Semarang : Jurusan Arsitektur,
Fakultas Teknik, Universitas Diponogoro.
5. Seni Rupa
a. Definisi
Gedung Pelatihan Seni Lukis dan Patung memiliki fungsi utama sebagai media/wadah
untuk menambah minat dan lebih mengenal lagi akan seni rupa itu sendiri terutama seni
lukis dan pahat.

Pengunjung yang datang ke Gedung ini dapat beraktivitas utama diantaranya :


menikmati pameran karya seni, melihat proses pengerjaan/pembuatan, ikut serta / belajar
membuat suatu karya seni berupa seni lukis dan pahat, mengikuti pelatihan mengenai seni
lukis maupun seni patung.

Pada prinsipnya gedung pelatihan adalah sebuah bangunan yang digunakan untuk
para seniman bekerja atau membuat suatu karya seni. Didalamnya terdapat berbagai
macam alat untuk membantu para seniman menghasilkan sebuah karya. Dalam ruang
pelatihan seni, para seniman dibimbing dan diberi arahan oleh para ahli. Tidak hanya
sebagai proses, dalam pelatihan ini para ahli selalu memberikan masukan agar hasil dari
semua kreasi para seniman pemula dapat berkreasi secara maksimal.

b. Standar Ruang dan Kapasitas

Berikut adalah kebutuhan ruang dalam gedung pelatihan seni rupa :

Gedung Pelatihan
Ruang Staff 5/ sp 30 m2
Ruang Pengelola 1/ sp 30 m2
Reception 1/ sp 6 m2
Ruang karyawan 1/ sp 9 m2
Ruang pengajar 5/ sp 33 m2
Ruang kelas anak – anak 2/ sp 72 m2
Ruang kelas remaja & hobi 2/ sp 96 m2
Workshop patung
Workshop patung 1/ D+nda 135 m2
Tempat cuci tangan 1/ sp 1,2 m2
Gudang peralatan patung 1/ sp 9 m2
Gudang patung 1/ sp 55 m2
Workshop lukis
Workshop lukis 1/ D+nda 138 m2
Tempat cuci tangan 1/ sp 1,2 m2
Gudang peralatan lukis 1/ sp 9 m2
Gudang lukisan 1/ sp 40 m2
Ruang finishing
Ruang penyemprotan 1/ sp 9 m2
Ruang pemasangan frame 1/ sp 17 m2
Ruang pengeringan 1/ sp 12 m2
Gudang simpan bhn.finishing 1/ sp 8 m2
Lavatory 4/sp+nda 11 m2
Total 660 m2
Flow area 100% 660 m2

TOTAL 1330 m2

KETERANGAN :
sp : Studi & perhitungan
nda : Neufert Data Arsitek
D : Dimensi Manusia & Ruang Interior

6. Sastra dan Lontar


a. Definisi

Lontar (dari bahasa Jawa: ron tal, "daun tal") adalah daun siwalan atau tal (Borassus
flabellifer atau palmyra) yang dikeringkan dan dipakai sebagai bahan naskah dan
kerajinan. Artikel ini terutama membahas lontar sebagai bahan naskah manuskrip.
(Wikipedia, 2018)
Jadi, dapat disimpulkan bahwa tempat pelatihan lontar merupakan sebuah ruang
yang diperuntukan untuk mewadahi proses melatih civitas untuk mengerjakan naskah
pada lontar.

Jenis-jenis lontar (Web Dinas Kebudayaan Kabupaten Buleleng) :

I. Lontar Prasi Bhoma

Lontar ini menceritakan tentang perjalanan Sang Bhoma untuk mencari keluarganya
dengan kesaktian yang dimilikinya sehingga dia bisa bertemu dengan para Dewa.

II. Lontar Tantri Kamandaka

Lontar ini berisi kumpulan cerita rakyat pada zaman dahulu yang mengisahkan
kehidupan para Binatang (Buron) di dalam hutan.

III. Lontar Kawisesan

Lontar ini berisi tentang aksara Modre yang digunakan sebagai ilmu Penengen dan
Pangiwa yang dirajah dan diurip sehingga meghasilkan Kawisesan, biasanya Kawisesan
ini banyak digunakan sebagai penjaga diri (Panyengker) dan sebagai penjaga karang
(Tempat).

b. Standar Ruang dan Kapasitas

Untuk standard ruang pelatihan lontar, tidak terdapat standard yang spesifik karena
dalam proses penulisan lontar hanya memerlukan meja, kursi, dan bantalan sebagai alas
untuk lontar.
7. Seni Tari
a. Definisi

Seni tari adalah suatu gerakan yang dilakukan dengan berirama, dilakukan
di suatu tempat dan waktu tertentu untuk mengekpresikan suatu perasaan dan
menyampaikan pesan dari seseorang maupun kelompok. Seni tari biasanya
dilakukan di tempat latihan berupa panggung terbuka, wantilan ataupun ruang
yang mumpuni untuk melakukan kegiatan seni tari.

Beberapa definisi tari menurut ahli:

1. Kamus Besar Bahasa Indonesia


Tari adalah gerakan badan (tangan dsb) yang berirama, biasanya diiringi bunyi-bunyian
(musik, gamelan dsb).
2. Hawkins (1990:2)
Tari adalah ekspresi jiwa manusia yang diubah oleh imajinasi dan diberi bentuk melalui
media gerak sehingga menjadi bentuk gerakyang simbolis dan sebagai ungkapan si
pencipta.
3. La Mery (1987:12)
Tari adalah ekspresi yang berbentuk simbolik dalam wujud yang lebih tinggi harus
diinternalisasikan.
4. M.Jazuli (Soeryobrongto : 1987, 12-34)
Tari adalah gerak-gerak anggota tubuh yang selaras dengan bunyi musik.
5. Soedarsono
Tari adalah ekspresi jiwa manusia melalui gerak-gerak yang indah dan ritmis.
6. Susan K. Lenger
Tari adalah gerak-gerak yang dibentuk secara ekspresif yang diciptakan manusia untuk
dapat dinikmati.
7. Kamala Devi Chattopadhyaya
Tari adalah suatu insting atau desakan emosi di dalam diri kita yang mendorong kita untuk
mencari ekspresi pada tari.
8. Drs. Wisnoe Wardhana (Pengajaran Tari)
Tari adalah ekspresi ekstetis dalam gerak dengan media tubuh manusia.
9. Drs. Sudharso Pringgobroto (dalam perkuliahan ASTI Yogyakarta 1967)
Tari adalah keteraturan bentuk tubuh di dalam ruang.

10. Curt Sachs (dalam buku World History of The Dance)


Tari adalah gerak yang ritmis.
11. Cory Hamstrong
Tari merupakan gerak yang diberi bentuk dalam ruang.
12. HB. Datuk Tumbdijo
Tari adalah kegiatan ekspresi jiwa manusia yang merefleksikan keadaan nyata dalam suatu
karya yang menlibatkan gerak-gerak anggota tubuh (melipuri gerak kaki, kepala, badan,
tangan dll) baik yang teratur maupun yang tidak teratur.
13. Edy Sedyawati
Tari adalah cakupan kegiatan oleh fisik yang tujuan akhirnya adalah ekspresi keindahan
dengan pengembangan kepekaan akan rasa gerak dan rasa irama.
14. Achdiat K. Miharjo
Tari adalah kegiatan ekspresi jiwa yang merefleksikan realita (keadaan) dalam suatu karya
yang berkat bentuk dan isinya mempunyai daya untuk membangkitkan pengalaman-
pengalaman tertentu dalam jiwa penerima.
15. Pangeran Suryodiningrat dalam Heni Rohayani (2007:2)
Tari adalah gerakan-gerakan dari seluruh bagian tubuh manusia yang disusun selaras
dengan irama musik serta mempunyai maksud tertentu.
16. Wikipedia Indonesia
Tari adalah gerak tubuh secara berirama yang dilakukan di tempat dan waktu tertentu untuk
keprluan pergaulan, mengungkapkan perasaan, maksud, dan pikiran.
17. Judith Lynne Hanna
Tari adalah seni plastik dari gerak yang visual terlihat sepintas.
18. Aristoteles
Tari adalah gerakan ritmis yang bertujuan untuk menghadirkan karakter manusia,
sebagaimana mereka bergerak dan menderita.
19. S. Humardani
Tari adalah ungkapan bentuk-bentuk gerakan ekspresif yang indah dan ritmis.
20. KMA Theodora Retno
Tari adalah suatu kesenian yang tidak akan pernah bersifatt komporer, baik yang pernah
terlupakan sekalipun.

21. Drs. I Gede Ardika


Tari adalah sesuatu yang bisa disatukan dalam berbagai hal hingga semua orang dapat
menyesuaikan diri atau menyelaraskannyamenurut caranya masing-masing.
22. Irmgrad Bartenieff & Forrestibe Paulay
Tari adalah bentuk seni yang eksprensiostis yang menjembatani reaksi jiwa seseorang
dengan konflik dan problem dunia modern.
23. John Martin
Tari adalah gerak sebagai pengalaman yang paling awal kehidupan manusia.
24. Kussudiarja (1978)
Tari adalah keindahan bentuk dari anggota badan manusia yang begerak, berirama dan
berjiwa harmonis.

Seni tari mempunyai dua unsur, yaitu unsur utama dan unsur
pendukung.Suatu gerakan tidak bisa dikatakan sebagai tarian bila tidak memenuhi
tiga unsur. Jika salah satu saja dari unsur tersebut tidak ada, maka gerakan tersebut
tidak bisa dikatakan sebuah tari. Apa sajakah unsur tersebut?

 Wiraga (Raga) : Sebuah tarian harus menampakkan gerakan badan, baik dengan
posisi duduk ataupun berdiri.
 Wirama (Irama) : Sebuah seni tari harus memiliki unsur irama yang menyatukan
gerakan badan dengan musik pengiringnya, baik dari segi tempo maupun
iramanya.
 Wirasa (rasa) : Sebuah seni tari harus mampu untuk menyampaikan sebuah
perasaan yang ada di dalam jiwa, melalui sebuah tarian dan gerakan juga ekspresi
penarinya.
Dalam sebuah tarian pasti ada sebuah subjek utama yang menjalankan tarian
tersebut. Subjek tersebut adalah penari.Yang lain hanya pendukung agar lebih
terlihat indah saja.

Seni tari dapat dikelompokkan menjadi tiga kategori. Diantaranya adalah

 Tari tunggal (solo)


Sebuah tari seni yang dibawakan oleh satu orang penari. Baik itu penari laki-laki
maupun perempuan. Contoh : Tari Gatotkaca asal Jawa Tengah.
 Tari berpasangan (duet)
Sebuah tari seni yang dibawakan oleh dua orang penari. Baik itu penari laki-laki
dengan laki-laki, perempuan dengan perempuan, ataupun campur laki-laki
perempuan. Contoh : Tari Topeng asal Jawa Barat.
 Tari berkelompok (group)
Sebuah tari seni yang dibawakan oleh banyak orang atau berkelompok. Penari
biasanya lebih dari dua orang. Baik dilakukan dengan laki-laki semua, perempuan
semua, ataupun campur laki-laki dan perempuan. Contoh : Tari Saman asal Aceh.
Seni tari memiliki beberapa fungsi. Apa saja fungsi dari seni tersebut? Berikut
ulasanya.

 Tari pertunjukan
Yaitu tari yang disiapkan untuk suatu acara dan dipentaskan. Tarian ini
menonjolkan dari sisi koreografi artistik, konsep yang bagus dan ide yang matang.
Serta tema yang tertata sedemikian rupa sehingga tarian tersebut menjadi menarik
dan indah.
 Tari upacara
Yaitu tarian yang dilakukan hanya pada upacara adat maupun acara yang
bernuansa keagamaan. Tarian ini mengutamakan adanya ke khidmatan dan
komunikasi pada Sang Pemilik Alam.
 Tari hiburan
Yaitu tarian yang diadakan hanya untuk menghibur penonton saja. Biasanya tarian
ini dimainkan dengan alunan musik dan irama yang enak didengar. Gerakan
tarinya juga bebas dari berbagai macam nilai, tradisi, atau adat. Yang terpenting
dari tarian ini adalah mampu menghilangkan rasa jenuh para pendengar atau
penonton.
 Tari pergaulan
Yaitu tarian yang dimainkan untuk berinteraksi ke sesama saja. Tarian ini biasanya
digunakan untuk saling adu unjuk rasa dalam kesenian. Dalam gerakanganya juga
terlihat lincah dan memiliki sifat komunikatif. Sehingga mampu memberikan
interaksi atau timbal balik ke sesama.
Tari kesenian Yaitu tarian yang dilaksanakan untuk tujuan pelestarian budaya.
Biasanya tarian ini bernuansa tradisional. Karena menghargai warisan budaya
penggilan nenek moyang pada zaman dahulu. Tarian ini hanya dipentaskan pada
saat hari atau momen kebudayaan saja.

b. Standard Ruang dan Kapasitas

Dalam seni tari tempat pementasan sangatlah penting. Dimana tempat pementasan ini
merupakan sebuah kebutuhan pokok sehingga tidak dapat dilewatkan. Tempat pementasan
tentu memiliki beberapa keriteria sehingga penggunaannya sebagai area pementasan dapat
dilakukan dengan optimal. Area pementasan perlu beberapa hal yang perhatikan
diantaranya Luas panggung, pencahayaan, dan penataan ruang yang baik.

Luas panggung yang diperlukan untuk pertunjukan ruang yang di sediakan antara 15-
30 org. panggung untuk menampung beragam pertunjukan, diambil bukaan panggung 40
ft(12m). Luas panggung 1000 sq ft, maka ukuran panggung 25 x 40 ft (7.5 x 12m)
auditorium : volume tiap orang 0.65 m2/org-7.8 m2/org.

Teknologi panggung yang di peruntukkan untuk seni tari adalah di atas panggung
gridion:ruang di bawah atap, terdapat tali-tali untuk menggantung latar panggung,
perlengkapan lighting, atau apapun yang diperlukan tergantung saat pertunjukan.
Ketinggian gridion > 7-2.1 m memakai double purchase counterweight system , menambah
lebar panggung 10-20 % motor mesin terletak di bawah atau di atas panggung. Untuk
system pencahayaan ialah penempatan lampu di atas panggung dapat di mana saja
seperlunya. Rangka penempatan lampu terletak di langit- angit, pada flying bridge.
Digunakan catwalk untuk akses memerlukan ruang untuk pergerakan instrumern
pencahayaan akses ke semua posisi lampu tanpa mengganggu penonton selain hal yang di
atas beberapa komponen yang perlu di perhatikan adalah area penonton. Penonton
merupakan suatu pendukung dalam seni tari sehingga posisinya perlu di perhatikan
terutama kenyamanan untuk melihat pertunjukannya. persyaratan untuk kenyamanan
pandangan penonton dalam areapertunjukan jika di hitung dalam derajat bukaan panggung
secara vertikal adalah 30 derajat,pandangan penonton tidak lebih dari 100 derajat dari garis
ketinggian tangga tempat duduk penonton 5" (15 cm) di tengah ruang jarak pandang terjauh
75 ft (22.5m) dari panggung (agar masih dapat melihat ekspresi aktor) lebar auditorium
tergantung pada bukaan panggung Untuk pertunjukan revue (tontonan tari-tarian,musik)
min.bukaan 30 ft(9,162 m), luas panggung maksimal yang dapat diterima untuk
pengamanan terhadap kebakaran, jumlah tempat duduk di bagian tengah maksimal 14
kursi/baris, di bagian samping 7 kursi/baris. ruang antarkursi depan-belakang 36-45 inch.
(91.44- 114.3 cm).

8. Upakara dan Aktivitas Keagamaan


A. Pengertian Pelatihan

Menurut Never Ending Transfusing - Application Training (NET-at), Pelatihan adalah


kegiatan belajar dan praktik untuk sesuatu tujuan baik, dilakukan secara berulang-ulang dan
terus-menerus untuk meningkatkan kemampuan (continuously and never end) manusia, dan
fitrahnya

B. Pengertian Upakara Dan Aktivitas Keagama

Upakara sering dikenal dengan sebutan banten, upakara berasal dari kata “Upa” dan
“Kara”, yaitu Upa berarti berhubungan dengan, sedangkan Kara berarti perbuatan/pekerjaan
(tangan). Upakara merupakan bentuk pelayanan yang diwujudkan dari hasil kegiatan kerja
berupa materi yang dipersembahkan atau dikurbankan dalam suatu upacara keagamaan.

Sedangkan aktivitas keagamaan terdiri dari dua kata atau istilah yaitu “aktivitas” dan
“keagamaan”, istilah aktivitas berasal dari bahasa Inggris activity, yang berarti aktivitas,
kegiatan, kesibukan. Dan kata “keagamaan” berasal dari kata dasar “agama” yang mendapat
awalan “ke-“ dan akhiran “-an”. Agama itu sendiri mempunyai arti kepercayaan kepada Tuhan,
ajaran kebaikan yang bertalian dengan kepercayaan. Jadi kata aktivitas keagamaan mempunyai
arti segala aktivitas dalam kehidupan yang didasarkan pada nilai-nilai agama, yang diyakini
agar tidak terjadi kekacauan di dalam kehidupan sehari-hari.

C. Ruang Pembelajaran (Pelatihan)

Ruang pembelajaran merupakan ruang yang berfungsi sebagai tempat berlangsungnya


kegiatan pembelajaran teori sekaligus ruang pembelajaran praktik dilengkapi dengan sarana
pembelajaran praktik yang memadai. Dalam hal ini ruang mewadahi pelatihan akan kegiatan
yang berhubungan dengan aktivitas keagamaan dan sarana upakara.

- Luas ruang pembelajaran minimal berukuran 54m2 dengan lebar minimal 6 m dan rasio 2
m2/peserta didik.
- Kapasitas maksimal ruang pembelajaran adalah 25 peserta didik.
- Ruang pembelajaran memiliki jendela atau sumber cahaya yang memungkinkan
pencahayaan yang memadai untuk aktivitas didalamnya
- Ruang pembelajaran memiliki sirkulasi udara yang memadai
- Ruang pembelajaran memiliki pintu yang memadai agar peserta didik dan pendidik dapat
segera keluar ruangan jika terjadi bahaya, dan dapat dikunci dengan baik saat tidak
digunakan